Kita tetap harus berdoa

Ketika orang-orang Aram itu turun mendatangi dia, berdoalah Elisa kepada TUHAN: “Butakanlah kiranya mata orang-orang ini.” Maka dibutakan-Nyalah mata mereka, sesuai dengan doa Elisa. 2 Raja-Raja 6: 18

KehendakMu jadilah..

Tak dapat disangkal bahwa adanya pandemi sudah membuat banyak orang Kristen memikirkan apa maksud Tuhan dengan membiarkan banyak manusia mengalami berbagai penderitaan. Kebingungan terjadi juga karena orang tidak tahu apakah memang Tuhan menghendaki semuanya. Barangkali Tuhan bermaksud menghukum seisi unia karena sudah terlalu banyak orang yang berani melawan kehendakNya? Pada pihak yang lain, ada juga mereka yang percaya bahwa semua ini hanya bagian kehidupan manusia di dunia yang sudah jatuh dalam dosa. Walaupun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa dengan adanya pandemi ini, makin banyak orang Kristen yang berdoa kepada Tuhan untuk memohon pertolongan.

Waktu itu, Aram sedang bermusuhan dengan Israel. Di dalam 2 Raja-Raja 6: 8 – 17 diceritakan bahwa tentara Aram selalu diperdaya oleh tentara Israel. Setiap kali tentara Aram mengubah posisi penyergapannya, tentara Israel tidak lewat di situ. Begitu terus yang terjadi, sehingga Raja Aram sangat murka. Dia lalu memerintahkan pasukan tentara yang sangat besar jumlahnya beserta kuda dan keretanya, untuk mengepung Dotan, dimana Elisa dan pelayannya tinggal. Karena jumlahnya sangat banyak, tidak ada celah yang bisa digunakan Elisa untuk meloloskan diri dari kepungan mereka. Ketika orang-orang Aram itu turun mendatangi dia, berdoalah Elisa kepada Tuhan: “Butakanlah kiranya mata orang-orang ini.” Maka dibutakanNyalah mata mereka, sesuai dengan doa Elisa. Tuhan agaknya menuruti permintaan Elisa.

Seperti ayat di atas, banyak contoh dalam Alkitab yang dipakai sebagai dasar argumen bahwa jika kita bersungguh-sungguh meminta Tuhan untuk bertindak, Ia akan melakukannya.

“Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” Matius 7: 8

Ayat ini adalah ayat yang sering dipakai untuk memberi semangat kepada umat Kristen untuk rajin berdoa guna memohon kepada Tuhan apa saja yang diinginkan mereka. Baik itu untuk kesuksesan, kekayaan, kesembuhan dan apapun, umat diyakinkan bahwa kalau mereka bersiteguh dalam iman, niscaya Tuhan menuruti permintaan mereka (Lukas 17: 6). Karena itu, sebagai orang Kristen, mereka dinasihati bahwa kesempatan untuk meminta sesuatu kepada Tuhan yang mahapemurah haruslah digunakan tanpa keraguan.

Kembali ke soal pandemi, agaknya setiap orang Kristen mengakui bahwa Tuan mahakuasa, mahatahu dan mahabijaksana. Tetapi mengapa Ia membiarkan pandemi ini terjadi? Mengapa Ia seolah-olah tidur atau tidak peduli? Banyak orang Kristen yang percaya bahwa seperti apa yang dialami Elisa, Tuhan akan tergerak untuk mengubah keadaan yang ada, jika mereka berdoa, berpuasa dan melakukan ritual-ritual lainnya. Dengan demikian, mereka seolah menyatakan bahwa mereka kurang puas dengan apa yang dilakukan Tuhan saat ini. Secara tidak langsung mereka mungkin merasa lebih tahu tentang apa yang diperlukan, saat yang tepat dan tempat yang sesuai bagi Tuhan untuk bertindak. Sekalipun mereka mungkin sadar bahwa Tuhan mungkin mempunyai rencana yang berlainan dengan keinginan mereka, mereka mungkin berharap kalau-kalau Tuhan berubah pikiran.

Tetapi, anggapan sedemikian adalah merendahkan Tuhan dan membuat Dia seolah sederajat dengan manusia. Tuhan kita adalah Tuhan yang baik, yang tidak pernah berubah-ubah keputusanNya (Yakobus 1: 17). Memang, jika kita berada dalam keadaan yang berat dan menanti-nantikan jawaban Tuhan, adalah mudah bagi kita untuk merasa bahwa kita perlu untuk berbuat sesuatu agar Tuhan sadar akan keadaan kita. Mungkin kita akan memanjatkan doa yang panjang kepada Tuhan. Atau mungkin kita pergi menemui seseorang untuk minta bantuan agar Tuhan mau mendengarkan permintaan kita. Mungkin saja orang itu dikenal sebagai hamba Tuhan yang doanya manjur, atau mempunyai karunia untuk melakukan mukjizat. Sebagian orang juga percaya bahwa doa mereka akan lebih didengar oleh Tuhan jika mereka berdoa bersama banyak orang yang seiman (Matius 18: 20).

Tuhan pasti mendengarkan doa umatNya, tetapi apakah Ia selalu mau melakukan apa yang diminta mereka? Jika memang Tuhan menantikan permohonan umatnya sebelum bertindak, ada pertanyaan untuk kita apakah kita percaya bahwa Tuhan kita yang mahakuasa, mahakasih, mahatahu dan mahabijaksana bisa dipengaruhi oleh manusia yang penuh cacat-cela. Sebaliknya, jika kita yakin bahwa Tuhan mempunyai rancangan yang baik, dan bahwa Ia adalah Pemimpin yang mahakuasa, doa kita tidak lain adalah penyerahan kita kepada bimbinganNya yang disertai dengan rasa syukur.

Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Matius 6: 8

Tuhan mau memenuhi permintaan kita, jika itu mengenai kebutuhan kita dan bukan keinginan kita, dan itu sesuai dengan kehendakNya. Lebih-lebih lagi jika doa kita tidak selalu berpusat pada materi dan kenyamanan hidup semata. Hari ini, jika kita berdoa, kita harus sadar bahwa doa yang selalu berpusat pada kepentingan diri sendiri tidak akan membuat Tuhan senang, karena itu bertentangan dengan tujuan Tuhan dalam menciptakan kita. Tuhan menciptakan kita untuk bisa membina hubungan yang baik dengan Dia. Doa adalah nafas kehidupan Kristen yang menguatkan kita sewaktu mengalami masalah dan memberi kehidupan selama kita menantikan pertolonganNya. Tetaplah berdoa sekalipun kita tidak tahu apa yang akan terjadi!

Maukah anda menerima sukacita yang terbesar?

“Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.” 3 Yohanes 1: 4

Ayat di atas bukan ditulis sebagai pernyataan orangtua tentang anak-anaknya yang sudah berhasil menjadi “orang baik-baik”, sekalipun bisa disalahtafsirkan seperti itu. Tidak semua “orang baik-baik” adalah orang yang beriman. Sebaliknya, semua orang berdosa yang sudah dibeli dengan darah Kristus dan yang hidup dalam persekutuan dengan Tuhan Yesus, dapat dikatakan berjalan dalam kebenaran firmanNya. Mereka yang benar-benar dilahirkan kembali dan hidup dalam persekutuan dengan Tuhan adalah mereka yang menjalani hidup mereka melalui roh yang baru. Mereka tidak lagi hidup sebagai orang duniawi, yang terus menjalani kehidupan mereka di bawah pengaruh dosa lama.

Rasul Yohanes menulis surat ketiga yang singkat ini kepada temannya, Gayus, yang sangat ia kasihi. Tidak seperti beberapa pengikut Kristus lainnya, pria yang dibicarakan oleh rasul Yohanes ini adalah saksi setia kebenaran Injil – ia selalu berjalan dalam Roh dan kebenaran. Kelakuan dan sikap pria ini terhadap sesama orang percaya serta orang asing yang melintasi jalannya, yang sudah mencerminkan kasih Tuhan Yesus, menyebabkan Yohanes menulis bahwa ia sudah mendapat sukacita yang terbesar dalam hidupnya!

Tidak ada yang lebih menggetarkan hati orang Kristen, yang telah berpengaruh dalam mengarahkan mereka yang lebih muda kepada kebenaran Injil, selain melihat mereka yang sudah hidup menurut kebenaran – berjalan dalam persekutuan dengan Tuhan Yesus – hidup dalam ketundukan kepada tuntunan Roh Kudus. Hidup di bawah pengaruh manusia baru di dalam Kristus dan mencerminkan kasih karunia dan kebenaran.

Adalah suatu hal yang menarik jika Yohanes menulis bahwa ia tidak memiliki sukacita yang lebih besar daripada mendengar bahwa anak-anaknya berjalan dalam kebenaran. Ini adalah bahasa yang akan digunakan oleh seorang rasul lanjut usia ketika berbicara tentang mereka yang telah bertobat oleh perantaraannya, dan yang memandang dia sebagai seorang ayah. Karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa Gayus telah bertobat di bawah pelayanan Yohanes, dan bahwa dia mungkin jauh lebih muda dari Yohanes.

Ucapan “sukacita yang terbesar” ini mungkin agak membingungkan karena bagi setiap orang Kristen tentunya sukacita yang terbesar adalah ketika mereka menyadari bahwa Yesus sudah mati untuk menebus dosa mereka. Dalam hal ini, terjemahan yang lebih baik mungkin adalah “berkat yang terbesar”; dan itu jelas bukan umur panjang, kekayaan, kemasyhuran dan sebagainya.

Hari ini kita harus menyadari dari tulisan rasul Yohanes bahwa berkat Tuhan yang terbesar bisa kita rasakan kalau kita menjalankan perintahNya untuk mengabarkan Injil di mana pun kita berada:

(a) Sebagai penyebar Injil, yang melihat kenyataan bahwa orang-orang yang mereka latih dan layani, baik yang masih di bawah tuntunan mereka atau yang sudah bekerja di ladang lain, tetap bertahan dalam keteguhan pada ajaran yang benar dan hidup sesuai dengan itu.

(b) Sebagai orangtua atau guru-guru yang menghargai anak atau murid mereka, akan merasa sangat diberkati ketika mengetahui bahwa anak atau bekas muridnya, baik jauh atau dekat, tetap berpegang pada kebenaran agama, dan hidup sesuai dengan kaidah Injil Kristus.

(c) Sebagai “orang awam” kita sudah memancarkan terang Kristus kepada masyarakat di sekeliling kita sehingga banyak orang yang kemudian mau mengikut Dia.

Maukah anda memperoleh sukacita yang terbesar dalam hidup anda? Biarlah anda bisa menjadi contoh teladan yang baik dalam kebenaran seperti Yohanes selagi masih ada kesempatan.

Bersukacitalah senantiasa

“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Filipi 4: 4

Hari ini melalui WhatsApp saya menerima sebuah kisah tentang seorang kaya-raya dari Nigeria yang bernama Femi Otedola, yang mencari kebahagiaan dalam hidupnya. Dikisahkan bahwa setelah mencari kebahagiaan sejati dengan cara mengumpulkan harta, menyimpan benda-benda berharga, dan juga dengan mengendalikan banyak proyek besar, akhirnya ia menemukan kebahagiaan sejati dengan cara menolong orang-orang yang hidup dalam penderitaan. Femi mengatakan bahwa kita akan diingat untuk kebaikan yang sudah kita perbuat untuk orang lain. Penghargaan orang lain atas kebaikan kita ini adalah kunci kebahagiaan. Betulkah begitu?

