Jika kelelahan muncul dalam penantian

“Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Yesaya 40: 28-29

Rasa lelah. Semua orang tahu bagaimana rasanya. Sejak kecil kita pernah merasa lelah; lebih sering sewaktu kanak-kanak, agak berkurang setelah dewasa, tetapi kembali menjadi sering ketika mulai tua. Istirahat yang cukup biasanya bisa memulihkan kesegaran. Namun, berapapun umur kita, kadang-kadang kita bangun dari tidur yang cukup lama, tetapi masih tetap merasa lelah.

Apa penyebab rasa lelah? Dari segi medis, kelelahan bisa terjadi secara fisik maupun psikologis. Seorang yang sudah bekerja berat atau berolahraga secara intensif akan mengalami kelelahan. Begitu juga orang yang mengalami beban mental yang berat, cepat atau lambat akan mengalami kelelahan psikis.

Adanya pandemi yang tidak kunjung teratasi dan lockdown yang terjadi berulang kali sudah tentu bisa membuat orang mengalami gangguan psikologis. Semua orang menantikan saat di mana kehidupan yang normal bisa dijalankan lagi, tetapi tidak seorangpun yang bisa memastikan kapan itu bisa terjadi.

Karena fisik dan psikis saling memengaruhi, adanya kelelahan fisik bisa memengaruhi keadaan psikis atau mental seseorang, dan begitu juga kelelahan psikis atau mental bisa membuat orang mudah lelah secara fisik. Kedua kelelahan ini biasanya bisa diatasi dengan mengistirahatkan tubuh dan pikiran. Selain itu, jika mungkin, orang harus berusaha menghindari penyebab kelelahan itu.

Bagaimana pula dengan kelelahan spiritual? Kelelahan spiritual terjadi jika seseorang merasa Tuhan itu tidak ada atau jauh darinya. Keadaan ini sering membuat manusia mengalami kelelahan yang luar biasa dan bahkan kehancuran karena manusia kehilangan arti hidupnya.

Manusia yang diciptakan sebagai gambar Allah selalu merasakan adanya oknum yang mahabesar, yang tidak dapat dilihatnya: Tuhan. Selama beribu-ribu tahun, dalam sejarah tercatat bahwa manusia melalui berbagai agama dan kepercayaan, berusaha menemukan tuhan-tuhan yang hanya bisa mereka bayangkan.

Bagi kita umat Kristen, Tuhan yang satu-satunya hanya dapat dikenali dengan sempurna melalui Yesus Kristus, karena Ia yang telah menyatakan diriNya sebagai manusia. Mereka yang mencoba mengenali Allah tanpa menerima Yesus sebagai Juru Selamat mereka akan menemui jalan buntu.

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Yohanes 14: 6

Hari ini, jika kita mengalami kelelahan fisik dan psikis yang berat dan melihat bahwa tidak ada siapapun dan apapun yang bisa menolong kita, ayat pembukaan kita menyatakan bahwa Tuhan kita adalah Allah yang tidak pernah menjadi lelah dan tidak menjadi lesu. Ia mahabijaksana dan mau memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Apa yang harus kita lakukan dalam beratnya kehidupan saat ini hanyalah berdoa dan berharap dengan iman kepada Allah kita melalui Tuhan kita Yesus Kristus yang pernah berkata:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Mengapa harus berlama-lama menderita?

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Sejak kemarin malam negara bagian Victoria di Australia untuk kesekian kalinya menjalankan lockdown lagi karena adanya kasus Covid positif yang muncul lagi secara cepat. Adanya varian virus yang baru memang membuat pemerintah setempat merasa kuatir kalau-kalau jumlah orang yang terjangkit akan menanjak secara eksponensial. Selagi tracing masih bisa dilakukan, pemerintah mengambil keputusan untuk memulai lockdown lagi guna menghambat penambahan jumlah orang yang tertular.

Bagi banyak orang, lockdown ini membawa banyak penderitaan, baik secara jasmani maupun rohani. Sesudah mengalami hal yang serupa pada tahun yang lalu, banyak orang yang kuatir kalau-kalau setelah seminggu keadaan belum bisa membaik. Jika mereka yang bekerja di bidang kesehatan merasa kuatir kalau-kalau rumah sakit akan dipenuhi korban virus yang ganas ini, mereka yang bekerja di bidang bisnis takut menghadapi kemungkinan bahwa mereka akan mengalami kerugian besar, dan harus memecat banyak pegawai. Mengapa keadaan tidak kunjung membaik?

Memang kebanyakan orang beriman tahu bahwa kekhawatiran dan kesedihan yang berlarut-larut adalah tidak berguna, karena Tuhanlah yang berkuasa atas segala sesuatu. Dalam Alkitab ada tertulis ayat-ayatnya, dan para pendeta pun sering mengajarkannya. Tetapi, hal ini lebih mudah untuk dikatakan daripada dijalankan. Lebih mudah untuk mereka yang mengamati, daripada orang yang menjalani tantangan hidup.

Sering kali orang yang mengalami musibah diberi nasihat penghiburan yang berdasarkan ayat diatas. Tuhan bisa memakai pengalamanmu untuk membuat hal-hal yang baik di masa depan, mungkin begitu nasihat yang sering kita terima. Bagi orang yang mengalami masalah, nasihat sedemikian biasanya kurang bisa dimengerti; apakah Tuhan memakai hal-hal buruk yang terjadi pada saat ini untuk mencapai hasil yang baik?

Apa yang terjadi dalam hidup ini sering tidak kita mengerti arti dan gunanya. Apa yang kita pandang baik belum tentu membawa kebaikan. Apalagi apa yang buruk, kita tidak bisa membayangkan gunanya. Itu semua karena apa yang kita mengerti adalah terbatas jika dibandingkan dengan kebesaran Tuhan. Manusia tidak dapat menyelami pikiran Tuhan, dan karena itu sering tidak dapat menjelaskan mengapa sesuatu harus terjadi.

