Pentingnya fondasi hidup

“Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.” Matius 7: 26 – 27

Sudah seminggu ini media di Australia ramai memberitakan kasus bangunan apartemen di Sydney yang mengalami kerusakan berat sehingga semua penghuninya harus mengungsi. Kejadian ini bukan yang pertama karena beberapa bulan yang lalu ada kejadian yang serupa. Pada kejadian yang terakhir, bangunan apartemen mengalami retak-retak yang membahayakan sehingga atap beton dari tempat parkir bawah tanah harus ditopang dengan tiang-tiang besi.

Pada umumnya setiap bangunan baru di Australia hanya mempunyai garansi selama 6 tahun dari pemborongnya, dan karena itu pemilik apartemen yang sudah berumur 10 tahun ini tidak dapat menuntut ganti rugi. Untunglah pemerintah setempat mau menolong setiap penghuni apartemen ini untuk sementara waktu, dengan memberikan biaya penginapan hotel sekitar $200-400 semalam sampai keputusan bisa diambil tentang nasib bangunan yang fondasinya ambles ini. Menurut perkiraan, untuk memperbaiki kerusakan yang cukup berat ini diperlukan biaya lebih dari satu juta dolar. Dalam hal ini mungkin tidak ada asuransi yang mau membayarnya karena semua itu adalah hal yang tidak pernah dipikirkan.

Ayat diatas disampaikan oleh Yesus Kristus untuk menggambarkan bagaimana orang yang bodoh mendirikan rumahnya di atas tanah pasir yang tidak stabil. Karena fondasi rumah yang tidak kuat, kerusakan besar kemudian terjadi ketika hujan dan banjir datang. Lain dari kerusakan benda-benda lain, kerusakan rumah atau bangunan bisa berakibat serius karena tidak saja ukuran dan beratnya yang lebih besar, tetapi juga karena bahan yang dipakai untuk membuat rumah tidaklah mudah diperbaiki atau disambung. Dengan demikian, rumah yang sudah rusak, retak atau miring kemudian akan mudah untuk runtuh. Mereka yang bodoh, yang tidak mempunyai fondasi hidup yang kuat, akhirnya bisa mengalami kehancuran hidup ketika badai kehidupan datang.

Apa yang dilakukan oleh seseorang yang ingin membangun rumah pada zaman dulu? Jika pada zaman sekarang orang bisa membangun rumah dia atas segala macam jenis tanah dengan memakai fondasi yang cocok, pada zaman dulu orang memilih tanah yang kuat yang bisa bertahan menghadapi erosi angin, dorongan air banjir atau berat bangunan. Tanah yang baik untuk bangunan adalah tanah yang padat dan kuat, seperti halnya tanah batu (rock). Seperti itulah jika kita mau membangun hidup yang kuat, yang tahan menghadapi topan kehidupan, kita harus memilih fondasi kehidupan yang benar-benar mampu untuk menyokong hidup kita.

Fondasi kehidupan yang bagaimana yang bisa menyokong hidup kita di masa depan? Banyak orang berpikir bahwa semua yang ada di dunia ini bisa dibeli. Asal ada uang, masa depan tentu terjamin. Ada pula orang yang yakin bahwa fondasi kehidupan adalah kepandaian, karena itu mereka percaya bahwa anak-cucu mereka akan hidup baik jika mereka mendapat kesempatan untuk mengejar ilmu. Selain itu ada juga orang yang percaya bahwa fondasi kehidupan adalah amal-sedekah, karena orang yang murah hati kepada orang lain akan mendapat balasan yang setimpal di hari depan. Oleh sebab itu juga, banyak orang tua yang mengharapkan balasan kebaikan dari anak-anaknya ketika mereka sudah tua. Walaupun demikian, firman Tuhan berkata bahwa orang-orang yang mengharapkan asuransi hari depan dari siapa atau apa pun yang ada di dunia adalah orang-orang bodoh. Dunia dan segala yang ada tidak dapat menjamin kebutuhan hidup jasmani dan rohani manusia.

Yesus mengatakan bahwa hanya orang yang bodoh yang tidak mengerti apa yang bisa menyokong kehidupan manusia. Alkitab secara jelas menyatakan bahwa hanya Tuhan yang bisa memberi kita kekuatan dalam menghadapi tantangan hidup. Hanya dalam Tuhan kita mempunyai keyakinan bahwa dalam keadaan apapun kita akan tetap dapat bertahan. Itu karena Tuhan adalah gunung karang yang teguh (rock of ages) yang melalui Yesus Kristus sydah membawa keselamatan bagi setiap orang yang percaya.

