Dibenarkan dengan cuma-cuma

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23 – 24

Beberapa minggu terakhir ini semua shopping centre di Australia mulai dibanjiri orang yang mencari hadiah Natal untuk sanak keluarga dan teman baik. Hiruk pikuk orang yang berbelanja bisa membuat orang yang tidak terbiasa dengan suasana menjelang Natal menjadi pusing kepala, apalagi jika memikirkan berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli hadiah.

Sebenarnya, mungkin hampir separuh dari hadiah Natal itu tidak dibutuhkan oleh orang yang diberi hadiah. Karena itu, setelah hari Natal dan Tahun Baru, banyak hadiah yang dibuang atau disumbangkan kepada badan-badan sosial. Dalam hal ini, anjing atau kucing yang dibeli orang untuk dijadikan sebagai hadiah, adalah makhluk yang paling malang. Itu karena banyak di antaranya yang kemudian diberikan kepada badan penyayang binatang untuk dijual lagi, karena orang yang menerima hadiah itu tidak sanggup untuk memeliharanya.

Bagi banyak orang, hari Natal adalah hari yang menguras uang. Karena kebanyakan orang membeli barang-barang dengan menggunakan kartu kredit, jumlah orang yang terbelit hutang pada awal tahun mendatang cukuplah besar. Tidak ada barang yang gratis di dunia, karena kita harus membayar untuk memperoleh sesuatu. Untuk memperoleh apa yang betul-betul bisa menjadi milik kita pribadi, kita harus bekerja untuk memperolehnya atau membayar harganya dengan suatu pengurbanan.

Keyakinan bahwa tidak ada yang gratis di dunia itu jugalah yang sering membuat orang sukar percaya bahwa keselamatan tidak mungkin diperoleh manusia tanpa berbuat sesuatu. Jika ayat di atas mengatakan bahwa orang Kristen sudah dibenarkan dan memperoleh keselamatan dengan cuma-cuma, itu adalah sesuatu yang sulit dimengerti orang yang mempunyai kepercayaan lain. Karena itu, banyak orang beragama yang percaya bahwa keselamatan di surga hanya bisa dicapai dengan hidup baik dan perbuatan baik.

Jika dikatakan bahwa keselamatan itu barang yang dapat diperoleh di mana-mana oleh siapa pun secara gratis, itu sesungguhnya tidak benar. Keselamatan dari murka Allah tidaklah ada yang bisa memadamkannya. Ia yang mahakuasa tidak mungkin bisa dipengaruhi oleh manusia dan segala usaha mereka. Tetapi, kemarahan Tuhan hanya bisa dihentikan oleh-Nya sendiri, dan itu karena kasih-Nya. Ia ingin menyelamatkan manusia dan untuk itu Ia sudah turun ke dunia, membayar dengan harga tertinggi dengan kematian Yesus di kayu salib.

“Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar.” 1 Korintus 7: 23a

Jika ada manusia yang ingin membeli keselamatan dengan usaha sendiri ada beberapa hal praktis yang menghalanginya. Yang pertama, bagaimana mungkin ia bisa menebus dosanya dengan hidup suci atau sering berbuat baik jika ia tetap berbuat dosa setiap hari? Tuhan yang mahasuci tidak akan dapat menerima apa yang tidak benar-benar suci. Apa pun yang dipandang baik oleh manusia, dalam kenyataannya sudah terkontaminasi dosa.

Kedua, jika ada orang yang ingin membeli keselamatannya dengan memberi persembahan harta kepada Tuhan, ini pun sia-sia. Mungkinkah Tuhan mau menerima tebusan materi yang sebenarnya adalah milik Tuhan sendiri, apalagi jika apa yang dipersembahkan sebagai tebusan tidak mungkin sebesar dosa yang seharusnya membawa kematian? Jelas, kita hanya bisa diampuni jika ada orang yang bisa menggantikan kita untuk menerima hukuman Tuhan. Dan orang yang bisa menebus dosa kita haruslah tidak mempunyai dosa.

Alkitab menyatakan bahwa Tuhan sendiri harus menggantikan manusia dalam menanggung hukuman dosa.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8

Hari ini, jika kita memikirkan masa depan kita, patutlah kita bersyukur bahwa Allah sudah mengirimkan Yesus Kristus untuk menebus kita selagi kita masih dalam dosa. Allah tidak menuntut kita untuk memiliki kesucian atau persembahan yang besar untuk bisa diselamatkan. Ia tahu bahwa sebagai manusia kita tidak mungkin untuk memenuhi standar-Nya. Kita yang sudah menerima hadiah keselamatan ini patutlah bersyukur setiap hari dengan memuliakan-Nya dan membagikan kasih-Nya kepada setiap orang.

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3: 17

Semua manusia diciptakan menurut gambar Tuhan

Berfirmanlah Allah: ”Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Kejadian 1:26

Tahukah anda bahwa perusahaan Colgate-Palmolive mengubah kemasan untuk pasta gigi ‘Darkie‘ yang dijual di Asia pada tahun 1989 ? Nama barunya adalah ‘Darlie‘ yang mirip dengan nama aslinya. Mengapa? Karena nama dan gambar orang di kemasan tapal gigi yang sudah dipakai selama betahun-tahun itu dianggap rasis. Perubahan kemasan akhirnya terjadi karena “terpaksa”, tetapi itu bukan kejutan besar mengingat bagaimana pasta gigi itu cukup populer di berbagai negara. Perusahaan pemiliknya tentunya tidak mau kehilangan pembeli.

Memang di era modern ini rasisme masih ada di mana saja. Blackface (muka yang diwarnai hitam) di Amerika secara luas dikenal sebagai hal yang ofensif, tetapi di negara lain itu adalah cerita yang berbeda dan tidak jarang melihat adanya blackface di TV dan media sehari-hari. Bahkan di negeri Belanda parade Sinterklaas (yang berkulit putih) dan Zwarte Piet (yang mukanya bercat hitam) masih ada sampai sekarang pada minggu-minggu menjelang hari Natal. Tapi apa yang membuat kasus tapal gigi ini dipandang sangat buruk adalah bahwa Colgate-Palmolive adalah perusahaan Amerika dengan kantor pusat di New York. Memang kesadaran bahwa semua manusia adalah sederajat dan tidak boleh diperlakukan secara berbeda belumlah tercapai sepenuhnya di antara umat manusia. Tidak jarang orang yang tidak mau diperlakukan secara rasis justru sangat rasis terhadap orang yang berlainan penampilannya atau berbeda sukunya. Itu karena adanya pandangan bahwa golongan merekalah yang paling unggul di dunia atau di negara mereka.

