Tidak mau menipu, tidak mudah tertipu

“Baiklah setiap orang berjaga-jaga terhadap temannya, dan janganlah percaya kepada saudara manapun, sebab setiap saudara adalah penipu ulung, dan setiap teman berjalan kian ke mari sebagai pemfitnah.” Yeremia 9: 4

Di zaman ini soal menipu dan ditipu orang lain adalah soal biasa. Tiap hari di media ada berita penipuan ini dan itu, yang pada umumnya menunjukkan bahwa sekalipun masyarakat sudah maju dalam banyak hal dan bisa berkomunikasi lewat berbagai cara, seringkali orang tidak sadar akan adanya trik-trik baru yang bisa menyebabkan kerugian baik materi, perasaan maupun nama baik. Malahan, dalam berbagai media kita bisa menjumpai berbagai berita yang tidak jelas asal-usulnya atau kebenarannya, namun masyarakat menerima itu sebagai sesuatu yang menarik dan bisa dinikmati, setidaknya sebagai lelucon.

Pepatah berbahasa Inggris mengatakan “honesty is the best policy“, yang berarti “kejujuran adalah sikap yang terbaik”. Memang hal yang tidak jujur atau tidak benar, yang diperbuat, dikatakan atau ditampilkan seseorang bisa menimbulkan kesulitan untuk diri orang itu. Walaupun demikian, banyak orang yang merasa bahwa mereka boleh saja tidak jujur atau mengabaikan kebenaran, selama tidak terlalu merugikan orang lain. Ada juga yang merasa bahwa mereka bebas untuk menyampaikan berita apa saja yang dianggap menarik, dan tidak peduli atas reaksi orang lain. Apalagi, di zaman ini orang bisa menggunakan media seperti Facebook, Twitter dan Whatsapp untuk membuat sensasi. Sikap ini tentu saja bertentangan dengan firman Tuhan.

Sebagai orang Kristen, kita diperintahkan untuk mengasihi sesama kita. Dengan demikian, kita harus selalu bersikap jujur dan waspada atas berita-berita yang tidak jelas asal-usulnya dan berita-berita yang dapat menyebabkan kegundahan, kekacauan dan penderitaan orang lain. Sebagai orang Kristen kita harus waspada akan adanya kemungkinan bahwa apa yang kita sampaikan kepada orang lain bukanlah sesuatu yang bisa dipercaya. Kita harus bisa memilih berita yang benar agar tidak membuat orang lain kecewa atau salah bertindak. Kita harus mau memperingatkan orang lain jika ada berita-berita yang tidak benar, sekalipun itu bisa mengundang kritik orang-orang tertentu,

Berita yang tidak benar bukan saja muncul di antara masyarakat umum, tetapi juga sering muncul di antara orang-orang yang kita anggap pemimpin. Apa yang sudah terjadi selama pandemi Covid-19 ini membuka mata banyak orang bahwa seorang pemimpin besar bisa membuat berita-berita yang mengacaukan kehidupan rakyatnya. Banyak pernyataan resminya yang dibumbui cerita-cerita yang tidak jelas asal-usul atau kebenarannya. Dalam hal ini, sekalipun maksudnya baik, kekeliruan ini tidak dapat dibenarkan. The end does not justify the means. Tujuan tidak menghalalkan cara.

“Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara.” Amsal 6: 16-19

Hari ini, kita membaca dari ayat pembukaan Yeremia 9: 4 bahwa kita harus berhati-hati atas apa yang kita dengar dan terima dari orang-orang di sekeliling kita, sebab ada banyak orang yang mempunyai maksud yang kurang baik. Banyak orang yang hanya mencari perhatian orang lain, mencari nama dalam menyebarkan berita-berita yang tidak benar. Memang kita tidak bertanggung jawab atas apa yang mereka perbuat, tetapi kita bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan dalam menghadapi hal-hal itu.

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Menghadapi kelelahan hidup

“Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat.” 2 Korintus 11: 27-28

Siapakah yang tidak pernah merasa lelah? Semua orang tentu pernah, dan bahkan tiap hari harus tidur dan beristirahat untuk menghilangkan rasa lelah. Walaupun demikian, jenis dan tingkat kelelahan orang tentunya berbeda-beda. Ada yang lelah pikirannya, ada yang lelah tubuhnya. Ada yang lelah matanya, ada pula yang lelah mulutnya, atau kakinya; dan di zaman internet ini mungkin juga banyak orang yang lelah jarinya!

Saya sendiri merasakan kelelahan yang cukup parah sejak adanya pandemi. Bermula dengan perasaan kuatir ketika lockdown untuk pertama kalinya dijalankan di kota saya, lambat laun saya mengalami kelelahan jasmani maupun rohani karena adanya berita-berita buruk dari seluruh dunia. Mata saya mulai teras berat jika ada kabar-kabar yang kurang baik dan hati pun menjadi mudah untuk berdebar-debar. Memang menurut riset baru-baru ini, banyak orang yang mengalami gangguan psikologis karena suasana yang tidak biasa. Karena itu saya sekarang mengurangi kegiatan “surfing” di media untuk meredakan ketegangan.

