Tuhan tidak pernah berubah

“Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah, dan kamu, bani Yakub, tidak akan lenyap.” Maleakhi 3: 6

Mereka yang membandingkan Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sering mendapat kesan bahwa Tuhan yang ada dulu, berbeda dengan Tuhan yang ada sekarang. Tuhan dalam Perjanjian Lama adalah Tuhan yang kejam dan menyebabkan kematian banyak orang, sedangkan Tuhan dalam Perjanjian Baru adalah Tuhan yang mahakasih dan mahasabar, yang membenci segala bentuk kezaliman. Tuhan sudah tentu adalah Oknum Ilahi yang bisa menyesuaikan diri dengan keadaan zaman, begitulah pikiran sebagian orang.

Tidak dapat disangkal bahwa di sepanjang sejarah manusia dan peradabannya sudah berubah, dan dengan itu apa yang dulu bisa diterima, sekarang mungkin dianggap sebagai hal yang tidak etis atau tidak baik, dan begitu juga sebaliknya. Dengan demikian, ada orang yang berpendapat bahwa Tuhan pasti juga berubah sesuai dengan kemajuan zaman. Tuhan tidak mungkin ketinggalan zaman, begitu pikir mereka. Tetapi, jika Tuhan berubah sedemikian, Tuhan yang “makin pandai” bukanlah Tuhan yang sempurna dari awalnya.

Menurut Alkitab dan sesuai dengan ayat di atas, Tuhan adalah Oknum Ilahi yang mahasempurna sejak mulanya. Pengakuan Iman Westminster yang sering dipakai sebagai bahan katekisasi lebih lanjut menegaskan bahwa Tuhan tidak berubah dalam eksistensi, kebijaksanaan, kuasa, kesucian, keadilan, kebaikan dan kebenaranNya (Ibrani 1: 10 – 12). Sebagai Tuhan, Ia tidak dapat bertambah atau berkurang dalam segala kebesaranNya.

Jika manusia berubah-ubah cara hidupnya, Tuhan selalu menghadapinya dengan standar kesucian dan kemurnian yang sama. Sebagai contoh, jika dulu orang Kristen memandang pernikahan antara pria dan wanita sebagai sesuatu yang selayaknya diberkati Tuhan, sekarang tidak bisa mengharapkan bahwa Ia akan menyesuaikan diri dengan gaya kebebasan manusia modern yang sering membuat definisi baru tentang pernikahan.

Jika sifat hakiki Tuhan tidak pernah berubah, adakah perbedaan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru? Sudah tentu ada! Dalam Perjanjian Lama, Tuhan membimbing umat Israel untuk menggenapi penyelamatanNya; dalam Perjanjian Baru, Ia sudah menggenapi semuanya dengan pengurbanan Yesus Kristus. Tetapi dalam semuanya, kasih dan kuasa Tuhan tidak berubah.

Jika Tuhan dulu membimbing umat Israel sebagai umat pilihanNya, dengan kematian Yesus di kayu salib, setiap orang secara pribadi sekarang bisa menjadi umatNya (Yohanes 3: 16). Dengan demikian, setiap orang bisa mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan. Setiap orang juga harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan dan tingkah lakunya secara pribadi kepada Tuhan.

Tuhan kita yang mahakuasa, mahatahu, mahahadir, mahasuci dan mahakasih tidak pernah berubah untuk selama-lamanya. Karena itu, kitalah yang harus berubah, makin lama makin bisa menuruti firmanNya selama kita hidup di dunia.

Berserah dengan keyakinan

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Pengkhotbah 3: 11

Hari ini adalah hari terakhir di Shanghai sebelum terbang kembali ke Australia. Kunjungan singkat ke Tiongkok sudah hampir berakhir dan esok hari saya tentunya harus kembali ke acara rutin sehari-hari. Berbagai hal yang sudah bisa dilihat dan dinikmati selama beberapa hari ini membuat saya bersyukur.

Apa yang ada saat ini memang sangat berbeda dengan apa yang saya alami pada kunjungan pertama saya ke Tiongkok dua puluh tahun yang lalu. Tuhan bukan saja memberikan berkatNya untuk bangsa dan orang tertentu, tetapi Ia juga menunjukkan kasihNya kepada semua orang di dunia. Tuhan memang bisa membuat apa yang kurang baik menjadi baik pada waktunya.

