Perlukah rasa menyesal?

“Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!” Mazmur 51: 1

Pagi tadi saya menonton TV yang menampilkan sebuah wawancara dengan seorang penyanyi terkenal, Leo Sayer. Saya memang adalah penggemar lagu-lagunya yang sangat populer seperti “You Make Me Feel Like Dancing” dan  “When I Need You” dan pernah juga menonton show-nya. Dalam wawancara itu, ia diberi sebuah pertanyaan apakah ia mempunyai sesuatu kekuatiran dalam hidupnya. Maklum, penyanyi ini sudah dua kali menikah dan keduanya berakhir dengan perceraian. Selain itu, ia juga pernah dirugikan secara finansial secara besar-besaran oleh teman dekatnya. Terhadap pertanyaan itu, ia menjawab bahwa ia bukanlah orang yang mudah  kuatir untuk hal apapun, sekalipun ia mengaku sudah membuat berbagai kesalahan dalam pernikahan maupun bisnisnya.  Kelihatannya, jawaban ini bisa membuat orang lain kagum. Dari penampilannya, penyanyi ini tentunya adalah orang yang selalu berpikir positif dan bisa melupakan apa yang pahit pada masa lalunya.

Berpikir positif atau positive thinking adalah sesuatu yang banyak digembar-gemborkan oleh berbagai motivator pada zaman ini. Berpikir positif adalah sesuatu yang membuat orang bisa bertahan dalam menghadapi kesulitan, begitu kata orang. Memang, jika seseorang mengalami hal yang kurang menyenangkan, pikiran yang negatif seringkali membuat persoalan menjadi terasa makin berat. Berpikir positif secara umum menyangkut usaha untuk memperbesar hal percaya kepada diri sendiri dan memupuk semangat untuk menghadapi hari depan. Kelihatannya, semua ini adalah baik dalam pandangan banyak orang yang menghadapi kesulitan hidup. Rasa sesal dan kesal memang bisa membuat semangat orang menjadi hancur dalam kesulitannya. Bgaimana kata firman Tuhan dalam hal ini?

Alkitab menceritakan kesulitan besar yang dihadapi raja Daud. Ketika itu ia sudah melakukan dosa besar dengan menghamili Batsyeba, istri Uria panglima perangnya. Bukan itu saja, tindakan Daud yang lain kemudian menyebabkan kematian Uria. Tuhan kemudian mengutus nabi Natan untuk memperingatkan Daud (2 Samuel 12). Daud tidak membantah apa yang dinyatakan oleh Natan, sebaliknya ia memohon ampun kepada Tuhan. Daud tidak memakai cara berpikir positif dengan mengabaikan kekeliruan yang pernah dilakukannya, tetapi dengan sungguh-sungguh meminta pengampunan Tuhan akan segala pelanggarannya. Daud mengerti bahwa dengan mengakui segala kekeliruannya dan menyadari bahwa Tuhan tidak dapat ditipu dengan penampilannya, ia masih bisa berharap pada belas kasihan Tuhan.

Dari kisah hidup Daud, kita bisa menyadari bahwa Daud bukanlah orang yang sempurna, tetapi sebaliknya ia adalah orang yang lemah dan bergelimang dosa. Tetapi Daud adalah orang yang tidak bersandar pada diri sendiri dan mencoba menyelesaikan persoalan hidupnya dengan kekuatannya. Ia tidak menutupi masa lalunya dengan  pikiran-pikiran positif.  Sebaliknya, Daud  menghampiri tahta Tuhan dengan bersujud dan menyesali apa yang telah dilakukannya. Ia sadar bahwa dengan usaha apapun ia tidak dapat memutar balik jam kehidupannya dan mencuci bersih dosa yang sudah dilakukannya. Ia hanya bisa memohon ampun kepada Tuhan yang mahasuci.

Apa yang akhirnya terjadi pada Daud bisa mengingatkan kita  bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakasih. Seperti Tuhan sudah mengampuni Daud, Ia juga bisa mengampuni kita jika kita mau mengakui kekeliruan hidup kita dan memohon ampun kepadaNya. Jika kita memang mau berlaku jujur di hadapan tahtaNya, Tuhan akan memberikan kita kemurahanNya dengan membimbing kita untuk menghadapi masa depan kita. Tidak ada hal lain yang bisa mengembalikan rasa percaya diri kita, kecuali keyakinan bahwa Tuhan sudah mengampuni segala kesalahan, kesombongan, kepalsuan dan kejahatan kita yang lain. Dengan pengampunanNya, beban besar yang ada dipundak kita akan dilepaskan dan kita bisa melangkah menuju hari depan dengan rasa damai dan bahagia.

Benarkah kita mengenal Tuhan?

“Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna,  sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar, dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang.” Kolose 1: 9 – 12

Apakah anda kenal dengan Rudy Hartono? Dapatkah anda mengenalinya jika anda bertemu dengan dia di jalan? Rudy Hartono Kurniawan lahir dengan nama Nio Hap Liang adalah salah satu mantan pemain bulu tangkis Indonesia yang namanya pernah diabadikan dalam Guiness Book of World Records pada tahun 1982 karena berhasil membawa Indonesia meraih juara All England delapan kali dan memenangkan Thomas Cup sebanyak empat kali. Delapan gelar All England adalah rekor milik Rudy di nomor tunggal putra yang belum pernah berhasil dicuri oleh pebulutangkis tunggal putra di generasi berikutnya. Saya sendiri hanya mengenal namanya lewat siaran pandangan mata pertandingan bulutangkis mulai tahun 1960an. Dengan demikian, saya tidak tahu banyak mengenai kehidupan, sifat dan kebiasaan Rudy. Saya tahu, tetapi tidak kenal dia; dan besar kemungkinan saya tidak dapat mengenalinya di jalan, sekalipun saya pernah melihat foto terbarunya di media.

Apakah anda kenal dengan Tuhan Allah yang mahakuasa? Sekalipun anda tidak bisa melihat wajahNya, dapatkah anda mengenali suaraNya jika anda menghampiri tahtaNya? Sebagai orang Kristen tentu kita sudah banyak membaca tulisan dan doktrin yang berhubungan dengan Tuhan: tentang sifatNya, kasihNya, KuasaNya dan sebagainya. Begitu pula kita sudah banyak membaca ayat-ayat Alkitab dan mendengar firmanNya melalui apa yang dikhotbahkan di gereja. Mungkin kita sudah tahu siapakah Dia sejak lama, tetapi belum tentu kita tahu apa yang dikehendakiNya dalam hidup kita dan dalam lingkungan dimana kita berada. Tuhan yang kita ketahui, mungkin saja bukan Tuhan yang kita kenal, karena Ia adalah Tuhan yang nun jauh di sana.

Dalam ayat di atas, Paulus  mengungkapkan kepada jemaat di Kolose bahwa ia  dan Timotius tidak  berhenti-henti berdoa untuk mereka.  Untuk apa? Paulus dan Timotius meminta kepada Tuhan agar jemaat di Kolose menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna. Paulus agaknya tahu bahwa sekalipun jemaat di Kolose sudah memiliki pengetahuan tentang Tuhan, itu belum cukup untuk membuat mereka benar-benar kenal dengan Tuhan. Mereka yang benar-benar kenal dengan Tuhan akan mempunyai segala hikmat kebijaksanaan dan pengertian akan Tuhan dengan sifatNya. Dengan demikian, mereka yang benar-benar kenal dengan Tuhan akan menyadari kehendakNya, sehingga mereka tidak akan hidup sembarangan, tetapi akan menjalani hidup yang layak di hadapanNya.

Lebih lanjut, Paulus berdoa agar jemaat Kolose bisa  menghasilkan buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah. Memang bukan hanya pada waktu itu saja  ada orang-orang yang merasa kenal akan Tuhan tetapi sebenarnya hanya tahu tentang Dia. Di zaman ini ada orang-orang yang rajin membaca firmanNya atau  aktif di gereja; tetapi mereka tidak bertumbuh dalam pengenalan yang benar akan Tuhan, dan tidak berusaha untuk hidup baik di antara sesama manusia guna memuliakan Dia.

Mereka yang hanya tahu adanya Tuhan seringkali tidak menyadari bahwa Tuhan selalu menyertai mereka yang mau hidup sesuai dengan kehendakNya. Karena mereka tidak benar-benar kenal akan Tuhan, mereka  sering tidak sadar bahwa Ia mengasihi mereka dalam keadaan apapun. Karena itu, Paulus juga mendoakan jemaat Kolose agar mereka dikuatkan oleh kuasa kemuliaan Tuhan untuk bisa menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar, dan  bisa selalu mengucap syukur dengan sukacita kepada Dia.

Pagi ini, ada sebuah pertanyaan penting bagi kita:  apakah kita benar-benar kenal kepada Tuhan. Jika kita menyadari betapa besarnya kasih Allah yang sudah mengurbankan AnakNya, Yesus Kristus, untuk ganti kita, kita dengan yakin boleh percaya bahwa Tuhan mengenal kita sebagai anak-anakNya. Dengan demikian kita mengenal Dia sebagai Bapa yang sudah melayakkan kita untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan surga.  Karena itu jugalah kita tidak perlu merasa ragu akan kasihNya yang akan membimbing kita selama hidup di dunia. Tuhan yang kita kenal adalah Tuhan yang mahakuasa, mahabijaksana dan mahakasih. Kepada Dia kita bisa menggantungkan hari depan kita sepenuhnya.

