Antara berpikir positif dan menolak kenyataan bedanya hanya sekulit bawang

Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Lukas 23: 34

Berpikir positif atau positive thinking adalah sesuatu yang banyak digembar-gemborkan oleh berbagai motivator pada zaman ini. Berpikir positif adalah sesuatu yang membuat orang bisa bertahan dalam menghadapi kesulitan, begitu kata orang. Memang, jika seseorang mengalami hal yang kurang menyenangkan, pikiran yang negatif sering kali membuat persoalan menjadi terasa makin berat.

Berpikir positif secara umum menyangkut usaha untuk memperbesar hal percaya kepada diri sendiri dan memupuk semangat untuk menghadapi hari depan. Kelihatannya, semua ini adalah baik dalam pandangan banyak orang yang menghadapi kesulitan hidup. Tetapi, mereka yang tidak pernah memikirkan segi negatif dari hidupnya, akan mudah untuk jatuh ke dalam dosa. Memang, pikiran yang positif bisa membuat orang menjadi buta akan perbedaan antara apa yang disukai Tuhan dan apa yang dibenci-Nya.

Kita tahu bahwa setiap hari di media selalu ada berita tentang orang-orang yang ditangkap polisi karena diduga terlibat dalam suatu kejahatan atau pelanggaran hukum. Mereka itu pada saatnya akan menghadapi hakim di pengadilan, di mana tim penuntut dan tim pembela beradu pendapat mengenai kesalahan si terdakwa. Apakah terdakwa memang dengan sengaja melakukan pelanggaran hukum? Bagaimana jika terdakwa tidak sadar bahwa ia telah melakukan pelanggaran? Satu yang pasti, sekalipun terdakwa tidak sadar bahwa dirinya melanggar hukum, keadilan hukum tetap harus dijalankan. Dalam hal ini, terdakwa mungkin bisa menerima keringanan hukuman jika ia menyadari dan menyesali perbuatannya.

Ayat di atas adalah sebuah ayat yang sangat terkenal yang sering dibahas dan disampaikan dalam berbagai khotbah dan renungan. Memang apa yang dikatakan Yesus sewaktu Ia disalibkan adalah suatu doa yang luar biasa, yang menunjukkan kasih-Nya kepada manusia. Pada waktu itu prajurit-prajurit Romawi membuang undi atas jubah Yesus, sedangkan banyak  orang Yahudi melihat Yesus disalibkan dengan melontarkan berbagai ejekan, dan bahkan seorang penjahat yang disalibkan di samping Yesus ikut juga menghujat Dia. Menghadapi semua itu Yesus tetap mau berdoa kepada Allah Bapa agar mereka diberi kesempatan untuk memperoleh pengampunan.

Yesus berdoa agar Bapa mengampuni mereka yang tidak tahu apa yang mereka perbuat. Ini bukanlah sekadar memenuhi nubuat Yesaya (Yesaya 53: 12) yang mengatakan bahwa “Ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberotak”. Yesus tentu tahu bahwa bagi mereka yang didoakan masih ada kesempatan untuk meminta ampun atas dosa-dosa mereka. Pengampunan Tuhan bisa diberikan jika manusia mau mengakui dosa-dosa mereka. Tetapi, jika mereka merasa tidak berdosa, pengampunan tentunya tidak akan diberikan Tuhan.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita. 1 Yohanes 1: 9 – 10

Mungkin dalam hal ini ada orang-orang yang merasa yakin bahwa mereka sudah hidup menurut perintah Tuhan, dan merasa yakin bahwa hidup mereka adalah lebih baik dari hidup orang lain. Perumpamaan Yesus tentang orang Farisi dan pemungut cukai yang ada dalam Lukas 18: 9 – 14 menceritakan adanya seorang Farisi yang berdoa  di sebelah seorang pemungut cukai dan merasa bahwa ia “tidak sama seperti orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini”. Orang Farisi ini jelas tidak sadar akan dosa apa yang diperbuatnya: kesombongan. Karena tidak tahu akan dosa yang diperbuatnya, ia tidak bisa meminta ampun; dan karena ia tidak meminta ampun, ia tidak akan dibenarkan Tuhan. Sebaliknya, pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini”. Bagi pemungut cukai ini pengampunan Tuhan tersedia.

Sadarkah kita akan dosa yang kita perbuat? Mungkin kita tahu bahwa sebagai manusia kita dilahirkan dalam dosa. Semua orang sudah berdosa karena dosa yang diperbuat oleh Adam dan Hawa. Walaupun demikian, sadarkah kita akan segala dosa yang kita perbuat setiap hari, setiap jam dan setiap saat? Sudah tentu jika kita menghitung dosa-dosa yang kita lakukan, pikirkan, atau katakan setiap hari, jumlahnya adalah terlalu banyak untuk bisa disebutkan. Untuk sebagian orang, karena kebiasaan dan berbagai alasan, dosa yang banyak itu mudah dilupakan. Begitu juga, apa yang bisa diterima oleh masyarakat umum mudahlah diacuhkan. Karena banyak orang melakukan hal yang sama, kita mungkin merasa bahwa kita tidak berbuat salah. Itulah salah satu segi positive thinking. Memang perbedaan antara berpikir positif dan menolak kenyataan adalah tipis.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa pengampunan Tuhan ada tersedia bagi semua orang yang sadar akan dosanya. Roh Kudus bekerja setiap saat untuk mengingatkan kita agar kita selalu mengamati apa yang baik dan yang buruk dalam hidup manusia di dunia.  Jika apa yang baik menurut firman Tuhan tidak kita lakukan dan apa yang buruk justru kita senangi, itulah kelemahan kita. Tetapi Roh Kudus jugalah yang memberi peringatan dengan tidak henti-hentinya agar kita tahu apa yang kita lakukan, agar kita peka akan apa yang baik dan apa yang buruk. Roh Kudus juga yang membimbing kita agar kita tidak jatuh kedalam positive thinking bahwa kita adalah orang-orang yang tidak lebih buruk dari orang lain. Biarlah dengan kerendahan hati kita mau meneliti kenyataan hidup kita hari demi hari untuk bisa memohon pengampunan Tuhan atas dosa-dosa kita, dan memperoleh kekuatan dari Tuhan agar kita mampu untuk memperbaiki cara hidup kita.

“Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!” Mazmur 51: 1

Hal menghadapi orang yang keliru

“Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati! dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu.” Yehezkiel 33: 8

Adakah untungnya bagi orang yang bermaksud baik untuk memberi nasihat bagi orang lain jika ada kemungkinan bahwa nasihat itu akan ditolak mentah-mentah dan bahkan bisa dijadikan alasan untuk mengadakan permusuhan? Ini adalah pertanyaan yang mungkin muncul dalam setiap orang dari kecil.

Memang, orang sering mempunyai keinginan untuk menolong orang lain, setidaknya untuk memberi nasihat. Tetapi, dari kecil mungkin kita sudah belajar untuk mengabaikan adanya hal-hal yang kurang baik dalam masyarakat. Mungkin dari orang tua atau teman, kita belajar untuk tidak mencampuri urusan orang lain. Itu adalah demi keselamatan atau kenyamanan kita sendiri.