Ayat di atas sering dikutip orang untuk menyatakan kepercayaan bahwa Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang memegang kontrol atas segala sesuatu. Ialah yang membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Bagian pertama ayat ini memang bisa dipakai untuk semboyan berpikir secara positif. Tetapi secara keseluruhan, ayat ini sebenarnya tidak mudah dimengerti. Apa arti “Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka”?

Kekekalan disini dapat diartikan sebagai apa yang tidak dapat dilihat mata manusia. Mata manusia hanya bisa melihat apa yang muncul di depan mereka. Dengan demikian, manusia merasa senang ketika mendapatkan apa yang diingininya dan merasa sedih jika apa yang terjadi tidaklah sesuai dengan apa yang diharapkan. Pada pihak yang lain, Tuhan memberikan kekekalan hanya kepada orang-orang yang percaya kepadaNya.

Manusia yang tidak mengenal Tuhan hanya bisa merasa bahagia jika apa yang indah dan nyaman muncul dalam hidupnya di dunia. Apa yang bisa dinikmati manusia adalah apa yang dirasakan oleh pancaindera. Tetapi, pancaindera manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. Dengan demikian, manusia mudah merasa sedih atau putus asa jika apa yang indah tidak kunjung datang.

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa Tuhan pasti membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Lebih dari itu, Tuhan sudah memberikan pengertian akan kekekalan dalam hati kita. Kita mengerti bahwa apa yang indah di mata, belum tentu indah untuk selamanya. Sebaliknya kita tahu bahwa apa yang kekal adalah indah untuk selamanya.

Keselamatan kita adalah kekal karena kasih Tuhan yang tidak berkesudahan. Sekalipun orang lain tidak dapat memahaminya, kita sadar bahwa Tuhan bekerja dari awal sampai akhir untuk kebaikan umatNya. Apa pun yang terjadi dalam hidup kita, kita tidak akan ragu akan kesetiaan Tuhan.

Memimpin dengan kasih

Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” Matius 20: 25 – 27

Salah satu hal yang menarik perhatian turis di Tiongkok adalah banyaknya kamera monitor CCTV yang bertebaran di berbagai tempat. Menurut kabar, kamera ini ada yang digunakan untuk memonitor tingkah laku atau perbuatan setiap orang siang dan malam. Dengan demikian, orang-orang yang melakukan kejahatan atau perbuatan yang salah bisa dicari dan ditemukan oleh yang berwajib dengan mudah, untuk kemudian dihukum atau dikenakan “denda sosial” sehingga mereka tidak bisa keluar negeri atau mendapat kemudahan dari pemerintah.

Bagi mereka yang terbiasa dengan kebebasan demokrasi a la dunia barat, cara pemerintah Tiongkok memperlakukan rakyatnya mungkin dianggap represif atau bersifat tangan besi. Tetapi bagi pemerintah setempat, itu mungkin satu-satunya cara untuk bisa “menertibkan” hampir 1400 juta penduduknya. Manusia dalam keterbatasannya, secara umum tidak bisa mengatur orang lain dengan kelemahlembutan.

Bukan hanya pemerintah saja yang sering mengatur rakyatnya dengan tangan besi, dalam kehidupan sehari-hari pun orang sering merasa bahwa mereka hanya dapat mengatur orang lain dengan cara otoriter. Mungkin pengalaman pahit di masa lalu, orang merasa kurang yakin untuk dapat memimpin orang lain dengan cara yang lebih lunak. Karena itu ada direktur yang bertingkah laku seperti seorang diktator, dan ada orangtua yang mendidik anak-anaknya dengan keras.

Adakah cara lain untuk mengatur orang lain agar mereka bisa bekerja dengan baik? Bagaimana kita bisa membuat orang lain mau untuk menurut aturan atau standar kehidupan tanpa membuat mereka merasa tertekan? Ayat di atas menyatakan bahwa siapa yang ingin menjadi pemimpin, hendaklah ia menjadi pelayan, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka, hendaklah ia menjadi hamba. Orang yang ingin agar orang lain untuk tunduk kepada kepemimpinannya, harus bisa menyatakan kasihnya dalam segala tindak-tanduk dan keputusannya.

