Menjalani hidup hari demi hari

“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Matius 6: 34

Selamat tahun baru! Hari besar yang ditunggu-tunggu sejak datangnya hari Natal telah tiba. Tahun baru telah datang di berbagai tempat di dunia, dimulai dengan negara-negara di sekitar Selandia Baru, kemudian Australia, Indonesia dan seterusnya, sesuai dengan posisi mereka di bumi. Bersama dengan itu berbagai harapan, resolusi dan doa diucapkan manusia untuk 365 hari yang akan datang.

Dalam merayakan tahun baru, biasanya banyak orang yang berpesta-pora dan makan-minum untuk mengucapkan selamat tinggal pada tahun yang telah lalu dan menyambut datangnya tahun yang baru. Negara-negara yang kaya menghamburkan jutaan dolar untuk segala acara dan pesta kembang apinya. Mereka yang berhasil hidupnya tentunya ingin merayakannya dengan semeriah mungkin, karena kemampuan yang ada. Tetapi, pada akhir tahun ini suasana sangat berbeda karena adanya pandemi. Banyak negara sudah membatalkan acara kembang api untuk menghindari kerumunan orang dan juga untuk mengurangi pengeluaran. Dalam keprihatinan, tidaklah mengherankan bahwa di saat ini orang hanya bisa bertanya-tanya apa yang akan terjadi pada bulan-bulan mendatang.

Berbeda dengan ucapan selamat hari Natal yang berisi pesan-pesan mengenai sukacita dan damai, kebanyakan ucapan selamat tahun baru secara tradisionil berisi harapan untuk keberhasilan dalam semua usaha dan segi kehidupan manusia. Walaupun semua ucapan selamat tahun baru itu dimaksudkan untuk memberi semangat optimisme dan keberanian dalam menjalani hidup di tahun baru, pada saat ini tidak ada seorang pun yang yakin bahwa tahun depan adalah tahun yang baik. Memang, hidup agaknya akan menjadi semakin berat dalam tahun 2021 ini.

Soal hidup berat, saya teringat akan lagu “One day at a time” atau “Satu hari pada satu waktu” yang pernah dinyanyikan oleh Meriam Bellina. Lagu ini menggambarkan betapa banyak masalah yang dihadapi sang penyanyi, tetapi ia memohon kepada Yesus untuk bisa menghadapi persoalan hari ini saja untuk saat ini. Karena masa lalu sudah lenyap dan masa depan tidak diketahuinya, ia hanya meminta Tuhan untuk memberi pertolongan untuk menghadapi hari ini. Persoalan esok hari tidak perlu dipikirkan sekarang.

One day at a time, sweet Jesus
Satu hari pada satu waktu, Yesus yang manis
That’s all I’m asking from you
Hanya itu yang saya minta dari Engkau
Give me the strength to do everything that I have to do
Berilah aku kekuatan untuk melakukan segala sesuatu yang harus aku lakukan
Yesterday’s gone sweet Jesus
Kemarin sudah lenyap Yesus yang manis
And tomorrow may never be mine
Dan besok mungkin tidak akan menjadi milikku
Help me today
Bantu aku hari ini
Show me the way
Tunjukkan
jalannya pada ku
One day at a time.
Satu hari pada satu waktu.

Memang bagi banyak manusia, umumnya keadaan yang tidak menentu di hari depan bisa menimbulkan kekuatiran yang besar. Persoalan hari ini belum terselesaikan, persoalan-persoalan lain di hari-hari mendatang sudah terasa menakutkan. Berbeda dengan itu, bagi orang Kristen satu hal yang paling penting dalam menyambut tahun baru, adalah keyakinan akan penyertaan Tuhan. Bagi orang Kristen, apapun yang akan terjadi dalam tahun yang baru bukanlah sesuatu yang harus dikuatirkan. Keberhasilan atau kegagalan dalam hidup di dunia bukanlah diukur dengan segala sesuatu yang bersifat fana, karena semua hal itu tidaklah kekal. Tetapi harta surgawi, yaitu kedekatan hubungan kita dengan Tuhan adalah yang seharusnya diutamakan; dengan itu kita bisa mendapatkan rasa cukup dan bahkan rasa sukacita yang abadi. Dengan hadirnya Tuhan dalam hidup kita, kita juga akan merasakan ketenteraman karena Tuhan adalah sumber kekuatan dan pelindung kita.

Hari ini, kita harus sadar bahwa seberapapun besarnya rasa optimis dan besarnya pengharapan kita akan kesuksesan kita di tahun yang baru, kita tidak dapat mengandalkan hidup kita kepada diri kita sendiri. Sebaliknya, jika ada rasa pesimis di hati kita, hidup ini terasa penuh dengan tantangan, kesulitan dan marabahaya yang bisa menghancurkan siapapun. Walaupun demikian, dalam keadaan apapun Tuhan selalu siap menolong kita yang beriman kepadaNya. Dengan demikian, kita yakin bisa menghadapi semua tantangan hari demi hari. Biarlah kita dalam tahun yang baru ini bisa dikuatkan karena penyertaan Tuhan sampai sekarang yang bisa kita syukuri!

TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.” Mazmur 28: 7

Auld Lang Syne

“Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: “Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!” Pengkhotbah 12: 1

Siapakah yang tidak mengenal lagu Auld Lang Syne? Lagu itu selalu dikumandangkan menjelang malam pergantian tahun baru hampir di seluruh dunia. Lagu rakyat Skotlandia ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1788 dan berisi tentang kenangan akan teman-teman lama dan waktu yang dilalui bersama mereka.

Pada tahun 1929, Guy Lombardo, seorang penyanyi yang lahir di Kanada, tampil di Roosevelt Hotel di New York City pada malam pergantian tahun. Ia tampil bersama grup musiknya yang bernama Royal Canadian band, dan disiarkan melalui radio. The Royal Canadian sendiri dibentuk pada 1924, bersama saudara lelakinya yaitu Carmen, Lebert, dan Victor, serta musisi lain dari tanah kelahirannya. Pada tengah malam, mereka memilih untuk menyanyikan lagu yang pertama kali didengar oleh Lombardo dari para imigran Skotlandia di Ontario. Judul lagu itu adalah Auld Lang Syne.

Tahun-tahun berikutnya, hingga 1959, Guy Lombardo dan saudara-saudaranya tetap bermain di Roosevelt Hotel, menyanyikan lagu yang sama pada setiap malam tahun baru. Hingga tahun 1976 saat Lombardo berusia 74 tahun, mereka terus memainkan lagu ini pada malam tahun baru di Waldorf Astoria Hotel, dan disiarkan melalui radio juga televisi. Lombardo pun terkenal dengan sebutan “Mr. New Year Eve.” Pada tahun 1976, untuk terakhir kalinya Lombardo memainkan lagu Auld Lang Syne karena ia meninggal dunia pada tahun 1977 karena serangan jantung.

Apa arti setahun? Setahun bagi seseorang mungkin berisi banyak hal yang signifikan, tapi bagi yang lain mungkin berlalu seperti tahun-tahun sebelumnya. Walaupun demikian, bagi semua orang, baik tua maupun muda, tahun yang berlalu jelas menambah usia. Manusia manapun akan bertambah tua. Dimulai pada saat kelahiran, seorang bayi tumbuh menjadi seorang anak kecil, anak remaja, orang muda, orang dewasa, orang berumur dan kemudian orang lanjut usia, sebelum meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Walaupun begitu seharusnya, tidak semua orang akan mengalami seluruh tingkat usia itu. Ada orang yang belum tua tetapi sudah tidak beserta kita, ada pula orang yang karena sakit, menjadi tua sebelum waktunya.

Masa muda biasanya diisi dengan berbagai kegiatan yang menarik, yang memberi kesenangan, kebanggaan dan kepuasan pribadi. Seolah seluruh dunia ada untuk dinikmati oleh diri sendiri. Dengan bertambahnya usia, manusia umumnya mulai belajar untuk hidup bukan bagi dirinya sendiri, terutama setelah berkeluarga. Namun dengan bertambahnya usia, hidup seringkali diisi dengan kesibukan mencari ilmu, harta, kesuksesan atau nama. Kesenangan yang dicapai melalui jerih payah seolah bisa memberi makna kehidupan.

Keluarga dan persahabatan baik secara nyata atau maya bisa juga menjadi suatu kenikmatan. Waktu yang 24 jam sehari seringkali kurang untuk memberi perhatian yang cukup kepada sanak kerabat dan teman. Seringkali, karena kesibukan yang seolah berdasarkan cinta akan sesama, waktu yang ada tidak cukup untuk Tuhan. Padahal soal mengasihi Tuhan itu seharusnya lebih penting dari yang lain, terutama di masa depan. Tuhan dan kasihNya tetap ada sewaktu perhatian sanak dan teman sudah hilang.

Selama setahun, Tuhan sudah menyertai kita. Tiap hari, tiap jam bahkan tiap detik,Tuhan melindungi kita sehingga kita tetap bisa hidup sampai saat ini dan siap memasuki tahun yang baru. Lebih-lebih lagi, Tuhanlah yang sudah mengambil inisiatif untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Walaupun begitu besar kasihNya kepada manusia, kebanyakan orang menerima kasih Tuhan itu sebagai sesuatu yang sudah sewajarnya, dan mudah melupakannya. Lebih mudah untuk dilupakan daripada melupakan kenangan manis bersama teman-teman lama.

Sekalipun kita masih bisa menyambut datangnya tahun baru kali ini, adalah kenyataan hidup bahwa akan ada satu saat dalam hidup kita dimana kedatangan tahun baru tidak lagi dapat memberi kegembiraan. Mungkin saat itu terjadi sesudah kita menginjak usia tua, tetapi mungkin juga sewaktu kita masih muda. Pada saat itu, dukungan sanak kerabat dan teman tidaklah dapat memberi kekuatan dan semangat, apa yang ada terasa hampa.

Pagi ini kita harus sadar bahwa jika kita tidak terbiasa merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita, jika kita tidak terbiasa berbincang-bincang dengan Tuhan, mempelajari firmanNya dan menyadari kasihNya, dalam keadaan yang menguji iman kita di masa depan, kita akan mengalami kesunyian yang luar biasa karena Tuhan serasa jauh dari kita.

Tahun 2020 yang penuh dengan masalah hidup ini akan segera menghilang dan hanya menjadi kenangan. Tahun baru akan datang, tetapi kita tiak tahu apakah itu akan membawa harapan baru. Walaupun demikian, biarlah tahun 2021 bisa membawa kesadaran bagi kita semua bahwa selagi kita masih bisa, kita harus makin dekat kepada Tuhan!

Berserahlah kepada Tuhan

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7

Sebentar lagi tahun baru akan datang. Bagaimana kita harus menyambut kedatangannya? Biasanya orang menyambut kedatangan tahun baru dengan berpesta-pora dan bergembira ria. Tetapi tahun ini situasi sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena pademi Covid-19 yang masih merajarela di seluruh bagian dunia. Apa yang akan terjadi di dunia pada tahun 2021? Pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan kepastian, karena tidak ada yang tahu. Jangankan di dunia, apa yang terjadi pada diri kita sendiri pun tidak ada yang bisa menerka. Bagaimana dengan keuangan kita? Sekalipun kita siap untuk bekerja lebih keras dari tahun yang lalu, kita tidak bisa memastikan bahwa hasilnya akan lebih baik. Apalagi, karena adanya pandemi, ekonomi dunia sekarang ini agaknya sedang sakit.

Sebagian orang Kristen percaya bahwa Tuhan selalu memberikan apa yang nyaman untuk umatNya. Sebagian lagi percaya bahwa bagi mereka yang benar-benar beriman tidaklah ada kegagalan dan penderitaan. Tapi pandangan semacam itu hanya membuat Tuhan itu seperti sesuatu yang hanya memiliki satu dimensi, yang dapat diukur manusia. Lebih-lebih lagi, jika pikiran Tuhan dapat diterka manusia, Ia bukanlah Tuhan yang mahakuasa. Kalau pikiranNya mudah diterka, manusia bisa mengelak dari keputusan Tuhan dan bisa berbuat sesuatu untuk mengubah keputusanNya. Hidup manusia dengan demikian mungkin bisa dijalani sebagai suatu eksperimen untuk mencari jalan agar Tuhan selalu memberi kelimpahan. Ini adalah pandangan yang jelas keliru.

“Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?” Roma 11: 34 – 35

Lebih dari itu, Tuhan jelas berhak untuk memberkati atau membenci orang-orang tertentu, sesuai dengan kehendakNya.

Sebab Ia berfirman kepada Musa: “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.” Roma 9: 15

Dari uraian diatas, jelas bahwa Tuhan yang mahabijaksana mengambil keputusan tanpa dipengaruhi usaha manusia. Tetapi, hal ini bisa menyebabkan timbulnya dua pertanyaan. Yang pertama, jika Tuhan agaknya berlaku semena-mena kepada makhluk ciptaanNya, dapatkah kita katakan bahwa Tuhan itu adil?

Alkitab berkata bahwa jika Tuhan itu mahakuasa, tentunya Ia bisa melakukan apa yang dihendakiNya. Berbagai contoh dalam Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan bisa memudahkan, membuat sukar atau membiarkan hidup kita. Tetapi, kita sebagai manusia harus menerima apa saja yang diputuskanNya.

Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?” Roma 9: 20

Pertanyaan kedua, yang sehubungan dengan usaha manusia, adalah mengapa kita harus bekerja keras menurut rencana yang baik jika Tuhan pada akhirnya menentukan hasilnya. Bukankah hidup kita bergantung pada apa yang diputuskan Tuhan?

Alkitab mempunyai banyak contoh dimana mereka yang menurut firmanNya dan yang selalu mengikuti kehendakNya, memperoleh berkat yang berkelimpahan dalam hidup. Tetapi Alkitab juga menulis bagaimana mereka yang setia kepadaNya, memperoleh kekuatan dalam menghadapi berbagai penderitaan di dunia. Tuhan bisa memberkati mereka yang bekerja dengan giat dan jujur, tetapi lebih dari itu Ia bisa memberi rasa cukup dan ketenteraman kepada umatNya dalam segala keadaan.

Memang perlu kita sadari, Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa hidup kita akan selalu nyaman, tetapi Ia berjanji akan menyertai dan menguatkan kita dalam menghadapi berbagai tantangan. Lebih dari itu, Tuhan adalah mahakasih dan karena itu semua rencana dan kehendakNya adalah baik untuk mereka yang mau dipimpinNya.

Adakah kekuatiran anda dalam memasuki tahun yang baru? Mereka yang hanya mengenal kemahakuasaan dan kemahasucian Tuhan mungkin akan sering menghadapi hidup dengan kemuraman atau kekuatiran, tetapi siapa yang mengerti bahwa Tuhan juga mahaadil, mahabijaksana dan mahakasih, akan dapat menghadapi tahun yang baru dengan optimisme, kedamaian dan rasa syukur. Selamat menyongsong tahun baru!

Tuhan memberi kekuatan kepada yang lemah

Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku.” 2 Korintus 11: 30

Ayat di atas adalah ayat yang terkenal, tetapi tidak mudah dimengerti. Mengapa Paulus menulis “Aku akan bersukacita atas kelemahanku”? Apakah pernyataan Paulus kepada jemaat di Korintus itu serupa dengan beberapa bentuk “sukacita” dalam penderitaan di bawah ini?