Jadilah bagiku gunung batu, tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku; sebab Engkaulah bukit batuku dan pertahananku.” Mazmur 71: 3

Hal berdiri di atas kaki sendiri

“Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu, dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun di antara kamu.” 2 Tesalonika 3: 7 – 8

Ayat di atas ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika. Ayat ini jarang di khotbahkan di gereja, mungkin karena adanya rasa rikuh di pihak orang yang menyampaikan pesan. Membaca ayat ini, memang sepertinya Paulus menyatakan tekadnya untuk “berdikari”, agar ia tidak membebani jemaat. Seolah ada rasa angkuh bahwa ia yang sanggup bekerja tidak membutuhkan bantuan jemaat.

Istilah berdikari atau berdiri di atas kaki sendiri diperkenalkan oleh Bung Karno dalam pidato 17 Agustus 1965, dimana ia menyatakan tahun itu sebagai “Tahun Berdikari”. Di sini ia menjelaskan tiga prinsip berdikari, yaitu berdaulat dalam bidang politik, ekonomi dan dalam kebudayaan. Bangsa Indonesia, kata Bung Karno, tidak boleh bergantung pada bangsa lain, atau dipengaruhi bangsa lain.

Sekalipun prinsip berdikari itu ada baiknya, sudah tentu dalam era modern dan globalisasi ini, tidak ada satu bangsa atau negara pun yang bisa menutup diri dari bangsa dan negara lain. Demikian juga dalam pergaulan manusia, setiap orang tentunya membutuhkan bantuan orang lain dan wajib menolong mereka yang dalam kesulitan.

Apa yang ditulis oleh Paulus dengan demikian bukan keangkuhan atau rasa tidak butuh akan orang lain. Tetapi, Paulus bermaksud memberi contoh kepada jemaat bahwa sedapat mungkin mereka harus mau bekerja untuk mencukupi kebutuhan mereka sendiri.

Bekerja mencari nafkah adalah perlu bagi semua orang yang masih bisa, agar mereka tidak membebani keluarga, orang lain, gereja atau negara. Ini juga perlu agar orang lain yang benar-benar membutuhkan bantuan akan dapat memperolehnya. Orang Kristen bekerja tidak hanya untuk mencukupi kebutuhannya sendiri, tetapi juga agar bisa memberi contoh kepada orang lain untuk bisa mencukupi kebutuhan mereka sendiri, dan agar bisa menolong orang lain yang benar-benar membutuhkan.

Dalam kehidupan bermasyarakat memang ada orang-orang yang kurang mau untuk bekerja keras. Memang orang-orang yang hanya mau bekerja dengan kondisi tertentu. Selain itu, ada pula orang-orang yang senang menghambur-hamburkan penghasilannya. Mereka yang gaya hidupnya demikian, tentunya sulit untuk berdikari.

Pada pihak yang lain, banyak orang yang sudah berusaha keras untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi belum juga bisa mendapatkannya. Banyak juga orang yang mau bekerja keras, tetapi hasil yang mereka peroleh belumlah cukup untuk hidup, apalagi untuk ditabung.

Untuk mereka yang bergulat dalam hidup ini dan berusaha untuk berdikari, apa yang ditulis rasul Paulus di atas bisa membawa rasa syukur karena mereka bisa memberi teladan bagi orang lain bahwa sebagai anak-anak Tuhan mereka tidak merasa malu atau takut. Seperti Paulus, mereka tetap berusaha dan berjerih payah siang malam untuk bisa berdikari. Penderitaan mereka bukanlah tanda bahwa Tuhan melupakan mereka atau bukti adanya iman yang lemah.

Sebaliknya, bagi kita yang sudah bisa berdikari dan merasakan kecukupan dalam hidup, biarlah kita tidak lupa bahwa semua yang kita punya datangnya dari Tuhan. Biarlah kita dengan rela dan tanpa rasa terbeban mau membantu mereka yang masih berusaha untuk bisa berdikari, baik dalam bantuan moril maupun materi agar mereka bisa dikuatkan dan ikut bersyukur kepada Tuhan yang mahakasih.

Bukan pasif tetapi aktif

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4: 17

Semua orang yang beragama apapun tentunya tahu bahwa dosa adalah sesuatu yang harus dihindari. Secara umum mereka mengerti bahwa berbuat dosa adalah melakukan apa yang tidak baik dalam pandangan atau ajaran agama masing-masing. Jika mereka melakukan hal yang jahat, itu adalah dosa; sebaliknya jika mereka melakukan hal yang baik, itu membawa pahala.

Dalam banyak hal, apa yang baik dan yang buruk bagi manusia manapun adalah sama. Hal membunuh, mencuri, berbohong dan semacamnya biasanya juga diatur oleh hukum negara, dan karena itu orang berusaha untuk tidak melakukannya. Walaupun demikian, hukum negara biasanya tidak mengatur atau mengharuskan orang untuk berbuat baik. Karena itu, selama tidak ada hukum yang mengharuskan hal atau tindakan tertentu, orang bisa memilih apa yang akan dikerjakannya. Dalam hal ini, jika tidak ada insentif untuk berbuat baik, orang biasanya tidak mau repot untuk melakukannya.