Memang, menurut banyak ahli sosial, kebahagiaan manusia bukanlah hak ataupun berkat. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang dapat kita tuntut ataupun sesuatu yang harus kita syukuri sebagai suatu pemberian. Tetapi, kebahagiaan adalah pilihan setiap orang atau choice. Kebahagiaan sudah ada tersedia bagi seluruh umat manusia, tetapi orang harus memilihnya untuk bisa berbahagia. Dengan kata lain, kita harus menemukan apa yang bisa membuat kita berbahagia.

Konsep kebahagiaan menurut Alkitab lain dengan konsep duniawi diatas. Kebahagiaan duniawi, happiness, adalah menyangkut soal happy, yaitu kebahagiaan karena kebutuhan manusiawi kita sudah terpenuhi. Dalam hal ini, penghargaan dari orang lain nampaknya bisa memberi kebahagiaan bagi kita. Tetapi, keinginan untuk mendapat penghargaan dari orang lain bisa juga membuat kita kurang berbahagia jika penghargaan itu tidak kunjung datang. Sebaliknya, kebahagiaan surgawi adalah kebahagiaan kekal yang tidak tergantung situasi dan kondisi. Dalam bahasa Inggris mungkin kata joy, lebih cocok dari pada kata happy. Sehubungan dengan kata joy atau sukacita itu, ada kata joyful untuk menyatakan rasa sukacita besar yang datangnya dari hati.

Dari mana datangnya rasa sukacita? Menurut Alkitab, sukacita yang sejati datang dari Tuhan. Manusia dengan keterbatasannya hanya bisa mendapat kebahagiaan yang datang dari apa yang bisa dilihat, didengar, dirasakan dan dialami. Tetapi rasa sukacita datang melalui iman kepada Tuhan, karena dengan iman manusia percaya bahwa Tuhan yang mahakasih selalu menyertainya. Lebih dari itu, sebagai orang Kristen kita bersukacita karena sudah menerima keselamatan melalui pengurbanan Yesus di kayu salib.

Rasa sukacita adalah karunia Tuhan, karena tanpa Dia, apa yang kita rasakan sebagai kebahagiaan hari ini, mungkin tidak dapat membuat kita bahagia esok hari. Kebahagiaan dari dunia tidak akan kita bawa setelah kita mati. Tidak ada yang kekal di muka bumi! Tetapi, Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang menghendaki kita mempunyai rasa sukacita, karena itu Ia memberi kita keyakinan akan penyertaanNya pada setiap saat. Rasa sukacita sejati yang abadi hanya diberikanNya kepada orang yang percaya.

Tuhan juga memerintahkan umatNya untuk bersukacita dalam setiap keadaan. Ini tidak mudah karena iman kita selalu diuji pada saat penderitaan terjadi dalam hidup kita. Paulus dalam hal ini adalah seorang Rasul yang sudah belajar untuk mencukupkan diri dalam setiap keadaan dan untuk tetap bisa bersukacita, rejoicing, setiap saat. Ia tahu bahwa jika ia bisa tetap bersukacita dalam segala keadaan itu karena adanya kekuatan dari Tuhan. Dengan demikian, nama Tuhanlah yang akan dipermuliakan dalam sukacitanya.

Saat ini, apakah anda mengalami masalah yang besar? Apakah anda merasakan sulitnya untuk mendapatkan kebahagiaan dalam hidup? Firman Tuhan berkata bahwa kita seharusnya bersukacita karena keselamatan yang sudah kita terima. Kita juga bersukacita karena iman yang membawa keyakinan bahwa Tuhan menyertai kita sampai akhir zaman. Lebih dari itu kita bisa bersyukur karena apa yang tersedia di surga untuk kita, tidaklah dapat dibandingkan dengan apa yang ada saat ini.

Bagaimana reaksi anda atas perintah Tuhan untuk bersukacita senantiasa? Itu adalah pilihan anda, menurut atau tidak adalah keputusan masing-masing. Biarlah Roh Kudus yang membuka hati kita dan mengingatkan kita kepada kemurahan Tuhan dalam hidup kita. Dengan kesadaran itu, kita akan bisa berbuat baik untuk orang lain sebagai tanda terima kasih kita kepada Dia.

Dalam penderitaan, Tuhan tetap di pihak kita

“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Roma 8: 31

Hal pengadaan vaksin corona agaknya menjadi pusat perhatian banyak orang di seluruh dunia pada saat ini. Tua muda, pria maupun wanita, yang menantikan berakhirnya pandemi ini tentunya berharap dan bahkan berdoa agar seluruh sanak-keluarga bisa tetap sehat dan diindungi Tuhan selama mereka menantikan giliran untuk divaksin. Lebih dari itu, mereka mungkin berharap agar mereka bisa divaksinasi secepatnya. Tidaklah mengherankan adanya “perlombaan” untuk mendapat vaksin, baik itu antar negara ataupun antar sesama warga. Berharap untuk menang memang sering bersifat egocentric, berpusat pada diri sendiri. Tidak peduli akan orang lain, asal diri sendiri berhasil.

