Tuhan melihat apa saja yang terjadi

“Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat.” 1 Petrus 3: 12

Seluruh pengendara mobil di Australia mengerti bahwa pemakaian HP selagi mengemudikan mobil adalah melawan hukum dan bisa didenda ratusan dolar. Walaupun demikian, sejak beberapa tahun terakhir mereka menyadari bahwa bukan saja polisi bisa menangkap mereka ketika mereka sedang melakukan kesalahan itu, tetapi adanya kamera canggih di banyak lokasi, mereka bisa juga didenda sesudah melakukan pelanggaran hukum. Dengan adanya kamera yang bisa merekam nomer plat mobil dan jenis pelanggaran yang dilakukan, seperti tidak memakai sabuk pengaman, menggunakan HP, dan mengemudi sambil makan, ribuan orang setiap bulannya didenda.

Manusia umumnya berani melanggar hukum jika tidak ada sanksinya. Manusia juga tidak segan bertindak bodoh jika tidak ada yang melihat. Manusia bukan saja cenderung untuk berbuat dosa, tetapi sudah dikuasai dosa sejak dilahirkan. Walaupun demikian, umay Kristen percaya bahwa Tuhan yang mahatahu selalu mengawasi setiap benda dan makhluk yang ada di alam semesta. Ayat di atas lebih lanjut menjelaskan bahwa mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat. Tuhan tahu setiap tindakan dan cara hidup manusia.

Dunia ini memang seperti rumah yang besar dan Tuhan adalah pemiliknya. Lebih dari itu, rumah dan semua penhuninya sepenuhnya bergantung kepada pemeliharaan Sang Pemilik. Tuhan tidak pernah berhenti bekerja untuk menjaga rumah itu dan mencukupi kebutuhan penghuninya. Tuhan mencintai seisi rumah itu, dan bahkan sudah memilih sebagian dari penghuninya untuk menjadi anak-anak-Nya.

“Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya” Efesus 1: 5

Memang setiap orang yang bisa merasakan betapa besar kasih Tuhan kepada dunia, dan bisa melihat bagaimana besar kuasa-Nya yang tercerminkan dalam semua yang ada dalam alam semesta, tentunya tidak dapat menolak kenyataan bahwa Ia adalah Tuhan yang harus dihormati dan disembah. Walaupun demikian, selalu ada saja orang-orang yang tidak mau mengenal Tuhan, yang berbuat jahat dalam hidup mereka sehari-hari, atau yang tidak mau hidup untuk memuliakan Tuhan: mereka bukanlah anak-anak Tuhan.

Ayat diatas menunjukkan perbedaan reaksi Tuhan yang memiliki alam semesta ini, terhadap mereka yang menurut perintah-Nya dan mereka yang mengabaikan hukum-Nya. Seluruh umat manusia yang tinggal di rumah besar yang saat ini dinamakan dunia, menerima berkat Tuhan setiap hari, tetapi hanya mereka yang mengasihi-Nya boleh yakin akan pemeliharaan-Nya dalam setiap keadaan. Karena mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong. Tuhan juga memberikan keselamatan kepada mereka yang mau bertobat dan beriman kepada-Nya.

Pagi ini, jika kita merasa dunia ini seperti sudah terbalik dan kita terhimpit dibawahnya, biarlah kita boleh tetap percaya bahwa Tuhan tidak pernah menutup mata telinga-Nya kepada kita yang sudah diangkat-Nya sebagai anak-anak pilihan. Semoga kita tetap bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita hari demi hari. Tuhan yang memiliki dunia ini tidak pernah meninggalkan kita.

“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” Yesaya 41: 10

Mengabarkan Injil melalui karakter kita

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Matius 28: 19

Amanat Agung yang tertulis dalam Matius 28:19 di atas pasti pernah dibaca semua orang Kristen. Istilah “the Great Commission” ini mungkin diperkenalkan oleh seorang penginjil asal Austria, Justinian von Welz (1621–88), dan dipopulerkan oleh Hudson Taylor, hampir 200 tahun sesudahnya.

Dalam ayat di atas, Yesus memberi perintah agar semua bangsa dijadikan murid-Nya. Apa sebenarnya maksud Yesus? Apakah Ia memerintahkan kita untuk mengkristenkan semua manusia di dunia? Apakah Tuhan ingin menyelamatkan semua orang?

Istilah “kristenisasi” adalah istilah yang sensitip bagi orang-orang yang bukan Kristen. Sejarah menunjukkan bahwa berbagai negara pernah mengalami peristiwa buruk ketika agama Kristen mulai diperkenalkan kepada masyarakat. Berbagai cara penginjilan dipakai, termasuk cara-cara pemaksaan dan kekerasan. Di zaman ini, istilah ini sering menimbulkan ketegangan antar agama. Bagaimana sebenarnya posisi kita dalam hal mengabarkan injil?

Dalam Kisah 8: 26-40, seorang sida-sida Etiopia yang sedang dalam perjalanan berkereta kuda ke Yerusalem, mengeluh kepada Filipus bahwa dia tidak mungkin mengerti apa yang dibacanya jika tidak ada orang yang menolong. Filipus yang dengan petunjuk Tuhan dapat bertemu dengan sida-sida itu, kemudian memperoleh kesempatan untuk duduk berdampingan dalam kereta kuda dan menjelaskan arti firman Tuhan sehingga sida-sida itu akhirnya bisa mengerti dan minta untuk dibaptiskan. 

Filipus memang sudah menjalankan perintah Yesus dalam Matius 28:19 di atas. Tetapi, tanpa Roh Kudus segala sesuatunya akan sia-sia. Filipus membutuhkan Roh Kudus untuk memilih jalan tertentu yang memungkinkan ia bertemu dengan sida-sida itu. Roh Kudus jugalah yang membuat Filipus dapat berkomunikasi dengan sida-sida itu. Dan Roh jugalah yang membimbing sida-sida itu dan membuka hati dan pikirannya sehingga ia percaya dan mau dibaptiskan.

Apa yang menumbuhkan jumlah orang percaya adalah adanya banyak orang yang seperti Filipus dan sida-sida Etiopia, mau mendengarkan suara Tuhan dalam hidupnya dan membuka hidupnya agar Roh Kudus bisa bekerja dengan bebas. Dengan kata lain, manusia dapat menjadi murid Tuhan sebenarnya bukan karena usaha manusia. Inilah prasyarat pertama untuk pengaruh spiritual, yaitu bekerjanya Roh Kudus dalam diri orang pilihan Tuhan.

