Hal mendua hati dalam hidup

“….sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.“ Yakobus 1: 6b

Hari ini, dalam perjalanan ke Port Arthur, Tasmania, angin tidak bertiup terlalu keras dan gelombang laut pun kelihatannya tidak besar. Kapal Explorer berkapasitas 3000 orang yang saya tumpangi melaju tanpa mengalami goncangan yang berarti. Walaupun laut Tasman kali ini terlihat tenang, keadaan itu tidaklah selalu demikian.

Sikap kita dalam menghadapi tantangan kehidupan bisa dibayangkan seperti gelombang laut yang mudah dipengaruhi angin. Jika hidup kita berada dalam keadaan normal, segala sesuatu berjalan seperti biasa dan tidak ada yang kita kuatirkan. Tetapi, jika kesulitan hidup datang dan usaha kita untuk mengatasinya tidak berhasil, pikiran kita mulai kacau dan kebingungan akan mengisi hidup kita. Kebimbangan akan penyertaan Tuhan mungkin muncul dan iman kita bisa goncang seperti gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.

Dalam kesulitan besar, pertanyaan yang biasanya muncul adalah mengapa hal ini harus terjadi pada diri kita. Yakobus menjelaskan dalam Alkitab bahwa keadaan yang sulit justru bisa menghasilkan ketekunan (Yakobus 1: 2), tetapi hal ini tidak mudah kita mengerti. Memang untuk bisa mengerti arti kesulitan yang kita hadapi tidaklah mudah tanpa hikmat dari Tuhan. Tanpa mengerti apa maksud Tuhan dalam hidupnya, manusia mudah terpengaruh oleh pandangan-pandangan duniawi dan bahkan bujukan iblis yang menjauhkan mereka dari Tuhan yang maha kuasa, maha bijaksana dan maha kasih.

Jika otak manusia tidak dapat mengerti mengapa kesulitan hidup harus terjadi pada anak-anak Tuhan, hikmat pengertian akan diberikan Tuhan kepada mereka yang mempunyai iman dan mau memintanya dengan keyakinan yang teguh. Dalam hal ini patut disayangkan bahwa ada orang-orang Kristen yang sebenarnya ingin mengerti akan makna hidup dan tantangan kehidupan, tetapi tidak dengan setia memohon agar Tuhan memberi hikmat tentang hal itu (Yakobus 1: 5). Akibatnya, mereka tidak mempunyai hidup yang tenang.

Pagi ini kita harus sadar bahwa selama ini kita mungkin lebih sering berdoa memohon agar Tuhan menolong kita, membebaskan kita dari kesulitan, tetapi tidak meminta pengertian akan apa yang terjadi dalam hidup kita. Kita sering bimbang berada diantara posisi ingin bebas dari kesulitan dan ingin berserah kepada Tuhan. Karena itu hidup kita seringkali terombang-ambing seperti gelombang laut.

“Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.” Yakobus 1: 7-8

Menjala manusia adalah tugas mulia

Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Matius 4: 19-20

Pagi ini saya tiba di kota kecil Eden, yang berada kira-kira 500 km di selatan Sydney. Kota ini terkenal sebagai salah satu tempat mencari ikan yang top di Australia. Turis, baik lokal maupun internasional, banyak yang datang ke kota berpenduduk sekitar 3000 orang ini hanya untuk memancing ikan di laut. Buat saya yang gemar memancing, hal itu tidak mengherankan; tetapi untuk orang lain, Eden mungkin lebih menarik karena pemandangannya. Apa yang menarik orang untuk menangkap ikan? Itu sepertinya hal yang membosankan!

Pada waktu Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon Petrus dan Andreas. Mereka sedang menebarkan jala di danau sebab mereka penjala ikan. Pekerjaan yang membosankan, karena mereka harus berjam-jam bekerja tetapi belum tentu mendapatkan hasil yang memadai. Yesus mengajak keduanya untuk mengikut Dia, untuk menjadi penjala manusia. Mungkinkah ini lebih menarik dari menjala ikan? Ataukah ini juga membosankan dan sama beratnya dengan menjala ikan?

