Miskin adalah syarat masuk surga

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Matius 5: 3

Orang kaya sulit masuk surga. Begitulah apa yang tertulis dalam Matius 19: 24. Memang orang yang hanya dan selalu memikirkan soal harta, kesuksesan, ketenaran dan semacamnya akan mengalami kesulitan untuk memikirkan soal surga dan keselamatan jiwa. Dalam pengertian filsafat dan beberapa agama lain, kemiskinan dan penderitaan malahan diajarkan untuk dijalani, setidaknya secara simbolik atau sementara, untuk mencapai kesempurnaan hubungan dengan dewa atau tuhan mereka.

Pagi ini ayat dalam Matius 5: 3 diatas seolah menunjang sentimen bahwa kelihatannya orang yang miskin saja yang bisa ke surga. Benarkah? Kalau memang benar begitu, orang yang hidup di negara terbelakang pasti lebih banyak yang bisa ke surga karena tingkat kemiskinan yang lebih tinggi dari negara lain. Mungkinkah mereka yang sukses dan kaya tidak bisa ke surga, karena mereka tidak disukai Tuhan? Benarkah pendapat bahwa biar miskin tapi ke surga, buat apa kaya tapi ke neraka?

Dalam ayat diatas “orang yang miskin di hadapan Allah” berarti orang yang terlihat miskin di mata Allah. Tuhan bisa melihat hidup kita dan isi hati kita, dan karena itu bisa melihat apa yang sebenarnya ada dalam hidup dan hati kita. Apa yang nampak dari luar adalah apa yang bisa dilihat manusia, tetapi apa yang didalam hati manusia hanya Tuhan yang tahu.

“Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.” Amsal 16: 2

Orang yang miskin di hadapan Allah adalah orang yang tidak mempunyai apapun yang bisa dimegahkan di depan Tuhan. Orang yang rendah hati, tidak menyombongkan hidupnya. Orang yang sedemikian, selalu merasa bahwa hidupnya selalu bergantung kepada Tuhan, apa yang dipunyainya tidak berharga dalam ukuran kemuliaan Tuhan. Karena ia tidak sombong dalam hal apapun, ia hanya berharap kepada kemurahan Tuhan dari hari ke hari. Ia tahu bahwa sebagai manusia yang berdosa, hanya darah Kristus yang bisa menyelamatkannya. Ia sadar bahwa kebahagiaan hanya datang melalui hubungan harmonis dengan Tuhan.

Setiap orang, baik yang kaya, sukses, sehat dan ternama, atau pun yang miskin, gagal, sakit dan terkucil, diberi kesempatan untuk mengenal Tuhan dan Kristus Juru Selamat manusia. Tetapi tidak semua orang mau mendengar panggilan Tuhan dan datang dengan rendah hati mengakui dosa mereka. Mereka yang mengaku sebagai orang percaya, belum tentu memiliki hidup yang sepenuhnya bergantung kepada Tuhan. Banyak orang yang merasa mengenal Tuhan tetapi tidak menyadari bahwa segala sesuatu yang baik berasal dari Tuhan. Tetapi, jika keadaan yang kurang baik datang, banyak orang yang menyesali Tuhan.

Orang yang miskin dihadapan Tuhan adalah orang yang miskin dan bahkan bangkrut dalam hal rohani, tetapi karena kemurahan Tuhan mereka sudah menerima uluran tangan keselamatan dari Tuhan. Karena itu mereka akan senantiasa bersyukur kepada Tuhan dalam keadaan apapun dan taat kepadaNya.

“Ya TUHAN, Engkau mengenal aku, Engkau melihat aku, dan Engkau menguji bagaimana hatiku terhadap Engkau.” Yeremia 12: 3a

Mungkinkah kita gagal?

“Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” Mazmur 73: 26

Tahun baru. Banyak harapan dan impian, begitu juga rencana dan perhitungan, agar segala sesuatu bisa berhasil dicapai di bulan-bulan mendatang. Di gereja pun, banyak khotbah-khotbah yang menekankan penyertaan Tuhan akan umatNya, yang diharapkan untuk membawa keberhasilan. Memang agaknya di awal tahun, biasanya orang ingin bersikap optimis karena tahun yang diawali dengan pengharapan positip adalah baik untuk perjuangan yang akan dihadapi. Barangkali tidak ada seorangpun yang mau bersikap pesimis dan memikirkan adanya kemungkinan untuk gagal di masa depan.

