Ujian adalah perlu untuk naik kelas

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” Yakobus 1: 2-4

Di zaman modern, pendidikan pada umumnya dianggap sebagai kunci untuk kesuksesan. Anak-anak dari kecil sudah diajarkan untuk mau giat belajar agar dapat memperoleh ijazah universitas supaya bisa memperoleh pekerjaan yang enak, yang menghasilkan banyak uang setelah lulus. Tetapi untuk dapat memasuki sebuah universitas yang baik dan lulus dengan hasil bagus, mereka tentunya harus mau bekerja keras untuk lulus ujian. Sekalipun kemungkinan tidak lulus ujian itu selalu ada, mereka yang tetap ulet dan bertahan, pada akhirnya akan berhasil dan bisa hidup berbahagia. Itu harapan manusia, tetapi kenyataan hidup bisa berbeda.

Satu hal yang sering tidak kita sadari sebelum terjadinya masalah kehidupan seperti yang kita alami saat ini ialah kenyataan bahwa manusia sebenarnya tidak memegang kemudi kapal kehidupan. Bagaimanapun manusia berusaha dan bekerja, kejadian-kejadian yang tidak diharapkan tetap bisa bermunculan pada setiap saat. Bagi mereka yang hidupnya kosong, datangnya kesulitan hidup akan dapat membawa kehancuran karena kepercayaan kepada diri sendiri akan tergoncang dan harapan masa depan menjadi suram. Pengertian tentang kebahagiaan yang mereka yakini sejak lama, sekarang menjadi tanda tanya besar.

Memang, menurut Alkitab hidup orang percaya tetap dihadapkan kepada berbagai tantangan dan kesulitan. Ini bukan pencobaan dalam arti godaan iblis untuk berbuat dosa. Tetapi, ini adalah segala masalah kehidupan yang harus kita hadapi. Kita boleh berbahagia dalam menghadapinya sebab kita tahu, bahwa dalam mengalami jatuh-bangun, ujian iman seperti itu menghasilkan ketekunan yang membentuk kita sebagai orang yang sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.

Bagi umat Kristen, kebahagiaan adalah karunia Tuhan. Semua hal yang baik adalah datang dari Tuhan. Kebahagiaan tidak dapat dicapai dengan usaha manusia. Sekalipun kesuksesan, kekayaan, keamanan dan kesehatan ada tersedia dalam hidup kita, kekosongan hati masih sering muncul. Malahan kita tahu bahwa banyak orang ternama yang mengakhiri hidup mereka secara tragis karena hidup yang berkekurangan dalam kemewahan. Hidup kosong yang tidak menyadari adanya Tuhan.

Hari ini kita diingatkan bahwa hidup kita akan berjalan tanpa kemudi jika kita tidak membiarkan Tuhan membimbing kita. Sebaliknya, menyerahkan hidup kita kepada-Nya akan memberi keyakinan bahwa apa pun yang terjadi dalam hidup ini, Tuhan akan membawa kita ke tempat yang baik. Keyakinan inilah yang memberi kita ketekunan dan kesabaran dalam menghadapi segala tantangan hidup, yang pada akhirnya akan memberi kebahagiaan sejati dalam rasa kecukupan pada setiap saat!

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang.” Mazmur 23: 1-2

Tuhan adalah Alfa dan Omega

“Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.” Wahyu 1: 8

Pernahkah anda berpikir mengapa ada banyak kejadian yang menyedihkan di dunia ini? Seperti kekejaman, kelaparan, pandemi dan peperangan? Mengapa Tuhan membiarkan semuanya terjadi? Mengapa Ia membiarkan dosa menghancurkan manusia? Benarkah Tuhan itu mahasuci, mahakuasa, mahabijaksana, mahakasih dan mahaadil? Benarkah Ia mengirimkan Yesus untuk seisi dunia sehingga semua yang percaya dapat memperoleh hidup yang kekal (Yoh 3.16)? Apakah Ia adalah Tuhan yang tidak mahakuasa walaupun mahakasih? Mungkinkah Ia adalah Tuhan yang mahakuasa tapi tidak mahakasih? Apakah dia hanya memilih bangsa-bangsa tertentu untuk mendapat keselamatan di surga dan kebahagiaan di dunia? Mungkinkah dia Tuhan yang “pilih kasih”? Mungkinkah dia kurang bijaksana?

