Bermegah dalam Kristus

“Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” Galatia 6: 14

Kemegahan adalah salah satu yang dicari manusia. Memang setiap orang dari lahir sudah mempunyai naluri untuk mencapai kesuksesan dalam apa yang dilakukannya, supaya ia memperoleh kesempatan untuk merasa bangga akan apa yang sudah dicapainya.

Menurut rumus dunia, setiap orang bisa dan harus berusaha untuk mencapai kesuksesan. Kesuksesan yang dialami tanpa mengucurkan keringat umumnya dimengerti sebagai sesuatu yang tidak perlu dibanggakan. Tetapi dalam kenyataannya orang juga membanggakan hal-hal yang sudah ada sejak dari awalnya, seperti warna kulit, bentuk tubuh, jenis ras, kebangsaan dan sebagainya. Kebanggaan malahan bisa berkembang menjadi kesombongan dan perasaan bahwa apa yang dimiliki orang lain tidaklah sebaik apa yang mereka punyai.

Kebanggaan tidak hanya dalam hal jasmani, tetapi juga dalam hal rohani. Keyakinan bahwa orang Kristen adalah manusia yang terpilih, seringkali membuat mereka merasa bahwa orang lain adalah orang yang dibenci Tuhan, terutama jika orang itu masih hidup bergelimang dalam dosa (Lukas 19: 2-7). Mungkin juga, ada perasaan yang muncul bahwa karena hidup kita nampak lebih saleh daripada hidup orang lain, pastilah Tuhan lebih mencintai diri kita (Lukas 18: 10-14). Bahkan, murid-murid Yesus pun bisa terperosok dalam soal siapa yang terbaik (Lukas 22: 24).

Semua kebanggaan pada umumnya membuat manusia merasa “super” dan lebih baik dari orang lain. Bermegah atas keadaan diri sendiri tidak lain adalah membuat diri kita seperti ilah di hadapan Tuhan. Jika begitu, tidak adakah yang bisa kita banggakan dalam hidup kita sebagai umat Kristen? Tidak adakah sesuatu yang megah dalam hidup kita yang bisa kita sampaikan kepada seisi dunia? Sudah tentu ada! Jika tidak ada yang sesuatu yang hebat dalam hidup kita, bagaimana kita bisa membuat dunia bisa melihat kebesaran Tuhan?

Kita boleh bermegah bahwa karena Yesus yang sudah datang ke dunia pada hari Natal adalah Anak Allah yang sudah sudi datang untuk menebus dosa manusia. Karena Yesus, hidup kita tidak lagi dikuasai oleh dosa; dan karena dosa kita sudah ditebus oleh darah Kristus, kita mau mempersembahkan hidup kita untuk Yesus. Inilah suatu kemegahan yang harus bisa kita sampaikan kepada semua orang agar mereka mau menerima anugerah keselamatan yang sudah dimungkinkan oleh darah Yesus di kayu salib.

Kita adalah hamba hukum

“… Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” Matius 20: 26-27

Kemarin siang, selagi berjalan-jalan di daerah China Town di Seattle, tiba-tiba beberapa mobil polisi bermunculan dari segala jurusan. Dengan bunyi sirene yang menjerit-jerit dan lampu biru yang berkedip-kedip, mereka melaju dengan cepat menuju ke satu taman yang tidak jauh dari saya. Pemandangan yang agak menakutkan, mirip adegan film Hollywood tentang hamba hukum yang mengejar bandit.

Dalam bahasa Indonesia istilah “hamba hukum” berarti petugas hukum, pelaksana hukum atau polisi. Istilah semacam ini tidak ada dalam bahasa Inggris walaupun polisi dikenal sebagai “pelaksana hukum” atau “law enforcer”. Sekalipun polisi di Indonesia dinamakan hamba hukum, dalam kenyataannya mereka bukanlah “hamba” tetapi “pemimpin” masyarakat yang mengawasi dan mengatur masyrakat agar menaati hukum yang ada.