Bagi banyak orang, dan termasuk sebagian orang Kristen, membicarakan kemungkinan kegagalan adalah soal tabu, apalagi di awal tahun. Apalagi jika mereka memikirkan betapa besar kasih Tuhan yang sudah datang ke dunia untuk menyelamatkan mereka yang percaya. Tuhan yang maha kasih dan maha kuasa sudah tentu tidak membiarkan umatNya mengalami kegagalan, begitu mungkin pikiran mereka. Tetapi jika masalah hidup benar-benar muncul di masa mendatang, mereka mungkin akan bingung mencari sebabnya. Mengapa itu harus terjadi? Adakah sesuatu yang tidak benar yang terjadi?

Apakah orang yang hidup menurut Firman adalah orang yang selalu dikasihi Tuhan? Apakah orang yang beriman adalah anak-anak Tuhan? Pertanyaan semacam ini tidak perlu diragukan akan dijawab “ya” oleh semua orang percaya. Karena itu jugalah, sebagian orang Kristen percaya bahwa Tuhan yang mengasihi orang yang hidupnya benar, akan memberi mereka kesuksesan dalam tahun yang baru ini. Jika ada hal yang kurang baik dalam hidup mereka, itu pasti disebabkan oleh adanya dosa dan kurangnya iman. Suatu pandangan yang keliru!

Hidup di dunia ini adalah sebuah perjuangan untuk seluruh umat manusia. Karena kejatuhan manusia kedalam dosa, hanya dengan bersusah payah manusia akan mencari rezeki dan dengan berpeluh mereka akan mencari makanan sampai mereka kembali lagi menjadi tanah (Kejadian 3: 17-19). Dengan itu, setiap manusia, baik yang tidak beriman maupun yang beriman, bisa menemui persoalan hidup dan kegagalan. Sebagai manusia mereka tidak mendapat perkecualian dari hukum negara, hukum alam, fisika, hukum kesehatan, ekonomi dan sebagainya. Memang kesalahan yang dibuat manusia bisa menimbulkan masalah, tetapi masalah bisa timbul sekalipun tidak diundang. Jika demikian, apakah keuntungan kita untuk menjadi orang percaya?

Ayat diatas menunjukkan apa keuntungan kita sebagai orang beriman jika kita menghadapi kegagalan atau masalah hidup. Pemazmur menulis bahwa sekalipun daging dan hati kita habis lenyap, Tuhan tetap menjadi sumber kekuatan kita untuk selama-lamanya. Kita tahu bahwa Tuhan menyayangi kita, memberi kita kebijaksanaan, bimbingan, kesabaran dan kekuatan dalam menghadapi masalah hidup kita. Segala sesuatu terjadi dengan seijin Tuhan untuk menyempurnakan iman kita dan Tuhan yang maha kasih tidak pernah meninggalkan kita dalam keadaan apapun. Itulah yang memberikan rasa optimisme yang benar bagi kita untuk menjalani tahun baru ini!

“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Ibrani 12: 11

Bersyukurlah karena bisa bersyukur

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” 1 Tesalonika 5: 18

Selama hampir dua puluh tahun saya menjadi dosen pada empat universitas di Australia, saya menjumpai berbagai murid dengan karakter yang berbeda-beda. Ada murid yang pandai, alim dan rajin, sebaliknya ada yang kurang pandai, nakal dan malas. Selain itu ada murid yang sopan dan menghargai dosen dan teman, tetapi ada juga yang kurang ajar dan tidak tahu berterima kasih.

Pada waktu wisuda, mereka yang merasa berterima kasih atas bimbingan saya, sering meminta saya untuk berfoto bersama. Selain itu ada juga bekas murid yang mengucapkan terima kasih, lama sesudah lulus, atas ilmu pengetahuan yang sudah saya ajarkan. Bagi seorang pendidik, tidak ada yang lebih dapat memberi sukacita daripada ucapan terima kasih dari murid-muridnya.