  1. “Aku bersukacita karena aku menderita’: Penderitaan adalah sesuatu yang bisa aku banggakan.
  2. “Aku bersukacita karena penderitaan yang kupaksakan pada diriku sendiri”: Aku berusaha membuat diriku menderita sedemikian rupa agar bisa menaikkan tingkat kerohanianku.
  3. “Aku bersukacita walaupun aku menderita”: Aku mampu menghadapi badai kehidupan dengan wajah tegar.
  4. “Aku bersukacita karena penderitaanku tidak seburuk orang lain”: Sejelek-jeleknya nasibku, aku masih lebih beruntung jika dibandingkan dengan orang lain.

Jika dibandingkan dengan ucapan Paulus, empat bentuk sukacita di atas kelihatannya menunjukkan bahwa kita sanggup untuk berdiri di atas kaki sendiri. Dalam kenyataannya, keadaan dunia di saat ini bisa membuat orang yang paling kuat untuk merasa lemah dan putus asa. Betapa besar bedanya dengan sukacita yang Paulus miliki!

Sukacita yang Paulus miliki berkata “Aku bersukacita di dalam penderitaan.” Penderitaan, bagi Paulus, justru adalah konteks dimana sukacitanya muncul. Mengapa? Karena sukacita Paulus bukanlah sukacita yang melihat ke dalam diri, atau bahkan membandingkan diri dengan orang lain.

Sukacita Paulus adalah sukacita di dalam Kristus, karena Yesus sudah menderita dan menyelamatkannya. Kesadaran bahwa Kristus telah bangkit dari kematian dan memerintah seisi alam semesta dari surga, justru bisa membuat Paulus selalu ingat akan besarnya kasih anugerah Tuhan dalam hidupnya.

Hidup ini memang tidak mudah dan terkadang penuh tantangan, masalah atau bahaya. Banyak orang yang dalam keadaan semacam itu akan berusaha untuk bertahan dan berjuang seorang diri, karena mereka berharap untuk bisa kuat dan menang dengan tenaga sendiri. Itu jugalah yang diajarkan para motivator terkenal di berbagai seminar. Tetapi, sebagai makhluk sosial tidak ada orang yang bisa survive dalam hidup ini tanpa membutuhkan pertolongan orang lain. Sayang sekali, seringkali tidak ada orang yang mengerti penderitaan kita, mau atau mampu menolong kita.

Bagi kita yang beriman, Juru Penolong yang sejati adalah Yesus Kristus. Bukannya khayalan, Yesus Anak Allah itu benar-benar datang dari surga ke dunia, mati menebus dosa manusia, tapi bangkit lagi pada hari yang ketiga. Hari ini kita harus sadar bahwa Yesus adalah gembala kita yang sebenarnya. Yesus adalah Tuhan, Tuhan yang juga sudah menciptakan segala sesuatu, yang memelihara segala sesuatu dan yang dari mulanya mempunyai rencana untuk menyelamatkan manusia dari kebinasaan. Ialah kebanggaan kita yang sesungguhnya, karena Ia bisa dan mau menolong mereka yang meyadari kelemahan mereka.

Dalam keangkuhan dan kebodohan kita tidak menyadari kuasa dan kasih Tuhan, tetapi dalam kelemahan kita bisa merasakan kuasaNya seperti apa yang dialami Rasul Paulus.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” 2 Korintus 12: 9

Takutlah akan Tuhan

TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku.Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” Mazmur 23: 1-3

Di Australia, hari sesudah hari Natal dinamakan Boxing Day. Boxing Day adalah istilah yang merujuk pada tradisi di Inggris, dan juga negara Eropa lain, ketika banyak kaum pekerja yang harus bekerja di hari Natal dan baru keesokan harinya (26 Desember) bisa merayakan Natal. Pada hari itu, para pekerja itu berkesempatan membuka hadiah yang mereka terima dari para bangsawan, tuan tanah, perusahaan, hingga pemilik modal. Hadiah itu biasanya berada dalam kotak (box), sehingga hari tersebut dikenal sebagai boxing day.

Pada saat Boxing day kemarin, seperti biasanya toko-toko besar mengadakan “sale” besar-besaran. Harga barang-barang mewah bisa mendapat discount sampai 50%. Karena itu, dari siaran TV saya bisa melihat banyaknya orang yang berdesak-desakan memasuki berbagai toko, seakan lupa bahwa saat ini setiap orang seharusnya tetap berhati-hati dan menjaga jarak untuk menghindari penyebaran virus corona. Begitulah, jika manusia sangat menginginkan sesuatu, mereka akan berusaha memperolehnya dan tidak takut akan segala konsekuensi yang ada. Bahkan, seperti Adam dan Hawa, umat manusia sering lupa akan Tuhan jika mereka menginginkan sesuatu.

Dengan memasuki tahun baru, umumnya orang berharap bahwa keberuntungan yang lebih besar akan bisa didapat. Tidak ada bedanya dengan tahun baru Imlek, memasuki tahun baru Masehi ini orang saling mengucapkan harapan untuk kesehatan, kesuksesan, rejeki dan lain-lain. Orang Kristen pun sering terperangkap dalam situasi yang serupa, sekalipun buat mereka sebenarnya lebih penting untuk memikirkan soal surgawi daripada hal-hal duniawi.

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6: 33

Yesus sudah mengajarkan bahwa sebagai orang percaya kita harus berharap agar Roh Kudus makin bekerja dalam hidup kita, sehingga hidup kita bisa makin dekat kepada Tuhan dan bisa berbahagia. Dengan kedekatan manusia kepada Tuhan, kekuatiran akan apapun bisa dikalahkan melalui iman yang makin dikuatkan. Lebih dari itu, karena Tuhan menyenangi orang yang punya rasa takut kepadaNya, Ia akan menambahkan berkatNya dalam berbagai hal yang lain.

TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya. Mazmur 147: 11

Memang, dalam Alkitab ada banyak contoh dimana orang-orang yang takut akan Tuhan, menjalani hidup mereka sesuai dengan apa yang dikehendakiNya. Orang-orang seperti Abraham, Jusuf, Musa dan Daud yang dalam segala kelemahan mereka, selalu kembali kepada keinsafan bahwa Tuhan yang mahakasih adalah seperti seorang gembala yang ingin membawa semua dombaNya ke padang rumput yang hijau. Orang-orang sedemikian diberkati Tuhan dalam hidup mereka, karena mereka mau menuruti panggilan Tuhan.

Ayat pembukaan diatas mengambarkan bagaimana Tuhan gembala kita membawa kita, domba-dombaNya, ke padang yang berumput hijau. Tetapi dalam kenyataannya, ada domba-domba yang berhenti pada suatu tempat dan tidak mau mengikuti Dia karena adanya sejengkal rumput hijau didepan mata. Mungkin juga ada domba-domba lain yang ingin menemukan padang rumput dengan usaha sendiri. Domba- domba yang sedemikian sudah mengabaikan rasa takut kepada si Gembala. Orang-orang semacam itu mungkin yakin bahwa kebahagiaan dapat ditemukan melalui kesuksesan, kekayaan, kemasyhuran yang dicapai dengan segala cara, termasuk cara-cara yang tidak jujur atau melanggar hukum.

Hari ini, dalam memikirkan apakah harapan apa yang terbaik untuk orang-orang yang kita kasihi dan untuk kita sendiri pada tahun yang akan datang ini, biarlah kita tidak ragu untuk berharap agar semua orang bisa menumbuhkan rasa takut akan Tuhan kita yang mahakuasa, mahatahu, mahakasih dan mahabijaksana. Dengan itu tahun yang baru bisa diisi dengan keyakinan bahwa Tuhan akan menyertai kita.

Dalam badai nama Tuhan harus tetap dipermuliakan

“Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.” Yohanes 9: 4

Saat ini perayaan Natal telah lewat, dan sekalipun hiasan Natal tetap dipasang sampai datangnya tahun baru, bagi banyak orang suasana perayaan tahun ini terasa sederhana, dan bahkan agak sepi, karena adanya pandemi. Semua orang merasakan perbedaan tahun ini dengan tahun-tahun yang lalu, dan merasa was-was menanti datangnya tahun yang baru.

Bagi banyak orang Kristen, hidup sesudah perayaan Natal biasanya tidaklah banyak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Kecuali jika ada rencana baru, seperti pindah rumah, pindah sekolah atau ganti pekerjaan. Memang pada umumnya manusia menyukai hidup yang teratur, yang bisa diterka. Jika lebih dari itu, tingkat stres mungkin meningkat dan bisa mengurangi ketenteraman hidup mereka. Tetapi, saat ini siapakah yang menerka apa yang akan terjadi di tahun 2021? Siapakah yang bisa yakin bahwa tahun depan keadaan dunia akan menjadi normal kembali?

Adalah sangat menarik bahwa Yesus memerintahkan pengikutNya untuk bekerja di ladangNya. Perintah ini bukanlah anjuran atau sekedar pilihan, tetapi adalah keharusan. Sebuah Amanat Agung untuk semua orang Kristen agar dilakukan dengan sebaik-baiknya. Hujan atau tidak, kita harus tetap mau menabur benih fiman Tuhan.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” Matius 28: 19

Walaupun demikian, keadaan yang tidak menentu sekarang ini jelas berpotensi mengganggu pekerjaan Tuhan. Gereja dan orang Kristen di seluruh dunia saat ini mengalami kesulitan untuk melaksanakan ibadah yang semestinya. Banyak gereja yang sampai saat ini tetap harus mengadakan kebaktian secara online, dan banyak jemaat yang belum berani untuk ke gereja. Dengan demikian, banyak gereja yang mengalami kesulitan dalam hal biaya. Sebagai akibatnya, banyak umat Kristen yang hidup dalam kekurangan atau penderitaan tidak dapat menerima bantuan atau perhatian yang cukup.

Apa yang bisa kita rencanakan dalam suasana prihatin saat ini? Bagaimana kita bisa mengabarkan Injil dan melayani sesama jika kita tidak tahu apa yang akan terjadi tahun depan? Sebagai orang beriman, kita tentu sadar bahwa Tuhan tidak menghendaki umatnya menderita. Tuhan tidak pernah mencobai anak-anakNya. Walaupun demikian, Tuhan terkadang memperbolehkan sesuatu yang tidak nyaman untuk memberi peringatan agar kita tetap mau berjalan menurut firmanNya. Semua yang terjadi di dunia ini adalah sesuai dengan rencanaNya. Karena itu, sebagai orang percaya kita harus tetap bisa memancarkan terang Kristus di tengah kegelapan dunia.