Kita sendiri tidak dapat membuat orang lain menjadi murid Tuhan. Yang dapat kita lakukan adalah mengabarkan Injil dan menjalani hidup menurut perintah Tuhan agar orang di sekitar kita bisa melihat kasih Tuhan. Penginjilan bisa dan harus kita lakukan, tetapi hanya Tuhan yang bisa “mengkristenkan” seseorang. Tugas umat Kristen dalam memenuhi Amanat Agung bukanlah memaksa orang untuk menjadi Kristen dan bukan juga untuk menipu mereka, tetapi untuk membagikan kabar baik dan berkat Tuhan kepada mereka yang hidup dalam kekeringan jasmani dan rohani, sehingga dengan bimbingan Roh Kudus mereka mau untuk menjawab “ya”. Hanya mereka yang mau menerima uluran tangan Tuhan bisa diselamatkan.

Lalu bagaimana kita bisa secara efektif menyampaikan Injil, kabar baik tentang penyelamatan manusia yang berdosa?

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Karakter adalah prasyarat kedua untuk pengaruh spiritual. Setiap manusia diciptakan menurut gambar Tuhan, dan secara naluriah dan dalam keterbatasan mereka, menghargai sifat-sifat karakter Tuhan yang merancang kita – bahkan bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan. Umat manusia secara universal menghargai buah Roh: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri” (Galatia 5:22-23). Pada zaman Yesus, banyak orang yang ditolak oleh para pemimpin agama kemudian tertarik kepada Yesus karena Ia mewujudkan karakteristik ini. Sampai hari ini, karakter seperti yang Yesus miliki masih menarik perhatian dan mengundang rasa hormat masyarakat.

Orang non-Kristen memerhatikan kegembiraan kita ketika kita bekerja, kedamaian kita di tengah kekecewaan, dan keanggunan dan kerendahan hati kita terhadap orang-orang yang menguji kesabaran kita. Sayangnya, karakter semacam ini sering terasa kurang terlihat dalam hidup kita yang dituntut untuk menunjukkan karakter Yesus kepada dunia. Pada tahun 2013, ada survei yang mempelajari kemunafikan di kalangan orang Kristen. Di antara mereka yang mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Kristen, penelitian berdasarkan daftar sikap dan tindakan yang dipilih untuk diri sendiri menemukan bahwa 51 persen menggambarkan diri mereka lebih seperti orang Farisi (munafik, merasa benar sendiri, menghakimi) dibandingkan dengan hanya 14 persen yang mencontoh tindakan dan sikap Yesus (tanpa pamrih, empati, kasih dan lain-lainnya). Kekurangan umat Kristen inilah yang bisa menghambat usaha penginjilan. Mengapa demikian? Teolog terkenal C.S. Lewis menjelaskan masalahnya:

Ketika kita orang Kristen berperilaku buruk, atau gagal berperilaku baik, kita membuat kekristenan tidak dapat dipercaya oleh dunia luar. … Kehidupan kita yang ceroboh membuat dunia luar berbicara; dan kita memberi dunia sebuah alasan untuk berbicara dengan cara yang meragukan kebenaran kekristenan….”

Jika kata-kata kita berarti bagi orang lain, kata-kata itu harus mengalir dari kehidupan yang berintegritas. Jika tidak, perbuatan dan kata-kata kita akan diwarnai dengan kesombongan atau kebohongan. Sebaliknya, ketika orang melihat bahwa kita tidak hanya berpose, tetapi dengan rendah hati berusaha menjalani kehidupan yang berintegritas, mereka akan memperhatikan pesan kita.

Orang-orang juga memerhatikan apa yang akan kita lakukan ketika kita gagal dalam menjalani tes integritas. Dalam hal ini, apakah kita mau mengakui bahwa kita tidak sepenuhnya memiliki integritas sebagai anak Tuhan? Mungkin yang lebih penting daripada memperbaiki keadaan adalah mengakui bahwa kita sering melakukan kesalahan, mencari pengampunan, dan menebus kesalahan kita kepada mereka yang kita lukai. Salah satu elemen karakter yang paling menarik adalah kerendahan hati untuk menerima bahwa kita bukanlah manusia yang sempurna atau manusia yang paling bijaksana.

Memang, sering kali sebagai orang Kristen kita berperilaku seolah-olah kita yang sudah lahir baru memiliki segalanya untuk diberikan kepada orang non-Kristen yang belum menerima apa pun dan sama sekali rusak karakter dan moralnya (totally depraved). Karena itu, banyak orang mungkin merasa malu untuk mengakui kelemahan atau memperlihatkan kekurangan apa pun yang bisa merendahkan pamor kita. Pada pihak yang lain, ada juga orang Kristen yang merasa bahwa mereka tidak perlu malu dengan segala kekurangan dan cara hidup mereka yang kacau karena mereka yakin sudah terpilih. Kedua sikap ini tentunya keliru, untuk tidak dikatakan munafik!

Hidup sebagai saksi Kristus tidaklah mudah. Rasul Yakobus menulis bahwa imat adalah mati jika tidak disertai perbuatan (Yakobus 2: 17). Tetapi, berbuat baik saja tidak cukup untuk mmberitakan injil. Kita harus mempunyai sesuatu yang menarik dalam karakter kita. Dalam hal ini, yang terutama adalah kemampuan kita untuk mengakui kegagalan dan kehancuran, yang merupakan karakter yang sangat menonjol dalam masyarakat dan budaya di sekitar kita. Orang perlu mencium aroma manis kehadiran Yesus dalam karakter kita, yang paling nyata terlihat melalui karakter rendah hati yang Dia ciptakan dalam diri kita. Itu tidaklah mudah untuk dipraktikkan. Kita tidak dapat memperlihatkan karakter yang baik kepada dunia jika Roh Kudus tidak bekerja sepenuhnya dalam hidup kita.

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah 1: 8

Orang Kristen mempunyai musuh yang tidak terlihat

“Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” Efesus 6: 12

Pernahkah anda menonton film perang? Sebagai penggemar film, ada banyak film perang dari segala zaman yang pernah saya tonton. Dalam beberapa film perang, misi sebuah regu tentara seringkali adalah untuk mencari tentara musuh dan menghancurkan mereka (search and destroy). Yang membuat penonton jadi tegang ialah adegan dimana tentara musuh yang semula tidak terlihat, tiba-tiba muncul dan menyerang. Di zaman sekarang, dengan kemajuan teknologi serangan musuh bukan hanya muncul dalam bentuk tentara dengan berbagai ragam senjata, tetapi juga datang dari udara dan laut dengan berbagai bentuk yang sulit dideteksi. Memang sulit untuk menghadapi musuh yang pandai berkamulflase seperti bunglon, apalagi menghadapi musuh yang datang dan pergi seperti setan.