Sangatlah menarik bahwa setiap masyarakat selalu mempunyai hal-hal tertentu yang sulit disinggung atau dibicarakan orang lain. Di dunia Barat misalnya, hal kebebasan memilih orientasi seksual sering kali membuat masyarakat umum rikuh untuk membicarakannya. Dengan demikian, banyak orang yang menutup mata akan hal itu selama kebebasannya sendiri tidak terganggu. Tetapi, akhir-akhir ini di Australia muncul pertentangan antara mereka yang ingin bebas memilih cara hidupnya dan mereka yang ingin menjalankan ajaran agamanya.

Bagaimana sebenarnya panggilan orang Kristen dalam menghadapi situasi di sekelilingnya? Haruskah orang Kristen berusaha berdamai dengan semua orang dengan cara apa pun? Kita bisa melihat dari contoh Yesus yang selama hidup di dunia tidak ragu-ragu menegur orang lain, sekalipun itu menyebabkan kemarahan mereka. Dengan demikian, panggilan kita untuk hari ini tetaplah sama, yaitu agar kita berani menyatakan apa yang benar dan yang tidak benar menurut apa yang difirmankan Tuhan.

Ayat di atas adalah pernyataan Tuhan yang khusus kepada Yehezkiel, tetapi bisa diterapkan prinsipnya untuk semua orang Kristen yang hidup di mana pun. Prinsip yang harus kita pegang, bahwa kita ikut bertanggung-jawab atas kesalahan yang dilakukan orang lain yang kita lihat sendiri.

Jika kita tahu bahwa orang lain melakukan kesalahan dan kita hanya berdiam diri, kita sudah ikut bersalah di hadapan mata Tuhan. Setiap orang Kristen dipanggil untuk ikut berpartisipasi dalam menegakkan kebenaran, bukan saja dalam lingkungan keluarga, pekerjaan, masyarakat dan gereja, tetapi juga dalam hidup bernegara. Semua itu tentunya harus dilakukan dengan kasih dan untuk kemuliaan Tuhan.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang dinasihati bisa saja merasa bahwa dirinya dipermalukan atau diserang sehingga ia menjadi defensif, ingin membela diri. Salah satu ayat Alkitab yang sangat terkenal, baik di kalangan orang Kristen maupun orang bukan Kristen adalah Matius 7: 1. Ini sering disalah artikan sehingga orang memakainya sekadar untuk membungkam kritik-kritik orang lain. Lebih-lebih lagi di kalangan umat Kristen pun banyak yang memakai ayat ini untuk menekankan segi kasih dan kesabaran Tuhan, tetapi secara keliru.

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” Matius 7: 1

Sering kali ayat ini juga dipakai untuk menyerang orang Kristen yang berusaha menerapkan ajaran Alkitab dalam masyarakat dan negara. Ayat ini biasanya dikaitkan dengan ayat lainnya yang juga sama terkenalnya dalam hidup sehari-hari:

“Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Yohanes 8: 7b

Ayat ini sekarang sering dipakai banyak orang untuk membungkamkan orang Kristen yang menolak perkawinan antar manusia sejenis, kebebasan seksual dan aborsi.

Sungguh disayangkan bahwa dengan tekanan masyarakat umum, orang Kristen sering kali jadi bungkam dan mandul dalam usaha menegakkan kebenaran Kristus di dunia. Tidak hanya masyarakat Kristen menjadi tersudut, para pendeta, guru dan orang tua pun menjadi serba salah ketika menghadapi tantangan dalam gereja, sekolah dan keluarga. Malahan, ada orang-orang Kristen yang pandangan hidupnya tidak ada bedanya dengan orang yang bukan Kristen. Akibatnya jelas merugikan martabat dan fungsi orang Kristen di dunia. Orang Kristen tidak dapat lagi menjadi terang dunia sebagaimana seharusnya.

Tuhan Yesus tidak mengajarkan murid-murid-Nya untuk membiarkan orang lain berbuat semaunya dan tidak juga melarang mereka untuk menegur orang yang keliru dalam hidupnya. Tetapi apa yang dipermasalahkan oleh Yesus adalah hal menghakimi orang lain dengan cara yang salah. Seperti yang tertulis dalam kitab Hakim-hakim, menegakkan hukum Tuhan di dunia dengan cara yang benar sebenarnya adalah tugas semua orang Kristen.

Bagaimana kita bisa menjadi “hakim” yang benar di dunia ini? Bagaimana seharusnya kita ikut menegakkan etika dan hukum Kristen dalam hidup sehari-hari? Ada beberapa syaratnya:

  • Kita harus memegang kuat Firman Tuhan. Apa yang baik dan buruk menurut Firman harus dinyatakan kepada semua orang dengan tegas tetapi dengan kasih. Apa yang dibenci Tuhan adalah perbuatan dosa kita dan bukan kita sendiri. Kita juga harus ingat bahwa orang yang sangat buruk hidupnya seperti Paulus, bisa dijadikan seorang Rasul.
  • Kita tidak boleh membeda-bedakan penerapan hukum Tuhan dalam masyarakat dan gereja. Siapa pun yang tersesat harus diperingatkan, tidak tergantung pada siapa orangnya. Kita juga harus menegur berdasarkan fakta dan bukan berita. “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.” Yohanes 7: 24
  • Menegakkan kebenaran Tuhan bukan hanya sekedar “omong kosong” saja tetapi dengan tindakan yang berdasarkan Firman. “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain.” Kolose 3: 16
  • Dalam usaha menegakkan kebenaran, kita harus menyadari bahwa semua orang cenderung untuk berbuat dosa. Karena itu, semua orang Kristen terutama mereka yang mempunyai kesempatan dan fungsi sebagai pemimpin dan guru harus mau dan bisa mengintrospeksi diri sendiri, agar bisa memberi contoh dan teladan untuk hidup baik.
  • Kerendahan hati adalah keharusan bagi setiap orang Kristen dan ini harus lebih dinyatakan dalam usaha menegakkan kebenaran Tuhan. Dalam kita menegur orang lain, kita harus sadar bahwa kita pun orang berdosa, tetapi hanya karena kasih Kristus kita sudah diselamatkan.

Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai orang terpilih yang sudah diselamatkan kita tidak boleh ragu dan takut untuk menegur orang lain. Firman Tuhan harus dinyatakan kepada semua orang, dan dengan itu kebenaran Tuhan harus ditegakkan. Walaupun demikian, semua itu harus dilakukan dengan kasih supaya nama Tuhan dipermuliakan.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Berkelimpahan dalam Tuhan

“Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” Matius 25: 29

Akhir-akhir ini saya sering menerima video yang menggambarkan keadaan di sebuah negara adidaya, yang menunjukkan banyaknya orang yang tidur di tenda atau melakukan perampokan secara terang-terangan. Terlepas dari benar tidaknya kejadian itu, semua orang tahu bahwa di negara maju pun belum tentu rakyatnya bisa menikmati hidup cukup atau memperoleh jaminan keamanan yang cukup.

Salah satu keluhan rakyat dari sebuah negara maju biasanya berkaitan dengan kenyataan bahwa kemakmuran yang terlihat belum tentu dapat dirasakan oleh semua orang. Bahkan, keluhan rakyat biasanya sehubungan dengan keadaan dimana orang yang kaya bertambah kaya, sedangkan orang yang miskin bertambah miskin. Walaupun demikian, negara maju umumnya mempunyai jaminan sosial bagi rakyat yang tidak mampu. Sebaliknya, pada banyak negara yang sedang berkembang, rakyat yang miskin harus bisa hidup dengan usaha sendiri atau berharap pada bantuan sedekah orang lain.

