Tuhan mendengarkan keluh kesah kita

Lalu Yesus berhenti dan memanggil mereka. Ia berkata: “Apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab mereka: “Tuhan, supaya mata kami dapat melihat.” Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia. Matius 20: 32 – 34

Australia seperti banyak negara lain, mengalami perubahan iklim yang tidak pernah dialami sebelumnya. Sudah beberapa tahun ini curah hujan menurun, dan bahkan terhenti sama sekali di beberapa daerah. Banyak orang yang menghubungkan perubahan ini dengan kegiatan manusia yang menyebabkan berbagai polusi udara, dan untuk itu manusia haruslah mau mengubah cara hidupnya. Tetapi masih banyak juga orang yang yakin bahwa semua ini adalah bagian dari siklus perubahan iklim dunia. Bagi mereka, musim kering yang berkepanjangan ini akan berakhir pada suatu saat, seperti apa yang pernah terjadi pada abad-abad yang silam. Selain itu, ada orang yang percaya bahwa semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan, dan karena itu kita harus menerimanya. Siapakah yang bisa mempengaruhi Tuhan dan memaksaNya untuk berubah pikiran?

Hidup manusia mungkin bisa juga menghadapi kemarau yang panjang. Jika penderitaan datang silih berganti dan tidak kunjung hilang, perasaan gundah kita mungkin akan muncul. Apakah yang harus aku lakukan? Sebagian orang yang melihat kesulitan yang kita alami mungkin akan berkomentar bahwa “semua itu terjadi karena kesalahan yang diperbuatnya”. Walaupun demikian, ada juga orang yang berpendapat bahwa kesusahan dan kegembiraan adalah bagian hidup manusia. Mereka mungkin menasihati kita agar jangan berputus asa, karena semua yang pahit akan berlalu pada saatnya. Tetapi, ada juga orang-orang lain yang menasihati kita agar kita menerima semua itu sebagai kehendak Tuhan. Tuhah sudah menentukan segala yang terjadi di bumi dan di surga, baik hal yang baik maupun yang terlihat kurang baik. Tuhan yang mahakuasa tentunya tidak dapat kita bantah.

Dalam ayat di atas, diceritakan bahwa ketika Yesus dan murid-muridNya keluar dari Yerikho, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Ketika itu, dua orang buta yang duduk di pinggir jalan dan yang mendengar bahwa Yesus lewat, berseru memanggil Yesus memohon belas kasihanNya. Sebagai orang buta pada zaman itu hidup tentunya sangat berat. Mungkin, apa yang mereka bisa lakukan sehari-harinya adalah meminta-minta belas kasihan orang lain. Sebagai Anak Allah, Yesus tentu tahu apa yang dibutuhkan mereka, tetapi Ia tetap bertanya: “Apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Atas pertanyaan Yesus, mereka menjawab: “Tuhan, supaya mata kami dapat melihat.”Permohonan yang menarik karena mereka tidak meminta uang atau benda lain, tetapi memohon kesembuhan. Kesembuhan ajaib tentu tidak dapat dilakukan oleh manusia biasa.

Pantaskah permohonan orang buta itu kepada Yesus, Anak Allah? Bukankah Tuhan tahu apa yang mereka butuhkan sebelum mereka memohonkannya? Tidakkah permohonan orang buta itu keterlaluan? Bahwa Tuhan yang sudah “membuat” mereka buta sekarang diminta untuk mencelikkan mata mereka? Kedua pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sering dipikirkan oleh orang Kristen yang berada dalam penderitaan dan kesulitan hidup. Peperangan batin sering muncul antara keinginan untuk memohon dan keinginan untuk berserah.

Sebagian orang Kristen memang percaya bahwa Tuhan menentukan apa saja yang terjadi di dunia. Jika kurang dari itu, Tuhan bukanlah Tuhan yang mahakuasa, begitu pendapat mereka. Apa saja yang terjadi di dunia harus terjadi sesuai dengan rencanaNya, dan karena itu tidak ada “kejutan” bagi Tuhan. Pada pihak yang lain ada orang Kristen yang percaya bahwa karena dunia ini sudah jatuh dalam dosa, banyak hal yang jahat dan kejam yang terjadi; tetapi itu bukan karena perbuatan Tuhan. Tuhan yang mahatahu tidak akan “terkejut”  atau “heran” melihat adanya penderitaan dan kejahatan di antara manusia, karena Ia yang mahakuasa tetap bisa menggenapi rencanaNya dalam keadaan apapun. Selain itu, Tuhan belum tentu menghendaki adanya penderitaan tertentu pada manusia, tetapi Ia selalu menghendaki manusia sepenuhnya menyadari kuasa dan kasihNya dalam setiap keadaan.

Bagaimana dengan kedua orang buta itu? Yesus bisa melihat bahwa orang buta itu menderita, tetapi juga tahu bahwa mereka percaya bahwa Ia bisa menolong mereka. Yesus tahu bahwa mereka percaya bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Tuhan yang mahakuasa bisa berbuat apa saja yang diinginkanNya dan membiarkan apa saja untuk terjadi di dunia; tetapi Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang mendengarkan permohonan manusia yang percaya. Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia. Karena kuasa dan kasih Yesus, kedua orang buta itu menjadi celik secara jasmani dan rohani.