Penyebab rasa lelah tentunya beraneka ragam. Di usia muda, mungkin rasa capai disebabkan karena terlalu sering bergadang atau keluyuran. Sesudah berkeluarga orang mungkin merasa lelah karena kesibukan rumah tangga. Mereka yang bekerja sering juga merasa lelah karena tugas kewajiban, entah itu dalam berpikir, membuat sesuatu, atau menemui klien dan mungkin juga karena “blusukan” ke lapangan. Yang sudah mulai uzur pun sering lelah karena faktor usia dan juga karena tetap adanya tugas kehidupan.

Rasul Paulus dalam ayat-ayat diatas menulis kepada jemaat di Korintus bahwa ia juga sering merasa lelah, kurang tidur dan bahkan kelaparan dalam tugasnya memelihara semua jemaat-jemaat. Itulah kelelahan yang disebabkan oleh dedikasinya kepada pekerjaan untuk memuliakan Tuhan. Karena ia mengasihi jemaatnya, Paulus mau bekerja keras membanting tulang untuk menolong mereka yang dalam kesulitan.

Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah? Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita?” 2 Korintus 11: 29

Berbeda dengan zaman Paulus, di zaman ini orang Kristen lebih individualis dan karena itu sudah lumrah kalau mereka lebih sering merasa lelah karena “urusan dalam negeri”. Mungkin mereka yang hidup di desa masih punya rasa dedikasi tinggi kepada gereja dan masyarakat, tetapi mereka yang tinggal di kota besar biasanya terlalu sibuk dengan kehidupannya, sehingga jarang yang merasa terpanggil untuk bekerja di luar kesibukannya sendiri. Dengan demikian, mereka yang sibuk dan menyibukkan diri umumnya merasa lelah hanya karena apa yang dikerjakan untuk kepentingan pribadi dan kenikmatan diri sendiri.

Hari ini, jika kita sering merasa lelah dalam hidup kita, kita harus bisa melihat apa yang kita prioritaskan dalam hidup ini. Banyak orang yang tidak bisa tidur, merasa lelah terus-terusan, sakit-sakitan, tertekan, bingung dan bahkan berubah pikiran, karena adanya kesibukan yang lebih dari seperlunya. Karena itu, sebagai orang Kristen, kita harus selalu memohon Roh Kudus untuk memberi kita kebijaksanaan agar bisa melihat apa yang perlu dan baik untuk dikerjakan dan membuang obsesi yang tidak berguna.

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. 1 Korintus 10: 23

Setiap manusia memang mempunyai batas kekuatan dan karena itu adalah normal jika kita merasa lelah baik secara badani maupun rohani. Namun, seperti Rasul Paulus, kelelahan badani karena pekerjaan yang berguna untuk Tuhan dan sesama akan bisa cepat terobati, karena secara rohani kita akan memperoleh tambahan kekuatan dari Tuhan sendiri. Biarlah kita bisa bertambah bijak hari demi hari sehingga kita bisa mempunyai hidup baik yang sehat dan seimbang serta bisa mengatur prioritas hidup kita!

Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku. 2 Korintus 11:30

Apa pun yang terjadi, kehendak Tuhan adalah yang terbaik

“Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” 1 Korintus 2: 9

Dengan adanya pandemi, banyak orang harus membatalkan rencana mereka. Mereka yang ingin melancong ke luar negeri harus menunggu setidaknya sampai setahun lagi, demikian juga mereka yang ingin melanjutkan studi ke negara lain terpaksa menunda rencana mereka atau memilih studi on-line. Keadaan yang sedemikian juga sudah membuat kacau rencana pernikahan sebagian orang. Mungkin saja banyak orang yang akhirnya tidak dapat mencapai cita-cita mereka.

Adanya cita-cita membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Jika makhluk lain hidup menurut naluri mereka, tiap orang mempunyai hidup yang berbeda untuk mencapai tujuan mereka masing-masing. Adanya cita-cita bisa memberi semangat hidup untuk menantikan apa yang diinginkan, tetapi juga bisa memberi kekecewaan atas apa yang tidak kunjung datang.

Cita-cita bukan hanya keinginan untuk diri sendiri, tetapi juga untuk sanak keluarga. Mungkin kita sudah merasa cukup puas dengan hidup kita sendiri, tetapi masih terus memikirkan apa yang akan terjadi pada orang-orang yang kita cintai. Seringkali mudah bagi seseorang untuk merasakan adanya kekosongan dalam hati karena pertanyaan: Inikah semua yang bisa dicapai? Ataukah masih ada yang lebih baik?

Sangatlah mudah bagi kita untuk mengalami frustrasi dan kekecewaan bahwa apa yang ada belumlah sesuai dengan apa yang diinginkan. Sebagai orang Kristen, kita terjebak diantara keinginan untuk berusaha dan kesadaran untuk berserah. Dalam hal ini kunci pertanyaannya adalah apa yang Tuhan mau dalam hidup manusia. Apakah kehendak Tuhan untuk kita?

