Antara pilon dan bunglon

“Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat.”  Kisah 17: 30

Omong-omong soal berbuat kesalahan, mungkin paling enak kalau kita bisa berlagak pilon. Kita bisa mengaku gaptek, lupa, atau kurang paham aturan dan hukum. Selain itu, kita mungkin juga bisa menyesuaikan diri dengan keadaan setempat. Selama keadaan disekitar kita memperbolehkan, kita merasa bebas untuk berbuat apa saja yang kita mau. Lain tempat, lain sikap. Seperti bunglon…

Anda mau coba? Bagaimana kalau anda ngebut di freeway Australia untuk melanggar batas kecepatan mengemudi yang 100 km/jam sampai tertangkap polisi? Kepada polisi yang menangkap kita, mungkin kita bisa memakai salah satu alasan ini supaya dibebaskan dari denda:

  • Kan tidak ada rambunya, pak?
  • Maaf pak, tadi saya tidak lihat rambunya
  • Pak, orang lain juga begitu …
  • Maaf, saya perlu buru-buru…
  • Ini cuma sekali koq..
  • Wah, GPS saya mati!

Mungkin sulit dibayangkan bagaimana reaksi polisi itu, tetapi yang jelas pasti anda akan ditilang. Peraturannya sudah ada dan anda memiliki SIM, dengan demikian tidak ada alasan untuk melanggar batas kecepatan sekalipun anda tidak melihat rambunya.

Seperti itu jugalah hidup orang Kristen di dunia.  Kita mempunyai buku yang dinamakan Alkitab yang berisi firman Tuhan yaitu pedoman hidup. Kita mungkin tidak hafal semua ayatnya, tetapi kita tahu bahwa kita harus hidup sesuai dengan pedoman-pedoman pokok dalam Alkitab yaitu mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (Matius 22:40).Tetapi, jika hidup kita tidak sejalan dengan itu, mungkinkah  kita memakai salah satu dari alasan dibawah ini?

  • Ayatnya mana?
  • Saya kurang paham isi Alkitab.
  • Orang lain juga begitu.
  • Tapi ini membawa untung.
  • Ini cuma sekali saja.
  • Tadi pendeta tidak bilang apa-apa.

Mungkin kita tidak dapat membayangkan bagaimana reaksi Tuhan, tetapi yang jelas pasti Ia tidak menyukai jawaban kita! Alkitab sudah ada dan jika kita mengaku Kristen, tidak ada alasan bagi kita untuk melanggar firman Tuhan sekalipun lingkungan kita memungkinkan; apalagi Roh Kudus ada dan selalu siap untuk mengingatkan kita.  

Bacaan dari Kisah 17: 30 diatas menjelaskan bahwa jaman dimana manusia bisa berlagak pilon dan bertingkah laku seperti bunglon sudah lewat. Setelah Yesus datang ke dunia dan menggenapi hukum Taurat, setiap umat Tuhan, Yahudi dan bukan Yahudi, harus dapat mengerti apa yang dikendaki Tuhan dalam hidup kita (Matius 5: 17-48). 

Sebelum Kristus datang, apa yang diketahui manusia tentang Tuhan dan perintahNya masih belum jelas dan sering dipengaruhi oleh lingkungan hidup mereka.

“Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing.” Kisah 14: 16

Tetapi kedatangan Kristus membuat setiap orang percaya tidak bisa berdalih lagi dalam menjalani hidup Kristen. 

Pagi ini, marilah kita memikirkan apa yang biasa kita lakukan dalam hidup kita. Mungkin, karena kita berbeda, baik dalam hal latar belakang keluarga, pendidikan, suku, negara, pekerjaan dll., kita memiliki standar etika, hukum, budaya dan tingkah laku yang juga berbeda. Tetapi itu bukan alasan untuk mempunyai pengertian yang berbeda tentang firman Tuhan.

Seringkali sebagai manusia kita memilih apa yang paling mudah dijalankan dan yang paling menguntungkan. Dimanapun kita tinggal, Indonesia, Austalia, Amerika atau negara lain, sering kita berlagak pilon, dan terkadang hidup seperti bunglon. Tetapi firman Tuhan berkata bahwa kita tidak lagi bisa mempunyai hidup seperti itu. Ada hukum yang sama untuk semua orang Kristen.

Setiap orang yang mengaku anak Tuhan harus bisa menyadari apa yang baik dan apa yang buruk berdasarkan firman Tuhan. Ini sering tidak mudah dimengerti, apalagi jika kita kurang berdisiplin. Oleh karena itu, kita harus mau dibimbing oleh Roh Kudus agar mau belajar dengan giat; supaya kita bisa menyadari kekeliruan dan kelemahan kita, untuk bisa bertobat dari praktik-praktik lama yang keliru, sebelum kita berjumpa dengan Dia.

“Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya,” Kisah 17: 31a

Kristenisasi itu bukan tugas kita

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Matius 28: 19

Amanat Agung yang tertulis dalam Matius 28:19 diatas pasti pernah dibaca semua orang Kristen. Istilah “the Great Commission” ini mungkin diperkenalkan oleh seorang penginjil asal Austria, Justinian von Welz (1621–88), dan dipopulerkan oleh Hudson Taylor, hampir 200 tahun sesudahnya.

Dalam ayat diatas, Yesus memberi perintah agar semua bangsa dijadikan muridNya. Apa sebenarnya maksud Yesus? Apakah Ia memerintahkan kita untuk mengkristenkan semua manusia di dunia?