Pagi ini adakah penderitaan yang kita alami? Adakah hal-hal yang membebani kita sehingga kita merasa bahwa hidup ini hampa? Tuhan yang mahatahu tentu bisa melihat apa yang kita derita. Ia ingin agar kita memanggilNya, memohon pertolongan. Ia ingin agar kita menyadari bahwa Tuhan yang mahakuasa mempunyai rencana yang baik bagi setiap umatNya, dan itu bisa berarti bahwa apa yang kita alami sekarang, baik itu manis atau pahit,  adalah bagian dari rencanaNya untuk hidup kita. Tetapi, kita juga harus sadar bahwa rencana Tuhan tidak dapat dihalangi oleh keterbatasan manusia dan dunia. Karena itu kita tetap bisa menyatakan keinginan kita dalam doa permohonan kita kepadaNya. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang direncanakan Tuhan dalam hidupnya, tetapi setiap orang harus sadar bahwa Tuhan adalah mahakasih, dan Ia bisa memakai berbagai cara untuk mewujudkan rencanaNya.  Karena Ia mahakuasa dan mahakasih, kita bisa makin dekat kepadaNya dan tidak ragu untuk berdoa!

Jangan mendukakan Roh Kudus

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” Efesus 4: 30 – 31

Pernahkah anda merasa sedih karena perlakuan orang lain terhadap anda? Saya yakin jawabnya adalah “ya”. Dari kecil kita bisa merasakan kesedihan jika ada hal-hal yang diperbuat orang yang menyinggung, melukai dan membuat kita merasa kurang dihargai atau disayangi.

Dengan bertambahnya umur, mungkin orang lebih tahan sabar dalam menghadapi hal-hal semacam itu; tetapi, jika banyak hal-hal yang melukai hati setiap hari, perlahan-lahan kepribadian orang itu akan berubah. Memang perasaan yang terluka bisa membuat orang menutup diri terhadap mereka yang menyebabkannya.

Ayat di atas menyebutkan bahwa Roh Kudus bisa didukakan oleh perbuatan kita. Ini mungkin agak mengherankan sebagian orang Kristen, karena Roh Kudus sering digambarkan dengan api. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika memang pernah menulis agar mereka tidak memadamkan Roh (1 Tesalonika 5: 19). Jika Roh adalah api, atau “sesuatu”, memang kata “mendukakan” rasanya kurang tepat.

Walaupun demikian, Roh Kudus sebenarnya adalah Tuhan sendiri yang tinggal dalam diri umat percaya. Ia adalah Oknum yang seperti Allah Bapa dan Yesus Kristus, mempunyai kepribadian dan eksistensi Ilahi. Dalam kenyataanNya, Allah Bapa, Allah Putra dan Roh Kudus adalah satu, dan kepadaNya orang Kristen berbakti. Dengan demikian, segala kelakuan, tingkah laku, pikiran dan perbuatan yang salah bisa membuat Roh merasa sedih dan terlukai. Roh Kudus melihat bagaimana kita perlahan-lahan menjauhkan diri dan menuruti jalan kita sendiri.

Dalam kitab Perjanjian Lama ada banyak contoh dimana Allah dalam kemarahanNya kepada orang Israel, membiarkan mereka mengalami pengalaman pahit. Begitu juga banyak hal yang bisa mendukakan Tuhan yang tinggal dalam hidup kita, sedemikian rupa hingga kita tidak lagi dapat merasakan bimbingan dan pertolonganNya. Tidaklah mengherankan, jika orang hidup jauh dari Tuhan, yang mendukakan Roh Kudus, kemudian mengalami hal-hal yang semakin hari semakin parah. Tanpa bimbingan Roh, hidup manusia adalah bagai layang-layang yang putus talinya.

Bagaimana kita harus bersikap dalam hidup agar Roh tidak didukakan? Paulus menyebutkan dalam ayat di atas agar kita membuang segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah, dan segala kejahatan. Hal-hal yang sedemikian membuat Roh tidak mau bekerja membimbing kita dalam hidup sehari-hari. Sebagai akibatnya, hidup kita bisa menjadi makin kacau, dan rasa damai menjadi hilang.

Pagi ini, firman Tuhan menasihati kita bahwa sebagai orang percaya, kita harus mau hidup menurut firmanNya. Dengan hidup yang baik, bimbingan Roh Kudus akan makin nyata dalam hidup kita, sehingga makin hari kita akan makin sempurna seperti apa yang dikehendaki Tuhan.

“Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.” 2 Petrus 1: 10

Apakah Tuhan mengasihi semua orang?

