Yesus datang untuk mereka yang sadar akan dosanya

Kata Yesus kepadanya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Lukas 19: 9-10

Kisah tentang Zakheus si pemungut cukai adalah sebuah catatan perjumpaan Yesus dengan seorang yang ingin untuk bertobat. Kisah ini sangat terkenal, terutama di kalangan anak sekolah minggu yang mempunyai lagu khusus tentang Zakheus yang pendek tubuhnya.

Tuhan Yesus menggunakan “pemungut cukai” sebagai model bagi orang yang bertobat. Melalui perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai, kita melihat bahwa Dia menegur orang Farisi yang sombong atas kebenaran dirinya sendiri dan menerima kerendahan hati dan pertobatan pemungut cukai. Ia juga tidak segan-segan memilih pemungut cukai untuk masuk golongan kedua belas Rasul, yaitu Matius.

Kristus menganggap pintu pertobatan terbuka bagi semua orang. Ia datang untuk menawarkan keselamatan bagi siapa pun yang percaya kepada-Nya. Ketika pertanyaan diajukan kepada para murid mengapa guru mereka makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa, Yesus menjawab bahwa bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang yang sakit. Dia datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat (Lukas 5: 31-32).

Zakheus tampaknya telah mendengar tentang Yesus, ajaran dan mujizat-Nya, dan bahwa Yesus menerima pemungut cukai dan “makan dan minum bersama orang berdosa” (Lukas 5:30). Mungkin dari sinilah tumbuh kerinduannya untuk melihat Yesus, untuk mengetahui siapa Dia. Namun ada dua rintangan yang menghalangi pertemuan awalnya dengan Yesus.

Yang pertama adalah bahwa banyak orang tidak menyambut keberadaan orang yang “berdosa” di antara mereka, dan yang kedua adalah bahwa Zakheus bertubuh pendek, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara rohani. Namun, kendala tersebut tidak menghalanginya untuk melakukan tindakan yang dianggap kekanak-kanakan dan memalukan yang tidak sesuai dengan perilaku yang sesuai dengan statusnya sebagai “kepala pemungut cukai”.

Zakheus tidak peduli tentang apa yang akan dikatakan orang tentang dia, tentang kritik dan ejekan mereka. Dia hanya ingin melihat Yesus, yang memaksanya untuk memanjat pohon ara. Tetapi kita membaca bahwa sebelum dia melihat Yesus, Kristus telah melihat dia. Dengan cara yang sama, Tuhan selalu mau bertemu dengan kita, jika saja Dia melihat bahwa kita mau dan ingin bertemu dengan-Nya.

Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat Zakheus duduk di atas pohon ara dan berkata: ”Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu”. Kita mungkin heran: mengapa Yesus mau berkunjung ke rumah orang yang tidak dikenal-Nya? Tetapi tentu saja Yesus tahu siapakah Zakheus itu dan apa yang ada dalam hidupnya. Yesus bisa melihat bahwa Zakheus sungguh-sungguh ingin untuk menjalani kehidupan yang baik, tetapi tidak pernah berhasil dengan usahanya sendiri.

Pada titik ini, setelah diundang oleh Kristus untuk turun dari pohon, Zakheus bergegas turun dan sangat ingin menyambut Yesus ke rumahnya. Mengenai hal ini, bapa gereja Agustinus pernah berkata: “Tuhan, yang telah menyambut Zakheus di dalam hati-Nya, sekarang siap untuk disambut oleh Zakheus di rumahnya.” Yesus telah bertindak sebelum Zakheus dapat menyatakan isi hati dan keinginannya. Dan Zakheus menyambut tindakan Yesus dengan tangan terbuka.

Tidak ada tindakan dan usaha Zakheus yang sia-sia, karena Yesus memilih dia dari kerumunan besar yang mengelilingi-Nya, untuk memasuki rumahnya dan menerima berkat dan keselamatan. Zakheus menjadi orang pilihan. Kita harus memperhatikan bahwa Yesus menyatakan keinginan-Nya, tetapi tidak memaksa Zakheus. Ini menunjukkan kepada kita bagaimana Tuhan menghargai setiap usaha manusia, tidak peduli seberapa kecil atau tampaknya tidak signifikan, dan Dia melengkapinya dengan inisiatif Ilahi, yang dalam teologi Kristen disebut sebagai sinergi atau kerja sama antara upaya manusia dan Ilahi.

Di seluruh Alkitab, kita melihat bahwa setiap contoh Tuhan Yesus menerima salah satu orang berdosa disambut dengan kritik dari orang banyak. Kejadian ini tidak terkecuali. Penginjil Lukas mencatat bahwa semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut dan mengatakan bahwa Yesus telah datang ke rumah orang berdosa. Tetapi sikap orang banyak yang bermusuhan ini tidak menghentikan Zakheus untuk menempuh jalannya menuju pertobatan penuh. Tidak seorang pun yang sudah benar-benar merasakan Yesus dengan hatinya dapat hidup dalam kejahatannya lebih lama lagi. Zakheus berdiri dan berkata kepada Kristus, “”Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Sebelum Yesus menyatakan kesalahannya, Zakheus mau merendahkan dirinya dan mengaku akan dosanya.

Zakheus menunjukkan pertobatan yang tulus melalui tindakannya, bukan hanya melalui kata-katanya tetapi melalui perbuatannya. Tidak hanya dia mengaku, tetapi dia juga menunjukkan kesediaan untuk mengembalikan apa yang telah dia lakukan dengan cara yang salah, dan dia tidak hanya menjanjikan ini, tetapi juga melakukannya. Kesungguhan hatinya dinyatakan dengan kemauannya untuk mengembalikan empat kali lipat dari apa yang diperolehnya dengan cara yang salah. Memang iman yang hidup adalah iman yang disertai perbuatan (Yakobus 2: 13-26).

Pengakuan dan sikap pertobatan ini sudah cukup untuk diterima Yesus, yang mengatakan: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham”. Zakheus bukan salah satu keturunan Abraham menurut tubuh, tetapi sebagai anak Abraham menurut iman. Tuhan Yesus datang kembali dan mengingatkan orang banyak dan murid-murid-Nya tentang inti dari pelayanan dalam pesan-Nya: “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan orang yang hilang”. Itu adalah panggilan untuk pertobatan, yang menjadi titik awal dalam pelayanan Kristus di dunia.

Bagi Yesus, Zakheus bukan hanya pemungut cukai yang berdosa, tetapi juga proyek pertobatan. Kristus melihat Zakheus secara berbeda dari yang dilihat orang banyak. Dia melihatnya dengan tatapan belas kasih, cinta dan penerimaan, dan tatapan inilah yang mendorong Zakheus untuk membuka hatinya untuk pertobatan dan kemudian membuka rumahnya untuk menerima Yesus sebagai Juru Selamat.

