Masih normalkah kita?

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3:23

Di zaman ini, kita harus berhati-hati dalam memakai kata sebutan untuk orang lain. Sebutan yang berhubungan dengan apa yang dipandang kurang lazim misalnya, tidaklah dapat digunakan semena-mena agar tidak menyinggung orang lain. Sebagai contoh, sebutan untuk warna kulit, bentuk mata atau mulut, tinggi badan, cacat tubuh atau kejiwaan, bisa menimbulkan kemarahan orang lain atau protes dari masyarakat. Semua orang ingin dianggap “normal” dan tidak mau disebut atau dianggap “tidak normal”. Dalam hal ini, sebagai orang Kristen tentunya kita mengerti bahwa memberi julukan atau sebutan yang kurang baik adalah bertentangan dengan perintah Tuhan untuk menghargai dan mengasihi sesama kita.

Apa sebenarnya arti “normal” itu? Apa yang “normal” tentu memenuhi standar tertentu. Di mata Tuhan tentunya semua orang adalah sama, sudah berdosa kehilangan kemuliaan Allah. Semua orang adalah “normal”. Jika ada manusia yang tidak berdosa, manusia itu tentunya tidak normal. Dalam hal ini, Alkitab menyatakan bahwa manusia yang “tidak normal” itu tidak ada, kecuali Yesus Kristus yaitu Allah yang sudah turun ke dunia. Yesus yang datang ke dunia adalah manusia yang dapat merasakan penderitaan kita dan pernah dicobai seperti kita, tapi tidak pernah jatuh dalam dosa. Yesus bukanlah manusia yang normal.

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4: 15

Jika kita adalah manusia berdosa sejak awalnya, itu adalah hakiki kita – sesuatu yang normal. Mungkin kita pernah membaca pernyataan filsuf Aristoteles bahwa manusia pada hakikatnya adalah hewan yang rasional. Benarkah begitu? Memang adalah umum untuk merujuk pada kecerdasan manusia sebagai faktor pembeda dengan hewan. Bahkan istilah “hewan rasional” digunakan dengan konotasi superioritas. Namun, definisi semacam ini sering kali memiliki nuansa menarik yang harus dipahami.

Manusia sering dikategorikan sebagai makhluk istimewa dalam kerajaan hewan. Ini karena manusia memiliki karakteristik dan fungsi yang dipunyai hewan. Di sisi lain, banyak orang yang menekankan bahwa manusia berbeda dengan hewan karena mempunyai kecerdasan dan kemampuan untuk memilih alasan untuk berbuat sesuatu. Dan Alkitab menyatakan bahwa kita adalah satu-satunya makhluk yang bisa menyadari adanya kuasa Ilahi yang besar dalam alam semesta. Dua hal ini membedakan kita dari binatang yang lebih bergantung pada naluri dan kebiasaan. Studi seputar pemikiran dan perilaku sehari-hari manusia menunjukkan bahwa sebutan hewan rasional untuk manusia tidak bisa dianggap benar secara mutlak.

Di sekitar kediaman saya, dapat dijumpai beberapa padang rumput tempat pemeliharaan sapi, dan yang terdekat hanya berada dalam jarak beberapa ratus meter saja dari rumah. Karena itu, sewaktu saya berjalan-jalan sering kali saya menjumpai beberapa sapi yang sedang merumput dan ada juga yang berdiri diam sambil menonton saya berjalan. Mata mereka terlihat kosong. Apa yang ada dalam pikiran mereka? Terkadang saya berpikir alangkah membosankan jika manusia hidup seperti sapi itu. Seekor sapi mungkin tidak pernah merasa jemu untuk hidup seperti itu. Selama rumput hijau ada, seekor sapi tentunya merasa puas sekalipun esok hari ia akan dikirim ke rumah pemotongan. Sapi secara normal, tidak mempunyai pengertian akan apa arti hidup dan rencana masa depan. Apakah mungkin manusia mengalami hal yang sama?

Bagi umat Kristen, manusia jelas berbeda dengan sapi atau hewan lainnya karena manusia diciptakan sebagai gambar Allah dan diberikan mandat untuk menguasai segala jenis hewan (Kejadian 1: 27-28). Manusia mempunyai tubuh dan roh yang memberinya kesadaran bahwa hidup ini bukan hanya mencakup kebutuhan jasmani, tetapi juga kebutuhan rohani. Sayang sekali bahwa kemampuan manusia itu justru membawa kehancuran karena Adam dan Hawa menggunakannya untuk maksud yang salah. Karena itulah seluruh umat manusia secara normal mempunyai dosa sejak dilahirkan, dan dosa manusia tentunya makin lama makin bertambah besar selama hidup di dunia. Dalam hal ini, dosa sekecil apa pun akan membawa kematian kekal jika Yesus tidak datang ke dunia untuk menebus umat-Nya. Itulah kodrat manusia yang normal. Mereka yang tetap hidup dalam kenormalannya tidak akan dapat diselamatkan.

Jika sapi adalah hewan yang sederhana cara berpikirnya, menurut pemazmur sebagian manusia juga bisa hidup seperti itu. Mereka yang merasa sudah mencapai apa yang bisa dinikmati atau dibanggakannya, cenderung untuk hidup dalam kesempitan pikirannya. Apakah yang mereka pikirkan dalam hidup? Bagi orang seperti itu, hidup adalah kesempatan untuk menikmati kenyamanan, kekayaan, kuasa, kejayaan, kebebasan dan semacamnya. Di antara orang Kristen pun, hanya sebagian kecil yang mempunyai dedikasi tinggi untuk mengamalkan perintah Tuhan; sebagian besar justru lebih menyukai apa yang terlihat lebih mudah dijalani dan dinikmati sekalipun itu tidak sesuai dengan firman Tuhan.

“Manusia, yang dengan segala kegemilangannya tidak mempunyai pengertian, boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan.” Mazmur 49: 20

Manusia non-Kristen yang normal adalah orang yang menjalani hidup di dunia untuk mencapai kenyamanan duniawi. Selain itu, ada orang Kristen yang sangat yakin bahwa mereka akan diselamatkan karena itu adalah normal bagi orang pilihan Tuhan. Orang muda yang tidak mengenal Tuhan bisa mengejar kesempatan yang ada, dan mereka yang tua bisa kembali menikmati apa yang sudah dicapainya. Selama apa yang diinginkan bisa diperoleh, hidup mereka adalah kebahagiaan yang bisa dinikmati. Manusia yang sedemikian tidak mempunyai pengertian bahwa semua itu adalah kebahagiaan yang sementara, barangkali seperti rumput hijau dalam pandangan seekor sapi. Seperti seekor hewan yang akan dibinasakan, mereka tidak sadar bahwa hidup dan kebahagiaan mereka adalah singkat saja. Pada pihak yang lain, orang Kristen yang merasa normal dalam hidupnya tidak akan merasakan adanya dorongan untuk menunjukkan imannya melalui hidup dan perbuatan sehari-hari. Itu karena menjadi “tidak normal” adalah sesuatu yang tidak mudah dilakukan.

Pemazmur dalam Mazmur 49 menyatakan bahwa sebagai orang beriman kita adalah orang yang tidak normal, kita tidak perlu merasa iri bahwa ada orang-orang yang nampaknya hidup dalam kegemilangan, sebab pada suatu saat mereka akan mati dan semua yang ada tidak akan bisa dibawa mereka (ayat 17). Sekalipun ada orang yang menganggap dirinya berbahagia, dan sekalipun orang lain menyanjungnya, orang itu tidak akan mengalami hal itu untuk selamanya (ayat 18-19). Lebih-lebih lagi, bagaimanapun besarnya kekayaan seseorang, ia tidak akan bisa memberikan tebusan kepada Allah yang mahasuci sebagai ganti nyawanya (ayat 7).

