Mengapa iri kepada orang yang tidak mengenal Tuhan?

“Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya. Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.” Mazmur 73: 1 – 3

Mobil apakah yang anda impikan? Bagi banyak orang memiliki sebuah mobil yang sederhana saja sudah sulit, apalagi menginginkan mobil mewah. Tetapi, di banyak negara, memiliki mobil mewah adalah suatu tanda kejayaan seseorang. Di Jakarta misalnya, ada orang yang hobinya mengumpulkan mobil mewah Ferrari. Orang lain mungkin melihat kekayaan mereka dengan rasa takjub. Mereka itu tentunya orang kaya-raya, orang yang hidup dalam kenyamanan.

Melihat orang-orang yang hidupnya serba enak, mungkin timbul pertanyaan: mengapa aku tidak semujur mereka? Sekalipun ada kemungkinan bahwa orang-orang itu memperoleh kekayaan mereka dengan cara yang kurang baik, tetap saja rasa iri bisa muncul: bagaimana mungkin mereka itu tetap berjaya sekalipun hidup mereka jelas-jelas melawan hukum?

Penulis Mazmur di atas juga memikirkan hal yang serupa. Melihat orang-orang yang hidup nyaman, ia menjadi cemburu. Ia iri kepada orang-orang yang tidak jujur yang terlihat mujur hidupnya. Karena iri hati, pemazmur hampir tergelincir ke dalam dosa. Mungkin sedikit lagi ia akan marah dan mengutuki Tuhan, mungkin juga timbul rasa ingin untuk meniru orang-orang yang terlihat nyaman hidupnya. Buat apa taat kepada Tuhan jika hidupku penuh derita dan kekurangan?

Untunglah pemazmur kemudian sadar akan kekeliruannya. Ia sadar bahwa hidupnya bukan untuk disesali. Sekalipun ia mengalami berbagai kesulitan hidup, dengan iman ia justru bisa merasakan kasih Tuhan yang menyertainya. Ia kemudian sadar bahwa hal ini memberinya kemuliaan karena Tuhan yang mahakuasa justru menyayangi umatnya yang lemah dan bergantung kepadaNya (Mazmur 73: 24-26).

Walaupun Tuhan berpihak kepada umatNya, mengapa dunia tidak merasa iri kepada mereka? Jika mereka yang belum percaya kepada Tuhan tidak merasa cemburu kepada kemujuran kita, mungkin paling tidak ada dua sebabnya:

  • Mereka dalam kebodohannya tidak mengerti kebahagiaan hidup dalam Kristus, dan merasa bahwa kebahagiaan dapat diperoleh dari hal-hal yang fana, atau
  • Dalam kebodohan, kita tidak bisa menunjukkan kebahagiaan hidup kita kepada orang lain karena kita masih menginginkan hidup keduniawian seperti yang mereka punya.

Pada hari Minggu ini, seperti pemazmur, kita harus ingat dan bisa bersyukur bahwa Tuhan mengasihi kita. Mengapa kita harus iri atau cemburu kepada mereka yang hidup dalam dosa? Bukankah orang lain justru harus iri kepada kita yang dikasihi Tuhan?

Bertumbuhlah menjadi dewasa

“Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” 1 Korintus 13: 11

Berbeda dengan Indonesia, di Australia orang tidak memiliki kartu penduduk. Penduduk Australia memang bebas untuk berpindah-pindah, mereka boleh tinggal dimana saja dan tidak perlu melaporkan diri kepada kantor pemerintah setempat. Walaupun demikian, mereka yang mengendarai kendaraan bermotor wajib mengganti alamat yang tertulis pada Surat Ijin Mengemudi (SIM).

Kartu SIM adalah salah satu bukti identitas seseorang, yang tidak hanya mencantumkan alamat tetapi juga tanggal lahir pemiliknya. Kartu ini adalah kartu yang penting karena banyak tempat yang mengharuskan pengunjungnya untuk membuktikan bahwa mereka sudah lewat usia 17 tahun. Mereka yang belum mencapai usia itu belum dapat digolongkan sebagai orang dewasa.

Jika seseorang tidak mempunyai kartu identitas, dapatkah umurnya diterka? Ini tentunya tidak mudah, perbedaan fisik antara orang dewasa dan anak-anak seringkali tipis. Ada anak-anak yang karena bentuk tubuh dan rupanya, bisa disangka sebagai orang dewasa. Sebaliknya, ada orang dewasa yang mempunyai penampilan seperti orang di bawah usia. Tanpa kartu identitas, orang bisa salah duga.

