Apa yang anda kerjakan setelah menjadi budak Tuhan?

“Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu. Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” Roma 6: 17-18

Tahukah Anda bahwa kata “hamba” muncul lebih dari 150 kali dalam Perjanjian Baru? Itu seharusnya tidak mengejutkan karena diperkirakan ada sekitar satu dari empat orang di Kekaisaran Romawi adalah budak, tetapi kata “budak” hanya muncul sekitar 10 kali. Mengapa? Para penerjemah tidak terlalu menyukai kata “budak” karena konotasi yang dibawa oleh kata tersebut. Mereka lebih menyukai kata “hamba” daripada “budak”.

Untuk beberapa alasan, kata Yunani “doulos” yang berarti “budak”, diterjemahkan (salah menerjemahkannya) menjadi “hamba”, sekalipun ada perbedaan besar antara menjadi budak dan menjadi hamba. Seorang hamba bekerja untuk tuannya dan kemudian pulang kerumahnya sendiri. Tuannya membayar hamba untuk pekerjaan mereka, tetapi seorang budak tidak dibayar. Budak tidak punya hak. Mereka bukan milik sendiri. Walaupun demikian, seorang budak sering kali menjadi bagian dari keluarga dan ia tidak perlu khawatir dari mana datangnya makanan, di mana mereka akan tidur di malam hari, dan tidak perlu memikirkan berapa harga sewa rumah atau biaya rumah tangga. Karena itu budak lebih dari hamba sebab mereka adalah bagian dari keluarga. Begitulah hubungan antara sebagian besar budak dan tuan di abad pertama.

Anda tidak akan berpikir bahwa tuan dari budak akan mencintai mereka sebagai salah satu dari mereka sendiri, tetapi memang, mereka adalah bagian dari keluarga. Salah satu contohnya adalah ketika seorang perwira Romawi mengirim seorang pria kepada Yesus untuk membantunya menyembuhkan hamba atau budaknya. Jelas bahwa budak disayangi tuannya lebih dari hamba mana pun, oleh karena itu menjadi budak Kristus adalah lebih baik dari sekedar menjadi hamba atau pelayan. Seorang hamba tidak benar-benar sadar akan sifat dan kehendak tuannya, lain halnya dengan budak yang selalu tinggal bersamanya. Budak lebih dari sekadar properti, tetapi, dalam banyak kasus, mereka dianggap sebagai bagian dari keluarga. Itulah alasan mengapa kita harus percaya bahwa kita adaah budak Kristus dan bukan sekadar hamba-Nya. Dia memiliki kita sepenuhnya!

Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. Roma 6: 22

Apa artinya menjadi hamba Kristus yang tinggal bersama Kristus seperti budak yang dulu tinggal atau hidup dengan tuannya? Artinya kita secara sadar menyerahkan kehendak kita kepada kehendak-Nya. Artinya kita tidak memiliki apa-apa kecuali apa yang telah diberikan-Nya kepada kita (1 Kor 4:7). Artinya kita adalah milik-Nya. Bukannya kita yang memilih Dia, tetapi Dia yang memilih kita. Budak berada pada kehendak pemilik dan tidak mengendalikan hidup mereka sendiri. Tetapi budak dengan sadar mau bekerja untuk tuannya.

Satu hal yang baik tentang menjadi budak Kristus adalah bahwa kita tidak lagi menjadi budak dosa atau perbudakan dosa karena sudah dibeli dengan darah Kristus. Bagaimanapun, kita telah mati dalam dosa-dosa kita, bahkan tanpa menyadarinya (Efesus 2:1-2). Inilah sebabnya mengapa kita harus mati untuk diri kita sendiri dan hidup untuk Kristus. Kita hidup untuk Dia karena kita dimiliki oleh-Nya dan apa pun yang Dia inginkan harus menjadi apa pun yang kita inginkan dan lakukan dengan kesadaran bahwa itu adalah baik adanya. Itu karena seorang budak mengenal tuannya lebih baik daripada seorang hamba atau pelayan dan ganjaran untuk seorang budak jauh lebih besar dari sekedar menjadi seorang pelayan.

Salah satu kesalahpahaman tentang hal menjadi budak Tuhan bisa terjadi karena adanya orang Kristen merasa menjadi milik Tuhan tanpa keharusan untuk hidup bagi kemuliaan Tuhan. Ini bisa terlihat orang-orang Kristen duniawi” yang percaya bahwa karena mereka aman selamanya, mereka dapat menjalani gaya hidup tidak bermoral apa pun yang mereka inginkan dan tetap diselamatkan.

Tapi itu adalah kesalahpahaman dari apa yang Alkitab ajarkan. Seseorang yang percaya bahwa dia dapat hidup dengan cara apa pun yang dia inginkan karena dia telah mengakui Kristus tidak menunjukkan iman yang menyelamatkan yang sejati (1 Yohanes 2:3-4). Ketika seseorang diselamatkan, Roh Kudus melepaskan dia dari perbudakan dosa, dan memberinya hati yang baru dan keinginan untuk mencari kekudusan. Oleh karena itu, seorang Kristen sejati akan selalu berhasrat untuk taat kepada Allah dan akan diinsafkan oleh Roh Kudus ketika ia berbuat dosa. Orang Kristen sejati tidak akan pernah “hidup semaunya” karena perilaku seperti itu tidak mungkin dilakukan oleh seseorang yang telah diberi natur baru sebagai budak Kristus (2 Korintus 5:17).