Menjala manusia, mengajak orang untuk menjadi pengikut Kristus adalah pekerjaan yang berat. Tetapi, bagi setiap pengikut Kristus, menjala manusia adalah tugas mulia yang harus dilakukan, karena itu adalah sesuatu yang bukan dianjurkan saja. Mengabarkan injil keselamatan adalah perintah Tuhan, mandat agung, untuk kita.

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 19-20

Mungkin di antara kita ada yang mengira bahwa menjala manusia adalah tugas pendeta, penginjil dan orang-orang tertentu saja. Mereka tidak peduli akan panggilan Kristus untuk menjadikan semua bangsa muridNya. Dengan ketidakpedulian mereka, seringkali cara hidup mereka justru bisa menghalangi usaha-usaha untuk menangkap orang-orang yang ada disekitar mereka.

Pagi ini, jika kita pergi ke gereja, marilah kita sadar bahwa dunia ini melihat kita dan tingkah laku kita sehari-hari. Orang lain bisa melihat kita pergi ke gereja, tetapi hal itu bukanlah sesuatu yang bisa membuat mereka untuk mengikut Yesus. Tetapi, jika kita hidup menurut firmanNya dan menghasilkan hal-hal yang baik dalam hidup kita, orang akan bisa tertarik untuk mengikut Yesus dan memuliakan Bapa di surga.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Gunung Batu yang kekal

“Percayalah kepada TUHAN selama-lamanya, sebab TUHAN ALLAH adalah gunung batu yang kekal.” Yesaya. 26: 4

Pagi ini, ketika saya bangun tidur, terlihat sebuah bangunan gudang yang menjorok ke laut dari jendela kamar hotel saya di Sydney. Pier One pertama kali dibangun oleh tentara Inggris pada abad ke 18 sewaktu Australia baru diduduki Inggris. Kompleks bangunan ini mulanya sangat berguna untuk keperluan militer, tetapi kehilangan fungsinya sekitar tahun 1900. Entah mengapa ketika saya melihat bangunan tua yang tidak lagi digunakan itu, terasa bahwa manusia dan apa yang diciptakannya tidaklah abadi. Walaupun demikian, adalah mengherankan bahwa manusia seringkali merasa bahwa ia dapat bergantung pada apa yang bisa diperolehnya.

Pada waktu pemazmur menulis ayat diatas, mungkin ia berpikir tentang sesuatu yang ada di dunia yang jauh lebih kuat dari apa yang bisa ditemuinya, yang bisa dipakainya untuk menggambarkan Tuhan yang maha besar dan maha kuasa, yang senantiasa mampu melindungi dan menyelamatkannya dari bahaya apapun. Maka pikirannya kemudian melayang kepada Allah, gunung batu yang kekal, Rock of Ages. Gunung batu yang bisa melindunginya dari badai kehidupan.

Memang hidup manusia tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Seringkali, ditengah perjalanan hidup, badai bisa muncul dengan tiba-tiba dan tanpa peringatan. Adalah hal yang menakutkan jika kita tidak mempunyai tempat berlindung atau tidak tahu kemana kita harus pergi untuk berlindung. Begitu banyak orang yang dalam menghadapi masalah besar kemudian jatuh kedalam perasaan putus asa. Juga, karena mereka kurang mengenal Allah yang sudah mengirim Yesus ke dunia, sangat mudah bagi mereka untuk jatuh kedalam pengaruh kepercayaan lain.

Kesalahan manusia seringkali disebabkan oleh tidak adanya persiapan untuk menghadapi badai yang suatu saat akan datang. Banyak orang yang pada saat ini hidup dalam suasana nyaman, tidak pernah memikirkan kepada siapa ia harus meminta tolong atau dimana ia harus bersembunyi. Itu adalah suatu kenaifan yang memang dikehendaki iblis.

Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka. Amsal 22: 3

Pagi ini, kita diingatkan bahwa untuk semua orang, segala sesuatu ada masanya. Ada masanya untuk tertawa dan ada masanya untuk menangis (Pengkhotbah 3: 4). Tetapi untuk orang yang percaya, kasih Tuhan tidak berubah, dulu, sekarang dan selama-lamanya. Bagi mereka Tuhan adalah seperti gunung batu, pelindung yang kekal, yang tidak pernah berubah dalam hidup mereka.

Hidup adalah sebuah pilihan

“Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” Galatia 1: 10

Buat semua orang yang mengaku Kristen, keselamatan adalah semata-mata anugerah Tuhan. Tidak ada yang bisa membawa keselamatan selain darah Kristus. Ini berbeda dengan kepercayaan lain yang mengajarkan bahwa manusia bisa dan harus berbuat sesuatu untuk memperoleh karcis ke surga. Walaupun demikian, pada umumnya kepercayaan apapun mengajarkan agar semua pengikutnya untuk berbuat baik.

Jika perbuatan baik untuk orang Kristen tidak dibutuhkan untuk keselamatan, orang sering bertanya-tanya apakah ada insentif bagi orang Kristen untuk berbuat baik? Apakah Tuhan tetap mengharapkan orang berbuat baik? Dalam kenyataannya kita bisa menemui banyak orang Kristen yang hidupnya tidak sedap dipandang mata. Apa yang sedap di mata pun bisa diragukan, apakah itu bukannya untuk kemuliaan pribadi saja.

Alkitab mengatakan bahwa dari apa yang kita lihat dalam hidup seseorang, kita bisa mengetahui apakah ia benar-benar pengikut Kristus.

“Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.” Matius 7: 20

Memang kepada setiap orang yang sudah diselamatkan, Tuhan memberikan Roh Kudus sehingga mereka seharusnya dapat membedakan apa yang baik dan buruk. Karena itu, mereka yang benar-benar mengikut Kristus cepat atau lambat seharusnya akan mengalami perubahan dalam hidupnya kearah yang lebih baik. Namun untuk sebagian orang, perubahan yang dinantikan agaknya tidak kunjung datang.

Apakah manusia mempunyai peranan dalam perubahan hidup yang diharapkan? Banyak orang yang mengharapkan bahwa perubahan hidupnya datang dari pekerjaan Roh Kudus semata. Mereka mungkin merasakan adanya hal-hal yang kurang baik dalam hidupnya, tetapi tidak mempunyai inisiatif untuk berubah, sekalipun Roh Kudus sudah sering membisikkan berbagai nasihat dan peringatan. Dalam keadaan demikian, Roh Kudus telah didukakan oleh cara hidup mereka (Efesus 4: 30)

Pagi ini surat rasul Paulus kepada jemaat di Galatia menantang kita yang mengaku sebagai hamba Kristus. Dalam hidup sehari-hari, adakah kita mencari kesukaan duniawi atau kesukaan surgawi? Apakah kita selalu berusaha untuk memenuhi norma kehidupan manusia saja dan bukannya firman Tuhan? Sekiranya kita masih mau mencoba memenuhi standar kebaikan manusia, maka kita bukanlah hamba Kristus. Mereka dengan sengaja menolak bisikan dan bimbingan Roh adalah musuh Kristus (Lukas 12: 8-10). Sekalipun Tuhan sudah memanggil kita, untuk memperoleh keselamatan secara cuma-cuma (Roma 3: 23-24), bagaimana kita hidup adalah pilihan kita dan mengikut Yesus adalah keputusan kita sendiri.

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Berapa kali sehari kita harus berdoa?

“Sedangkan seorang janda yang benar-benar janda, yang ditinggalkan seorang diri, menaruh harapannya kepada Allah dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam.” 1 Timotius 5: 6

Berdoa. Hal yang penting dalam hidup. Ada yang bilang cukup dua kali sehari, tapi ada juga yang mengharuskan lima kali sehari. Ada yang berdoa sewaktu-waktu, ada juga yang berdoa hanya pada waktu tertentu. Bagaimana seharusnya untuk orang Kristen?