Mereka yang mempunyai pengertian yang benar akan apa arti hidup ini dan yang taat kepada Allah, tahu bahwa Allah akan membebaskan nyawanya dari cengkeraman dunia orang mati sebab Ia akan menarik mereka kearah keselamatan (ayat 15). Bahkan sesungguhnya, semua itu sudah terjadi pada setiap orang percaya karena Kristus sudah menang atas maut dengan kebangkitan-Nya. Dengan demikian, bagi mereka yang mempunyai pengertian yang benar, hidup adalah untuk kemuliaan Tuhan dan untuk mengikuti firman-Nya. Bagi mereka, pandangan mata mereka tidaklah hampa seperti hewan, tetapi akan selalu tertuju ke surga di mana tempat sudah disediakan bagi mereka. Hidup manusia yang tidak mempunyai pengertian boleh terasa kosong, tetapi mereka yang percaya kepada Kristus, hidup selalu diisi dengan ketaatan kepada Tuhan dan sukacita yang abadi dan kekal.

Orang Kristen adalah orang yang tidak normal karena mereka tahu bahwa akibat dosa adalah kematian, mereka juga percaya bahwa karena kasih Allah, Yesus sudah mati untuk umat-Nya. Karena itu, hidup untuk orang Kristen adalah hidup bukan sebagai orang-orang yang bebas untuk memilih apa yang disenangi mereka, yang menganggap bahwa kenyamanan apa saja yang ada di dunia adalah bagian hidup yang normal dan harus bisa dinikmati. Hari ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai orang yang sudah diselamatkan adalah seharusnya kita lebih berhati-hati dengan hidup kita yang sudah ditebus dengan darah Kristus dan tidak mengabaikan firman Tuhan sebagai rambu-rambu dan lampu kehidupan yang tidak pernah berubah, agar kita tetap berjalan di jalan yang benar dan hidup dalam kasih pemeliharaan-Nya.


“Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan.” Roma 6: 19

Perbuatlah dan Janganlah

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3: 23

Ayat di atas adalah ayat yang cukup dikenal umat Kristen. Mungkin ayat itu bisa ditulis seperti ini: “Perbuatlah segala sesuatu seperti untuk Tuhan, tetapi janganlah berbuat untuk manusia”.

Perbuatlah dan janganlah. Dua kata yang sering muncul di Alkitab. Mungkin ada orang yang berpikir bahwa kedua kata itu adalah inti kehidupan orang Kristen. Itu memang ada benarnya, sehingga sebagian orang merasa ragu untuk menjadi orang Kristen. Mungkin mereka ingin hidup bebas. Walaupun demikian, hidup orang Kristem bukan hanya didasari oleh dua hal itu saja. Tidak jarang kita mendengar seseorang berkata, “Kekristenan bukanlah tentang daftar hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan tetapi adalah tentang sebuah hubungan yang indah antara Sang Pencipta dan yang diciptakan. Kedengarannya pandangan ini bagus dan memang ada benarnya; tapi ini juga bukan seluruh kebenaran.

Untuk satu hal, berbicara tentang beberapa bentuk umum dari “Kekristenan” bisa menyesatkan. Istilah “hubungan yang indah antara Tuhan dan manusia” ini begitu luas sehingga (dalam beberapa kasus) tidak ada gunanya. Lagi pula, itu bukan istilah yang digunakan Yesus, rasul-rasulnya, atau gereja mula-mula. Ketika mereka merujuk pada kepercayaan umum dan tradisi bersama yang mereka miliki, mereka berbicara tentang “iman” yang secara inheren menyampaikan gagasan tentang hubungan, dan “jalan”, yang menyarankan pendekatan tertentu terhadap kehidupan dalam kebenaran. Iman adalah kunci hidup Kristen.

Pada pihak yang lain, jika orang mengatakan bahwa iman bukanlah tentang daftar hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan, faktanya Yesus memerintahkan para pengikutnya untuk melakukan banyak hal dan untuk tidak melakukan hal lain. Sebagai contoh, dalam Khotbah di Bukit saja, ada sekitar 50 kata kerja imperatif (perintah) dalam Alkitab versi Yunani. Perjanjian Baru sendiri memiliki lebih dari 1500 kata sejenis. Jadi iman tidak dapat dipisahkan dari apa ang harus dan apa yang tidak boleh dilakukan.

Yesus jelas menginstruksikan murid-muridnya tentang bagaimana menjalani hidup yang berbeda dari apa yang dikenal orang Yahudi saat itu. Kebanyakan orang Yahudi waktu itu, misalnya, tidak mau mendoakan mereka yang mengutuk mereka, atau memberi tumpangan kepada orang yang tidak pantas diberi. Yesus mengajarkan apa yang sangat berbeda dengan itu. Cara hidup Yesus bukan hanya edisi yang disempurnakan dari beberapa praktik keagamaan universal, bukan versi yang lebih baru dari versi yang ada. Jalan Yesus itu khas.

Iman kepada Yesus bukan sekadar daftar yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Melakukan “yang harus dilakukan” dan menghindari “yang tidak boleh dilakukan”, dalam beberapa hal, dapat dilakukan tanpa mengandalkan iman. Misalnya, saya mungkin menyimpan daftar yang harus dan tidak boleh dilakukan dengan maksud untuk menerima promosi jabatan. Mungkin ada beberapa unsur iman dalam pengaturan ini, tetapi tidak seperti iman yang kuat yang dianggap penting oleh Yesus dan para pengikut awal-Nya.

Beberapa dari banyak perintah Yesus dapat ditaati, bahkan tanpa iman. Misalnya, sekalipun tidak ada orang yang pernah meminta baju saya, perintah Yesus untuk memberikan baju saya kepada orang yang membutuhkannya tidak pernah menjadi masalah bagi saya. Namun, perintah untuk berhenti khawatir sering mendatangkan masalah bagi saya. Begitu juga perintah untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri, menjaga diri dari kemunafikan, menyingkirkan segala kepahitan, dan melakukan segala sesuatu tanpa mengeluh atau berdebat.

Untuk secara konsisten melakukan hal-hal ini dan, lebih tepatnya, untuk membentuk hati dan pikiran sedemikian rupa sehingga melakukan hal-hal ini menjadi wajar, seseorang harus memiliki keyakinan. Iman semacam ini bukanlah persetujuan mental terhadap suatu doktrin, bahkan doktrin tentang Tuhan, juga bukan keyakinan bahwa Tuhan itu ada dan bahwa segala sesuatu akan berakhir dengan kebaikan. Bukannya hal-hal ini salah; tetapi bukan itu yang dimaksudkan oleh Yesus dan para pengikut awalnya ketika mereka berbicara tentang hidup dalam iman. Kemampuan untuk menurut perintah Tuhan ini harus datang dari Tuhan.

Ketika mereka berbicara tentang iman, mereka tidak berbicara tentang kepercayaan akan keberadaan Tuhan; setiap orang yang mereka kenal percaya bahwa Tuhan itu ada. Ketika mereka berbicara tentang iman kepada Tuhan, mereka berbicara tentang mempercayai-Nya: mempercayai pengetahuan-Nya dan melakukan apa yang Dia katakan; memercayai komitmen-Nya dan dengan demikian yakin akan bantuan-Nya; mempercayai kasih-Nya dan merasa aman dalam penyertaan-Nya.

Kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa dengan mudah dilselesaikan, seperi mencoret satu tugas yang ada dalam sebuat daftar. Tidak pernah ada titik di mana seseorang dapat menyatakan apa arti imannya dengan selengkapnya. Kepercayaan secara inheren membutuhkan hubungan intim dan harmonis, yang bertumbuh di setiap saat. Dan kepercayaan, jika tidak salah tempat, mengharuskan kita untuk mempercayai kebaikan Tuhan dalam keadaan apa pun. Iman adalah jawaban atas kesetiaan Tuhan. Iman bertumbuh dalam setiap pengalaman yang kita alami, baik itu pengalaman yang baik, maupun apa yang kurang nyaman.

Seseorang hanya dapat melakukan hal-hal yang Yesus perintahkan untuk dilakukan – mengampuni dan berdoa bagi musuh, memberi dengan murah hati, hidup dengan rela berkorban – dengan setiap saat memercayai Yesus adalah jalan, kebenaran dan hidup; dan memercayai Dia sebagai Juruselamat kita. Dan kepercayaan semacam itu hanya ditemukan ketika orang-orang menanggapi undangan Allah untuk masuk ke dalam hubungan dengan-Nya melalui Kristus. Sudahkah Anda mempunyai hubungan sedemikian? Jika memang sudah, Anda tidak akan pernah merasa sulit untuk menaati “Perbuatlah dan Janganlah”.