Hari ini kita diingatkan bahwa jika kita mau mengikut Yesus, kita sewajarnya memegang dan melaksanakan apa yang baik, yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita tidak boleh lupa bahwa sekalipun kita sudah dianggap sebagai anggota keluarga Tuhan, kita adalah budak-Nya yang harus melakukan apa yang disenangi-Nya. Tuhan kita adalah mahabaik dan mahasuci, karena itu kita harus berusaha untuk hidup baik dan hidup dalam kesucian. Diperlakukan sebagai anggota keluarga, kita sudah diberi pengertian akan apa yang baik dan apa yang buruk, dan karena itu harus melakukan apa yang baik. Tidak ada alasan bagi kita untuk membebaskan diri kita dari melaksanakan kehendak-Nya, sekalipun kita adalah orang-orang yang sudah dipilih-Nya.

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4:17

Menyerah adalah kata kerja aktif

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. 1 Petrus 5: 7

Benarkah “menyerah” adalah kata kerja aktif? Cara yang paling mudah untuk memahami pengertian kata kerja aktif dan pasif adalah dengan melihat imbuhannya. Kata kerja aktif umumnya memiliki fungsi sebagai pelaku atau subjek yang mendapatkan imbuhan me- atau ber-. Sedangkan, kata kerja pasif biasanya berfungsi sebagai pelaku atau subjek yang diberi imbuhan di- atau ter-. Kata kerja aktif memiliki subjek yang berposisi sebagai pelaku atau pihak yang melakukan.

Menyerah adalah kata kerja aktif yang mempunyai konotasi negatif. Menyerah berarti menjadi lemah. Anda menyerah ketika tidak memiliki keinginan lagi untuk bertarung, ketika anda kekurangan kekuatan, ketika anda kurang percaya. Menyerah bisa tampak seperti cacat karakter, terutama di dunia bisnis dan politik di mana orang ingin menang dengan cara apa pun. Jangan pernah menyerah, jangan pernah menyerah. Bertahan, melawan, berjuang. Begitu anjuran para influencer.

Tetapi sebenarnya menyerah tidak selalu tentang kekalahan, atau kelemahan, atau kepasifan. Tindakan pasrah, menyerah, bisa menjadi tindakan membuka diri, penerimaan. Itu bisa seberani dan sebesar kemenangan apa pun. Ayat di atas menyiratkan penyerahan orang Kristen kepada Tuhan yang memelihara mereka. Penyerahan ini adalah tindakan yang aktif, yang menunjukkan keberanian untuk berjuang, tapi juga kemauan untuk bergantung kepada Tuhan. Bukan karena hilang harapan, tetapi adalah siasat orang Kristen dalam menghadapi perang kehidupan.

Ini adalah paradoks. Tuhan berdaulat, tetapi manusia bertanggung jawab atas hidupnya. Salah satu bagian kehidupan adalah berjuang, sedang pada bagian yang lain manusia menyerahkan kekuatirannya kepada Tuhan. Terkadang kita harus melepaskan kekuatan kita untuk mendapatkan kekuatan yang lebih besar. Dan itu pada gilirannya mengubah pandangan kita terhadap kekuatan kita dan keinginan untuk menang. Dengan kata lain, penyerahan diri menjadi tindakan yang radikal dan transformatif. Sebuah redefinisi ego dan kemauan dan kesuksesan. Menyerah menciptakan ruang keberadaan baru bagi manusia yang terbatas, tetapi yang mempunyai Tuhan.

Ketika kita menyerahkan diri pada Tuhan, kita membiarkan diri kita melunak. Menyerah mengundang kita untuk menyerahkan diri kita kepada Tuhan yang mahabesar, untuk berbaur dengan keheranan dan kekaguman. Menyerah menciptakan keintiman dan kebebasan pada saat yang sama. Ini memicu rasa ingin tahu, eksplorasi, atas apa yang dikehendaki Tuhan. Kita menyerah mencoba untuk mengubah dan mengendalikan hal-hal yang di luar kemampuan kita. Kita menyerah karena tidak tahu apa yang akan terjadi. Tetapi kita tahu bahwa Tuhan adalah mahakuasa dan mahakasih.

Bayangkan apa yang akan berubah jika Kita membiarkan diri kita menyerah dalam percakapan dengan orang lain. Bagaimana jika anda berkomitmen untuk mendengarkan, membiarkan kata-kata dan semangat orang lain bangkit dan membuat fokus pembicaraan berubah dari sudut pandang anda, kebutuhan anda. Bagaimana jika anda memutuskan untuk tidak mencoba memenangkan argumen berikutnya yang anda hadapi? Bagaimana jika anda memutuskan untuk tidak menjadikan diri anda pusat pembicaraan antara anda dan Tuhan?

Hari ini, dalam menghadapi perjuangan hidup, kita harus sadar bahwa Tuhan adalah pusat kehidupan kita. Hubungan kita dengan Tuhan akan membawa keyakinan akan kuasa dan kasih-Nya, jika kita mau menyerahkan hidup dan masalah kita kepada-Nya. Itu bukan berari kita menjadi pasif dan berhenti berjuang. Tetapi sebaliknya kita akan makin bersemangat untuk menghadapi semua tantangan kehidupan, dengan kepercayaan bahwa Tuhan yang mahakuasa sanggup untuk membimbing kita ke arah yang baik, yang sesuai dengan kehendak-Nya. Keputusan ada di tangan kita, apakah kita mau untuk menyerahkan segala kekuatiran kita kepada-Nya, agar kita dapat merasakan kasih dan pemeliharaan-Nya.

Melupakan masa lalu untuk maju ke depan

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Filipi 3: 13-14

Pandemi COVID-19 saat ini sudah dapat dikatakan mereda, dan itu membawa nafas lega bagi banyak orang. Walaupun demikian, ada banyak orang yang masih mengalami tantangan, perjuangan dan penderitaan di saat ini. Masa depan dunia memang masih terlihat seperti sebuah tanda tanya besar. Bagaimana kita harus bersikap?

