Mengumpulkan harta di surga

“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” Matius 6: 19 – 20

Siapa bilang di Australia tidak ada maling dan garong? Semalam di kompleks apartemen saja ada tetangga yang kecurian. Sekitar jam 4 pagi, seorang pencuri memasuki sebuah apartemen dengan memanjat balkon belakang dan melewati pintu kaca yang tidak terkunci. Si pencuri berhasil menggondol dompet penghuni apartemen dan mungkin juga beberapa barang lain. Data dari bank menunjukkan bahwa sekitar jam 5 pagi kartu kredit yang dicuri sudah digunakan oleh si pencuri untuk membeli barang.

Memang di Australia keamanan tidaklah sebaik 30-40 tahun yang lalu. Jika pada waktu itu orang bisa meninggalkan rumah tanpa harus menguncinya, sekarang ini rumah yang sudah terkunci pun bisa dibongkar orang. Dalam hal ini, seorang penghuni rumah bukan saja kuatir atas kemungkinan hilangnya harta benda. Orang tentunya juga takut untuk memergoki si pencuri kalau-kalau ia membawa senjata.

Polisi selalu memberi nasihat agar orang berhati- hati menyimpan harta mereka. Jika ada barang berharga yang disimpan di rumah, sebaiknya itu ditaruh dalam lemari besi yang tersembunyi. Selain itu, dianjurkan agar setiap orang mengunci pintu dan jendela rumah dan tidak menunjukkan kesan bahwa penghuni rumah sedang bepergian. Memang adanya harta selalu mengundang datangnya pencuri.

Dalam ayat di atas Tuhan Yesus memberikan nasihat agar kita tidak mengumpulkan harta di dunia; karena di dunia ini ngengat dan karat merusakkan harta kita dan pencuri juga bisa membongkar serta mencurinya. Nasihat yang kelihatannya pas dengan apa yang terjadi tadi malam.

Memang di dunia ini tidak ada barang apapun yang kekal. Sekalipun kita bisa menyimpan benda-benda itu di tempat yang aman, pada saat kita meninggalkan dunia ini, semuanya itu akan hilang tak berbekas. Kita tidak akan dapat menggunakan semua itu, dan Tuhan pun tidak akan menghargainya.

Tuhan Yesus bukannya anti harta dan anti menabung. Nasihat Yesus bukannya dimaksudkan agar kita tidak bekerja, atau agar kita menghambur-hamburkan harta milik kita. Apa yang dimaksudkanNya adalah agar kita tidak memusatkan hidup kita pada harta duniawi dan hal mencari harta untuk kepentingan kita sendiri.

Yesus mengajarkan agar kita mengumpulkan harta di sorga, harta yang abadi yang tidak dapat hilang. Bagaimana kita bisa mengumpukan harta semacam itu? Kekayaan adalah baik jika bisa digunakan untuk kemuliaan Tuhan dan untuk kepentingan sesama. Dengan mengasihi dan menolong mereka yang membutuhkan, kita sebenarnya membawa kasih yang kita miliki untuk Tuhan yang di surga.

“Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Matius 25: 40

Jangan sampai kehilangan berkatNya

“Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” 1 Korintus 9: 27

Pernahkah anda kecewa? Saya sendiri pernah dan bahkan sering. Kekecewaan yang  pernah kita alami mungkin ada berbagai ragam, tetapi kekecewaan yang paling berat mungkin jika kita ditolak oleh orang yang kita cintai. Patah hati? Bertepuk sebelah tangan? Apapun istilahnya, jelas bahwa penolakan itu akan membuat kita sedih dan kecewa. Apalagi jika kita melihat adanya orang yang kita kenal yang beruntung menggantikan posisi kita.

Ayat diatas seolah menggambarkan hal yang serupa. Orang Kristen yang sibuk mengabarkan injil kepada orang lain, tetapi kemudian harus kecewa karena ia pada akhirnya ditolak Tuhan sedangkan orang lain diterimaNya. Ditolak? Tidak dapat masuk ke surga? Jika memang demikian tentunya sangat menyedihkan! Mereka yang kita injili memperoleh keselamatan dan masuk ke surga, sedangkan kita  yang lebih dulu mengenal Kristus ternyata ditolakNya dan masuk ke neraka.

Memang banyak orang Kristen yang memakai ayat ini untuk meyakinkan mereka yang hidup kekristenannya mulai kendor. Dengan maksud yang baik, mereka memperingatkan bahwa jika orang Kristen tidak berhati-hati, Tuhan akan mencabut hak mereka untuk masuk ke surga. Tuhan akan menolak mereka karena mereka mundur dari hidup Kristen yang berdisiplin. Benarkah begitu?

Kata “ditolak” dalam alkitab berbahasa Inggris mungkin bisa diterjemahkan sebagai “disqualified” atau “disqualified for prize” yang berarti “didiskualifikasi” atau “tidak diberi hadiah”. Dengan demikian, “ditolak” dalam hal ini bukan seperti orang yang diusir atau ditelantarkan. Bukan seperti orang yang bertepuk sebelah tangan.