Bagaimana jika pagi ini kita menjadi Zakheus? Sanggupkah kita untuk menyatakan pertobatan kita seperti dia? Kita orang Kristen harus menyerupai Zakheus untuk mengatasi kerumunan dan kesibukan duniawi yang menghalangi kita untuk bisa melihat Kristus. Kita harus mau dengan rendah hati mengatasi iman kita yang kecil dan menggunakan kesempatan yang ada untuk menemui Juruselamat kita secara pribadi. Tuhan mau dan bisa mengubah hidup kita jika kita membuka pintu hati kita.

Kita tidak selalu mendapat apa yang diinginkan

“Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.” 1 Yohanes 5: 14

Baru-baru ini saya membaca sebuah tulisan keagamaan yang menganjurkan orang untuk berdoa pada waktu tertentu agar bisa memperbesar kemungkinan untuk dikabulkan Tuhan. Menurut tulisan itu, jika kita berdoa pada saat tertentu, makin besar kemungkinan untuk mendapat berkat Tuhan yang terbaik. Tidak jelas mengapa hal itu dianjurkan sedangkan Tuhan yang mahakuasa dan mahahadir tentunya selalu tahu kapan saja kita berdoa dan apa yang kita doakan. Tuhan yang selalu ada dan tidak pernah tidur tentunya selalu mau mendengarkan doa umat-Nya.

Di antara umat Kristen, memang ada yang percaya bahwa berdoa di  tempat-tempat tertentu memberi kemungkinan yang lebih besar untuk mendapat jawaban Tuhan. Karena itu, tempat-tempat sedemikian biasanya penuh sesak dengan orang yang datang untuk berdoa. Selain itu, ada pula orang yang mengajarkan cara berdoa tertentu, melalui perantaraan orang tertentu, atau berpuasa, agar bisa lebih menjamin datangnya berkat dan pertolongan Tuhan.

Jika orang Kristen bebas untuk berdoa kapan saja dan di mana saja, biasanya orang memang lebih sering berdoa di tempat tertentu dan pada saat tertentu. Itu sekadar kebiasaan, dan bukan keharusan.  Orang Kristen  dianjurkan untuk berdoa atau berkomunikasi dengan Tuhan sesering mungkin, tetapi mungkin kita lebih merasakan dorongan untuk berdoa di tempat tertentu atau pada saat di mana kita membutuhkan Tuhan. Itu tidak ada salahnya. Walaupun demikian, apakah doa manusia menentukan apa yang akan terjadi? Adakah manfaat doa manusia dalam memengaruhi keputusan Tuhan? Inilah hal yang sering menjadi polemik di antara umat Kristen. Bagaimana kata Alkitab?

Ayat di atas menyatakan bahwa orang Kristen yakin dan percaya bahwa Tuhan akan mengabulkan permintaan mereka jika apa yang dipinta adalah sesuai dengan kehendak-Nya. Dengan demikian, kita tidak dapat mengharapkan bahwa doa kita akan terkabul jika apa yang kita pinta tidak sesuai dengan apa yang direncanakan Tuhan. Dalam hal ini, kita harus bersyukur kalau doa kita tidak terkabul, karena apa yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya pasti akan diubah-Nya agar sesuai dengan rencana-Nya. Dan kalau itu terjadi, kita mungkin akan mengalami kekecewaan yang lebih besar.

Dalam kenyataannya, Tuhan Yesus pernah mengajarkan dalam Doa Bapa Kami: “… datanglah Kerajkaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga“. Selain itu Tuhan Yesus berdoa di taman Getsemani: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Dari sini dapat disimpulkan bahwa kita boleh berdoa dan memohon sesuatu, tetapi kita tidak dapat memaksakan kehendak kita kepada Tuhan. Kita tidak dapat mengharapkan bahwa Tuhan yang selalu mendengarkan permohonan kita akan mengabulkan permintaan kita jika permintaan kita bertentangan dengan kehendak-Nya.

Adakah cara yang terbaik untuk memperoleh jawaban positif dari Tuhan? Ada! Jika kita memohon apa yang memang dikehendaki Tuhan, sudah pasti itu akan terjadi. Tetapi, jika Tuhan menghendaki sesuatu dan kita tidak dapat membatalkan atau mengubahnya, apakah perlunya kita berdoa? Inilah misteri hubungan antara umat dan Tuhan yang tidak dapat dimengerti orang yang bukan Kristen. Malahan sebagian orang Kristen juga masih percaya bahwa jika memang kita bersungguh-sungguh dan “ngotot” dengan doa kita, Tuhan pada akhirnya mungkin mengalah dan menyesuaikan rencana-Nya dengan kehendak kita.

Rahasia suksesnya doa memang sulit dimengerti, sekalipun  seharusnya dipahami oleh setiap orang Kristen. Satu-satunya jalan untuk memperoleh apa yang kita mohonkan adalah menyesuaikan permohonan kita dengan kehendak-Nya. Tetapi untuk mengerti apa yang dikehendaki Tuhan, kita harus dekat kepada-Nya. Dan untuk dekat dengan Dia, kita harus rajin berdoa, berkomunikasi dengan Dia. Doa adalah nafas kehidupan rohani kita, dan Roh Kudus menolong kita dalam berdoa.

Tanpa doa, hubungan kita dengan Tuhan akan pelan-pelan menjadi mati. Dengan demikian, kita tidak lagi bisa memahami apa yang dikehendaki-Nya. Kita harus sadar bahwa doa kita yang tidak terkabul mungkin adalah doa yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Lebih dari itu, jika kita  mengalami atau memperoleh sesuatu, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, kita tetap harus berusaha mencari kehendak Tuhan di masa depan melalui doa yang tidak berkeputusan.

Tuhan tidak akan memilih mereka yang tidak mau dipilih

“Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.” Matius 5: 29

Sebagai orang percaya, kita tentunya yakin bahwa keselamatan kita datang dari Tuhan. Karena semua orang sudah berdosa, tidak ada seorang pun yang bisa menyelamatkan dirinya dari murka Tuhan. Hanya karena kasih Tuhan yang mau mengurbankan Yesus Kristus, mereka yang percaya akan diselamatkan. Itu bukan karena perbuatan kita, tetapi semata-mata karunia-Nya yang memilih siapa pun yang dikendaki-Nya. Lalu, apakah setiap orang mengaku percaya kepada Tuhan akan diselamatkan? Jawabnya sudah pasti: Tidak. Tuhan tidak memilih mereka yang mau tetap hidup dalam dosa, yaitu mereka yang tidak mau dipilih.

