Satu Firman, banyak pengertian

“Ingatkanlah dan pesankanlah semuanya itu dengan sungguh-sungguh kepada mereka di hadapan Allah, agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak berguna, malah mengacaukan orang yang mendengarnya. Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.” 2 Timotius 2: 14-15

Pernahkah anda mempertanyakan mengapa untuk Alkitab yang sama ada begitu banyak buku tafsiran yang berbeda? Itulah karena manusia adalah mahluk yang istimewa! Dalam segi yang baik maupun yang buruk, manusia adalah mahluk yang unik. Manusia diciptakan sebagai peta dan teladan Allah dan karena itu mempunyai kemampuan yang berbeda dari mahluk-mahluk yang lain. Manusia memiliki pikiran, perasaan dan perhatian yang jauh lebih tinggi dari mahluk yang lain. Jika mahluk lain bergantung pada naluri, manusia menggunakan akal budinya untuk menilai keadaan dan orang disekitarnya. Tiap manusia bisa mempunyai pengertian dan perasaan yang berlainan terhadap hal yang sama.

Walaupun manusia mempunyai kemampuan intelegensi yang tinggi, ia tidak dapat menyamai Sang Pencipta. Bagaimana pun kita berusaha menyelami jalan pikiran Tuhan, tidaklah mungkin kita mengenalnya jika Tuhan sendiri tidak menyatakan diriNya dalam bentuk manusia Yesus Kristus. Untunglah setelah Yesus naik ke surga, Roh Kudus diberikan kepada setiap orang yang percaya kepada Kristus agar mereka dapat belajar mengerti apa yang dikehendaki Tuhan.

Cara bekerja Roh Kudus dalam hidup anak-anak Tuhan tidaklah mematikan pola berpikir dan kehidupan mereka secara total dan drastis. Roh bekerja sesuai dengan keadaan manusia yang dihuniNya. Perubahan hidup manusia karena Roh Kudus terkadang cepat, tetapi bisa juga lambat tergantung pada sikap manusia (Efesus 4: 30). Memang tingkat kedewasaan dalam iman tiap orang tidaklah sama.

Roh Kudus tidak menghilangkan pribadi manusia, tetapi memperbaikinya. Karena itu jugalah, tiap anak Tuhan, baik yang baru maupun yang sudah lama, mempunyai sikap, pengertian dan hubungan yang berbeda terhadap Tuhan yang sama. Sekalipun berbeda dalam cara dan bentuk hubungan mereka akan Tuhan, setiap orang percaya adalah anak-anakNya. Kepada masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus (Efesus 4: 3-7).

Pada waktunya, semua orang percaya akan bisa mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Yesus dan memperoleh kedewasaan penuh yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Efesus 4: 13-15). Tetapi perbedaan yang sekarang ada, bisa membuat komunikasi antar umat Tuhan terkadang sulit. Salah pengertian dan perbedaan sering terjadi dan bisa menimbulkan pertikaian.

Pagi ini kita diingatkan oleh Tuhan bahwa dalam menyatakan keyakinan iman kita, kita harus tegas dan memegang kebenaran Firman tetapi bisa menghindari perdebatan yang tidak membangun, karena selain tidak berguna, hal sedemikian malah bisa menimbulkan kebingungan dan kekacauan diantara mereka yang ingin mengenal Yesus Tuhan kita. Biarlah kita makin hari makin sempurna didalam anugerah Tuhan!

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Ada kemungkinan bahwa kita belum yakin

“Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.” Roma 3: 28

Pagi ini ketika pesawat Air Canada yang saya tumpangi dari Brisbane mendarat di airport Vancouver, Canada, cuaca mendung dan suhu sekitar 3 derajat Celcius. Namun, lapangan terbang internasional yang cukup besar itu terlihat sibuk, penuh dengan para pelancong yang hilir mudik menuju ke tempat tujuan masing-masing. Memang kota Vancouver adalah kota kosmopolitan yang diminati pelancong mancanegara. Kota terbesar nomer tiga di Canada dengan penduduk sekitar 2 juta ini sebanding dengan kota Brisbane yang juga di peringkat tiga Australia.