Hal berbuat baik biasanya diatur oleh etika. Etika mengajarkan apa yang baik dan yang buruk dalam hidup bermasyarakat. Adanya etika adalah baik, tetapi tiap bangsa atau masyarakat mempunyai etika tersendiri sehingga apa yang dianggap baik di satu tempat, mungkin adalah sesuatu yang tidak baik di tempat lain. Etika biasanya tidak diatur hukum, sehingga perbuatan yang dianggap buruk tidaklah mengundang hukuman negara, sekalipun mungkin ada sanksi sosialnya.

Bagi orang Kristen, etika Kristen adalah prinsip baik-buruk yang dilandaskan pada Alkitab. Karena itu, etika Kristen seharusnya tidaklah bergantung pada tempat atau masa. Dalam kenyataannya, banyak orang Kristen yang mempunyai perbedaan etika karena mereka mempunyai pergumulan yang berbeda dalam hal penerapan firman Tuhan. Mereka mungkin sependapat dalam hal-hal yang buruk atau dosa, tetapi mungkin berbeda dalam usaha untuk melakukan apa yang baik bagi Tuhan dan sesama.

Salahkah jika orang tidak melakukan hal yang baik? Banyak orang berpendapat bahwa mereka boleh memilih untuk “abstain” alias tidak ikut campur dalam berbuat baik. Dalam perumpamaan orang Samaria yang murah hati (Lukas 10: 40 – 37), baik imam maupun orang Lewi tidak mau menolong orang Samaria yang menjadi korban perampokan. Bagi mereka, menolong orang lain dan berbuat baik adalah sebuah pilihan dan bukan keharusan. Mereka tidak merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada orang Samaria itu. Dan pada zaman sekarang, banyak orang Kristen yang melakukan hal yang serupa: mereka tidak merasa bertanggung jawab atas adanya hal- hal yang buruk disekitar mereka.

Ayat diatas adalah apa yang seharusnya membuat kita sadar bahwa sebagai orang Kristen, kita harus memegang etika yang sejalan dengan Alkitab. Alkitab bukan hanya menyatakan bahwa perbuatan buruk adalah dosa, tetapi juga jelas menerangkan bahwa jika tidak melakukan apa yang baik untuk Tuhan dan sesama, kita juga berbuat dosa. Menjadi orang Kristen bukan saja pasif dalam arti tidak berbuat dosa, tetapi juga aktif dalam berbuat baik tanpa mengharapkan pahala!

Lingkungan mempengaruhi kehidupan

“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” 1 Korintus 15: 33

Seorang teman saya melalui Whatsapp mengirimkan gambar diatas yang menunjukkan beberapa bola yang berlainan warna. Aneh bin ajaib, jika gambar itu diperbesar dilayar hp, semua bola itu terlihat sama warnanya. Agaknya semua itu adalah tipuan mata yang disebabkan oleh pengaruh warna garis-garis yang ada di atas gambar bola.

Bagi saya gambar itu memberi pelajaran bahwa seperti warna bola yang bisa dipengaruhi oleh warna garis di sekitarnya, hidup kita juga bisa dipengaruhi oleh keadaan di sekeliling kita, terutama oleh orang-orang yang dekat dengan kita.

Ayat diatas secara gamblang menyebutkan bahwa pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Orang yang sopan bisa menjadi tidak sopan, yang jujur bisa berubah menjadi pembohong, yang lemah lembut bisa menjadi bengis dan kasar, dan yang hidupnya baik menjadi berantakan akibat pengaruh lingkungan dan pergaulan. Karena itu, sebagai umat Tuhan kita harus berhati-hati dalam menjalani hidup ini agar apa yang baik tidak berubah menjadi buruk.

Bagaimana kita bisa berhati-hati agar tidak terjerumus kedalam apa yang keliru? Berhati-hati lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Banyak orang yang sudah berusaha untuk berwaspada, tetapi tetap juga jatuh kedalam dosa. Apa yang nampaknya baik, dengan berjalannya waktu bisa saja berkembang menjadi sesuatu yang buruk. Mereka yang dulunya kita anggap sebagai teman, bisa saja menjadi orang yang kemudian menjerumuskan kita kedalam kebiasaan yang jelek. Ini sering menyangkut hal-hal seperti korupsi, narkoba, atau seks; tetapi juga bisa bertalian dengan tingkah laku dan gaya hidup.

