Tuhan adalah mahakasih

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38

Tahun 2019 hampir berakhir dan tahun 2020 tidak lama lagi akan datang. Hari-hari mendatang adalah hari-hari terakhir yang bisa dipakai orang untuk mencapai target atau harapan yang pernah ditetapkannya pada awal tahun 2019. Pada pihak yang lain, hari-hari yang tersisa dari tahun ini, bagi sebagian orang, adalah hari-hari yang bisa dinikmati sesudah menyelesaikan kewajiban yang ada. Hari-hari yang bisa dipakai untuk berlibur atau beristirahat sebelum memasuki tahun baru dan menjalankan tugas-tugas baru. Semua itu adalah baik, karena sejak penciptaan manusia diberi pengertian akan pentingnya bekerja dan beristirahat.

Awal minggu ini, sebuah kapal pesiar berpenumpang sekitar 6000 orang mengunjungi sebuah tempat di Selandia Baru.  Saat dimana sebuah kapal berhenti dan penumpangnya bisa mendarat adalah saat gembira. Sekitar 50 penumpang kemudian mengikuti sebuah tour lokal untuk melihat sebuah kawah gunung berapi. Diantara mereka ada yang pergi bersama keluarga dan ada juga yang bersama teman-teman seusia. Malang tak dapat ditolak, gunung berapi yang dulunya tidur, tiba-tiba meletus tanpa tanda-tanda peringatan. Sebagai akibatnya, banyak orang yang luka berat dan beberapa orang sudah dinyatakan tewas akibat semburan pasir dan uap panas. Hal yang sangat menyedihkan, terutama karena itu terjadi menjelang hari Natal.

Bagi banyak orang, suasana gembira yang tiba-tiba menjadi suasana duka membawa pertanyaan mengapa semua itu harus terjadi. Apakah salah mereka sehingga menemui kemalangan yang begitu besar? Mengapa Tuhan membiarkan malapetaka semacam itu terjadi? Apakah Tuhan yang menyebabkan semua itu? Bagi mereka yang tidak atau kurang mengenal sifat hakiki Tuhan yang tidak hanya mahakuasa, tetapi juga mahakasih, sudah tentu ini bisa menjadi suatu pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Sebagai Tuhan yang mahakuasa, Ia berhak melakukan atau tidak melakukan apa saja, sesuai dengan kehendakNya. Tetapi, jika Ia adalah Tuhan yang mahakasih, Ia tentunya bukan penyebab malapetaka.

Dalam Alkitab, kita bisa membaca bahwa Tuhan yang mahakuasa sudah tentu bisa menghindarkan manusia dari bencana. Itu dilakukanNya pada bani Israel ketika mereka dikejar tentara Firaun dan terpojok di pinggir laut. Lebih dari itu, Tuhan juga pernah melindungi orang lain dari berbagai bencana, sekalipun mereka bukan orang Israel atau umatNya. Yesus dan murid-muridNya juga menyembuhkan banyak orang yang sakit tanpa memikirkan apakah mereka pantas untuk ditolong. Dengan demikian, jika kita melihat adanya bencana, pertama-tama kita harus ingat bahwa Tuhan yang mahakuasa, mahakasih dan mahabijaksana tentunya bukan Tuhan yang kejam.

Ayat diatas menyatakan bahwa dalam keadaan apa pun, apa yang harus kita pegang sebagai prinsip utama adalah bahwa Tuhan itu kasih. Dengan mengingat kasihNya, kita akan dapat menghadapi segala tantangan kehidupan dengan keberanian. Dengan mengingat kasihNya, kita juga percaya bahwa Tuhan mengasihi seisi dunia dan bukan hanya umatNya.  Kasih Tuhan sebenarnya sudah diperlihatkanNya ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam bencana besar akibat dosa. Adam dan Hawa diusir dari taman Firdaus dan hidup manusia sejak saat itu menjadi hidup yang penuh bahaya dan tantangan.  Walaupun demikian, Tuhan menjanjikan datangnya seorang Juruselamat yang akan menyelamatkan keturunan mereka. Janji Tuhan ini sudah ditepati dengan kedatangan Yesus ke dunia di hari Natal.

Pagi ini, jika hati anda gundah karena apa yang terjadi di sekitar anda, janganlah hati anda menjadi kecil. Tuhan bukanlah oknum Ilahi yang karena kemahasucian dan kemahakuasaanNya bertindak dengan semena-mena. Sebaliknya, Tuhan menghendaki setiap orang agar mau menyerahkan hidup dan masa depan mereka kepada Tuhan yang mempunyai rencana yang baik untuk seluruh umat manusia, yaitu untuk memberikan keselamatan yang kekal kepada mereka yang mau menerima kasihNya yang dinyatakan dalam diri AnakNya, Yesus Kristus.