Melihat begitu banyak pelancong yang berada di satu tempat untuk sesaat, tetapi kemudian berpisah untuk pergi ke tempat-tempat yang berlainan, muncullah beberapa pertanyaan dalam pikiran saya: dari mana mereka datang, kemanakah mereka pergi dan mungkinkah mereka bertemu lagi di masa mendatang? Untuk sesaat ada rasa sedih yang muncul dalam hati saya …manusia yang jumlahnya begitu banyak hanyalah seperti awan berlalu saja…

Teringat saya bahwa Tuhan menciptakan berbagai bangsa dengan berbagai adat dan bahasa, tetapi menempatkan mereka semuanya dalam satu dunia. Tetapi tiap orang mempunyai tujuan dan cara hidup yang berbeda di dunia ini, dan karena itu tidak semua orang mau memikirkan kemana mereka akan pergi setelah menyelesaikan hidup mereka di dunia.

Memang kebanyakan manusia setidaknya bisa merasakan tentang suatu kuasa yang dibalik alam semesta, dan tentang adanya kemungkinan kehidupan yang lain sesudah berakhirnya hidup mereka di dunia. Karena itu, umat manusia dari zaman dulu selalu berusaha mencari tuhannya dengan berbagai cara. Sekalipun mereka tidak pasti akan masa depan mereka, mereka berharap akan adanya kemungkinan untuk mendapat kekekalan hidup, kemungkinan untuk menuju ke tempat yang sama, dan kemungkinan untuk bertemu lagi dengan orang-orang yang pernah dijumpai sebelumnya. Karena itu, sampai sekarang banyak aliran agama dan filsafat yang mengajarkan bahwa keselamatan bisa dicapai, dan dosa bisa ditebus, dengan hidup baik dan menuruti perintah Tuhan.

Berbeda dengan pikiran manusiawi tentang adanya kemungkinan bahwa kita bisa dibenarkan karena perbuatan baik dan ketaatan kita kepada hukum Tuhan, Alkitab menulis bahwa ada kepastian bahwa kita akan dibenarkan karena darah Yesus yang sudah dikucurkan sebagai tebusan dosa kita. Tidak ada perbuatan manusia yang bisa memenuhi syarat kebenaran dan kesucian Tuhan. Hanya dalam darah Yesus ada kepastian bahwa manusia yang berdosa bisa dibenarkan oleh Tuhan.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23-24

Pagi ini, jika kita melihat begitu banyak manusia yang pergi ke tujuan yang berbeda-beda, biarlah kita sadar bahwa memang ada banyak orang yang sudah mengikuti jalan yang keliru untuk memperoleh keselamatan yang kekal. Mungkin juga kita sendiri yang masih berpikir bahwa pengurbanan Yesus masih belum cukup, dan karena itu kita masih ingin membebani hidup kita dengan melakukan segala ritual agama. Tetapi ayat diatas jelas menunjukkan bahwa jika kita masih merasa bahwa perbuatan baik manusia adalah perlu untuk memungkinkan mereka ke surga, ada kemungkinan bahwa kita belum benar-benar yakin akan karunia Allah yang sudah menyelamatkan.

“Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 6: 23

Hak dan kewajiban warga negara

“Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat” Filipi 3: 20

Mengenai hal kewarganegaraan saya teringat akan mata pelajaran “Civic” di SMA yang termasuk salah satu mata pelajaran yang saya sukai. Kewarganegaraan dalam Bahasa Latin disebut “Civis”, yang kemudian dalam bahasa Inggris disebut “Civic”, artinya mengenai warganegara atau kewarganegaraan. Dalam mata pelajaran itu, yang paling menarik adalah soal hak dan kewajiban warga negara.

Pengertian hak adalah kuasa untuk menerima atau melakukan sesuatu, dimana orang lain tidak boleh merampasnya entah secara paksa atau tidak.Dalam hal kewarganegaraan, hak ini berarti warga negara berhak mendapatkan penghidupan yang layak, jaminan keamanan, perlindungan hukum dan lain sebagainya.

Pengertian kewajiban adalah suatu hal yang wajib kita lakukan demi mendapatkan hak atau wewenang kita. Bisa juga kewajiban merupakan hal yang harus kita lakukan karena sudah mendapatkan hak. Sebagai warga negara kita wajib melaksanakan peran sebagai warga negara sesuai kemampuan masing-masing supaya mendapatkan hak kita sebagai warga negara yang baik.

