“Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi!” Yakobus 5: 13

Hari Natal adalah hari peringatan akan kelahiran Tuhan Yesus. Hari yang akan dirayakan sebagai hari gembira karena datangnya Sang Juruselamat lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Bagi mereka yang bukan orang Kristen pun, hari Natal adalah hari yang biasanya disambut dengan rasa senang. Bagi mereka yang mempunyai keluarga atau teman dekat, hari itu mungkin bisa dirayakan bersama-sama. Mereka yang sering ke gereja mungkin sudah merencanakan untuk hadir dalam kebaktian khusus hari Natal. Tetapi, banyak juga orang yang jika ditanya, menjawab bahwa mereka tidak mempunyai rencana khusus untuk merayakan Natal. Mungkin karena mereka jauh dari keluarga, tidak mempunyai sanak atau teman, atau sedang berada dalam keadaan yang kurang menyenangkan. Bagi mereka, Natal justru bisa mendatangkan kesedihan.
Mereka yang beriman, seharusnya bisa membayangkan bahwa Tuhan yang ada di surga adalah Tuhan yang sebenarnya ingin untuk dekat dengan ciptaanNya. Keselamatan yang direncanakanNya sudah dilaksanakan sejak mulanya dengan mendatangkan AnakNya ke dunia. Yesus yang turun ke dunia adalah Tuhan sendiri yang berwujud manusia, dan dengan pengurbananNya sudah menjembatani hubungan antara Allah Bapa dan umatNya. Allah tidak lagi oknum yang jauh di sana, tetapi adalah Bapa dari orang percaya. Lebih dari itu, sesudah Yesus naik ke surga, Roh Kudus diberikanNya kepada semua pengikutNya guna memberikan penghiburan, bimbingan dan keberanian untuk menghadapi segala tantangan hidup di dunia. Dengan demikian, kehadiran Tuhan seharusnya makin terasa dalam hati umatNya ketika hari Natal mendatangi.
Mengapa Tuhan yang seharusnya dekat masih terasa jauh di sana? Itulah pertanyaan yang sering diucapkan setiap orang yang merasa bahwa mereka harus menghadapi hidup ini sendirian. Bagi setiap orang percaya, ini adalah pertanyaan yang seharusnya bisa dijawab. Karena Tuhan sudah menunjukkan kasihNya melalui kelahiran Yesus, adalah kenyataan bahwa Ia ingin menyertai setiap umatNya. Jika kehadiran Tuhan tidak kita rasakan dalam hidup kita, itu adalah karena kita sendiri yang belum membuka hidup dan hati kita untuk Dia.
Ayat di atas menyatakan bahwa sebagai orang percaya kita harus mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan. Ini haruslah dilakukan setiap saat, dan bukan hanya jarang-jarang saja. Jika kita menderita, baiklah kita berdoa kepada Tuhan; jika kita bergembira baiklah kita memuji Dia. Kebiasaan yang baik ini haruslah selalu dipertahankan sekalipun hidup kita terasa sibuk sepanjang tahun. Tuhan yang datang ke dunia sebagai manusia adalah Tuhan yang bisa merasakan suka-duka kita dan Tuhan yang mau dekat dengan kita. Yesus adalah sobat yang setia dalam keadaan apapun.
Mungkin pada saat-saat yang lalu kita sering mengalami kesusahan. Mungkin penderitaan yang kita alami membuat kita merasa bahwa Tuhan pun tidak dapat menolong kita. Dengan keadaan sedemikian, kita mungkin merasa bahwa doa kita tidak ada gunanya. Pada pihak yang lain, mungkin saja selama ini hidup kita cukup lancar dan kita merasa itu sudah sewajarnya. Kita sudah berusaha hidup baik dan bekerja keras, dan sudah sepatutnya kita memperoleh keberhasilan. Dengan itu mungkin kita lupa untuk memuji Dia. Sekalipun Tuhan ada di dekat kita, Dia sudah menjadi Tuhan yang diabaikan. Dengan demikian, tidaklah mengherankan bahwa lambat laun hubungan kita dengan Tuhan menjadi renggang atau hambar.
Hari Natal sudah dekat, tetapi getaran hati kita untuk menyambut hari kelahiranNya mungkin tidak terasa. Hari Natal mungkin sudah menjadi hari yang tidak ada artinya secara spritual. Tuhan yang sudah kita abaikan hari demi hari tidak akan terasa dekat sekalipun lagu-lagu Natal mulai menggema. Hubungan yang renggang sepanjang tahun tidak akan membuat kita sadar bahwa Ia sudah datang untuk kita, agar kita tidak merasa seorang diri dalam hidup di dunia. Hanya dengan mengubah hidup kita untuk dekat kepadaNya dalam setiap saat dan keadaan, dalam duka maupun suka, kita akan dapat mengerti kasih dan penyertaan Tuhan sepanjang hidup kita.


Masih teringat saya akan pelajaran bahasa Inggris yang saya ikuti pada saat saya belajar di universitas. Pada pagi itu saya sedang duduk diruang kuliah bersama teman-teman sekelas. Kemudian beberapa murid diminta pak dosen untuk membuat sebuah kalimat dengan memakai kata-kata tertentu. Kebetulan saya ditunjuk untuk membuat kalimat yang dimulai dengan “There is nothing .., but …” atau “Tidak ada hal yang…, kecuali …”. Entah saya mendapat ilham dari mana, tetapi langsung saya menulis di papan tulis “There is nothing that can make me happy, but money” yang artinya “Tidak ada yang bisa membuat saya bahagia, kecuali uang”. Pak dosen pada waktu itu dengan tersenyum langsung memanggil saya “money lover” alias “pecinta uang”.