Dalam hidup di zaman ini memang tidak ada lagi orang yang mau menjadi hamba siapapun, walaupun pekerjaan sebagai pelayan masih ada di banyak negara. Sekalipun demikian, ayat diatas mengatakan bahwa orang Kristen yang mau menjadi pemimpin harus mau menjadi pelayan atau hamba yang lain. Dalam ayat ini, istilah “pelayan” mengandung arti yang sama dengan istilah “hamba”.

Sebagai orang Kristen sebenarnya kita adalah hamba hukum. Bukan hukum Taurat, tapi hukum kasih. Kita harus melaksanakan hukum utama untuk mengasihi Tuhan dan sesama kita (Matius 22:37-40), karena kasih karunia Allah yang telah dinyatakan dalam kedatangan Yesus Kristus ke dunia.

Pagi ini biarlah kita diingatkan walaupun dunia ini mengagumi pemimpin-pemimpin besar dan karena itu orang sering ingin untuk memimpin orang lain, seorang pemimpin Kristen adalah hamba hukum kasih, yang taat kepada Tuhan dan mengasihi orang yang dipimpinnya. Ini berarti bahwa jika kita diberiNya kesempatan untuk memimpin, itu bukannya untuk memberi kita kepuasan dan rasa bangga karena kita lebih mampu dari yang lain, tetapi rasa syukur karena kita mendapat karunia untuk melayani dan membimbing sesama kita. Menjadi pemimpin juga bukan untuk meninggalkan kesan baik untuk diri kita sendiri, tetapi untuk Yesus, Tuhan yang sudah datang ke dunia dan merendahkan diri sebagai manusia biasa.

“Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan.” Lukas 22: 26

Siapa mau menderita?

“Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” Filipi 1: 29

Siapa mau menderita? Pertanyaan aneh yang sudah dapat dipastikan jawabnya. Tidak ada seorang pun yang mau menderita. Apalagi dalam merayakan Natal, banyak yang memilih untuk bergembira dan berpesta sekalipun tidak mengerti makna hari istimewa itu. Mereka yang menyadari arti Natal pun kelihatannya memilih untuk merayakan Natal semeriah dan semewah mungkin, sekedar berusaha untuk membuat kenangan yang tidak mudah terlupakan selama mereka masih hidup.

Hari Natal yang pertama sungguh berbeda dengan hari Natal di zaman ini. Pada waktu Yesus dilahirkan, keadaan disekelilingnya sangat sederhana, untuk tidak dikatakan prihatin. Yesus dilahirkan di kandang hewan dan ditidurkan dalam sebuah palungan. Tidak di sebuah rumah sakit atau gedung mewah. Tetapi kelahiran yang terlihat hina di mata manusia itu memang direncanakan Allah, agar semuanya membawa kenangan yang tidak bisa terlupakan di segala zaman.

Kelahiran seorang Juruselamat yang merupakan kedatangan Tuhan untuk menebus dosa manusia, adalah sesuatu yang sulit dipercaya manusia. Berbeda dengan pesta-pesta Natal yang diadakan nanusia di seluruh dunia, yang berita atau fotonya bisa disebarkan dan dipantau dari seluruh dunia lewat berbagai media. Kelahiran Tuhan di dunia yang sederhana adalah tanda kebesaran kasih Tuhan kepada manusia di dunia. Sebaliknya, perayaan dan acara Natal yang sekarang ada, seringkali adalah tanda kebesaran dan kepentingan manusia.

Kelahiran Yesus sebenarnya bisa terjadi dalam suasana yang nyaman dan bahkan mewah, sama dengan dan bahkan lebih mewah dari perayaan Natal apapun yang dilakukan manusia di zaman ini. Tetapi, kelahiran Yesus dalam suasana prihatin itu adalah permulaan dari pengurbanan dan penderitaan Anak Allah di dunia untuk menebus dosa manusia yang berdosa. Sekali pun hal ini adalah sulit untuk diterima oleh pikiran manusia, kepada orang-orang yang dipilihNya Tuhan sudah memberi pengertian akan hal itu.

