Dosa kecil dan dosa besar

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23 – 24

Kalau saya teringat akan masa lalu saya, sering saya merasa malu dan menyesal atas berbagai perbuatan dan kelakuan saya yang tidak terpuji. Entah itu berupa iri hati, bohong kecil, mengambil barang tanpa ijin, ataupun merusakkan barang orang lain tanpa mengganti rugi, semuanya pernah saya lakukan, terutama semasa kanak-kanak dan remaja.

Memang setelah saya melakukan hal-hal yang kurang baik, sering ada rasa menyesal yang timbul di hati. Pikiran pun melayang, membayangkan bagaimana jika sekiranya saya harus mempertanggung-jawabkan perbuatan saya kepada Tuhan; apalagi ada orang-orang yang menakut-nakuti, bahwa saya akan diadili Tuhan dan semua dosa yang pernah saya lakukan akan ditayangkan di sebuah layar perak di hadapan Tuhan dan orang-orang lain setelah saya mati. Tetapi biasanya saya menghibur diri dengan memakai alasan bahwa semua yang saya lakukan hanyalah dosa-dosa kecil.

Benarkah dosa kecil akan diabaikan Tuhan? Ayat pembukaan diatas mengatakan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Ini berarti semua dosa adalah sama di hadapan Tuhan. Orang Kristen memang percaya bahwa Tuhan adalah maha suci, dan karena itu Ia membenci semua bentuk dosa. Tetapi Tuhan juga maha pengampun dan maha kasih, siapa yang percaya kepada Kristus akan mendapat pengampunan.

Dalam hal ini, pertanyaan yang terkadang muncul yaitu apakah Tuhan membedakan dosa kecil dan dosa besar dalam pengampunanNya. Apakah Ia lebih mudah mengampuni dosa yang kecil? Apakah Ia akan selalu mau mengampuni dosa kita sekalipun itu dosa besar? Ayat dibawah ini memberikan jawaban untuk kita.

“….Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Yesaya 1: 18

Bagi Tuhan tidak ada beda antara dosa kecil dan dosa besar, semua itu adalah dosa yang memerlukan penebusan darah Kristus. Jika kita bertobat dari dosa-dosa kita, Ia mau melupakan dosa-dosa kita (Ibrani 8: 12). Karena itu, setelah mendapat pengampunan kita harus berhenti dari berbuat dosa, baik besar maupun kecil. Hari demi hari, kita harus berubah menjadi makin serupa dengan Kristus.

“Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.” 1 Yohanes 3: 6

Semua dosa adalah sama dihadapan Allah yang maha suci. Yesus pernah berkata bahwa jika kita memandang seseorang dengan hawa nafsu, itu juga berarti bahwa kita sudah berzinah (Matius 5: 28). Walaupun demikian, selama kita hidup di dunia, dosa kecil tentunya berbeda dengan dosa besar. Karena itu, pemerintah sebagai wakil Allah di dunia, membedakan jenis kejahatan dan memberikan hukuman yang berbeda.

“Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.” Roma 13: 4

Dalam kenyataannya, apa yang kita anggap dosa kecil bisa dan sering bertumbuh menjadi besar tanpa kita sadari. Mereka yang sering berbohong kecil, lama-lama menjadi pembohong besar; mereka yang sering mengambil atau memakai barang orang lain tanpa ijin, lama kelamaan bisa menjadi pencuri atau koruptor; mereka yang senang mengumbar hawa nafsu dalam pikirannya, lambat laun jatuh dalam perzinahan dan berbagai hal-hal yang tidak senonoh. Mereka yang mengabaikan etika, lambat laun akan mengabaikan hukum.

Pagi ini firman Tuhan berkata bahwa dosa apapun yang kita lakukan adalah cukup untuk membawa kita ke arah kematian abadi. Hanya melalui darah Yesus, kita telah mendapat pengampunan. Karena itu, sebagai orang yang diselamatkan, kita harus berusaha untuk hidup dalam kebenaran setiap saat.

“Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi!” 1 Korintus 15: 34

Antara dua pilihan

“Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.” Filipi 1: 23 – 24

Pernahkah anda dihadapkan pada beberapa pilihan dalam hidup ini? Jika jumlah pilihan itu ada banyak, tentu sulit bagi anda untuk mendapatkan yang terbaik. Ibarat sebuah undian, dalam film Forrest Gump (1994), tokoh utama Forrest Gump (diperankan oleh Tom Hanks) mengatakan “Mama selalu bilang hidup itu seperti sekotak coklat. Anda tidak pernah tahu apa yang akan anda dapatkan.” Bagaimana pula jika pilihan itu hanya dua? Tentunya anda mengira bahwa lebih mudah untuk memilih yang terbaik?

