Kapan kita ketemu lagi?

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Perjumpaan dengan seorang teman yang sudah lama tidak pernah berjumpa adalah perjumpaan yang seringkali sangat menyenangkan. Betapa tidak? Masa lalu yang dilewati bersama, entah itu di kampung halaman, sekolah, kantor, atau di mana saja, seolah kembali muncul di pikiran mereka yang kemudian bertemu lagi. Sekalipun usia sudah meningkat dan wajah serta bentuk tubuh berubah, adalah masa lalu yang membuat satu dengan yang lain merasakan adanya ikatan persahabatan. Apalagi jika selama tahun-tahun yang silam mereka tetap membina persahabatan itu lewat surat, email, sms dan sebagainya, hubungan persahabatan itu bisa tetap terpelihara dengan kuat karena mereka tetap saling mengenal pribadi masing-masing sekalipun mereka terpisah oleh jarak ribuan kilometer.

Kerinduan orang untuk menjumpai teman lama dan kegembiraan yang kita alami ketika melihat teman yang lama tidak kita jumpai terkadang bisa menimbulkan hal yang agak memalukan, mengecewakan atau kurang menyenangkan. Ada kalanya seorang mengira bahwa orang yang dijumpainya di mall adalah teman sekolah di masa muda, hanya untuk kemudian dikecewakan karena setelah sejenak bertukar informasi, ternyata orang itu bukan temannya. Rupanya mirip betul, tapi orangnya lain! Sebaliknya pernah juga terjadi bahwa seseorang bertemu dengan orang yang mengaku bahwa ia adalah teman sewaktu kecil, tetapi setelah omong-omong terbukti bahwa orang itu hanya berpura-pura dan punya maksud yang jelek. Selain itu, ada juga kemungkinan bahwa perjumpaan dengan teman lama menjadi sesuatu yang kurang menyenangkan karena kedua pihak sudah berubah menjadi pribadi-pribadi yang sangat berbeda setelah selang waktu yang panjang.

Memang kita tahu bahwa seseorang adalah teman lama kita karena kita kenal orangnya dan karena adanya pengalaman hidup bersama sebelumnya. Sekalipun tahun-tahun sudah berlalu dan keadaan sudah berubah, hubungan masa lalu membuka kesempatan untuk pertemuan antar teman lama. Tetapi hubungan yang ada selama kita berpisah adalah kunci kelanggengan hubungan kita di masa depan. Tanpa hubungan yang terus berlangsung, kita mungkin ingat namanya dan tahu siapa dia, tetapi belum tentu kita tahu apakah kita tetap sehati sepikiran seperti dulu. Teman baik waktu kecil belum tentu bisa menjadi teman, apalagi teman yang cocok, di masa mendatang.

Ayat di atas menggambarkan kisah persahabatan kita dengan Tuhan. Sebagai orang Kristen kita mungkin ingat saat kita mulai berkenalan dengan Yesus, dan menerima Dia sebagai Juruselamat kita. Mungkin itu sepuluh, dua puluh atau bahkan lima puluh tahun yang silam. Barangkali kita masih ingat janji kita kepadaNya: We are friends forever! Kita adalah teman sejati selamanya! Waktu itu seolah kita bisa melihat Dia muka dengan muka, kita merasakan kehadiranNya. Tahun demi tahun berlalu, kita menjalani hidup kita di dunia dan jarak yang begitu jauh memisahkan kita dari Yesus yang di surga. Apakah kita tetap berteman baik dengan Dia?

Banyak orang Kristen berpendapat bahwa perjumpaan kita dengan Yesus di masa lalu dan janji kita dulu untuk bersahabat denganNya sampai mati, adalah cukup untuk menjamin bahwa Ia akan mengenali kita dan menerima kita di surga sebagai teman lamaNya. Percaya saja sudah cukup, kata orang. Tetapi ini tidak benar, karena iblis pun percaya bahwa Yesus adalah Tuhan (Yakobus 2: 19). Kenal akan namaNya, tahu tentang Dia, dan tidak memusuhiNya bukan berarti bersahabat dengan Dia. Bukan berarti percaya kepadaNya. Persahabatan yang benar dengan Tuhan adalah dengan terus berkomunikasi denganNya, menjalankan perintahNya, hidup baik sesuai dengan kehendakNya dan beriman teguh sampai kita bertemu lagi dengan Dia di surga.

Pagi ini marilah kita meneliti hidup kita. Masih adakah kerinduan kita untuk bertemu dengan Yesus, Sahabat kita yang setia? Apakah kita benar-benar tetap kenal, beriman kepadaNya? Apakah kita yakin bahwa Yesus akan mengenali kita sebagai sahabatNya ketika kita ketemu lagi muka dengan muka? Ataukah hidup kita sudah berubah sedemikian rupa sehingga kita hanya bisa mengaku sebagai sahabatNya sekalipun kita tidak lagi mengenal Dia? Marilah kita tetap mau mempertahankan dan memperkuat persahabatan kita dengan Yesus selama kita hidup di dunia!

Kapan diam, kapan pula bicara?

“Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.” Kisah 4: 20

Dalam hidup ini kita selalu mengalami berbagai peristiwa yang mengharuskan kita untuk mengambil keputusan. Dalam hal ini, biasanya pilihan kita hanya dua: berbuat sesuatu (do something) atau tidak berbuat apa-apa (do nothing). Namun ada orang yang berpendapat bahwa sekalipun kita tidak berbuat apa-apa, itupun adalah tindakan yang sudah kita pilih dan perbuat. Memang, berdiam diri, tidak berbuat atau berkata apa-apa, bisa merupakan tindakan yang tepat dalam hal-hal tertentu, sebelum menemukan jalan yang lebih baik.

Silence is golden, begitulah peribahasa mengatakan bahwa berdiam diri adalah sebuah tindakan yang bijaksana, daripada salah omong. Peribahasa ini dipakai untuk membenarkan seseorang dalam tidak mengambil tindakan atau menyuarakan pendapatnya. Sayang sekali banyak orang yang menggunakan prinsip ini dengan tujuan yang salah, yaitu untuk melindungi dirinya sendiri dari konsekuensi yang mungkin ada jika ia menyuarakan pendapatnya. Prinsip ini sering dipakai oleh orang yang tidak bisa atau tidak mau mengambil tindakan. Prinsip ini jugalah yang sering menyebabkan terjadinya hal-hal yang menyedihkan dalam rumah tangga dimana pelecehan anggota keluarga terjadi secara tersembunyi karena tidak ada orang yang berani bersuara.

Sejarah memang membuktikan bahwa ada banyak orang yang dipermalukan, mengalami kecaman, penistaan, hukuman, penderitaan, dan bahkan penyiksaan karena mereka “salah omong”. Sejarah gereja pun penuh dengan kejadian-kejadian tragis yang disebabkan karena adanya orang-orang yang melakukan tindakan atau menyuarakan pendapat yang dianggap keliru oleh orang lain. Tetapi kita tahu bahwa Tuhan Yesus pun mati di kayu salib karena Ia mengaku bahwa diriNya adalah Anak Allah.

Sesudah Yesus naik ke surga, murid-muridNya memenuhi amanah agung (Matius 28:18-20) untuk mengabarkan Injil kepada semua bangsa. Dengan penyertaan Roh Kudus mereka menjadi berani dan mempunyai semangat yang berapi-api, menghadapi masyarakat dan pemerintah di mana pun guna memberitakan kebenaran Kristus. Karena itu kita sekarang dapat melihat begitu banyak orang dan pemerintah yang mengenal prinsip-prinsip keKristenan baik dalam hukum maupun etika sehari-hari.

Sebagai orang Kristen, kita semua juga memperoleh panggilan yang sama untuk menjadi garam dan terang dunia.

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.” Matius 5: 13-14

Karena itu kita harus bisa menunjukkan sifat, sikap dan perbuatan keKristenan kita agar orang lain bisa melihatnya dan mengenal Allah kita. Dengan demikian, “do nothing” adalah sesuatu yang seharusnya dihindari oleh orang Kristen. Kita justru harus mempunyai “passion”, semangat, dan “compassion”, rasa sehati, dalam menghadapi kejanggalan, kemiringan, kesenjangan, dan ketidakadilan apapun dalam hidup bermasyarakat dan bernegara; dan dalam mencari penyelesaiannya. Ini bukan saja dalam soal hukum dan ekonomi, tetapi juga dalam hal budaya dan hidup sehari-hari, baik kecil maupun besar.

Pagi ini kita belajar untuk mengerti akan tanggung jawab kita selaku pengikut Yesus. Dalam hal ini kita harus sadar bahwa tidak semua orang mempunyai kemampuan dan kesempatan yang sama. Umat Kristen adalah individu-individu yang berbeda yang mempunyai karunia-karunia yang berlainan sekalipun Roh Kudus yang sama ada dan bekerja dalam hidup setiap orang percaya. Setiap orang mempunyai talenta yang berbeda dan karena itu ada yang terpanggil untuk berbicara atau bertindak dalam lingkungan dan situasi tertentu, tetapi ada juga yang terpanggil untuk berdiam diri, mendukung dan mendoakan yang lain. Biarlah Roh sendiri yang membimbing kita dalam mengambil tindakan dalam hidup kita!

“Jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.” Roma 12: 8

Kehabisan bensin?

“Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya”. Yesaya 40: 29

Satu pemandangan yang menarik di Indonesia adalah adanya kios-kios bensin eceran pinggir jalan yang masih sering dijumpai, terutama di jalan-jalan pedesaan. Karena jarangnya pompa bensin resmi di daerah itu, penjual bensin liar pun bermunculan. Mereka yang menjual bensin sedemikian sebenarnya melawan hukum karena tidak memenuhi persyaratan keamanan penyimpanan dan kemurnian produk. Walaupun demikian, masyarakat dan petugas hukum tidak melarang mereka berjualan bensin.