Kata Yesus kepadanya: ”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Yohanes 14:6

Tuhan tetap ada sekalipun semua lenyap

Kata Filipus kepada-Nya: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Yohanes 14: 8

Apabila Tuhan adalah satu-satunya yang anda punyai, Tuhan adalah satu-satunya yang anda butuhkan. If God is all you have, you have all you need. Begitulah bunyi sebuah ungkapan yang cukup terkenal. Ungkapan ini rupanya berdasarkan ayat diatas.

Pada waktu itu, Tuhan Yesus menjelaskan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia akan pergi meninggalkan mereka untuk menjumpai Bapa-Nya yang mempunyai banyak tempat kediaman. Ia menghibur murid-murid-Nya dan berkata bahwa kemana Ia pergi, murid-murid-Nya akan kesana juga. Kemana Yesus akan pergi? Tomas tidak tahu, dan karena itu bertanya bagamana mereka bisa kesana jika mereka tidak tahu kemana Yesus pergi. Yesus kemudian menjawab bahwa Ia akan pergi menjumpai Bapa-Nya; dan hanya melalui Dia, manusia bisa menjumpai Bapa. Dengan jawaban Yesus itu, Filipus meminta agar Yesus menunjukkan Bapa itu, karena jika ia kenal Bapa, itu sudah cukup baginya. Apabila Tuhan adalah satu-satunya yang Filipus punyai, Tuhan adalah satu-satunya yang dibutuhkannya.

Jika Tuhan adalah satu-satunya yang kita miliki, itu mungkin diartikan oleh sebagian orang bahwa kita adalah orang yang miskin dan malang. Jika kita tidak mempunyai rumah, harta, karir, kesuksesan, kesehatan, keluarga dan segala yang dianggap kenikmatan di dunia ini, kita mungkin dianggap sebagai orang-orang yang tidak diberkati. Itu pendapat dunia. Sebaliknya, bisa kita lihat bahwa mereka yang mempunyai berbagai hal dalam hidup mereka, justru sering adalah orang-orang yang selalu merasa kurang puas atau tidak bahagia dalam hidup mereka. Hati mereka tidak terisi denganTuhan saja, tetapi juga dengan berbagai hal duniawi. Karena itu, mereka tidak pernah mengenal rasa cukup dalam hidup.

Di kalangan gereja pun, banyak yang percaya bahwa kita tidak dapat hidup dengan Tuhan saja. Kita harus bisa memperoleh kelimpahan dan kesuksesan dari Tuhan, begitu kata mereka. Padahal, Alkitab mengatakan bahwa kita tidak bisa berbahagia karena hal-hal duniawi.

Dari Alkitab kita tahu bahwa pada suatu ketika, Tuhan Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya Yesus merasa sangat lapar. Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Apa jawab Yesus?

“Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Matius 4: 4

Walaupun Yesus lapar, Ia tahu bahwa selama komunikasi dengan Allah tetap ada, hidup-Nya akan tetap terlindungi dan rasa bahagia tetap ada.

Adalah kekeliruan besar jika manusia merasa bahwa hidupnya bergantung kepada berkat Tuhan, dan bukannya kepada Tuhan. Adalah suatu dosa jika kita berkata bahwa kita tidak dapat hidup tanpa berkat Tuhan yang sudah diberikan-Nya. Ayub pernah berkata dalam kemalangannya:

“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”. Ayub 1: 21

Hidup kita bergantung kepada Tuhan, bukan kepada apa yang diberikan-Nya. Seperti Ayub, kita tidak dapat hidup tanpa Tuhan. Jika kita memuji Tuhan, kita bukan memuji berkat-Nya. Kita bisa hidup tanpa segala kekayaan dan kenikmatan, jika kita hidup didalam Tuhan yang tahu dan mau memberikan apa yang terbaik untuk kita. Tuhan jauh lebih besar daripada apa yang kita lihat dan kita terima. Karena itu motivasi utama kita dalam berbakti kepada Tuhan adalah untuk bisa dekat dengan-Nya, dan bukan untuk memperoleh berkat-Nya.

Pagi ini, adakah yang anda sangat butuhkan dan rindukan? Mungkin ada sesuatu yang terasa sebagai kebutuhan yang harus ada dalam hidup anda saat ini. Anda mungkin merasakan tekanan hidup dan sangat menderita karena tidak adanya hal-hal itu. Tetapi, apakah anda tetap memiliki Tuhan dalam hidup ini? Jika benar begitu, anda mungkin seperti Filipus yang percaya jika ia bisa melihat adanya Tuhan, itu sudah cukup baginya.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38-39

Milikilah pandangan yang seimbang tentang Tuhan

“Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku, tempat pelarianku, juruselamatku; Engkau menyelamatkan aku dari kekerasan.” 2 Samuel 22: 3

Tentu kita tahu bahwa beberapa hari yang lalu terjadilah sebuah malapetaka di Korea. Bagi banyak orang, suasana gembira yang tiba-tiba menjadi suasana duka membawa pertanyaan mengapa semua itu harus terjadi. Apakah salah mereka sehingga menemui kemalangan yang begitu besar? Mengapa Tuhan membiarkan malapetaka semacam itu terjadi? Apakah Tuhan yang menyebabkan semua itu? Bagi mereka yang tidak atau kurang mengenal sifat hakiki Tuhan yang tidak hanya mahakuasa, tetapi juga mahakasih, sudah tentu ini bisa menjadi suatu pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Sebagai Tuhan yang mahakuasa, Ia berhak melakukan atau tidak melakukan apa saja, sesuai dengan kehendak-Nya. Tuhan mengizinkan atau melarang apa saja, tanpa perlu meminta pendapat manusia. Tetapi, jika Ia adalah Tuhan yang mahakasih, Ia tentunya bukan penyebab malapetaka.

Dalam Alkitab, kita bisa membaca bahwa Tuhan yang mahakuasa sudah tentu bisa menghindarkan manusia dari bencana. Itu dilakukan-Nya pada bani Israel ketika mereka dikejar tentara Firaun dan terpojok di pinggir laut. Lebih dari itu, Tuhan juga pernah melindungi orang lain dari berbagai bencana, sekalipun mereka bukan orang Israel atau umat-Nya. Yesus dan murid-murid-Nya juga menyembuhkan banyak orang yang sakit tanpa memikirkan apakah mereka pantas untuk ditolong. Lalu, mereka yang tidak mendapat pertolongan dari Tuhan, apakah harus menerima kenyataan bahwa Tuhan mungkin mahakuasa tapi tidak mahakasih?

Sebagai orang Kristen, kita mempunyai pandangan pribadi tentang Tuhan, dan bisa merasakan pengaruh Tuhan dalam hidup kita, yang bergantung pada pengalaman hidup kita. Pengalaman setiap orang berbeda dengan apa yang dialami orang lain. Karena itu, Tuhan bagi seseorang bisa merupakan Tuhan yang mahakuasa, sedangkan bagi orang lain Tuhan itu mahakasih. Tiap orang seolah mempunyai “paket” yang khusus, yang cocok dengan apa yang diyakininya.

Jika orang mungkin memiliki paket rohani yang cocok dengan pengalaman hidupnya, itu bukanlah berarti bahwa ia sudah mempunyai apa yang komplit dan benar. Paket yang komplit dan benar harus sesuai dengan “spesifikasi” yang ada dalam Alkitab. Dalam hal ini, kita harus mengerti bahwa atribut Tuhan adalah mahakuasa, mahatahu, mahaada, dan mahakasih (omnipotence, omniscience, and omnipresence, omnibenevolent).

Jika Tuhan itu adalah begitu besar, mahabesar, dapatkah kita mengukur kebesaranNya? Sudah tentu tidak mungkin. Dengan keterbatasannya, manusia pada umumnya tidak bisa mendalami isi “paket” yang lengkap pengertian tentang Tuhan. Karena itu banyak orang yang hanya bisa mengerti akan sebagian kecil dari atribut Tuhan.