Jika seseorang bertobat dan mengakui Yesus sebagai Juruselamatnya, ia akan memperoleh keselamatan dari Tuhan. Itu sebenarnya karena belas kasihan Tuhan semata dan bukannya karena perbuatan baik orang itu. Di hadapan Tuhan semua orang adalah orang yang berdosa dan sudah kehilangan kemuliaan. Dalam pandangan Tuhan tidak ada perbuatan baik manusia yang dapat dihargai dengan keselamatan. Dengan demikian, Tuhanlah yang sudah menyatakan kasihNya kepada kita ketika kita masih berdosa. Tuhan sudah menerima kita sebagai anak-anakNya atas kehendakNya sendiri.

Mereka yang bertepuk sebelah tangan adalah orang yang sudah menyatakan cintanya kepada orang lain, tetapi cinta itu kemudian ditolak. Dalam hubungan kita dengan Tuhan, bukanlah kita yang menyatakan cinta kita kepada Tuhan. Kitalah yang sudah menerima pernyataan cinta dari Tuhan. Dengan demikian tidak mungkin bagi kita untuk bertepuk sebelah tangan karena Tuhan tidak akan mengubah keputusanNya. jika Ia sudah memutuskan untuk menyelamatkan kita karena iman kita, kasih dan kesetiaanNya tetap untuk selama-lamaNya.

Apa yang bisa terjadi pada hidup orang Kristen setelah menerima uluran tangan kasih Tuhan adalah hidup yang secara potensial akan dipenuhi oleh kebahagiaan dalam Dia. Berkat Tuhan dalam segala bentuk akan dicurahkan kepada mereka yang setia dalam hidup yang mengikuti firmanNya. Kepada mereka yang menggunakan hidup mereka sesuai dengan perintah Kristus, Tuhan menjanjikan kekuatan, penghiburan, kedamaian dan kecukupan. Mereka yang hidup dalam Tuhan juga akan mendapat kesempatan untuk melayani Tuhan karena Tuhan mau memakai mereka yang setia. Kabar baik inilah yang kita sampaikan kepada orang-orang yang kita injili.

Dalam kenyataannya tidak semua orang Kristen mau menggunakan hidupnya sejalan dengan firman Tuhan setiap hari. Hidup yang sedemikian mungkin dirasakan terasa kurang bebas, dan karena itu banyak orang Kristen yang menjadi orang yang tidak mau berlatih dalam kedisiplinan firman Tuhan. Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita yang sudah diselamatkan bahwa hidup yang sesuai dengan firman Tuhan akan membawa banyak berkat yang dapat kita rasakan. Karena itu, jika kita tidak mau kehilangan kesempatan untuk menerima berkat Tuhan dan untuk melayani Dia, baiklah kita tetap bertekun dalam hidup dalam terang Kristus. Ini seharusnya menjadi pilihan kita.

 

 

 

Kesombongan itu tidak selalu terlihat mata

“TUHAN itu tinggi, namun Ia melihat orang yang hina, dan mengenal orang yang sombong dari jauh.” Mazmur 138: 6

Adakah orang yang senang kepada orang yang sombong? Secara logis, tentunya orang tidak menyenangi orang yang sombong, sekalipun ia sendiri mungkin dipandang sombong oleh orang lain. Tetapi, adanya orang yang sombong mungkin saja bisa ditolerir oleh masyarakat karena mereka adalah orang yang terkenal.

Masyarakat mungkin bisa menerima kalau ada orang yang sudah sepantasnya bangga atas kekuasaannya, kemampuannya, kepandaiannya, kekayaannya, atau kerupawanannya. Yang dianggap lebih menyebalkan biasanya adalah orang yang tidak sepatutnya sombong, tetapi terlihat sombong. Dalam hal ini kesombongan adalah relatif, tidak semua orang bisa merasakan adanya kesombongan  pada diri seseorang atau dirinya sendiri.

Jika manusia mungkin menganggap sebagian kesombongan adalah biasa dan bisa diterima, Tuhan tidaklah menyenangi adanya kesombongan apapun. Sebagian kesombongan manusia adalah tersembunyi dan tidak dapat dilihat atau dirasakan orang disekitarnya, tetapi Tuhan yang mahatahu dapat menyelidiki isi hati dan pikiran setiap manusia. Jika manusia tidak dapat membedakan rasa puas, percaya diri, bangga dan kesombongan, Tuhan tahu adanya kesombongan dalam setiap insan.

“Orang yang sembunyi-sembunyi mengumpat temannya, dia akan kubinasakan. Orang yang sombong dan tinggi hati,aku tidak suka.” Mazmur 101: 5

Kesombongan adalah perasaan bahwa seseorang dapat mencapai sesuatu tanpa pertolongan Tuhan, atau jika seseorang membenci, memandang rendah atau mengabaikan apapun yang merupakan ciptaan atau berkat Tuhan. Kesombongan mungkin juga berupa sikap yang menempatkan Tuhan sebagai sesuatu yang tidak relevan dalam hidup atau perbuatan seseorang. Pada pihak yang lain, kesombongan bisa juga muncul pada orang-orang  yang merasa bahwa mereka adalah anak mas Tuhan.

