“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Hari Jumat kemarin adalah hari yang luar biasa di Australia. Pagi hari itu di parlemen, tiga orang mencalonkan diri sebagai pengganti perdana menteri yang ada. Bukan melalui pemilihan umum, karena sebenarnya perdana menteri yang ada masih mempunyai sisa masa jabatan lebih dari setahun. Di Australia memang pemerintah yang ada bisa mengganti pemimpin negara melalui mosi diantara anggota parlemen dari partai yang berkuasa, untuk memilih pemimpin baru. Mereka yang kurang mengerti akan sistim ini mungkin menganggap ini tidak berbeda dengan “kudeta”. Siang harinya, seorang perdana menteri baru terpilih. Dalam 24 jam, perdana menteri yang lama dan wakilnya kehilangan posisi mereka.
Apakah Tuhan menentukan kejadian diatas? Apakah itu kehendak Tuhan? Begitu sebagian orang bertanya. Memang jika ditimbang dari segi kemahakuasaan Tuhan, tidak ada kejadian di bumi ini yang terjadi tanpa seizin Tuhan. Jelas bahwa pemerintah dimanapun terpilih dengan seizin Tuhan. Sekalipun pemerintah atau pemimpin itu kurang baik, Tuhan mengizinkan itu terjadi menurut rencana pemeliharaanNya (yang disebut providensia). Tetapi, apa yang terjadi belum tentu merupakan kehendakNya.
Memang perdebatan manusia tentang apa yang direncanakan dan apa yang dikehendaki Tuhan sering muncul. Sebagian orang percaya bahwa pemerintah atau pimpinan organisasi apapun terpilih atas kehendak Tuhan. Dan seperti ayat diatas, semua orang harus tunduk kepada pemerintah (authority) yang ada diatasnya. Sebaliknya, ada yang yakin bahwa pemerintah ada karena azas demokrasi yang memberikan kesempatan bagi rakyat untuk secara bebas dan rahasia memilih pemimpin mereka berdasarkan suara terbanyak. Bagi mereka ini, jika pimpinan yang kemudian terpilih ternyata kurang baik adanya, itu adalah akibat pilihan mereka sendiri dan bukan merupakan kehendak Tuhan. Dengan demikian, mereka mungkin berusaha untuk mencari gantinya.
Pertanyaan untuk kita, apakah mungkin seorang pemimpin terpilih walaupun tidak sesuai dengan kehendakNya? Sebelum menjawab pertanyaan itu, mungkin kita harus lebih dulu bertanya, apakah mungkin orang berbuat dosa? Tuhan sudah pasti tidak menghendaki kita untuk berbuat dosa, tetapi jika kita berbuat dosa itu adalah kesalahan kita sendiri. Mengapa Tuhan membiarkan kita berbuat dosa sekalipun itu bertentangan dengan kehendakNya? Karena Tuhan memberikan manusia kesempatan untuk mengenal Dia dan menurut perintahNya. Tuhan dalam kemahakuasaanNya tetap bisa meneruskan rencana pemeliharaan (providensia) -Nya yang sudah ada, dalam keadaan apapun. Providensia Tuhan tidak selalu sama dengan kehendakNya, seperti apa yang terjadi pada bani Israel.
“Israel telah menolak yang baik biarlah musuh mengejar dia! Mereka telah mengangkat raja, tetapi tanpa persetujuan-Ku; mereka mengangkat pemuka, tetapi dengan tidak setahu-Ku. Dari emas dan peraknya mereka membuat berhala-berhala bagi dirinya sendiri, sehingga mereka dilenyapkan.” Hosea 8: 3 – 4
Pagi ini, firman Tuhan menyatakan bahwa Ia selalu memelihara umatNya dengan memberikan pemeliharaanNya hari demi hari. Sekalipun keadaan disekitar kita terlihat kurang menyenangkan, Tuhan bisa memakainya untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkanNya. Dalam hal ini, orang Kristen terpanggil untuk tetap hidup dalam kebenaran dan tunduk kepada hukum dan peraturan yang ada. Sebaliknya, jika apa yang terjadi jelas-jelas tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, umat Kristen terpanggil untuk menjadi terang dunia dengan memberi bimbingan, tauladan serta pengurbanan, dan menegakkan keadilan maupun kebenaran seperti apa yang dilakukan oleh Yesus Kristus sewaktu Ia ada di dunia. Kita harus bisa selalu mencari kehendakNya dalam bekerja sambil percaya kepada pemeliharaanNya!