Ada banyak dosa, dan setiap dosa akan membawa kematian jika manusia tidak mau bertobat. Berzina, misalnya. Perbuatan ini dulu dianggap sebagai aib, tetapi sekarang mungkin dianggap umum, dan bahkan dianggap sebagai bagian kehidupan orang di mana saja, terutama di kalangan orang ternama. Bahkan orang yang dianggap tokoh kerohanian pun banyak yang melakukannya dengan berbagai alasan. Perzinaan bukan sesuatu yang langka. Orang Kristen yang melakukannya tahu bahwa itu dosa, tetapi sebagian berpikir bahwa jika mereka sudah dipilih oleh Tuhan mahakuasa, tentu akan selamat bagaimana pun besarnya dosa mereka. Bagaimana mereka tahu bahwa Tuhan sudah memilih mereka, tentunya adalah satu tanda tanya.

Perzinaan mungkin sering diartikan sebagai hubungan seksuil antara dua orang yang bukan suami istri, yang dilakukan dengan sengaja atas kehendak orang-orang yang bersangkutan. Perzinaan juga mencakup perselingkuhan yaitu penyelewengan seksuil antara seseorang yang sudah menikah dengan orang lain. Tetapi, dalam Alkitab, Yesus menyatakan bahwa perzinaan tidak hanya menyangkut hubungan badani. Perzinaan bisa terjadi melalui penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan dan lamunan.

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” Matius 5: 28

Jika dosa perzinaan sering diperbuat manusia karena perbuatannya terhadap orang lain, ayat dalam Keluaran 34: 14-15 menyebutkan jenis perzinaan lain, yaitu perbuatan selingkuh rohani yang diperbuat umat Tuhan melalui pemujaan ilah-ilah yang membuat Tuhan cemburu dan marah. Perzinaan rohani, spiritual adultery, semacam itu adalah dosa besar yang menghancurkan hubungan Tuhan dan umat-Nya. Itulah yang disebut idolatry atau pemujaan ilah, yang bisa berupa pemujaan dewa, arwah, benda mati, hewan atau manusia lain, yang dilarang keras oleh Tuhan.

“Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu. Janganlah engkau sampai mengadakan perjanjian dengan penduduk negeri itu; apabila mereka berzinah dengan mengikuti allah mereka dan mempersembahkan korban kepada allah mereka, maka mereka akan mengundang engkau dan engkau akan ikut makan korban sembelihan mereka.” Keluaran 34: 14-15

Jika perzinaan yang bisa dilihat orang adalah hal yang mudah dimengerti, perzinaan rohani adalah sumber atau asal dari perzinaan jasmani; dan itu sering diabaikan orang. Pada waktu raja Daud melihat Batsyeba sedang mandi dan kemudian tergiur, pada waktu itu juga ia sudah melakukan perzinaan rohani. Sayang, raja Daud tidak menyadarinya. Dosa perzinaan rohani sudah dilakukannya sebelum ia melakukan perzinaan jasmani.

Bagi orang Kristen yang berusaha untuk hidup sesuai dengan firman Tuhan, perzinaan rohani adalah suatu hal yang sangat sulit untuk dihindari. Bukan saja keinginan daging yang ada dalam pikiran, tetapi apa pun yang membuat kita mengagumi orang lain, bisa menjadi perzinaan. Perzinaan rohani bukan saja menyangkut kekaguman dan kegairahan hati kepada orang lain, dan bukan hanya apa yang bisa melukai perasaan pasangan hidup kita. Perzinaan rohani bisa berupa rasa ketergantungan kita atas harta, kesuksesan, kesehatan, dan kekaguman atas pengajaran orang yang secara langsung atau tidak, sudah mengecewakan Tuhan dan merendahkan firman-Nya.

Hari ini, kita menyadari bahwa perzinaan adalah dosa yang sering terjadi, sekalipun orang tidak menyadarinya. Karena apa yang dilihat mata bukanlah dosa satu-satunya, tetapi apa yang timbul dalam hati adalah penyebab utama. Perzinaan spiritual adalah satu dosa yang harus selalu kita perangi dan harus juga kita akui dalam permohonan ampun kepada Tuhan yang sering kita lukai perasaan-Nya. Tuhan yang mahakasih selalu mau mengampuni orang yang sadar akan dosanya dan benar-benar mau bertobat – mencungkil dan membuang apa yang dulunya menjadi bagian dari hidupnya. Tetapi mereka yang tidak mau berubah dari kebiasaan lamanya, tidak akan mendapatkan pengampunan Tuhan dan tidak mungkin untuk memperoleh keselamatan, karena Tuhan tidak mau memilih orang yang tidak mau dipilih-Nya. Mereka secara otomatis akan mendapat upah dosanya yaitu maut.

Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan. Kisah Para Rasul 3:19

Dengan kebebasannya, manusia cenderung menolak karunia Tuhan

“Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.” Roma 8: 7

Judul di atas untuk banyak orang bisa menimbulkan rasa masygul, karena adanya kemungkinan bahwa teman atau sanak-saudara yang tidak akan bisa diselamatkan. Jika manusia dikatakan tidak dapat menolak karunia Tuhan, dan tetap ada banyak orang yang jelas-jelas memilih cara hidup yang keliru, mungkinkah itu karena Tuhan sengaja membuat mereka menolak karunia-Nya? Mungkinkah Tuhan sudah dari awalnya menetapkan mereka untuk ke neraka? Dalam hal ini, berbagai aliran teologi dan gereja mempunyai jawaban yang berlainan. Persoalannya, selama hidup di dunia kita tidak dapat mengetahui jalan pikiran Tuhan (Yesaya 55: 8 – 9) dan Tuhan tidak pernah mengatakan secara pribadi bahwa hidup kita adalah cukup baik bagi-Nya. Sebaliknya, Tuhan sudah berkata bahwa semua orang sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3: 23). Semua orang jelas dengan kebebasannya pasti memenuhi syarat untuk masuk ke neraka.

Ketika Paulus berkata dalam ayat di atas bahwa “keinginan daging adalah permusuhan dengan Allah”, dia memberi arti yang paling penting untuk dosa. Dosa adalah kontradiksi dengan Tuhan, kontradiksi dengan kemuliaan Tuhan yang mahabesar. Tidak ada yang lebih dekat dengan kemuliaan Tuhan selain kebenaran-Nya; karena Dia adalah kebenaran. Iblis, si penggoda, tentu sangat menyadari hal ini, dan karena itu strateginya sampai sekarang adalah memutar-balikkan kebenaran Tuhan. Kepada Hawa dia berkata: “Sekali-kali kamu tidak akan mati” (Kejadian 3: 4). Ini adalah penolakan terang-terangan atas kebenaran Tuhan. Ketika Hawa dengan kehendaknya sendiri menerima kontradiksi ini, hubungannya dengan Tuhan menjadi berantakan dan karena dosanya ia terbelenggu oleh iblis. Kemarahan Tuhan terhadap iblis adalah karena apa yang diperbuat iblis, yang membawa kejatuhannya, adalah sama dengan apa yang digunakannya untuk merayu Hawa.

“Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta”` Yohanes 8: 44.