Ayat diatas mengingatkan semua orang Kristen bahwa dalam hidup ini mereka harus berjuang untuk bisa tetap setia kepada Tuhan. Di banyak negara, hidup orang Kristen mirip dengan hidup mereka yang dalam peperangan karena adanya bahaya yang mengancam dari orang-orang yang membenci mereka. Sebagian orang Kristen yang lain memang hidup di daerah dimana perang ada. Dan ada juga masyarakat Kristen yang harus hidup dalam persembunyian karena pemerintah setempat melarang mereka untuk melakukan kegiatan agama. Hidup sebagai laskar Kristen memang tidak mudah.

Pada pihak yang lain, ada banyak orang Kristen yang hidup dalam kemakmuran di negara yang menjamin kebebasan beragama. Hidup mereka nampaknya bahagia dan serba berkecukupan, untuk tidak dikatakan berlebihan. Mungkin dalam berdoa mereka tetap ingat untuk memohon kekuatan, kecukupan dan perlindungan dari Tuhan untuk orang lain yang berada dalam penderitaan, tetapi untuk mereka sendiri tentunya mereka sering minta agar Tuhan membuka tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepada mereka sampai berkelimpahan.

Sesungguhnya, hidup dalam kelimpahan dan kenyamanan bukan berarti tanpa bahaya. Mereka yang terbuai dalam suasana damai, aman dan nikmat, sering lupa bahwa iblis selalu mengintai untuk mencari kesempatan menyerang. Iblis bagaikan singa, akan menyerang mereka yang tidak berjaga-jaga. Hidup sebagai umat Tuhan bukannya berrarti bahwa kita tidak perlu berwaspada karena Tuhan yang sudah memanggil kita, akan melindungi kita sehingga kita tidak bisa jatuh. Hidup sebagai umat Kristen sejati bukannya bebas dari tugas untuk berjaga-jaga karena kita sudah menerima pengampunan.

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” 1 Petrus 5: 8

Pagi ini kita diingatkan bahwa hidup yang terasa tenteram tidak boleh menyebabkan kita lengah. Jika mereka yang hidup dalam kekurangan bisa jatuh kedalam keputusasaan dan dosa, mereka yang hidup dalam kecukupan bisa jatuh kedalam ketamakan, kesombongan dan dosa. Iblis ingin menghancurkan hidup setiap orang percaya dalam keadaan apapun. Mereka yang tidak waspada, jarang membaca firman, acuh tak acuh dalam menghadapi tugas dan kewajiban orang beriman, dan tidak mempunyai komunikasi yang baik dengan Tuhan sudah pasti akan menjadi mangsa yang empuk.

Iblis bukannya muncul dalam bentuk yang selalu terlihat jelas atau menjijikkan, karena jika demikian manusia akan mudah menghindarinya. Iblis justru muncul dengan berbagai bentuk kamulflase indah yang membuat kita tidak awas dan kemudian terkecoh. Ayat pembukaan kita menyatakan bahwa dengan bimbingan dari Roh Kudus, kita harus sadar bahwa perjuangan kita bukanlah melawan hal-hal yang mudah dilihat dan dirasakan, tetapi melawan melawan roh-roh jahat di udara. Sadarlah dan berjaga-jagalah!

“Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis” Efesus 6: 11

Kesibukan orang Kristen sejati

Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” Lukas 10: 41 – 42

Baru saja tahun baru, sekarang bulan Februari hampir berlalu. Saya yakin jika bulan Juli datang, banyak orang yang akan berkata “tak terasa setengah tahun sudah berlalu”. Memang dengan kesibukan hidup, hari berlalu dengan cepat dan usia pun bertambah tanpa terasa. Memikirkan hari-hari yang telah lalu atau tahun-tahun yang sudah silam, terkadang saya merenung. Seperti pemazmur dalam Mazmur 102: 11, saya berpikir dalam-dalam: “Hari-hariku seperti bayang-bayang memanjang, dan aku sendiri layu seperti rumput”.

Memang dengan terbatasnya waktu dan umur yang dimiliki manusia, setiap orang tentunya ingin secepatnya mencapai apa yang diharapkan. Selagi masih bisa, manusia harus berusaha. Tetapi, dengan berlalunya waktu terkadang kita merasa adanya kemungkinan bahwa beberapa hal yang kita ingini, mungkin tidak bisa tercapai.  Dengan demikian timbullah berbagai pertanyaan. Jika kita dapat mengulangi hidup kita, apakah kita akan menempuhnya dengan cara yang berbeda atau dengan cara yang sama? Jika kita menempuh hidup yang penuh kesibukan, apakah semuanya itu sudah membawa kepuasan dan keberhasilan?

Jika jujur, semua orang tentunya mengaku adanya cita-cita atau keinginan yang mungkin tidak akan tercapai sampai akhir hayatnya. Sebagian orang mungkin bisa menerima kenyataan itu tanpa menjadi kecewa, tetapi banyak juga orang yang menyesali apa yang terjadi pada masa yang silam. I wish I could do that! Aku sebenarnya ingin seperti itu! Begitulah kata orang yang sedih mengapa orang lain bisa, sedangkan ia sendiri tidak mampu. Walaupun begitu, ada juga orang yang sekalipun pernah kecewa, merasa bahwa semua yang terjadi sudahlah ditentukan Tuhan. Sudah nasib. Karena itu buat apa dipikirkan lagi? I am what I am. Aku adalah sebagaimana adanya.

Dalam ayat diatas, Yesus menegur Marta yang kecewa karena saudaranya, Maria, tidak mau membantu dia mempersiapkan makanan di dapur. Selagi Marta sibuk melayani, Maria duduk dekat kaki Yesus dan sibuk mendengarkan suara Yesus. Marta dalam kesibukannya merasa bahwa waktu-waktu berlalu dengan cepat dan ia  kuatir kalau-kalau ia tidak dapat menangani apa yang perlu dikerjakan. Pada pihak yang lain, Maria sibuk mendengarkan pengajaran Yesus dengan penuh perhatian sehingga waktu berlalu tanpa terasa. Baik Maria maupun Marta mengasihi Yesus, dan mempunyai kesibukan hidup. Bagi keduanya waktu berlalu dengan cepat, tetapi kesibukan yang satu membawa kedamaian sedangkan yang lain membawa kekuatiran dan juga iri hati.

Hari ini, jika kita hidup seperti Marta, mungkin kita bisa melihat adanya saudara-saudara seiman kita yang seperti Maria , terlihat bahagia dan damai hidupnya.  Mereka kelihatannya tidak sibuk dan kurang peduli akan keramaian, kemewahan, kesibukan orang disekitarnya. Mungkin kita bertanya-tanya apa sebabnya. Sangat mudah bagi kita untuk menuduh orang-orang yang sedemikian sebagai orang-orang yang malas, kurang bersemangat atau kurang mau untuk berhasil.  Tetapi, mungkin saja mereka itu adalah orang-orang yang lebih berbahagia daripada kita yang selalu sibuk.  Bagi kita yang selalu sibuk bekerja, sibuk mencari uang, mencari nama, dan mencari kepuasan hidup yang lain, waktu berlalu dengan cepat dan kita bertanya-tanya kemanakah perginya. Seperti Marta yang sibuk melayani, mungkin hidup kita terasa berat. Lebih dari itu, Marta tidak sadar bahwa dari awalnya Tuhan mengharapkan ketaatan manusia kepada Firman-Nya.