“Maka nyatalah kepadaku, bahwa manusia tidak dapat menyelami segala pekerjaan Allah, yang dilakukan-Nya di bawah matahari. Bagaimanapun juga manusia berlelah-lelah mencarinya, ia tidak akan menyelaminya. Walaupun orang yang berhikmat mengatakan, bahwa ia mengetahuinya, namun ia tidak dapat menyelaminya.” Pengkhotbah 8: 17

Dua atribut Tuhan yang perlu kita pelajari hari ini adalah mahakuasa dan mahakasih. Banyak orang yang hanya meyakini kemahakuasaan Tuhan, melupakan bahwa Tuhan juga mahakasih. Bagi mereka, Tuhan adalah Tuhan penentu “nasib” mereka. Sebaliknya, mereka yang hanya merasakan sifat mahakasih-Nya, selalu mengharapkan agar Tuhan memenuhi segala keiniginan mereka. Apa pun yang mereka minta, Tuhan diharapkan untuk memberikannya.

Apa untungnya untuk kita jika kita hanya mempunyai Tuhan yang mahakasih tetapi tidak dapat menggunakan kemahakuasaan-Nya untuk mengatur seluruh alam semesta dan melindungi umat=Nya? Apa faedahnya jika kita mempunyai Tuhan yang mahakuasa tetapi tidak mengasihi kita yang penuh dosa?

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38

Ayat diatas menyatakan bahwa dalam keadaan apa pun, apa yang harus kita pegang sebagai prinsip utama adalah bahwa Tuhan itu kasih. Dengan mengingat kasih-Nya, kita akan dapat menghadapi segala tantangan kehidupan dengan keberanian. Dengan mengingat kasih-Nya, kita juga percaya bahwa Tuhan mengasihi seisi dunia dan bukan hanya umat-Nya.  Kasih Tuhan sebenarnya sudah diperlihatkan-Nya ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam bencana besar akibat dosa. Adam dan Hawa diusir dari taman Firdaus dan hidup manusia sejak saat itu menjadi hidup yang penuh bahaya dan tantangan.  Walaupun demikian, Tuhan menjanjikan datangnya seorang Juruselamat yang akan menyelamatkan keturunan mereka. Janji Tuhan ini sudah ditepati dengan kedatangan Yesus ke dunia di hari Natal yang sebentar lagi kita peringati.

Hari ini kita disadarkan bahwa dalam menjalani hidup kita ini, setidaknya kita harus menyadari bahwa kemahakuasaan Tuhan adalah atribut Tuhan yang sama penting-Nya dengan sifat mahakasih-Nya. Karena kasih-Nya, Tuhan sudah mengurbankan Anak-Nya ganti kita, karena kuasaNya Yesus sudah mengalahkan maut sehingga kita mempunyai harapan untuk masa depan. Seperti itu jugalah, didalam mengarungi hidup di dunia ini, kita boleh percaya bahwa Tuhan akan melindungi dan memelihara umat-Nya karena Ia mahakuasa dan mahakasih. Ia yang mahakuasa bisa menggunakan segala sesuatu untuk menolong kita yang sudah menerima Dia.

Jika hati Anda gundah karena apa yang terjadi di sekitar Anda, janganlah hati Anda menjadi kecil. Tuhan bukanlah oknum Ilahi yang karena kemahasucian dan kemahakuasaan-Nya bertindak dengan semena-mena. Sebaliknya, Tuhan menghendaki setiap orang agar mau menyerahkan hidup dan masa depan mereka kepada Tuhan yang mempunyai rencana yang baik untuk seluruh umat manusia, yaitu untuk memberikan keselamatan yang kekal kepada mereka yang mau menerima kasih-Nya yang dinyatakan dalam diri Anak-Nya, Yesus Kristus.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Dapatkah kita berharap akan pertolongan-Nya?

Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Mazmur 46: 1 – 3

Manusia manakah yang tidak pernah takut? Setiap manusia yang normal dan sehat pikirannya tentu pernah merasa takut. Rasa takut adalah mekanisme kehidupan yang membuat orang bisa mengatasi adanya bahaya, dan itu yang sering mendorong orang untuk berusaha membela diri, menyembunyikan diri atau lari dari bahaya. Walaupun demikian, keadaan sering kali membuat orang kehilangan harapan, karena mereka bisa melihat bahwa baik dengan melawan, bersembunyi ataupun melarikan diri, mereka tidak akan dapat melepaskan diri dari ancaman yang ada. Sebagian orang juga merasa pasrah karena mereka percaya bahwa karena Tuhan sudah menetapkan segalanya, tidak ada yang dapat diperbuat manusia.

Sejarah menuliskan berbagai pengalaman manusia dalam menghadapi bahaya besar. Adanya banjir besar di berbagai negara baru-baru ini menunjukkan adanya orang-orang yang berani tetap tinggal di rumah mereka, tetapi ada juga yang mengambil keputusan untuk mengungsi selagi jalan masih bisa dilewati. Adakah orang yang berharap atas pertolongan Tuhan? Adakah orang yang merasa sudah ditolong Tuhan? Jika ada, bagaimana bentuk pertolongan itu? Kelihatannya, jika satu daerah kebanjiran semua orang, Kristen maupun bukan, tidak ada yang bebas dari banjir. Tidak ada orang yang mengalami apa yang dialami bani Israel ketika melarikan diri dari Firaun dan tangan Tuhan membelah laut menjadi dua sehingga mereka dapat lewat. Walaupun demikian, selalu ada orang yang bersyukur, entah karena bisa diungsikan, atau rumahnya yang tidak terlalu rusak karena banjir.

Bagaimana jika kita dihadapkan kepada bahaya yang besar dalam hidup kita? Bagaimana perasaan kita jika kita melihat adanya banyak orang yang saat ini mengalami kesulitan ekonomi dan kita pun mungkin mengalami hal yang serupa karena resesi dunia yang diramalkan mungkin akan terjadi? Jika kita tidak mempunyai harapan apa pun untuk bisa menghindari hal itu, mungkin kita terpaksa untuk hidup dan bekerja seperti biasa tetapi dengan lebih berhati-hati dan menjaga diri. Tetapi, bagaimana pula jika kita tidak yakin bahwa kita akan bisa menjaga diri sepenuhnya? Mungkin kita memutuskan untuk sebisa mungkin menghemat uang kita dan tidak membeli barang jika tidak benar-benar diperlukan. Tetapi, ini pun belum tentu 100 persen aman karena setiap orang tentunya perlu membeli bahan makanan dan sebagainya, yang naik harganya seiring dengan tingkat inflasi Indonesia yang sudah mencapai 5.71% selama setahun terakhir.

Mazmur 119 adalah bab yang terpanjang dari Alkitab karena mempunyai 176 ayat. Penulis mazmur ini kurang diketahui, tetapi diduga Ezra, Daud atau Daniel. Tetapi yang jelas adalah penulisnya mengalami penderitaan atau masalah yang sangat besar. Seluruh ayat yang ada menunjukkan pergulatan jasmani maupun rohani yang dialaminya. Walaupun demikian, dalam setiap kesempatan si penulis menyatakan kerinduan dan pujian kepada Tuhan, sumber pengharapannya. Ia juga menyatakan bahwa dalam Tuhan ia bisa menemukan tempat persembunyian dan perlindungan.

“Engkaulah persembunyianku dan perisaiku; aku berharap kepada firman-Mu.” Mazmur 119: 114

Mazmur 119 jelas menunjukkan perbedaan antara orang yang memiliki (atau lebih tepat, dimiliki) Tuhan dengan orang lain yang tidak mengenal Tuhan dalam menghadapi masalah kehidupan. Adanya Tuhan dalam hidup seseorang membuat perspektif hidupnya berubah sama sekali. Beruntunglah orang yang mengalami masalah tetapi masih mempunyai harapan. Malanglah orang yang mengalami penderitaan dan tidak mendapat penghiburan.

Ayat pembukaan di atas menyatakan bahwa Tuhan itu bagi orang percaya adalah tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Tuhan bukannya Tuhan yang hanya menonton apa yang terjadi, yang sudah direncanakan-Nya, tanpa meresponi doa-doa umat-Nya untuk memberi pertolongan dan penghiburan. Sebab itu orang yang beriman tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Itu karena Tuhan adalah Sang Pencipta yang berkuasa atas langit dan bumi dan segala isinya.