Hari ini, Rasul Paulus seolah menyapaikan pesan yang penting dalam hidup kekristenan. Jangan pikirkan apa yang sudah terjadi, tapi majulah menghadapi masa depan yang cemerlang! Kita tidak dapat menafsirkan kata-kata ini dengan pengertian bahwa bagi Paulus masa lalu tidak berarti apa-apa. Sebaliknya ini adalah pernyataan tentang pandangan hidup Paulus secara keseluruhan, yaitu bahwa masa depan lebih penting baginya, lebih dalam pemikirannya, daripada masa lalu. Pandangan Paulus yang dicatat dalam Alkitab ini haruslah menjadi pandangan kita juga.

Semangat itulah yang dimiliki Paulus ketika dia berbicara tentang melupakan apa yang ada di belakang dan berusaha keras untuk apa yang ada di depan. Mengapa memusatkan pikiran kita pada masa lalu ketika yang terbaik belum terjadi? Mengapa dibelenggu ke masa lalu, ketika masa depan lebih cerah dari apa yang telah terjadi?

Sebenarnya, apa yang kita alami di masa lalu dapat membantu kita memahami masa kini atau bahkan mempersiapkan kita untuk menghadapi masa depan. Jika kita ingat akan masa lalu kita, mungkin itu dapat menumbuhkan iman, memberi kita pola yang dapat kita ikuti, atau memperingatkan bahaya yang harus dihindari. Itu dapat membangkitkan rasa rendah hati, ketergantungan pada Tuhan dan rasa syukur bahwa Dia telah menyertai kita.

Walaupun demikian, memikirkan masa lalu juga bisa berbahaya. Saat kita bertumbuh dalam kedewasaan rohani, kita menjadi semakin sadar akan kesalahan kita. Apa yang dulu tampak dalam ketidakdewasaan kita sebagai perilaku Kristen yang memadai, sekarang kita melihat kembali dengan rasa malu yang mendalam. Kegagalan kita sekarang tampak seperti gunung ketika dulunya adalah gundukan tanah. Pandangan ke belakang menjadi mikroskop yang melaluinya kita melihat dosa-dosa kita dengan lebih jelas. Dan tidak ada yang salah dalam hal itu, jika itu mengarah pada penyesalan yang lebih dalam, kerendahan hati yang lebih besar, dan ketergantungan yang lebih kuat pada karunia dan kasih Tuhan.

Bahayanya adalah ketika memikirkan dosa-dosa masa lalu membuat kita masuk ke dalam diri kita sendiri daripada keluar kepada Kristus. Mengingat kesalahan masa lalu secara berlebihan, dosa yang telah lama disesali, sebenarnya membuat kita egois. Kita mungkin sering teringat akan tindakan konyol atau keputusan yang salah, dan ini dapat membuat kita putus asa. Perasaan malang membanjiri kita dengan rasa mengasihani diri sendiri; menghasilkan rasa lemah yang melumpuhkan hidup kerohanian dan pelayanan kita. Kenangan masa lalu membawa kita dalam rasa malu dan menyebabkan kita mengalihkan pandangan kita dari realitas spiritual saat ini dan masa depan. Kegagalan di masa lalu bisa juga membuat kita bersifat apatis dan bahkan fatalis dalam hidup.

Mengeluh dan mengerang karena dosa memiliki tempatnya dalam pengalaman Kristen tetapi itu bukan tujuan, melainkan hanya sarana untuk mencapai tujuan. Ini bukan ciri khas orang percaya (karena itu juga terjadi pada orang yang belum bertobat). Orang Kristen yang pikirannya dibanjiri dengan pemikiran dari masa lalu perlu diberi tahu: alihkan pandanganmu dari masa lalu dan arahkanlah pada realitas Kristus saat ini, Juruselamat dan Penebus kita yang duduk di sebelah kanan Allah Bapa.

Jika Tuhan sendiri tidak lagi mengingat dosa dan kesalahan kita, adalah konyol bahwa kita harus menyeret dosa-dosa itu ke garis depan pikiran kita. Apa yang harus kita lakukan adalah membawa diri kita ke tugas lain dan melihat ke masa depan yang lebih cerah, dan dengan demikian memusatkan pikiran kita pada apa yang sekarang ada dalam Kristus – yang akan menjadi milik kita nantinya. Apa yang kita baca dalam Alkitab mengenai Tuhan yang bertindak dalam sejarah umat-Nya, seharusnya meyakinkan kita bahwa Dia bekerja untuk kebaikan kita di masa depan.

Jika kita telah terikat pada masa lalu, kita harus bertobat dan merangkul sikap pikiran yang dimiliki Paulus. Berkonsentrasi pada masa depan membebaskan kita dari pengaruh masa lalu yang menyedihkan dan memperbudak ini. Melihat ke masa depan menyiratkan bahwa yang terbaik belum terjadi; bahwa prospek masa depan memenuhi kita dengan harapan yang tidak dapat dipenuhi oleh masa lalu. Bagaimana ini bisa terjadi?

Ini semua adalah pernyataan yang seharusnya membuat kita mengantisipasi masa depan dengan penuh keyakinan. Ini bukan kasus menunda harapan kedewasaan kita sampai kita masuk surga; melainkan salah satu pemikiran positif tentang masa depan yang dekat, menghargai harapan kemajuan dan perkembangan spiritual dan kemenangan yang lebih besar, berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan kita. Kita harus membayangkan diri kita seperti seorang pelari yang memusatkan konsentrasinya pada apa yang akan dicapainya setelah ia menyelesaikan pertandingan itu dengan baik. Ia bisa mendapatkan pujian dari Tuhan, dan lebih dari itu bisa membawa kemuliaan bagi Tuhan.