Jelas bahwa dosa adalah penyalahgunaan kebebasan manusia yang menyebabkan penolakan manusia terhadap kehendak Tuhan. Kejatuhan manusia ke dalam dosa bukanlah kehendak Tuhan, karena Ia memberi Adam dan Hawa sebuah larangan yang mudah dimengerti. Jika kehendak Tuhan tidak bisa ditolak manusia, tentu tidak akan ada dosa. Firman Tuhan sudah diungkapkan dalam Injil dan karena itu semua kontradiksi atas Injil adalah penolakan manusia yang sudah diketahui Allah sejak mulanya.

Di dalam Injil kita melihat bentuk kasih karunia Allah yang sudah dirancang sebelum kejatuhan, dan Kristus adalah perwujudan dari kasih karunia itu. Oleh karena itu, ketidakpercayaan kepada Kristus adalah penolakan atas kasih karunia Tuhan, dan ini akan membawa maut (Roma 6: 23). Jadi, untuk mengatakan bahwa semua kasih karunia Tuhan tidak dapat ditolak berarti menyangkal fakta-fakta kehidupan manusia berdosa seperti apa yang dicantumkan dalam Alkitab.

Walaupun demikian, Roma 10: 9 mengatakan jika kita mengaku dengan mulut kita, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hati kita, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kita akan diselamatkan. Dengan kata lain, jika kita percaya kepada Yesus dengan sepenuhnya, yaitu baik luar dan dalam, maka kita tidak perlu meragukan keselamatan kita. Luar dan dalam? Ya, memang dari luar orang mungkin terlihat seperti orang beriman, tetapi apa yang ada dalam hatinya tidak ada seorang pun  yang tahu. Sebaliknya, ada orang yang merasa bahwaYesus ada dalam hatinya, tetapi segala perbuatan dan perkataannya tidak mencerminkan hal itu.

Alkitab berkata bahwa untuk diselamatkan, kita cukup dengan modal percaya.  Iman kepada Kristus ini adalah pemberian Tuhan kepada semua orang yang dipanggil-Nya. Mereka yang mau menyambut dengan baik pemberian iman yang menyelamatkan itu akan terlihat dari hidup mereka yang diperbaharui. Iman yang benar akan terlihat dari perbuatan mereka dalam hidup  sehari-hari, karena iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2: 26). Sebaliknya, mereka yang masih belum berubah dari hidup lama yang bergelimang dosa, mungkin saja belum mempunyai iman yang menyelamatkan.

Mengapa orang menolak karunia keselamatan Allah? Sekali lagi, itu karena adanya kebebasan yang dimiliki manusia. Sejarah umat manusia adalah penuh dengan perlawanan yang tiada hentinya terhadap anugrah Tuhan. Memang kita mampu menolak kasih karunia Tuhan, dan dalam hidup lama kita, kita benar-benar sudah pernah menolak kasih karunia Tuhan. Tetapi, meskipun kita secara alami bisa menolak anugerah Tuhan, kasih dan kuasa Tuhan begitu kuat sehingga dapat mengatasi penolakan alami kita terhadap-Nya, jika Ia menghendakinya.

Mereka yang benar-benar sudah menerima Kristus dan menerima Dia sebagai penguasa seluruh hidup mereka, luar dan dalam, sudah pasti akan masuk ke surga. Kata “benar-benar” disini harus digaris bawahi karena ini berarti tidak ada maksud untuk mengecoh atau membohongi Tuhan. Mereka yang dengan sengaja secara terus menerus membohongi Tuhan dengan mengabaikan Dia dan menolak untuk menaati perintah-Nya, adalah orang-orang yang belum benar-benar menerima Kristus.

Pada pihak yang lain, mungkin diantara kita masih ada yang bergumul untuk memutuskan, apakah mau memilih panggilan Kristus atau mengiku ti kenikmatan duniawi. Mungkin juga kita mengenal orang-orang yang dengan sengaja menolak panggilan Kristus untuk menerima karunia keselamatan. Di sini peranan pemuridan dan doa orang Kristen adalah sangat penting (Matius 28: 19-20). Tuhan bekerja menurut rencana-Nya, dan kita tidak mengerti atau tahu apa yang akan dilakukan-Nya kepada orang-orang yang belum benar-benar percaya kepada-Nya. Doa dan usaha mengabarkan Injil kita adalah pernyataan iman bahwa Tuhan pada hakikatnya mengasihi seisi dunia dan ingin agar manusia bisa diselamatkan pada saat yang ditetapkan-Nya.

Hari ini, kita mungkin merasa yakin bahwa Tuhan sudah menyelamatkan kita. Itu baik adanya. Karena Tuhan sudah memberi kesadaran kepada kita bahwa apa pun tidak akan menyelamatkan kita dari dosa, kecuali melalui darah Yesus Kristus. Hidup kita sudah diubah-Nya setelah kita percaya; kita tahu apa yang baik dan apa yang jahat di mata Tuhan. Lebih dari itu, kita sudah berusaha untuk memuliakan nama-Nya melalui mulut dan di hati kita, luar dan dalam. Jika demikian, kita tidak perlu meragukan janji keselamatan-Nya.

Belas kasihan kepada kawan seiman

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6: 10

Pernahkah anda memikirkan pertanyaan di bawah ini yang berhubungan dengan isi Alkitab?

  • Siapakah yang harus kita kasihi?
  • Mengapa kita harus mengasihi sesama manusia?
  • Apakah Tuhan mengasihi seluruh umat manusia tanpa membeda-bedakan?

Semua pertanyaan di atas mungkin mudah untuk dijawab oleh orang yang rajin mempelajari isi Alkitab. Sudah tentu kita tahu bahwa kita harus mengasihi Tuhan dan sesama kita karena Tuhan lebih dulu mengasihi kita. Tuhan yang mahakasih mengasihi seisi dunia dan oleh sebab itu Ia mendatangkan Yesus Kristus ke dunia (Yohanes 3: 16). Tetapi Tuhan lebih mengasihi orang yang percaya dan taat kepada Yesus, yang diberi-Nya anugerah keselamatan.

Bagaimana pula dengan pertanyaan ini: Apakah orang Kristen patut untuk “pilih kasih” dengan lebih mengasihi sesama orang beriman daripada orang lain? Pertanyaan ini mungkin bisa membuat kita berpikir dalam-dalam. Sebagian orang Kristen yakin bahwa mereka harus mengasihi sesama manusia tanpa pandang bulu. Bukankah Yesus berkata bahwa kita harus mengasihi mereka yang tidak kita kenal dan juga musuh kita? Lukas 10: 30 – 37 menyatakan bahwa kita harus bisa menjadi seperti orang Samaria yang bisa bermurah hati kepada siapa pun.

