“Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” 2 Timotius 1: 6 – 7

Pernahkah anda mengalami rasa lelah yang sangat besar sehingga anda tidak ingin meninggalkan tempat tidur? Banyak orang yang mengalami hal yang serupa, terutama pada hari Senin, tatkala mereka harus pergi bekerja setelah berlibur akhir pekan. Mungkin saja rasa lelah itu sehubungan dengan kelelahan psikologi daripada kelelahan jasmani. Tetapi bagi orang yang mengalaminya, melanjutkan tidur mungkin adalah satu-satunya cara yang dikenalnya untuk menghilangkan kelelahan, sekali pun itu seringkali justru membuatnya merasa lebih lelah!
Kelelahan kejiwaan seringkali sulit didiagnosa atau diatasi. Tetapi, kelelahan ini tidaklah sama dengan kelelahan rohani yang sering dialami orang Kristen. Sebagai orang percaya, kelelahan rohani bukan sehubungan dengan suasana kehidupan di dunia, tetapi dengan adanya kekosongan yang mungkin terasa dalam hati karena hubungan yang kurang baik dengan Tuhan. Jika hidup kita terasa berat dan kacau, dan kita tidak dapat merasakan penyertaan Tuhan, di saat itulah kita merasa kecewa, lemah, takut dan kuatir. Pada saat yang demikian, mungkin kita tidak dapat merasakan adanya kasih Tuhan dan sesama. Mungkin kita pada saat itu sedang mengalami krisis rohani atau spiritual crisis.
Paulus dalam suratnya kepada Timotius, mengingatkannya untuk tetap bersemangat dalam menempuh hidup sebagai umat Tuhan. Hidup sebagai orang Kristen tidaklah mudah, terutama untuk Timotius yang belum banyak berpengalaman. Karena itu, Paulus selalu mendoakan Timotius agar ia tetap teguh dalam iman. Paulus tahu bahwa ada keadaan tertentu yang bisa membuat Timotius merasa lelah, takut atau apatis. Seperti orang lain, memang Timotius bisa mengalami kelelahan rohani. Tetapi Paulus mengingatkan Timotius bahwa ia sudah menerima karunia Tuhan yang disampaikan oleh Paulus. Karunia ini adalah berkat rohani yang harus dipelihara dan bahkan dikobarkan oleh Timotius, karena apapun yang diterima dari Tuhan haruslah dipupuk untuk menjadi makin kuat dan bukannya makin lemah dengan berjalannya waktu.
Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kita harus mengobarkan semangat rohani kita dengan berpegang teguh pada apa yang sudah kita terima dari Tuhan. Mungkin kita belum lama menjadi orang Kristen, seperti Timotius. Mungkin juga kita sudah banyak makan asam-garam kehidupan rohani seperti Paulus. Tetapi, apapun status rohani kita, jika kita tidak rajin memupuk pertumbuhan iman, hidup kita akan perlahan-lahan diracuni oleh ketakutan dan kelelahan. Biarlah kita selalu mau mengobarkan segala karunia Tuhan yang sudah kita terima agar bisa membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban dalam hidup kita!

Baru-baru ini saya membaca sebuah tulisan keagamaam yang menganjurkan orang untuk berdoa pada waktu tertentu agar bisa memperbesar kemungkinan untuk dikabulkan Tuhan. Menurut tulisan itu, jika kita berdoa pada saat tertentu, makin besar kemungkinan untuk mendapat berkat Tuhan yang terbaik. Tidak jelas mengapa hal itu dianjurkan sedangkan Tuhan yang mahakuasa dan mahahadir tentunya selalu tahu kapan saja kita berdoa dan apa yang kita doakan. Tuhan yang selalu ada dan tidak pernah tidur tentunya selalu mau mendengarkan doa umatNya.
Pernahkah anda membaca buku Pinokio? Buku bacaan anak-anak yang sangat terkenal ini dikarang oleh Carlo Collodi dari Italia pada abad ke 19. Dongeng Pinokio merupakan suatu cerita edukatif tentang sebuah boneka kayu yang berubah menjadi anak laki-laki. Pinokio yang nakal dan suka berbohong, melalui petualangannya kemudian menjadi anak yang baik dan patuh pada orang tua.
Dunia ini makin lama makin maju saja dalam hal teknologi. Seiring dengan itu, berbagai produk yang canggih dan mewah muncul dan ditawarkan kepada mereka yang senang memakai berbagai perlengkapan atau gadget yang serba “wah”. Untuk memiliki benda-benda itu tentunya diperlukan uang yang tidak sedikit.
Dari mana datangnya cinta? Menurut pantun lama, cinta datang dari mata, yang kemudian turun ke hati. Mata yang melihat adanya suatu sosok yang menarik, kemudian menimbulkan rasa suka yang diteruskan ke hati. Dengan demikian, cinta yang sedemikian tidaklah jauh berbeda dengan rasa suka ketika orang melihat sebuah mobil baru yang mengkilat dan kemudian bertekad untuk membelinya. Cinta yang hanya berhenti di hati seseorang mungkin hanya membawa rasa suka kepada orang itu saja. Sebaliknya, cinta yang benar bukan saja cinta yang sudah turun ke hati tetapi cinta yang kemudian mengalir keluar sebagai tekad untuk membahagiakan orang yang dicintai untuk selamanya.