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28
Teringat saya pada kejadian sewaktu saya masih mahasiswa di Surabaya, ketika saya menerima sebuah surat yang ditujukan kepada saya dari seseorang yang tidak mau dikenal. Surat yang tidak mencantumkan alamat pengirimnya itu sudah dapat dipastikan berasal dari seorang yang mengenal saya. Setelah saya buka surat itu, ternyata isinya hanyalah sebuah pesan untuk menyampaikan fotokopi surat itu kepada lima teman saya agar saya tidak mengalami bencana. Surat aneh itu langsung saya robek-robek dan masukkan kedalam tong sampah. Itu hanyalah sebuah surat berantai (chain letter).
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, ada perbedaan antara kata “berjaga-jaga” dan kata “berjaga”. Perbedaan itu mungkin tipis dan sering diabaikan. Tetapi, agaknya kata “berjaga-jaga” lebih cocok untuk diartikan sebagai “bersiap-siap”, sedang kata “berjaga” berarti “tidak tidur”.
Sudah tiga bulan ini saya menderita rasa sakit pada pundak saya yang sebelah kanan. Karena itu saya sementara ini tidak bisa menggunakan tangan kanan saya untuk mengangkat barang belanja atau beban berat lainnya. Ultrasound menunjuk pada sobeknya otot penghubung bahu dan lengan saya sepanjang 1,75 cm. Cedera yang dialami sewaktu berolahraga itu membuat saya berpikir dan merenung, kalau-kalau itu adalah sesuatu yang Tuhan berikan kepada saya. Kalau betul demikian, untuk apa?
Tahukah anda bahwa di zaman modern ini masih ada beberapa negara dimana adat “membeli” seorang istri masih dipraktikkan dalam masyarakat? Di negara-negara itu, seorang calon istri mungkin dihargai dengan 50 ekor lembu atau 100 ekor babi; dan jika harga itu diterima, sang istri kemudian menjadi milik suami sepenuhnya, seperti halnya lembu atau babi yang sebelumnya menjadi milik suami.
Sebagai seorang dosen, minggu-minggu mendatang adalah minggu-minggu yang sibuk, karena tugas-tugas murid saya yang sudah diserahkan, harus dikoreksi. Bagi saya pekerjaan memeriksa tugas murid adalah hal yang membosankan, tapi harus dijalankan. Memang salah satu tugas seorang dosen adalah memberi tes dan ujian kepada murid-muridnya agar mereka bisa memperoleh pengetahuan yang diperlukan dalam karir dan masa depan mereka.
Setiap hari, jika kita membaca berbagai media, kita bisa menjumpai banyak berita yang menunjukkan adanya berbagai penderitaan yang dialami manusia. Hati kita mungkin menjadi sedih jika kita membayangkan bahwa banyak diantara mereka yang tidak dapat memperoleh pertolongan baik untuk kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani.
Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati, kalau menurut pantun lama. Tetapi simbol jatuh cinta adalah sebuah anak panah yang menembus sebuah heart (jantung) dan bukannya liver (hati). Hati berbeda dengan jantung, tetapi dalam percakapan sehari-hari, kata “hati” sering dipakai untuk menggantikan kata “jantung”.
Salah satu julukan yang sering diberikan kepada orang Kristen adalah “orang yang sok suci”. Ucapan ini keluar dari mulut seseorang mungkin ketika ada orang Kristen yang menegur cara hidupnya. Bagi orang yang ditegur, adanya sesama manusia yang berani menegurnya seolah membawa kesan kurang ajar. Siapakah dia yang merasa hidupnya lebih suci dari orang lain? Jangan pura-pura suci! Orang munafik!