Memang benar bahwa kita harus bisa mengasihi semua orang dari mana pun asalnya, bagaimanapun penampilan, sikap serta sifatnya. Walaupun demikian, Alkitab dalam ayat di atas menyatakan bahwa kita harus mau berbuat baik kepada semua orang, terutama kepada kawan-kawan kita seiman. Jelas bahwa kasih kita kepada sesama orang beriman haruslah lebih besar jika dibandingkan dengan kasih kita kepada orang lain. Mengapa demikian? Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menulis bahwa sebagai anggota tubuh Kristus kita adalah sepenanggungan.

“Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.” 1 Korintus 12: 26 – 27

Mengasihi saudara seiman adalah kewajiban, tetapi dalam kenyataannya orang Kristen mungkin lebih sering menyatakan rasa kurang suka dan bahkan rasa benci kepada mereka yang sebenarnya seiman. Banyak orang Kristen yang hanya peduli atas saudara seiman yang segereja, segolongan, sedoktrin, sesuku dan senegara. Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah kita seharusnya dapat ikut merasakan penderitaan, kesulitan dan perjuangan yang dialami oleh semua saudara seiman?

“Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah? Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita?” 2 Korintus 11: 29

Ada kemungkinan bahwa sebagian orang Kristen menganggap orang Kristen yang lain bukanlah orang yang seiman jika mereka mempunyai aliran atau pandangan yang berbeda. Sejarah membuktikan bahwa pertikaian antar umat Kristen sudah ada sejak Yesus berangkat ke surga. Karena itu, sebagian orang Kristen sampai zaman ini pun tidak menyukai dan bahkan membenci mereka yang tidak sepaham. Mereka seolah-olah berharap bahwa aliran yang berbeda itu pada saatnya akan dilenyapkan oleh Tuhan, dan mungkin mereka juga ingin melenyapkan aliran itu jika Tuhan tidak bertindak. Hal ini mungkin mirip dengan nabi Yunus yang mengharapkan penghukuman Tuhan atas penduduk kota Niniwe (Yunus 4).

Siapakah orang yang harus kita kasihi? Sudah tentu semua orang yang ada di muka bumi. Bagaimana pula dengan mereka yang menganggap diri mereka orang percaya tetapi memiliki kepercayaan atau pengajaran yang sesat? Tentu saja mereka adalah sesama manusia kita. Seburuk-buruknya anggapan kita tentang mereka, mereka tidak berbeda dengan orang yang bukan Kristen. Tetapi, jika mereka juga percaya kepada Tuhan yang sama dengan Tuhan kita, kita tidak dapat menganggap mereka orang yang tidak diselamatkan karena kita tidak tahu apa kehendak Tuhan atas diri mereka. Selama hidup setiap orang masih mempunyai kesempatan untuk bertobat dan menjadi orang yang diselamatkan oleh karunia Tuhan. Kita membenci apa yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, tetapi tetap mengasihi sesama kita dan ingin agar mereka kembali ke jalan yang benar.

“Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus. Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal. Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.” Yudas 1: 20 – 23

Apa guna berbuat baik?

“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Yakobus 2: 26

Paulus menulis dalam Roma 3:28, “Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.” Sedangkan Yakobus menuliskan dalam Yakobus 2:24, “Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.” Kedua ayat ini sering kali dipertanyakan, karena sepintas seolah-olah seperti bertentangan. Paulus menyatakan bahwa manusia dibenarkan karena iman sedangkan Yakobus berkata manusia dibenarkan karena perbuatannya dan bukan hanya karena iman. Yang harus kita percaya dan mengerti adalah bahwa Firman Tuhan tidak ada yang bertentangan satu sama lainnya. Kanon Alkitab adalah sebuah keselarasan yang sempurna dan sudah teruji. Yang kita butuhkan adalah pemahaman yang baik dan utuh untuk bisa melihat bahwa sebetulnya Yakobus tidak menentang Paulus, tetapi sebaliknya justru mendukung Paulus.

Bagaimana manusia bisa mendapatkan keselamatan sesudah hidupnya berakhir di dunia adalah hal utama yang di bahas dalam semua aliran kepercayaan. Kalau ada orang yang hanya membahas bagaimana manusia bisa hidup berbahagia di dunia, orang itu bukan membahas kepercayaan tetapi falsafah hidup. Hidup di dunia memang dapat dilihat dan dirasakan, dan untuk itu kita tidak membutuhkan kepercayaan, tetapi perlu melakukan tindakan atau perbuatan.

Seorang mungkin percaya bahwa pada suatu saat manusia akan bisa pergi ke planet Mars, tetapi kepercayaan semacam itu bukanlah iman, melainkan keyakinan berdasarkan pengetahuan manusia. Tambahan pula, keyakinan itu tidak perlu mengubah cara hidup manusia saat ini, karena hal pergi atau tidak pergi ke Mars adalah pilihan manusia. Karena itu, hal semacam itu tidak perlu membawa konsekuensi langsung pada cara hidup manusia di dunia.

Bagaimana pula dengan kemungkinan bahwa sesudah hidup di dunia ini berakhir, roh kita akan hidup di tempat lain? Ilmu pengetahuan tidak bisa membuktikan hal ini akan terjadi, dan karena itu kita membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar keyakinan berdasarkan pengetahuan manusia. Untuk memercayai sesuatu yang tidak bisa dilihat dan diduga manusia, kita memerlukan iman; dan ini pasti tidak dapat bersumber dari manusia. Iman harus datang dari sumber yang bisa dipercayai.

Yesus adalah satu-satunya manusia yang sudah datang dari surga dan membawa berita tentang adanya kehidupan sesudah hidup kita di dunia ini berakhir. Yesus jugalah yang sudah kembali ke surga setelah tugas-Nya di dunia berakhir. Yesus jugalah yang pernah berkata bahwa hanya mereka yang percaya kepada-Nya akan ke surga, sedangkan mereka yang menolak-Nya akan pergi ke neraka. Manusia yang diberi kemampuan untuk menyadari bahwa Yesus adalah Tuhan, pasti yakin bahwa hal ini adalah sesuatu yang penting, dan bahkan lebih penting daripada hal-hal yang lain di dunia. Hidup di dunia ternyata hanya sebagian kecil dari keseluruhan hidup yang ada.

Keyakinan akan adanya sesuatu yang akan datang, yang jauh lebih lama dan lebih signifikan daripada apa yang dialami di dunia, tidak mungkin untuk tidak mempengaruhi hidup kita yang sekarang. Hanya ada dua kemungkinan di masa depan: hidup bahagia atau hidup sengsara dan keduanya akan abadi. Karena itu, jika kita benar-benar beriman, tidaklah mungkin bagi kita untuk tidak merasakan adanya dorongan hati untuk mempersiapkan diri kita sebaik-baiknya untuk masa depan dengan menyempurnakan iman kita. Memang kita diselamatkan hanya karena iman, tetapi iman yang benar akan nampak dalam hidup kita di dunia sebagai hidup yang taat kepada perintah Tuhan.