Mengapa orang mau membeli bensin di kios liar sekalipun tahu bahwa kualitasnya meragukan? Mengapa orang mau membeli bensin di tempat yang mengabaikan resiko kebakaran? Jawabnya mungkin ada dua: terpaksa atau mau gampangnya. Memang bagi pengendara motor yang kehabisan bensin, adanya kios liar itu sangat bermanfaat. Jika tidak ada, mereka mungkin harus berjalan jauh sambil menuntun motornya untuk mencari bensin. Juga, penduduk desa yang hanya mengendarai motor di sekitar desa mereka, agaknya segan untuk pergi jauh sekedar untuk membeli bensin dari penjual resmi.

Cara hidup kita mungkin juga mirip seperti pengendara motor itu. Seringkali kita dalam menghadapi perjuangan hidup merasa bahwa kita “kehabisan bensin”. Dengan kesulitan yang ada, serasa tubuh dan pikiran kita menjadi lelah dan kurang mampu untuk bekerja. Sumber tenaga jasmani dan rohani agaknya sudah hilang, dan mesin kehidupan kita menjadi tersendat- sendat jalannya.

Seperti pengendara motor itu, sebenarnya kita tidak perlu kehabisan bensin jika kita tahu berapa banyak bensin yang masih ada dan dimana kita bisa menemukan penjual bensin resmi. Jika dalam perjalanan hidup kita mawas diri dan mempersiapkan diri kita dengan baik, kemungkinan untuk kehabisan semangat di tengah jalan akan bisa diperkecil. Tahu akan batas kemampuan kita dan tahu dari mana kita dapat memperoleh pertolongan adalah sangat penting dalam hidup ini.

Kemalasan dan ketidak-acuhan adalah faktor lain yang membuat kita untuk mengambil cara yang termudah guna mendapatkan tenaga tambahan untuk menghadapi tantangan hidup. Seperti mereka yang tidak mempedulikan kualitas bensin yang mereka beli, banyak orang yang sekedar memilih jalan pintas untuk membeli tambahan gairah hidup baik berupa makanan, pakaian, uang, obat-obatan, kenikmatan, olahraga, kesibukan keluarga dan bahkan kegiatan gereja sebagai sumber semangat alternatif. Mereka tidak sadar bahwa apa yang tidak murni, yang oplosan, justru dapat menghancurkan mesin kehidupan mereka.

Ayat diatas mengatakan bahwa Tuhanlah yang bisa memberi kekuatan kepada mereka yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Hanya Tuhan yang tahu apa yang benar-benar kita butuhkan dalam hidup kita. Hanya Dia yang bisa memberi apa yang benar-benar berguna untuk menguatkan jasmani dan rohani kita. Dialah yang sanggup memberi kebijaksanaan agar kita bisa mengatur hidup kita dengan baik dan menjalaninya dengan ketabahan dan rasa cukup dalam setiap keadaan. Biarlah kita mau menjumpai Dia setiap saat untuk memperoleh kekuatan dan penghiburan yang murni!

“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” Yesaya 41: 10

Mengapa tanya mengapa?

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55:8-9

Seingat saya, sewaktu anak-anak saya masih di sekolah dasar, pertanyaan mereka yang paling sulit dijawab adalah “mengapa”. Setiap kali pertanyaan mereka dijawab, pertanyaan “mengapa” yang baru akan muncul, sehingga saya harus terus mencari jawabannya. Pada akhirnya, mereka akan diam setelah saya menjawabnya dengan kata “sebab” tanpa menerangkan sebabnya. Pertanyaan-pertanyaan yang dimulai dengan “why?” biasanya berakhir dengan satu jawaban saja: “because”. Titik. Mereka berhenti bertanya karena mereka tahu bahwa saya tidak bersedia menjawabnya atau jawabannya terlalu sulit untuk mereka mengerti.

Seperti itulah juga, dalam hidup ini orang sering bertanya kepada Tuhan, mengapa suatu hal terjadi. Biasanya, orang bertanya sedemikian jika ada hal yang kurang baik yang terjadi dalam hidup mereka atau orang-orang terdekat. Mungkin jarang orang yang mempertanyakan mengapa sesuatu yang baik bisa terjadi atas diri mereka.

Ada beberapa hal yang menyebabkan manusia mempertanyakan mengapa sesuatu terjadi diluar dugaan mereka. Antara lain,

  1. Manusia merasa bahwa semua hal harus bisa dijelaskan dengan akal budi.
  2. Orang sering merasa bahwa apa yang terjadi tidak sesuai dengan hukum keadilan.
  3. Manusia sering bertanya mengapa hal yang jelek terjadi dalam hidup orang yang baik.
  4. Orang sering kuatir apa yang akan terjadi di masa depan dengan munculnya suatu hal yang kurang baik.
  5. Orang merasa tidak berdaya karena hal-hal buruk yang datang silih berganti.
  6. Manusia sering merasa terpukul karena seolah tidak ada yang bisa menolong mereka.
  7. Banyak yang merasa bahwa persoalan yang mereka hadapi adalah sangat berat, lebih dari sepantasnya.

Pada akhirnya, pertanyaan semacam diatas akan membawa manusia dalam kegundahan dan kepahitan, karena mereka akan merasakan bahwa mereka adalah mahluk yang kecil, yang tidak berdaya.

