Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Kejadian 1: 27
Pada waktu saya mendarat di Melbourne pada bulan Juni tahun 1983, sangatlah sedikit pengertian saya tentang sejarah dan demografi Australia. Sselang beberapa bulan setelah itu, saya mulai menyadari bahwa Australia mempunyai penduduk dengan latar belakang etnis yang berbeda-beda. Belanda adalah bangsa asing yang pertama kali datang ke Australia, tetapi Inggris kemudian memutuskan untuk membuat Australia sebagai bagian negaranya pada tahun 1700an. Karena itu, sampai akhir tahun 1800an, sebagian besar orang yang dilahirkan di Australia adalah keturunan Inggris. Setelah perang dunia kedua, Australia membuka kesempatan bagi para pengungsi dari Eropa untuk menetap, tetapi banyak orang dari Asia juga ikut datang. Dari tahun 1945 sampai 1960, ada 1,6 juta pendatang baru yang menetap di Australia.
Pada saat ini kira-kira 67,4% penduduk Australia adalah keturunan Inggris, sedangkan penduduk aslinya hanya 3%. Mereka yang keturunan Irlandia ada 8,7%, Italia sekitar 3,8%, Yunani sekitar 1,6%, dan Belanda 1,2%. Bagaimana dengan orang Indonesia? Menurut sensus 2011 ada sekitar 48.000 orang yang mengaku keturunan Indonesia di antara 22,3 juta penduduk Australia. Dari jumlah ini 59% mengaku beragama Kristen, 19,4% Islam, 10,3% Budha, dan 6.8% tidak beragama. Dengan melihat data statistik di atas bisa dibayangkan bahwa Australia sekarang adalah negara yang mempunyai beragam kebudayaan (multicultural) dan banyak kepercayaan (multifaith). Dengan banyaknya jenis manusia yang mempunyai latar belakang yang berbeda, susunan demografi Australia tentunya berubah secara dinamis tahun demi tahun.
Salah satu masalah dalam masyarakat Australia yang berbeda ragamnya adalah hal kerukunan. Tidak hanya kerukunan beragama yang diperlukan, tetapi juga kerukunan sosial dan politik. Walaupun demikian, kerukunan sosial atau kerukunan bermasyarakat itu sering dipengaruhi oleh oleh faktor-faktor agama, etnis dan politik. Mereka yang datang dari negara lain ke Australia, seringkali masih mempunyai ikatan dengan keadaan agama, etnis dan politik di negara asalnya. Inilah yang kadang -kadang menimbulkan keadaan yang tidak menyenangkan. Memang orang sering lupa bahwa sesudah menjadi warga Australia, seharusnya mereka melupakan adanya perbedaan untuk bisa bersatu dan saling menghormati sebagai rakyat dari satu negara.
Dalam kenyataannya, perbedaan etnis seringkali membuat manusia bertengkar dengan sesama. Itu karena orang sering memandang orang lain yang berbeda penampilannya sebagai makhluk yang lebih rendah derajatnya atau lebih buruk kemampuannya. Sejarah membuktikan bahwa banyak kekejaman terjadi karena kebencian kelompok tertentu atas kelompok yang lain. Tetapi, bagi umat Kristen hal membeda-bedakan manusia itu tidak dapat dibenarkan. Menurut Alkitab, Tuhan pada mulanya menciptakan sepasang manusia. Sejak penciptaan Adam dan Hawa, manusia berkembang biak dan menjadi banyak dalam jumlah dan ragamnya.
Sebagian manusia yang tidak percaya kepada Tuhan memang mudah terpancing dalam keyakinan bahwa mereka adalah lebih baik dari orang lain. Tetapi, mereka yang percaya adanya Tuhan pun bisa terjebak dalam keyakinan bahwa Tuhan menciptakan kelompok-kelompok tertentu sebagai “manusia unggul” yang lebih baik, lebih murni dan lebih berharga dari orang lain. Ini mungkin bisa dilihat dalam kehidupan manusia dalam perjanjian lama yang seringkali membeda-bedakan perlakuan kepada sesama. Tetapi, kedatangan Yesus ke dunia mengubah semua itu. Ia mengajarkan kasih kepada sesama, kasih yang tidak memandang bulu, yang tidak memandang perbedaan ras, status sosial dan apapun. Lebih dari itu, Ia mengajarkan bagaimana kita harus mengasihi musuh kita.
Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia. Ia datang bukan untuk orang Yahudi, orang Yunani ataupun bangsa-bangsa tertentu saja (Yohanes 3: 16). Yesus juga mengajarkan bahwa Allah menerbitkan matahari dan mendatangkan hujan untuk semua ciptaanNya (Matius 5: 45). Tambahan pula, Yesus memerintahkan kita untuk mengabarkan injil ke semua bangsa dan menjadikan mereka muridNya (Matius 28: 19). Yesus juga memberi Roh Kudus kepada para pengikutNya sehingga mereka dapat memakai berbagai bahasa (Kisah Para Rasul 2: 4). Dengan demikian, tidak ada alasan bagi manusia manapun untuk memandang orang lain lebih rendah atau lebih tidak berarti. Di hadapan Tuhan, semua manusia adalah sama: orang berdosa yang hanya bisa diselamatkan melalui darah Yesus (Roma 3: 23- 24).