Ayat pembukaan di atas menyatakan bahwa manusia yang pertama diciptakan oleh Allah menurut gambar-Nya. Setelah itu, terjadinya penyebaran umat manusia ke seluruh penjuru dunia membuat timbulnya berbagai bangsa. Ada berapa bangsa di dunia ini? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Jika di dunia ini ada 195 negara (country), tiap negara mungkin terdiri dari beberapa bangsa (nation) dan suku (tribe). Memang kata “negara” belum tentu sama artinya dengan kata “bangsa”. Sebuah bangsa adalah sekelompok orang yang mempunyai latar belakang yang sama, tetapi belum tentu membentuk sebuah negara. Sebaliknya, beberapa bangsa bisa membentuk sebuah negara. Karena itu, jumlah bangsa di dunia ini tentunya lebih banyak dari jumlah negara.

Secara ideal, sebuah negara akan mempunyai kestabilan yang lebih besar jika terdiri dari satu bangsa. Sejarah membuktikan bahwa negara yang dibentuk oleh bangsa-bangsa yang berlainan lebih mudah untuk pecah karena perbedaan paham atau cara hidup. Memang banyak bangsa yang merasa berbeda dengan bangsa lain, sedemikian rupa sehingga ada perasaan bahwa bangsa lain adalah lebih rendah derajatnya. Inilah yang sering menimbulkan pertikaian antar bangsa seperti apa yang terjadi dalam Perang Dunia kedua.

Perasaan bahwa bangsa atau orang lain adalah berbeda derajatnya dan karena itu tidak sama kedudukannya sering muncul dalam pikiran manusia. Manusia dengan adanya dosa, sering tidak dapat mengasihi atau menghormati derajat orang lain. Malahan, sewaktu perbudakan masih ada di dunia, banyak orang Kristen yang memperlakukan budak sebagai barang saja, Dengan kemajuan pendidikan dan budaya, manusia kemudian menyadari bahwa semua orang adalah sama derajatnya. Racism atau racialism kemudian menjadi sesuatu yang dianggap sangat buruk dalam hidup bermasyarakat.

Untuk orang Kristen, perasaan bahwa mereka adalah orang-orang terpilih juga bisa menimbulkan perasaan bahwa orang lain tidaklah sebaik mereka. Tetapi Yesus yang adalah orang Yahudi, datang ke dunia bukan untuk menyelamatkan orang Yahudi saja. Karena semua orang di dunia diciptakan Allah, Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan siapa saja yang mau percaya.

“Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain!” Roma 3: 29

Hari ini, jika kita melihat ke sekeliling kita, kita bisa melihat begitu banyak bangsa dan suku yang hidup di dunia. Kita harus sadar bahwa semua orang adalah milik Allah, dan karena itu berhak memperoleh perlakuan yang sama. Sebagai ciptaan Tuhan kita harus menghargai orang lain yang sekalipun berbeda dengan kita dalam satu atau banyak hal. Tidak ada orang Kristen yang boleh merasa bahwa suku atau bangsanya adalah lebih unggul dari yang lain. Seluruh umat manusia adalah ciptaan Tuhan, dan Ia mengasihi segala bangsa. Karena itu jugalah kita mengabarkan Injil ke seluruh penjuru dunia.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Matius 28: 19

Yakinkah anda akan arti Natal?

“Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.“ Yohanes 6: 37

Apakah anda yakin akan masuk ke surga? Pertanyaan itu sering muncul di lubuk hati banyak orang beragama, termasuk sebagian orang Kristen. Bagi mereka yang bukan Kristen, mau tidak mau pertanyaan ini membuat mereka berpikir dalam-dalam, merenungkan apakah hidup mereka sudah cukup baik untuk bisa diterima Tuhan. Orang mungkin terpaksa menghitung-hitung apakah amal ibadah mereka sudah bisa dibilang cukup besar. Dan jika saatnya tiba bagi seseorang untuk meninggalkan dunia ini, orang-orang yang ditinggalkan biasanya mengenang kebaikan apa saja yang sudah diperbuat almarhum dan berharap agar beliau diberi tempat yang baik di surga. Walaupun demikian, tidak ada seorang pun yang bisa memastikan bahwa orang yang “baik” menurut standar manusia akan masuk ke surga. Surga tentunya adalah tempat yang sempurna di mana Tuhan yang mahasuci berada, dan bagaimana manusia bisa memenuhi syarat kesucian Tuhan adalah pertanyaan yang sulit dijawab.

Mereka yang mengaku Kristen, seharusnya mengerti bahwa keselamatan hanya dimungkinkan oleh darah Kristus yang telah menebus dosa apa pun yang ada dalam diri seseorang. Walaupun demikian, Alkitab menulis bahwa tidak semua orang yang percaya adanya Tuhan akan diselamatkan, karena iblis pun percaya Tuhan itu ada (Yakobus 2: 19). Karena itu, keraguan orang mungkin muncul apakah Tuhan benar-benar mau menerima semua orang yang mengaku Kristen. Dengan kesadaran bahwa Tuhanlah yang berhak menerima atau menolak manusia, ada orang-orang yang masih kuatir bahwa mereka tidak tergolong dalam kelompok yang dipilih Tuhan. Tentu saja, mereka yang percaya bahwa Tuhan sudah menentukan bahwa orang-orang tertentu akan masuk ke neraka, akan mempunyai keraguan apakah iman mereka ada gunanya.

Mungkinkah Yesus menolak orang yang benar-benar ingin menjadi umat-Nya? Ataukah Tuhan sudah membatasi jumlah orang yang akan diselamatkan-Nya? Ayat pembukaan diatas mengatakan bahwa mereka yang datang kepada Yesus adalah orang-orang yang diberikan Bapa kepada-Nya. Allah membuka mata hati mereka untuk bisa mengerti akan kebesaran-Nya, dan karena itu Yesus tidak mungkin menolak mereka. Di antara mereka yang datang kepada Yesus dan kemudian melihat Yesus sebagai Anak Allah, ada yang percaya dan menyerahkan hidup mereka kepada-Nya. Merekalah yang akan diselamatkan.

“Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.” Yohanes 6: 40

Pagi ini, mungkin kita pernah mendengar bahwa Yesus itu adalah guru yang baik, tokoh yang patut dihormati. Dengan demikian, dalam bayangan dan perasaan hati, kita mungkin sudah datang dan melihat Dia. Tetapi, pertanyaannya apakah kita sudah benar-benar percaya bahwa Yesus adalah Tuhan yang sudah datang ke dunia untuk menebus dosa kita. Dengan penebusan itu, kita yang dulunya tidak layak untuk diselamatkan, kemudian mendapat pengampunan dari semua dosa kita. Dengan demikian, tidaklah perlu bagi kita untuk meragukan keselamatan kita.

Walaupun demikian, jika kita benar-benar percaya bahwa Yesus adalah Juruselamat kita , tentunya kita akan dengan sukacita melakukan apa yang difirmankan-Nya. Seperti Yesus menaati Bapa, kita seharusnya mempunyai kerinduan untuk taat kepada perintah Bapa dan hidup untuk memuliakan-Nya. Mereka yang sudah datang dan melihat Yesus dalam hidupnya, tetapi tidak merasakan adanya dorongan untuk hidup dalam kebenaran Kristus adalah orang yang belum benar-benar percaya kepada-Nya. Menjelang hari Natal ini, pertanyaan bagi kita adalah: “Sudahkah kita dalam hidup ini datang kepada Yesus, melihat Dia dan beriman kepada-Nya?”

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Siapakah aku, dan siapa Bapaku?

“Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.” 1 Korintus 13: 12

Di negara barat ada banyak orang yang mengadopsi anak yang berasal dari negara-negara lain. Pada umumnya, ada dua macam adopsi yang bisa dipilih, yaitu adopsi tertutup (closed adoption) dan adopsi terbuka (open adoption). Jika jenis adopsi yang pertama merahasiakan informasi mengenai orang tua anak yang diadopsi, jenis yang kedua memungkinkan anak yang diadopsi untuk mengenali siapa orang tua mereka.

Di zaman ini, adopsi terbuka dianggap lebih baik untuk pertumbuhan kejiwaan sang anak, karena ia tidak akan merasa seperti orang terbuang yang tidak tahu asal usulnya. Memang seorang yang diadopsi oleh orang yang berlainan suku atau bangsa lambat laun akan sadar bahwa ia tidak mempunyai kemiripan dengan orang tuanya. Anak angkat itu kemudian ingin tahu siapa orang tua yang sebenarnya, dan hal ini bisa menjadi suatu enigma, atau hal yang misterius atau tanda tanya yang besar.

Hal yang serupa membuat seseorang yang sudah lama hidup secara duniawi untuk sulit memikirkan asal usulnya. Sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan menurut peta dan teladan-Nya, ia tidak mudah mengenal bahwa pada awalnya ia adalah ciptaan Tuhan yang paling utama. Bagi manusia yang sudah hidup jauh dari Tuhan, Tuhan adalah seperti enigma.

Sebenarnya Tuhan yang di surga tidak jemu-jemunya berusaha untuk mengingatkan semua manusia ciptaan-Nya bahwa Ia ada dan menantikan mereka untuk mau kembali mengenali-Nya. Tuhan bekerja dalam kehidupan manusia, dan melalui berbagai cara mengingatkan setiap orang bahwa Ia ada. Namun tidak semua orang mau memikirkan adanya Tuhan. Bagi mereka, Tuhan yang jauh di sana adalah Tuhan yang tidak perlu dikenal. Suatu hal misterius yang tidak perlu dipikirkan.

Pada pihak yang lain, ada orang yang tahu bahwa Tuhan itu ada, dan bahkan sadar bahwa Tuhan adalah Bapa yang penuh kasih. Walaupun demikian, dorongan hati untuk berkelana dan menikmati dunia dengan segala hal yang terlihat memikat, membuatnya pergi meninggalkan sang Bapa. Jika tidak karena adanya masalah kehidupan yang dialaminya, orang itu tentu tidak akan mau untuk pulang ke rumah. Orang sedemikian sadar siapakah dia, dan tahu siapa Bapanya, tetapi selama hidup bebas terasa nikmat ia tidak teringat akan Bapanya.

Bagaimana dengan hidup kita sendiri yang sudah percaya adanya Tuhan? Tentunya kita menyadari bahwa kita adalah anggota keluarga Tuhan. Kita bukan anak-anak dunia (Yohanes 17: 16). Walaupun demikian, kita tidak dapat membayangkan kebesaran Tuhan dengan sepenuhnya. Dengan iman kita percaya, tetapi kita belum pernah menjumpai Dia. Pada saat ini kita hanya dapat melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar. Hal ini sering kali mendatangkan kegalauan, karena setiap orang percaya hanya memiliki pengenalan akan Tuhan yang tidak sempurna.

Untunglah bagi kita, Yesus sudah turun ke dunia. Ia adalah Anak Allah dan satu dengan Allah. Yesus yang sebentar lagi akan kita rayakan hari kelahiran-Nya adalah Tuhan, dan melalui hidup-Nya di dunia kita dapat mengenal siapa Tuhan dan bagaimana hakikat-Nya. Melalui Yesus kita tahu bahwa Tuhan adalah mahakuasa, mahatahu, mahahadir dan mahakasih. Bagi mereka yang percaya kepada Yesus, Tuhan bukanlah sebuah enigma. Sebagai orang Kristen kita tidak mempunyai alasan untuk menolak jalan, kebenaran dan hidup seperti yang sudah difirmankan Yesus.

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” Yohanes 14: 6 – 7

Yesus adalah Allah yang menyertai kita

“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” yang berarti: Allah menyertai kita. Matius 1: 23

Sekitar dua minggu lagi kita akan merayakan hari Natal, hari yang dipilih oleh sebagian besar orang Kristen untuk merayakan kelahiran Yesus Kristus. Seminggu setelah hari Natal, tahun baru akan datang. Dengan demikian, masih ada cukup waktu bagi siapa saja untuk mulai menganalisa hidup kita selama setahun ini. Sudahkah anda merasa tenteram dalam hidup anda? Yakinkah anda bahwa hari-hari mendatang akan dapat anda hadapi dengan keteguhan hati?  Masih adakah perasaan bahwa dengan adanya berbagai persoalan seperti pandemi, ekonomi, studi, kesehatan dan keluarga, anda mungkin harus menerima kenyataan bahwa hidup ini terlalu sulit untuk dijalani?

