Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Matius 8: 20
Dalam perjalanan ke luar negeri baru-baru ini saya mendapat kesempatan untuk membandingkan keadaan sosial-ekonomi dari beberapa negara. Dalam beberapa negara yang ekonominya kuat, saya membayangkan tentunya tidak ada orang gelandangan (homeless people) di tengah kota. Harapan saya ternyata adalah hampa karena agaknya keadaan ekonomi sebuah negara belum tentu seirama dengan keadaan sosial rakyatnya.
Di beberapa negara yang termasuk kaya, saya bisa menjumpai adanya orang gelandangan yang meminta-minta. Sekalipun mungkin ada hukum setempat yang melarang orang hidup seperti itu, saya masih bisa melihat adanya orang-orang yang berjalan kaki dengan pakaian lusuh dan peralatan yang jelas menunjukkan bahwa mereka tidak mempunyai tempat tinggal tetap. Saya tidak dapat membayangkan betapa beratnya hidup mereka, apalagi jika musim dingin tiba.
Sudah tentu penyebab orang untuk menjadi gelandangan ada berbagai macam. Sebagian orang mungkin dipaksa oleh keadaan seperti kehilangan pekerjaan, kebangkrutan, adanya penyakit, atau kehancuran rumah tangga. Tetapi ada juga orang yang kehilangan rumah karena kesalahan sendiri, seperti pemakaian narkoba, kecanduan judi dan kemalasan.
Yesus dalam ayat di atas menjelaskan kepada orang- orang yang ingin mengikut Dia bahwa pada dasarnya mereka harus bisa hidup seperti Dia. Yesus adalah Anak Allah, tetapi selama Ia memberitakan kabar keselamatan di dunia, Ia tidak mempunyai tempat tinggal. Yesus adalah seorang tuna wisma. Karena itu, orang yang ingin mengikut Dia haruslah mau dan siap untuk menjadi homeless. Yesus direndahkan sedemikian rupa, bukan karena kesalahan yang diperbuatNya, tetapi karena dosa umat manusia yang perlu ditebusNya. Menjadi pengikut Yesus bukanlah gampang.
Di zaman ini, jika kita ingin mengikut Yesus dan menjadi umatNya, kita tidak lagi perlu menjadi gelandangan. Tuhan Yesus sudah menyelesaikan tugasNya. Tetapi inti ayat di atas tetap sama: menjadi pengikut Yesus bukanlah gampang. Jika kita ingin mengikut Dia, itu berarti mendahulukan kepentinganNya dan melupakan ambisi pribadi kita. Kita harus siap menjalankan tugas-tugas yang diberikanNya kepada kita. Kita tidak dapat berhamba kepada dua tuan (Matius 6: 24). Kita tidak dapat mengikut Yesus jika hidup, pikiran dan tenaga kita dipakai untuk mencari kebahagiaan dan kenyamanan duniawi saja.
Firman di atas berkata bahwa untuk mengikut Dia kita harus siap mengurbankan kepentingan pribadi kita. Jika kita ingin menjadi umatNya tetapi mengharapkan Tuhan akan membayar kita dengan berbagai kenikmatan hidup, kita akan kecewa. Harga yang termahal untuk menebus kita sudah dibayarNya, dan karena itu kita mempunyai kewajiban untuk membalas kasihNya dan melayaniNya dengan menempatkan kepentinganNya sebagai hal yang paling utama dalam hidup kita.
Pada zaman ini, pandangan orang tentang mereka yang lain latar belakangnya sudah mengalami banyak kemajuan. Dengan pengertian yang makin baik tentang hak azasi dan dengan majunya hubungan antar manusia, orang mulai bisa menghargai orang lain yang berbeda ras, bahasa, budaya, agama dan cara hidup. Dengan demikian, orang tidak gampang-gampang menolak atau merendahkan orang lain yang berbeda latar belakangnya.
Di zaman ini, baik dalam media atau pergaulan sehari-hari, seringkali ada opini yang menyudutkan golongan etnis tertentu. Memang karena di dunia ada banyak bangsa, suku dan kelompok etnis, pandangan yang meninggikan golongan sendiri dan merendahkan kelompok lain itu sering muncul. Biasanya hal itu digolongkan sebagai rasisme, karena adanya keyakinan bahwa golongan tertentu adalah lebih baik dari yang lain. Bagaimana pandangan orang Kristen dalam hal ini?
Hari ini saya pergi ke sebuah museum di Copenhagen. Sebenarnya saya bukanlah orang yang gemar mengunjungi museum, tetapi saya menyempatkan diri karena kebetulan museum itu dibuka gratis untuk umum.
Bagi saya, perjalanan ke luar negeri sering membawa berbagai kesan. Selain kesan yang baik, kesan yang kurang baik juga bisa muncul. Di beberapa negara jelas terlihat bahwa rakyat hidup dalam kecukupan, sehingga mereka yang tidak mempunyai posisi tinggi pun tetap dapat menikmati berbagai hal yang tergolong mewah di negara lain.
Siapa saja yang ke Eropa tentu bisa melihat bahwa banyak kota disana yang memiliki gedung-gedung gereja kuno yang sangat indah arsitekturnya. Walaupun demikian, kebanyakan gedung gereja yang besar dan megah itu sekarang cenderung berfungsi sebagai museum daripada sebagai tempat berbakti kepada Tuhan.
Dalam perjalanan ke negara-negara di sekitar laut Baltik baru-baru ini saya menyaksikan bagaimana kesehatan lingkungan terlihat terpelihara di negara-negara tertentu, tetapi agak kacau di beberapa negara lain. Pada umumnya negara-negara yang tidak terlalu besar dan ekonominya baik, lebih terlihat bersih dan rapi.
Di sebuah kota di Eropa, baru-baru ini saya menyaksikan bagaimana padatnya lalu-lintas pada waktu jam sibuk. Pada daerah tertentu, karena jalan macet orang memarkir mobil di tengah jalan sambil menyalakan lampu bahaya (hazard lights). Belum pernah saya melihat kejadian seperti itu di negara mana pun. Pada waktu itu polisi tidak terlihat dan kekacauan agaknya disebabkan oleh pengemudi mobil yang tidak peduli akan orang lain atau peraturan lalu lintas yang ada.
Apa yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah adanya jasmani dan rohani dalam diri mereka. Jika makhluk lain hanya hidup dalam bentuk jasmani dan tidak mampu atau pernah memikirkan kemungkinan adanya kuasa Ilahi, kebutuhan spritual, keselamatan, kedamaian jiwa dan hal-hal kerohanian lainnya, Tuhan menciptakan manusia menurut peta dan teladanNya lengkap dengan jasmani dan rohani.