Firman Tuhan diatas mengingatkan kita bahwa sudah sewajarnya bahwa manusia mempunyai berbagai kesibukan di dunia ini. Adalah normal jika waktu berlalu dan kita merasa bahwa kita belum atau tidak bisa mencapai target hidup kita. Walaupun demikian, Yesus mengingatkan kita untuk memakai waktu kita dengan bijaksana, agar kita bisa memilih apa yang terbaik untuk hidup kita. Jika kita yakin bahwa kita adalah orang pilihan, bukannya kita boleh melakukan apa saja karena keselamatan kita sudah terjamin. Sebaliknya, kita harus mau untuk membina hubungan yang baik dengan Tuhan dan sesama kita. Kita harus memilih apa yang membawa kedamaian dan kebahagiaan yang sejati, apa yang membuat waktu berlalu dengan cepat, tetapi yang juga membuat kita makin ingin untuk lebih dekat kepada Tuhan selama kesempatan masih ada di dunia.

Siapakah yang akan ditolak Tuhan?

“Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu jug? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7: 22-23

Bagi sebagian orang Kristen, pertanyaan apakah dirinya akan diterima untuk masuk ke surga mungkin terkadang timbul. Menurut sumber-sumber Kristen, mereka yang mementingkan kedaulatan Tuhan, justru sering mempertanyakan apakah mereka memang orang pilihan. Itu karena mereka percaya bahwa manusia tidak mempunyai peran apa pun dalam keselamatan. Sebaliknya, mereka yang menekankan kehendak bebas, sering merasa yakin akan keselamatannya jika cara hidupnya dirasa cukup baik. Dalam hal ini, orang Kristen sering tidak sadar bahwa keselamatan tidak bisa dijamin sekalipun kita yakin sudah dipilih atau yakin sudah sering berbuat baik. Lalu bagaimana kita mendapat keyakinan bahwa kita sudah diselamatkan?

Ayat-ayat di atas sering dikumandangkan di gereja untuk memperingatkan umat Kristen bahwa tidak semua orang yang merasa sudah dipilih atau yang merasa sudah hidup menurut firman akan diselamatkan. Bagaimana bisa begitu? Dikatakan bahwa Tuhan akan menolak mereka dan berkata; Aku tidak pernah mengenal kamu! Ini adalah aneh karena Tuhan yang mahatahu seharusnya tahu dan mengenali setiap umat-Nya.

Jika kita baca lagi ayat-ayat di atas, kita akan bisa mengerti bahwa Tuhan sama sekali tidak kaget dengan adanya orang-orang yang bukan umat sejati. Mengenal dalam hal ini menunjuk pada adanya hubungan erat. Hubungan antara dua pihak sudah tentu melibatkan komunikasi dua arah. Jika seseorang memilih untuk tidak peduli kepada Tuhan, hubungan antara dia dan Tuhan adalah kosong dan karena itu Tuhan tidak menganggap orang itu sebagai umat-Nya.

“Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.” Yohanes 10: 14-15

Ketika Yesus berkata, “Aku tidak pernah mengenalmu,” kepada orang yang berpura-pura percaya, maksud-Nya adalah bahwa Dia tidak pernah mengenali mereka sebagai murid sejati atau sahabat-Nya. Dia tidak pernah memiliki keserupaan dengan mereka atau menyetujui cara hidup mereka. Mereka bukan kerabat-Nya (Markus 3:34–35). Kristus tidak tinggal di dalam hati mereka (Efesus 3:17), dan mereka juga tidak memiliki pikiran-Nya (1 Korintus 2:16). Dalam semua hal ini dan lebih banyak lagi, Yesus tidak pernah mengenal mereka. Perhatikan bahwa Yesus tidak memutuskan hubungan di sini – memang tidak pernah ada hubungan yang harus diputuskan. Yesus bukan oknum yang menyebabkan mereka tidak mau membina relasi. Terlepas dari kata-kata mereka yang muluk-muluk dan semangat keagamaan yang mencolok, mereka tidak mau memiliki keintiman dengan Kristus.

Dalam kata-kata Yesus pada hari penghakiman, kita melihat beberapa kebenaran penting: bukanlah klaim lisan bahwa seseorang mengikuti Yesus yang menyelamatkan (Matius 7:21). Kekristenan nominal, atau sekadar menjadi orang Kristen menurut KTP, atau menjadi anggota gereja tertentu, tidak dapat menyelamatkan. Selain itu, ini bukanlah peragaan wawasan teologi atau kuasa rohani yang menyelamatkan (ayat 22). Seseorang bisa terlihat seperti orang Kristen di mata orang lain, namun tetap menjadi “pelaku kejahatan” di hadapan Tuhan dan dijauhkan dari hadirat-Nya (ayat 23). Hanya mereka yang melakukan kehendak Bapa dan yang dikenal Tuhan yang akan masuk surga.

Kata-kata muram itu “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan” dalam Matius 7:23 justru menunjukkan bahwa Yesus memang mahatahu. Dia tahu apa yang ada dalam hidup dan hati kita. Kecaman Yesaya atas kemunafikan sangat cocok dengan kelompok ini: “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan” (Yesaya 29:13). Pelaku kejahatan yang tidak dikenal Yesus adalah orang-orang Kristen palsu yang bukan pelaku firman. Orang-orang ini tidak pernah Ia kenal, dan tidak akan menghasilkan buah Roh (Galatia 5:22-23); sebaliknya, mereka akan menghasilkan sebaliknya, perbuatan daging (Galatia 5:19-21).

Yesus memperingatkan bahwa suatu hari Dia akan memberi tahu sekelompok praktisi agama, “Aku tidak pernah mengenalmu.” Tuhan tidak senang mengirim orang ke neraka (2 Petrus 3:9). Tetapi mereka yang disuruh pergi telah menolak tujuan dan rencana kekal Allah bagi hidup mereka (Lukas 7:30). Mereka menolak terang Injil (2 Korintus 4:4), memilih kegelapan, karena perbuatan mereka jahat (Yohanes 3:19). Pada penghakiman, mereka mencoba untuk membenarkan diri mereka sebagai layak surga atas dasar perbuatan mereka (nubuatan, pengusiran setan, mujizat, dll.), tetapi tidak seorang pun akan dibenarkan oleh perbuatannya sendiri (Galatia 2:16).

Malam ini, kita harus menyadari bahwa yang terpenting pada akhirnya bukanlah tingkat pengenalan kita akan Tuhan, tetapi apakah Tuhan mengenal kita. Seperti yang dijelaskan Paulus, “Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.” (1 Korintus 8:3). Sudahkah Anda mewujudkan kasih Anda kepada Allah dalam hidup sehari-hari?

Kesuksesan orang beriman

“Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.” Filipi 1: 20

Apa yang ingin Anda capai selama hidup di dunia? Setiap orang tentunya mempunyai jawaban yang berbeda. Sekalipun ada orang yang menjawab bahwa ia adalah orang yang sederhana dan tidak mempunyai cita-cita yang tinggi, ia tentunya ingin menjadi orang yang berbahagia. Mungkin tidak banyak disadari orang, hidup berbahagia adalah suatu cita-cita yang sangat tinggi dan bahkan yang tersulit untuk dicapai. Banyak orang yang sukses dalam segala usahanya, tetapi tidak berbahagia sampai hari kematiannya.

Berapa lama manusia harus hidup untuk bisa mencapai kebahagiaan? Mungkin ada orang yang merasa sudah mencapai kebahagiaan, hanya untuk dikecewakan pada saat mendekati akhir hidupnya. Mungkin orang ingin hidup panjang karena ingin mempertahankan kebahagiaan yang dirasakannya. Mungkin tidak ada orang yang ingin mati setelah merasakan adanya kebahagiaan yang sudah lama dicarinya. Tetapi, ada juga orang yang tidak mau hidup lebih lama lagi karena kebahagiaan yang tidak kunjung datang. Bagaimana dengan diri Anda? Berapa lama Anda ingin hidup di dunia? Kita bisa menmikirkan suatu angka, tetapi sebagai orang Kristen, kita hanya bisa berserah kepada Tuhan yang menentukan saat di mana kita akan bertemu dengan Dia, yang akan memberikan kebahagiaan sejati di surga.

Dari segi kedokteran, umur seseorang umumnya bergantung pada faktor genetika dan lingkungan. Ada bangsa-bangsa tertentu, seperti bangsa Jepang, yang sejak dulu terkenal berumur panjang. Sebaliknya, ada juga bangsa yang mudah terkena penyakit tertentu, seperti diabetes, yang disebabkan oleh faktor genetika. Walaupun demikian, faktor lingkungan juga besar pengaruhnya. Mereka yang hidup sehat dalam lingkungan yang baik, biasanya bisa mempunyai umur yang lebih panjang dari mereka yang serumpun tetapi lingkungan hidupnya kurang sehat atau kurang aman.

Bagi banyak manusia kematian adalah sesuatu yang menakutkan karena mereka tidak tahu apa yang akan terjadi sesudahnya, baik bagi dirinya maupun keluarganya. Dengan demikian, adalah suatu yang lumrah jika orang tidak ingin cepat mati, tetapi sebaliknya ingin untuk berumur panjang. Sekalipun orang Kristen percaya bahwa mereka akan ke surga sesudah mati, kebanyakan mereka juga ingin untuk sebisa mungkin hidup lama bersama keluarga. Walaupun mereka tahu bahwa hal hidup mati manusia ada di tangan Tuhan, mereka akan berusaha untuk hidup selama mungkin. Untuk bisa mempunyai umur panjang, mereka yang sadar akan berusaha untuk hidup sehat melalui makanan sehat, olahraga, cukup istirahat dan sedapat mungkin menghindari penyakit. Lalu apa yang akan mereka kerjakan jika dikaruniai hidup panjang?

Jika orang ditanya mengapa mereka ingin panjang umur, mungkin jawabnya adalah untuk mencapai kesuksesan, kebahagiaan, atau untuk menikmati hidup lebih lama bersama orang-orang yang dikasihi, tanpa menyadari bahwa kebahagiaan di dunia bukan apa-apa jika dibandingkan dengan kebahagiaan di surga. Sungguh menarik, bahwa jarang orang Kristen yang menjawab bahwa mereka ingin hidup lebih lama untuk bisa makin memuliakan nama Tuhan di dunia. Bagi mereka, mungkin lebih penting untuk bisa menikmati berkat Tuhan lebih lama di dunia, dan bukan untuk lebih bersyukur kepada-Nya selama masih hidup.

Dalam ayat di atas, Paulus mengingatkan kita bahwa sebagai orang Kristen, kita sebenarnya tidak perlu mendanbakan umur panjang. Itu karena baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Dengan demikian, baik dalam hidup atau mati kita bisa berharap atas kasih-Nya. Memang, tidak ada salahnya jika orang ingin berumur panjang untuk menikmati apa yang baik. Tetapi apakah yang baik itu? Bagi orang Kristen sejati, hidup haruslah dipakai untuk menjauhi hal yang jahat dan untuk melakukan apa yang baik untuk Tuhan dan sesama manusia. Orang pilihan Tuhan bukan hanya dipilih menjadi anak Tuhan, tetapi juga untuk menjadi serupa dengan Dia.

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Roma 8:29

Hidup orang Kristen dengan demikian seharusnya dipakai untuk melanjutkan tugas untuk menjadi terang dunia. Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati apa yang baik? Biarlah keinginannya dinyatakan kepada Tuhan dengan kemauan untuk tetap bisa menjadi umat Tuhan yang hidup untuk kemuliaan-Nya.

“Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.” Roma 14: 8-9

Siapa yang sudah dipilih pasti mau menjadi serupa dengan Kristus

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Roma 8: 29

Ayat di atas adalah ayat yang cukup sering kita dengar, tetapi mungkin kurang difahami orang. Mengapa? Sebagian orang Kristen percaya bahwa sesudah dipilih Tuhan untuk menerima keselamatan, dosa mereka sudah sepenuhnya dihapuskan oleh darah Kristus. Jika keselamatan adalah dari Tuhan dan ditentukan Tuhan, seluruh hidup kita pun ditetapkan oleh-Nya. Karena itu, bagaimana pun kita berusaha untuk hidup baik, itu tidak akan tercapai jika itu tidak datang dari Tuhan. Lebih dari itu, ada orang Kristen yang percaya bahwa jika ada orang yang berusaha untuk hidup baik dan menekankan hidup baik, orang itu pasti belum percaya bahwa keselamatan hanya melalui karunia Tuhan dan bukan karena berbuat baik. Benarkah begitu?