Pada pihak yang lain, jika kita sempat mengunjungi berbagai kompleks pertokoan, tentu kita bisa melihat bahwa orang mulai sibuk dengan persiapan menyongsong hari Natal. Pusat perbelanjaan di mana pun saat ini mulai dipenuhi banyak pengunjung. Dengan berjubelnya pusat pertokoan, terkadang saya heran mengapa begitu banyak orang yang kelihatannya ikut merayakan hari Natal. Benarkah mereka mengerti makna Natal? Ataukah mereka hanya merayakan hari Natal sebagai suatu kebiasaan turun temurun saja? Tentu saja mereka yang mengaku Kristen mengerti bahwa perayaan Natal adalah perayaan hari kelahiran Yesus. Tetapi, siapakah Yesus itu untuk diri mereka pribadi? Apakah Yesus tetap relevan untuk kehidupan mereka, sedangkan mereka yang tidak ke gereja kebanyakan berdalih bahwa gereja sudah tidak cocok untuk kehidupan zaman sekarang?

Memang kekristenan di zaman ini menghadapi serangan yang luar biasa dari segala penjuru. Bukan saja pertumbuhan agama-agama lain menyebabkan mereka yang dulunya lahir dan hidup dalam lingkungan Kristen, sekarang tertarik untuk pergi “shopping” mencari apa yang lebih menarik. Kemajuan teknologi memang bisa membuat manusia seolah bisa menentukan nasibnya sendiri. Nasibku ada ditanganku, begitu banyak orang berpikir. Belum lagi adanya banyak orang terkenal yang mengajarkan cara hidup yang dikatakan akan membawa keberhasilan dan kebahagiaan tanpa perlu untuk menaati ajaran-ajaran keagamaan atau mengenal Tuhan. Tidaklah mengherankan, bagi banyak orang Yesus hanyalah tokoh sejarah dan bukan Anak Allah.

Ayat di atas adalah ayat yang sering dibacakan di gereja pada minggu-minggu menjelang Natal. Ayat yang signifikan karena setidaknya dua hal. Yang pertama adalah bahwa Yesus memang lahir sebagai manusia dan karena itu Ia adalah manusia yang bisa mengerti kebutuhan kita dengan sepenuhnya. Yang kedua, Yesus dilahirkan sebagai pernyataan kasih Allah yang ingin agar manusia menyadari bahwa dalam Yesus manusia dapat menemukan Dia.

Tuhan yang menjadi manusia adalah Tuhan yang bisa dan mau menolong kita. Tuhan kita bukanlah yang jauh disana, yang dalam kebesaran-Nya membiarkan manusia untuk berjuang seorang diri di dunia, dan yang mengharuskan manusia untuk bisa mencapai derajat kesucian yang bisa diterima oleh-Nya. Untuk mereka yang hidup di negara dimana ha ri Natal dirayakan, acara-acara dan hiasan-hiasan Natal yang sudah bermunculan sejak awal bulan Desember adalah sesuatu yang berkesan indah. Walaupun demikian, adanya perayaan Natal untuk sebagian orang adalah sesuatu yang kurang dapat dinikmati, dan malahan bisa menimbulkan rasa susah dan masygul. Tuhan tahu bahwa manusia yang lemah dan berdosa ini, tidaklah bisa untuk mencapai kebahagiaan yang kekal.

Hari Natal umumnya dirayakan bersama teman, sanak atau keluarga. Tetapi mereka yang tidak mempunyai siapa pun dalam hidup mereka, mungkin merasakan betapa sepinya Natal ini. Mereka yang sedang sakit, mereka yang dalam kekurangan, penderitaan maupun kesusahan, mungkin juga harus melewati Natal dalam kesunyian. Adalah kenyataan bahwa Natal bagi sebagian orang malahan bisa membawa kesedihan yang mendalam.

Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan adanya hubungan dengan orang lain dan adanya orang lain di sekitarnya. Dari awalnya Tuhan Sang Pencipta tahu kebutuhan ciptaan-Nya; Ia tidak menghendaki manusia merasa sendirian dan kesepian. Begitulah dalam hidup di dunia ini, setiap manusia seharusnya memberi dukungan dan penyertaan orang-orang yang mereka cintai. Namun dukungan manusia adalah terbatas; dan kalaupun ada, belum tentu bisa cukup atau langgeng.

Ayat divatas memberikan jaminan kepada setiap orang Kristen bahwa apavpun yang  mereka alami, Yesus yang lahir di bumi sebagai manusia dapat mengerti dan ikut merasakannya. Ayat itu juga memberi keyakinan baru kepada siapa pun yang merasa lemah dan kuatir untuk menghadapi masa depan, bahwa Yesus Anak Allah akan menyertai mereka dalam setiap keadaan. Apa yang perlu kita persiapkan dalam menghadapi Natal adalah hati kita, agar kita tetap berpegang pada iman bahwa Imanuel itu benar-benar berarti Allah menyertai kita.

Yesus yang datang ke dunia pada hari Natal adalah seorang pendamping manusia yang lebih dari siapa pun yang ada disekitar kita. Ia adalah Tuhan dan karena itu kemampuan-Nya tidak ada batasnya. Yesus sudah membuktikan kesetiaan-Nya sampai mati di kayu salib untuk ganti dosa kita, karena itu tidak mungkin kalau kasih-Nya kurang dari itu. Yesus juga Tuhan yang lahir dalam bentuk manusia biasa, karena itu tidak mungkin kalau Ia tidak tahu dan tidak bisa merasakan penderitaan kita.

Pagi ini kita diingatkan bahwa Yesus yang lahir pada hari Natal adalah Tuhan yang Mahakuasa, Mahakasih, Mahatahu dan Mahabijaksana. Karena itulah Ia dinamakan Imanuel, sebab Ialah Tuhan yang benar-benar bisa mendampingi, menyertai kita dalam setiap keadaan kita. Ia menyertai kita bukan hanya kadang-kadang, dan bukan saja pada saat-saat tertentu, tetapi setiap saat dan untuk selama-lamanya. Jika kita saat ini merasa sendirian dalam hidup dan perjuangan kita, biarlah dengan iman kita percaya bahwa Yesus, Imanuel, tidak pernah meninggalkan kita.

“Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 20b

Apa arti semua ini?