Apa yang dimaksudkan ayat di atas sebenarnya adalah Tuhan memakai segala sesuatu yang sudah dan akan terjadi dalam hidup kita, baik itu suka atau duka untuk kebaikan kita. Ini berarti, pada saat kita mengalami kesulitan atau duka, janganlah kita hanya memusatkan pikiran kita pada hal-hal itu saja karena bukan hanya itu yang dipakai Tuhan untuk membawa kebaikan bagi hidup kita. Tuhan memakai segala sesuatu yang terjadi dalam hidup orang percaya untuk membawa mereka makin dekat kepadaNya.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38-39

Hari ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa segala sesuatu tidak terjadi secara kebetulan. Di balik semua peristiwa, Tuhan bekerja untuk rencana agungNya. Memang duka adalah suatu yang terasa pahit dan adalah wajar jika bisa merasakannya sebagai suatu penderitaan. Tetapi, baik suka maupun duka, semua yang terjadi dalam hidup kita dan bahkan dalam dunia akan membawa orang yang beriman untuk makin serupa dengan Yesus yang mengalami segala penderitaan di dunia dan kemudian menerima kemuliaan di surga dari Allah Bapa.

Antara lahir baru dan hidup baru

Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Yohanes 3: 3

Ada satu kabar buruk datang dari Melbourne hari ini, karena ditemukannya sekitar 25 orang yang terkena Covid-19. Seluruh negara bagian Victoria akan mengalami lockdown mulai tengah malam. Sudah tentu, bagi mereka yang hidup di sana, hal ini adalah suatu pukulan berat karena mereka tidak lagi bebas untuk ke luar rumah. Semua acara publik sudah dibatalkan dan orang harus memakai masker lagi jika ke luar rumah. Namun, di tengah kekacauan yang dialami oleh banyak penduduk, ada juga kabar baik. Ada pasangan yang sempat menikah hari ini sebelum lockdown dimulai. Mereka memasuki hidup baru sebagai suami-istri dan bertekad untuk bahu-membahu menghadapi hari depan yang saat ini serba tidak menentu.

Hidup baru tidaklah sama dengan lahir baru. Kedua istilah ini memang dipakai oleh umat Kristen, tetapi sering membuat bingung mereka yang kurang mengerti bedanya. Pernahkah anda mendengarkan pembicaraan orang Kristen mengenai hal lahir baru atau dilahirkan kembali (born again)? Mungkin anda mempunyai seorang teman yang rajin ke gereja, tetapi menurut kata orang masih belum lahir baru, alias masih hidup dalam dosa. Memang ada orang yang memakai istilah “Kristen lahir baru” untuk mereka yang sudah terlihat menjalani hidup yang menurut firman Tuhan. Dalam hal ini, sebenarnya istilah “Kristen hidup baru” adalah lebih tepat.

Apakah lahir baru itu? Apakah dilahirkan kembali itu adalah keadaan di mana seseorang mau bekerja keras untuk mempertahankan keselamatannya? Apakah lahir baru adalah keadaan di mana orang Kristen sudah terlihat baik hidupnya? Apakah mereka yang sudah percaya dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan harus berusaha mati-matian untuk hidup baik agar lahir baru? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul, seperti pertanyaan Nikodemus kepada Yesus pada waktu itu (Yohanes 3: 1 – 8).

Pada waktu Yesus disalib, di sebelah kiri dan kananNya ada dua orang penjahat yang juga disalibkan. Seorang dari penjahat yang digantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” Tetapi penjahat yang lain menegur dia, katanya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?” (Lukas 23: 39 – 40). Penjahat yang menyadari bahwa Yesus adalah Tuhan adalah orang yang beruntung karena ia percaya kepada Yesus. Ia pada saat itu juga telah dilahirkan kembali karena dengan imannya, dosanya sudah diampuni oleh Tuhan. Tetapi, ia tidak sempat untuk menjalani hidup baru.

Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Lukas 23: 43

Jika penjahat yang mengaku percaya kepada Yesus itu dapat menerima keselamatan, itu adalah bukan karena usahanya sendiri. Dalam kenyataannya, waktunya sudah habis untuk bisa membuktikan kepada dunia bahwa ia adalah orang yang sudah bertobat. Tetapi, apa yang dilihat manusia bukanlah apa yang dilihat Tuhan. Apapun yang baik menurut manusia tidak akan bisa menyelamatkannya dari hukuman Tuhan yang mahasuci. Hanya Tuhan yang bisa memutuskan apakah kita “cukup baik” atau “good enough” bagi Dia, dan itu hanya bisa terjadi hanya melalui penebusan darah Kristus. Jika kita mengakui dosa kita dan benar-benar percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan, kita akan memperoleh jaminan keselamatan. Itulah lahir baru.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Memang, banyak orang Kristen yang beranggapan bahwa kita harus bekerja keras untuk lahir baru atau untuk mempertahankan keselamatan kita. Pengertian seperti itu adalah keliru, karena keselamatan sudah diberikan Tuhan secara cuma-cuma kepada orang yang percaya, bukan kepada orang yang dipandang baik dalam mata manusia. Lahir baru adalah karunia Tuhan.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23 – 24

Hari ini, tantangan untuk kita adalah untuk hidup baik sesuai dengan firman Tuhan, jika kita memang sudah dilahirkan kembali. Dengan bimbingan Roh Kudus, kita berusaha untuk hidup makin hari makin baik. Perbuatan yang benar atau baik dalam hidup baru adalah sambutan kita kepada kasihNya, sebagai rasa syukur kita kepada Tuhan. Kita juga tahu bahwa orang yang dengan sengaja tetap hidup bergelimang dalam dosa adalah orang yang tidak benar-benar percaya bahwa pengurbanan Yesus di kayu salib adalah karunia Allah yang terbesar untuk manusia, yang harus selalu disyukuri. Orang yang sedemikian adalah orang yang belum lahir baru, dan karena itu tidak bisa hidup baru. Tidak ada kemungkinan lain.

