Batas kesabaran Tuhan

Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.” Yohanes 5: 14

Kebanyakan orang beragama percaya bahwa jika seseorang berbuat dosa, Tuhan akan memberi hukuman kepadanya. Untuk sebagian orang, keyakinan ini bisa memaksa mereka untuk hidup baik menurut ukuran mereka. Karena itu, dalam pandangan umum, penderitaan manusia sering dihubungkan dengan dosa mereka.

Dalam pandangan Kristen, semua orang sudah berdosa dan tidak layak menurut standar Tuhan. Dosa kecil maupun dosa besar menurut pandangan manusia, adalah sama buruknya jika dibandingkan dengan kesucianNya. Jika demikian, semua orang sudah sepatutnya hidup dalam penghukuman Tuhan, jika kita percaya bahwa Tuhan selalu membalas tiap dosa manusia dengan hukuman.

Jika memang Tuhan yang maha suci bertindak sebagai hakim bagi manusia, tidak ada seorangpun yang bisa dibebaskan dari hukuman. Tiap hari, sadar atau tidak, setiap orang berbuat dosa. Jika Tuhan memang menghajar setiap orang yang berdosa, pastilah dunia ini menjadi kosong, tidak ada penghuninya. Siapakah yang dapat berdiri di hadapan Tuhan yang maha suci dengan memanggul dosanya?

Jelas bahwa Tuhan yang maha suci, juga Tuhan yang bisa mengendalikan amarahNya. Tuhanlah yang mengirimkan AnakNya yang tunggal ke dunia, untuk menebus dosa manusia. Kepada mereka yang percaya kepadaNya, Ia setia dan adil, dan selalu bersedia memberi pengampunan atas dosa-dosa yang terjadi setiap hari. Kepada mereka yang belum menjadi anak-anakNya, Tuhan juga menunjukkan kasihNya dan selalu menunggu agar mereka mau bertobat, seperti seorang bapa yang menantikan kembalinya anaknya yang hilang.

Walaupun Tuhan maha sabar, tentu ada perbedaan antara perlakuanNya kepada orang yang menurut perintahNya dengan apa yang diperlihatkanNya kepada mereka yang tidak mau beriman kepadaNya.

Mereka yang tidak percaya adalah orang-orang yang bodoh, yang hidup hanya untuk hari ini. Jika mereka ada dalam kelimpahan dan kenyamanan, untuk sementara mereka bisa bangga atas keberhasilan mereka. Tetapi dalam kegagalan, mereka mudah untuk putus asa. Sebaliknya, mereka yang percaya kepada Tuhan bisa dikuatkan dalam setiap keadaan, karena tidak ada sesuatu apapun yang bisa menceraikan hidup mereka dari kasih Tuhan.

Kesabaran Tuhan ada batasnya, baik kepada umatNya maupun mereka yang belum percaya. Tuhan tidak membiarkan umatNya untuk hidup dalam dosa, dan Roh Kudus sudah diberikan untuk mengingatkan agar mereka tetap berusaha berjalan di jalan yang benar. Terkadang Tuhan juga menghajar anakNya, agar mereka berhenti melakukan dosa yang sama. Mereka yang beriman wajib melalui jalan yang sempit tetapi benar, dan bukannya jalan yang lebar yang membawa kearah kehancuran.

Bagi mereka yang belum percaya kepada Kristus, dosa adalah lumrah dan tidak membutuhkan penebusan. Mereka mengukur hidup mereka dengan hukum dunia. Mungkin mereka menganggap bahwa hidup adalah sebuah petualangan; selama mereka tidak dipenjara, mereka adalah orang-orang yang benar. Tetapi Tuhan tidak terus tinggal diam menghadapi kedurhakaan manusia. Seringkali, kehidupan yang jauh dari Tuhan berakhir dengan malapetaka.

Pagi ini, ayat diatas bisa diterapkan pada semua orang: kristen maupun non-kristen.

Bagi mereka yang masih belum mengambil keputusan untuk mengikut Kristus, kesempatan masih ada untuk mendapat pengampunanNya, dengan syarat bahwa kita mau mengakui dosa kita dan berjanji untuk tidak tetap hidup dalam dosa. Kesabaran Tuhan ada batasnya.