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Malam ini saya menonton sebuah film drama televisi “The Family Law” yang mengisahkan kehidupan keluarga Asia yang hidup di Australia. Keluarga yang pada mulanya terlihat “normal” itu kemudian mengalami goncangan ketika sang ayah kemudian jatuh cinta kepada seorang gadis, dan kemudian sang ibu jatuh cinta kepada salah satu guru SMA dari putranya. Anak lelaki yang merasa bingung dalam keadaan keluarga yang berantakan itu, lalu menyadari bahwa ia adalah seorang yang menyukai teman sejenisnya. Ia terpaksa menjelaskan hal itu kepada orangtuanya. Tentu saja, sekalipun orangtuanya sudah hidup terpisah dan mengikuti suara hati mereka masing-masing, mereka masih merasa sedih akan apa yang terjadi pada putra mereka. Cerita ini berakhir dengan “happy ending“, di mana setiap anggota keluarga itu merasa semua yang terjadi adalah bagian kehidupan zaman modern. Penonton film ini bisa dibayangkan akan terbagi dua, mereka yang sedih dengan keadaan banyak rumah tangga di zaman ini, dan mereka yang senang bahwa kebebasan dan hak azasi manusia makin dihargai oleh masyarakat.

Bagi orang Kristen, keadaan sosial dan budaya di abad ke 21 ini memang cukup membingungkan. Apakah semua yang dulu dianggap buruk itu sekarang bisa diterima sebagai hal yang “normal”? Apakah itu memang dikehendaki Tuhan? Mengapa keadaan keluarga Kristen juga sering mengalami goncangan?

Seorang Kristen yang mencari pasangan hidup mungkin berdoa untuk bisa memilih jodoh yang baik, tetapi jika kemudian rumah tangga mereka mulai berantakan, pertanyaan muncul apakah semua itu kehendak Tuhan? Tidak ada orang yang bisa menjawabnya karena tidak ada orang yang tahu apa yang akan terjadi. Dalam keadaan demikian, mereka yang bersangkutan harus berusaha melakukan apa yang baik menurut kehendak Tuhan. Manusia bertanggung jawab untuk pilihannya dan melakukan apa yang terbaik yang sesuai dengan firman-Nya setiap hari.

Tuhan memang mempunyai kehendak mutlak atau sovereign will untuk seluruh ciptaan-Nya. Kita tidak mungkin mengetahui semuanya, tetap dalam hidup kita sehari-hari Ia sudah menunjukkan apa yang baik untuk dilakukan. Itu yang dinamakan kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan atau revealed will. Dalam Alkitab tertulis banyak hal yang dikehendaki Tuhan, seperti untuk mengasihi Tuhan dan sesama, untuk membayar pajak kepada pemerintah, untuk tidak berbuat zinah, untuk memegang kejujuran dan keadilan, untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita dan lain-lain.

Jika kita sering bingung untuk mencari kehendak Tuhan, itu adalah karena kita ingin tahu apa yang sebenarnya dikehendaki Tuhan. Kita ingin tahu seluruh kehendak-Nya untuk hidup kita, untuk keluarga kita dan untuk bangsa kita. Tetapi itu jelas tidak mungkin. Apa yang belum terjadi kita tidak tahu, dan apa yang sudah terjadi belum tentu merupakan hasil akhir.

Hari ini, ayat pembukaan dari Roma 12: 2 diatas mengatakan bahwa kita harus berubah untuk tidak menjadi serupa dengan dunia ini, sehingga dengan pikiran dan sikap yang benar kita dapat membedakan apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Masa depan manusia ada di tangan Tuhan tetapi kita bertanggung jawab atas keputusan dan tindakan yang kita ambil.

“Karena dahulu kita juga hidup dalam kejahilan: tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci. Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus.” Titus 3: 3 – 5

Kuasa dan kasih Tuhan melampaui kuasa dosa

“Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Yakobus 5: 14 – 16

Teringat saya akan masa muda, di mana teman yang lama tak berjumpa menyapa saya dengan pertanyaan “kemana saja nih?” dan obyek pembicaraan kami berlanjut menjadi saling menukar pengalaman selama berpisah. Heran, setelah usia saya mulai melanjut, pembicaraan dengan teman-teman saya cenderung berkisar soal kesehatan dan obat-obatan. Sekalipun demikian, saya yakin bahwa keadaan dunia di zaman ini agaknya sudah berubah dengan kesadaran bahwa hal menjadi sakit bukan hanya monopoli kaum yang kurang mampu dan yang berumur saja.

Setiap orang bisa jatuh sakit, itu adalah kenyataan yang tidak dapat ditolak. Dengan demikian, setiap orang berusaha dengan kemampuannya untuk bisa tetap sehat, dan mereka yang beriman tentunya memohon penyertaan Tuhan agar bisa terlindungi dari ancaman berbagai penyakit. Pada pihak yang lain, orang mungkin jarang memikirkan hal dosa yang seperti penyakit jasmani, bisa membuat manusia sakit. Orang mungkin juga kurang menyadari pentingnya meminta perlindungan Tuhan dari godaan iblis supaya bisa mengatasi ancaman berbagai penyakit rohani. Padahal hal sakit rohani seharusnya lebih ditakuti daripada sakit jasmani karena menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan.

Memang, berdasarkan iman Kristen, adanya penyakit adalah salah satu konsekuensi kejatuhan manusia ke dalam dosa. Walaupun demikian, kita harus bersyukur bahwa Tuhan selalu menyertai umat-Nya baik dalam suka maupun duka, baik sewaktu sehat maupun sewaktu sakit. Kasih Tuhan tidak berubah dalam segala keadaan ataupun saat.

Sekalipun manusia sudah jatuh dalam dosa, Tuhan yang mahakasih tetap ingin memelihara seisi dunia dan bahkan seluruh jagad raya, sehingga semua ciptaan-Nya tetap berfungsi seperti apa yang dirancang-Nya. Karena itu, sesuai dengan rencana penyelamatan-Nya, Tuhan mengatur segala sesuatu supaya semuanya berjalan baik untuk kemuliaan-Nya. Tuhan tidak membiarkan dunia ini hancur berantakan, dan oleh sebab itu Ia juga mencukupi segala kebutuhan manusia, termasuk kesehatan mereka. Kesehatan bukan hanya diberikan kepada mereka yang percaya kepada-Nya, tetapi kepada semua makhluk di bumi. Oleh karena itu, Ia juga memberi manusia kesadaran dan kemampuan untuk menghargai kesehatan mereka, baik jasmani maupun rohani, dan untuk menghargai semua ciptaan Tuhan yang lain.