Di kalangan orang Kristen pun ada banyak orang yang secara sadar atau tidak, bersifat egosentris; memohon berkat dan keberhasilan dari Tuhan, sekalipun itu mungkin berarti kesusahan, kerugian dan kekalahan bagi orang lain. Mungkin itu karena merasa bahwa mereka adalah anak-anak Tuhan yang paling disayangi sehingga Tuhan akan mengabulkan permintaan apa saja. Mereka merasa tidak perlu mencari kehendak Tuhan. Mereka tidak mengerti bahwa Tuhan memberi kan berkatNya kepada semua orang di dunia. Mereka tidak paham jika Tuhan mengabaikan kebutuhan orang non-kristen di dunia ini, tentu seluruh sistim pemerintahan, perekonomian, teknologi dan sebagainya akan jatuh berantakan.

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5: 45

Banyak juga orang Kristen yang percaya bahwa sebagai orang yang dipilih Tuhan, mereka adalah orang-orang yang bisa mendapatkan apapun yang mereka ingini. Selalu menang dan selalu mendapatkan apa yang terbaik. Dengan demikian, ayat diatas sering dipakai untuk memberi semangat kepada mereka yang kuatir dalam menghadapi kesulitan hidup, agar mereka yakin bahwa bersama Yesus mereka akan selalu berhasil. Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Benarkah begitu?

Ayat diatas tidak dapat dipakai sebagai pedoman umum jika kita tidak mau membaca ayat-ayat lain sesudahnya. Dari ayat-ayat itu, kita bisa melihat bahwa Paulus menulis ayat diatas dalam konteks mengalami penderitaan dan apa yang diartikan sebagai kegagalan. Bukan dalam konteks mencapai keberhasilan. Paulus mempersiapkan orang-orang Kristen di Roma dalam menghadapi penderitaan!

“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” Roma 8: 35

Hari ini, jika kita merasa takut dalam menghadapi kegagalan dan penderitaan, firman Tuhan berkata bahwa Tuhan beserta kita senantiasa. Dalam keadaan apapun, kita boleh yakin bahwa kita adalah pemenang sejati yang lebih dari pada orang-orang yang terlihat menang, karena kita mempunyai Tuhan yang mengasihi kita. Kita juga bisa merasakan adanya kekuatan yang diberikan Tuhan, karena tidak ada sesuatu pun yang bisa memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38 – 39

Jujur saja di hadapan Bapa

“Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” Lukas 6: 46

Ampunilah aku ya Bapa..

Bagi banyak orang Kristen, hal bersenandung lagu rohani, berdoa khusyuk dan mengucapkan “kata-kata rohani” seperti shalom, amin dan haleluya, adalah umum. Orang Kristen juga sering menyebut panggilan Bapa, Abba, Tuhan dan Yahwe dengan mesranya setidaknya pada hari Minggu, hari kudus, hari berkelakuan baik. Sepertinya agar Tuhan itu senang dengan usaha pendekatan kita, walaupun hidup kita sehari-hari sebenarnya kacau dan berantakan.

Ayat diatas secara tegas mengungkapkan perasaan Yesus yang resah karena adanya orang yang bermanis-manis kepadaNya tetapi tidak mau menuruti apa yang diperintahkanNya. Jika mungkin untuk manusia membuat pernyataan dan laporan palsu dan setengah palsu sekedar untuk memuaskan atasan-atasan mereka di dunia, manusia tidak dapat membohongi atasan mereka yang di surga karena Dia adalah Tuhan yang mahatahu. Tidaklah mungkin bahwa Tuhan bisa kita bohongi dengan kehidupan kita yang palsu, yang tidak benar. Sia-sialah kita bersikap sopan dan hormat kepada Tuhan jika tingkah laku kehidupan kita di dunia ini mempermalukan Dia yang mahasuci.

Iman Kristen memang unik karena hanya dengan iman kita diselamatkan, dan itu bukan karena perbuatan kita. Tetapi itu bukan berarti kita bisa menjadi persembahan yang hanya harum di luar tetapi berbau busuk di dalam. Bukan berarti bahwa kita bisa menjadi orang Kristen yang nampak indah cemerlang dalam penampilan luar kita tetapi gelap gulita dalam kehidupan sehari-hari kita.Bukan juga berarti kita bisa jujur dalam lingkungan gereja tetapi culas di dalam hidup bermasyarakat.

Begitu banyak orang Kristen yang berpedoman asal Tuhan senang, peduli amat dengan orang lain. Tetapi ini tidak sesuai dengan apa yang diperintahkan Yesus:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” Markus 12: 30-31

Tambahan pula, manusia tidak dapat mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan jika ia tidak mengasihi sesamanya yang kelihatan (1 Yohanes 4: 20).

Hari ini kita diingatkan bahwa Tuhan tidak dapat kita tipu dengan persembahan hidup yang tidak benar, tidak lengkap atau yang sudah direkayasa. Tuhan tahu jika kita berlagak kasih dan hormat kepadaNya tetapi tidak mempunyai rasa kasih dan hormat kepada sesama kita. Tuhan tahu jika kita seolah mau bekerja keras untuk Dia tetapi tidak mau mempedulikan kebutuhan keluarga kita sendiri. Tuhan bisa melihat jika kita hanya mengasihi sesama orang Kristen dan bukannya sesama manusia. Di lain pihak, Tuhan juga tahu jika kita hanya berusaha menyenangkan orang-orang tertentu, mengagumi kehebatan ajaran gereja dan pimpinan gereja kita, dan bukannya berusaha untuk menaati perintah Tuhan.

“Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.”  Kolose 3: 22

Marilah kita bersama berusaha hidup dengan jujur di hadapan Tuhan kita yang mahatahu dengan menaati segala perintahNya, supaya dalam setiap saat dan keadaan kita bisa memanggilNya Bapa tanpa keraguan dan kecanggungan!