Kita hanya bisa berhati-hati kalau kita bisa membedakan apa yang baik dan apa yang buruk. Orang tidak akan berhati-hati jika tidak menyadari adanya bahaya. Karena itu, sebagai orang yang sudah menerima keselamatan, kita harus mau berubah dengan bimbingan Roh Kudus sehingga kita tahu apa yang baik dan berkenan kepada Tuhan. Kita harus juga mau mempelajari firman Tuhan secara teratur supaya kita makin mengerti apa yang baik dalam pandangan Tuhan.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Lebih dari itu, sebagai orang Kristen kita harus mau tetap merendahkan diri di hadapan Tuhan. Kita harus sadar bahwa mereka yang sombong dan merasa kuat adalah orang-orang yang mengabaikan bimbinganNya, dan yang kemudian lebih suka untuk mendengarkan suara manusia di sekelilingnya. Mereka jugalah yang kemudian menjadi orang-orang yang tersesat, yang harus membayar kekeliruannya dengan harga yang mahal.

Memilih cara hidup yang baik

“Orang bijak berhati-hati dan menjauhi kejahatan, tetapi orang bebal melampiaskan nafsunya dan merasa aman.” Amsal 14: 16

Sebuah berita di media hari ini agak membuat saya merenungkan kenyataan bahwa orang mudah untuk berganti nasib. Seorang atlit pedayung Australia yang  pernah mendapat dua medali perak Olimpiade ditangkap polisi bersama dua sanaknya karena terlibat dalam kasus impor narkoba dalam jumlah besar. Saya tidak habis mengerti mengapa orang yang sudah mencapai posisi tinggi dalam masyarakat bisa jatuh kedalam kejahatan yang tentunya akan membuahkan hukuman penjara yang cukup lama. Padahal, di Australia orang yang pernah menjadi juara olahraga seringkali bisa hidup enak dengan bekerja sebagai motivator, atau tampil di berbagai iklan komersial. Agaknya benar kata orang tua, bahwa nasib manusia ada ditangan sendiri.

Memang agaknya mereka yang menginginkan kenikmatan, ingin sukses atau kaya sering jatuh kedalam berbagai pencobaan. Godaan apapun bisa dialami orang dan ini sering terjadi  pada waktu mereka dalam keadaan lemah (vulnerable). Tuhan Yesus pun mengalami pencobaan ketika Ia mengalami kelelahan tubuh setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam (Matius 4: 1 – 11). Iblis tahu saat dimana manusia yang karena keadaannya atau karena situasi disekelilingnya, menjadi kurang berhati-hati atau merasa aman untuk melakukan apa yang dimauinya.

Ayat diatas menuliskan bahwa orang yang bijaksana selalu berhati-hati dan menghindari kejahatan. Yang menjadi persoalan ialah kenyataan bahwa tidak semua yang jahat terlihat begitu pada awalnya. Seringkali apa yang jahat justru muncul sebagai apa yang bisa dinikmati di tengah lingkungan yang aman, misalnya diantara anggota keluarga, kerabat atau teman. Mereka yang mempercayai perkataan, nasihat atau ajakan untuk melakukan hal yang tidak baik dari orang-orang yang dikenal, lebih mudah untuk tergoda. Karena adanya rasa aman selama berada dalam satu kelompok, orang mudah untuk ikut-ikutan dalam mencapai keinginan mereka.

Berbuat apa yang keliru bukan hanya terjadi dalam kehidupan jasmani. Dalam kehidupan rohani pun, orang mudah merasa tenteram dan lupa untuk berjaga-jaga jika mereka berada ditengah kelompok mereka. Umat Kristen yang merasa aman dalam gereja mereka, cenderung untuk mengikuti apa yang sudah terbiasa dan tidak lagi berhati-hati dalam memilih jalan yang benar. Lebih dari itu, mereka yang mempunyai kelompok yang besar cenderung berpikir bahwa segala sesuatunya pastilah sudah dipertimbangkan masak-masak oleh orang lain, dan bagi mereka adalah lebih baik untuk menjalankan instruksi tanpa perlu berpikir atau berhati-hati. Mereka yang demikian tidak akan bertumbuh dalam kedewasaan iman dan dalam pengetahuan yang baik. Mereka tidak akan memperoleh pengalaman pribadi yang bisa membawa kebijaksanaan.

“Orang yang tak berpengalaman percaya kepada setiap perkataan,  tetapi orang yang bijak memperhatikan langkahnya.” Amsal 14: 15

Seperti itulah orang yang tidak berpengalaman akan percaya kepada setiap perkataan orang lain dan melangkah menuju tempat yang nampaknya indah. Sebaliknya, orang yang bijak selalu berhati-hati kemana kaki mereka akan pergi. Setiap langkah yang kita ambil adalah tanggung jawab kita sendiri, dan jika kita terjatuh atau tersandung dalam melangkah, semua itu pada akhirnya adalah kita yang merasakan akibatnya dan kita sendiri yang harus mempertanggung-jawabkan kepada Tuhan.