Natal mengingatkan kita bahwa Tuhan itu dekat

“Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi!” Yakobus 5: 13

Hari Natal adalah hari peringatan akan kelahiran Tuhan Yesus. Hari yang akan dirayakan sebagai hari gembira karena datangnya Sang Juruselamat lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Bagi mereka yang bukan orang Kristen pun, hari Natal adalah hari yang biasanya disambut dengan rasa senang.  Bagi mereka yang mempunyai keluarga atau teman dekat, hari itu mungkin bisa dirayakan bersama-sama. Mereka yang sering ke gereja mungkin sudah merencanakan untuk hadir dalam kebaktian khusus hari Natal. Tetapi, banyak juga orang yang jika ditanya, menjawab bahwa mereka tidak mempunyai rencana khusus untuk merayakan Natal. Mungkin karena mereka jauh dari keluarga, tidak mempunyai sanak atau teman, atau sedang berada dalam keadaan yang kurang menyenangkan. Bagi mereka, Natal justru bisa mendatangkan kesedihan.

Mereka yang beriman, seharusnya bisa membayangkan bahwa Tuhan yang ada di surga adalah Tuhan yang sebenarnya ingin untuk dekat dengan ciptaanNya. Keselamatan yang direncanakanNya sudah dilaksanakan sejak mulanya dengan mendatangkan AnakNya ke dunia. Yesus yang turun ke dunia adalah Tuhan sendiri yang berwujud manusia, dan dengan pengurbananNya sudah menjembatani hubungan antara Allah Bapa dan umatNya. Allah tidak lagi oknum yang jauh di sana, tetapi adalah Bapa dari orang percaya. Lebih dari itu, sesudah Yesus naik ke surga, Roh Kudus diberikanNya kepada semua pengikutNya guna memberikan penghiburan, bimbingan dan keberanian untuk menghadapi segala tantangan hidup di dunia. Dengan demikian, kehadiran Tuhan  seharusnya makin terasa dalam hati umatNya ketika hari Natal mendatangi.

Mengapa Tuhan yang seharusnya dekat masih terasa jauh di sana? Itulah pertanyaan yang sering diucapkan setiap orang yang merasa bahwa mereka harus menghadapi hidup ini sendirian. Bagi setiap orang percaya, ini adalah pertanyaan yang seharusnya bisa dijawab. Karena Tuhan sudah menunjukkan kasihNya melalui kelahiran Yesus, adalah kenyataan bahwa Ia ingin menyertai setiap umatNya. Jika kehadiran Tuhan tidak kita rasakan dalam hidup kita, itu adalah karena kita sendiri yang belum membuka hidup dan hati kita untuk Dia.

Ayat di atas menyatakan bahwa sebagai orang percaya kita harus mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan. Ini haruslah dilakukan setiap saat, dan bukan hanya jarang-jarang saja. Jika kita menderita, baiklah kita berdoa kepada Tuhan; jika kita bergembira baiklah kita memuji Dia. Kebiasaan yang baik ini haruslah selalu dipertahankan sekalipun hidup kita terasa sibuk sepanjang tahun. Tuhan yang datang ke dunia sebagai manusia adalah Tuhan yang bisa merasakan suka-duka kita dan Tuhan yang mau dekat dengan kita. Yesus adalah sobat yang setia dalam keadaan apapun.

Mungkin pada saat-saat yang lalu kita sering mengalami kesusahan. Mungkin penderitaan yang kita alami membuat kita merasa bahwa Tuhan pun tidak dapat menolong kita. Dengan keadaan sedemikian, kita mungkin merasa bahwa doa kita tidak ada gunanya. Pada pihak yang lain, mungkin saja selama ini hidup kita cukup lancar dan kita merasa itu sudah sewajarnya. Kita sudah berusaha hidup baik dan bekerja keras, dan sudah sepatutnya kita memperoleh keberhasilan. Dengan itu mungkin kita lupa untuk memuji Dia. Sekalipun Tuhan ada di dekat kita, Dia sudah menjadi Tuhan yang diabaikan. Dengan demikian, tidaklah mengherankan bahwa lambat laun  hubungan kita dengan Tuhan menjadi renggang atau hambar.

Hari Natal sudah dekat, tetapi getaran hati kita untuk menyambut hari kelahiranNya mungkin tidak terasa. Hari Natal mungkin sudah menjadi hari yang tidak ada artinya secara spritual.  Tuhan yang sudah kita abaikan hari demi hari tidak akan terasa dekat sekalipun lagu-lagu Natal mulai menggema. Hubungan yang renggang sepanjang tahun tidak akan membuat kita sadar bahwa Ia sudah datang untuk kita, agar kita tidak merasa seorang diri dalam hidup di dunia. Hanya dengan mengubah hidup kita untuk dekat kepadaNya dalam setiap saat dan keadaan, dalam duka maupun suka, kita akan dapat mengerti kasih dan penyertaan Tuhan sepanjang hidup kita.