Berdoa adalah berkomunikasi dengan Tuhan yang maha kuasa; karena itu berdoa adalah salah satu berkat khusus yang diberikan hanya kepada orang-orang tertentu. Memang siapa saja bisa mengucapkan doa apa saja, tetapi tidak semua doa didengar Tuhan. Hanya doa orang yang hidup dalam Kristus akan didengar Tuhan.

“Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Yakobus 5: 16

Sebagai anak-anak Tuhan, kita boleh menyampaikan permohonan, yang jika sesuai dengan kehendak Tuhan, akan terjadi sesuai dengan janji Kristus.

“Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” Yohanes 14: 14

Jika demikian, mengapa masih ada pertanyaan berapa kali kita harus berdoa dalam sehari? Memang dalam Alkitab ada ayat-ayat yang menyebutkan kebiasaan yang baik untuk berdoa: pada pagi hari sebelum kita bekerja, dan pada malam hari sebelum kita tidur. Tetapi karena berdoa adalah sesuatu yang sangat penting, kita boleh berdoa kapan saja, dimana saja kita berada. Malahan, ayat pembukaan diatas mengatakan bahwa seorang janda yang ditinggalkan seorang diri, akan menaruh harapannya kepada Allah dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam. Bukan hanya dua kali atau lima kali sehari.

Masalahnya adalah tidak semua orang menyadari bahwa mereka mempunyai Tuhan yang maha kasih, yang selalu mau menolong anak-anakNya. Juga tidak semua orang menyadari bahwa dalam kesendirian mereka, mereka seharusnya menaruh harapannya kepada Tuhan dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam.

Doa adalah komunikasi kita dengan Tuhan. Pada saat dimana kita tidak dapat menemukan seseorang untuk mendengarkan curahan hati kita, Yesus menunggu kita untuk berdoa kepadaNya. Yesus adalah sobat kita yang setia. Dalam duka dan kesukaran, kita akan mendapat penghiburan dan pertolongan. Dalam suka, Yesus memberi kita keyakinan yang lebih besar akan kasihNya yang tidak berkesudahan.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Tidak ada waktu?

Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” Lukas 10: 41-42

Apakah dengan kemajuan teknologi manusia bisa mengurangi kesibukannya? Logisnya memang begitu, karena banyak kemudahan dan kenyamanan yang diperoleh melalui kemajuan elektronik, komputer dan internet, dan juga karena kemajuan teknik lainnya. Kalau dulu mengirim kabar harus melalui surat yang perlu beberapa hari untuk mencapai tujuannya, sekarang dengan email dan SMS seseorang bisa mengirimkan kabar dalam beberapa detik saja. Dengan adanya mobil orang tidak perlu berkuda berhari-hari untuk pergi ketempat yang jauh; dan bahkan dengan pesawat jet, orang bisa menempuh jarak 1000 km dalam waktu sejam saja.

Sungguh aneh bahwa ditengah kemajuan yang ada, ternyata manusia tidak juga berkurang kesibukannya. Dengan adanya internet, orang justru bisa kewalahan untuk membaca dan membalas email, SMS, dan WA. Memang dengan berbagai penemuan yang baru, orang seakan berlomba untuk membeli dan memakainya, sehingga mereka seringkali kehabisan waktu karena terlalu banyak mengerjakan hal- hal yang kurang perlu, dan juga menguatirkan dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, persis seperti Marta.

Ketika itu Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan, dan mampir di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Kalau saudara Marta, Maria, memilih untuk duduk dekat kaki Yesus dan mendengarkan Yesus, Marta sibuk melayani. Marta menjadi marah karena Maria tidak mau membantunya. Marta mungkin merasa bahwa ia mengerjakan sesuatu yang sangat penting yaitu menjamu Yesus dan mengira bahwa Maria tidak peduli akan hal itu.

Banyak renungan yang membahas soal Marta dan Maria sebagai dua jenis orang Kristen. Yang satu adalah seperti Maria yang mementingkan Firman, dan yang lain seperti Marta, mementingkan kesibukan duniawi. Tetapi mungkin juga dapat dibayangkan bahwa dalam hidup kita, karakter Marta dan Maria itu sering kita rasakan silih berganti. Ada kalanya kita ingin menjadi Maria, duduk berdiam dekat kaki Yesus, tetapi sering juga tugas, tekanan kehidupan dan godaan dunia membuat kita bertingkah-laku seperti Marta.