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?” Matius 5: 45 – 46

Apakah Tuhan mengasihi semua orang? Ini adalah satu pertanyaan yang sering dikemukakan semua orang, baik orang Kristen maupun bukan. Sebagian orang percaya bahwa Tuhan hanya mengasihi mereka yang beriman, sebagian lagi yakin bahwa Tuhan membenci mereka yang “kafir”. Selain itu, ada juga orang yang percaya bahwa Tuhan hanya mengasihi mereka yang banyak berbuat amal dan berkurban untuk sesamanya. Sudah tentu, ada juga orang yang meragukan kasih Tuhan kepadanya, karena merasa bahwa hidupnya jauh dari apa yang dikendaki Tuhan.

Memang di dunia ini ada banyak agama yang mengajarkan bahwa Tuhan itu adalah oknum yang menuntut manusia untuk menyembah Dia dalam ketakutan dan dengan demikian manusia harus banyak berbuat baik di dunia, agar bisa menerima kasihNya. Tetapi, Alkitab menunjukkan bahwa kepercayaan seperti ini seringkali bukannya membuat manusia menjadi benar-benar baik, tetapi merasa sudah baik. Memang, jika kasih Tuhan dianggap bisa dibeli, orang tidak perlu merasa takut untuk berbuat dosa karena amal-ibadah bisa menebus dosanya. Pada pihak yang lain, mereka yang sudah berusaha untuk hidup baik sering masih merasa tertekan karena adanya perasaan bahwa Tuhan belum menunjukkan kasihNya.

Orang Kristen percaya bahwa Tuhan yang mahasuci menuntut umatNya untuk hidup baik sesuai dengan firmanNya. Tuhan membenci dosa dan tidak dapat dipermainkan oleh manusia dengan segala pikiran dan perbuatan mereka. Walaupun demikian, tidak ada apapun yang bisa diperbuat manusia untuk mencuci dosanya, untuk memenuhi syarat kesucian Tuhan. Semua manusia sudah berdosa dan tidak layak berdiri di hadapan Tuhan. Umat manusia tidak akan mempunyai harapan masa depan jika Tuhan tidak mengasihi mereka.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” Roma 3: 23

Apakah Tuhan mengasihi semua umat manusia? Jika benar, mengapa ada orang yang kelihatan jaya dan berbahagia, sedangkan orang lain harus menderita? Ayat pembukaan kita menyatakan bahwa Tuhan yang di sorga menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Jika semua manusia sudah sepantasnya menderita karena dosa-dosa mereka, Tuhan tetap memelihara mereka untuk bisa hidup dan lebih dari itu, memberi kesempatan bagi mereka untuk mengenal kuasa dan kasihNya.

Tuhan bukan saja memberi karunia dan berkat kepada seisi dunia, Ia juga mengaruniakan AnakNya yang tunggal untuk menebus dosa manusia. Yesus datang ke dunia, supaya barangsiapa yang percaya kepadaNya bisa menerima hidup yang kekal di surga.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Kasih Tuhan sungguh besar dan tidak pandang bulu. Jika demikian, mengapa kita kurang atau tidak bisa mengasihi orang-orang tertentu? Mungkinkah karena orang-orang itu terlihat berbeda cara hidupnya jika dibandingkan dengan cara hidup kita? Mungkinkah orang-orang itu hidup bergelimang dalam dosa? Ataukah karena mereka membenci dan sering menyakiti kita? Ayat di atas menunjukkan jika kita hanya mengasihi orang-orang tertentu saja, itu berarti kita belum sadar bahwa karena kasihNya, kita yang tidak layak sudah diangkat menjadi anak-anak Allah karena darah Kristus. Pagi ini, marilah kita yakin bahwa Tuhan mengasihi semua orang, dan itu termasuk diri kita sendiri.

Menjaga integritas Kristen

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”  Matius 5: 37

Baru-baru ini ada iklan rumah dijual di internet. Dalam iklan itu ada foto dari ruang-ruang dari rumah yang walaupun kecil, terletak di tempat strategis. Rumah itu akan dilelang dengan patokan harga sekitar 775 ribu dollar. Dari foto-fotonya, rumah yang agak tua itu nampak rapi dan nyaman, dan karena itu banyak orang yang diperkirakan akan muncul pada hari pelelangan. Namun, suatu hal yang tidak terduga terjadi, dan karena itu mungkin saja rumah itu tidak jadi dijual. Mengapa? Dari penyelidikan beberapa orang, ternyata foto-foto rumah itu sudah “disulap”, sehingga apa yang kotor dan rusak tidaklah kelihatan di foto. Yang mengerikan adalah karpet  di foto yang kelihatan mulus, ternyata kotor dan bernoda gelap. Menurut koran, si pemilik rumah dulunya meninggal dunia di ruang itu dan selama beberapa hari jasadnya tidak ditemukan orang.

Mengapa orang mampu menyulap apa yang buruk untuk menjadi sesuatu yang kelihatan baik? Mengapa orang, demi keuntungan dan kenikmatan diri sendiri, sanggup untuk memutar-balikkan fakta? Mengapa banyak orang yang menghalalkan segala cara, asal  tujuannya tercapai? Mereka yang tidak punya etika yang baik sudah tentu dapat dikatakan sebagai oknum yang tidak berintegritas. Mereka belum tentu bukan orang Kristen, karena justru banyak orang Kristen yang mempunyai hidup dalam dualisme: hidup dalam gereja yang berbeda dengan hidup di luar gereja.