Kesombongan dengan demikian adalah dosa, dan itu sering ditempatkan sebagai dosa nomer satu diantara tujuh dosa yang mematikan (seven deadly sins). Dosa yang paling mudah dilakukan dengan sengaja maupun tidak; dosa yang membawa kejatuhan iblis dari posisinya di surga, dan yang mengakibatkan diusirnya Adam dan Hawa dari taman Eden. Walaupun begitu umumnya kesombongan dalam hidup, kesadaran akan kesombongan tidaklah mudah dirasakan manusia.

Dalam perumpamaan Yesus tentang orang Farisi dan pemungut cukai yang pergi berdoa ke Bait Allah (Lukas 18: 9 – 14) diceritakan adanya seorang Farisi yang berdoa dengan keyakinan bahwa hidupnya sudah lebih baik dari hidup pemungut cukai yang berdoa di dekatnya. Keyakinan orang Farisi itu ternyata adalah sebuah kesombongan yang tidak dapat dibenarkan Allah. Sebaliknya, kerendahan hati si pemungut cukai membawa pengampunan.

“Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Lukas 18: 14

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa dalam diri setiap orang selalu ada benih-benih kesombongan. Sekalipun orang lain tidak dapat melihat atau merasakan adanya kesombongan dalam diri kita, kita seharusnya dapat mengevaluasi hidup kita dan mengakui adanya dosa-dosa kesombongan yang ada.

Terkadang sulit juga bagi kita untuk mengakui apa yang kita perbuat, katakan atau pikirkan sebagai kesombongan. Oleh karena itu mungkin jarang bagi kita untuk memohon pengampunanNya secara khusus atas kesombongan kita. Dengan demikian, sulit bagi kita untuk mengubah sikap hidup kita jika kita tidak merasa bersalah dalam apa yang sudah kita kerjakan.

Firman Tuhan berkata bahwaTuhan dari jauh bisa melihat orang yang rendah hati dan orang yang sombong. Oleh sebab itu biarlah kita tiap hari meneliti hidup kita masing-masing dan mendengarkan suara Tuhan agar kita makin hari makin bisa merendahkan diri kita di hadapanNYa.

Lalang dan gandum boleh hidup bersama

“Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” Matius 13: 30

Pagi ini saya menyempatkan diri untuk memotong rumput di halaman belakang rumah saya yang cukup luas. Sudah lama saya tidak menggunakan mesin traktor pemotong rumput karena hujan yang jarang turun. Tetapi sejak turunnya hujan bulan lalu, halaman itu sekarang kelihatan hijau bukan saja dengan rumput, tetapi juga dengan berbagai tanaman liar seperti lalang dan sejenisnya. Saya sebenarnya ingin memiliki halaman yang ditumbuhi rumput saja, tetapi  di padang rumput manapun tanaman liar selalu ikut tumbuh bersama rumput yang ada. Dengan adanya sinar matahari dan air hujan, tanaman liar itu terkadang justru tumbuh lebih subur dari rumput. Ini yang membuat saya kesal karena selain tidak mudah untuk mencabut lalang, lubang bekas lalang tidaklah sedap dipandang mata.

Hidup manusia di dunia ini seringkali nampaknya seperti padang yang ditumbuhi rumput dan lalang. Mereka yang jahat dan curang kerapkali hidupnya berhasil dan nyaman, sedangkan mereka yang baik hati dan jujur justru hidupnya berat dan bahkan bisa menjadi bulan-bulanan orang lain. Mengapa begitu? Kalau Tuhan membiarkan adanya orang yang jahat dan bahkan membiarkan mereka untuk berjaya, tidak patutkah kita merasa iri dan bahkan sakit hati kepada yang tidak mengenal Tuhan, dan juga marah kepada Tuhan yang tidak melakukan tindakan apa-apa kepada mereka? Tuhan tidak adil!

Dalam perumpamaan tentang lalang dan gandum, Yesus menjawab pertanyaan yang diajukan oleh banyak orang: mengapa Tuhan membiarkan adanya orang yang jahat untuk menikmati hidup mereka ditengah mereka yang taat kepada Tuhan (Matius 13: 24 – 30). Perumpamaan ini cukup sering dibahas atau dikhotbahkan, tetapi sering secara kurang tepat dipakai untuk membahas kehidupan gerejani. Perumpamaan ini sebenarnya berlaku untuk keadaan di dunia dan mengandung pengajaran yang mempunyai aplikasi praktis di semua zaman, terutama di zaman sekarang.