Keadaan yang serupa sering juga terlihat diantara masyarakat Kristen, dimana gereja-gereja yang besar dan kaya seringkali terlihat makin maju dan makmur, sedangkan gereja-gereja yang kecil harus berjuang dalam kekurangan dan kemiskinan. Orang mungkin menghubungkan kemakmuran sebuah gereja dengan berkat Tuhan, atau membuat asumsi bahwa kenyamanan yang mereka alami menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang disenangi Tuhan, yang hidup menurut kehendak Tuhan. Tetapi hal ini adalah jauh dari kebenaran, sebab Tuhan adalah Tuhan yang adil dan mau agar semua umat-Nya untuk hidup berbahagia. Bahagia yang bagaimana?

Ayat diatas memang sering disalah tafsirkan sebagai pernyataan bahwa Tuhan mengasihi orang-orang pilihan-Nya, dengan memberkati orang-orang tertentu. Mereka yang hidupnya sukses dan kaya, dianggap sebagai orang-orang yang menggunakan berkat dan talenta dari Tuhan sedemikian rupa sehingga Tuhan senang dan makin membuka pintu-pintu berkat di surga. Memang ada benarnya jika mereka yang tidak menghargai berkat Tuhan yang sudah dilimpahkan, tidak akan menerima tambahan berkat di masa depan. Tetapi hal jasmani ini bukanlah yang terpenting dalam hidup manusia, karena kebahagiaan tidaklah dapat diukur dengan kekayaan atau kenyamanan.

Apa yang lebih ditekankan dalam ayat diatas adalah kenyataan bahwa orang yang merasakan berkat karunia dan kasih Tuhan setiap hari, akan makin merasakan kecukupan dan bahkan kelimpahan dalam hidup rohaninya. Memang orang tidak perlu hidup dalam kelimpahan untuk dapat merasakan betapa besarnya kasih Tuhan dalam pengurbanan Yesus Kristus. Mereka yang bergelimang dalam kenikmatan duniawi, malahan justru sering terasing dari Tuhan. Mereka yang tidak tahu bagaimana menggunakan hidup untuk memuliakan Tuhan yang sudah mati disalibkan, akan mengalami kemiskinan rohani sehingga semakin lama imannya akan semakin kecil dan akhirnya lenyap.

Jawab Yesus: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” Matius 13: 11 – 12

Hari ini kita disadarkan bahwa tugas utama kita sebagai orang Kristen adalah mencari kerajaan surga dan bukannya kenyamanan duniawi. Tuhan memberkati mereka yang mengutamakan pengabdian kepada Tuhan dan kebenarannya, sehingga kita tidak perlu menguatirkan keadaan di sekeliling kita. Tuhan akan memberkati hidup kita jika kita mau dekat kepada-Nya.

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6: 33

Hal menuntut hak

Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah. Galatia 4: 6-7

Manusia itu aneh. Jika ada hal yang buruk terjadi, ia akan mengeluh mengapa hal itu  terjadi padanya. Tetapi, jika ada hal yang baik yang terjadi pada dirinya, ia akan merasa bahwa hal itu adalah sudah sewajarnya. Memang dari dulu manusia cenderung lebih mudah merasa bahwa apa yang baik adalah haknya, dan apa yang buruk tidak seharusnya terjadi pada dirinya. Lebih-lebih lagi, di zaman modern ini manusia lebih mengenal apa yang seharusnya menjadi haknya dan karena itu sering mengajukan berbagai tuntutan agar orang lain, masyarakat dan negara mengakui haknya baik melalui surat protes, demo atau tuntutan hukum.

Memang manusia sampai-sampai bersedia untuk berdebat, bermusuhan, dan bahkan berperang untuk memperoleh dan mempertahankan apa yang dianggap haknya. Anak-anak merasa mempunyai hak tertentu dan menuntut orang tua dan keluarga untuk menghargai dan memberikannya. Sebaliknya orang tua pun merasa  mempunyai hak-hak tertentu yang mengharuskan anak-anaknya untuk memenuhi kemauan dan kebutuhan mereka di masa depan. Demikian pula, percekcokan antara suami dan istri sering diakibatkan  karena mereka saling merasa punya hak-hak tertentu. Semua orang punya hak dan kewajiban, begitulah ajaran hidup bermasyarakat yang sering kita dengar.

Manusia sejak dulu memang berusaha memperjuangkan hak-hak asasi karena keyakinan bahwa pada hakikatnya semua manusia itu sama derajatnya. Tercatat dalam sejarah bahwa  tokoh-tokoh agama Kristen pada abad 17 dan 18 giat memperjuangkan masalah hak asasi. Hak Asasi Manusia(HAM) adalah prinsip-prinsip moral atau norma-norma, yang menggambarkan standar tertentu dari perilaku manusia, dan dilindungi secara teratur sebagai hak-hak hukum dalam hukum negara dan internasional. Mereka umumnya dipahami sebagai hal yang mutlak sebagai hak-hak dasar “yang seseorang secara inheren berhak karena dia adalah manusia”, dan yang “melekat pada semua manusia” terlepas dari bangsa, lokasi, bahasa, agama, asal-usul etnis atau status lainnya.

Salah satu hak asasi yang dituntut manusia adalah kemerdekaan untuk memilih apa saja yang disenanginya. Memang manusia diberi Tuhan kemerdekaan untuk mengatur hidupnya, dan bahkan untuk mengatur segala hewan dan tumbuhan yang diciptakan Tuhan. Walaupun demikian, kemerdekaan untuk menginginkan sesuatu atau memilih sesuatu bukan berarti bahwa manusia akan bisa menuntut dan mengharapkan agar dapat memperoleh apa saja yang diingini atau dipilihnya. Itu karena manusia bukanlah pemilik alam semesta dan bahkan bukan pemilik atas tubuh dan hidupnya. Tuhanlah yang memiliki seisi jagad raya, dan karena itu keputusan terakhir ada dalam tangan-Nya.

Walaupun dalam kehidupan masa kini, soal mengatur  hak dan kewajiban manusia adalah penting demi keamanan dan kelancaran hidup bermasyarakat; dalam konteks iman Kristen selalu ada pertanyaan apakah benar bahwa setiap manusia dilahirkan dengan hak-hak tertentu. Benarkah bahwa setiap orang di dunia pada hakikatnya mempunya hak yang sama untuk hidup nyaman dan aman? Benarkah manusia Kristen selaku anak Tuhan mempunyai hak-hak istimewa yang tidak dipunyai orang lain?

Apa yang tertulis dalam ayat pembukaan di atas seolah mengiyakan pandangan bahwa mereka yang sudah diselamatkan Tuhan mempunyai hak khusus terutama dalam hal meminta berkat dari Tuhan. Ayat itu sering dijadikan dasar untuk mengajarkan bahwa sebagai anak Tuhan kita berhak untuk meminta Tuhan untuk hidup di dunia tanpa mengalami kekurangan atau penderitaan. Tetapi jika kita teliti, ayat di atas bukanlah menunjuk pada hak kita sebagai anakTuhan, tetapi pada kenyataan bahwa mereka yang percaya sudah menerima anugerah keselamatan dan dengan itu boleh memanggil Allah sebagai Bapa. Dengan itu, kita mempunyai kewajiban untuk menjalankan firman-Nya. Kita adalah orang-orang berdosa yang meninggalkan kebenaran, tetapi yang kemudian diterima oleh Bapa kita untuk kembali ke jalan yang benar.

“Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.” Lukas 15: 18-19

Dalam Alkitab disebutkan bahwa manusia sebagai ciptaan Allah memang mempunyai hak kolektif untuk mengatur dunia serta untuk berkembang biak (Kejadian 1: 28-29), tetapi Alkitab hampir tidak pernah menyebutkan soal hak pribadi. Alkitab jelas menulis bahwa manusia itu diciptakan  sebagai peta dan teladan Allah untuk memuliakan Sang Pencipta. Dengan demikian, apa yang dikenal sebagai “hak ”  oleh manusia sebenarnya adalah anugerah Tuhan semata,  sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia. Pada pihak yang lain, manusia berkewajiban untuk tunduk kepada Sang Pencipta.

“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Roma 11: 36

Manusia diciptakan dengan kesadaran akan hal yang baik dan yang buruk; tetapi karena dosa, kesadaran ini sering menjadi pudar. Karena itu, dalam hidup bermasyarakat manusia membutuhkan pengertian akan adanya “hak” dan kewajiban. Tetapi, sekalipun mungkin kita kurang menyenanginya, adalah fakta bahwa apa yang sering disebutkan dalam Alkitab mengenai anak Tuhan adalah kewajiban dan bukan hak. Hukum Kasih mengatakan bahwa kita harus mengasihi Tuhan dan sesama kita, dan pada kedua hukum ini bergantung semua hukum-hukum yang lain (Matius 22: 37-40). Tuhan tahu jika kita melaksanakan kedua kewajiban ini, soal “hak” tidak lagi akan menjadi persoalan dalam hidup manusia.

Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai orang Kristen, kita tidak boleh selalu menekankan pentingnya “hak” kita dalam hidup beragama, berkeluarga, bermasyarakat, dan bernegara, tetapi lebih mementingkan apa yang bisa dan harus kita perbuat untuk Tuhan dan orang lain. Dengan demikian hidup kita akan bisa terisi dengan kebahagiaan dan kepuasan bahwa kita sudah menjalankan apa yang diperintahkan Tuhan dan memuliakan namaNya.

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 7: 12

Mengapa ada perundungan?

“Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran, adalah dungu.” Amsal 13: 1

Dalam media sosial ataupun dalam kehidupan sehari-hari, kita sering membaca atau mendengar kata bully. Tak dapat dipungkiri bahwa kata ini begitu populer dalam masyarakat mana pun, termasuk Indonesia. Banyak negara yang saat ini mempunyai kesadaran hukum yang kuat, memiliki hukum anti bullying.

Bullying atau perundungan sendiri adalah sebuah kegiatan penyalahgunaan kekuasaan atau ‘kekuatan’ yang bertujuan untuk menyakiti orang lain baik dalam bentuk fisik, psikis atau perkataan sehingga sang korban seringnya akan merasakan sakit, depresi atau terjebak dalam keputusasaan. Biasanya, pelaku adalah orang yang merasa mempunyai posisi yang lebih tinggi atau lebih ‘kuat’ dari sang korban.

Bullying bisa terjadi di sekolah, di kantor, di rumah, di gereja dan di mana saja, termasuk di dunia maya. Bullying sudah ada sejak dulu, tetapi baru sejak dekade yang lalu disorot orang karena akibatnya yang sangat destruktif dalam kehidupan manusia. Banyak orang yang menjadi hancur hidupnya setelah menjadi korban bullying. Jika bullying begitu buruk dan hanya akan menyakiti orang lain, mengapa banyak orang di segala usia yang kerap melakukannya?

Sekalipun Alkitab tidak mempunyai kata bully atau bullying, dalam ayat di atas ada kata-kata yang berkaitan. Kata dungu dapat diartikan bodoh dan kasar, dan mereka yang dungu adalah yang orang-orang yang mempunyai kelakuan kasar, seperti mereka yang suka mem-bully. Memang dalam bahasa Ibrani dan Yunani, kata kasar atau kekasaran tingkah laku dapat dihubungkan dengan “kebodohan yang dimiliki hewan”. Seperti apa yang juga tertulis dalam ayat di atas, orang yang suka merundung biasanya sukar berubah sifatnya karena keangkuhannya.

“Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati.” Amsal 11: 2

Walaupun bullying sudah tentu bertentangan dengan perintah Kristus untuk mengasihi sesama manusia, banyak orang Kristen yang menganggap itu “mungkin bisa saja diterima”. Misalnya, seorang suami atau majikan yang jika marah, sering membuat orang lain ketakutan. Selain itu, ada juga orang yang memandang pemimpin yang bisa merundung adalah orang yang macho atau benar-benar jantan.

Ada berbagai istilah mengenai bullying yang perlu diketahui umat Kristen, diantaranya:

  1. Intimidasi fisik adalah bullying yang berbentuk kekerasan badani, seperti: mendorong, memukul, melukai, dan meludahi.
  2. Intimidasi emosional adalah bullying yang melibatkan faktor-faktor lain selain interaksi fisik, seperti: penghinaan, komentar yang menghina, memberi nama panggilan, membodoh-bodohkan dan mengolok-olok.
  3. Intimidasi individu adalah bullying yang dilakukan perorangan dan bisa terjadi baik secara langsung atau online. Intimidasi individu juga bisa dilakukan dengan cara intimidasi fisik atau intimidasi emosional.
  4. Intimidasi kelompok adalah bullying yang dilakukan beramai-ramai terhadap seseorang, dengan cara intimidasi fisik atau intimidasi emosional. Ini juga dapat dilakukan secara langsung atau di dunia maya.

Intimidasi emosional (intimidasi sosial) sering terjadi dalam masyarakat secara tersembunyi karena kurang bisa terlihat. Ini bisa dilakukan misalnya dengan cara merampas hak orang lain (harta, anak, jabatan) dengan paksa. Dalam kehidupan keluarga, seorang suami bisa juga berhenti memberi uang belanja kepada istri atau anak, atau berhenti berkomunikasi jika mereka tidak tunduk sepenuhnya kepada kehendaknya.

Banyak faktor yang memicu seseorang untuk melakukan bullying, di antaranya yang paling awam adalah:

  • Kurangnya kepercayaan diri sendiri: sang pelaku ingin merasa ‘lebih baik’ dengan cara merundung; yang akhirnya memberikan mereka kepuasan yang bersifat sementara tanpa menyadari efek berkepanjangan pada korban .
  • Kurangnya empati kepada orang lain: biasanya para pelaku akan mencari alasan pembenaran kelakuan mereka jika ditanyakan. Namun bagaimanapun, tidak ada satu pun alasan yang bisa membenarkan sebuah tindakan tidak terpuji seperti bullying. Kurangnya hati nurani adalah penyebab utamanya, alih-alih alasan lain yang mereka coba buat.
  • Mencari-cari perhatian: sang pelaku merasa ‘hebat’ dengan menindas orang lain dan mendapatkan atensi dari banyak orang. Yang sebenarnya, bisa jadi salah satu tanda gangguan mental yang ia idap, seperti kecenderungan narsistik akut yang membuatnya ingin selalu dipandang sebagai yang ‘terhebat’.
  • Faktor pengaruh lingkungan yang buruk atau lainnya

Perundungan adalah suatu dosa, dan maraknya kasus semacam ini di berbagai tempat adalah sangat menyedihkan. Herannya, khotbah gereja jarang sekali membahas hal perundungan di kalangan umat Kristen. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa kasus perundungan adalah marak di antara umat Kristen, tetapi jarang dibahas karena adanya rasa tabu.

