“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.” 1 Petrus 1: 3 – 4
Pagi ini saya membaca di media bahwa sebuah negara di Afrika mengalami kesulitan ekonomi yang besar sehingga rakyatnya resah. Selain sulitnya hidup karena 90 persen penduduknya tidak mempunyai pekerjaan, harga bensin sekarang mencapai Rp. 45 ribu seliter – harga bensin termahal sedunia. Memang rakyat negara ini sudah lama menderita, dan sekalipun orang-orang yang dulunya memerintah dengan tangan besi dan menghancurkan ekonomi sudah lenyap, mereka yang menggantikan belum bisa memperbaiki negara.
Sungguh menyedihkan jika kita membaca atau mendengar adanya penderitaan manusia di dunia. Apalagi jika kita melihat atau mengalaminya sendiri. Mengapa manusia harus menderita di dunia? Banyak diantara mereka yang sebenarnya hanya ingin hidup sederhana dalam suasana yang aman, sehat dan tenteram. Tidak membutuhkan kekayaan dan kemewahan. Tetapi hidup layak sebagai manusia tidaklah mudah dicapai.
Sebagai orang Kristen tentunya kita sadar bahwa sejak kejatuhan Adam dan Hawa kedalam dosa, umat manusia harus berjuang untuk bisa bertahan hidup di dunia. Dunia yang sudah terkontaminasi dengan dosa menjadi dunia yang penuh kekejaman, ketidakadilan dan penderitaan. Dengan demikian ada orang yang menderita berbagai penyakit, dan ada juga yang dianiaya orang lain, yang diperlakukan secara tidak adil dalam masyarakat, yang jujur tapi tidak berhasil, dan juga orang jahat yang kelihatan sukses dan nyaman hidupnya. Tuhan seolah menutup mata.
Memang dalam melihat semua penderitaan manusia, adalah mudah bagi kita untuk berkata bahwa semua itu sudah “nasib”. Kehendak Tuhan tidak dapat dibantah. Karena itu wajarlah kalau sebagian orang Kristen bertanya-tanya apakah Tuhan menghendaki semua ini terjadi pada umatNya. Tetapi dalam Alkitab jelas tertulis bahwa Tuhan itu mahakasih, bukan Tuhan yang kejam dan semena-mena (Yohanes 3: 16).
Tuhan yang mahakasih tentu tidak menghendaki kita menderita. Tetapi Tuhan yang mahaadil tidak memisahkan umatNya dari orang lain selama mereka hidup di dunia. Ia memberikan sinar matahari kepada siapapun juga, dan udara pun tersedia untuk seluruh umat manusia. Setiap umat manusia mempunyai cara hidup tersendiri, dan mereka akan memperoleh hasil yang berbeda-beda, sesuai dengan hukum dunia yaitu ketidakpastian. Apa yang terjadi di dunia sulit ditebak manusia.
Jika manusia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, sebagian orang akan menggunakan segala kesempatan untuk mencari kesuksesan dan kebahagiaan selagi masih bisa. Dunia yang kacau dan Tuhan yang seolah tidak mau ikut campur, memberi mereka dorongan untuk memikirkan diri sendiri saja selama hidup di dunia.
Tuhan dalam Alkitab bukanlah Tuhan yang lepas tangan atau yang tidak berdaya. Bumi dengan kekacauannya dan manusia dalam dosa mereka tidak bisa lepas dari pandangan mata dan kuasa Tuhan. Apa yang dirancang Tuhan pasti terjadi sekalipun manusia berusaha melupakan kuasaNya di dunia. Tuhan bisa bekerja dengan bebas ditengah kekacauan dunia dan tetap memberi berkat dan kasihNya kepada semua umatNya.
“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” Roma 5: 3 – 4
Pagi hari ini kita harus sadar bahwa Tuhan kita lebih mementingkan hidup umatNya dalam jangka panjang. Hidup di dunia ini sangat singkat jika dibandingkan dengan hidup sesudahnya. Karena itu Tuhan bekerja untuk memberi kita iman yang makin kuat dalam keadaan apapun, bahwa Ia telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, dan membawa kita kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yaitu hidup di surga.
“Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.” 1 Petrus 1: 6
Kemarin, seorang sanak saya membeli sebuah cindera mata dari sebuah toko di Sydney. Penjual barang kemudian memberinya sebuah kupon seharga $14 yang bisa digunakan untuk membeli barang di toko lain. Apa yang mengecewakan adalah kenyataan bahwa kupon itu hanyalah tipuan saja, karena barang apapun yang ada di toko itu tidak ada yang lebih murah dari $34. Kelihatannya apa yang diberikan secara cuma-cuma bukanlah barang yang berharga.
Yakinkah anda akan masuk ke surga? Pertanyaan itu sering muncul di lubuk hati banyak orang, termasuk orang Kristen.
Dalam perjalanan di New Zealand saya mengunjungi beberapa toko yang menjual cindera mata atau souvenir. Diantara apa yang populer diantara para turis adalah madu Manuka yang dikatakan mengandung berbagai khasiat untuk kesehatan. Dengan harga yang cukup mahal, mereka yang mau membelinya tentunya tidak akan menyia-nyiakannya. Kebanyakan mereka membawa madu itu pulang ke negara masing-masing seperti layaknya barang berharga.
Satu hal yang saya sukai ketika mendapat kesempatan untuk mengunjungi negara lain adalah mencoba makanan setempat. Banyak makanan yang dulunya tidak saya kenal, kemudian menjadi makanan favorit saya. Memang kata orang tidak ada yang lebih menyenangkan daripada mengagumi pemandangan sambil menikmati makanan yang enak. Tetapi, ada juga yang berpendapat bahwa jika hati kita senang, makanan yang kurang enak pun terasa enak. Kebahagiaan tidak harus bergantung pada kenyamanan hidup.
Makanan itu sesuatu yang sangat penting di dunia. Anda setuju? Tentunya semua orang setuju, karena tanpa makan, orang tidak dapat hidup. Bukan saja manusia, tetapi semua makhluk di dunia ini perlu makan. Walaupun demikian, manusia sebagai makhluk yang berbudi-daya, tidaklah puas dengan makanan yang sama setiap hari. Bahkan, manusia tentunya mempunyai diet yang bervariasi untuk memenuhi kebutuhan dan kesehatan tubuhnya. Semboyan kuno yang berbunyi “empat sehat lima sempurna” barangkali bisa mengingatkan kita akan hal ini.
Jika anda sempat mengunjungi toko buku, tentu anda bisa melihat adanya berbagai karya tulis yang bisa dibeli. Itu bukti bahwa sekalipun e-book atau buku elekronik sekarang ini makin populer, buku tradisional yang terbuat dari kertas tetap mempunyai banyak penggemar. Apalagi untuk anak-anak, buku dongeng atau fable yang bergambar adalah sesuatu yang disenangi sampai sekarang. Sebaliknya bagi orang dewasa, cerita novel dan fiksi seperti kisah petualangan, kisah cinta dan semacamnya tetap enak untuk dibaca sekalipun tidak bergambar.
Leaders are born not made. Seorang pemimpin adalah dilahirkan, bukan dibuat, begitu ungkapan yang sering dikumandangkan. Memang ada benarnya bahwa seorang pemimpin yang hebat adalah orang yang kelihatannya sudah sejak dari kecil tumbuh dengan bakat memimpin orang lain. Walaupun demikian, sebagian ahli jiwa berpendapat bahwa seorang pemimpin adalah dibuat dan bukannya dilahirkan. Hanya melalui pendidikan dan latihan, seorang bisa menjadi pemimpin yang baik. Leaders are made not born.
Sejak kelahirannya, seorang anak mendapat perhatian dan bimbingan orangtuanya. Semua orangtua tentunya mengingini anak-anak mereka berhasil dalam hidup mereka. Karena itu, sedapat mungkin orangtua umumnya ingin membantu anak-anaknya sejak dari kecil, melewati masa- masa sekolah, universitas, bahkan sampai mereka bisa berumah-tangga.
Sampai tahun lalu, setiap tahunnya Australia menerima sekitar 190 ribu migran dari berbagai negara. Sebagian diantara mereka yang datang adalah para pengungsi yang berusaha menyelamatkan diri dari peperangan dan penindasan yang ada dalam negara masing-masing. Berdasarkan alasan kemanusiaan atau humanitarian, orang-orang yang sudah terseleksi itu datang ke Australia untuk menjadi penduduk tetap.