Dunia ini sudah sangat berkembang dan era globalisasi membuat negara yang satu membutuhkan negara yang lain. Begitu juga, di sebuah negara ada banyak berbagai  partai dan golongan yang saling bergantung dan berinteraksi. Dalam kehidupan seseorang, kerjasama dan komunikasi dengan orang lain adalah perlu sekalipun mereka tidak sepaham. Semua itu tentunya jika masih dalam batas-batas yang bisa diterima.

Masalahnya, jika dalam hidup kita melihat adanya sebuah negara, sebuah kelompok manusia atau pribadi yang seolah-olah berbuat semaunya sendiri dan menyebabkan berbagai masalah di muka bumi, hati kita mungkin bertanya-tanya mengapa Tuhan membiarkan hal seperti itu. Kita mengerti bahwa Tuhan mahasabar, tetapi kita tidak mengerti mengapa Ia yang mahakuasa tidak bertindak tegas terhadap mereka yang jelas-jelas melakukan hal yang bertentangan dengan firmanNya. Mengapa Tuhan tidak membuat semua yang tidak benar itu lenyap dari muka bumi?

Pagi ini kita harus sadar bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahabijaksana. Dia adalah Tuhan yang membuat roda kehidupan ini berputar. Tuhanlah yang memungkinkan semua orang di dunia untuk hidup bersama dan berinteraksi. Ia jugalah yang menerbitkan sinar matahari dan  menurunkan hujan untuk orang yang jahat dan orang yang baik (Matius 5: 45).  Segala bentuk kehidupan ada di dunia, sedemikian rupa hingga kuasa Tuhan bisa terlihat bekerja dan memegang kemudi. Dalam segala keadaan, yang baik maupun yang buruk, kehidupan manusia tetap berjalan dan mereka yang percaya bisa senantiasa berharap atas kasih dan pertolongan Tuhan. Mereka yang percaya kepada Tuhan juga yakin bahwa Ia akan bertindak untuk memisahkan orang yang jahat dari mereka yang taat kepadaNya. Itu akan terjadi pada saat yang ditentukan Tuhan dan bukannya sekarang.

Orang berdosa yang dikuduskan

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.” Roma 5: 8 – 9

Orang Kristen adalah orang yang sudah ditebus dosanya oleh darah Kristus. Karena pengorbanan Yesus di kayu salib, mereka yang dulunya harus menemui kebinasaan sekarang bisa menjadi orang yang diselamatkan. Lebih dari itu, orang Kristen boleh memanggil Allah sebagai Bapa karena mereka adalah orang-orang yang sudah dikuduskan. Orang kudus? Saint?

Sebutan “orang kudus” ada di Alkitab baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Baru, sebutan orang kudus jelas dipakai untuk mereka yang sudah dikuduskan oleh darah Kristus. Karena itu, sebagai orang Kristen sebenarnya kita tidak boleh ragu untuk  menyatakan bahwa sebagai anak-anak-Tuhan kita adalah orang-orang kudus. Tetapi, sebutan sedemikian mungkin bisa menjadi bahan tertawaan bagi mereka yang tidak mengerti bahwa orang Kristen selama hidup di dunia tentunya tetap bisa jatuh ke dalam dosa. Orang Kristen yang masih hidup di dunia adalah orang yang disucikan Tuhan, tetapi bukannya suci seperti Yesus. Orang Kristen tetap adalah orang-orang berdosa. Membingungkan bukan?

Bagi sebagian orang Kristen, sebutan “orang kudus”, “saint“, “santa” atau “santo” mungkin dipakai untuk memanggil mereka yang dianggap benar-benar suci karena hidup mereka yang dianggap luar biasa, dan mungkin karena jasa mereka kepada gereja. Mereka itu mungkin ditetapkan oleh pimpinan gereja sebagai tokoh-tokoh yang sudah suci seperti Tuhan. Karena itu, jemaat mungkin sering berdoa kepada orang-orang kudus untuk mendapatkan pertolongan atau kemudahan dalam hidup. Tetapi penebusan Kristus sebenarnya tidak membeda-bedakan orang Kristen yang satu dengan orang Kristen yang lain. Mereka semuanya adalah orang berdosa yang membutuhkan penebusan Kristus, dan selama hidup di dunia mereka tetap berbuat dosa.

Orang Kristen adalah orang kudus tetapi juga orang yang berdosa. Berbeda dengan orang lain, darah Yesus memungkinkan mereka untuk memperoleh hidup baru dengan kesadaran akan apa yang baik dan buruk menurut firman Tuhan. Orang yang sudah dikuduskan  mempunyai keinginan untuk berjalan dalam kebenaran, dan memiliki kekuatan dari Tuhan untuk menolak apa yang jahat. Ini bukan berarti bahwa mereka adalah orang yang tidak dapat berbuat dosa selama mereka hidup di dunia, tetapi jika mereka berbuat dosa mereka akan sadar akan hal itu dan makin hari akan makin bisa hidup lebih baik.