Jika apa yang diberikan seorang pendidik kepada murid-muridnya hanyalah sebagian kecil dari apa yang dialami mereka, Tuhan sudah memberikan begitu banyak berkat kepada manusia karena segala sesuatu datang dari Tuhan (Roma 11: 36). Karena itu, sudah sepantasnya jika Tuhan yang sudah memelihara manusia dan alam semesta itu senang jika manusia mempunyai rasa syukur dan mau berbakti kepadaNya.

“Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.” Wahyu 4: 11

Bersyukur kepada Tuhan untuk banyak orang Kristen tidaklah semudah yang dibayangkan. Mereka harus bisa bersyukur dalam segala hal, untuk segala yang terjadi dalam hidup mereka. Mereka juga harus senantiasa bersyukur, mengucapkan terima kasih di segala waktu. Mereka harus bisa bersyukur dengan rasa cukup dan bukannya tidak puas akan hidupnya. Jika demikian, siapakah yang dapat bersyukur kepada Tuhan?

Bersyukur kepada Tuhan dengan cara yang benar tidak mungkin dilakukan manusia jika Tuhan sendiri tidak bekerja dalam hidupnya. Mereka yang tidak menyadari betapa besar pengurbanan Yesus untuk menebus dosa manusia dan mereka yang tidak sepenuhnya menyerahkan hidup mereka kedalam bimbingan Roh Kudus tidak akan mengerti bagaimana seharusnya rasa syukur itu dipersembahkan kepada Tuhan.

Memang rasa syukur kita bisa dinyatakan dalam pemberian kita yang berupa uang, tenaga, talenta, kebaikan untuk sesama dan sebagainya. Tetapi semua kenampuan itu sebenarnya datang dari Tuhan karena Dia adalah Tuhan yang kaya dalam segala yang baik. Kalau demikian, adakah yang benar-benar bisa menyenangkan Tuhan? Ada!

Manusia pada mulanya diciptakan Tuhan untuk bisa mempunyai hubungan yang baik denganNya dan bisa memuliakan Dia. Itulah juga yang bisa kita lakukan sekarang untuk menunjukkan rasa syukur kita. Yesus sudah memberi hidupNya untuk keselamatan kita, karena itu kita harus bersyukur dengan menjalani hidup kita sesuai dengan perintahNya dan memakai apa yang kita punyai dan apa yang kita lakukan untuk kemuliaan nama Tuhan!

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3: 23

Apakah Yesus membawa damai?

“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” Matius 10: 34

Di zaman modern ini kita bisa melihat begitu banyaknya kemudahan dan kenyamanan yang bisa digunakan manusia. Sejak adanya personal komputer, telepon genggam dan internet, manusia bisa memakai teknologi yang ada untuk berbagai tujuan seperti riset, bisnis, pendidikan, pengamatan, kesehatan, keamanan, pengendalian alat dan sebagainya. Satu hal yang lain yang semestinya bisa dicapai dengan adanya kemajuan teknologi itu adalah terciptanya perdamaian di bumi karena komunikasi antar bangsa dan manusia sekarang bisa dilakukan dengan mudah. Tetapi, dalam kenyataannya teknologi yang ada sering menyebabkan pertikaian, kekacauan, kebingungan dan bahkan mengurangi kedamaian di bumi.

Yesus, Anak Allah yang sudah lahir di dunia ini, juga diharapkan untuk membawa damai diantara umat manusia.

“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” Yesaya 9: 6

Tetapi dalam sejarah kita melihat bahwa banyak pertikaian dan peperangan yang terjadi baik antar agama maupun diantara umat Kristen, dari dulu sampai sekarang. Mungkinkah Yesus bukanlah Raja Damai seperti yang tertulis dalam kitab Yesaya? Mungkinkah Yesus sebenarnya datang untuk membawa pedang seperti dalam Matius 10: 34?

Pada waktu Yesus menjelaskan bahwa Ia datang untuk membawa pedang, Ia tentu saja hanya memakai kata-kata ini sebagai kiasan saja. Ayat-ayat selanjutnya dalam kitab Matius 10 (ayat 35-42) menunjukkan bahwa karena kedatanganNya, garis pemisah, antara mereka yang mengikut Dia dan mereka yang tidak percaya, sekarang jelas terlihat.