Integritas adalah suatu konsep berkaitan dengan konsistensi dalam tindakan-tindakan, nilai-nilai, metode-metode, ukuran-ukuran, prinsip-prinsip, ekspektasi-ekspektasi dan berbagai hal yang dihasilkan. Orang berintegritas berarti memiliki pribadi yang jujur dan memiliki karakter kuat. Tetapi, dalam hal kejujuran dan etika setiap orang seringkali berbeda, karena latar belakang, budaya, sifat, kebiasaan dan lingkungan bisa membuat orang mempunyai standar yang berbeda-beda. Karena itu banyak orang (dan bahkan pemimpin kaliber tinggi) yang percaya bahwa mereka adalah orang yang mempunyai integritas, sekali pun di mata umum mereka mungkin sebaliknya.

Bagi orang Kristen, integritas seseorang adalah tingkah laku dan perbuatan  yang  tidak menyimpang dari fiman Tuhan. Firman di atas menyatakan bahwa sebagai orang percaya kita harus yakin akan apa yang akan kita nyatakan kepada orang lain. Jika kita percaya bahwa itu benar adanya, kita harus mengiyakannya. Tetapi jika sesuatu adalah tidak benar, kita juga harus berani untuk berkata “tidak”. Upaya untuk menutup-nutupi kenyataan dengan tipu-daya atau kamuflase, seharusnya tidak ada dalam kamus kehidupan orang Kristen karena semua itu adalah ketidak-jujuran.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidaklah mudah bagi kita untuk selalu berlaku jujur. Seringkali, karena kekuatiran, ketakutan atau karena adanya resiko, orang Kristen tidak dapat mempertahankan integritasnya. Ini bukan saja mengenai soal bisnis, pekerjaan, dan sekolah, tetapi kehidupan keluarga pun sering digoncangkan karena adanya orang-orang yang tidak menjaga integritasnya. Sebagai akibatnya, seringkali ada rasa kurang percaya, rasa marah dan kecewa kepada orang lain yang timbul setelah sebuah tipu daya terbongkar.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa jika kita memang benar-benar pengikut Kristus, kita akan sungguh-sungguh yakin bahwa apa yang kita perbuat, katakan dan pikirkan pasti diketahui Tuhan. Dengan demikian, tidak ada gunanya bagi kita untuk berusaha melakukan  tindakan yang diharapkan untuk lebih meyakinkan orang lain atas integritas kita. Sebaliknya, kita harus menjaga integritas kita dengan selalu sadar bahwa apa yang kita tunjukkan dan sampaikan kepada orang lain adalah apa yang sudah diketahui oleh Tuhan kita. Integritas adalah ciri iman Kristen yang benar!

Ketika hujan lupa turun

“Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi.” Yakobus 5: 7

Kemarin cuaca di kota saya sangat cerah, tetapi langit biru tidaklah kelihatan. Asap kebakaran hutan di sekitar tempat kediaman saya membuat langit seperti berkabut kelabu. Dalam keadaan sedemikian matahari yang terbit atau terbenam menyinarkan warna merah, seakan ikut merasa marah atas musim kemarau yang berkepanjangan di Australia.

Sudah lama hujan tidak turun dan banyak pohon besar di halaman rumah saya yang mati kekeringan. Air ledeng saat ini harus digunakan secara berhemat dan tidak dipakai untuk hal yang kurang penting, seperti mencuci mobil , menyirami tanaman atau membersihkan lantai. Semua orang merasa menderita, tetapi sebagian besar masih bisa bersyukur jika tidak ada ancaman kebakaran hutan di daerahnya.

Mengapa hujan tidak kunjung turun? Apa yang bisa kita lakukan untuk mendatangkan hujan? Ini adalah pertanyaan yang dimiliki semua orang, tetapi tentu tidak semua orang yakin akan jawabnya. Memang, sekali pun dengan kemajuan teknologi saat ini, tidaklah mudah untuk mengubah iklim yang ada atau untuk membuat hujan turun pada daerah yang luas. Dalam hal ini, mau tidak mau orang harus menerima keadaan yang ada di saat ini.  Bagi orang Kristen, semua ini mungkin mengingatkan mereka akan kejadian  dalam Alkitab dimana orang Israel mengalami penderitaan yang serupa dan tidak ada manusia yang bisa memberi jawaban. Tuhanlah yang pada akhirnya menunjukkan kuasa dan kasihNya, dan hujan turun pada waktunya.

Dalam hidup di dunia saat ini, sebenarnya bukan hujan saja yang diharapkan manusia. Setiap manusia mempunyai berbagai pengharapan dan kebutuhan. Dalam hal ini, terkadang penderitaan yang dialami selagi menunggu datangnya pertolongan Tuhan terasa tidak tertahankan. Rasul Yakobus dalam ayat di atas menasihati jemaat pada saat itu untuk bersabar dalam penderitaan sambil mengingat bahwa kedatangan Tuhan sudah dekat. Seperti seorang petani, mereka semuanya harus bersabar menantikan datangnya hujan yang membawa hasil berharga dari tanahnya.