Kalau kartu penduduk dan SIM bisa dipakai untuk menentukan kedewasaan jasmani orang dewasa dan anak-anak, bagaimana pula dengan kedewasaan rohani? Tingkat kedewasaan rohani jauh lebih sulit untuk diterka atau ditentukan. Mereka yang sudah cukup tua unurnya, belum tentu mempunyai tingkat kerohanian yang lebih tinggi dari anak muda. Mereka yang sudah dewasa secara jasmani, mungkin saja belum mempunyai pengenalan yang mendalam tentang kebenaran Tuhan. Mereka yang sudah lama menjadi orang Kristen, belum tentu lebih bisa menjalankan firman Tuhan.

Ayat di atas menjelaskan bahwa mereka yang belum dewasa rohaninya, berkata-kata seperti kanak-kanak, merasa seperti kanak-kanak, dan berpikir seperti kanak-kanak. Ini tentunya dalam konteks rohani. Mereka itu tidak mempunyai kebijaksanaan yang cukup untuk bisa hidup dan bertingkah laku seperti orang yang sudah dewasa dalam imannya.

Manusia yang tidak dapat mengerti apa yang dikehendaki Tuhan, tidak akan dapat membedakan apa yang baik dan adil dari apa yang jahat. Orang-orang semacam itu selalu ingin untuk menjadi orang Kristen dengan cara yang semudah mungkin, yaitu cara mereka sendiri. Mereka adalah orang-orang yang seperti bayi, yang merasa puas dengan makanan yang lunak yang mudah ditelan dan dicerna. Bagaimana pula dengan hidup kekristenan kita?

“Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.” Ibrani 5: 13 – 14

Kesedihan adalah bagian kehidupan

“Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku? Mazmur 13: 1 – 2

Apakah anda penggemar film layar putih? Film sedih mana yang pernah anda tonton di Indonesia?  Apakah itu “Surat kecil untuk Tuhan”? Ataukah  film yang berjudul  “Heart”? Saya hanya mendengar berita tentang film-film yang laris itu, tetapi belum pernah menontonnya.. Film melodrama terakhir yang pernah saya tonton di Indonesia adalah kisah cinta “Pengantin Remaja” yang diproduksi pada tahun 1971 dan disutradarai oleh Wim Umboh, dengan pemeran utama Sophan Sopian, Widyawati dan Fifi Young. Walaupun demikian, sejak hidup di luar negeri saya masih  sering menonton film drama yang sedih, dan yang paling berkesan buat saya adalah film epik  “Titanic” (1997) yang memenangkan rekor sebelas hadiah Oscar sebanyak yang diperoleh film “Ben Hur” (1959).

Mengapa orang suka menonton film-film yang bernada sedih? Saya kurang tahu, tetapi agaknya karena orang memiliki sebuah titik kelemahan dimana ia bisa ikut merasa terharu atau susah karena adanya hal-hal yang menyedihkan yang terjadi pada diri orang lain. Memang pada akhir film yang bernada sedih biasanya ada orang yang meninggalkan bioskop dengan mata yang agak merah dan dengan saputangan yang basah karena air mata. Sebagian orang  mungkin juga merasa sedih karena bisa membayangkan betapa beratnya jika kejadian serupa benar-benar terjadi dalam hidup mereka. Saya sendiri pernah menangis setelah menonton film “The Passion of Christ” (2004) yang mengisahkan penderitaan Yesus sebelum menemui kematian di kayu salib.

Sekalipun orang mungkin senang menonton film yang bernada sedih dan bisa membayangkan keadaan yang dilukiskan dalam film itu, tentunya tidak seorang pun yang mengingini agar kejadian semacam itu terjadi pada dirinya sendiri. Sekalipun kejadian serupa mungkin saja pernah dialami oleh penonton, itu bukanlah sesuatu yang bisa dinikmati. Kesedihan adalah sesuatu yang tidak disukai manusia, tetapi bisa datang tanpa diundang. Sebagian kesedihan bisa disebabkan karena kesalahan diri sendiri, tetapi banyak juga yang datang karena perbuatan orang lain atau karena adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia.

Kesedihan adalah bagian kehidupan sejak manusia jatuh ke dalam dosa. Sekalipun kita berusaha keras untuk menghindari apa yang menyedihkan, hal yang buruk dapat terjadi dalam hidup kita. Banyak orang Kristen yang mengalami musibah yang bertanya-tanya mengapa Tuhan yang mahakasih membiarkan umatNya untuk merasakan kesedihan yang luar biasa. Mengapa Ia tidak memberikan pertolongan, penghiburan dan kekuatan? Daud merasakan hal ini ketika ia merasa ditinggalkan oleh Tuhan. Ia bertanya-tanya untuk berapa lama Tuhan akan melupakan dia. Hatinya gundah dan sedih sepanjang hari karena Tuhan seakan-akan menyembunyikan wajahNya. Daud juga takut dan kuatir karena musuh-musuhnya merendahkan dia. Daud kuatir bahwa hidupnya lambat laun akan hancur karena kesedihan yang menumpuk.