Ayat Filipi 3: 20 diatas menunjuk pada kenyataan bahwa sebagai orang Kristen kita semua terbilang sebagai warga negara surgawi dan Tuhan adalah pemimpin negara. Sebagai warga negara kita menyadari bahwa kita mempunyai hak dan kewajiban. Karena pengurbanan Yesus di kayu salib, setiap orang yang percaya sudah mendapat hak untuk menerima kemuliaan di surga bersama dengan Yesus.

“Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Roma 8: 17

Selain itu, sebagai anak-anak Allah kita juga berhak memanggil Dia sebagai Bapa (Galatia 4: 6) dan menyampaikan permohonan kita untuk apa yang kita butuhkan dalam hidup di dunia, apabila itu sesuai dengan kehendakNya.

Adalah kecenderungan semua orang untuk menuntut hak mereka, lebih dari kemauan untuk menjalankan kewajiban yang ada. Itulah hakikat manusia duniawi yang lebih mementingkan kepentingan sendiri. Tetapi, bagi siapa yang sudah menerima hidup baru, sifat yang samasekali berbeda dengan sifat Yesus ini bisa berubah dengan bimbingan Roh Kudus untuk menjadi sifat yang baik, yang mau menyadari dan melaksanakan kewajiban sebagai warga negara surgawi; itu terjadi karena Yesus sudah lebih dulu mengasihi kita.

Pagi ini kita diingatkan bahwa kewajiban utama kita sebagai anak-anak Tuhan adalah untuk mengasihi Tuhan, Allah kita dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi kta. Lebih dari itu kita juga harus bisa mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri (Matius 22: 37-40). Sebagai warga negara surgawi yang baik, kita juga harus bisa membawa kabar baik untuk mereka yang masih mempunyai kewarganegaraan yang lain, supaya mereka memilih jalan yang benar untuk bisa mendapat hak surgawi yang sama seperti kita.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 19-20

Hidup tidak berarti gampang

“Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.” Ibrani 12: 8

Life is not meant to be easy. Hidup tidak dimaksudkan untuk gampang. Begitulah bunyinya sebuah peribahasa Inggris yang sering didengar. Terutama dipakai jika ada keluhan mengapa ada saja kesulitan yang muncul, peribahasa ini bermaksud memberi nasihat bahwa kita tidak perlu merasa susah atau tertekan kalau kita menemui halangan, karena tiap orang memiliki masalah tersendiri,

Ayat diatas agaknya mempunyai makna yang sama, tetapi mungkin jarang kita dengar dalam khotbah. Memang di zaman ini orang lebih senang mendengarkan firman yang berisi kabar gembira, yang bernada positif dan yang selalu membahas kemurahan Tuhan.

Ayat diatas tidak ditujukan kepada semua orang, tetapi hanya untuk mereka yang beriman, orang-orang Kristen. Untuk orang yang sudah menjadi anak-anak Tuhan, bukan mereka yang belum mengikut Yesus. Jika mereka yang tidak percaya kepada Kristus seolah mempunyai “kebebasan” untuk melakukan apa yang mereka maui, dan dengan itu mereka menjadi sesat karena kemauan sendiri; orang Kristen seringkali harus mengalami halangan dan kesulitan hidup, terutama karena mereka harus hidup sesuai dengan perintah Tuhan di surga.

Sebagai anak Tuhan kita mungkin berharap agar hidup kita jadi enak, makmur dan tanpa penderitaan. Tetapi kepada semua umatNya, Tuhan justru memberikan berbagai tantangan hidup yang menumbuhkan kesabaran dan kekuatan iman. Memang Tuhan bermaksud mendidik orang yang dikasihi-Nya, dan Ia selalu mendisiplin orang yang diakui-Nya sebagai anak. Sebagai orang Kristen kita malahan harus heran jika iman kita tidak pernah atau jarang diuji dalam hidup ini.

Tuhan berfirman bahwa jika kita ingin agar kita dibebaskan dari kesulitan hidup, kita mengharapkan perlakuan istimewa dari Tuhan; dan itu tidak mungkin. Karena itu, sebagai anak Tuhan kita tidak seharusnya meminta agar kita bebas dari kesulitan dan penderitaan hidup, tetapi memohon agar Ia memberikan kita kekuatan untuk menghadapi hal-hal itu. Pagi ini kita diingatkan jika kita berdoa, janganlah untuk Tuhan memberikan tantangan hidup yang sesuai dengan iman kita, tetapi untuk iman yang sebesar tantangan hidup kita!

