Untuk apa memberi?

 “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.”  1 Yohanes 4: 19

Beberapa hari yang lalu saya membaca semboyan menarik yang berbunyi: “You get what you give, whether it’s good or bad” yang berarti “Kamu akan mendapatkan sesuai dengan  apa yg kamu berikan, tak peduli apakah itu sesuatu yg baik atau yg buruk”. Semboyan yang kelihatannya masuk akal dalam soal memberi. 


Seperti bumerang, begitulah apa yang kita lontarkan akan kembali kepada kita. Jika kita berbuat baik kepada seseorang maka orang lain akan berbuat baik kepada kita, dan jika kita berbuat jahat kepada orang lain, kitapun akan dijahati orang lain. Untuk situasi tertentu, memang ini benar. Tetapi, karena keyakinan serupa ada orang yang berbuat baik dengan tujuan untuk mendapatkan balasan dalam bentuk hal yang baik – kalau mungkin dalam jumlah yang lebih besar, baik dari Tuhan maupun sesama. Pendorong perbuatan baik dalam hal ini mungkin bertalian dengan “takut adanya karma”  dan “kemungkinan mendapat laba”. 

Dalam kenyataan kehidupan manusia, perbuatan baik kita tidak selalu dibalas dengan hal yang baik. Yesus datang dengan maksud baik dan berbuat banyak kebaikan di dunia ini, tetapi Ia justru mengalami penderitaan di kayu salib. Banyak diantara pengikut Yesus juga mengalami hal yang serupa termasuk Petrus dan Paulus. Malahan sebagai pengikut Yesus kita diperingatkan bahwa kita akan mengalami penderitaan di dunia ini (2 Timotius 3: 12). Kalau begitu, apa yang bisa mendorong orang untuk berbuat baik atau memberi?

‎Sebenarnya, selain dua sebab diatas (takut karma dan mencari keuntungan), ada berbagai alasan lain yang mendorong orang untuk memberi atau berbuat kebaikan:

  • Syarat masuk surga: banyak orang yang berpendapat bahwa hanya orang  yang cukup baik yang bisa masuk ke surga. Karena itu berbuat kebaikan dan membagi sedekah adalah keharusan.
  • Kepuasan diri: sering orang memberi karena merasa adanya kepuasan tersendiri karena mereka merasa bisa memberi. Mereka bisa merasakan lebih beruntung dari orang lain.
  • Keinginan untuk dihargai: memberi sering merupakan cara untuk mendapat perhatian dan penghargaan dari masyarakat.
  • Kebiasaan bersosial: banyak orang yang sudah terbiasa dengan hidup bertetangga atau bermasyarakat merasa bahwa memberi adalah seperti adat atau kebiasaan.
  • Rasa kasihan: karena rasa kasihan atas keadaan orang lain, mungkin kita memberi walaupun sebenarnya pemberian itu mungkin tidak bermanfaat.
  • Tidak ada motif jelas: sering orang memberi tanpa tujuan yang pasti karena mereka tidak mau menghabiskan waktu memikirkan hal itu. 

Bagi orang Kristen, memberi adalah hal yang serius, yang memerlukan pengertian yang benar. Allah memberikan anaknya yang tunggal, Yesus Kristus, untuk mengganti dosa kita. Ini bukti kasih Allah yang mahabesar. Karena itu kasih seharusnya menjadi motif utama pemberian kita, dan bukan mencari kebaikan atau keuntungan untuk diri kita sendiri.

Penebusan Kristus jugalah yang harus menjadi pendorong kita untuk bersyukur kepada Allah dan menyatakan terima kasih kita dalam bentuk perbuatan baik kepada sesama kita. Jelas bahwa pemberian yang benar hanyalah pemberian yang didasari pengertian dan pengakuan akan kasih Allah melalui Yesus Kristus. 

Siapapun yang berbuat baik tanpa iman dalam Yesus sebenarnya tidak menyatakan rasa syukur kepada Allah sumber kehidupan manusia. Hanya persembahan yang disertai rasa syukur yang benar, yang menempatkan Allah sebagai tujuan pernyataan terima kasih kita, akan diterima Allah; seperti Ia menerima persembahan Habel (Kejadian 4: 4).

Memberi bukanlah hal yang mudah karena untuk memberi, kita  harus mengenal Tuhan. Untuk bisa memberi, kita harus mengakui bahwa segala sesuatu datangnya dari Tuhan. Untuk bisa memberi, kita harus mengakui bahwa Tuhan sudah lebih dulu memberikan kita karunia terbesar dalam Yesus. Karena itu, jika kita belum menerima Yesus sebagai juruselamat kita, semua pemberian dan perbuatan baik kita adalah bukan untuk kemuliaan Allah. 

Jelas, orang yang belum menerima keselamatan belum bisa memberi dengan benar. Apa gunanya kita memperoleh seisi dunia ini, dan dengan demikian mampu membaginya kepada seisi dunia, jika kita tidak mengenal Yesus?

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Matius 6: 26

Kacang ora ninggal lanjaran

“Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” Roma 5: 12

Ada pepatah Jawa yang berbunyi “ Kacang Ora Ninggal Lanjaran” yang arti literalnya adalah kacang panjang selalu tumbuh mengikuti arah turus bambu penyokongnya. Peribahasa ini diambil dari kenyataan bahwa kacang panjang tidak bisa tumbuh dan berbuah dengan baik tanpa turus tempatnya memanjat. Sebab, apabila dibiarkan saja, tumbuhnya akan merambat di tanah sehingga pembungaan dan pembuahannya kurang sempurna. 

Pepatah ini menunjukkan bahwa perilaku orang tua biasanya ditiru oleh anak-anaknya, dan karena itu haruslah orang tua berhati-hati agar selalu memberi warisan perilaku kepada anak-anak mereka yang bisa berguna bagi kehidupan masa depan mereka.

