Apakah kita mengasihi saudara seiman saja?

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?” Matius 5: 45 – 46

Yesus adalah Juruselamat dunia

Apakah Tuhan mengasihi semua orang? Ini adalah satu pertanyaan yang sering dikemukakan banyak orang, baik orang Kristen maupun bukan. Sebagian orang percaya bahwa Tuhan hanya mengasihi mereka yang beriman, sebagian lagi yakin bahwa Tuhan membenci mereka yang “kafir”. Selain itu, ada juga orang yang percaya bahwa Tuhan hanya mengasihi mereka yang banyak berbuat amal dan berkurban untuk sesamanya. Sudah tentu, ada juga orang yang meragukan kasih Tuhan kepadanya, karena merasa bahwa hidupnya jauh dari apa yang dikendaki Tuhan.

Memang di dunia ini ada banyak agama yang mengajarkan bahwa Tuhan itu adalah oknum yang menuntut manusia untuk menyembah Dia dalam ketakutan dan dengan demikian manusia harus banyak berbuat baik di dunia, agar bisa menerima belas kasihan-Nya. Tetapi, Alkitab menunjukkan bahwa kepercayaan seperti ini sering kali bukannya membuat manusia menjadi benar-benar baik, tetapi membuat mereka merasa sudah baik. Memang, jika kasih Tuhan dianggap bisa dibeli, orang tidak perlu merasa takut untuk berbuat dosa karena amal-ibadah bisa menebus dosanya. Pada pihak yang lain, mereka yang sudah berusaha untuk hidup baik sering masih merasa tertekan karena adanya perasaan bahwa Tuhan belum menunjukkan kasih-Nya.

Orang Kristen percaya bahwa Tuhan yang mahasuci menuntut umat-Nya untuk hidup baik sesuai dengan firman-Nya. Tuhan membenci dosa dan tidak dapat dipermainkan oleh manusia dengan segala pikiran dan perbuatan mereka. Walaupun demikian, tidak ada apa pun yang bisa diperbuat manusia untuk mencuci dosanya, untuk memenuhi syarat kesucian Tuhan. Semua manusia sudah berdosa dan tidak layak berdiri di hadapan Tuhan. Umat manusia tidak akan mempunyai harapan masa depan jika Tuhan tidak mengasihi mereka.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” Roma 3: 23

Apakah Tuhan mengasihi semua umat manusia? Jika benar, mengapa ada orang yang kelihatan jaya dan berbahagia, sedangkan orang lain harus menderita? Ayat pembukaan kita menyatakan bahwa Tuhan yang di sorga menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Jika semua manusia sudah sepantasnya binasa karena dosa-dosa mereka, Tuhan tetap memelihara mereka untuk bisa hidup dan lebih dari itu, memberi kesempatan bagi mereka untuk mengenal kuasa dan kasih-Nya.

Tuhan bukan saja memberi karunia dan berkat kepada seisi dunia, Ia juga mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa manusia. Yesus datang ke dunia, supaya barangsiapa yang percaya kepada-Nya bisa menerima hidup yang kekal di surga.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Kasih Tuhan sungguh besar dan tidak pandang bulu. Jika demikian, mengapa kita kurang atau tidak bisa mengasihi orang-orang tertentu? Mungkinkah karena orang-orang itu terlihat berbeda cara hidupnya jika dibandingkan dengan cara hidup kita? Mungkinkah orang-orang itu hidup bergelimang dalam dosa? Ataukah karena mereka membenci dan sering menyakiti kita? Mungkinkah mereka sudah ditentukan Tuhan untuk menjadi oramg-orang durhaka yang tidak perlu dikasihani?

Sebagian orang Kristen memang percaya bahwa Tuhan sudah dari awalnya menetapkan orang yang harus ke neraka. Karena itu, mereka percaya bahwa Tuhan tidak mengasihi semua orang, tetapi hanya mengasihi orang-orang yang sudah dipilih untuk menjadi umat-Nya. Ayat di atas menunjukkan jika kita hanya mengasihi orang-orang tertentu saja, itu berarti kita belum sadar bahwa karena kasih-Nya, kita yang tidak layak sudah diangkat menjadi anak-anak Allah karena darah Kristus.

Hari ini, marilah kita yakin bahwa Tuhan mengasihi semua orang, dan itu termasuk diri kita sendiri. Kita yang percaya bahwa Tuhan sudah memilih kita untuk menjadi umat-Nya, haruslah sadar bahwa Ia juga masih menantikan mereka yang masih tergolong anak yang hilang untuk bertobat dan kembali kepada-Nya agar mereka dapat memperoleh keselamatan seperti kita.

Pengalaman belum tentu bermanfaat

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 16

Tidak terasa, sekarang sudah bulan September. Waktu berjalan cepat, sekalipun dengan adanya pandemi hampir semua kegiatan manusia tidak dapat dijalankan dengan lancar. Dengan adanya berbagai pembatasan kegiatan masyarakat, orang tidak bebas untuk pergi ke tempat yang biasanya dituju setiap hari, entah itu sekolah, kantor, toko dan sebagainya. Hari demi hari dilalui, tetapi bagi kebanyakan orang hidup ini terasa membosankan karena tidak ada yang berbeda. Tidak ada pengalaman yang menarik yang bisa diperbincangkan dengan keluarga, dan mungkin tidak ada pengalaman yang bisa dipakai sebagai pelajaran hidup.