Pertanyaan-pertanyaan di atas sering sekali muncul di antara umat Kristen dan masyarakat umum. Adalah kenyataan bahwa banyak orang Kristen yang tidak peduli akan keadaan dunia karena berpandangan bahwa Tuhan adalah mahakuasa dan membuat segala sesuatu terjadi di dunia. Sebaliknya, di kalangan masyarakat umum, banyak orang yang tidak mau menjadi Kristen karena beranggapan bahwa Tuhan tidak sepenuhnya mahakuasa, mahabijaksana, mahakasih dan mahaadil.

Ayat dari kitab Wahyu diatas jelas menyatakan bahwa Tuhan adalah mahakuasa, Ia yang mengatur segala sesuatu menurut rencana dan kebijakan-Nya dari awal sampai akhir. Tetapi, apakah Dia jugalah yang membuat segala sesuatu di dunia ini, termasuk hal-hal yang jelek seperti dosa, kejahatan dan penderitaan? Banyak orang Kristen, yang mungkin karena pengalaman-pengalaman yang dialami mereka, cenderung percaya bahwa semua itu terjadi karena kehendak Tuhan yang mahakuasa. Karena Tuhan sudah menetapkan segala sesuatu dari awalnya, tentu Dia yang menentukan hal-hal yang baik dan buruk untuk terjadi pada saat yang dikehendaki-Nya di dunia ini. Tuhan yang mahakuasa tentu bisa melakukan apa pun. Benarkah itu?

Adakah sesuatu yang tidak dapat Tuhan lakukan? Ini pertanyaan yang sering kali dikemukakan oleh orang yang ingin menjebak orang Kristen. Jika jawabnya “tidak ada”, pertanyaan ini akan dilanjutkan dengan pertanyaan mengapa Tuhan tidak melakukan ini dan itu. Jika jawabnya “ada” maka Tuhan bukanlah Oknum yang mahakuasa.

Sebenarnya ada banyak yang tidak bisa dilakukan Tuhan. Aneh? Satu yang jelas, Tuhan yang mahasuci tidak bisa berbuat dosa. Tuhan juga tidak bisa dijadikan boneka atau patung di sudut rumah. Tuhan tidak bisa menjadi lembaran kertas berharga yang bisa dimasukkan ke dalam dompet. Tuhan juga tidak bisa menjadi kepandaian yang disimpan dalam otak kita. Tuhan tidak bisa menjadi pemimpin negara yang kita sanjung-sanjung. Tuhan adalah Tuhan yang mahasuci, mahakuasa, mahabijaksana, mahakasih dan mahaadil. Karena itu Tuhan tidak hidup dan bisa bertindak seperti manusia yang terbatas dalam hal kemampuan, keadilan, kebijaksanaan dan kesucian. Apakah ketidakbisaan Tuhan ini membuat Tuhan bukan Tuhan? Sudah tentu tidak.

Tuhan dalam kemahakuasaan-Nya telah menciptakan manusia dengan kemampuan untuk berpikir dan mengambil keputusan. Bahwa Adam dan Hawa mengambil keputusan untuk berbuat dosa, itu bukanlah kehendak Tuhan. Tuhan menghendaki manusia untuk taat kepada bimbingan-Nya dan hidup dalam kasih-Nya. Itu adalah rencana-Nya dari awal dan karena itu Ia akan mewujudkan rencana-Nya pada akhirnya. Penebusan darah Kristus adalah satu jalan yang ditentukan-Nya untuk itu, karena Ia tahu bahwa manusia dalam kebodohan mereka mau menurut bujukan iblis. Sebagai Tuhan yang mahakuasa Ia tidak dibatasi oleh apa pun dan Ia bisa bertindak untuk mewujudkan rencana-Nya kapan saja, tanpa bergantung kepada manusia dan perbuatan mereka.

Manusia dalam hidupnya bisa memilih untuk percaya kepada Yesus atau percaya kepada ilah-ilah yang lain. Mereka bisa lebih memercayai kebohongan daripada kebenaran. Mereka memang mempunyai kebebasan dan pilihan. Kekejian dan kekacauan ada di`mana-mana karena perbuatan manusia. Ini bukan tanda bahwa Tuhan tidak mahakuasa, tetapi sebagai Tuhan Ia tidak dapat untuk membuat peta dan teladan-Nya untuk menjadi seperti mesin, karena Tuhan bukan mesin. Tuhan tidak dapat membuat diri-Nya bukan Tuhan. Tuhan tidak dapat membohongi diri-Nya sendiri. Dia tidak dapat merendahkan diri-Nya sendiri. Tetapi, dengan memberikan kebebasan bagi manusia dan dengan tetap mempunyai kontrol yang penuh akan jalannya alam semesta, Ia membuktikan bahwa diri-Nya adalah Alfa dan Omega, yang memulai dan yang mengakhiri. Tuhan tidak bisa menjadi Tuhan yang gagal sekalipun manusia dan iblis berusaha menggagalkan rancangan-Nya. Biarlah kita tetap percaya akan kebesaran-Nya sekalipun dalam hidup ini terkadang kita tidak mengerti apa maksud dan rencana-Nya.