Istilah “kristenisasi” adalah istilah yang sensitip bagi orang-orang yang bukan Kristen. Sejarah menunjukkan bahwa berbagai negara pernah mengalami peristiwa buruk ketika agama Kristen mulai diperkenalkan kepada masyarakat. Berbagai cara penginjilan dipakai, termasuk cara-cara yang tidak baik. Di jaman ini, istilah ini sering menimbulkan ketegangan antar agama. Bagaimana sebenarnya posisi kita dalam hal mengabarkan injil?

Dalam Kisah 8: 26-40, seorang sida-sida Etiopia yang sedang dalam perjalanan berkereta kuda ke Yerusalem, mengeluh kepada Filipus bahwa dia tidak mungkin mengerti apa yang dibacanya jika tidak ada orang yang menolong. Filipus yang dengan petunjuk Tuhan dapat bertemu dengan sida-sida itu, kemudian memperoleh kesempatan untuk duduk berdampingan dalam kereta kuda dan menjelaskan arti firman Tuhan sehingga sida-sida itu akhirnya bisa mengerti dan minta untuk di baptiskan. 

Filipus memang sudah menjalankan perintah Yesus dalam Matius 28:19 diatas. Tetapi, tanpa Roh Kudus segala sesuatunya akan sia-sia. Filipus membutuhkan Roh Kudus untuk memilih jalan tertentu yang memungkinkan ia bertemu dengan sida-sida itu. Roh Kudus jugalah yang membuat Filipus dapat berkomunikasi dengan sida-sida itu. Dan Roh jugalah yang membimbing sida-sida itu dan membuka hati dan pikirannya sehingga ia percaya dan mau dibaptiskan.

Apa yang menumbuhkan jumlah orang percaya adalah adanya banyak orang yang seperti Filipus dan sida-sida Etiopia, mau mendengarkan suara Tuhan dalam hidupnya dan membuka hidupnya agar Roh Kudus bisa bekerja dengan bebas. Dengan kata lain, manusia dapat menjadi murid Tuhan sebenarnya bukan karena usaha manusia.

Kita sendiri tidak dapat membuat orang lain menjadi murid Tuhan. Yang dapat kita lakukan adalah mengabarkan Injil dan hidup menurut perintah Tuhan agar orang disekitar kita bisa melihat kasih Tuhan. Penginjilan bisa dan harus kita lakukan, tetapi hanya Tuhan yang bisa “mengkristenkan” seseorang.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Tugas umat Kristen dalam memenuhi Amanat Agung bukanlah memaksa orang untuk menjadi Kristen dan bukan juga untuk menipu mereka, tetapi untuk membagikan kabar baik dan berkat Tuhan kepada mereka yang hidup dalam kekeringan jasmani dan rohani, sehingga dengan bimbingan Roh Kudus mereka mau untuk menjawab “ya”. 

Pagi ini kita belajar tentang makna Amanat Agung yang memberi kita pengertian bahwa:

  • Yesus sudah mati untuk memungkinkan semua orang yang percaya untuk menemukan jalan keselamatan. Karena itu kabar baik harus disebarkan ke seluruh bangsa.
  • Panggilan untuk menginjil ini bukan berarti hanya untuk memberitakan kabar baik, tetapi juga untuk bisa menolong banyak orang agar mau percaya dan diselamatkan.
  • Amanat Agung bukan perintah untuk membawa semua orang di dunia untuk masuk ke surga. Tidak semua yang menerima undangan kasih akan mau atau bisa menerimanya. Tetapi undangan ini harus diberitakan ke seluruh bangsa.
  • Tuhan memberi kesempatan dan kemampuan untuk kita melayani Dia dan menyerahkan hidup kita untuk maksud pelebaran kerajaanNya. Terserah kepada kita untuk menerima panggilanNya.
  • Kita memerlukan petunjukNya untuk menentukan saat dan tujuan kita dalam mengabarkan injil. Tugas ini bukan untuk membuat kekacauan dalam masyarakat. Sebaliknya, itu adalah tugas dalam kasih, untuk memberitakan Injil kabar baik. 
  • Dalam menjalankan Amanat Agung kita harus bersandar kepada Tuhan. Karena itu, jangan mengutamakan keberhasilan kita atau menguatirkan kegagalan. Kita tidak boleh menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.
  • Tuhan yang bekerja untuk membuka hati dan pikiran orang-orang yang kita injili. Kita sendiri tidak dapat membuat orang percaya. Tuhan saja yang bisa membuat mereka bertobat dan menerima anugerah keselamatan. Kita hanya dapat berdoa agar Tuhan menunjukkan kasihNya kepada banyak orang.

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah 1: 8

Sombong banget sih?

“Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14: 6

Banyak orang yang memandang orang Kristen sebagai orang yang sombong. Bagaimana tidak? Mereka yakin sudah diselamatkan tanpa harus berbuat baik atau berkurban. Bahkan mereka yakin bahwa di luar iman kepada Yesus tidak ada jalan keselamatan. Seringkali dengan hidup yang kocar kacir mereka percaya bahwa Tuhan lebih mencintai mereka daripada orang lain yang hidupnya kelihatan baik. Lebih-lebih lagi mereka sering mengritik cara hidup dan pola berpikir orang lain, seolah mereka sendiri yang paling benar.

Tuhan orang Kristen juga kelihatan sombong. Sebagai anak tukang kayu, Yesus mengaku sebagai anak Allah,  pemberi hidup kekal, satu dengan Allah, pengampun dosa, roti kehidupan, gembala yang baik dll. Malahan sebagai pria berumur 30an, Ia berani mengaku bahwa Ia sudah ada sebelum Abraham! 

Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Yohanes 8: 58

Di luar berbagai klaim yang dibuat Yesus, jumlahnya ada 20an, masih ada satu pernyataanNya yang seringkali membuat orang lain jadi naik pitam dan sebagian orang Kristen terdiam dalam keraguan. Itu semua gara-gara Yesus pernah berkata dalam Yohanes 14: 6 bahwa tidak ada seorangpun yang bisa ke surga kalau tidak melalui Dia!

Hal-hal diatas seringkali membuat dilema buat orang Kristen. Pada satu pihak, mereka diperintahkan untuk mengabarkan Injil ke seluruh penjuru dunia (Matius 28: 19-20), tetapi pada pihak yang lain mereka juga diajarkan untuk hidup damai dengan semua orang (Roma 12: 15-18). Karena itu, dalam masyarakat yang menganut paham pluralisme, seringkali umat Kristen terdesak untuk menerima kenyataan bahwa tiap orang punya jalan  ke surga yang berbeda-beda. 

Bermula dengan usaha untuk toleransi, sekarang dalam masyarakat berkembang suatu tren dimana gereja, keluarga dan manusia yang berpandangan “modern” menerima paham bahwa manusia bisa mencapai Tuhan dengan cara apapun yang dipandang baik oleh masyarakat umum.

Dalam kenyataan masa kini, banyak bertumbuh keyakinan universalisme dalam gereja, yang mengajarkan bahwa pada akhirnya Tuhan akan menyelamatkan seluruh umat manusia. Paham semacam juga tumbuh dalam keluarga Kristen yang mulai menerima pernikahan antar agama dan pernikahan antar manusia sejenis. Memang hal ini kelihatannya mencerminkan paham Kristen yang penuh kasih dan kerendahan hati, dan tidak menonjolkan “kesombongan” Yesus dan pengikutNya waktu itu.

Sebenarnya apa yang bisa kita lihat dari Yesus dengan kelahiranNya dan cara hidupNya waktu itu, menunjukkan gaya hidup yang rendah hati. Jika pemimpin dunia yang lain muncul dengan segala kemegahan dan kekayaan, Yesus dan pengikutNya tidak mempunyai rumah (Lukas 9: 58). Ia juga pernah mengatakan bahwa orang tidak perlu ragu untuk mendekatiNya, karena Ia sabar dan tidak menyombongkan keAllahanNya. Ia hanya bermaksud untuk memberikan kesempatan bagi semua orang untuk hidup bahagia – sekarang dan selamanya.

“Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Matius 11: 29

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai pengikut Kristus, kita berkewajiban untuk meneruskan apa yang dikatakan oleh Yesus. Kita tidak boleh mengurangi atau mengubah pernyataanNya hanya untuk bisa menghindari salah paham dengan orang lain, karena Yesus memang adalah Tuhan kita. 

Pada pihak yang lain, kita harus bisa meniru Yesus dengan kesederhanaan, kelemahlembutan dan kerendahan hati yang ditunjukkanNya. Jika hidup kita diisi oleh kasihNya, orang disekitar kita akan juga bisa merasakan adanya ketenangan didalam Dia. Sebagai pengikut Yesus kita harus dengan iman percaya bahwa Tuhan tetap bekerja memanggil setiap orang agar memilih jalan yang benar: Yesus.

Buat apa sih berbuat baik?

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4: 17

Satu perbedaan besar antara iman Kristen dan kepercayaan yang lain adalah dalam hal berbuat baik. Dalam kepercayaan lain,  berbuat baik, memberi sedekah dan sesajen mungkin dianggap bisa menyelamatkan manusia dari murka Tuhan di dunia. Agama lain juga ada yang menekankan bahwa berbuat kebaikan, terutama untuk sesama, adalah penting untuk menjamin tempat di surga. Selain itu diajarkan pula bahwa makin banyak amal sedekah kita, makin enak hidup kita di surga.

Agama Kristen memang berbeda karena iman kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci tidak memungkinkan manusia berbuat baik untuk menghindari murka Allah atas dosa manusia. Hanya melalui pengurbanan Yesus kita bisa diselamatkan. Selain itu, karena Allah itu mahabesar dan mahakaya, persembahan yang kita berikan tidaklah berarti apa-apa untukNya. Jika kita terpilih oleh panggilan kasihNya, kita akan bersama Tuhan di surga dan menikmati segala kemuliaan surgawi yang ada di sana. Tuhan menghendaki persembahan hidup kita dan bukannya persembahan materi. Persembahan materi kita hanyalah untuk menyatakan rasa syukur dan melambangkan penyerahan hidup kita kepada Tuhan.

Karena perbuatan baik manusia itu seolah tidak dipentingkan dalam iman Kristen, banyak orang Kristen yang kurang bersemangat untuk berbuat baik. Bagi mereka, asal tidak berbuat jahat sudah cukup. Pokok tidak ikut-ikutan berbuat dosa, cukuplah!  Biarkan orang lain berbuat dosa, kita tidak perlu ikut campur! Jangan ikut-ikutan berusaha menegakkan hukum dan keadilan karena resikonya besar.

Dalam sejarah dunia, memang ada orang yang heran dan kagum melihat adanya orang-orang Kristen yang berjuang keras untuk berbuat baik dalam melayani gereja dan masyarakat, menegakkan keadilan sosial dan hukum, memajukan kesehatan dan pendidikan dsb. Tetapi mungkin ada juga orang yang mencemooh orang Kristen yang demikian dan menuduh mereka itu sekadar mencari keuntungan untuk diri mereka sendiri.