“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Yakobus 2: 26

Kemanakah anda akan pergi?

“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” Roma 10: 9

Hari ini saja membaca data Covid-19 untuk seluruh dunia melalui situs Worldometer yang dikenal cukup akurat. Dari data yang ada, saya baca bahwa di dunia ini sudah hampir 170 juta orang yang terjangkit virus corona, dan hampir 3, 5 juta orang yang meninggal. Sungguh menyedihkan bahwa virus ini rupanya tidak pandang bulu, baik negara yang maju maupun yang terbelakang semuanya bisa mengalami dampaknya. Sekalipun majoritas dari jumlah yang terkena virus ini kemudian sembuh, adanya begitu banyak orang yang tewas mau tidak mau membuat saya prihatin.

Bagi mereka yang beragama Kristen, hidup manusia tidak berakhir di dunia. Mereka percaya bahwa ada hidup lain yang dimulai. Tubuh jasmani boleh lenyap, tetapi roh manusia tetap ada. Kemana roh itu akan pergi bergantung pada iman; bagi mereka yang beriman, roh mereka akan pergi menuju ke surga untuk bersekutu dalam kebahagiaan yang kekal bersama Tuhan. Tetapi bagaimana pula dengan orang yang lain, yang tidak percaya bahwa Kristus adalah Juruselamat? Bukankah banyak di antara mereka yang tewas adalah orang-orang yang baik hidupnya dan berguna untuk sesama, bangsa dan negara?

Ke manakah aku akan pergi sesudah kematian menjemputku? Pertanyaan ini tentu pernah muncul dalam pikiran setiap orang. Bagi mereka yang tidak percaya adanya hidup sesudah kematian, life after death, tentu saja kematian adalah akhir hidup. Tidak ada lagi yang perlu dipikirkan; manusia tidak berbeda dengan hewan atau tumbuhan.

Dengan janji Tuhan bahwa setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus akan diselamatkan dan beroleh hidup yang kekal, setiap orang yang mengaku Kristen mungkin merasa lega bahwa ada jaminan keselamatan yang diberikan Tuhan sendiri. Jaminan itu bukan diberikan oleh nabi, rasul atau pendeta, tetapi keluar dari mulut Yesus, Anak Allah, dan itu bukan terbatas pada jumlah 144 ribu yang sering dikumandangkan oleh sekte-sekte tertentu berdasarkan pengertian literal mereka atas kitab Wahyu 7: 4.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Jika kata “setiap orang yang percaya” secara tegas menyatakan bahwa keselamatan bukan hanya untuk bangsa atau suku tertentu, kata “percaya” mungkin lebih sulit untuk diartikan karena iblis pun percaya adanya Tuhan (Yakobus 2: 19). Kepercayaan yang membawa keselamatan (saving faith) bukannya sesuatu yang bisa dilakukan manusia sendiri, sekalipun mata dan pengalaman mungkin dapat membuat manusia percaya akan adanya sesuatu yang jauh lebih berkuasa dari penguasa-penguasa dunia.

Manusia memang diselamatkan hanya melalui iman kepada Tuhan, sola fide. Tetapi Tuhan yang mana dan yang bagaimana, manusia dengan usahanya sendiri tidak akan dapat mengerti jika Tuhan sendiri tidak menyatakan diriNya dalam hatinya. Roh Tuhanlah yang bekerja dalam diri manusia untuk menyadarkan bahwa semua manusia sudah berdosa dan tidak dapat diselamatkan jika Tuhan tidak mengampuni mereka. Roh jugalah yang mencelikkan manusia untuk bisa menyadari bahwa keselamatan adalah semata-mata adalah karunia Tuhan, sola gratia. Roh dengan demikian membuka jiwa, hati dan pikiran manusia untuk dapat mengenal Tuhan yang mahakasih. Manusia dengan usaha sendiri tidak akan bisa menjadi orang yang tidak berdosa dalam pandangan Tuhan.

Ayat pembukaan diatas menyatakan bahwa “percaya” bukanlah sesuatu yang hanya diucapkan, bukan hanya sesuatu yang bisa dilihat, dipikirkan dan dilakukan. Percaya bukanlah identik dengan apa yang dilihat manusia sebagai perbuatan baik selama hidup di dunia. Perbuatan baik manusia tidak bisa menolong manusia untuk mencapai keselamatan. Hanya melalui iman kepada Kristus kita bisa diselamatkan.

Iman harus bisa dinyatakan melalui hati, dan melalui seluruh segi kehidupan manusia. Ini meminta manusia untuk mau menyerahkan seluruh hidup mereka kepada Tuhan untuk menerima pengampunan, dan agar Roh Kudus sepenuhnya mengisi hidup mereka dan mengubah mereka menjadi ciptaan yang baru dalam Tuhan yang selalu memuliakan namaNya dalam setiap segi kehidupan mereka. Dengan demikian, hidup baik orang Kristen adalah ungkapan rasa syukur atas penyelamatan, tetapi bukan usaha untuk mendapatkan keselamatan. Bagaimana pula dengan hidup anda?