Faktor “nurun” dari orang tua ke anak ini tidak hanya dalam hal kemiripan perilaku, tetapi juga dalam segi biologis seperti sifat, kemampuan fisik dan kecerdasan, dan untuk itu seringkali orang menggunakan pepatah yang sama. Sudah barang tentu, kemiripan anak dengan orang tua itu tidak bisa 100%, karena adanya berbagai faktor-faktor lain yang mempengaruhinya.

Serupa tapi tak sama dengan pepatah diatas, dalam ayat Roma 5:12 dikatakan bahwa semua orang sudah berdosa karena kita mewarisi dosa dari awalnya, ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Jelas bahwa seperti mereka telah berdosa, semua manusia sudah berdosa dari lahir. Seperti Adam dan Hawa, kitapun cenderung untuk melenceng dari jalan yang dikehendaki Tuhan. Kacang ora ninggal lanjaran!

Pandangan Kristen tentang hakikat manusia yang berdosa dari lahirnya ini bertentangan dengan pendapat umum dalam masyarakat bahwa bayi yang dilahirkan tidak berdosa dan bahwa dosa adalah sesuatu yang didapat dari lingkungan. Dunia sering mengajarkan bahwa lingkungan yang baik menjauhkan manusia dari dosa dan bahkan banyak guru-guru dan motivator yang mengajarkan bahwa semua manusia pada hakikatnya baik. Jika manusia memilih turus lanjaran yang baik, ia akan tumbuh baik juga. Tetapi turus apa yang bisa mengubah manusia berdosa menjadi manusia yang sempurna?

Dengan dosa turunan itu sebagai “modal”, tiap-tiap orang selalu berbuat dosa tiap hari. Sekalipun orang kelihatannya baik dan selalu berbuat baik, tidak ada seorangpun yang sempurna di hadapan Tuhan. Dosa manusia selalu bertambah banyak dengan bertambahnya waktu. Hidup yang baik bagaimanapun jika tidak untuk kemuliaan Tuhan Sang Pencipta adalah dosa. Harapan apa yang kita punya untuk bisa menghilangkan dosa-dosa itu?

Karena dosa Adam dan Hawa, semua manusia tidak dapat lahir sebagai mahluk yang benar dan tidak berdosa. Karena semua manusia mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa, kita tidak bisa dengan kekuatan sendiri menghentikan dosa dan pengaruhnya dalam hidup kita, sekalipun kita ingin untuk berubah. Turus apapun yang ada di dunia, selalu membuat si kacang tumbuh ke arah yang salah!

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.”   Roma 7: 18

Kenyataan hidup yang sedemikian memang bisa membuat manusia kecewa. Ada yang kecewa bahwa orang Kristen masih juga sering terlihat hidup dalam dosa. Dan ada orang Kristen yang hidup dalam penyesalan karena sekalipun mereka berusaha keras untuk menghindari dosa, tetap saja mereka berbuat dosa setiap hari. Memang seperti kacang panjang yang tumbuh kearah yang ditentukan oleh turus penyokongnya, kita tidak bisa beganti arah kecuali turus penyokong hidup kita diganti dengan turus yang benar, yang bukan buatan manusia. Hanya melalui iman kepada Yesus, kita bisa mendapat pengampunan atas dosa-dosa kita dan memperoleh bimbingan Roh Kudus untuk bisa berubah dari hidup lama kita. 

Dengan digantinya turus lanjaran, si kacang bisa tumbuh kuat ke arah yang benar dan berbuat banyak sekalipun ia tetap kacang yang dasarnya adalah tumbuhan yang lemah. Ini adalah karunia Tuhan semata dan bukan pilihan manusia.  Kacang sendiri tidak dapat mengganti turus lanjaran, hanya petani yang bisa. Manusia hanya dapat dibenarkan dan bisa menuju kearah keselamatan karena inisiatif Allah Bapa, melalui pengurbanan darah Kristus.

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”  Yohanes 14: 6

Pagi ini, jika kita menyadari betapa lemahnya hidup kita, dan bagaimana kita cenderung untuk jatuh dalam dosa, marilah kita berdoa untuk bimbingan Tuhan. Agar Dia yang menopang kita, dan mengarahkan kita ke jalan yang benar. Walaupun kita lemah dan cenderung untuk tumbuh menyimpang dari arah turus penyokong kita, marilah kita mempercayakan hidup kita kepada Tuhan agar Ia tetap mengarahkan kita kembali untuk bertaut dengan Yesus juruselamat manusia!

Apakah Tuhan pembuat malapetaka?

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya.” Roma 11: 33

Suatu masalah yang sering diperbincangkan di kalangan umat Kristen adalah mengenai hal-hal yang jahat yang terjadi di muka bumi. Mengapa ada hal-hal yang buruk dan jahat? Mengapa ada penderitaan dan ketakutan? Mengapa ada malapetaka?

Memang dunia ini sudah jatuh dalam dosa dan tidaklah mengherankan bahwa ada saja kejadian-kejadian yang mengerikan di segala penjuru dunia. Tetapi, apakah Tuhan yang membuat semua itu? Jika Tuhan itu mahakuasa tetapi tidak menghentikan hal-hal yang jahat dan berbagai malapetaka, bukankan Ia juga bersalah? Mengapa Tuhan membiarkan banyak anak-anakNya menderita dan bahkan mati dalam kesengsaraan di dunia ini? Jika Tuhan itu mahakasih, bukankah Ia harus melindungi anak-anakNya setiap saat dan dalam semua keadaan? 

Kita mungkin tahu bahwa Tuhan membimbing umat Israel keluar dari tanah Mesir dan selama itu umat Israel menerima berbagai hukuman Tuhan dan bangsa-bangsa lain disekitarnya juga mengalami kejadian serupa. Jika itu untuk menggenapi rencana Tuhan untuk penyelamatan, apakah Tuhan tetap melakukan hal-hal yang serupa di jaman ini?