Dan jika Anda berkata, “Sejujurnya saya tidak perlu menjadi seperti Kristus,” mungkin itu karena Anda sedang berpikir tentang keserupaan ini sedemikian rupa sehingga terlalu sempit. Yesus adalah Tuhan, dan sudah tentu kita tidak bisa menjadi seperti Dia. Tetapi, apakah Anda ingin ditolak oleh Hakim alam semesta dan dihukum dengan hukuman kekal karena Anda menolak Anak-Nya, atau apakah Anda ingin bangkit dari antara orang mati, dikasihi dan diterima seperti Kristus? Lebih dari itu: Apakah Anda mau menjadi serupa dengan Kristus semasa hidup di dunia, ketika Anda masih hidup? Semua itu bukanlah sebuah pertanyaan kecil.

Satu hal yang nampak jelas dari ayat di atas. Jika Anda percaya bahwa Tuhan sudah memilih Anda, Ia jugalah yang akan membuat Anda serupa dengan Kristus. Manusia tidak dapat menjadi serupa dengan Kristus dengan kemampuannya sendiri. Mengapa begitu? Roma 3:23 menyebut: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Walaupun demikian, Tuhan bisa mengubah diri dan hidup seseorang untuk menjadi baik.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Dari ayat-ayat ini kita bisa melihat bahwa:

  • Allah memilih umat-Nya sesuai dengan rencana-Nya
  • Umat Tuhan adalah orang yang mengasihi Dia
  • Allah turut bekerja dalam segala sesuatu yang dilakukan umat-Nya
  • Allah mendatangkan kebaikan kepada umat-Nya

Sampai pikiran Anda dijadikan serupa dengan pikiran Kristus, ajaran dari ayat-ayat di atas ini mungkin akan menghasilkan konflik, bukan penghiburan. Anda mungkin merasa ragu bagaimana cara hidup dan prinsip hidup Anda bisa serupa dengan Kristus. Anda mungkin sudah berusaha, tetapi hasinya sampai sekarang belum menjadi kenyataan. Teks ini dimaksudkan untuk menghibur Anda dan menguatkan Anda serta meyakinkan Anda bahwa hal terbaik dan terburuk dalam hidup Anda akan bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi Anda, karena Anda mengasihi Kristus dan dipilih serta ditentukan dari semula untuk kemuliaan. Tetapi ayat-ayat itu hanya akan memiliki dampak jika Allah memberi Anda kebijaksanaan dan bimbingan Roh Kristus.

Ayat-ayat di atas bukan untuk menghukum mereka yang sedang mengalami pergumulan hidup. Tetapi sebaliknya, ayaet-ayat itu mendorong Anda bahwa untuk bisa berperilaku serupa dengan Yesus, haruslah ada peperangan seumur hidup dengan perilaku yang salah, dan untuk bisa menjadi beremosi serupa dengan Yesus perlu adanya peperangan seumur hidup dengan perasaan-perasaan yang salah, demikian juga agar menjadi berpikir serupa dengan Yesus merupakan peperangan seumur hidup dengan pemikiran yang salah. Menjadi serupa dengan Kristus tidak terjadi sekaligus, baik perilaku, ataupun emosi ataupun pikiran. Tetapi itu terjadi jika Anda mau mendengarkan dan melakukan pesan dari Roh Kudus yang sudah Anda miliki.

Hari ini, marilah kita berdoa untuk satu sama lain, agar dalam segala sesuatu Kristus dapat ditinggikan karena kita menjadi serupa dengan Dia, dan agar kita dapat menikmati jaminan besar yang karena pemilihan kita: yaitu segala sesuatu turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Dan jika Anda bertanya-tanya: apakah saya ada di antara orang yang dipilih, yang ditentukan dari semula, dan yang dipanggil? Inilah cara Anda untuk dapat mengetahuinya: Apakah Anda melihat hidup dan karakter Yesus sebagai apa yang Anda diingini lebih dari apa pun yang lain, dan percaya bahwa kasih-Nya cukup untuk menyelamatkan Anda dari dosa Anda, serta memuaskan kehausan hati Anda untuk selamanya? Itu adalah tanda dari anak Allah yang sejati. Semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya bisa menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12). Terimalah uluran tangan-Nya!

Jika kita hidup untuk Kristus, mati adalah keuntungan

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.” Filipi 1: 21-24

Meninggalnya seorang teman baik saya akibat kecelakaan jalan raya beberapa hari yang lalu telah membuat saya berpikir dalam-dalam. Kematian adalah sesuatu yang tidak terbayangkan sampai itu terjadi. Jika itu terjadi pada seseorang yang kita kenal, kita lagi-lagi diingatkan bahwa manusia sebenarnya tidak mempunyai kontrol atas umurnya. Memang bagi banyak orang, kematian berarti akhir dari kegiatan hidup dan karena itu mereka berusaha keras untuk menghindarinya untuk tetap bisa menjalani cara hidup yang disenangi mereka. Sebaliknya, umat Kristen percaya bahwa mereka tidak dapat memperpanjang hidup mereka sedetikpun, tetapi mereka bisa memutuskan apa yang bisa dilakukan selama hidup.

Keyakinan bahwa hidup di surga itu lebih baik dari hidup di dunia barangkali dipunyai oleh setiap orang percaya. Memang orang percaya bahwa dalam Kristus ada kebangkitan yang memungkinkan mereka untuk hidup bersama Kristus untuk selamanya. Walaupun demikian, mungkin tidak ada orang Kristen yang memilih untuk mati secepatnya. Kebanyakan orang Kristen mungkin mengakui bahwa saat untuk meninggalkan dunia ini ditentukan oleh Tuhan; tetapi, mereka akan memilih hidup panjang di dunia jika itu mungkin. Dalam hal ini, banyak orang Kristen merasa canggung untuk membicarakan hal kematian, karena kematian jasmani adalah suatu misteri yang tidak pernah dialami oleh orang yang masih hidup.

Apa yang harus dilakukan umat Kristen selama hidup? Sebagian orang Kristen percaya bahwa kata “harus” sudah tidak tepat karena penebusan melalui darah Kristus sudah melepaskan kita dari perlunya untuk berbuat sesuatu untuk Tuhan. Sebagian lagi percaya bahwa jika Tuhan ingin kita berbuat baik, Ia tentu akan membuat kita berbuat baik. Dengan demikian, sebagian orang Kristen merasa bahwa mereka tidak mampu atau pun perlu untuk memikirkan pentingnya bekerja untuk menghasilkan buah yang baik. Ini jelas tidak benar, karena dalam ayat di atas Paulus menulis bahwa hidup berarti bekerja untuk memberi buah bagi orang lain dan demi kemuliaan Tuhan. Pengertian Paulus tentang hidup ada karena ia sudah lahir baru dan disadarkan Tuhan bahwa hidup barunya adalah untuk menghamba pada Kristus.