“Pujilah TUHAN, hai segala buatan-Nya, di segala tempat kekuasaan-Nya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku!” Mazmur 103:22

Pandemi ini seharusnya membuat kita lebih bergantung kepada Tuhan

“Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu.” Keluaran 34: 14

Adanya pandemi Covid-19 mungkin dipandang oleh banyak orang sebagai malapetaka yang sama sekali tidak ada gunanya. Malahan, pandemi ini terasa seperti sebuah malapetaka yang hanya membawa kepedihan dan derita bagi umat manusia. Memang, peradaban manusia di masa lalu berkembang karena adanya berbagai tantangan hidup; tetapi jika apa yang dihadapi adalah lebih besar dari kemampuan untuk mengatasinya manusia bisa saja hilang harapan.

Bagi umat Kristen, segala apa yang terjadi di dunia adalah dengan seizin Tuhan. Umat percaya tentunya juga yakin bahwa Tuhan mempunyai maksud yang baik untuk umat-Nya dalam setiap keadaan. Walaupun demikian, jika apa yang terjadi adalah sesuatu yang sangat berat, orang mungkin merasa bahwa Tuhan bukanlah Oknum yang mahakuasa dan mahakasih, kepada siapa mereka bisa berharap. Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang Kristen yang sekarang goncang imannya, dan bingung mencari-cari jalan apa pun untuk dapat bertahan atau survive. Mereka lupa bahwa Tuhan tetap memegang kontrol atas seisi alam semesta. Mereka bisa saja lebih bergantung kepada nasihat orang lain dan usaha sendiri untuk mengatasi segala kekuatiran mereka. Mereka secara tidak sadar sudah meninggalkan iman kepada Tuhan dan mencoba bersandar pada pikiran dan pengetahuan manusia. Ini tentunya bisa membuat Tuhan merasa cemburu.

Jika rasa cemburu manusia sering kali adalah dosa, bagaimana mungkin Tuhan yang mahasuci adalah Tuhan yang cemburuan? Kecemburuan Tuhan justru timbul karena Ia adalah Tuhan yang mahasuci dan mahakuasa. Sebagai Tuhan satu-satunya yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya, Tuhan menuntut ketaatan dan penyerahan dari manusia. Ia tidak mengizinkan manusia menyembah diri sendiri, sesamanya, makhluk lain atau benda apa pun yang juga diciptakan-Nya. Penyembahan dan penyerahan yang tidak kepada Tuhan adalah penyembahan berhala.

Jika Tuhan berhak untuk merasa cemburu karena Ia adalah pemilik alam semesta, tidakkah kecemburuan-Nya bersifat mementingkan diri sendiri? Sama sekali tidak! Tuhan yang mahakasih justru dengan kecemburuan-Nya ingin agar manusia hidup bahagia melalui ketaatan kepada sumber kehidupan mereka. Tuhan ingin agar manusia tidak terjebak ke dalam kekacauan dan penderitaan di saat ini karena berharap kepada ilah-ilah yang tidak dapat membawa manusia ke arah kebahagiaan dan keselamatan.

Sayang sekali bahwa dalam keadaan terdesak, manusia makin mudah terperosok ke dalam dosa penyembahan berhala. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang sering mendewakan para pemimpin, selebriti dan “influencer” yang nampaknya karismatik dan berwibawa; mengagumi penampilan dan pesona mereka, memuja apa yang sudah dicapai oleh mereka, terobsesi dengan anjuran dan ajaran mereka yang hebat, dan menganggap apa yang kelihatan oleh mata sebagai sesuatu yang terbaik dan yang di atas segalanya. Pada pihak yang lain, manusia juga mudah terperangkap dalam keyakinan bahwa hidup-mati mereka ada di tangan mereka sendiri. Adanya pandemi yang seharusnya bisa mengingatkan kita untuk makin dekat dengan Tuhan sumber kehidupan kita, bisa membuat kita ragu untuk bergantung kepada-Nya. Ini tentu saja serupa dengan pemujaan berhala.