Paulus dalam ayat diatas menghadapi dua pilihan. Bukan dua “coklat” yang terbungkus, yang tidak diketahui jenisnya. Paulus melihat dua pilihan yang jelas berbeda: meninggalkan dunia untuk menjumpai Kristus, atau tetap tinggal di dunia. Mana yang lebih enak untuknya? Sudah tentu tinggal di surga lebih enak; itu jugalah yang diyakini banyak orang, Kristen dan non-Kristen.

Sekalipun kebanyakan orang percaya tentunya sadar akan enaknya rasa “coklat” yang pertama, mungkin mereka tidak begitu antusias untuk memilihnya selagi mereka masih sehat atau berkecukupan di dunia. Mereka lebih senang menikmati “coklat” yang kedua, apalagi kalau ada kemampuan dan kenyamanan yang tersedia di depan mata. Mumpung masih bisa! Barangkali, hanya jika ada persoalan hidup yang sangat besar, manusia mulai memikirkan “coklat” yang pertama, tetapi itu mungkin saja karena terpaksa.

Dalam membaca ayat diatas kita harus sadar bahwa hidup Rasul Paulus bukannya mudah. Ia hidup dalam perjuangan: mengalami ancaman, kelaparan, sakit dan sebagainya (2 Korintus 11: 23 – 28). Ia tahu bahwa di surga, hal-hal itu tidak akan dijumpainya. Tetapi ia sadar bahwa kehendak Tuhanlah yang harus terjadi. Jika Tuhan masih menghendaki dia untuk tinggal di dunia, Paulus percaya bahwa dia harus hidup dan bekerja untuk Tuhan dan sesama.

Pagi ini, kita diingatkan bahwa pada saat ini kita masih hidup di dunia. Jika hidup kita saat ini nyaman, janganlah kita berpikir bahwa ini adalah “coklat” terbaik yang pernah kita punyai, dan karena itu kita hanya hidup untuk menikmatinya. Sebaliknya, jika kita hidup dalam perjuangan dan penderitaan saat ini, janganlah kita mengutuki rasa “coklat” yang terasa kurang enak dalam mulut kita. Hidup kita selama di dunia ini haruslah untuk membawa kemuliaan kepada Tuhan selagi kita masih bisa!

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah…” Filipi 1: 21 – 22

Tuhan tidak berhutang budi kepada kita

“Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Lukas 17: 10

Pernahkah anda berpikir, apabila anda bekerja keras untuk Tuhan, memasyhurkan namaNya, dan memberikan persembahan yang besar kepada gereja, apakah Tuhan tidak merasa berhutang budi atas kebaikan anda? Pertanyaan ini agaknya terdengar janggal, namun ada banyak orang Kristen yang merasa bahwa Tuhan kurang menghargai mereka, sekalipun mereka sudah banyak berbuat baik untuk Tuhan dan sesama. Sebaliknya ada orang-orang Kristen yang dengan bangga merasa bahwa Tuhan tentu senang dan bersyukur atas segala apa yang sudah dilakukan mereka, sehingga Ia melimpahkan berkatNya berlipat ganda.

Dalam ayat diatas, Yesus berkata bahwa kita adalah seperti hamba-hamba di hadapan Tuhan. Seorang hamba adalah milik majikan. Sebagai hamba kita tidak boleh merasa sombong bahwa kita sudah berbuat baik untuk majikan kita. Sebagai hamba, kita tidak berhak menuntut balasan dari Tuhan.

Dalam Alkitab tidak ada ayat yang mengatakan Tuhan pernah berhutang budi kepada manusia. Tuhan tidak pernah berhutang apapun kepada mahluk yang diciptakanNya. Sebaliknya, manusialah yang harus bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan karena manusia sudah diciptakanNya dari debu yang tidak berarti, menjadi satu pribadi.

“Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.” Yesaya 64: 8

Tuhan yang menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya, bermaksud agar manusia hidup untuk kemuliaanNya. Tuhan sewajarnya merasa kecewa bahwa manusia kemudian jatuh kedalam dosa. Manusialah yang harus bersyukur bahwa Tuhan masih mempunyai kesabaran untuk membimbing hidup mereka hari demi hari, dan bahkan membawa mereka ke arah keselamatan.