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” Roma 5: 3-4

Jangan kecewa ya?

“Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” Matius 11: 5

Baru saja di negara bagian Queensland, Australia, diadakan pemilihan umum untuk memilih para pemimpin daerah. Pemilihan umum di Australia seringkali sulit diterka hasilnya karena pendapat masyarakat bisa berubah dengan cepat pada saat-saat menjelang hari pemilu. Mereka yang kecewa dengan calon-calon atau partai tertentu seringkali berubah pikiran dan memilih calon alternatif, sekalipun mereka kurang mengenalnya. Karena itu hasil yang mengejutkan bisa dan sering terjadi.

Dalam kitab Matius 11 diatas dikatakan bahwa murid-murid Yohanes datang kepada Yesus dan bertanya apakah Yesus adalah Mesias yang sudah dinanti-nantikan. Mungkin mereka merasa tidak yakin bahwa Yesus yang sederhana itu adalah Juruselamat manusia. Mereka mungkin merasa kecewa bahwa Yesus tidaklah seperti yang dibayangkan. Mungkin juga mereka mulai memikirkan jalan alternatif lain untuk mencapai keselamatan.

Dalam kehidupan rohani, kita pun bisa dan mungkin pernah mengalami kekecewaan. Kekecewaan mungkin timbul karena adanya pemimpin-pemimpin gereja yang kurang baik kelakuan atau sifatnya, mungkin juga karena orang-orang yang mengaku beriman tetapi kacau hidupnya, atau karena melihat adanya alternatif yang lebih baik di luar lingkungan yang sekarang. Bahkan ada pula orang yang karena adanya berbagai masalah, merasa kecewa dengan Tuhan yang mereka kenal selama ini, sehingga mereka memutuskan untuk mencari alternatif, Tuhan yang lain.

Bagi orang Kristen, memang pengaruh iblis itu ada dimana-mana. Iblis dari awalnya sangat pandai berkampanye untuk bisa memenangkan “pemilihan umum” di dunia. Dengan berbagai cara yang halus maupun yang kasar, dari bujukan yang sederhana sampai ke teologi yang tangguh, iblis berusaha memenangkan pilihan hidup manusia.

Iblis juga pandai menggunakan berbagai “hadiah” untuk memikat calon pengikutnya, seperti kekayaan, kepandaian, dan kesuksesan. Lebih dari itu, iblis juga bisa membuat kekacauan dan penderitaan dalam hidup manusia seperti yang dialami oleh Ayub, dengan harapan agar manusia kecewa kepada Tuhan dan meninggalkan imannya.

Di zaman ini, pengaruh iblis yang paling besar terhadap hidup umat Kristen adalah dalam menciptakan suasana hidup yang membuat mereka lengah karena merasa Tuhan yang sudah memilih mereka dan karena itu mereka dapat hidup berleha-leha. Tuhan menjadi sebuah konsep abstrak yang indah yang tidak perlu dimengerti. Karena itu jugalah orang Kristen sering menerima konsep-konsep sosial, tradisi dan budaya serta alternatif lain yang lebih praktis sekalipun bertentangan dengan firman Tuhan.

Pagi ini kita harus menyadari bahwa dalam hidup kita di dunia, kita selalu menghadapi pilihan antara iblis dan Tuhan. Antara janji-janji iblis dan janji-janji Tuhan, antara hidup “merdeka semau kita” atau “mati bersama Kristus”. Semoga kita tetap bisa bertahan dengan iman dalam Yesus, sehingga seperti Yesus sudah bangkit, kita pun akan bangkit dan hidup bersamaNya.

“Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” Matius 24: 13

Antara iman dan perbuatan

“Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Yakobus 2: 17

Bagaimana manusia bisa mendapatkan keselamatan sesudah hidupnya berakhir di dunia adalah hal utama yang di bahas dalam semua aliran kepercayaan. Kalau ada orang yang hanya membahas bagaimana manusia bisa hidup berbahagia di dunia, orang itu bukan membahas kepercayaan tetapi falsafah hidup. Hidup di dunia memang dapat dilihat dan dirasakan, dan untuk itu kita tidak membutuhkan kepercayaan, tetapi perlu melakukan tindakan atau perbuatan.