Dari awalnya, Tuhan menghendaki agar manusia bisa tinggal dekat denganNya dan memuliakan Dia. Dengan begitu, hidup manusia akan bahagia karena kemuliaan dan kasih Tuhan juga terpancar untuk mereka. Kejatuhan manusia membuat situasi berubah, kehidupan manusia menjadi berat. Tetapi rencana Tuhan tidak berubah, yaitu untuk memberikan apa yang terbaik kepada manusia yang dikasihiNya, di bumi dan di surga.

Sebagai orang percaya, kita percaya bahwa hidup di dunia ini adalah sementara saja. Hidup yang lama kita sudah diperbarui oleh darah Kristus. Karena itu, pusat perhatian kita adalah untuk hidup baru yang semakin lama semakin baik dalam hal menyerupai Kristus.

“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Galatia 2: 20

Pagi ini, jika kita bangun dan sempat memikirkan apa arti hidup kita saat ini, biarlah kita sadar bahwa selama kita hidup di dunia, kita tetap harus melanjutkan perjuangan hidup kita; bukan untuk mencari kemuliaan dan kepuasan diri sendiri, tetapi untuk menjadi anak-anak Tuhan yang makin lama makin menyerupai Dia. Kita harus bersyukur atas apa yang ada, dan percaya bahwa hidup di surga yang dijanjikan Tuhan pasti akan datang. Pilihan Tuhan adalah yang terbaik!

“Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.” 1 Tesalonika 5: 24

Dalam kegelapan kita perlukan terang

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Sejak datangnya pandemi Covid-19 kita mungkin bisa merasakan adanya berbagai pendapat tentang virus corona. Ada orang yang berpendapat bahwa virus ini sebenarnya tidak ada, dan ada juga yang mengira bahwa virus itu dengan tidak disengaja lolos dari laboratorium, dan bahkan ada yang membuat spekulasi bahwa virus itu dibuat oleh sebuah negara tertentu untuk menghancurkan negara lain. Semua orang agaknya meraba-raba dalam kegelapan karena tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bukan hanya dalam soal asal usul virus, pada saat ini orang tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk bisa menyembuhkan mereka yang terjangkit. Dengan demikian, tidaklah mengherankan bahwa ada berbagai saran atau nasihat aneh di media yang dipercaya banyak orang dalam kebingungan mereka.

Sebenarnya ada beberapa sebab mengapa ada banyak orang percaya pada berbagai hoax tentang Covid-19. Pada umumnya, mereka yang tidak mempunyai pengetahuan dasar tentang virus dan pandemi, mudah untuk tertipu oleh berita yang simpang siur. Dalam hal ini, jika pemerintah setempat tidak memberi penjelasan dan bimbingan yang cukup untuk rakyatnya, kesimpang-siuran berita bisa membuat rakyat mempercayai apa yang keliru. Dalam kegelapan memang orang tidak mudah menerka apa yang ada di depannya.

Jika adanya orang yang buta pengetahuan tentang Covid-19 bisa terlihat melalui apa yang mereka perbuat, banyaknya orang Kristen yang buta Firman bisa dilihat dari cara hidup mereka. Di negara barat, diperkirakan seperlima umat Kristen tidak pernah membaca Alkitab, dan mereka yang buta Firman ini adalah seperti orang yang meraba-raba dalam kegelapan. Hidup mereka pada umumnya hanya menganut apa yang dipandang benar oleh orang di sekitarnya.

Mengapa ada orang Kristen yang buta Firman? Jika pendidikan merupakan salah satu penyebab utama buta pengertian, kenyamanan hidup dan keinginan untuk hidup nyaman bisa menjadi penyebab buta Firman. Mereka yang sibuk mencari uang dan kenikmatan hidup seringkali tidak punya waktu untuk mempelajari Firman. Jika kekurangan sarana teknologi menyebabkan orang menjadi buta informasi, berlebihnya sarana internet dan sosial media cenderung membuat orang terpikat kepada hal-hal duniawi.

Kebutaan akan Firman membuat orang bergantung pada orang lain untuk menuntun mereka. Kebutaan ini membuat umat Kristen mudah disesatkan orang lain dan berbagai pengajaran yang keliru. Lebih dari itu, jika hidup kita sudah jauh dari Tuhan, sekalipun kita membaca Firman, tidak mudah bagi kita untuk mengerti tanpa bantuan Roh Kudus.

Pagi hari ini jika kita sempat merenungkan hal ini, patutlah kita bersyukur karena kita masih dapat memakai waktu dan sarana yang kita punya untuk mempelajari Firman. Memang kita memerlukan Firman Tuhan dalam hidup ini agar kita dapat berjalan di jalan yang benar karena FirmanNya itu seperti pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita. Biarlah kita mau meminta agar Roh Kudus tetap membimbing kita sehingga mata rohani tetap terbuka selama kita hidup di dunia.

“Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu.” Mazmur 119: 18

Memuji Tuhan itu tidak mudah

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” Mazmur 103: 2

Hari Minggu ini bagi sebagian orang adalah hari yang istimewa karena mereka yang mempunyai pasangan atau teman baik mendapat kesempatan untuk saling menyatakan rasa terima kasih dan rasa sayang. Terlepas dari pro dan kontra dalam hal merayakan hari Valentine, adalah baik jika orang Kristen bisa menyatakan penghargaan kepada mereka yang dikasihi. Dalam kesempatan seperti ini, mungkin orang juga diingatkan untuk mengucapkan terima kasih atas segala apa yang baik yang sudah mereka terima.

Jika mengucapkan “terima kasih” adalah salah satu kebiasaan antar manusia, bagaimana pula dengan kebiasaan yang ada antara umat Kristen dan Tuhan? Apakah mereka selalu bisa bersyukur kepada Tuhan dan memuji Dia karena berkat penyertaanNya setiap hari? Belum tentu! Jika keadaan memang bisa dinikmati dan semua berjalan baik, itu memang tidak sukar. Tetapi, ketika suasana menjadi kurang baik dan hidup terasa hampa atau badan terasa kurang sehat, mungkin hanya mulut yang bisa memuji Dia, sedangkan hati dan pikiran mungkin terasa terbeban berat.

Ayat diatas adalah Mazmur Daud yang sangat terkenal. Malahan, seluruh pasal 103 berisi pujian kepada Tuhan, dan diberi judul ” Pujilah Tuhan hai jiwaku” atau “Blessed the Lord, O my soul“. Dalam 22 ayat yang ada, kita bisa membaca mengapa Daud memuji Tuhan. Bagi Raja Daud, Tuhan adalah Tuhan yang mahakasih dan mahasetia kepada umatNya. Karena Tuhan sudah lebih dulu mengasihi Daud, Mazmur ini ditulis sebagai pernyataan terima kasih Daud kepada Tuhan.

Mazmur 103 begitu mengesankan sehingga dituangkan kedalam beberapa lagu gereja. Bagi setiap orang yang menyanyikan lagi pujian semacam itu, rasa syukur kepada Tuhan seharusnya benar-benar ada, sekalipun karena berbagai sebab yang berlainan. Mungkin ada orang yang bernyanyi karena adanya berbagai berkat seperti kesehatan, keluarga, pekerjaan dan semacamnya, tetapi tentu ada juga yang hanya bisa bernyanyi tanpa bisa menghayati maknanya.

Memang jika hidup ini berjalan lancar dan mulus, mengucapkan terima kasih dengan mulut kita kepada Tuhan tidaklah sukar, karena itulah yang sepantasnya. Tetapi, jika apa yang kita alami di saat pandemi ini adalah penderitaan, mungkin sulit bagi kita untuk bisa benar-benar bersyukur kepada Tuhan. Bersyukur untuk apa? Bagaimana kita bisa bersyukur?

Mazmur 103 sebenarnya bukan hanya berisi pujian karena Tuhan yang memberkati anak-anakNya, tetapi juga rasa syukur kepada Tuhan karena Ia tahu bahwa manusia adalah debu, yang hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang yang berkembang indah pada satu saat, tetapi hancur jika diterpa angin kehidupan (ayat 14. – 16). Daud bersyukur dengan sepenuh hati bahwa Tuhan sepenuhnya bisa mengerti penderitaan manusia. Karena itu, Daud bisa bersyukur kepada Tuhan dalam suka maupun duka.

Hari ini kita mungkin ingin bersyukur kepada Tuhan, tetapi barangkali apa yang ada di mulut kita berbeda dengan apa yang ada di dalam hati dan jiwa kita. Bahwa dengan mulut kita bisa mengucapkan terima kasih kepada Tuhan karena sudah kita sudah terbiasa, tetapi hati dan jiwa kita yang mengalami kepedihan yang besar, mungkin belum bisa dengan sepenuhnya memuji Tuhan.

Daud menulis bahwa Tuhan adalah seperti seorang bapa yang sayang kepada anak-anaknya dalam keadaan apa pun. Kasih setia Tuhan akan selama-lamanya dicurahkan atas kita yang takut akan Dia, dan yang berpegang pada janjiNya dan yang ingat untuk melakukan firmanNya. Tuhan yang sudah menyelamatkan kita adalah Tuhan yang senantiasa menyertai kita!

Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.” Mazmur 103: 13

Carilah kuasa kasih Kristus

” ..tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” Yesaya 40: 31

Pernahkah anda mendengarkan lagu “The Power of Your Love?” Lagu ini dirilis pada tahun 1992 dan mendapat penghargaan Album Emas. Lirik aslinya ditulis oleh Geoff Bullock dari Gereja Hillsong di Sydney, Autralia. Syair lagunya, jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berbunnyi:

Kekuatan kasihMu
Tuhan, aku datang kepadaMu
Biarkan hatiku diubah, diperbarui
Mengalir dari kasih karunia
Yang saya temukan dalam diriMu
Tuhan, aku jadi tahu
Kelemahan yang kulihat dalam diriku
Akan dilucuti
Dengan kekuatan kasihMu

Jaga aku dari dekat
Biarkan kasihMu mengelilingiku
Dekatkan aku
Tarik aku ke sisiMu
Dan saat aku menunggu
Aku akan bangkit seperti rajawali
Dan aku akan terbang bersamaMu
RohMu menuntunku
Dalam kekuatan hasihMu

Dan aku akan terbang bersamaMu
RohMu menuntunku
Dalam kekuatan kasihMu
Dan aku akan terbang bersamaMu
RohMu menuntunku
Dalam kekuatan kasihMu

Ada kaitan syair lagu itu dengan ayat dari Yesaya 40: 31. Ayat itu ditulis oleh nabi Yesaya untuk bani Israel. Kata-kata penghiburan ini diberikan kepada Israel setelah berulang kali Yesaya mengingatkan mereka tentang hukuman yang akan datang jika mereka tidak bertobat dari hidup jahat mereka.

Walaupun demikian, Tuhan adalah Allah penghiburan dan anugerah. Dia tidak pernah mundur dari janjiNya dan juga tidak menjadi lelah. Dalam cinta kasihNya Dia akan memberikan kasih karunia kepada yang rendah hati dan memperbarui kekuatan mereka yang menungguNya dengan iman. Janji Tuhan untuk Israel di saat itu adalah juga janjiNya kepada umat Kristen di masa kini.

Keadaan dunia pada saat ini memang bisa membuat semua orang merasa tertekan. Adalah kenyataan bahwa kesulitan hidup sudah membanjiri hidup manusia, ketakutan sudah menggerogoti hati manusia, dan mereka yang muda dan kuat pun bisa menjadi lemah dan lelah. Mereka tersandung dan jatuh karena mereka mengandalkan kekuatan batin dan sumber daya manusia mereka sendiri, yang bukan merupakan pelindung yang memadai dalam badai kehidupan.

Iman dalam Kristus dibutuhkan untuk bisa terbang setiap hari dengan sayap seperti burung rajawali. Bukan hanya kadang-kadang atau jarang. Itu berarti memercayai Tuhan setiap hari untuk mewujudkan semua yang telah Dia janjikan, bahkan ketika akal sehat dan logika kita tampaknya menyarankan sebaliknya.

Mereka yang menantikan Tuhan adalah mereka yang memiliki kepastian dan keyakinan batin bahwa janji-janji yang telah Dia buat kepada umatNya, dan hal-hal yang mereka harapkan, adalah fakta dan kenyataan yang tidak dapat dibantah oleh indra, emosi, alasan atau ketakutan.

Anugerah Tuhan cukup bagi kita untuk hidup setiap hari dan untuk menghadapi semua keadaan kehidupan. Itu cukup untuk setiap kesulitan yang mungkin kita hadapi atau tantangan apa pun. Kasih karuniaNya cukup bagi semua orang yang menaruh seluruh kepercayaan dan keyakinan mereka pada kekuatanNya yang luar biasa. Itu adalah kekuatan Tuhan Yesus yang mendukung mereka yang tidak mengandalkan kemampuan mereka sendiri.

Jika kita benar-benar mengidentifikasi dengan Kristus dan percaya pada kuasaNya dalam perjalanan kehidupan setiap hari, maka kekuatan Tuhan disempurnakan dalam kelemahan kita, dan angin Tuhan akan mengangkat kita di atas sayap rajawali dan membawa kita melewati tantangan dan tekanan hidup, dengan kuasa Roh KudusNya.

RencanaKu bukan rencanamu

Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 15

Hari ini adalah hari istimewa untuk mereka yang merayakan Tahun Baru Imlek. Pada perayaan yang ada di berbagai negara, orang biasanya saling mengucapkan selamat disertai dengan harapan agar hari-hari mendatang akan membawa lebih banyak keberuntungan. Ucapan serupa juga diucapkan pada tanggal 25 Januari tahun yang lalu. Pada waktu itu tidak ada orang yang mengira bahwa segera setelah itu terjadi pandemi yang memporak-porandakan kehidupan manusia. Keberuntungan dan keberhasilan mungkin batal terjadi selama setahun yang telah lalu, tetapi sekarang orang masih mengharapkannya untuk hari-hari mendatang.

Berlainan dengan pandangan atau kebiasaan umum, buat orang Kristen tujuan hidup bukanlah hanya untuk mencapai kesuksesan dan kemakmuran, dan juga bukan hanya untuk hidup pasif dan tidak berbuat apa-apa. Tetapi, hidup umat percaya adalah untuk memuliakan Tuhan, karena itulah tujuan Tuhan untuk menciptakan manusia. Manusia dari segala bangsa, jenis, status sosial dan umur seharusnya mengabdikan diri mereka selama hidup di dunia untuk kemuliaan Tuhan.

“Semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!” Yesaya 43: 7

Tambahan pula, Yesus mengatakan bahwa dua hukum utama yang harus dijalankan manusia seumur hidup adalah untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, dan mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri (Matius 22: 37-40).