Banyak kepercayaan yang membuat Tuhan seperti oknum yang berhutang budi kepada manusia, dan itu termasuk orang-orang Kristen yang lupa akan kedudukannya di hadapan Tuhan. Memang orang yang sudah diselamatkan melalui darah Kristus sudah diangkat menjadi pewaris kerajaan Allah (Galatia 4: 7), tetapi sebagai manusia kita adalah orang-orang yang selalu berhutang budi kepada Tuhan. Hutang kita kepada Tuhan tidak akan pernah terbayar, karena kita memang tidak mampu membalas kasih karunia Tuhan, baik dalam hal jasmani maupun rohani.

Pagi ini kita harus sadar bahwa sebagai orang Kristen, kita harus menempatkan diri sebagai hamba yang bekerja untuk Tuhan yang maha besar. Apa yang kita lakukan, tidak sebanding dengan kebesaran dan kasihNya. Biarlah kita menyadari kedudukan kita di hadapan Tuhan dan selalu mau menghampiri Dia dengan kerendahan hati dan penyerahan hidup yang sepenuhnya.

Percaya atau tidak?

“Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.” Yohanes 3: 18

Bacaan: Yohanes 3: 1 – 21

Anda percaya kepada Yesus? Percaya tentang hal apanya? Banyak orang yang percaya bahwa Yesus adalah tokoh besar dalam sejarah. Ada juga yang percaya bahwa Ia adalah seorang guru filsafat besar di dunia. Selain itu, ada juga yang yakin bahwa Yesus adalah nabi yang terbesar yang pernah lahir di dunia. Mungkin anda juga setuju bahwa Yesus adalah manusia yang luar biasa.

Pada malam itu, Nikodemus, seorang Farisi dan pemimpin agama orang Yahudi, menyelinap keluar dari rumahnya di tengah malam untuk menemui Yesus. Ia mungkin sengaja memilih waktu yang tepat untuk menghindari sorotan publik karena ia tidak mau dikritik karena ia menjumpai orang yang tidak disenangi kaumnya. Tetapi dorongan hatinya sangat kuat untuk bisa bertemu dengan Yesus, karena ia merasa bahwa Yesus adalah seorang guru yang diutus Allah (Yohanes 3: 2).

Dalam percakapannya dengan Yesus, Nikodemus merasa heran bagaimana Yesus berkata bahwa ia harus dilahirkan kembali untuk bisa diselamatkan. Nikodemus tidak dapat mengerti apa yang dimaksudkan Yesus, karena ia tidak menyadari adanya perubahan dari hidup lama menjadi hidup baru setelah seseorang menerima Yesus, Anak Tunggal Allah yang tidak dikenalnya. Nikodemus tidak mengerti bahwa dosa manusia hanya bisa diampuni jika ia percaya dalam nama Yesus yang sudah turun dari surga sebagai Tuhan.

Banyak orang yang hidup di zaman ini, termasuk mereka yang mengaku Kristen, mempunyai pengertian seperti apa yang dimiliki Nikodemus. Mereka percaya bahwa manusia bisa mencapai surga dengan melaksanakan firman Tuhan. Dengan hidup baik, mereka percaya bahwa Tuhan yang mengasihi mereka akan membuka pintu surga.

Selain itu , orang-orang zaman ini banyak yang menekankan pentingnya paham hidup baik bersama (living together in harmony) yang diajarkan tokoh-tokoh populer dalam masyarakat. Dengan itu mereka mungkin percaya bahwa hidup baik bersama juga berarti menerima apa yang dianggap benar orang lain. Mereka mungkin berpendapat bahwa semua orang mempunyai kebenaran dan iman yang sama derajatnya dengan apa yang kita percayai. Mereka mungkin yakin bahwa hanya melalui kesediaan menerima kebenaran orang lain, manusia dapat hidup damai, walaupun orang Kristen sebenarnya wajib mengasihi semua orang, sekalipun mereka berbeda paham. Living together in harmony tidak perlu menghilangkan perbedaan yang ada.

Bagi sebagian orang, menjadi orang Kristen hanyalah soal kebetulan, karena mereka lahir dalam lingkungan Kristen. Tetapi, mereka juga percaya bahwa orang yang dilahirkan dalam lingkungan bukan Kristen, juga bisa mencapai keselamatan dengan cara lain. Mereka tidak mengerti bahwa hal lahir jasmani sebagai manusia tidaklah penting, tetapi hal lahir kembali (perubahan total) secara rohani sebagai anak Tuhan melalui Yesus adalah mutlak diperlukan untuk keselamatan jiwa. Perubahan itu tetap diperlukan secara pribadi sekalipun seseorang dilahirkan dalam keluarga Kristen.

Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Yohanes 3: 4

Dilahirkan kembali adalah saat dimana seseorang mengaku dosa dan menerima Yesus sebagai satu-satunya Juruselamatnya. Itulah hidup baru didalam Kristus, dan hidup lama sebagai manusia yang tidak mengenal Yesus sudah hilang. Dengan hidup barunya, seseorang akan berubah menjadi makin baik dalam sifat dan sikap kehidupannya hari demi hari.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Pagi ini, kita mendapat pertanyaan apakah kita benar-benar percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan. Percaya atau tidak? Barangsiapa percaya kepada Yesus, ia telah menerima pengampunan; tetapi barangsiapa tidak percaya, ia tetap berada di bawah hukuman, sebab ia tidak beriman dalam nama Anak Tunggal Allah.

Mengikut Yesus itu tidak mudah

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Matius 10: 38

Bayangkan anda berada di sebuah gereja, mengikuti kebaktian hari minggu. Jemaat saat itu sedang menyanyikan sebuah lagu Kristen yang sangat terkenal yaitu “Mengikut Yesus keputusanku” yang merupakan terjemahan lagu berbahasa Inggris “I have decided to follow Jesus“. Anda pun ikut menyanyi:

Mengikut Yesus keputusanku,

Mengikut Yesus keputusanku,

Mengikut Yesus keputusanku.

‘Ku tak ingkar, ‘Ku tak ingkar.

………………..

Dunia di b’lakang salib di depan,

Dunia di b’lakang salib di depan,

Dunia di b’lakang salib di depan.

‘Ku tak ingkar, ‘Ku tak ingkar.

Menyanyikan lagu sederhana yang bersemangat ini tidaklah sukar. Semua orang bisa menyanyikannya setelah mencoba satu bait saja. Tetapi yang jauh lebih sukar adalah melaksanakan apa yang diucapkan. Mengapa begitu?

Yang pertama, agar seseorang bisa membuat keputusan untuk mengikut Yesus, haruslah ada alasan yang kuat. Tanpa alasan yang kuat, tidaklah mungkin seseorang mau menjadi orang Kristen. Baik di zaman dulu maupun di zaman ini, hidup orang Kristen tidaklah berarti hidup yang bergemerlapan dan hidup yang mendapat perlakuan istimewa dari siapapun.

Yang kedua, adalah umum jika orang mau mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu, tetapi berharap agar ia tetap mempunyai kesempatan untuk berubah pikiran. Dengan janji untuk tidak ingkar, orang akan berpikir dua kali untuk menjadi pengikut Yesus karena keputusan yang diambil haruslah pasti, bukan hanya coba-coba. Ini berarti siap untuk menjadi pengikut Yesus di saat suka maupun duka, seumur hidup.

Dan yang ketiga, untuk menjadi pengikut Kristus orang harus meninggalkan hidup lama yang mementingkan hal-hal duniawi, dan menggantinya dengan hidup baru berpusat kepada Yesus. Hidup baru ini seringkali sulit dijalani karena adanya berbagai masalah yang datang dari orang-orang di sekitar kita dan bahkan dari keluarga kita sendiri. Malahan, banyak orang Kristen yang mengalami pelecehan dan penganiayaan di berbagai tempat di dunia.

Pagi ini, ada tiga pertanyaan untuk anda sebelum pergi ke gereja:

1. Apa tujuan anda untuk menjadi pengikut Kristus adalah untuk percaya kepadaNya, memuliakanNya dan menjalankan firmanNya?

2. Apakah anda benar-benar akan setia dalam suka maupun duka kepada Kristus sampai akhir hidup anda?

3. Apakah anda siap untuk memusatkan hidup anda kepada kemuliaan Tuhan dan siap menderita untukNya, dan bukannya hanya ingin untuk memperoleh berkat-berkatNya?

Ada begitu banyak orang yang mau menjadi pengikut Kristus dengan tujuan yang keliru, yang hanya bertalian dengan keinginan untuk menerima berkatNya. Ada juga mereka yang sering mengingkari imannya karena adanya godaan dan masalah dalam hidup. Dan ada juga mereka mengira bahwa sebagai pengikut Kristus mereka akan terlepas dari segala penderitaan. Tetapi Yesus berkata bahwa barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Dia, ia tidak layak bagi Dia. Hanya dengan menjawab ketiga pertanyaan diatas dengan benar, barulah kita bisa sungguh-sungguh menjadi pengikut Kristus!

