“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Perjumpaan dengan seorang teman yang sudah lama tidak pernah berjumpa adalah perjumpaan yang seringkali sangat menyenangkan. Betapa tidak? Masa lalu yang dilewati bersama, entah itu di kampung halaman, sekolah, kantor, atau di mana saja, seolah kembali muncul di pikiran mereka yang kemudian bertemu lagi. Sekalipun usia sudah meningkat dan wajah serta bentuk tubuh berubah, adalah masa lalu yang membuat satu dengan yang lain merasakan adanya ikatan persahabatan. Apalagi jika selama tahun-tahun yang silam mereka tetap membina persahabatan itu lewat surat, email, sms dan sebagainya, hubungan persahabatan itu bisa tetap terpelihara dengan kuat karena mereka tetap saling mengenal pribadi masing-masing sekalipun mereka terpisah oleh jarak ribuan kilometer.
Kerinduan orang untuk menjumpai teman lama dan kegembiraan yang kita alami ketika melihat teman yang lama tidak kita jumpai terkadang bisa menimbulkan hal yang agak memalukan, mengecewakan atau kurang menyenangkan. Ada kalanya seorang mengira bahwa orang yang dijumpainya di mall adalah teman sekolah di masa muda, hanya untuk kemudian dikecewakan karena setelah sejenak bertukar informasi, ternyata orang itu bukan temannya. Rupanya mirip betul, tapi orangnya lain! Sebaliknya pernah juga terjadi bahwa seseorang bertemu dengan orang yang mengaku bahwa ia adalah teman sewaktu kecil, tetapi setelah omong-omong terbukti bahwa orang itu hanya berpura-pura dan punya maksud yang jelek. Selain itu, ada juga kemungkinan bahwa perjumpaan dengan teman lama menjadi sesuatu yang kurang menyenangkan karena kedua pihak sudah berubah menjadi pribadi-pribadi yang sangat berbeda setelah selang waktu yang panjang.
Memang kita tahu bahwa seseorang adalah teman lama kita karena kita kenal orangnya dan karena adanya pengalaman hidup bersama sebelumnya. Sekalipun tahun-tahun sudah berlalu dan keadaan sudah berubah, hubungan masa lalu membuka kesempatan untuk pertemuan antar teman lama. Tetapi hubungan yang ada selama kita berpisah adalah kunci kelanggengan hubungan kita di masa depan. Tanpa hubungan yang terus berlangsung, kita mungkin ingat namanya dan tahu siapa dia, tetapi belum tentu kita tahu apakah kita tetap sehati sepikiran seperti dulu. Teman baik waktu kecil belum tentu bisa menjadi teman, apalagi teman yang cocok, di masa mendatang.
Ayat di atas menggambarkan kisah persahabatan kita dengan Tuhan. Sebagai orang Kristen kita mungkin ingat saat kita mulai berkenalan dengan Yesus, dan menerima Dia sebagai Juruselamat kita. Mungkin itu sepuluh, dua puluh atau bahkan lima puluh tahun yang silam. Barangkali kita masih ingat janji kita kepadaNya: We are friends forever! Kita adalah teman sejati selamanya! Waktu itu seolah kita bisa melihat Dia muka dengan muka, kita merasakan kehadiranNya. Tahun demi tahun berlalu, kita menjalani hidup kita di dunia dan jarak yang begitu jauh memisahkan kita dari Yesus yang di surga. Apakah kita tetap berteman baik dengan Dia?
Banyak orang Kristen berpendapat bahwa perjumpaan kita dengan Yesus di masa lalu dan janji kita dulu untuk bersahabat denganNya sampai mati, adalah cukup untuk menjamin bahwa Ia akan mengenali kita dan menerima kita di surga sebagai teman lamaNya. Percaya saja sudah cukup, kata orang. Tetapi ini tidak benar, karena iblis pun percaya bahwa Yesus adalah Tuhan (Yakobus 2: 19). Kenal akan namaNya, tahu tentang Dia, dan tidak memusuhiNya bukan berarti bersahabat dengan Dia. Bukan berarti percaya kepadaNya. Persahabatan yang benar dengan Tuhan adalah dengan terus berkomunikasi denganNya, menjalankan perintahNya, hidup baik sesuai dengan kehendakNya dan beriman teguh sampai kita bertemu lagi dengan Dia di surga.