Pertanyaan-pertanyaan diatas adalah pertanyaan yang sulit dijawab dan tidak seorangpun yang tahu jawaban apa yang 100% benar. Roma 11: 33 diatas seharusnya dapat menyadarkan bahwa kita tidak mungkin bisa mengerti jalan pikiran dan rencana Tuhan sepenuhnya. Walaupun demikian, dengan mempelajari Firman, kita setidaknya akan mengerti beberapa pokok yang penting.

Memang di dunia yang penuh dosa ini, hidup manusia adalah berat dan penuh perjuangan. Alam semesta dengan semak duri dan berbagai bencana alam adalah bagian kehidupan manusia. Selain itu, karena manusia adalah mahluk yang lemah, ia juga sering membuat kesalahan dalam mengolah dan memelihara apa yang ada di bumi. Juga membuat kekeliruan dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Karena itu tidak mengherankan kalau ada berbagai bencana, perang dan kecelakaan di dunia. Umat percaya boleh bersandar kepada Tuhan untuk memberi bimbingan dan perlindungan, tetapi karena hidup seluruh manusia di dunia adalah seperti lalang dan gandum yang hidup dalam satu lahan, siapapun dapat mengalami bencana yang berbagai ragam bentuknya, terutama jika pimpinan dan masyarakat membuat kekeliruan kolektip yang besar.

Secara perseorangan, mereka yang mengalami bencana belum tentu lebih besar dosanya dari yang lain. Tapi untuk anak Tuhan, adanya bencana justru membuka kemungkinan adanya keajaiban Tuhan yang terjadi dalam hidup atau nurani mereka dan juga dalam hidup orang lain, serta memberi kesempatan bagi manusia untuk  bisa saling menolong agar nama Tuhan makin dipermuliakan.

Hidup orang percaya juga selalu dalam incaran iblis, yang ingin menghancurkannya. Ayub adalah contoh yang nyata bahwa hidup orang-orang Kristen mungkin mendapat serangan iblis sedemikan rupa sehingga iman mereka benar-benar mengalami ujian berat. Tetapi  bencana yang terjadi bukanlah berasal dari Tuhan, sekalipun itu terjadi dengan seijin Tuhan. Tuhan tahu kekuatan Ayub dan Ia tidak mebiarkan Ayub dicobai lebih dari kekuatannya. Kitapun harus yakin bahwa seperti Ayub, kita harus tetap teguh dalam iman untuk memenangkan pergulatan hidup seperti itu.

Pagi ini biarlah kita bisa meyakini bahwa Tuhan kita baik. Ia tidak mendatangkan atau membuat bencana untuk umat manusia. Ia mengasihi seluruh umat manusia dan bahkan mengurbankan anakNya untuk menebus dosa mereka yang percaya. Tuhan jugalah yang menggerakkan umatNya untuk bisa mengasihi mereka yang tertimpa bencana atau dalam kesusahan. 

“Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” 1 Yohanes 4: 16

Siapa sih yang tidur?

“Terjagalah! Mengapa Engkau tidur, ya Tuhan? Bangunlah! Janganlah membuang kami terus-menerus!” Mazmur 44: 23

Tidur adalah hal yang biasa karena semua orang pernah tidur dan malah harus tidur. Seperti makan dan minum, tidur adalah suatu hal yang mulanya diciptakan oleh Tuhan dan berguna untuk kesehatan dan pertumbuhan tubuh. Tidur juga dapat dipakai untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran. Dalam Alkitab, kita bisa membaca bahwa Tuhan Yesus juga tidur untuk melepaskan lelahnya.

Dengan kejatuhan dalam dosa, berbagai masalah timbul yang berhubungan dengan soal tidur. Karena hidup adalah penuh dengan pergulatan, orang harus tidur dalam kelelahannya. Orang yang kurang tidur akan tidak dapat berpikir dengan cerah dan mudah jatuh sakit. Orang yang mengalami persoalan sering sulit tidur. Dan orang yang menderita sering merasa bahwa Tuhan sedang tidur.

Untuk manusia, tidur ada berbagai ragam. Tidur bisa berarti saat istirahat baik tidur siang maupun tidur malam. Ada juga tidur-tiduran, tidur ayam dan tidur pulas. Tetapi tidur umumnya dikaitkan dengan berhentinya kegiatan dan kesadaran. Karena itu, didalam Alkitab tidur bisa juga dihubungkan dengan kemalasan dan ketidak- waspadaan (Markus 13: 35-36).

Tidur juga sering dihubungkan dengan ketidaksadaran rohani. Tidur bisa menjadi lambang keadaan hati yang berada dalam kesunyian seperti yang dialami Daud:

“Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya TUHAN, Allahku! Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati.” Mazmur 13: 3

Karena tidur adalah bagian kehidupan manusia, kita sering membayangkan bahwa Tuhan juga seperti itu. Mazmur 44: 23 adalah jeritan Daud yang seolah mencoba membangunkan Tuhan yang tertidur karena ia merasa Tuhan sudah mengabaikannya terlalu lama. 

Memang dalam beberapa agama lain, tuhan mereka digambarkan seperti manusia yang membutuhkan tidur atau senang tidur; jadi perlu ada ritual untuk membangunkan tuhan-tuhan mereka. Tetapi itu berbeda dengan Tuhan kita; Ia tidak pernah tidur, dan Ia malahan menjaga kita di setiap waktu, juga sewaktu kita dalam keadaan lelah dan lemah.

Jikalau engkau berbaring, engkau tidak akan terkejut, tetapi engkau akan berbaring dan tidur nyenyak. Amsal 3: 24

Pagi ini, jika kita bangun dan merasa bahwa tubuh kita masih lemah dan mata masih pula sangat mengantuk, mungkin kita ingin melanjutkan tidur kita. Mungkin saat ini kita rasakan Tuhan itu sangat jauh disana, dan Ia sedang tidur pulas. Karena itu, mungkin kita ingin tidur lama sekali, apalagi jika hidup ini terasa berat sekali. Tetapi kita harus sadar bahwa tidur hanyalah untuk manusia dan bukan Tuhan kita. Tuhan kita menjaga kita setiap saat, baik kita terjaga atau tidur. Kita hanya merasa Tuhan tidur ketika iman kita tertidur. Tetapi jika iman kita tidak tidur, kita akan dapat melihat bahwa Ia selalu menyertai kita.

“Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!” Mazmur 3: 5

Apa yang harus kulakukan untuk bisa diselamatkan?

Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Markus 10: 17


Pertanyaan diatas sering diajukan manusia dari segala bangsa dan jaman. Berbagai agama telah memberikan jawaban yang berbagai ragam. Ada yang mengajarkan agar manusia berbuat baik kepada sesama, ada juga yang menyuruh pengikutnya agar rajin melakukan ritual tertentu, menyiksa diri, bertapa, mempersembahkan sesuatu kepada tuhan mereka dll.

Jika dibandingkan dengan ajaran agama lain, ajaran Kristen sangat berbeda karena umat Kristen tidak perlu berbuat apa-apa untuk menerima keselamatan. Seringkali, keselamatan secara cuma-cuma ini menjadi bahan cemooh orang lain karena kelihatannya sangat mudah untuk mencapai surga. Sekalipun manusia hidup dalam dosa, seolah mudah sekali untuk mereka menjawab panggilan keselamatan Tuhan dengan sebuah kata “ya”. Tuhan orang Kristen seakan mudah mempercayai jawaban manusia.

Memang adalah kenyataan  bahwa orang agaknya gampang untuk menyebut dirinya Kristen karena kelihatannya tidak ada tuntutan untuk melakukan hal-hal khusus. Bukankah Yesus sudah berkata bahwa kita tidak lagi hidup dibawah hukum Taurat? Kita manusia merdeka! Sekali merdeka tetap merdeka! Tetapi betulkah itu? Betulkah bahwa keselamatan untuk orang Kristen itu diperoleh dengan harga murah?

Keselamatan buat umat Kristen memang tidak perlu dibayar dengan pengurbanan manusia. Tidak perlu bayar, tidak perlu bekerja untuk itu. Sekalipun kita miskin, sakit berat atau hampir mati, keselamatan masih bisa diperoleh; dimana saja, kapan saja. Tetapi itu dapat diperoleh karena harganya sudah dilunasi lewat pengurbanan Yesus di kayu salib. Karena keselamatan tidak terjangkau oleh manusia, satu-satunya jalan untuk menyelamatkan manusia adalah uluran tangan Tuhan sendiri yang memberikan karunia untuk semua manusia yang mau menerimanya.

Dalam ayat diatas, ada seorang kaya yang ingin mendapatkan keselamatan. Ia bertemu dengan Yesus dan bertanya apa yang harus dilakukannya. Pria kaya itu  sudah menjalankan hukum Taurat tetapi ia tidak yakin bahwa ia sudah diselamatkan. Apa lagi yang harus dilakukannya? Yesus menjawab bahwa ada satu hal lagi yang harus dilakukannya: menjual seluruh hartanya.

Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Markus 10: 21

Pria itu ternyata tidak sanggup untuk melakukannya karena hidupnya memang untuk hartanya. Seperti pria kaya ini, kitapun bisa saja membaktikan hidup kita untuk uang, orang lain, keluarga, hobby, makanan, pekerjaan, aktivitas sosial, kenikmatan badani, kegiatan gereja dll. Sebagian dari hal-hal ini nampaknya baik, tetapi jika bukan Tuhan yang dipermuliakan, semuanya akan menjauhkan diri kita dari Tuhan. Kegagalan pria kaya itu memang bukannya dalam hal menjual harta, tetapi dalam hal penyerahan hidup yang sepenuhnya kepada Yesus.

Apa yang tertulis dalam Markus 10: 17-27 mengingatkan kita bahwa menjadi pengikut Kristus yang sejati tidaklah semudah yang dibayangkan. Tidaklah semudah menjawab “ya” atas panggilan Tuhan. Jawaban semacam itu yang tidak pernah disertai dengan keluarnya buah-buah Roh (kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri) hanyalah membawa harapan kosong. Tanda-tanda pengikut Yesus yang benar selalu nampak dalam hal meninggalkan hidup lama dan munculnya hidup baru yang makin lama makin berbuah lebat.

Seperti pria kaya itu, kitapun mungkin sudah berusaha untuk hidup baik. Tetapi hidup baik tanpa penyerahan kepada Yesus bukanlah bukti keselamatan! Perbuatan baik yang kita lakukan seharusnya bermula dengan pengakuan kita akan kedaulatan Tuhan atas hidup kita. Itu tidak mudah. Penyerahan total kepada Tuhan itu tidak mungkin terjadi jika Tuhan sendiri tidak bekerja dalam diri kita. Tanpa uluran tangan Tuhan, lebih mudah untuk seekor unta untuk masuk dalam lubang jarum daripada untuk kita masuk ke surga.

Jadi, kalau keselamatan itu ternyata bukan melalui perbuatan baik dan perbuatan baik itu belum tentu merupakan tanda orang yang sudah diselamatkan, keselamatan untuk manusia ternyata tidak mudah didapat! Kalau begitu, apakah ada orang yang bisa selamat? Tidak ada, jika tanpa bimbingan Tuhan. Manusia tidak mungkin menemukan Tuhan dengan usaha sendiri , tetapi dalam Tuhan semua itu mungkin. Yesus berkata:

“Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.” Markus 20: 27

Pagi ini, jika ada diantara kita yang masih ragu-ragu akan keselamatan kita, biarlah kita berdoa memohon bimbingan Tuhan agar RohNya bekerja dalam hidup kita. Supaya setelah mengakui dosa-dosa kita, kita diberi kemampuan untuk menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Dia yang sudah membayar penebusan kita dengan harga tertinggi, Yesus Kristus. Dengan menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan, pastilah hidup kita akan berubah dan membuahkan berbagai hal yang baik. Lebih dari itu, orang lain yang melihat perubahan hidup kita pastilah akan ikut memuliakan nama Tuhan.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Apakah Tuhan itu adil?