Memang sebagai orang Kristen kita sudah bertekad untuk meninggalkan hidup lama yang terisi oleh berbagai dosa. Dosa yang mungkin sering muncul dalam bentuk perbuatan, pikiran atau perkataan. Tetapi dalam kenyataannya, tidaklah mudah untuk memisahkan diri kita dari hal-hal itu. Dengan memakai kata “membawa pedang” Yesus bermaksud mengatakan bahwa jika kita ingin mengikut Dia, kita harus meninggalkan apa saja yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkanNya.

Dalam memasuki tahun yang baru ini kita seharusnya meneliti hidup kita. Jika kita benar-benar mendambakan adanya rasa damai dalam hidup kita, pertama-tama haruslah kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan. Yesus sudah menebus dosa kita dengan darahNya; apa yang kita perlu lakukan hanyalah menerima uluran tangan Tuhan untuk bersama-sama dengan Dia memasuki tahun ini. Kita harus mempunyai tekad untuk meninggalkan apa yang kurang berkenan kepadaNya. Segala rasa ragu, takut dan kekuatiran dan juga iri hati, kebencian dan kepahitan harus dihilangkan dari pikiran kita. Lebih dari itu, apa yang kita perbuat atau katakan haruslah menunjukkan bahwa kita berpihak kepada Yesus.

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Matius 10: 38

Hidup harmonis dengan Tuhan

“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” Yohanes 14: 21

Salah satu ajaran filsafat hidup yang sering kita dengar adalah tentang berbuat baik kepada siapapun, apapun dan dimanapun. Orang harus berbuat baik kepada orang lain agar mendapat balasan yaitu diperlakukan secara baik oleh orang lain. Orang juga harus hidup harmonis dengan alam semesta (nature) agar segala kebutuhannya tercukupi. Hidup bahagia dapat dicapai dengan keharmonisan dengan seisi bumi. Alam semesta adalah sesuatu yang harus dihormati karena hidup kita bergantung kepadanya.

Pandangan diatas sudah ada sejak jaman dulu dan sekarang mulai populer lagi dalam berbagai bentuknya, terutama diantara generasi muda yang kurang menyukai konsep Tuhan yang abstrak dan segala hukum-hukumNya. Berbeda dengan pandangan itu, bagi orang Kristen pusat perhatian dan penyembahan mereka adalah Tuhan yang menciptakan alam semesta dan yang sudah turun ke dunia (God-centered atau Jesus-centered). Orang Kristen harus bisa hidup harmonis dengan Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus dengan menaati perintahNya.

Banyak orang Kristen yang percaya kepada Tuhan, tetapi kurang berhasrat untuk mempelajari bagaimana menerapkan iman mereka dalam hidup sehari-hari. Sebagian mengabaikan perintah Tuhan karena merasa bahwa Tuhan yang maha kasih tentu tahu bahwa hal itu sulit dilakukan dan tidak mengharapkan manusia untuk bisa sepenuhnya menaati perintahNya. Sebagian juga berpikir bahwa sebagai orang yang sudah ditebus oleh darah Kristus, mereka merdeka untuk memilih cara hidup yang mereka maui. Tetapi semua pengertian diatas adalah keliru karena sebagai anak–anak Tuhan kita justru harus taat kepadaNya.

“Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalah-gunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” 1 Petrus 2: 16

Mengapa kita yang lemah ini harus menaati firman Tuhan dan membina hubungan yang baik dengan Tuhan? Barangkali kita bisa belajar dari Abraham. Abraham, bapa orang Israel, adalah contoh bagaimana seorang yang mempunyai banyak kekurangan bisa mempunyai hubungan yang harmonis dengan Tuhan. Abraham jelas diberkati Tuhan karena ia mau mendengarkan firman Tuhan dan menjalankan perintahNya.

“Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku.” Kejadian 26: 4-5

Pagi ini jika kita ingat bahwa ada begitu banyak hal dan masalah yang harus kita hadapi di hari-hari mendatang, mungkin kita merasa kuatir bagaimana kita bisa sanggup menghadapi semua itu. Tetapi, jika kita percaya bahwaTuhan mengasihi mereka yang memegang dan melakukan perintahNya, kita boleh yakin bahwa Dia akan menyatakan diriNya dalam perjuangan kita. Marilah kita tetap mau membina hubungan yang harmonis dengan Tuhan dengan menjalankan perintahNya!