Pagi ini marilah kita meneliti hidup kita. Masih adakah kerinduan kita untuk bertemu dengan Yesus, Sahabat kita yang setia? Apakah kita benar-benar tetap kenal, beriman kepadaNya? Apakah kita yakin bahwa Yesus akan mengenali kita sebagai sahabatNya ketika kita ketemu lagi muka dengan muka? Ataukah hidup kita sudah berubah sedemikian rupa sehingga kita hanya bisa mengaku sebagai sahabatNya sekalipun kita tidak lagi mengenal Dia? Marilah kita tetap mau mempertahankan dan memperkuat persahabatan kita dengan Yesus selama kita hidup di dunia!
Dalam hidup ini kita selalu mengalami berbagai peristiwa yang mengharuskan kita untuk mengambil keputusan. Dalam hal ini, biasanya pilihan kita hanya dua: berbuat sesuatu (do something) atau tidak berbuat apa-apa (do nothing). Namun ada orang yang berpendapat bahwa sekalipun kita tidak berbuat apa-apa, itupun adalah tindakan yang sudah kita pilih dan perbuat. Memang, berdiam diri, tidak berbuat atau berkata apa-apa, bisa merupakan tindakan yang tepat dalam hal-hal tertentu, sebelum menemukan jalan yang lebih baik.
Satu pemandangan yang menarik di Indonesia adalah adanya kios-kios bensin eceran pinggir jalan yang masih sering dijumpai, terutama di jalan-jalan pedesaan. Karena jarangnya pompa bensin resmi di daerah itu, penjual bensin liar pun bermunculan. Mereka yang menjual bensin sedemikian sebenarnya melawan hukum karena tidak memenuhi persyaratan keamanan penyimpanan dan kemurnian produk. Walaupun demikian, masyarakat dan petugas hukum tidak melarang mereka berjualan bensin.
Seingat saya, sewaktu anak-anak saya masih di sekolah dasar, pertanyaan mereka yang paling sulit dijawab adalah “mengapa”. Setiap kali pertanyaan mereka dijawab, pertanyaan “mengapa” yang baru akan muncul, sehingga saya harus terus mencari jawabannya. Pada akhirnya, mereka akan diam setelah saya menjawabnya dengan kata “sebab” tanpa menerangkan sebabnya. Pertanyaan-pertanyaan yang dimulai dengan “why?” biasanya berakhir dengan satu jawaban saja: “because”. Titik. Mereka berhenti bertanya karena mereka tahu bahwa saya tidak bersedia menjawabnya atau jawabannya terlalu sulit untuk mereka mengerti.

Siapakah yang tidak pernah merasa capai? Semua orang tentu pernah, dan bahkan tiap hari harus tidur beristirahat untuk menghilangkan rasa capai. Walaupun demikian, jenis dan tingkat kecapaian orang tentunya berbeda-beda. Ada yang capai pikirannya, ada yang capai tubuhnya. Ada yang capai matanya, ada pula yang mulutnya, atau kakinya; dan di zaman internet ini mungkin juga banyak orang yang capai jarinya.
Satu hal yang kurang disukai orang adalah membicarakan soal mati dan kematian. Padahal itu adalah bagian dari siklus kehidupan manusia, baik mereka yang masih muda maupun yang sudah berumur. Adalah kenyataan bahwa manusia tidak bisa menghindari kematian; semua manusia yang lahir, akhirnya mati. Sebagian orang bisa melihat saatnya mendatangi, tetapi ada juga yang mengalaminya secara tidak terduga.
Soal guyon atau bergurau adalah hal yang jarang dibahas dalam Alkitab dan juga jarang dibicarakan di gereja. Sungguh mengherankan bahwa walaupun bergurau adalah hal yang lumrah dalam hidup sehari-hari dan bahkan makin populer dengan adanya internet dan sosmed, masyarakat sering menerima dan membuat guyonan atau gurauan tanpa memikirkan makna, guna dan akibatnya. Karena itu, sering kita melihat bahwa sesuatu yang dianggap guyon, yang dianggap lucu atau “kocak”, akhirnya mengakibatkan hal yang tidak diharapkan, yang mengocak atau mengacau pikiran dan hati orang. Di lain pihak ada hal-hal penting yang seharusnya mendapat tanggapan yang serius, kemudian diabaikan karena dianggap sebagai lelucon atau guyonan saja.
Sekitar tahun 1970-an, lagu “Burung dalam sangkar” menjadi lagu dangdut yang sangat populer di Indonesia. Lagu yang dinyanyikan oleh Emilia Contessa ini sebenarnya lagu ciptaan musisi legendaris Melayu di era 50-an yang bernama Ahmad Wan Yet. Syairnya berisi rasa kasihan kepada burung yang tidak bisa melepaskan diri dari derita kungkungan sangkar. Memang burung yang dipelihara manusia dalam sangkar tidak berdaya untuk merubah keadaan hidupnya.