“Sebab nama TUHAN akan kuserukan: Berilah hormat kepada Allah kita, Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia.”  Imamat 32: 3-4

Pertanyaan apakah Tuhan itu adil memang sering muncul dalam pikiran manusia karena adanya ketidak-adilan dan penderitaan dalam dunia ini. Untuk sebagian manusia, Tuhan itu, jika memang ada, adalah Tuhan yang tidak berkuasa, tidak peduli atau jahat. Mengapa begitu? 


Beberapa tahun yang silam, sebuah sekolah mengadakan reuni akbar. Yang diundang adalah para lulusan dari segala penjuru negara. Pesta reuni berjalan lancar dan semua undangan nampak gembira. Namun terlihat juga adanya perbedaan diantara hadirin. Semua dulunya adalah murid-murid yang lulus dengan ijazah yang serupa, namun setelah selang waktu puluhan tahun ternyata tiap orang mencapai tingkat kepuasan hidup yang berbeda-beda. Apakah Tuhan memberi berkatNya dengan “pilih kasih”? 

Dalam kisah jatuhnya manusia di taman Firdaus, Tuhan mengutuki tanah sehingga dengan bersusah payah manusia akan mencari rezeki dari tanah untuk seumur hidup (Kejadian 3: 17-19). Kenyataannya, penderitaan manusia di dunia tidaklah sama. Negara-negara tertentu rakyatnya hidup menderita bertahun-tahun karena peperangan, musim kemarau yang berkepanjangan, kegagalan ekonomi dsb. Di berbagai tempat anak-anak yang tidak bersalah mengalami sakit dan bahkan mati karena malnutrisi dan hal-hal jahat. Mungkin Tuhan itu tidak adil? Atau tidak peduli? Atau memang Ia Tuhan yang jahat, yang senang menyiksa manusia?

Untuk mereka yang percaya adanya Tuhan, hukuman dari Tuhan karena manusia jatuh dalam dosa sebenarnya menunjukkan bahwa Ia yang mahasuci itu “fair”; ada hukum, ada sanksinya.  Tetapi keadilan Tuhan dalam hal ini juga tidak mudah dimengerti manusia. Mengapa Tuhan tidak membiarkan manusia mati karena dosa mereka? Padahal itu adalah hukuman yang sudah ditentukan Tuhan sebelumnya (Kejadian 3: 3).  Tuhan justru mengirimkan tebusan termahal, yaitu Yesus Kristus – supaya siapa yang percaya tidak binasa. Kalau begitu, apakah Tuhan tidak benar-benar adil? Mungkinkah Ia bersifat temperamental? Seenaknya sendiri?

Ada orang yang mungkin berpendapat bahwa ketidak adilan Tuhan itu sudah jelas nampak ketika Ia memilih bangsa Israel sebagai bangsa pilihanNya. Tetapi, sebagai bangsa pilihan ternyata bangsa Israel tidak saja harus mengalami berbagai ujian dan kesukaran. Bangsa yang keras kepala itu jugalah yang akhirnya menjadi yang terbelakang dalam hal menerima keselamatan melalui  penebusan darah Kristus. Tuhan ternyata mempunyai rencana-rencana besar yang melibatkan respons manusia! Tuhan memang menjalankan rencanaNya diantara keadaan dunia dan kehidupan manusia. Ia yang mahakuasa tidak dapat dibatasi oleh manusia yang kecil.

Tuhan itu memang adil, tetapi itu sering tidak kita disadari karena kita tidak mengerti jalan pikiran dan rencanaNya. Kita sebagai manusia yang hidup dalam dunia yang penuh dosa ini, mungkin juga tidak dapat mengerti  bahwa sebagai Tuhan yang mahakuasa, Ia bebas memilih tindakan apa saja, tetapi sebagai Tuhan yang mahakasih Ia tetap mengasihi manusia.

Seperti tingginya langit dari bumi,  tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. Yesaya 55: 9

Dunia ini kacau karena dosa dan manusia menderita karena segala sesuatu menjadi seperti tanah yang tandus sehingga hanya dengan bersusah payah kita akan mencari rezeki sampai akhir hayat. Dunia ini tidak adil tetapi Tuhan mempunyai rancangan untuk menggunakannya dengan memberi kesempatan bagi manusia untuk bekerja-sama dan menolong mereka yang menderita.

Keadilan Tuhan tidak dapat dipisahkan dari rencanaNya. Dengan adanya ketidak adilan di dunia, kasih Tuhan dapat dipancarkan melalui umatNya. Tuhan tidak membuat semua manusia mengalami penderitaan dan kebahagiaan yang sama, tetapi Tuhan memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh umat manusia untuk memilih jalan yang benar, mendengar suaraNya dan hidup menurut perintahNya dalam semua keadaan.

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”  Matius 22: 37-39

Ingin seperti nabi?

Beginilah firman TUHAN semesta alam: “Janganlah dengarkan perkataan para nabi yang bernubuat kepada kamu! Mereka hanya memberi harapan yang sia-sia kepadamu, dan hanya mengungkapkan penglihatan rekaan hatinya sendiri, bukan apa yang datang dari mulut TUHAN”. Yeremia 23: 16

Menurut definisi umum, nabi adalah seorang manusia yang menerima wahyu Tuhan, dan wahyu yang dimaksud bisa berupa penglihatan maupun suara yang memang berasal dari Tuhan. Jabatan nabi ada dalam Alkitab perjanjian lama karena waktu itu umat Israel tidak dapat berkomunikasi langsung dengan Tuhan.

Orang sering tertarik untuk mendengar apa yang diwahyukan kepada nabi karena itu datang melalui suatu proses yang kelihatannya “supranatural” yakni fenomena spiritual tertentu. Dengan wahyu itu,  nabi-nabi bisa tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Kemampuan bernubuat inilah yang membuat manusia hingga sekarang memandang nabi sebagai orang yang istimewa, yang tinggi derajat rohaninya dalam berbagai agama. Karena itu bisa dimengerti kalau diantara umat Kristenpun ada orang yang ingin menjadi nabi dan ingin dipandang sebagai nabi.