Pagi ini, mungkin kita merasa cukup bahagia dalam keadaan kita. Hidup berjalan seperti biasa, tanpa masalah yang berarti. Apa yang kita lakukan setiap hari selama ini berjalan terus. Untuk apa kita memikirkan hidup dan segala resikonya yang mungkin bisa muncul di hari depan? Bukankah selama keadaan masih aman kita boleh menikmatinya dan bahkan memanfaatkan apapun selagi masih bisa? Firman Tuhan mencoba menginsafkan kita bahwa sebagai umat Tuhan kita tetap harus aktif dalam memilih apa yang baik menurut Tuhan dan apa yang baik untuk Dia dan sesama kita. Setiap orang bertanggung-jawab atas hidupnya, dan apa yang terjadi dalam hidup kita, baik jasmani maupun rohani, baik yang sekarang ataupun di masa depan, bergantung pada apa yang kita pilih dan lakukan.

Karya seni Tuhan yang paling berharga

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Efesus 2: 10

Sekitar 30  tahun yang lalu, beberapa orang yang mewakili sebuah rumah lelang internasional (international auction house) datang ke Melbourne untuk mencari barang-barang kuno yang ingin dilelang pemiliknya. Saya yang pada waktu itu tinggal di Melbourne, tahu adanya beberapa rumah lelang terkenal seperti Christie’s dan Sotheby’s, yang sering berhasil melelang barang-barang artistik atau antik dengan harga yang tinggi. Saya dengan penuh harapan membawa sebuah gambar hitam putih yang dilukis oleh seorang artis Belanda pada abad 19 yang kebetulan saya punyai untuk diberi pertimbangan harga.

Saya pergi ke tempat pertemuan dengan penuh harapan. Menurut pikiran saya, setidaknya lukisan itu bisa dihargai beberapa ribu dolar. Namun, setelah staf rumah lelang itu melihat lukisan itu, ia berkata bahwa paling banyak saya akan memperoleh sekitar $200; karena walaupun kuno, gambar itu bukanlah karya pelukis terkenal. Saya kecewa. Ternyata bukan apa yang terlihat yang menentukan harga sebuah karya seni, tetapi siapa yang membuatnya. Sekalipun sebuah benda nampaknya tidak berharga, itu akan dihargai orang jika dibuat oleh seseorang yang ternama.

Sebagai orang Kristen tentunya kita percaya bahwa segala sesuatu diciptakan Tuhan. Jika kita melihat alam semesta, mau tidak mau kita akan mengagumi apa yang sudah diciptakanNya. Lebih-lebih lagi, mereka yang bekerja di bidang astronomi bisa melihat adanya struktur-struktur kompleks di jagad raya yang stabil dan luar biasa luas dan besarnya. Adanya berbagai bintang, planit, matahari, bulan dan sebagainya, menunjukkan bahwa Tuhan adalah artis yang luar biasa. Tuhan seharusnya diakui bukan saja sebagai Sang Pencipta, tetapi juga sebagai Artis diatas segala artis.

Dalam kenyataan hidup, tidak semua orang mengakui bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta yang sudah ada sebelum adanya apapun. Sebagian orang mungkin mengakui bahwa adanya Tuhan adalah mutlak diperlukan karena bumi dan segala isinya tidak mungkin muncul begitu saja. Walaupun demikian hanya sebagian bisa meyakini bahwa Tuhan adalah Pencipta yang terbesar, karena bukan saja Ia menciptakan seluruh jagad raya dan alam semesta, Ia pun sudah menciptakan manusia sebagai gambarNya.

Alkitab menyatakan dalam kitab Kejadian 1: 27  bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang mirip dengan Sang Pencipta. Manusia diciptakan dengan keindahan, kemampuan dan keistimewaan yang jauh diatas makhluk lain. Manusia diciptakan  untuk hidup dan menghasilkan apa yang baik di hadapan Sang Pencipta.

Sayang sekali dengan adanya dosa, manusia sulit untuk menyadari apa arti hidupnya. Mungkin ada orang-orang yang sadar akan keindahan, kemampuan dan keistimewaan mereka, tetapi tidak mengerti bahwa semua itu haruslah dipakai untuk memuliakan Tuhan Sang Pencipta.

Pada pihak yang lain, ada orang-orang yang merasa rendah diri atau kurang mampu, dan merasa tidak mempunyai keistimewaan yang bisa dipakai untuk memuji Tuhan. Selain itu, ada juga orang-orang yang tidak sadar bahwa mereka adalah ciptaan Tuhan yang Mahabesar, yang seharusnya tidak menyia-nyiakan hidup mereka.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa kita semua adalah ciptaan Allah yang sudah menjadi ciptaan baru dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik. Kita sudah dipersiapkan Allah untuk bisa menjadi hasil karyaNya yang terbaik dan karena itu Allah mau agar kita selalu menjalani hidup baik didalam Dia. Keadaan kita mungkin berbeda-beda dan  pekerjaan atau kemampuan kita bisa berlainan; tetapi kita adalah hasil karya Artis yang sama. Artis terbesar diatas segala artis.

Tuhan adalah Pencipta kita dan tidak ada seorang pun yang dapat mengabaikan Dia yang mahabesar. Hidup kita bisa menjadi hidup yang berharga karena Dia. Biarlah hidup kita bisa dipakai untuk membuat namaNya makin dimuliakan di muka bumi.

 

Kasih yang bagaimana?

“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”  Yohanes 15: 13

Pagi ini media memberitakan kabar  suksesnya sebuah transplantasi hati yang di lakukan di Melbourne. Seorang anak yang berusia baru setahun tiba-tiba sakit dan mengalami gagal hati. Dokter tidak tahu penyebabnya, tetapi diduga anak kecil itu mendapat serangan virus dan hanya mempunyai beberapa hari saja untuk hidup. Dalam keadaan sedemikian, tentu saja kedua orang tua anak itu menjadi panik. Persediaan hati  dari donor yang sudah meninggal tidaklah banyak dan yang antri panjang sekali. Selain itu, hati yang ada belum tentu cocok (compatible) dengan orang yang membutuhkan.

Selang beberapa hari, sekalipun anak kecil ini mendapat prioritas utama, hati yang cocok tidaklah dapat ditemukan. Karena itu, kedua orang tuanya kemudian diperiksa, kalau-kalau mereka mempunyai kecocokan dengan anaknya. Ternyata sang ibu tidak cocok, tetapi ayah anak itu cocok untuk menjadi donor. Sang ayah kemudian menjalani operasi untuk mengambil 1/5 hatinya guna ditanamkan dalam tubuh anaknya pada hari yang sama. Operasi besar itu berjalan dengan baik dan selang beberapa minggu kemudian keduanya nampak sehat. Sungguh besar kasih orang tua kepada anak mereka!

Ayat diatas menyatakan bahwa kasih yang terbesar adalah kasih seseorang yang mau memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Orangtua yang memberikan sebagian hatinya untuk bisa dicangkokkan kedalam tubuh anaknya memang tidak memberikan nyawanya, tetapi sudah tentu mempertaruhkan nyawanya demi kebaikan anaknya. Operasi yang dijalani orang tua itu bukanlah operasi ringan, dan rasa sakit akibat operasi itu masih terasa untuk waktu yang cukup lama.

Kasih orangtua adalah kasih yang besar, tetapi sudah tentu tidak bisa diharapkan untuk diberikan kepada sembarang orang. Jika ada orang yang mau berkurban untuk orang yang tidak dikenal, tidak pantas untuk dikasihi, tidak layak untuk dihormati atau tidak patut untuk dikasihani, tentulah orang itu adalah orang yang istimewa. Adakah orang semacam itu?

Yesus yang sudah mati ganti kita yang berdosa adalah satu contoh yang luar biasa bagaimana Anak Allah mengurbankan diriNya di kayu salib karena kasihNya, sekalipun kita tidak pantas untuk menerimanya.

“Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” Roma 5: 10

Pagi ini, mungkin kita merasakan adanya panggilan untuk mengasihi sesama kita. Mungkin kita siap dan rela untuk berkurban bagi orang-orang yang sudah berbaik hati kepada kita. Tetapi, tidaklah mudah bagi kita untuk melupakan adanya orang-orang yang sudah pernah menyakiti hati kita atau pernah berbuat jahat kepada kita. Bagi kita, orang-orang seperti itu mungkin tidak pantas untuk kita kasihi. Apa guna mengasihi orang yang tidak pernah membalas budi atau tidak menyadari pengurbanan kita?

Firman Tuhan berkata bahwa kasih manusia yang terbesar adalah kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.  Tetapi, Yesus sudah menunjukkan kasih yang terbesar dari segalanya, ketika Ia memberikan nyawaNya kepada orang-orang berdosa yang sepantasnya binasa seperti diri kita. Adakah alasan buat kita untuk membatasi kasih kita hanya kepada orang-orang tertentu? Biarlah kita boleh belajar dari Yesus agar makin hari kita makin bisa mengasihi sesama kita.

“Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?” Matius 5: 46 – 47

Apakah Yesus itu Tuhan?

“Aku dan Bapa adalah satu” Yohanes 10: 30

Bagi kebanyakan orang yang mengaku Kristen, Yesus adalah Anak Allah dan Tuhan yang turun ke dunia. Walaupun demikian, ada juga orang yang percaya bahwa Yesus bukanlah Tuhan, tetapi oknum ilahi yang diutus Tuhan untuk menebus dosa manusia. Bagi mereka, Yesus tidaklah sama dengan Allah.