Adakah guna kesedihan sehingga Tuhan membiarkan umatNya untuk mengalaminya? Ada! Kesedihan bisa membimbing manusia untuk menyadari bahwa mereka tidak berkuasa atas apapun juga yang terjadi di dunia. Penderitaan bisa juga menginsafkan manusia untuk tidak mengulangi kekeliruan di masa lalu. Kesedihan bisa memperkuat iman kita agar kita mau bergantung kepada Tuhan. Kesesakan hidup juga bisa membuat kita untuk mau berjalan bersama Dia. Lebih dari itu, adanya kesedihan bisa memberi keyakinan kepada kita bahwa Yesus yang sudah mengalami penderitaan yang luar biasa, tidak akan membiarkan kita untuk pengalami penderitaan yang lebih besar dari kekuatan kita.

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1 Korintus 10: 13

Hal berbalik arah

“Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula. Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka. Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: “Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.” 2 Petrus 2: 20 – 22

Suatu ciri masyarakat modern adalah berkurangnya keinginan untuk memakai apa yang ada  selama mungkin. Karena adanya banyak pilihan dan juga kemampuan atau kebebasan untuk memilih, banyak orang yang berganti-ganti pekerjaan, rumah, pakaian dan sebagainya, dan bahkan mungkin berganti-ganti pasangan. Mungkin sebagian orang beranggapan bahwa adanya kesempatan dalam hidup sebaiknya dipakai untuk mencoba-coba, atau ada juga yang berpendirian bahwa sebagai manusia yang bebas, setiap orang berhak menentukan cara hidupnya.

Sehubungan dengan itu, adalah hal yang menarik perhatian bahwa di Jepang, dulu orang biasanya bekerja di satu perusahaan sampai saat pensiun. Sekarang, banyak anak muda Jepang yang bekerja untuk beberapa tahun, kemudian melancong ke luar negeri, dan setelah itu pulang ke negaranya untuk mencari pekerjaan baru. Anak muda Jepang sekarang tidaklah jauh berbeda dengan anak muda Australia yang tidak mau terikat oleh satu pekerjaan saja untuk seumur hidup. Memang kesetiaan kepada perusahaan tidaklah lazim di Australia, karena mereka yang mau mengembangkan karir cenderung untuk berganti pekerjaan setiap 5 – 6 tahun, jika ada kesempatan baik.

Jika kesetiaan kepada satu pekerjaan tidak bisa diharapkan di Australia, bagaimana pula dengan kesetiaan ke gereja? Mereka yang secara teratur pergi ke gereja tidaklah besar jumlahnya, sekalipun lebih dari 50 persen penduduk Australia masih mengaku Kristen. Bagi mereka yang Kristen pun, banyak juga yang berganti-ganti gereja untuk mencari apa yang cocok dengan selera mereka. Walaupun demikian, mereka yang rajin ke gereja biasanya tidak mudah terpengaruh untuk berubah kepercayaan. Sebaliknya, mereka yang belum benar-benar Kristen memang adalah orang-orang yang sedang mencari-cari Tuhan dan karena itu bisa saja kemudian memilih agama atau kepercayaan lain.

Dengan perubahan zaman, memang dialog antar agama lebih sering terjadi di Australia. Perbedaan iman yang dulunya sering didengung-dengungkan sekarang mulai diganti dengan kemauan untuk menerima kepercayaan lain sebagai salah satu jalan menuju ke surga. Untuk bisa hidup damai dengan sesama, orang mulai membaurkan perbedaan yang dulunya terlihat jelas. Dengan demikian, banyak orang yang sekarang menggunakan kesempatan untuk mencoba-coba beberapa agama sebelum mau mengikut satu saja. Orang bilang “try befrore you buy“, dan itulah yang terjadi. Mereka mencoba-coba dulu sebelum memilih.

Jika hal memilih kepercayaan pada umumnya terjadi pada mereka yang baru mulai mencari Tuhan, ada juga orang-orang yang sudah lama mengaku Kristen tetapi kemudian berganti kepercayaan karena satu dan lain hal. Bagaimana itu bisa terjadi? Biasanya, itu terjadi jika seseorang melihat adanya hal-hal yang terlihat lebih baik atau lebih menguntungkan dalam kepercayaan lain. Mereka tidak berpindah agama karena melihat Tuhan yang berbeda, tetapi karena melihat orang yang berbeda, atau cara hidup manusia yang berlainan. Jika mereka merasa lebih cocok dengan hal-hal yang terlihat mata itu, mereka kemudian berubah pikiran. Tuhan bukanlah apa yang mereka utamakan, tetapi apa yang bisa dinikmati selama hidup di dunia.

Ayat di atas menunjuk kepada orang-orang yang sudah diperkenalkan kepada jalan keselamatan yang benar dalam Yesus Kristus, tetapi yang kemudian meninggalkan imannya untuk kembali bergabung dengan mereka yang belum mengenal Kristus.  Mereka adalah seperti hewan yang kembali ke kehidupan mereka yang lama dan bahkan menjadi hewan yang lebih kotor dari keadaan yang semula. Bagaimana hewan-hewan ini bisa berbuat demikian? Sudah tentu karena apa yang dilihat mereka dengan mata adalah sesuatu yang memikat yang terlihat indah atau nyaman. Mereka tidak sadar bahwa apa yang dilihat mata jasmani adalah kebodohan.

Manusia tidak dapat memilih apa yang baik. Manusia tidak dapat memilih Tuhan. Hanya Tuhan yang bisa membimbing manusia dengan RohNya ke arah yang baik. Hanya Tuhan yang dapat memilih umatNya. Jika Tuhan sudah memberi kesempatan kepada manusia untuk bisa melihat kasihNya yang besar dalam mengurbankan AnakNya yang tunggal, Tuhan juga mau membimbing mereka untuk lebih mengenalNya. Tetapi,  banyak manusia yang ingin untuk merdeka dalam mengambil keputusan dan kemudian memutuskan untuk menuruti jalan pikiran mereka sendiri. Mereka menjadi yakin bahwa Tuhanlah yang harus dipilih manusia dan surga haruslah dicapai dengan banyak berbuat baik.

Firman Tuhan di atas memperingatkan kita sebagai umat Kristen untuk berjaga-jaga. Godaan yang ditawarkan dunia seringkali sangat besar sehingga kita tidak dapat melihat adanya hal-hal yang dibenci Tuhan, dan kemudian terperosok kedalam lubang dosa. Jika kita tidak mau selalu dekat dengan Dia, perlahan-lahan kita akan kembali menjadi manusia lama yang serupa dengan hewan-hewan yang ditulis dalam ayat ini.

 

 

Tuhan membenci kekacauan

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Jika kita memikirkan keadaan di surga, tentu bisa kita bayangkan bahwa semuanya serba indah, megah dan terang benderang.  Kenyataan bahwa Tuhan pada mulanya menciptakan langit dan bumi dan membuat terang berkuasa atas kegelapan (Kejadian 1: 1 – 5), dan kemudian menciptakan bumi dan segala isinya membuktikan bahwa Ia bekerja seperti seorang artis yang berkarya dan menghasilkan sesuatu yang sedap dipandang dan dinikmati. Lebih dari itu, Tuhan juga bekerja secara sistimatis sehingga semua yang ada di jagad-raya ini bisa saling mendukung dan saling menggenapi. Tuhan jelas membenci kekacauan.

Jika kekacauan terjadi di bumi karena dosa manusia, itu bukan kejutan untuk Tuhan yang mahatahu. Karena itu, Tuhan sudah mempersiapkan rencana agungnya untuk menyelamatkan manusia yang dikasihiNya dari awalnya. Tuhan ingin agar semua manusia yang mau  bertobat dari dosanya bisa hidup bersama Dia di surga pada waktunya. Selama hidup di dunia, mereka yang mau menjadi umatNya mengalami pertumbuhan rohani dan dipersiapkanNya untuk kehidupan kekal di surga. Pertumbuhan rohani yang hanya dimungkinkan oleh bimbingan Roh Kudus, tidak hanya memperbaiki hati dan pikiran manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, tetapi juga mengubah cara hidup sehari-hari dengan hubungannya dengan sesama manusia.

Ayat di atas ditulis oleh Paulus sehubungan dengan adanya kekacauan di gereja Korintus yang disebabkan oleh adanya orang Kristen yang menggunakan karunia yang berbeda-beda pada waktu yang bersamaan, yang mana menimbulkan kebingungan dan kekacauan di antara jemaat yang hadir. Paulus kemudian menasihati mereka agar bisa menahan diri dan memakai sopan-santun dan tata-cara yang baik dalam berbakti, agar semua orang yang hadir dapat belajar dan memperoleh kekuatan (1 Korintus 14: 31). Disini kita bisa melihat bahwa apapun yang baik, jika tidak dilaksanakan dengan baik akan menimbulkan kekacauan dan tidak membawa kedamaian. Kita juga bisa menyadari bahwa apa yang baik secara rohani (karunia Roh) tidak boleh membuat apa yang jasmani (tata-cara, sopan-santun, disiplin) menjadi sesuatu yang boleh ditelantarkan.