Mengatasi pencobaan dalam hidup

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Yakobus 1: 13 – 14

Hidup manusia adalah penuh tantangan dan setiap orang umumnya pernah mengalami masalah hidup yang serius. Dalam hal ini, sebagian orang merasa beruntung jika mereka pada akhirnya dapat mengatasi masalah mereka, mungkin setelah bergumul cukup lama. Tetapi sebagian lagi mungkin merasa bahwa mereka menghadapi persoalan yang tidak teratasi. Sebagai orang Kristen, tentunya kita yakin bahwa dengan berdoa kita bisa menyampaikan keluh-kesah kita kepada Tuhan untuk meminta pertolongan. Tetapi, kita tentunya sadar bahwa Tuhan sudah tahu apa yang kita derita sebelum kita berdoa. Doa memang bukan dimaksudkan untuk mengingatkan Tuhan akan kesulitan kita, tetapi sebaliknya untuk mengingatkan kita yang dalam kesulitan untuk selalu dekat kepadaNya.

Reaksi manusia dalam kesulitan memang ada berbagai rupa. Ada yang makin rajin berdoa dan percaya bahwa pertolongan Tuhan pasti datang jika mereka giat mengulangi permohonan mereka. Tetapi ada juga orang yang berdoa memohon pertolongan sambil berserah kepada kehendak Tuhan. Dalam hal ini, memang sebenarnya hal berserah kepada kehendak Tuhan itu diajarkan oleh Yesus dengan Doa Bapa Kami, dan karena itu kita tidak sepantasnya “memaksa-maksa” Tuhan untuk menolong kita. Di pihak lain, dalam kesulitan hidup ada orang yang merasa bahwa Tuhanlah yang mengijinkan datangnya semua masalah dan Tuhanlah yang bisa melenyapkannya.  Selanjutnya, mereka yang sudah lama menderita mungkin saja mengira bahwa Tuhan yang mahakuasa menghendaki semua itu terjadi, dan karena itu mereka mungkin percaya bahwa doa adalah sesuatu yang sebenarnya sia-sia.

Secara garis besar, penderitaan di dunia ini adalah hal yang lazim. Manusia hidup di dunia yang sudah cacat dan karena itu hidup bisa menjadi sangat sulit dijalani. Walaupun demikian, kesulitan hidup bukanlah datang tanpa sebab. Ada orang yang mengalami kesulitan hidup sekalipun itu terjadi bukan karena kekeliruannya. Dalam hal ini, sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan terkadang membiarkan hal itu terjadi untuk membuat kita mau bergantung sepenuhnya kepada Dia. Ini adalah sebuah tes kehidupan yang justru bisa membuat kita makin kuat dalam iman. Pada pihak yang lain, ada juga kesulitan hidup yang terjadi karena kekeliruan kita sendiri, sekalipun tidak mau kita akui. Mungkin sebagai pelarian, orang yang merasa tidak berdaya merasa bahwa Tuhanlah yang sudah mendatangkan semua hal yang buruk dalam hidup mereka.

Ayat di atas ditulis oleh Yakobus ratusan tahun yang lalu, tetapi tetap aktuil pada zaman ini. Yakobus menasihati umat Kristen pada zamannya bahwa mereka yang jatuh kedalam dosa karena pencobaan haruslah mau mengakui kesalahan mereka. Pencobaan yang membawa kejahatan dan dosa bukanlah datang dari Tuhan, tetapi manusialah yang karena keinginan mereka sendiri kemudian jatuh dalam dosa. Pada zaman modern  ini mungkin lebih banyak lagi orang yang merasa bahwa mereka jatuh kedalam dosa dan pencobaan karena Tuhan sudah membiarkan pengaruh jahat merajalela di dunia. Mengapa Tuhan membiarkan manusia untuk melakukan hal-hal yang makin jahat di dunia? Bukankah sebagai Tuhan yang mahakuasa Ia bisa menghentikan tumbuhnya pikiran-pikiran dan perbuatan kotor di dunia? Dengan demikian, banyak orang Kristen yang merasa bahwa jatuh ke dalam dosa dan pencobaan adalah hal yang tidak terlalu perlu untuk dipikirkan karena itu tentunya sesuai dengan kehendak Tuhan pada zaman ini.

Dalam ayat di atas kita diperingatkan bahwa Tuhan tidak pernah mencobai umatNya agar mereka jatuh dalam dosa. Mereka yang jatuh dalam dosa tidaklah dapat mempersalahkan pengaruh orang lain atau lingkungan mereka. Mereka tidak dapat membuat alasan bahwa semua itu terjadi karena Tuhan membiarkan mereka mengalami pencobaan. Tiap-tiap orang harus menghadapi persoalan hidup mereka sendiri dan berusaha menghindari jebakan-jebakan yang memikat dan yang terlihat sebagai solusi yang mudah. Sebagai manusia kita seharusnya bisa membedakan apa yang baik dari apa yang buruk. Memang seringkali dengan tenaga sendiri kita tidak sanggup untuk mengatasi keinginan hati kita, tetapi dengan membina hubungan baik kita dengan Tuhan, kita akan mendapat kekuatan untuk bisa selalu menang dalam menghadapi pencobaan.