Pada umumnya semakin tua umur manusia, semakin banyak pengalamannya. Biasanya, pengalaman yang buruk bisa mencegah seseorang untuk melakukan hal yang sama di masa depan. Sebaliknya, pengalaman yang baik dan menyenangkan membuat orang tertarik untuk mencobanya lagi jika ada kesempatan. Pengalaman adalah guru yang terbaik, begitulah kata orang. Benarkah?

Untuk hal-hal tertentu, dalam keadaan tertentu, memang apa yang pernah dilihat, dirasakan dan dialami, bisa memberi pelajaran dan pengertian. Dalam ilmu pengetahuan, hal semacam ini dikenal dengan pendekatan empiris, yang sering bertentangan dengan pendekatan rasionalis. Bukti empiris adalah informasi yang didapat melalui pengalaman, sedangkan bukti rasionalis berasal dari pemikiran akal budi.

Para pendukung metode empiris berpendapat bahwa informasi yang diperoleh secara empiris yaitu observasi, pengalaman dan percobaan, berguna sebagai pemisah antara pendapat-pendapat yang ada. Dengan pengalaman pribadi yang pernah dialami, orang bisa menolak pendapat orang lain, nasihat guru atau orang tua dan bahkan firman Tuhan. Apa yang pernah dialami akan cenderung dipercayai, sedangkan apa yang tidak pernah terjadi atau terlihat dalam hidup, sering diabaikan. Bagaimana dengan pengalaman selama hidup dalam suasana pandemi ini? Sebagian orang bisa merasa bahwa Tuhan itu sungguh mahakasih, tetapi bagi orang lain Tuhan itu kejam.

Sebenarnya, selama manusia hidup selalu ada saja yang bisa diambil makna dan gunanya. Bagi banyak orang, adanya pandemi bisa membuat mereka merenungkan apa arti hidup ini dan memikirkan apa yang seharusnya mendapat prioritas utama. Pengalaman memang bisa membuat manusia lebih kuat dan bijak, tetapi juga dapat membawa kehancuran.

Secara umum, karena pengalaman seseorang belum tentu bisa dialami orang lain, dan juga karena pengalaman tergantung situasi dan kondisi, apa yang dirasakan sebagai kebenaran di saat ini, belum tentu benar di masa depan. Karena itu, pengalaman seseorang belum tentu membawa kebenaran dan belum tentu bisa menjadi guru yang terbaik untuk kita.

Dalam kehidupan iman, kita juga dihadapkan dengan berbagai ajaran dan praktik kekristenan yang beraneka ragam. Pada umumnya, keragaman adalah lumrah karena tiap manusia adalah individu yang berbeda, yang mempunyai pengalaman dan pengertian yang berlainan. Walaupun demikian, ayat di atas menjelaskan bahwa firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab, harus dipegang sebagai pedoman untuk memperoleh kebenaran. Kita harus sadar bahwa apa yang kita dengar dan saksikan dalam hidup ini mungkin bersumber pada pengalaman pribadi seseorang, yang sehebat atau seajaib bagaimanapun, tidak dapat dianggap setara dengan firman Tuhan. Apalagi kalau pengalaman itu hanya mendatangkan ketenaran untuk manusia dan bukannya memuliakan Tuhan.

Perlu kita sadari bahwa metode empiris yang berdasarkan pengalaman pribadi, jika dipakai untuk mempelajari Firman, bisa menghasilkan sesuatu yang kurang cocok dengan Firman itu sendiri. Begitu juga dengan metode rasional yang hanya berdasarkan akal budi, tidak akan dapat menjajaki kedalaman firman Tuhan. Karena itu, setiap orang percaya harus mau mempelajari firman Tuhan dengan iman, menggumuli dan menerapkannya dalam hidup dengan bimbingan Roh Kudus. Pengalaman hanya bisa menjadi guru yang terbaik sesudah dibandingkan dengan kebenaran yang ada dalam Alkitab.

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Allah kita adalah Bapa, Anak dan Roh Kudus

“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Kolose 1:15-16

Di zaman ini, ada banyak usaha yang dilakukan orang untuk membina komunikasi dan saling pengertian antar agama. Adanya forum diskusi antar agama, doa syukur bersama dan semacamnya, seolah-olah memberi kesan bahwa Tuhan itu satu, sekalipun ada banyak cara untuk menemui-Nya. Tidaklah mengherankan, ada banyak orang yang kemudian merasa bingung. Apakah Allah orang Kristen adalah sama dengan Allah yang disembah pengikut agama lain? Apakah sebutan Allah itu panggilan yang dipakai manusia untuk Tuhan dari semua agama?

Mungkin banyak orang yang tidak sadar bahwa pemakai bahasa Arab dari semua agama zaman Abraham, termasuk Kristen dan Yahudi, menggunakan kata “Allah” yang berarti “Tuhan”. Orang-orang Arab Kristen sampai saat ini tidak memiliki kata lain untuk “Tuhan” selain dari kata “Allah”. Kata Allah dalam tradisi Kristen Asyria juga digunakan dalam liturgi berbahasa Arab. Demikian juga Gereja Syria dan Koptik Mesir yang sama-sama telah menyebar sejak abad 1, semenjak Yesus mengutus para murid-Nya ke berbagai daerah.