Sebagai Maria mungkin kita merasa bahwa mendengarkan suara Tuhan itu lebih penting dan percaya bahwa masih ada waktu untuk mengerjakan hal-hal lain sesudahnya. Sebagai Marta kita mungkin merasa bahwa ada terlalu banyak hal yang harus dikerjakan saat ini, dan karena itu mendengarkan suara Tuhan bisa dilakukan belakangan, kalau masih ada waktu.

Berapakah waktu yang sebenarnya kita punyai? Semua orang hanya mempunyai 24 jam sehari, dan 8 jam setidaknya dipakai untuk beristirahat. Tidak banyak. Jika kita tidak bisa meluangkan waktu untuk mendengarkan suara Tuhan, waktu yang ada akan hilang dengan cepat. Umur manusia juga tidak panjang; jika kita menunda-nunda untuk hidup untuk Kristus, kesempatan kita juga akan hilang.

“Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.” Mazmur 90: 10

Pagi ini, pertanyaan untuk kita adalah apakah kita selalu punya waktu untuk Tuhan. Hari ini dan dalam hidup kita. Tuhan sudah memberi waktu dan kesempatan kepada kita. Sebagai umatNya, kita harus bijaksana dalam memakai waktu yang masih ada.

“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” Mazmur 90: 12

Apa yang bisa aku lakukan?

Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: “Tuhan, tolonglah aku.” Markus 5: 28

Apa yang bisa aku lakukan? Pertanyaan ini sering muncul pada seseorang yang dalam kesulitan yang besar. Dalam situasi yang sangat mendesak, in desperation, orang menjerit: what can I do?

Jika kita berada dalam keadaan yang sedemikian dan tidak ada siapapun yang bisa menolong kita, mungkin jeritan kita adalah sia-sia belaka. Sekalipun ada banyak orang disekitar kita, kita mungkin merasa bahwa semua persoalan yang ada hanya bisa kita hadapi seorang diri, dan karena itu kita mungkin tidak bisa mengharapkan jawaban orang lain atas seruan kita. Sebagai manusia biasa, layaklah kita merasa tak berdaya.

Dalam Markus 5: 25-28 diceritakan adanya seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita sakit pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sampai-sampai semua uangnya habis, tetapi itu sama sekali tidak ada hasilnya. Malahan, keadaannya makin memburuk. Apa lagi yang harus diperbuatnya? Rasa putus asa mulai mengisi hidupnya: uang habis, tidak ada jalan keluar, dan tidak ada harapan.

Kelihatannya perempuan itu berada dalam keadaan kritis, baik secara jasmani maupun rohani. Tetapi Tuhan itu maha kasih, Ia selalu bersedia menolong orang-orang yang dikasihiNya. Dalam keadaan yang berat, Tuhan memberikan satu berkat yang selalu ada didalam hati orang yang mengakui kuasaNya: Iman.

Perempuan itu sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, dan ia percaya bahwa sekalipun orang lain tidak bisa menolong, Yesus pasti bisa. Maka di tengah-tengah orang banyak yang tidak bisa menolongnya, ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya. Seketika itu juga ia disembuhkan. Sekalipun dunia tak bisa diharapkan, Tuhan tetap ada sebagai penolong orang yang percaya. Kisah nyata yang indah, tetapi mengapa Yesus mau menolong perempuan itu?

Sebagai manusia, Yesus pun mengalami pergumulan yang serupa. Dalam injil Lukas 22: 41-45, tertulis bahwa Yesus bergumul dalam doa di taman Getsemani menjelang penyalibanNya. Ia merasa takut dan tidak ada seorangpun yang bisa menolongnya. Murid-murid yang dikasihiNya hanya bisa berduka dan tidur. Tetapi apa yang dilakukan Yesus membawa kekuatan yang baru. Ia berdoa:

“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Lukas 22: 43

Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Di dalam keadaan yang berat, Allah menyatakan kasihNya pada waktu yang tepat.

