“Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.” 1 Tesalonika 4: 1

Adanya orang tua yang pilih kasih, yang mempunyai anak favorit, adalah hal yang sering membuat ketegangan dalam keluarga. Kebanyakan orang tua menolak tuduhan bahwa mereka berat sebelah, lebih menyayangi seorang anak daripada yang lain. Tetapi dalam kenyataannya memang ada berbagai faktor yang menyebabkan seorang bapa atau ibu untuk lebih menyayangi salah satu anaknya. Sebagai contoh dalam Alkitab adalah Yakub dan Esau. Yakub disayangi ibunya, dan Esau lebih disenangi oleh bapanya (Kejadian 25: 28).
Soal favoritisme orang tua itu agaknya bisa dimengerti karena setiap orang tua mempunyai kelemahan. Mungkin sebagai orang tua seharusnya berlaku adil kepada semua anak-anaknya dan tidak pilih kasih. Tetapi setiap orang tua juga mempunyai sifat yang mungkin lebih kompatibel dengan anak tertentu, dan dengan demikian, secara emosi, lebih mudah menyayanginya.
Jika hal pilih kasih diantara manusia adalah hal yang sering kita temui dan bisa dimengerti, pertanyaan apakah Tuhan juga pilih kasih terhadap manusia ciptaanNya seringkali menjadi soal sensitif dan tidak mudah dijawab. Tuhan tentunya mengasihi seluruh manusia di dunia sehingga Ia berusaha untuk menyelamatkan mereka dari hukuman dosa (Yohanes 3: 16). Secara umum, Tuhan yang Mahaadil dan Mahakasih juga memberikan berkat yang sama kepada seisi dunia. Matahari bersinar untuk semua orang, baik bagi mereka yang baik maupun yang jahat (Matius 5: 45).
Tetapi kita harus memisahkan kasih Tuhan kepada orang yang tidak percaya dari kasih Tuhan kepada anak-anakNya karena karunia keselamatan hanya diberikan kepada mereka yang menerima Yesus sebagai Juruselamat. Ini adalah suatu hal yang bisa diterima oleh semua orang percaya, karena mereka mendapat perlakuan khusus dari Tuhan. Memang untuk manusia, seringkali hal yang enak bisa dengan mudah diterima sebagai hal yang adil.
Walaupun demikian, jika kita berada dalam keadaan yang kurang menyenangkan jika dibandingkan dengan anak Tuhan yang lain, pertanyaan akan muncul apakah Tuhan benar-benar adil. Kita tentu percaya bahwa kita semua diselamatkan karena karunia kasih Tuhan yang sama besarnya karena kita semua adalah manusia yang sama-sama berdosa. Tetapi, apakah Tuhan mempunyai perasaan yang berbeda-beda kepada setiap umatNya?
Tuhan memang melihat hidup tiap umatNya secara individual. Ia bereaksi atas kehidupan dan ketaatan setiap orang. Sejarah manusia dalam Alkitab menunjukkan adanya orang-orang tertentu yang dipilihNya karena ketaatan mereka. Mereka yang karena setia dan kuat dalam iman, mendapat “perhatian khusus” dari Tuhan. Abraham, Daud, Petrus, Paulus adalah sebagian kecil dari umatNya yang membuat Tuhan senang, bukan karena kemampuan, tetapi karena kesetiaan mereka dan kemauan untuk memakai apa yang sudah dikaruniakan Tuhan untuk kemuliaanNya.
Pagi ini kita harus sadar bahwa Tuhan mengasihi semua umatNya, tetapi Ia juga menghargai bagaimana kita hidup. Untuk mereka yang dengan setia mengikut Dia, Tuhan akan memberi mereka karunia -karunia yang memungkinkan mereka untuk bisa kuat dan merasa cukup dalam semua keadaan. Tuhan tidak menjanjikan hidup mulus tanpa masalah, tetapi kemampuan untuk menghadapi masalah. Lebih dari itu Tuhan seringkali memberikan kesempatan yang lebih besar bagi mereka yang mau memakai karunia yang ada untuk memuliakan Tuhan dan melayani sesama.
Kita tahu bagaimana kita harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu mungkin telah kita jalani, tetapi baiklah kita melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi agar Tuhan makin memberkati hidup kita.
Sewaktu saya masih kecil, sekitar umur 8 tahun, ibu saya menanyakan apa cita-cita saya untuk masa depan. Saya dengan yakin dan bangga berkata bahwa saya akan menjadi seorang tentara dan menikah dengan seorang aktris. Pada waktu itu ibu saya dengan setengah bergurau berkata bahwa kalau itu terjadi, hal itu akan membuatnya menangis setiap hari. Dengan bertambahnya umur saya, cita-cita itu terlupakan dan cita-cita lain pun muncul. Tetapi, kalau teringat akan percakapan saat itu saya sekarang masih bisa merasa geli. Memang cita-cita seorang anak dan juga orang dewasa dibentuk melalui konsep pemikiran manusia yang dipengaruhi keadaan sekitarnya. Konsep tentang kesuksesan dan kebahagiaan manusia umumnya berubah dengan umur kita.
Semakin tua, manusia akan makin berpengalaman karena makin banyak yang pernah dialaminya. Umumnya, pengalaman yang buruk bisa mencegah seseorang untuk melakukan hal yang sama di masa depan. Sebaliknya, pengalaman yang baik dan menyenangkan membuat orang tertarik untuk mencobanya lagi jika ada kesempatan. Pengalaman adalah guru yang terbaik, begitulah kata orang. Benarkah?
Di negara bagian Queensland dimana saya tinggal, Sabtu ini adalah hari pemilu. Pemilihan umum untuk memilih wakil-wakil rakyat dalam parlemen Queensland. Pemilihan umum memang hal yang jamak di Australia, karena pemerintah negara bagian maupun federal bisa mengadakan pemilu kapan saja, selagi kesempatan untuk menang cukup besar. Tidak heran jika banyak orang yang bosan ikut pemilu. Tetapi, karena orang yang sengaja tidak ikut pemilu akan didenda, kebanyakan orang ikut pemilu baik secara langsung atau lewat pos.
Di dunia saat ini, manusia berlomba-lomba untuk mencapai kesuksesan. Keberhasilan manusia umumnya diukur dengan kekayaan, kepandaian, kemasyhuran dan hal-hal serupa. Dari kecil kebanyakan orang tua mengajarkan bahwa hal-hal diatas bisa dicapai anak-anak mereka jika mereka rajin belajar dan mau bekerja keras. Berbagai contoh dan teori ada dalam berbagai media, dan bahkan dikhotbahkan di gereja, tentang bagaimana kita dapat mencapai kesuksesan dalam hidup kita melalui keberanian dan keuletan kita,