Hari ini, Paulus juga mengajak kita untuk bisa memikirkan masa depan yang lebih jauh lagi. Meskipun adalah menyedihkan jika tubuh kita pada suatu saat akan berada di bawah kekuatan musuh terakhir, yaitu kematian, dan roh kita terpisah dari tubuh kita, ada pikiran yang membawa sukacita. Roh kita akan disempurnakan dan akan berada di hadirat Kristus, yang jauh lebih baik dari keadaan di dunia saat ini. Dan suatu hari tubuh kita juga akan dibangkitkan dari tanah dan akan dipersatukan kembali dengan roh kita yang telah disempurnakan. Jadi, kita akan menghabiskan seluruh kekekalan bersama Tuhan dalam tubuh dan roh yang dimuliakan. Mengapa memikirkan kegagalan manusia di masa lalu ketika kita memiliki prospek masa depan Allah yang mulia untuk mengisi pikiran kita? Mengapa ragu untuk maju berjuang dan mengambil keputusan dalam hidup iman kita jika kita tahu apa yang dijanjikan Tuhan untuk umat-Nya?

Bagaimana kita bisa tunduk kepada Tuhan yang berdaulat

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Roma 12: 2

Hal tunduk kepada Tuhan adalah sesuatu yang mudah diucapkan tetapi sulit untuk dilaksanakan. Adam dan Hawa yang jatuh ke dalam dosa adalah pencerminan sifat manusia yang tidak mau tunduk kepada kehendak dan perintah Tuhan. Di zaman ini, banyak orang Kristen yang yakin bahwa kehendak Tuhan tidak dapat dilawan, tetapi mereka tetap saja berusaha untuk melakukan atau menjalani hidup yang diingini mereka. Pada pihak yang lain, banyak orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan adalah berdaulat, sehingga mereka segan untuk mepertanggungjawabkan keputusan yang mereka ambil selama hidup di dunia. Jika golongan yang pertama bisa dituduh sebagai orang yang tidak sepenuhnya tunduk kepada Tuhan, golongan kedua mungkin juga bisa dikatakan sebagai orang yang tidak mau tunduk kepada perintah Tuhan untuk bisa aktif menjalani hidup sesuai dengan kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan dalam Alkitab.

Ada banyak ayat dalam Alkitab yang dimulai dengan kata “hendaklah” dan “janganlah” yang merupakan perintah Tuhan agar manusia mengambil tindakan dan bukan mengharapkan bahwa segala sesuatu akan terjadi sepenuhnya melalui tindakan Tuhan. Tuhan yang mahakuasa dan berdaulat bukanlah Tuhan yang memperlakukan manusia sebagai robot, tetapi memberi kebebasan kepada manusia untuk mengambil keputusan untuk tunduk kepada Dia dan menaati perintah-Nya. Jika Tuhan ingin umat-Nya untuk tunduk kepada-Nya, itu bukan saja untuk tidak melawan kehendak-Nya yang belum dinyatakan atau belum terjadi, tetapi juga untuk tidak melawan atau mengabaikan kehendak-Nya yang sudah dinyatakan saat ini, seperti perintah-Nya dalam ayat di atas untuk tidak menjalani hidup seperti mereka yang belum mengenal Tuhan yang berdaulat. Jika ada orang Kristen yang enggan untuk berusaha hidup baik, segan untuk menaati hukum negara dan malas untuk melaksanakan etika kehidupan Kristen, mungkin itu karena mereka mengabaikan bimbingan Roh Kudus yang tinggal dalam hati mereka.

Di dalam Perjanjian Baru kejadian dimana istilah tunduk digunakan, kata yang digunakan adalah terjemahan dari kata Yunani hupotasso. Bagian hupo berarti “di bawah” dan bagian tasso berarti “diatur.” Kata ini beserta akar-kata nya diterjemahkan sebagai istilah tunduk dan penaklukan. Makna lengkap dari kata ini ialah “menaati, tunduk kepada, menundukkan diri kepada, menjadi subyek dari atau menuruti.” Kata ini sering digunakan sebagai ungkapan militer yang berarti “menyusun divisi tentara di bawah perintah pemimpin.” Makna ini adalah definisi yang bagus akan arti “tunduk” kepada Allah. Hal ini berarti mengatur pribadi seseorang di bawah perintah sudut pandang illahi dibanding dengan gaya hidup lama yang didasari sudut pandang manusiawi. Semua itu adalah proses penyerahan kehendak kita kepada Allah.

Firman Tuhan telah mengatakan banyak hal mengenai ketundukan terhadap “kuasa yang lebih tinggi.” Ini merujuk kepada penetapan prinsip yang telah ditentukan Allah tentang dunia ini – pemerintah dan penguasa, dalam posisi dan jabatannya, yang telah Allah letakkan sebagai otoritas di atas kita di dunia ini. Prinsipnya secara pendek ialah bahwa kita harus taat kepada otoritas yang berkuasa di atas kita, siapapun otoritas itu, dan ketundukan itu akan membawa berkat nyata di dunia ini, dan bagi orang percaya, kelak di surga. Otoritas tertinggi ialah Allah, dan Ia mendelegasikan otoritas kepada pihak lain; jadi, dalam tunduk kepada Allah, kita tunduk kepada otoritas yang telah Ia tetapkan di atas kita. Anda mungkin akan sadar bahwa tidak ada peringatan khusus untuk membedakan antara otoritas yang baik ataupun buruk ataupun adil dan tidak adil. Hanyalah bahwa kita harus merendahkan diri dan menaati mereka “serupa ketaatan kita kepada Tuhan.”

