“Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” Roma 6: 6
Bagi masyarakat umum, baptisan air yang diadakan di berbagai gereja adalah hal yang sering didengar. Orang dari agama apapun umumnya tahu bahwa mereka yang ingin menjadi orang Kristen akan menerima baptisan air di gereja mereka. Baptisan adalah tanda orang percaya.
Bagi orang Kristen, baptisan adalah bagian kedua dari Amanat Agung Kristus. Karena itu, sejarah mencatat banyaknya misionaris yang pergi ke berbagai tempat di dunia untuk mengabarkan injil sehingga banyak orang yang mau dibaptiskan sebagai orang Kristen.
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28:19 – 20
Dengan melaksanakan kedua bagian Amanat Agung, melalui murid-murid Yesus, banyak orang yang mendengar injil, kemudian mau di baptiskan. Tetapi, Amanat Agung tidak berhenti dengan dua hal itu saja. Yesus juga memerintahkan agar murid-muridNya untuk mengajar orang yang sudah dibaptis untuk melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan Yesus.
Hak menerima Injil dan mengambil keputusan untuk mengikut Yesus melalui baptisan adalah hasil pekerjaan Roh Kudus, dan mereka yang sudah menerima Yesus seharusnya sadar untuk taat kepada perintah-perintahNya. Ini tidaklah mudah dilakukan, karena sejak jatuhnya manusia kedalam dosa, manusia cenderung untuk melakukan apa yang jahat daripada yang baik. Tetapi, Roh Kudus jugalah yang mampu menguatkan mereka yang percaya.
Banyak orang Kristen yang sudah mengalami dua bagian yang pertama dari Amanat Agung itu, tetapi belum bisa atau mau untuk sepenuhnya melakukan yang ketiga, yaitu hidup dalam Kristus.
Yesus sudah datang untuk menebus seluruh dosa kita, tetapi itu tidak berarti bahwa kita boleh tetap hidup dalam dosa. Baptisan melambangkan keadaan dimana kita mati bersama Kristus dan kemudian bangkit dalam kemenangan seperti Dia. Dengan itu kita harus meninggalkan cara hidup yang lama, yang mementingkan diri sendiri dan mengabaikan perintah Tuhan.
“Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” Roma 6: 5 – 6
Banyak orang yang sudah mengaku Kristen selama bertahun-tahun, seolah sudah menemukan ketentraman dalam keyakinan bahwa mereka sudah ditebus oleh kematian Kristus sebagai pengganti hukuman atas dosa mereka. Walaupun demikian, mereka belum menerima kenyataan bahwa sebagaimana Kristus sudah dibangkitkan, mereka harus juga bangkit dalam hidup baru, yang selalu menghindari dosa.
“Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.” Roma 6: 10 – 11
Pagi ini, pertanyaan untuk kita yaitu apakah kita dengan sadar tetap hidup dalam dosa, karena yakin bahwa kasih karunia Tuhan kepada kita tidak ada batasnya? Jika keyakinan kita begitu, mungkin kita harus bertanya apa arti baptisan bagi kita. Baptisan adalah tanda bahwa sesorang mau menerima Yesus dan berubah dari hidup lamanya.Karena itu, mereka yang belum mau berubah adalah orang-orang yang tidak dikenal Kristus.
“Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.” Roma 5: 12
Pagi ini, ketika saya bangun sekitar pukul 6.15 pagi, matahari belum terlihat. Suhu sekitar 10 derajat Celsius di Toowoomba. Memang pada musim dingin (winter), matahari agaknya malas bersinar. Pada hari ini matahari terbit pukul 6.45 pagi dan terbenam pukul 5.08 sore.
Dalam Lukas 12: 1 -3 Tuhan Yesus mengutarakan perasaanNya terhadap orang Farisi. Apa yang diucapkanNya adalah cukup pedas untuk ukuran telinga kita: “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi.” Yesus menggambarkan bahwa kemunafikan kaum Farisi itu seperti ragi, yang akan menyebar dan mempengaruhi murid-muridNya. Kemunafikan itu agaknya menular.
Di berbagai kota di Australia, mereka yang senang berolahraga bisa mengikuti acara boot camp yang diselenggarakan oleh berbagai klub. Acara ini biasanya berupa aktivitas fisik berat yang bisa membuat para peserta menguras seluruh tenaga, baik tubuh maupun pikiran, untuk menghadapi berbagai tantangan di alam terbuka. Sebagian orang percaya bahwa setelah mengikuti latihan berat a la militer ini, rasa percaya diri, rasa setia kawan dan kemauan untuk hidup sehat bisa tumbuh menjadi lebih besar. Tetapi bagi yang lain, pengalaman sekali saja sudah cukup untuk membuat mereka tidak mau melakukannya lagi. Tidak ada kesenangan dalam mengalami penderitaan!
Pernahkah anda mengalami suatu pengalaman yang menyebabkan anda merasa tertekan, sedih dan gundah karena apa yang anda perbuat pada suatu hari, seolah tidak dimengerti orang disekitar anda, termasuk orang-orang terdekat anda? Saya yakin setiap orang pernah merasakan “hari sial” semacam itu. Kesedihan anda mungkin bisa bertambah besar jika ada orang-orang yang mendakwa bahwa anda sudah melakukan hal yang kurang baik, padahal anda tidak mempunyai maksud jahat apapun.
Satu hal yang menarik perhatian saya ketika baru tiba di benua Australia pada tahun 1980an adalah bagaimana orang sudah belajar mengucapkan kata “thank you” sejak kecil, ketika menerima suatu pemberian. Ucapan ini adalah pernyataan rasa syukur atas kebaikan orang lain.
Bagi mereka yang mencari pekerjaan di zaman ini, keadaan sudah tidak seperti 50 tahun yang lalu. Sekarang, dengan adanya kemajuan pendidikan dan teknologi dimana saja, banyak orang harus bersaing ketat untuk bisa mendapatkan pekerjaan. Walaupun demikian, jika ada kesempatan untuk memilih tempat bekerja, orang tetap berusaha untuk mendapatkan apa yang terbaik.
Masa kecil adalah masa dimana seorang anak hidup bergantung kepada orang tuanya. Bagi kebanyakan orang, ingatan yang terkadang muncul tentang masa kecil bisa merupakan nostalgia yang indah, saat dimana orang tua terasa mengasihi dan mencukupi kebutuhan anaknya.
Sebuah lagu sekolah minggu yang cukup terkenal pada waktu saya masih kanak-kanak adalah lagu “Percaya saja” yang syairnya berbunyi: