Kobarkan semangatmu!

“Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” 2 Timotius 1: 6 – 7

Pernahkah anda mengalami rasa lelah yang sangat besar sehingga anda tidak ingin meninggalkan tempat tidur? Banyak orang yang mengalami hal yang serupa, terutama pada hari Senin, tatkala mereka harus pergi bekerja setelah berlibur akhir pekan. Mungkin saja rasa lelah itu sehubungan dengan kelelahan psikologi daripada kelelahan jasmani. Tetapi bagi orang yang mengalaminya, melanjutkan tidur mungkin adalah satu-satunya cara yang dikenalnya untuk menghilangkan kelelahan, sekali pun itu seringkali justru membuatnya merasa lebih lelah!

Kelelahan kejiwaan seringkali sulit didiagnosa atau diatasi. Tetapi, kelelahan ini tidaklah sama dengan kelelahan rohani yang sering dialami orang Kristen. Sebagai orang percaya, kelelahan rohani bukan sehubungan dengan suasana kehidupan di dunia, tetapi dengan adanya kekosongan yang mungkin terasa dalam hati karena hubungan yang kurang baik dengan Tuhan. Jika hidup kita terasa berat dan kacau, dan kita tidak dapat merasakan penyertaan Tuhan, di saat itulah kita merasa kecewa, lemah, takut dan kuatir. Pada saat yang demikian, mungkin kita tidak dapat merasakan adanya kasih Tuhan dan sesama. Mungkin kita pada saat itu sedang mengalami krisis rohani atau spiritual crisis.

Paulus dalam suratnya kepada Timotius, mengingatkannya untuk tetap bersemangat dalam menempuh hidup sebagai umat Tuhan. Hidup sebagai orang Kristen tidaklah mudah, terutama untuk Timotius yang belum banyak berpengalaman. Karena itu, Paulus selalu mendoakan Timotius agar ia tetap teguh dalam iman. Paulus tahu bahwa ada keadaan tertentu yang bisa membuat Timotius merasa lelah, takut atau apatis. Seperti orang lain, memang Timotius bisa mengalami kelelahan rohani. Tetapi Paulus mengingatkan Timotius bahwa ia sudah menerima karunia Tuhan yang disampaikan oleh Paulus. Karunia ini adalah berkat rohani yang harus dipelihara dan bahkan dikobarkan oleh Timotius, karena apapun yang diterima dari Tuhan haruslah dipupuk untuk menjadi makin kuat dan bukannya makin lemah dengan berjalannya waktu.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kita harus mengobarkan semangat rohani kita dengan berpegang teguh pada apa yang sudah kita terima dari Tuhan. Mungkin kita belum lama menjadi orang Kristen, seperti Timotius. Mungkin juga kita sudah banyak makan asam-garam kehidupan rohani seperti Paulus. Tetapi, apapun status rohani kita, jika kita tidak rajin memupuk pertumbuhan iman, hidup kita akan perlahan-lahan diracuni oleh ketakutan dan kelelahan. Biarlah kita selalu mau mengobarkan segala karunia Tuhan yang sudah kita terima agar bisa membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban dalam hidup kita!

Semua sama di hadapan Tuhan

“Dan mengenai mereka yang dianggap terpandang itu bagaimana kedudukan mereka dahulu, itu tidak penting bagiku, sebab Allah tidak memandang muka bagaimanapun juga, mereka yang terpandang itu tidak memaksakan sesuatu yang lain kepadaku.” Galatia 2: 6

Mengapa orang-orang tertentu dianggap terpandang? Di zaman ini orang sedemikian sering disebut orang elit, yaitu orang yang berderajat tinggi (kaum bangsawan, cendekiawan, dan jutawan dan sebagainya). Mereka biasanya dihormati atau dikagumi orang lain dan karena itu sering menuntut perlakuan istimewa dimana saja mereka berada.

Dalam masyarakat, orang yang dulunya bukan orang terpandang, bisa saja kemudian menjadi orang terpandang karena mendapat jabatan penting, diangkat sebagai anggota keluarga kaum bangsawan, atau memperoleh penghormatan khusus karena prestasinya. Orang menjadi terpandang biasanya karena masyarakat menempatkan mereka pada tempat yang lebih tinggi dari orang kebanyakan. Ini lebih sering terjadi di dunia Timur, tetapi masih ada juga di dunia Barat.

Dalam kehidupan beragama, orang yang terpandang biasanya adalah mereka yang menjadi pimpinan atau tokoh agama, yang dianggap sebagai orang yang lebih saleh hidupnya. Itu tidak hanya berlaku pada golongan non Kristen, tetapi juga dalam agama Kristen dari segala denominasi. Mereka yang terpandang bisa saja orang yang mengakui atau terlihat sebagai orang yang mempunyai karunia khusus atau pengalaman rohani yang istimewa.

Sebenarnya, semua orang Kristen adalah orang yang terpandang. Mengapa demikian? Karena mereka dulunya adalah orang durhaka yang sudah sepatutnya masuk ke neraka, tetapi karena menerima kemurahan Tuhan, mereka sudah menjadi anak-anak Tuhan yang berhak untuk masuk ke surga. Dengan demikian, dunia seharusnya bisa melihat bahwa mereka adalah orang yang mempunyai cara hidup dan tingkah laku yang berbeda.

Sayang sekali, mereka yang sebenarnya adalah “bangsawan”, yaitu umat Tuhan, seringkali masih bertindak-tanduk seperti orang dunia. Selain itu, ada juga orang-orang Kristen yang masih suka memandang muka, dengan secara berlebihan menghormati mereka yang terlihat terkemuka dalam gereja, sekalipun di hadapan Tuhan mereka sama derajatnya. Anehnya, terhadap orang lain yang kurang mampu atau terpandang, mereka tidak akan memandang sebelah mata.

Ayat tulisan Paulus kepada jemaat di Galatia mengingatkan kita bahwa sebagai orang Kristen kita tidak boleh memandang muka, karena Tuhan sendiri tidak membeda-bedakan umatNya. Sebagai orang terpilih kita juga tidak boleh meminta penghormatan atau perhatian istimewa dari orang lain karena kita menjadi umatNya semata-mata karena anugerah Tuhan. Selain itu, sebagai orang Kristen kita harus tetap rendah hati dan mau mengasihi siapa pun karena Tuhan juga mengasihi seluruh umat ciptaanNya.

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Filipi 2: 5 – 7

Cara berdoa yang baik

“Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.” 1 Yohanes 5: 14

Baru-baru ini saya membaca sebuah tulisan keagamaam yang menganjurkan orang untuk berdoa pada waktu tertentu agar bisa memperbesar kemungkinan untuk dikabulkan Tuhan. Menurut tulisan itu, jika kita berdoa pada saat tertentu, makin besar kemungkinan untuk mendapat berkat Tuhan yang terbaik. Tidak jelas mengapa hal itu dianjurkan sedangkan Tuhan yang mahakuasa dan mahahadir tentunya selalu tahu kapan saja kita berdoa dan apa yang kita doakan. Tuhan yang selalu ada dan tidak pernah tidur tentunya selalu mau mendengarkan doa umatNya.

Di antara umat Kristen, memang ada yang percaya bahwa berdoa di  tempat-tempat tertentu memberi kemungkinan yang lebih besar untuk mendapat jawaban Tuhan. Karena itu, tempat-tempat sedemikian biasanya penuh sesak dengan orang yang datang untuk berdoa. Selain itu, ada pula orang yang mengajarkan cara berdoa tertentu atau melalui perantaraan orang tertentu, agar bisa lebih menjamin datangnya berkat dan pertolongan Tuhan. Walaupun demikian, kebanyakan orang Kristen percaya bahwa mereka bisa berdoa dimana saja, dengan siapa saja, dan kapan saja.

Jika orang Kristen bebas untuk berdoa kapan saja dan dimana saja, biasanya orang memang lebih sering berdoa di tempat tertentu dan pada saat tertentu. Itu sekedar kebiasaan, dan bukan keharusan.  Orang Kristen  dianjurkan untuk berdoa atau berkomunikasi dengan Tuhan sesering mungkin, tetapi mungkin kita lebih merasakan dorongan untuk berdoa di tempat tertentu atau pada saat dimana kita membutuhkan Tuhan. Itu tidak ada salahnya. Walaupun demikian, apakah doa manusia menentukan apa yang akan terjadi? Adakah manfaat doa manusia dalam mempengaruhi keputusan Tuhan? Inilah hal yang sering menjadi polemik di antara umat Kristen. Bagaimana kata Alkitab?

Ayat di atas menyatakan bahwa orang Kristen yakin dan percaya bahwa Tuhan akan mengabulkan permintaan mereka jika apa yang dipinta adalah sesuai dengan kehendakNya. Dengan demikian, kita tidak dapat mengharapkan bahwa doa kita akan terkabul jika apa yang kita pinta tidak sesuai dengan apa yang direncanakan Tuhan. Dalam kenyataannya, Tuhan Yesus pernah mengajarkan dalam Doa Bapa Kami: “… datanglah KerajkaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga“. Selain itu Tuhan Yesus berdoa di taman Getsemani: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Dari sini dapat disimpulkan bahwa kita boleh berdoa dan memohon sesuatu, tetapi kita tidak dapat memaksakan kehendak kita kepada Tuhan. Kita tidak dapat mengharapkan bahwa Tuhan yang selalu mendengarkan permohonan kita akan mengabulkan permintaan kita jika permintaan kita bertentangan dengan kehendakNya.

Adakah cara yang terbaik untuk memperoleh jawaban positif dari Tuhan? Ada! Jika kita memohon apa yang memang dikehendaki Tuhan, sudah pasti itu akan terjadi. Tetapi, jika Tuhan menghendaki sesuatu dan kita tidak dapat membatalkan atau mengubahnya, apakah perlunya kita berdoa? Inilah misteri hubungan antara umat dan Tuhan yang tidak dapat dimengerti orang yang bukan Kristen. Malahan sebagian orang Kristen juga masih percaya bahwa jika memang kita bersungguh-sunguh dan “ngotot” dengan doa kita, Tuhan pada akhirnya mungkin mengalah dan menyesuaikan rencanaNya dengan kehendak kita.

Rahasia suksesnya doa memang sulit dimengerti, sekalipun  seharusnya dipahami oleh setiap orang Kristen. Satu-satunya jalan untuk memperoleh apa yang kita mohonkan adalah menyesuaikan permohonan kita dengan kehendakNya. Tetapi untuk mengerti apa yang dikehendaki Tuhan, kita harus dekat kepadaNya. Dan untuk dekat dengan Dia, kita harus rajin berdoa, berkomunikasi dengan Dia. Doa adalah nafas kehidupan rohani kita. Tanpa doa, hubungan kita dengan Tuhan akan pelan-pelan menjadi mati. Dengan demikian, kita tidak lagi bisa memahami apa yang dikehendakiNya. Kita harus sadar bahwa doa kita yang tidak terkabul mungkin adalah doa yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Lebih dari itu, jika kita  mengalami atau memperoleh sesuatu, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, kita tetap harus berusaha mencari kehendak Tuhan di masa depan melalui doa yang tidak berkeputusan.

Hal menggunakan hidup

“Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya”. Mazmur 27: 4

Banyak negara yang sampai saat ini masih mempertahankan adanya hukuman mati (capital punishment) bagi mereka yang melakukan kejahatan yang sangat serius. Amerika misalnya, mempunyai 29 dari 50 negara bagian yang  masih menerapkan hukuman mati. Australia, hukuman mati yang terakhir dilaksanakan pada tahun 1967. Walaupun sesudah itu ada beberapa orang yang dijatuhi hukuman mati, namun tidak ada seorangpun yang menjalaninya karena hukuman mati yang sudah dijatuhkan kemudian diganti dengan hukuman seumur hidup. Sesudah tahun 1984 tidak ada orang yang dijatuhi hukuman mati di Australia.

Adakah untungnya bagi mereka yang pada mulanya menerima hukum mati dan kemudian diganti hukuman seumur hidup? Mungkin tipis bedanya. Mereka yang dihukum seumur hidup sudah tentu harus menderita untuk waktu yang lama dan pada akhirnya harus mati di penjara. Walaupun demikian, dengan ditiadakannya hukuman mati, dampak kekeliruan pengadilan dalam menjatuhkan hukuman mati mungkin bisa diperkecil. Memang ada orang-orang yang menjalani hukuman mati, tetapi kemudian ditemukan tidak bersalah. Dalam hal ini nasi sudah menjadi bubur, tidak ada lagi yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan orang itu.

Peniadaan hukuman mati juga dimaksudkan untuk memberi kesempatan bagi narapidana yang bersangkutan untuk mengubah kelakuan atau cara hidupnya dan menjadi orang yang menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya. Bagi kita yang beragama Kristen, mungkin ingat bahwa seorang penjahat yang disalibkan bersama Kristus mendapat kesempatan untuk bertobat dan percaya kepada Yesus pada saat yang kritis, tetapi tentunya tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan yang sama. Dengan adanya kesempatan untuk hidup lebih lama, mereka yang dibebaskan dari hukuman mati mungkin bisa berubah menjadi orang yang baik sewaktu masih di penjara.