Panggilan untuk saling melayani

“Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu” Yohanes 13: 14

Pernahkah anda menonton upacara menginjak telur? Upacara ini adalah sebuah tradisi kuno dalam pernikahan adat Jawa. Satu hal yang dilakukan pada prosesi panggih, adalah menginjak telur atau ‘nincak endog‘. Dalam upacara ini, pengantin pria diharuskan menginjak telur hingga pecah tanpa menggunakan alas kaki. Kemudian setelah telur pecah, sang mempelai wanita harus membasuh dan membersihkan kaki sang suami dari sisa-sisa pecahan telur. Ini berarti bahwa seorang istri harus bersedia mengabdi kepada suami dan melayaninya dengan senang hati. Sekalipun tradisi ini masih ada, pada zaman sekarang mungkin banyak pengantin yang mengadopsi tradisi barat karena dinilai lebih sederhana dan lebih seimbang dalam hal kedudukan suami dan istri.

Apa yang dilakukan Yesus kepada murid-muridnya sebelum Ia disalibkan mungkin mirip dengan upacara menginjak telur di atas, walaupun Yesus membasuh kaki murid-muridNya yang kotor sebagai tanda pelayanan kasih dan bukan pengabdian. Yesus yang adalah Tuhan dan Raja mau mencuci kaki manusia yang hina sebagai Raja yang melayani atau the Servant King.

Hal membasuh kaki sudah tentu bukanlah sebuah ritual atau sakramen untuk dilakukan semua orang Kristen. Membasuh kaki bukanlah tugas yang diberikan oleh Yesus kepada murid-muridNya. Tetapi, apa yang diperintahkan Yesus kepada mereka adalah untuk saling melayani dengan tanpa memandang kedudukan.

Yesus memberi contoh bagaimana setiap orang Kristen harus bersedia untuk saling saling melayani dalam kasih. Ini bukan pelayanan dari mereka yang lebih muda, lebih lemah, lebih miskin kepada mereka yang lebih tua, lebih kuat dan lebih kaya. Perintah untuk saling membasuh kaki tidak memandang derajat, ras, seks atau kedudukan manusia, sebab di mata Tuhan semua manusia adalah sederajat. Ini sudah tentu berlawanan dengan kebiasaan dalam masyarakat dimana orang yang berada di tingkat atas mengharapkan pelayanan mereka yang di tingkat bawah.

Pada hari Minggu ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa Yesus yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Sebaliknya, Ia telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Filipi 2: 6 – 7). Dengan demikian, jika kita memang adalah pengikut Kristus, kita juga harus mau meniru Dia; yakni mau melayani, mengasihi dan menghormati sesama kita tanpa pandang bulu. Kita akan selalu siap untuk merendahkan diri seperti Yesus, the Servant King yang sudah ditinggikan Allah dan dikaruniai nama di atas segala nama (Filipi 2: 9).

“Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Matius 23: 12

Belajar terus sampai akhir

“Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya.” Amsal 2: 11

Pernahkah anda mendengar sebuah slogan yang berbunyi “Ancora imparo“? Slogan ini berasal dari Italia dan seringkali dihubungkan dengan seorang jenius dari abad Renaisans: Michelangelo. Menurut kepercayaan umum, ia membuat slogan ini pada waktu berumur 87 tahun. Benar atau tidaknya hal ini tentu tidak ada orang yang tahu, tetapi yang pasti apa yang dikatakannya ada benarnya.

Anda tidak tahu apa arti slogan itu? Saya pun tidak akan tahu kalau saja universitas saya tidak memakai slogan itu sebagai semboyan dari logonya. Arti semboyan itu adalah “saya masih belajar”. Kalau betul Michelangelo menemukan slogan itu ketika ia berumur 87 tahun, tentulah ia benar-benar hebat. Kebanyakan orang seumur itu tidak lagi mau atau mampu untuk belajar.

Sejak kapan manusia bisa belajar sesuatu? Menurut ilmu sains, seorang bayi yang masih berada dalam kandungan sudah bisa mendengarkan suara dan musik dari luar. Apa yang didengar bayi ini akan mempengaruhi hidupnya setelah dilahirkan. Sesudah itu, manusia tidak akan berhenti belajar selama ia masih mampu.

Memang dalam hidup ini ada banyak hal yang bisa dan harus dipelajari. Walaupun begitu, ada saja orang-orang yang tidak pernah mau belajar selama mereka masih bisa. Mereka adalah orang-orang yang merasa sudah tahu atau orang-orang yang sombong dan keras kepala, yang tidak mau belajar dari orang lain.