Pagi ini, jika kita merasa masygul karena berbagai persoalan, marilah kita yakin bahwa Yesus adalah Tuhan kita yang maha pengasih. Maha Pengasih adalah salah satu sifat hakiki Tuhan (1 Yohanes 4: 8). KasihNya sungguh besar kepada semua orang, terutama kepada mereka yang beriman kepadaNya. Lebih dari itu, sebagai manusia tidak berdosa yang sudah mengalami penderitaan di kayu salib, Ia sudah memberi teladan bahwa jika kita menyerahkan semua kesulitan kita kepada Tuhan, kita akan lebih dapat merasakan kasihNya dalam hidup kita.

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” Roma 5: 3-5

Orang sehat tak perlu dokter

Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Markus 2: 17

Bagi banyak orang, masalah kesehatan adalah bahan pembicaraan yang sangat populer. Seringkali saya menerima kiriman nasihat dari teman-teman tentang khasiat jamu tertentu, cara menghindari penyakit, larangan kegiatan tertentu untuk mencegah sakit, dan nasihat sejenisnya. Sepintas lalu, nasihat semacam itu seakan punya maksud baik, yaitu untuk menolong orang lain. Tetapi, jika diselidiki dan dipikirkan masak-masak, kebanyakan nasihat semacam itu tidak berdasarkan fakta atau penyelidikan medis yang benar. Karena itu, ada kemungkinan orang yang sebenarnya perlu nasihat dokter bisa-bisa memilih tindakan yang keliru gara-gara berita yang tidak jelas asal-usulnya.

Memang peringatan dan nasihat kesehatan yang benar itu perlu. Banyak orang yang sakit tetapi lebih suka minum “obat” pilihan sendiri. Ada juga yang sakit serius, tidak tahu kalau sakit dan tidak pernah ke dokter karena hidupnya sibuk . Selain itu ada juga orang sakit yang tidak mau mengaku sakit karena takut sakit. Ada pula yang merasa sehat karena melihat banyak orang lain yang jauh lebih tidak sehat jika dibandingkan dengan dirinya. Hal sakit itu bukan saja mengenai jasmani tetapi juga bisa mengenai rohani. Banyak orang yang menderita depresi dan gangguan kejiwaan lainnya, tetapi tidak menyadari, tidak peduli atau tidak mau mengakui. Karena itu, sering terjadi bahwa orang-orang yang sedemikian pada akhirnya mengambil tindakan yang menyedihkan karena tidak ada orang yang bisa menolong mereka.

Pada waktu Yesus menjumpai para pemungut cukai dan orang-orang yang dimusuhi masyarakat, Ia memutuskan untuk makan bersama orang-orang itu (Markus 2: 14-16). Ketika para ahli Taurat dan kaum Farisi melihat hal itu, mereka menjadi tidak senang hati karena bagi mereka, orang pemungut cukai dan orang berdosa adalah seperti orang yang mempunyai penyakit menular yang harus dihindari. Tetapi Yesus dengan tepat menjawab bahwa seperti seorang tabib yang datang untuk orang yang sakit, Ia datang bukan untuk orang yang benar, tetapi untuk orang berdosa (Markus 2: 17).

Jika kita meneliti jawaban Yesus itu, mungkin kita bertanya-tanya apakah ada orang yang benar di dunia ini, Mungkinkah Yesus sebenarnya bermaksud untuk menjelaskan bahwa Ia datang untuk semua umat manusia? Benar! Memang semua manusia adalah orang berdosa, yang seperti orang sakit, semuanya memerlukan pertolongan.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3: 23

Walaupun demikian, tidak semua orang merasa bahwa mereka adalah orang berdosa. Seperti orang sakit, banyak orang yang tidak menyadari, tidak peduli atau tidak mau mengakui bahwa mereka adalah orang yang membutuhkan seorang Juruselamat. Seperti masalah kesehatan, seringkali, orang merasa bahwa hidup mereka masih lebih baik daripada orang lain dan karena itu tidak ada yang perlu dikuatirkan. Tambahan pula, seringkali orang lebih senang mengikuti ajaran dunia daripada menaati firman Tuhan.