Hari ini kita diingatkan bahwa tidak cukup bagi kita untuk merayakan Natal dan mensyukuri keadaan kita sendiri sebagai manusia yang sudah diselamatkan. Perintah Tuhan agar kita bisa mengasihi sesama kita menuntut dedikasi hidup untuk membawa kabar keselamatan kepada seisi dunia dalam situasi apa pun. Memang mungkin kita tidak dapat berpartisipasi sepenuhnya dalam kegiatan gereja di saat ini, tetapi kita harus berusaha semaksimal mungkin, selama kita masih bisa dan selama kesempatan kita masih ada, untuk memasyhurkan nama Tuhan dalam apa yang bisa kita kerjakan hari demi hari, sekalipun itu tidak mudah dilakukan. Dengan demikian, makin banyak orang disekitar kita yang mendapat kesempatan untuk mengenal Tuhan yang sudah memperbarui hidup kita.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Natal menghilangkan ketakutan

Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?” Markus 4: 41

Hari ini hari Natal, hari dimana kita memperingati kelahiran Yesus Kristus. Selamat hari Natal!

Kelahiran Tuhan Yesus di dunia adalah sesuatu yang sudah direncanakan Allah jauh bertahun-tahun sebelum hal itu terjadi. Kitab Perjanjian Lama penuh dengan berbagai ayat yang menyebutkan tentang kedatangan si Juruselamat itu. Walaupun demikian, ketika Yesus dilahirkan, tidak ada orang yang menduga bahwa bayi yang lemah, yang lahir dalam palungan, adalah Anak Allah, Mesias, yang sudah dinantikan umat Israel.

Hanya melalui petunjuk Allah, sejumlah manusia langsung tahu bahwa Mesias sudah datang. Yusuf dan Maria, para gembala, orang Majus, dan Simeon adalah sebagian orang yang tahu akan hal itu. Namun orang lain, termasuk murid-murid Yesus, membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum mengenali bahwa Yesus adalah Mesias. Mereka tahu bahwa Yesus adalah orang yang baik dan suka menolong orang lain, mempunyai kharisma dan pengetahuan yang luar biasa, tetapi mereka tidak tahu atau yakin bahwa Ia adalah Anak Allah.

Kita yang merayakan hari Natal setiap tahun, sudah tentu tidak pernah bertemu dengan Yesus secara jasmani. Yesus sekarang di surga, sedang kita masih di dunia. Semua orang yang merayakan hari Natal dengan alasan apapun, hanya mendengar tentang kelahiran Yesus dari orang lain atau membaca kisahnya dari buku atau sumber-sumber lain. Sebagian kecil manusia mungkin pernah memperoleh pengelihatan atau penglihatan tentang Yesus, tetapi semua itu tidaklah sempurna. Walaupun demikian, kita saling mengucapkan “Selamat Hari Natal” karena kita percaya bahwa kelahiran Yesus seharusnya membawa kebahagiaan bagi mereka yang percaya.

Adalah mudah bagi semua orang untuk menyadari bahwa Yesus adalah tokoh yang besar pada zamanNya, guru yang baik, orang yang mempunyai rasa sosial yang besar dan memiliki etika yang tinggi. Bukan hanya orang Kristen saja yang mengakui hal-hal itu, orang yang beragama lain pun percaya bahwa Yesus adalah orang baik. Tetapi, tidak semua orang tahu atau mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan, bahwa Ia dan Bapa adalah satu.

“Aku dan Bapa adalah satu.” Yohanes 10:30 6

Dengan demikian, adalah sesuatu yang menyedihkan kalau mereka yang sudah mendengar bahwa Yesus yang lahir sebagai manusia biasa, tidak dapat mengerti bahwa Ia bukan manusia biasa, tetapi Tuhan yang mahakuasa.

Kitab Markus 4 menceritakan bahwa para murid bersama Yesus ada dalam sebuah perahu di danau Galilea. Saat itu Yesus sedang tidur di buritan ketika angin ribut datang. Murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Yesus kemudian bangun, menghardik angin itu. Lalu angin itu reda dan danau menjadi teduh sekali. Para murid tidak menyangka bahwa Yesus mempunyai kuasa sebesar itu. Mereka menjadi sangat takut akan kuasa Tuhan yang dinyatakan di hadapan mereka.

Pagi ini kita diingatkan bahwa bagaimanapun besarnya persoalan hidup yang kita hadapi, kita harus yakin bahwa Yesus yang pernah lahir sebagai manusia bukanlah manusia biasa. Karena itu kita tidak perlu mengeluh mengapa Ia membiarkan kita bergumul dengan penderitaan dan persoalan kita pada saat pandemi ini. Yesus adalah Tuhan yang tahu keadaan kita, dan dengan kasihNya pasti mengulurkan tanganNya pada saat yang tepat.

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”Markus 4: 40

Hari Natal mengingatkan pentingnya untuk lebih mengenal Tuhan

“Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.” Ibrani 5: 12

Esok adalah hari Natal, hari libur nasional di banyak negara. Berbagai hiasan Natal mungkin sudah dua minggu tergantung di rumah mereka yang merayakan, barangkali sampai datangnya tahun baru. Bagi banyak orang, datangnya hari Natal dan tahun baru membawa kesan seolah waktu sudah berjalan dengan cepat. Lebih cepat dari tahun sebelumnya.

