Punya rencana untuk masa depan?

Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 15

Pada umumnya orang selalu mempunyai keinginan untuk melakukan atau mendapatkan sesuatu di masa depan. Memang hal ini lebih umum di kalangan orang yang belum mencapai usia uzur, tetapi sekalipun mereka yang sudah pensiun tidaklah jarang ditemui mereka yang mempunyai rencana masa depan sebelum mereka meninggalkan dunia ini. Masa depan adalah relatif, buat mereka yang masih anak-anak menjadi orang dewasa barangkali tidak atau belum pernah terpikirkan, tetapi mereka yang sudah termasuk dewasa tetapi masih tergolong muda mungkin mempunyai berbagai cita-cita dan rencana hidup yang diharapkan untuk tercapai sebelum datangnya usia tua. “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”, begitulah nasihat yang sering diberikan kepada orang muda; tetapi bagi yang sudah pensiun mungkin pandangan hidup sudah berubah untuk menerima apa yang ada.

Berlainan dengan pandangan atau kebiasaan umum, buat orang Kristen tujuan hidup bukanlah hanya untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit dan berusaha mencapainya, dan juga bukan untuk hidup pasif dan tidak berbuat apa-apa – tetapi untuk memuliakan Tuhan, karena itulah tujuan Tuhan untuk menciptakan manusia. Manusia dari segala bangsa, jenis, status sosial dan umur seharusnya mengabdikan diri mereka selama hidup di dunia untuk kemuliaan Tuhan.

“Semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!” Yesaya 43: 7

Tambahan pula, Yesus mengatakan bahwa dua hukum utama yang harus dijalankan manusia seumur hidup adalah untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, dan mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri (Matius 22: 37-40).

Jika tujuan hidup kita adalah untuk memuliakan Tuhan, itu bukan berarti kita tidak boleh berusaha mencapai apa yang bisa dicapai dalam hidup kita, karena Alkitab mengatakan bahwa apapun yang kita perbuat dalam hidup ini, kita harus melakukan semuanya untuk kemuliaan Tuhan. Ini berarti bahwa apa yang kita pikirkan dan rencanakan haruslah mempunyai tujuan agar nama Tuhan dibesarkan. Dengan tidak bersemangat untuk mencapai hasil baik atau dengan kepuasan untuk tidak berbuat apa-apa, manusia tidak dapat memuliakan Tuhan.

“Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10: 31

Dalam kenyataannya, kebanyakan manusia memiliki cita-cita dan membuat rencana untuk dirinya sendiri. Bukan saja mereka yang muda ingin untuk memperoleh segala kenikmatan duniawi yang ada, mereka yang sudah tua pun jarang memikirkan apa yang harus diperbuat untuk kemuliaan Tuhan dalam sisa hidup mereka. Manusia tidak tahu apa yang terjadi esok hari, tetapi seolah merasa bahwa mereka harus dan akan hidup  untuk mencapai apa yang mereka senangi.

Pagi ini, kita harus menyadari bahwa hidup mati kita bukannya ada di tangan kita, dan karena itu dalam merencanakan segala sesuatu seharusnya kita melakukannya dengan rasa rendah hati dan penyerahan kepada Tuhan. Manusia memang bisa merencanakan segala sesuatu, tetapi jika itu bukan untuk kemuliaan Tuhan, pada akhirnya semua itu tidak ada gunanya sesudah hidup kita berakhir di dunia ini.

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Yakobus 4: 13-14

Semoga kita bisa mengarahkan hidup kita ke arah yang benar dan mau menyerahkan semua rencana hidup kita ke tangan Tuhan!

Apa yang anda minta?

“Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya.” Mazmur 27: 4

Suatu kenangan yang manis yang masih saya ingat mengenai masa kecil saya adalah saat dimana hari ulang tahun saya mendatangi. Keluarga saya pada tahun 60an, seperti banyak keluarga yang lain di Indonesia, hidup dalam kesederhanaan. Memang keadaan negara Indonesia pada saat itu cukup prihatin. Walaupun demikian, orang tua saya yang tidak tergolong mampu, selalu merayakan hari ulang tahun anak-anaknya setidaknya dengan makanan “istimewa”. Untuk itu, ibu saya biasanya bertanya makanan apa yang saya maui.

Tahun demi tahun berlalu, dan saya pun bertambah dewasa untuk tidak dikatakan bertambah tua. Sungguh menarik bahwa dengan bertambahnya umur, daftar yang saya maui dalam hidup kelihatannya masih banyak juga. Seperti orang lain, sebenarnya ada banyak hal yang kita inginkan dalam hidup ini, walaupun dengan bertambahnya umur kita mungkin harus menerima kenyataan bahwa sebagian dari apa yang kita ingini, mungkin tinggal sebagai impian saja.