Tiap langkahku dipimpin oleh Tuhan

“Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.” Yeremia 17: 10

Bacaan: Yeremia 17: 5 – 10.

Pernahkah anda mendengar atau menyanyikan lagu “Tiap Langkahku”? Lagu yang aslinya berjudul “Each Step I take” itu ditulis oleh Elmo Mercer pada tahun 1953 sewaktu ia berusia 19 tahun. Dalam bahasa Indonesia syairnya berbunyi:

Tiap langkahku diatur oleh Tuhan
Dan tangan kasih-Nya memimpinku
Di tengah badai dunia menakutkan
Hatiku tetap tenang teduh

Tiap langkahku kutahu Tuhan yang pimpin
Ke tempat tinggiku dihantar-Nya
Hingga sekali nanti aku tiba
Di rumah Bapa surga yang baka

Lagu indah ini memang memberi kesejukan di hati setiap orang yang mau menyerahkan hidupnya kepada Kristus. Kristus akan menjadi pemimpin hidup mereka, yang berjalan di depan dan memimpin mereka setiap hari ke tempat yang tinggi.

Berbeda dengan orang Kristen, sebagian orang di dunia membayangkan bahwa hidup ini berjalan seperti sebuah titik pada sebuah roda yang berputar, spinning wheel, yang bisa naik dan kemudian turun. Oleh sebab itu, bagi mereka, hidup adalah kesempatan untuk mencari keuntungan dan kenyamanan selagi bisa. Selagi roda kehidupan mereka berputar ke atas, mereka memanfaatkannya dengan apa saja yang bisa dilakukan supaya hidupnya makin enak. Mencari “hoki” dan “cuan” adalah yang paling penting bagi mereka.

Memang jika kita lihat dalam hidup ini, manusia selalu berusaha untuk berhasil tanpa mempedulikan siapa yang menggerakkan roda kehidupan ini. Sebagian percaya bahwa mereka harus bisa mempertahankan posisi mereka pada roda kehidupan dengan segala cara. Mereka lupa bahwa Tuhan yang memegang kontrol atas hidup kita di setiap saat, bahwa roda kehidupan itu tidak selalu berputar seperti apa yang diharapkan. Mereka tidak sadar bahwa dinamika hidup ini adalah sangat kompleks. Roda kehidupan bukanlah seperti roda yang berputar dengan kecepatan dan arah yang tidak pernah berubah.

Adakah yang bisa diharapkan dalam hidup ini? Adakah yang bisa dipastikan jika roda kehidupan selalu berputar? Yeremia 17 berisi peringatan bagi bangsa Israel bahwa mereka tidak dapat mengandalkan kekuatan mereka sendiri. Peringatan ini secara umum juga berlaku untuk setiap orang yang hidup di dunia, dari dulu sampai sekarang.  Tidak ada seorangpun yang bisa memastikan apa yang akan terjadi dalam hidupnya. Mereka yang merasa bahwa hidup dan hasil usaha mereka berada dalam tangan sendiri, pada suatu saat akan kecewa karena apa yang terjadi bisa di luar dugaan mereka. Tuhan melalui Yeremia dengan jelas menyatakan rasa tidak senangNya atas kesombongan manusia.

Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” Yeremia 17: 5

Sebagai umat Kristen, kita harus percaya bahwa Tuhan benar-benar  membenci manusia yang sombong, yang merasa bahwa ia dapat mengatur jalannya roda kehidupan dengan berbuat ini dan itu. Kita harus sadar bahwa Tuhanlah yang mempunyai rencana untuk seisi alam semesta, dan itu harus terjadi. Ini bukan berarti bahwa manusia tidak mempunyai kewajiban untuk bekerja sebaik mungkin dalam keadaan apapun yang mereka alami. Sebaliknya, kita harus berusaha untuk mengerti apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita.

Manusia mungkin berusaha untuk bekerja dan mencapai kesuksesan. Itu adalah baik jika mereka seperti bekerja untuk Tuhan dan tidak lupa untuk memuliakan namaNya. Dalam kenyataannya, terlalu banyak orang yang sukses dalam hidupnya tetapi tidak sukses dalam usaha memuliakan Tuhan. Ada juga yang nampaknya bekerja untuk kemuliaan Tuhan, tetapi segala apa yang dicapainya sebenarnya hanya dipakai untuk kenikmatan diri sendiri. Ayat pembukaan kita berkata bahwa Tuhanlah yang menyelidiki hati, yang menguji pikiran, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya. Ia tahu apakah orang menyombongkan keberhasilannya; Ia juga tahu jika orang menyalahgunakan berkatNya. Tetapi Ia juga tahu jika orang menyia-nyiakan hidupnya dengan tidak berusaha untuk memuliakan Tuhan dalam setiap keadaan. Tuhan tahu apa yang akan diperbuat manusia, tetapi Ia bukan Tuhan yang membuat manusia salah langkah.

Hari ini, biarlah kita memikirkan roda kehidupan yang kita jalani.  Mungkin roda kehidupan kita sekarang ini memberikan kesempatan untuk menikmati berkatNya. Kepada kita diingatkan bahwa semuanya datang dari Tuhan dan karena itu kita harus makin menaruh harapan kepada Tuhan. Kita harus dengan rendah hati mengakui bahwa hidup kita ada di tanganNya. Sebaliknya, jika kita pada saat pandemi ini berada dalam keadaan yang kurang menyenangkan, kita tidak boleh berputus asa karena Tuhan menilik hati dan pikiran kita. Ia tahu apa kebutuhan dan motivasi kita. Mereka yang mengandalkan Tuhan dan yang menaruh harapan mereka kepada pimpinan Tuhan dalam setiap langkah mereka, akan dikuatkan dan diberkati, sehingga dalam keadaan apapun mereka akan tetap berdiri teguh dan bisa merasakan kasihNya.