Paulus juga menulis dalam ayat di atas bahwa mati adalah keuntungan. Mengapa demikian? Sebagai orang beriman, Paulus percaya bahwa karena imannya, ia sudah menerima keselamatan yang datang melalui darah Kristus. Tetapi, selama hidup di dunia, ia hanya bisa membayangkan keindahan surga. Hanya melalui kematian tubuh jasmaninya, ia akan menerima tubuh rohani yang abadi di surga. Membayangkan saat di mana ia bisa berjumpa muka dengan muka dengan Kristus, Paulus berkata bahwa ia akan merasa beruntung jika itu terjadi sekarang juga karena itu jauh lebih baik daripada hidup di dunia yang gelap ini. Tetapi, ia juga menulis bahwa lebih baik baginya untuk hidup supaya dapat membimbing orang lain.

Mereka yang siap untuk mati jasmani, seperti Paulus, adalah orang-orang beriman yang percaya bahwa iman mereka tidak sia-sia. Mereka akan menyambut kematian dengan tanpa rasa takut karena mereka sudah siap untuk menjumpai Tuhan yang mereka kasihi dan ingin hidup dalam kemuliaan-Nya di surga. Dua perikop kunci dalam tulisan Paulus adalah Filipi 1:21–23, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.” Paulus ditekan di antara keduanya. Keinginannya adalah pergi dan bersama Kristus, karena itu jauh lebih baik. Jadi ketika Paulus merenungkan kematiannya sendiri, dia menyebutnya “keuntungan”, bukan karena dia bukan berkhayal karena tidak memiliki pengalaman untuk itu. Inilah iman.

Jadi, hari ini kita boleh percaya bahwa orang Kristen memiliki penghiburan pada saat menunggu ajal atau sesudah meninggal dunia. Bagi orang yang percaya kepada Yesus Kristus, darah dan kebenaran Kristus telah menghapus penghukuman bagi mereka dan memastikan bahwa kebangkitan tubuh di langit baru dan bumi baru setelah kematian adalah pengalaman yang intim dan manis. Setelah meninggalkan dunia ini, kita akan berada di hadirat Kristus pada saat di antara kematian dan kebangkitan yang akan datang. Jika ada orang-orang beriman yang sudah membaktikan dirinya untuk Tuhan dan sesamanya selama hidup, kita tidak akan merasa terlalu sedih jika mereka meninggalkan kita. Waktunya sudah sampai, dan tugas mereka sudah selesai. Sebaliknya, kita patut merasa sedih jika ada orang Kristen yang masih takut akan kematian, atau masih menunda-nunda kesempatan untuk bekerja bagi Tuhan dan sesama.

Kita aman di dalam Dia sekarang, kita akan aman di hadapan-Nya pada saat kematian, dan kita akan sangat bahagia dalam tubuh yang baru dan sehat selama-lamanya di langit baru dan bumi baru. Bagaimana mungkin pengertian ini tidak akan mengubah cara hidup Anda semasa hidup di dunia? Setiap orang yang sadar akan arti kematian dalam Kristus tentu akan hidup sesuai dengan firman Tuhan untuk kemuliaan-Nya karena rasa syukur yang besar!

Antara percaya dan kenal

Lalu Yesus bertanya kepada mereka: ”Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: ”Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: ”Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 16: 15-17

Di banyak negara, adanya Tuhan secara resmi diakui. Bahkan ada negara-negara yang pemerintahannya berdasarkan agama tertentu, atau setidaknya berlandaskan kepercayaan bahwa Tuhan itu ada. Walaupun demikian, hal itu belum tentu menjamin bahwa negara-negara itu secara kolektif lebih baik dalam hal kesalehan dari negara lain. Memang, soal iman adalah soal pribadi, dan apa yang dipercayai oleh seseorang secara individual biasanya hanya berpengaruh pada hidupnya sendiri.

Sebenarnya, iman itu bisa diartikan secara luas. Ada orang yang percaya adanya Tuhan tanpa mengenal siapa Tuhannya. Pada pihak yang lain, ada orang yang tahu siapakah Yesus itu tetapi tidak percaya bahwa Ia adalah Tuhan. Lalu bagaimana orang bisa percaya dan mengenal Tuhan? Haruskah manusia kenal dan kemudian percaya? Ataukah orang harus lebih dulu percaya dan kemudian kenal? Yang benar adalah iman harus ada sebelum kenal. Pengenalan yang benar akan Tuhan baru terjadi setelah adanya iman.

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita.” Ibrani 11: 1-2

Rasul Paulus banyak menulis kepada jemaat mengenai soal kenal kepada Tuhan. Paulus berkata bahwa sekalipun banyak orang mengenal Tuhan, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Tuhan atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya hidup mereka dibaktikan kepada hal-hal  yang sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Memang, sekalipun dalam sebuah gereja firman Tuhan itu dikhotbahkan atau dipakai sebagai pedoman, itu tidak menjamin bahwa seluruh anggotanya mau memuliakan Tuhan dan hidup menurut jalan yang baik. Mengapa demikian? Karena mereka tidak benar-benar percaya adanya Tuhan yang menuntut mereka untuk memuliakan Dia dan bersyukur kepada-Nya setiap hari. Pengenalan yang keliru karena tidak adanya iman yang benar.

“Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.” Roma 1: 21

Kepercayaan kepada adanya Tuhan sebenarnya adalah hal yang sulit untuk dijabarkan.  Karena itu ada banyak orang yang merasa beriman kepada Tuhan, tetapi sebenarnya tidak demikian. Mungkin mereka hanya kenal.Mengapa demikian? Yang pertama, adanya “tuhan” yang beraneka ragam menurut berbagai kepercayaan, bisa membuat bingung manusia. Manusia dengan demikian mungkin saja berbakti kepada “tuhan”  yang ada menurut pengertian, kebiasaan, atau adat-istiadat mereka saja. Kedua, seringkali “tuhan” yang dikenal manusia adalah oknum yang diharapkan untuk bisa memberi kehidupan yang nyaman kepada manusia. Tuhan untuk mereka bukanlah oknum yang mahakuasa dan mahasuci, yang membenci mereka yang merasa saleh tetapi tetap hidup dalam dosa. Dan yang ketiga, Tuhan bagi banyak umat manusia adalah oknum ilahi yang dapat dihampiri manusia dengan cara berbuat amal atau hidup menurut kaidah agama. Jelas, pengenalan manusia atas hal ilahi adalah sangat terbatas. Jika mereka tidak percaya atau beriman kepada Tuhan yang benar, pengenalan mereka akan Tuhan adalah terbatas.