Apakah kewajiban kita kepada negara kita?

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Ada berapakah jumlah negara di dunia? Saat ini (2018) ada 193 negara anggota PBB dan 2 negara yang hanya berstatus peninjau. Jadi, jumlah keseluruhannya adalah 195 negara. Apa yang menyebabkan terbentuknya negara? Salah satu sebabnya adanya latar belakang dan tujuan hidup yang serupa.

Tujuan hidup yang serupa memang bisa menjadi dasar filsafat kesatuan sebuah negara. Walaupun demikian, tujuan hidup tiap orang selalu ada bedanya dengan tujuan hidup orang lain, dan apa yang diingini seseorang hari ini mungkin berubah di masa mendatang. Ini mungkin salah satu hal yang kadangkala bisa menyebabkan orang kurang bisa menghargai adanya peraturan dan sistem yang ada, sekalipun semua itu dibuat dengan maksud baik.

Adanya pemerintah memang dimaksudkan untuk membawa kebahagiaan bagi semua warganya. Pemerintah merupakan suatu bentuk organisasi yang bekerja dan menjalankan tugas untuk mengelola sistem dan menetapkan kebijakan dalam mencapai tujuan negara. Karena itu, seluruh rakyat sudah sewajarnya mendukung kegiatan-kegiatan baik yang dilakukan pemerintah.

Bagi umat Kristen, pemerintah yang sah, yang sudah terpilih melalui cara yang benar adalah ada dengan seijin Tuhan. Dengan demikian, ayat diatas merupakan hal yang sangat penting untuk membina rasa hormat kepada pemimpin bangsa dan negara. Malahan, jika semua warga mau menaati firman Tuhan diatas, kesatuan sebuah negara akan lebih mudah dipelihara untuk mencapai kebahagiaan bersama.

Kebahagiaan, ketenteraman, kemakmuran dan kesatuan tidak dapat dicapai hanya dengan konsep dan pikiran, tetapi harus dengan penerapan dan perbuatan. Orang Kristen dipanggil untuk menjadi contoh masyarakat dalam hal pengabdian kepada negara mereka masing-masing. Sekalipun mereka harus menghormati Allah diatas segala-galanya, mereka juga harus tunduk kepada pemerintah yang sudah ditetapkan Allah. Ini bukan hanya dalam menaati segala hukum dan peraturan, tetapi juga dalam hal menyumbangkan apa yang perlu demi kemajuan negara.

“Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.” Roma 13: 7

Pagi ini, kita diingatkan bahwa jika menginginkan kemakmuran, ketertiban dan kedamaian dalam negara kita, kita sebagai orang Kristen terpanggil untuk menjadi teladan dengan menghormati pemerintah yang ada dengan menunaikan kewajiban kita, mencintai sesama warga dan menaati segala hukum dan peraturan negara yang ada. Seperti Allah yang sudah membawa perdamaian antara diriNya dan umat manusia melalui Yesus Kristus, kita pun harus membawa damai dimanapun kita berada karena kita sudah ditebus dengan darah Kristus.

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Aku ingin tidur nyenyak

“Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.” Mazmur 4: 8

Berbicara soal tidur, dulu saya pernah mengalami masalah kurang bisa tidur lelap karena sering bangun di tengah malam, sebab otak saya bekerja memikirkan tugas-tugas esok hari. Saya tidak bisa tidur enak karena kekuatiran bahwa saya akan melupakan hal-hal penting itu. Berdoa memohon tidur yang nyenyak sudah saya lakukan, tetapi saya kemudian sadar bahwa sayalah yang harus mengubah cara saya menghadapi tugas pekerjaan. Tuhan memberikan saya kebijakan agar saya mencatat apa saja yang harus saya lakukan diatas kertas, dan setelah itu saya tidur tanpa memikirkan hal-hal itu lagi.

Banyak orang yang mengalami kesulitan kronis untuk bisa tidur, yang sering disebut insomnia. Penyebabnya ada bermacam-macam, karena faktor medis, faktor lingkungan dan juga faktor kejiwaan memang bisa mempengaruhi kualitas tidur kita. Alkitab tidak membahas insomnia secara langsung, tetapi menghubungkan kegundahan hati (yang jelas bisa membuat orang sulit untuk tidur) dengan ketakutan, kekuatiran dan dosa. Tuhan memberikan manusia firmanNya untuk menghadapi hal-hal itu, dan tergantung kepada manusia apakah mereka mau menjalankannya.