Ayat bacaan kita diatas jelas mengatakan bahwa jika kita tahu bagaimana harus berbuat baik tetapi tidak melakukannya, kita berdosa. Ini pernyataan yang berat dan tajam. Sudah tentu, setelah Tuhan menggerakkan hati kita untuk menerima anugerah keselamatan, mata kita dicelikkan sehingga kita bisa membedakan apa yang baik dari apa yang jahat. Kita sadar bahwa mencuri misalnya, adalah perbuatan jahat, dan memberi adalah perbuatan baik. Sebagai orang yang sudah bertobat, kita mungkin sudah berhenti berbuat jahat, tetapi belum sepenuhnya merasa terpanggil untuk berbuat baik. Seringkali kita berpikir bahwa ada orang-orang lain yang ditentukan Tuhan untuk berbuat baik dan menjadi pejuang-pejuang Kristen. Kita sendiri cukup menjadi orang Kristen biasa….

Pagi ini kita diingatkan bahwa Tuhan menciptakan seisi dunia ini dengan maksud agar semuanya indah dan baik. Manusia diciptakanNya untuk hal-hal yang baik, untuk memuliakan Tuhan; tetapi karena dosa, manusia tidak lagi dapat memenuhi tugas Ilahi itu. Hanya melalui darah Kristus, kita bisa menjadi ciptaan baru. Sebagai ciptaan baru, panggilan untuk berbuat baik itu diteguhkan kembali.

Menjadi ciptaan baru dalam Tuhan bukanlah hal yang remeh. Adalah sebuah ironi jika kita mau mengaku dosa, bertobat dari hidup lama kita dan menerima hidup baru, tetapi mengabaikan perintah Tuhan untuk berbuat baik. Sangat menyedihkan kalau orang Kristen dapat tidur lelap setelah menyaksikan kejahatan dan penderitaan yang terjadi atas diri orang lain. Hidup baik dengan aktif berbuat baik untuk Tuhan dan sesama adalah ciri manusia yang sudah dilahirkan kembali!

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 27

Kita paham kalau bisa salah paham

“Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.” Roma 12: 10

Bayangkan jika anda memiliki sifat mahatahu dan mahabijaksana. Apapun yang dilakukan orang lain terhadap anda, anda tahu sebabnya dan anda bisa mengerti apa tujuannya. Anda tidak perlu menduga-duga, curiga atau salah paham. Baik atau buruk perangai orang, anda tahu semuanya. Jadi salah paham tidak perlu terjadi.

Kesalahpahaman adalah masalah yang  menyedihkan tetapi sering terjadi karena keterbatasan manusia. Kita sering tidak atau kurang mengerti keadaan, sifat dan cara hidup orang lain dan karena itu kita hanya dapat menduga-duga. Seringkali, dugaan kita menimbulkan prasangka, kecurigaan, kekuatiran, ketakutan dan bahkan kebencian. Ini bukan saja terjadi di dalam masyarakat dan negara, tetapi juga di antara anggota keluarga dan gereja. Seringkali masalah ras, agama dan suku juga dimulai dengan kesalahpahaman. Sebagai akibatnya,  pertikaian, perkelahian dan peperangan bisa terjadi.

Apa solusi salah paham menurut Alkitab? Solusi yang bisa kita baca dari ayat diatas kelihatannya terlalu sederhana: kasih. Jika kita mempunyai kasih dan rasa hormat, kesalahpahaman tidak akan bertumbuh menjadi sesuatu yang tidak terkontrol. Penyelesaian yang terlalu simplistik menurut anda?

Salah paham tidak bisa sepenuhnya dihindari atau dihilangkan dalam keluarga, masyarakat, agama dan negara.  Ini yang harus kita pahami, bahwa salah paham itu adalah bagian dari kehidupan manusia sekalipun mungkin kita tidak menyadarinya. 

Memang dengan kemajuan pendidikan, kesadaran sosial, etika dan hukum manusia bisa lebih terbuka dan toleran satu kepada yang lain; tetapi semua itu ada batasnya. Kebijaksanaan dan pengetahuan manusia dalam bidang apapun adalah terbatas, sekalipun itu datang langsung dari Tuhan. 

“Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.” 1 Korintus 13: 9

Hanya dengan kasih kita bisa mengatasi persoalan yang disebabkan oleh salah paham. Bagaimana itu mungkin? Bukankah sebagai manusia kita juga terbatas dalam kemampuan untuk mengasihi?

Tidak seperti kemampuan manusia yang lain,  kasih itu bisa dan harus berkembang menjadi sempurna dalam diri setiap umat Kristen karena Yesus sudah menunjukkan apa kasih itu. 

“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” 1 Yohanes 4: 18

Karena itulah kita harus paham bahwa salah paham yang menyebabkan kekuatiran dan ketakutan adalah kelemahan manusia yang hanya bisa diatasi oleh kasih yang adalah kekuatan dari Tuhan sendiri.

Pagi ini kita diingatkan bahwa usaha kita untuk menghilangkan kesalahpahaman di antara umat manusia itu ada batasnya. Kita tidak dapat menghilangkan semua salah paham di dunia. Salah paham dalam keluarga dan gereja adalah lumrah. Tetapi kita pasti dapat mengatasi semua akibat salah paham dengan kasih seperti yang ditunjukan oleh Yesus Kristus.

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.” 1 Korintus 13: 4-5

Sudah merdeka mengapa mati?

“Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.”  Roma 8: 2

Dalam masa perjuangan 45, bangsa Indonesia pernah punya semboyan: Merdeka atau Mati! Dalam merayakan hari kemerdekaan bulan Agustus yang baru lalu, semboyan ini banyak bermunculan di berbagai media. Setiap orang tahu makna dan pentingnya semboyan itu dalam sejarah terbentuknya negara Indonesia. 

Dikaji lebih jauh, ternyata semboyan itu tidak sekedar punya arti lebih baik mati daripada tidak merdeka. Kalau dirujukkan pada  iman Kristen, semboyan itu juga punya arti pilihan hidup. Kalau kita tidak bisa hidup dengan kemerdekaan dari dosa maka kita akan menjalani hidup dengan kematian. 

Tuhan Yesus sudah datang ke dunia sebagai  anak Allah dalam rupa manusia yang tidak berdosa. Ia jugalah yang disalibkan untuk menebus dosa manusia. Kita tidak dapat dengan usaha sendiri membebaskan diri dari belenggu kematian, tetapi karena darah Kristus kita dapat memperoleh kemerdekaan dari hukuman dosa dan hukuman kematian. Kita telah dimerdekakan dan karena itu tidak perlu menjalani kematian abadi.

Seperti perjuangan kemerdekaan suatu bangsa, perjuangan kita untuk mencapai kemerdekaan dari belenggu kematian menuntut pengorbanan besar. Tetapi, berbeda dengan kemerdekaan suatu bangsa, itu bukannya karena usaha kita, melainkan anugerah Allah semata. Kita bukanlah pahlawan kemerdekaan jiwa kita. 

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”  Efesus 2:  8-9.

Kemerdekaan bangsa adalah sesuatu yang sangat berharga di mata manusia. Kemerdekaan yang dibayar dengan darah para pejuang. Begitu juga kemerdekaan dari hukum dosa seharusnya adalah sesuatu yang sangat berharga di mata orang Kristen  karena dibayar dengan darah Kristus. Benarkah begitu?

Adalah kenyataan bahwa banyak orang Kristen yang sesudah menerima kemerdekaan dari Kristus justru menjadi apatis dan malah mundur dari imannya. Mereka merdeka, tetapi memilih untuk mati rohani atau mati suri dalam menjalankan perintah Tuhan dalam hidupnya.  Mereka mengabaikan ajakan Paulus untuk tidak kendor dalam melayani Tuhan:

“Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” Roma 12: 11-12

Pada pihak yang lain, ada orang yang merasa bahwa predikat Kristen sudah cukup untuk membuktikan bahwa mereka adalah orang percaya. Mereka mungkin puas dengan adanya harapan untuk menjadi warganegara kerajaan surgawi. Tetapi mereka tidak sadar bahwa tidak semua orang yang berseru: Merdeka! adalah orang yang benar-benar mau dan sudah dibebaskan dari belenggu dosa.

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Pagi ini, marilah kita mengevaluasi hidup kita. Jika memang kita sudah menerima Yesus sebagai juruselamat kita, kita tidak boleh lalai dalam menjalankan amanat kasihNya. Tetapi jika kita memang belum bisa menjalani hidup dalam terangNya, masih ada kesempatan untuk kita bertobat dan dimerdekakan dari hukum dosa dan hukum maut. Merdeka atau mati?

“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin. Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” Matius 24: 12-13

Apakah Tuhan tetap menyertai sekalipun kita hidup dalam dosa?

“Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” Ibrani 13: 8

Dalam hidup ini terkadang kita merasa segala sesuatu berjalan lancar dan mulus. Keuangan baik, kesehatan baik, keluarga harmonis, anak cucu pun sehat. Kitapun merasa lega, merasa bahagia. Tuhan itu baik! Terima kasih Tuhan, karena Engkau adalah Tuhan yang pemurah!

Namun ada kalanya hidup ini tidak seindah yang diharapkan. Ekonomi kacau, bisnis mundur, kesehatan terganggu, keluarga menghadapi berbagai persoalan. Pikiran kita jadi suram, hatipun merasa sedih: mengapa ini harus terjadi? Adakah sesuatu yang aku perbuat yang menyebabkan hal ini? Apakah Tuhan sedang marah kepadaku?

Kesadaran akan adanya Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci memang mungkin bisa membawa berbagai  reaksi. Dalam keadaan bahagia, kita bisa bersyukur. Tetapi dalam keadaan sulit, mungkin kita meragukan kasih Tuhan. Malahan dalam situasi yang sangat gawat, sering manusia merasa Tuhan itu jauh. Dan  ada kalanya kita merasa bahwa Tuhan itu kejam, tetapi sebagai manusia berdosa dan lemah kita hanya bisa menerima kenyataan itu dan hidup tanpa harapan.

Apakah Tuhan tetap menyertai sekalipun kita hidup dalam dosa? Apakah Tuhan hanya menyertai mereka yang imannya besar dan hidup tak bercela? Pertanyaan ini harus dijawab dengan pengertian dasar bahwa mereka yang memilih untuk mengikut Kristus harus meninggalkan hidup lamanya dan tidak melakukan dosa yang biasa dilakukannya. Karena itu, mereka yang tetap bertahan dalam dosa harus meneliti hidup mereka dan berdoa agar Tuhan memberi mereka kemampuan untuk bisa benar-benar menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka.