Hari ini, anda mungkin ingin tahu bagaimana reaksi Yesus seandainya Ia masih ada bersama kita sekarang ini. Matius 5: 22 bisa memberi sebuah gambaran:

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Jelas bahwa Yesus membenci bentuk bullying sekecil apa pun. Karena itu, sebagai umat Kristen kita harus ikut berusaha bersama masyarakat umum, badan gereja, aparat hukum dan pemerintahan untuk menghilangkan praktik bullying dari kehidupan masyarakat. Itu adalah bagian panggilan kita untuk mengasihi sesama manusia.

Siapa menghina sesamanya berbuat dosa, tetapi berbahagialah orang yang menaruh belas kasihan kepada orang yang menderita” Amsal 14: 21

Pilih halal atau haram?

“Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus.” Kolose 2: 16 – 17

Makanan itu sesuatu yang sangat penting di dunia karena tanpa makan, orang tidak dapat hidup. Bukan saja manusia, tetapi semua makhluk di dunia ini perlu makan. Walaupun demikian, manusia sebagai makhluk yang berbudi-daya, tidaklah puas dengan makanan yang sama setiap hari. Manusia tentunya mempunyai diet yang bervariasi untuk memenuhi kebutuhan dan kesehatan tubuhnya. Karena itu, banyak acara TV yang sekarang menampilkan acara kuliner dan masak-memasak.

Alkitab dari awal hingga akhir sering menampilkan hal makan dan makanan. Memang kemampuan untuk makan dan membuat makanan adalah berkat karunia Tuhan, tetapi jika disalahgunakan bisa membawa masalah. Kebanyakan makan sudah jelas tidak baik, apalagi kerakusan mungkin bisa dipandang sebagai salah satu dosa utama oleh sebagian orang. Salah makan, bukan saja bisa membuat perut sakit, tetapi juga dapat mendatangkan masalah kesehatan yang serius dan bahkan fatal.

Dalam hal makanan dan minuman, mayoritas orang Kristen memang bebas untuk mengonsumsi apa saja yang tidak merugikan kesehatan. Ayat di atas menyatakan bahwa karena Kristus sudah menggenapi Taurat, apa yang diharuskan dalam Taurat sebagai bagian dari kehidupan umat Israel yang asli, tidak perlu dilakukan oleh umat Israel yang baru yang terdiri dari berbagai bangsa. Tetapi, bagi sebagian orang hal ini sering menjadi bahan olok-olokan, karena agaknya orang Kristen tidak mengenal hal atau makanan yang haram. Benarkah begitu?

Sesuatu yang “halal” (dari bahasa Arab, artinya “diperbolehkan”) adalah segala objek atau kegiatan yang diizinkan untuk digunakan atau dilaksanakan dalam agama Islam. Istilah ini dalam penggunaan sehari-hari lebih sering digunakan untuk menunjukkan makanan dan minuman yang diizinkan untuk dikonsumsi menurut ajaran Islam, menurut jenis makanan dan cara memperolehnya. Pasangan halal adalah thayyib yang berarti “baik”. Suatu makanan dan minuman tidak hanya halal, tetapi harus thayyib; apakah layak dikonsumsi atau tidak, atau bermanfaatkah bagi kesehatan. Lawan halal adalah haram.

Dalam agama Kristen, kata halal tidak sering dibahas. Oleh karena itu, banyak orang mengira bahwa penganut agama Kristen bebas untuk menggunakan segala sesuatu atau melakukan kegiatan apa saja, asal tidak melanggar hukum. Tetapi, anggapan ini sebenarnya tidak lengkap. Paulus dalam 1 Korintus 6:12 menulis bahwa segala sesuatu diperbolehkan, tetapi bukan segala sesuatu berguna. Dengan demikian, segala sesuatu diperbolehkan, tetapi bukan segala sesuatu membangun (1 Korintus 10: 23). Karena itu bukan segala sesuatu adalah baik untuk dilakukan. Lalu, apakah yang “baik”, yang berguna dan membangun, yang boleh dan patut dilakukan?

Paulus lebih lanjut menyatakan bahwa jika kita makan atau jika kita minum, atau jika kita melakukan apa saja, kita harus melakukan semuanya itu untuk kemuliaan Allah (1 Korintus 10: 31). Dengan demikian, apa yang berguna adalah segala sesuatu yang berguna untuk memuliakan Tuhan dan membangun kerajaan-Nya di dunia. Umat Kristen seharusnya hidup dan memakai hidup mereka untuk menerangi dunia agar makin banyak orang yang bertobat dari hidup lamanya dan kemudian menjadi umat-Nya.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Jika salah makan yang dialami seseorang bisa membawa akibat langsung pada keadaan jasmaninya, adakah makanan yang bisa memengaruhi keadaan rohaninya? Pertanyaan ini sering didiskusikan orang Kristen sesudah Yesus menyelesaikan tugas penyelamatan-Nya. Agaknya mengherankan bahwa soal apa yang boleh dan tidak boleh dimakan jarang dipersoalkan oleh Yesus selama Ia hidup di dunia. Dalam hal ini, mereka yang mengerti bahwa tugas utama Yesus adalah untuk menebus dosa manusia tentunya dapat mengerti mengapa Ia tidak mempersoalkan halal atau tidaknya makanan jasmani (Markus 7: 19). Sebaliknya, Yesus mengajarkan bahwa keselamatan manusia tidaklah bergantung pada soal makanan jasmani.

“Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” Yohanes 6: 27

Pada zaman Perjanjian Lama, hukum Taurat dan segala kaidahnya cukup efektif untuk membimbing dan mempersatukan orang Yahudi dalam soal makan dan makanan. Tetapi masalah makanan mulai muncul dengan pertumbuhan kekristenan dalam masyarakat di luar golongan Yahudi. Memang makanan adalah salah satu produk budaya masyarakat. Setiap masyarakat dan budaya mempunyai cara makan dan jenis makanan yang tersendiri. Orang Yahudi yang merasa lebih tinggi dan beradab dari orang lain tentunya kurang bisa menerima kebiasaan orang lain. Tetapi Tuhan memperingatkan kita bahwa semua makanan adalah halal.

“……Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.” Kisah Para Rasul 10: 15

Hari ini, soal makanan mungkin tidak perlu dipikirkan dalam konteks keselamatan kita atau keselamatan orang lain. Tetapi, memilih makanan yang baik untuk memelihara kesehatan jasmani kita adalah perlu. Selain itu, seperti segi kehidupan lainnya, ada hal-hal yang bisa membawa hidup rohani kita makin terasa dekat kepada-Nya. Kebiasaan yang kita pandang baik untuk mempererat hubungan pribadi kita dengan Tuhan dan sesama sudah tentu baik untuk dipertahankan, tetapi kita harus sadar bahwa itu belum tentu serupa dengan kebiasaan orang lain.

Apakah aku cukup baik untuk bisa ke surga?

Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Markus 10: 17

Pertanyaan di atas sering diajukan manusia dari segala bangsa dan jaman. Berbagai agama telah memberikan jawaban yang berbagai ragam. Ada yang mengajarkan agar manusia berbuat baik kepada sesama, ada juga yang menyuruh pengikutnya agar rajin melakukan ritual tertentu, menyiksa diri, bertapa, mempersembahkan sesuatu kepada tuhan mereka, dan tindakan lainnya.