Sebagai manusia kita tentu pernah takut. Baik ancaman dari luar maupun ancaman dari dalam tubuh kita sendiri bisa membuat kita takut sampai kita sulit untuk tidur. Padahal, firman Tuhan berkata bahwa kita tidak perlu takut kepada apapun yang tidak berkuasa membunuh jiwa.

“Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Matius 10: 28

Yesus juga sudah mengajarkan bahwa sekalipun kita melihat adanya kemungkinan untuk mengalami kesulitan di hari esok, kita tidak perlu kuatir bahwa Tuhan akan meninggalkan kita. Kesulitan hari ini kita hadapi bersama Dia, demikian juga kesulitan esok hari, itulah yang dinamakan berjalan dengan Yesus setiap hari.

“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Matius 6: 34

Tidak dapat diragukan bahwa adanya dosa bisa membuat kita sulit tidur. Berbuat dosa adalah sesuatu yang dianjurkan iblis kepada manusia di taman Firdaus dan bahkan kepada Yesus di padang gurun. Baik kemarahan yang belum hilang sebelum tidur, maupun adanya hal-hal yang jahat yang sudah atau akan dilakukan, membuat orang sulit untuk tidur nyenyak.

“Kejahatan dirancangkannya di tempat tidurnya, ia menempatkan dirinya di jalan yang tidak baik; apa yang jahat tidak ditolaknya.” Mazmur 36: 4

Pagi ini kita harus sadar bahwa apapun penyebab kesulitan tidur, kita harus berusaha mencari penyebabnya. Faktor medis mungkin bisa diatasi dengan pengobatan yang tepat dan bukannya dengan memakai obat terlarang atau cara mistis tertentu. Faktor lingkungan mungkin bisa diatasi dengan memperbaiki suasana lingkungan di mana kita tidur. Sedangkan untuk penyebab kejiwaan yang berhubungan dengan ketakutan, kekuatiran dan dosa, kita harus mau mengevaluasi dan memperbaiki hidup kita dengan bimbingan Tuhan. Selain itu, dalam keadaan apapun kita boleh berdoa seperti ayat pembukaan diatas:

Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur. Biarlah Engkau ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.

Menjadi manusia yang sempurna

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Matius 5: 48

Inginkah anda menjadi manusia yang sempurna? Pertanyaan ini mungkin dijawab orang dengan senyum skeptis. Sempurna? Apa bisa? Apa kriteria untuk menjadi manusia sempurna? Apakah bentuk tubuh, rupa, kepandaian, kesadaran, kebaikan dan sejenisnya?

Memang dengan adanya teknik kedokteran kosmetik, orang bisa mengubah bentuk hidung, bibir dan anggota tubuh lainnya untuk menjadi “sempurna”, tetapi itu bukanlah membuat fisik orang yang bersangkutan benar-benar menjadi sempurna. Selain itu, di dunia ini ada orang-orang yang mengajarkan cara kerohanian untuk menuju ke “kesempurnaan”, yang bisa membawa kesadaran manusia ke tingkat yang lebih tinggi, sehingga pada akhirnya mereka bisa mencapai surga. Semua hal-hal diatas hanyalah impian manusia saja.

Alkitab jelas menuliskan bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang sempurna. Semua orang mempunyai kelemahan fisik dan akhirnya akan mati secara jasmani. Semua orang adalah orang berdosa dan pada akhirnya juga akan mati secara rohani jika tidak diselamatkan.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3: 23

Jika tidak ada manusia yang sempurna, mengapa Yesus mengatakan bahwa kita harus menjadi sempurna seperti Allah Bapa di surga? Bukankah ini adalah sesuatu yang tidak mungkin dicapai oleh siapapun, sekalipun oleh orang-orang saleh pemimpin agama?

Apa yang dikatakan oleh Yesus adalah benar, bahwa kita harus menjadi sempurna secara rohani seperti Allah yang roh. Ini hanya bisa terjadi jika kita benar-benar menerima Yesus sebagai juruselamat kita, dan memasuki hidup baru. Kesempurnaan hanya bisa dicapai melalui darah Yesus.

“Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.” Ibrani 10: 14

Sebagai ciptaan baru, sinar kemuliaan Kristus terpancar dari hidup kita, makin hari makin menerangi sekitar kita.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Menjadi sempurna didalam Kristus tidaklah terjadi dalam sekejap mata, itu adalah proses penyucian seumur hidup. Dalam hal ini ada orang yang menafsirkan bahwa Yesus sebenarnya tidak mengharapkan kesempurnaan tetapi kedewasaan. Apapun penafsiran kata aslinya (bahasa Yunani: teleios), jelas bahwa tiap orang Kristen harus mengalami perubahan.