Bagi mereka yang sudah menerima Kristus sebagai Juruselamat, hidup baru berarti meninggalkan hidup lama yang penuh dosa. Sebagai orang yang sudah disembuhkan dari cengkeraman iblis melalui bilur Kristus, kita tidak boleh kembali ke jalan yang salah.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.” 1 Yohanes 1: 9 – 10

Mengapa Tuhan menciptakan pria dan wanita

“Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Kejadian 1: 27

Mengapa Tuhan menciptakan dua jenis manusia di bumi ini? Suatu pertanyaan yang mungkin dirasakan aneh oleh sebagian orang. Tentu saja supaya mereka bisa berkembang biak, begitu mungkin jawab mereka. Walaupun demikian, orang mungkin juga menjawab supaya mereka bisa saling melengkapi dan mengasihi. Semua jawaban ini ada benarnya. Tetapi ada jawaban lain yang hanya bisa diberikan oleh orang Kristen: mereka diciptakan sedemikian agar mereka bisa mencerminkan hubungan antara Yesus dan jemaatNya. Suami diperintahkan untuk mengasihi istrinya seperti Yesus yang sudah mengurbankan diriNya untuk keselamatan manusia.

“Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” Efesus 5: 25

Sebaliknya, istri diperintahkan untuk tunduk (menghormati) suaminya seperti jemaat yang menghormati Kristus sebagai kepala (bahasa Junani: kephalē) gereja.

“Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.” Efesus 5: 33

Sekalipun makna dan fungsi penciptaan pria dan wanita itu sudah dijelaskan dalam Alkitab, di zaman sekarang banyak orang yang menganggap semua itu sudah menjadi hal yang kuno. Menurut mereka, keluarga tidak perlu terdiri dari pria dan wanita. Selain itu, mereka menganggap pria dan wanita tidak ada bedanya dalam makna maupun fungsinya, dan juga manusia bisa memilih untuk menjadi (seperti) pria atau wanita sebagaimana yang mereka sukai.

Bagi mereka yang masih percaya bahwa Tuhan hanya menciptakan dua jenis manusia, tidaklah mudah mempertahankan keharmonisan dan kelanggengan rumah tangga. Iblis selalu bekerja dan berusaha untuk menghancurkan keluarga kristen dengan memutar-balikkan fakta. Karena itu, perceraian diantara keluarga kristen makin meningkat jumlahnya.

Kunci keharmonisan keluarga adalah rasa kasih dan hormat. Tuhan menghendaki seorang suami untuk mengasihi istrinya, dan untuk seorang istri untuk menghormati suaminya. Ini bukan berarti bahwa seorang suami tidak perlu menghormati istrinya, atau seorang istri tidak perlu mengasihi suaminya. Sebaliknya, keduanya harus bisa saling mengasihi dan menghormati. Mengapa demikian?

Bagi seorang pria, menghormati orang lain adalah sesuatu yang mudah dilakukan. Pria mudah untuk menghormati orang lain yang mempunyai kemampuan tertentu. Menghormati rekan seperjuangan atau pimpinan adalah hal yang biasa dan lumrah. Tetapi, suami justru diminta untuk mengasihi istrinya, sesuatu yang tidak biasa atau natural bagi mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk kaum wanita, soal mencintai dan mengasihi orang lain adalah hal yang alamiah. Bagi mereka, melihat orang lain yang menderita dan merasakan adanya simpati dan empati untuk orang itu adalah biasa. Tetapi, Tuhan justru memerintahkan istri untuk menghormati suaminya, sesuatu yang bukan merupakan naluri mereka.

Apa yang diperintahkan Tuhan kepada pria dan wanita adalah bertentangan dengan sifat-sifat alamiah mereka. Inilah yang membuat pria dan wanita sering mengalami kesulitan dalam membina hubungan antar jenis, terutama dalam hidup berumah-tangga. Karena bagi pria, untuk menghormati orang lain adalah lebih mudah; sedang bagi wanita, mencintai orang lain adalah lebih terbiasa. Tuhan ternyata menghendaki pria dan wanita untuk berjuang untuk melakukan apa yang sulit dilakukan. Tuhan menghendaki baik suami atau istri untuk mau berkurban.

Pagi ini biarlah kita sadar, jika kita merasa lebih mudah untuk menghormati daripada untuk mengasihi, tantangan kita adalah untuk berusaha mengasihi. Sebaliknya, jika kita lebih mudah untuk mengasihi daripada menghormati, kewajiban kita adalah untuk beusaha menghormati. Karena baik pria maupun wanita, kewajiban mereka adalah untuk saling menghormati dan mengasihi sekalipun mereka berbeda dalam makna dan fungsi.