Ini hidup baru, ini baru hidup

“…sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan…” Efesus 4: 13 – 14

Kapan anda mengambil keputusan untuk mengikut Yesus? Masih ingatkah? Sebagian orang bisa menyebutkan saat tertentu dimana mereka, oleh pertolongan Roh Kudus, mengakui Yesus sebagai Juruselamat mereka dan bertekad untuk bertobat dari hidup lama mereka. Walaupun demikian, apa yang dikenal sebagai ciri-ciri hidup baru (born again) belum tentu dapat jelas terlihat sesudah itu. Mereka yang mengaku Kristen itu mungkin belum bisa bertumbuh kerohaniannya sehingga hidup baru mereka tidaklah jauh berbeda dari hidup sebelumnya.

Pada waktu seseorang memasuki hidup baru, ia dapat dibayangkan sebagai seorang bayi yang baru dilahirkan. Dengan berlalunya waktu, sang bayi tentunya diharapkan untuk tumbuh secara spiritual, tumbuh dalam iman. Dalam kenyataannya, pertumbuhan setiap bayi tidaklah sama. Ada orang-orang yang cepat bertumbuh secara rohani, tetapi ada juga yang lambat sehingga mereka hanya bisa mencerna makanan bayi. Mereka tidak bertumbuh dalam iman dan pengertian kekristenannya.

“Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.” Ibrani 5: 12

Mengapa orang tetap bayi secara rohani walaupun sudah lama menjadi Kristen? Sebab yang utama adalah karena hubungannya dengan Tuhan yang kurang erat. Mereka tidak mengenal Tuhan secara pribadi walaupun sudah lama mengaku Kristen. Karena itu, keinginan mereka untuk mengenal Tuhan tidaklah besar. Mereka tidak memberi kesempatan kepada Roh Kudus untuk memimpin hidup mereka karena mereka terlalu sibuk mengurus kepentingan pribadi.

Selain itu, ada juga orang-orang yang gampang merasa puas dengan janji keselamatan yang mereka peroleh. Mereka percaya bahwa jika mereka mengaku percaya kepada Yesus, itu sudahlah cukup. Mereka tidak mengerti bahwa iblispun percaya adanya Tuhan, tetapi ia tidak mau tunduk kepadaNya. Mereka yang hidup dengan mengandalkan akal budi saja, cenderung tidak mau menerima bimbingan Tuhan. Mereka hidup di luar firman Tuhan. Sebagai akibatnya, orang-orang yang sedemikian tidak bertumbuh dan berbuah. Dengan demikian, seperti pohon yang berdaun hijau belum tentu pohon yang hidup, mereka yang mengaku Kristen mungkin adalah orang-orang yang masih berada dalam hidup lama yang membawa kematian (Matius 7: 19-20).

Sekalipun cara hidup dan penampilan yang baik seringkali dianggap sebagai tanda hidup baru, itu belum tentu bukti hidup baru. Hidup baru benar-benar bisa terlihat jika orang tetap bertahan dalam iman sekalipun menghadapi semua tantangan atau masalah kehidupan baik yang bersifat jasmani maupun rohani. Seperti pohon yang tetap berdiri kokoh walaupun diterjang badai. Dalam situasi pandemi saat ini, mereka yang benar-benar sudah hidup baru mungkin mengalami berbagai penderitaan, tetapi tetap teguh dalam iman. Dalam kesulitan hidup mereka mungkin menjumpai berbagai godaan dan jalan pintas yang memikat, tetapi tetap bisa berdiri tegap dalam kebenaran firman Tuhan.

“Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.” Ibrani 5: 13 – 14

Hari ini, kita diingatkan bahwa sebagai orang percaya kita harus terus bertumbuh secara rohani dan menghasilkan buah yang baik dalam suka maupun duka. Selama hidup kita tidak boleh berhenti mempelajari firman Tuhan dan melaksanakannya sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, yaitu tingkat kedewasaan penuh. Dengan spritual maturity seperti yang diharapkan Kristus, kita akan berubah dari kanak-anak, yang mudah diombang-ambingkan oleh berbagai tipu-daya dan keadaan, menjadi orang dewasa yang teguh dalam iman dan penuh kebijaksanaan. Mereka yang benar-benar sudah mempunyai hidup baru adalah orang-orang yang tetap setia kepada Tuhan dalam keadaan apapun.

Hidup di dunia hanya sementara

“Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku!” Mazmur 39: 4

Dalam keadaan di saat ini, hampir setiap orang tahu adanya orang yang dikenal, entah itu teman, sanak atau anggota keluarga yang menjadi korban Covid-19. Sedih memang, apalagi jika mereka belum benar-benar mencapai usia tua. Mereka yang dulunya terlihat sehat, tiba-tiba harus berpulang. Mereka yang dikenal sebagai orang yang baik hati, secara tidak disangka meninggal dunia. Hidup manusia di dunia memang singkat dan sementara, tetapi tetap saja orang ingin agar bisa mempunyai usia yang panjang. Umumnya, tidak ada seorang pun yang ingin untuk mempunyai usia yang pendek, apalagi karena jatuh sakit.