Sejak kapan manusia bisa belajar dari Tuhan? Sejak dapat melihat keindahan dan kebesaran ciptaan Tuhan, manusia tidak dapat berdalih untuk menolak adanya Tuhan. Walaupun demikian, mereka yang sudah melihat dengan mata adanya mujizat Tuhan, belum tentu akan percaya kepadaNya. Manusia tidak akan dapat mengenal Tuhan jika Ia tidak membuka mata rohani manusia.

Mereka yang mengenal Tuhan tentu akan mengenal suaraNya. Tetapi itu belum menjamin bahwa mereka akan mau mendengar segala perintah, didikan dan peringatan Tuhan. Manusia memang cenderung mau mendengar apa yang dikehendakinya saja. Manusia dari awalnya ingin untuk merdeka berbuat apa yang mereka ingini.

Ayat di atas memperingatkan semua umat Tuhan untuk berhati-hati. Jangan sampai kita menolak didikan Tuhan, dan jangan sampai kita merasa bosan akan peringatan-Nya. Selama kita hidup di dunia, Tuhan ingin agar kita selalu taat dan mau belajar dari Dia yang mahabijaksana.

Tidak peduli berapa umur kita atau setinggi apa pendidikan kita, kita harus dengan rendah hati mau belajar untuk menjadi pengikutNya yang setia setiap hari. Mereka yang mau belajar akan bertambah hikmatnya sehingga makin sadar bahwa mereka perlu untuk tetap setia belajar hari demi hari, tidak hanya dari firmanNya, tetapi juga dari nasihat orang tua, suami, istri dan saudara seiman, sampai saat terakhir. Hanya orang yang bodoh yang mengabaikan suara Tuhan dalam hidupnya dan itu akan membuatnya tersesat ke jalan yang keliru.

Gunakan hidup kita sebaik mungkin

“Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” Matius 25: 29

Kemarin malam saya menghadiri acara pesta ulang tahun departemen dari sebuah universitas. Di antara para hadirin, saya menjumpai banyak bekas kolega saya yang tidak pernah bertemu sejak 20 tahun yang lalu. Tidaklah mengherankan bahwa percakapan yang ada pada umumnya mengenai apa yang sudah dialami masing-masing sejak saat perpisahan. Di antara mereka ada orang yang kelihatan berhasil dalam karir, tetapi kurang berhasil dalam rumah tangga, dan sebaliknya ada yang nampak berbahagia sekalipun tidak terlihat kaya. Saya tidak meragukan bahwa setiap orang tentunya sudah berusaha untuk menggunakan hidup mereka sebaik mungkin. Tetapi sebaik bagaimana?

Perumpamaan tentang talenta adalah perumpamaan Yesus yang bisa ditemukan dalam Matius 25: 14 – 30 dan Lukas 19: 11 – 27. Perumpamaan ini sering dibahas dalam berbagai khotbah dan renungan, dan biasanya disampaikan sehubungan dengan hal menggunakan talenta atau kemampuan yang dimiliki setiap orang. Seringkali, moral yang diungkapkan adalah untuk tidak menyia-nyiakan berkat Tuhan. Walaupun demikian, perumpamaan ini mungkin lebih tepat untuk ditafsirkan sebagai hal menggunakan hidup dengan baik sebelum kedatangan Yesus yang kedua kalinya.

Apapun yang digaris-bawahi dalam mengartikan perumpamaan ini, tidak dapat diragukan bahwa perumpamaan ini dengan tegas menyatakan bahwa apa saja yang Tuhan berikan kepada kita, adalah barang pinjaman yang tidak boleh dipakai hanya untuk kepentingan diri kita sendiri. Dalam hal ini, Tuhan meminjami kita berbagai berkat, kecil maupun besar, yang sesuai dengan kehendakNya; kita harus menggunakan semua itu dengan percaya bahwa Tuhan itu adil.

Talenta diberikan kepada kita untuk mengasihi Tuhan dan sesama kita. Dengan demikian, keberhasilan dan kebahagiaan kita bukanlah hanya diukur dengan apa yang bisa dilihat mata manusia, sebab apa yang bisa kita ukur adalah apa yang sementara dan akhirnya akan musnah. Apa yang tidak bisa musnah adalah kasih, yang tidak akan berkesudahan (1Korintus 13: 8). Maukah kita memakai hidup ini untuk menyampaikan kasih Tuhan yang sudah kita terima kepada orang lain? Itu adalah satu-satunya cara untuk bisa merasakan kasihNya yang makin besar dalam hidup kita.

Mengapa Ayub harus menderita?

“Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.” 1 Petrus 2: 19

Di Australia, diperkirakan gangguan kejiwaan yang dialami rakyat menghabiskan setengah juta dollar per hari sehubungan dengan ongkos perawatan dan kerugian ekonomi. Memang, gangguan kejiwaan adalah salah satu masalah kesehatan yang terbesar yang dialami masyarakat di banyak negara maju. Ini bukan saja berhubungan dengan gangguan medis, tetapi juga bisa bertalian dengan berbagai masalah sosial dan ekonomi. Apalagi, dalam masyarakat Barat hubungan manusia yang sangat individual dan mundurnya kerohanian membuat orang yang mengalami masalah kehidupan merasa bahwa hidup mereka sangat berat untuk bisa diatasi seorang diri.