Sebagai umatNya, hidup kita seharusnya berubah hari demi hari untuk menjadi makin serupa dengan Yesus. Roh Kudus bekerja dalam hidup kita memperbaharui hati dan pikiran kita. Tetapi jika hidup kita masih terlalu sibuk dengan berbagai kesibukan duniawi, pembaharuan hidup kita akan mengalami kelambatan dan kita mudah jatuh kedalam dosa, termasuk dosa lama. Itu adalah kesalahan kita sendiri.

Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih. Tetapi Ia adalah Tuhan yang mahasuci. Karena itu, adakalanya ia memperingatkan umatNya untuk kembali ke jalan yang benar. Memang peringatan itu adalah tindakan pendisiplinan yang bisa terasa menyakitkan, tetapi Ia tidak akan memberi sesuatu yang melebihi kekuatan kita (1 Korintus 10: 13).

Apakah Tuhan tetap menyertai sekalipun kita manusia berdosa? Pertanyaan ini lebih mudah dijawab karena penebusan Kristus  memungkinkan  orang yang benar-benar percaya kepadaNya mendapat pengampunan sekalipun dosanya sebesar apapun (Yesaya 1: 18). Selain itu, karena Kristus sudah mati di kayu salib untuk seisi dunia, setiap manusia yang percaya akan terhitung sebagai anak Tuhan sekalipun ia berdosa (Lukas 23: 43). Dalam Yesus tidak ada lagi hukuman:

“Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Roma 8: 1

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai orang percaya, kita tidak dapat hidup dalam dosa lama. Tetapi, selama hidup di dunia kita tetap harus berjuang melawan dosa setiap hari. Adakalanya Tuhan memberi “warning”, memperingatkan kita ketika kita membuat kesalahan, agar kita kembali mendekat kepadaNya. Tetapi, dalam keadaan apapun Yesus yang telah mati di kayu salib sebagai ganti hukuman kita adalah Tuhan yang tidak pernah berubah. Ia adalah gembala kita yang baik, yang menyertai kita selama-lamanya!

Harta surgawi ternyata ada di bumi!

“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” Matius 6: 19-20

Soal mengumpulkan harta dan usaha menjadi sukses adalah masalah yang mungkin sering didiskusikan di kalangan umat Kristen. Ayat diatas menunjuk kepada perintah kepada orang Kristen agar tidak mengumpulkan harta duniawi yang tidak abadi, tetapi sebaliknya mengumpulkan harta surgawi yang kekal. Kepuasan hidup tidak datang dari harta duniawi yang mudah lenyap, tetapi dari harta surgawi yang tidak bisa hilang.

Yesus mengajarkan agar kita mengumpulkan harta di surga tetapi tidak secara langsung menjelaskan harta apa yang dimaksud dan bagaimana cara mengumpulkannya. Karena itu, harta ini mungkin sering digambarkan serupa dengan benda-benda berharga yang pernah kita lihat, tapi lebih indah. Mereka yang mengumpulkan harta surgawi akan hidup dalam kenyamanan di surga. Itu jugalah yang diajarkan banyak agama-agama lain. Benarkah begitu?

Kehidupan di surga tentunya lain dengan kehidupan dunia; kita tidak akan membutuhkan apa-apa untuk hidup disana. Karena itu kita tidak perlu  mencari bekal untuk ke surga karena di rumah Tuhan tentunya segala sesuatu sudah tersedia. Tambahan lagi, untuk mereka yang setia dalam hidup di dunia, ada tersedia karunia khusus di surga (Matius 10: 42). Sekalipun kita bisa mengumpulkan segala yang indah, pastilah itu tidak sebanding dengan apa yang dimiliki Allah di surga (Wahyu 21: 21).

Manusia mencari harta dan kesuksesan di dunia ini sebenarnya dalam usaha untuk mencari kebahagiaan dan kepuasan. Tetapi dari ayat diatas kita tahu bahwa semua itu sia-sia. Untuk mencari kebahagiaan selama hidup di dunia ini kita tidak boleh menggantungkan diri pada harta atau kesuksesan kita, tetapi sebaliknya harus memakai hal-hal itu untuk kemuliaan Tuhan dan untuk mengasihi sesama kita:

“Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Lukas 12: 33-34

Ayat ini jelas menyatakan perlunya untuk kita dalam hidup ini untuk melepaskan diri dari belenggu harta dan kesuksesan duniawi agar hati dan hidup kita siap untuk dipusatkan kepada Tuhan. Agar kita dapat memperoleh kebahagiaan yang langgeng.

Harta dan kesuksesan tidaklah abadi, tetapi pengaruhnya bisa sangat besar dalam hidup kita. Harta dan kesuksesan duniawi bisa datang sebagai berkat Tuhan, tetapi juga bisa menjadi penguasa hati dan hidup kita. Harta dan kesuksesan bisa dipakai untuk memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama, tetapi juga bisa menjauhkan kita dari Tuhan dan sesama. Harta duniawi adalah hati yang diisi kerakusan dan ketamakan. Tetapi harta surgawi adalah hati yang diisi rasa syukur kepada Tuhan dan kasih kepada sesama manusia.

Pagi ini, tantangan untuk kita adalah bagaimana kita bisa mengubah sikap dan pandangan kita terhadap harta dan kesuksesan di dunia ini. Selama harta dan kesuksesan duniawi mengontrol hidup kita, kesempatan untuk mengumpulkan harta surgawi dalam bentuk hati yang penuh rasa syukur kepada Tuhan dan kerinduan untuk memuliakan namaNya serta kemauan untuk mengasihi sesama kita tidak akan ada. Akibatnya, kebahagiaan hidup kita di dunia ini akan sulit dicapai. Kita harus sadar bahwa hidup surgawi sudah bisa dirasakan oleh semua orang percaya selama hidup di dunia jika saja mereka mau membiarkan Tuhan untuk menguasai hati dan pikiran mereka! 

