“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16
Alkisah ada seseorang yang berada didalam sebuah penjara menantikan pelaksanaan hukuman mati. Bukti-bukti sudah jelas menunjukkan bahwa ia bersalah. Tidak ada lagi harapan untuknya. Namun, suatu yang tidak tersangka terjadi. Ada orang lain yang mengaku bahwa ialah yang melakukan kejahatan itu. Orang yang di penjara itu akhirnya dibebaskan. Ia tentunya heran dan merasa beruntung. Apakah ia merasa beruntung untuk kebebasannya? Ataukah merasa beruntung karena ada orang lain yang menggantikan dia?
Seperti orang dalam kisah diatas, kita adalah orang-orang berdosa yang seharusnya mendapat hukuman yang berupa kebinasaan yang abadi. Allah yang mahatahu mempunyai bukti-bukti dosa kita. Tidak ada apapun yang bisa menolong kita, kecuali jika ada orang lain yang tidak berdosa, yang mau menggantikan kita. Yesus yang mati di kayu salib adalah orangnya. Karena pengurbanan Yesus itulah, Allah mau melupakan dosa kita. Kita harus bersyukur, tetapi untuk apa? Apakah karena kita sudah diselamatkan, ataukah karena Yesus sudah mati bagi kita?
Bagi sebagian orang Kristen, hal bersyukur karena menerima keselamatan dan bersyukur karena Yesus mau mengurbankan diriNya adalah tidak berbeda. Bukankah karena pengurbanan Yesus kita mendapat keselamatan? Bukankah keduanya tidak dapat dipisahkan?
Memang benar bahwa orang-orang yang sudah diselamatkan tentunya sudah menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka. Tetapi, banyak orang Kristen yang merasa sudah terjamin keselamatannya, lupa bahwa mereka selamat hanya karena Yesus. Dengan demikian, mereka lupa bahwa hidup mereka seharusnya didedikasikan kepada sang Juruselamat. Mereka yang berpikir bahwa karunia Allah yang terbesar adalah keselamatan, sering menikmati hidup mereka sebagai orang yang lupa bahwa dalam kebebasan mereka dari belenggu dosa, mereka seharusnya menjadi hamba Kristus.
Pagi ini, jika kita bersyukur bahwa kita terbilang sebagai orang-orang yang diselamatkan, janganlah kita lupa untuk terus bersyukur atas pengurbanan Kristus. Bagi sebagian orang Kristen, hal menerima keselamatan dan berkat-berkat Tuhan adalah yang paling penting, bukan hal mengikut Yesus. Padahal, Yesuslah pemberian utama dan terbesar dari Allah sendiri. Allah sudah mengurbankan AnakNya yang tunggal untuk keselamatan mereka yang percaya.
“Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” Galatia 1: 10
Pernahkah anda menunggu berita yang sangat anda harapkan, tetapi itu tidak kunjung datang? Berjam-jam, dan bahkan berhari-hari anda sudah menunggu, dan bulan-bulan pun kemudian lewat tanpa ada tanda-tanda kapan munculnya berita itu. Rasa ragu kemudian mungkin muncul, jangan-jangan penantian anda akan menjadi sia-sia. Memang, jika kita tidak tahu apa yang akan terjadi, ketidaktahuan itu bisa membuat datangnya kesengsaraan.
Dalam sebagian filsafat timur sering dikatakan bahwa kekuatan baik dan kekuatan jahat itu ada dalam diri tiap manusia, yang senantiasa bertarung, berebut pengaruh. Jika kekuatan baik lagi diatas angin, orang tersebut akan mempunyai tingkah laku yang baik. Sebaliknya, jika kekuatan jahat yang lebih kuat, orang itu akan berbuat jahat tanpa bisa menghindarinya.
Melihat hidup orang Kristen zaman sekarang, seringkali kita tidak dapat dengan mudah membedakannya dengan hidup orang yang bukan Kristen. Dunia ini sudah berubah sedemikian sehingga kebanyakan manusia hidup secara individuil dan memisahkan kepercayaan dari kegiatan sehari-hari. Malahan, orang yang sering menunjukkan ciri-ciri kekristenannya dalam masyarakat yang plural ini, justru sering dipandang aneh atau sok. Mereka yang duduk dalam kepemimpinan negara pun seringkali tidak dapat diharapkan untuk memberi teladan.
Kemarin saya mendapat kiriman sebuah video tentang seseorang yang mengemudikan sebuah mobil dan terjebak di sebuah jalan di tengah kota setelah ia menyerempet kendaraan lain. Segerombolan orang-orang yang mengejarnya kemudian menghancurkan kaca mobil dan merusak mobil itu. Kejadian di siang hari bolong itu sungguh bisa membuat hati siapapun berdebar-debar. Bagaimana jika kejadian itu terjadi pada diri kita?
Satu hal yang membuat saya merasa agak sedih jika membeli suatu produk di zaman now adalah bungkus atau packaging -nya. Barang apapun yang dijual di toko harus dibungkus sedemikian rupa, sehingga kelihatan seperti barang yang bagus dan berharga. Tetapi, kecantikan bungkus belum tentu menjamin kualitas isinya. Selain itu, kertas bungkus yang berlapis-lapis itu akhirnya harus dibuang ke tempat sampah.
Dalam kehidupan ini, mereka yang berhasil dalam karir adalah orang-orang yang bisa menghasilkan sesuatu yang baik dalam pekerjaannya. Lebih dari itu, mereka adalah orang-orang yang bisa menunjukkan apa hasil pekerjaan mereka. Orang yang berhasil adalah orang yang bisa meng-klaim upah untuk apa yang baik yang sudah dihasilkannya.
Ungkapan “memang sudah nasib” sering kita dengar di Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, orang membicarakan soal nasib (fate) di rumah, pasar, mal, kantor dan dimanapun juga. Nasib agaknya berlaku untuk siapapun juga, baik mereka yang kaya atau yang miskin, baik yang berpendidikan atau yang kurang berpendidikan. Memang kata orang, nasib adalah penentu keadaan atau keberuntungan seseorang.
Minggu lalu adalah minggu yang menarik bagi seluruh penduduk Australia karena adanya sebuah pergolakan politik yang terjadi. Setelah melalui berbagai kejutan, seorang Perdana Menteri baru pada akhirnya terpilih. Dengan terpilihnya “ScoMo“, nama julukan dari Scott Morrison, tentunya ada perubahan dalam segi keamanan, yang layaknya harus disediakan untuk pemimpin negara. Sekalipun di Australia rakyat sering bisa menjumpai tokoh-tokoh pemerintahan tanpa harus melalui protokol yang ketat, sesudah menjadi Perdana Menteri tentunya ScoMo akan lebih sukar untuk ditemui.
Sekarang ini lagi musim lari “fun run” di Indonesia dan banyak orang yang senang untuk berpartisipasi secara “rame-rame” dengan teman dan keluarga. Memang lari itu sehat dan berlari bersama ribuan orang itu membawa kenikmatan tersendiri. Saya pun sebenarnya seorang penggemar fun run, dan tiap tahun di Australia saya biasanya selalu ikut lomba lari half marathon, agar saya mendapat motivasi untuk berolahraga secara teratur.