Ayat di atas menjelaskan bahwa mereka yang sudah dikaruniai kepercayaan atau iman kepada Yesus, juga diberi karunia tambahan, yaitu untuk bisa menderita bagi Dia. Ini berarti bahwa seperti Yesus, kita yang sudah terpilih menjadi umatNya kemudian akan mampu menghadapi penderitaan dunia dalam menjalani hidup ini untuk membesarkan namaNya. Lebih dari itu, sebagai pengikut Kristus, kita tidak lagi tertarik untuk mencari kebahagiaan duniawi yang semu, tetapi kebahagiaan abadi didalam Dia.

Mengikut Kristus tidak berarti bahwa hidup kita di dunia ini akan dipenuhi kemewahan, kenyamanan, kesuksesan dan kemegahan. Sebaliknya, untuk sebagai anak-anak Tuhan kita seringkali menghadapi tantangan, kesedihan, kekurangan, kesepian dan masalah. Sebagai pengikut Yesus kita juga bisa merasakan dan meringankan penderitaan orang-orang di sekitar kita. Hanya karena kasih Tuhan, semua hal yang kurang nyaman itu justru akan membawa kita lebih dekat kepadaNya.

Pagi ini, marilah kita meneliti hidup kita, terutama dalam menantikan datangnya hari Natal. Mungkin kita sudah bisa merasakan adanya karunia iman kepada Yesus. Tetapi apakah kita juga merasakan adanya karunia untuk menderita bagi kemuliaanNya?

Mungkinkah jatuh cinta sebelum jumpa?

“Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.” 1 Petrus 1: 8-9

Alkisah ada seorang pemuda yang jatuh cinta kepada seorang gadis. Siang malam pemuda ini selalu memikirkan si gadis, karena itu bagi dia makan tak enak, tidur pun tak pulas jadinya. Sepanjang hari pemuda ini memandangi lukisan si gadis, yang kebetulan tergantung pada sebuah tembok didalam sebuah gedung museum di kota Paris. Nama gadis itu adalah Mona Lisa

Bagaimana seorang manusia bisa jatuh cinta kepada sebuah lukisan mungkin mengherankan bagi sebagian orang, tetapi itu sering terjadi terutama di kalangan muda-mudi yang mengagumi bintang film atau penyanyi yang terkenal. Memang untuk orang lain, jatuh cinta kepada seseorang yang tidak pernah dijumpai serasa tidak masuk akal, sebab apa yang ditampilkan dalam lukisan atau foto bukanlah yang benar-benar nyata.

Bagi kita yang beriman kepada Yesus Kristus, kasih kita kepadaNya mungkin juga membuat heran mereka yang tidak percaya kepadaNya. Bagaimana orang bisa mengakui Yesus sebagai Tuhan padahal tidak ada seorangpun yang pernah ke surga dan melihat Dia? Tetapi mereka yang “jatuh cinta” kepada figur-figur rohani yang lain juga hanya pernah melihat lukisan atau patung mereka. Sebagian lagi hanya mendengar kisah dan ajaran mereka.Tetapi, tidak ada satu figur selain Yesus yang datang dari surga dan kembali ke surga untuk membuktikan bahwa Ia benar-benar Tuhan.

Memang agaknya iman kita kepada Yesus yang belum pernah kita lihat itu bisa dikatakan cinta buta seandainya tidak ada bukti nyata bahwa oknum Yesus itu memang ada. Setidaknya ada dua buku terkenal yang mencatat bahwa manusia bernama Yesus atau Isa itu dulu pernah hidup ditengah manusia. Malahan, salah satu buku itu, Alkitab, mencatat bahwa Yesus yang lahir pada hari Natal itu adalah Anak Allah yang disalibkan, mati dan dikuburkan, tetapi bangkit pada hari yang ke tiga dan kemudian naik ke surga. Tidak ada figur surgawi lain yang pernah dijumpai dan hidup diantara manusia dan dilihat manusia pada waktu naik ke surga. Karena itu Yesus adalah satu-satunya yang nyata diantara banyak yang maya.