Alkitab menyebutkan bagaimana cemburu Tuhan menyebabkan datangnya berbagai hukuman kepada bani Israel. Sejarah juga membuktikan bahwa Tuhan menghancurkan apa dan siapa yang ditinggikan oleh manusia. Bukan hanya terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, pemujaan berhala juga terjadi dalam kehidupan gereja. Pemujaan para pemimpin gereja terjadi jika jemaat menempatkan mereka sebagai pusat pengharapan dan mengharapkan mujizat terjadi melalui doa-doa mereka. Pemujaan diri sendiri terjadi jika kita lupa untuk mengakui bahwa kehendak-Nya yang harus terjadi, bukan kehendak kita.

Dalam hidup kita sehari-hari, penyembahan berhala sering tidak disadari. Apabila kita selalu menaruh kepentingan pribadi, suami, istri, dan anak di atas kepentingan Tuhan, itu bisa menjadi penyembahan ilah. Apabila kita selalu membanggakan apa yang kita capai dan miliki , kita bisa lupa dari mana asalnya. Dan saat ini, jika kita tunduk dalam ketakutan dan mengambil keputusan atau tindakan yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, itupun merendahkan Tuhan karena kita seolah lupa bahwa hanya Tuhan yang memegang kontrol.

Tuhan adalah Tuhan yang cemburu dalam kesucian-Nya. Ia tidak ingin manusia melupakan bahwa Ia adalah Tuhan semesta alam dan segala bangsa. Tuhan tidak menginginkan manusia mencoba-coba untuk mencari sesuatu yang bisa menggantikan-Nya dalam keadaan darurat saat ini, karena Tuhan tahu bahwa semua itu sia-sia dan justru akan membawa kehancuran. Hukum yang pertama untuk menghormati dan percaya kepada Dia adalah hukum yang terpenting untuk dilaksanakan manusia karena itu merupakan tali kehidupan yang menjamin kesejahteraan umat-Nya di bumi dan di surga.

“Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat dari pada Dia?” 1 Korintus 10: 22

Kewajiban kita kepada pemerintah

“Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.” 1 Timotius 2: 1 – 2

Adanya pandemi sudah membawa berbagai masalah di berbagai negara dan membuat banyak manusia mengalami berbagai penderitaan. Semua negara berusaha mati-matian untuk mengatasi segala persoalan, tetapi tiap negara tentunya mempunyai situasi dan kemampuan yang berbeda. Karena itu, ada negara-negara yang bisa mengatasi dampak pandemi ini, tetapi lebih banyak lagi yang kalang kabut karena keadaan yang tidak teratasi. Salah satu masalah yang dihadapi setiap negara adalah hal ketaatan rakyatnya kepada peraturan kesehatan setempat. Rakyat yang sudah merasa lelah dengan berbagai lockdown, cenderung untuk kurang tunduk kepada pemerintah. Inilah yang membuat keadaan di negara-negara itu sulit untuk membaik sekalipun vaksin sudah ada.

Bagaimana dengan tanggung jawab orang Kristen dalam kehidupan bernegara? Alkitab menekankan pentingnya agar setiap umat Tuhan untuk tunduk kepada pemerintahnya.

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Karena pemerintah negara mana pun seharusnya mewakili Tuhan, sudah sewajarnya kalau setiap umat Kristen memilih pemimpin yang takut akan Tuhan. Ini adalah syarat utama, bahwa pemimpin yang baik, sekalipun bukan orang Kristen, adalah orang yang mau dan bisa mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan yang penting, seperti kerohanian, hak asasi, perdamaian, keamanan, keadilan, kejujuran, dan sebagainya.

Adalah baik jika semua orang yang duduk dalam pemerintahan adalah orang-orang yang takut akan Tuhan. Tetapi, dalam kenyataan hidup, orang-orang yang jahat dan tidak disenangi Tuhan bisa saja terpilih sebagai pemimpin-pemimpin negara. Dan kalau itu terjadi, seisi negara harus bertanggung jawab di depan Tuhan.

“Mereka telah mengangkat raja, tetapi tanpa persetujuan-Ku; mereka mengangkat pemuka, tetapi dengan tidak setahu-Ku. Dari emas dan peraknya mereka membuat berhala-berhala bagi dirinya sendiri, sehingga mereka dilenyapkan.” Hosea 8: 4