Seorang mungkin percaya bahwa pada suatu saat manusia akan bisa pergi ke planet Mars, tetapi kepercayaan semacam itu bukanlah iman, melainkan keyakinan berdasarkan pengetahuan manusia. Tambahan pula, keyakinan itu tidak perlu mengubah cara hidup manusia saat ini, karena hal pergi atau tidak pergi ke Mars adalah pilihan manusia. Karena itu, hal semacam itu tidak perlu membawa konsekwensi langsung pada cara hidup manusia di dunia.

Bagaimana pula dengan kemungkinan bahwa sesudah hidup di dunia ini berakhir, roh kita akan hidup di tempat lain? Ilmu pengetahuan tidak bisa membuktikan hal ini akan terjadi, dan karena itu kita membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekedar keyakinan berdasarkan pengetahuan manusia. Untuk mempercayai sesuatu yang tidak bisa dilihat dan diduga manusia, kita memerlukan iman; dan ini pasti tidak dapat bersumber dari manusia. Iman harus datang dari sumber yang bisa dipercayai.

Yesus adalah satu-satunya manusia yang sudah datang dari surga dan membawa berita tentang adanya kehidupan sesudah hidup kita di dunia ini berakhir. Yesus jugalah yang sudah kembali ke surga setelah tugasNya di dunia berakhir. Yesus jugalah yang pernah berkata bahwa hanya mereka yang percaya kepadaNya akan ke surga, sedangkan mereka yang menolakNya akan pergi ke neraka. Manusia yang diberi kemampuan untuk menyadari bahwa Yesus adalah Tuhan, pasti yakin bahwa hal ini adalah sesuatu yang penting, dan bahkan lebih penting daripada hal-hal yang lain di dunia. Hidup di dunia ternyata hanya sebagian kecil dari keseluruhan hidup yang ada.

Keyakinan akan adanya sesuatu yang akan datang, yang jauh lebih lama dan lebih signifikan daripada apa yang dialami di dunia, tidak mungkin untuk tidak mempengaruhi hidup kita yang sekarang. Hanya ada dua kemungkinan di masa depan: hidup bahagia atau hidup sengsara dan keduanya akan abadi. Karena itu, jika kita benar-benar beriman, tidaklah mungkin bagi kita untuk tidak merasakan adanya dorongan hati untuk mempersiapkan diri kita sebaik-baiknya untuk masa depan dengan menyempurnakan iman kita. Memang kita diselamatkan hanya karena iman, tetapi iman yang benar akan nampak dalam hidup kita di dunia sebagai hidup yang taat kepada perintah Tuhan.

Pagi ini kita dingatkan bahwa iman harus disertai dengan perbuatan yang seirama. Karena kita percaya bahwa kita kan hidup bersama Tuhan di surga, kita harus bisa memakai hidup kita yang sekarang ini untuk kemuliaan Tuhan.

Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” Yakobus 2: 22

Yesus pembawa perpecahan

“Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.” Lukas 12: 51

Penyanyi John Lennon yang dulunya adalah anggota band terkenal The Beatles pernah menyanyikan lagu Imagine yang menduduki peringkat nomer satu di banyak negara untuk waktu yang cukup lama. Sungguh menarik bahwa lagu tersebut sebenarnya merupakan kedambaan seseorang akan perdamaian di bumi. Dibayangkannya bumi akan terisi kedamaian jika tidak ada negara dan bahkan agama, karena adanya negara dan agama membuat orang membenci dan menentang orang lain.

Imagine there’s no countries

It isn’t hard to do

Nothing to kill or die for

And no religion too

Imagine all the people living life in peace….

Nyanyian tersebut adalah khayalan semata, karena negara dan agama sudah ada dari dulu, dan merupakan bagian kehidupan manusia yang beraneka ragam asal dan budayanya. Walaupun demikian, banyak orang yang sampai saat ini pun tetap percaya bahwa agama adalah sebuah faktor yang membuat dunia ini seringkali tidak damai. Pendapat itu tidaklah salah. Memang seringkali pengikut agama apapun melakukan hal-hal tertentu yang menyebabkan pertikaian, kekejaman dan bahkan peperangan demi keyakinan pribadi mereka.