Sebagian yang percaya kepada suatu kuasa ilahi yang mengatur alam semesta, bisa jatuh dalam pandangan fatalisme, bahwa manusia adalah semata-mata bulan-bulanan Tuhan yang otoriter, yang tidak bisa dibantah. Keputusan Tuhan tidak bisa dipertanyakan dan Ia berbuat sesuatu hanya untuk kenikmatanNya sendiri.

Bagi mereka yang tidak percaya akan adanya kuasa Ilahi, hidup manusia adalah seperti bagian ilmu statistik dengan percobaan acaknya. Seperti apa yang terjadi jika sebuah dadu dilemparkan keatas sebuah meja, nasib baik atau buruk akan terjadi secara random. Lebih dari itu, statistik juga mengajarkan bahwa apa saja yang sudah lama berada dalam keadaan baik, lebih cenderung untuk berubah menjadi buruk. A twist of fate, perubahan nasib bisa terjadi seperti naik turunnya sebuah kurva.

Apa yang ditulis dalam ayat di atas memang menunjukkan bahwa Tuhanlah yang memiliki semua rencana dan rancangan untuk manusia dan alam semesta. Jelas bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi dalam hidup kita yang hanya karena faktor kebetulan atau acak. Lebih dari itu, dengan kepandaian kita, kita tetap tidak dapat mengerti atau meramalkan apa yang akan terjadi dalam hidup ini. Jika demikian, bolehkan kita bertanya mengapa sesuatu harus terjadi dalam hidup kita? Tentu saja boleh! Hanya saja, kita harus bisa menerima dengan hati yang lapang bahwa Tuhan akan selalu menjawab kita dengan jawaban yang sama: Sebab semua hal, baik dan buruk, akan menjadi kebaikan untuk semua umat Tuhan.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Kita harus menjadi orang kaya

“Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini.” 2 Korintus 8: 7

Kekayaan adalah sesuatu yang diidamkan banyak orang, baik tua maupun muda. Orang yang belum kaya berusaha untuk menjadi kaya, sedangkan mereka yang kaya ingin lebih kaya. Mereka yang belajar ingin bisa mendapat pekerjaan yang enak setelah lulus, mereka yang punya pekerjaan ingin mendapat gaji yang lebih besar, mereka yang memiliki bisnis ingin memperoleh profit yang lebih besar.

Walaupun demikian, kata “orang kaya” bisa mempunyai arti yang berlainan. Mungkin bisa diartikan sebagai orang yang sukses, makmur, berkelimpahan, dermawan, berprestasi, terkenal, dan berpengaruh. Tetapi bisa saja dipakai sebagai sindiran untuk orang yang sombong, tamak, egois, ataupun koruptor. Memang Alkitab mengatakan bahwa Tuhan mengaruniai umatNya dengan berbagai berkat, tetapi juga memperingatkan bahwa mereka yang hanya memikirkan kekayaan bisa jatuh kedalam berbagai dosa.

Jika kata “kaya” bisa mempunyai arti yang baik atau buruk, dalam ayat diatas kata ini dipakai untuk menyatakan apa yang baik. Paulus menulis kepada jemaat di Korintus bahwa mereka “memiliki banyak” atau “unggul” dalam hal segala sesuatu, baik dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasih mereka terhadap Paulus dan rasul-rasul lainnya. Paulus senang bahwa mereka sudah kaya dalam hal-hal itu, tetapi mendorong mereka untuk lebih bisa dan bahkan unggul dalam membagikan kasih mereka kepada banyak orang.

Jika kita pergi ke gereja pada hari Minggu, mungkin kita akan mendengar kotbah yang mengingatkan bahwa Tuhan yang Mahakasih adalah Tuhan yang memberikan berbagai berkat kepada umatNya. Berkat itu mungkin berupa kesuksesan hidup, kekayaan, kesehatan, kebahagiaan. Tuhan pasti memberikan apa yang baik, jika sesuai dengan kehendakNya.

Tuhan juga memberkati umatNya dengan iman, dalam kemampuan untuk menyampaikan FirmanNya, dalam kemampuan untuk memuji Dia melalui puji-pujian, dalam pengetahuan dan pengertian yang mendalam akan ajaran dan rencanaNya, dan dalam kesungguhan untuk aktif dalam kegiatan gerejani. Setiap orang mempunyai talenta yang berbeda tetapi setiap orang bisa menjadi kaya dalam melayani Tuhan dan sesama.

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai anak-anak Tuhan, kita sudah dikaruniai berbagai berkat dalam hidup kita. Kita tidak boleh mengartikan kekayaan sebagai sesuatu yang bersifat materi atau jasmani saja, sebab Tuhan memberikan berkat-berkat lain yang jauh lebih berharga. Karena itu, hendaklah kita memohon kekayaan yang lebih utama yaitu kemampuan untuk mengerti dan menjalani hidup kita sesuai dengan FirmanNya dan kesanggupan untuk mengasihi Tuhan dan sesama kita dengan sepenuhnya.

“Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.” 2 Korintus 9: 8

Kunci kesehatan

Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu.” Amsal 3: 1-2

Tidak dapat disangkal bahwa kesehatan adalah hal yang paling diutamakan oleh kebanyakan manusia di zaman ini. Dengan majunya pendidikan dan ekonomi, manusia menyadari bahwa mereka dapat berusaha untuk memelihara kesehatan mereka dengan berbagai cara seperti makanan sehat, olahraga, gaya hidup sehat, lingkungan sehat, menghindari stress dan sebagainya. Berbagai brosur, buku, situs internet dan juga hoax bermunculan tiap hari, yang semuanya mengajarkan banyak trik untuk menjaga kesehatan, mengobati penyakit dan cara hidup sehat. Walaupun demikian, banyak orang yang belum tahu bahwa Alkitab adalah sebuah buku yang juga mengajarkan hal kesehatan menurut Firman Tuhan.

Alkitab mengatakan bahwa hidup manusia dan kesehatan adalah pemberian Tuhan. Sesuai dengan kitab Kejadian, kita harus sadar bahwa hidup manusia terjadi semata-mata oleh kasih Tuhan. Tuhan sangat mengasihi dan menghargai manusia dan memberikan apa yang diciptakanNya di alam semesta untuk dikelola dan dinikmati manusia. Karena itu, kita juga harus menghargai hidup dan kesehatan kita karena itu sebenarnya milik Tuhan.

Dalam Alkitab kita juga bisa menyadari bahwa mereka yang percaya kepada Tuhan menerima Roh Kudus yaitu Roh Allah. Roh tinggal dalam tubuh kita selama kita masih di dunia. Karena itu, tubuh kita adalah rumah Tuhan yang harus kita pelihara dan hormati. Kesehatan tubuh tidak boleh diabaikan karena menelantarkan tubuh berarti merusak bait Allah.

Alkitab juga menulis bahwa tiap orang dikaruniai dengan kemampuan, keadaan dan berkat-berkat yang berbeda, sesuai dengan rancangan dan kehendak Tuhan. Karena itu, semua orang mempunyai wajah, penampilan, dan juga faktor genetik yang berbeda. Di dunia yang fana ini berbagai penyakit ada, dan itu bersama faktor lingkungan akan bisa mempengaruhi kesehatan kita sesuai dengan apa yang kita punyai. Namun, hal itu bukanlah alasan untuk kita menyesali keadaan dan membenci Tuhan karena tiap orang harus menerima keadaan masing-masing, memelihara dan mengembangkannya untuk kemuliaan Tuhan.

Apapun yang kita lakukan dalam hidup kita bisa mempengaruhi kesehatan kita. Hidup sehat, diet, olahraga dan berbagai kegiatan lainnya bisa meningkatkan kesehatan kita. Tetapi, jika kita tidak berhati-hati, kita bisa diperhamba oleh semuanya. Hidup kita harus dipakai untuk memuliakan Tuhan dan bukan ilah-ilah lain yang tidak dapat menambah umur kita satu haripun.

Manusia sering dalam kelemahannya, berusaha mengingkari kodrat Ilahi dengan menutupi masalah kesehatan dan proses penuaan yang ada. Berbagai perawatan tubuh, kosmetik maupun medis, sekarang sangat populer, sekedar untuk menipu penglihatan manusia. Selain itu, penampilan pakaian dan gaya hidup mungkin diusahakan sebagian orang untuk mengecoh pengaruh umur. Tetapi Tuhan melihat hati dan bukan tampak luar kita.

Alkitab menulis bahwa manusia diciptakan dari debu dan kemudian Allah meniupkan nafas kehidupanNya, yang membuat manusia bisa hidup sebagai peta dan teladanNya. Sayang, karena dosa semua manusia harus kembali menjadi debu pada akhirnya. Walaupun demikian, mereka yang percaya kepada Yesus akan diselamatkan dan roh mereka akan pergi ke surga. Karena itu, walaupun kesehatan jasmani adalah penting dan berguna untuk hidup di dunia, Tuhan lebih menekankan jiwa kita yang harus kita pelihara sesuai dengan firmanNya.

Pagi ini, marilah kita kembali kepada prinsip-prinsip kesehatan menurut Alkitab. Penulis Amsal mengajak kita untuk tidak melupakan ajaran Tuhan, dan mau memelihara perintahNya agar kita bisa memperoleh kesehatan jasmani dan rohani selama hidup di dunia.

“Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.” Amsal 3: 7-8

Aduh..capai!

“Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat.” 2 Korintus 11: 27-28

Siapakah yang tidak pernah merasa capai? Semua orang tentu pernah, dan bahkan tiap hari harus tidur beristirahat untuk menghilangkan rasa capai. Walaupun demikian, jenis dan tingkat kecapaian orang tentunya berbeda-beda. Ada yang capai pikirannya, ada yang capai tubuhnya. Ada yang capai matanya, ada pula yang mulutnya, atau kakinya; dan di zaman internet ini mungkin juga banyak orang yang capai jarinya.