Orang Kristen Arab, menggunakan istilah “Allāh al-ab” untuk Allah Bapa, “Allāh al-ibn” untuk Allah Putra, dan “Allāh al-rūḥ al-quds” untuk Allah Roh Kudus di dalam banyak ritual gereja, seperti tradisi membuat tanda salib untuk berdoa, memasuki ruang ibadah, dan juga pembaptisan. Mereka mengadopsi salam pembukaan bismillāh Muslim, dan juga menciptakan bismillāh mereka sendiri di awal abad ke-8. Jika bismillah Muslim berbunyi: “Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, bismillāh Trinitias berbunyi: “Dalam nama Allah Bapa dan Allah Putra dan Allah Roh Kudus, Satu Tuhan.” Jadi jelas, sekalipun sebutan Allah dipakai dalam dua agama ini, ada perbedaan yang sangat besar dalam pengertiannya. Tuhan yang Esa dalam pengertian Kristen terdiri dari tiga oknum yang berlainan fungsinya.

Sangat menarik bahwa sebutan Allāh al-ab adalah identik dengan sebutan Allah Bapa di Indonesia. Seorang ayah adalah figur yang selayaknya dicintai dan dihormati oleh anak-anaknya karena ayah yang baik adalah bapa yang melindungi dan memimpin anak-anaknya. Dalam konteks yang serupa, Allah Bapa atau Abba adalah oknum ilahi yang sudah menjadikan setiap orang percaya sebagai anak-Nya (Roma 8: 15).

Dalam ayat pembukaan di atas, dinyatakan bahwa Yesus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan. Melalui Yesus telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. Dengan demikian, Yesus adalah Tuhan, dan segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.

Oleh karena Yesus Kristus adalah Allah, dosa-dosa kita telah dihapuskan dalam darah Allah; hanya oleh darah Allah yang sempurnalah dosa-dosa kita dapat terhapuskan untuk memenuhi keinginan Allah yang suci dan benar. Dasar dari keselamatan kita adalah karya Yesus Kristus. Maka berbeda dengan agama dan ajaran lain, iman Kristen adalah berpegang pada satu jalan keselamatan yaitu melalui Tuhan Yesus Kristus seperti yang tertulis dalam Alkitab:

“Akulah jalan dan kebenaran, dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14: 6

Ayat di atas lebih lanjut dipertegas dalam ayat:

“Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” Yohanes 14:9

Jika Bapa dan Yesus adalah Tuhan, bagaimana pula dengan Roh Kudus? Yesus dalam Amanah Agung-Nya memerintahkan murid-murid-Nya untuk mengabarkan Injil:

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” Matius 28: 19

Dengan demikian, ketiga oknum ilahi bersama-sama meneguhkan mereka yang percaya kepada satu Tuhan sebagai umat-Nya. Roh Kudus adalah Tuhan juga, yang muncul dalam rupa burung merpati ke atas Yesus sewaktu dibaptiskan oleh Yohanes Pembaptis. Lebih lanjut, Yesus meminta kepada Bapa untuk memberikan Roh Kudus yang akan menjadi Penolong kita untuk selama-lamanya (Yohanes 14: 16-17). Roh Kudus ini adalah oknum Tuhan yang membantu kita dalam kelemahan kita dan juga berdoa untuk kita pada saat ini.

“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Roma 8: 26

Pagi ini, kita tidak boleh ragu bahwa Allah bagi kita adalah Tuhan yang satu dan benar. Kita harus percaya bahwa Tuhan bekerja melalui Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus. Bagi Tuhan kita segala kemuliaan diperuntukkan sampai selama-lamanya!

Yesus bukan ciptaan Allah

“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Kolose 1: 16

Ayat di atas menyatakan bahwa Yesus adalah gambar Allah yang menciptakan segala sesuatu. Bagi orang Kristen, ayat ini menambah keyakinan bahwa Yesus itu adalah Allah dan satu dengan Allah, karena segala sesuatu di alam semesta tentunya diciptakan oleh Allah. Hal kesatuan dari Allah, Yesus dan Roh Kudus itu dinyatakan dalam pengertian Allah Tritunggal, yaitu Allah yang satu.

Ayat yang sangat penting dalam pengakuan iman Kristen ini sering menjadi bahan perdebatan antara orang Kristen dan orang lain yang menunjukkan adanya kemungkinan bahwa:

  • Yesus itu manusia biasa
  • Yesus itu ciptaan Allah yang bukan manusia biasa
  • Yesus itu oknum ilahi tapi lebih rendah dari Allah.

Bagi orang percaya, bumi dan isinya memang menunjuk kepada kebesaran Tuhan. Iman kita memberi keyakinan bahwa seisi bumi yang kelihatan adalah diciptakan oleh Allah, Roh yang tidak kelihatan. Allah adalah Bapa yang mahakuasa dan mahakasih. Allah jugalah yang menjanjikan datangnya seorang Juruselamat untuk menebus dosa manusia, yaitu Yesus Kristus.