Jika tujuan hidup kita adalah untuk memuliakan Tuhan, itu bukan berarti kita tidak boleh berusaha mencapai apa yang bisa dicapai dalam hidup kita, karena Alkitab mengatakan bahwa apapun yang kita perbuat dalam hidup ini, kita harus melakukan semuanya untuk kemuliaan Tuhan. Ini berarti bahwa apa yang kita pikirkan dan rencanakan haruslah mempunyai tujuan agar nama Tuhan dibesarkan. Dengan tidak bersemangat untuk mencapai hasil baik atau dengan kepuasan untuk tidak berbuat apa-apa, manusia tidak dapat memuliakan Tuhan.

“Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10: 31

Dalam kenyataannya, kebanyakan manusia memiliki cita-cita dan membuat rencana untuk dirinya sendiri. Bukan saja mereka yang muda ingin untuk memperoleh segala kenikmatan duniawi yang ada, mereka yang sudah tua pun jarang memikirkan apa yang harus diperbuat untuk kemuliaan Tuhan dalam sisa hidup mereka. Manusia tidak tahu apa yang terjadi esok hari, tetapi seolah merasa bahwa mereka harus dan akan hidup  untuk mencapai apa yang mereka senangi.

Pagi ini, kita harus menyadari bahwa hidup mati kita bukannya ada di tangan kita, dan karena itu dalam merencanakan segala sesuatu seharusnya kita melakukannya dengan rasa rendah hati dan penyerahan kepada Tuhan. Manusia memang bisa merencanakan segala sesuatu, tetapi jika itu bukan untuk kemuliaan Tuhan, pada akhirnya semua itu tidak ada gunanya sesudah hidup kita berakhir di dunia ini.

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Yakobus 4: 13-14

Semoga kita bisa mengarahkan hidup kita ke arah yang benar dan mau menyerahkan semua rencana hidup kita ke tangan Tuhan!

Tidak semua orang menyadari besarnya kasih Tuhan

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.” Roma 5: 8 – 9

Apakah Tuhan mengasihi orang berdosa? Pertanyaan ini kelihatannya tidak sukar dijawab, tetapi sebenarnya bisa dan sudah menyebabkan kebingungan di antara banyak orang. Ayat di atas menunjuk kepada kasih Tuhan kepada kita ketika masih berdosa. Di lain pihak, ada ayat-ayat di Alkitab yang menyebutkan bahwa Tuhan membenci orang-orang yang hidupnya tidak berkenan kepadaNya.

Terlepas dari apa yang dikerjakan Tuhan secara khusus pada diri setiap individu di dunia ini, ayat diatas menyatakan kasih Tuhan yang besar; bahwa Ia pada hakikatnya ingin menyelamatkan orang berdosa. Ia memberikan AnakNya yang tunggal kepada seluruh umat manusia di bumi ini, baik pria atau wanita, kaya atau miskin, pandai atau tidak pandai, yang muda dan juga yang tua. Yesus mau menemui mereka yang hidup dalam dosa dan begitu juga murid-murid Yesus melakukan hal yang sama. Injil keselamatan sudah disebarkan ke seluruh penjuru dunia yang penuh dosa, seperti apa yang sudah diperintahkan Yesus kepada seluruh muridNya dalam Amanat AgungNya.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 19 – 20

Dalam Amanat Agung ini, nyatalah bahwa uluran tangan kasih penyelamatan Tuhan ini ditujukan kepada semua bangsa, seluruh umat manusia. Dalam usahaNya untuk menyelamatkan seisi dunia, Tuhan memerintahkan umat Kristen untuk pergi mengabarkan Injil, agar siapa saja yang percaya bisa mendapatkan hidup kekal.

Sekalipun Tuhan mengasihi seluruh umat manusia dalam hal memberi kesempatan bagi siapa saja untuk mendengarkan panggilanNya, tidak semua orang akhirnya menjadi pengikutNya. Tetapi, bagi orang-orang yang mau mendengar firmanNya, firman Tuhan serupa dengan benih yang jatuh di tanah yang baik. Mereka adalah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan (Lukas 8: 15). Mereka menjadi orang yang benar-benar beriman, karena mereka menyambut uluran tangan Tuhan.

Tidaklah heran bahwa mereka yang belum percaya kepada Kristus mungkin mempertanyakan sifat mahakasih dari Tuhan, karena kalau Ia mahakasih, tentunya kasihNya adalah tanpa syarat (unconditional). Jika Tuhan mengharuskan mereka untuk percaya kepada Yesus dan bertobat agar tidak binasa, itu sepertinya tidak menunjukkan sifat mahakasihNya. Walaupun demikian, orang Kristen percaya bahwa Tuhanlah yang membuat manusia menyadari kasihNya, sehingga mereka bisa percaya kepada Kristus untuk menerima keselamatan.