Berapa kali anda sudah pernah merayakan hari Natal? Adakah perbedaan antara perayaan-perayaan Natal yang pernah anda alami? Secara umum, tentu saja ada perbedaan perayaan Natal tahun ini jika dibandingkan dengan tahun kemarin karena adanya pandemi Covid-19. Mungkin sebagian orang merasa sedih bahwa Natal tahun ini tidak dapat dirayakan bersama dengan orang-orang yang kita kenal atau kasihi.

Sekalipun bagi kita pribadi tidak ada perbedaan yang mencolok antara Natal tahun ini dengan tahun sebelumnya, tentu ada beda perayaan Natal kali ini dengan perayaan sepuluh tahun yang lalu, jika kita bisa mengingatnya. Ataukah masih tidak bisa dibedakan? Bagaimana jika dibandingkan dengan dua puluh tahun yang lalu?

Ayat diatas menunjuk kepada perubahan yang seharusnya terjadi dalam kehidupan rohani umat Kristen dengan bertambahnya waktu. Natal seharusnya adalah waktu yang tepat untuk memikirkan adakah kemajuan rohani kita selama setahun yang telah lewat. Adakah kemajuan dalam iman dan pengabdian kita kepada Tuhan selama sepuluh tahun terakhir? Ataukah kita justru mengalami kemunduran?

Pandemi yang terjadi pada tahun ini sudah membuat banyak orang menjadi lemah secara jasmani maupun rohani. Adanya PSBB, keharusan memakai masker, menjaga jarak, bekerja dari rumah dan bahkan isolasi mandiri memang bisa membuat banyak orang Kristen yang merasa tertekan dan mundur dari iman mereka. Mereka tidak dapat mengerti mengapa Tuhan yang mahakasih bisa membiarkan umatNya mengalami penderitaan seperti ini. Sebaliknya, jika kita teguh dalam iman, kita tidak akan lupa bahwa Tuhan yang mahakuasa tidak mungkin kehilangan kontrol atas seisi alam semesta. Apa yang sudah terjadi, sekalipun tidak kita mengerti, pastilah terjadi dengan seizinNya dan untuk menggenapi rencanaNya.

Pagi ini kita semua diingatkan bahwa seberapa kali kita merayakan hari Natal, sebanyak itulah kita harus tumbuh dalam iman dan pengetahuan tentang Tuhan kita. Adalah menyedihkan jika mereka yang sudah lama mengenal nama Yesus, belum mau mempersilahkan Roh Kudus untuk membimbing mereka agar bisa mengenal Tuhan yang mahakasih dan mahakuasa dengan lebih baik, dan untuk makin mengerti apa yang sudah difirmankanNya. Adalah ironi jika kita yang sudah lama nenjadi orang Kristen masih belum juga dapat menjadi contoh iman yang kuat dalam menghadapi gelombang kehidupan. Biarlah Natal yang kita rayakan tahun ini bisa menjadi stimulus pertumbuhan rohani kita!

Sukacita ada untuk mereka yang membutuhkan

“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Lukas 2: 14

Pekan ini adalah pekan Natal. Banyak pekerja FIFO (fly-in, fly-out) di Australia yang sudah pulang ke kampung halaman mereka. Pekerja FIFO umumnya adalah pekerja tambang kontrakan yang tidak menetap dekat tempat kerjanya, tetapi terbang ke tempat itu dari berbagai kota untuk bekerja selama beberapa minggu di tambang sebelum terbang kembali pulang untuk berlibur beberapa hari. Bagi mereka yang sudah berkeluarga, kontrak pekerjaan untuk beberapa tahun tentunya dirasakan berat oleh pasangan dan anak-anak mereka. Tetapi, demi gaji yang cukup besar, banyak orang mau menjadi karyawan FIFO. Kesempatan untuk menikmati liburan Natal dan Tahun Baru tentunya disambut keluarga dengan gembira.

Walaupun hari Natal adalah hari peringatan kelahiran Yesus dan karena itu biasanya disambut dengan rasa sukacita, bagi sebagian orang hari itu seolah mengingatkan mereka akan kesendirian atau penderitaan yang mereka alami. Hari Natal dengan demikian bisa membuat banyak orang mengalami kesepian dan depresi, terutama mereka yang melihat orang lain bisa berbahagia, sedangkan mereka sendiri berada dalam penderitaan. Apa yang tidak mereka sadari adalah bahwa mereka yang kelihatannya bersuka-ria, belum tentu benar-benar berbahagia. Lepas hari Natal dan tahun baru, jika semua pesta dan makan-minum sudah berakhir, setiap orang harus menghadapi tantangan hidupnya lagi.

Alkitab menyatakan bahwa bagi Maria dan Yusuf, kelahiran Yesus bukanlah suatu hal yang bisa disambut dengan kegembiraan seperti layaknya ketika orangtua menyambut kelahiran bayi pertama. Perjalanan yang jauh dengan keledai dan tidak adanya tempat penginapan yang layak, adalah sebagian kesulitan yang mereka alami. Seperti apa yang terjadi pada zaman ini, jika dukungan sanak keluarga dan biaya tidak tersedia, orang harus berusaha untuk bisa bertahan dengan apa yang ada. Walaupun demikian, Maria dan Yusuf tahu bahwa kelahiran Yesus adalah membawa sukacita yang besar bagi umat manusia. Mereka, orang-orang sederhana itu, bersukacita karena Yesus adalah bayi yang istimewa, Anak Allah yang turun ke dunia.