Adalah kenyataan bahwa di zaman ini, manusia pada umumnya sudah mempunyai pendidikan yang lebih baik dari apa yang dimiliki jemaat Korintus. Walaupun demikian, pendidikan yang baik tidak menjamin kelakuan atau tingkah laku yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, banyak orang yang melakukan berbagai perbuatan tercela dalam masyarakat, yang merugikan sesama,  yang menimbulkan kekacauan, dan yang menghilangkan kedamaian hidup, karena mereka mendahulukan kepentingan diri sendiri di atas segalanya. Selain itu, ada juga orang yang menjalani hidupnya menurut apa yang disenanginya, tanpa menuruti sopan-santun dan hukum yang berlaku. Sekalipun mereka tidak secara langsung menimbulkan kegundahan dalam masyarakat, hidup mereka yang kacau bisa menghilangkan kedamaian hidup orang-orang di sekitarnya. Manusia tanpa bimbingan Roh Kudus memang sulit untuk hidup dalam ketertiban.

Ayat di atas mengajarkan bahwa sebagai orang Kristen kita harus mengerti bagaimana kita seharusnya hidup untuk Tuhan selama di dunia dan bisa membuat sesama kita berbahagia. Melalui hidup yang tertib, sopan dan berdisiplin kita memenuhi panggilan Tuhan untuk menghindari kekacauan dan mencari damai sejahtera.  Tetapi, bagaimana kita bisa mempraktikkan hal ini dalam hidup sehari-hari? Apa yang diajarkan Paulus kepada jemaat di Korintus barangkali bisa diringkas sebagai tindakan-tindakan praktis sebagai berikut:

  1. Selalu memilih waktu yang tepat.
  2. Mau menunggu giliran kita.
  3. Bisa menempatkan orang, sarana dan kegiatan yang cocok.
  4. Menjalani hidup yang rapi dan tidak berantakan.
  5. Tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.
  6. Menghormati orang lain, dan menghargai fungsi dan kedudukan mereka.
  7. Tidak menimbulkan kekacauan dan kebingungan.
  8. Setia dalam melakukan pekerjaan sehari-hari.

Biarlah hubungan rohani kita dengan Tuhan bisa  membuat kita lebih mampu dan mau menaati tata-cara, sopan-santun dan disiplin yang baik dalam hidup bermasyarakat untuk kemuliaanNya!

Untungnya menjadi orang Kristen

“Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihiNya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihatNya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.” 1 Petrus 1: 8 – 9

Di zaman ini, orang selalu menghitung untung-ruginya semua rancangan atau tindakan.  Dalam perhitungan ekonomi sebuah proyek misalnya, angka rasio antara keuntungan dan biaya (benefit/cost ratio) seringkali dipakai untuk memutuskan apakah proyek itu akan bisa dilaksanakan. Jika rasio itu lebih besar dari satu, proyek itu mungkin akan dijalankan. Sebaliknya, jika biayanya diduga akan lebih besar dari keuntungan, orang akan membatalkan proyek itu. Ini adalah suatu prinsip bisnis yang umum.

Perhitungan untung -rugi secara materi agaknya juga sering muncul dalam kehidupan bermasyarakat, sampai-sampai untuk berteman ataupun berkeluarga, ada orang-orang yang mengambil keputusan berdasarkan besarnya keuntungan di masa depan. Jika hubungan antar manusia tidak bisa membawa keuntungan, orang mungkin akan kehilangan minat untuk meneruskannya. Dalam hal ini, adanya orang yang mempunyai kedudukan, pengaruh atau harta seringkali memberi insentif bagi orang lain untuk mau membina hubungan yang baik dengan mereka.

Jika untung rugi sering diperhitungkan dalam kehidupan bermasyarakat, ada orang -orang yang mempertimbangkan hal yang serupa dalam kehidupan rohani. Apa untungnya untuk menjadi Kristen? Buat apa rajin ke gereja atau membaca Alkitab? Bukankah untuk menjadi orang benar-benar Kristen itu tidak mudah? Jika orang sudah kurang punya waktu untuk menikmati hidup, mengapa pula mereka harus peduli dengan soal rohani?

Ayat di atas agaknya menmbenarkan bahwa menjadi orang Kristen bukanlah mudah. Mereka belum pernah melihat Yesus, namun mereka harus bisa mengasihiNya. Mereka harus bisa percaya kepada Dia, sekalipun tidak melihatNya. Apakah ini mungkin untuk dilakukan dan apa untungnya? Alkitab menjelaskan bahwa semua ini bisa dilakukan karena Yesus yang sudah turun ke dunia, dan mati di kayu salib untuk menebus mereka yang percaya kepadaNya. Kasih Yesus begitu besar membuat orang Kristen bisa mengasihiNya. Sekalipun orang Kristen tidak pernah berjumpa dengan Yesus, mereka bisa merasakan kehadiranNya dalam hidup mereka, dan karena itu mereka bisa percaya sekalipun belum melihatNya.

