Kita adalah warga satu bangsa yang diselamatkan karena iman

“Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: “Olehmu segala bangsa akan diberkati.” Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu. Galatia 3: 8 – 9

Dalam keadaan dunia saat ini, banyak negara mengalami masalah serius. Kemarin suku bunga resmi (official cash rate) di Australia dinaikkan lagi untuk kesekian kalinya dalam setahun. Hidup rakyat yang sudah suilit karena harga BBM yang tinggi dan tingkat inflasi yang lebih besar dari kenaikan gaji, sekarang bertambah berat karena bunga pinjaman bank juga naik seiring dengan kenaikan suku bunga resmi.

Di antara banyak negara di dunia, kita memang bisa melihat bahwa tiap negara mengalami persoalan yang berbeda. Sebagian mengalami persoalan yang sangat besar, yang terlihat jauh lebih parah daripada yang lain. Bagi orang yang melihat adanya perbedaan yang terjadi di antara berbagai negara, mungkin ada pertanyaan mengapa hal itu bisa terjadi. Bagi orang yang beragama, pertanyaan yang sudah ada sejak dulu, sekarang muncul lagi: mengapa Tuhan kelihatannya lebih memberkati negara yang satu daripada yang lain? Apakah Tuhan lebih menyayangi negara-negara tertentu?

Dalam kitab Perjanjian Lama dikatakan bahwa bangsa Israel adalah bangsa pilihan Tuhan. Bangsa Israel adalah bangsa yang dibebaskan Tuhan dari perbudakan di tanah Mesir. Banyak bangsa lain yang mengalami hukuman Tuhan karena mereka berusaha mengganggu dan bahkan menghancurkan bangsa Israel pada waktu itu. Dengan demikian, dapatlah dimengerti banyak orang yang sampai sekarang menganggap bangsa Israel adalah tetap merupakan pilihan Tuhan: bangsa ini dikasihi Tuhan lebih dari bangsa lain. Tuhan sudah pilih kasih, dan itu nampaknya tidak adil, tetapi itu semata-mata hak-Nya. Begitu mungkin orang berpikir.

Alkitab memang menyatakan bahwa bangsa Israel adalah bangsa pilihan Tuhan. Tetapi bangsa ini dipilih untuk memenuhi rancangan penyelamatan Tuhan, bukan untuk diselamatkan. Ayat di atas menyatakan bahwa Allah menyelamatkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman. Kita yang bukan termasuk bangsa Yahudi menjadi orang yang diselamatkan melalui darah Kristus. Siapa pun orangnya, ia akan diselamatkan jika mempunyai iman kepada Yesus Penebus.

Di dunia, kita mungkin bisa melihat bahwa ada bangsa-bangsa dan negara-negara yang mempunyai tingkat ekonomi, teknologi dan sosial yang lebih baik dari bangsa atau negara lain. Hal ini tentunya terjadi sesuai dengan rancangan Tuhan. Tetapi, ini tidak berarti bahwa Tuhan memilih negara-negara tertentu menjadi favorit-Nya. Tuhan mempunyai rencana tertentu di dunia dan adalah hakNya jika Ia memilih bangsa atau negara tertentu untuk berperan dalam rencana-Nya di dunia.

Ayat di atas menyebutkan bahwa sebagai orang percaya kita sudah terbilang keturunan Abraham dalam hal rohani, yaitu dalam menerima janji keselamatan yang datang melalui Yesus Kristus (Galatia 3: 29). Bani Israel sudah dipilih untuk melaksanakan rencana Tuhan, termasuk kelahiran Yesus di dunia. Tetapi setelah itu, bangsa Israel sendiri yang menyebabkan Yesus disalb dan bahkan menolak Yesus sebagai Juruselamat atau Mesias. Dengan demikian, secara rohani bangsa Israel bukanlah orang-orang pilihan Tuhan.

Bangsa-bangsa (orang-orang) yang dipilih Tuhan adalah orang-orang yang percaya kepada Kristus. Mereka adalah orang-orang yang sudah dselamatkan melalui penebusan darah Yesus di kayu salib. Mereka adalah orang-orang berdosa yang sudah diampuni oleh Tuhan dan bebas dari kematian abadi. Umat Tuhan mungkin saja tidak mempunyai hidup senyaman mereka yang tidak percaya kepada Tuhan. Umat Tuhan mungkin saja harus menderita karena iman mereka. Tetapi semua itu terjadi selama hidup di dunia, dalam hidup jasmani.

Hari ini, jika kita menyadari bahwa kita sudah diangkat menjadi keturunan Abraham dalam hal menerima warisan keselamatan, haruslah kita hidup dalam sukacita. Sekalipun keadaan di sekeliling kita nampaknya tidak nyaman secara jasmani, itu bukanlah menunjukkan bahwa Tuhan tidak mengasihi kita. Sebaliknya, apa yang terlihat secara jasmani tidak dapat dibandingkan dengan kasih Allah yang sudah sudah memilih kita untuk diselamatkan secara rohani. Karena itu, keadaan jasmani apa pun yang saat ini kita alami tidak akan menutupi kebahagiaan kekal yang kita miliki.

Hidup baru sebagai orang percaya

“…sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan…” Efesus 4: 13 – 14

Kapan anda mengambil keputusan untuk mengikut Yesus? Masih ingatkah? Sebagian orang bisa menyebutkan saat tertentu (lahir baru, regenerasi) dimana mereka, oleh pertolongan Roh Kudus, mengakui Yesus sebagai Juruselamat mereka dan bertekad untuk bertobat dari hidup lama mereka. Pada waktu seseorang mengalami kelahiran baru, ia dapat dibayangkan sebagai seorang bayi yang baru dilahirkan. Dari keadaan mati, berubah menjadi hidup (regenerasi). Ini terjadi pada satu saat tertentu, dan bukan melalui proses. Itu terjadi hanya karena karunia Tuhan.