Kuat walaupun lemah

“Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” 2 Korintus 12: 10

Memasuki tahun yang baru ini banyak ucapan selamat tahun baru yang disertai doa “semoga sehat selalu”.  Kelihatannya soal kesehatan adalah penting, terutama bagi mereka yang memasuki usia senja. Siapakah yang tidak mau hidup sehat? Semua orang ingin mempunyai kesehatan yang baik agar terhindar dari sakit penyakit. Walaupun demikian, tidak seorangpun yang bisa bebas dari sakit sekalipun bagaimanapun baiknya cara hidup dan lingkungannya.

Memang jika kita tahu bahwa tubuh kita tidak sesehat yang kita harapkan, rasa kecewa atau sedih mungkin timbul. Tetapi tentunya kita harus bersyukur bahwa dengan ditemukannya masalah yang ada dalam tubuh kita, kita bisa memakai obat yang sesuai, sehingga kita bisa memperoleh kekuatan dan kesehatan kita kembali. Ada pengharapan dan kekuatan baru didalam kelemahan yang ada.

Seperti itulah hidup manusia pada umumnya, setiap orang mengalami tantangan, perjuangan dan penderitaan di muka bumi ini. Itu lumrah karena semua manusia sudah jatuh kedalam dosa dan harus hidup di dunia yang tidak sempurna. Tetapi jika umat Kristen mengalami penderitaan karena hal-hal yang nampaknya “tidak adil”, pertanyaan mungkin timbul di hati kita, mengapa hal-hal yang sedemikian terjadi pada anak-anak Tuhan. Bukan hanya kelemahan tubuh, penyakit, dan kesukaran hidup, tetapi juga bahaya dan penganiayaan dialami oleh banyak orang Kristen di dunia. Menjadi Kristen memang dalam kenyataannya tidak akan menghilangkan persoalan hidup, tetapi persoalan hidup malah justru sering muncul karena adanya iman kepada Tuhan, karena kita harus menuruti perintah Tuhan.

Orang yang tidak mau untuk dibimbing Tuhan lebih suka untuk mengabaikan adanya persoalan dalam hidup mereka. Mungkin juga mata rohani mereka tertutup sehingga mereka tidak bisa melihat adanya masalah, jika mereka tidak menuruti perintah Tuhan. Untuk mereka, kehidupan adalah baik jika mereka bisa berbuat apa yang mereka maui. Mereka dapat hidup dalam kebebasan yang semu sampai tiba saatnya mereka menyadari bahwa ada sesuatu yang buruk terjadi. Karena mereka tidak mempunyai Tuhan, bagi mereka tidak ada harapan dan penghiburan dalam kesulitan.

Pagi ini, Rasul Paulus sebagai rasul yang mungkin bisa dikatakan paling bijaksana menceritakan bahwa dalam hidupnya ada sesuatu masalah kesehatan yang membuat ia sangat menderita. Ia sudah memohon tiga kali kepada Tuhan untuk mendapat kelepasan, tetapi jawaban Tuhan bukanlah seperti yang diharapkannya.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” 2 Korintus 12: 9a

Sebab itu, bukannya menyesali keadaannya, Paulus malahan bersyukur dalam kelemahannya, supaya ia bisa merasakan kuasa Kristus yang turun menaungi dia.

Seperti Paulus, kita adalah anak-anak Tuhan yang selalu dibimbingnya untuk menjadi makin dewasa dan makin kuat dalam iman. Sebagai manusia, kita selalu mempunyai kelemahan dan berbagai persoalan; tetapi bagi kita yang mau dibimbing Tuhan, kesadaran bahwa hidup kita adalah bergantung kepada Tuhan yang maha kuasa dan maha kasih adalah bagaikan obat yang memberi harapan dan kekuatan didalam kesulitan. Biarlah kita bisa makin berserah kepada Tuhan dalam tahun yang baru ini!

Pakailah kesempatan yang ada

“Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.” Yohanes 9: 4

Saat ini perayaan Natal dan tahun baru telah lewat dan mereka yang berlibur ke luar kota mulai pulang ke rumah masing-masing. Suasana berangsur-angsur menjadi normal dengan para pekerja tampak berangkat menuju kantor masing-masing pagi ini. Diantara orang-orang itu mungkin ada orang-orang Kristen yang sudah merayakan kedua hari besar itu dan sekarang harus menghadapi kenyataan hidup. Bagaimana perasaan mereka dalam memasuki tahun yang baru?