Jika dibandingkan dengan ajaran agama lain, ajaran Kristen sangat berbeda karena umat Kristen tidak perlu berbuat apa-apa untuk menerima keselamatan. Sering kali, keselamatan secara cuma-cuma ini menjadi bahan cemooh orang lain karena kelihatannya sangat mudah untuk mencapai surga. Sekalipun manusia hidup dalam dosa, seolah mudah sekali untuk mereka menjawab panggilan keselamatan Tuhan dengan sebuah kata “ya”. Tuhan orang Kristen seakan mudah memercayai jawaban manusia.

Memang adalah kenyataan bahwa orang agaknya gampang untuk menyebut dirinya Kristen karena kelihatannya tidak ada tuntutan untuk melakukan hal-hal khusus. Bukankah Yesus sudah berkata bahwa kita tidak lagi hidup di bawah hukum Taurat? Kita manusia merdeka! Sekali merdeka tetap merdeka! Tetapi betulkah itu? Betulkah bahwa keselamatan untuk orang Kristen itu diperoleh dengan harga murah?

Sebagian orang Kristen memandang bahwa iman kepada Yesus itu belum cukup karena tanpa melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, mereka merasa belum benar-benar tunduk kepada Tuhan. Kemudian mereka mencoba untuk hidup sebagai orang Israel, dengan mengadopsi tata cara budaya orang Israel dan hukum Taurat mereka. Mereka memandang orang Kristen yang lain sebagai orang fasik, atau orang yang tidak taat kepada perintah Tuhan. Orang yang tidak mau berkurban untuk Tuhan. Benarkah begitu?

Keselamatan buat umat Kristen tidak perlu dibayar dengan pengurbanan manusia. Tidak perlu bayar, tidak perlu bekerja untuk itu. Sekalipun kita miskin, sakit berat atau hampir mati, keselamatan masih bisa diperoleh; di mana saja, kapan saja. Tetapi itu dapat diperoleh karena harganya sudah dilunasi lewat pengurbanan Yesus di kayu salib. Karena harga keselamatan tidak terjangkau oleh manusia, satu-satunya jalan untuk menyelamatkan manusia adalah uluran tangan Tuhan sendiri yang memberikan karunia keselamatan untuk semua manusia yang mau menerimanya.

Dalam ayat di atas, ada seorang Yahudi kaya yang ingin mendapatkan keselamatan. Ia bertemu dengan Yesus dan bertanya apa yang harus dilakukannya. Pria kaya itu sudah menjalankan hukum Taurat tetapi ia tidak yakin bahwa ia sudah diselamatkan. Apa lagi yang harus dilakukannya? Yesus menjawab bahwa ada satu hal lagi yang harus dilakukannya: menjual seluruh hartanya.

Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Markus 10: 21

Pria itu ternyata tidak sanggup untuk melakukannya karena hidupnya memang untuk hartanya. Seperti pria kaya ini, kita pun bisa saja membaktikan hidup kita untuk uang, orang lain, keluarga, hobby, makanan, pekerjaan, aktivitas sosial, kenikmatan badani, kegiatan gereja dan sebagainya. Sebagian dari hal-hal ini nampaknya baik, tetapi jika bukan Tuhan yang dipermuliakan, semuanya akan menjauhkan diri kita dari Tuhan. Kegagalan pria kaya itu memang bukannya dalam hal menjual harta, tetapi dalam hal penyerahan hidup yang sepenuhnya kepada Yesus.

Apa yang tertulis dalam Markus 10: 17-27 mengingatkan kita bahwa menjadi pengikut Kristus yang sejati tidaklah semudah yang dibayangkan. Tidaklah semudah menjawab “ya” atas panggilan Tuhan. Jawaban semacam itu yang tidak pernah disertai dengan keluarnya buah-buah Roh (kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri) hanyalah membawa harapan kosong. Tanda-tanda pengikut Yesus yang benar selalu nampak dalam hal meninggalkan hidup lama dan munculnya hidup baru yang makin lama makin berbuah lebat. Bukan dengan menjalankan hukum Taurat.

Hukum Taurat yang berat itu, memang dalam pelaksanaannya sering membuat orang mencari jalan untuk bisa melanggarnya secara “halus”, yaitu melalui apa yang diperbolehkan menurut pikiran dan keputusan para pemimpin agama. Mereka terpaksa untuk memakai siasat “pilih-pilih” atau “pick and choose” untuk mencari cara gampangnya. Itulah sebabnya mengapa Paulus, yang sebenarnya adalah orang Farisi yang mengenal seluk-beluk hukum Taurat dan kebiasaan orang Yahudi, mengatakan bahwa mereka yang bersikeras untuk menerapkan hukum Taurat tetapi melanggarnya adalah lebih buruk dari mereka yang hidup dalam kebenaran walaupun tidak mengenal hukum Taurat.

“Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri.” Roma 2: 14

Bagaimana orang percaya bisa berjalan dalam kebenaran tanpa memiliki hukum Taurat? Bagaimana mereka bisa menjadi orang Kristen sejati tanpa melalui hukum Taurat dan adat istiadat orang Yahudi? Yesus pernah berkata bahwa Ia tidak meniadakan hukum Taurat, tetapi menggenapinya. Ia menjelaskan bahwa seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi dapat diringkas menjadi hukum kasih (Matius 22: 37 – 40).

Seperti pria kaya itu, kita pun mungkin sudah berusaha untuk hidup baik dan bahkan menjalankan hukum Taurat. Tetapi hidup baik tanpa penyerahan kepada Yesus bukanlah bukti keselamatan! Perbuatan baik yang kita lakukan seharusnya bermula dengan pengakuan kita akan kedaulatan Tuhan atas hidup kita. Itu tidak mudah. Penyerahan total kepada Tuhan itu tidak mungkin terjadi jika Tuhan sendiri tidak bekerja dalam diri kita. Tanpa uluran tangan Tuhan, lebih mudah untuk seekor unta untuk masuk dalam lubang jarum daripada untuk kita masuk ke surga.

Jadi, kalau keselamatan itu ternyata bukan melalui perbuatan baik dan perbuatan baik itu belum tentu merupakan tanda orang yang sudah diselamatkan. Keselamatan untuk manusia ternyata tidak mudah didapat! Apalagi, siapakah manusia yang dapat melaksanakan hukum Taurat dengan sepenuhnya? Kalau begitu, apakah ada orang yang bisa selamat? Tidak ada, jika tanpa bimbingan Tuhan. Manusia tidak mungkin menemukan Tuhan dengan usaha sendiri , tetapi dalam Tuhan semua itu mungkin. Yesus berkata:

“Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.” Markus 20: 27

Hari ini, jika kita meneliti hidup kita, biarlah Firman Tuhan bisa menyentuh hati kita. Bahwa bukannya kebiasaan dan ritual agama yang membuat kita menjadi orang Kristen sejati, karena apa yang kita pikir dan lakukan dalam hidup sehari-harilah yang lebih penting. Seperti bungkus tidak menentukan isi, begitu juga isi hidup kitalah yang lebih penting di hadapan Tuhan. Yesus sudah membayar hidup kita dengan harga termahal, dan pengurbanan-Nya bukanlah agar kita mempunyai penampilan yang baik menurut hukum Taurat, tetapi agar kita memiliki hidup baru di dalam Dia.

“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Galatia 3:28:

Bekerja atau menyerah?

“Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.” Pengkhotbah 7: 14

Baru sebulan memasuki tahun 2022, harapan untuk menjalani “new normal” kembali kandas. Seperti banyak negara lain, penduduk Australia berharap untuk bisa menjalani kehidupan sehari-hari secara “bebas terbatas” setelah lebih dari 90% penduduknya mendapat vaksinasi dua kali. Namun, dalam kenyataannya, kegiatan masyarakat saat ini masih harus dilakukan secara terbatas sambil ber “was-was”. Agaknya tidak ada seorang pun yang bisa menerka apa yang akan terjadi dengan semua rencana masa depan mereka.

Masa depan yang bagaimanakah yang anda inginkan? Bagi mereka yang masih tergolong muda, mungkin ada banyak yang diidamkan untuk masa depan. Tetapi, bagi mereka yang sudah berumur, masa depan yang mereka impikan dulu adalah masa kini. Mereka mungkin sudah hilang harapan dan terpaksa menerima apa saja yang bakal terjadi. Mungkin mereka lupa bahwa hanya karena kasih Tuhan, mereka dapat tetap hidup sampai sekarang. Walaupun begitu, banyak orang tetap melihat ke masa depan dengan usaha dan pengharapan bahwa pada suatu saat mereka masih akan dapat mengalami sesuatu yang lebih baik dan indah.

Memang agaknya aneh bahwa ada orang yang selalu sibuk memikirkan dan menguatirkan masa depan, sedangkan mereka tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Di beberapa negara misalnya, ada orang yang membeli rumah di bawah tanah untuk mengantisipasi datangnya perang nuklir global. Selain itu, beberapa pemimpin agama tidak henti-hentinya mengingatkan pengikut mereka bahwa akhir zaman sudah dekat. Semua itu karena orang berusaha menerka-nerka masa depan dan untuk bisa survive dengan usaha sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari orang memang sering kuatir akan apa yang terjadi karena adanya kejadian-kejadian yang tidak terduga. Banyak negara-negara yang pada mulanya stabil akhirnya menjadi terpecah belah sehingga rakyatnya menderita. Tetapi hal yang nampaknya lebih kecil – seperti kehancuran rumah tangga – juga bisa terjadi diluar dugaan orang. Hidup adalah penuh dengan misteri, begitu kata orang.

Ayat di atas menunjukkan bahwa apa yang terlihat nyaman dan tidak nyaman terjadi sesuai dengan kehendak Tuhan. Tuhan yang mahakuasa memang bisa mengizinkan terjadinya hal apa pun, yang tidak bisa diduga manusia, supaya manusia mengakui bahwa mereka hanya dapat bergantung kepada Sang Pencipta. Walaupun demikian, banyak orang yang tetap merasa mampu untuk menentukan hari depan mereka melalui usaha dan kerja; mereka mungkin berpikir bahwa masa depan setiap orang ada di tangan sendiri. Memang banyak “guru” yang mengajarkan bahwa jika kita bersikap positif untuk menghadapi hidup dan mau bekerja keras, masa depan yang cemerlang menunggu kita. Sukses selalu datang untuk orang percaya, kata sebagian orang. Tetapi itu belum tentu terjadi.

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: ”Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: ”Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 13-15

Memandang masa depan yang tidak dapat diduga, sering kali membuat kita ragu. Jika semuanya tidak ada yang pasti, bagaimana pula kita bisa mempunyai harapan untuk apa pun? Mereka yang mengajarkan manusia untuk berpikir positif selalu menekankan hal percaya diri. Dalam hal ini, seakan lebih mudah bagi seseorang untuk memercayai kemampuan manusia karena Tuhan dan kehendak-Nya adalah sulit untuk dimengerti. Pada pihak yang lain, ada orang yang mengajarkan bahwa Tuhan adalah mahakuasa, dan menekankan hal berserah kepada kehendak Tuhan. Dalam hal ini, banyak orang yang merasa bahwa menyerah kepada keadaan adalah lebih baik daripada berusaha, mungkin setelah mengalami berbagai kepahitan dalam hidup. Sikap mana yang benar?

Mereka yang benar-benar mengenal Tuhan akan mempunyai pengertian tentang cara kerja Tuhan. Sepanjang sejarah, Tuhan selalu bekerja agar umat-Nya mau menyerahkan hidup mereka sepenuhnya kepada-Nya. Ia tahu bahwa manusia tidak dapat hidup dengan bergantung pada diri mereka sendiri. Karena itu, melalui firman-Nya dan berbagai kejadian yang ada di dunia, Tuhan tidak jemu-jemunya mengingatkan bahwa jika kita hanya percaya kepada diri sendiri, kehancuranlah yang menunggu kita; jika itu tidak terjadi sekarang, pastilah itu terjadi di masa depan. Walaupun demikian, Tuhan dari awalnya menyuruh manusia untuk menaklukkan seisi bumi, dan karena itu kita harus mau tetap berusaha untuk menguasai keadaan melalui bimbingan-Nya.

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: ”Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1: 28

Hari ini, perlulah kita pikirkan apa yang kita harapkan dari masa depan. Apakah kita mengharapkan datangnya hari-hari gembira yang penuh suka cita? Tidak ada salahnya jika kita mengharapkannya dari Tuhan. Jika itu datang, kita boleh menikmatinya sambil bersyukur kepada-Nya. Tetapi, jika hari-hari yang penuh tantangan dan kesulitan datang, kita pun harus sadar bahwa hari-hari itu juga datang dengan seizin Tuhan. Dalam hal ini, mereka yang tidak mengenal Tuhan akan mengeluh dan bahkan mungkin menghujat Tuhan; tetapi mereka yang mengenal kasih Tuhan tidak akan menjadi kecewa, melainkan tetap giat bekerja untuk memuliakan nama-Nya, sambil merasakan betapa besar kasihTuhan yang sudah membawa keselamatan yang abadi. Bagi mereka, hidup ini tidak lagi sebuah misteri karena hidup di dunia ini adalah sangat singkat jika dibandingkan dengan hidup di surga.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 6 – 7

Setiap orang bisa menjadi seperti Yudas

“Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. Ia berkata: ”Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.” Matius 26:14-16

Sangat mudah untuk membayangkan Yudas sebagai penjahat atau orang yang dikorbankan dalam rencana Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia, tetapi dalam banyak hal, dia sama seperti banyak orang Kristen yang lain. Yudas adalah seorang pengikut Yesus dan seorang pengabar Injil, tetapi selalu ada keragu-raguan dalam dirinya. Pada akhirnya, dia meninggalkan keyakinan yang pernah dimilikinya. Ia tidak dipaksa oleh Tuhan, semua yang dilakukannya adalah pilihannya sendiri.

Yudas membuat komitmen kepada Yesus, dan tidak ada alasan bagi kita untuk berpikir bahwa dia tidak benar-benar tulus dalam imannya. Seperti murid-murid lainnya, dia meninggalkan segalanya untuk mengikuti Tuhan kita. Yudas secara aktif terlibat dalam pelayanan, dan dia diberi karunia rohani seperti murid-murid yang lain. Kita tahu bahwa Yesus memanggil “kedua belas” bersama-sama, termasuk Yudas, dan “memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang” (Lukas 9: 1–2).