Pagi ini, jika kita masih sangsi apakah figur Yesus itu memang Tuhan yang patut kita kasihi dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi dan dengan segenap kekuatan kita, kita boleh berpegang pada jaminan keselamatanNya. Sekalipun kita belum pernah melihatNya, kita bergembira dengan sukacita yang tidak terkatakan, karena kita telah mencapai tujuan iman kita, yaitu keselamatan jiwa kita!

“Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” Yohanes 14: 3-4

Tidak mungkin untuk tetap netral

“Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.” Matius 12: 30

Kemarin malam saya mendapat kesempatan untuk menonton pertandingan ice hockey di Rogers Arena, Vancouver. Tim Predators dari Amerika berhadapan dengan tim Canucks dari Vancouver. Untuk pertama kalinya saya menonton ice hockey, karena di Australia olahraga ini tidak populer. Pertandingan cukup ramai dan menarik; tetapi karena kedua tim bukanlah tim saya, saya bisa bertepuk tangan untuk tim mana saja jika mereka berhasil memasukkan goal (atau kemasukan goal!). Itulah enaknya kalau kita bisa netral, menonton tanpa harus mendukung satu tim.

Dalam ayat di atas Yesus mengatakan bahwa hanya ada dua tim di dunia ini. Tim Yesus dan tim si Jahat. Tiap orang yang tidak mengikut tim Yesus adalah pengikut si Jahat, iblis. Manusia tidak dapat bersikap netral karena ia harus menjadi pendukung satu tim. Jika seseorang tidak mau mendukung Yesus untuk memasyhurkan namaNya dan melebarkan kerajaanNya, ia sebenarnya mengacaukan kegiatan Tuhan dan menjadi musuhNya.

Tidak semua orang sadar bahwa dalam hidup rohani mereka harus secara total mendukung satu tim saja. Satu diantara dua tim yang ada. Yesus datang untuk membawa kabar baik, kabar keselamatan untuk semua orang; dan mereka yang tidak mau mendukung tim Yesus dapat digolongkan sebagai anggota tim yang lain, yang ingin menyaingi Yesus dan mengacau rencanaNya.

Ditengah dunia dengan segala daya tariknya, banyak orang yang ingin hanya menjadi penonton saja, dan karena itu tidak mau terikat pada satu tim. Dengan kebebasan mereka, terkadang mereka mendukung tim Yesus, tetapi mereka juga sering mengagumi tim-tim lain. Apalagi tim Yesus seakan kurang menarik perhatian dan kurang giat untuk berusaha untuk menang. Sebaliknya, tim lain seringkali terlihat lebih giat bekerja untuk menang dan lebih menarik penampilannya; mereka sepertinya mempunyai dedikasi dan disiplin kerja yang lebih baik dari tim Yesus.

Pagi ini kita harus menyadari bahwa tim Yesus adalah tim yang sudah menang, karena Yesus sudah mengalahkan maut dengan kebangkitanNya. Ia sudah menang dan karena itu semua pengikutNya tidak perlu bekerja dan berbuat sesuatu untuk memperoleh kemenangan. Semua pengikut tim Yesus sudah bisa berlari sambil mengucap syukur menuju ke podium dengan keyakinan bahwa mereka akan menerima mahkota kemenangan yang sudah tersedia. Masihkah kita ragu untuk menjadi anggota Tim Yesus sepenuhnya?

“Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” 2 Timotius 4: 8

Benarkah Yesus pilihan anda?

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” Yohanes 15: 16

Hari Natal adalah hari libur terbesar di dunia sesudah tahun baru, tetapi hanya dirayakan oleh sekitar sepertiga penduduk dunia karena hari itu adalah hari besar umat Kristen. Memang di banyak negara di dunia, hari Natal tidak boleh atau dapat dirayakan secara resmi karena hampir semua penduduknya tidak beragama Kristen.