Jika regenerasi merupakan pemberian hidup yang baru, maka artinya regenerasi merupakan awal dari proses-proses pembaharuan hidup. Dengan demikian, orang yang lahir baru telah mengalami langkah pertama dari pembaharuan. Proses-proses pembaharuan hidup yang mengikuti regenerasi itu bersifat progresif dan disebut “pengudusan yang dinamis”. Paulus mengingatkan “..karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya” (Kolose 3:9-10). Dalam ayat ini Paulus bukan bermaksud memberitahu orang-orang percaya di Kolose bahwa mereka sekarang atau setiap hari harus menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru berulangulang kali, tetapi Paulus menegaskan bahwa mereka telah mengalaminya pada saat regenerasi dan telah melakukannya perubahan ini ketika mereka di saat konversi menerima dengan iman apa yang telah dikerjakan Kristus bagi mereka.

Lalu apakah yang dimaksud Paulus dengan frase “terus menerus diperbaharui”? Walaupun orang-orang percaya adalah pribadi-pribadi baru, akan tetapi mereka belum mencapai kesempurnaan yang tanpa dosa; mereka masih harus bergumul melawan dosa. Pembaharuan ini merupakan proses perndewasaan seumur hidup. frase ini menjelaskan kepada kita bahwa setelah lahir baru, seperti seorsng bayi, kita harus terus menerus mengalami proses pengudusan mencakup pengudusan pikiran, kehendak, emosi, dan hati nurani.

Alkitab menyebutnya dengan istilah “pengudusan”, yang bersifat dinamis bukan statis, yang progresif bukan seketika; yang memelukan pembaharuan, pertumbuhan dan transformasi terus menerus. Jadi, orang-orang percaya yang telah lahir baru dan menjadi ciptaan baru di dalam Kristus masih diperintahkan untuk mematikan perbuatanperbuatan daging dan segala sesuatu yang berdosa di dalam diri mereka berupa keinginan-keinginan daging (Roma 8:13), serta menyucikan diri dari segala sesuatu yang mencemari tubuh dan roh (2 Korintus 7:1). Ini adalah kewajiban dan tanggung jawab setiap umat Kristen.

Dengan berlalunya waktu, sang bayi tentunya diharapkan untuk tumbuh secara spiritual, tumbuh dalam iman dan perbuatan. Walaupun demikian, apa yang dikenal sebagai hidup baru belum tentu dapat jelas terlihat sesudah itu. Mereka yang mengaku Kristen itu mungkin belum bisa bertumbuh kerohaniannya sehingga tingkah laku dan perbuatan mereka tidaklah jauh berbeda dari apa yang ada sebelumnya. Memang dalam kenyataannya, pertumbuhan setiap bayi tidaklah sama. Ada orang-orang yang cepat bertumbuh secara rohani, tetapi ada juga yang lambat sehingga mereka hanya bisa mencerna makanan bayi. Mereka tidak bertumbuh dalam iman dan pengertian kekristenannya.

“Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.” Ibrani 5: 12

Mengapa orang tetap bayi secara rohani walaupun sudah lama menjadi Kristen? Sebab yang utama adalah karena hubungannya dengan Tuhan yang kurang erat. Karena itu, keinginan mereka untuk mengenal karakter Tuhan tidaklah besar. Mereka tidak mengenal Tuhan secara pribadi walaupun sudah lama mengaku Kristen. Mereka tidak memberi kesempatan kepada Roh Kudus untuk memimpin hidup mereka karena mereka terlalu sibuk mengurus kepentingan pribadi. Mereka mungkin mengharapkan perubahan, tetapi tidak mau bekerjasama dengan Roh Kudus untuk mengganti cara hidupnya.

Selain itu, ada juga orang-orang yang gampang merasa puas dengan janji keselamatan yang mereka peroleh. Mereka percaya bahwa jika mereka mengaku percaya kepada Yesus, itu sudahlah cukup. Mereka tidak mengerti bahwa iblispun percaya adanya Tuhan, tetapi ia tidak mau tunduk kepada kehendak Tuhan. Mereka yang hidup dengan mengandalkan akal budi saja, cenderung tidak mau menerima bimbingan Tuhan. Mereka sering mengabaikan firman Tuhan. Sebagai akibatnya, orang-orang yang sedemikian tidak bertumbuh dan berbuah. Dengan demikian, seperti pohon yang berdaun hijau belum tentu pohon yang hidup, mereka yang mengaku Kristen mungkin adalah orang-orang yang masih berada dalam hidup lama yang membawa kematian (Matius 7: 19-20).

Sekalipun cara hidup dan penampilan yang baik seringkali dianggap sebagai tanda hidup baru, itu belum tentu bukti hidup baru. Hidup baru benar-benar bisa terlihat jika orang tetap bertahan dalam iman sekalipun menghadapi semua tantangan atau masalah kehidupan baik yang bersifat jasmani maupun rohani. Seperti pohon yang tetap berdiri kokoh walaupun diterjang badai. Dalam situasi dunia saat ini, mereka yang benar-benar sudah hidup baru mungkin mengalami berbagai penderitaan, tetapi tetap teguh dalam iman. Dalam kesulitan hidup mereka mungkin menjumpai berbagai godaan dan jalan pintas yang memikat, tetapi tetap bisa berdiri tegap dalam kebenaran firman Tuhan.

“Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.” Ibrani 5: 13 – 14

Hari ini, kita diingatkan bahwa sebagai orang percaya kita harus terus bertumbuh secara rohani dan menghasilkan buah yang baik dalam suka maupun duka. Selama hidup kita tidak boleh berhenti mempelajari firman Tuhan dan melaksanakannya sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, yaitu tingkat kedewasaan penuh. Dengan spritual maturity seperti yang diharapkan Kristus, kita akan berubah dari kanak-anak, yang mudah diombang-ambingkan oleh berbagai tipu-daya dan keadaan, menjadi orang dewasa yang teguh dalam iman dan penuh kebijaksanaan. Mereka yang benar-benar sudah mempunyai hidup baru adalah orang-orang yang tetap setia kepada Tuhan dalam keadaan apapun. Mereka yang memang sudah lahir baru akan membenci dosa dan selalu ingin dan berusaha untuk hidup dalam kebenaran.