Adalah kenyataan bahwa hidup manusia ada di tangan Tuhan yang maha kuasa. Apapun yang kita ingini hanya terjadi jika itu sesuai dengan kehendak Tuhan. Seringkali, apa yang tidak kita ingini malahan terjadi dalam hidup kita. Itupun harus kita terima dengan iman bahwa segala sesuatu yang terjadi bagi orang percaya akan membawa kebaikan.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Apakah sebagai anak-anak Tuhan kita tidak boleh meminta apa yang kita inginkan? Sudah tentu boleh! Yesus malahan pernah berkata bahwa apapun yang kita minta dalam namaNya akan dikabulkan.

“Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” Yohanes 14: 14

Walaupun demikian, untuk bisa meminta dalam nama Yesus, kita harus bisa mengerti apakah Yesus sendiri akan dengan senang hati melakukannya diluar permintaan kita. Kita hanya dapat melakukan sesuatu atas nama orang lain jika kita yakin bahwa orang itu akan setuju dengan apa yang kita lakukan. Karena itulah, doa orang percaya selalu dilandasi pengertian bahwa segala sesuatu pada akhirnya, harus diserahkan kepada kehendak Tuhan.

Apa yang kita inginkan dalam hidup ini akan terjadi kalau Tuhan menghendaki. Apa yang dikehendaki Tuhan dari awalnya adalah hubungan yang erat dengan umatNya. Karena Tuhan adalah maha kasih, Ia ingin kita untuk mengasihi Dia. Karena itu apa yang kita minta seharusnya untuk membina hubungan kita dengan Tuhan, sebab Tuhan tidak suka jika kita menginginkan sesuatu yang justru akan merusak hubungan itu.

Pagi ini, baik untuk yang masih tergolong muda ataupun yang sudah berusia, untuk anda pertanyaan Tuhan tetap ada. Apakah yang anda minta dalam hidup anda? Adakah sesuatu yang sangat diinginkan? Sebutkan satu persatu, dan bandingkan semuanya dengan permintaan pemazmur diatas. Satu hal telah diminta pemazmur adalah untuk diam di rumah Tuhan seumur hidup, menyaksikan kemurahan Tuhan dan menikmati bait-Nya. Dalam kata lain, pemazmur ingin memuliakan Tuhan sambil bersyukur dan membina hubungan yang intim dengan Tuhan seumur hidupnya. Jika ini adalah motif keinginan kita, percayalah bahwa Tuhan pada saat yang tepat akan mengabulkan permintaan kita!

Soal merumpi

“Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan.” 2 Timotius 2: 16

Saat ini baik di Indonesia maupun di luar negeri, mall di pusat pertokoan selalu penuh dikunjungi orang, terutama jika udara luar sedang panas. Dinginnya AC di shopping centre dan nikmatnya duduk-duduk di cafe atau restoran selalu mendorong orang untuk jalan-jalan, kumpul-kumpul dan “ngrumpi”.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, merumpi adalah acara mengobrol sambil bergunjing dengan teman sebaya atau sekelompok, biasanya dalam kelompok kecil. Untuk mengadakan acara merumpi tidaklah sulit. Apalagi dengan populernya aplikasi telepon gengam, undangan atau ajakan untuk merumpi bisa disebarkan dengan cepat dan acara kumpul-kumpul bisa diadakan di setiap tempat dan saat.

Sebenarnya acara kumpul-kumpul itu tidak ada salahnya karena jemaat Kristen yang mula-mula juga senang melakukan hal itu dan karena itu jugalah gereja bertumbuh makin lama makin besar. Tetapi, dalam acara kumpul-kumpul murid Yesus, tujuan mereka adalah saling menguatkan, saling mendoakan dan hidup dalam takut akan Tuhan; karena itu jumlah mereka bertambah banyak oleh pertolongan dan pengiburan Roh Kudus (Kisah 9: 31).

Perlu diingat bahwa keadaan pada waktu itu tidaklah aman untuk pengikut Kristus untuk bertemu dan berbakti bersama-sama. Tetapi justru dalam keadaan yang demikian,  pertemuan mereka membawa berkat Tuhan karena tujuan pertemuan itu adalah untuk memuliakan Tuhan dan untuk saling menguatkan. Kejadian yang serupa juga terjadi di zaman ini – di negara-negara dimana agama Kristen dimusuhi oleh masyarakat dan pemerintah setempat;  pertemuan umat Kristen tetap berlangsung dibawah tanah, walaupun dalam suasana yang kurang aman atau nyaman.

