“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” 1 Tesalonika 5: 18
Kemarin pagi, dalam kebaktian gereja, lagu “As long as you are glorified” dinyanyikan. Dalam bahasa Indonesia, judul lagu ini bisa diterjemahkan sebagai “Asal Engkau (Tuhan) dipermuliakan”. Sebagian syairnya berbunyi;
Shall I take from Your hand Your blessings, yet not welcome any pain?
Bolehkah aku mengambil dari tanganMu berkat-berkat, tetapi menolak hak-hal yang menyakitkan?
Shall I thank You for days of sunshine, yet grumble in days of rain?
Bolehkah aku bersyukur kepadaMu untuk hari-hari yang cerah, tetapi bersungut-sungut untuk hari-hari hujan?
Memang dalam hidup ini selalu ada saja hal-hal yang kurang menyenangkan, yang muncul pada saat yang kurang tepat, yang membuat kita berpikir “hidup akan lebih enak seandainya itu tidak ada”. Tetapi lagu diatas menyatakan bahwa kita harus menerima semuanya dan tetap bisa memuliakan Tuhan. Sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan.
Mengapa Tuhan menciptakan hal-hal yang indah dan juga membiarkan munculnya hal-hal yang kurang bisa dinikmati? Banyak orang yang menghubungkan ini dengan kejatuhan manusia kedalam dosa. Dosa seolah membuat segala sesuatu yang tidak baik muncul di dunia, baik itu berupa keadaan, benda mati maupun mahluk hidup. Benarkah begitu?
Memang menurut Alkitab, sebagian hal-hal yang terlihat kurang baik terjadi karena manusia jatuh dalam dosa dan kemudian diusir dari taman Eden. Tetapi segala sesuatu yang diciptakan Tuhan, baik benda mati maupun mahluk hidup, selalu mempunyai fungsi dan keindahan yang tersendiri. Demikian juga, sekalipun rasa sakit dan penderitaan adalah salah satu akibat kejatuhan dalam dosa, hal-hal semacam itu bisa membuat kita lebih berhati-hati dalam hidup dan lebih percaya akan pemeliharaan Tuhan.
“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Yakobus 1: 2-3
Sebagai manusia, menikmati apa yang sesuai dengan kebutuhan dan selera kita adalah sesuatu yang kita dambakan. Hidup ini serasa nikmat jika kita bisa mengatur segalanya dan mendapat hasil yang baik sesuai dengan harapan kita. Tetapi, kenyataan hidup menunjukkan bahwa apa yang sudah kita rencanakan dan harapkan belum tentu terjadi. Dan itu seharusnya membuat kita sadar bahwa kehendak Tuhanlah yang harus terjadi dan bukan kehendak kita.
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.” Yesaya 55: 8
Pagi ini Tuhan berfirman bahwa sekalipun hidup kita tidak berjalan sesuai dengan harapan kita, Tuhan tetap menyertai kita. Bagi setiap orang percaya, segala sesuatu terjadi dengan sepengetahuan dan ijin Tuhan. Lebih-lebih lagi, Yesus sudah turun ke dunia sebagai manusia untuk menebus dosa kita dan membawa kita keluar dari kematian yang disebabkan oleh dosa kita. Dengan demikian kita percaya bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita jatuh lagi kedalam dosa dan keputusasaan, karena Ia mengasihi semua anak-anakNya. Didalam kasihNya selalu ada pengharapan akan berkat dan penyertaanNya. Karena itulah kita harus dapat memuji dan memuliakan Dia dalam segala keadaan.
“Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya” Mazmur 103: 2
Dalam kitab Markus 4: 35-41 dikisahkan bahwa para murid bersama Yesus ada dalam sebuah perahu di danau Galilea. Apa yang kemudian terjadi sudah sering dibahas dalam berbagai renungan dan khotbah, yaitu tentang kelemahan manusia dan kemahakuasaan Tuhan. Walaupun demikian, thema ini selalu populer karena sangat aktuil dalam kehidupan manusia.
Sudah berpuluh tahun masyarakat Australia mengetahui adanya kasus kawin paksa diantara beberapa komunitas etnik tertentu. Dalam perkawinan semacam itu, biasanya gadis-gadis remaja (kadangkala anak lelaki) dipaksa untuk menikah dengan orang yang tidak dikenal mereka. Biasanya perkawinan semacam ini disebabkan oleh orang tua gadis yang bersangkutan, yang memaksa anaknya untuk menikah dengan orang yang jauh lebih tua dengan alasan keuangan, kehormatan, agama dan semacamnya. Banyak pernikahan semacam itu berakhir dengan masalah, karena tidak adanya cinta diantara suami dan istri. Selang berapa tahun, mereka bisa kenal satu dengan yang lain, tetapi tetap tidak bisa saling mencintai sebagaimana seharusnya. Perkawinan paksa bertentangan dengan hak asazi manusia dan prinsip kemerdekaan individu. Karena itu, pada tahun 2013, kawin paksa di Australia dimasukkan kedalam golongan kejahatan kriminal.
Banyak orang pernah mengalami masalah ketika menghadapi “orang yang sulit” yaitu orang yang tidak bisa diajak berunding, atau orang yang keras kepala, sombong, kasar, tidak tahu aturan, pemarah, pengomel atau cerewet. Pusing! Apalagi jika “orang yang sulit” bertemu dengan orang-orang yang serupa, suasana pasti menjadi bertambah keruh.
Teringat saya akan seseorang yang dari mudanya ingin mencapai prestasi yang tinggi. Dilahirkan dari sebuah keluarga yang serba sederhana, ia adalah seorang yang senang merencanakan segala sesuatu dengan sangat berhati-hati. Karena hidupnya yang serba teratur, pemuda ini berhasil mencapai prestasi yang sangat baik dalam sekolahnya dan juga selama di universitas. Ia seringkali mendapatkan angka ulangan dan ujian yang terbaik diantara murid yang ada. Sampai pada suatu saat, pada ujian akhir universitas, ia gagal untuk lulus hanya karena satu mata pelajaran. Mereka yang tidak berprestasi sebaik dia justru lulus. Hati pemuda ini hancur, semua kebanggaannya lenyap, dan kepercayaan kepada diri sendiri pun pudar.
Mengapa sebagai orang Kristen kita harus dengan aktif berbuat baik? Ini sering dipertanyakan orang, baik oleh orang Kristen maupun non-Kristen. Jika orang Kristen diselamatkan karena iman, apakah ada motivasi bagi mereka untuk melakukan hal baik dan berguna bagi sesama?
Sebagai mahluk sosial, manusia umumnya tahu bagaimana membuat orang lain senang. Salah satu diantara hal-hal yang bisa dilakukan untuk menggembirakan orang lain ialah memberi sebuah hadiah, entah itu berkenaan dengan ulang tahun, tahun baru atau perayaan lainnya. Dalam hal ini, adat saling memberi adalah umum. Seseorang tidak dapat mengharapkan untuk selalu diberi, tetapi ia harus juga siap memberi sebagai balasan dan rasa terima kasih.
Ingatkah anda akan lagu sekolah minggu yang sangat terkenal ini?