Jika Allah Bapa sering dibayangkan sebagai Tuhan dalam Alkitab perjanjian lama karena penciptaan alam semesta dan segala apa yang diperbuat-Nya bagi bani Israel, Yesus mungkin lebih mudah dibayangkan sebagai Juruselamat bagi umat manusia di era Perjanjian Baru. Benarkah “pembagian tugas” antara Allah Bapa dan Anak seperti ini?

Ayat dalam Kolose 1: 16 diatas menyatakan bahwa Yesus sudah ada dari awalnya. Yesus yang pernah muncul sebagai manusia di dunia adalah gambar Allah yang roh, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Yesuslah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi. Apa pun yang berkuasa di bumi, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; semuanya diciptakan oleh Yesus dan untuk kemuliaan Yesus. Yesus yang pernah turun ke dunia dan sekarang berada di surga dengan demikian adalah satu dengan Allah Bapa dan Roh Kudus.

Pada pagi ini kita diingatkan bahwa di mana pun kita berada dan melihat kebesaran ciptaan Allah, kita harus bersyukur bahwa kita juga ciptaan-Nya yang sudah diperbarui oleh Yesus Kristus dengan pengurbanan-Nya di kayu salib untuk ganti dosa kita. Kita juga harus bersyukur karena Roh Kudus, Tuhan sendiri, juga hidup dalam diri kita. Marilah kita memuji Tuhan kita yang satu dan yang sudah menyelamatkan kita!

“Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.” Yohanes 1: 2 – 4

Takutlah akan Tuhan dan milikilah rasa rendah hati

“Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu, maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu. Maka engkau akan berjalan di jalanmu dengan aman, dan kakimu tidak akan terantuk. Amsal 3: 21 – 23

Ayat diatas adalah tulisan Salomo yang terkenal bijaksana. Tidaklah mengherankan bahwa Salomo yang sudah dikaruniai kemampuan itu oleh Tuhan, sering kali menulis berbagai nasihat yang berguna. Nasihat di atas ditujukan kepada mereka yang masih muda agar menyadari bahwa dalam hidup ini kepandaian saja belum tentu membawa kesuksesan dalam hidup. Dalam kenyataannya, banyak orang pandai yang hidupnya menderita, karena apa yang terjadi dalam hidup mereka tidaklah dapat dimengerti dan diterima dengan akal. Apalagi, dunia ini seakan lebih menyukai mereka yang tidak pandai dalam ilmu tetapi pandai bersandiwara atau mahir bersilat lidah.

Di saat ini, setiap negara tentunya berjuang untuk dapat mengatasi berbagai masalah yang timbul karena adanya pandemi. Oleh sebab itu, mereka yang memegang kedudukan penting harus berusaha bekerja dalam bidang masing-masing untuk mengurangi berbagai dampak pandemi dalam masyarakat. Sebagian di antara mereka terlihat cukup berhasil dalam usaha itu, tetapi kita tentunya masih ingat bahwa baru-baru ini ada seorang pemimpin negara besar yang melakukan dan mengusulkan hal-hal yang kurang bijaksana. Orang itu memang diakui populer dan sukses dalam bisnisnya, tetapi sebagai pemimpin negara ia sudah menimbulkan kekacauan dan perpecahan bangsa.

Kesuksesan seseorang dalam hidup memang dipengaruhi oleh apa yang sudah pernah dipelajarinya. Dalam proses pendidikan baik formal atau tidak formal, orang menerima berbagai ilmu yang sesuai dengan apa yang dipilihnya. Walaupun demikian, mereka yang ingin sukses dalam hidup tidak hanya perlu belajar ilmu pengetahuan (hard skills), tetapi juga harus memiliki kemampuan hidup sehari-hari (soft skills) yang sering kali tidak diperoleh dari tempat pendidikan. Dengan mempunyai kedua jenis kemampuan ini, rasa percaya diri manusia akan menjadi lebih kuat dalam mengambil keputusan penting dalam hidup.

Kepercayaan kepada diri sendiri (self confidence) memang sering kali dianggap sebagai hal yang berguna dalam hidup, yang bisa membuat orang berani menghadapi masa depan. Mereka yang sudah mendapat pendidikan tinggi, mereka yang kaya raya, dan mereka yang mempunyai kekuasaan besar umumnya mempunyai rasa percaya diri yang besar. Walaupun demikian, hidup manusia bukan hanya mengenai hal mencari solusi dari masalah yang terlihat di depan mata, tetapi juga menyangkut hal menghadapi berbagai persoalan yang belum tentu mudah dimengerti atau dapat diselesaikan. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan bahwa mereka yang terlalu percaya kepada diri sendiri sering kali mudah membuat kekeliruan dalam mengambil keputusan atau tindakan.

Mereka yang benar-benar mengenal Tuhan tidak akan mudah jatuh ke dalam perangkap kesombongan karena mereka tahu bahwa sumber kebijaksanaan adalah Tuhan. Tuhan yang mahabijaksana adalah Tuhan yang mahapemurah. Mereka yang menerima kebijaksanaan dari Tuhan bisa mempertimbangkan hal apa yang penting dan apa yang tidak penting. Jika orang lain sibuk dengan hal mencari kemasyhuran, bagi mereka yang berada dalam Tuhan, hidup sudah merupakan kesuksesan karena kemenangan Yesus atas kematian. Dengan karunia keselamatan dari Tuhan, kehausan akan kesuksesan karir dan pujian orang lain menjadi hilang karena apa yang akan datang adalah jauh lebih baik dari apa yang terlihat di masa kini. Dengan demikian, hidup mereka bukan diutamakan untuk mengejar keuntungan diri sendiri, tetapi untuk selalu taat kepada firman-Nya. Memang, takut akan Tuhan adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahan hati mendahului kehormatan (Amsal15: 33).