Apa yang agaknya menyedihkan di masa sekarang adalah justru dalam keadaan yang relatif aman dan nyaman di banyak negara, orang Kristen malah kurang tertarik untuk berkumpul dalam kelompok kecil guna mempelajari firmanNya. Kalaupun ada, acara kumpul-kumpul, itu mungkin saja didasari keinginan-keinginan lain seperti makan-makan, kumpul-kumpul, nostalgia atau merumpi. Ini terjadi di negara-negara yang relatif aman bagi orang Kristen untuk berkumpul dan beribadah. Acara pertemuan seperti itu bukan hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya melalui berbagai aplikasi telepon genggam atau komputer. Pertemuan serupa diantara umat Kristen untuk membahas firman Tuhan jauh lebih tidak populer jika dibandingkan dengan pertemuan sosial, chatting, yang pada umumnya disambut dengan rasa antusias setiap hari.

Sebagai orang Kristen mungkin kita sadar bahwa pada waktunya kita akan bersama-sama dengan mereka yang seiman berkumpul di surga. Apa yang akan kita kerjakan di surga? Wahyu 7: 9-10 mengatakan:

“Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Dan dengan suara nyaring mereka berseru: “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!”

Inilah kenyataannya, bahwa jika kita memilih untuk mengikut Yesus, pada saatnya kita akan berdiri bersama-sama dengan saudara seiman di hadapanNya dan mempersembahkan puji-pujian kita kepadaNya.

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai orang Kristen, hidup kita di dunia ini bukanlah tujuan akhir kita. Karena itu, segala usaha dan persiapan kita haruslah dilakukan sedemikian rupa sebagai persiapan untuk menemui Tuhan kita yang maha suci di surga. Hidup kita di dunia oleh sebab itu haruslah diisi dengan hal-hal yang berguna untuk memuliakan Tuhan dan bukannya dengan hal-hal duniawi yang membuat kita makin jauh dari Tuhan!

Hidup itu tidak mudah

“Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya.” Amsal 3: 11

Sejak dulu manusia berusaha mencari tuhannya dengan berbagai cara, tetapi segala usahanya sia-sia karena Tuhan yang maha suci tidaklah terjangkau oleh pikiran dan usaha manusia. Hanya karena Yesus sudah turun ke dunia dan mati ganti dosa, manusia bisa menyadari adanya Tuhan yang maha kasih yang bisa didekati oleh setiap orang percaya.

Namun, sejarah juga membuktikan bahwa sekalipun bangsa pilihan Tuhan, Israel, juga berkali-kali memberontak dan mencoba untuk mencari tuhan yang lain. Mereka yang mendambakan tuhan yang bisa dilihat dan diraba, mencoba untuk menciptakan berbagai berhala, ilah-ilah, guna disembah. Mereka yang bosan mendengar tuntutan Tuhan mencoba untuk berganti arah, mencari ilah yang lebih bisa memberi kebebasan hidup.

Di zaman ini, mereka yang menginginkan hidup sukses, kekayaan, kedamaian dan kenyamanan hidup yang lain, berusaha mencari jalan pintas melalui cara hidup dan pengabdian kepada ilah-ilah yang kelihatannya lebih baik dan sabar. Ilah yang tidak pernah mendidik, mengatur, memperingatkan dan menghukum manusia yang salah jalan. Ilah yang sedemikian hanyalah ada dalam pikiran manusia, yang ingin bebas dari batas-batas yang ditentukan oleh Tuhan yang maha kuasa dan maha suci. Ilah yang sedemikian haruslah diciptakan manusia sendiri.

Ada banyak orang yang percaya adanya sesuatu yang berkuasa tetapi tidak mau mengikut agama apapun. Ada banyak orang yang memilih agama yang tidak menekankan adanya neraka dan pentingnya hidup yang benar. Juga banyak orang yang mengikut ajaran bahwa iman yang benar selalu akan membawa kemakmuran dan kekayaan. Malahan ada yang mengajarkan bahwa manusia dan Tuhan adalah satu dan mempunyai kuasa ajaib di alam semesta.

Di kalangan umat Kristen pun, mereka yang bosan mendengar didikan dan peringatan Tuhan banyak yang berusaha untuk menyesuaikan firman Tuhan dengan gaya hidup manusia. Bukannya menjalani hidup menurut firman Tuhan, mereka justru membengkokkan atau mengartikan firman Tuhan untuk disesuaikan dengan hidup mereka. Akibatnya ada banyak gereja yang sudah berubah menjadi perkumpulan sosial saja, dan banyak orang Kristen yang hanya sekedar mengikuti tradisi.

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan bahwa menjadi orang Kristen bukanlah hanya untuk menerima berkat Tuhan. Menjadi umat Tuhan berarti hidup menurut firman Tuhan dan selalu mau mendengar dan menaati didikan dan peringatan Tuhan agar kita berjalan di jalan yang benar. Memang hidup sebagai orang Kristen tidaklah mudah; karena itu hidup yang mudah bukanlah hidup Kristen!