Jika dibayangkan lebih dalam, mungkin hidup kita saat ini adalah seperti hidup di penjara. Bagi mereka yang percaya kepada Tuhan, memang hukuman mati sudah ditiadakan. Walaupun demikian, selama hidup di dunia ini kita tidak mempunyai kebebasan sepenuhnya dari berbagai halangan, masalah, penyakit dan penderitaan. Dengan demikian kita mengharapkan saat dimana kita akan menjumpai Tuhan kita di surga, pada waktu mana kebahagiaan yang kekal akan kita terima.

Bagaimana kita harus menggunakan hidup kita selama berada di “penjara” dunia? Daud dalam Mazmur di atas mengungkapkan keinginannya untuk “bisa diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya”. Ini bukan keinginan untuk cepat-cepat meninggalkan dunia ini untuk pergi ke surga. Sebaliknya, Daud ingin merasakan kasih Tuhan dan memperoleh ketenteraman dariNya selama masih hidup di dunia.  Dengan demikian, sekalipun hidup pada saat ini terasa seperti hidup di penjara, kita bisa berdoa seperti Daud agar kita bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita.

Hari ini firman Tuhan mengingatkan bahwa selama kita masih hidup di dunia, kita masih mempunyai kesempatan untuk menggunakan waktu yang ada untuk mengubah cara hidup kita. Jika hidup kita di masa lalu adalah hidup yang tidak mengenal Tuhan, kesempatan yang ada haruslah dipakai untuk merindukan kebersamaan dengan Tuhan yang bisa memberikan kedamaian, ketenangan dan rasa syukur atas semua kasihNya. Kesempatan yang masih ada bisa juga dipakai untuk bekerja untuk Tuhan dan menghasilkan berbagai buah yang baik.

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.” Filipi 1: 21 – 22

Mengapa orang gemar berdusta?

“Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya” Kolose 3: 9 – 10

Pernahkah anda membaca buku Pinokio? Buku bacaan anak-anak yang sangat terkenal ini dikarang oleh Carlo Collodi dari Italia pada abad ke 19. Dongeng Pinokio merupakan suatu cerita edukatif tentang sebuah boneka kayu yang berubah menjadi anak laki-laki. Pinokio yang nakal dan suka berbohong, melalui petualangannya kemudian menjadi anak yang baik dan patuh pada orang tua.

Mengapa Pinokio senang berbohong? Buku itu tidak menyebutkan sebabnya. Tetapi, menurut ilmu psikologi, ada beberapa sebab mengapa ada orang suka berbohong. Sebab yang pertama ialah karena jika orang lain menganggap suatu hal sebagai apa yang tidak ada artinya, orang yang suka berbohong justru merasa hal itu penting untuk dibesar-besarkan.

Sebab kedua ialah karena orang itu ingin memegang kontrol dengan segala kebohongannya. Dengan menjadi “sutradara” orang bisa mengatur pikiran dan perasaan orang lain. Ia merasa senang jika bisa membodohi orang lain. Yang ketiga adalah karena orang itu tidak ingin mengecewakan orang lain. Dengan berbohong, ia ingin membuat orang lain dekat kepadanya.

Sebab yang keempat, orang berbohong untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Dengan demikian, kebohongannya makin lama menjadi makin besar. Yang kelima, orang suka berbohong karena sudah sering berbohong; ini membuat mereka lupa akan apa yang terjadi dan apa yang hanya lamunan. Dan sebab yang terakhir ialah karena kebohongan itu merupakan apa yang diharapkan untuk terjadi.

Semua penyebab di atas adalah berdasarkan pemikiran kejiwaan. Tetapi, bagaimana kata Alkitab? Alkitab menghubungkan kebohongan dengan hidup lama yang belum mengenal Kristus. Seperti Adam dan Hawa yang berbohong setelah mereka jatuh ke dalam dosa, semua manusia yang belum diperbaharui oleh Kristus selalu cenderung untuk berdusta. Memang karena mereka hidup dalam dosa, dusta merupakan bagian hidup mereka.

Ayat di atas menyatakan bahwa untuk berhenti berdusta kita harus mengalami pembaharuan terus menerus untuk makin menyerupai Tuhan Sang Pencipta yang tidak pernah berdusta. Hanya dengan hidup beriman kepadaNya, kita akan bisa mengubah hidup lama yang penuh dosa agar bisa menjadi hidup baru yang selalu berisi kebenaran. Maukah kita?

Mengabaikan Tuhan besar resikonya

“Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas: penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan.” Roma 1: 28 – 29

Dunia ini makin lama makin maju saja dalam hal teknologi. Seiring dengan itu, berbagai produk yang canggih dan mewah muncul dan ditawarkan kepada mereka yang senang memakai berbagai perlengkapan atau gadget yang serba “wah”. Untuk memiliki benda-benda itu tentunya diperlukan uang yang tidak sedikit.

Sebuah HP yang canggih di Australia misalnya, sekarang ini bisa mencapai harga $3800, dan ini mungkin hanya untuk mereka yang kaya. Mereka yang mempunyainya tentu bisa membanggakan ketebalan ukuran dompetnya, tetapi mereka yang kurang mampu mungkin hanya bisa memakai jenis yang murah, barangkali seharga $50 saja. Sudah tentu HP yang mahal sering menjadi incaran orang untuk dijual di pasar gelap.

Bagi banyak orang yang menginginkan barang-barang mewah, tekanan hidup mungkin berkaitan dengan keinginan untuk selalu bisa mendapatkan apa yang terbaik, yang bisa dipamerkan atau show off. Sebaliknya, bagi mereka yang kurang mampu, tekanan hidup mungkin saja berkaitan dengan hal mencukupi kebutuhan sehari-hari, untuk bisa terus bertahan atau survive. Dengan demikian, banyak orang mungkin terpikat untuk melakukan apa pun asal tujuan tercapai. Mereka lupa bahwa mengabaikan Tuhan adalah sikap hidup yang mempunyai resiko besar.

Ayat di atas adalah ayat yang sangat tepat untuk kita yang hidup di zaman dimana banyak orang sudah mengabaikan Tuhan. Banyak orang yang sudah kehilangan rasa takut kepada Tuhan pada akhirnya berani melakukan apa saja asal tujuan tercapai. Bahkan, pengabdian kepada Tuhan mungkin sudah diganti dengan pengabdian kepada hal-hal duniawi seperti pekerjaan, kekayaan, kemasyhuran, kenikmatan dan sebagainya. Karena itu, Tuhan menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang tidak benar, sehingga mereka melakukan kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, kedengkian, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan.

Pagi ini kita membaca bahwa Tuhan membiarkan manusia yang mengabaikanNya karena sekalipun mereka sudah mengerti akan kehendak Tuhan, mereka menuruti kemauan mereka sendiri (Roma 1: 19 – 21). Dengan demikian, kekacauan dan kehancuran hidup menanti mereka yang dengan sengaja mengabaikan Tuhan.

Mengapa Tuhan membiarkan manusia yang karena kebodohannya sudah mengabaikanTuhan? Mungkin kita berpikir bahwa Tuhan itu kejam. Benarkah? Tuhan adalah maha pengasih, tetapi Ia tidak akan memaksa orang yang mengabaikan Dia dalam hidupnya untuk kembali ke jalan yang benar. Sebagai Bapa, Ia menantikan kita yang sudah mengabaikan Dia untuk kembali mengenal dan taat kepada Dia. Tetapi, jika kita selalu mengabaikan Dia dan hidup kita menjadi berantakan, itu adalah akibat pilihan kita sendiri.

Iman yang benar adalah iman yang dinyatakan

“Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Roma 10: 17

Dari mana datangnya cinta? Menurut pantun lama, cinta datang dari mata, yang kemudian turun ke hati. Mata yang melihat adanya suatu sosok yang menarik, kemudian menimbulkan rasa suka yang diteruskan ke hati. Dengan demikian, cinta yang sedemikian tidaklah jauh berbeda dengan rasa suka ketika orang melihat sebuah mobil baru yang mengkilat dan kemudian bertekad untuk membelinya. Cinta yang hanya berhenti di hati seseorang mungkin hanya membawa rasa suka kepada orang itu saja. Sebaliknya, cinta yang benar bukan saja cinta yang sudah turun ke hati tetapi cinta yang kemudian mengalir keluar sebagai tekad untuk membahagiakan orang yang dicintai untuk selamanya.

Jika pantun cinta di atas adalah menyangkut hubungan antar manusia, bagaimana pula manusia bisa “jatuh cinta”, mempunyai iman kepada Tuhan yang tidak kelihatan? Bagi kita yang tidak pernah menjumpai Kristus, sudah tentu bukan mata jasmani kita yang bisa menimbulkan rasa cinta. Dengan demikian, kita tidak mengasihi Dia karena penampilanNya, tetapi karena apa yang sudah dilakukanNya kepada kita: karena Ia sudah lebih dulu mengasihi kita, dengan mengurbankan diriNya di kayu salib, ganti kita.

Ayat di atas menulis bahwa iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Tuhan. Dengan demikian, iman datang dari Tuhan yang melalui Firman Tuhan (Rhema) melalui Yesus Kristus, yaitu Logos atau Tuhan sendiri yang turun ke dunia. Dengan bimbingan Logos, manusia bisa mendengar apa yang difirmankan Tuhan dan kemudian mengerti bahwa Yesus adalah jalan satu-satunya untuk menuju surga.

Cukupkah bagi manusia untuk mendengar apa yang dikehendaki Tuhan? Cukupkah mereka untuk percaya dalam hati mereka? Bagi banyak orang Kristen, menjadi orang beriman agaknya adalah suatu kebiasaan saja. Apa yang didengar belum tentu dijalankan dalam hidup mereka. Mereka belum tentu mau menyatakan iman mereka dengan tegas melalui hidup mereka. Apa yang ada dalam hati tidak nampak dalam tindak tanduk, perkataan dan perbuatan mereka.

Pagi ini, jika kita ke gereja biarlah kita sadar bahwa jika ada kemauan dalam hati kita untuk mendengarkan firmanNya itu adalah baik. Tetapi, iman yang benar haruslah dinyatakan keluar dalam hidup kita setiap hari.

“Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” Roma 10: 10

Jangan mundur dari iman

“Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.” Markus 8: 38

Berita media pagi ini menunjuk pada penurunan jumlah pengikut agama Kristen di Amerika. Hasil survei pada tahun 2018-2019 menyatakan bahwa jumlah itu sekarang hanya 62%, berkurang 10% dari dekade yang lalu. Sebaliknya orang yang mengaku ateis atau agnostik bertambah banyak jumlahnya. Jika pada tahun 2009 hanya 17%, sekarang ada 26%.

Sangat menarik bahwa seperti Indonesia, Amerika mempunyai semboyan “Kepada Tuhan kami percaya” atau “In God we trust“. Agaknya semboyan semacam ini mulai kehilangan maknanya karena orang bisa memilih “tuhan” yang disukainya, dan hanya melakukan kewajiban agama yang dirasakan mudah dan enak saja. Banyak orang malahan canggung atau malu kalau dianggap religius, apalagi fanatik.

Selain itu, dalam kehidupan bermasyarakat ada kecenderungan bahwa agar sukses dalam hidup, orang harus fleksibel dan bisa menerima kepercayaan lain sebagai alternatif untuk mencapai keselamatan di surga. Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang yang mengaku Kristen juga berpendapat bahwa semua agama sama baiknya, dan orang juga bisa hidup baik tanpa beragama.

Jika ada kemunduran agama Kristen di banyak negara barat, di negara lain agama Kristen terlihat berkembang dengan pesat. Dari jumlah pengikutnya, kemajuan agama Kristen di Asia mungkin di anggap sebagai berkat Tuhan. Walaupun demikian, banyaknya orang yang mengaku Kristen bukan berarti bahwa nama Tuhan dipermuliakan. Mereka yang hanya mengaku dengan mulut, belum tentu mempraktikkan iman mereka dalam kehidupan sehari-hari. Mereka yang menyembunyikan kekristenan mereka untuk bisa dengan bebas melakukan kejahatan dan dosa yang dilakukan orang lain, tidak lain adalah orang yang mempermalukan Tuhan.

Ayat di atas mengingatkan kita bahwa jika kita benar-benar mau menjadi pengikut Kristus, segala tindak-tanduk kita haruslah menyatakan rasa syukur kita kepada Tuhan atas keselamatan yang kita terima. Dengan itu, kita tidak ragu-ragu untuk menjalankan hidup dan tingkah-laku yang berbeda dengan orang yang tidak mengenal Tuhan. Kita tidak akan malu menjadi orang Kristen, sekalipun orang lain mencemooh kita. Kita tetap maju dalam iman walaupun banyak orang lain yang sudah meninggalkan kepercayaan mereka. Baik dengan mulut maupun hati kita, kita akan tetap bertahan dalam kasih Kristus untuk selama-lamanya.

Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Karena Kitab Suci berkata: “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.” Roma 10: 9 – 11

Keyakinan iman yang benar

“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Roma 8: 31

Ayat di atas adalah ayat yang sangat populer di antara umat Kristen. Mereka yang berjuang menghadapi tugas atau masalah yang berat, berusaha membesarkan hati dengan mengucapkan “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Semboyan ini tentu benar: kita akan menang jika Tuhan memang di pihak kita. Pada pihak yang lain, dalam menghadapi masalah tertentu tetaplah perlu dipertanyakan apakah dan kapankah Tuhan di pihak kita.

Dalam Alkitab ada banyak kejadian yang menunjukkan kesetiaan Tuhan kepada umatnya. Sebagai contoh, Tuhan berjanji bahwa Ia akan menyertai umat Israel sekalipun Musa harus meninggalkan mereka karena usia tua.

“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” Ulangan 31: 6

Keyakinan bahwa Tuhan selalu beserta umatNya tidak hanya dimiliki oleh orang Kristen. Banyak pengikut agama lain juga yakin bahwa mereka disertai Tuhan dalam setiap kegiatan yang mereka lakukan, termasuk dalam melakukan apa yang mungkin kurang berkenan atau jahat bagi orang lain. Bahkan ada juga orang yang percaya bahwa karena Tuhan menyertai tim sepakbola favoritnya, pastilah tim itu akan menjadi juara liga!

Tuhan yang kita kenal adalah Tuhan yang mahakasih. Ia mengasihi seluruh umat manusia dan bahkan mengurbankan AnakNya agar barangsiapa percaya kepadaNya akan diselamatkan (Yohanes 3: 16). Tetapi, Tuhan adalah oknum yang mahabijaksana, yang mempunyai berbagai rencana yang tidak dapat dipengaruhi oleh kehendak/kelakuan manusia. Kita sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi besok , karena besok ada di tangan Tuhan (Yakobus 4: 14 – 15). Selain itu, Tuhan adalah Oknum yang mahasuci yang tidak dapat menerima tindakan atau kehidupan yang bertentangan dengan firmanNya. Tidaklah mengherankan bahwa Alkitab penuh dengan contoh-contoh dimana karena berbagai sebab, Tuhan tidak selalu berpihak kepada umatNya atau selalu senang menghukum mereka yang terlihat jahat. Sebagai orang percaya, bagaimana kita harus bersikap?

Memang benar bahwa kasih Tuhan adalah sangat besar sehingga Ia tidak mungkin meninggalkan umatNya, tetapi itu jika mereka tetap taat kepadaNya. Sekalipun Tuhan terkadang membiarkan hal yang tidak menyenangkan terjadi pada umatNya (Ayub misalnya), itu tidak berarti bahwa Ia meninggalkan mereka dan berpihak kepada orang yang jahat. Pada pihak yang lain, kita tidak dapat menganggap bahwa Tuhan akan selalu menyertai kita jika kita sering melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepadaNya. Kita juga tidak dapat mengharapkan bahwa semua orang yang tidak kita sukai akan menerima hukuman Tuhan. Seburuk apapun keadaannya, Tuhan yang mahasabar ingin agar mereka yang tersesat untuk bisa kembali ke jalan yang benar seperti apa yang pernah terjadi pada diri kita.

Ayat di atas menyatakan bahwa kita akan menang jika Tuhan berpihak kepada kita. Dapatkah kita percaya bahwa ini akan selalu terjadi? Tentu! Tuhan berpihak kepada kita jika hidup kita selalu dipakai untuk memuliakan Dia dan untuk mengasihi sesama kita. Jika rencana kita sesuai dengan kehendakNya, Tuhan pasti akan memberi kita sebuah kemenangan  pada waktunya!