Ada berbagai sebab mengapa suatu negara bisa menjadi negara yang mayoritas penduduknya menganut kepercayaan tertentu. Faktor politik, militer, sosial, ekonomi dan budaya seringkali menyebabkan penduduk setempat memilih ajaran agama tertentu, biasanya setelah selang waktu yang cukup lama. Dengan memilih agama tertentu, mereka memilih untuk menyembah atau berbakti kepada Tuhan, dewa, tokoh atau oknum tertentu dengan cara-cara tertentu.

Ketaatan kepada ajaran tertentu menyebabkan manusia berusaha mempertahankan eksistensi kepercayaan mereka karena yakin bahwa pilihan mereka adalah yang paling cocok, paling baik atau paling benar diantara yang baik dan benar. Karena itu, tidak hanya sering terjadi pergesekan antar agama, sekte atau aliran, tetapi ada orang-orang yang berpindah agama karena mereka berusaha memilih apa yang terbaik menurut pikiran mereka. Walaupun begitu, ada juga orang-orang yang percaya bahwa apapun yang dipilih manusia itu tidak jadi soal, karena semua orang bisa memilih menurut kebijakan dari Tuhan dan semua pilihan adalah baik adanya.

Dari ayat diatas, ternyata bahwa sebenarnya manusia tidak dapat memilih untuk mengikut Yesus. Yesuslah yang memilih siapa saja yang akan dijadikanNya sebagai orang beriman. Oleh sebab itu, kita yang sudah mengikut Yesus tidak boleh menyombongkan diri karena itu bukan hasil pemikiran atau perbuatan kita.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. “Efesus 2: 8-9

Kita tidak bisa menganggap pilihan Tuhan adalah setara dengan pilihan-pilihan manusia yang ada di dunia. Sudah tentu pilihan Tuhan adalah pilihan khusus yang benar dan menurut kehendakNya. Karena itu, kita juga tidak perlu heran jika ada orang yang tidak dapat percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat mereka, tetapi dengan mudah percaya kepada ajaran lain atau tidak menganut kepercayaan apapun. Sebaliknya, kita harus yakin bahwa siapapun yang dipilihNya akan mendapat kesempatan untuk menyambut panggilan Yesus.

“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” Wahyu 3: 20

Pagi ini, jika kita merasakan bahwa kita mengenal siapa Yesus itu dan mengakui Dia sebagai Juruselamat kita, kita harus yakin bahwa itu adalah satu hal yang tidak mungkin salah karena Ialah yang sudah memungkinkannya. Biarlah kita selalu bersyukur untuk itu dan juga mau mendoakan mereka yang sudah dipanggilNya agar mereka tidak lagi mencari-cari jalan keselamatan dengan usaha sendiri.

“Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” Roma 10: 10

Apa arti Natal bagi kita?

“Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Lukas 2: 11-12

Bagi mereka yang merayakan hari Natal, hari-hari yang akan datang adalah saat penantian untuk merayakan kelahiran Yesus Kristus yang terjadi lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Umumnya orang merayakan hari Natal pada tanggal 25 Desember, walaupun hari itu hanya dipilih manusia untuk memperingati hari yang sebenarnya tidak diketahui kapan tepatnya.

Hari Natal adalah hari libur terbesar di dunia sesudah tahun baru, tetapi hanya dirayakan oleh sekitar sepertiga penduduk dunia karena hari itu adalah hari besar umat Kristen. Memang di banyak negara di dunia, hari Natal tidak boleh atau dapat dirayakan secara resmi karena adanya faktor perbedaan agama.

Di negara dimana Natal adalah hari libur nasional, tidak semua yang merayakannya adalah orang Kristen. Di negara barat seperti Australia, Canada dan Amerika, banyak orang yang merayakan Natal karena sekedar tradisi, sebuah kesempatan untuk berlibur dan bersukaria seperti perayaan tahun baru. Walaupun begitu, hari Natal bisa menjadi hari yang penuh kesedihan bagi mereka yang menderita, mengalami sakit, kekurangan, kelaparan, kesepian dan kedinginan.