Pagi ini, kita harus bersyukur bahwa Tuhan sudah memilih kita untuk menjadi anak-anakNya. Dengan demikian, kita tidaklah tetap hidup dalam kebiasaan lama yang bergelimang dengan dosa. Kita harus mempunyai kesadaran bahwa darah Yesus sudah ditumpahkan bukan untuk disia-siakan. Yesus sudah berkurban untuk kita dan jika kita benar-benar mau menjadi orang kudus, kita harus mau bertumbuh dalam kebenaran sehingga makin lama kita makin menyerupai Dia.

Belajar dari Roh Kudus

“Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.” Amsal 19: 20

Bagi mereka yang ingin mempunyai anak, tentunya biaya pendidikan adalah salah satu hal yang harus dipikirkan dan dipersiapkan. Di Australia, biaya sekolah dari SD sampai SMA bisa ditekan serendah mungkin jika anak masuk ke sekolah negeri, tetapi bisa menjadi sangat mahal jika sekolah swasta yang dipilih. Biaya sekolah swasta sangat bervariasi, dari beberapa ribu sampai lebih dari dua puluh ribu dolar per tahun.

Banyak orang tua merasa lega ketika anak-anak mereka berhasil menyelesaikan pendidikan SMA mereka. Apakah anak-anak itu kemudian meneruskan ke perguruan tinggi atau tidak, orang tua tidak perlu lagi memikirkan biaya studi mereka. Itu karena biaya universitas yang sangat besar bisa dibayar oleh mereka yang belajar secara mengangsur setelah lulus. Walaupun demikian, orang tua bisa merasa kuatir juga kalau sang anak tidak kunjung selesai belajar, kalau-kalau hutang mereka menjadi terlalu besar.

Sampai umur berapakah orang bisa belajar dalam hidup ini? Di Australia, jawaban pertanyaan ini tidak mudah diberikan. Sudah tentu orang pada umumnya ingin cepat-cepat mendapat ijazah S1 agar dapat segera bekerja. Tetapi ada juga orang yang ingin mendapat ijazah S2 atau S3 sebelum bekerja. Selain itu ada orang yang setelah bekerja beberapa tahun, kemudian kembali ke universitas secara part-time atau full-time untuk mendapatkan ijazah yang lebih tinggi. Lebih dari itu, ada orang yang sudah pensiun kemudian mengambil ijazah S2 atau S3 pada usia lanjut, bahkan pada usia uzur 80 – 90 tahun.

Ayat di atas adalah nasihat raja Sulaiman yang cukup terkenal dan sering ditujukan kepada kaum muda agar mereka mau mendengar nasihat dan menerima didikan, supaya mereka menjadi bijak di masa depan. Bagi mereka yang sudah tergolong berumur, berpendidikan atau berpengalaman, mungkin dorongan untuk terus belajar untuk kebaikan masa depan agaknya dipandang kurang cocok. Bagi mereka, apa yang ada sudah pernah dikunjungi atau sudah pernah dilakukan. Been there, done that. Masa depan sudah berlalu dan menjadi masa lalu, dan yang tersisa adalah masa kini yang harus diterima atau dinikmati selagi masih bisa.

Saat ini dalam menyongsong hari kedatangan Roh Kudus, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai orang Kristen kita seharusnya tidak pernah berhenti untuk belajar guna menuju ke arah kedewasaan iman. Sebelum Yesus naik ke surga, Ia menjanjikan kepada murid-muridNya seorang Penghibur dan Guru yang akan membimbing mereka. Sampai sekarang Roh Kudus senantiasa mau memberi kita nasihat dan didikan, agar kita makin mengerti kehendak Tuhan. Maukah kita memakai sisa hidup kita untuk selalu belajar dari Dia?

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” Yohanes 14: 25 – 26

Jangan mudah dibuat bingung

“…sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Efesus 4: 14 – 15

Jika kita ingin mencari berita apa saja, internet adalah tempat yang paling mudah digunakan sebagai sarana. Dengan memakai Google search, orang bisa menulis beberapa kata kunci (keywords) di ponsel atau komputer dan kemudian menemukan berita apa yang dicarinya dalam waktu beberapa detik saja. Memang semua itu kelihatannya gampang, tetapi dalam kenyataannya seringkali berita yang diperoleh itu tidak jelas sumbernya dan berbeda-beda isinya. Sebagai akibatnya, banyak orang yang di zaman ini mudah tertipu oleh berbagai kabar simpang siur yang membingungkan.

Internet bisa dipandang sebagai salah satu penemuan teknologi abad 20 yang sudah menjadi bagian hidup orang di abad 21. Bisa dibayangkan bahwa apapun yang ada di dunia ini sekarang tergantung pada internet dan karena itu orang atau negara yang kurang bisa menggunakan internet perlahan-lahan akan tertinggal dalam segi ekonomi, pengetahuan, kesehatan dan sebagainya.

Sebagai orang Kristen, kita harus bersyukur bahwa umat manusia  makin lama  makin  pandai dalam mengelola ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan jika dipakai dengan benar, akan memberi manusia kemampuan untuk mengatur dunia dan segala isinya. Dengan kemajuan teknologi, kabar baik tentang keselamatan lebih mudah diberitakan dan disebarkan ke seluruh penjuru dunia. Berbagai Alkitab elektronik, buku agama dan renungan harian juga bisa ditemukan di internet.