Menjadi pemimpin yang baik dan yang dicintai bawahannya tidaklah mudah. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana caranya atau bisa melaksanakannya dengan benar, jika tidak pernah menyadari bagaimana Yesus, Anak Allah, sudah merendahkan diriNya untuk turun ke dunia sebagai manusia biasa. Seperti Yesus sudah menjadi gembala yang baik bagi umatNya dengan mau berkurban bagi mereka, kita pun harus mau menunjukkan kasih kita kepada mereka yang kita pimpin.

“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” Yohanes 10: 11

Tuhanlah yang melindungi umatNya

“Sebab Engkaulah yang memberkati orang benar, ya TUHAN; Engkau memagari dia dengan anugerahMu seperti perisai.” Mazmur 5: 12

Suatu hal yang menarik perhatian saya ketika mengunjungi bangunan kuno di Tiongkok adalah adanya balok pintu (door threshold) di pintu rumah. Balok yang berbeda-beda tingginya ini diletakkan di lantai, di antara dua jenang pintu. Adanya balok yang tingginya sekitar 15-20 cm ini sudah tentu bagi yang tidak terbiasa merupakan hal yang kurang menyenangkan karena bisa membuat orang tersandung.

Mengapa orang meletakkan balok seperti itu di depan pintu masuk? Ada banyak alasannya, tetapi alasan praktisnya yaitu untuk membuat air hujan, banjir, tikus atau debu jalan sulit untuk memasuki rumah. Alasan lain yang sering dikemukakan adalah untuk mencegah roh jahat memasuki rumah atau menghalangi rezeki keluar rumah. Mengenai alasan yang kedua ini, sebagian orang menganggapnya takhayul, tetapi sebagian lain berpendapat bahwa ini hanya simbol dari harapan pemilik rumah.

Agaknya mudah bagi orang di zaman ini, terutama orang Barat, untuk menilai bahwa adalah aneh jika orang berharap untuk bisa memagari rumah dari roh jahat dan mencegah hilangnya rezeki dengan memakai balok yang melintang di ambang pintu. Selain itu, ada juga orang yang memandang kepercayaan tentang adanya ancaman roh jahat sebagai kepercayaan kuno yang tidak beralasan.

Pada pihak yang lain, orang di zaman modern sering melakukan hal yang serupa untuk melindungi diri dari hal yang tidak diharapkan. Hal mengejar kesuksesan misalnya, mempunyai segi praktis yaitu untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga bisa menimbulkan kepercayaan bahwa itu dapat menghindari kesusahan dan bisa memberi kebahagiaan. Bagi mereka yang beragama, kesuksesan juga sering menjadi simbol harapan akan penyertaan kuasa ilahi, dan agama mereka mungkin digunakan untuk menghindari kuasa jahat. Pandangan-pandangan seperti ini sudah tentu bukan pandangan Kristen.

Bagi orang Kristen, Tuhan adalah satu-satunya yang dapat melindungi hidup kita. Tuhan adalah sumber kehidupan kita, dan Ia adalah yang memberkati umatNya dan memagari dia dengan anugerahNya seperti perisai. Umat Kristen percaya bahwa dalam segala keadaan, baik dalam kekurangan maupun kelebihan, Tuhan selalu menyertai mereka. Manusia tidak mungkin bahagia tanpa penyertaan Tuhan dan tidak dapat mengatasi kuasa jahat tanpa perlindungan dan kuasa Yesus yang sudah mengalahkan iblis.

Kenakanlah perhiasan yang abadi

“Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.” 1 Petrus 3: 3 – 4

Dalam perjalanan ke Tiongkok saya sempat mengunjungi beberapa pusat pembuatan cenderamata. Dari situ saya bisa melihat bagaimana bangsa ini begitu menghargai batu giok (jade) yang adalah salah satu dari jenis batu permata yang umumnya berwarna hijau yang mengandung beberapa unsur mineral.

Batu giok adalah batu nasional Tiongkok dan dianggap sebagai batu yang membawa kemujuran, kesehatan dan kebahagiaan pemakainya. Jika batu giok yang keras dipakai sebagai perhiasan seperti gelang dan kalung, batu giok yang lunak bisa dibuat bahan kerajinan tangan atau ornamen seperti ukir-ukiran.

