“Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.” Matius 25: 12

Dalam perumpamaan “Gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh” yang bisa dibaca dalam Matius 25: 1-13, Yesus mengisahkan soal kerajaan surga yang seperti sepuluh gadis yang menantikan kedatangan mempelai pria. Lima gadis yang bijaksana mempunyai pelita dan minyaknya, sedang lima gadis yang bodoh hanya mempunyai pelita tanpa minyak. Ketika mempelai pria datang, lima gadis yang bodoh datang terlambat karena harus membeli minyak; akibatnya mereka ditolak untuk masuk ke ruang pesta karena pintu sudah tertutup dan mereka tidak dikenali oleh mempelai pria.
Soal pesta pernikahan, tentu ada perbedaan kebiasaan antara jaman dahulu dan sekarang, tetapi jelas bahwa hanya para undangan yang bisa masuk. Juga ada beda besar antara Indonesia dan di Australia. Di Indonesia, pesta pernikahan biasanya megah, dengan jumlah undangan yang besar. Di Australia, dengan jumlah tamu 100 saja, sebuah pesta pernikahan sudah termasuk besar. Seringkali, karena besarnya pesta pernikahan di Indonesia, surat undangan harus dibawa seperti layaknya sebuah karcis bioskop. Hal itu untuk mencegah datangnya tamu yang tidak diundang. Mereka yang tidak dikenal, tidak bisa masuk ke ruang pesta.
Kebaktian gereja di Indonesia juga besar ukurannya jika dibandingkan dengan kebaktian di Australia. Memang hanya satu-dua gereja saja di Australia yang bisa menampung setidaknya 2000 jemaat. Tetapi, baik di Indonesia maupun Australia, orang tidak perlu memakai karcis untuk menghadiri kebaktian hari Minggu. Tua- muda, besar-kecil, semua orang boleh ke gereja sekalipun bukan orang Kristen. Tambahan lagi, untuk menghadiri kebaktian sudah tentu tidak dipungut biaya, dan karena itu soal ke gereja hanya berdasarkan kemauan saja.
Masalahnya, kalau hari Minggu ini kita mau pergi ke gereja, itu untuk apa? Apa sebabnya? Dalam ayat diatas, ada lima gadis yang menunggu datangnya pengantin ingin menghadiri pesta pernikahan tetapi tidak mempunyai kemauan untuk mengisi pelitanya dengan minyak dan tidak pula punya persediaan minyak. Mereka ingin menghadiri pesta pernikahan, tetapi tidak mau membuat persiapan.
Seperti itu juga, ada banyak orang yang ke gereja, tetapi tidak semuanya mau mengisi hidup mereka dengan hal-hal yang baik. Mereka ingin dan bahkan merasa sudah diselamatkan, tetapi tidak mau atau belum bertobat dari hidup lamanya. Iman mereka hanya seperti sebuah fatamorgana. Mereka mungkin percaya bahwa pengurbanan Kristus adalah karunia cuma-cuma yang tinggal mereka iyakan. Tetapi mereka tidak sadar bahwa bukan hal ke gereja, mengikuti misa, atau sudah dibaptis yang menandakan bahwa mereka sudah menerima anugrah keselamatan dan Roh Kudus. Pertobatan dan iman yang benar tidak mereka punyai, seperti minyak yang absen dari pelita gadis-gadis yang bodoh. Karena kebodohan mereka, gadis-gadis itu tidak bisa memasuki ruang pesta. Karena kebodohan yang serupa, sebagian orang akan ditolak untuk masuk ke surga. Bagaimana pula dengan kita?
“Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” Kisah Para Rasul 2: 38




Pertarungan antara Daud dan Goliat adalah kisah nyata yang dikenal oleh semua orang Kristen. Pada saat itu umat Israel sedang dalam persiapan perang dengan bangsa Filistin. Kedua pihak sedang berhadapan di lembah Tarbantin dan hanya dipisahkan oleh jarak yang tidak jauh sehingga mereka bisa berkomunikasi secara langsung. Perang urat syaraf dimulai dengan tantangan Goliat, seorang pendekar Filistin yang tinggi besar seperti raksasa, kepada orang Israel untuk berduel satu lawan satu, one-to-one combat, untuk menyelesaikan pertikaian antar dua bangsa. Namun bangsa Israel tidak mempunyai seorang pendekar yang bisa menyaingi Goliat. Tidak ada seorang tentara Israel pun yang bisa dicalonkan atau mau mencalonkan diri untuk menjadi lawan Goliat.
Jika anda sempat berkunjung ke Singapura atau Hong Kong, anda akan melihat adanya hal yang mencolok mata setiap hari Minggu. Ribuan pembantu rumah tangga membanjiri taman-taman dan pusat perbelanjaan di kota dan berpiknik disana. Memang hari minggu adalah hari dimana mereka memperoleh kesempatan untuk berlibur setelah bekerja enam hari. Adalah keharusan untuk mereka yang mempunyai pembantu agar memperbolehkan pembantu mereka untuk keluar rumah pada hari Minggu untuk menikmati hari itu.
Kemarin malam saya sempat menonton konser musik yang penyanyinya sangat populer di tahun 70an. Ratusan orang memenuhi gedung konser di Toowoomba dan mereka semua terlihat gembira menikmati lagu-lagu yang sempat ngetop 45 tahun yang lalu. Sayapun merasa sepertinya jam sudah diputar balik sehingga apa yang terjadi di masa lalu seolah muncul kembali di alam pikiran saya. Nostalgia! Serasa hari kemarin saja, saya bisa membayangkan bagaimana lagu-lagu itu muncul baik di radio maupun TV; dan dengan itu pikiran pun melayang ke saat-saat indah di masa muda yang sudah lama lewat.
Istilah “check-up” sekarang ini sudah dikenal mayarakat di Australia. Mereka yang sadar akan pentingnya kesehatan, pergi ke dokter secara berkala untuk pemeriksaan kesehatan. Mereka yang sehat dan umurnya dibawah 35 tahun biasanya check-up tiap 2-3 tahun. Mereka yang berumur 35-45 tahun dan sehat serta tidak punya resiko kesehatan, dianjurkan check-up dua tahun sekali. Untuk yang berumur diatas 45, pemeriksaan kesehatan sesuai dengan standar medis, harus dilakukan setidaknya setahun sekali. Walaupun check-up normal biasanya bebas biaya, masih banyak orang yang tidak mengacuhkan pentingnya pemeriksaan kesehatan ini. Mungkin karena merasa sehat atau sekedar malas, orang sering menunda-nunda. Karena itu seringkali orang dikejutkan oleh munculnya penyakit atau masalah kesehatan secara “tiba-tiba”.