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7: 13-14

Sudahkan Yesus hidup dalamku?

“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Galatia 2: 20

Barangkali anda pernah bertanya apa yang terjadi sesudah seseorang percaya kepada Yesus sebagai Juruselamatnya. Adakah sesuatu yang berubah dalam hidup seseorang yang sudah menyerahkan hidupnya kepada Yesus? Mungkin syair lagu dibawah ini bisa memberi gambaran tentang apa yang terjadi dalam hidup baru seseorang yang sudah dilahirkan kembali.

Hidupku bukannya aku lagi,

tapi Yesus dalamku

Yesus hidup

Yesus hidup dalamku

Hidupku bukannya aku lagi,

tapi Yesus dalamku

Lagu yang liriknya sederhana ini adalah berdasarkan ayat Galatia 2: 20. Lagu ini adalah salah satu lagu terkenal yang mungkin sekarang jarang dinyanyikan di gereja karena adanya lagu-lagu baru yang lebih menarik syair dan nadanya. Padahal, apa yang ada dalam lagu ini adalah suatu yang sangat penting, yang menandai hidup baru seseorang yang sudah ditebus Kristus.

Orang yang sudah lahir baru adalah sebuah ciptaan yang baru dalam Kristus.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Sebagai ciptaan baru, orang itu telah diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengenal jalan keselamatan dan sudah menerima Yesus sebagai Tuhannya. Orang yang demikian tidak hanya mengaku dengan mulut dan pikirannya bahwa Yesus itu Tuhan, tetapi juga mempersilahkan Yesus untuk masuk kedalam hati dan menguasai hidupnya.

Orang yang sudah benar-benar menerima Kristus pasti akan berubah hidupnya. Bukannya hidup orang itu berubah seperti Kristus hidup dalamnya, tetapi hidup orang itu menjadi hidup Kristus karena Ia sendiri melalui Roh Kudus memang hidup didalamnya. Dengan membiarkan Kristus tinggal didalam hidup kita dan memegang kendali hidup kita, tidak dapat kita hindari bahwa makin lama apa yang kita lakukan adalah apa yang akan Yesus lakukan dalam keadaan yang sama. Segala yang kita perbuat, pikir atau katakan menjadi selaras dengan kehendak Tuhan.

Pada hari Minggu ini kita mendapat kesempatan untuk memikirkan berapa lama kita mengenal Yesus. Sejak kapan kita mengaku bahwa Yesus itu Tuhan dan apakah hidup kita sudah selaras dengan hidup Kristus. Baik dalam kegembiraan, kesedihan, kemarahan, ketegangan dan ketakutan, kita harus bisa melihat apakah reaksi kita sudah sesuai dengan Yesus yang pernah menjadi manusia seperti kita. Dengan itu, kita juga bisa menganalisa hidup kita sampai sekarang, untuk menyadari apakah Yesus benar-benar sudah hidup didalam kita.

Rambu-rambu kehidupan

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Beberapa bulan yang lalu, sewaktu saya mengendarai mobil melewati sebuah motorway antara Brisbane dan Gold Coast, saya melihat sejumlah rambu orang-orangan yang berwarna kuning berderetan di pinggir jalan. Walaupun tidak mengerti apa arti rambu itu, otomatis kaki saya menginjak rem untuk mengurangi kecepatan mobil. Memang reaksi otomatis saya ketika rambu sedemikian muncul dipinggir jalan ialah “hati-hati, ada orang lewat”. Belakangan, saya membaca bahwa memang rambu-rambu baru itu, 20 jumlahnya dan 180 cm tingginya, sengaja dibuat sebagai peringatan untuk membuat pengendara mobil lebih berhati-hati karena adanya proyek pelebaran jalan.

Dalam kehidupan manusia memang ada berbagai rambu-rambu yang dimaksudkan untuk membimbing mereka agar menjalani hidup dengan baik. Rambu-rambu sosial, budaya, agama, hukum dan sebagainya memberikan pedoman dan peringatan yang dimaksudkan untuk melindungi masyarakat. Walaupun orang mengerti tujuan pemakaian rambu-rambu itu, tidak semua orang mengacuhkannya. Mengapa? Mungkin banyak orang yang berpikir:

  • Itu untuk orang lain
  • Saya tahu apa yang lebih baik
  • Itu sudah tidak berlaku lagi
  • Terlalu sulit dilakukan
  • Tidak ada gunanya
  • Tidak ada waktu

Untuk orang Kristen, firman Tuhan adalah seperti rambu-rambu yang membimbing perjalanan dan lampu yang menerangi jalan hidup mereka. Tanpa itu hidup manusia akan melenceng dari jalan yang benar dan kejatuhan kedalam dosa tidaklah dapat dihindari.