Kasih Allah sudah menghilangkan kegelapan

“..:oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.” Lukas 1: 78 – 79

Di Australia, sekarang ini adalah musim panas. Karena itu tidak ada Natal yang bersalju seperti di Amerika. Berbeda dengan Indonesia, Australia terletak jauh di bawah garis khatulistiwa (equator). Pada musim panas matahari yang berada di belahan selatan bumi muncul pagi sekali, sebelum jam 5 pagi.

Bagi orang yang harus berangkat bekerja di dini hari, adanya sinar matahari adalah sangat membantu; berbeda dengan keadaan di musim dingin, dimana mereka harus berangkat menuju tempat pekerjaan sewaktu masih gelap karena matahari pada waktu itu ada di belahan utara dunia.

Sekalipun adanya musim dingin di Australia dapat dirasakan, itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan suasana di tempat-tempat yang dekat kutub bumi. Karena jauhnya dari posisi matahari, tempat seperti Alaska bisa mengalami kegelapan sampai 2 bulan setiap tahunnya.

Keadaan bumi sebelum adanya matahari dapat dibayangkan seperti musim dingin di Alaska. Gelap dan dingin. Keadaan serupa dapat dibayangkan untuk dunia jika manusia tidak mengenal Tuhan. Kegelapan dosa akan meliputi tempat dimana manusia merasa bebas untuk melakukan apa saja yang diingininya. Kejahatan, kekejian, kebohongan, ketamakan dan berbagai perbuatan asusila bisa muncul jika manusia tidak takut akan Tuhan. Dalam sepanjang sejarah, ini bisa terjadi di negara atau tempat mana pun.

Bagaimana reaksi Tuhan ketika Ia pada saat penciptaan melihat kegelapan yang menguasai alam semesta? Ia menciptakan matahari, bulan dan bintang untuk mengusir kegelapan. Bagaimana pula reaksiNya ketika Ia melihat kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa? Tuhan yang tahu bahwa karena dosa satu orang, seisi dunia akan dikuasai oleh kegelapan rohani, sudah dari awalnya mempunyai rencana untuk mendatangkan AnakNya untuk menerangi dunia.

Dalam ayat di atas, seorang imam yang bernama Zakharia yang menjelaskan apa yang akan terjadi pada hari Natal yang pertama. Bahwa oleh rahmat dan belas kasihanNya, Allah akan menilik manusia yang mengalami kegelapan rohani. Surya pagi dari tempat yang tinggi, yaitu Yesus Kristus, akan datang untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan hidup mereka kepada jalan damai sejahtera.

Pagi ini kita diingatkan bahwa apa yang dilakukan Allah dua ribu tahun yang lalu, masih tetap dilakukanNya sampai sekarang karena kasihNya tidak pernah berkurang. Karena itu, jika kita sekarang merasa bahwa hidup kita terisi kesedihan, kekosongan, dosa atau kekecewaan, masih ada kesempatan bagi kita untuk menyambut rahmat dan belas kasihan Allah untuk mengusir kegelapan yang selama ini menguasai kita. Dengan sinar kasih Yesus Kristus yang datang ke dunia, kita bisa hidup dalam damai dan sejahtera yang dianugerahkan oleh Allah yang mahamulia.

Sebab Allah yang telah berfirman: “Dari dalam gelap akan terbit terang!”, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. 2 Korintus 4: 6

Jangan salahkan keadaan, orang lain atau Tuhan

“Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” Yakobus 1: 14

Salah satu pekerjaan yang tidak mudah dilaksanakan di Australia ialah profesi pembela dalam sebuah pengadilan. Pada dasarnya, hukum yang ada memberikan kesempatan kepada seorang tertuduh untuk membela diri dengan bantuan seorang atau sebuah tim pembela.

Dalam hal ini, seorang terdakwa umumnya berusaha mencari segala alasan yang bisa dipakai untuk menyatakan bahwa dirinya sebenarnya tidak bersalah. Itu mungkin bisa dilakukan dengan memakai berbagai alasan, termasuk berbohong dan mempersalahkan orang lain atau keadaan. Dengan itu, memang ada kalanya orang yang sebenarnya bersalah bisa menerima pembebasan.

Dalam kenyataannya, pembela yang hebat memang bisa menggunakan segala bukti dan alibi yang dapat memperkecil hukuman dan bahkan membebaskan terdakwa dari hukuman. Dengan demikian, seorang tertuduh yang kaya bisa saja memilih pembela atau tim pembela yang top.

Di hadapan Tuhan yang mahatahu, orang tentunya tidak dapat berbohong atau mempersalahkan orang lain jika ia memang bersalah. Tetapi, banyak juga orang yang menyalahkan Tuhan atas keadaan yang dialaminya. Banyak orang yang marah kepada Tuhan karena Ia seolah membiarkan mereka untuk berbuat dosa. Bukankah sebagai Tuhan Ia mampu menjauhkan manusia dari dosa? Mungkin Tuhan sudah menentukan manusia untuk berbuat dosa!