Apa yang terjadi di muka bumi ini tentunya dengan seizin Tuhan, tetapi apa yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan tentunya tidak akan menyenangkan Tuhan. Karena itu, Tuhan tidak akan memberkati adanya pemerintah yang menentang hukum-Nya, dan yang tidak berfungsi seperti yang diharapkan-Nya.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai orang Kristen kita mempunyai Tuhan yang hidup, Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana. Karena itu, umat Kristen harus selalu mau menaikkan permohonan dan doa syafaat agar orang-orang yang terpilih dalam pemerintahan dapat memberi rakyat mereka hidup yang tenang dan tenteram. Lebih lanjut, sebagai orang Kristen, kita harus ikut berpartisipasi dalam memikirkan, dan dalam mengemukakan pendapat kita secara kritis , tentang apa yang akan dan sudah dilakukan oleh para pemimpin kita – agar mereka dapat mawas diri dan bisa melaksanakan mandat mereka dengan baik. Kita harus berdoa agar mereka dapat mempunyai kebijaksanaan untuk bisa menciptakan kehidupan yang tenang dan tenteram bagi seluruh rakyat, seperti yang dikehendaki Tuhan kita. Biarlah kita boleh mengingat pesan terakhir Raja Daud kepada rakyatnya:

“Allah Israel berfirman, gunung batu Israel berkata kepadaku: Apabila seorang memerintah manusia dengan adil, memerintah dengan takut akan Allah, ia bersinar seperti fajar di waktu pagi, pagi yang tidak berawan, yang sesudah hujan membuat berkilauan rumput muda di tanah.” 2 Sanuel 23: 3 – 4

Tuhan itu tidak jauh dari umat-Nya

“TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.” Mazmur 145: 18

Dalam agama Hindu, sapi adalah simbol suci kehidupan dan bumi. Selama berabad-abad umat Hindu di India menggunakan kotoran sapi untuk membersihkan rumah dan untuk ritual doa. Baru-baru ini, di negara bagian Gujarat, beberapa orang percaya dan pergi ke tempat penampungan sapi seminggu sekali untuk melumuri tubuh mereka dengan kotoran dan air kencing sapi. Mereka berharap ritual itu dapat meningkatkan kekebalan tubuh, atau membantu mereka pulih dari infeksi virus corona.

Para dokter dan ilmuwan di India serta di seluruh dunia telah berulang kali memperingatkan agar tidak mempraktikkan pengobatan alternatif untuk melawan Covid-19, tetapi masih banyak juga yang mengabaikan peringatan itu. “Kami melihat bahwa dokter pun datang ke sini. Mereka yakin ritual ini bisa meningkatkan kekebalan tubuh dan mereka dapat merawat pasien tanpa rasa takut,” kata seorang manajer di perusahaan farmasi. Dia mengatakan bahwa dalam kenyataannya praktik tersebut membantunya pulih dari Covid-19 pada tahun lalu. Kemanjuran “terapi” itu baginya adalah evidence based atau berdasarkan kenyataan.

Dalam banyak kepercayaan, memang manusia harus berusaha untuk mendekati sang pencipta yang mahakuasa dan menyembahnya agar hidup mereka diberkati. Pada saat ini, tentu ada banyak orang yang memohon kepada tuhan-tuhan mereka untuk dilindungi dari wabah Covid-19. Dalam hal ini, umat Kristen tidak berbeda karena mereka juga berdoa meminta perlindungan atau kesembuhan dalam nama Yesus Kristus. Sebagai manusia yang mempunyai berbagai kebutuhan, kita pun percaya bahwa Tuhan yang mahakasih selalu mengabulkan permintaan doa kita apabila itu sesuai dengan kehendak-Nya.

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” Matius 7: 7

Walaupun demikian, berbeda dengan banyak kepercayaan lain, orang Kristen tidak perlu lagi bergantung kepada berbagai ritual untuk menghampiri Tuhan. Mereka tidak juga membutuhkan keajaiban untuk bisa percaya bahwa Tuhan itu ada dan Ia mengasihi umat-Nya. Tuhan yang sudah pernah datang ke dunia dalam bentuk manusia yang bernama Yesus itu sekarang berada di surga, menantikan doa-doa setiap orang, di mana saja, yang berseru kepada-Nya. Lebih dari itu, orang Kristen sudah dikaruniai dengan Roh Kudus, Tuhan yang hidup dalam tiap orang percaya, yang mau membantu mereka dalam berdoa.

Dalam kenyataannya, tanpa ritual banyak orang Kristen yang kurang bisa merasakan bahwa Tuhan yang mahabesar itu betul-betul ada di setiap saat dalam hidup mereka. Dalam kesibukan hidup, mereka mungkin hanya jarang-jarang menghampiri Tuhan. kalau mereka sempat untuk berbakti kepada Tuhan, itu pun dilakukan tanpa penyembahan dengan sepenuh hati. Bagi mereka Tuhan mungkin seperti seorang teman baik saja yang bisa memenuhi keinginan mereka. Walaupun demikian, pandemi yang berkepanjangan ini membuat mereka merasa bahwa Tuhan sudah melupakan mereka.