Alkisah, menurut injil Matius 16, pada saat itu datanglah orang-orang Farisi dan Saduki hendak mencobai Yesus. Mereka meminta supaya Ia memperlihatkan suatu tanda dari sorga kepada mereka agar mereka bisa percaya bahwa Ia adalah Tuhan. Tetapi Yesus menolak permintaan mereka. Kata-Nya: “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.” Lalu Yesus meninggalkan mereka dan memperingatkan murid-murid-Nya supaya mereka waspada terhadap terhadap ajaran orang Farisi dan Saduki yang menuntut tanda Ilahi sebagai syarat iman. Iman harus lebih dulu ada, sehinnga pengenalan akan tumbuh secara benar.

Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: ”Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka: ”Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka: ”Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: ”Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: ”Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.” Jelaslah iman terjadi karena Tuhan yang lebih dulu menyatakan diri-Nya dalam hati kita, bukan karena usaha kita untuk mengenal Tuhan,

Hari ini, firman Tuhan memperingatkan kita, bahwa kita jika benar-benar mengenal Tuhan, itu adalah karena Tuhan sudah memanggil kita dan kemudian memberikan pengenalan secara pribadi kepada kita. Tuhan yang benar adalah Oknum yang mahakuasa dan mahasuci yang tidak dapat dicapai oleh usaha manusia sendiri. Hanya melalui darah Kristus, Tuhan bisa melupakan dosa-dosa yang pernah kita perbuat sehingga kita dapat mengenal Dia. Dengan pengampunan-Nya, kita harus mau  mempersilakan Dia untuk mengubah hidup kita; dari hidup lama yang mementingkan diri sendiri, menjadi hidup baru untuk memuliakan Tuhan. Kepercayaan kepada Tuhan yang benar adalah iman dan bukan agama, karena agama diciptakan manusia sedang iman adalah pemberian Tuhan. Karena itu, dalam hidup keKristenan, kita menjalankan firman Tuhan karena sebagai orang-orang yang sudah menerima keselamatan, dan kita mau memuliakan Tuhan. Perbuatan baik kita adalah tanda bahwa kita sudah kenal kepada Dia melalui iman yang benar dan bukan usaha untuk mendapatkan keselamatan di surga atau kenyamanan hidup di dunia.

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Warisan untuk orang yang kita kasihi

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27

Jika tiba waktu anda untuk meninggalkan dunia ini, apakah yang akan anda wariskan kepada orang yang anda cintai? Pertanyaan ini mungkin lebih mudah dijawab oleh orang yang sudah berumur karena mereka yang masih muda mungkin berpikir bahwa mereka belum saatnya untuk memikirkan hal itu. Walaupun demikian, hari ini saya merasa sedih karena seorang teman baik saya sejak SMA sudah dipanggil Bapa secara tidak disangka, akibat kecelakaan jalan raya.

Tidak ada seorang pun yang tahu berapa lama ia akan hidup di dunia. Jika Tuhan sudah memanggil kita, kita tidak lagi memerlukan tubuh, kepandaian dan harta kita. Walaupun demikian, banyak orang yang mati-matian bekerja, bahkan sampai usia uzur, mungkin untuk mengumpulkan harta sebagai warisan bagi anak-anaknya. Pada pihak yang lain, ada orang-orang yang tidak dapat meninggalkan harta tetapi memberikan kenangan yang manis, yang tidak terlupakan, bagi mereka yang ditinggalkan. Mereka itu meninggalkan sesuatu yang tidak bisa dihabiskan oleh generasi penyambung.

Inilah yang saya rasakan berkenaan dengan berpulangnya teman saya yang sudah lama membaktikan diri tanpa pamrih sebagai Facility Manager di sebuah Universitas, sebagai pengurus di sebuah yayasan SMA, serta penatua sebuah gereja di Surabaya. Segala apa yang sudah disumbangkannya kepada masyarakat tidaklah dapat diukur secara jasmani, tetapi sungguh besar jika dinilai secara rohani, terutama karena teman saya ini juga memimpin katekisasi (pemuridan) di gerejanya. Melalui bimbingan Roh Kudus, banyak orang bisa diberinya pengarahan untuk mau dibaptis sebagai orang yang sudah diselamatkan.

Sungguh disayangkan bahwa di jaman modern ini, banyak orang yang memusatkan perhatian pada harta duniawi. Kekayaan, kepandaian, kemasyhuran dan lain-lain sering menjadi tujuan kerja keras mereka. Namun, pada akhirnya semua itu tidak bisa menunjang keselamatan dan kebahagiaan mereka.

Sekalipun warisan itu pada umumnya dimaksudkan untuk membahagiakan mereka yang diwarisi, ada kalanya warisan menjadi beban buat mereka. Misalnya pernah terjadi properti warisan orang tua ternyata mengundang pajak yang besar. Juga sering terjadi, anak yang tiba-tiba menerima warisan besar, hidupnya malah jatuh berantakan. Tentu saja keadaan yang demikian harus bisa kita hindari. Warisan harus sesuatu yang berharga, berguna, menolong, dan membahagiakan orang yang diberi, agar mereka bisa merasakan cinta kasih mereka yang memberi.

Jika kita memikirkan diri kita saat ini, adakah pemberian yang benar-benar berharga yang bisa kita harapkan dari seseorang dan akan membuat kita bahagia untuk selamanya? Tentu saja tidak ada. Lain halnya kalau Tuhan yang menjanjikan. Ayat di atas adalah janji Kristus sebelum meninggalkan murid-murid-Nya. Yesus berkata bahwa hanya Dia yang dapat menggenapi janji-Nya dengan memberikan damai sejahtera bagi umat-Nya.

Buat orang Kristen seperti kita, tidak ada sesuatu yang lebih berharga, lebih berguna, lebih menolong, dan lebih membahagiakan daripada harta surgawi, keselamatan yang kita terima melalui Yesus Kristus. Penebusan dosa kita memungkinkan Allah menerima kita sebagai anak-anak-Nya. Pengorbanan Kristus juga membuka mata rohani kita, memberikan kita kemampuan untuk melihat betapa besar kasih Allah kepada manusia.

Damai sejahtera yang diberikannya tidaklah seperti yang dijanjikan dan diberikan oleh dunia. Kebahagiaan dan damai sejahtera yang dijanjikan dunia adalah sebatas kemampuan manusia, dan sekalipun mereka yang paling kaya, paling bijaksana ata pun yang paling berkuasa, tidak akan dapat memberi kita sesuatu yang sempurna dan abadi.

Hari ini, marilah kita memikirkan apa yang pantas untuk ditinggalkan untuk orang-orang yang kita kasihi. Sesuatu yang benar-benar berharga, pasti berguna, sangat menolong, dan membawa kebahagiaan yang abadi bagi mereka. Hanya ada satu hal yang penting untuk mereka: Yesus. Marilah kita berdoa memohon agar Tuhan membimbing mereka dalam hidup mereka, memberikan iman yang teguh dan menumbuhkan kasih mereka kepada Tuhan dan sesama. 

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Matius 16:26