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka.” Pengkhotbah 3: 11a

Iman harus bertumbuh dengan bertambahnya pengalaman

“Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.” Roma 1: 19 – 20

Seorang kenalan yang baru merayakan hari ulang tahun ke 50 pernikahannya menyatakan bahwa pernikahan adalah suatu hal yang tidak mudah dijalani. Saya setuju. Memang dengan lamanya pernikahan, hubungan suami-istri bukannya tidak lagi mempunyai masalah. Bahkan sebaliknya, dengan berlalunya waktu suami atau istri akan makin dapat melihat sifat pasangannya dan menyadari perbedaan-perbedaan yang ada. Lamanya pernikahan memang bisa membuat dua orang bisa menerima kenyataan bahwa perbedaan harus ada, tetapi mereka bisa saling menghormati, saling menerima dan saling percaya. Hubungan kasih antara suami-istri memang mengalami penyataan (revelation) sepanjang hari sampai saat terakhir.

Jika pencerahan terjadi dalam hubungan antara suami dan istri, bagaimana pula dengan hubungan antara manusia dan Tuhan? Ayat di atas menujukkan bahwa kepada semua manusia Tuhan sudah memberi pernyataanNya, dan karena itu tidak ada seorang pun yang bisa menolak kenyataan bahwa Tuhan itu ada. Mereka yang mencoba menolak adanya Tuhan dengan memakai berbagai dalih, adalah orang-orang yang dengan sengaja mengabaikan Tuhan dan karena itu harus bertanggung-jawab sepenuhnya atas keputusan mereka. Walaupun demikian, penyataan Tuhan itu bukan hanya melalui apa yang bisa dilihat mata manusia dan dipikirkan manusia secara umum.

Berbeda dengan pernyataan Tuhan kepada dunia, hubungan umat Tuhan dan umatNya adalah hubungan yang khusus, yang seperti hubungan antara suami dan istri, mengalami pencerahan hari demi hari. Tuhan menyatakan diriNya, sifatNya, kehendakNya dan rencanaNya kepada mereka yang beriman kepadaNya. Jika iman adalah satu sisi dari sebuah mata uang, pernyataan Tuhan ada pada di sisi yang lain. Iman yang benar selalu bertumbuh bersama dengan pengertian dan pengetahuan tentang Tuhan. Iman tidak dapat bertumbuh dengan baik jika kita tidak menerima penyataan dari Tuhan.

Bagaimana kita dapat menerima pengertian tentang Tuhan agar dapat menumbuhkan iman kita? Ini hanya dapat terjadi dengan kemauan kita untuk mendengar suaraNya dan melihat kebesaranNya. Tuhan selalu menunjukkan bimbingan dan kuasaNya dalam hidup setiap umatNya, tetapi tidak semua orang mau menerima dan mendengarkan Dia. Mereka yang bergantung pada diri sendiri cenderung mengabaikan Tuhan dalam hidupnya. Karena itu, walaupun seseorang sudah mengenal Tuhan sejak lama, mungkin saja pengertian dan imannya tidak bertumbuh sebagaimana seharusnya.

Semakin lama kita hidup sebagai umatNya, seharusnya kita makin dapat mengenal kasih, kuasa, kebijaksanaan, kesabaran dan kesucian Tuhan. Dengan demikian, seharusnya hidup kita bisa berubah, makin lama makin sesuai dengan apa yang dikehendakiNya. Dengan pengenalan yang makin mendalam tentang Tuhan, kita tidak akan mudah untuk kaget, kuatir, takut ataupun kecewa jika ada masalah besar yang terjadi dalam hidup kita. Dengan pengertian akan kesucianNya, kita akan bisa makin kuat dalam menghindari godaan iblis. Dengan mengakui kebesaranNya, kita juga makin lama makin menyadari kelemahan dan kekurangan kita, sehingga makin lama kita makin beriman kepadaNya.

Berapa lama anda sudah mengenal Tuhan? Apakah pengenalan itu sudah bertumbuh sejak anda menerima Dia? Apakah anda merasakan bahwa iman anda makin kuat sejak saat perjumpaan anda dengan Tuhan untuk pertama kalinya? Dapatkah anda merasakan adanya penyataan yang datang dari Tuhan melalui Roh KudusNya setiap hari?

Hari ini, keputusan ada di tangan kita untuk mau membina hubungan yang makin baik dengan Tuhan kita. Tuhan menghendaki setiap umatNya untuk mau membuka diri kepadaNya dan juga mau menerima apa yang dinyatakanNya. Biarlah dengan makin dalamnya pengertian kita akan kebesaran Tuhan, iman kita akan tumbuh semakin kuat sehingga kita bisa menempuh tahun-tahun yang akan datang dengan keyakinan bahwa kasihNya akan senantiasa menyertai kita.

“Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.” 1 Yohanes 5: 20