Pagi ini, kita harus sadar bahwa hidup dengan mengabaikan kenyataan adalah hidup dalam impian. Setiap orang adalah orang yang berdosa dan lemah, dan karena itu membutuhkan pertolongan. Biarpun hidup kita serasa nyaman dengan segala kekayaan, ketenaran, kedudukan dan kekuasaan dan bahkan dengan kesehatan tubuh yang prima saat ini, tidak ada seorangpun yang bisa menolong kita dalam hal hidup suci yang sesuai dengan perintah Tuhan.

Semua orang tidak dapat memenuhi syarat kesucian dan hidup baik menurut standar Allah, dan karena itu semua orang pada akhirnya akan menemui hukuman Tuhan, yaitu kematian abadi. Tetapi barangsiapa benar-benar percaya kepada Yesus sebagai Juruselamatnya dan menyadari segala kelemahan dan dosanya akan memperoleh hidup kekal melalui pertobatan dari hidup lamanya. Lebih dari itu, jika kita benar-benar mau menyerahkan hidup kita kepada Yesus, kita akan menerima bimbingan Roh Kudus sehingga  makin lama hidup kita akan makin dipenuhi kasih Kristus.

Sudahkah anda membuka pintu hati anda?

“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” Wahyu 3: 20

Dari sekitar 2,2 miliar orang Kristen di seluruh dunia saat ini, sebagian pergi ke gereja pada hari Minggu. Untuk yang lain, hari Sabtu merupakan hari Sabat mereka. Untuk apa mereka ke gereja? Apa yang mereka cari di gereja?

Sebagian besar mungkin merasa bahwa ke gereja adalah suatu keharusan, mengikuti perintah Tuhan. Bagi yang lain, mendengarkan khotbah dan menyanyikan lagu pujian sudah menjadi kebiasaan dari kecil. Ada juga yang ke gereja untuk menjalankan tugas gereja dan mereka memang senang untuk berorganisasi. Sebagian yang lain mungkin menikmati kebersamaan dengan sanak dan teman.

Sebenarnya kebiasaan ke gereja dengan teratur setiap minggu itu bisa dilihat dari segi kerinduan orang percaya untuk menjumpai Tuhan. Tradisi dari zaman bani Israel menunjuk pada kebiasaan untuk berbakti di bait Allah dimana kehadiran Allah dirasakan. Yesus bersama orang tuaNya pun pergi ke bait Allah di Yerusalem tiap hari Paskah sejak kecil, dimana Ia juga senang mempelajari firman Allah.

Merasakan adanya kehadiran Tuhan di gereja memang suatu pengalaman yang indah yang bisa dirasakan setiap orang Kristen. Apalagi jika suasana mendukung, barangkali dengan nyanyian, doa dan khotbah yang ada. Dalam suasana yang demikian kita mungkin merasa bahwa Tuhan itu dekat dan kita mengenali Dia. Walaupun demikian, pertanyaan untuk kita adalah apakah kita benar-benar kenal dengan Tuhan.

Ada banyak orang yang mengenal Tuhan dari firmanNya. Tetapi pengenalan itu hanya dari akal budi saja. Yesus berkata bahwa kita harus mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi kita dan dengan segenap kekuatan kita (Markus 12: 30). Dengan demikian, bukan saja kita harus mengenal Dia, tetapi kita harus membiarkan Tuhan untuk masuk kedalam hidup kita sehari-hari. Kita harus membiarkan Roh Kudus tinggal di hati kita untuk bekerja disana.