Ayat di atas ditulis oleh rasul Yakobus mengenai kesehatan umat Tuhan. Pada saat itu, ilmu kedokteran dan kesehatan lingkungan belumlah semaju sekarang. Walaupun demikian, Yakobus tentunya sadar bahwa menjaga kesehatan adalah penting untuk bisa hidup dan bekerja secara optimal untuk kemuliaan Tuhan. Lebih dari itu, ia jelas sadar bahwa Tuhanlah yang mempunyai kuasa untuk memberi kesembuhan kepada orang yang sakit. Tuhanlah yang berhak untuk menolong siapa saja yang mengalami masalah, baik itu hal jasmani atau rohani. Pertanyaannya, apakah ayat ini tetap sepenuhnya relevan untuk masa kini?

Ayat di atas tidak secara spesifik menulis tentang jenis penyakit yang bisa didoakan untuk kesembuhan. Jika pengolesan dengan minyak dianjurkan untuk kesembuhan (kemungkinan besar minyak zaitun), rasul Yakobus tentunya tahu bahwa itu bukanlah obat untuk segala penyakit. Jadi, pemakaian minyak itu mungkin bertalian dengan ritual atau kebiasaan waktu itu, dan merupakan lambang penyertaan Tuhan. Bukan pengurapan, bukan doa dan bukan iman manusia yang membawa kesembuhan, tetapi Tuhan sendiri. Tuhan yang mahakuasa bisa secara total menyembuhkan segala penyakit jika itu sesuai dengan kehendak-Nya; bukan penyakit tertentu saja dan bukan hanya kesembuhan sementara.

Ayat di atas tidak menyebutkan apakah kesembuhan jasmani atau rohani yang dibahas, tetapi semua penyakit memang bisa disembuhkan Tuhan, seperti yang dilakukan Yesus selama di dunia. Walaupun begitu, dengan mempertimbangkan kefanaan jasmani manusia, ayat itu mungkin lebih cenderung menyangkut masalah rohani yang bersangkutan dengan cara hidup manusia di dunia. Ini juga lebih sesuai dengan misi penyelamatan Yesus selama di dunia.

Perlukah kita berdoa untuk kesembuhan seseorang? Bukankah Tuhan akan melakukan apa yang dikehendaki-Nya saja? Bukankah Tuhan tahu kebutuhan kita sebelum kita memintanya? Tidak mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, tetapi kita harus menyadari bahwa kita hanya bisa hidup sebagai umat Tuhan dengan mempunyai hubungan yang intim dengan Dia.

Hubungan yang baik dengan Sang Pencipta seharusnya memberi pengertian bahwa kita tidak dapat memisahkan kehidupan jasmani dari kehidupan rohani, karena tubuh kita adalah rumah Tuhan. Karena itu kita harus memelihara keduanya sesuai dengan firman Tuhan. Sering kali orang mementingkan salah satu saja, dan ini bisa menimbulkan persoalan. Manusia bisa sakit karena faktor keturunan, lingkungan, atau kebiasaan. Selain itu, iblis pun bisa membawa berbagai gangguan. Dengan hubungan yang baik dengan Tuhan kita akan makin mampu untuk menyadari apa yang salah dan memperoleh pengampunan-Nya.

Tuhan bisa memberi kesembuhan dari penyakit apa pun apabila sesuai dengan kehendak-Nya. Tetapi ayat ini mungkin lebih mengena dalam hal yang berhubungan dengan cara hidup seseorang. Mereka yang hidupnya jauh dari Tuhan sering kali merasa sakit, lemah, tertekan dan kesehatannya terganggu. Mereka yang terpaksa hidup dalam lingkungan yang kurang sehat, mungkin sering terkena penyakit. Selain itu, banyak orang di zaman ini yang mengalami gangguan kejiwaan karena dampak pandemi dan berbagai peraturan lockdown . Kepada mereka ini, firman Tuhan berkata bahwa di dalam Dia ada keselamatan dan kebangkitan. Tuhan bisa memperbaiki kehidupan manusia, baik dalam keluarga, masyarakat ataupun negara untuk kemuliaan-Nya.

Karena Tuhan mengasihi seisi dunia, mereka yang sakit boleh berharap dalam iman akan keringanan dan kesembuhan dari-Nya. Tetapi, lebih dari itu, mereka yang beriman akan yakin bahwa sekalipun tubuh jasmani mereka lemah, mereka adalah orang-orang yang sudah mendapat pengampunan Tuhan.

Haruskah kita berdoa memohon kesembuhan? Sudah tentu! Setiap orang Kristen adalah orang-orang yang sudah dikuduskan oleh Kristus. Dengan demikian, adalah panggilan bagi kita untuk selalu berdoa untuk kesehatan orang lain dan juga untuk kesehatan diri kita sendiri. Bagi orang yang dibenarkan, hidup baru di dalam Yesus selalu membawa perubahan, baik dalam jasmani maupun rohani. Memang dalam darah Yesus ada kuasa yang besar.

Pada ayat di atas juga terlihat adanya hubungan antara penyakit jasmani dengan penyakit rohani. Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang mampu menyembuhkan orang yang sakit seperti apa yang dikehendaki-Nya. Hal ini bukan berarti bahwa Ia akan menyembuhkan setiap orang dari setiap penyakit pada setiap saat, tetapi Ia sanggup menunjukkan kuasa-Nya sehingga setiap umat-Nya yang benar-benar beriman mempunyai keyakinan bahwa Ia adalah Tuhan yang berdaulat atas segala sesuatu. Oleh sebab itu, setiap orang percaya tidak perlu takut dalam menghadapi bahaya penyakit apa pun.

Pada pihak yang lain, dosa yang membawa penyakit rohani adalah suatu bahaya besar yang seharusnya ditakuti oleh setiap manusia yang sadar tentang adanya Tuhan yang mahasuci. Tuhan menuntut seluruh umat manusia untuk bisa hidup suci seperti Dia, dan jika tidak mereka akan binasa. Dengan demikian, tidak ada seorang pun yang bisa selamat dengan usahanya sendiri. Hanya dengan belas kasihan Tuhan, manusia bisa menerima pengampunan melalui darah Kristus. Karena itu, mereka yang beriman tidak akan mati, melainkan sudah memperoleh jaminan hidup yang kekal.