Orang-orang yang menolak kesatuan Bapa, Anak dan Roh Kudus sudah ada sejak lama. Memang konsep Allah Tritunggal itu tidak mudah dimengerti dan sering menjadi bahan cemooh kelompok-kelompok tertentu. Malahan, akhir-akhir ini makin banyak orang yang mengaku Kristen tetapi tidak mengakui adanya Allah yang satu, yang mempunyai tiga “pribadi”.

Alkitab menyatakan bahwa manusia yang berdosa tidak mungkin diselamatkan jika Tuhan sendiri tidak menebus mereka dengan kurban yang sempurna. Tetapi, tidak ada manusia atau oknum ilahi yang sempurna, kecuali Tuhan sendiri. Dengan demikian, Yesus adalah satu-satunya oknum dan Tuhan yang memenuhi syarat kesucian Tuhan dan yang bisa menyuci bersih dosa manusia.

Ada juga orang-orang yang percaya bahwa Yesus adalah orang yang baik, dan bahkan seorang nabi, tetapi Yesus bukanlah Tuhan. Ini tidaklah jauh berbeda dengan orang Farisi pada zaman Yesus yang tidak menerima pernyataan Yesus bahwa Ia dan Bapa adalah satu. Mereka ingin membunuh Yesus karena mereka menganggap Yesus sudah menghujat Allah.

Yesus bukan hanya mengklaim bahwa Ia dan Allah adalah satu. Ia juga berkata bahwa mereka yang melihat Dia, sudahlah melihat Allah. Dengan kata lain, mereka yang percaya kepadaNya adalah percaya kepada Allah sendiri.

“Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” Yohanes 14: 9

Oleh sebab itu, tidaklah mungkin jika kita bisa percaya bahwa Tuhan adalah Allah Bapa, tetapi tidak mengakui bahwa Yesus juga Tuhan. Yesus dan Allah Bapa tidaklah dapat dipisahkan.

Sebagai orang Kristen sudah seharusnya kita juga yakin dan percaya bahwa Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah satu. Pada waktu Yesus dibaptis, ketiga “pribadi ilahi” ini muncul secara bersamaan.

Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Matius 3: 16 – 17

Kesatuan antara ketiganya juga ditekankan Yesus pada waktu Ia memerintahkan murid-muridNya untuk mengabarkan injil.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” Matius 28: 19

Pagi ini, keraguan bahwa Yesus adalah Tuhan haruslah dihilangkan dari pikiran kita. Kesangsian akan satunya Bapa, Anak dan Roh juga harus dihapus dari iman kita. Itu tidak mudah jika kita hanya bergantung pada kekuatan dan kemampuan diri kita sendiri. Biarlah kita mau berdoa kepada Tuhan Yesus untuk memohon pengertian yang benar sambil percaya bahwa Ia akan memberikan apa yang kita butuhkan agar nama Tuhan dipermuliakan.

“….dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” Yohanes 14: 13 – 14

Kebijaksanaan adalah untuk hidup baik

“Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.” Yakobus 3: 17

Dalam Alkitab, seorang raja yang sangat terkenal karena kebijaksanaannya ialah raja Salomo. Alkisah, pada suatu hari Salomo pergi ke Gibeon umtuk mempersembahkan korban bakaran. Lalu Tuhan menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi pada waktu malam. Tuhan berfirman: “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu” (1 Raja-Raja 3: 5). Apa yang kemudian diminta Salomo? Salomo tidak meminta kekayaan, kesehatan, kekuatan dan sebagainya; ia sebaliknya meminta hati yang faham menimbang perkara, yang dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat. Salomo meminta hikmat kebijaksanaan (wisdom) agar ia bisa menjadi raja yang baik bagi rakyatnya.

Bagi seseorang, kebijaksanaan adalah sesuatu yang berharga karena biasanya orang ingin menggunakannya untuk dapat menyelesaikan sebuah masalah yang sedang dihadapi. Misalnya, kebijaksanaan untuk memilih pasangan hidup yang cocok atau  pekerjaan yang baik untuk masa depan. Memang, orang menginginkan hikmat kebijaksanaan seringkali untuk kepentingan diri sendiri, supaya apapun yang dipilih akan membawa keuntungan dan agar ia bisa menghindari kesulitan. Kebijaksanaan dengan demikian  seringkali diartikan sebagai kemampuan untuk mencari sebuah solusi yang tepat untuk sebuah masalah. Orang yang bijaksana (wise) dianggap orang yang pandai mengambil keputusan hidup dan kemudian terlihat sukses dalam hal apapun yang dikerjakannya.