Walaupun orang Kristen tahu akan akibat dosa adalah kematian, mereka juga percaya bahwa karena kasih Allah, Yesus sudah mati ganti dosa. Karena itu, sebagian orang Kristen mungkin merasa tidak perlu lagi untuk terlalu memperhatikan apa yang diperintahkan Tuhan. Malahan, mereka yang ingin hidup sesuai dengan firman Tuhan sering dianggap orang Farisi. Padahal, Yesus pernah berkata:

“Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Matius 5: 20

Hidup untuk sebagian orang Kristen mungkin ingin dirasakan sebagai kebebasan dari kekuatiran karena Tuhan yang maha kasih tentunya akan mengampuni mereka. Dengan demikian mereka menjadi acuh tak acuh, blasé, terhadap peringatan-peringatan Tuhan. Dalam hal ini, Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma mengingatkan bahwa sikap hidup sedemikian adalah keliru.

“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?” Roma 6: 1

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai orang yang sudah diselamatkan adalah seharusnya kita lebih berhati-hati dengan hidup kita yang sudah ditebus dengan darah Kristus dan tidak mengabaikan firman Tuhan sebagai rambu-rambu dan lampu kehidupan yang tidak pernah berubah, agar kita tetap berjalan di jalan yang benar dan hidup dalam kasih pemeliharaanNya.

“Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya” Yesaya 40: 8

Mau berpikir positif ?

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Di zaman ini, banyak kita temui buku-buku, ceramah, dan bahkan khotbah tentang bagaimana mencapai keberhasilan dan kebahagiaan melalui cara berpikir positif (positive thinking). Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak orang yang tertarik untuk mengikuti tren psikologi ini, dan karena itu jugalah para motivator saat ini mengalami masa kejayaan. Manusia yang merasa terhilang, yang tidak dapat merasakan penguatan dari khotbah gereja, mungkin merasa lebih disegarkan dengan pesan-pesan positif dari para motivator. Oleh karena itu jugalah banyak pendeta yang berubah fungsi, menjadi motivator dari mimbar gereja.

Sebenarnya Alkitab mempunyai banyak ayat yang menekankan pentingnya untuk berpikir positif. Berpikir positif adalah cara berpikir yang diharapkan untuk menghasilkan “energi yang positif”, yaitu suatu energi yang akan menghasilkan pemikiran-pemikiran dan sikap-sikap yang baik yang dapat membuat manusia menjadi bersemangat, melakukan hal-hal yang benar dan menjadi bahagia. Tetapi berbeda dengan ajaran para motivator tentang “percaya diri” untuk mencapai keberhasilan, firman Tuhan menyatakan pentingnya untuk bergantung kepada Tuhan, sumber kehidupan manusia.

Salah satu definisi berpikir positif adalah “tindakan meninjau proses berpikir untuk mengidentifikasi area-area yang perlu diperbaiki, dan kemudian menggunakan alat yang tepat untuk mengubah pemikiran tersebut dengan cara yang positif dan berorientasi pada tujuan.” Tentu saja, dalam hal ini berpikir positif adalah suatu tindakan dan sikap hidup yang baik. Walaupun demikian, seringkali orang yang menerapkan falsafah “berpikir positif” mempunyai keyakinan adanya semacam kekuatan ajaib di balik pemikiran ini: kekuatan manusia yang dulunya tidak disadari, sekarang bisa digunakan sebagai alat untuk mencapai keberhasilan. Pemikiran semacam ini bertentangan dengan firman Tuhan yang mengatakan bahwa Ialah yang berkuasa untuk menentukan apa yang akan terjadi, sesuai dengan rencanaNya.

Dalam ajaran manusia, berpikir positif adalah salah satu sifat yang harus dimiliki oleh setiap individu, karena dengan sifat ini, banyak hasil baik yang akan diperoleh. Diajarkan pula bahwa dengan berpikir positif manusia tidak akan berhenti karena keterbatasan, namun pikiran positif justru akan membuat mereka mencari kekuatan mereka sendiri hari demi hari. Ajaran ini dengan demikian menekankan bahwa nasib (destiny) kita ada di tangan kita sepenuhnya. Hal ini bertolak belakang dengan firman Tuhan yang mengatakan bahwa hidup kita ada di tangan Tuhan dan kekuatan kita hanya bisa diperoleh melalui iman kepada Tuhan.

Pagi ini, sebagai umat Tuhan seharusnya kita sadar bahwa adalah penting bagi kita untuk mempunyai cara berpikir positif; yaitu menyadari apa yang dapat kita ubah dan apa yang tidak bisa diubah, dan mengerti beda diantara keduanya. Tuhan dan sifat ilahiNya adalah kekal selama-lamanya, firmanNya tidak pernah berubah. Ia adalah Tuhan yang maha kuasa, maha tahu, maha kasih, maha adil dan maha bijaksana. Dengan demikian, segala rencana Tuhan untuk seisi bumi akan terjadi. Karena itu, manusia hanya bisa berubah menjadi makin baik dan makin kuat melalui kedekatan kepada Sang Pencipta. Dengan selalu mencari kehendak Tuhan dalam hidup ini, pastilah kita akan menemukan hidup yang penuh sukacita.