Pagi ini, jika kita merasa terpanggil untuk pergi ke gereja, kita diingatkan bahwa Tuhan mengharapkan perjumpaan dari hati ke hati, dan bukan hanya sekedar pertemuan selama satu atau dua jam saja. Seringkali kita merasa bahwa kita kenal Tuhan, tetapi sebenarnya kita hanya tahu bahwa Dia ada. Hati kita mungkin masih tertutup untuk Dia, dan kita mungkin saja masih berusaha menyembunyikan hidup kita dari pandangan mataNya. Mungkin pengalaman pahit di masa lalu, keraguan akan kasihNya, atau ketakutan kita akan kesucianNya, membuat kita menutup pintu hati kita. Kita mungkin merasa lebih tenteram jika Tuhan tidak mencampuri hidup kita.

Saat ini, Tuhan menunggu kita untuk membuka pintu hati kita agar Ia bisa masuk ke dalam hidup kita. Ia yang maha kasih bermaksud untuk menguatkan menghibur, membimbing dan menolong kita dan bukannya membuat hidup kita lebih berat. Maukah kita membiarkan Dia masuk?

“Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku. Sebab mataku tertuju pada kasih setia-Mu, dan aku hidup dalam kebenaran-Mu.” Mazmur 26: 2-3

Seberapa jauh aku harus berlari?

“…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Filipi 3: 13-14

Salah satu keharusan untuk seorang pelari adalah berlatih setiap hari. Untuk itu, ia harus menyesuaikan skedul latihannya dengan jenis pertandingan yang akan diikutinya. Seorang pelari marathon misalnya, harus berlatih lari jarak jauh setiap hari karena pada waktu pertandingan ia harus menempuh jarak 42 km itu dalam waktu kurang dari 2,5 jam.

Sebagai orang Kristen, kita semua digambarkan oleh rasul Paulus sebagai seorang pelari jarak jauh yang harus berlari terus sepanjang hidupnya untuk bisa menyelesaikan pertandingannya dengan baik, untuk bisa memenuhi panggilan Tuhan, sehingga kita bisa menerima kemuliaan dari Tuhan yang sudah memilih kita sebagai pelari-pelariNya.

“Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Roma 8: 30

Memang untuk terus berlatih setiap hari, seorang pelari mempunyai disiplin. Ada hari-hari dimana perasaan malas atau bosan datang. Ada juga saat dimana tubuh dan pikiran merasa lelah, dan dalam pikiran mulai timbul pertanyaan apa arti semua perjuangan ini. Apakah hadiah yang akan aku terima cukup memadai jika dibandingkan dengan pengorbananku?

Seperti seorang pelari Tuhan, kita pun bisa menjadi masygul dalam menghadapi kesulitan dan tantangan hidup. Hidup sebagai manusia saja sudah berat, belum lagi hidup yang sesuai dengan perintah Tuhan. Pertanyaan sering muncul, berapa lama kita harus berlari dalam hidup ini, dan berapa lama kita harus berlari menuruti firman Tuhan setiap hari.

Tidak ada seorangpun yang tahu berapa lama kita hidup di dunia ini. Sebagai pelari Tuhan kita harus tetap bertahan dalam menjalankan perintahNya untuk berlari sampai garis finish. Seumur hidup. Sebagai pelari Tuhan kita harus berlari, hidup dalam kebenaranNya, 24 jam sehari. Ini adalah keharusan yang tidak dapat kita lakukan dengan tenaga sendiri.

Pagi ini, marilah kita meneliti hidup kita sebagai pelari-pelari Tuhan. Apakah kita tetap mempunyai semangat untuk terus berlari hingga akhir hayat kita? Apakah tekanan hidup kita sangat berat sehingga berat bagi kita untuk tetap berlari dalam iman? Apakah kejemuan hidup sudah sedemikian besar sehingga kita hanya hidup menurut firmanNya untuk beberapa jam saja dalam sehari?

Tuhan yang sudah memilih kita sebagai umatNya dan akan memberikan kita hadiah surgawi, adalah Tuhan yang maha kasih dan maha bijaksana. Ia tahu kapan kita merasa lelah, jemu atau sakit. Apa yang kita perlukan hanyalah kesadaran bahwa Ia menyertai kita sepanjang kita berlari dalam hidup ini. Ia menunggu kita untuk datang kepadaNya guna memperoleh kesegaran dan kekuatan untuk melanjutkan perjuangan hidup kita.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28