Bagi umat Kristen pun, perayaan Natal juga mempunyai arti yang berbeda-beda, sekalipun mungkin kurang disadari. Mungkin karena kebiasaan, banyak orang yang merasa dirinya Kristen memerlukan diri untuk ke gereja. Mereka yang biasanya jarang ke gereja, pergi menghadiri kebaktian Natal. Banyak orang Kristen yang merasa bahwa merayakan hari Natal adalah hak mereka dan satu bagian dari identitas mereka.

Sekalipun banyak orang yang merayakan hari Natal, peristiwa kelahiran Yesus hanya mempunyai arti pada mereka yang sudah terpanggil menjadi anggota keluarga Allah. Hanya mereka yang sudah benar-benar menjawab panggilan Yesus Kristus untuk bertobat dan menempuh hidup baru akan menjadi anak-anak Allah seperti Yesus dan karena itu bisa mengerti arti kelahiran Yesus di dunia.

Ada banyak orang yang percaya Yesus adalah seorang tokoh yang penting, orang yang baik hati dan guru yang pengajarannya sangat berguna. Tetapi orang semacam itu seringkali juga percaya bahwa ada orang-orang lain yang juga baik pengajarannya dan besar amalnya. Bagi mereka, kenyataan bahwa Allah telah menurunkan AnakNya yang tunggal sebagai manusia biasa, dan bahkan lahir sebagai bayi di palungan, tidaklah bisa dimengerti walau bagaimanapun indah kisahnya. Untuk mereka, Yesus, Anak Allah yang Mahasuci itu agaknya sebanding dengan tokoh-tokoh agama lainnya. Karena itu, kepercayaan kepada Yesus mungkin tidak ada bedanya dengan kepercayaan kepada pemimpin agama yang lain, walaupun mereka memilih untuk merayakan hari Natal daripada merayakan hari besar agama lain.

Pagi ini kita harus sadar bahwa Tuhan yang turun ke dunia sebagai manusia hanya mempunyai arti sepenuhnya bagi orang yang percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat. Tidak ada nama lain di bumi yang bisa dibandingkan dengan nama Yesus, Anak Allah, dan karena itu kita harus beriman hanya kepada Yesus.

Mengapa peduli?

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Masa remaja adalah masa yang membawa kenangan bagi setiap orang. Kenangan yang manis ataupun yang pahit dari masa itu biasanya tidak mudah terlupakan sekalipun kita sudah berusia lanjut. Apalagi pengalaman yang lucu atau konyol, selalu membuat kita tersenyum atau meringis setiap kali itu muncul dalam pikiran kita.

Mungkin juga kita teringat bahwa masa remaja adalah masa dimana kita biasanya cenderung sensitif atas apa yang dikatakan orang lain mengenai tubuh, pakaian, makanan dan apa saja yang kita lakukan. Kalau ada sedikit komentar orang lain tentang hal-hal itu, kita mungkin kepikiran, tersinggung, marah atau tidak bisa tidur.

Sesudah menjadi dewasa, orang lebih bisa mengatasi rasa sensitif atas pendapat orang lain. Mungkin kita bisa berkata “emangnya gue peduli”, jika ada hal- hal yang kurang cocok untuk telinga kita. Malahan, bagi sebagian orang Kristen soal menebalkan kulit muka adalah bagian dari kehidupan dan pekerjaan mereka. Untuk bisa bertahan dan sukses dalam hidup orang harus tahan bantingan, begitulah nasihat yang sering diajarkan. Sekalipun masyarakat melihat kita berbuat hal-hal yang kurang baik, kita dianjurkan untuk tidak terlalu memikirkannya. Cuek saja!