Sayang sekali, bahwa walaupun di satu sisi manusia makin pandai, manusia tidaklah bertambah dekat kepada Tuhan. Malahan, dengan kemajuan teknologi, manusia lebih mudah tersesat kedalam berbagai pengajaran yang bisa dijumpai melalui internet. Melalui Youtube misalnya, orang bisa menonton berbagai pembicara yang mengaku Kristen tetapi mengajarkan apa yang tidak sesuai dengan Alkitab. Banyak di antara mereka yang menampilkan berbagai hal yang hebat dan luar biasa, dengan tujuan untuk menarik perhatian publik, agar mereka di anggap sebagai hamba Tuhan yang hebat. Mungkin saja mereka adalah serigala yang menyamar sebagai domba (Matius 7: 15).

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa sebagai orang Kristen kita harus bertumbuh menjadi dewasa sehingga kita tidak tetap sebagai anak-anak yang bisa diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran dan oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan. Sebaliknya, kita harus berpegang teguh kepada kebenaran firman Tuhan, dan di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Kristus, pemimpin kita yang sejati. Kita hidup untuk belajar dari Kristus dan untuk menjadi seperti Dia dalam segala hal yang baik.

Masih seringkah anda bingung ketika mendengar berita atau menyaksikan peristiwa yang luar biasa yang dialami seseorang? Apakah anda belum bisa membedakan karya Tuhan dengan karya manusia? Dapatkah orang mencapai apa yang baik di mata Tuhan melalui jalan yang salah? Sulitkah anda membedakan mana yang baik dan mana yang jahat? Jika kita berpegang pada apa yang diajarkan Yesus, kita tidak akan mudah untuk menjadi bingung. Jika kita menguji segala yang kita lihat, dengar dan alami dengan firman Tuhan, kita akan menyadari apakah nama Tuhan dipermuliakan, apakah kebenaranNya ditegakkan, dan apakah kasih kepada sesama sudah diutamakan.

“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.” 1 Tesalonika 5: 21 – 22

Keadilan Tuhan selalu terlihat pada akhirnya

“Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah” Lukas 1: 51 – 52

Hari ini adalah hari peringatan 75 tahunnya D-day dimana pada tahun 1944, tentara sekutu mendarat secara besar-besaran di pantai-pantai Normandy, Perancis utara. Pendaratan tentara sekutu di daerah yang saat itu dikuasai oleh tentara Nazi Jerman adalah permulaan dari usaha pembebasan benua Eropa yang menewaskan ratusan ribu prajurit dari kedua pihak. Karena berhasilnya tentara sekutu dalam melakukan invasion itu, perang dunia kedua tidak lama kemudian berakhir dengan menyerahnya pihak Nazi Jerman. Dengan berakhirnya perang dunia kedua, dunia kemudian menjadi lebih tenang, dan dengan demikian keadaan ekonomi, teknologi, sosial dan budaya di banyak negara mengalami kemajuan pesat.

Peperangan apapun adalah hal yang tidak disukai oleh siapapun. Peperangan selalu dihubungkan dengan kekejaman, penderitaan dan kematian. Karena itu, semua orang tentu berusaha untuk menghindari terjadinya peperangan. Walaupun demikian, adanya peperangan seringkali seakan tidak dapat dihindari. Peperangan tidak terjadi karena permusuhan atau pertikaian yang terjadi pada satu hari saja. Peperangan pada umumnya terjadi melalui proses permusuhan yang berlangsung cukup lama.

Dalam Perjanjian Lama kita bisa melihat bagaimana bangsa Israel berperang melawan berbagai bangsa yang ada disekitarnya. Pada saat itu, seringkali peperangan terjadi karena perintah Tuhan kepada bani Israel, bangsa pilihan Tuhan pada waktu itu, untuk menyerang dan menghancurkan bangsa lain. Jika itu terjadi pada zaman sekarang, tidak dapat diragukan bahwa Tuhan akan dituduh berlaku sangat kejam kepada ciptaanNya. Tuhan nampaknya bukanlah Tuhan yang mengasihi umat ciptaanNya, begitu pikir banyak orang.

Semua peperangan terjadi dengan seijin Tuhan dan sekalipun sebagian di antaranya bukanlah sesuatu yang dikehendaki Tuhan, setiap peperangan pada akhirnya bisa menunjukkan bahwa Tuhan tetap bekerja dalam keadaan yang bagaimanapun buruknya. Peperangan bisa juga terjadi karena dosa yang dilakukan oleh suatu bangsa atau oleh pemimpinnya. Mereka yang berusaha memberontak dari norma-norma kebaikan dan kebenaran Tuhan, dengan sengaja melakukan tindakan-tindakan yang menyebabkan pertikaian. Tetapi, sejarah membuktikan bagaimanapun buruknya tindakan manusia, Tuhan yang mahatahu selalu dapat mengatasinya dan bahkan menunjukkan kebesaran dan kasihNya melalui tindakan orang-orang yang dipilihNya.