Memang benar bahwa kita tidak lagi mempunyai ritual-ritual khusus untuk memanggil Tuhan atau untuk menjumpai-Nya. Itu karena Yesus sudah mati untuk memungkinkan hubungan langsung antara umat dan Tuhannya. Walaupun demikian, itu tidak berarti bahwa Tuhan tidak lagi Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci. Jika kita membutuhkan Tuhan, itu tidak hanya pada saat kita mengalami masalah besar, tetapi pada setiap saat kita harus bergantung kepada-Nya.

Pagi ini kita diingatkan bahwa adalah keliru jika kita berpikir bahwa Tuhan selalu menyertai hidup kita sekalipun kita sudah terbiasa untuk hidup bagi diri sendiri dan jarang berdoa kepada-Nya. Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan!

Penyebab masalah hidup

 “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7

Hari Sabtu kemarin saya mendengar kabar bahwa kasus transmisi lokal varian Delta sudah ditemukan di Brisbane dan karena itu ada kemungkinan bahwa sudah ada banyak orang yang terpapar dalam masyarakat. Karena itu, akhir minggu ini Brisbane dan 10 daerah di sekitarnya harus mengalami lockdown lagi agar testing dan tracing bisa dilakukan dengan efektif. Jika pada hari Selasa yang akan datang semua orang yang terpapar bisa ditemukan, lockdown bisa dihentikan. Kabar lockdown ini tentunya membuat banyak orang kaget, karena akhir minggu ini harus dilewatkan dengan tinggal di rumah saja.

Memang dalam suasana yang mirip suasana perang saat ini, hal menonton TV atau mengikuti berita bisa membuat kita merasa serba salah. Kalau kita tidak mengikuti berita media, kita mungkin tidak sadar akan keadaan pandemi di tempat kita dan mungkin tidak tahu adanya peraturan baru dari pemerintah. Tetapi, jika kita rajin mengikuti berita, selalu ada saja kejadian-kejadian yang mengagetkan, yang membawa kekuatiran. Tentu saja tidak ada orang yang ingin menambah kekuatiran atau rasa takut yang sudah ada, seperti takut sakit, takut gemuk, takut kurus, takut kesepian, takut ketinggalan jaman, takut diganggu orang lain, takut mati dll.

Mengapa manusia selalu menghadapi masalah dalam hidup ini? Ada berbagai sebab spesifik, namun pada umumnya hal-hal itu dapat digolongkan dalam 5 golongan.

Kejatuhan dalam dosa: Memang itulah dunia, sejak kejatuhan dalam dosa manusia harus menghadapi hidup yang berat yang terisi penderitaan dan kesepian (Kejadian 3: 17-19). Karena kejatuhan Adam dan Hawa, kita harus menerima kenyataan bahwa kita tidak hidup di taman Firdaus lagi.

Kesalahan kita sendiri: Sering kali kita tidak menyadari bahwa kita kurang berhati-hati melangkah dalam hidup ini. Mungkin sebagai orang Kristen kita sering mendengar bahwa hidup sebagai orang beriman pasti membawa ketenangan dan kebahagiaan, tetapi mereka yang mengharapkan solusi instan akan kecewa. Ketenangan dan kebahagiaan hanya dapat dicapai dengan hidup berdisplin dekat dengan Tuhan. Jika tidak berhati-hati kita akan tetap bisa jatuh ke dalam pencobaan terutama jika kita lebih mementingkan kehidupan yang berpusat kepada hal-hal duniawi (Markus 14: 38).

Perbuatan orang lain: Karena semua orang sudah jatuh ke dalam dosa (Roma 3:23), tidaklah mengherankan jika ada saja masalah yang terjadi karena ulah orang lain, termasuk orang-orang terdekat dan bahkan saudara-saudara seiman. Kesadaran bahwa tiap orang membutuhkan penyelamatan dari Yesus Kristus seharusnya mengingat kan kita agar tidak kecewa atau putus asa dalam menghadapi kesulitan hidup yang disebabkan orang lain.

Usaha iblis untuk menghancurkan umat Tuhan: Sering kali kita bayangkan iblis muncul dalam bentuk yang mengerikan dan menakutkan seperti seekor singa (1 Petrus 5: 8). Tetapi iblis juga pandai menyamar (2 Korintus 11: 14); ia bisa menyamar sebagai hal-hal atau orang-orang yang nampaknya baik dan berguna dalam hidup ini. Karena itu ada saja orang beriman yang jatuh ke dalam berbagai masalah ketika sibuk dengan aktivitas gereja dan sosial yang nampaknya baik.