“Apa yang diberikan tanpa pengurbanan adalah sesuatu yang murah, mudah didapat dan gampang dilupakan”

Antara dosa, iblis dan pengampunan

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Bayangkan ada sebuah pertanyaan multiple choice (MCQ) yang diberikan kepada seluruh manusia di dunia:

Mengapa manusia sering melakukan hal yang jahat?

  1. Iblis yang menyuruh
  2. Pengaruh orang-orang disekitarnya
  3. Diturunkan dari orang tua
  4. Manusia pada hakikatnya jahat

Menurut anda, jawaban mana yang paling banyak dipilih oleh responden? Mungkin tidak mudah untuk menerka jawaban yang paling “populer”, tetapi jawaban yang paling tidak disukai mungkin adalah pilihan nomer 4.

Banyak manusia yang menolak kenyataan bahwa manusia pada hakikatnya jahat dan karena itu harus selalu berjuang untuk bisa berbuat baik. Berbuat baik bukanlah sesuatu yang secara natural akan dilakukan manusia. Jika tidak ada hukum dan peraturan di dunia, manusia dengan kebebasannya cenderung untuk melakukan apa yang dikehendakinya. Adam dan Hawa juga berbuat seperti itu, dengan dosa yang pertama.

“Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.” Kejadian 3: 6

Mungkin sebagian orang selalu menuduh iblis sebagai biang keladi dosa. Jika tidak ada iblis, tentu manusia tidak berbuat dosa. Ini ada benarnya, karena dari mulanya iblis selalu berusaha mempermalukan Tuhan dengan mendorong manusia untuk melawan perintah Tuhan. Tetapi manusia dengan kebebasannya tidak harus menuruti bisikan iblis. Iblis tidak tinggal didalam diri semua manusia di dunia dan membuat mereka melakukan dosa diluar kemauan mereka. Manusia bukan robot-robot iblis.

“Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” Yakobus 1: 14

Ada juga mereka yang percaya bahwa manusia berbuat jahat karena pengaruh orang lain. Seperti Adam yang dipengaruhi oleh Hawa. Mereka mungkin selalu menyalahkan orang lain atau lingkungan disekitarnya, sebagai penyebab kesalahannya. Tetapi baik Adam dan Hawa dihukum oleh Tuhan sebab keduanya sudah berdosa.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3: 23

Ada juga orang yang percaya bahwa manusia bisa hidup dalam kegelapan karena apa yang sudah dilakukan oleh orang tua dan nenek moyang mereka pada zaman dulu. Ini ada benarnya, karena semua manusia dari lahir sudah membawa dosa, akibat dosa yang diperbuat Adam dan Hawa. Seorang yang hidup bergelimang dalam dosa juga bisa menyebabkan anak cucunya menempuh cara hidup dan mengalami penderitaan yang serupa di masa depan. Tetapi ini bukan berarti bahwa kita tidak bisa bebas dari pengaruh masa lalu. Karena Tuhan menjanjikan kepada siapa saja, tanpa memandang asal usulnya, untuk bisa diselamatkan. Adanya dosa nenek moyang tidak memerlukan penebusan yang lebih besar dari kematian Yesus Kristus. Darah Yesus Kristus saja sudah cukup untuk melepaskan kita dari belenggu dosa.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa dosa pada hakikatnya adalah tanggung jawab kita pribadi. Kita tidak bisa menyalahkan apapun dan siapapun atas dosa yang kita perbuat. Kita tidak bisa meminta orang lain untuk memberikan kita pembebasan (deliverance) dari belenggu dosa. Kita tidak bisa minta pengampunan atas dosa orang tua kita atau atas perbuatan iblis yang mungkin mempengaruhi kita. Tetapi, bagi kita yang mau mengaku dosa kita, langsung kepada Tuhan, Tuhan adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Dalam hal ini, pengakuan dosa yang benar selalu disertai dengan kemauan untuk tidak hidup dalam dosa lagi karena kita sudah menjadi pengikut Kristus dan bukan pengikut iblis.

“Barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya.”1Yohanes 3: 8a

Biar singkat bisa berguna

“Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi.” Mazmur 103: 15 – 16

Sewaktu berada di Canadian Rockies, saya sangat terkesan melihat pemandangan gunung-gunung berlapis salju yang mengitari danau-danau yang airnya berwarna biru muda. Sayang, pada waktu itu bunga-bunga liar tidaklah banyak terlihat.

Bunga-bunga liar yang warnanya indah banyak ditemui pada musim tertentu, tetapi umurnya tidak panjang. Hal ini tidak menjadi persoalan jika kita datang ke tempat ini untuk mengagumi gunung-gunung batu dan danau-danau yang ada sejak ribuan tahun yang lalu.

Pemazmur dalam ayat diatas agaknya menjumpai keadaan yang serupa dengan apa yang saya lihat. Bahwa bunga-bunga di padang rumput itu terlihat indah untuk sesaat saja dan setelah itu hilang tertiup angin. Sebaliknya, gunung dan danau tetap tidak berubah dan dikagumi banyak orang setiap hari.

Hidup manusia menurut pemazmur, adalah singkat saja – seperti rumput atau bunga di padang. Mungkin sebagian kecil manusia bisa mencapai umur 100 tahun, tetapi kebanyakan orang sudah dapat dikategorikan berumur panjang jika bisa mencapai umur 80 tahun. Dibandingkan dengan hewan seperti kura-kura dan ikan paus yang bisa mencapai umur ratusan tahun, manusia memang tidak panjang umurnya.

Dari umur 80 tahun yang mungkin bisa dicapai manusia, mungkin 20 tahun pertama dan 20 tahun terakhir adalah masa yang mungkin tidak produktif. Dengan demikian, paling banyak hanya separuh umur manusia yang biasanya bisa dipakai untuk berkarya. Untuk orang-orang yang tenar, seperti pemain sepakbola atau tenis ternama, masa jaya mereka malahan bisa lebih singkat.

Kebanyakan orang menggunakan umur produktif itu untuk mencari nafkah dan membina karir dan rumah tangga, dan seusai masa bekerja, hidup yang tersisa mungkin bisa dipakai untuk membantu anak cucu sebelum usia tua. Itulah garis besar hidup manusia yang mirip dengan bunga di padang. Haruskah sedemkian? Adakah cara hidup lain yang lebih baik, yang tidak seperti bunga rumput di padang?

Jika kita ingin untuk hidup lebih panjang, seperti banyak orang di zaman ini berusaha dengan segala cara, itupun tidak mengubah hidup kita untuk lebih berguna. Seperti bunga di padang, saat dimana kita bisa membanggakan diri kita adalah terbatas. Tetapi, Alkitab menulis bahwa kemuliaan Tuhan itu kekal, ada dari dulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya. Karena itu, hidup kita akan jauh lebih baik dari bunga di padang jika kita memakainya untuk memuliakan Tuhan dari awal hingga akhirnya. Sekalipun kita pada akhirnya harus meninggalkan dunia ini, kemuliaan yang kita punyai tidak akan hilang, sebab itu adalah kemuliaan Tuhan yang tercerminkan dalam hidup kita. Manakah yang anda pilih?

“Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” 2 Korintus 3: 18

Kekuatiran yang sia-sia

“Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya?” Lukas 12: 25

Perjalanan pulang ke Australia semalam memakan waktu sekitar 13 jam. Duduk di pesawat selama itu memang bisa cukup membosankan. Untunglah tiap penumpang mempunyai sebuah layar monitor kecil yang bisa dipakai untuk menayangkan berbagai film, termasuk film perang dan petualangan. Agaknya sebagian orang senang menonton film bertema “keras”, tetapi orang lain menganggap film semacam itu mendatangkan rasa takut dan kuatir.

Tanpa menonton film semacam itu, sebenarnya kita bisa juga menjumpai berita-berita menakutkan yang ada dimana-mana. Melalui koran dan TV, kita bisa menemukan berita tentang kejahatan, kecelakaan, penyakit ataupun bencana alam. Agaknya kabar buruk selalu menjadi topik populer, sedangkan kabar baik kurang mendapat perhatian. Dengan demikian, tidaklah mengherankan makin banyak orang di zaman ini yang selalu kuatir akan hal sekecil apapun. Karena berita buruk sudah menjadi konsumsi harian, dan kekuatiran sudah menjadi penyakit kronis manusia modern.