Hari ini, adakah rasa takut dan kuatir dalam diri anda? Adakah masalah yang besar yang seakan tidak akan dapat anda atasi atau hindari? Tuhan yang memiliki kita adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Ia mau mendengarkan doa kita dan sanggup memberi kita keteguhan hati dalam menghadapi semuanya. Kasih-Nya tidak pernah berubah dalam keadaan apa pun, dan kepada-Nya saja kita boleh berharap akan datangnya pertolongan, perlindungan dan penghiburan.

Dari mana datangnya perang?

“Banyak orang yang tewas karena mati terbunuh, sebab pertempuran itu adalah dari pada Allah. Lalu mereka menduduki tempat orang-orang itu sampai waktu pembuangan. 1 Tawarikh 5: 22

Tak terasa perang di Ukraina sudah berlangsung lebih dari 8 bulan. Invasi Rusia ke Ukraina 2022 adalah sebuah perang sehubungan dengan tentara Rusia yang menyerbu Ukraina. Invasi ini memaksa sepertiga penduduk Ukraina untuk berpindah tempat kediaman, dan menyebabkan 7 juta orang Ukraina meninggalkan negaranya, yang memicu krisis pengungsi Eropa yang paling cepat tumbuh sejak Perang Dunia kedua. Invasi tersebut mendapat banyak kritik internasional. Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengesahkan resolusi yang mengkritik invasi dan menuntut pemunduran penuh pasukan Rusia. Mahkamah Internasional memerintahkan Rusia untuk menghentikan operasi-operasi militer dan Majelis Eropa mengeluarkan Rusia. Banyak negara menetapkan sanksi terhadap Rusia, yang mempengaruhi ekonomi Rusia dan dunia, dan memberi bantuan kemanusiaan dan militer ke Ukraina. Tetapi sampai sekarang perang ini tidak kunjung mereda.

Konflik di Ukraina ini sudah bertumbuh sedemikian rupa sehingga ada kekuatiran akan munculnya perang besar yang melibatkan banyak negara. Kekuatiran ini bukan hanya bayangan saja, sebab banyak ahli militer dan intelejen dunia yang sudah memperhatikan gerakan beberapa negara lain yang saat ini mengawasi jalannya perang di Ukraina ini, agaknya karena adanya keinginan untuk menyerbu negara lain. Keadaan yang agaknya cukup genting saat ini ditanggapi oleh sebagian orang Kristen sebagai apa yang sudah ditentukan Tuhan. Dalam hal ini, Paul Symon, direktur badan intelejen Australia yang akan turun jabatan sebentar lagi mengatakan dia tidak tahu apakah perang besar antara negara-negara raksasa adalah kemungkinan yang nyata. “Pendapat bahwa hal-hal ini sudah ditetapkan sebelumnya, adalah tidak benar,” katanya. “Ada banyak kesempatan bagi para pemimpin dan manusia untuk membuat perbedaan dan untuk melangkah dan mengubah jalur dan pengaturan hidup yang Anda jalani.” Saya tidak tahu apakan Paul Symon adalah orang Kristen, tetapi komentarnya bahwa manusia seharusnya mampu untuk menghindari perang membuat saya bertanya-tanya: Dari mana datangnya perang?

Alkitab dalam 1 Tawarikh 5: 18-22 mengisahkan perang anak-anak Ruben, orang Gad dan setengah suku Manasye, melawan orang-orang Hagri, Yetur, Nafish dan Nodab. Ayat 20 menyatakan bahwa anak-anak Israel berseru kepada Tuhan di tengah-tengah pertempuran, dan Tuhan membantu mereka dalam perang melawan musuh-musuh mereka. Ayat 22 di atas menyatakan, “banyak orang yang tewas karena mati terbunuh, sebab pertempuran itu adalah dari pada Allah”. Pertempuran yang datang dari Allah? Jika Tuhan itu baik (Mazmur 100: 5) dan jika Tuhan adalah Tuhan yang damai (Roma 15:33), bagaimana Dia bisa mengobarkan perang?

Peperangan apapun adalah hal yang tidak disukai oleh siapa pun. Peperangan selalu dihubungkan dengan kekejaman, penderitaan dan kematian. Karena itu, semua orang yang sehat akalnya tentu berusaha untuk menghindari terjadinya peperangan. Walaupun demikian, adanya peperangan sering kali seakan tidak dapat dihindari. Dalam Perjanjian Lama kita bisa melihat bagaimana bangsa Israel berperang melawan berbagai bangsa yang ada disekitarnya. Pada saat itu, sering kali peperangan terjadi karena perintah Tuhan kepada bani Israel, bangsa pilihan Tuhan pada waktu itu, untuk menyerang dan menghancurkan bangsa lain. Jika itu terjadi pada zaman sekarang, tidak dapat diragukan bahwa Tuhan akan dituduh berlaku sangat kejam kepada ciptaan-Nya.

Mengobarkan perang dan menjadi Tuhan yang mahakasih dan mahabaik tidaklah harus selalu bertentangan. Pertama, adalah keliru untuk menganggap bahwa semua perang tidak sejalan dengan kebaikan. Seorang ahli bedah mengambil tindakan drastis melawan kanker untuk mendatangkan kebaikan tertinggi bagi pasien. Namun, kejahatan spiritual jauh lebih serius daripada kejahatan fisik. Ketika Tuhan mengobarkan perang di Perjanjian Lama, itu melawan kekuatan roh jahat. Tuhan mengambil tindakan drastis untuk membersihkan tanah dari pengaruh jahat penduduknya.

Kedua, adalah keliru untuk menganggap bahwa berperang tidak sejalan dengan perdamaian. Tidak akan ada kedamaian di dunia jika Tuhan tidak melawan kejahatan. Sesungguhnya, damai sejahtera Tuhan sekarang tersedia bagi semua orang yang percaya, karena Tuhan mengobarkan perang melawan kekuatan jahat – peperangan yang mencapai puncaknya di Golgota di mana darah Anak Tunggal Tuhan dicurahkan. Memang, terkadang perang diperlukan untuk menghasilkan perdamaian yang langgeng.

Setiap tahun pada tanggal 6 Juni banyak negara memperingati hari peringatan 75 tahunnya D-day dimana pada tahun 1944, tentara sekutu mendarat secara besar-besaran di pantai-pantai Normandy, Perancis utara. Pendaratan tentara sekutu di daerah yang saat itu dikuasai oleh tentara Nazi Jerman adalah permulaan dari usaha pembebasan benua Eropa yang menewaskan ratusan ribu prajurit dari kedua pihak. Karena berhasilnya tentara sekutu dalam melakukan invasion itu, perang dunia kedua tidak lama kemudian berakhir dengan menyerahnya pihak Nazi Jerman. Dengan berakhirnya perang dunia kedua, dunia kemudian menjadi lebih tenang, dan dengan demikian keadaan ekonomi, teknologi, sosial dan budaya di banyak negara mengalami kemajuan pesat.

Semua peperangan terjadi dengan seijin Tuhan, dan sekalipun sebagian di antaranya bukanlah sesuatu yang dikehendaki Tuhan, setiap peperangan pada akhirnya bisa menunjukkan bahwa Tuhan tetap bekerja dalam keadaan yang bagaimanapun buruknya. Peperangan sering kali terjadi karena dosa yang dilakukan oleh suatu bangsa atau oleh pemimpinnya. Mereka yang berusaha memberontak dari norma-norma kebaikan dan kebenaran Tuhan, dengan sengaja melakukan tindakan-tindakan yang menyebabkan pertikaian. Tetapi, sejarah membuktikan bagaimanapun buruknya tindakan manusia, Tuhan yang mahatahu selalu dapat mengatasinya dan bahkan menunjukkan kebesaran dan kasihNya melalui tindakan orang-orang yang dipilih-Nya.