Pekerjaan Tuhan: Tuhan mempunyai rencana agung untuk seisi dunia dan Ia tetap bekerja dalam semua keadaan dunia. Dalam keadaan dunia yang kacau-balau saat ini, mungkin kita berpikir bahwa Tuhan hanya membiarkan semuanya terjadi. Tetapi tidak ada sesuatupun yang terjadi di luar rencana-Nya (Yesaya 14:24); semua hal yang baik dan buruk terjadi harus dengan seizin Tuhan. Karena Tuhan kita Mahakuasa dan Mahakasih, kita yakin bahwa Tuhan tetap bisa dan mau menyertai kita dalam keadaan apa pun.

Hari ini kita diingatkan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya. Tuhan selalu mau memberikan kekuatan agar kita bisa bertahan dalam hidup ini. Tetapi untuk itu kita harus mau mengakui bahwa kita adalah lemah dan karena itu mau menyerahkan segala kekuatiran kita kepada-Nya.

Siapakah yang sanggup memimpin kita?

“Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku.” Maka sakit hatilah Samuel dan ia berseru-seru kepada TUHAN semalam-malaman. 1 Samuel 15: 11

Di mana pun kita hidup, masyarakat di sekitar kita selalu memerlukan adanya pemimpin. Adalah kenyataan hidup bahwa hampir semua makhluk di dunia ini, besar dan kecil, selalu mempunyai pemimpin dalam aktivitas hidup mereka. Pemimpin diharapkan bisa untuk memberi contoh, teladan, pengarahan, penguatan, dan pemersatuan. Pemimpin yang baik disegani musuh tetapi disayangi dan dihormati oleh masyarakatnya.

Untuk memilih seorang pemimpin, umumnya ada prosesnya. Entah melalui kenaikan pangkat, penunjukkan oleh suatu badan atau pemilihan oleh masyarakat. Kalau harus dipilih masyarakat, tiap lingkungan, daerah dan negara mempunyai cara sendiri untuk memilih pemimpinnya. Pemimpin yang dipilih biasanya orang yang populer, dikenal dan disukai oleh mayoritas masyarakat. Mereka yang kemudian terpilih menjadi pemimpin sering kali menjadi tumpuan harapan dan dipuja rakyatnya.

Umat Israel juga pernah merindukan akan adanya seorang raja yang bisa memimpin mereka. Walaupun Tuhan sudah memimpin mereka dari awalnya, mereka masih kurang puas, dan mengingini seorang raja seperti bangsa lain. Raja pertama bangsa Israel, Saul, akhirnya dipilih melalui undian. Pada waktu Tuhan mengangkat Saul menjadi raja, Ia berjanji bahwa kerajaannya akan kokoh untuk selama-lamanya, keturunannya turun temurun akan terus menjadi raja di Israel sampai selama-lamanya. Namun Raja Saul kehilangan kesempatan itu. Dalam ayat di atas tertulis bahwa Tuhan menyesal menjadikan Saul sebagai raja Israel. Tuhan menyesal karena Saul menyalah-gunakan apa yang Ia berikan dan mengabaikan-Nya.

Keadaan dunia saat ini adalah seperti keadaan umat Israel pada waktu itu. Bagaimana tidak? Ancaman pandemi, kemunduran ekonomi, kemungkinan perang dan bencana alam menghantui rakyat berbagai negara. Memang, jika kita memikirkan masa mendatang, kita sadar bahwa tidak ada siapa atau apa pun yang bisa menjamin hari depan kita. Di dunia ini, tidak ada yang baik, tidak ada yang sempurna, tidak ada yang kekal. Harapan kita untuk adanya pemimpin yang bisa membimbing kita melewati keadaan yang sulit saat ini memang harus tetap ada, tetapi lebih penting dari itu kita harus sadar bahwa hanya Tuhan yang dapat memimpin kita dengan pasti menuju hari depan.

Hanya Tuhan yang mahakuasa dan mengerti kebutuhan umat-Nya serta bisa melindungi mereka dari bahaya. Tuhanlah juga yang bisa membimbing para pemimpin kita untuk bisa mengatur jalannya hidup bermasyarakat di tempat kita masing-masing. Sebagai umat Tuhan kita harus sadar bahwa para pemimpin dunia, bagaimana pun hebatnya, tidak dapat memastikan apa yang akan terjadi esok hari. Karena itu, di saat ini kita harus dengan tidak putus-putusnya berdoa seperti Samuel, memohon agar Tuhan sudi menolong para pemimpin kita. Kita juga harus berdoa agar para pemimpin kita mau memilih jalan yang benar, yang membawa kemuliaan bagi Tuhan.