Hari ini, adakah perasaan gundah dalam hati anda karena adanya ancaman penyakit tertentu? Apakah anda kuatir akan kekuatan jasmani atau rohani anda dan keadaan orang-orang yang anda cintai? Sebagai orang beriman kita harus yakin bahwa Tuhan sanggup memelihara kesehatan tubuh semua umat-Nya. Lebih dari itu Ia menjamin keselamatan jiwa mereka yang beriman dengan mengampuni semua dosa yang mereka perbuat karena pengurbanan Kristus. Biarlah kita selalu yakin akan kebesaran kasih dan kuasa-Nya dalam iman yang teguh!

Mukjizat palsu adalah tipu daya iblis

“Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka.” 2 Tesalonika 2: 9 – 10

Sebelum munculnya virus corona, setiap hari kita bisa menjumpai banyak berita yang menunjukkan adanya berbagai penderitaan yang dialami manusia. Hati kita mungkin menjadi sedih jika kita membayangkan bahwa banyak di antara mereka yang tidak dapat memperoleh pertolongan baik untuk kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani. Sejak munculnya pandemi, penderitaan manusia makin bertambah, dan bahkan sekarang ini dengan munculnya varian baru, kita tidak bisa menduga kapan pandemi ini akan berakhir.

Pada pihak yang lain, dalam media kita masih bisa menemui berbagai kabar baik tentang adanya berbagai organisasi yang bisa membantu mereka yang menderita, bermacam vaksin yang bisa mengurangi dampak virus corona, dan juga berbagai keajaiban yang terjadi dalam hidup manusia. Kita harus bersyukur bahwa dalam keadaan yang buruk bagaimanapun, kita bisa melihat Tuhan masih tetap bekerja baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk menolong mereka yang menderita.

Memang kebutuhan manusia itu berbagai ragam adanya, dan sekalipun mereka yang kaya-raya tetap juga mempunyai berbagai hal yang masih mereka cari. Sering kali, dalam usaha untuk mencari apa yang sangat diperlukannya, manusia mengalami jalan buntu dan karena itu hanya bisa berharap akan adanya mukjizat. Sebagian menemukan “miracle” yang terjadi melalui datangnya pertolongan yang tidak disangka, melalui pengobatan yang tidak tradisionil, maupun kejadian-kejadian yang tidak bisa diterima oleh pikiran sehat manusia. Dan jika itu terjadi, manusia mungkin merasakan adanya keajaiban atau faktor keberuntungan.

Mereka yang selalu mengharapkan datangnya sesuatu yang luar biasa, sering kali terperangkap dalam hal-hal yang nampaknya spektakuler namun sebenarnya hanya sekadar bayangan atau impian saja. Karena harapan yang terlalu besar, apa pun yang muncul lebih mudah diterima sebagai manifestasi apa yang mereka inginkan. Serupa dengan efek plasebo dalam ilmu obat-obatan, apa yang mereka alami, baik dalam hal jasmani ataupun rohani hanyalah semu dan bersifat sementara saja.

Mengapa orang Kristen bisa jatuh kedalam jerat mukjizat dan keajaiban palsu? Itu pada umumnya disebabkan oleh fokus kehidupan sehari-hari. Mereka yang memusatkan perhatian pada kekayaan, mengharapkan Tuhan membuat mukjizat dalam hal harta dan kesuksesan. Mereka yang selalu memikirkan hal kesehatan, mudah terperangkap dalam hal kesembuhan ilahi yang bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu. Dengan demikian pandangan mata rohani mereka menjadi sangat terbatas kemampuannya. Bagi mereka, kehadiran Tuhan hanya bisa terasa ada karena adanya mukjizat yang bisa mereka lihat atau alami.

Pagi ini, ayat di atas mengingatkan kita bahwa iblis adalah oknum yang pintar. Iblis bisa memanfaatkan kelemahan manusia yang selalu bergantung pada mukjizat, dengan membuat berbagai perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat palsu, dan dengan rupa-rupa tipu daya jahat. Tipu daya iblis pasti berhasil jika ada orang-orang yang masih tidak sadar bahwa mereka sudah menerima keajaiban terbesar yang sudah ditawarkan oleh Yesus Kristus, Anak Allah yang lahir di palungan, yaitu keselamatan jiwa mereka.

Mereka yang tidak mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka, akan tetap tinggal dalam kebodohan mereka dan menerima apa yang tidak ada gunanya di hadapan kemuliaan Tuhan. Kita harus sadar bahwa sekalipun kita tidak melihat tanda-tanda ajaib dengan mata kita, keajaiban yang terbesar sudah terjadi pada diri kita. Karena itu, biarlah kita selalu sadar bahwa:

  • Iman kita tidak berlandaskan pada mukjizat, tetapi berlandaskan pada Yesus.
  • Kita tidak mencari mukjizat, tetapi mencari kehendak Tuhan.
  • Kita tidak memuliakan mukjizat, tetapi memuliakan Tuhan.
  • Kita tidak memasyhurkan mukjizat, tetapi memasyhurkan nama Tuhan.

Semoga kita tetap berfokus pada dasar iman yang benar!

Bosan makan nasi?

“Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10:31

Pernahkah anda merasa bosan makan nasi? Mungkin di Indonesia pertanyaan ini adalah ucapan sarkastik yang dipakai untuk memperingatkan orang yang akan melakukan hal yang berbahaya, yang bisa membawa kematian. Siang hari ini saya tidak makan nasi, bukan karena bosan. Tetapi, makan siang hari ini bukan makanan biasa. Cake. Makanan berbahaya untuk sebagian orang. Bermacam jenis roti berrlapis coklat, krim dan lainnya, rasanya manis sekali. Alasan saya kali ini: pesta akhir tahun yang diadakan universitas di mana saya bekerja hanya diadakan sekali setahun!

Semua orang tahu bahwa makan untuk hidup. Seingat saya, di Indonesia jika ada tamu berkunjung ketika tuan rumah sedang makan, pertanyaan kepada tamu itu adalah “sudah makan?”. Memang, di luar negeri pun orang kita terkenal sebagai orang yang ramah, friendly, menggunakan acara makan-makan untuk membina kesatuan dalam keluarga dan persahabatan. Sesekali makan besar bolehlah.

