“….sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.“ Yakobus 1: 6b
Hari ini, dalam perjalanan ke Port Arthur, Tasmania, angin tidak bertiup terlalu keras dan gelombang laut pun kelihatannya tidak besar. Kapal Explorer berkapasitas 3000 orang yang saya tumpangi melaju tanpa mengalami goncangan yang berarti. Walaupun laut Tasman kali ini terlihat tenang, keadaan itu tidaklah selalu demikian.
Sikap kita dalam menghadapi tantangan kehidupan bisa dibayangkan seperti gelombang laut yang mudah dipengaruhi angin. Jika hidup kita berada dalam keadaan normal, segala sesuatu berjalan seperti biasa dan tidak ada yang kita kuatirkan. Tetapi, jika kesulitan hidup datang dan usaha kita untuk mengatasinya tidak berhasil, pikiran kita mulai kacau dan kebingungan akan mengisi hidup kita. Kebimbangan akan penyertaan Tuhan mungkin muncul dan iman kita bisa goncang seperti gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.
Dalam kesulitan besar, pertanyaan yang biasanya muncul adalah mengapa hal ini harus terjadi pada diri kita. Yakobus menjelaskan dalam Alkitab bahwa keadaan yang sulit justru bisa menghasilkan ketekunan (Yakobus 1: 2), tetapi hal ini tidak mudah kita mengerti. Memang untuk bisa mengerti arti kesulitan yang kita hadapi tidaklah mudah tanpa hikmat dari Tuhan. Tanpa mengerti apa maksud Tuhan dalam hidupnya, manusia mudah terpengaruh oleh pandangan-pandangan duniawi dan bahkan bujukan iblis yang menjauhkan mereka dari Tuhan yang maha kuasa, maha bijaksana dan maha kasih.
Jika otak manusia tidak dapat mengerti mengapa kesulitan hidup harus terjadi pada anak-anak Tuhan, hikmat pengertian akan diberikan Tuhan kepada mereka yang mempunyai iman dan mau memintanya dengan keyakinan yang teguh. Dalam hal ini patut disayangkan bahwa ada orang-orang Kristen yang sebenarnya ingin mengerti akan makna hidup dan tantangan kehidupan, tetapi tidak dengan setia memohon agar Tuhan memberi hikmat tentang hal itu (Yakobus 1: 5). Akibatnya, mereka tidak mempunyai hidup yang tenang.
Pagi ini kita harus sadar bahwa selama ini kita mungkin lebih sering berdoa memohon agar Tuhan menolong kita, membebaskan kita dari kesulitan, tetapi tidak meminta pengertian akan apa yang terjadi dalam hidup kita. Kita sering bimbang berada diantara posisi ingin bebas dari kesulitan dan ingin berserah kepada Tuhan. Karena itu hidup kita seringkali terombang-ambing seperti gelombang laut.
“Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.” Yakobus 1: 7-8
Pagi ini saya tiba di kota kecil Eden, yang berada kira-kira 500 km di selatan Sydney. Kota ini terkenal sebagai salah satu tempat mencari ikan yang top di Australia. Turis, baik lokal maupun internasional, banyak yang datang ke kota berpenduduk sekitar 3000 orang ini hanya untuk memancing ikan di laut. Buat saya yang gemar memancing, hal itu tidak mengherankan; tetapi untuk orang lain, Eden mungkin lebih menarik karena pemandangannya. Apa yang menarik orang untuk menangkap ikan? Itu sepertinya hal yang membosankan!
Pagi ini, ketika saya bangun tidur, terlihat sebuah bangunan gudang yang menjorok ke laut dari jendela kamar hotel saya di Sydney. Pier One pertama kali dibangun oleh tentara Inggris pada abad ke 18 sewaktu Australia baru diduduki Inggris. Kompleks bangunan ini mulanya sangat berguna untuk keperluan militer, tetapi kehilangan fungsinya sekitar tahun 1900. Entah mengapa ketika saya melihat bangunan tua yang tidak lagi digunakan itu, terasa bahwa manusia dan apa yang diciptakannya tidaklah abadi. Walaupun demikian, adalah mengherankan bahwa manusia seringkali merasa bahwa ia dapat bergantung pada apa yang bisa diperolehnya.
Buat semua orang yang mengaku Kristen, keselamatan adalah semata-mata anugerah Tuhan. Tidak ada yang bisa membawa keselamatan selain darah Kristus. Ini berbeda dengan kepercayaan lain yang mengajarkan bahwa manusia bisa dan harus berbuat sesuatu untuk memperoleh karcis ke surga. Walaupun demikian, pada umumnya kepercayaan apapun mengajarkan agar semua pengikutnya untuk berbuat baik.
Berdoa. Hal yang penting dalam hidup. Ada yang bilang cukup dua kali sehari, tapi ada juga yang mengharuskan lima kali sehari. Ada yang berdoa sewaktu-waktu, ada juga yang berdoa hanya pada waktu tertentu. Bagaimana seharusnya untuk orang Kristen?
Apakah dengan kemajuan teknologi manusia bisa mengurangi kesibukannya? Logisnya memang begitu, karena banyak kemudahan dan kenyamanan yang diperoleh melalui kemajuan elektronik, komputer dan internet, dan juga karena kemajuan teknik lainnya. Kalau dulu mengirim kabar harus melalui surat yang perlu beberapa hari untuk mencapai tujuannya, sekarang dengan email dan SMS seseorang bisa mengirimkan kabar dalam beberapa detik saja. Dengan adanya mobil orang tidak perlu berkuda berhari-hari untuk pergi ketempat yang jauh; dan bahkan dengan pesawat jet, orang bisa menempuh jarak 1000 km dalam waktu sejam saja.
Bagi banyak orang, masalah kesehatan adalah bahan pembicaraan yang sangat populer. Seringkali saya menerima kiriman nasihat dari teman-teman tentang khasiat jamu tertentu, cara menghindari penyakit, larangan kegiatan tertentu untuk mencegah sakit, dan nasihat sejenisnya. Sepintas lalu, nasihat semacam itu seakan punya maksud baik, yaitu untuk menolong orang lain. Tetapi, jika diselidiki dan dipikirkan masak-masak, kebanyakan nasihat semacam itu tidak berdasarkan fakta atau penyelidikan medis yang benar. Karena itu, ada kemungkinan orang yang sebenarnya perlu nasihat dokter bisa-bisa memilih tindakan yang keliru gara-gara berita yang tidak jelas asal-usulnya.
Dari sekitar 2,2 miliar orang Kristen di seluruh dunia saat ini, sebagian pergi ke gereja pada hari Minggu. Untuk yang lain, hari Sabtu merupakan hari Sabat mereka. Untuk apa mereka ke gereja? Apa yang mereka cari di gereja?
Salah satu keharusan untuk seorang pelari adalah berlatih setiap hari. Untuk itu, ia harus menyesuaikan skedul latihannya dengan jenis pertandingan yang akan diikutinya. Seorang pelari marathon misalnya, harus berlatih lari jarak jauh setiap hari karena pada waktu pertandingan ia harus menempuh jarak 42 km itu dalam waktu kurang dari 2,5 jam.