Hari ini kita harus bersyukur bahwa keadaan dunia pada saat ini pada umumnya tidaklah seburuk abad-abad yang telah lalu. Walaupun demikian, tiap hari selalu ada saja berita-berita yang menyedihkan, dan itu mungkin yang disebabkan oleh tindakan seseorang, sekelompok tertentu, pemimpin rakyat ataupun negara tertentu. Bahkan dalam rumah tangga dan gereja pun, sering ada pertikaian yang membawa permusuhan dan perpecahan. Dalam hal ini, kita harus yakin bahwa Tuhan yang mahakasih pada hakikatnya bukanlah Tuhan yang merestui pertikaian manusia. Bukan Tuhan yang mengadu domba untuk menimbulkan permusuhan antar bangsa.Sebaliknya,Tuhan memerintahkan semua umat-Nya untuk bisa mengasihi sesama mereka.

Sebagai umat Kristen kita memang terpanggil untuk menunjukkan kedamaian dari Tuhan yang sudah kita terima kepada semua orang. Tetapi, selama kita hidup di dunia, kekacauan karena perbuatan manusia selalu muncul silih berganti. Bagaimana kita harus bersikap dalam menghadapi suasana yang tidak menyenangkan itu? Firman Tuhan hari ini menunjukkan bahwa Tuhan selalu memperhatikan keadaan dunia. Ia selalu memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya. Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya, tetapi Ia meninggikan orang-orang yang rendah hati dan berserah kepada bimbinganN-ya. Karena itu, biarlah kita mau meyerahkan hidup dan masa depan kita kepada-Nya sambil percaya bahwa keadilan Tuhan selalu terlihat pada akhirnya.

“Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah” Lukas 1: 51 – 52

Kalau cinta salah alamat

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 10

Saya rasa setiap orang pernah jatuh cinta. Namun tidak semua orang berhasil mendapatkan apa yang dicintainya. Mungkin apa yang pernah dicintainya adalah orang yang menampik cintanya, dan itu bisa membuat dia patah hati. Tetapi orang juga bisa bersedih jika barang yang dicintainya ternyata tidak bisa dimilikinya. Mungkin itu karir, mungkin juga kepandaian, atau kemampuan. Memang kata orang, cinta bisa salah alamat. Itu jika apa/siapa yang dicintai seseorang ternyata tidak dapat diperoleh akibat salah pilih. Hal cinta salah alamat ini sudah pernah dijadikan film dan lagu di Indonesia, mungkin karena kejadiannya selalu menimbulkan rasa ingin tahu orang lain. Mengapa cinta seseorang bisa salah alamat?

Ayat di atas adalah tulisan Rasul Paulus kepada rekannya yang jauh lebih muda, Timotius. Seatu pesan untuk semua orang Kristen agar tidak mengalami cinta salah alamat. Paulus menulis agar kita tidak pernah jatuh cinta kepada uang atau harta. Uang dan harta tidak bisa mencintai kita, sekalipun besar cinta kita kepadanya.

Jika cinta seseorang kepada orang lain bisa salah alamat dan membuat orang patah hati, cinta salah alamat kepada uang atau harta bisa membuat orang menyimpang dari imannya dan mendatangkan berbagai siksaan dan duka dalam hidupnya. Mengapa demikian?

Ayat di atas tidak mengatakan bahwa kita tidak perlu mencari uang atau tidak perlu bekerja keras. Ayat di atas tidak bernada anti kekayaan. Apa yag digaris bawahi adalah hal mencintai uang atau harta, alias tamak. Siapakah yang mau dikatakan tamak? Saya kira tidak ada seorang pun. Tamak mempunyai konotasi yang jelek sebab kata itu dihubungkan dengan keserakahan dan kerakusan akan uang.

Memang, seringkali orang menghubungkan ketamakan dengan tingkah laku yang tercela untuk memperoleh keuntungan materi, seperti korupsi, penggelapan uang atau perampasan harta orang lain. Banyak orang yang berpikir bahwa orang kaya adalah identik dengan orang yang tamak. Karena tamak, orang bisa menjadi kaya, dan orang yang kaya tentunya tamak. Oleh karena itu ada orang Kristen yang berpendapat bahwa kekayaan adalah bertentangan dengan iman. Tentu saja, pendapat seperti itu adalah tidak benar. Baik orang kaya maupun yang tidak kaya bisa menjadi orang yang tamak, yang selalu tidak pernah merasa cukup dalam hidupnya.

Uang memang bisa membawa kebahagiaan, tetapi juga penderitaan. Banyak orang berpendapat bahwa jika ada uang, kebahagiaan akan mudah diperoleh. Bagi sebagian orang, banyaknya uang mungkin identik dengan besarnya berkat dan kasih Tuhan. Tetapi Tuhan tidak pernah memberi kemampuan untuk mencintai uang kepada manusia. Sebaliknya, Alkitab sering menyatakan kebencian Tuhan akan mereka yang memuja hartanya. Pada pihak yang lain, banyak orang yang merasa bahwa penderitaan hidup muncul karena tidak adanya uang, atau karena banyaknya uang yang harus dikeluarkan. Bagi mereka, rasa patah hati mungkin sering dirasakan, ketika uang dan harta meninggalkan mereka. Apa kata Yesus dalam hal ini?

KataNya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Lukas 12: 15

Menurut dunia, uang memang kunci kehidupan. Menurut dunia kebahagiaan dan penderitaan bisa diukur dengan uang yang masuk atau uang yang keluar. Karena itu banyaklah orang yang cinta salah alamat. Yesus dalam ayat di atas berkata bahwa hidup manusia tidak bergantung pada kekayaannya; sebab sekalipun seorang berlimpah-limpah hartanya, kebahagiaan belum tentu datang. Hal yang sebaliknya justru sering terjadi: karena harta yang berlimpah-limpah seorang bisa melupakan Tuhannya dan mengalami kehampaan hidup. Walaupun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa mereka yang hidup dalam kekurangan bisa merasakan bahwa hidup ini sangat berat dan Tuhan itu tampak jauh.

Dengan demikian, manakah yang lebih baik: menjadi orang kaya atau orang miskin? Jika kemakmuran bisa membuat orang jauh dari Tuhan, kemiskinan juga bisa mempunyai akibat yang serupa. Menurut ayat di atas, apa yang penting bagi kita adalah untuk menghindari ketamakan. Ketamakan bukanlah monopoli orang yang kaya saja: mereka yang kaya bisa menjadi tamak karena kecintaan kepada harta, tetapi mereka yang berkekurangan bisa menjadi tamak karena kerinduan untuk memperoleh harta. Dengan demikian, baik kaya atau miskin, orang bisa saja menjadi tamak. Orang yang tamak selalu ingin memperoleh harta yang lebih dari apa yang sudah dimilikinya.

Hari ini kita diingatkan bahwa jika cinta kita salah alamat, kita bisa lupa bahwa hidup kita hanya bergantung kepada Tuhan yang mengasihi kita. Dengan mengejar kekayaan orang bisa jatuh kedalam berbagai pencobaan, dan karena cinta akan uang orang bisa melakukan berbagai kejahatan. Mereka yang siang malam memikirkan harta, pada akhirnya bisa mendewakan harta dan kehilangan Tuhan. Karena itu, seperti Paulus kita harus mau melatih diri agar bisa merasa cukup dalam setiap keadaan. Hidup orang beriman akan terasa indah jika dipenuhi dengan rasa syukur atas apa yang sudah diberikan Tuhan.

“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” 1 Timotius 6: 6

Pentingnya memuliakan Tuhan dan bersyukur kepada-Nya

“Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.” Roma 1: 21

Mana yang ada lebih dulu, ayam atau telur? Pertanyaan ini bukan hanya untuk bergurau, tetapi sudah dipikirkan banyak filsuf dari ratusan tahun yang lalu. Mungkin bagi sebagian besar orang Kristen jawabnya sudah pasti ayam, karena Tuhan dalam kitab Kejadian menciptakan semua hewan dalam keadaan dewasa, bukan bayi atau telur. Tetapi, sekarang sebagian orang sudah bisa menerima kenyataan bahwa telur dulu ada sebelum ayam. Mengapa begitu? Ayam yang kita kenal sekarang adalah hewan yang umurnya relatif muda. Jenis ayam yang diternakkan sekarang mungkin muncul setelah burung-burung tertentu kawin silang dan menghasilkan telur yang berisi ayam.