Kita juga dihimbau untuk berserah diri kepada Allah. Di dalam Efesus kita membaca bahwa sang istri harus tunduk kepada sang suami sama seperti kepada Tuhan dan sang suami juga harus “mengasihi” istrinya (Efesus 5:22-25). Rasul Petrus menulis, “Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: ‘Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.’ Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1 Petrus 5:5-7). Tema di dalam bagian ini adalah rendah hati. Seseorang tidak dapat tunduk kepada Allah tanpa berrendah hati. Kita tidak dapat merasakan keharusan untuk taat kepada perintah Allah jika kita merasa yakin dan bangga bahwa kita adalah orang terpilih. Ketaatan mensyaratkan kita untuk merendahkan diri kepada otoritas lain, dan kita diberitahu bahwa Allah menolak kesombongan.

Jadi, memiliki rendah hati dan sebuah hati yang tunduk adalah pilihan yang harus kita ambil. Ini berarti sebagai orang yang telah lahir-baru kita harus mau memilih setiap hari untuk menundukkan diri kepada Allah supaya karya Roh Kudus di dalam diri kita akan “menyesuaikan kita serupa dengan Kristus.” Allah akan menggunakan situasi kehidupan untuk memberi kesempatan untuk tunduk padaNya (Roma 8:28-29). Orang percaya kemudian menerima anugerah-Nya dan semua yang tersedia untuk berjalan dalam Roh dan tidak mengikuti lagi khodrat yang lama. Karya ini dapat terlaksana dengan memilih untuk mempraktekkan Firman Allah kepada hidup kita dan belajar akan semua yang telah Allah sediakan bagi kita di dalam Kristus Yesus. Dari detik kita lahir baru, kita telah dilengkapi dengan semua yang kita butuhkan, dalam Kristus, untuk menjadi seorang percaya yang dewasa, akan tetapi kita harus memilih untuk mempelajari semua yang tersedia melalui pembacaan dan pembelajaran Firman maupun menerapkannya di dalam kehidupan pribadi kita hari demi hari.

Kita harus memilih untuk tunduk kepada Allah supaya proses pelajaran dapat dimulai dan kita dapat tumbuh secara rohani. Ialah proses yang dimulai pada keselamatan dan berlanjut dengan setiap pilihan yang kita ambil demi menundukkan diri kepada Allah. Proses ini akan berlanjut sampai Tuhan datang kedua-kalinya atau Ia memanggil kita pulang. Hal yang terindah, seperti Rasul Paulus berkata, “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar” (2 Korintus 3:18).

Allah tidak meminta kita tunduk karena Ia adalah diktator atau tiran, tetapi karena Ia adalah Bapa yang mengasihi dan Ia mengetahui yang terbaik bagi kita. Berkat dan damai yang kita dapatkan dari penyerahan diri yang rendah hati setiap hari kepada-Nya adalah anugerah yang jauh lebih berharga dari apa yang dapat ditawarkan dunia.

Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.” Yohanes 14: 15-17

Apakah tanda orang Kristen sejati?

Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. Yohanes 14: 15-17

Apakah hal yang membedakan orang Kristen sejati dari orang lain? Ada yang berkata bahwa orang Kristen sejati adalah orang yang sudah diselamatkan karena iman mereka. Ada lagi pendapat yang menyatakan bahwa orang Kristen sejati adalah orang dipilih Tuhan dari awalnya bukan karena perbuatan mereka. Ada juga yang mengatakan bahwa orang Kristen sejati adalah mereka yang mengasihi Tuhan. Semua pendapat itu ada benarnya; tetapi, ayat di atas menyatakan adanya 3 tanda yang secara nyata dimiliki oleh orang Kristen sejati:

  • Menurut segala perintah Tuhan
  • Menerima Roh Kudus
  • Mengenal Roh Kudus sebagai Tuhan

Bagi orang Kristen sejati (True Christian), hal menurut perintah Tuhan adalah lebih penting daripada apa pun. Jika kita hidup dengan menurut perintah-Nya, kita adalah orang yang mempersembahkan hidup kita kepada Dia. Bagi Tuhan, manusia ciptaan-Nya adalah lebih berharga dari makhluk atau benda apa pun di dunia. Karena itu Ia mengharapkan persembahan hidup manusia yang kudus dan berkenan kepada-Nya.

Jika dipikirkan dalam-dalam, hal yang paling berat dalam hidup kekristenan ini sebenarnya bukan soal berjuang atau bekerja untuk menuruti segala perintah Tuhan, tetapi soal keraguan apakah kita akan bisa mencapai apa yang kita upayakan. Karena itu banyak orang Kristen yang merasa bahwa jika kita percaya bahwa kita sudah dipilih, kita tidak perlu terlalu pusing memikirkan perintah Tuhan. Tidak ada manusia yang bisa menjalankan segala perintah Tuhan, dan Ia tentu tahu akan kelemahan kita. Benarkah begiu?

Memang benar bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang sempurna. Tidak ada orang Kristen sejati yang dengan yakin bisa mengklaim bahwa ia adalah orang yang benar-benar saleh hidupnya. Juga benar bahwa Tuhan tahu segala kelemahan umat-Nya, dan karena itu tidak akan menuntut apa yang lebih dari kemampuan mereka. Pada pihak yang lain, karena Ia tahu apa kelemahan umat-Nya, Tuhan sudah memberi mereka seorang Penolong, supaya Ia menyertai mereka selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Roh Kudus adalah oknum Ilahi yang lain dari Allah Bapa dan Allah Putra, yang tidak bisa dikenal oleh mereka yang bukan orang saleh, yang bukan Kristen sejati.