Banyak orang yang mengalami masalah kehidupan yang berat bertanya-tanya mengapa itu harus terjadi, dan itu adalah hal yang wajar. Mereka yang harus menderita bukan karena perbuatan mereka, tentu saja sulit untuk mengerti mengapa ketidak-adilan harus mereka alami. Mereka yang tidak tahan menghadapi penderitaan hidup, kemudian bisa mengalami tekanan batin yang besar.

Ayub sebagai manusia yang mengalami penderitaan yang luar biasa karena berbagai malapetaka (Ayub 1: 13 – 20), tentunya tidak terluput dari perasaan sedih. Jika tidak, ia bukanlah manusia yang normal. Walaupun demikian, reaksi Ayub sungguh mengherankan. Katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1: 21).

Bagaimana Ayub bisa menanggapi tragedi dalam hidupnya dengan tetap berpikir positif dan tidak mengalami kehancuran? Apakah Ayub adalah orang yang luar biasa, orang stoik yang sanggup menghadapi segala penderitaan dengan keteguhan hati?

Ayat pembukaan dari 1 Petrus 2: 19 menyebutkan bahwa adalah kasih karunia, jika seseorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. Ayub dapat menanggung penderitaannya dengan tenang karena Tuhan memberi Ayub kesadaran bahwa Ia menyukai sikap hidup yang menerima penderitaan dengan kesabaran. Tuhan memang menyukai orang-orang yang menyerahkan hidup mereka kepada kehendakNya.

Mereka yang tetap percaya kepada Tuhan dalam segala keadaan, adalah orang-orang yang percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa tentu dapat juga mengubah penderitaan untuk menjadi sukacita. Bagi mereka, kasih dan kemuliaan Tuhan akan terlihat dengan nyata pada akhirnya. Ini jugalah yang terjadi dalam hidup Ayub dan dalam hidup setiap orang yang beriman.

Pentingnya menyadari kuasa Tuhan setiap saat

“Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.” Efesus 3: 20 – 21

Yakinkah anda bahwa Tuhan berkuasa melakukan hal-hal yang luar biasa dalam hidup anda? Pertanyaan ini, jika diajukan kepada seorang yang beriman, tentunya dijawab dengan “ya”. Siapa pun yang percaya adanya Tuhan, tentunya percaya bahwa Ia bisa melakukan hal-hal yang hebat, yang tidak dapat dibayangkan oleh manusia. Memang Tuhan didefinisikan sebagai Oknum Ilahi yang Mahakuasa, yang menciptakan dan mengatur seluruh alam semesta. Jika Ia tidak dapat melakukan apa saja yang diinginkanNya, Ia bukanlah Tuhan.

Jika dalam hal  kemampuan Tuhan tidaklah dapat diragukan, orang sering ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan ini: Apakah anda percaya bahwa Tuhan akan melakukan apa yang terbaik untuk anda? Pertanyaan ini kelihatannya sulit dijawab karena pengalaman hidup manusia yang menunjukkan adanya banyak hal-hal yang tidak menyenangkan yang sering terjadi. Mereka yang percaya kepada Tuhan tentunya yakin bahwa Ia yang mahakuasa sanggup menghindarkan umatNya dari hal-hal itu. Tetapi mengapa seringkali umat Tuhan harus mengalami hal-hal yang pahit? Jika Tuhan mahakuasa mengapa Ia seakan tidak peduli dan tidak mau menolong kita jika berada dalam kesulitan?

Alkitab mengajarkan bahwa selaku umat Tuhan kita harus menghilangkan rasa kuatir kita tentang apapun juga, dan senantiasa menyatakan keinginan kita melalui doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Tetapi, jika kebutuhan dan keinginan kita tidak terpenuhi setelah lama berdoa dan memohon, bagaimana pula  kita harus bersikap? Bagaimana pula kita bisa tetap berdoa sambil bersyukur? Salahkah jika kita merasa bahwa Tuhan yang mahakuasa itu bukanlah Tuhan yang mahakasih? Salahkan kita jika kita merasa bahwa Tuhan yang mahakuasa itu tidak selalu mau melakukan hal-hal yang baik untuk umatNya?