Firman di atas mengingatkan kita bahwa iman harus disertai dengan perbuatan yang seirama. Karena kita percaya bahwa kita kan hidup bersama Tuhan di surga, kita harus bisa memakai hidup kita yang sekarang ini untuk kemuliaan Tuhan.

Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” Yakobus 2: 22

Seperti yang dijelaskan dalam kitab Roma, manusia dibenarkan karena iman. Iman kepada Tuhan Yesus Kristus itulah yang membenarkan dan menyelamatkan seseorang. Ditegaskan juga dalam Yohanes 3:16: “… supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Kejadian 15:6 menyatakan “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.“ Jelas bahwa karena Abraham percaya maka Abraham dibenarkan.

Yakobus pun mengutip Kejadian 15:6 di dalam suratnya di Yakobus 2:23. Yakobus sama sekali tidak menentang pernyataan Paulus mengenai keselamatan oleh karena iman. Yakobus justru menekankan dan menjelaskan iman seperti apa yang menyelamatkan itu. Iman sejati yang dibuktikan melalui perbuatan. Iman yang nyata, bukan sekadar ucapan mulut seseorang yang mengaku percaya tetapi tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bukti dari sebuah perkataan adalah tindakan, demikian juga bukti dari peryataan iman adalah tindakan iman. Orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Kristus akan terlihat imannya melalui perbuatan yang dia lakukan!

Kesalehan yang merupakan tanda keselamatan

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4: 17

Satu perbedaan besar antara iman Kristen dan kepercayaan yang lain adalah dalam hal berbuat baik. Dalam kepercayaan lain,  berbuat baik, memberi sedekah dan sesajen mungkin dianggap bisa menyelamatkan manusia dari murka Tuhan di dunia. Agama lain juga ada yang menekankan bahwa berbuat kebaikan, terutama untuk sesama, adalah penting untuk menjamin tempat di surga. Selain itu diajarkan pula bahwa makin banyak amal sedekah kita, makin enak hidup kita di surga.

Agama Kristen memang berbeda karena iman kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci tidak memungkinkan manusia berbuat baik untuk menghindari murka Allah atas dosa manusia. Hanya melalui pengurbanan Yesus kita bisa diselamatkan. Selain itu, karena Allah itu mahabesar dan mahakaya, persembahan yang kita berikan tidaklah berarti apa-apa untuk-Nya. Jika kita terpilih oleh panggilan kasih-Nya, kita akan bersama Tuhan di surga dan menikmati segala kemuliaan surgawi yang ada di sana. Dengan demikian, Tuhan menghendaki persembahan hidup kita dan bukan persembahan materi atau perbuatan baik. Persembahan materi dan perbuatan baik kita hanyalah untuk menyatakan rasa syukur dan melambangkan penyerahan hidup kita kepada Tuhan.

Karena perbuatan baik manusia itu seolah tidak dipentingkan dalam iman Kristen, banyak orang Kristen yang kurang bersemangat untuk berbuat baik. Bagi mereka, asal tidak berbuat jahat sudah cukup. Pokok tidak ikut-ikutan berbuat dosa, cukuplah!  Biarkan orang lain berbuat dosa, kita tidak perlu ikut campur! Jangan ikut-ikutan berusaha menegakkan hukum dan keadilan karena resikonya besar.

Dalam sejarah dunia, memang ada orang yang heran dan kagum melihat adanya orang-orang Kristen yang berjuang keras untuk berbuat baik dalam melayani gereja dan masyarakat, menegakkan keadilan sosial dan hukum, memajukan kesehatan dan pendidikan dsb. Tetapi mungkin ada juga orang yang sinis dan mencemooh orang Kristen yang demikian dan menuduh mereka itu sekadar mencari keuntungan untuk diri mereka sendiri.

Ayat bacaan kita diatas jelas mengatakan bahwa jika kita tahu bagaimana harus berbuat baik tetapi tidak melakukannya, kita berdosa. Ini pernyataan yang berat dan tajam. Sudah tentu, setelah Tuhan menggerakkan hati kita untuk menerima anugerah keselamatan, mata kita dicelikkan sehingga kita bisa membedakan apa yang baik dari apa yang jahat. Kita sadar bahwa perzinahan misalnya, adalah perbuatan jahat, dan bersedekah adalah perbuatan baik. Sebagai orang yang sudah bertobat, kita mungkin sudah berhenti berbuat jahat, tetapi belum sepenuhnya merasa terpanggil untuk berbuat baik. Apalagi jika kita merasa yakin bahwa mereka sudah diselamatkan karena anugerah Tuhan semata-mata.

Menjadi ciptaan baru dalam Tuhan bukanlah hal yang remeh. Adalah sebuah ironi jika kita mau mengaku dosa, bertobat dari hidup lama kita dan menerima hidup baru, tetapi mengabaikan perintah Tuhan untuk berbuat baik. Sangat menyedihkan kalau orang Kristen dapat tidur lelap setelah menyaksikan kejahatan dan penderitaan yang terjadi atas diri orang lain. Para tokoh reformasi pernah mengatakan bahwa “Faith alone saves, but faith that is alone does not save” yang artinya “manusia diselamatkan hanya karena iman, tetapi iman saja bukanlah iman yang menyelamatkan“. Iman yang benar selalu membuahkan apa yang baik. Iman yang sejati selalu membuat perubahan dalam hidup seseorang. Hidup baik dengan aktif berbuat baik untuk Tuhan dan sesama adalah ciri manusia yang sudah dilahirkan kembali!

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Sebagai orang Kristen, kita percaya bahwa Tuhan yang mahakasih sudah memberikan berbagai karunia, termasuk karunia terbesar yaitu keselamatan melalui darah Kristus. Dalam hidup sehari-hari, Tuhan juga memberikan kesempatan kepada setiap umat-Nya untuk bersyukur kepada-Nya dengan berbuat baik kepada semua orang, karena Ia sudah lebih dulu berbuat baik bagi kita.

Setiap orang sudah diberikan Tuhan kesempatan untuk hidup baik. Memakai kesempatan untuk hidup tanpa mau memikirkan dari mana itu datang, sudah tentu merupakan hal yang tidak pantas. Menggunakan berkat Tuhan tanpa mau mengerti apa arti pemberian itu adalah pencerminan sikap mementingkan diri sendiri. Dan tindakan mengambil kesempatan dari Tuhan hanya untuk kemuliaan diri sendiri, tidaklah jauh berbeda dengan mencuri.

Ayat di atas mengingatkan kita bahwa kesempatan untuk berbuat baik sudah disediakan Tuhan bagi kita selama kita hidup. Karena itu adalah pemberian Tuhan, kita tidak perlu ragu-ragu untuk memakainya. Sebaliknya, karena kesempatan itu diberikan kepada setiap umat-Nya, kita harus bersedia untuk mengambil kesempatan itu untuk bisa digunakan sesuai dengan kehendak-Nya, yaitu untuk membawa kemuliaan bagi Dia.