Karena makin sulitnya untuk memperoleh batu ini, harganya terus meningkat. Walaupun tidak murah, sebagian orang tetap saja ingin untuk membeli perhiasan dan ornamen batu giok asli dari Tiongkok.

Pada saat rasul Petrus menulis ayat di atas, mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa di beberapa tempat di dunia, giok sudah diagungkan sebagai “batu penyelamat” bahkan sebagai “batu kesehatan” oleh suku-suku bangsa di Asia Timur dan di benua Afrika ataupun Amerika, termasuk oleh suku Maya dan Inca. Walaupun demikian, rasul Petrus tahu bahwa banyak orang yang merasa bangga jika dapat mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau mengenakan pakaian yang indah-indah.

Lebih mencolok dari masa silam, di zaman modern ini kebahagiaan orang, baik pria maupun wanita, sering diukur dengan kemampuan untuk memakai segala sesuatu yang serba gemerlapan dan serba “wah”. Mereka mungkin tidak sadar bahwa di hadapan Tuhan semua itu tidak ada artinya. Apapun yang ada di dunia adalah benda fana yang tidak abadi. Dengan demikian, semua benda jasmani yang dibanggakan manusia adalah kebodohan bagi Allah.

Pagi ini ayat di atas mengingatkan kita bahwa jika kita ingin terlihat indah dalam pandangan Allah, kita harus mengenakan apa yang abadi, yang diberikanNya kepada kita untuk memuliakan Dia. Setelah mengenal dan percaya kepada Yesus, Roh Kudus yang tinggal dalam hati kita seharusnya sudah membuat kita sadar bahwa keindahan dari dalam hati kita adalah jauh lebih berharga dari benda apapun.

Adanya kasih, rasa syukur, kesabaran, kelemahlembutan, kerendahan hati dan segala apa yang baik secara rohani adalah “perhiasan” berharga di mata Allah. Mengapa pula kita masih lebih mementingkan penampilan lahiriah daripada batiniah? Dan adakah alasan bagi kita untuk tidak mau berubah dari penampilan lama kita untuk mengenakan apa yang benar-benar indah?

Pakailah kesempatan yang ada

“Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?” Roma 2: 4

Hari ini saya meninggalkan Beijing untuk menuju ke Shanghai dengan menggunakan kereta api yang berkecepatan 300 km per jam (high speed train). Jam 7 pagi saya sudah berada di stasiun Beijing Selatan untuk check in dan melihat sudah banyak orang yang menunggu saat boarding ke kereta masing-masing.

Walaupun stasiun modern ini nampak sibuk, kelihatannya para penumpang mau menunggu dengan sabar dan mengantri dengan tertib seperti di airport saja. Ini agak berbeda dengan suasana yang saya lihat 20 tahun yang lalu, dan juga dengan keadaan di beberapa negara Asia lainnya, dimana orang masih sering terlihat dorong mendorong.

Apa yang bisa membuat orang untuk mengubah gaya dan cara hidupnya? Tentu adanya pengarahan dan pendidikan bisa memperbaiki kehidupan masyarakat. Tetapi, ini hanya bisa terjadi jika kesempatan yang ada kemudian dipakai seseorang dalam kurun waktu yang tersedia. Bagi setiap insan, kesempatan tidak selalu ada atau ada untuk selamanya. Bagi setiap orang, keputusan ada di tangan sendiri untuk bisa berubah menjadi makin baik.

Ayat di atas mengingatkan bahwa kesempatan bagi setiap orang yang belum percaya untuk bertobat datang dari Tuhan. Karena itu, mereka seharusnya tidak menganggap sepi kemurahan Tuhan, kesabaranNya dan kelapangan hatiNya. Setiap orang seharusnya sadar bahwa maksud kemurahan Tuhan selama orang hidup di dunia adalah menuntunnya kepada pertobatan, dan untuk itu kesabaranNya ada batasnya.