Sebagai umat Kristen, kita percaya bahwa keragaman manusia adalah apa yang dikehendaki Tuhan seperti apa yang dilakukanNya ketika manusia berusaha untuk mendirikan menara Babel untuk mempersatukan manusia dan menyombongkan kesatuannya. Tuhan saat itu mencerai-beraikan manusia dengan membuat mereka berbicara dengan bahasa-bahasa yang berbeda (Kejadian 11: 6-8).

Dalam ayat pembukaan diatas, kita dapat membaca bahwa Yesus datang kedunia, bukan untuk membawa damai di atas bumi, tetapi pertentangan. Hal ini agaknya mengejutkan mereka yang mengira bahwa Yesus adalah Raja Damai yang mempersatukan manusia. Mereka tidak menyadari bahwa kedamaian yang dibawaNya adalah kedamaian Allah dan manusia.

Yesus adalah penebus dosa manusia, dan barang siapa yang percaya kepadaNya akan memperoleh hidup kekal (Yohanes 3: 16). Lebih dari itu, Yesus juga mengajarkan bahwa semua orang yang percaya kepadaNya harus bisa mengasihi Tuhan dan sesama manusia, termasuk mereka yang berbeda agama dan yang hidup dalam dosa. Pengajaran Yesus berbeda dengan pengajaran lain yang menekankan perbuatan baik manusia untuk bisa diselamatkan dan rasa cinta terbatas untuk mereka yang mempunyai kepercayaan yang sama saja.

Walaupun demikian, Yesus mengajarkan bahwa hanya ada satu jalan untuk mencapai keselamatan (Yohanes 14: 6). Manusia harus memilih antara Dia dan orang lain, antara ketaatan kepada Dia atau kepada dewa/orang/hal lain. Manusia tidak dapat menjadi pengikutNya dan juga mengagumi pemimpin lain. Karena itulah ada tembok pemisah antara pengikut Yesus dan orang lain.

Pagi ini kita diingatkan bahwa kita tidak dapat menerima jalan keselamatan menurut orang lain dan hidup yang tidak sesuai dengan firman Tuhan. Sekalipun kita harus mengasihi semua orang, kita tidak dapat menerima pandangan hidup yang tidak dibenarkan oleh Yesus. Sekalipun makin banyak orang yang menyenangi hidup yang mentolerir pandangan apa saja, kita tidak dapat menerima hal-hal itu, apalagi ikut-ikutan melakukannya. Ini tidak mudah dan karena itu kita harus mohon kekuatan dariNya.

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7: 13-14

Kepada siapa kita beriman?

“Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.” 2 Tim 1: 12

Sebuah kisah yang mungkin sering diceritakan adalah tentang seorang pemain akrobat yang menyeberangi jeram Niagara diatas sebuah kabel. Banyak penonton yang menyaksikan orang itu dengan perlahan-lahan meniti kabel baja yang terbentang diatas jeram itu merasa berdebar-debar karena jika ia jatuh, niscaya ia akan tewas.

Ketika pemain akrobat itu berhasil meniti kabel dan sampai ke seberang, semua penonton bersorak dan bertepuk tangan. Memang dia hebat, begitulah semua orang berpikir. Tetapi, ketika pemain akrobat itu bertanya apakah ada yang berani menyeberangi jeram itu bersama dia, tidak ada seorangpun yang berani atau mau. “Saya jamin akan menggendong anda dengan selamat ke seberang”, begitulah ia berusaha meyakinkan mereka. Tetapi, tidak ada seorangpun yang mempercayai pemain akrobat ini. Mereka tahu bahwa ia adalah pemain akrobat jempolan, tetapi pengetahuan itu tidak cukup untuk membuat mereka mempercayakan hidup mereka kepadanya.

Seperti mereka yang menonton pertunjukan akrobat spektakuler itulah manusia yang diberi kesempatan oleh Tuhan untuk melihat kebesaran Tuhan dalam hidup ini. Lebih dari itu, di zaman modern ini manusia mempunyai kesempatan untuk mendengar kabar baik tentang Yesus yang turun ke dunia melalui berbagai media.

“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” Mazmur 19: 1

Manusia mungkin bisa melihat atau merasa bahwa ada kuasa besar yang mengatur seisi semesta alam. Manusia mungkin sudah mendengar nama Yesus Juruselamat.Tetapi, seperti para penonton pemain akrobat itu, manusia sering tidak mau mempercayakan hidup mereka kedalam tangan Tuhan.