Sebagai umat Kristen, kita tentu tahu bahwa doa adalah komunikasi antara seorang umat dan Tuhannya. Dengan doa kita mengucap syukur atas berkat Tuhan, dengan doa juga kita memohon berkatNya. Masalahnya, bagaimana kita harus bersikap dalam penantian akan jawaban Tuhan?  Ayat di atas menyatakan bahwa Tuhan dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan. Apa yang kita pikirkan adalah apa yang bisa kita terima dengan akal budi. Sebagai manusia kita hanya bisa membayangkan apa yang dapat ditangkap oleh pancaindera kita.  Karena itulah, kita cenderung untuk memikirkan apa yang terjadi pada saat ini saja. Kita tidak mengerti apa yang sudah terjadi pada masa lalu, dan tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada masa mendatang. Kita tidak dapat mengerti dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Tuhan.

O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Roma 11: 33 – 34

Apa yang sudah dilakukanNya dalam diri kita, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, sudah membawa kita kepada iman yang menyelamatkan. Ini yang terpenting dalam hidup kita, tetapi juga apa yang sering dilupakan. Jika Ia yang mahasuci mau mengurbankan AnakNya yang tunggal untuk menebus kita yang berdosa, Ia adalah Tuhan yang tidak saja mahakuasa, tetapi juga Tuhan yang mahakasih. Karena kasihNya yang sudah dinyatakan kepada kita semasa kita masih hidup dalam dosa, kita boleh percaya bahwa Ia dapat melakukan hal-hal yang jauh lebih besar daripada apa yang kita doakan atau pikirkan saat ini. Maukah kita menyerahkan segala rasa kuatir kita kepadaNya? Biarlah kita boleh berharap kepadaNya sambil memuliakan namaNya dalam setiap saat dan keadaan!

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 7

Kasih itu tidak buta

“Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.” Filipi 1: 9 – 11

Cinta itu buta. Love is blind. Ungkapan ini tentunya dikenal hampir semua orang dan mungkin  sudah ada sejak abad ke 15. Apa artinya? Sebagian besar orang mengartikan bahwa jika seseorang jatuh cinta, maka ia tidak memikirkan hal-hal lain selain keinginan untuk mendapatkan orang yang dicintainya. Ini ada benarnya, karena ada banyak orang yang mau mengurbankan apa saja yang dimilikinya agar ia mendapatkan orang yang dicintainya. Tetapi, cinta yang demikian sebenarnya  adalah keinginan untuk memenuhi keinginan diri sendiri.

Raja Edward VIII misalnya, melakukan sesuatu hal yang tidak pernah dibayangkan orang lain. Ia jatuh cinta kepada seorang wanita Amerika yang bersuami dan sebelumnya sudah pernah menjanda. Untuk bisa mengawini wanita itu, Raja Edward melepaskan tahta Inggris pada tanggal 10 Desember, 1936. Untuk sebagian orang,  ini adalah sesuatu kisah cinta (love story) yang paling utama dari abad ke 20. Tetapi, untuk orang lain, ini adalah sebuah scandal yang berpotensi untuk melemahkan kerajaan Inggris. Dalam kenyataannya, hal  ini pada akhirnya tidaklah menjadi kisah cinta terbesar ataupun skandal, tetapi menjadi kisah tentang seorang raja yang ingin hidup seperti orang kebanyakan. Edward sudah memilih apa yang baik menurut pendapatnya sendiri dan untuk kepentingan dirinya.

Apakah benar cinta itu buta? Ataukah manusia yang bisa menjadi seperti buta jika dilanda cinta? Ini adalah hal yang sering dibahas orang sepanjang masa. Dalam kehidupan rohani pun ada orang-orang yang dengan bersemangat menyatakan imannya tanpa merasa perlu untuk mendalami firman Tuhan. Bagi mereka, liturgi gereja, khotbah pendeta ataupun kegiatan keagamaan sudah bisa membuat semangat mereka menggebu-gebu untuk pergi ke gereja. Pada pihak yang lain, ada juga orang-orang yang “jatuh cinta” kepada pengajaran gereja, teologi atau organisasi gereja tertentu, sehingga mereka merasa bahwa pilihan mereka adalah yang terbaik dan benar. Apakah ini juga bisa dinamakan cinta buta?

Paulus dalam ayat diatas menulis tentang doanya untuk jemaat di Filipi agar kasih mereka makin melimpah dalam pengetahuan yang benar (knowledge), sehingga mereka dapat mempunyai kemampuan untuk memilih apa yang baik (discernment), dan supaya mereka bisa hidup dalam kejujuran (sincerity) dan tak hidup dalam dosa (blameless). Lebih dari itu, Paulus berdoa agar mereka bisa menghasilkan berbagai perbuatan yang baik melalui Yesus (good works) untuk memuliakan Allah. Kasih umat Kristen, berbeda dengan cinta duniawi, ternyata tidak buta. Kasih bertujuan untuk memuliakan Tuhan yang sudah lebih dulu mengasihi kita.