Hari ini, ada sebuah pertanyaan untuk kita. Apakah kita percaya bahwa kita akan mempunyai hari depan yang baik? Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi pada diri kita di tahun-tahun mendatang. Kita bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari atau sejam lagi. Tetapi, jika kita masih takut kepada Dia dan hidup dengan rendah hati, kita akan menghadapi semua rintangan dengan rasa percaya diri bahwa segala sesuatu akan berakhir dengan baik sesuai dengan janji Tuhan yang mahakuasa.

Apakah anda benar-benar beriman?

“Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Yakobus 2: 17

Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap orang yang ingin mengaku percaya dalam sebuah upacara di gereja, antara lain:

  1. Apakah dia mengaku percaya, akan Allah Tritunggal yang Esa : Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus.
  2. Apakah dia mengaku, bahwa firman Allah (Alkitab) yang dia pelajari dan ketahui akan membimbingnya pada jalan keselamatan.
  3. Apakah dia mengaku, untuk menolak segala dosa dan tindakan yang bertentangan dengan firman Tuhan dan mau hidup sesuai dengan firman Tuhan.
  4. Apakah dia mengaku dan mau, untuk mengikuti segala bentuk ibadah dan persekutuan dalam gereja.

Tentunya, untuk semua pertanyaan di atas seseorang seharusnya menjawab dengan “ya” karena hanya dengan itu ia menyatakan pengakuan imannya.

Memang untuk menjawab dengan “ya’ tidaklah terlalu sulit, apalagi semua pengertian atas pertanyaan di atas sudah diperoleh dari katekisasi. Walaupun demikian, dalam kenyataannya, apa yang diamini belum tentu dijalani. Banyak orang Kristen yang sudah faham akan seluk-beluk kekristenan secara teori, ternyata tidak mempunyai perhatian penuh dalam hal melaksanakan firman Tuhan.

Bagi banyak orang Kristen, teori adalah jauh lebih mudah untuk dipelajari dari pada pelaksanaannya. Untuk mereka, iman adalah satu hal dan perbuatan adalah suatu tambahan yang terpisah. Bukankah orang Kristen diselamatkan hanya oleh iman? Bukankah iman Kristen berbeda dengan iman agama lain yang menyatakan bahwa manusia harus banyak berbuat baik untuk bisa menerima hidup kekal di surga? Dengan demikian, banyak orang Kristen yang bersikap pasif atau tidak tergerak untuk selalu berbuat baik. Tidaklah mengherankan kalau orang yang beragama lain menganggap orang Kristen percaya akan jalan yang termudah dan tidak masuk akal untuk ke surga.

Sebenarnya ada bagian Alkitab yang menonjolkan hal perbuatan. Kitab Yakobus sering dipandang orang sebagai bukti pentingnya perbuatan baik untuk mencapai keselamatan. Tetapi, ayat di atas tidaklah menyatakan bahwa manusia diselamatkan karena perbuatan. Ayat itu hanya menjelaskan bahwa iman yang benar tidak mungkin untuk tidak disertai dengan perbuatan. Iman yang tanpa perbuatan adalah seperti teori yang diakui kebenarannya tetapi tidak pernah dipraktikkan.

Bagaimana orang bisa mengakui apa yang benar tetapi tidak melaksanakannya dalam hidup adalah sebuah tanda tanya besar. Apakah orang itu benar-benar percaya kepada Tuhan dan firman-Nya? Tidak sadarkah orang itu bahwa untuk menjadi umat Tuhan ia harus menolak segala dosa dan tindakan yang bertentangan dengan firman Tuhan dan mau hidup sesuai dengan perintah-Nya? Tidakkah orang itu mengerti bahwa sebagai orang Kristen ia harus menegakkan kebenaran dan keadilan di mana pun ia berada?

Tidak dapat disangkal bahwa dengan adanya pandemi, banyak orang dihadapkan kepada dua pilihan: hidup atau mati. Untuk bisa tetap hidup, mungkin orang berusaha untuk mencari nafkah dengan cara apa pun selama ekonomi negara mengalami kemunduran, dan juga berusaha untuk mendapatkan vaksin yang terbaik dan berbagai obat yang dianggap bisa melenyapkan ancaman virus corona. Dengan adanya berbagai desakan kehidupan, tidaklah mengherankan kalau orang Kristen di saat ini mengalami ujian iman yang besar.

Kita tidak perlu jauh-jauh melihat adanya orang yang mengaku Kristen tetapi gagal untuk hidup secara Kristen. Sebagai orang Kristen mereka hampir tidak ada bedanya dengan orang lain yang tidak peduli jika ada pelanggaran hukum, keadilan dan hak azasi dalam masyarakat atau menutup mata atas hal-hal buruk yang dilakukan penguasa. Pada pihak yang lain, kita pun sering mengalami pertentangan batin antara melakukan hal yang baik dan tinggal berdiam diri. Apalagi, dengan berbuat apa yang sesuai dengan firman Tuhan ada kemungkinan bahwa kita akan menjadi orang yang dibenci, alias persona non grata. Mungkin juga jika kita menurut jalan yang jujur dan benar, kesempatan untuk memperoleh apa yang kita butuhkan menjadi hilang karena sudah diambil orang lain.