Bagi banyak orang, hidup sesudah liburan akhir tahun tidaklah banyak berbeda dengan hari-hari sebelum liburan. Business as usual. Kecuali jika ada rencana baru, seperti pindah rumah, pindah sekolah atau ganti pekerjaan. Memang hidup kadang-kadang agak membosankan, tetapi sebagian manusia mungkin menyukai hidup yang teratur, yang bisa diterka. Jika lebih dari itu, tingkat stres mungkin meningkat dan bisa mengurangi ketenteraman hidup mereka. Sebaliknya, ada juga orang-orang yang justru menyenangi perubahan karena mereka hidup untuk mencapai kepuasan. Bagi orang-orang semacam ini soal bekerja dan terus bekerja untuk kesuksesan mungkin adalah suatu keharusan.

Adalah sangat menarik bahwa Yesus memerintahkan pengikutNya untuk bekerja di ladangNya. Perintah ini bukanlah anjuran atau sekedar pilihan, tetapi adalah keharusan. Sebuah Amanat Agung untuk semua orang Kristen agar dilakukan dengan sebaik-baiknya.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” Matius 28: 19

Walaupun demikian, banyak orang Kristen yang secara sadar maupun tidak sadar, merasa bahwa amanat ini hanyalah untuk para pendeta dan pengerja gereja. Bagi mereka, memberi persembahan adalah cukup seolah untuk bisa mendapatkan orang-orang yang bisa mewakili mereka dalam mengabarkan injil.

Memang, pedoman hidup yang diberikan orang tua kepada anak-anak seringkali berbunyi “Gantungkan cita-citamu setinggi langit”. Mereka diharapkan agar mau belajar dan bekerja untuk mencapai tujuan hidup yang besar. Bukan cita-cita yang asal-asalan saja. Tetapi, jarang sekali ada orang yang menerapkan pedoman ini untuk pekerjaan di ladang Tuhan. Kebanyakan orang Kristen merasa cukup untuk menjadi manusia yang sekedar percaya kepada Yesus Kristus tetapi tidak mempunyai keinginan untuk bekerja di ladangNya untuk memuliakan namaNya.

Pagi ini kita diingatkan bahwa tidak cukup bagi kita untuk memasuki tahun baru dan mensyukuri keadaan kita sendiri sebagai manusia yang sudah diselamatkan. Perintah Tuhan agar kita bisa mengasihi sesama kita menuntut dedikasi hidup untuk membawa kabar keselamatan kepada seisi dunia. Memang tidak semua orang bisa dan perlu untuk menjadi pendeta atau penginjil, tetapi semua orang percaya harus berusaha semaksimal mungkin, selama kita masih bisa dan selama kesempatan kita masih ada, untuk memasyhurkan nama Tuhan dalam apa yang kita kerjakan di tahun yang baru ini. Dengan demikian, orang disekitar kita akan mendapat kesempatan untuk mengenal Tuhan yang sudah membaharui hidup kita.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Yesus tidak berubah

“Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” Ibrani 13: 8

Dalam memasuki tahun baru ini, sebagian orang sempat memikirkan apa yang mungkin terjadi di bulan- bulan mendatang. Dengan menimbang apa yang sudah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, orang mencoba meramalkan apa yang bisa terjadi pada tahun baru. Bagi umat Kristen, ramalan-ramalan sedemikian pada umumnya hanyalah bersifat spekulatif jika tidak ditunjang penyelidikan ilmiah. Tambahan pula, orang Kristen percaya bahwa Tuhanlah yang pada akhirnya menentukan apa yang akan terjadi.

Kesadaran tentang kuasa dan kedaulatan Tuhan tidak menghentikan usaha sebagian umat Kristen untuk menggunakan perasaan, pikiran dan dugaan mereka untuk mereka-reka apa yang akan diperbuat atau diijinkan oleh Tuhan di tahun yang baru. Memang, manusia dari awalnya sudah ingin untuk mendapatkan kemampuan untuk melihat apa yang baik dan buruk dalam pandangan Tuhan. Dari dulu manusia ingin menjadi seperti Tuhan, dan mereka yang merasa dikaruniai dengan kemampuan “melihat bola kristal”, biasanya berusaha meyakinkan orang lain bahwa apa yang dikatakannya adalah dari Tuhan dan karena itu mereka adalah orang-orang yang istimewa.