Tantangan untuk orang yang beriman

“Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Yakobus 2: 17

Minggu yang lalu saya bertemu dengan seorang teman, dan kami berbincang-bincang mengenai perbedaan antara dua aliran Kristen yang paling sering diperdebatkan. Salah satu aliran sangat menekankan hal kedaulatan Tuhan sehingga segala sesuatu dilihat dari sudut pandang bahwa manusia hanya bisa berserah kepada Tuhan. Tuhan yang menetapkan siapa yang bisa menjadi umatNya dan menentukan segala sesuatu untuk umatNya, baik itu berupa hal yang meyenangkan maupun hal yang menyedihkan. Mereka percaya bahwa Tuhan mahakasih, tetapi keputusan Tuhan tidak bisa dipengaruhi cara hidup manusia. Sekalipun manusia berusaha untuk hidup menurut firmanNya, itu tidak menjamin keselamatan mereka. Orang diselamatkan karena iman, tetapi iman itu datang dari Tuhan tanpa terpengaruh perbuatan manusia.

Aliran yang lain menekankan sifat Tuhan yang mahakasih, yang mau mengampuni manusia jika mereka bertobat dan menyatakan pertobatan mereka. Tuhan bisa mengasihani mereka yang hancur hatinya dan mencari Tuhan dengan sepenuh hati. Tuhan memberikan iman kepada mereka yang mau bersunguh-sungguh memintanya. Tuhan mengasihi mereka yang percaya kepadanya dan rajin berbuat baik untuk Dia dan sesama. Dengan demikian, sikap Tuhan terhadap ciptaanNya dipengaruhi oleh perbuatan mereka. Tuhan bisa berubah pikiran dan itu karena kasihNya.

Kitab Yakobus agaknya berbeda dengan kitab-kitab lain dalam Alkitab. Bagi sebagian orang Kristen yang mengikuti aliran yang pertama, ada sedikit kesan bahwa Yakobus agaknya mementingkan perbuatan dan bahkan menyetarakan iman dengan perbuatan baik. Oleh karena itu, kitab Yakobus mungkin kurang disenangi oleh mereka, dan bahkan ada yang berpendapat bahwa kitab ini mungkin bukan bagian dari Alkitab. Pada pihak yang lain, ada aliran yang sering memakai kitab Yakobus untuk menekankan pentingnya perbuatan, dan bahkan mengharuskan perbuatan baik untuk menjamin adanya keselamatan. Bukankah menurut 1 Korintus 13: 13, kasih adalah lebih besar dari iman dan pengharapan?

Bagaimana manusia bisa mendapatkan keselamatan sesudah hidupnya berakhir di dunia adalah hal utama yang dibahas dalam semua aliran kepercayaan. Kalau ada orang yang hanya membahas bagaimana manusia bisa hidup berbahagia di dunia, orang itu bukan membahas kepercayaan tetapi falsafah hidup. Hidup di dunia memang dapat dilihat dan dirasakan, dan untuk itu kita tidak membutuhkan kepercayaan, tetapi perlu melakukan tindakan atau perbuatan.

Seorang mungkin percaya bahwa pada suatu saat manusia akan bisa pergi ke planet Mars, tetapi kepercayaan semacam itu bukanlah iman, melainkan keyakinan berdasarkan pengetahuan manusia. Tambahan pula, keyakinan itu tidak perlu mengubah cara hidup manusia saat ini, karena hal pergi atau tidak pergi ke Mars sepenuhnya adalah pilihan manusia. Karena itu, hal semacam itu tidak perlu membawa konsekuensi langsung pada cara hidup manusia di dunia.

Bagaimana pula dengan kemungkinan bahwa sesudah hidup di dunia ini berakhir, roh kita akan hidup di tempat lain? Ilmu pengetahuan tidak bisa membuktikan hal ini akan terjadi, dan karena itu kita membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekedar keyakinan berdasarkan pengetahuan manusia. Untuk memercayai sesuatu yang tidak bisa dilihat dan diduga manusia, kita memerlukan iman; dan ini pasti tidak dapat bersumber dari manusia. Iman harus datang dari sumber yang bisa dipercayai. Dan melalui iman orang percaya bahwa keselamatan adalah sepenuhnya anugerah Tuhan.

Yesus adalah satu-satunya manusia yang sudah datang dari surga dan membawa berita tentang adanya kehidupan sesudah hidup kita di dunia ini berakhir. Yesus jugalah yang sudah kembali ke surga setelah tugasNya di dunia berakhir. Yesus jugalah yang pernah berkata bahwa hanya mereka yang percaya kepadaNya akan ke surga, sedangkan mereka yang menolakNya akan pergi ke neraka. Manusia yang diberi kemampuan untuk menyadari bahwa Yesus adalah Tuhan, pasti yakin bahwa hal ini adalah sesuatu yang penting, dan bahkan lebih penting daripada hal-hal yang lain di dunia. Hidup di dunia ternyata hanya sebagian kecil dari keseluruhan hidup yang ada.

Keyakinan akan adanya sesuatu yang akan datang, yang jauh lebih lama dan lebih signifikan daripada apa yang dialami di dunia, tidak mungkin untuk tidak mempengaruhi hidup kita yang sekarang. Hanya ada dua kemungkinan di masa depan: hidup bahagia atau hidup sengsara dan keduanya akan abadi. Karena itu, jika kita benar-benar beriman, tidaklah mungkin bagi kita untuk tidak merasakan adanya dorongan hati untuk bersyukur atas kasihNya, dan untuk mempersiapkan diri kita sebaik-baiknya untuk masa depan dengan menyempurnakan iman kita (Matius 5: 48). Memang kita diselamatkan hanya karena iman, tetapi iman yang benar akan nampak dalam hidup kita di dunia sebagai hidup yang taat kepada perintah Tuhan.

Hari ini kita dingatkan bahwa iman harus disertai dengan perbuatan yang seirama. Karena kita percaya bahwa kita akan hidup bersama Tuhan di surga, kita harus bisa memakai hidup kita yang sekarang ini untuk kemuliaan Tuhan dan untuk mengasihi sesama kita, baik mereka yang seiman atau pun mereka yang mempunyai kepercayaan yang berbeda.

Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” Yakobus 2: 22

Memikul salib adalah keharusan

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Matius 10: 38

Dalam suasana saat ini semua orang mengeluh mengapa pandemi ini tidak kunjung berakhir. Mereka yang bekerja dalam bisnis merasa sulit untuk mencari keuntungan, dan karena itu berbagai perusahaan terpaksa mengurangi jumlah pegawai mereka untuk tetap bisa bertahan. Minggu lalu, boss sebuah maskapai penerbangan Australia mengemukakan kekesalannya atas larangan pemerintah untuk terbang ke luar negeri. Menurut dia, lockdown yang berkepanjangan tidak ada gunanya, dan karena itu rakyat harus membiasakan diri untuk hidup berdamai dengan virus. Memang nantinya ada yang tewas karena menjadi korban, tetapi ia berpendapat bahwa Covid 19 tidaklah banyak berbeda dengan virus influensa.

Menerima keadaan yang pahit dengan berani, dan hidup dengan kemauan berjuang, memang sering kali dipandang baik. Tetapi jika orang mengabaikan bahaya virus corona ini, dan kemudian menjalani hidup seakan-akan tidak ada bahaya yang mengancam, tentunya bukan tindakan yang bijaksana. Bagi orang Kristen, itu bukanlah apa yang dimaksudkan Yesus sebagai “memikul salib”. Lalu apa sebenarnya arti memikul salib dan mengikut Yesus?

Yang pertama, agar seseorang bisa membuat keputusan untuk mengikut Yesus, haruslah ada alasan yang kuat. Tanpa alasan yang kuat, tidaklah mungkin seseorang mau menjadi orang Kristen. Baik di zaman dulu maupun di zaman ini, hidup orang Kristen tidaklah berarti hidup yang bergemerlapan dan hidup yang mendapat perlakuan istimewa dari siapapun. Sebaliknya, memikul salib adalah kemauan untuk menghadapi segala penderitaan, tugas, dan rintangan dengan tujuan untuk memuliakan Tuhan.

Yang kedua, adalah umum jika orang mau mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu, tetapi berharap agar ia tetap mempunyai kesempatan untuk berubah pikiran. Dengan janji untuk tidak ingkar, orang akan berpikir dua kali untuk menjadi pengikut Yesus karena keputusan yang diambil haruslah pasti, bukan hanya coba-coba. Ini berarti siap untuk menjadi pengikut Yesus di saat suka maupun duka, seumur hidup.

Dan yang ketiga, untuk menjadi pengikut Kristus orang harus meninggalkan hidup lama yang mementingkan hal-hal duniawi, dan menggantinya dengan hidup baru berpusat kepada Yesus. Hidup baru ini sering kali sulit dijalani karena adanya berbagai masalah yang datang dari orang-orang di sekitar kita dan bahkan dari keluarga kita sendiri. Dalam hal ini, banyak orang Kristen yang mengalami pelecehan dan penganiayaan di berbagai tempat di dunia.

Harii ini, ada tiga pertanyaan untuk anda:

1. Apakah tujuan anda untuk menjadi pengikut Kristus adalah untuk percaya kepadaNya, memuliakanNya dan menjalankan firmanNya?

2. Apakah anda benar-benar akan setia dalam suka maupun duka kepada Kristus sampai akhir hidup anda?

3. Apakah anda siap untuk memusatkan hidup anda kepada kemuliaan Tuhan dan siap menderita untukNya, dan bukannya hanya ingin untuk memperoleh berkat-berkatNya?

Ada begitu banyak orang yang mau menjadi pengikut Kristus dengan tujuan yang keliru, yang hanya bertalian dengan keinginan untuk menerima berkatNya. Ada juga mereka yang mengingkari imannya karena adanya godaan dan masalah dalam hidup. Dan ada juga mereka mengira bahwa sebagai pengikut Kristus mereka akan terlepas dari segala penderitaan. Tetapi Yesus berkata bahwa barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Dia, ia tidak layak bagi Dia. Hanya dengan menjawab ketiga pertanyaan diatas dengan benar, barulah kita bisa sungguh-sungguh menjadi pengikut Kristus!

Kegagalan membuat kita bisa melihat kasih Tuhan

Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.” 1 Raja-raja 19: 4

Pernahkah anda merasa bahwa apa yang sudah anda kerjakan adalah sia-sia, tidak berguna atau berakhir dengan kegagalan? Anda bukan orang satu-satunya! Semua orang, termasuk mereka yang terlihat berhasil dalam hidupnya, pasti pernah mengalami perasaan yang tidak menentu dan bahkan sangat pahit, ketika mengalami apa yang terlihat sebagai kegagalan. Perasaan menyesal, malu, marah, dan sedih mungkin kemudian muncul silih berganti.

Di sepanjang sejarah, kita bisa membaca kisah orang-orang ternama yang mengalami goncangan hidup karena apa yang mereka pandang sebagai “failure“, yaitu kegagalan. Dan pada saat pandemi ini, kita juga mendengar bagaimana banyak dokter dan jururawat yang merasa gagal karena mereka tidak dapat menyelamatkan pasien mereka dari kematian. Kita juga tahu bahwa mereka yang sangat tertekan dengan perasaan gagal itu bisa merasa putus asa dan bahkan kehilangan pikiran sehatnya.

Alkisah pada saat itu seorang nabi Tuhan yang bernama Elia baru saja menang bertanding. Ia mengajak nabi-nabi dewa Baal untuk bertanding dalam hal kurban bakaran. Elia membuat sebuah mezbah dengan kurban bakarannya, demikian pula nabi-nabi dewa Baal membuat tempat persembahan lengkap dengan kurban bakaran. Elia menantang mereka untuk memanggil Baal guna mendatangkan api keatas kurban mereka, supaya orang bisa melihat apakah dewa Baal memang ada. Mereka gagal total. Baal tidak menjawab! Sebaliknya, ketika Elia mempersembahkan kurban bakarannya, api dari Tuhan datang menyambar dan membakar kurban itu. Elia menang. Dan Elia tentunya yakin bahwa Tuhan ada di pihaknya. Kemenangan Elia bahkan diakhiri dengan tewasnya ratusan nabi-nabi Baal.