Tuhan memang mengasihi orang berdosa dan ingin agar mereka diselamatkan. Tetapi, banyak orang Kristen yang membenci orang-orang tertentu. Bagi mereka, orang yang hidupnya dipandang kurang baik adalah orang-orang yang tidak pantas untuk menerima keselamatan. Memang keselamatan tidak bisa diberikan kepada semua orang, tetapi Tuhan bisa menunjukkan jalan keselamatan kepada siapa saja yang dikehendakiNya. Kasihnya sungguh besar.

Pagi ini kita harus sadar bahwa Yesus mencintai semua bangsa di dunia. Semua bangsa di dunia, walaupun berbeda dalam agama, budaya dan bahasa, bagi Yesus mereka adalah sama dan tidak dibeda-bedakan. Tuhan juga mengasihi orang-orang yang tidak kita sukai. Tanpa sepengetahuan kita, mereka bisa diberi kesempatan untuk melihat kasihNya dan menjawab panggilan keselamatanNya. Kita yang sudah pernah merasakan kasihNya dan menerima Kristus sebagai Juruselamat bukanlah orang-orang yang istimewa, tetapi adalah orang-orang yang seharusnya bersyukur atas kemurahanNya. Dengan demikian, tidaklah patut bagi kita untuk membatasi keselamatan itu untuk orang-orang yang kita pandang cukup baik hidupnya.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Apa yang harus aku pilih?

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Adalah hal yang menarik jika kita bandingkan reaksi rakyat di berbagai negara terhadap peraturan pemerintah setempat dalam usaha mengatasi masalah pandemi Covid-19. Di antara berbagai reaksi, ada rakyat yang menolak anjuran pemerintah untuk membatasi kegiatan sehari-hari. Bahkan ada yang melakukan demonstrasi besar-besaran sambil melakukan perbuatan anarkis. Sebaliknya, ada juga rakyat yang menurut akan peraturan pemerintah dan bahkan ikut membantu dalam mengawasi jalannya pembatasan kegiatan sosial. Selain itu ada juga rakyat yang tidak mau mengutarakan pendapat, tetapi secara diam-diam mengabaikan perintah pimpinan. Memang, setiap orang bisa memilih apa yang dimauinya, tetapi tidak semua pilihan adalah baik atau sesuai dengan kehendak Tuhan.

Bagi banyak orang Kristen, hal memilih sesuatu adalah identik dengan mencari kehendak Tuhan. Dan sebab itu banyak orang berpikir bahwa apa yang sudah terjadi adalah kehendak Tuhan. Dalam hal ini, masalahnya adalah bahwa sebagai manusia kita adalah makhluk terbatas. Dapatkah kita mengerti apa yang dikehendakiNya? Apakah yang semua yang ada sudah merupakan kehendakNya?

Apa yang terjadi di dunia sudah tentu merupakan bagian dari rencana besarTuhan yang tidak kita ketahui. Manusia dalam keterbatasannya ingin menemukan kehendak Tuhan, tetapi kerapkali heran jika apa yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Memang manusia tidak mungkin tahu keseluruhan kehendakNya (overall will). Manusia tidak juga tahu mengapa Tuhan membiarkan hal-hal yang nampaknya jelek terjadi di depan mata mereka.

“TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.” Amsal 16: 4

Seorang yang mencari pasangan hidup mungkin berdoa untuk bisa memilih jodoh yang baik, tetapi jika kemudian rumah tangga mereka mulai berantakan, pertanyaan muncul apakah semua itu kehendak Tuhan? Tidak ada orang yang bisa menjawabnya karena tidak ada orang yang tahu apa yang akan terjadi. Dalam keadaan demikian, mereka yang bersangkutan harus berusaha melakukan apa yang baik menurut kehendak Tuhan. Manusia bertanggung jawab untuk pilihannya dan harus melakukan apa yang terbaik yang sesuai dengan firmanNya setiap hari.

Tuhan memang mempunyai kehendak mutlak (sovereign will) untuk seluruh ciptaanNya. Kita tidak mungkin mengetahui semuanya, tetap dalam hidup kita sehari-hari Ia sudah menunjukkan apa yang baik untuk dilakukan. Itu yang dinamakan kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan atau revealed will. Dalam Alkitab tertulis banyak hal yang dikehendaki Tuhan, seperti untuk mengasihi Tuhan dan sesama, untuk membayar pajak kepada pemerintah, untuk memegang kejujuran dan keadilan, untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita dan lain-lain. Tetapi, rencana Tuhan tidaklah bergantung pada apa yang bisa kita lakukan. Tuhan yang mahakuasa bisa melihat apa yang akan kita pilih dari mulanya, dan dengan demikian Ia bisa membuat rencana yang sempurna dari awalnya. Seperti Adam dan Hawa, kita tentu saja bertanggung jawab atas apa yang kita pilih.

Jika kita sering bingung untuk mencari kehendak Tuhan, itu adalah karena kita ingin tahu apa yang sebenarnya dikehendaki Tuhan. Kita ingin tahu seluruh kehendakNya untuk hidup kita, untuk keluarga kita dan untuk bangsa kita. Tetapi itu jelas tidak mungkin. Apa yang belum terjadi kita tidak tahu, dan apa yang sudah terjadi belum tentu merupakan hasil akhir. Hanya Tuhan yang tahu semuanya. Walaupun demikian kita tahu bahwa Tuhan menghendaki umatNya untuk mengasihi Dia dan menurut perintahNya.