Pagi ini kita harus bersyukur bahwa keadaan dunia pada saat ini pada umumnya tidaklah seburuk abad yang lalu. Walaupun demikian, tiap hari selalu ada saja berita-berita yang menyedihkan, dan itu mungkin yang disebabkan oleh tindakan seseorang, sekelompok tertentu, pemimpin rakyat ataupun negara tertentu. Bahkan dalam rumah tangga dan gereja pun, sering ada pertikaian yang membawa permusuhan dan perpecahan. Dalam hal ini, kita harus yakin bahwa Tuhan yang mahakasih pada hakikatnya  bukanlah Tuhan yang merestui pertikaian manusia. Sebaliknya,Tuhan memerintahkan semua umatNya untuk bisa mengasihi sesama mereka.

Sebagai umat Kristen kita memang terpanggil untuk menunjukkan kedamaian dari Tuhan yang sudah kita terima kepada semua orang. Tetapi, selama kita hidup di dunia, kekacauan karena perbuatan manusia selalu muncul silih berganti. Bagaimana kita harus bersikap dalam menghadapi suasana yang tidak menyenangkan itu? Firman Tuhan pagi ini menunjukkan bahwa Tuhan selalu memperhatikan keadaan dunia. Ia selalu memperlihatkan kuasaNya dengan perbuatan tanganNya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya. Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya, tetapi Ia meninggikan orang-orang yang rendah hati dan berserah kepada bimbinganNya. Karena itu, biarlah kita mau meyerahkan hidup dan masa depan kita kepadaNya sambil percaya bahwa keadilan Tuhan selalu terlihat pada akhirnya.

Pengampunan bukannya murah atau mudah

“Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Matius 6: 14 – 15

Hari ini adalah hari raya Idul-Fitri dan bagi yang merayakannya hari ini tentunya disambut dengan rasa sukacita. Di Indonesia, perayaan hari raya ini adalah cukup unik karena orang biasanya mengucapkan selamat Idul Fitri sambil bermaaf-maafan. Bagi mereka yang di luar negeri, tradisi bermaaf-maafan sambil mengucapkan Happy Eid-al-Fitr ini tidaklah lazim. Walaupun demikian, kebiasaan saling bermaaf-maafan tentunya  baik jika benar-benar dilakukan dengan sepenuh hati dan dilaksanakan di segala waktu.

Bermaaf-maafan dalam pandangan orang Kristen sebenarnya adalah keharusan dan bukan hanya kebiasaan. Tetapi, karena keharusan yang belum tentu menjadi kebiasaan, banyak orang Kristen yang lupa atau melupakan bahwa mereka sebenarnya perlu untuk selalu bisa mengampuni. Dari segi praktisnya, seseorang yang mengalami perbuatan buruk orang lain mungkin tidak bisa melupakan kejadian itu dan tidak bisa mengampuni pelakunya. Memang, selama orang ingat akan apa yang sudah terjadi, tidaklah mudah baginya untuk mengampuni. Sebaliknya, ada orang yang mau mengampuni orang lain, tetapi tetap tidak bisa melupakan apa yang terjadi. Tentunya dalam hal ini mungkin ada pertanyaan apakah benar orang yang bersangkutan memang sudah bisa mengampuni.

Melupakan dan mengampuni adalah dua hal yang sebenarnya tidak dapat dipisahkan. Dalam hal ini, mungkin ada orang yang bertanya-tanya apakah Tuhan yang mahatahu bisa dengan sepenuhnya mengampuni dosa-dosa umatNya. Tuhan bukanlah Tuhan jika Ia bisa lupa. Bayangkan saja jika Tuhan lupa untuk memelihara umatNya! Ia tidak pernah lupa, tetapi memilih untuk melupakan dosa-dosa mereka yang sudah bertobat dan minta ampun kepadaNya.

“Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka.” Ibrani 8: 12

Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang dengan sengaja tidak mau mengingat dosa-dosa kita, jika kita mau menerima Yesus sebagai Juruselamat kita. Sekalipun besar dosa kita, darah Yesus mampu mencuci bersih dosa itu sehingga kita menjadi layak di hadapan Tuhan.

“….Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Yesaya 1: 18

Pengampunan dosa manusia dengan demikian sebenarnya bukan hal yang mudah atau murah. Tuhan yang mahaadil seharusnya menghukum setiap manusia dengan kebinasaan karena semua sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Tetapi karena kasih karuniaNya, mereka yang percaya sudah dibenarkan dengan cuma-cuma dengan penebusan dalam Yesus Kristus (Roma 3: 23 – 24).