Pagi ini kita diingatkan bahwa Tuhan menciptakan seisi dunia ini dengan maksud agar semuanya indah dan baik. Manusia diciptakan-Nya untuk hal-hal yang baik, untuk memuliakan Tuhan; tetapi karena dosa, manusia tidak lagi dapat memenuhi tugas Ilahi itu. Hanya melalui darah Kristus, kita bisa menjadi ciptaan baru. Sebagai ciptaan baru, panggilan untuk berbuat baik itu diteguhkan kembali. Maukah kita mengambil kesempatan yang masih ada untuk berbuat baik kepada semua orang dari semua agama dan terutama kepada saudara-saudara seiman kita tanpa memandang latar belakang dan pandangan teologis mereka?

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6: 10

Umat Tuhan pasti berbuah

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” Yohanes 15: 16

Manusia yang memilih Tuhannya, ataukah Tuhan yang memilih manusia? Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sering diperdebatkan manusia, terutama dikalangan umat Kristen. Pertanyaan yang serupa, tetapi lebih mudah dijawab adalah: manusia yang memilih agama, atau agama yang memilih pengikutnya? Sudah tentu manusia memilih agamanya, tetapi agama tidak sama dengan Tuhan. Hidup beragama belum tentu membawa pengenalan yang benar akan Tuhan.

Tuhan dengan sifat dan eksistensi-Nya sudah tentu tidak dapat dimengerti manusia. Tidak ada seorang pun yang hidup di dunia ini pernah ke surga dan melihat Tuhan. Segala tindakan Tuhan adalah berdasarkan kebijakan-Nya, yang sudah barang tentu tidak terjangkau oleh pikiran manusia. Karena itu, sangat sulit diterima pendapat sebagian orang yang merasa bahwa mereka sudah “menemukan” Tuhannya.

Bagi umat Kristen, terlepas dari hal bagaimana dan sejak kapan manusia mengenal Tuhannya, pada umumnya diterima pernyataan bahwa Tuhanlah yang memilih manusia untuk diperkenalkan kepada Dia. Mereka yang dipilih Tuhan, diberi kesempatan, jalan dan bimbingan untuk dapat merasakan kuasa, kasih dan eksistensi Tuhan, sekalipun mereka tidak lagi dapat melihat Tuhan dengan mata jasmani.

Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Yohanes 20: 29

Kepercayaan bahwa Tuhan sudah memilih kita adalah sebuah hal yang sangat signifikan, karena pikiran manusia tidak bisa membayangkan apa untungnya Tuhan memilih manusia yang penuh dosa, yang selalu ingin berontak dari Tuhan. Mengapa Tuhan begitu ingin untuk memilih umat-Nya? Karena adanya pengurbanan Kristus di kayu salib, barulah kita bisa sadar bahwa itu semua karena kasih-Nya.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8.

Dari ayat pembukaan di atas, kita bisa melihat bahwa Tuhan juga memilih umat-Nya untuk menghasilkan buah, yaitu berbagai bentuk kasih untuk sesama manusia. Jika buah dari pengurbanan Kristus di kayu salib adalah keselamatan kita, buah dari keselamatan kita, yang tumbuh karena Yesus sudah memilih kita, bisa membawa kabar keselamatan bagi orang lain.

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5:22-23

Hari ini, kita harus sadar bahwa tidaklah mudah untuk kita bisa mengikut Yesus dan memikul salib-Nya setiap hari. Penderitaan akan datang karena dunia membenci pengikut Kristus, seperti mereka yang dulu membenci Kristus.

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu.” Yohanes 15: 18

Jika kita berusaha untuk berbuat baik dan mengasihi sesama kita, banyak orang yang tidak mau menerima kasih kita, persis seperti mereka yang dulu menyalibkan Yesus. Inilah yang sering kali membuat kita merasa sulit untuk berbuat baik kepada orang-orang tertentu. Dengan demikian, kita mungkin lebih senang untuk mengasihi mereka yang segolongan dan sepengertian dengan kita.

Bagaimana kalau demikian? Sanggupkah, dapatkah, manusia yang lemah seperti kita mengikut jejak Yesus dan hidup dan giat bekerja untuk memberitakan kabar baik ke ujung dunia? Tuhan yang sudah memilih kita adalah Tuhan yang mahakuasa, dan Ia mendengar doa-doa kita, supaya apa yang kita minta kepada Bapa dalam nama Yesus akan diberikan-Nya kepada kita. Karena itu kita harus yakin dalam iman bahwa jika Tuhan berserta kita, tidaklah ada yang perlu kita kuatirkan dalam hidup kita. Roh Kuduslah yang akan memberi kita buah-buah Roh jika kita hidup sesuai dengan firman-Nya dan tidak mendukakan Roh-Nya.

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. Efesus 4: 30-32

Kita percaya pada Tuhan, bukan pada manusia

“Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN, yang tidak berpaling kepada orang-orang yang angkuh, atau kepada orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan!” Mazmur 40: 4

Baru beberapa hari yang lalu acara pemilihan pemenang hadiah Oscar diadakan di kota Los Angeles, California, di Amerika. Hadia Oscar adalah hadiah idaman setiap aktor/aktris dan para pendukung pembuatan film di seluruh dunia. Bagi mereka, hadiah Oscar adalah hadiah yang paling signifikan dari berbagai hadiah lainnya yang ada di berbagai negara untuk mutu penampilan sebuah film. Karena itu, mereka yang berkecimpung dalam dunia film selalu berusaha untuk tampil sebaik mungkin dalam peran mereka masing-masing. Sekalipun mereka tidak berlomba secara langsung, setiap orang tentunya berharap untuk menang.

Dalam sebuah film, seorang aktor bisa tiba-tiba menampakkan diri, mengeluarkan suara, atau membuat gerakan yang menarik perhatian penonton sehingga perhatian yang sebelumnya diberikan penonton kepada aktor lain teralihkan. Aksi drama yang mengundang perhatian ini dalam bahasa Inggrisnya dinamakan “upstaging“. Jika istilah upstaging dalam dunia film/drama adalah disengaja untuk membuat penyajiannya makin menarik, di luar dunia film/drama istilah itu mungkin mempunyai konotasi yang kurang baik karena bisa diartikan sebagai “merebut pengaruh” , “mengungguli” atau “menutupi kebaikan orang lain”. Perebutan pengaruh antara para pemeran film tentunya tidak bisa terjadi dalam acara Oscar karena semua film dan para pendukungnya dinominasi dan dipilih oleh orang-orang yang independen.

Pada pihak yang lain, dalam kehidupan gerejani, dari mulanya soal saling berebut pengaruh dan nama sudah ada. Mereka yang mengaku dari golongan Apolos bertengkar dengan mereka yang mengikut Paulus (1 Korintus 3: 3 – 4). Tiap golongan mungkin merasa lebih baik dari yang lain, dan mungkin mempunyai rasa iri hati terhadap yang lain. Dalam hal ini, Paulus mengingatkan bahwa jika ia yang menanam firman Tuhan, dan Apolos yang menyiram, Allahlah yang memberi pertumbuhan iman. Sudah tentu Allahlah yang terpenting dan patut disembah, karena Paulus dan Apolos hanyalah pelayan-pelayan Allah.