Tanggung jawab kita untuk mendidik yang lebih muda

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu. Amsal 22: 6

Saat ini dunia pendidikan sekolah dasar dan lanjutan di Australia mengalami goncangan. Sebenarnya, keadaan sudah memburuk selama lebih dari 20 tahun. Bukan saja mutu pendidikan merosot, kemampuan belajar para murid pun memburuk. Bukan saja dalam hal belajar ilmu pengetahuan, terapi juga dalam hal belajar berdisiplin dan bersopan-santun. Banyak guru yang memutuskan untuk berganti karir karena tekanan jasmani dan rohani yang tidak tertahankan. Masalah pendidikan ini bertambah serius, karena jumlah orang mau bekerja sebagai guru menjadi berkurang karena gaji yang dirasakan kurang.

Di antara komentar yang muncul, ada beberapa hal yang sangat menarik untuk di simak. Yang pertama adalah kenyataan bahwa sudah lama pendidikan anak di Australia “diperlunak” dengan alasan untuk tidak menyebabkan rasa terpukul terhadap mereka yang kurang berhasil. Guru-guru tidak dapat lagi memakai kata-kata seperti “gagal”, “tidak memenuhi syarat” atau “buruk”. Sebagai akibatnya, banyak orang yang merasa bahwa anak sekolah di zaman ini menjadi kurang serius dalam belajar. Mereka kemudian menyia-nyiakan pelajaran yang diterimanya dengan merasa puas atas hasil “asal lulus” saja.

Kesulitan yang kedua, menurut beberapa tokoh pendidikan adalah berkurangnya peranan orang tua dalam pendidikan anak-anaknya. Banyak orang tua yang karena sibuk dengan pekerjaannya, tidak mempunyai waktu untuk mendidik anak-anak mereka. Mereka menganggap bahwa pendidikan anak adalah tugas guru di sekolah.

Masalah yang ketiga ialah sulitnya mendapatkan guru-guru yang berkualitas tinggi. Adalah kenyataan bahwa di antara mereka yang masuk ke universitas untuk belajar menjadi guru, banyak yang sebenarnya terpaksa karena tidak bisa memasuki jurusan lain. Lebih dari itu, satu dari sepuluh orang yang belajar untuk menjadi guru sains misalnya, sebenarnya tidak memenuhi syarat untuk mengajar bidang itu.

Terlepas dari banyaknya kemungkinan penyebab kemunduran pendidikan anak yang dikemukakan orang, adalah kenyataan bahwa di dunia barat peranan orang tua sudah sangat berkurang. Orang tua di zaman ini, cenderung merasa bahwa kebebasan anak adalah penting agar mereka dapat berdiri sendiri di kemudian hari. Ada juga yang merasa bahwa selama kebutuhan keuangan terpenuhi, hidup anak akan terisi kebahagiaan. Hidup anak mereka adalah tanggung jawab mereka sendiri.

Adalah kenyataan bahwa bentuk dan fungsi keluarga di zaman ini juga sudah berubah sehingga anak-anak mereka tidak lagi merasa perlu untuk belajar dari orangtua. Anak zaman sekarang lebih senang belajar dari teman-teman seumur. Dengan demikian, rasa hormat anak kepada orang tuanya menjadi berkurang dan orang tua mulai kehilangan pengaruh terhadap anak-anaknya.

Berbeda dari apa yang tertulis dalam Amsal di atas, banyak orang tua di zaman ini yang mengabaikan pentingnya kedudukan dan tugas mereka. Mereka kurang menyadari bahwa anak mereka mendengar apa yang diucapkan dan apa yang diperbuat mereka. Mereka kurang berusaha untuk menjadi contoh yang baik bagi generasi muda. Dalam hal ini, orang Kristen pun mudah jatuh dalam perangkap serupa. Lebih dari itu, banyak gereja yang kurang menekankan pentingnya hidup berdisiplin dan menghindari dosa.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan bahwa peranan orang tua (baik orang yang mempunyai anak atau orang yang sudah dewasa) adalah sangat besar dalam pendidikan kaum muda. Pendidikan bukan saja yang menyangkut pengetahuan, tetapi justru lebih penting dalam hal moral dan etika. Orang tua harus bisa memberikan bimbingan yang baik berdasarkan prinsip kasih sesuai dengan firman Tuhan agar anak-anak mereka bisa memakainya seperti sebuah karangan bunga yang indah bagi kepala mereka, dan seperti kalung bagi leher mereka. Generasi muda akan bisa belajar dari generasi sebelumnya, jika mereka bisa melihat nilai dan manfaat dari apa yang diajarkan dan dipraktikkan dalam hidup sehari-hari.

Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Mazmur 111: 10

Jangan mengabaikan adanya dosa dan Roh Kudus

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” Efesus 4: 30 – 31

Pernahkah anda merasa sedih karena perlakuan orang lain terhadap anda? Saya yakin jawabnya adalah “ya”. Dari kecil kita bisa merasakan kesedihan jika ada hal-hal yang diperbuat orang yang menyinggung, melukai dan membuat kita merasa kurang dihargai atau disayangi.

Dengan bertambahnya umur, mungkin orang lebih tahan sabar dalam menghadapi hal-hal semacam itu; tetapi, jika banyak hal-hal yang melukai hati setiap hari, perlahan-lahan kepribadian orang itu akan berubah. Memang perasaan yang terluka bisa membuat orang menutup diri terhadap mereka yang menyebabkannya.