Orang Kristen merasa beruntung karena Yesus sudah menang atas kematian dan karena itu mereka tidak perlu bergantung kepada faktor “kemujuran” untuk bisa ke surga. Mereka tidak pula perlu bergantung kepada usaha yang sia-sia untuk menjadi orang yang cukup baik bagi Tuhan untuk bisa diselamatkan. Sebaliknya, orang Kristen bisa merasakan keuntungan yang sangat besar karena hanya melalui karunia Tuhan mereka bisa menerima keselamatan secara cuma-cuma. Karena itulah mereka yang masih hidup di dunia sudah bisa bergembira karena sukacita yang besar, karena mereka telah mencapai tujuan iman, yaitu keselamatan jiwa mereka. Sudah tentu untuk menjadi pengikut Kristus yang setia tidaklah mudah, tetapi keuntungannya jauh lebih besar dari segala kesulitan dan penderitaan yang kita alami selama hidup di dunia!

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” Filipi 3: 7 – 8

Jangan biarkan dirimu dikuasai orang lain

“Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran?” Roma 6: 16

Seringkali saya heran mengapa ada orang yang diculik kemudian bisa “jatuh cinta” kepada penculiknya dan menjadi pengikutnya selama bertahun-tahun. Orang yang diculik itu bisa menjadi seperti robot yang mau diperlakukan dengan semena-mena dan bahkan ada yang sampai melahirkan anak dengan sang penculik. Banyak juga orang yang diculik kemudian tidak mau berusaha untuk melarikan diri dan bahkan tidak mau memperkarakan penculiknya setelah polisi menangkapnya. Fenomena ini dinamakan “Stockholm syndrome” dimana orang yang diculik secara kejiwaan menjadi terikat kepada penculiknya. Memang manusia yang sebenarnya adalah makhluk yang paling cerdas, bisa jatuh dalam penguasaan orang lain baik melalui pengaruh cinta ataupun hipnosis.

Hipnosis (bahasa Inggris: hypnosis) adalah suatu kondisi mental atau hal yang memungkinkan timbulnya  peran imajinatif . Orang yang melakukan proses hipnosis (memberikan sugesti) terhadap subjek disebut hipnotis (bahasa Inggris: hypnotist). Hipnosis biasanya disebabkan oleh prosedur yang umumnya terdiri dari rangkaian instruksi awal dan sugesti. Penggunaan hipnosis sebagai bentuk hiburan pentas dikenal sebagai stage hypnosis, sedangkan yang untuk terapi disebut hypnoteraphy.  Pada umumnya dalam  hipnosis orang bisa dikuasai pikiran dan jwanya oleh sang hipnotis untuk tujuan yang baik maupun yang buruk.

Dengan kemajuan zaman, seharang ini banyak orang yang mencari solusi alternatif atas berbagai masalah yang dihadapinya. Dalam hal ini, hipnosis ditawarkan oleh mereka yang ahli kepada orang-orang yang mengalami berbagai kesulitan hidup atau mereka yang terlibat dalam berbagai kebiasaan yang buruk, seperti merokok atau pemakaian narkoba. Hipnosis dipopulerkan bagi mereka yang  menginginkan hidup yang bebas dari tekanan atau pengaruh buruk tanpa harus bergulat jatuh-bangun untuk mengatasi persoalannya. Dalam hal ini, sudah tentu  hipnosis hanya bisa bekerja efektif  pada orang yang mau percaya dan mau menyerahkan jiwa dan pikirannya kepada sang hipnotis.

Banyak ahli hipnosis yang sekarang menjadi orang terkenal baik dalam pertunjukan ataupun terapi kejiwaan. Selain itu ada juga orang Kristen yang menggunakan hipnosis untuk menolong orang lain. Bagaimana pandangan Kristen akan hipnosis?

Ada orang yang beranggapan bahwa segala sesuatu yang bisa menghasilkan sesuatu yang nampaknya bagus tentu berasal dari Tuhan. Tidak peduli caranya, asal hasilnya baik tentu Tuhan suka. Benarkah begitu? Tentu tidak! Hipnosis memang nampaknya bisa membuat orang berubah dari keadaan semula yang kurang baik menjadi apa yang terlihat baik. Semua itu tanpa memerlukan hubungan yang benar dengan Tuhan Sang Pencipta. Manusia tidak perlu menyesali perbuatannya, memohon ampun atas dosanya, meminta pertolongan Tuhan ataupun bertumbuh dalam bimbingan Roh Kudus. Hipnosis bisa membuat hidup manusia yang kocar-kacir menjadi mulus hanya dengan cara kejiwaan. Mereka yang mau berubah hidupnya tidak perlu lagi bergantung kepada Tuhan.