Manusia memang dari dulu selalu ingin tahu akan segala sesuatu, ingin seperti Allah – dan itulah yang menyebabkan kejatuhan mereka. Dalam kitab Kejadian kita baca bahwa Adam dan Hawa jatuh dalam dosa karena mereka mau mendengar bujukan iblis yang meyakinkan mereka bahwa dengan memakan buah terlarang, mereka akan menjadi seperti Allah, yang mahatahu (Kejadian 3: 4-5). 

Bagi sebagian umat Kristen, kecenderungan mau tahu tentang apa yang akan terjadi di masa mendatang selalu mendorong mereka untuk memohon wahyu dari Tuhan. Memang Tuhan tetap mau membimbing anak-anakNya dan Ia bisa memberi petunjuk melalui berbagai cara. Walaupun demikian, banyak manusia yang akhirnya jatuh ke dalam dosa yang sama seperti yang dialami Adam dan Hawa. 

Mereka yang merasa bisa mendapat petunjuk langsung dari Tuhan sering merasa bahwa Tuhan sudah memberikan kemampuan seperti nabi. Mereka merasa tahu tentang apa yang akan terjadi di masa depan karena mereka adalah anak-anak Tuhan yang dikaruniai karunia istimewa. Mereka adalah orang-orang yang istimewa dan karena itu ada banyak orang yang takjub dan kemudian mengikut ajaran-ajaran mereka.

Mereka yang dianggap “nabi-nabi modern” ini yakin tahu apa yang menjadi rahasia Tuhan dan mengajarkan hal-hal itu kepada orang lain, seringkali berdasarkan pengalaman pribadi yang unik yang tidak Alkitabiah. Mereka sering juga mengajarkan bahwa pengalaman mereka adalah setara dengan firman Tuhan dalam Alkitab.

Sangat menarik bahwa iblis malahan tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan karena hanya Tuhan kitalah yang mahatahu. Iblis juga tidak tahu apa yang ada dalam hati  anak-anak Tuhan. Tuhan saja yang tahu apa yang sebenarnya ada dalam hati Ayub (Ayub 1: 11).  Iblis tidak tahu kapan dunia akan berakhir tapi dia akan mencoba menerka dan sebisa-bisanya akan membuat kekacauan. Jika sekiranya iblis percaya atas apa yang diberitakan nabi-nabi modern ini, pastilah iblis akan juga tahu banyak rahasia Allah.

Nabi-nabi palsu ternyata bukan ada di jaman sekarang saja. Yeremia 23: 16 diatas mengatakan bahwa dari dulu sudah ada orang-orang yang hanya memberi harapan yang sia-sia, yang hanya mengungkapkan rekaan hatinya sendiri, bukan apa yang datang dari mulut Tuhan. Mereka ini mengambil keuntungan karena adanya kelemahan manusia yang hakiki yaitu adanya keinginan untuk melihat apa yang akan terjadi di masa depan agar dapat menentukan nasibnya sendiri. Karena itulah banyaklah orang yang memuja nabi-nabi palsu ini. Banyak diantara mereka menjadi “superstar” yang tidak hanya  masjhur, tetapi juga kaya-raya!

Mungkin kita tidak pernah menjadi pengikut “nabi-nabi besar” dari jaman ini. Tetapi ada banyak orang Kristen yang terperangkap dalam ajaran orang lain yang menyebarkan pengalaman pribadi yang istimewa. Dalam hal ini, mungkin juga kita ikut menyebarkan berita-berita dan nasihat-nasihat yang tidak berdasarkan Alkitab itu dan dengan demikian sudah menjadi seperti nabi juga!

Hari ini, firman Tuhan datang sebagai peringatan yang tajam kepada semua umatnya. Yesus pernah mengingatkan bahwa kita harus berwaspada terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepada kita dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas (Matius 7: 15). Mungkin sebagian diantara kita tidak mudah percaya hal itu, tetapi Paulus mengatakan bahwa bukanlah suatu hal yang ganjil jika pelayan-pelayan iblis menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran (2 Korintus 11: 15). Untuk kita sendiri, memang mudah untuk menjadi seperti nabi, tetapu resikonya jelas terlalu besar!

Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7: 22-23

Buat apa sih?

“Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” 1 Korintus 9: 27

Buat apa sih? Pertanyaan ini sering keluar dari mulut atau pikiran kita jika kita diminta atau diajak untuk mengerjakan sesuatu yang mungkin kurang menarik untuk selera kita. Terkadang pertanyaan ini keluar karena kita melihat orang lain yang mengerjakan sesuatu yang nampaknya tidak ada gunanya. Sering juga percekcokan terjadi karena hal ini, antara suami dan istri, antara orang tua dan anak, dan juga antar teman atau kerabat. Karena perbedaan selera dan persepsi.


Dalam bidang olahraga, pertikaian antara atlit dan pelatih dan juga antar atlit sering terjadi karena ketidak-sesuaian pendapat mengenai teknik latihan, persiapan dan pertandingan yang akan diterapkan. Soal “buat apa” juga bertalian dengan disiplin dan kebutuhan. Mereka yang ragu untuk berbuat sesuatu bisa jadi disebabkan karena keengganan/ kemalasan atau kurangnya rasa penting.

Bagi seorang atlit, berlatih untuk mempertahankan dan meningkatkan prestasi adalah perlu. Setiap hari, berbagai bentuk latihan dijalankan sesuai dengan petunjuk pelatihnya. Sekalipun jadwal pertandingan belum pasti seorang atlit yang baik selalu berlatih dan mempersiapkan diri untuk menghadapi lawan yang manapun. Seringkali mereka membayangkan teknik apa yang harus mereka pakai jika mereka menghadapi lawan-lawan tertentu. Seorang atlit juga harus berdisplin dalam hidup terutama dalam hal makan dan istirahat.