Ayat di atas menyebutkan bahwa Roh Kudus bisa didukakan oleh perbuatan kita. Ini mungkin agak mengherankan sebagian orang Kristen, karena Roh Kudus sering digambarkan dengan api. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika memang pernah menulis agar mereka tidak memadamkan Roh (1 Tesalonika 5: 19). Jika Roh adalah api, atau “sesuatu”, memang kata “mendukakan” rasanya kurang tepat.

Walaupun demikian, Roh Kudus sebenarnya adalah Tuhan sendiri yang tinggal dalam diri umat percaya. Ia adalah Oknum yang seperti Allah Bapa dan Yesus Kristus, mempunyai kepribadian dan eksistensi Ilahi. Dalam kenyataanNya, Allah Bapa, Allah Putra dan Roh Kudus adalah satu, dan kepadaNya orang Kristen berbakti. Dengan demikian, segala kelakuan, tingkah laku, pikiran dan perbuatan yang salah bisa membuat Roh merasa sedih dan terlukai. Roh Kudus melihat bagaimana kita perlahan-lahan menjauhkan diri dari hidup kudus dan menuruti jalan kita sendiri dan bahkan hidup bergelimang dalam dosa.

Hidup kudus? Apakah orang Kristen adalah orang bisa hidup tanpa berbuat dosa, alias menjadi orang yang suci? Tentu saja tidak. Meskipun dosa kita sudah diampuni Tuhan karena darah Yesus, kita tidak akan bisa menjadi orang yang tidak bisa jatuh dalam dosa. Selama hidup di dunia kita tidak akan bisa menjadi manusia yang sempurna tanpa cacat cela. Walaupun demikian, kita sudah diberi kemampuan untuk tidak berbuat dosa lagi dengan adanya Roh Kudus yang sudah diberikan kepada kita. Kemampuan itu akan ada jika kita tidak mengabaikan adanya berbagai dosa baik besar dan kecil, dan jika kita tidak mendukakan Roh Kudus.

Dalam kitab Perjanjian Lama ada banyak contoh dimana Allah dalam kemarahan-Nya kepada orang Israel, membiarkan mereka mengalami pengalaman pahit. Begitu juga banyak hal yang bisa mendukakan Tuhan yang tinggal dalam hidup kita, sedemikian rupa hingga kita tidak lagi dapat merasakan bimbingan dan pertolongan-Nya. Tidaklah mengherankan, jika orang hidup jauh dari Tuhan, yang mendukakan Roh Kudus, kemudian bisa mengalami hal-hal yang semakin hari semakin parah selama hidup di dunia, sekalipun orang itu yakin bahwa ia adalah orang yang sudah dipilih Tuhan seperti bangsa Israel. Tanpa mau menerima bimbingan Roh Kudus dan berusaha mengindari godaan dosa, hidup manusia adalah bagai layang-layang yang putus talinya.

Bagaimana kita harus bersikap dalam hidup agar Roh tidak didukakan? Paulus menyebutkan dalam ayat di atas agar kita membuang segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah, dan segala kejahatan. Jika hal-hal buruk itu diterapkan pada hidup kita di saat ini, itu berarti kita harus mau menghindari semua bentuk dosa dengan mawas diri, dan mau belajar apa yang menjadi kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan dalam Alkitab. Pagi ini, firman Tuhan menasihati kita bahwa sebagai orang percaya, kita harus mau hidup menurut firman-Nya. Hidup kudus. Dengan memilih cara hidup yang baik, bimbingan Roh Kudus akan makin nyata dalam hidup kita, sehingga makin hari kita akan makin sempurna seperti apa yang dikehendaki Tuhan.

“Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.” 2 Petrus 1: 10

Buat apa hidup suci?

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Satu perbedaan besar antara iman Kristen dan kepercayaan yang lain adalah dalam hal berbuat baik. Dalam kepercayaan lain,  berbuat baik, memberi sedekah dan sesajen mungkin dianggap bisa menyelamatkan manusia dari murka Tuhan di dunia. Agama lain juga ada yang menekankan bahwa berbuat kebaikan, terutama untuk sesama, adalah penting untuk menjamin tempat di surga. Selain itu diajarkan pula bahwa makin banyak amal sedekah kita, makin enak hidup kita di surga.

Jika perbedaan antara iman Kristen dan kepercayaan lain adalah jelas, bagaimana pula perbedaan antar umat Kristen dalam hal berbuat baik dan hidup baik? Sebagian orang Kristen mengajarkan bahwa umat Kristen dapat hidup baik, dan makin lama makin baik, sehingga pada akhrnya kita menjadi orang yang suci. Aliran ini dinamakan aliran kekudusan atau holiness movement. Jika aliran kekudusan sering dianggap kurang benar, ada aliran Kristen yang sangat mementingkan kedaulatan Tuhan dalam hal manusia diselamatkan semata-mata karena karunia Tuhan (by grace only). Karena mereka mementingkan pengertian bahwa sebaik bagaimanapun manusia tidak cukup baik untuk Tuhan, aliran ini cenderung mengabaikan ajaran untuk hidup suci. Mereka seakan percaya bahwa sejahat bagaimanapun manusia bisa masuk ke surga jika memang sudah dipilih Tuhan.

Saat ini makin banyak aliran yang nampaknya tidak lagi mementingkan perlunya hidup baik karena kuatir mengurangi kedaulatan Tuhan dalam penyelamatan. Padahal dalam ayat di atas jelas tertulis bahwa orang Kristen yang benar adalah mereka yang taat kepada kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan. Tidaklah mengherankan bahwa teolog Reformed seperti Kevin DeYoung merasa prihatin akan gejala perkembangan golongan yang kurang aktif dalam mengajarkan pentingnya hidup baik. Kevin menulis sebuah buke yang berjudul “The hole in our holiness” yang berarti “lubang yang ada dalam kekudusan kita”. Memang banyak hal yang bisa kita lakukan untuk bisa makin taat kepada kehendak Tuhan, dan para pendeta dan pengajar Kristen harus giat mengajarkan hal-hal yang bisa membuat kekudusan kita menjadi makin utuh.

Agama Kristen memang berbeda dengan agama lain karena iman kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci tidak memungkinkan manusia berbuat baik untuk menghindari murka Allah atas dosa manusia. Hanya melalui pengurbanan Yesus kita bisa diselamatkan. Selain itu, karena Allah itu mahabesar dan mahakaya, usaha berbuat baik tidaklah berarti apa-apa untuk-Nya. Jika kita terpilih oleh panggilan kasih-Nya, kita akan bersama Tuhan di surga dan menikmati segala kemuliaan surgawi yang ada di sana. Walaupun demikian, Tuhan sebenarnya menghendaki persembahan hidup kita sebagai rasa syukur atas kasih-Nya dan melambangkan penyerahan hidup kita kepada Tuhan. Tanpa adanya tanda-tanda hidup baru, orang mungkin belum benar-benar mengenal Tuhan.

Jika perbuatan baik manusia kurang dipentingkan dalam pengajaran Kristen, banyak orang Kristen akan menjadi kurang bersemangat untuk berbuat baik. Bagi mereka, asal tidak berbuat jahat sudah cukup. Pokok tidak ikut-ikutan berbuat dosa, cukuplah!  Biarkan orang lain berbuat dosa, kita tidak perlu ikut campur! Jangan ikut-ikutan berusaha menegakkan hukum dan keadilan karena risikonya besar. Banyak di antara mereka justru mengira bahwa orang lain yang berusaha hidup baik dan berbuat baik adalah orang yang ingin menyelamatkan dirinnya melalui perbuatannya. Ini sudah tentu bukanlah sikap yang baik, karena mempersembahkan hidup berarti bukan saja menyangkut segi rohani tetapi juga jasmani kita.

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12:1

Dalam sejarah dunia, memang ada orang yang heran dan kagum melihat adanya orang-orang Kristen yang berjuang keras untuk berbuat baik dalam melayani gereja dan masyarakat, menegakkan keadilan sosial dan hukum, memajukan kesehatan dan pendidikan dan sebagainya. Tetapi mungkin ada juga orang yang mencemooh orang Kristen yang demikian dan menuduh mereka itu sekadar mencari keuntungan untuk diri mereka sendiri.

Ayat pembukaan kita di atas jelas mengatakan bahwa bukan setiap orang yang berseru kepada Tuhan akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Tuhan, Dengan demikian, mereka mungkin saja adalah orang-orang yang bukan Kristen sejati. Sudah tentu, setelah Tuhan menggerakkan hati kita untuk menerima anugerah keselamatan, mata kita dicelikkan sehingga kita bisa membedakan apa yang baik dari apa yang jahat. Sebagai orang yang sudah bertobat, kita mungkin sudah berhenti berbuat jahat, tetapi belum sepenuhnya merasa terpanggil untuk berbuat baik. Sebagai pohon, kita belum menghasilkan buah-buah yang baik.

Hari ini kita diingatkan bahwa Tuhan menciptakan seisi dunia ini dengan maksud agar semuanya indah dan baik. Manusia diciptakan-Nya untuk hal-hal yang baik, untuk memuliakan Tuhan; tetapi karena dosa, manusia tidak lagi dapat memenuhi tugas Ilahi itu. Hanya melalui darah Kristus, kita bisa menjadi ciptaan baru. Sebagai ciptaan baru yang bersyukur atas kasih-Nya, panggilan untuk berbuat baik itu diteguhkan kembali. Menjadi ciptaan baru dalam Tuhan bukanlah hal yang remeh. Adalah sebuah ironi jika kita mau mengaku dosa, bertobat dari hidup lama kita dan menerima hidup baru serat rajin mengabarkan karunia keselamatan dari Tuhan, tetapi mengabaikan kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan dalam Alkitab untuk berbuat baik. Hidup baik dengan aktif berbuat baik untuk Tuhan dan sesama adalah ciri manusia yang sudah dilahirkan kembali!

“Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal.” Matius 12: 33

Menghindari dosa kerakusan

“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” 1 Timotius 6: 6

Bacaan: 1 Timotius 6: 6 – 10

Ayat di atas menyebutkan bahwa hidup orang Kristen yang disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Mengapa begitu? Banyak orang yang berpendapat bahwa hidup bahagia bisa tercapai jika orang bisa mencapai apa yang diinginkan. Di zaman ini sering diajarkan bahwa melalui Tuhan berbagai berkat akan datang melimpah kepada mereka yang mau meminta. Tetapi, ayat di atas menyatakan bahwa kebahagiaan justru bisa tercapai dengan mengurangi apa yang diinginkan dari Tuhan.

Dalam ayat di atas kata “ibadah” dipakai, tetapi dalam Alkitab berbahasa Inggris kata “godliness” lah yang sering dipakai. Kata ini diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia sebagai “kesalehan”, yaitu hidup yang sesuai dengan perintah Tuhan. Apa sebenarnya arti kata “ibadah”? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia , ibadah adalah perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan untuk mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Hal ini, jika disertai rasa cukup, akan membawa kebahagiaan dalam hidup kita.

Hidup dengan rasa cukup dikatakan akan memberi keuntungan besar. Tetapi bagaimana mengartikan rasa cukup? Setiap orang tentunya menafsirkan ini menurut ukurannya sendiri. Bagi sebagian orang, rasa cukup sulit dicapai karena adanya keinginan dan kebutuhan yang semakin lama semakin besar. Dengan demikian, rasa bahagia dan rasa puas tentu saja sulit untuk dicapai. Karena itu Paulus dalam suratnya kepada Timotius menulis bahwa jika orang ingin untuk berbahagia, ia justru harus bisa merasa puas dengan apa yang sudah ada.