Ayat di atas dengan jelas menegaskan bahwa manusia tidak dapat mempersalahkan keadaan, orang lain atau Tuhan yang berkuasa sebagai penyebab dosa. Tuhan yang mahasuci tidak pernah berbuat jahat atau menjatuhkan manusia ke dalam dosa. Tuhan yang mahakasih tidak mendatangkan dosa untuk manusia. Tetapi tiap-tiap orang mempunyai kebebasan dan tanggung jawab sendiri atas hidup dan perbuatannya. Manusia berbuat dosa dengan melanggar perintah dan hukum Tuhan.

Mereka yang hidup dalam dosa masih mempunyai harapan jika mau bertobat. Itu karena Yesus sudah datang sebagai pembela mereka yang bertobat dan percaya kepadanya (Kisah Para Rasul 2: 38). Tetapi, mereka yang berdalih dan berusaha melemparkan tanggung jawabnya ke orang lain atau kepada Tuhan tidak akan bisa memperoleh pengampunanNya. Bagi mereka pertobatan adalah sulit untuk dilakukan karena mereka tidak pernah merasa bersalah. Bagi mereka pengampunan dari Tuhan yang mahakasih tidak akan ada.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.” 1 Yohanes 1: 9 – 10

Hal mata duitan

“Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya.” Pengkhotbah 5: 10

Masih teringat saya akan pelajaran bahasa Inggris yang saya ikuti pada saat saya belajar di universitas. Pada pagi itu saya sedang duduk diruang kuliah bersama  teman-teman sekelas. Kemudian beberapa murid diminta pak dosen untuk membuat sebuah kalimat dengan memakai kata-kata tertentu. Kebetulan saya ditunjuk untuk membuat kalimat yang dimulai dengan “There is nothing .., but …” atau “Tidak ada hal yang…, kecuali …”. Entah saya mendapat ilham dari mana, tetapi langsung saya menulis di papan tulis “There is nothing that can make me happy, but money” yang artinya “Tidak ada yang bisa membuat saya bahagia, kecuali uang”. Pak dosen pada waktu itu dengan tersenyum langsung memanggil saya “money lover” alias “pecinta uang”.

Jika saya teringat akan kejadian itu, mau tidak mau saya merasa geli. Itu karena saya hanya berpura-pura menjadi pecinta uang. Tetapi, jika saya memang seorang mata duitan, mungkin saya bisa merasa dipermalukan. Ataukah justru sebaliknya, saya akan merasa bangga?

Pada zaman ini kelihatannya orang yang mampu mengumpulkan uang banyak biasanya sangat bangga dengan kemampuannya. Mereka yang cinta uang seringkali dengan tidak ragu-ragu mendemonstrasikan apa yang dipunyainya. Barangkali rumah besar, mobil mewah dan pakaian yang buatan luar negeri sudah tidak perlu dibanggakan lagi karena sudah biasa dipakai mereka yang kaya. Bagaimana pula dengan moge dan sepeda mewah? Itupun terasa biasa bagi mereka yang bisa membeli tanpa mengedipkan mata. Lalu apa lagi yang masih bisa dibeli atau dipamerkan?

Ayat diatas menyebutkan bahwa orang yang mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Itu benar. Kepuasan yang didapat melalui harta selalu tidak akan bertahan lama. Mereka yang mencintai uang selalu mencari apa yang lebih memikat dari apa yang sudah dimilikinya. Karena itu, mereka berusaha mencari apa yang lebih besar, apa yang lebih hebat dan apa yang tidak dipunyai orang lain, sekalipun itu mungkin harus melalui jalan yang salah.

Cinta uang memang sering mendorong orang untuk melakukan kejahatan. Mungkin mereka melakukannya tanpa menyadari apa yang bisa menjadi akibatnya. Hanya ketika berbagai masalah timbul karena keserakahannya, orang mungkin akan menyadari bahwa apa yang jahat di mata Tuhan akhirnya akan membawa berbagai duka.

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 10

Jangan malu atau ragu dalam mengabarkan Injil

“Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu” 2 Timotius 2: 15

Baru-baru ini saya membeli sebuah baterai yang bisa diisi ulang dari sebuah penjual di luar negeri melalui internet. Baterai ini diiklankan dengan garansi 3 tahun, namun setelah 6 bulan sudah mati dan tidak bisa dipakai lagi. Saya berusaha menghubungi si penjual, tetapi pesan saya tidak pernah mendapat sambutan. Si penjual mengabaikan permintaan saya untuk mengembalikan uang saya. Dengan rasa kesal, saya kemudian menulis surat ke forum pembeli dan memperingatkan orang lain untuk berhati-hati dan jangan terjebak dalam masalah yang sama. Seorang pembaca forum yang membaca surat saya menanggapinya dengan sarkastik dan mengajukan pertanyaan apa gunanya saya mengingatkan orang  lain, jika saya tidak membaca peringatan orang lain mengenai hal yang serupa sebelum membeli.  Pertanyaan yang sederhana, dan agak berbau negatif, tetapi membuat saya berpikir dalam-dalam.