Hari ini firman Tuhan diatas berkata bahwa jika kita mengenal Tuhan, kita akan menurut segala perintah-Nya. Jika kita mengakui Dia sebagai Tuhan yang mahabesar, kita tidak perlu gundah jika kita terkadang tidak mengerti keputusan-keputusanNya dan tidak dapat menyelami jalan-jalanNya. Apa yang kita tahu ialah bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih sudah mengirimkan Roh-Nya untuk menyertai kita selama-lamanya. Karena itu, sekalipun kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada hari-hari mendatang, kita tetap bisa bersyukur kepadaNya dan tetap mau mencari kehendak-Nya setiap hari.

Semoga saja pengenalan kita akan Tuhan membuat kita percaya bahwa apa pun yang terjadi dalam hidup kita, Tuhan tetap mengasihi kita, dan Roh Kudus tetap tinggal dalam diri kita. Dengan demikian, dalam hidup ini kita akan diyakinkan untuk bisa mengasihi Tuhan dengan segenap hati kita dan dengan segenap jiwa kita dan dengan segenap akal budi kita, karena Dia yang lebih dulu mengasihi kita. Perintah Tuhan ini bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan oleh diri kita sendiri, tetapi hanya melalui Roh Penolong yang tinggal dalam diri setiap umat-Nya.

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. ” 1 Yohanes 4: 19

Pengudusan yang menuntut adanya kepatuhan

“Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.” Roma 6: 22

Apa yang membedakan hidup orang yang tidak percaya dengan hidup orang percaya? Apakah bedanya hanya terletak pada kejakinan sepihak orang Krisren, yang merasa mereka sudah dipilih oleh Tuhan untuk diselamatkan? Ayat diatas menyebutkan bahwa sebagai orang Kristen, kita seharusnya berbeda dari orang lain karena kita tentunya sudah berubah dari hidup lama kita; itu jika kita membiarkan Tuhan memimpin hidup kita.

Sebagai umat Tuhan, kita seharusnya dapat membedakan apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan dari apa yang jahat. Tuhan selalu menghendaki apa yang baik, dan apa yang berkenan kepadaNya dan apa yang sempurna. Jika ada hal-hal yang jahat dan keji kita lakukan sebelum menjadi umat-Nya, kita pasti berubah melalui pengudusan sesudah menjadi hamba Allah yang sejati.

Perbedaan antara orang Kristen sejati dengan orang lain mudah dimengerti jika hanya menyangkut perbedaan antara akhir hidup orang percaya dan akhir hidup orang yang tidak benar-benar percaya. Masalah yang lebih rumit adalah hal berbuat dosa setiap hari dan akibatnya. Semua manusia tidak dapat bebas dari berbuat dosa selama hidup. Mengapa orang Kristen sejati harus peduli akan perubahan hidup?

Memang, semua orang Kristen percaya bahwa tidak ada seorang pun yang layak dihadapan Tuhan. Semua orang sudah berdosa dan hanya bisa diselamatkan semata-mata karena kasih anugerah Tuhan. Tetapi, orang Kristen juga percaya bahwa kasih anugerah Tuhan juga melakukan pembaharuan melalui Roh Kudus.

“Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus.” Titus 3: 3-4

Ada orang Kristen yang berpendapat bahwa mereka sudah cukup berusaha untuk mengurangi dosa mereka dan berkeyakinan bahwa Tuhan yang mahakasih tentu tahu bahwa sebagai manusia mereka punya kelemahan, dan karena itu Tuhan pasti selalu mau mengampuni dosa yang sama setiap hari. Ada juga mereka yang berpendapat bahwa jika semua yang terjadi ada dalam kedaulatan Tuhan, tentulah dosa mereka juga sudah termasuk dalam rencana Tuhan yang tidak dapat mereka hindari.

Hidup yang sudah menerima Kristus tidak mungkin untuk tidak berubah karena adanya Roh Kudus yang tinggal didalam hati kita. Sebaliknya, jika pembaharuan hidup kita tidak terjadi, patutlah kita bertanya kepada diri kita sendiri: apakah kita benar-benar sudah menyerahkan hidup kita kepada Kristus? Apakah kita adalah orang Kristen sejati?

Dari ayat pembukaan di atas, kita bisa melihat bahwa Tuhan yang memberi pengampunan juga memilih umat-Nya untuk menghasilkan buah, yang membawa pengudusan bagi hidup kita. Paulus menulis bahwa, dengan percaya kepada Kristus untuk keselamatan kita, kita telah memasuki hubungan yang baru dengan Allah. Identitas kita begitu erat berhubungan dengan Kristus sehingga kita diubahkan menjadi orang-orang yang terikat untuk melakukan apa yang benar. Inilah kita sekarang. Ini adalah kabar baik. Mengapa? Karena “buah”, konsekuensi langsung dari menjadi hamba Kristus, adalah pengudusan dan hidup yang kekal. Ini bertentangan dengan rasa malu dan kematian yang ada ketika kita masih menjadi hamba dosa.

Hasil dari jalan yang kita jalani di dalam Kristus ini adalah hidup yang kekal. Kita akan mengambil bagian dalam kemuliaan Allah selama-lamanya. Ini menjelaskan mengapa kita tidak boleh terus berbuat dosa begitu kita beriman kepada Kristus. Paulus menjawab bahwa kita akan terus menjalani perbudakan dosa secara sukarela jika kita tidak mau melawannya. Sebaliknya, kita harus hidup seolah-olah kebenaran adalah tuan kita, Kita harus mau mematuhi kebenaran Allah daripada menuruti keinginan dosa kita,

Pengudusan, kadang-kadang diterjemahkan sebagai “kekudusan,” adalah proses perubahan di dalam diri kita untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus. Kita tidak sepenuhnya berada di sana, tetapi karena kita sekarang adalah milik Allah, kita sedang dalam perjalanan. Dia sedang mengubah kita (1 Yohanes 3:2).