Jika Tuhan mengizinkan hal yang jahat terjadi

“Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman. Mengapa Engkau memandangi orang-orang yang berbuat khianat itu dan Engkau berdiam diri, apabila orang fasik menelan orang yang lebih benar dari dia?” Habakuk 1: 13

Mengapa Tuhan membiarkan mereka kelaparan?

Mendengar dan menyaksikan kejadian-kejadian buruk yang terjadi dalam kehidupan di sekeliling kita di saat ini, mungkin kita merasa sedih karena dunia ini agaknya secara pelan-pelan menjadi semakin kacau, setidaknya di tempat-tempat tertentu. Dunia memang penuh dosa dan karena itu tidak bisa bebas dari kekacauan, kejahatan dan kekejaman, tetapi jika hal-hal itu terjadi pada orang-orang yang tidak bersalah, kita mungkin bertanya-tanya: mengapa Tuhan berdiam diri?

Kejadian buruk yang terjadi di luar dugaan pada seseorang memang sering dihubungkan dengan faktor kebetulan: mungkin ia berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Tetapi alasan ini untuk orang Kristen akan membawa pertanyaan: apakah ada hal yang kebetulan di hadapan Tuhan yang mahatahu dan mahakuasa? Tentu Tuhan yang membiarkan hal yang jahat itu terjadi!

Tuhan adalah pencipta alam semesta yang membuat apa yang tidak baik dan kacau untuk menjadi baik dan indah. Tetapi mengapa Ia membiarkan adanya hal-hal yang keji atau menyedihkan di sekeliling kita? Tentu Tuhan mempunyai maksud atau rencana sekalipun kita sering tidak bisa memahaminya.

Ayat Habakuk 1: 13 di atas adalah keluhan nabi Habakuk karena Tuhan bermaksud membuat bangsa Babel yang jahat untuk menguasai bani Israel. Habakuk seakan menyatakan protes atas rencana Tuhan karena seakan Tuhan akan menelantarkan umat-Nya. Ia tidak mengerti bahwa Tuhan tidak pernah mengabaikan umat-Nya, pada saat-saat tertentu sengaja membiarkan terjadinya hal-hal yang tidak baik dan bahkan hal-hal yang jahat untuk menggenapi rencana-Nya.

Adalah menarik bahwa kita sering kali lupa bahwa Allah Bapa mengirimkan Anak-Nya ke dunia untuk disiksa dan disalibkan guna menebus dosa kita. Allah tidak menyiksa dan membunuh Yesus, tetapi Ia membiarkan orang-orang tertentu untuk melakukan hal-hal yang jahat kepada Yesus untuk menggenapi rencana penyelamatan-Nya. Sejarah gereja juga menulis bahwa setelah Yesus naik ke surga, umat Kristen juga mengalami penganiayaan yang besar, yang membawa banyak korban di antara orang percaya.

Berubahkah keadaan dunia setelah itu? Memang, orang umumnya berpikir bahwa dengan kemajuan sains, hukum dan pendidikan, agaknya manusia dapat hidup lebih baik atau teratur. Tetapi, apakah keadilan dan keamanan sudah sepenuhnya kita alami sekarang? Tentu saja tidak! Di dunia ini tetap ada orang-orang jahat yang hidup di antara umat Tuhan, seperti lalang di antara rumput-rumput. Wabah penyakit yang sudah dapat diatasi memang banyak, tapi penyakit baru masih juga muncul dari waktu ke waktu dan membuat sengsara banyak orang, terutama di negara-negara yang belum kuat ekonominya.

Tuhan membiarkan hal yang jahat ada, dan bahkan terkadang memakai hal yang jahat untuk membangun dan memperkuat umat-Nya di dunia. Semua itu bisa terjadi dengan seizin Tuhan yang mempunyai rencana agung untuk membawa setiap orang yang percaya kepada keselamatan, dan agar mereka yang sudah diselamatkan untuk makin beriman kepada-Nya. Bagi kita hal-hal semacam itu bukanlah pencobaan tetapi ujian iman.

Dari sejarah dunia, kita tahu bahwa Tuhan yang “membiarkan” umat Israel jatuh ketangan musuh-musuh mereka, ternyata tidak bermaksud meninggalkan mereka. Justru sebaliknya, Tuhan menggunakan masa-masa sulit untuk menggenapi rencana-Nya. Karena itu, kita boleh percaya bahwa seperti janji-Nya kepada bani Israel, Tuhan juga tetap membimbing umat-Nya dalam setiap keadaan untuk menuju ke arah yang baik, sesuai dengan rencana kasih-Nya!

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Jeremia 29: 11