Kasih yang harus dipunyai setiap orang Kristen bukanlah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan dengan membabi-buta tanpa pikir. Sebaliknya, jika umat Kristen ingin untuk bisa mengasihi sesamanya, mereka harus berdoa agar mereka bisa melakukannya dengan bijaksana agar bisa memilih apa yang baik dan berguna bagi hidup mereka dan bagi hidup orang lain. Kasih yang benar tidak akan mengurbankan prinsip-prinsip  kejujuran dan kesucian hidup yang dituntut Tuhan, dan kasih yang benar selalu dapat menghasilkan apa yang baik sesuai dengan firman Tuhan. Kasih tidak semudah atau semurah cinta. Kasih datang dari Allah dan kita harus mengerti apa yang dikehendakiNya untuk dapat mengasihi. Inilah yang juga pernah didoakan Paulus untuk jemaat di Efesus.

‘Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.”  Efesus 3: 18 – 19

Pagi ini, mungkin kita ingin menyatakan kasih kita kepada orang lain, kepada teman, sanak atau pun keluarga. Mungkin kita ingin agar membuat mereka berbahagia dengan berbagai perhatian, pemberian atau pengurbanan. Tetapi firman Tuhan berkata bahwa untuk bisa memberi kasih yang benar kita harus mempunyai kebijaksanaan, dan bisa membedakan apa yang baik dan apa yang buruk. Kasih yang benar adalah kasih yang membangun hidup orang lain didalam Kristus, kasih yang seperti kasih Kristus adalah kasih yang membawa orang kearah keselamatan, bukan kearah kehancuran dalam impian. Kasih yang benar akan mempertahankan apa yang baik dan menhilangkan apa yang buruk dari hidup kita dan hidup orang lain, agar hidup kita dan orang-orang yang kita kasihi bisa membawa kemuliaan kepada Tuhan.

 

Carilah firman Tuhan yang asli

“Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah.” 2 Korintus 4: 2

Beberapa tahun terakhir ini kita bisa banyak menjumpai begitu banyak berita palsu alias hoax, terutama di media sosial. Dalam hal ini, pemerintah negara mana pun berusaha untuk mengatasi peredaran berita-berita palsu yang bisa menimbulkan kekacauan dan kebingungan dalam hidup bernegara. Selain berita palsu, adanya berbagai berita-berita tendensius juga bisa menimbulkan kebencian antar golongan, dan ini pun harus bisa diatasi.

Jika berita palsu mengenai hal yang bersangkutan dengan politik dan hukum umumnya ditangani pemerintah, kebohongan yang menyangkut agama biasanya diabaikan pemerintah, selama itu tidak menimbulkan kekacauan dalam masyarakat. Dengan demikian, setiap orang beragama bisa saja mengungkapkan pendapat keagamaanya selama tidak melecehkan orang atau agama lain. Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika banyak tokoh agama yang memakai cara mereka sendiri untuk menarik perhatian masyarakat. Mereka dengan tidak malu-malu, menggunakan prinsip-prinsip bisnis keduniawian untuk mencari keuntungan dan nama besar. Seringkali mereka menggunakan apa yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, dan bahkan berbagai kebohongan dan sensasi untuk mencari pengagum dan pengikut.

Agaknya bukan di zaman ini saja kita menemui orang-orang Kristen yang kelihatannya rajin mengabarkan injil, tetapi apa yang disampaikan mereka belum tentu sesuai dengan firman Tuhan yaitu Alkitab. Paulus dalam ayat di atas mengingatkan jemaat di Korintus bahwa ia dan rekan-rekannya tidak pernah melakukan perbuatan tersembunyi yang memalukan; mereka tidak mau berlaku licik dan memalsukan firman Allah. Sebaliknya, mereka menyatakan kebenaran Tuhan tanpa tedeng aling-aling. Dengan demikian mereka menyerahkan diri mereka dengan segala pengajaran mereka untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Tuhan.

Hari ini firman Tuhan menegaskan bahwa sebagai umat Tuhan kita harus berhati- hati menanggapi pengajaran mereka yang terkenal sebagai tokoh yang mempunyai karisma, yang terlihat bijak dan pandai menyampaikan firman Tuhan, yang mempunyai pengalaman pribadi yang nampaknya hebat. Sebagai umat Kristen kita harus mengukur semua pengajaran mereka dengan Alkitab. Dengan rajin mempelajari firman Tuhan, kita akan dapat menguji dan mempertimbangkan ajaran-ajaran mereka.

Mereka yang benar-benar hamba Tuhan adalah orang-orang yang tulus yang tidak mencari kehormatan atau kekayaan diri sendiri. Mereka tidak melakukan perbuatan tersembunyi atau hal-hal yang memalukan; mereka tidak memakai cara-cara licik dalam mengabarkan Injil dan tidak pernah memalsukan firman Allah dengan menggantinya dengan pikiran manusiawi. Mereka adalah orang-orang yang rendah hati dan mau mendengarkan pendapat orang lain dan tidak berpegang pada pengertian diri sendiri.

“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.” 1 Yohanes 4: 1