Siapa pernah ke surga?

“Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.” 1 Korintus 13: 12

Sering kita mendengar ungkapan yang menyatakan bahwa “Surga itu di bawah telapak kaki ibu”. Kata kiasan tersebut mengabarkan betapa kita wajib menaati dan berbakti pada seorang ibu, bila kita ingin meraih surga.


Dalam lingkungan Kristen, kata kiasan ini tidak populer. Walaupun demikian, masalah ke surga itu sangat menarik untuk semua orang Kristen. Dalam Alkitab, sejak mulanya dinubuatkan bahwa Yesus akan datang dari surga ke dunia untuk menyelamatkan mereka yang percaya. Surga sebenarnya ada dibawah telapak kaki Yesus.

“Siapakah yang naik ke sorga lalu turun? Siapakah yang telah mengumpulkan angin dalam genggamnya? Siapakah yang telah membungkus air dengan kain? Siapakah yang telah menetapkan segala ujung bumi? Siapa namanya dan siapa nama anaknya? Engkau tentu tahu!” Amsal 30: 4

Karena Yesus sudah mengalahkan maut, kita wajib menaati dan berbakti  kepadaNya, bila kita ingin meraih surga.

Karena hanya Yesus yang pernah turun dari surga untuk hidup di dunia dan kembali ke surga untuk dipermuliakan di sebelah kanan Allah Bapa, tidak ada seorangpun di dunia ini yang tahu bagaimana keadaan di surga dengan sepenuhnya.  Memang ada beberapa nabi dan rasul yang pernah melihat surga, seperti Daniel, Paulus dan Yohanes; tetapi apa yang mereka lihat adalah sebuah cuplikan yang terbatas dan tidak sempurna. Apalagi, penglihatan dan pengalaman seperti yang tertulis itu tidaklah mudah untuk menafsirkannya. 

Sangat menarik bahwa Paulus menyebutkan penglihatan surgawi yang dialaminya, yang mungkin sehubungan dengan peristiwa dimana ia hampir mati dirajam di Listra, tanpa pernah memakainya untuk menjadi dasar penginjilannya. Ia tidak mau menjadikan hal-hal itu untuk suatu yang bisa membuat jemaat meninggikan dia sebagai orang yang “istimewa”. Memang surga bukan di bawah telapak kaki Paulus.

“Sebab sekiranya aku hendak bermegah juga, aku bukan orang bodoh lagi, karena aku mengatakan kebenaran. Tetapi aku menahan diriku, supaya jangan ada orang yang menghitungkan kepadaku lebih dari pada yang mereka lihat padaku atau yang mereka dengar dari padaku.” 2 Korintus 12: 6.

Lalu bagaimana pula dengan adanya orang-orang Kristen yang mengaku bahwa mereka sudah pernah ke surga dan bahkan menjumpai Tuhan? Ini hal sensitif yang sering diperbincangkan umat Kristen. Sepanjang sejarah gereja, ada orang-orang yang mengaku pernah diangkat ke surga, melihat keadaan di surga dan berbincang-bincang dengan Tuhan. Umumnya mereka mengalami penglihatan, mimpi atau kejadian lain, dimana mereka dipisahkan dari keadaan nyata yang disekelilingnya. Pengalaman mereka seringkali disampaikan dari mimbar gereja atau melalui buku yang mereka tulis. Sebagian dari mereka menjadi orang yang sangat terkenal dan mempunyai banyak pengikut yang mungkin mempunyai pengalaman serupa.

Memang lumrah kalau umat Kristen ingin tahu bagaimana keadaan di surga. Pengharapan kita adalah untuk melihat kemegahan surga dan untuk bertemu dengan Tuhan setelah usai tugas kita didunia. Jadi pengalaman-pengalaman itu memang berguna untuk mereka yang mengalami sendiri dan orang-orang lain yang  tertarik akan fenomena spiritual. Tetapi ada orang-orang yang mempertanyakan apakah hal-hal seperti itu adalah benar-benar dari Tuhan sendiri. Mereka juga mempertanyakan motivasi pemberitaan itu. Tentunya kita tahu bahwa Tuhan dulu menyatakan hal-hal semacam itu hanya kepada orang tertentu yaitu nabi dan rasul dan semuanya sudah tertulis dalam Alkitab.

Suatu hal lain yang menarik perhatian adalah bahwa fenomena penglihatan surgawi di jaman ini dialami bukan hanya oleh orang Kristen. Orang beragama apapun ada yang pernah mengalaminya. Gejala NDE (near death experience, pengalaman hampir mati) dan OBE (out-of-the body experience, pengalaman keluar dari tubuh) banyak dilaporkan di berbagai media. Gejala- gejala ini semuanya tidak alkitabiah. Apalagi ada praktek OBE yang bisa membuat orang keluar dari tubuhnya dengan melalui ritual tertentu. Selain adanya kemungkinan hubungan hal-hal ini dengan dunia roh, ada juga kemungkinan hubungannya dengan segi psikologis dan medis.

Dalam Alkitab ada tertulis bahwa tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Tetapi, sekalipun kita ingin untuk melihat kebesaranNya,  kita tidak perlu untuk ke surga untuk menjumpaiNya. Dia hidup sebagai Roh dalam diri kita yang percaya.

“Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.” 1 Yohanes 4: 12

Dalam hal ini, jika kita mendengar kesaksian mereka yang pernah ke surga dan berjumpa dengan Allah dan malaikatNya, ada beberapa pertanyaan yang harus kita pikirkan, antara lain:

  • Apakah mereka yang mengalami pengalaman itu benar-benar anak Tuhan?
  • Apakah kesaksian mereka itu untuk memuliakan Tuhan atau diri sendiri?
  • Apakah isi kesaksian itu sesuai dengan isi Alkitab dan bukan mencari sensasi?
  • Apakah pengalaman itu dipakai sebagai alat utama untuk menginjil?
  • Apakah orang datang ke gereja hanya karena terrarik akan hal-hal semacam itu?

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai orang beriman kita harus memakai Alkitab sebagai pernyataan kebenaran Tuhan. Bahwa Firman Tuhan harus menjadi pokok satu-satunya untuk penginjilan. Sebagai orang Kristen kita ke gereja bukan untuk mendengarkan pengalaman pribadi seseorang, tetapi untuk mendengar firman Tuhan. Tidak ada seorangpun yang bisa menganggap dirinya lebih istimewa dari yang lain di hadapan Allah. Melalui penebusan darah Kristus semua orang percaya menjadi anak-anak Allah yang bisa memanggil Tuhan sebagai Bapa yang di surga. Marilah kita kembali berpegang kepada Injil kebenaran seperti yang dinyatakan dalam Alkitab! 

Belajar dan bekerja sampai mati

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” Mazmur 119: 105

Adalah suatu yang menarik bahwa semua mahluk di dunia ini selalu bekerja dalam hidup mereka. Tetapi, sangat mengherankan bahwa hanya manusia yang perlu belajar untuk melakukan atau mengerjakan segala sesuatu. Manusia tidak bergantung kepada nalurinya, tetapi pada otaknya. Manusia perlu belajar dari yang lain dan mengajar orang lain. Belajar dan mengajar. Learning and teaching. Belajar dan bekerja. Learning and working.

Berapa lama manusia ini harus belajar dalam hidupnya? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Untuk pendidikan formal, mungkin suatu negara menargetkan setidaknya semua penduduk bisa lulus SMP atau SMA. Untuk menjadi sarjana S-1 mungkin perlu belajar lagi 3-5 tahun setelah lulus SMA. Belum lagi tambahan pendidikan untuk mencapai S-2  dan S-3. Setelah lulus universitas, banyak orang yang tetap harus belajar untuk memertahankan ijin praktek kerja mereka.

Bagi mereka yang kurang senang belajar, memang keharusan untuk duduk membaca, memikir, mempelajari, membandingkan dan mengingat bahan pelajaran itu terasa berat. Mereka mungkin lebih senang untuk bekerja secepat mungkin. Tetapi, dalam bekerja mereka sering juga tetap harus belajar dari orang disekelilingnya dan juga dari pengalamannya.

Sebagai orang Kristen, semua orang pernah belajar firman Tuhan. Sebagian diantara kita mungkin pernah menerima paket ringkas pengenalan tentang Allah, Yesus dan keselamatan, dan kemudian menerima panggilan anugerah Tuhan. Sebagian yang lain harus mempelajari paket lengkap tentang  teologi, perbandingan agama dll sebelum mau percaya kepada Yesus Kristus. Tetapi ada juga yang setelah lama belajar mendalami panggilan keselamatan Tuhan, tetap tidak bisa memilih jalan yang benar.

Banyak orang Kristen yang merasa bahwa hidup itu cukup dengan iman yang sederhana. Asal percaya dan hidup dalam kebenaran, cukuplah. Kalau mereka yang mempelajari Alkitab secara mendalam belum tentu hidupnya baik, mengapa kita harus bekerja keras untuk mendalami firmanNya? Bukankah Yesus jelas-jelas tidak menyukai orang Farisi dan Saduki? Orang Kristen seharusnya mementingkan hidup baik dan menjalankan perintah Tuhan dan tidak menghabiskan waktu untuk mendalami arti firman, begitu mungkin pendapat sebagian orang. 

Sebagai orang Kristen memang kita harus berjalan di jalan yang benar. Hidup kita terus berjalan dan sebagai orang percaya kita harus bisa bekerja untuk memuliakan Tuhan. Memang perbuatan kita bisa dilihat orang lain dengan jelas, jalan yang kita tempuh lebih bisa menyatakan keKristenan kita di dunia ini. Tetapi jika kita mengabaikan kesempatan untuk mendalami apa arti firmanNya, kita akan mudah tersesat ke jalan yang keliru. Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku, begitu pemazmur menulis dalam Mazmur 119: 105. Tanpa memakai pelita Firman, kita akan mudah salah jalan. Tanpa mendalami firman Tuhan, kita akan mudah terperangkap dalam keyakinan semu bahwa hidup kita sudah sesuai dengan perintahNya.

Pagi ini kita diingatkan bahwa selama hidup kita harus mempertahankan kompetensi kita sebagai orang yang sudah diselamatkan. Kita tidak boleh mengabaikan panggilan untuk mempelajari Firman. Untuk bisa hidup benar kita harus lebih bijaksana dari orang dunia. Kita juga harus lebih cerdik dari iblis. Sebagai orang Kristen kita tidak saja harus bekerja di ladangNya, tetapi tetap juga harus mau belajar setiap hari. Belajar dan bekerja,  belajar dan mengajar, adalah tugas kita sampai Tuhan memanggil kita.

“Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus.” Efesus 3: 18