Bagi banyak orang, kenyataan bahwa pada suatu saat mereka harus meninggalkan dunia ini adalah suatu hal yang menakutkan, yang tidak perlu dipikirkan. Walaupun demikian, kesadaran bahwa hal itu bisa terjadi lebih awal dari apa yang mereka harapkan membuat sebagian orang sibuk dengan diet, olahraga, vitamin, dan lain-lain. Perbuatan yang sia-sia menurut iman Kristen, karena seorang pun tidak dapat memperpanjang hidupnya dengan sehasta saja (Matius 6: 27). Walaupun demikian, adalah kewajiban untuk setiap orang Kristen untuk memelihara tubuhnya selama masih hidup karena tubuh adalah milik Allah (1 Korintus 6: 19).

Pemazmur diatas seolah memohon Allah untuk membuka rahasia umurnya, agar ia tahu kapan ia akan mati. Kalau permohonan itu memang demikian, itu adalah perbuatan yang sia-sia karena tak ada seorang pun yang tahu waktunya (Pengkhotbah 9: 12). Karena itu, ayat diatas sebenarnya adalah pengakuan akan ketidaktahuan manusia akan masa depannya dan kesadaran akan kefanaannya; bahwa manusia akan mati pada saat yang tidak diketahuinya. Sungguh menyedihkan kedengarannya.

Memang kefanaan manusia adalah akibat dosa. Seandainya manusia tidak jatuh ke dalam dosa, kutuk Allah tidak bakal ada. Manusia akan hidup bahagia bersama Sang Pencipta selamanya. Walaupun demikian, karena Allah itu Mahakasih, mereka yang percaya akan memperoleh hidup yang kekal setelah hidup di dunia ini berakhir. Kefanaan membuka pintu menuju kekekalan.

Kefanaan memberi kesadaran bahwa manusia tidak hidup untuk selamanya di dunia ini, tetapi apa yang kekal akan datang sesudahnya. Mereka yang sadar bahwa hidup di dunia ini sangat singkat jika dibandingkan dengan apa yang akan datang, seharusnya memikirkan apa yang terbaik untuk jangka panjang. Walaupun begitu, banyak orang yang justru berusaha untuk menikmati hidup yang fana ini saja, dan tidak mau memikirkan apa yang datang.

Kefanaan manusia bisa membawa manusia kepada hidup yang benar, yaitu hidup yang berfokus pada kekekalan hidup masa depan. Tetapi kefanaan bagi sebagian orang membuat mereka lupa bahwa jika mereka hanya hidup untuk masa kini, mereka akan hidup terpisah dari Tuhan untuk selamanya di masa depan. Kefanaan memang bisa berakhir dengan kebahagiaan yang kekal atau penderitaan yang kekal. Itu adalah pilihan pribadi tiap orang, tetapi bagi mereka yang hidup dalam Kristus kefanaan jelas adalah keuntungan. Haleluya!

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Filipi 1: 21

Dalam kesesakan, kasih Tuhan tetap ada

“Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.” Mazmur 25: 10

Mazmur 25 adalah salah satu mazmur Daud yang terkenal. Mazmur ini adalah sebuah doa permintaan ampun dan perlindungan yang disampaikan Daud kepada Tuhan pada saat ia berusia lanjut, mungkin ketika ia mengalami pemberontakan putranya, Absalom. Dalam kesedihan dan kegundahannya, Daud teringat bahwa ia adalah manusia yang mempunyai berbagai cacat-cela dan dosa (ayat 7) dan sudah sepantasnya kalau Tuhan menghukum dia. Tetapi raja Daud juga percaya bahwa Tuhan adalah mahakasih, dan karena itu ia memohon agar Tuhan tetap mau menolong dia.

Apa yang dirasakan Daud pada waktu itu, mungkin sering dialami manusia manapun ketika mereka mengalami penderitaan atau persoalan besar. Mengapa ini harus terjadi pada diriku? Itulah pertanyaan yang sering muncul. Tetapi, jika orang sering merasa bahwa apa yang terjadi adalah sesuatu yang tidak adil, Daud tidaklah demikian. Daud merasa  bahwa ia adalah orang yang berdosa, bahkan ia sudah merebut Batsyeba dan menyebabkan kematian suaminya, Uria. Ia sadar bahwa ia pernah sesat dalam hidupnya dan sekarang mempunyai banyak musuh yang ingin menghancurkannya. Dengan kerendahan hati, Daud memohon pertolongan Tuhan.

Sebenarnya, apa yang dialami Daud tidaklah jauh berbeda dengan apa yang kita alami dalam hidup sehari-hari. Kita mungkin mengalami berbagai kesulitan dan ingin agar Tuhan menolong kita. Tetapi, apa yang mungkin berbeda ialah bahwa kita seringkali menganggap bahwa pertolongan Tuhan dan hidup aman-tenteram itu sudah sepantasnya karena kita adalah umatNya. Jika kita baca dengan teliti dalam mazmur ini, Daud, raja yang dipilih Tuhan untuk mengambil bagian dalam rencana penyelamatanNya, tidak menggunakan statusnya untuk menuntut pertolongan Tuhan. Tetapi, ia dengan rendah hati mengakui kesesatannya dan meminta ampun kepada Tuhan. Daud sadar bahwa Tuhan adalah mahakuasa dan karena itu ia takut kepadaNya; tetapi Daud juga percaya bahwa Tuhan adalah mahakasih dan mau membimbing dia (ayat 9 – 12).

Daud lebih lanjut percaya bahwa ia akan menerima kebahagiaan dari Tuhan dalam setiap keadaan, karena Tuhan dekat kepada mereka yang takut akan Dia (ayat 13 – 14). Tuhan memang mengasihi semua orang, tetapi Ia akrab dengan orang-orang yang taat kepadaNya. Karena itu, Daud yang sudah terperangkap dalam kesulitan besar (ayat 15, kakinya sudah terperosok dalam jaring) tetap bisa berharap kepada Tuhan. Mata Daud hanya tertuju kepada Tuhan, bukan kepada orang-orang ataupun hal-hal yang ada di sekitarnya. Ia menjerit kepada Dia saja, yang bisa memberi pertolongan.

“Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, sebab aku sebatang kara dan tertindas. Lapangkanlah hatiku yang sesak dan keluarkanlah aku dari kesulitanku!” Mazmur 26: 16 – 17

Saat ini, ada banyak orang yang menderita karena dampak pandemi. Ada yang kehilangan pekerjaan, ada yang kehilangan sanak saudara, suami atau istri, atau pun orangtua. Kapan pandemi ini berakhir belumlah dapat dipastikan, sekalipun dapat diperkirakan bukan di tahun 2021. Sebagai manusia, kita merasa sedih dan kuatir. Seperti Daud,  kaki kita terasa seperti sudah terperosok dalam jaring. Mengapa semua ini harus terjadi dalam hidup kita?

Apa yang dialami Daud bisa memberi pelajaran kepada kita bahwa karena dunia ini penuh dosa, siapapun bisa mengalami saat-saat yang berat. Mungkin itu akibat kekeliruan kita sendiri, tetapi bisa juga karena kesalahan orang lain. Mungkin juga, itu adalah pelajaran yang kita terima dari Tuhan. Bagaimana kita bisa tetap kuat bertahan?  Mazmur 25 menyatakan bahwa kunci kemenangan adalah takut kepada Tuhan. Bagi orang yang mau mengakui kesalahan mereka, Tuhan mau mengampuni mereka. Tuhan yang mahakasih juga mau memberi pertolongan kepada mereka yang bergantung sepenuhnya kepada kemurahan dan bimbinganNya. Lebih dari itu, jika kita memohon agar ketulusan dan kejujuran tetap ada selama kita menantikan pertolongan Tuhan (ayat 21), Ia pasti membebaskan kita dari kesesakan kita pada waktunya.

Mengapa ada kabar palsu?

“Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang.” 2 Korintus 11: 14

Di saat semua negara berlomba untuk mengadakan vaksinasi bagi rakyatnya, mereka yang anti vaksin juga bertambah giat menyuarakan pendapat mereka. Seiring dengan itu, di berbagai media muncul berita-berita miring yang menyebutkan bahwa vaksin tertentu bisa menyebabkan kemandulan, vaksin yang lain adalah pemasangan chip untuk memonitor kehidupan orang, atau vaksin tertentu akan mengubah genetik pemakainya dan berita-berita lainnya. Semua itu menambah kebingungan rakyat jelata yang sebenarnya hanya ingin agar pandemi ini segera berakhir.

Sejak adanya internet, orang bisa mendapat berita dari mana saja, kapan saja, dan tentang apa saja. Hal itu memang baik jika berita yang disampaikan adalah berita yang benar, yang bisa dipertanggungjawabkan. Namun, berita palsu atau fake news seringkali membawa kekacauan dan kekuatiran dalam hidup bermasyarakat. Celakanya, orang seringkali menyampaikan berita palsu sedemikian kepada orang lain sekedar untuk berbagi berita. Dengan demikian, tidaklah mengherankan kalau berbagai hoax yang muncul dan beredar selama bertahun-tahun masih juga bisa memakan korban baru.

Sebenarnya fake news itu sudah ada sejak manusia diciptakan. Berita palsu yang diciptakan iblis, membuat Adam dan Hawa terkecoh (Kejadian 3: 4-5). Karena itu, berita palsu yang muncul setiap hari di zaman ini dan yang berusaha mengacaukan masyarakat pada umumnya, dan umat Kristen pada khususnya, sudah dapat dipastikan akan mendapat dukungan iblis. Iblis adalah bapa segala dusta.

“…Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.” Yohanes 8: 44

Jika sebuah berita palsu itu terkadang sulit dibedakan dari berita yang benar, dengan penyelidikan yang teliti biasanya orang bisa memutuskan benar tidaknya berita itu. Walaupun demikian, orang seringkali tidak mau menyempatkan diri untuk mempelajari benar tidaknya, tetapi langsung menyampaikan berita itu ke orang lain. Mungkin saja si pengirim menganggap bahwa jika pun berita itu palsu, ia bukanlah pembuatnya dan karena itu ia tidak bersalah. Benarkah?

Apa yang harus kita sadari ialah kekacauan di dunia dan diantara umat Tuhan adalah sesuatu yang dikehendaki iblis. Karena itu, jika kita melakukan hal-hal yang serupa dengan apa yang dilakukan iblis, kita sudah sependapat dengannya; kita seolah sudah menjadi “agen” iblis. Lebih parah dari itu, ada orang-orang yang mengaku Kristen tetapi dengan sengaja memutarbalikkan fakta dengan menyebarkan berita palsu. Mungkin saja iblis sudah menyamar sebagai anak-anak Tuhan!

Memang mungkin kita tidak dengan sengaja menyebarkan berita palsu. Kita memang tidak selalu sadar bahwa melalui perbuatan kita, iblis bisa mendapat kesempatan untuk mengacaukan kehidupan manusia, terutama umat Tuhan. Dalam hal ini, iblis sering memanfaatkan kelemahan manusia yang seringkali memilih apa yang tidak baik dalam ketidaktahuannya.

“Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” Roma 7: 15

Hari ini kita diingatkan bahwa jika kita berpihak kepada Yesus, kita harus awas dan waspada untuk menghindari apa yang tidak baik. Kita harus mempunyai kebijaksanaan dan tanggung jawab untuk bisa membedakan apa yang baik dari yang buruk, apa yang benar dari apa yang palsu. Biarlah Tuhan menolong kita dengan bimbingan Roh Kudus!

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8