Mereka yang berkeras hati, yang tidak mau bertobat, akan menimbun murka atas dirinya sendiri dan pada waktunya akan menerima hukuman Tuhan, karena Ia yang adil akan membalas setiap orang menurut perbuatannya,

Jika kesempatan dari Tuhan bagi mereka yang belum bertobat adalah terbatas, kesempatan yang serupa bagi kita orang percaya untuk memperbaiki cara hidup kita juga tidak boleh diabaikan. Jika kita benar-benar umat Tuhan, tidak mungkin dengan sengaja memilih untuk mengulangi dosa-dosa lama kita yang sudah diampuniNya. Jika kita benar-benar taat kepada Tuhan, tidak mungkin kita menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Tuhan.

“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” Roma 6: 1 – 2

Tuhan adalah tempat perlindunganku

“Demikianlah TUHAN adalah tempat perlindungan bagi orang yang terinjak, tempat perlindungan pada waktu kesesakan.” Mazmur 9: 9

Kemarin saya sempat mengunjungi tembok besar China (the Great Wall of China) untuk kali yang kedua. Tembok besar China adalah salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Ini merupakan bangunan terpanjang yang pernah dibuat oleh manusia (lebih dari 8 km), sekalipun merupakan gabungan tembok-tembok pendek yang mengikuti pegunungan di utara China.

Pada awalnya tembok itu mulai dibangun sekitar 900 tahun sebelum Masehi dan bertujuan untuk menahan serangan musuh dan suku-suku dari utara Tiongkok. Dengan berjalannya waktu, tembok itu rusak dan mengalami perbaikan oleh berbagai penguasa suku. Apa yang dapat dikunjungi saat ini adalah sebagian kecil dari tembok yang sudah diperbaiki oleh pemerintah Tiongkok modern untuk memenuhi syarat keamanan dan kenyamanan turis.

Jika suku-suku bangsa di China pada zaman dulu berharap untuk bisa menahan serangan musuh dengan membangun tembok yang tinggi, bangsa-bangsa lain di dunia juga memakai taktik yang sama. Tembok Yerikho misalnya, adalah tembok pertahanan suku Kanaan yang sebenarnya sudah mulai dibangun pada tahun 8000 sebelum Masehi.

Pada zaman modern, tembok pertahanan kota semacam ini sudah tidak dijumpai karena tidak praktis atau pun berguna. Walaupun begitu, untuk bisa bertahan atau survive manusia modern mempunyai tembok-tembok pertahanan yang lain, seperti kedudukan, kepandaian, kekayaan dan sebagainya. Tanpa bentuk pertahanan seperti itu, banyak manusia merasa lemah karena mudah dipermainkan dan dihancurkan orang lain.

Bagi mereka yang lemah dan mengalami penderitaan karena perlakuan orang lain, seringkali perhatian orang lain dan perlindungan hukum yang dibutuhkan terasa tidak ada. Tanpa kedudukan, pengaruh dan uang, hidup orang kecil bisa terasa berat. Mereka yang sudah jatuh, seringkali terhimpit tangga.

Kemana kita harus mengadu jika orang lain tidak peduli atas nasib kita? Apakah yang dapat kita lakukan untuk membendung serangan musuh-musuh kita? Ayat di atas mengingatkan kita bahwa jika usaha kita untuk mencari perlindungan dari dunia seringkali sia-sia, Tuhan di surga adalah satu-satunya harapan kita. Ia yang mahakuasa dan mahakasih adalah tempat perlindungan orang yang berharap kepadaNya, sekarang dan selamanya.

“Sebab bukan untuk seterusnya orang miskin dilupakan, bukan untuk selamanya hilang harapan orang sengsara.” Mazmur 9: 18

Menjadi pemimpin yang baik

“Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.” Roma 13: 13

Kemarin saya sempat mengunjungi kota terlarang (the Forbidden City) di Beijing. Ini adalah bekas keraton kaisar yang terletak di tengah ibukota Tiongkok. Sejak tahun 1949, negara ini menjadi negara republik, dan dengan itu kekaisaran dihapuskan. Kehidupan kaisar terakhir Tiongkok pernah dituangkan ke dalam layar putih dalam judul “The Last Emperor“.

Pada zaman sebelum tahun 1949, seorang kaisar di Tiongkok adalah orang yang ditakuti rakyatnya. Kaisar adalah pemimpin negara yang bersifat diktator. Warna kuning adalah warna kebesaran kaisar dan karena itu orang yang sengaja memakai warna kuning untuk cat rumah misalnya, bisa dihukum mati.