Dalam usaha mengabarkan Injil, orang Kristen sering menghadapi reaksi dunia yang dengan sarkastik mempertanyakan apa yang mendorong mereka untuk mengingatkan orang lain agar memilih cara hidup yang baik jika mereka sendiri tidak dapat sepenuhnya menjalani hidup yang tidak bercela. Bukankah Alkitab sudah mengingatkan mereka untuk menempuh hidup suci, tetapi mereka tetap saja gagal melaksanakannya? Mengapa mereka masih mengharapkan orang lain untuk mau mendengarkan pesan mereka? Orang Kristen adalah orang yang sok pandai dan munafik, begitu ujar dunia. Usaha penginjilan adalah usaha yang tidak berguna selama orang Kristen tetap terlihat sebagai orang yang kurang berpengalaman dan sering melakukan kekeliruan, begitu pendapat negatif sebagian orang.

Paulus dalam suratnya kepada rekannya yang jauh lebih muda, Timotius, mungkin melihat gejala yang serupa. Timotius karena masih muda dan belum berpengalaman, mungkin mengalami kesulitan untuk meyakinkan orang lain yang banyak makan asam-garam kehidupan tentang keselamatan dalam Kristus. Mungkin saja ada kalanya Timotius merasa ragu dan bahkan melakukan kekeliruan dalam usaha mengabarkan injil. Mungkin juga Timotius merasa malu karena adanya kelemahan dan kekurangan yang dimilikinya. Tetapi, Paulus mengingatkan Timotius bahwa sebagai pekerja Tuhan, ia tidak perlu ragu. Timotius harus tetap bekerja untuk Tuhan dalam segala ketidak-sempurnaannya, tetap berusaha untuk hidup baik yang sesuai dengan firmanNya, dan dengan jujur dan terus terang mengabarkan apa yang benar menurut firman Tuhan.

Pagi ini, adakah keraguan kita untuk mengabarkan injil kepada orang-orang di sekitar kita? Adakah rasa malu dan kuatir dalam hati kita karena adanya orang-orang yang menuduh kita munafik dan bodoh? Adakah orang-orang yang marah kepada kita karena menganggap kita menggurui mereka yang sudah lebih berpengalaman dalam hidup? Adakah keraguan dalam hati kita akan arti semua jerih payah kita jika banyak orang yang ada sebelum kita kelihatannya tidak berhasil untuk mengubah kehidupan masyarakat di sekeliling kita?

Firman Tuhan berkata bahwa sebagai seorang pekerja yang baik, kita hanya melakukan apa yang diminta oleh majikan kita. Kita harus tetap mau berusaha untuk hidup lebih baik dan bekerja lebih giat untuk menyampaikan kebenaran Tuhan tanpa menguatirkan apa yang akan diperbuat atau dikatakan orang lain. Tuhan sendiri yang akan menyertai kita dan Ia juga yang bekerja dalam hidup orang lain untuk menyempurnakan apa yang sudah kita lakukan.

 

Hal mendidik anak

“Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu.” Amsal 1: 8 – 9

Sejak kemarin, media Australia heboh dengan berita tentang terpuruknya tingkat pendidikan sekolah menengah di Australia. Ranking PISA (Program International Student Assessment) yang terbaru menyebutkan bahwa secara umum anak remaja Australia ketinggalan dalam hal matematik, sains dan bahasa dari anak seumur yang tinggal di Shanghai dan Singapura. Dalam hal ini, bukan saja Australia yang terpukul, tetapi juga banyak negara barat termasuk Amerika dan Inggris. Mengapa mundurnya pendidikan separah ini bisa terjadi di negara-negara yang terbilang maju dan makmur?

Pagi ini, tentu saja beberapa tokoh pendidikan Australia mendapat giliran wawancara di TV.  Mereka semua merasa terbeban dengan kemunduran pendidikan sekolah menengah dan berjanji akan berusaha memperbaikinya. Di berbagai media, banyak juga orang yang ikut berkomentar dan memberi pendapat bagaimana hal ini bisa terjadi dan bagaimana ini bisa diatasi.

Di antara komentar yang muncul, ada beberapa hal yang sangat menarik untuk di simak. Yang pertama adalah kenyataan bahwa sudah lama pendidikan anak di Australia “diperlunak” dengan alasan untuk tidak menyebabkan rasa terpukul terhadap mereka yang kurang berhasil. Guru-guru tidak dapat lagi memakai kata-kata seperti “gagal”, “tidak memenuhi syarat” atau “buruk”. Sebagai akibatnya, banyak orang yang merasa bahwa anak sekolah di zaman ini menjadi kurang serius dalam belajar. Mereka kemudian menyia-nyiakan pelajaran yang diterimanya dengan merasa puas atas hasil “asal lulus” saja.