Hari ini kita diingatkan bahwa jika kita tahu bahwa Tuhan itu ada, pengetahuan itu tidak akan membawa keuntungan apapun untuk hidup kita jika kita tidak mempunyai iman kepadaNya. Kita harus menyadari bahwa jika kita sudah diperkenalkan kepada adanya Allah yang mengirimkan Anak tunggalNya untuk menebus dosa umat manusia, itu adalah sesuatu yang dimungkinkan oleh karunia Tuhan semata. Tetapi, Tuhan melalui Roh Kudus juga mau mengubah hidup kita agar kita mempunyai iman yang teguh kepadaNya.

Saat ini, jika kita melihat bahwa tantangan hidup kita adalah sesuatu yang tidak dapat kita hadapi seorang diri, biarlah kita ingat bahwa kita sudah menyaksikan bahwa Yesus sudah datang ke dunia dan mengalahkan maut. Itu adalah kenyataan yang bisa kita percayai. Walaupun demikian, pertanyaannya apakah kita mau beriman kepadaNya. Beriman berarti bukan saja tahu kepada siapa kita percaya, tetapi yakin bahwa Dia berkuasa memelihara apa yang telah dipercayakan-Nya kepada kita sampai akhir hidup kita.

Apa rancangan Tuhan untuk hidupku?

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Yeremia 29: 11

Di zaman ini hampir setiap orang yang mampu membeli handphone cerdas akan memiliki berbagai aplikasi seperti WhatsApp, Facebook, Twitter dan lain-lain. Dengan aplikasi itu mereka akan dapat berkomunikasi dengan teman-teman dan bahkan dengan siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Bukannya hanya untuk saling menyapa, mereka bahkan bisa memperoleh kabar berita, baik yang asli maupun yang palsu. Mereka yang awas akan bisa membedakan berita mana yang benar dari apa yang tidak benar, tetapi mereka yang kurang awas atau kurang peduli akan menerima semua berita sebagai berita aktuil.

Suatu hal yang bisa membuat diri kita prihatin adalah kenyataan bahwa sebagian besar berita yang kita terima dari aplikasi handphone adalah berita kosong tak berarti, lelucon yang membuat orang geli atau berita besar yang mengerikan. Yang terakhir ini biasanya datang sebagai “copas” dari teman yang sumber aslinya sudah tidak dapat dipastikan. Berita buruk yang muncul mungkin dimaksudkan agar kita berhati-hati, tetapi sering juga membuat kita kuatir atau takut.

Manusia memang sering kuatir tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Mereka yang tidak mengenal Tuhan, mungkin menggunakan segala kesempatan yang ada untuk menikmati hidup selagi masih bisa. Tetapi ada juga yang selalu hidup dalam kekuatiran karena keadaan dunia yang nampaknya semakin buruk. Bagi kita yang mengenal Yesus, mungkin kita ingat bahwa kekuatiran itu tidak berguna.

Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” Matius 6: 27

Walaupun demikian, mungkin sering juga kita bertanya-tanya apa yang akan terjadi dalam hidup kita dan orang-orang beriman lainnya di masa mendatang, jika keadaan dunia semakin buruk. Ayat dari kitab Yeremia diatas adalah ayat terkenal, yang aslinya untuk umat Israel yang dalam pengasingan, tetapi ayat yang juga sering dipakai untuk menguatkan mereka yang menderita di zaman ini, karena seperti bani Israel, kita pun orang pilihan Tuhan. Bahwa Tuhan mempunyai rancangan damai sejahtera untuk umatNya dan bukannya rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepada kita hari depan yang penuh harapan.

Tuhan tidak berniat memberi umatNya kecelakaan. Tuhan yang sudah merencanakan penyelamatan manusia sejak jatuhnya Adam dan Hawa kedalam dosa, tidak mungkin mempunyai rencana buruk untuk mencelakakan mereka. Inilah yang harus kita pegang sebagai iman, bahwa dalam keadaan apapun kasih Tuhan tidak berubah. KasihNya sama, dari dulu, sekarang dan untuk selama-lamanya. Tuhan tidak akan membiarkan kita hancur, karena rencanaNya dari awal adalah membawa setiap umatNya mencapai hidup kekal bersamaNya.