Paulus melanjutkan dengan menulis bahwa manusia tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan mereka tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Karena itu, asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Dengan adanya rasa cukup, rasa sukacita akan tumbuh; tetapi tanpa adanya rasa cukup orang akan selalu merasa kurang puas dan kecewa. Tidaklah mengherankan bahwa mereka yang rakus sering terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan derita!

Kerakusan yang disebut sebagai salah satu dari tujuh dosa yang mematikan (Seven Deadly Sins) ialah dosa pokok yang dapat menyebabkan terjadinya dosa-dosa lainnya seperti pencurian, korupsi, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan, tetapi juga sifat kikir dan tidak mau berbagi. Bahasa Latin menyebut jenis dosa ini sebagai avaritio, berakar pada kata avarus, dengan avere sebagai kata kerja, yang artinya ‘memiliki hasrat internal yang sangat kuat’ (to crave) setelah terpapar pada sesuatu. Di sini kita sekarang mengerti mengapa jenis dosa ini berhubungan dengan indera penglihatan (mata). Artinya, setelah melihat suatu kekayaan/kemewahan di tempat lain, seseorang memiliki hasrat yang sangat kuat dalam dirinya untuk mendapatkan kemewahan tersebut. Umumnya kata ini digunakan untuk mendeskripsikan sifat manusia yang tidak pernah merasa puas dalam mengejar,menumpuk, dan memamerkan kekayaan material. Ini memang sekarang sudah berkembang pesat sehingga julukan “crazy rich people” atau “orang super kaya” sudah menjadi kebanggaan atau status yang hebat.

Tidak mudah menjelaskan sifat rakus sebagai dosa. Ada berbagai pertanyaan mendasar yang harus dijawab, misalnya, apa ukurannya seseorang yang memiliki kekayaan material dianggap rakus atau tidak rakus? Jika ukurannya bersifat subjektif, bukankah sifat rakus tidak bisa disematkan pada perilaku orang tertentu? Memiliki harta atau barang-barang yang terlihat indah memang bukanlah hal yang salah. Benda-benda material yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia bukanlah sesuatu yang jahat atau buruk pada dirinya. Benda-benda tersebut bernilai instrumental, dan nilai itu diberikan manusia. Kita pantas memiliki benda-benda tertentu karena bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan primer, seperti makanan, pakaian, perumahan. Selain itu kebutuhan manusia lainya bisa menyangkut berbagai hal, seperti seni, hiburan, olahraga dan sebagainya.

Salahkah kalau kita menjadi orang yang kaya? Tetntu saja tidak, selama kekayaan itu diperoleh dengan cara yang halal. Walaupun demikian, kekayaan yang diperoleh untuk kepentingan diri sendiri bukanlah apa yang dikehendaki Tuhan. Demikian juga jika keinginan dan kebutuhan sudah menjadi kerakusan, itu justru akan menjadi ilah yang menjauhkan kita dari Tuhan. Kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan dalam Alkitab mengajarkan kita untuk bersikap ‘murah hati’ dengan sesama kita. Sikap murah hati inilah keutamaan yang bisa menangkal kerakusan. Mereka yang berhasil, tidak hanya mampu menyeimbangkan upaya meningkatkan dan mempertahankan kekayaan material, tetapi juga harus punya kesadaran tentang pentingnya sikap ‘ketidaklekatan’ atau sikap lepas-bebas dalam diri, bahwa meskipun kaya raya, dia tidak menaruh hati dan kelekatannya pada harta kekayaan tersebut. Mereka mau untuk membagikan kekayaan mereka kepada orang lain untuk memuliakan nama Tuhan.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan bahwa sekalipun hal mencapai kesuksesan matetial bukanlah sebuah perkara hitam-putih, tetapi kita harus mampu memeriksa batin kita secara saksama dan jujur. Pada akhirnya, baik yang kaya maupun yang kurang mampu, kita dituntut untuk mampu membedakan manakah yang utama/pokok dan manakah yang kurang penting dalam hidup ini. Kita diajak untuk tidak melekatkan hati pada kekayaan material, dan bersikap murah hati pada sesama. Semua itu akan membawa keuntungan dan kebahagiaan dalam hidup kita di dunia.

Apakah Tuhan sudah mengeraskan hatiku?

“Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: ”Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi.” Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya.” Roma 9: 17-18

Kisah pembebasan orang Israel dari tanah Mesir yang tercatat dalam kitab Keluaran 1-18 adalah bagian yang sangat intens dari alkitab, yang menimbulkan beberapa pertanyaan teologis yang berat. Pertarungan antara Tuhan dan Firaun atas nasib bangsa Israel yang diperbudak adalah sangat menarik. Ini bahkan sudah ditampilkan dalam film epik “The Ten Commandments” yang dibintangi Chartlton Heston dan disutradarai oleh Cecil B. DeMille (1956).

Firaun adalah orang yang sangat jahat; sebenarnya ia adalah salah satu pemimpin terburuk yang pernah kita ketahui. Saat anda membaca cerita-cerita ini, anda mungkin tergoda untuk bertanya, siapa yang sebenarnya mengambil keputusan di sini? Apakah itu Tuhan? Jika demikian, mengapa dia membiarkan terjadinya persengketaan yang berlarut-larut antara Musa dan Firaun? Dan mengapa pertikaian ini menjadi begitu keras dan mencekam?

Firaun bukanlah satu-satunya raja yang disebut dalam kitab Keluaran. Penulis Keluaran tidak benar-benar menyebutkan nama Firaun yang menentang Musa (apakah dia Thutmose II atau III, atau Ramses I atau II?). Ini hampir pasti disengaja. Penulis tidak ingin kita berfokus pada satu raja. Sebaliknya, dia ingin kita melihat Firaun sebagai pola dasar dari pola pemberontakan manusia yang dimulai di taman Eden dan memuncak di Babel (Kejadian 3-11).