Ayat diatas sering dipakai untuk menasihati orang Kristen bahwa tidak ada seorangpun yang bisa memperpanjang hidupnya dengan kekuatiran. Dengan demikian, jika kita kuatir akan apa yang akan terjadi pada diri kita, itu adalah sia-sia. Tetapi, kekuatiran adalah sesuatu yang sulit dihilangkan, kecuali jika ada jaminan bahwa apa yang dikuatirkan itu pasti tidak akan terjadi; atau jika itu memang terjadi, akibatnya tidak signifikan. Sayang sekali, kedua hal ini tidak bisa dipastikan selama kita hidup di dunia. Masalah besar bisa muncul dan setiap orang, termasuk orang Kristen, bisa mengalami penderitaan.

Walaupun banyak orang yang mengajarkan bahwa Tuhan tidak membiarkan orang yang benar-benar beriman untuk mengalami penderitaan, dalam kenyataannya orang Kristen tidak bisa luput dari berbagai masalah. Yesus tidak pernah berkata bahwa hidup sebagai anak Tuhan itu selalu indah dan mudah. Sebaliknya, kita harus sadar bahwa selain penderitaan yang umum yang ada di dunia, kita bisa mengalami penderitaan khusus untuk para pengikutNya. Dengan demikian, untuk bisa bertahan dalam hidup, orang Kristen seharusnya mempunyai kekuatan dan keteguhan yang lebih besar dari orang lain. Bagaimana itu mungkin?

Kunci kekuatan orang Kristen adalah Tuhan yang maha kuasa, yang mutlak berkuasa atas segala sesuatu. Ia tahu apa yang akan terjadi pada diri setiap orang dan memegang kontrol atas segala keadaan. Bagi Tuhan, orang yang percaya kepadaNya adalah anak-anakNya. Karena itu, Ia selalu memelihara, melindungi dan menguatkan kita dalam setiap persoalan. Dengan menyadari hal itu, adalah pilihan kita untuk tidak hidup dalam kekuatiran dan ketakutan.

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7

Sepanjang jalan kenangan

“Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.” 2 Timotius 3: 15

Hari ini adalah hari terakhir saya di Canada, dan tepat pada tengah malam saya akan terbang kembali ke Australia. Masa berlibur sudah habis dan masa bekerja akan dimulai lagi. Membayangkan hari-hari yang baru lalu, saya merasa bersyukur atas berkat dan perlindungan Tuhan. Semua akan menjadi kenangan yang mungkin muncul lagi sebagai nostalgia di masa mendatang.

Nostalgia dapat diartikan sebagai kerinduan (yang kadang-kadang berlebihan) pada sesuatu yang sangat jauh letaknya atau yang sudah tidak ada sekarang; atau kenangan manis pada masa yang telah lama silam. Semua orang umumnya mempunyai nostalgia, entah itu sehubungan dengan masa kecil, masa remaja, masa bersekolah, masa bekerja ataupun saat bertamasya dan sebagainya.

Nostalgia sebenarnya tidak muncul dengan cara otomatis tanpa kesadaran. Pada umumnya orang mempunyai rasa subyektif, menyenangi dan memilih kenangan tertentu, tetapi berusaha melupakan hal-hal yang kurang disenangi. Untuk kenangan yang indah, orang senang bernostalgia, membayangkan dan bahkan mencoba untuk mengulangi pengalaman itu di sepanjang jalan kenangan.

Nostalgia yang berlarut-larut tidaklah baik karena itu membuat orang hidup dalam impian. Nostalgia juga bisa membuat orang kecewa dengan keadaan hidupnya yang sekarang. Sebagai orang Kristen, seharusnya kita tidak tenggelam dalam nostalgia; tetapi seperti Timotius, kita harus selalu ingat bahwa pada suatu saat yang telah silam melalui Alkitab kita sudah diperkenalkan bahwa Tuhan itu ada, dan bahwa Yesus itu Juru Selamat kita. Kita harus sadar bahwa Alkitab yang diilhamkan Allah itu bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Timotius 3: 16).