Pagi ini kita harus sadar bahwa penebusan dosa kita oleh darah Kristus seharusnya bukan hanya sebuah even yang mengubah cara hidup kita dalam satu saat saja. Tetapi hidup kita sebagai orang Kristen sejati harus selalu tumbuh dan mengalami pembaharuan dan pengudusan secara terus menerus yang dikerjakan oleh Roh Kudus.

“Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu.” Roma 6: 17

Di dunia ada dua jenis kebebasan dan dua jenis perhambaan

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Roma 12: 2

Adalah menarik jika kita meneliti reaksi manusia terhadap bertambahnya umur. Pada waktu masih kecil seorang anak mungkin berharap akan cepat datangnya kedewasaan, karena dengan itu datang “kebebasan”. Walaupun demikian, orang dewasa sering membayangkan betapa enaknya mereka yang masih anak-anak, karena mereka tidak perlu memikirkan berbagai tanggung jawab kehidupan.

Reaksi manusia terhadap proses kedewasaan tentunya berbeda-beda. Mungkin saja ada orang yang puas dengan cara hidupnya atau yang ingin tetap berada dalam umur yang sekarang. Tetapi mereka yang realistis tentunya sadar bahwa bertambahnya umur adalah salah satu tanda yang mengingatkan bahwa dalam hidup ini kita harus mengalami perubahan hidup, baik mengenai apa yang diingini maupun apa yang harus dihindari.

Jika pada waktu muda bertambahnya umur diharapkan bisa memberi kebebasan dan kesempatan untuk menikmati apa yang diinginkan, perubahan yang terjadi setelah dewasa dan berumahtangga pada umumnya bertalian dengan munculnya tanggung jawab dan tugas-tugas yang harus dilakukan. Walaupun demikian, mungkin jarang orang yang memikirkan bahwa dengan bertambahnya umur, hidup kerohanian juga harus berubah untuk bisa makin sesuai dengan kehendak Tuhan.

Sebelum orang menjadi Kristen, kebebasan itu sebenarnya ada untuk melakukan apa yang disenangi, tetapi itu selalu ternoda dosa karena hanya untuk memenuhi keinginan sendiri. Tetapi, sesudah lahir baru, orang Kristen seharusnya berubah dari hamba dosa kemudian menjadi hamba Kristus. Apakah dengan demikian ia menjadi tidak bebas? Tentu tidak! Orang Kristen justru bebas dari pengaruh dosa dan dengan demikian bisa menggunakan pikiran dan hati yang bebas itu untuk bisa melihat dan melakukan apa yang harus kita lakukan sebagai umat Tuhan.

“Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” Roma 6: 18

Ayat pembukaan di atas mengingatkan kita bahwa pada masa lalu kita mungkin sudah membiarkan hidup kita jatuh ke dalam kecemaran dan kedurhakaan. Sebaliknya, setelah menjadi umat Tuhan, kita seharusnya memakai akal budi kita untuk memakai hidup kita untuk menjadi hamba kebenaran yang membuat kita makin menyerupai Kristus.

Sebelum kita lahir baru, kita merasa bebas tetapi sebenarnya terikat pada dosa. Sesudah lahir baru, kita benar-benar bebas, tetapi justru mau mengunakan kebebasan itu untuk menjalani hidup yang berbeda dengan kehidupan duniawi. Kita berubah oleh pembaharuan budi yang dikerjakan oleh Roh Kudus sehingga kita dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Bagi banyak orang, kewajiban ini adalah sesuatu yang sering dilupakan, sehingga kurang ada kemauan untuk berubah dengan kebebasan yang sudah Tuhan berikan. Itulah sebabnya banyak orang Kristen yang tidak pernah mengalami perubahan cara hidup. Tidak pernah menjadi dewasa secara rohani. Paulus memperingatkan jemaat di Roma tentang hal ini: bahwa mereka harus menggunakan kebebasan mereka untuk melakukan apa yang harus dilaksanakan sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan.

Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan.” Roma 6: 19

Pagi ini kita diingatkan bahwa di dunia ini ada dua macam kebebasan dan dua macam perhambaan. Bagi mereka yang bukan orang Kristen sejati, kebebasan masih ada untuk melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Tetapi, mereka yang benar-benar beriman, kebebasan sekarang ada untuk melakukan apa yang baik dan apa yang harus dilaksanankan sesuai dengan firman-Nya. Sebelum menjadi umat Tuhan kita merasa bebas tetapi memperhambakan diri kita kepada dosa; tetapi, sesudah menjadi orang percaya, kita benar-benar bebas untuk mau memperhambakan dri kita kepada Tuhan yang sudah memilih kita untuk diselamatkan.

Jawaban atas panggilan Tuhan yang lemah lembut

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Pernahkah anda mendengar atau menyanyikan lagu “Softly and Tenderly Jesus is Calling“? Lagu yang diciptakan oleh Will Lamartine Thompon pada tahun 1880 itu sangat populer di kalangan orang Kristen, dan sudah dinyanyikan oleh banyak penyanyi Gospel, seperti Allan Jackson dan Anne Murray. Lagu yang diilhami ayat dari Matius 11: 28 ini juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai lagu “Manis Lembut Tuhan Yesus Memanggil”.

Tuhan memang memanggil setiap manusia untuk datang kepada-Nya. Adalah kasih-Nya yang memanggil manusia menerima keselamatan melalui darah Kristus.

“Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Lukas 19: 10

Mungkin banyak orang yang kurang mengerti apa yang dimaksud oleh Yesus dengan pernyataan-Nya bahwa Ia datang untuk mereka yang hilang. Semua manusia yang pernah hidup di dunia adalah orang berdosa yang sudah menyimpang dari jalan kebenaran. Karena itulah Tuhan Yesus datang untuk mencari dan menyelamatkan mereka. Lalu bagaimana cara Yesus memanggil manusia yang berdosa untuk bertobat? Apakah hanya dengan panggilan lemah lembut seperti apa yang ada pada syair lagu “Manis Lembut Tuhan Yesus Memanggil”?

Tuhan yang ingin menyelamatkan manusia, bukan hanya memanggil mereka dengan lemah lembut. Dia yang ingin agar manusia bertobat, selalu memanggil mereka dengan nada yang mengingatkan dosa mereka. Roh Kudus sering bekerja menuntut pertanggungjawaban manusia atas hidupnya. Dalam mazmur pertobatannya yang terkenal, Daud mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak begitu menyukai tanda-tanda lahiriah pertobatan (termasuk membuat pengorbanan), tetapi apa yang disenangi Allah ialah “jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk.” (Mazmur 51:19). Pertobatan bukan hanya mengaku percaya dengan mulut, keyakinan atas pilihan Tuhan, dan mau pergi ke gereja setiap hari Minggu.

Dalam Yoel 2:12–13, Tuhan memanggil Israel, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.” Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu”. Ini adalah panggilan yang bernada tajam, bukan lemah lembut. Dalam Perjanjian Lama, orang biasanya mengungkapkan kesedihan dan penderitaan yang besar dengan merobek jubah mereka. Tuhan mau agar mereka benar-benar berduka atas dosa mereka – berduka sampai menangis dan berkabung. Ini bukan berarti bahwa Tuhan selalu menghendaki mereka yang mau menjadi umat-Nya untuk berduka dan berkabung sepanjang hidup. Tetapi, ayat-ayat ini menunjukkan bahwa yang paling penting adalah kondisi hati kita yang benar-benar harus menunjukkan ketulusan untuk bertobat.

Apakah pertobatan anda terlihat seperti hati yang terkoyak seperti pakaian, patah dan remuk saat berdiri di hadapan Tuhan? Di zaman ini, banyak orang Kristen yang tidak merasa bahwa kelahiran baru adalah sekadar mengaku percaya kepada Tuhan. Tuhan yang memanggil kita, yang menentukan kita untuk diselamatkan, dan karena itu tidak ada yang perlu kita lakukan atau rasakan. Rasa hancur ini memang sudah hilang dari sebagian besar pertobatan, padahal itulah hal yang Tuhan sukai!

Mungkin terdengar aneh, tapi bagaimana caranya agar kita bisa merasakan kehancuran hati? Pertobatan sejati, seperti semua hal yang baik, adalah karunia Allah (2 Timotius 2:25). Jika kita ingin mematuhi perintah untuk mengoyak hati kita, kita harus meminta Tuhan untuk memberikan kita pertobatan sejati. Semakin kita meyakini kemuliaan dan kesucian Tuhan, semakin kita berduka karena kita pernah mencemooh Dia. Dalam hidup lama kita, kita lebih mengagumi diri kita sendiri dan percaya bahwa kita adalah “orang baik”. Dalam hidup baru kita, kita tidak boleh merasa cukup puas bahwa kita adalah “orang pilihan”.

Kita harus menyadari salah satu rintangan terbesar untuk mendapatkan patah hati yaitu pengabaian kita terhadap aspek relasional dari dosa. Kita mungkin dapat melihat dosa sebagai kegagalan kinerja tetapi bukan kegagalan keintiman. Satu-satunya kesedihan yang kita mungkin bisa rasakan adalah kekecewaan atas ketidakmampuan kita untuk melakukan apa yang benar, tetapi bukan karena kita telah mengabaikan Allah dalam hidup kita (2 Samuel 12:9). Itulah sebabnya Daud berkata kepada Tuhan, “terhadap Engkau, hanya Engkau, aku telah berdosa” (Mazmur 51:4). Daud benar melihat kegagalannya dalam hal hubungan, dan akibatnya hatinya sedih karena telah berdosa terhadap Dia yang sangat mengasihinya.

Pertobatan sejati datang tidak hanya dengan memahami aspek relasional dari dosa, tetapi dengan memahami sifat Tuhan yang dengan-Nya kita seharusnya mempunyai hubungan intim. Dengan kata lain, semakin kita melihat Tuhan sebagai mulia dan suci, semakin kita akan melihat dosa sebagai sesuatu yang harus ditangisi. Pertobatan bukan tentang merasa buruk atas perilaku, dan lebih penting adalah kurangnya rasa kagum dan senang terhadap Tuhan. Semakin sering kita melihat kemuliaan Allah, semakin kita meratap karena kita sering mengabaikan kemuliaan-Nya dalam hidup kita. Tuhan sering kita anggap sebagai seorang teman baik yang siap menolong kita dalam segala kebutuhan kita.

Hari ini kita harus sadar bahwa rencana Allah bagi kita adalah bahwa kita akan menjadi kudus sebagaimana Dia kudus (1 Petrus 1:16). Dia pasti akan menyelamatkan orang-orang yang dipilih-Nya, tetapi untuk itu Ia menginginkan orang-orang yang telah belajar dari dosa mereka dan bukan melupakan pentingnya pertobatan. Kita harus bisa menyadari bahwa kita pernah terhilang, menyimpang dari jalan kebenaran Tuhan, dan sekarang ingin untuk hidup sesuai dengan firman-Nya setiap saat.