Kita yang sudah menerima pengampunan Tuhan seharusnya sadar bahwa apa yang kita terima bukanlah barang murah. Pengurbanan Yesus juga bukan sesuatu yang mudah dilakukan, tetapi sudah terjadi karena ketaatan Yesus kepada kehendak BapaNya. Bagi kita yang sudah menerima pengampunan yang sangat mahal harganya dan sulit untuk dilakukan, tetapi yang hanya karena kemurahan Tuhan bisa memperolehnya dengan cuma-cuma, tentu panggilan untuk mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita adalah suatu kewajiban. Jika kita tidak bisa atau tidak mau mengampuni, itu tidak lain adalah suatu yang berlawanan dengan kasih Tuhan kepada kita. Hanya dengan menerima kasih dan pengampunan Tuhan dengan iman, kita akan mampu untuk mengasihi dan mengampuni orang lain. Mereka yang tidak dapat mengasihi atau mengampuni orang lain tentunya belum bisa mengerti bahwa Tuhan sudah lebih dulu mengasihi dan mengampuni mereka.

Menghasilkan apa yang baik dengan mulut kita

“Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.” Yakobus 3: 12

Mulut manusia adalah bagian tubuh yang sangat berguna. Jika makhluk lain menggunakan mulut pada dasarnya hanya untuk makan, manusia menggunakan mulut untuk makan dan berbicara. Manusia memang adalah makhluk satu-satunya yang memiliki cara berkomunikasi sistematis yang berupa bahasa. Dengan demikian, mulut berfungsi untuk memperoleh input, tetapi juga untuk menghasilkan output. Mana yang lebih penting fungsinya untuk orang Kristen?  Yesus dalam Matius 15: 11 – 19 menjelaskan bahwa apa yang masuk ke dalam mulut tidak menajiskan orang, tetapi apa yang keluar dari mulut dan bersumber dari hati dapat membuahkan berbagai dosa.

Memang apa yang keluar dari mulut seseorang bisa menunjukkan sifat atau kepribadian orang itu. Tidak hanya kebohongan, kesombongan, omong kotor, fitnah, gosip, sumpah palsu dan hujat yang bisa keluar dari mulut seseorang, tetapi juga apa yang nampaknya benar dan indah tetapi yang sebenarnya menyesatkan orang lain. Dalam kehidupan rohani, sering terlihat adanya guru-guru atau pemimpin agama yang bukannya mengajarkan kebenaran, tetapi justru menampilkan ajaran-ajaran yang bisa membuat orang lain tersesat. Kebanyakan hal ini terjadi agar bisa membawa keuntungan kepada si pembicara dan kelompoknya.

Rasul Yakobus dalam Yakobus 3: 1 – 12 mengungkapkan pentingnya menjaga mulut. Ini  ditulisnya untuk semua orang Kristen, tetapi diutamakan kepada orang-orang Kristen yang ingin menjadi guru, pemimpin, atau pembimbing orang Kristen lainnya. Dalam kenyataannya, setiap orang Kristen haruslah menjadi teladan bagi orang lain, dan dengan demikian wajib menjaga mulut mereka, agar apa yang diucapkan tidak berupa dosa. Memang sebagai manusia kita semua mempunyai cacat-cela, tetapi orang Kristen yang bisa menjadi pemimpin adalah orang yang bisa mengendalikan mulut, hati dan pikirannya sehingga apa yang dikatakan akan menguatkan dan membangun sesama.

Mungkin banyak orang Kristen yang mengeluarkan berbagai alasan jika dari mulut mereka muncul kata-kata yang tidak benar, kasar, kotor atau menyakitkan orang lain. Tidak sengaja, bukan bermaksud buruk, karena terpaksa, ataupun karena ilham, begitu orang sering berdalih untuk membenarkan perkataan mereka. Tetapi Yakobus tidak bisa menerima alasan-alasan seperti itu. Ia mengatakan bahwa pohon ara tidak akan menghasilkan buah zaitun dan  pokok anggur tidak dapat menghasilkan buah ara. Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.

Pagi ini, jika kita sudah memiliki hidup baru, kita tidak boleh tinggal dalam kebiasaan lama dan sembrono dalam menggunakan mulut kita. Kita tidak bisa memakai mulut kita untuk memuji Tuhan dan dengan mulut yang sama berbuat jahat kepada sesama kita. Apa yang keluar dari mulut kita jelas adalah pencerminan hati dan pikiran, dan karena itu kita harus mau berubah dari dalam untuk menjadi manusia baru yang membawa kemuliaan bagi Tuhan.

Apa yang masuk ke dalam hati dan pikiran kita mungkin juga adalah hal-hal yang tidak benar dan jahat yang kita terima dari orang lain atau bersumber dari apa yang kita pernah lihat dan alami. Karena yang masuk adalah kotor, apa yang keluar juga kotor. Garbage in, garbage out. Oleh sebab itu, untuk mengendalikan mulut kita, kita harus benar-benar bertekad untuk mau mengendalikan seluruh tubuh kita. Kita  harus mau menyerahkan hidup kita sepenuhnya untuk dibimbing Tuhan dan mengabdikan hidup kita sepenuhnya untuk kemuliaanNya.

Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. Efesus 4: 29