Apa yang sudah terjadi dalam hidup kita setelah diperkenalkan kepada firman Tuhan seharusnya juga tidak bisa dilupakan, karena makin hari kesadaran kita akan pentingnya hidup dalam kebenaran seharusnya bertambah besar. Tetapi bagi banyak orang Kristen, perubahan hidup sedemikian mungkin tidak terjadi karena mereka terlalu sibuk dengan segala kegiatan sehari-hari. Membaca dan mempelajari Alkitab mungkin sudah lama terlupakan. Hal menerima Yesus sebagai Juru Selamat hanyalah sebuah nostalgia. Masa lalu yang penuh semangat untuk mengikut Kristus sudah menjadi kenangan manis saja. Itulah sebabnya Paulus menasihati Timotius untuk selalu ingat akan masa lalunya dan didikan ibunya, dimana firman Tuhan sudah memberi hikmat dan menuntun dia dari kecil menuju keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.

Pagi ini jika kita bangun tidur dan bersiap untuk menghadapi tugas kehidupan kita, sempatkah kita memikirkan saat dimana kita mulai mengenal Yesus sebagai Juru Selamat kita? Apakah rasa sukacita dan keinginan untuk mengikut Dia masih ada sekarang ini, seperti apa yang kita rasakan dulu? Ataukah hubungan kita dengan Tuhan sekarang sudah menjadi hambar, dan kita tidak lagi tertarik untuk memahami firman Tuhan yang telah menuntun kita kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus? Semoga kita tetap mau mengingat saat yang indah dimana Tuhan membuka mata rohani kita, bukan untuk bernostalgia, tetapi untuk bisa makin hari makin giat dalam mempelajari firmanNya, untuk menjadi makin baik dalam kehidupan iman kita.

Membalas kasih Tuhan

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8

Kesempatan untuk mengunjungi dan tinggal di berbagai negara bisa memberi pelajaran kepada siapapun bahwa setiap suku bangsa mempunyai adat istiadat dan etika yang berbeda. Walaupun begitu, ada satu hal yang selalu ada dimanapun kita berada, yaitu ucapan terima kasih. Dimana saja, setiap orang yang mempunyai sopan santun, selalu mengucapkan terima kasih atas pemberian dan pertolongan orang lain. Jika apa yang diterima dari orang lain cukup besar artinya, mungkin juga ada keinginan untuk membalas budi selain mengucapkan terima kasih.

Pernyataan syukur kepada Tuhan adalah wujud rasa terima kasih kita kepadaNya. Alkitab mencatat bahwa dari mulanya, Tuhan menghendaki dan menghargai persembahan syukur dari manusia ciptaanNya. Kain dan Habil mempersembahkan korban syukur dengan caranya masing-masing, tetapi hanya persembahan Habil yang diterima Tuhan (Kejadian 4: 3 – 4). Rupanya Tuhan mempunyai selera tersendiri dalam hal menerima pernyataan syukur manusia. Karena itu, dalam mempersembahkan syukur kita kepada Tuhan, kita tidak boleh melakukannya menurut apa yang kita senangi, tetapi sesuai dengan apa yang Tuhan sukai.

Adalah kenyataan hidup bahwa banyak manusia yang senang menerima, tetapi kurang suka memberi. Ini juga berlaku dalam hubungan manusia Kristen dengan Tuhan. Sebagian besar manusia hanya berdoa kepada Tuhan untuk memohon sesuatu, terutama jika situasi hidup menjadi berat. Namun, manusia cenderung untuk menerima berkat Tuhan yang sudah ada seperti sesuatu yang sudah selayaknya diterima dan lupa untuk bersyukur.

Ayat diatas menyebutkan bahwa ketika kita masih hidup dalam dosa, Kristus sudah mati untuk ganti kita. Kita menerima keselamatan karena Tuhan sudah lebih dulu menyatakan kasihNya. Apa yang bisa kita lakukan untuk menyatakan rasa terima kasih kita?

Paulus dalam kitab Roma menulis tentang persembahan apa yang patut untuk Tuhan:

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1

Jelas bahwa Tuhan yang sudah memberikan berbagai berkat dalam hidup kita, tidaklah menganggap uang, tenaga atau materi sebagai hal yang utama untuk dipersembahkan kepadaNya. Semua itu baik, tetapi terlalu kecil bagiNya. Bagi Dia yang sudah memberikan hidup baru dan keselamatan yang sejati kepada kita, tidak ada yang lebih patut untuk dipersembahkan kepadaNya, kecuali seluruh hidup kita. Biarlah apapun yang kita kerjakan dan jalani dalam hidup ini bisa kita gunakan untuk memuliakan Dia!