Hidup kita sebagai umat percaya dapat disetarakan dengan hidup seorang atlit. Setelah kita menerima Yesus sebagai juruselamat kita, kita sudah masuk dalam tim Yesus. Kita tahu bahwa ada tim lain yang sangat kuat yaitu tim iblis yang terus berusaha mengalahkan tim kita. Tim iblis selalu memakai berbagai cara baik langsung maupun tidak langsung untuk membuat anggota tim Yesus untuk tidak siap dalam menghadapi pertandingan yang akan datang.

Cara pertama iblis untuk mengacaukan hidup orang Kristen adalah membiarkan mereka menikmati hidup mereka. Anggota tim Yesus yang diberkati dengan kekayaan, kesuksesan, kepercayaan pada diri sendiri dan kenyamanan hidup lainnya akan dibuai dengan bisikan yang membuat mereka tidak lagi mau  berlatih untuk memperkuat iman. Mereka yang terbuai akan lupa bahwa dalam hidup ini ada banyak pencobaan dan marabahaya. Biasanya, jika mereka diingatkan untuk berlatih dalam mempelajari Firman, mereka akan menjawab dengan kata “buat apa sih?”.

Cara lain untuk mengalahkan tim orang percaya adalah membuat mereka tidak mau mendengar apa yang dikatakan oleh pelatih kita, Roh Kudus. Komunikasi kita dengan Tuhan seringkali menjadi sangat jarang, mungkin karena kita sibuk dengan hal-hal lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan pertandingan kita yang mendatangi. Mungkin hal-hal lain itu kelihatannya baik dan penting, seperti acara kumpul-kumpul dan makan-makan dengan teman dan kerabat, acara kantor dan bahkan acara gereja. Tetapi kalau itu bukan latihan untuk menghadapi pertandingan, tubuh rohani kita tidak akan dikuatkan. Bahkan, tubuh jasmanipun bisa kurang terpelihara. Biasanya,  orang yang sibuk hidupnya seperti itu selalu punya alasan untuk menghindari keintiman dengan Tuhan dengan kata “buat apa bikin repot”.

Tim iblis juga pandai memainkan jadwal pertandingan. Iblis selalu mencari kesempatan dimana kita lengah untuk menyerang. Seringkali orang Kristen terbuai dengan kepercayaan diri yang besar, bahwa mereka adalah atlit terpilih yang sudah pasti selalu menang. Atlit yang lengah akan tidak siap jika tiba-tiba ada pertandingan. Pertandingan hidup sebenarnya bisa muncul sewaktu-waktu, tetapi orang Kristen yang “asal percaya” bukanlah atlit yang baik, yang bisa diharapkan menang dalam pergumulan hidup di dunia. Mereka itu sering menjawab panggilan untuk memperkuat iman dengan jawaban “buat apa sekarang”?

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai anak Tuhan, kita harus selalu siap untuk menghadapi semua tantangan hidup baik jasmani maupun rohani. Mungkin itu belum terlalu terasa saat ini, tetapi kita harus tetap mau berlatih dalam mempelajari Firman dan memperkuat iman kita setiap hari. Sebagai atlit yang baik kita harus bisa mengantisipasi pertandingan besar apapun yang akan terjadi di masa depan!

 “Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” Matius 24: 13

Reuni yukk….

“Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.” Wahyu 7: 9


Dimana-mana ada reuni. Disini reuni, disana reuni. Kemarin reuni, besok reuni. Memang sekarang ini lagi demam reuni di Indonesia. Dengan majunya berbagai aplikasi internet, orang makin bisa menemukan teman-teman lama yang sudah lama tidak dijumpai. Pertemuan lewat internet kemudian bisa berlanjut dengan kopdar, pertemuan di darat, mulai dengan reuni kecil, reuni besar, dan kemudian reuni akbar.

Reuni adalah kesempatan untuk bertemu, makan-makan, bertukar cerita, bernostalgia dan malah  juga untuk berbagi gosip. Bagi sebagian orang, reuni sangat menyenangkan karena adanya kesempatan untuk “show-off” atau pamer untuk pakaian, status dan bahasa; tetapi bagi yang lain, adanya reuni itu bisa merepotkan dan kurang menyenangkan. Memang pertemuan dengan orang yang disenangi, orang yang cocok dengan kita, adalah menyenangkan. Tetapi pertemuan dengan orang yang dulu kurang kita senangi, apalagi yang dulu kita benci, bisa merusak suasana sekalipun sudah lama tidak bertemu. Belum lagi kenangan pahit masa lalu, sewaktu kita berbuat hal-hal yang konyol, mungkin juga dijadikan bahan pembicaraan pada saat reuni. Karena hal-hal ini, sebagian orang mungkin menghindari acara reuni.

Ingatan akan masa lalu, terutama hal-hal yang kurang baik memang seringkali menghantui manusia. Manusia sering mengalami penderitaan dan bahkan depresi karena munculnya perasaan bersalah, rasa sedih atau perasaan kurang enak mengenai hal-hal yang terjadi pada masa yang silam. Buat orang beriman, satu-satunya hal yang bisa membesarkan hati kita ialah kenyataan bahwa Tuhan yang mahakuasa dan yang tidak bisa lupa, ternyata memilih untuk melupakan kelemahan kita:

“Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu.” Yesaya 43: 25

Jaminan bahwa Tuhan akan melupakan dosa dan kelemahan kita adalah suatu yang membuat orang Kristen tabah dan kuat dalam menghadapi masa depan. Jaminan ini tidak boleh dilupakan dan bahkan harus diingat-ingat untuk kita bisa memasuki masa depan dengan segala tantangan yang ada. Jika iblis mengingatkan kita akan masa lalu kita agar hidup kita di masa depan bisa diisi dengan kemurungan dan kesengsaraan, jaminan Tuhan inilah yang akan bisa menepis tuduhan-tuduhan iblis itu. Jika pikiran kita mudah melupakan berkat Tuhan hari ini, kita harus tetap ingat bahwa Tuhan dulu sudah memilih kita apa adanya untuk bisa bereuni bersama saudara-saudara seiman di surga dimasa depan.