Apa sebenarnya yang dikatakan Tuhan dalam Alkitab tentang masa mendatang menunjukkan bahwa Ia yang mengatur segala sesuatu adalah Tuhan yang menyimpan rencanaNya untuk diriNya sendiri sampai waktu yang tepat untuk menyampaikannya kepada anak-anakNya.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. Yesaya 55: 8-9

Manusia adalah mahluk yang lemah dan karena itu cukup untuk bisa hidup untuk menghadapi tantangan hari demi hari, dan menyerahkan masa depan kepada Tuhan.

Marilah kita menyambut tahun baru ini dengan keyakinan bahwa Tuhan yang sudah mengirimkan AnakNya, Yesus Kristus, untuk menyelamatkan manusia adalah Tuhan yang akan membimbing kita sepanjang tahun yang baru, dan bahkan selama hidup kita. Yesus yang sudah turun ke dunia sebagai manusia tahu bagaimana sebagai manusia kita lemah dan membutuhkan kekuatan dan bimbingan dariNya. KasihNya tidak pernah berubah, dari dulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya.

Tuhan Yesus tidak berubah. Tidak berubah, tidak berubah. Tuhan Yesus tidak berubah. Tak berubah selama-lamanya.

Haleluya haleluya haleluya haleluya. Haleluya haleluya haleluya.

Apa arti setahun?

“Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: “Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!” Pengkhotbah 12: 1

Apa arti setahun? Setahun bagi seseorang mungkin berisi banyak hal yang signifikan, tapi bagi yang lain mungkin berlalu seperti tahun-tahun sebelumnya. Walaupun demikian, bagi semua orang, baik tua maupun muda, tahun yang berlalu jelas menambah usia.

Manusia manapun akan bertambah tua. Dimulai pada saat kelahiran, seorang bayi tumbuh menjadi seorang anak kecil, anak remaja, orang muda, orang dewasa, orang berumur dan kemudian orang lanjut usia, sebelum meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Walaupun begitu seharusnya, tidak semua orang akan mengalami seluruh tingkat usia itu. Ada orang yang belum tua tetapi sudah tidak beserta kita, ada pula orang yang karena sakit, menjadi tua sebelum waktunya.

Masa muda biasanya diisi dengan berbagai kegiatan yang menarik, yang memberi kesenangan, kebanggaan dan kepuasan pribadi. Seolah seluruh dunia ada untuk dinikmati oleh diri sendiri. Dengan bertambahnya usia, manusia umumnya mulai belajar untuk hidup bukan bagi dirinya sendiri, terutama setelah berkeluarga. Namun dengan bertambahnya usia, hidup seringkali diisi dengan kesibukan mencari ilmu, harta, kesuksesan atau nama. Kesenangan yang dicapai melalui jerih payah seolah bisa memberi makna kehidupan.

Keluarga dan persahabatan baik secara nyata atau maya bisa juga menjadi suatu kenikmatan. Waktu yang 24 jam sehari seringkali kurang untuk memberi perhatian yang cukup kepada sanak kerabat dan teman. Seringkali, karena kesibukan yang seolah berdasarkan cinta akan sesama, waktu yang ada tidak cukup untuk Tuhan. Padahal soal mengasihi Tuhan itu seharusnya lebih penting dari yang lain, terutama di masa depan. Tuhan dan kasihNya tetap ada sewaktu perhatian sanak dan teman sudah hilang.

Selama setahun, Tuhan sudah menyertai kita. Tiap hari, tiap jam bahkan tiap detik,Tuhan melindungi kita sehingga kita tetap bisa hidup sampai saat ini dan siap memasuki tahun yang baru. Lebih-lebih lagi, Tuhanlah yang sudah mengambil inisiatif untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Walaupun begitu besar kasihNya kepada manusia, kebanyakan orang menerima kasih Tuhan itu sebagai sesuatu yang sudah sewajarnya, take it for granted.

Sekalipun kita bisa memasuki tahun baru dengan segala apa yang nyaman kali ini, adalah kenyataan hidup bahwa akan ada satu saat dalam hidup kita dimana adanya hidup dan kenyamanan disekeliling kita tidak lagi dapat memberi kenikmatan. Mungkin saat itu terjadi sesudah kita menginjak usia tua, tetapi mungkin juga sewaktu kita masih muda. Pada saat itu, dukungan sanak kerabat dan teman tidaklah dapat memberi kekuatan dan semangat, apa yang ada terasa hampa.