Kaisar pada waktu itu adalah orang yang suka berpesta-pora dan memiliki setidaknya 72 gundik selain seorang permaisuri. Tidaklah mengherankan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, rumahtangga kaisar yang mewah dan penuh pesta pora itu sering mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan dan kekacauan, seperti perselisihan dan iri hati.

Kaisar sebagai pemimpin negara seharusnya bisa membawa kebahagiaan kepada rakyatnya, tetapi jika rakyat justru menderita karena adanya pemimpin yang kacau hidupnya, itu adalah hidup yang tidak bermasa depan.

Hidup yang baik adalah seperti hidup pada siang hari, dimana orang pada umumnya menaati hukum dan etika yang ada. Tetapi, hidup yang kacau adalah bagaikan malam hari dimana orang yang bermaksud jahat bisa bekerja dengan leluasa dalam bayang-bayang kegelapan.

Orang Kristen adalah orang yang diharapkan untuk menjadi terang dunia, menjadi contoh yang baik dalam masyarakat. Sebagai orang yang sudah diselamatkan, seharusnya kita bisa membimbing orang lain untuk meninggalkan hidup lama yang kacau, guna menjalani hidup baru sesuai dengan panggilan Kristus. Tetapi, jika hidup kita sendiri kacau dalam pesta pora dan kemabukan, dalam percabulan dan hawa nafsu, dan juga dalam perselisihan dan iri hati, bagaimana pula kita bisa menjadi pemimpin yang baik?

Pagi ini, firman Tuhan mengundang kita untuk hidup dengan menjalankan firman Tuhan setiap hari. Dalam hidup pribadi atau pun dalam keluarga, tempat pekerjaan, dan juga masyarakat, kita harus ingat bahwa kekacauan adalah dosa yang dibenci Tuhan kita yang mahasuci.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing

“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” Galatia 6: 2

Di Australia, umumnya segala tugas sehari-hari harus dikerjakan sendiri. Dalam hal membersihkan pakaian, mencuci piring, berbelanja, bepergian dan sebagainya, orang tidak dapat mengharapkan jasa pembantu rumah tangga (PRT) dan supir. Ini karena ongkos untuk mempekerjakan mereka adalah cukup besar, sehingga hanya orang yang kaya sekali akan mampu menggajinya. Bagaimana dengan mencari pekerja dari negara lain? Ini pun sama saja, karena secara hukum, mereka seharusnya mendapat gaji yang sama besarnya dengan gaji pekerja lokal.

Dengan situasi yang sedemikian, tidaklah mengherankan bahwa dalam kehidupan rumah tangga, suami dan istri harus bisa saling membantu. Pembagian tugas keluarga antara orang tua dan anak pun bukanlah hal yang luar biasa. Memang hidup mungkin tidak bisa seringan apa yang ada di negara lain, tetapi jika tugas yang berat bisa dibagi di antara beberapa orang, tentunya itu bisa terasa lebih ringan. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Jika beban berat yang menyangkut hal jasmani tidaklah terlalu sulit untuk dibagi, beban rohani adalah berbeda. Di negara barat, orang lebih cenderung bersikap individual. Karena itu apa yang tidak terlihat dalam hidup seseorang dan apa yang bersifat pribadi, orang lain tidak ingin ikut campur. Sebagai akibatnya, banyak orang yang secara batin mengalami penderitaan, tanpa orang lain bisa menolong. Karena itu, merupakan fakta yang menyedihkan bahwa di Australia jumlah orang yang bunuh diri dan mengalami gangguan kejiwaan adalah cukup besar menurut ukuran internasional.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, menasihati mereka agar mau bertolong-tolongan menanggung beban hidup. Ini tidak lain adalah pemenuhan hukum kasih yang diajarkan Yesus kepada murid-muridNya. Dalam hal ini, seringkali orang merasa bahwa ia sudah memenuhi hukum Kristus dengan memberi bantuan yang berbentuk jasmani. Tetapi, bantuan jasmani adalah yang paling mudah dilakukan manusia.