Pada situasi yang kacau di saat pandemi ini, kita tentunya tahu bahwa hidup sebagai orang Kristen memang lebih mudah dan aman jika dijalankan di lingkungan gereja. Karena itu, kita mungkin ingin memisahkan hidup kerohanian dari hidup sehari-hari. Apa yang kita pelajari dan akui dari Alkitab sering kali hanya menjadi pengetahuan dan bukan pengalaman praktik. Tetapi, bagaimana seseorang bisa mengaku beriman jika ia tidak pernah mau sepenuhnya melaksanakan perintah Tuhan?

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4: 17

Kita harus saling melayani

“Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu” Yohanes 13: 14

Satu negara yang sudah mengalami berbagai masalah selama beberapa dekade dan baru-baru ini mengalami pergantian pemerintahan untuk kesekian kalinya adalah Afganistan. Negara ini sudah lama mengalami berbagai konflik internal yang melibatkan berbagai negara besar seperti China, Rusia, Inggris dan Amerika. Pada saat pemerintah yang didukung Amerika jatuh pada bulan Agustus 2021, banyak orang merasa kuatir kalau-kalau mereka akan mengalami nasib malang di bawah pemerintahan rezim baru. Salah satu yang dikuatirkan oleh kaum wanita Afganistan adalah kembalinya peranan “tradisional” wanita yang tidak lagi seirama dengan zaman modern. Mereka kuatir kehilangan hak untuk bersekolah, bekerja dan membina karir jika mereka diharuskan untuk mengabdi kepada suami dan melayani keluarga saja.

Hal melayani menurut pandangan Kristen sudah tentu berlainan dengan apa yang mungkin terjadi di Afganistan. Apa yang dilakukan Yesus kepada murid-murid-Nya sebelum Ia disalibkan mungkin bisa dipandang sebagai pelayanan, walaupun Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya yang kotor sebagai tanda pelayanan kasih dan bukan pengabdian. Yesus yang adalah Tuhan dan Raja mau mencuci kaki manusia yang hina sebagai Raja yang melayani atau the Servant King. Hal membasuh kaki sudah tentu bukanlah sebuah ritual atau sakramen untuk dilakukan semua orang Kristen. Membasuh kaki bukanlah tugas yang diberikan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya. Tetapi, apa yang diperintahkan Yesus kepada mereka adalah untuk saling melayani dengan sukacita.

Yesus memberi contoh bagaimana setiap orang Kristen harus bersedia untuk saling melayani dalam kasih. Ini bukan pelayanan dari mereka yang lebih muda, lebih lemah, lebih miskin kepada mereka yang lebih tua, lebih kuat dan lebih kaya. Perintah untuk saling membasuh kaki tidak memandang derajat, ras, seks atau kedudukan manusia, sebab di mata Tuhan semua manusia adalah sederajat. Ini sudah tentu berlawanan dengan kebiasaan masyarakat tertentu di mana orang yang berada di tingkat atas mengharapkan pelayanan mereka yang di tingkat bawah, dan jika kaum suami menuntut para istri untuk sepenuhnya melayani mereka.

Pada hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa Yesus yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Sebaliknya, Ia telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Filipi 2: 6 – 7). Dengan demikian, jika kita memang adalah pengikut Kristus, kita juga harus mau meniru Dia; yakni mau melayani, mengasihi dan menghormati sesama kita tanpa pandang bulu. Kita harus selalu siap untuk merendahkan diri seperti Yesus, the Servant King yang sudah ditinggikan Allah dan dikaruniai nama di atas segala nama (Filipi 2: 9).

“Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Matius 23: 12

Pemimpin yang baik itu perlu

“Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu.“ 1 Petrus 5: 3

Hari ini media memberitakan bahwa Premier (gubernur) dari negara bagian Victoria di Australia naik darah setelah memperoleh kabar bahwa negara bagian yang lain rupanya sudah menerima perhatian istimewa dari pemerintah pusat dalam hal jumlah vaksin Covid-19. Karena itu, Premier Victoria merasa rakyatnya dianaktirikan karena tidak dapat memperoleh vaksin yang cukup di saat jumlah kasus positif makin meningkat. Terlepas dari pro dan kontra mengenai sikap Premier terhadap pemerintah pusat itu, seorang pemimpin memang diharapkan untuk mau membela rakyatnya.

Leaders are born not made. Seorang pemimpin adalah dilahirkan, bukan dibuat, begitu ungkapan yang sering dikumandangkan. Memang ada benarnya bahwa seorang pemimpin yang hebat adalah orang yang kelihatannya sudah sejak dari kecil tumbuh dengan bakat memimpin orang lain. Walaupun demikian, sebagian ahli jiwa berpendapat bahwa seorang pemimpin adalah dibuat dan bukannya dilahirkan. Hanya melalui pendidikan dan latihan, seorang bisa menjadi pemimpin yang baik. Leaders are made not born.