Pagi ini, marilah kita merenungkan apa yang sudah berubah dalam hidup kita sejak kita diselamatkan. Sudahkah kita berubah dari cara hidup kita yang lama? Apakah kita mau mendengarkan suara Roh Kudus yang selalu membisikkan pesan-pesan agar kita mengubah hidup kita? Memang dengan kekuatan sendiri kita tidak akan bisa berubah, tetapi bersama Yesus kita akan makin lama makin menyerupai Dia!

“Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.” Filipi 3: 12

Apa yang akanTuhan lakukan ketika aku menghadapi masalah?

“Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya.” Mazmur 91: 15

Pernahkah anda mengalami kejadian yang sangat menekan perasaan dan pikiran anda? Mungkin itu disebabkan oleh keadaan di sekitar anda, atau karena sesuatu yang buruk terjadi pada diri anda, atau karena kekeliruan yang anda perbuat, dan mungkin juga karena adanya perbuatan buruk orang lain. Dalam hidup ini, masalah besar ada dimana-mana. Semakin hari seakan semakin banyak masalah yang harus kita hadapi, karena sulitnya mencari penyelesaian atas masalah yang sudah ada. Hidup kita menjadi sesak rasanya.

Sebagai orang Kristen kita percaya bahwa Tuhan kita maha kuasa dan maha kasih; karena itu kita boleh membawa segala persoalan kita kepadaNya. Walaupun demikian, sebagai manusia kita cenderung mengandalkan akal budi kita yang terbatas, daripada menggunakan iman yang berasal dari Tuhan. Dengan demikian kita seringkali tidak dapat memahami metode kerja atau modus operandi Tuhan dalam proses menolong kita. Dan oleh karena itu jugalah kita sering mengalami kesulitan bukan saja untuk berdoa, tetapi juga untuk meyakini dan merasakan penyertaan Tuhan.

Bagaimana kita bisa yakin bahwa Tuhan mendengar doa kita dan menjawabnya? Ayat diatas memberikan sebuah gambaran singkat bagaimana Tuhan bekerja menolong umatnya yang berada dalam kesulitan. Ada tiga bagian yang perlu kita teliti: (1) Bila kita berseru kepada Tuhan, Ia akan menjawab, (2) Tuhan akan menyertai kita yang dalam kesesakan, dan (3) Tuhan akan meluputkan kita dari bencana dan meninggikan kita. Jika kita mengerti akan hal-hal ini, kita akan mempunyai wawasan yang baru dalam menghadapi masalah kehidupan.

Yang pertama, bila kita berseru kepada Tuhan, Ia akan menjawab. Tuhan tahu jika kita mengalami masalah dan Ia pasti bertindak pada waktu yang sesuai dengan kehendakNya. Tidak ada apapun yang terjadi dalam hidup kita tanpa seijin Tuhan. Tuhan yang maha kasih selalu ingin memberikan yang terbaik untuk umatNya, sekalipun dunia ini selalu penuh dengan semak duri.

Jika kita berdoa, itu bukanlah dengan maksud untuk mengubah kehendak Tuhan, karena kehendak Tuhan harus terjadi. Tetapi, doa kita adalah penyerahan diri kita kepada bimbinganNya, dan menyelaraskan kehendak kita dengan kehendakNya. Jika kita berseru meminta tolong kepada Tuhan, Ia sebenarnya sudah siap menolong kita. Tetapi dengan berseru kepada Tuhan, kita akan mendengar suaraNya dan kita akan mengerti apa maksud Tuhan dalam hidup kita.

“Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.” 1 Yohanes 5: 14

Tuhan juga akan menyertai kita yang dalam kesesakan. Itu adalah yang dijanjikan Tuhan jika kita mau menghampiri Dia dan mengutarakan segala persoalan dan perasaan kita. Tuhan tidak akan meninggalkan kita seorang diri dalam penderitaan kita. Memang dalam kesesakan kita mungkin merasakan dorongan untuk lari menjauhkan diri dari segala sesuatu, karena kita tidak tahu harus berbuat apa. Tetapi, Tuhan jelas mengharapkan kita untuk lari kepadaNya, agar Ia bisa memberi kekuatan dan kesabaran kepada kita.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Bagi umatNya yang mengalami masalah, Tuhan juga berkata bahwa Ia akan meluputkan mereka dari bencana dan memuliakan mereka. Ini adalah sesuatu yang harus selalu kita sadari selama kita hidup di dunia. Bahwa sebagai Bapa yang maha kasih, Tuhan tidak membiarkan kita mengalami masalah yang lebih berat dari kekuatan kita. Lebih dari itu, kita seharusnya tahu bahwa sebagai Bapa yang maha kuasa, Tuhan sanggup melindungi kita dari bencana. Tuhan akan memberikan kita kekuatan untuk menghadapi masalah apapun, sehingga kita pada akhirnya akan memperoleh kemenangan didalam Dia.

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” Roma 5: 3 – 5

Jika anda mengalami masalah besar saat ini, semoga anda mau berseru kepada Tuhan dan memohon pertolonganNya. Ia mau mendengar, Ia akan menjawab, dan Ia akan memberikan kelepasan dan kemuliaan pada waktunya.

Tidak perlu iri kepada mereka yang tidak jujur

“Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau.” Mazmur 37: 1 – 2

Minggu lalu saya bertemu dengan seorang warga senior yang pernah melanglang buana dan bekerja di berbagai negara, termasuk di Uganda, Afrika. Dengan penuh perhatian, saya mendengarkan kisah perjalanan hidupnya termasuk perjumpaannya dengan Idi Amin. Idi Amin? Siapa pula itu?

Idi Amin Dada adalah Presiden Uganda ketiga yang berkuasa pada tahun 1971 – 1979. Saya yang waktu itu gemar mengikuti perkembangan politik dunia, membaca bagaimana Idi Amin bisa menjadi presiden melalui cara-cara yang kejam. Menjalankan roda pemerintahan dengan tangan besi, Idi Amin membuat Uganda mengalami berbagai perang saudara. Belakangan, saya membaca bahwa setelah dipaksa turun dari jabatannya, Idi Amin meninggal pada tahun 2003 di tempat pengasingan, Arab Saudi.

Dalam hidup di dunia ini, selalu ada saja ketidakadilan yang kita jumpai, sekalipun mungkin tidak seperti apa yang terjadi di Uganda pada waktu yang telah silam. Hal-hal semacam itu bisa membuat kita berpikir mengapa Tuhan seolah membiarkan mereka yang tidak jujur untuk menduduki posisi tinggi, dan mereka yang jahat untuk berkuasa dan bertindak dengan sewenang-wenang. Mungkin seperti itu jugalah perasaan penulis Mazmur ketika ia melihat orang-orang jahat yang hidupnya terlihat nyaman:

“Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik. Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain.” Mazmur 73: 2 – 5.

Kejadian dimana orang yang jahat, curang dan tidak jujur seolah hidup jaya dan membuat Tuhan seolah tidak ada, memang seringkali muncul dalam hidup kita sehari-hari dengan berbagai bentuk dan ukuran. Mungkin jika hal-hal itu tidak terlalu mencolok mata, kita bisa mengabaikannya. Lain halnya jika kita melihat mereka yang jelas-jelas melakukan hal-hal yang jahat, justru bangga atas “keberhasilan” mereka. Tetapi ayat pembukaan kita berkata bahwa bagaimanapun juga, kita tidak boleh sakit hati karena adanya orang yang berbuat jahat, atau iri hati kepada orang yang berbuat curang. Kejayaan mereka, yang kita lihat dari luar, belum tentu seperti apa yang kita bayangkan; dan apa yang mereka nikmati sekarang ini, tidaklah akan abadi.

Pagi ini, jika kita mempunyai rasa iri hati atas keberhasilan orang-orang yang tidak jujur di sekeliling kita, marilah kita menenangkan diri dan mencari kedamaian dalam Tuhan. Tuhan memang sering membiarkan mereka yang jahat dan curang hidup bersama-sama dengan pengikutNya, seperti lalang yang hidup diantara gandum. Tuhan bisa memakai apapun yang ada di dunia untuk memenuhi rancanganNya, dan karena itu kita tidak perlu hidup dalam keresahan dengan adanya orang-orang yang kelihatannya jaya dalam kecurangan mereka. Tetapi sebagai orang beriman, kita tidak perlu meragukan bahwa Tuhan yang maha adil pada akhirnya pasti bertindak tegas. Biarlah kita berdoa agar kehendak Tuhan terjadi pada saat yang dipilihNya.

“Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” Matius 13: 30.