Memang benar bahwa apa yang terjadi di dunia tidak selalu membuat kita merasa dikuatkan. Sebaliknya, banyak hal yang bisa membuat kita takut atau kuatir. Dosa adalah faktor perusak kehidupan nanusia. Tetapi, sebagai orang percaya kita harus yakin bahwa itu pun ada dalam kuasa Tuhan. God is always in control.

Satu hal yang harus kita mengerti ialah bahwa Tuhan menghendaki umatNya untuk bisa kuat, yakin dan bahkan berbahagia dalam keadaan apapun (Matius 5: 3 – 12). Tetapi iblislah yang ingin membuat kita menderita dan takut sekalipun tidak ada yang perlu kita kuatirkan. Karena itu, tidaklah mengherankan jika ada banyak berita di media, dan bahkan di gereja, yang bisa menyesatkan dan melemahkan iman kita. Setiap kabar yang membuat kita meragukan rancangan damai sejahtera Tuhan harus mengingatkan kita akan usaha iblis untuk mencerai-beraikan umat Tuhan.

Pagi ini, marilah kita berdoa untuk menyerahkan segala kekuatiran dan ketakutan kita kepada Tuhan. Dialah yang mempunyai rancangan yang terbaik untuk setiap orang yang percaya!

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. Sadarlah dan berjaga-jagalah!, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. 1 Petrus 5: 7-9

Alon-alon gak bakal kelakon

“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Efesus 5: 15-17

Ungkapan “alon-alon asal kelakon” mempunyai arti filosofi yang mendalam di Jawa. Bagi orang Jawa, ungkapan itu sebenarnya bukan berarti “pelan-pelan asal terlaksana”, tetapi maksudnya adalah dalam mengerjakan sesuatu kita tidak perlu gegabah, tetapi penuh dengan kehati-hatian dan pertimbangan guna mencapai tujuan. Masalahnya disini adalah adanya orang-orang yang menggunakan ungkapan ini sebagai alasan untuk bekerja enak-enakan tanpa memikirkan waktu. Karena gaya hidup yang sedemikian, banyak tugas yang tidak dapat dirampungkan pada waktunya. Alon-alon gak bakal kelakon.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang Kristen yang juga menganut paham alon-alon asal kelakon dalam pengertian yang keliru. Bagi mereka, menjadi pengikut Yesus adalah saat dimana mereka dibaptiskan atau mengaku percaya. Setelah itu mereka tidak mempunyai kemauan untuk bertumbuh dalam pengenalan dan pengertian akan kehendak Allah dalam hidup mereka. Orang-orang semacam ini mungkin merasa bahwa asal mengaku percaya kepada Yesus cukuplah, perubahan hidup bisa dipikirkan belakangan, jika ada waktu.

Memang hambatan perkembangan rohani umat Kristen yang sering ditemui adalah soal waktu. Karena kesibukan sehari-hari, orang “tidak sempat” untuk berdoa, membaca Firman, atau mencari kehendak Tuhan dalam apa yang dikerjakan mereka. Akibatnya, tahun demi tahun berlalu, tetapi hidup mereka tidak pernah berubah dari hidup yang lama. Sekali pun setiap manusia dikaruniai waktu yang sama yaitu 24 jam sehari, alasan mereka seringkali “tidak ada waktu”; yang bisa diartikan “tidak ada prioritas”.

Pagi ini, ayat diatas mengingatkan kita untuk hidup sebagai orang yang bijaksana, yang bisa menggunakan waktu yang ada dengan baik, agar kita bisa mengerti kehendak Tuhan. Bukan menggunakan falsafah “alon-alon asal kelakon” untuk membenarkan rasa acuh tak acuh kita akan firmanNya. Dunia dengan segala daya penariknya saat ini mungkin sudah menghabiskan waktu kita, sehingga hanya sedikit waktu tersisa, itu pun kalau ada, yang bisa dipakai guna lebih mengenali Yesus Juruselamat kita, dan untuk bertumbuh dalam hal-hal yang baik.

Tidak ada seorangpun yang tahu berapa lama ia akan mempunyai kesempatan untuk berubah dari hidup lama dan kebiasaan lamanya. Karena itu, kita harus sadar bahwa jika kita berlambat-lambat, kita akan kehilangan kesempatan yang terbaik untuk mengenal Tuhan dengan benar. Alon-alon gak bakal kelakon!

“Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.” 2 Petrus 3: 18