Kesulitan yang kedua, menurut beberapa tokoh pendidikan adalah berkurangnya peranan orang tua dalam pendidikan anak-anaknya. Banyak orang tua yang karena sibuk dengan pekerjaannya, tidak mempunyai waktu untuk mendidik anak-anak mereka. Mereka menganggap bahwa pendidikan anak adalah tugas guru di sekolah.

Masalah yang ketiga ialah sulitnya mendapatkan guru-guru yang berkualitas tinggi. Adalah kenyataan bahwa di antara mereka yang masuk ke universitas untuk belajar menjadi guru, banyak yang sebenarnya terpaksa karena tidak bisa memasuki jurusan lain. Lebih dari itu, satu dari sepuluh orang yang belajar untuk menjadi guru sains misalnya, sebenarnya tidak memenuhi syarat untuk mengajar bidang itu.

Terlepas dari banyaknya kemungkinan penyebab kemunduran  pendidikan anak yang dikemukakan orang, adalah kenyataan bahwa di dunia barat peranan orang tua sudah sangat berkurang. Tambahan lagi, bentuk dan fungsi orang tua di zaman ini juga sudah berubah sehingga anak-anak mereka tidak lagi merasa perlu untuk belajar dari orangtua. Berbeda dari apa yang tertulis dalam Amsal di atas, banyak anak  di zaman ini yang mengabaikan didikan ayah dan menyia-nyiakan ajaran ibu mereka. Mereka lebih senang belajar dari teman-teman seumur. Dengan demikian, rasa hormat anak kepada orang tuanya menjadi berkurang dan orang tua mulai kehilangan pengaruh terhadap anak-anaknya.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan bahwa peranan orang tua adalah sangat besar dalam pendidikan anak-anaknya. Pendidikan bukan saja yang menyangkut pengetahuan, tetapi justru lebih penting dalam hal moral dan etika. Orang tua harus bisa memberikan bimbingan yang baik berdasarkan prinsip kasih sesuai dengan firman Tuhan agar anak-anak mereka bisa memakainya seperti sebuah karangan bunga yang indah bagi kepala mereka, dan seperti kalung bagi leher mereka. Generasi muda akan bisa belajar dari generasi sebelumnya, jika mereka bisa melihat nilai dan manfaat dari apa yang diajarkan dan dipraktikkan dalam hidup sehari-hari.

Kita termasuk marga Abraham

“Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.” Kejadian 17: 7

Menurut Wikipedia, marga atau nama keluarga (family name) menunjukkan dari keluarga mana asal usul seseorang. Marga lazim dipakai di banyak kebudayaan di dunia. Marga dalam kebudayaan Barat dan kebudayaan yang terpengaruh oleh budaya Barat umumnya terletak di belakang, sehingga sering disebut dengan nama belakang (surname). Kebalikannya, budaya Tionghoa dan Asia Timur lainnya menulis marga di depan nama panggilan (given name) karena marga adalah lebih penting daripada nama panggilan dalam hal membedakan asal-usul dan budaya seseorang.

Di Tiongkok misalnya, ada lebih dari 4000 marga, dan tiga yang paling besar adalah Wang, Li dan Zhang. Seperti itu juga, di Indonesia ada beberapa suku yang memandang penting marga dan karena itu nama keluarga diteruskan dari generasi ke generasi. Tetapi, di berbagai tempat banyak orang di zaman ini yang mengadopsi nama yang indah, keren dan menarik untuk dipakai sebagai nama keluarga. Dapat dimengerti bahwa marga yang tidak jelas latar belakang historis dan budayanya adalah nama yang kurang ada artinya.

Ayat di atas merupakan perjanjian antara Allah dengan Abraham . Allah bermaksud untuk secara turun-temurun mengadakan perjanjian yang kekal, supaya Dia menjadi Allah Abraham dan keturunannya. Sebagai tanda adanya perjanjian ini, kaum pria dari marga Abraham harus mau untuk dikhitankan. Begitu pentingnya tanda sunat ini, mereka yang tidak mau dikhitan adalah orang yang tidak termasuk dalam perjanjian Allah, dan dengan demikian tidak akan menerima berkat dan penyertaan Allah. Sesudah Yesus turun ke dunia, mereka yang sudah percaya kepadaNya tidak perlu lagi memakai tanda sunat yang bersifat jasmani. Sebaliknya, orang beriman memakai sunat rohani, yaitu hidup yang menaati firman Allah (1 Korintus 7: 19). Dengan demikian, mereka yang tidak mau menurut hukum Allah adalah orang-orang yang bukan umatNya.