Pagi ini kita diingatkan bahwa ada banyak orang di sekitar kita yang menanggung beban berat secara rohani. Ini mungkin tidak mudah dilihat mata, sekalipun mereka tinggal tidak jauh dari kita. Mungkin saja mereka hidup serumah, sekantor, sesekolah dan segereja. Di antara mereka mungkin saja ada yang sangat tertekan hati dan pikirannya. Bagi mereka, kesediaan kita untuk menyapa, mendengarkan keluh-kesah, menguatkan, dan mendoakan mereka mungkin adalah apa yang terpenting.

Firman Tuhan sudah mengingatkan kita akan pentingnya untuk memiliki peduli kasih kepada setiap orang yang menderita, terutama kepada mereka yang seiman. Untuk orang-orang yang sedemikian, Tuhan memerintahkan kita untuk mempunyai kepekaan dan mau berusaha meringankan beban, supaya kehadiran dan kasih Kristus bisa terasa dalam hidup mereka.

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6: 19

Dalam Yesus, Tuhan tidak lagi suatu enigma

“Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.” 1 Korintus 13: 12

Di Australia ada banyak orang yang mengadopsi anak yang berasal dari negara-negara lain. Secara umum, ada dua macam adopsi yang bisa dipilih, yaitu adopsi tertutup (closed adoption) dan adopsi terbuka (open adoption). Jika jenis adopsi yang pertama merahasiakan informasi mengenai orang tua anak yang diadopsi, jenis yang kedua memungkinkan anak yang diadopsi untuk mengenali siapa orang tua mereka.

Di zaman ini, adopsi terbuka dianggap lebih baik untuk pertumbuhan kejiwaan sang anak, karena ia tidak akan merasa seperti orang terbuang yang tidak tahu asal usulnya. Memang seorang yang diadopsi seringkali ingin tahu siapa orang tua yang sebenarnya dan hal ini bisa menjadi suatu enigma, atau tanda tanya yang besar yang membawa penderitaan.

Kurun waktu yang panjang dan jarak yang jauh seringkali membuat anak yang diadopsi sulit untuk mencari informasi tentang orang tua yang sebenarnya. Hal yang serupa membuat seseorang yang sudah lama hidup secara duniawi untuk sulit memikirkan asal usulnya. Sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan menurut peta dan teladanNya, ia tidak mudah mengenal bahwa pada awalnya ia adalah ciptaan Tuhan yang paling utama. Bagi manusia yang sudah hidup jauh dari Tuhan, Tuhan adalah seperti enigma.

Sebenarnya Tuhan yang di surga tidak jemu-jemunya berusaha untuk mengingatkan semua orang bahwa Ia ada dan menantikan mereka untuk mau kembali mengenaliNya. Tuhan bekerja dalam kehidupan manusia, dan melalui berbagai kejadian dan ciptaanNya mengingatkan setiap orang bahwa Ia ada. Namun tidak semua orang mau memikirkan adanya Tuhan. Bagi mereka, Tuhan yang jauh disana adalah Tuhan yang tidak perlu dikenal. Suatu enigma yang tidak dapat dipecahkan.

Bagaimana dengan hidup kita sendiri yang sudah percaya adanya Tuhan? Tentunya kita menyadari bahwa kita adalah anggota keluarga Tuhan. Kita bukan anak-anak dunia (Yohanes 17: 16). Walaupun demikian, kita tidak dapat membayangkan kebesaran Tuhan dengan sepenuhnya. Dengan iman kita percaya, tetapi kita belum pernah menjumpai Dia. Pada saat ini kita hanya dapat melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar. Hal ini seringkali mendatangkan kegalauan, karena setiap orang percaya hanya memiliki pengenalan akan Tuhan yang tidak sempurna.

Untunglah bagi kita, Yesus sudah turun ke dunia. Ia adalah Anak Allah dan satu dengan Allah. Yesus adalah Tuhan dan melalui hidupNya di dunia kita dapat mengenal siapa Tuhan dan bagaimana hakikatNya. Melalui Yesus kita tahu bahwa Tuhan adalah mahakuasa, mahatahu, mahahadir dan mahakasih. Bagi mereka yang percaya kepada Yesus, Tuhan bukanlah sebuah enigma. Sebagai orang Kristen kita tidak mempunyai alasan untuk menolak jalan, kebenaran dan hidup seperti yang sudah difirmankan Yesus.

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” Yohanes 14: 6 – 7