Kedatangan Tuhan menyatakan saat dimana kita bisa melihat kemuliaan Tuhan sambil bersukacita. Sudah tentu tidak ada seorangpun yang tahu kapan itu akan terjadi. Tetapi itu bukanlah masalah bagi mereka yang beriman, karena apa yang mereka alami tidaklah sebanding dengan apa yang akan mereka terima dari Tuhan. Bagi umat Kristen, kebahagiaan bisa dirasakan dalam segala keadaan karena mereka tahu bahwa Tuhan menghargai ketekunan umatNya. Tuhan yang maha penyayang dan penuh belas kasihan tidak akan menyia-nyiakan mereka yang setia kepadaNya.

“Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.” Yakobus 5: 11

Hal mendoakan orang lain

“Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.” 1 Timotius 2: 1 – 4

Hari ini, banyak daerah di Australia sedang dilanda malapetaka. Karena hujan yang tidak kunjung datang, kebakaran rumput dan hutan  yang luar biasa terjadi di beberapa tempat di negara bagian New South Wales dan Queensland. Banyak rumah penduduk yang musnah, dan bahkan beberapa orang sudah tewas terbakar, karena cuaca panas dan angin yang keras membuat menyebarnya api kebakaran sulit untuk diatasi. Dalam keadaan terdesak, banyak orang yang kemudian berdoa kepada tuhan apa saja untuk memohon pertolongan. Tetapi, orang Kristen tentunya menyampaikan doa syafaat kepada Tuhan yang dikenal melalui Yesus Kristus.

Apakah doa syafaat itu? Doa syafaat (bahasa Inggrisnya intercession) adalah salah satu bentuk doa yang sering ditemui dalam kehidupan bergereja. Secara singkat doa syafaat adalah saat manusia berdoa atas nama orang lain. Mungkin jemaat sering menyebutnya sebagai ‘doa untuk orang lain’, termasuk di dalamnya mendoakan bangsa dan negara, mendoakan orang orang yang menderita ditempat lain/negara lain, mendoakan umat beragama lain. Sudah tentu, untuk bisa mendoakan orang lain kita perlu untuk tahu bagaimana keadaan orang lain yang ingin kita doakan. Untuk bisa tahu, tentunya kita harus peduli akan keadaan orang lain. Mereka yang tidak peka atau tidak peduli akan keadaan orang lain tentunya hanya tahu keadaan diri atau kelompok sendiri. Mereka yang hanya mempunyai kepedulian, kasih dan belas kasihan untuk golongan sendiri, sudah tentu tidak tertarik untuk mengetahui masalah orang lain.

Haruskah kita selalu mendoakan orang lain dalam doa-doa-kita? Barangkali secara individual, orang kurang siap untuk berdoa syafaat. Di gereja, jemaat mungkin hanya berdoa syafaat karena ada pendeta yang memimpin doa, sesuai dengan liturgi gereja. Secara individu, biasanya orang Kristen kurang mau atau mampu untuk mendoakan orang yang tidak benar-benar dikenalnya. Dalam hal ini, kita memang lebih mudah untuk mendoakan diri sendiri atau sanak keluarga karena hubungan yang dekat dan juga karena kita merasa terbeban atas persoalan dan kebutuhan mereka. Tetapi, Tuhan yang mengasihi semua orang tentunya mau agar kita juga mengasihi siapa pun, bukan hanya sanak, teman dan orang kita kenal saja.

Ayat di atas adalah tulisan Paulus untuk rekannya yang jauh lebih muda, Timotius. Paulus pertama-tama menasihatkan Timotius agar ia menaikkan permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar semua orang dapat hidup tenang dan tenteram.  Itu bukan doa untuk orang Kristen saja dan bukan juga doa untuk orang yang kita kenal saja. Itu adalah doa untuk semua orang, dari semua bangsa dan semua kedudukan. Mengapa demikian? Paulus menjelaskan bahwa itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Allah yang mahakasih mau agar kita membagikan kasihNya untuk semua orang agar mereka bisa mengenal Dia.

Doa untuk orang lain bukan saja membawa kebaikan untuk  mereka. Doa syafaat juga mengingatkan bahwa bukan kita yang memiliki Allah, tetapi Allahlah yang memiliki kita. Bukan kita yang memilih Dia, tetapi Ia yang memilih kita. Dengan demikian, kita tidak boleh memonopoli kasih Allah atau merasa bahwa doa kita hanyalah untuk mereka yang sudah diselamatkan. Kita harus sadar bahwa Tuhan bekerja diantara umat manusia untuk membawa lebih banyak orang menuju kearah keselamatan. Tuhan mau agar kita bisa belajar mengasihi siapapun, dimana pun mereka berada, dan dengan demikian makin banyak orang yang  menyambut keselamatan dan pengetahuan akan kebenaran Tuhan.