Mana yang benar? Apakah pemimpin itu dilahirkan sebagai pemimpin atau belajar menjadi pemimpin? Tentu saja mereka yang bisa menjadi pemimpin yang baik adalah orang yang berbakat dari lahir dan memperoleh didikan, latihan dan pengalaman yang cukup. Tidak ada orang yang bisa menjadi pemimpin dunia tanpa menerima gemblengan yang cukup untuk dapat menghadapi berbagai masalah dan tantangan demi kesejahteraan orang yang dipimpin. Selain itu, seorang pemimpin harus bisa memberi contoh yang baik bagi pengikutnya.

Bagi orang Kristen, satu-satunya pemimpin yang dilahirkan dan tidak dibuat adalah Yesus Kristus yang sebagai Allah sudah turun ke dunia sebagai manusia. Ialah pemimpin terbesar, Raja di atas segala raja yang harus dimuliakan. Semua pemimpin lain yang ada di dunia adalah manusia biasa yang bercacat-cela dan yang tidak perlu disembah.

“Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa.” Kisah Para Rasul 5: 31

Jika Yesus adalah Pemimpin manusia yang terbaik, bagaimana orang Kristen bisa menjadi pemimpin yang baik? Dengan mencontoh Yesus yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Filipi 2: 5 – 7). Ia menjadi pemimpin terbesar karena mau mengurbankan diri-Nya.

“Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Filipi 2: 8

Dengan demikian, pemimpin Kristen yang baik adalah orang yang mau berkurban seperti Yesus, dan bukannya orang yang menempatkan dirinya sebagai orang yang hanya bisa memerintah dan menyuruh orang lain. Pemimpin yang baik juga harus mau bekerja keras untuk bisa menjadi contoh dan teladan bagi orang lain. Ia harus mempunyai kasih dan kesabaran serta bisa menghargai seluruh bawahannya. Pemimpin yang baik selalu berusaha untuk mendidik pengikutnya agar mereka bisa menjadi pemimpin yang baik di kemudian hari.

Hari ini kita belajar bahwa setiap orang Kristen yang mendapat kesempatan untuk memimpin orang lain, baik dalam negara, perusahaan, masyarakat maupun keluarga, haruslah menjadikan dirinya sebagai orang yang siap bekerja untuk kebaikan orang lain. Kita harus bersyukur bahwa pada saat pandemi ini, kita lebih bisa melihat bagaimana para pemimpin kita bekerja. Apa yang baik patut kita tiru, tetapi jika ada yang tidak baik janganlah kita menutup mata. Pemimpin yang baik adalah dia yang menghargai pengikutnya dan mau berkurban untuk mereka.

Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Matius 20: 25 – 28

Menjadi orang yang bisa dipercaya

“Aku bersukacita, sebab aku dapat menaruh kepercayaan kepada kamu dalam segala hal.” 2 Korintus 7: 16

Yusuf mengampuni saudara-saudaranya yang tidak jujur

Masalah yang ada pada diri semua manusia pada umumnya adalah ketidakpedulian atas ketidakjujuran yang ada dalam dirinya. Selama orang lain tidak melihat atau tidak peduli atas hal-hal buruk yang kita lakukan, kita pun merasa tenang. Selama orang lain puas dengan apa yang terlihat dari luar, kita pun merasa senang. Dengan demikian, kurang ada dorongan bagi kita untuk terus berusaha memperbaiki diri, sekalipun Roh Kudus siap menolong kita. Karena itu, kita mungkin sulit untuk berubah dari kehidupan yang tidak memuliakan Tuhan.

Mereka yang sudah terbiasa dengan kehidupan di mana orang di sekitar mereka sering membuat dusta putih (white lies), membual, dan menyampaikan berita-berita yang tidak akurat, akan tidak segan untuk melakukan hal yang serupa jika tidak ada konsekuensinya. Mereka mudah untuk menerima alasan bahwa tidak ada orang yang sempurna, dan apa yang tidak benar tetapi tidak bermaksud buruk bisa diterima. Dengan demikian, banyak orang yang menerima apa yang bertujuan baik sekalipun caranya tidak benar. Ini lebih terlihat semasa pandemi Covid-19 ini, di mana banyak orang yang menganjurkan tindakan atau cara tertentu agar bisa tetap sehat atau bisa cepat sembuh jika terpapar virus corona. Sebagian besar dari berita yang ada di media adalah hoax saja, tetapi banyak orang agaknya tidak peduli atas kemungkinan adanya dampak serius jika ada orang yang percaya.

Ayat di atas ditulis oleh Rasul Paulus kepada para jemaat di Korintus untuk mengutarakan rasa senangnya karena mereka dapat dipercaya dalam segala hal. Segala hal? Luar biasa! Apakah Paulus hanya bermanis-manis saja? Rupanya tidak, karena Paulus membanggakan mereka kepada Titus (2 Korintus 7: 13-14). Walaupun demikian, Paulus tentu tidak bermaksud bahwa mereka adalah orang-orang alim dan selalu jujur. Tetapi Paulus jelas bangga bahwa mereka adalah orang yang sudah berubah hidupnya dan bisa diandalkan dalam pekerjaan Tuhan.