Bagaimana pula dengan keadaan gereja Tuhan di zaman ini? Perebutan pengaruh jelas masih ada antar gereja, antar pimpinan dan antar pengurus gereja. Tetapi yang lebih mencolok adalah adanya gereja dan pemimpin gereja yang ingin sekali membuat kelompok atau diri sendiri agar menonjol dan dikenal masyarakat. Mereka itu sering berusaha untuk “upstaging”, menarik orang Kristen lain datang ke gereja mereka, bukan karena faktor Yesus, tetapi karena faktor manusia saja.

Ada banyak gereja yang seolah mengajak jemaat untuk merasa bangga atas segala kemegahan gedung dan kegiatan sosial yang ada. Juga ada banyak pendeta yang seolah membiarkan jemaat untuk memuja mereka karena penampilan, pengetahuan teologi dan kata-kata bijak yang menimbulkan kekaguman. Mereka yang sudah menjadi selebriti, biasanya adalah orang-orang yang terkenal karena penampilannya.

Memang apa yang terlihat megah dan indah bisa membawa kebaikan. Tetapi itu hanya bisa dibenarkan kalau membawa kemuliaan kepada Tuhan yang mahakuasa. Apa pun yang baik, tetapi yang tidak kita lakukan untuk memuliakan nama Yesus, bisa digolongkan pada tindakan yang mencoba untuk merebut pengaruh dan kemuliaan Tuhan. Setiap kali nama manusia ditonjolkan di atas nama Tuhan, setiap kali pula keangkuhan dan kebohongan manusia diperlihatkan.

Hari ini kita harus ingat bahwa Tuhan kita adalah Allah yang cemburu, yang tidak dapat menerima adanya ilah lain di hadapan-Nya. Adalah mudah bagi manusia untuk membuat kebodohan yang akan membawa murka Tuhan, seperti kesombongan atas kemampuan diri sendiri, kekaguman atas kehebatan orang-orang yang sombong, atau kepercayaan kepada orang-orang yang hidup dalam kebohongan. Oleh karena itu, marilah kita selalu berhati-hati untuk memusatkan iman kita kepada Yesus dan bukan kepada sesuatu yang bisa menutupi kebesaran-Nya!

“Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus.” Roma 15: 5 – 6

Ancaman yang nyata

“Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” 2 Korintus 11: 3

Rasul Paulus dalam ayat di atas menyatakan kekuatirannya atas kemungkinan bahwa jemaat Kristen di Korintus diperdayakan oleh beberapa pengajar yang menyesatkan mereka dari ajaran yang benar. Pengajar-pengajar yang sesat itu diumpamakan seperti ular, si iblis, yang dengan kelicikannya sudah membuat Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa di taman Eden.

Ada tiga hal yang penting yang bisa kita simak dari ayat itu. Yang pertama, tiap orang Kristen masih bisa, dan mungkin malah sering, diserang oleh iblis. Kedua, iblis sering muncul dalam bentuk yang penuh pesona sehingga orang yang tidak awas akan terjebak. Dan yang ketiga, iblis sering muncul pada tempat dan waktu yang tidak terduga, selagi umat Tuhan lengah atau lemah. Umat Kristen jelas bisa jatuh ke dalam pencobaan jika tidak berhati-hati. Pencobaan bukan datang dari Tuhan, tetapi dari ulah manusia sendiri. Manusia yang mempunyai kebebasan memang cenderung jatuh ke dalam dosa jika tidak mau menuruti bimbingan Tuhan.

Bagaimana iblis berusaha memperdayai umat Tuhan di Korintus? Korintus adalah kota niaga yang cukup besar dan karena itu banyak orang datang dari berbagai tempat. Dengan itu, Korintus dari mulanya mudah sekali menerima budaya atau agama lain, mungkin melalui praktik toleransi agama dan multikulturalisme yang sering didengung-dengungkan saat ini.

Di antara berbagai ajaran di luar agama Kristen yang bisa melemahkan dan bahkan menyesatkan orang Kristen pada waktu itu dan juga sering ditemui sampai saat ini adalah ajaran bahwa keselamatan adalah berdasarkan apa yang kita perbuat dalam hidup, dan ajaran bahwa pedoman hidup baik adalah berdasarkan pikiran manusia yang berkembang.

Memang di zaman ini banyak manusia yang tidak puas dengan ajaran Kristen yang menyatakan bahwa keselamatan adalah semata-mata adalah karunia Tuhan. Mereka kemudian memilih untuk ikut ajaran yang menekankan humanisme, yang mengajarkan bahwa keselamatan manusia ada di tangan mereka sendiri, yang harus melakukan hal-hal tertentu untuk mencapai surga. Selain itu, ada berbagai pengajar yang mengajarkan bahwa keselamatan hanya dapat dicapai dengan cara-cara tertentu, dengan menjalankan aturan-aturan budaya historis, yang membuat orang bergantung pada tradisi dan bukannya kepada Tuhan.

Iblis juga sering muncul pada saat dan keadaan di mana umat Kristen mengalami kelengahan atau kesulitan. Bagi sebagian orang, kelengahan terjadi ketika segala sesuatu berjalan lancar dan hidup terasa nikmat. Pada saat itu kesadaran akan Tuhan dan kasih-Nya mungkin menjadi samar karena orang lebih tertarik untuk menghabiskan waktunya untuk menikmati hidupnya. Selain itu, mudah bagi mereka untuk merasa bahwa Tuhan pastilah menyukai cara hidup mereka. Kelengahan juga bisa terjadi dalam keadaan yang sulit dan penuh perjuangan. Ketika keadaan yang menekan lagi menguasai hidup, orang menjadi terlalu sibuk berusaha melewati hari-harinya dengan rasa tegang, kuatir atau kecewa. Pada saat-saat di mana manusia lagi lemah seperti itu, iblis bekerja lebih giat untuk menggoda manusia agar mereka jatuh ke dalam dosa dan mengingkari imannya.

Hari ini, seperti jemaat Korintus kita diingatkan oleh Rasul Paulus bahwa iblis selalu mengintai umat Tuhan dan siap untuk menyesatkan kita. Karena itu, dalam keadaan apa pun yang kita alami saat ini, baik susah maupun senang, sakit maupun sehat, miskin ataupun kaya, kita harus tetap rajin berdoa dan membaca firman-Nya agar kita tidak tertipu oleh iblis yang berusaha menghancurkan kita. Kita harus sadar dan berjaga-jaga agar tidak memilih cara hidup yang keliru.

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. 1 Petrus 5: 8