Doa syafaat memang bisa membentuk karakter kita sebagai anak-anak Tuhan. Jika pada saat-saat yang lampau kita mungkin lebih memusatkan perhatian pada kepentingan diri sendiri atau kebutuhan sanak keluarga dan bangsa sendiri, kedewasaan iman bisa membuat kita sadar bahwa di luar lingkungan sendiri kasih Tuhan juga tercurah untuk semua orang, baik mereka yang sudah mengenal Tuhan atau mereka yang masih hidup dalam dosa. Doa syafaat tidak boleh dibatasi oleh tembok-tembok ras, agama, budaya atau bangsa. Bukankah pada saatnya semua orang yang percaya kepada Tuhan akan hidup bersama di surga?

Tanda orang percaya adalah adanya kasih

“Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.” 1 Yohanes 3: 14

Di dunia ini ada berbagai macam aliran kepercayaan dan agama. Sudah tentu, bagi mereka yang baru mulai mempelajari kerohanian, adanya berbagai agama bisa menimbulkan kebingungan. Manakah agama yang benar? Ataukah semua agama pada hakikatnya baik?

Sseorang penginjil terkenal pernah dalam sebuah siaran radionya menyebutkan 4 unsur utama yang seharusnya dipertimbangan mereka yang ingin mempelajari agama:

  1. Asal: dari mana datangnya manusia,
  2. Arti: apa arti hidup manusia,
  3. Akhlak: apa yang diajarkan agama mengenai moral manusia, dan
  4. Akhir: bagaimana hidup manusia akan berakhir.

Agama Kristen adalah satu-satunya kepercayaan yang secara konsisten bisa menghubungkan keempat unsur di atas secara harmonis karena adanya kepercayaan akan Tuhan yang mahakasih.

Karena kasihNya, Tuhan sudah menciptakan manusia agar mereka dapat hidup berbahagia dalam hubungan yang baik dengan Sang Pencipta. Karena kasihNya juga, Tuhan membimbing manusia agar mereka tetap bersandar dalam iman yang benar sampai saat dimana mereka menemui Sang Pencipta di surga.

Allah yang mahakasih dengan demikian menciptakan manusia bukan secara sembarangan, tetapi sebagai peta dan teladan atau gambarNya, dan memberi mereka kedudukan sebagai wakilNya di dunia. Sayang sekali, bahwa dengan jatuhnya manusia ke dalam dosa, manusia kemudian kehilangan kemuliaan dan kedudukan yang dikaruniakan Tuhan. Manusia yang sudah jatuh dalam dosa pastilah akan menuju ke neraka, jika Allah tidak mengambil inisiatif untuk menyelamatkan mereka yang bertobat.

Manusia baru adalah mereka yang sudah dipindahkan Tuhan dari kematian dan alam maut, ke dalam hidup baru yang kekal dalam kasih Tuhan. Dengan demikian, mereka yang sudah diselamatkan akan dapat memancarkan kasih Tuhan yang sudah mereka terima kepada orang lain.

Mereka yang belum bisa mengasihi sesamanya adalah orang-orang yang belum menerima kasih Tuhan yang menyelamatkan. Memang tidaklah mungkin bagi mereka yang sudah merasakan besarnya kasih Tuhan untuk tetap hidup untuk kepentingan serta kenyamanan diri sendiri saja. Mereka yang sudah hidup dengan rasa syukur atas keselamatan yang diterimanya pasti akan melimpah dalam kasih mereka kepada sesamanya.

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” 1 Korintus 13: 4 – 7

Mengapa berbalik arah?

“Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya?” Galatia 4: 9

Ada istilah yang sering dipakai untuk menggambarkan orang yang kembali ke keadaan yang pernah ditinggalkannya. Mungkin sebelumnya orang itu berkata bahwa ia tidak mau lagi melakukan sesuatu perbuatan karena satu dan lain sebab. Tetapi setelah beberapa waktu, orang itu kembali melakukan hal itu dengan berbagai alasan. Orang itu agaknya seperti kucing yang sudah meninggalkan tempat kediamannya, hanya untuk kemudian berbalik arah dan kembali ke tempat semula. Tindakan yang sedemikian dikatakan sebagai “balik kucing”.

Istilah balik kucing mungkin bunyinya aneh dan lucu untuk orang yang tidak mengenal sifat kucing yang memiliki kemampuan untuk pergi ke tempat jauh dan kembali ke tempat asalnya. Dalam bahasa formal baik dalam bahasa Indonesia maupun Inggris, istilah yang semakna mungkin tidak ada dan karena itu istilah “berbalik lagi” atau “turning back” dipakai sebagai gantinya.

Ayat di atas menampilkan peringatan rasul Paulus kepada jemaat di Galatia agar mereka tidak balik kucing. Paulus mengingatkan mereka yang sudah mengenal Allah yang mahakuasa dan mahakaya agar jangan berbalik lagi kepada hal-hal keduniawian yang tidak ada artinya di hadapan Tuhan dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya. Ini bukannya jarang, tetapi justru sering terjadi dalam masyarakat modern, dimana orang Kristen bisa tergoda oleh apa yang nampaknya nyaman, nikmat, dan gemerlapan di sekelilingnya. Mereka yang dulunya rajin ke gereja misalnya, lambat laun lebih ingin untuk menggunakan waktunya untuk hal-hal yang lain.