Penyebab rasa capai juga beraneka ragam. Di usia muda, mungkin rasa capai disebabkan karena terlalu sering begadang atau kelayapan. Sesudah berkeluarga mungkin rasa capai disebabkan oleh kesibukan rumah tangga. Mereka yang bekerja sering juga merasa capai karena tugas kewajiban, entah itu dalam berpikir, membuat sesuatu, atau menemui klien dan blusukan ke lapangan. Yang sudah mulai uzur pun sering capai karena faktor usia dan juga karena tetap adanya tugas kehidupan.

Rasul Paulus dalam ayat-ayat diatas menulis kepada jemaat di Korintus bahwa ia juga sering merasa capai, kurang tidur dan bahkan kelaparan dalam tugasnya memelihara semua jemaat-jemaat. Itulah kelelahan yang disebabkan oleh dedikasinya kepada pekerjaan untuk memuliakan Tuhan. Karena ia mengasihi jemaatnya, Paulus mau bekerja keras membanting tulang untuk menolong mereka yang dalam kesulitan.

Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah? Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita?” 2 Korintus 11: 29

Berbeda dengan zaman Paulus, di zaman ini orang Kristen lebih individualis dan karena itu syudah lumrah kalau mereka lebih sering merasa capai karena “urusan dalam negeri”. Mungkin mereka yang di desa masih punya rasa dedikasi tinggi kepada gereja dan masyarakat, tetapi mereka yang di kota besar biasanya terlalu sibuk dengan kehidupannya sehingga jarang yang merasa terpanggil untuk bekerja di luar kesibukannya sendiri, Dengan demikian, mereka yang sibuk dan menyibukkan diri umumnya merasa capai hanya karena apa yang dikerjakan bertujuan untuk memuliakan diri sendiri, kepentingan pribadi, kenikmatan diri sendiri, pelarian dari kenyataan, pemuasan hawa nafsu, kecanduan, kesepian dan lain-lain.

Pagi ini, jika kita sering merasa capai dalam hidup kita, kita harus bisa melihat apa yang kita prioritaskan dalam hidup ini. Banyak orang yang tidak bisa tidur, merasa capai terus-terusan, sakit-sakitan, tertekan, bingung dan bahkan berubah pikiran karena kesibukan yang lebih dari seperlunya. Karena itu, sebagai orang Kristen, kita harus selalu memohon Roh Kudus untuk memberi kita kebijaksanaan agar bisa melihat apa yang perlu dan baik untuk dikerjakan dan membuang obsesi yang tidak berguna.

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. 1 Korintus 10: 23

Setiap manusia memang mempunyai batas kekuatan dan karena itu adalah normal jika kita merasa capai baik secara badani maupun rohani. Namun, seperti Rasul Paulus, kecapaian badani karena pekerjaan yang berguna untuk Tuhan dan sesama akan bisa cepat terobati, karena secara rohani kita akan memperoleh tambahan kekuatan. Biarlah kita bisa bertambah bijak hari demi hari sehingga kita bisa mempunyai hidup baik yang sehat dan seimbang serta bisa mengatur prioritas hidup kita!

Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku. 2 Korintus 11:30

Bersiaplah seperti Yesus

“Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya.” Matius 27: 50

Satu hal yang kurang disukai orang adalah membicarakan soal mati dan kematian. Padahal itu adalah bagian dari siklus kehidupan manusia, baik mereka yang masih muda maupun yang sudah berumur. Adalah kenyataan bahwa manusia tidak bisa menghindari kematian; semua manusia yang lahir, akhirnya mati. Sebagian orang bisa melihat saatnya mendatangi, tetapi ada juga yang mengalaminya secara tidak terduga.

Pada akhirnya, semua orang sama posisinya, dari debu akan kembali menjadi debu. Walaupun demikian, mengapa orang begitu segan dan bahkan takut untuk memikirkan kematian? Mengapa orang lebih suka membicarakan hal-hal yang lain, sekalipun hal-hal yang tidak berguna atau bermakna, daripada soal kematian? Mengapa orang mau mempersiapkan diri untuk karir, bisnis, perjalanan, keluarga dan sebagainya, tetapi jarang mau memikirkan persiapan akhir hidup selagi masih bisa?

Dalam hidupNya, Yesus sejak mulanya sudah menyadari bahwa Ia akan mengalami kematian di kayu salib. Bahkan dari kitab Taurat yang dibacaNya, Ia mengerti tentang apa yang sudah direncanakan Allah Bapa, dan tentang kabar baik yang sudah disampaikan Allah kepada manusia. Karena itu, Ia mempersiapkan dan menjalani hidupNya untuk menggenapi keputusan Allah agar bisa menyelamatkan manusia. Pada akhir hidupNya, Yesus menyerahkan nyawaNya dengan jeritan “Sudahlah genap”. TugasNya sudah direncanakan dan diselesaikan dengan baik. Tetelestai, lunas, harga tebusan sudah dibayar penuh.

Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. Yohanes 19: 30

Jika Yesus bisa menghadapi perjuangan hidupNya dan bahkan kematian dengan kemantapan dan keberanian, itu bukanlah sekedar “sandiwara” Tuhan. Adalah keliru kalau kita membayangkan bahwa hidup dan kematianNya mudah dijalani karena Yesus itu Anak Allah. Yesus hidup, bekerja, berjuang dan mati sebagai manusia seperti kita juga. Jika demikian, mengapa Yesus begitu tegar kendati menghadapi penderitaan dan kematian? Dapatkah kita meniru Yesus untuk mempersiapkan diri kita guna menghadapi hal yang serupa?

  1. Yesus tahu bahwa Ia hidup di dunia dengan tujuan tertentu. Ia mengerti bahwa hidup di dunia adalah singkat tetapi harus dijalani dengan baik sampai selesai. Yesus mengajarkan bahwa hidup manusia adalah untuk kemuliaan Allah Bapa dan kebaikan umat manusia.
  2. Yesus mengerti bahwa Allah Bapa berkuasa atas segala sesuatu. Ialah yang mempunyai rencana agung untuk seluruh umat manusia dan berkuasa atas seisi alam semesta. Yesus menyerahkan seluruh hidupNya kepada kehendak Allah Bapa.
  3. Yesus sadar bahwa umur manusia ditentukan Tuhan. Yesus sendiri dalam hidupNya pasti pernah menyaksikan bagaimana orang-orang disekitarnya mengalami sakit dan kematian. Ia bahkan menyembuhkan orang sakit dan membangkitkan orang mati. Yesus membuktikan bahwa Tuhanlah yang berkuasa atas hidup dan mati manusia.
  4. Yesus tahu bahwa Ia akan menderita sebelum mati disalibkan. Tetapi Ia tahu bahwa kematianNya adalah untuk memenuhi rencana Allah Bapa dan Allah Bapa selalu ada bersamaNya. Ia mengajarkan bahwa apapun yang terjadi, Allah Bapa tetap menyertai kita.
  5. Yesus tahu bahwa kematian bukan berarti kekalahan, tetapi justru membawa kemenangan. Mati bukan akhir tetapi permulaan hidup dengan kemuliaan. Yesus sudah naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Yesus mengatakan bahwa pada saatnya, kita akan bersama Dia di rumah Bapa.

Pagi ini kita diingatkan bahwa seperti Yesus, kita harus bisa sepenuhnya mempersiapkan diri untuk masa depan. Kita harus bisa menggunakan hidup kita sekarang ini untuk hal-hal yang berguna untuk Tuhan dan manusia. Kita harus mempercayakan hidup kita kepada rencana Tuhan yang berkuasa atas segalanya. Apapun yang terjadi di masa lalu, sekarang, atau di masa depan, seharusnya kita serahkan kepadaNya. Kita bisa melakukan hal-hal ini dengan keyakinan bahwa masa depan kita sudah terjamin karena pengurbanan Kristus di kayu salib.

Ojo guyon ah!

“Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” Amsal 18: 21

Soal guyon atau bergurau adalah hal yang jarang dibahas dalam Alkitab dan juga jarang dibicarakan di gereja. Sungguh mengherankan bahwa walaupun bergurau adalah hal yang lumrah dalam hidup sehari-hari dan bahkan makin populer dengan adanya internet dan sosmed, masyarakat sering menerima dan membuat guyonan atau gurauan tanpa memikirkan makna, guna dan akibatnya. Karena itu, sering kita melihat bahwa sesuatu yang dianggap guyon, yang dianggap lucu atau “kocak”, akhirnya mengakibatkan hal yang tidak diharapkan, yang mengocak atau mengacau pikiran dan hati orang. Di lain pihak ada hal-hal penting yang seharusnya mendapat tanggapan yang serius, kemudian diabaikan karena dianggap sebagai lelucon atau guyonan saja.

Adalah lumrah bahwa manusia Kristen seperti manusia lainnya, juga senang bergurau baik secara lisan maupun melalui media sosial. Alkitab tidak melarang manusia bergurau, asal saja guyonan itu pada tempatnya, dan tidak mengandung hal-hal yang menyakiti, menipu, memperbodoh atau merendahkan orang lain. Dalam kita bergurau, kita juga harus berhati-hati untuk tidak menyebabkan orang lain mempunyai pandangan negatif tentang diri kita atau menjadikan kita sebagai batu sontohan untuk orang lain. Sering, karena salah pilih “lelucon” kita harus menerima akibatnya. Memang ayat diatas berkata bahwa hidup dan mati kita dikuasai lidah – kita yang suka menggemakannya, akan memakan buahnya.

Walaupun ada kesan bahwa Tuhan bukanlah Oknum yang murung, Tuhan dalam Alkitab tidak pernah bergurau atau memberikan Firman yang berupa lelucon. Sebagai Tuhan, Ia meminta manusia ciptaanNya untuk menghormati Dia dan menghampiri Dia dengan rasa khusyuk.  FirmanNya adalah benar dan akurat, yang berisi hal-hal yang penting untuk manusia, bukan lelucon atau kabar angin. Sebaliknya, guyonan manusia biasanya berisi sesuatu yang tidak benar-benar terjadi, tidak akurat dan biasanya tidak ada gunanya selain bisa membuat orang tertawa geli. Ini adalah kontras antara pendekatan Tuhan dan pendekatan manusia duniawi. Kontras antara Sang Pencipta dan yang diciptakan.