Kemenangan biasanya terasa manis. Dan mungkin Elia juga merasakannya saat itu. Aku menang! Begitu mungkin ia berpikir. Tetapi kegembiraan yang ada berubah menjadi kekecewaan. Bani Israel tidak bertobat sekalipun Baal sudah terbukti dewa palsu. Raja Ahab dan permaisurinya yang jahat, Izebel, tetap berjaya. Elia mungkin merasakan kekosongan dalam kemenangannya. Ia mulai meragukan apakah semua usahanya ada gunanya. Ia merasa bahwa semua jerih-payahnya untuk membuat bani Israel bertobat adalah sia-sia. Dalam kekecewaannya pikiran sehat Elia mulai hilang. Ia lupa bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Allah yang mempunyai rancangan, yang akan digenapi pada waktu yang Ia tentukan.

Ketika Izebel mengancam untuk menghabisi nyawa Elia sebagai pembalasan, Elia yang berada dalam keadaan lemah rohaninya, merasa sangat takut. Ia melarikan diri. Elia yang sebelumnya berani bertanding melawan nabi-nabi dewa Baal karena yakin akan penyertaan Tuhan, sekarang menjadi Elia yang merasa lemah dalam kesendiriannya. Elia mungkin saja mengalami depresi berat. Bukan karena Tuhan sudah meninggalkannya, tetapi karena ia merasa bahwa Tuhan sudah meninggalkannya. Elia menjadi orang yang kehilangan akal, mungkin seperti banyak orang ketika mengalami kegagalan dalam hidup mereka.

Elia melarikan diri dari Izebel. Takutkah ia akan kematian? Mungkin saja tidak. Ia merasa takut dan lari dari Izebel karena pikirannya yang goncang dalam kekecewaannya. Tetapi Elia justru mengharapkan kematian. Ia merasa gagal total seperti nenek moyangnya dalam usaha mereka untuk memimpin umat Israel kearah yang benar. Ia ingin mati karena ia merasa bertanggung jawab atas semua yang sudah terjadi. Ia lupa bahwa Tuhanlah yang memegang kendali.

Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.” 1 Raja-Raja 19: 4

Ketika Tuhan menjumpai Elia ditempat persembunyiannya, Tuhan mengerti mengapa Elia lari dari kenyataan. Apa yang Elia butuhkan adalah keyakinan bahwa Tuhan tetap mengasihinya dalam setiap keadaan. Tuhan tahu bahwa Elia tidak akan sanggup menghadapi tantangan kehidupan seorang diri. Tuhan kemudian memberikan Elia penghiburan dan kekuatan dengan mengirim malaikatNya (1 Raja-Raja 19: 5 – 8).

Dalam ayat pembukaan di atas, kita bisa melihat bahwa sebagai manusia, Elia tidak berbeda dengan kita. Dalam kesulitan, Elia merasa bahwa ia adalah satu-satunya hamba Tuhan yang tertinggal dan tidak ada orang lain yang bisa membantunya. Rasa belas kasihan kepada diri sendiri muncul, dan hidupnya terasa malang karena ia merasa dibenci oleh semua orang. Elia merasa tidak lagi berguna dan ingin mati. Ia lupa bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang pengasih, yang tetap menghargai umatNya dalam setiap keadaan.

Tuhan yang mengasihi Elia, kemudian mengutusnya untuk mengurapi tiga pemimpin bani Israel. Tuhan juga memberitahu Elia bahwa ada tujuh ribu orang yang masih taat kepadaNya. Tuhan jelas menyatakan bahwa Elia yang merasa kalah itu adalah orang yang justru berguna untuk Dia. Elia yang merasa sendirian dan merasa tidak dimengerti orang lain, ternyata masih mempunyai banyak teman seiman. Elia tidak sendirian, terutama karena Tuhan sudah menyatakan kasihNya.

Hari ini, jika kita merasa sedih, tertekan, atau juga depresi, mungkin kita merasa bahwa hidup kita tidak berguna lagi. Seperti Elia, mungkin kita merasa semua usaha baik kita sia-sia. Seperti Elia, kita mungkin lupa bahwa Tuhan yang menyertai kita pada saat yang lalu, adalah Tuhan yang sekarang beserta kita. Tuhan jugalah yang bisa dan mau memakai sisa hidup untuk kemuliaanNya di masa depan!

Keadaan yang buruk tidak dapat melenyapkan apa yang baik

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5: 22 – 23

Bulan ini adalah bulan terakhir sebelum musim dingin datang di Australia. Musim dingin dimulai pada bulan Juni, dan berlangsung sampai akhir Agustus. Di depan kantor saya terlihat daun-daun yang mulai berguguran dan apa yang masih ada di pohon terlihat sangat indah berwarna-warni. Walaupun musim dingin mempunyai keindahan tersendiri, ada hal-hal yang membuat saya merasa masygul dalam memasuki musim dingin pada tahun ini. Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung lebih dari setahun, dan situasi keamanan dunia yang saat ini mulai digoncangkan oleh berbagai pergolakan dan pertentangan, membuat saya kurang yakin apakah keadaan akan bisa cepat membaik.