Jika dipikirkan dalam-dalam, mereka yang melakukan hipnosis sebenarnya berusaha menguasai pikiran dan kejiwaan orang lain sekalipun untuk sementara waktu. Seorang hipnotis mengambil alih hak Tuhan untuk memimpin jiwa dan pikiran manusia dengan menggunakan teknik yang membuat orang lain tunduk kepadanya.  Dan jika orang Kristen membiarkan dirinya untuk dikuasai oleh seorang  hipnotis, itu berarti bahwa ia menyerahkan dirinya kepada seseorang dan sudah menjadi hamba orang itu. Baik pelaku hipnosis dan orang yang menerima hipnosis menghapus pengaruh dan peran Tuhan dari hidup manusia.

Manusia diciptakan Tuhan agar ia mau memuliakanNya. Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang sepenuhnya bergantung kepada Dia. Manusia seharusnya mempunyai hubungan roh yang kuat dengan Penciptanya. Manusia seharusnya berkomunikasi dengan Tuhan secara rohani. Bagaimana mungkin manusia kemudian memilih jalan pintas untuk mencapai sesuatu tanpa melalui Dia? Bukankah itu suatu dosa?

 

 

Adakah rasa malu di zaman sekarang?

“Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.” Filili 1: 20

Kapankah kata malu atau ashamed muncul untuk pertama kalinya di Alkitab? Dalam kitab Kejadian. Kejadian 2: 25 menyatakan bahwa Adam dan Hawa pada awalnya telanjang, tetapi mereka tidak merasa malu. Ini menggambarkan bahwa sebelum jatuh ke dalam dosa, manusia mempunyai pikiran yang bersih. Tidak ada pikiran yang buruk ataupun motivasi yang kurang baik, karena dosa belum mengotori hidup manusia.

Keadaan dunia sejak kejatuhan dalam dosa sudah berubah sedemikian rupa sehingga manusia tidak lagi jernih pikirannya dan menjadi kacau hidupnya. Itu adalah konsekuensi dosa yang sudah dilakukan manusia, yang sudah merusak hubungan manusia dengan Penciptanya. Apa yang seharusnya tidak membawa rasa malu, sekarang bisa membebani pikiran manusia. Sebaliknya, apa yang seharusnya membuat rasa malu, orang melakukannya tanpa rasa segan.

Di zaman modern ini orang beriman memang menghadapi berbagai tantangan dan perjuangan. Banyak orang yang menuduh orang Kristen sebagai orang yang kolot, fanatik atau tidak realistis. Iman Kristen yang mengharuskan pengikutnya untuk menghindari kelakuan dan perbuatan tertentu bisa saja dianggap sebagai ketinggalan zaman. Mereka yang berusaha menjalani hidup suci justru sering dipermalukan oleh orang-orang di sekitarnya dan dianggap sebagai orang bodoh. Oleh karena itu, banyak orang Kristen yang harus “berpura-pura” dan menyembunyikan kekristenannya dalam hidup bermasyarakat.

Sebagian orang Kristen segan menunjukkan kekristenannya mungkin juga karena dorongan untuk “hidup damai” dengan golongan lain. Apalagi, jika ada sanak keluarga yang belum mengenal Kristus, hal-hal yang berbau rohani kemudian terpaksa disembunyikan agar tidak menyinggung perasaan mereka. Pada pihak yang lain, mereka yang melakukan hal-hal yang bertentangan dengan firman Tuhan bisa mengemukakan semua itu tanpa rasa malu, sekalipun telinga orang Kristen menjadi merah karena rasa malu.

Paulus dalam ayat di atas menjelaskan bahwa ia ingin dalam segala hal untuk tidak akan beroleh malu karena ia tidak memancarkan sinar kekristenannya. Ia tidak ingin mendapat malu kalau hidupnya tidak secara jelas menunjukkan bahwa ia adalah pengikut Kristus. Sebaliknya, ia ingin untuk menyatakan imannya kepada semua orang dan memuliakan Kristus dalam tubuhnya, baik oleh hidupnya maupun oleh matinya. Paulus tahu bahwa jika ia malu untuk mengakui dan memberitakan kebenaran Tuhan dalam hidupnya, Tuhan juga akan menolak dia sebagai umatNya.

“Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.” 2 Timotius 2: 15

Apakah anda benar-benar mengenal Dia?

“Dahulu, ketika kamu tidak mengenal Allah, kamu memperhambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah. Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya?” Galatia 4: 8 – 9

Soal cinta adalah soal yang seringkali rumit. Sebuah peribahasa lama yang pernah saya kenal semasa di SMA ialah “Tak kenal maka tak sayang” yang artinya seseorang tidak dapat menyukai atau mencintai orang lain jika belum mengenalnya secara dekat. 