Keinginan untuk sukses juga bisa membuat orang Kristen berbalik arah. Dalam hal ini patut disayangkan adanya orang-orang Kristen yang mengajarkan bahwa setelah memperoleh jaminan keselamatan surgawi dari Yesus orang beriman harus yakin untuk bisa hidup dalam berkelimpahan di dunia. Ini sudah tentu tidak sesuai dengan firman Tuhan.

Berulang kali dalam Alkitab, Paulus mengingatkan jemaatnya bahwa menjadi pengikut Kristus bukanlah mudah. Seperti Paulus, mereka harus bisa menghadapi tantangan hidup dengan iman dan merasa cukup dalam semua keadaan. Tetapi, sekalipun hidup terasa berat orang yang benar-benar beriman tidak mudah untuk balik kucing. Mereka yang sudah berjanji untuk mengikut Kristus dan hidup dalam kebenaran, tidak akan mudah tergoda atas apa yang ditawarkan dunia, karena mereka tahu apa yang tersedia di surga tidaklah ada bandingnya.

Pagi ini, firman Tuhan memperingatkan kita bahwa jika Tuhan sudah mengenal kita, adalah kewajiban bagi kita untuk menyambut kasihNya dengan kesetiaan untuk menurut Dia, kemana pun dan apa pun yang dikehendakiNya. Itu berarti bahwa kita tidak lagi menuruti keinginan duniawi kita yang seringkali bertentangan arah dengan tujuan iman kita. Semoga kita tidak pernah tertarik untuk berbalik arah!

Berserah bukan berarti menyerah

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya”. 1 Petrus 5: 7 – 8

Australia seperti banyak negara maju lainnya mengalami masalah sosial yang cukup besar. Sekarang ini banyak penduduknya yang tergolong peminum berat alias alkoholik. Kecanduan alkohol atau miras sudah mengakibatkan berbagai dampak negatif bukan saja pada hidup perseorangan, rumah tangga dan komunitas, tetapi sudah juga merugikan ekonomi negara secara signifikan. Banyak juga pecandu alkohol yang akhirnya menjadi pecandu narkoba, dan ini sudah tentu membuat masalahnya menjadi makin rumit dan sulit dipecahkan.

Alkohol dan juga narkoba memang seringkali dipakai orang yang mengalami persoalan hidup untuk meredakan perasaan sedih atau kekosongan hidupnya. Pemakaian miras dan narkoba yang pada mulanya jarang-jarang, lambat laun menjadi kecanduan yang bisa menghancurkan hidup seseorang. Jika seseorang sudah menjadi pecandu, tidak banyak yang bisa ia lakukan, kecuali menyerah kepada keadaan. Dalam hal ini, banyak di antara mereka yang hidupnya berakhir dengan tragis.

Menyerah adalah suatu kata yang seharusnya tidak ada dalam perbendaharaan kata orang Kristen. Itu karena mereka percaya bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahakuasa dan Bapa yang mengasihi anak-anakNya. Dengan demikian, sekalipun hidup di dunia bisa menjadi sangat berat karena satu dan lain hal, orang yang beriman bisa tetap teguh karena mereka bisa menyerahkan diri kepada Tuhan dan bukan menyerah kepada keadaan.

Ayat di atas mengatakan bahwa kita harus mau menyerahkan segala kekuatiran kita kepada Tuhan, sebab Ia yang memelihara kita. Ini lebih mudah untuk dikatakan dari pada dijalankan. Karena itulah, banyak orang Kristen memilih untuk menyerah pada keadaan daripada berserah kepada Tuhan. Mungkin anda bertanya apakah kedua tindakan ini berbeda. Tentu saja! Tuhan tidak menghendaki umatNya untuk menyerah. Tuhan menghendaki umatNya untuk menyerahkan rasa takut dan kuatir kita, selagi kita berjuang. Dengan demikian, kita bisa menghadapi hidup ini dengan keberanian dan keyakinan bahwa Tuhan adalah yang membimbing kita.

Hidup ini memang penuh tantangan dan bahaya. Terutama karena iblis yang berjalan berkeliling seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Jika kita menyerah dan tidak berbuat apa-apa, sudah tentu kita akan menjadi korbannya. Jika kita melarikan diri, sang singa akan menerkam kita dari belakang. Lalu apa yang seharusnya kita lakukan?

Ayat di atas menulis bahwa kita harus sadar dan berjaga-jaga. Ini berarti kita harus bertindak dan bukannya pasif. Untuk bisa selalu sadar dan berjaga-jaga, kita membutuhkan kekuatan dan kebijaksanaan dari Tuhan. Kita harus sadar akan apa yang terjadi dalam hidup kita, dan berhati-hati melangkahkan kaki kita. Tidak lengah, apalagi tidur rohani. Sebaliknya, kita harus makin dekat dengan Tuhan dan taat kepada firmanNya. Berserah bukan berarti menyerah!