Firaun ini, atau firaun-firaun dari sepanjang zaman, adalah lambang kejahatan manusia. Firaun mewujudkan perubahan aneh dan tragis yang dapat terjadi dalam hati manusia ketika satu orang atau masyarakat menempatkan nilai dan kesejahteraan mereka sendiri di atas orang atau masyarakat lain. Firaun bisa juga merupakan apa yang terjadi ketika seluruh bangsa mendefinisikan kembali yang apa yang baik dan yang jahat terlepas dari hikmat Tuhan. Mereka akan mengalami nasib tragis di dunia.

Sebuah pertanyaan umum yang tentang cerita ini, menyangkut tema berulang dari “hati keras” Firaun. Terkadang kita diberitahu bahwa Firaun mengeraskan hatinya melawan Tuhan, tetapi di lain waktu kita membaca bahwa Tuhan mengeraskan hatinya. Siapa sebenarnya dibalik semua ini? Dan apakah yang diceritakan kisah ini adalah tentang hubungan Tuhan dengan kejahatan manusia dalam sejarah, atau dalam hidup kita sendiri? Jawabnya: kedua-duanya.

Tuhan yang mengetahui hati manusia dan dapat mengantisipasi tanggapan mereka, adalah sebuah kenyataan yang bergema di seluruh Alkitab. Tuhan jelas bermaksud dari mulanya untuk menghancurkan Firaun, tetapi apakah itu berarti Tuhan bertanggung jawab atas pemberontakan Firaun dari awal hingga akhir? Jika kita tidak mau mendengarkan suara Tuhan dan mengabaikan firman-Nya, apakah Tuhan yang membuat hati kita menjadi keras? Jika kita hidup tidak sesuai dengan kehendak-Nya yang sudah dinyatakan, apakah itu juga kehendsk-Nya?

Dalam pertemuan pertama Musa dan Firaun (Keluaran 7:13-14), hati Firaun memang “menjadi keras.” Kata kerja Ibrani untuk “menjadi keras” (diucapkan, khazaq) bukanlah kata kerja pasif, tetapi juga tidak menunjukkan siapa yang memulai tindakan (ini disebut kata kerja “statif”, artinya tidak mengatakan apakah itu Firaun atau Tuhan). Tetapi, Alkitab bahasa Indonesia berulang kali menulis “Tuhan mengeraskan’.

Dengan demikian, ada orang yang berpikir bahwa Tuhan mengeraskan hati Firaun sejak awal, sekalipun ini bukan seperti yang dikatakan teks asli Alkitab. Kalau kita teliti, ada pola yang menarik muncul. Dalam lima tulah pertama yang Tuhan kirimkan ke Mesir, pengerasan hati Firaun terjadi atas kehendaknya sendiri. Dalam lima tulah terakhir, polanya berubah.

Mengapa penulis menggunakan “teknik bolak-balik” ini dalam menggambarkan isi hati Firaun? Itu semua adalah bagian kondisi manusia dalam cerita ini, yaitu tentang sifat misterius kejahatan manusia. Tuhan memanggil Firaun untuk merendahkan dirinya dan mengakui bahwa Tuhan adalah otoritasnya dan bahwa dia tidak dapat mendefinisikan kembali yang baik dan yang jahat dalam istilah Mesir. Tanggapan Firaun (Keluaran 5:1-2) adalah menolak Allah Israel. Setelah ini, Tuhan memberi Firaun lima kesempatan untuk bertobat dan merendahkan diri. Dan lima kali Firaun mengeraskan hatinya.

Pada akhirnya, apakah itu Tuhan atau Firaun yang menyebabkan, di akhir sepuluh tulah, Firaun ingin bangsa Israel pergi. Setelah kehilangan putranya sendiri, Firaun membebaskan orang Israel. Tetapi, setelah itu, Firaun kembali berubah hati dan kembali pada keputusannya untuk tidak membiarkan orang Israel pergi (Keluaran 14:5). Firaun mengerahkan pasukannya dan kita membaca bahwa Tuhan “mengeraskan hati Firaun” (Keluaran 14:8). Kita tahu persis bagaimana cerita ini berakhir. Maksud jahat hati Firaun berbalik pada dirinya sendiri seperti sebuah bumerang, dan mengakibatkan bencana bagi dia dan bangsa Mesir.

Ayat pembukaan di atas, diambil dari Roma 9 adalah referensi terpanjang yang dibuat Paulus untuk Keluaran dalam Perjanjian Baru. Banyak yang menunjuk pasal ini untuk mengatakan bahwa Tuhan pada akhirnya berada di balik kejahatan Firaun sejak awal. Paulus menulis,”Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya.” Roma 9: 17-18

Paulus melihat dalam hati Firaun yang keras, sebuah pola yang kembali bekerja pada zamannya sendiri, yaitu penolakan terhadap Yesus sang Mesias oleh banyak orang Yahudi sendiri. Dalam perikop ini, Paulus tidak memberikan komentar tentang tema rumit dari hati Firaun yang keras, juga tidak mengklaim bahwa hanya Tuhan yang bertanggung jawab. Paulus meringkas poin utama dari makna cerita Keluaran tentang kejahatan Firaun (tujuan Tuhan untuk memberkati tidak dapat digagalkan oleh kejahatan manusia yang keji) dan menerapkannya pada tragedi yang nyata di zamannya sendiri.

Eksekusi Yesus sebenarnya adalah bagian dari rencana Tuhan untuk membawa berkat bagi semua bangsa. Ini adalah eksplorasi Paulus tentang keadilan dan belas kasihan Allah. Fakta bahwa Tuhan dapat mengarahkan kejahatan ke arah tujuan-Nya tidak berarti Dia merekayasanya. Tuhan yang berdaulat selalu bisa mengatasi apa pun yang terjadi di dunia untuk mencapai rancangan-Nya. Firaun bertanggung jawab atas kejahatannya sendiri, sama seperti saudara-saudara Yusuf. Namun, tidak ada kekuatan kejahatan manusia yang dapat menolak tujuan Tuhan untuk membawa keselamatan dan berkat bagi semua bangsa.