Memahami besarnya kasih Tuhan

“Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.” Efesus 3: 18 – 19

Pagi ini saya melakukan perjalanan dari kota Vancouver ke pulau Vancouver dengan kapal ferry. Kapal ini cukup besar dan dapat mengangkut kendaraan roda empat, besar dan kecil. Kapal ferry yang terbesar yang beroperasi di daerah Vancouver ini adalah Spirit of British Columbia yang panjangnya hampir 170 meter, beratnya sekitar 19000 ton dan bisa mengangkut 2100 penumpang dan 470 mobil. Tidak dapat diragukan, kapal ferry ini memang cukup besar untuk kelasnya.

Jika besarnya benda-benda serta mahluk di dunia yang bisa dilihat mata dapat ditimbang dengan ukuran panjang, lebar, tinggi maupun berat, apa yang tidak dapat dilihat mata dan bersifat maya, tidaklah dapat diukur atau ditimbang. Karena itu, untuk memperkirakan ukuran sesuatu yang abstrak seperti cinta dan kebencian, orang biasanya melihat akibat atau hasilnya. Jika seseorang merasa dicintai oleh orang lain tetapi tidak pernah menerima perhatian dalam bentuk apapun, perasaan itu mungkin hanya berupa harapan atau khayalan belaka.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus menulis bahwa ia berdoa agar mereka bersama-sama dengan segala orang percaya dapat merasakan kasih Kristus. Paulus pada saat itu tahu bahwa jemaat Efesus mengalami kesulitan untuk memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus.

Jika mereka yang melihat Yesus disalibkan belum tentu bisa mengerti arti pengurbananNya, apalagi mereka yang hanya mendengar beritanya. Karena mereka tidak melihat pengurbanan Kristus dengan mata kepala, mereka tentunya lebih sukar untuk memahami atau mengukurnya, jika tanpa bimbingan Tuhan. Karena itu ia berdoa agar mereka dapat mengenal kasih itu, sekalipun itu melampaui segala pengetahuan.

Bagi sebagian orang Kristen, memang kasih Tuhan adalah suatu yang kurang nyata. Mereka mengharapkan dan mengkhayalkan kasihNya dalam bentuk nyata seperti materi dan kesehatan, dan jika itu tidak terlihat mereka mudah kecewa dan putus asa. Paulus menggunakan ukuran manusia: lebar, panjang, tinggi dan dalam untuk membayangkan besarnya kasih Kristus. Tetapi sudah tentu kasih Tuhan tidak dapat diukur dengan akal pikiran kita.

Pagi ini, jika kita merasakan adanya kesangsian akan kasih Tuhan dalam hidup kita, biarlah Roh Kudus mencerahkan hati dan pikiran kita. Kita yang seharusnya binasa karena dosa-dosa kita, sekarang mendapatkan pengampunan dan keselamatan dari Tuhan. Adakah sesuatu yang lebih besar dari kasihNya?

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8

Menghadapi kekalahan

“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Roma 8: 31

Demam bola agaknya menguasai banyak orang di seluruh dunia pada saat ini. Tua muda, pria maupun wanita, masing-masing mempunyai tim favoritnya sendiri. Mereka berharap, dan bahkan berdoa, agar tim kesayangan mereka menang; bukan karena tim lain disponsori oleh perusahaan yang tidak mereka sukai, dan bukan juga karena tim mereka adalah tim orang Kristen. Berharap untuk sukses atau menang memang sering bersifat egocentric, berpusat pada diri sendiri. Tidak peduli akan orang lain, asal diri sendiri berhasil.

Di kalangan orang Kristen pun ada banyak orang yang secara sadar atau tidak bersifat egosentris, memohon berkat dan keberhasilan dari Tuhan, sekalipun itu mungkin berarti kesusahan, kerugian dan kekalahan orang lain. Mungkin itu karena merasa bahwa mereka adalah anak-anak Tuhan yang paling disayangi sehingga Tuhan akan mengabulkan permintaan apa saja. Mereka merasa tidak perlu mencari kehendak Tuhan. Mereka tidak mengerti bahwa Tuhan memberi kan berkatNya kepada semua orang di dunia. Mereka tidak paham jika Tuhan mengabaikan kebutuhan orang non-kristen di dunia ini, tentu seluruh sistim pemerintahan, perekonomian, teknologi dan sebagainya akan jatuh berantakan.