Peribahasa ini menarik buat saya karena justru waktu itu saya sering menjumpai adanya film yang bertemakan “cinta pada pandangan pertama”. Bagaimana orang bisa jatuh cinta sekalipun belum betul-betul mengenal orang yang dicintainya? Kemudian saya mendengar bahwa ada orang yang percaya bahwa “cinta itu buta”. Jadi mungkin ada orang yang mencintai orang lain sekalipun belum benar-benar kenal. Aneh bukan?

Dalam kenyataannya, banyak orang yang merasa kecewa kepada orang yang dicintainya, setelah benar-benar mengenal orang itu. Memang dengan berjalannya waktu, agaknya mata orang yang buta menjadi celik dan perasaan sayangnya menjadi hilang karena memang dari mulanya tidak ada rasa kenal.

Dalam ayat di atas Paulus bertanya kepada jemaat di Galatia bagaimana mungkin mereka yang mengaku kenal kepada Allah, bisa meninggalkan Dia untuk kembali kepada hidup lama mereka. Benarkah mereka mengenal dan mengasihi Allah jika mereka kembali memilih ilah-ilah yang dulunya mereka puja? Apakah ini berarti bahwa mereka tidak benar-benar mengenal Allah? Apakah mata mereka masih buta dan tidak dapat melihat kebesaran dan kasih Allah?

Memang mereka yang belum mengenal Allah tidak akan dapat mengasihiNya. Dengan kemampuan sendiri, kita tidak dapat mengenalNya. Tetapi Allah yang mahakasih sudah membuat mata kita yang dulunya buta untuk bisa melihat Dia. Karena kita bisa melihat kasihNya melalui pengurbanan Kristus, kita bisa mengenal Dia. Karena kita mengenal Dia, kita bisa mengasihiNya. Jika kita benar-benar mengasihiNya, tidak mungkin kita kembali kedalam kegelapan hidup lama yang penuh dosa. Mereka yang tak sayang adalah orang yang tak kenal.

Mengambil kesempatan untuk berbuat baik

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6: 10

Masa kecil adalah masa yang mengesankan; masa yang sering diisi dengan kenakalan, tetapi juga masa yang dipakai orangtua untuk membentuk perilaku anak-anak mereka. Dalam hal ini, orangtua saya sering menasihati agar saya tidak mengambil barang tanpa seizin pemiliknya. Sampai sekarang rasa malu masih timbul jika saya teringat akan saat dimana saya melanggar larangan mereka.

Kata “mengambil sesuatu” mempunyai arti memegang suatu barang untuk kemudian dibawa pergi. Jika itu adalah barang milik kita, itu adalah hal yang lumrah, tetapi jika itu barang orang lain tentunya kita harus meminta ijin pemiliknya agar tidak dikatakan mencuri.

Bagaimana pula jika kita mengambil barang berharga yang sudah diberikan orang kepada kita? Sudah tentu kita boleh membawa pulang pemberian itu, tetapi kita tidak boleh lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada si pemberi. Selain itu, tentunya kita mau menghargai pemberian itu dengan tidak menyia-nyiakannya.

Sebagai orang Kristen, kita percaya bahwa Tuhan yang mahakasih sudah memberikan berbagai karunia, termasuk karunia terbesar yaitu keselamatan melalui darah Kristus. Dalam hidup sehari-hari, Tuhan juga memberikan kesempatan kepada setiap umatNya untuk bersyukur kepadaNya dengan berbuat baik kepada semua orang, karena Ia sudah lebih dulu berbuat baik bagi kita.

Setiap orang sudah diberikan Tuhan kesempatan untuk hidup baik. Mengambil kesempatan untuk hidup tanpa mau memikirkan dari mana itu datang, sudah tentu merupakan hal yang tidak pantas. Menggunakan kesempatan hidup tanpa mau mengerti apa arti pemberian itu adalah pencerminan sikap mementingkan diri sendiri. Dan tindakan mengambil kesempatan dari Tuhan hanya untuk kemuliaan diri sendiri, tidaklah jauh berbeda dengan mencuri.

Ayat di atas mengingatkan kita bahwa kesempatan untuk berbuat baik sudah disediakan Tuhan bagi kita selama kita hidup. Karena itu adalah pemberian Tuhan, kita tidak perlu ragu-ragu untuk memakainya. Sebaliknya, karena kesempatan itu diberikan kepada setiap umatNya, kita harus bersedia untuk mengambil kesempatan itu untuk bisa digunakan sesuai dengan kehendakNya, yaitu untuk membawa kemuliaan bagi Dia. Maukah kita mengambil kesempatan yang masih ada untuk berbuat baik kepada semua orang dan terutama kepada saudara-saudara seiman kita?