Pagi ini, adakah rasa prihatin dalam hati anda melihat suasana di sekitar kita? Mengapa ada orang-orang yang memperlakukan orang lain dengan semena-mena? Mengapa ada orang yang menganggap orang lain sebagai makhluk yang kurang berarti? Mengapa ada orang yang merasa lebih unggul, lebih baik dan lebih berharga dari orang lain? Sebagai umat Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan menciptakan semua manusia menurut gambarNya. Semua perlakuan yang tidak baik kepada sesama manusia pada hakikatnya adalah penghinaan terhadap Sang Pencipta.
Tahukah anda apa yang dimaksudkan dengan istilah Tough Mudder? Tough Mudder adalah lomba lari halang rintang sepanjang 16-20 km. Para peserta Tough Mudder dituntut bekerja sama dalam timnya untuk melewati rintangan yang dirancang untuk menguji fisik dan mental. Tough Mudder berbeda dari kompetisi lari lainnya karena tujuan utama lomba ini adalah meningkatkan rasa kerja sama antara para peserta. Dalam perlombaan ini terdapat 20 hingga 25 halangan seperti pagar, tanah berlumpur dan lainnya yang harus dilewati para peserta. Untuk bisa menyelesaikan lomba, para peserta harus mengutamakan kesatuan tim sambil belajar mengatasi rasa takut. Turnamen Tough Mudder hadir untuk pertama kali di Indonesia pada tahun 2016 di Jimbaran, Bali,.
Bagi saya yang sudah lebih dari 35 tahun hidup di luar negeri, bahasa Indonesia tidak lagi merupakan satu bahasa yang mudah dipakai. Banyaknya kata-kata dan ejaan baru sering membuat saya bingung untuk memakainya. Tambahan pula, dengan adanya berbagai kata gaul yang sekarang banyak dipakai anak muda, memaksa saya untuk lebih berhati-hati dalam memilih kata. Salah satu kata yang sudah lama ada tetapi jarang saya pakai adalah kata ganjaran. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, ganjaran bisa berarti hukuman tetapi bisa juga berarti hadiah. Bagaimana satu kata bisa mempunyai dua arti yang saling bertentangan? Tentunya kata ini harus diartikan menurut konteksnya.
Kemarin malam saya menonton TV Netflix yang menampilkan kuliner rakyat (jajan pasar atau street food) dari berbagai negara. Berbeda dengan acara semacamnya, acara itu menggaris-bawahi peranan manusia yang membuat/menjual makanan dan bukan makanan yang dijual mereka. Salah satu penjual makanan yang ditampilkan adalah seorang ibu yang sudah berumur 100 tahun dari Indonesia, Mbah Lindu, yang menjual nasi gudeg selama 86 tahun dan dengan penghasilannya bisa menyokong beberapa anggota keluarganya.
Teringat saya akan ucapan teman yang menyatakan pendapatnya tentang bagaimana orang beragama berusaha meyakinkan orang lain bahwa apa yang diimaninya adalah satu-satunya yang benar. Menurut teman itu, orang beragama tidaklah jauh berbeda dengan seorang penjual produk, salesman, yang berusaha menjajakan barangnya dengan slogan “nomer satu”. Kecap nomer satu.
Setiap tahun bangsa Indonesia mengadakan peringatan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus. Malam sebelumnya, yaitu pada tanggal 16 Agustus, ada tradisi di tengah-tengah masyarakat yang masih dilaksanakan hingga kini yang disebut malam tirakatan. Tirakatan dilaksanakan di setiap RT atau desa. Masyarakat tua-muda berkumpul sambil membawa makanan masing-masing. Tirakatan bukanlah acara yang formal tetapi acara sosial sebagai bentuk rasa syukur atas kemerdekaan yang telah diraih oleh bangsa Indonesia. Tirakatan biasanya ditandai dengan kehadiran tumpeng yang diberi bendera merah putih berukuran kecil diatasnya.
Apakah anda penggemar Instagram? Instagram (juga disebut IG atau Insta) adalah sebuah aplikasi handphone untuk berbagi foto dan video yang memungkinkan pengguna mengambil foto, mengambil video, menerapkan filter digital, dan membagikannya secara instan ke berbagai layanan jejaring sosial. Instagram adalah salah satu fenomena media yang sekarang sangat populer di kalangan kaum muda untuk melampiaskan perasaan “narsis” yaitu keinginan untuk mengagumi diri sendiri. Kaum narsis dikatakan suka membuat foto diri sendiri pada setiap kesempatan untuk disebarkan melalui akun Instagramnya.
Di Australia, sekarang ini banyak digalakkan hal keragaman agama atau multi faith melalui penyelenggaraan acara keagamaan dan sosial yang diorganisir dan diikuti oleh pengikut berbagai agama. Biasanya, dalam acara ini para pemimpin-pemimpin agama mendapat kesempatan untuk berdoa menurut keyakinan masing-masing dengan satu tema. Seolah mereka bersatu dalam doa-doa yang ditujukan kepada Tuhan yang sama.