Karena makin gemarnya manusia akan acara guyonan dan komedi, seringkali manusia menanggapi apa yang difirmankan Tuhan dengan kurang serius dan bahkan ada yang menganggap bahwa apa yang difirmankan Tuhan itu lelucon yang tidak lucu atau basi. Selain itu, ada juga orang yang sering memakai nama Tuhan dan firmanNya sebagai bahan lelucon dan dengan itu merendahkan namaNya. Mereka mungkin menganggap Tuhan sudah tua dan kurang bisa mengikuti perkembangan zaman. Terhadap manusia yang sedemikian Tuhan justru mentertawakan kebodohan mereka. Bagi Tuhan, manusia yang sedemikian adalah pelawak-pelawak konyol yang sia-sia perbuatannya.

“Tetapi Engkau, TUHAN, menertawakan mereka, Engkau mengolok-olok segala bangsa.” Mazmur 59: 8

Pagi ini marilah kita mengintrospeksi hidup kita, melihat apakah kita benar-benar memancarkan kebahagiaan dalam Tuhan didalam kita bergaul dan bergurau di tengah masyarakat. Kita harus sadar bahwa sebagai orang Kristen kita adalah wakil-wakil Tuhan di dunia. Sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita adalah orang yang berbahagia; yang bisa membagikan kebahagiaan kita untuk orang di sekitar kita. Tetapi, dalam kita bergaul dan bergurau, biarlah dunia bisa melihat bahwa hidup dalam Tuhan bukanlah sekedar lelucon saja!

Jadilah burung rajawali

“Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.” Yohanes 5: 39-40

Sekitar tahun 1970-an, lagu “Burung dalam sangkar” menjadi lagu dangdut yang sangat populer di Indonesia. Lagu yang dinyanyikan oleh Emilia Contessa ini sebenarnya lagu ciptaan musisi legendaris Melayu di era 50-an yang bernama Ahmad Wan Yet. Syairnya berisi rasa kasihan kepada burung yang tidak bisa melepaskan diri dari derita kungkungan sangkar. Memang burung yang dipelihara manusia dalam sangkar tidak berdaya untuk merubah keadaan hidupnya.

Lain burung, lain manusia. Pernahkah anda memikirkan bagaimana seorang anak bisa menjadi orang dewasa yang sopan dan jujur, sedangkan anak yang lain menjadi orang dewasa yang kejam dan tidak jujur? Akibat pendidikan orang tua? Akibat lingkungan hidup? Akibat teman pergaulan? Ataukah karena nasib? Mungkinkah karena sudah dikehendaki Tuhan? Mungkinkah karena manusia hidup bagai burung dalam sangkar?

Manusia diciptakan oleh Tuhan bukan sebagai burung atau hewan yang lain. Manusia diciptakan Tuhan sebagai peta dan teladan Allah dan karena itu, berbeda dengan mahluk yang lain, ia bisa dan harus mengambil keputusan dalam hidup. Perintah Allah kepada manusia untuk menguasai bumi dan isinya (Kejadian 1: 28-29), menunjuk kepada keharusan bagi manusia untuk mengatur hidupnya. Tiap orang bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Dalam keadaan apapun, apa yang terjadi dalam hidup manusia biasanya bergantung kepada reaksinya terhadap keadaan di sekelilingnya. Manusia menjadi oknum yang baik atau buruk biasanya karena pilihannya sendiri. Manusia seharusnya hidup bagai burung rajawali yang bebas, bukan bagai burung kutilang dalam sangkar.

Firman Tuhan diatas mengatakan bahwa Ia sudah menyatakan diriNya melalui Alkitab, dan hukumNya juga bisa dibaca dan dipelajari. Walaupun demikian, tidak semua orang mau menerima kabar baik tentang keselamatan dan menjalankan perintah Tuhan dalam hidupnya. Setiap orang mempunyai kesempatan dan bisa mengambil keputusan, tetapi tidak semua orang mau menggunakan kesempatan untuk datang kepada Tuhan dan menjadi manusia baru didalam Yesus.

Jelas bahwa sekalipun Tuhan selalu mengambil inisiatif, hidup kita masih juga bergantung kepada keputusan yang kita ambil. Mungkin kita selama ini belum mau mengambil keputusan sendiri untuk menjadi manusia baru dalam Tuhan.

Mungkin selama ini kita mengikuti keputusan atau pendapat orang di sekitar kita. Mungkin kita masih mempertanyakan apakah eksistensi kita memang sudah final dan tidak bisa diubah. Pagi ini kita harus sadar bahwa kita bertanggung jawab atas reaksi dan keputusan kita dalam hidup ini.

Dalam hidup kita dihadapkan kepada berbagai pilihan. Life is a series of choices. Maukah kita hidup merdeka seperti burung rajawali yang bisa terbang tinggi?

“Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” Yesaya 40: 31