Reuni di surga akan lain dengan reuni didunia. Kitab Wahyu diatas menjelaskan bahwa ini adalah reuni super akbar yang dihadiri oleh orang percaya yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa. Mereka yang diundang ke reuni ini akan berdiri di hadapan takhta Allah Bapa dan Yesus, semuanya memakai pakaian yang sama yaitu jubah putih, dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Mereka terlihat suci dan bahagia, memuliakan dan memuji kemuliaan Tuhan. Sekalipun mereka terdiri dari berbagai suku dan bangsa, mereka dapat berkomunikasi satu dengan yang lain. Sekalipun mereka dulunya tidak saling mengenal, mereka bisa bersatu dalam kasih karunia Tuhan.

Reuni yang kita alami di dunia ini, seharusnya mengingatkan bahwa pada saatnya kita akan menghadiri reuni di surga. Selagi kita masih bisa bereuni di dunia, kesempatan masih ada untuk kita mempersiapkan diri guna bereuni di rumah Bapa. Kesempatan masih ada juga untuk mengundang teman-teman yang belum sadar bahwa pada suatu saat kita semua akan bertemu dengan Sang Pencipta melalui penebusan darah Kristus.

Reuni dengan teman sekolah mungkin sangat menarik, tetapi reuni dengan teman seiman seharusnya jauh lebih menarik, sesuatu yang dirindukan setiap orang percaya. Dalam reuni dunia, pelan-pelan kita akan menyadari bahwa kemampuan manusia ada batasnya; ingatan mungkin berkurang, kesehatan mungkin menurun. Tetapi kesadaran tentang bakal adanya reuni di surga seharusnya makin membuat kita makin ingat akan kasih Tuhan dan makin dikuatkan dalam menghadapi apa yang masih harus kita perjuangkan dalam hidup ini. Kesadaran ini jugalah yang seharusnya mengubah hidup kita selama ada di dunia karena hidup kita bukannya milik kita, tetapi Kristus yang hidup didalamnya (Galatia 2: 20). Apapun yang pernah kita alami di dunia tidaklah menentukan apa yang akan kita alami setelah itu; hanya iman kepada Kristus yang memungkinkan kita untuk bereuni didepan Tuhan!

 

 

Adakah orang yang anda kagumi?

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.”  Roma 3: 23-24

Jika anda ditanya, siapakah tokoh dunia yang anda kagumi, apakah jawab anda? Mungkin ada yang menjawab Mother Theresa, Bung Karno, Mahatma Gandhi atau pemimpin besar lainnya. Mungkin juga pilihan anda adalah bintang film yang cantik atau tampan, atau businessman yang sukses dan kaya. 

Saya sendiri adalah pengagum John Fitzgerald Kennedy yang pernah menjadi presiden Amerika Serikat mulai tahun 1961 sampai saat dimana dia ditembak hingga tewas pada bulan November 1963. Entah kenapa saya kagum kepada dia, mungkin karena pidatonya yang sering dibumbui slogan-slogan bermutu. Dua kali saya mengunjungi taman pahlawan Arlington di Amerika dimana makamnya berada, dua kali juga saya melihat bahwa orang yang saya kagumi tidak berbeda dengan orang lain.

Hal orang yang dikagumi, pilihan kita pasti didasarkan satu atau beberapa hal yang merupakan keunggulan orang yang kita pilih. Dengan adanya hal yang istimewa itu, kita bisa melupakan hal-hal yang kurang baik yang mungkin ada dalam orang pilihan kita.

Dalam hidup kekristenan, mungkin saja kita kagum kepada tokoh-tokoh perjanjian lama seperti Abraham, Musa, Daud dll., atau tokoh-tokoh perjanjian baru seperti Maria, Petrus, Paulus dsb. Karena itu banyak orang yang memakai nama yang sama dengan nama orang yang dikaguminya.

Walaupun orang-orang diatas mempunyai hal-hal yang baik dan patut dikagumi atau ditiru, ayat Roma 3: 23-24 diatas jelas menyatakan bahwa tidak ada seorangpun yang cukup baik dihadapan Tuhan. Ini tidak berarti bahwa kita tidak boleh mengagumi seseorang, tetapi kekaguman kita itu tidak boleh membuat kita berpikir bahwa orang itu memenuhi standar kebaikan dan kesucian Tuhan. Kita tidak boleh mendewakan apapun dan siapapun sekalipun mereka dipanggil raja, nabi, rasul ataupun presiden.

Sejak jatuhnya Adam dan Hawa kedalam dosa, tidak ada siapapun yang bisa mencapai tingkat kebaikan yang diminta oleh Tuhan. Manusia sesudah kejatuhan pada hakekatnya adalah mahluk yang jahat, termasuk semua tokoh-tokoh di dunia yang dikagumi banyak orang. 

Bahwa manusia karena dosanya tidak dapat lagi mendekati Tuhan yang mahasuci, merupakan inti pengajaran Kristen yang sangat berbeda dengan agama-agama lain. Diluar agama Kristen, manusia berusaha untuk berbuat baik dengan berbagai cara untuk bisa mendapat keselamatan. Tetapi ini merupakan hal yang sia-sia menurut iman Kristen.

Di hari minggu ini kita diingatkan lagi untuk kesekian kalinya bahwa satu-satunya jalan bagi manusia untuk memenuhi standar Tuhan yang maha tinggi ialah melalui inisiatip Tuhan sendiri yang mau merendahkan diriNya dan menebus dosa manusia melalui darah anakNya, Yesus Kristus. Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan (Kisah 4: 12).


Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Yesus dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan (Filipi 2: 9-11). Mereka yang berusaha memperoleh keselamatan melalui ritual-ritual agama yang dipandang istimewa atau melalui perantaraan orang-orang “suci” yang dikagumi akan dikecewakan!

 “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”  Yohanes 14: 6