Yudas Iskariot adalah seorang dari dua belas orang pilihan. Dia diberi karunia penyembuhan, dan dia menjalankan otoritas atas setan. Walaupun demikian, sekalipun keaktifan dalam pelayanan adalah hal yang baik dan luar biasa; tetapi itu bukanlah jaminan kehidupan atau kesehatan rohani. Yudas berjalan bersama Yesus selama tiga tahun. Dia melihat kehidupan terbesar yang pernah dijalani dari dekat dan secara pribadi. Kita tidak dapat memiliki pertumbuhan iman atau lingkungan yang lebih baik untuk membentuk iman daripada yang pernah dimiliki Yudas selama ia berjalan bersama Sang Juruselamat.

Yudas menyaksikan langsung keajaiban-keajaiban yang diperbuat oleh Yesus. Ketika Yesus memberi makan 5.000 orang, Yudas ada di sana. Yesus mengambil lima ketul roti dan dua ikan dan membagikannya bersama murid-murid lainnya. Ketika Yesus meredakan badai di danau Tiberias, Yudas juga ada di sana. Dan dia juga ada ketika Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian. Kita tidak dapat memiliki fakta penunjang iman yang lebih baik daripada yang pernah dimiliki Yudas.

Yudas juga mendengar semua ajaran Yesus. Dia mendengar khotbah di bukit, jadi dia tahu ada jalan yang harus dipilih setiap orang, jalan sempit yang menuju kehidupan atau jalan lebar yang menuju kehancuran. Dia mendengar peringatan yang Yesus sampaikan kepada orang-orang Farisi, jadi dia tahu adanya neraka yang harus dijauhi dan adanya surga yang harus dituju. Dia mendengar perumpamaan tentang anak yang hilang, jadi dia tahu bahwa Tuhan siap untuk menyambut dan mengampuni mereka yang telah menyia-nyiakan hidup mereka tetapi kemudian bertobat.

Dengan mata Yudas sendiri, dia melihat bukti yang paling jelas. Dengan telinganya sendiri, dia mendengar ajaran terbaik. Dengan kakinya sendiri, dia mengikuti contoh terbaik. Namun Yudas masih mengkhianati Yesus. Bagaimana ini bisa terjadi? Mungkinkah ini terjadi pada diri kita atau sanak kita? Mungkinkah semua itu adalah hasil penetapan Tuhan?

Hati manusia berada di luar pemahaman, dan ada sesuatu yang tidak dapat kita pahami tentang seseorang yang meninggalkan iman yang pernah mereka miliki. Apa yang pasti adalah setiap orang bertanggung jawab atas tingkah langkahnya dan perbuatannya.

“Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.” Yeremia 17: 9-10

Sulit untuk memahami bagaimana seorang anak muda yang dibesarkan oleh orang tua yang saleh dalam konteks kehidupan rohani, yang diajarkan kebenaran Alkitab sejak usia dini, dan diberi dasar pengertian iman, kemudian dapat meninggalkan Yesus.

Kisah Yudas mengandung pelajaran penting bagi orang tua, pemimpin, dan teman-teman yang berduka atas seseorang yang mereka cintai yang telah meninggalkan iman. Mereka mungkin berpikir:

  • Dimana letak kesalahan kita?
  • Apa lagi yang bisa kita lakukan?
  • Apakah kita telah gagal dalam pengajaran kita?
  • Apakah kita gagal dalam memberi contoh?
  • Haruskah kita menaruh putra atau putri atau teman kita di lingkungan yang berbeda?

Tetapi Yudas mengajarkan kita bahwa bahkan contoh terbaik, bukti yang paling meyakinkan, pengajaran terbaik, dan lingkungan prima untuk menetaskan iman, tidak dapat dengan sendirinya mengubah hati manusia. Manusia dengan kehendak bebasnya memang cenderung untuk memilih apa yang buruk.

Setan melakukan serangan tanpa henti terhadap jiwa Yudas, sebagaimana ia menyerang setiap orang yang memilih untuk mengikuti Kristus. Kita membaca hal setan menyerang Yudas, dan kemudian masuk ke dalam dirinya (Lukas 22:3–4, Yohanes 13:2, Yohanes 13:27). Pernyataan Alkitab yang jelas tentang aktivitas setan telah membuat beberapa orang berkata, “Yah, Yudas yang malang, dia tidak memiliki kesempatan. Setan masuk ke dalam dirinya. Apa yang bisa dia lakukan tentang itu?” Tetapi evaluasi ini mengabaikan fakta bahwa Yudas membuka pintu bagi setan. Ia 100% bertanggung jawab atas dosa-dosanya.

Yudas telah mencuri dari kantong uang kolekte, dan ketika dia merahasiakan dosa ini, setan masuk ke dalam dirinya. Dia lalu membuat kesepakatan dengan para imam kepala dan kemudian duduk di meja Yesus dengan dosa-dosa yang diketahui tetapi tidak diakuinya, dan setan kemudian masuk lebih jauh ke dalam hidupnya. Jika penyakit yang tidak dirasakan bisa menjadi parah, dosa yang tidak diakui selalu membuka pintu bagi kuasa Setan. Setan tidak mendapatkan pijakan dalam kehidupan orang-orang yang berjalan dalam terang bersama Yesus, tetapi ia mendapatkan jalan masuk ketika orang membuka pintu hidupnya.

Keagungan Yesus yang khas adalah bahwa Ia dapat menaklukkan manusia dan kehendak bebasnya tanpa manusia terlebih dahulu mendekatinya. Tetapi kelemahan Setan dibuktikan dengan ini, bahwa ia tidak dapat mendekati suatu jiwa kecuali jiwa itu terlebih dahulu berpaling kepada setan melalui pilihannya. Kadang-kadang kita salah mengartikannya, takut bahwa setan entah bagaimana akan memiliki akses ke anak-anak Allah, sementara kita meragukan bahwa Yesus dapat melakukan apa saja untuk manusia sekalipun mereka menutup pintu hidupnya. Tetapi Alkitab justru mengajarkan sebaliknya. Manusia mempunyai kehendak bebas, tetapi Tuhan dapat mengalahkannya. Iblis mempunyai kehendak bebas, tapi tidak dapat mengalahkan manusia jika manusia ada dalam perlindungan Tuhan.

Yudas jatuh ke dalam lubang yang telah digalinya sendiri. Seperti Yudas, ketika kita mendekati Yesus, salah satu dari dua hal akan terjadi: apakah kita akan menjadi miliknya sepenuhnya, atau kita akan semakin terasing dari-Nya. Hanya mereka yang belum pernah mengenal-Nya yang bisa tetap acuh tak acuh kepada-Nya. Memang, karena klaim keilahian-Nya begitu eksklusif dan tuntutan-Nya begitu luas dan tegas, pada akhirnya orang harus memilih: menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada-Nya atau melupakan-Nya sama sekali. Tidak ada jalan tengah.

Akhirnya, kisah Yudas mengingatkan kita bahwa tidak ada hal baik yang bisa datang dengan mengabaikan Yesus Kristus. Karena keilahian-Nya, mengikuti-Nya adalah suatu kebahagiaan besar, bagaimanapun beratnya salib yang harus kita pikul selama hidup di dunia. Di zaman ini, ketika banyak orang meninggalkan iman yang pernah mereka imani karena keinginan duniawi, kisah Yudas memperingatkan kita untuk menjaga hati kita, agar jangan sampai kita terhanyut. Kita sepenuhnya bertanggung jawab atas cara hidup dan pilihan kita. Kisah Yudas juga memperlengkapi kita untuk menjangkau mereka yang mungkin sudah menjauh dari iman, agar mereka mau kembali ke jalan yang benar.

“Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.” Yudas 1: 2 2-23