Dari apa yang digambarkan dalam Alkitab dalam kitab Kejadian, semua yang ada di taman Eden sebelum manusia jatuh ke dalam dosa terlihat nyaman dan indah dan itu membuat Tuhan menjadi senang (Kejadian 1: 31). Apa yang ada pada waktu itu adalah hubungan yang harmonis antara Tuhan sang Pencipta dan segala makhluk ciptaanNya. Dalam segala apa yang diciptakanNya, kebesaran Tuhan terlihat nyata dan dipermuliakan. Tetapi dengan terjadinya dosa segala keindahan itu menjadi rusak karena tipu daya iblis. Namun, keadaan yang buruk itu tidak dapat mengubah apa yang benar-benar baik, yaitu Tuhan dan kasihNya.

Sebagai Tuhan yang menciptakan segala sesuatu yang baik, Tuhan tentu mau agar segala ciptaanNya bisa membawa kemuliaan bagiNya. Kejatuhan manusia membuat itu tidak mungkin terjadi jika Ia tidak merencanakan sesuatu yang bisa mengalahkan iblis dan mengembalikan keadaan manusia kepada keadaan semula. Melalui kematian dan kebangkitan Kristus, iblis sudah dikalahkan dan manusia bisa memperoleh status sebagai anak Tuhan. Sejak itu, mereka yang percaya kepada Yesus bisa kembali mempunyai hubungan yang baik dengan Allah Bapa. Mereka yang menerima Kristus sebagai Juruselamat bisa menjadi anak-anak Allah.

Hubungan yang baik antara Sang Pencipta dan ciptaanNya memungkinkan segala apa yang baik kembali muncul dalam diri ciptaanNya. Mereka yang sudah menjadi ciptaan baru di dalam Tuhan dengan demikian akan berubah hari demi hari, makin lama makin menjadi seperti Dia. Dengan demikian, mereka yang hidup dalam Tuhan akan mengeluarkan apa yang baik: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.

Tidaklah mudah bagi manusia untuk tetap bisa mengeluarkan apa yang baik, yang disukai Tuhan, jika keadaan di sekelilingnya menjadi buruk. Dalam keadaan yang kacau, tegang dan menguatirkan, manusia cenderung untuk menampilkan apa yang tidak disenangi Tuhan: kebencian, kebohongan, permusuhan, kesombongan dan sebagainya.

“Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara.” Amsal 6: 16 – 19

Hari ini, pertanyaan kepada kita adalah apakah kita sudah benar-benar bertobat dari hidup lama kita dan menerima Kristus sebagai Juruselamat kita. Jika memang begitu, tentunya hidup kita sudah terlihat seperti pohon yang menghasilkan buah yang baik. Masalahnya, sebagai manusia kita tetap merupakan makhluk yang lemah. Jika suasana hidup terasa menekan, apa yang cenderung muncul adalah apa yang buruk.

Memang keadaan bisa membuat sebuah pohon terlihat kurang subur. Tetapi, pohon yang baik tidak mungkin membuahkan apa yang tidak baik sekalipun keadaan di sekitarnya menjadi buruk. Musim gugur boleh membuat pohon anggur kehilangan daunnya, tetapi ketika musim semi datang, daun yang hijau akan tumbuh lagi dan buah anggur yang lebih baik akan muncul. Jika kita tetap bersandar kepada Tuhan, Ia yang adalah sumber kehidupan akan bekerja dalam hidup kita melalui Roh Kudus dan memberi kemampuan kepada kita untuk membuahkan segala hal yang baik sekalipun keadaan di sekeliling kita sudah membuat banyak orang kehilangan arah dan harapan.

“Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.” Matius 7: 18

Menikmati tantangan hidup

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 2 Korintus 12: 9

Semalam saya hanya sempat tidur selama 4 jam saja, karena harus menyelesaikan tugas mengoreksi laporan murid-murid saya. Akibatnya, hari ini saya merasa lelah sekali. Karena itu, siang tadi saya menyempatkan diri untuk tidur siang, sekalipun itu bukan kebiasaan saya. Siapakah yang tidak pernah merasa lelah? Bagaimanapun kuatnya seseorang, tentu dalam keadaan tertentu ia akan merasa letih.Untunglah, jika kelelahan itu hanya dari segi jasmani, dengan beristirahat atau tidur kita mungkin akan dapat memulihkan kekuatan dan kesegaran kita kembali. Tetapi kelelahan rohani mungkin tidaklah mudah diatasi.

Kelelahan memang bisa dirasakan secara jasmani ataupun rohani. Sekalipun dalam hal jasmani orang mungkin masih kuat, rohaninya mungkin saja sudah mengalami tekanan yang berat. Kelelahan rohani yang tidak teratasi, bisa saja kemudian memengaruhi keadaan jasmani. Pada pihak yang lain, kelelahan atau persoalan jasmani yang terus-terusan bisa saja melemahkan kerohanian seseorang. Kita tahu bahwa keadaan rohani seseorang sering kali memengaruhi hidupnya, sedemikian rupa sehingga hal-hal yang menyedihkan mungkin saja terjadi jika ia tidak dapat lagi menahannya.

Adalah suatu kenyataan bahwa jika seseorang mengalami suatu tantangan, reaksi tubuh bergantung pada apa yang terjadi. Jika apa yang terjadi adalah suatu hal yang memang sudah diduga sebelumnya, dan sesuatu yang memang dicari, orang mungkin tidak terlalu mudah untuk merasa lelah atau menyerah. Mereka yang senang bertanding olahraga misalnya, tentunya sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi kelelahan dan bahkan rasa sakit, sehingga mereka tetap saja bisa menikmati olahraga itu.