Ayat diatas menegaskan bahwa masyarakat melihat apa yang kita lakukan dalam hidup ini. Terutama jika mereka tahu bahwa kita adalah orang yang mengaku Kristen, mereka mungkin membayangkan bahwa kita tentunya tidak sama dengan orang lain yang bukan Kristen. Dalam kenyataannya, banyak orang yang mungkin tidak tahu adanya orang-orang Kristen disekitar mereka karena tingkah laku, etika dan cara hidup orang-orang Kristen itu tidak berbeda, dan malahan lebih buruk, dari orang lain yang bukan Kristen.

Pagi ini ayat diatas mengingatkan kita bahwa kita harus peduli akan apa yang dipikirkan oleh masyarakat tentang tingkah laku, etika dan cara hidup kita. Kita harus merasa sensitif dan bukannya tidak peduli atas pandangan masyarakat, karena mereka dapat melihat apakah kita benar-benar menaati Tuhan dan mengasihi sesama kita. Biarlah masyarakat bisa melihat kepedulian kita dan menjadi pengikut Kristus seperti kita!

Adakah damai dalam hidup kita?

“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” Yesaya 9: 6

Tidak terasa bulan Desember sudah datang dan dengan itu di banyak negara suasana Natal sudah dapat dirasakan. Semua orang, Kristen dan bukan Kristen, dapat menikmati suasana itu karena semua hotel, pertokoan dan tempat wisata sudah dihias dengan pohon, hiasan dan lampu Natal.

Teringat saya akan masa kecil saya di Indonesia, mendengarkan lagu-lagu natal di radio; seolah hari Natal di luar negeri itu penuh kedamaian, apalagi dengan taburan salju di pohon-pohon dan diatas atap rumah-rumah.

Apa yang dibayangkan dan diharapkan manusia dengan datangnya hari Natal seringkali tidak sesuai dengan apa yang terjadi dalam kenyataannya. Setelah dewasa saya menjadi sadar bahwa adanya Natal belum tentu membawa kedamaian. Di berbagai tempat, perayaan Natal terjadi di tengah peperangan, kemiskinan dan kekacauan. Bahkan, sekalipun banyak yang merayakan Natal di keluarga, di gereja atau negara, kedamaian itu seringkali sukar dirasakan.

Apa guna merayakan Natal jika kedamaian itu tidak ada? Dapatkah kita membayangkan Yesus yang lahir sebagai bayi kecil lemah lembut di palungan?

Yesus sebenarnya datang ke dunia bukan dengan maksud untuk mendamaikan manusia dengan manusia. Ia tidak datang untuk memberi ketenteraman, kepuasan dalam kehidupan duniawi. Ia datang ke dunia untuk memisahkan mereka yang mau didamaikan dengan Allah Bapa, dari mereka yang ingin mendekati Allah dengan cara mereka sendiri.

“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.” Matius 10: 34-36

Yesus adalah Raja Damai karena Ialah yang membawa damai antara Allah dan umat manusia. Murka Allah terhadap manusia yang tidak mau bertobat dari dosa mereka, terhadap mereka yang merasa dapat membeli karcis ke surga, atau yang merasa hidup mereka sudah cukup baik, tidaklah dapat dipadamkan kecuali melalui penebusan Yesus Kristus.

Pagi ini biarlah kita sadar bahwa walaupun di dunia ini sering kita menjumpai berbagai hal yang tidak membawa kedamaian di antara umat manusia; dalam keluarga, pekerjaan, negara dan bahkan gereja, kita boleh yakin bahwa kita sudah didamaikan dengan Allah Yang Mahasuci. Dan karena kita sudah mendapatkan kebahagiaan yang tertinggi, kita juga seharusnya dapat membagikan kabar baik itu kepada sesama kita supaya mereka melalui hidup kita, juga dapat memperoleh dan merasakan kedamaian dengan Allah Tuhan kita.

“Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” Roma 10: 15b

Apa pun yang terjadi, jangan ikut menjadi dingin

“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Matius 24:12

Saat ini adalah musim dingin di Australia. Hampir 40 tahun yang lalu, pada akhir bulan Juni tahun 1983 saya mendarat di kota Melbourne sekitar jam 10 pagi ketika suhu 6 derajat Celcius. Bagi saya yang terbiasa dengan suhu di atas 30 derajat di Surabaya, dinginnya udara di saat itu terasa menusuk tulang. Lebih-lebih lagi, karena saya tidak punya kerabat di sana, saya harus antri taksi untuk menuju tempat penginapan yang jaraknya lebih dari 40 km dari lapangan udara.

Dinginnya udara di musim dingin mungkin seperti dinginnya hati manusia dalam ayat di atas. Dengan udara yang dingin, mereka yang yang berada dalam keadaan yang kurang baik akan merasakan beratnya hidup tanpa adanya kehangatan rumah dan makanan. Dengan dinginnya hati manusia, mereka yang mengalami penderitaan tidak dapat mengharapkan adanya perhatian dan pertolongan dari sesama. Bahkan dengan dinginnya hati mereka yang mengaku Kristen, apa yang mereka lakukan dalam hidup sehari-hari bukannya untuk memuliakan Tuhan dan mengasihi sesamanya, tapi untuk memuliakan diri sendiri dan untuk memperoleh kepentingan pribadi.

Ayat diatas menunjukkan bahwa banyak orang yang dulunya mempunyai kasih, kemudian berubah menjadi manusia yang tidak mempunyai kasih. Mereka yang dulunya pernah mendengar panggilan Tuhan dan mengerti perintah Tuhan untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, dan untuk mengasihi sesama manusia, kemudian berubah menjadi manusia yang tidak lagi taat kepada Tuhan. Mereka lebih taat kepada keinginan dan kebahagiaan duniawi yang berupa kemasyhuran, kekayaan, kekuasaan, kesuksesan dan semacamnya.

Di hari Minggu ini, banyak orang Kristen yang ke gereja dengan kerinduan untuk mendapatkan kehangatan kasih dalam persekutuan dengan saudara seiman dan mendengar kasih penghiburan Tuhan. Tetapi di banyak negara, gereja sudah berubah menjadi seperti tempat pertunjukkan yang dipenuhi ribuan orang yang kemudian pulang ke rumah masing-masing tanpa dapat merasakan adanya kasih dan perhatian dari orang lain. Yang lebih aneh lagi adalah adanya orang-orang yang hanya karena ke gereja, percaya bahwa mereka sudah memenuhi perintah untuk mengasihi Tuhan dan sesama.

Tuhan melalui rasul Paulus mengingatkan bahwa di zaman ini ada berbagai tanda hilangnya kasih dan bertambahnya hal-hal yang jahat di antara umat Kristen (2 Timotius 3: 1-9). Karena itu, hari ini kita diingatkan bahwa Tuhan tidak menghendaki kita hanya ke gereja sebagai kebiasaan atau keharusan. Ia ingin kita datang kepadaNya dengan kehangatan kasih, dan bukannya kepalsuan.

Tuhan tidak mengharapkan uang persembahan manusia tetapi Ia menghargai hati umat-Nya yang dipenuhi kasih. Tuhan tidak menjanjikan hidup yang penuh kenyamanan kepada umat-Nya, dan karena itu Ia membenci orang-orang yang seakan berbakti kepada-Nya, tetapi hanya mengharapkan Tuhan memberikan apa yang diinginkan mereka.

Tuhan menyenangi umat-Nya yang mengabarkan kabar baik tentang kasih Tuhan yang menyelamatkan, dan bukannya kisah-kisah duniawi. Tuhan menghendaki umat-Nya untuk benar-benar bisa taat kepada-Nya, dan bukannya hanya hidup dalam kepalsuan.

Memang dengan banyaknya orang Kristen yang mundur dari iman, kita mudah terpengaruh. Tetapi pagi ini kita dingatkan bahwa apapun keadaan yang ada di sekeliling kita, biarlah hati kita tidak ikut menjadi dingin.