Dari mana orang bisa mendapatkan hikmat kebijaksanaan? Sebagian orang berpendapat bahwa itu mungkin diperoleh dengan bertambahnya usia, dan pengaruh lingkungan, pendidikan dan pengalaman juga berperan dalam memberikan kemampuan otak manusia. Benarkah begitu? Apa yang bisa diperoleh dengan usaha manusia hanyalah dalam hal mengasah otak. Dalam hal ini, manusia bisa bertambah pandai, tetapi belum tentu bijaksana. Banyak orang yang pandai dan bahkan tergolong genius, tetapi justru mempunyai hidup berantakan atau sering membuat hidup orang lain berantakan. Ada banyak orang yang pandai di dunia, tetapi tidak mengenal Tuhan dan pentingnya untuk menerima keselamatan dariNya. Ada banyak orang pandai yang tidak mengerti bahwa hikmat kebijaksanaan yang benar datang dari Tuhan.

Bagi orang Kristen, apa yang baik selalu datang dari Tuhan dan dimaksudkan untuk membawa kemuliaan bagiNya dan kebaikan bagi umatNya. Dengan demikian, hikmat yang dari Tuhan bukanlah hanya berkat yang dipakai untuk kepentingan diri sendiri. Ayat diatas menunjukkan bahwa hikmat kebijaksanaan adalah hidup baik yang sesuai dengan kehendak Tuhan: yang benar, pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan menghasilkan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Dengan demikian, mereka yang penuh dengan hikmat akan selalu bisa memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama dalam hidup. Mereka yang bijaksana tidaklah menyombongkan kemampuan, kesuksesan, kekayaan dan kebaikan mereka, tetapi sebaliknya justru rendah hati, baik hati, tulus hati dan mau memakai apa yang ada dalam hidup mereka untuk memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama dengan sepenuh hati.

Sepandai-pandainya manusia, mereka yang mengabaikan Tuhan dalam hidupnya bukanlah orang yang bijaksana karena mereka memusatkan hidup mereka kepada hal-hal sementara yang hanya membawa keuntungan diri sendiri pada saat ini. Mereka lupa atau tidak sadar bahwa segala sesuatu akhirnya akan lenyap. Pagi ini, kita diingatkan bahwa hidup baik yang penuh kasih akan terus berlangsung dan bahkan dilanjutkan ketika kita berjumpa dengan Tuhan muka dengan muka. Dengan demikian, hikmat kebijaksanaan adalah kemampuan yang datang dari Tuhan untuk memilih hidup yang sesuai dengan firmanNya. Maukah kita meminta hikmat kebijaksanaan yang sedemikian dari Tuhan?

 

Harinya Tuhan

“Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya” Mazmur 118: 24

Siapa yang tidak mengenal lagu kanak-kanak yang berjudul “Hari ini harinya Tuhan”? Lagu ini diterjemahkan dari lagu “This is the day that the Lord has made” yang disusun oleh Les Garrett pada tahun 1967. Syair lagu ini diambil dari Mazmur 118: 24.

Hari ini, hari ini

Harinya Tuhan, harinya Tuhan

Mari kita, mari kita

Bersukaria, bersukaria

Hari ini, harinya Tuhan

Mari kita bersukaria

Hari ini, hari ini harinya Tuhan

Hari ini harinya Tuhan mungkin bisa diartikan sebagai hari Minggu atau hari Sabat. Hari dimana umat Kristen berhenti bekerja untuk berbakti kepadaNya.

“… tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.” Keluaran 20: 10

Karena dalam seminggu ada 7 hari, pengertian adanya “harinya Tuhan” mungkin bisa dikaitkan dengan adanya “hari manusia” dimana manusia boleh bekerja selama enam hari dan melakukan berbagai aktivitas kehidupan mereka.

Anggapan bahwa manusia mempunyai 6 hari untuk diri mereka sendiri adalah jauh dari benar. Tuhan pencipta langit dan bumi adalah pemilik segala sesuatu, baik di bumi maupun di surga (Mazmur 89: 11). Tuhan adalah pemilik seluruh jagad raya. Tuhan jugalah yang memungkinkan terjadinya siang dan malam dan dengan demikian terbentuknya 7 hari yang kita kenal.

Jelas bahwa tujuh hari dalam seminggu adalah milik Tuhan. Karena itu kita tidak boleh menganggap bahwa kita bisa memakai 6 hari kerja semau kita. Seluruh hidup kita adalah milik Tuhan, dan adanya 7 hari dalam seminggu harus kita pakai untuk hidup sesuai dengan firmanNya dan selalu bersyukur dan bersukacita atas semua yang diberikanNya kepada kita.

Alkitab menulis bahwa selama enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya (Keluaran 20: 11).

Dengan demikian, hari yang ketujuh adalah hari istimewa yang diciptakan Tuhan agar umatNya dapat bersama-sama berbakti kepadaNya. Hari ketujuh adalah hari dimana kita bisa beristirahat dan disegarkan kembali melalui persekutuan orang seiman dengan Tuhan. Bukankah Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakasih dan mahabijaksana? Marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!