Adakah untungnya menjadi umat Allah? Tentu saja! Jika pada zaman Abraham Allah menjanjikan bahwa keturunan Abraham akan menjadi warga dari bangsa yang besar (Kejadian 17: 6) dan tanah Kanaan akan menjadi milik mereka untuk selama-lamanya (Kejadian 17: 8), kedatangan Yesus untuk menebus dosa manusia memungkinkan semua orang yang percaya untuk menjadi warga surgawi dan keselamatan akan menjadi milik mereka untuk selama-lamanya. Dengan demikian, seperti keturunan Abraham menjadi milik Allah, kita yang sudah menjadi milik Kristus adalah “semarga” dengan Abraham, yaitu orang-orang yang berhak menerima janji Allah.

Bagi kita, menjadi marga Abraham karena Kristus adalah satu karunia yang terbesar yang tidak dapat ditukar dengan hal-hal yang lain. Dari segi historis, kita bisa melihat bahwa kasih Tuhan sudah ada sejak mulanya dan terus mengalir untuk semua orang percaya. Dengan demikian, dalam hidup ini seharusnya tidak ada hal lain yang bisa menarik kita untuk keluar dari marga surgawi atau marga Abraham. Kita tentunya tidak mau memilih untuk menjadi anggota marga duniawi yang bukan milik Kristus. Seperti janji Tuhan hanya diberikan kepada Abraham dan keturunannya, janji Tuhan untuk menyertai kita dan membimbing kita sampai kita bisa berjumpa dengan Dia di surga, hanya berlaku selama kita tetap mau taat dalam Kristus.

Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah. Galatia 3: 29

Menjadi bijak untuk mengarungi masa depan

“Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.” Amsal 19: 20

Masih ingatkah anda akan masa kecil anda? Masa dimana kita harus meminta izin orang tua jika kita ingin melakukan sesuatu yang tidak biasa? Mungkin itu mengenai rencana pergi ke rumah teman seusai sekolah, atau untuk menonton bioskop beramai-ramai dengan teman sekelas. Adalah menarik bahwa sewaktu kecil seorang anak harus selalu menurut nasihat orang tua dan taat kepada keputusan mereka, tetapi dengan bertambahnya usia ia cenderung untuk mengabaikannya. Kepercayaan pada diri sendiri yang semakin besar sesuai dengan bertambahnya usia, seringkali bisa membuat orang tidak merasa perlu untuk mendengarkan pendapat atau nasihat orang lain. Tidaklah mengherankan bahwa ada banyak tokoh dunia yang dikenal sebagai orang yang tidak pernah belajar dari orang lain dan tidak mau menerima nasihat para pembantunya. Orang yang sedemikian mungkin selalu merasa bahwa ia adalah orang yang selalu benar dan merasa bahwa orang lain selalu salah.

Kapankah orang harus mau menerima nasihat orang lain? Perlukah seseorang menerima nasihat dan didikan sepanjang hidupnya? Ayat di atas kelihatannya memang lebih cocok diterapkan pada kaum muda, tetapi sebenarnya juga berlaku untuk setiap orang yang masih mempunyai masa depan. Jika masa depan masih ada, tentunya setiap orang seharusnya ingin untuk menjalani hidup yang ada dengan kebijaksanaan, dan itu tentunya harus didapat dari nasihat dan didikan orang lain. Mereka yang muda bisa belajar dari yang lebih tua karena pengalaman yang dipunyainya, tetapi yang lebih tua pun harus mau belajar dari yang lebih muda karena mereka mempunyai pendidikan yang lebih relevan untuk zaman sekarang. Ini berbeda dengan adat istiadat kuno dimana orang yang lebih muda harus selalu belajar dari yang lebih tua, yang merasa sudah tahu tentang segalanya.

Bagi setiap orang yang masih mempunyai masa depan, selalu ada yang harus dipelajari setiap hari. Dengan demikian, hampir semua manusia yang masih bisa menggunakan pikirannya seharusnya mau mempertimbangkan nasihat dan didikan orang lain supaya bisa menghadapi masa depan dengan baik. Bagi umat Kristen, ini juga berarti mau mendengarkan nasihat dan didikan berdasarkan firman Tuhan dari saudara-saudara seiman.  Setiap hal yang terlihat baik untuk masa depan, belumlah betul-betul baik untuk dilaksanakan jika itu tidak sejalan dengan apa yang ditulis dalam Alkitab. Dengan demikian, umat Kristen tidak hanya harus mau dengan rendah hati mendengarkan pendapat dan nasihat orang lain, tetapi juga mau mendalami firman Tuhan sehingga apa yang nantinya dilaksanakan tidaklah menyalahi perintah Tuhan.