Pagi ini kita harus sadar bahwa jika kita tidak terbiasa merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita, jika kita tidak terbiasa berbincang-bincang dengan Tuhan, mempelajari firmanNya dan menyadari kasihNya, dalam keadaan yang menguji iman kita di masa depan, kita akan mengalami kesunyian yang luar biasa karena Tuhan serasa jauh dari kita. Biarlah tahun yang baru ini membawa kesadaran bagi kita semua bahwa selagi kita masih bisa, kita harus makin dekat kepada Tuhan!

Semoga kita makin takut akan Tuhan

TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku.Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” Mazmur 23: 1-3

Bagi kebanyakan orang, tahun baru umumnya membawa harapan baru. Harapan untuk bisa melupakan kegagalan, masalah dan hal-hal yang kurang menyenangkan dari tahun yang lalu, dan untuk memperbaiki apa yang kurang baik agar bisa lebih baik pada tahun yang baru. Bagi umat Kristen, karena Tahun Baru hanya seminggu sesudah hari Natal, seyogyanya harapan Natal juga merupakan harapan Tahun Baru.

Dengan memasuki tahun baru, umumnya orang berharap bahwa keberuntungan yang lebih besar akan bisa didapat. Tidak ada bedanya dengan tahun baru Imlek, memasuki tahun baru Masehi ini orang saling mengucapkan harapan untuk kesehatan, kesuksesan, rejeki dan lain-lain. Orang Kristen pun sering terperangkap dalam situasi yang serupa, sekalipun buat mereka sebenarnya lebih penting untuk memikirkan soal surgawi daripada hal-hal duniawi.

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6: 33

Yesus sudah mengajarkan bahwa sebagai orang percaya kita harus berharap agar Roh Kudus makin bekerja dalam hidup kita, sehingga hidup kita bisa makin dekat kepada Tuhan dan bisa berbahagia. Dengan kedekatan manusia kepada Tuhan, kekuatiran akan apapun bisa dikalahkan melalui iman yang makin dikuatkan. Lebih dari itu, karena Tuhan menyenangi orang yang punya rasa takut kepadaNya, Ia akan menambahkan berkatNya dalam berbagai hal yang lain.

TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya. Mazmur 147: 11

Memang, dalam Alkitab ada banyak contoh dimana orang-orang yang takut akan Tuhan, menjalani hidup mereka sesuai dengan apa yang dikehendakiNya. Orang-orang seperti Abraham, Jusuf, Musa dan Daud yang dalam segala kelemahan mereka, selalu kembali kepada keinsafan bahwa Tuhan yang Maha Kasih adalah seperti seorang gembala yang ingin membawa semua dombaNya ke padang rumput yang hijau. Orang-orang sedemikian diberkati Tuhan dalam hidup mereka, karena mereka mau menuruti panggilan Tuhan.

Ayat pembukaan diatas mengambarkan bagaimana Tuhan gembala kita membawa kita, domba-dombaNya, ke padang yang berumput hijau. Tetapi dalam kenyataannya, ada domba-domba yang berhenti pada suatu tempat dan tidak mau mengikuti Dia karena adanya sejengkal rumput hijau didepan mata. Mungkin juga ada domba-domba lain yang ingin menemukan padang rumput dengan usaha sendiri. Domba- domba yang sedemikian sudah mengabaikan rasa takut kepada si Gembala. Orang-orang semacam itu mungkin yakin bahwa kebahagiaan dapat ditemukan melalui kesuksesan, kekayaan, kemasyhuran dan sebagainya.

Pagi ini, dalam memikirkan apakah harapan apa yang terbaik untuk orang-orang yang kita kasihi dan untuk kita sendiri pada tahun yang akan datang ini, biarlah kita tidak ragu untuk berharap agar semua orang bisa menumbuhkan rasa takut akan Tuhan kita yang maha kuasa, maha tahu, maha kasih dan maha bijaksana. Dengan itu tahun yang baru bisa diisi dengan keyakinan bahwa Tuhan akan menyertai kita.

Semoga anda makin takut kepada Tuhan!