“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” Roma 12: 12

Menghadapi kekecewaan

Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: “Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.” Yunus 4: 8

Hidup manusia ini sungguh menarik. Berbeda dengan hewan, manusia mempunyai ingatan dan daya pikir yang sangat kompleks. Dengan otaknya, manusia bisa mempunyai impian atau harapan untuk masa depan dan menyesuaikan hidup mereka untuk mencapai apa yang diharapkan. Sebaliknya, hewan mempunyai hidup yang hanya berdasarkan naluri dan karena itu bekerja hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dengan kemampuannya, manusia bisa mengembangkan rencana untuk hari depan, untuk mencapai yang lebih baik dari apa yang ada sekarang; dan dengan membuat berbagai rencana, manusia tentunya mengharapkan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan.

Kemampuan manusia  untuk memikirkan masa depan agaknya adalah sesuatu yang baik, tetapi juga bisa membawa kekecewaan jika apa yang diharapkan tidak terjadi. Pada waktu Yunus tahu bahwa Tuhan bermaksud untuk menghukum penduduk kota Niniwe, ia keluar meninggalkan kota itu dan tinggal di sebelah timurnya. Ia mendirikan di situ sebuah pondok dan ia duduk di bawah naungannya, menantikan apa yang akan terjadi atas kota itu (Yunus 4: 5). Yunus mempunyai rencana untuk melihat bagaimana murka Tuhan akan turun, seperti orang yang menonton bioskop layar lebar di zaman ini.

Untuk menambah kenyamanan Yunus dalam penantiannya, Tuhan menumbuhkan sebatang pohon jarak yang bisa menaungi Yunus agar ia terlindungi dari panas matahari. Yunus sangat bersukacita karena adanya pemberian pohon jarak itu. Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas kehendak Tuhan datanglah seekor ulat, yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu (Yunus 4: 6-7).

Yunus tentunya menjadi kecewa karena keteduhan dibawah pohon jarak yang dinikmatinya tidaklah berumur panjang. Ketika angin panas dan sinar matahari mengenai kepala Yunus, hilanglah seleranya untuk menonton turunnya murka Tuhan atas penduduk kota Niniwe. Kekecewaan yang besar bagi Yunus sangatlah menghancurkan hatinya, karena ia merasa bahwa Tuhan tidaklah berlaku adil atas dirinya. Bagaikan seorang anak manja yang tidak mendapat kembang gula yang diinginkannya, Yunus menjatuhkan dirinya ke tanah dan berseru kepada Tuhan bahwa ia ingin mati saja.

Memang hidup kita pun terkadang seperti apa yang dialami Yunus, ketika apa yang kita rencanakan atau harapkan tidak terjadi seperti yang kita ingini. Apa yang terjadi dalam hidup kita atau hidup orang lain yang kita cintai mungkin justru mengecewakan dan membuat kita meragukan keadilan dan kebijaksanaan Tuhan. Sering juga kita kecewa ketika Tuhan seolah tidak mengasihi umatNya dan malahan membiarkan orang lain berbuat semaunya. Mengapa Tuhan seringkali tidak berbuat sesuatu yang bisa menyenangkan umatNya?

Seperti Yunus, kita harus belajar untuk menghormati Tuhan yang maha kuasa, maha kasih dan maha adil. Ia adalah Tuhan yang berdaulat, yang bisa melakukan apa saja yang sesuai dengan kehendakNya. Ialah yang menerbitkan matahari di pagi hari dan meletakkan bulan dan bintang di langit di malam hari. Tuhan adalah Tuhan yang maha tahu dan maha bijaksana, dan segala sesuatu terjadi sesuai dengan rencanaNya yang agung. Ketaatan dan rasa tunduk kepada Tuhan memang lebih mudah untuk kita jalani sewaktu kita berada dalam keadaan enak, tetapi ujian akan datang jika kita mengalami sesuatu yang diluar dugaan atau harapan kita.

Pagi ini biarlah kita bisa menyadari bahwa apapun yang terjadi di sekitar kita, dan bagaimanapun besarnya kekecewaan kita, kita harus bisa menerima bahwa segala sesuatu ada maksudnya dan kehendak Tuhan haruslah terjadi di muka bumi ini. Walaupun demikian, kita boleh yakin bahwa Yesus Kristus adalah gembala kita yang baik. Ia tidak akan meninggalkan kita dalam keadaan apapun.