Hari ini, ayat pembukaan dari Roma 12: 2 diatas mengatakan bahwa kita harus berubah untuk tidak menjadi serupa dengan dunia ini, sehingga dengan pikiran dan sikap yang benar kita dapat membedakan apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Masa depan manusia ada di tangan Tuhan tetapi kita bertanggungjawab atas keputusan dan tindakan yang kita ambil. Dalam semua ini kita percaya bahwa Tuhan ikut bekerja untuk membawa kebaikan kepada umatNya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Pandemi dan kebosanan

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.” Matius 12: 36

Seiring dengan adanya pandemi Covid-19. banyak orang yang terpaksa mengurangi aktivitas di luar rumah. Mereka yang mempunyai kesadaran akan bahaya penularan virus corona sudah tentu harus dihargai. Sekalipun demikian, banyak orang yang berpendapat bahwa tinggal di rumah selama berbulan-bulan mirip hukuman penjara.Mereka mengeluh karena tidak dapat menikmati kegiatan atau kenyamanan yang sebelumnya mereka punyai. Apa yang bisa dinikmati jika mereka tidak bisa keluyuran, pergi menonton film atau makan-makan di mall. Hari demi hari dilewati dengan kebosanan karena hari yang terasa panjang.

Rasa bosan itu sendiri belum tentu dosa. Rasa bosan baru menjadi dosa jika itu menguasai hidup kita sehingga hidup kita tidak bisa menghasilkan apa yang baik. Rasa bosan adalah gejala hidup yang kurang sehat dimana kebahagiaan dan kepuasan tidak ada, atau makin berkurang. Rasa bosan bisa berakibat kesia-siaan dalam perkataan, perbuatan dan hidup sehari-hari. Rasa bosan yang tidak teratasi akan berkembang makin besar karena berkurangnya kebahagiaan seiring dengan bertambahnya kebosanan.

Apakah kebosanan itu ada sejak mulanya? Apakah kebosanan ditanamkan Tuhan dalam diri manusia ketika Ia menciptakan mereka? Rasa bosan sudah pasti tidak dipunyai Tuhan yang mahakasih dan mahasetia. Jika Tuhan bisa merasa bosan, tentu manusia tidak akan dapat melihat kesabaranNya yang ada sampai saat ini. Manusia yang diciptakanNya berbeda dengan Sang Pencipta, dan karena itu dalam keterbatasannya ia bisa merasa bosan dan kesepian. Rasa bosan sering timbul jika manusia hidup jauh dari Tuhan. Jika hubungan dengan Tuhan menjadi renggang, manusia akan kehilangan motivasi hidup karena ia tidak bisa mengerti apa yang dikehendaki Tuhan dan tidak dapat merasakan kasihNya dalam hidupnya.

Tuhan menghendaki kita untuk memuliakanNya dan mengasihi sesama kita dalam setiap keadaan. Adanya kasih kepada Tuhan dan kepada sesama adalah sesuatu yang membuat hidup manusia mempunyai makna. Memang banyak orang yang mencari makna kehidupan melalui pekerjaan, kemewahan dan kesuksesan; tetapi semua itu adalah sementara saja. Kenikmatan duniawi tidaklah dapat bertahan lama. Usia, penyakit, kegagalan, kerugian dan berbagai persoalan selalu ada dalam hidup manusia. Pandemi Covid-19 mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan tidak berdaya di hadapanTuhan.

Pagi ini tentu hanya anda yang tahu apakah anda merasa bosan; apakah anda merasa adanya kekosongan hidup. Mungkin anda jauh dari keluarga, atau merasa bahwa tidak ada hal apapun yang bisa menggairahkan hidup anda. Anda mungkin merasa bingung, bagaimana hari ini bisa dilalui tanpa kebosanan. Mungkin anda masih bisa merasa beruntung, jika ada orang-orang yang bisa diajak untuk berbincang-bincang tentang apa saja, sekedar omong kosong untuk mengisi waktu. Tetapi ayat diatas dengan tegas berkata bahwa setiap orang yang memakai kata-kata yang kosong dan tidak berarti, haruslah mempertanggung-jawabkannya. Ini bukan berarti bahwa kita tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain secara santai, tetapi berarti bahwa hidup kita ini tidak boleh disia-siakan dengan tidak berbuat apa yang bisa mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan dan kebaikan kepada sesama. Tuhan mendengar apa yang kita ucapkan dan melihat apa yang kita lakukan, dan karena itu kita harus bisa mengisi hidup kita dengan apa yang berguna sekalipun kita berada dalam keterbatasan. Adanya pandemi memang bisa memberi kita kesadaran yang lebih besar akan perlunya penyertaan Tuhan.

“Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.” Efesus 4: 17 – 18