Dalam kenyataannya, sesukar-sukarnya orang mendengarkan nasihat dan didikan orang lain, masih lebih sulit bagi mereka untuk mau mendengarkan nasihat dan didikan Tuhan. Seringkali orang menghindari nasihat dan didikan Tuhan yang ada dalam Alkitab karena dianggap sudah kurang sesuai dengan keadaan zaman sekarang. Mereka segan untuk menerima nasihat dan didikan Tuhan karena mereka malas untuk belajar, tidak mau dianggap salah, atau tidak ingin diingatkan bahwa tingkah lakunya kurang baik. Apalagi mereka tidak mau dikatakan sudah hidup di luar kebenaran Tuhan.

 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 16

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa selama kita masih hidup dan bisa memikirkan langkah kehidupan kita, masa depan masih ada. Masa depan yang harus diisi dengan segala yang baik dan sesuai dengan firman Tuhan. Jika kita segan mempelajari apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita, kita tidak akan dapat memperoleh nasihat dan didikan yang benar. Dengan itu kita akan kehilangan kesempatan untuk menjadi bijak di masa depan. Tidaklah mengherankan bahwa mereka yang tidak mau belajar dari firman Tuhan akhirnya menjadi orang yang bodoh di mata Tuhan dan kemudian menjadi orang yang tidak mempunyai masa depan.

 

Ke gereja agar makin banyak yang diselamatkan

“Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Kisah Para Rasul 2: 46 – 47

Apakah setiap orang yang mengaku Kristen pergi ke gereja secara rutin? Jawabnya: belum tentu. Bukan saja di Australia, di negara lain pun banyak orang Kristen yang tidak pergi ke gereja setiap minggu. Kebanyakan orang seperti itu hanya ke gereja jika ada kebaktian khusus, seperti Natal dan Paskah. Di luar itu, mereka mungkin ke gereja hanya kadang-kadang saja.

Mengapa ada orang yang mengaku Kristen tetapi jarang ke gereja? Ada banyak sebabnya. Mungkin saja mereka belum betul-betul Kristen, tetapi pernah hidup di lingkungan orang Kristen. Mereka mungkin simpatisan, tetapi bukan benar-benar punya komitmen. Selain itu ada orang yang kurang berhasil menemukan gereja yang cocok, sehingga lama-lama tidak lagi berminat untuk ke gereja. Lalu ada juga orang yang terlalu sibuk dengan berbagai kegiatan hidup sehingga tidak punya waktu untuk ke gereja.

Sebenarnya, apakah ke gereja itu penting jika seseorang bisa berhubungan dengan Tuhan dengan teratur secara pribadi? Bukankah Tuhan ada dimana-mana, dan bukan hanya di gereja? Pertanyaan ini sering dikemukakan oleh mereka yang memilih untuk tinggal di rumah dan membaca Alkitab serta berdoa seorang diri. Mereka tidak merasakan manfaat untuk bersekutu dengan saudara-saudara seiman.

Berbeda dengan keadaan masa kini dimana orang bisa mempelajari firman Tuhan dengan membaca buku penuntun Alkitab, mempelajari berbagai tulisan di internet, menonton video atau TV yang menayangkan kebaktian atau khotbah di gereja tertentu, pada zaman rasul-rasul orang Kristen bertekun dengan sehati dan berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Pada waktu itu, persekutuan dengan saudara seiman adalah satu hal yang mutlak diperlukan. Mereka mempunyai keinginan yang besar untuk memuji Tuhan dan menikmati berkat Tuhan secara kekeluargaan.

Karena persekutuan dengan saudara seiman adalah sesuatu yang dilaksanakan sebagai pernyataan kasih, tidaklah mengherankan bahwa banyak orang yang ingin untuk ikut dalam kebaktian. Memang dengan adanya orang-orang Kristen yang terlihat gembira hidupnya dan tulus hati serta beriman, orang lain jadi ikut tertarik untuk ikut merasakannya.

Apa yang membuat orang Kristen rajin ke gereja, giat bersekutu dengan mereka yang seiman? Di banyak tempat, pertanyaan ini mungkin mulai jarang dilontarkan oleh mereka yang belum beriman. Jika ada banyak orang Kristen yang jarang ke gereja, dan kalau rasa gembira dan persekutuan dalam kasih di antara umat Kristen makin melemah, tentu saja orang lain menjadi kurang tertarik untuk menjadi pengikut Kristus selama hidup di dunia.

Gereja adalah persekutuan orang percaya, dan dengan adanya persatuan kasih di antara umat Kristen, gereja bisa menjadi seperti “magnit” yang menarik orang yang belum mengenal Injil Keselamatan untuk datang dan ikut merasakan kasih Kristus. Itu karena Tuhan bekerja dalam lingkungan yang baik. Setiap orang Kristen yang ingin melaksanakan Amanat Agung untuk mengabarkan Injil sudah tentu bisa merasakan adanya kerinduan untuk ke gereja secara rutin agar nama Tuhan makin dibesarkan di dunia. Dengan demikian, pergi ke gereja seharusnya bukan hanya untuk kepentingan kita, tetapi lebih penting untuk kemuliaan Tuhan!

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16