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” Mazmur 23: 1-3

Kelengahan bisa membawa masalah

“Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” 2 Korintus 11: 3

Beberapa tahun yang lalu, sewaktu saya masih tinggal di Brisbane, Australia, rumah saya terletak pada suatu daerah pinggir kota dimana ada banyak pohon dan semak. Memang daerah itu enak udaranya dan pemandangannya serasa asri. Tetapi untuk tinggal di daerah seperti itu, saya harus berhati-hati karena adanya binatang yang biasanya tidak sering dijumpai di kota yaitu ular. Australia adalah benua yang dihuni oleh ular-ular yang termasuk paling berbisa di seluruh dunia. Beberapa kali saya menjumpai ular python dan ular pohon disekitar rumah, dan itu cukup membuat saya kaget karena mereka sering muncul di tempat dan saat yang tidak terduga. Seekor ular python malahan pernah menelan hidup-hidup burung merpati saya dengan cara memaksakan dirinya melewati celah-celah sangkar burung yang terbuat dari kawat besi.

Rasul Paulus dalam ayat diatas menyatakan kekuatirannya atas kemungkinan bahwa jemaat Kristen di Korintus diperdayakan oleh beberapa pengajar yang menyesatkan mereka dari ajaran yang benar. Pengajar-pengajar yang sesat itu diumpamakan seperti ular, si iblis,  yang dengan kelicikannya  sudah membuat Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa di taman Eden.

Ada tiga hal yang penting yang bisa kita simak dari ayat itu. Yang pertama, tiap orang Kristen masih bisa dan mungkin malah sering diserang oleh iblis. Kedua, iblis sering muncul dalam bentuk yang penuh pesona sehingga orang yang tidak awas akan terjebak. Dan yang ketiga, iblis sering muncul pada tempat dan waktu yang tidak terduga, selagi umat Tuhan lengah atau lemah.

Bagaimana iblis berusaha memperdayai umatNya di Korintus? Korintus adalah kota niaga yang cukup besar dan karena itu banyak orang datang dari berbagai tempat. Dengan itu, Korintus dari mulanya mudah sekali menerima budaya atau agama lain, mungkin melalui praktek toleransi agama dan multikulturalisme yang sering didengung-dengungkan saat ini. Diantara berbagai ajaran diluar agama Kristen yang bisa melemahkan dan bahkan menyesatkan orang Kristen pada waktu itu dan juga sering ditemui sampai saat ini adalah ajaran bahwa keselamatan adalah berdasarkan apa yang kita perbuat dalam hidup, dan ajaran bahwa pedoman hidup baik adalah berdasarkan pikiran sehat manusia.

Di zaman ini banyak manusia yang tidak puas dengan ajaran Kristen yang menyatakan bahwa keselamatan adalah semata-mata adalah karunia Tuhan. Mereka kemudian mengikuti ajaran lain yang menekankan humanisme, yang mengajarkan bahwa keselamatan manusia ada di tangan mereka sendiri, yang harus melakukan hal-hal tertentu untuk mencapai surga. Selain itu, ada berbagai pengajar yang mengajarkan bahwa hidup bahagia dapat dicapai dengan cara-cara tertentu, yang  membuat orang memperoleh kepercayaan diri untuk bergantung kepada kekuatan dan jalan pikirannya sendiri dan bukannya kepada Tuhan.

Iblis juga sering muncul pada saat dan keadaan dimana umat Kristen mengalami kelengahan atau kesulitan. Bagi sebagian orang, kelengahan terjadi ketika segala sesuatu berjalan lancar dan hidup terasa nikmat. Pada saat itu kesadaran akan Tuhan dan kasihNya mungkin menjadi samar karena orang lebih tertarik untuk menghabiskan waktunya untuk menikmati hidupnya. Selain itu, mudah bagi mereka untuk merasa bahwa Tuhan pastilah menyukai cara hidup mereka. Kelengahan juga bisa terjadi dalam keadaan yang sulit dan penuh perjuangan. Ketika keadaan yang menekan lagi menguasai hidup, orang menjadi terlalu sibuk berusaha melewati hari-harinya dengan rasa tegang, kuatir atau kecewa. Pada saat-saat dimana manusia lagi lemah seperti itu, iblis bekerja lebih giat untuk menggoda manusia agar mereka jatuh kedalam dosa dan menolak Tuhan.

Pagi ini, seperti jemaat Korintus kita diingatkan oleh Rasul Paulus bahwa iblis selalu mengintai umat Tuhan dan siap untuk menyesatkan kita. Karena itu, dalam keadaan apapun yang kita alami saat ini, baik susah maupun senang, sakit maupun sehat, miskin ataupun kaya, kita harus tetap rajin berdoa dan membaca firmanNya agar kita tidak tertipu oleh iblis yang berusaha menghancurkan kita.