Ayat di atas agaknya menyatakan bahwa ada orang-orang yang mengenal Allah, mereka tetapi tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Karena itu, pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Tetapi, kita mungkin melihat adanya banyak orang yang menjalani hidup dalam kegelapan, dan karena itu tidak dapat mengenal Tuhan dan bersyukur kepada-Nya. Mana yang lebih dulu ada, pikiran yang sia-sia, atau hidup tidak menghargai Allah? Agaknya pertanyaan ini sulit dijawab, seperti pertanyaan tentang telur dan ayam.

Alkitab jelas menyatakan bahwa rasa takut, hormat dan bersyukur kepada Tuhan adalah kunci kebahagiaan manusia di dunia. Pemazmur sebagai contoh menulis:

Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Mazmur 112: 1

Ini sudah tentu bertentangan dengan pandangan dunia yang menyatakan bahwa takut akan Tuhan justtu membuat manusia tidak bebas untuk menikmati apa yang ada di dunia. Lebih lanjut, Raja Salomo menulis;

“Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.” Amsal 1: 7

Dengan demikian, Paulus dalam ayat pembukaan di atas tentunya tidak menyatakan bahwa manusia yang tidak mengenal Allah, yang cara hidupnya tidak baik, akan menjadi manusia yang tidak dapat memuliakan Dia atau bersyukur kepada-Nya. Sebaliknya, mereka yang tahu adanya Allah, tetapi memilih untuk tidak memuliakan Dia atau bersyukur kepada-Nya, akan menjadi orang yang malang di dunia. Ini termasuk mereka yang merasa sudah menjadi orang Kristen, tetapi kurang menghargai karya penebusan Kristus dan memilih untuk tetap hidup dalam dosa. Hidup orang-orang sedemikian akan membuat pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh (Roma 1: 22). Semua itu bukanlah Tuhan yang menyebabkan, tetapi manusialah yang harus bertanggung jawab atas cara hidupnya yang keliru. Karena itu, Tuhan melepaskan tangan perlindungan-Nya dan meyerahkan mereka kepada keinginan mereka agar mereka mengalami berbagai masalah di dunia.

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai orang Kristen yang mengenal Allah melalui iman, kita wajib menghormati dan memuliakan Dia sebagai Allah dan selalu mengucap syukur kepada-Nya. Kita tidak boleh mempersalahkan Tuhan yang kita anggap menyebabkan derita atau masalah dalam hidup kita. Dalam keadaan apa pun kita tidak boleh lupa bahwa karunia-Nya yang terbesar adalah pembebasan kita dari kuasa dosa.

“Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu. Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” Roma 6: 17-18

Sebagai umat-Nya kita tidak boleh menyerah kepada tantangan kehidupan, apalagi berhenti memulakan Tuhan dan bersyukur kepada-Nya. Dalam segala sesuatu yang ada, marilah kita tetap setia kepada-Nya dan hidup serta bekerja untuk kemuliaan nama-Nya!

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3: 17

Apa yang harus aku perbuat agar diselamatkan?

Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Lukas 10: 27

Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Lukas 10: 25-28.

Ayat-ayat ini adalah bagian Alkitab yang sangat menarik, terutama jika dibandingkan dengan dua hukum yang utama yang disebutkan oleh Yesus dalam Matius 22: 34-40. Jika dalam Lukas 10 seorang ahli Taurat menayakan apa yang harus ia perbuat untuk bisa diselamatkan, dalam kitab Matius ditulis bahwa ahli Taurat itu mencobai Yesus dengan menanyakan hukum mana yang terutama dalam hukum Taurat. Perbedaan antara “hukum yang menyelamatkan” dan “hukum yang utama” ini yang mungkin dipertanyakan oleh orang Kristen di zaman ini.

Sebenarnya dalam penyampaian dalam Lukas dan Matius di atas tidak ada perbedaan. Memang, orang Yahudi yang saaat itu hidup di bawah hukum Taurat percaya bahwa mereka harus menjalankan hukum Taurat itu sepenuhnya agar dapat diselamatkan. Itu juga mirip dengan sebagian kecil orang Kristen di zaman ini, yang ingin mengembalikan pelaksanaan hukum Taurat dalam ibadah mereka. Masalahnya, jika Yesus menjawab bahwa kedua hukum itu membawa hidup dalam kitab Lukas, dan menyatakan bahwa keduanya adalah hukum yang utama dalam kitab Matius, mungkin ada orang Kristen yang percaya bahwa jika kita tidak dapat melaksanakan kedua hukum itu dengan baik, kita tidak akan diselamatkan. Paling tidak, kita harus berusaha hidup sesuai dengan kedua hukum itu agar bisa diselamatkan. Benarkah itu?

Kita harus ingat bahwa Yesus menjawab pertanyaan ahli Taurat itu sesuai dengan apa yang diyakini orang itu. Ahli Taurat percaya bahwa hidup manusia yang memenuhi hukum Taurat adalah satu-satunya jalan untuk mencapai surga. Ketika ahli Taurat itu mencobai Yesus dengan pertanyaan di atas, ia berusaha memojokkanYesus agar mengakui bahwa pelaksanaan hukum Taurat adalah mutlak diperlukan sebagai syarat ke surga. Tetapi, Yesus menjawab dengan pernyataan yang cocok untuk orang itu, sebab siapa yang hidup dibawah hukum Taurat akan dihakimi dengan hukum Taurat.

Adakah orang yang bisa menaati kedua hukum Taurat di atas? Dalam kenyataannya, tidak ada seorang pun yang bisa. Ahli Taurat pun tidak bisa, karena tidak ada manusia berdosa yang mampu untuk menggunakan kebebasannnya untuk memilih apa yang baik, yang berkenan kepada Tuhan. Mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap kekuatan dan dengan segenap akal budi kita, dan mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri adalah mudah dikatakan, tetapi sulit atau tidak mungkin dilaksanakan. Manusia dari awalnya punya kecenderungan untuk memikirkan diri sendiri; dan setelah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, secara sadar atau tidak, selalu menempatkan diri sendiri di atas segala-galanya.

Jelas bahwa manusia yang berdosa tidak akan dapat melaksanakan kedua hukum utama dari Taurat. Manusia dengan demikian tidak akan bisa mendapat keselamatan jika syaratnya adalah kedua hukum di atas. Apa yang bisa kita lakukan adalah berusaha untuk melakukannya “sebaik mungkin”, tetapi tidak ada seorang pun yang bisa memenuhi semua persyaratannya. Hanya Yesus yang dapat melakukan hukum Taurat dengan sempurna. Yesus sudah menggenapi kedua hukum utama itu dengan mati di kayu salib, karena kasih-Nya yang sempurna kepada Allah Bapa dan manusia.

Selanjutnya, mengenai keselamatan kita bisa memelajari apa yang dijelaskan oleh Rasul Paulus dalam kitab Roma 2. Paulus membagi seluruh umat manusia ke dalam dua kategori: Mereka yang menjalani kehidupan yang baik dan diberikan hidup yang kekal oleh Tuhan (Roma 2:7) dan mereka yang mementingkan diri sendiri dan mendapatkan murka Tuhan (Roma 2:8 ). Tuhan akan menghakimi setiap orang menurut standar itu, tulis Paulus, tidak peduli apakah orang Yahudi atau non-Yahudi. Ini nampaknya, pada awalnya, seperti dukungan keselamatan oleh perbuatan. Namun, seperti yang ditunjukkan Paulus, orang yang termasuk dalam kategori pertama sebenarnya tidak ada. Tidak ada yang bisa lepas dari sifat egois dan ketidaktaatan mereka sendiri.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3: 23

Pagi ini, pertanyaan “Apa yang harus aku perbuat agar diselamatan?” mungkin pertanyaan Anda juga. Jawabannya adalah sebuah pertanyaan: Sudahkah Anda merasakan kasih Yesus dalam hidup Anda? Jika Anda yakin bahwa kasih-Nya ada dalam hidup Anda, baik dalam suka maupun duka, kasih-Nya bisa 100% dipastikan sudah membasuh dosa-dosa Anda. Anda tidak perlu hidup dalam tekanan hukum dan kekuatiran akan dosa lama – karena keselamatan jiwa Anda sudah dijamin oleh Yesus yang sudah mengenapi dua hukum yang utama dengan sempurna. Menggenapi bukanlah berarti menjalankan kedua hukum itu untuk Anda, karena sebagai umat-Nya kita tetap harus mau berusaha sekeras mungkin untuk melaksanakannya dalam hidup kita sebagai rasa syukur kita kepada-Nya. Tetapi, kita boleh yakin bahwa dalam segala kekurangan kita, Yesus sudah menjadi Penebus kita.

“Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.” 1 Tesalonika 5:24

Mencari teman hidup

“Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” Amsal 27:17

Tidak dapat dipungkiri, sejak adanya berbagai media sosial banyak orang menjadi sangat bersemangat untuk berkomunikasi dengan “teman”. Dengan berbagai aplikasi orang bisa berkomunikasi langsung melalui pesan tertulis ataupun pesan lisan kapan saja. Memang, sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan orang lain untuk bisa menjadi teman untuk berinteraksi. Kemajuan teknologi memang bisa membuat dua orang yang terpisah jarak ribuan kilometer, sepertinya ada dalam satu ruangan saja. Istilah teman sekarang ini bukan saja mencakup orang yang pernah kita temui, tetapi juga teman-teman maya yang sebenarnya tidak pernah kita kenal. Bahkan, dalam dunia maya, orang bisa jatuh cinta dan bermesraan bak sepasang merpati yang mabuk kepayang. Pada pihak yang lain, melalui media sosial orang juga bisa menabur benih kebencian atau menjadi korban tipuan orang lain.

Sebenarnya, lebih dari teman untuk berinteraksi, sebagian orang mungkin membutuhkan teman hidup. Teman hidup adalah tempat kita untuk bersandar dan mencari rasa aman. Kita dapat mempercayainya untuk segala hal dalam kehidupan dengan bergantung pada rasa cinta dan hormat, serta memahami kebutuhan dan keinginan masing-masing. Ini mungkin cocok untuk dipakai untuk pasangan kita, suami atau istri. Hubungan yang nyata ini tidak dapat dibayangkan secara maya dalam media sosial.

Walaupun bagi orang Kristen teman hidup berarti teman hidup untuk seumur hidup, terkadang seorang bisa kehilangan pasangannya, mungkin karena adanya penyakit, kecelakaan, atau juga usia tua. Lebih dari itu, di zaman ini banyak juga pasangan Kristen yang bercerai sekalipun itu bukan yang dijehendaki Tuhan. Karena itu, jika orang mengatakan bahwa suami dan istri adalah pasangan sehidup semati, itu tidaklah tepat. Teman hidup ada, tetapi teman mati tidaklah ada. Karena itu, dalam pernikahan orang Kristen, janji pernikahan hanya menyangkut kesetiaan selama hidup, sampai saat kematian memisahkan pasangan itu. Di surga, seperti yang kita ketahui, tidaklah ada hubungan suami istri. Di surga tidak ada kematian, karena yang ada adalah kehidupan kekal. Dengan demikian, di surga semua orang yang diselamatkan adalah teman hidup di dalam kasih karunia Yesus Kristus.

Jelas bahwa tujuan orang Kristen dalam berteman selama hidup di dunia adalah mencari teman hidup. Teman selama hidup di dunia, dan teman selama hidup di surga, untuk selama-lamanya. Ini tidaklah mudah, karena teman selama hidup di dunia, mungkin bukan teman hidup di surga. Teman yang ditemui di surga, mungkin bukan teman selama hidup di dunia. Tetapi, setiap orang Kristen tentu berharap agar semua sanak dan teman kita di dunia akan bisa menjadi teman hidup kita di surga melalui karunia keselamatan dari Tuhan dan iman yang bebar.

Ayat di atas adalah sebuah pengajaran kepada kita tentang makna sebuah hubungan antar sesama manusia sebagai makhluk sosial dalam sebuah komunitas. Komunitas hidup itu mungkin bisa di ibaratkan seperti sebuah tempat tukang besi dalam menempa besi atau logam untuk membuat sebuah alat. Misalnya membuat cangkul, pisau atau membuat alat-alat dapur lainnya. Besi dan logam itu telah dirancang namun membutuhkan tempaan, gesekan dengan sesama besi atau bahkan api yang sangat panas untuk menghasilkan benda yang baik dan berkualitas.

Hal ini telah menjadi gambaran yang tepat dan indah dalam membentuk kualitas hidup persahabatan yag lebih bermakna sekalipun melalui jalan dipukul dan digesekan hingga terluka. Pengajaran ini disampaikan seorang Raja yang sangat berhikmat yaitu Raja Salomo. Salomo agaknya berharap supaya pengajaran ini memberikan makna pembentukan diri setiap orang melalui hubungan persahabatan selama hidup di dunia, yang terkadang membawa situasi yang panas. Namin, ini seharusnya tetap bisa menemukan makna yang baik. Ini adalah faktor positif yang membangun persahabatan.

Walaupun demikian, beberapa teolog mencatat bahwa ayat ini menyangkut hubungan yang terkadang dapat berdampak negatif. Orang bisa memberi masukan ke orang lain, dan bisa memberi terlalu banyak usul, atau memaksakan pendapatnya. Seseorang dapat memperkenalkan yang lain kebiasaan buruk. Teolog-teolog ini berpendapat bahwa interpretasi negatif adalah lebih akurat secara alkitabiah. Misalnya, Ronald Giese berpendapat, “…bukti alkitabiah untuk bagian kata ‘tajam’ menunjuk pada pengertian yang negatif, seperti ‘lidah yang tajam’ yang menunjukkan niat untuk melakukan kecaman yang bisa membawa kehancuran. Pada dasarnya, penggunaan kata Ibrani yang diterjemahkan tajam dalam ayat ini, digunakan di tempat lain untuk hal-hal yang berkonotasi licik atau niat jahat. Ini sebenarnya bukan hanya terjadi di antara masyarakat non Kristen, tetapi juga sering terjadi di kalangan anggota gereja saat ini.

Sehubungan dengan hal persahabatan selama hidup di dunia, Rasul Paulus dalam hidupnya seakan sudah bisa membayangkan apa yang kita alami sekarang. Itu karena pada zamannya, orang Kristen yang tinggal di Korintus menghadapi masyarakat yang mempunyai berbagai kepercayaan, kebiasaan dan budaya yang seringkali tidak sesuai dengan iman Kristen. Dengan itu, tidaklah mengherankan jika ada orang Kristen di Korintus yang terpikat oleh apa yang nampaknya baik. Mereka kemudian jatuh dalam dosa dan cara hidup yang kurang benar, dan kemudian mempengaruhi yang lain. Kepada jemaat Korintus Paulus mengingatkan:

“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu.” 1 Korintus 15:33-34

Pagi ini mungkin kita bersiap untuk ke gereja. Di gereja, kita bersekutu dengan saudara-saudara seiman, memuji Tuhan dan mendengarkan firman-Nya. Kita merasa tenteram dan bahagia, dan Tuhan terasa dekat. Mungkin kita berharap bahwa ketenteraman dan kebahagiaan juga bisa ditemui diantara beberapa teman-teman Kristen kita. Tetapi, seusai kebaktian kita akan kembali menghadapi dunia dengan segala tipu muslihatnya. Dalam hal ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa di dunia ini ada banyak orang Kristen yang sebenarnya tidak benar-benar mengenal Tuhan, atau tidak mengenal Tuhan dengan benar. Mungkin kita sudah terbiasa bergaul dengan mereka dan merasa bahwa mereka adalah orang yang baik. Tetapi firman Tuhan mengatakan bahwa kita tetap harus berhati-hati dalam berinteraksi, agar kita tidak mengikuti pandangan dan kebiasaan hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan yang sudah memerintahkan kita untuk mengerjakan iman kita dengan sungguh-sungguh. Kita harus mencari apa yang positif; dan menghindari apa yang negatif dalam pergaulan, yang tidak membawa kemuliaan bagi Tuhan. Orang Kristen haruslah mencari teman untuk hidup di dunia dan di surga!