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5: 45

Banyak juga orang Kristen yang percaya bahwa sebagai orang yang dipilih Tuhan, mereka adalah orang-orang yang bisa mendapatkan apapun yang mereka ingini. Selalu menang. Dengan demikian, ayat diatas sering dipakai untuk memberi semangat kepada mereka yang kuatir dalam menghadapi kesulitan hidup, agar mereka yakin bahwa bersama Yesus mereka akan selalu berhasil. Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Benarkah begitu?

Ayat diatas tidak dapat dipakai sebagai pedoman umum jika kita tidak mau membaca ayat-ayat lain sesudahnya. Dari ayat-ayat itu, kita bisa melihat bahwa Paulus menulis ayat diatas dalam konteks mengalami penderitaan dan apa yang diartikan sebagai kegagalan. Bukan dalam konteks mencapai keberhasilan. Paulus mempersiapkan orang-orang Kristen di Roma dalam menghadapi penderitaan!

“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” Roma 8: 35

Pagi ini, jika kita merasa takut dalam menghadapi kegagalan dan penderitaan, firman Tuhan berkata bahwa Tuhan beserta kita senantiasa. Dalam keadaan apapun, kita boleh yakin bahwa kita adalah pemenang sejati yang lebih dari pada orang-orang yang terlihat menang, karena kita mempunyaiTuhan yang mengasihi kita. Kita juga bisa merasakan adanya kekuatan yang diberikan Tuhan, karena tidak ada sesuatu pun yang bisa memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38 – 39

Sulitnya mendengar suara Tuhan ditengah keramaian

Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. 1 Timotius 6: 6

Hari ini saya bermobil meninggalkan kota kecil Banff, menuju kota Calgary untuk terbang kembali ke kota Vancouver. Banff terletak dalam taman margasatwa nasional, karena itu jumlah penduduknya tidak banyak dan kita bisa menjumpai berbagai hewan seperti tupai, rusa dan bahkan beruang. Lingkungan yang relatif sepi memungkinkan kita mendengar suara burung-burung dan menghirup udara segar.

Berbeda dengan Banff, kota Vancouver di provinsi British Columbia adalah kota kosmopolitan yang besar dan karena itu kota ini cukup ramai dengan banyaknya penduduk yang menggunakan jalan raya dan menjalankan tugas pekerjaan mereka. Di tengah kesibukan kota besar biasanya lebih sulit bagi kita untuk bisa mendengar suara burung dan hewan liar lain.

Tempat yang sepi memang bisa membawa suasana damai, dan dengan demikian kita bisa merasa lebih dekat dengan alam disekitar kita. Yesus pun, jika berdoa biasanya mencari tempat yang sepi supaya bisa berkomunikasi dengan Allah Bapa dengan lebih baik.

“Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.” Matius 14: 23

Lingkungan yang sepi dan tenteram memang membantu ibadah kita, baik itu untuk mempelajari firman Tuhan, berdoa ataupun merenungkan kebesaranNya.

Suasana yang sepi dan hening tidak selalu berhubungan dengan absennya bunyi. Seringkali, sekalipun di tempat yang sepi, pikiran kita ramai diisi dengan berbagai kekacauan dan kegundahan, atau mungkin juga tubuh kita berada dalam keadaan lelah dan perut kita keroncongan. Dalam keadaan demikian, sukarlah kita untuk berkomunikasi dengan Tuhan dan mencari kehendakNya. Bagaimana pula dengan orang-orang yang hidup dalam berkelimpahan? Apakah mereka mempunyai keuntungan dalam beribadah? Belum tentu! Mereka yang nampaknya jaya, belum tentu merasa cukup. Selama mereka tidak merasa puas atau cukup, hidup dan pikiran mereka terus dipusatkan pada bagaimana mereka bisa merasa puas, lebih jaya, dan mencapai apa saja yang diinginkan mereka.

Pagi ini, Paulus dalam suratnya kepada Timotius menjelaskan bahwa hubungan kita dengan Tuhan akan diperkokoh jika kita mempunyai rasa cukup, rasa damai dalam hidup kita. Sekalipun hidup kita berkekurangan, atau mengalami berbagai masalah, namun jika kita bisa merasakan bahwa Tuhan mengasihi kita, kita akan yakin bahwa Ia selalu menyertai kita. Dengan rasa cukup, kita memperoleh ketenangan yang kita butuhkan untuk bisa mendengarkan suara Roh Kudus dalam mencari kehendak Tuhan.