Siapakah orang-orang lain yang diberikan kesempatan pertama oleh Tuhan untuk menerima kabar sukacita itu? Bukannya mereka yang kaya-raya dan raja-raja yang berkuasa, tetapi gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tuhan kita ternyata bukanlah Tuhan yang pro mereka yang ada di posisi enak, tetapi mengutamakan mereka yang lemah dan tertindas. Bagi mereka yang berkenan kepadaNya, Tuhan Yesus akan memberi damai sejahtera.

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Lukas 4: 18 – 19

Pagi ini, bagaimana perasaan anda dalam menyambut perayaan Natal minggu ini? Biasa saja? Atau penuh dengan pengharapan? Adakah persoalan berat yang sedang anda hadapi? Ataukah anda merasa hidup anda sudah sangat beruntung? Apapun keadaan anda dalam suasana pandemi COVID-19 ini, Yesus datang untuk memberikan damai sejahtera bagi mereka yang menyadari bahwa perlunya seorang Juruselamat untuk menebus dosa mereka. Mereka yang sadar bahwa kasih Tuhan begitu besar hingga mengurbankan AnakNya yang tunggal, dan karena itu mau hidup menurut firmanNya, adalah orang-orang yang paling berbahagia dalam menyambut hari Natal ini.

Dalam penderitaan, nama Yesus tetap dipuji

“Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” Filipi 1: 29

Sebuah peribahasa yang berbunyi “Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak” mungkin cocok untuk keadaan saat ini. Baru saja kita memasuki tahun 2020, pandemi Covid-19 terjadi. Sejak saat itu suasana dunia menjadi kacau-balau. Sedih rasanya. Siapakah orang yang mau menderita? Tentunya tidak ada seorang pun yang mau. Memang, dalam merayakan Natal orang biasanya memilih untuk bergembira dan berpesta sekalipun kurang mengerti makna hari istimewa itu. Sekarang, semua ini tidak dapat dilakukan. Hari Natal tahun ini harus dirayakan dengan cara sederhana dan berhati-hati untuk menghindari penularan virus corona.

Hari Natal yang pertama sungguh berbeda dengan hari Natal yang diharapkan orang di zaman ini. Pada waktu Yesus dilahirkan, keadaan disekelilingnya sangat sederhana, untuk tidak dikatakan prihatin. Yesus dilahirkan di kandang hewan dan ditidurkan dalam sebuah palungan. Tidak di sebuah rumah sakit atau gedung mewah. Tetapi kelahiran yang terlihat hina di mata manusia itu memang direncanakan Allah, agar semuanya membawa kenangan yang tidak bisa terlupakan di segala zaman.

Kelahiran seorang Juruselamat yang merupakan kedatangan Tuhan untuk menebus dosa manusia, adalah sesuatu yang sulit dipercaya manusia. Berbeda dengan pesta-pesta Natal yang diadakan manusia di seluruh dunia, yang berita atau fotonya biasanya disebarkan dan dipantau dari seluruh dunia lewat berbagai media. Kelahiran Tuhan di dunia yang sederhana adalah tanda kebesaran kasih Tuhan kepada manusia di dunia. Sebaliknya, perayaan dan acara Natal yang dirindukan manusia seringkali adalah tanda kebesaran dan kepentingan manusia.

Kelahiran Yesus sebenarnya bisa terjadi dalam suasana yang nyaman dan bahkan mewah, sama dengan dan bahkan lebih mewah dari perayaan Natal apapun yang dilakukan manusia di zaman ini. Tetapi, kelahiran Yesus dalam suasana prihatin itu adalah permulaan dari pengurbanan dan penderitaan Anak Allah di dunia untuk menebus dosa manusia yang berdosa. Sekali pun hal ini adalah sulit untuk diterima oleh pikiran manusia, kepada orang-orang yang dipilihNya Tuhan sudah memberi pengertian akan hal itu.

Ayat di atas menjelaskan bahwa mereka yang sudah dikaruniai kepercayaan atau iman kepada Yesus, juga diberi karunia tambahan, yaitu untuk bisa menderita bagi Dia. Ini berarti bahwa seperti Yesus, kita yang sudah terpilih menjadi umatNya kemudian akan mampu menghadapi penderitaan dunia dalam menjalani hidup ini untuk membesarkan namaNya. Lebih dari itu, sebagai pengikut Kristus, kita tidak lagi tertarik untuk mencari kebahagiaan duniawi yang semu, tetapi kebahagiaan abadi didalam Dia.

Mengikut Kristus tidak berarti bahwa hidup kita di dunia ini akan dipenuhi kemewahan, kenyamanan, kesuksesan, kesehatan yang prima dan kemegahan. Sebaliknya, sebagai anak-anak Tuhan kita seringkali menghadapi berbagai tantangan, seperti kesedihan, kekurangan, kesepian, penyakit dan masalah. Sebagai pengikut Yesus kita juga bisa merasakan penderitaan orang-orang di sekitar kita.

Pagi ini, marilah kita meneliti hidup kita, terutama dalam menantikan datangnya hari Natal. Hanya karena kasih Tuhan, semua hal yang kurang nyaman sekarang ini justru akan bisa membawa kita lebih dekat kepadaNya. Kita bisa merasakan adanya karunia keselamatan karena iman kepada Yesus. Tetapi apakah kita juga merasakan adanya karunia untuk menderita bagi kemuliaanNya?