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. 1 Petrus 5: 8

Realitas maya

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” Yakobus 1: 22

Pernahkah anda mendengar istilah Realitas Maya? Mungkin mereka yang merasa “gaptek” agak ragu menjawab pertanyaan ini. Tetapi barangkali mereka sudah pernah melihat orang lain memakai teknologi ini, seperti bermain tenis didepan layar TV atau game- game lain yang disajikan oleh Nintendo. Realitas Maya atau Virtual reality (VR) adalah teknologi yang membuat pengguna dapat berinteraksi dengan suatu lingkungan yang disimulasikan oleh komputer, suatu lingkungan yang hanya ada dalam imaginasi. Lingkungan realitas maya terkini umumnya menyajikan pengalaman visual, yang ditampilkan pada sebuah layar komputer atau melalui sebuah penampil stereokopik, tetapi beberapa simulasi mengikutsertakan tambahan informasi hasil pengindraan, seperti suara melalui speaker atau headphone.

Sekarang ini teknologi VR  sudah begitu maju dan banyak orang yang bisa mendapat berbagai pengalaman visual melalui layar komputer atau bioskop. Dengan teknologi ini kita mungkin bisa melihat dan merasakan suasana bagaimana Yesus disambut para pengikutNya di Yerusalem. Bahkan gereja pun ada yang ditampilkan secara maya dimana kita bisa berimaginasi untuk memasuki gedung gereja dan menghadiri kebaktian disana, bahkan berinteraksi dengan pengunjung gereja yang ada, hanya di layar komputer. Bagi sebagian orang pengalaman ini sungguh menarik dan juga praktis, karena kita bisa menghadiri kebaktian tanpa harus meninggalkan rumah kita, tetapi bagi orang yang lain pengalaman ini hanya bersifat semu yang tidak ada gunanya. Tuhan bukanlah sesuatu yang maya, tetapi nyata; demikian pula gerejaNya seharusnya adalah nyata, bukan semu saja.

Sebenarnya realitas maya itu sudah ada di gereja Tuhan sejak jaman dulu. Ayat diatas menjelaskan bahwa jika kita memakai teknik realitas maya dalam kehidupan kekristenan kita, kita akan merasa seolah-olah sudah menjadi orang Kristen yang benar walaupun sebenarnya kita belum menjalankan hidup Kristen. Kita mungkin ke gereja setiap minggu dan bahkan berdoa setiap hari, tetapi tidak menjalankan perintah Tuhan dalam hidup kita. Kita menjadi pendengar dan penonton saja dan bukan pelaku Firman, tetapi merasa seolah-olah kita sudah memenuhi “syarat” untuk menjadi pengikut Yesus. Dalam bayangan kita mungkin kita sudah meninggalkan hidup lama kita dan menjadi pengikut Yesus, tetapi sebenarnya kita hanya “duduk di kursi empuk” menonton apa yang ada dalam bayangan atau imaginasi kita. Jika memang demikian, kita menipu diri kita sendiri.

Memang apa yang disampaikankepada jemaat di gereja bisa menjadi suatu presentasiyang menarik. Entah itu kesaksian, puji-pujian, pengalaman pribadi, penglihatan, atau dongeng yang mengawali sebuah khotbah, semua itu bisa dipakai untuk membentuk suasana yang mengawali firman Tuhan. Tetapi, hal-hal itu adalah serupa benda maya untuk hidup kita jika itu hanya membawa pesona dan kenikmatan dan bukannya membuat perubahan dalam hidup kita. Apa yang bisa membuat perubahan dalam hidup kita adalah Firman yang benar, karena Roh Kuduslah yang akan bekerja membimbing kita untuk bisa mengerti arti Firman itu dan agar bisa melaksanakanNya.

Adalah kecenderungan manusia untuk menerima apa yang nikmat tapi melupakan apa yang berat. Apa yang didengar dan dilihat mungkin terasa indah, tetapi kemampuan dan kemauan untuk melaksanakan firman Tuhan yang benar tidaklah mudah.

Pagi ini, mungkin ada diantara kita yang masih mengalami pergulatan dalam hidup, dalam berusaha melaksanakan firman Tuhan dalam hidup sehari-hari. Karena itu, biarlah kita lebih memusatkan diri kepada hal menjalankan firman Tuhan dan bukannya hanya mendengar atau membaca renungan atau pesan-pesan gerejani. Tuhan mau agar kita mau menerima bimbingan Roh Kudus dalam hidup kita karena dengan kemampuan kita sendiri kita tidak mungkin bisa melewati jalan yang benar. Kita harus rajin berdoa untuk meminta agar Roh Kudus bekerja dalam hidup kita, supaya kita benar-benar bisa menjadi pelaku firman dan tidak hidup dalam kepalsuan.

“Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” Galatia 5: 25