Pada pihak yang lain ada orang yang tidak pernah bosan untuk makan enak dan hidup untuk kenikmatan. Tidak ada pesta, tidak ada acara istimewa, mereka tidak bosan-bosannya hidup untuk memuaskan diri sendiri. Sudah tentu, mereka yang hidup sedemikian, akhirnya bisa jatuh dalam dosa, jatuh ke dalam jerat iblis.

Manusia setelah kejatuhan dalam dosa sering berebut makanan dan menjadi mahluk yang rakus. Manusia siap membenci, merampok dan membunuh orang lain demi makanan. Manusia dengan keculasannya juga sering memakai makanan untuk menyuap, mempengaruhi dan menguasai orang lain, terutama mereka yang miskin dan kurang terpelajar. Dengan demikian, baik kaya atau miskin, banyak orang yang menjadi pemuja makanan dan minuman, dan juga kenikmatan jasmani lainnya.

Kerakusan adalah dosa, dan dalam tradisi sebagian orang Kristen, termasuk dalam 7 dosa besar. Karena soal makanan, bangsa Israel bersungut-sungut kepada Allah dan membuat-Nya murka dengan mendatangkan hujan burung puyuh sehingga mereka yang rakus dan serakah mati dalam jumlah besar (Bilangan 11: 33 – 34). Karena merasa bebas, mereka yang mampu sering kali mempunyai kebiasaan makan dan minum dalam pesta pora, yang bisa menjauhkan mereka dari Tuhan (Galatia 5: 21).

Untuk menyambut hari Natal dan tahun baru yang akan datang, pikiran kita tidak boleh dipusatkan pada hal makan minum, pesta pora dan kenikmatan badani. Dalam hal makan, dengan kebebasan yang Tuhan berikan, kita harus bisa mengendalikan cara hidup kita. Kecukupan adalah lebih penting dari kelimpahan, sebab mereka yang berkelimpahan belum tentu merasa cukup. Lebih dari itu, keserakahan dan kerakusan jelas bisa membawa berbagai bencana dalam hidup, seperti apa yang sering terjadi pada mereka yang sudah “bosan makan nasi”, yaitu mereka yang hidup dan bekerja untuk kenyamanan duniawi.

“Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” Yohanes 6: 27

Ya atau tidak?

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” Matius 5: 37

Banyak orang yang mengatakan bahwa “politik itu kotor” karena dalam politik apa yang paling buruk dari berbagai sifat manusia bisa terlihat: iri hati, fitnah, congkak, dendam dan sebagainya. Bagaimana itu bisa terjadi? Bukankah para politikus itu adalah pilihan rakyat? Sebenarnya dalam politik, tidak semua orang sudah ternoda dengan hal-hal yang tidak baik. Tentu ada politikus yang benar-benar jujur dan baik, sekalipun jumlahnya tidak sebanyak yang diharapkan rakyat.

Mengapa ada orang yang mampu menyulap apa yang buruk untuk menjadi sesuatu yang kelihatan baik? Mengapa orang, demi keuntungan dan kenikmatan diri sendiri, sanggup untuk memutar-balikkan fakta? Mengapa banyak orang yang memakai segala cara, tanpa berpikir dalam-dalam, asal tujuannya tercapai? Mereka yang tidak punya etika yang baik sudah tentu dapat dikatakan sebagai oknum yang tidak berintegritas. Mereka belum tentu bukan orang Kristen, karena justru banyak orang Kristen yang mempunyai hidup dalam dualisme: hidup dalam gereja yang berbeda dengan hidup di luar gereja.

Integritas adalah suatu konsep berkaitan dengan konsistensi dalam tindakan-tindakan, nilai-nilai, metode-metode, ukuran-ukuran, prinsip-prinsip, ekspektasi-ekspektasi dan berbagai hal yang dihasilkan. Orang berintegritas berarti memiliki pribadi yang jujur dan memiliki karakter kuat. Tetapi, dalam hal kejujuran dan etika setiap orang seringkali berbeda, karena latar belakang, budaya, sifat, kebiasaan dan lingkungan bisa membuat orang mempunyai standar yang berbeda-beda. Karena itu banyak orang (dan bahkan pemimpin kaliber tinggi) yang percaya bahwa mereka adalah orang yang mempunyai integritas, sekali pun di mata umum mereka mungkin sebaliknya.

Bagi orang Kristen, integritas seseorang adalah tingkah laku dan perbuatan  yang  tidak menyimpang dari fiman Tuhan. Firman di atas menyatakan bahwa sebagai orang percaya kita harus yakin akan apa yang akan kita nyatakan kepada orang lain. Jika kita percaya bahwa itu benar adanya, kita harus mengiyakannya. Tetapi jika sesuatu adalah tidak benar, kita juga harus berani untuk berkata “tidak”. Upaya untuk menutup-nutupi kenyataan dengan tipu-daya atau kamuflase, atau usaha untuk melupakan konsekuensi perbuatan kita, seharusnya tidak ada dalam kamus kehidupan orang Kristen karena semua itu adalah ketidak-jujuran.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidaklah mudah bagi kita untuk selalu berlaku jujur. Sering kali, karena kekuatiran, ketakutan atau karena adanya risiko, orang Kristen tidak dapat mempertahankan integritasnya. Ini bukan saja mengenai soal bisnis, pekerjaan, dan sekolah, tetapi kehidupan keluarga pun sering digoncangkan karena adanya orang-orang yang tidak menjaga integritasnya atau orang yang hanya asal-asalan menjalankan kewajibannya. Sebagai akibatnya, sering kali ada rasa kurang percaya, rasa marah dan kecewa kepada orang lain yang tidak bisa bersungguh-sunggguh dalam menjalankan tanggung jawabnya.

Hari ini, firman Tuhan berkata bahwa jika kita memang benar-benar pengikut Kristus, kita akan sungguh-sungguh yakin bahwa apa yang kita perbuat, katakan dan pikirkan pasti diketahui Tuhan. Dengan demikian, tidak ada gunanya bagi kita untuk berusaha melakukan  tindakan keliru yang diharapkan untuk lebih meyakinkan orang lain atas integritas kita. Sebaliknya, kita harus menjaga integritas kita dengan selalu sadar bahwa apa yang kita tunjukkan dan sampaikan kepada orang lain adalah apa yang sudah diketahui oleh Tuhan kita. Integritas adalah ciri iman Kristen yang benar!