Menjadi anggota keluarga Allah

“Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudaraKu laki-laki, dialah saudaraKu perempuan, dialah ibuKu.” Markus 3: 35

Jika saya telusuri perbincangan antar pemakai sosial media di zaman ini, mau tidak mau saya merasa geli. Bagaimana tidak? Dulu kita selalu memakai istilah saudara dan saudari untuk memanggil orang yang kita ajak berbincang, tetapi sekarang ini orang sering memakai panggilan “bro” dan “sis“. Memang, kedua panggilan ini agaknya lebih keren karena berasal dari bahasa Inggris “brother” dan “sister” yang artinya “saudara” dan “saudari”. Tetapi, yang agak aneh ialah selain “bro”, panggilan  “Mas Bro” juga dipakai untuk teman pria. Mas Bro?

Lawan dari “bro” adalah “sis”, tetapi panggilan “sis” ini banyak ditemui di online shop, ketika penjual memanggil pelanggannya, tidak peduli pria atau wanita. Selain itu, ada juga panggilan “gan” yaitu panggilan untuk sesama pria anggota sebuah forum internet (agan). Bagaimana dengan panggilan “om”? Di zaman Belanda, “oom” dan “tante” adalah panggilan untuk paman dan bibi, tetapi “om” sekarang dipakai untuk memanggil pria yang dihormati, walaupun belum tentu tua atau lebih tua. Selain itu, di banyak gereja panggilan “om” dan “tante” sering dipakai untuk mereka yang duduk sebagai pemimpin gereja.

Panggilan-panggilan di atas tidaklah perlu ditanggapi terlalu serius. Jika kita dipanggil orang yang memakai istilah seperti itu, kita tidak perlu merasa kurang enak. Orang memanggil kita, tentunya dengan maksud agar bisa lebih akrab. Bagaimana dengan hal panggil-memanggil antara umat Kristen? Di Alkitab berbahasa Inggris, memang istilah brother and sister dipakai untuk memanggil orang yang belum tentu mempunyai hubungan darah, tetapi adalah saudara dan saudari dalam satu iman. Bahkan rasul-rasul memanggil siapa pun yang seiman sebagai saudara dan saudari, sekalipun belum pernah berjumpa. Agaknya iman yang mempersatukan semua umat Kristen, dimana pun mereka berada dan dari bangsa apapun.

Berbeda dengan panggilan saudara dan saudari dalam hubungan sehari-hari, panggilan saudara dan saudari dalam konteks kekristenan adalah hal yang serius. Alkisah, pada waktu Yesus tengah berbicara dengan orang banyak, ada orang yang mengingatkan Dia bahwa ibu dan saudara-saudaraNya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Apa jawab Yesus? Ia berkata: “Siapa ibuKu? Dan siapa saudara-saudaraKu?” Lalu kataNya, sambil menunjuk ke arah murid-muridNya: “Inilah ibuKu dan saudara-saudaraKu! Yesus bukannya tidak menghormati Maria dan bukannya tidak mengasihi saudara-saudaraNya, tetapi pada kesempatan itu Ia ingin menekankan pentingnya ikatan dengan Allah. Jika manusia sering memusatkan hidup mereka untuk kebutuhan keluarga, orangtua, saudara dan teman, sebagai orang Kristen mereka seharusnya memusatkan hidup mereka kepada Tuhan.

Pada ayat di atas Yesus menjelaskan bahwa barangsiapa melakukan kehendak Allah, dia adalah saudara, saudari dan ibu Yesus. Yesus adalah Anak Allah dan Ia adalah satu dengan Allah. Dengan demikian, jika kita hidup menurut firman Allah, kita adalah anggota keluarga Allah. Ini bukanlah hal yang remeh, karena mereka yang tidak mau melakukan kehendak Allah tentu adalah orang-orang yang tidak mengenal Allah, dan karena itu bukanlah “bro” dan “sis” yang sesungguhnya. Sekalipun kita mempunyai saudara dan saudari yang berhubungan darah, semua itu pada akhirnya tidak ada artinya jika mereka tidak dipersatukan dengan kita dalam darah Kristus. Sebaliknya, sekalipun kita tidak mengenal orang-orang yang jauh di sana dan tidak pernah berjumpa muka, kita bisa mendoakan dan mau menolong mereka yang sehati dan seiman dalam Kristus.

Pagi ini, marilah kita meneliti hubungan kita dengan mereka yang hidup di sekeliling kita. Mungkin kita mengasihi mereka yang akrab dan tergolong teman baik ataupun sanak. Itu sudah sepantasnya. Alkitab justru mengajarkan agar kita mau mengasihi sesama manusia tanpa pandang bulu. Walaupun demikian, apakah artinya kasih kita jika kita mengerti bahwa Allah, sekalipun Ia mengasihi seluruh umat manusia, tidak akan mengakui semua orang sebagai anak-anakNya? Bukankah kita terpanggil untuk selalu mengingatkan mereka bahwa adalah terlebih baik menjadi anggota keluarga Allah daripada menjadi anggota keluarga manusia?