Paulus, seperti kita, tidak bisa sepenuhnya melihat hati dan pikiran orang lain. Tetapi ia tentu tahu bahwa tidak ada seorang pun yang sempurna, termasuk dirinya sendiri. Tiap orang pernah berbohong atau berlaku tidak jujur; tetapi mereka bisa menjadi orang Kristen yang berguna dalam kerajaan Kristus di dunia. Mereka yang menyadari kekurangannya dapat memakai segala kesempatan yang disediakan Tuhan untuk memperbaiki diri dan membaktikan dirinya untuk Tuhan. Paulus dalam hal ini sebagai Rasul yang mengikuti perkembangan kehidupan rohani jemaat Korintus, tahu bahwa mereka sudah berjuang untuk menjadi anak-anak Tuhan yang baik.

Manusia sering memakai kedok untuk menutupi kekurangannya, tetapi Tuhan melihat semua yang ada. Tuhan bisa melihat seluruh hidup kita, dan Ia tahu apakah kita dengan sengaja menjalani hidup sehari-hari dalam kepalsuan. Untuk semua itu, kita harus mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan, pikirkan dan ucapkan di sekolah, kantor, toko, rumah dan di mana saja.

“Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” Ibrani 4: 13

Hari ini, beranikah kita menghadap Tuhan dan mengaku bahwa kita sudah berusaha sepenuh hati untuk menjadi orang yang bisa dipercaya sebagai umat-Nya? Ataukah selama ini kita mengabaikan pandangan mata Tuhan dan hanya memedulikan pendapat umum atau perhatian mereka untuk kita?

Tuhan mengerti kelemahan kita dan Ia bisa menerima kita sebagaimana adanya, tetapi itu tidak berarti bahwa kita boleh dengan sadar, hidup dalam kepalsuan dan kebohongan. Kita tidak boleh menyampaikan apa yang tidak kita yakini atau mengerti kebenarannya, karena jika kita keliru orang lain akan dirugikan. Marilah kita menghadap Dia dalam doa untuk memohon pengampunan serta berjanji bahwa kita mau membiarkan Roh Kudus membarui hidup kita, agar kita bisa menjadi orang-orang kepercayaan-Nya.

Dalam keletihan haruslah ada istirahat yang baik

“Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.” Markus 2: 27-28

Pada saat ini, beberapa negara bagian di Australia sedang mengalami krisis akibat adanya pandemi Covid-19. Jumlah kasus positif yang makin banyak membuat lockdown kembali diberlakukan. Sebagai akibatnya, banyak orang Kristen yang tidak bisa berbakti di gereja. Dengan demikian, keadaan saat ini membuat banyak orang merasa letih secara rohani karena hidup yang kurang bisa dinikmati, terutama karena akhir pekan yang tidak ada bedanya dari hari-hari lain. Bagaimana orang Kristen harus bersikap mengenai hal ini?

Hari Minggu, atau Sabtu untuk sebagian orang Kristen, adalah hari yang kudus, yang harus kita perhatikan dalam konteks yang benar – sekalipun bagi orang lain itu mungkin merupakan hari untuk jalan-jalan atau rileks saja.

Hari Minggu bukan hari yang “kosong”, tetapi adalah hari yang “penuh”. Hari yang bukan berarti kosong dari segala kegiatan, tetapi hari yang diisi dengan kemauan untuk benar-benar bisa memperoleh ketenangan dan istirahat.

Sebelum adanya pandemi, dunia ini penuh dengan kegiatan yang bisa membuat manusia lupa bahwa hari Minggu diciptakan Tuhan untuk manusia agar mereka dapat beristirahat dari kegiatan sehari-hari dan memperoleh kesegaran rohani dengan mendekati Tuhan yang adalah sumber kekuatan manusia.

Sejak adanya pandemi dan banyak orang harus bekerja dari rumah, beda antara hari kerja dan akhir minggu menjadi kabur. Malahan, hari Minggu menjadi hari yang membuat banyak orang merasa makin lelah karena merasa seperti terkurung.

Sebenarnya, hari Minggu bukan diciptakan sebagai “hukuman” untuk manusia. Hari Minggu bukan diciptakan untuk memaksa manusia untuk berhenti bekerja dan untuk berbakti kepada Tuhan. Tuhan memberikan hari Minggu kepada manusia karena mereka tidak dapat bekerja terus menerus tanpa memperoleh kesempatan untuk mendapat penyegaran dan kekuatan baru dari Sang Pencipta. Tanpa itu, hidup manusia akan pelan-pelan menuju kearah kehancuran karena baik dalam jasmani maupun rohani mereka akan mengalami kelelahan.

Pada hari Minggu, umat Tuhan diingatkan untuk kembali memusatkan diri kepada Tuhan seperti seekor rusa yang haus, yang ingin meminum air sungai yang menyegarkan. Hari Minggu tidak berarti bahwa kita harus duduk di gereja untuk satu atau dua jam saja.

Hari Minggu adalah hari di mana kita bisa berkomunikasi dengan Tuhan dan sesama manusia untuk memperkokoh iman dan menyegarkan hidup kita guna menghadapi minggu yang baru. Karena itu, di saat pandemi ini kita harus tetap bisa dan mau berjumpa dengan Dia di mana pun kita berada.

“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.” Mazmur 42: 1