Hidup orang Kristen tidaklah jauh berbeda dengan hidup seorang pelari yang berlari menuju ke garis finis. Paulus pernah mengatakan bahwa ia berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah dari Tuhan (Filipi 3: 14). Paulus melupakan apa yang sudah terjadi dan mengarahkan diri kepada apa yang ada di masa depan, yaitu kemuliaan surgawi dari Tuhan. Ini bukannya mudah, karena Paulus juga mengalami berbagai penderitaan dan ancaman dalam hidupnya. Ia bahkan menulis bahwa ada utusan iblis yang mencoba untuk menghancurkan dia. Tiga kali Paulus meminta agar Tuhan membebaskannya dari penderitaan itu, tetapi Tuhan tidak menolong dia.

Dalam ayat diatas, Tuhan menjawab Paulus. Ia berkata bahwa Paulus sudah cukup menerima kasih karunia Tuhan dalam hidupnya. Tuhan juga berkata bahwa apa yang dialami Paulus sebenarnya juga berkat Tuhan yang memungkinkan Paulus untuk bisa menyadari bahwa ia harus bersandar kepada Tuhan saja. Karena itu, dalam penderitaannya, Paulus bisa bersyukur. Ia tahu bahwa kalau ia bisa tetap bertahan, itu karena Tuhan yang menguatkan dia. Seperti seorang pelari, Paulus bisa menerima segala penderitaannya karena ia tahu bahwa Tuhan ingin agar ia menang.

Mungkin saat ini kita mengalami berbagai hal yang membuat jasmani kita lelah. Atau mungkin juga ada persoalan berat yang membuat kita tertekan secara rohani. Itu mungkin berkaitan dengan suasana pandemi saat ini. Kepada siapa kita bisa berseru meminta pertolongan? Jika tidak ada lagi orang yang bisa menolong kita, tentunya hanya Tuhan yang bisa kita harapkan. Seperti Paulus, kita bisa dan harus berdoa memohon pertolongan dari Tuhan. Tidak cukup sekali atau dua kali, kita boleh saja terus berdoa. Tetapi kita harus sadar bahwa dalam penantian kita, Tuhan sebenarnya sudah mendengarkan doa kita dan bahkan tahu apa yang kita paling perlukan. Apa yang paling penting bagi umat Tuhan yang berada dalam kesulitan ialah kesadaran bahwa Tuhan yang mahakasih tidak pernah meninggalkan kita dalam keadaan apapun. Itulah sebabnya Paulus kuat menghadapi segala persoalan hidupnya. Memang dalam kelemahan kita bisa merasakan adanya kuasa Tuhan. Dialah yang membimbing kita sampai kita menyelesaikan semua tugas kita di dunia.

Precious Lord, take my hand
Lead me on, let me stand
I am tired, I’m weak, I am worn
Through the storm, through the night
Lead me on to the light
Take my hand, precious Lord
Lead me home

Mengapa kuatir?

“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Ayub 1: 21

Memebaca berita minggu ini, hati saya makin gundah. Bagaimana tidak? Pandemi bukannya berkurang, sekarang malahan tambah merebak. Berita adanya sengketa antar negara juga mulai bermunculan. Belum lagi berita tentang adanya orang-orang yang tidak menghiraukan seruan pemerintah untuk membatasi aktivitas dan menjaga diri agar tidak tertular Covid-19. Seolah-olah manusia saling berlomba untuk mendapatkah “hak” mereka untuk memuaskan diri sendiri. Semua itu membuat saya memikirkan masa depan saya. Apa yang akan terjadi pada saya dan keluarga saya? Saya sadar bahwa perasaan ini juga dirasakan oleh banyak orang di dunia.

Ayat Alkitab diatas adalah ayat yang cukup dikenal umat Kristen, tetapi tidak terlalu sering dibahas karena ada latar belakang yang sedih. Diceritakan bahwa Ayub yang setia kepada Tuhan baru saja mengalami berbagai musibah, kehilangan ternak peliharaannya dan juga anak-anaknya. Bukannya ia menyesali nasibnya, Ayub justru mengakui kebesaran Tuhan, yang berhak untuk memberi dan mengambil apa saja yang dikehendakiNya. Ayub mengakui kedaulatan Tuhan. Ayub percaya bahwa apa yang dikehendaki Tuhan adalah baik.

Berbeda dengan sikap Ayub, pada zaman ini manusia makin terpukau pada materialisme. Karena itu manusia hanya melihat kebesaran Tuhan dari satu sisi saja, yaitu dari segi pemberianNya, berkat materi dan kenyamanan yang diberikanNya. Manusia, seperti anak kecil, memang lebih mudah untuk mengerti bahwa Tuhan itu kasih melalui berbagai hal yang menyenangkan yang diberikan Tuhan dalam hidupnya.

Bahwa kegagalan dan kesusahan bisa menjadi bagian paket berkat Tuhan, adalah sulit dimengerti oleh banyak orang. Mereka yang berpendapat bahwa Tuhan itu maha kasih dan karena itu tidak mungkin membiarkan anak-anakNya menderita, adalah kurang menyadari bahwa Tuhan menghendaki bahwa manusia dekat kepadaNya, bergantung kepadaNya dalam segala situasi. Tuhan adalah sumber kehidupan manusia dan melalui rancanganNya, Tuhan bermaksud untuk membuat manusia sadar bahwa Ia adalah Tuhan maha kuasa yang menghajar umat yang dikasihiNya agar mereka makin kuat dan beriman didalam Dia.

Pagi ini, jika hujan deras dan topan menghantam kehidupan kita, janganlah kita berkecil hati. Seperti Ayub yang setia, kita harus memahami bahwa paket berkat dari Tuhan tidak selalu membawa sesuatu yang kita harap-harapkan, tetapi bisa juga berupa hal-hal yang tidak pernah kita harapkan. Satu hal yang harus kita yakini adalah bahwa Tuhan selalu mempunyai rancangan yang baik untuk anak-anakNya yaitu kedamaian hidup kita dan kesatuan dalam kasih antara kita dengan Dia dalam keadaan apapun di hari-hari mendatang.

“Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Ibrani 12: 5-6