Apa artinya ini bagi Firaun, dan apa artinya ini bagi kita? Ketika kejahatan manusia tidak terkendali, hal-hal buruk terjadi, dan orang jahat terkadang bisa berubah menjadi monster. Penulis Keluaran menunjukkan kepada kita bahwa Firaun bertanggung jawab atas kejahatan di dalam hatinya. Pada titik yang jelas dalam cerita (setelah tulah 5), Firaun melewati titik tidak bisa kembali (point of no return). Inti dari cerita ini bukanlah untuk memberitahu kita bahwa Tuhan merekayasa kejahatan dan membuat Firaun mengalami akhir hidup yang menyedihkan. Inti cerita ini bukanlah tetang Tuhan yang mahakuasa yang sudah menetapkan Firaun untuk melawan Dia. Ini juga berarti bahwa Tuhan tidak membuat manusia mana pun untuk melawan Dia. Manusia yang sudah jatuh dalam dosa, selalu bisa dan siap untuk berbuat dosa apa saja.

Hari ini, kita diingatkan: “Jangan seperti Firaun!” Hal-hal aneh terjadi di hati dan pikiran kita ketika kita membiarkan dorongan jahat dari sifat alami kita yang sudah rusak tidak terkendali. Tuhan akan selalu dengan murah hati menawarkan kita kesempatan untuk kembali ke jalan yang benar (mungkinkah anda merasa Tuhan masih mau memberi banyak kesempatan?). Tetapi kadang-kadang orang memang merasa tidak peduli akan hidupnya, atau merasa bahwa semua sudah ditentukan oleh Tuhan dari awalnya; sehingga mereka tanpa sadar merusak diri sendiri dan mencapai titik tidak bisa kembali. Tuhan dapat dan kadang-kadang akan membiarkan kejahatan kita menghancurkan kita. Selagi masih ada waktu, mariah kita renungkan keadilan dan belas kasihan Tuhan yang misterius, yang ingin menyelamatkan kita dari ulah kita sendiri.

… Karena itu Ia katakan: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! Yakobus 4: 6-7

Apa kehendak Tuhan bagiku?

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Bagi banyak orang Kristen, hal memilih sesuatu adalah identik dengan mencari kehendak Tuhan. Dan sebab itu banyak orang berpikir bahwa apa yang sudah terjadi adalah kehendak Tuhan. Dalam hal ini, masalahnya adalah bahwa sebagai manusia kita adalah makhluk terbatas. Dapatkah kita mengerti apa yang dikehendaki-Nya? Apakah yang sekarang ada sudah merupakan kehendak-Nya?

Apa yang terjadi di dunia sudah tentu merupakan bagian dari rencana Tuhan yang tidak kita ketahui. Manusia dalam keterbatasannya ingin menemukan kehendak Tuhan, tetapi kerapkali heran jika apa yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Memang manusia tidak mungkin tahu keseluruhan kehendak-Nya (overall will).

“TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.” Amsal 16: 4

Seorang yang mencari pasangan hidup mungkin berdoa untuk bisa memilih jodoh yang baik, tetapi jika kemudian rumahtangga mereka mulai berantakan, pertanyaan muncul apakah semua itu kehendak Tuhan? Tidak ada orang yang bisa menjawabnya karena tidak ada orang yang tahu apa yang akan terjadi. Dalam keadaan demikian, mereka yang bersangkutan harus berusaha melakukan apa yang baik menurut kehendak Tuhan. Manusia bertanggungjawab untuk pilihannya dan melakukan apa yang terbaik yang sesuai dengan firman-Nya setiap hari.

Hidup baik adalah apa yang jelas dikehendaki Tuhan dari setiap orang, terutama dari setiap umat-Nya. Jika kehendak dan rencana Tuhan untuk masa mendatang tidaklah kita ketahui, setiap umat-Nya harus sadar bahwa segala sesuatu pada akhirnya akan sesuai dengan kehendak-Nya yang menyeluruh dan segala rencana-Nya.

Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Sebab ada tertulis: “Ia yang menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya.” Dan di tempat lain: “Tuhan mengetahui rancangan-rancangan orang berhikmat; sesungguhnya semuanya sia-sia belaka.” 1 Korintus 3: 19-20

Tuhan memang mempunyai kehendak mutlak (sovereign will) untuk seluruh ciptaan-Nya. Kita tidak mungkin mengetahui semuanya, tetapi, dalam hidup kita sehari-hari Ia sudah menunjukkan apa yang baik untuk dilakukan. Itu yang dinamakan kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan atau revealed will. Dalam Alkitab tertulis banyak hal yang dikehendaki Tuhan, seperti untuk mengasihi Tuhan dan sesama, untuk membayar pajak kepada pemerintah, untuk memegang kejujuran dan keadilan, untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita dan lain-lain.

Jika kita sering bingung untuk mencari kehendak Tuhan, itu adalah karena kita ingin tahu apa yang sebenarnya dikehendaki Tuhan. Kita ingin tahu seluruh kehendak-Nya untuk hidup kita, untuk keluarga kita dan untuk bangsa kita. Tetapi itu jelas tidak mungkin. Apa yang belum terjadi kita tidak tahu, dan apa yang sudah terjadi belum tentu merupakan hasil akhir. Itulah sebabnya kita berdoa “Jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga’.

Pada pihak yang lain, banyak orang yang melihat apa yang sudah terjadi dalam hidupnya, kemudian berpikir bahwa semuanya adalah kehendak Tuhan. Ini pun keliru. Selain ada kemungkinan bahwa hal itu terjadi karena keadaan dunia dan manusia yang sudah jatuh dalam dosa, apa yang terjadi mungkin adalah bagian dari apa yang akan terjadi, sesuai dengan rencana-Nya. Karena itu, dalam menghadapi situasi hidup bagaimana pun, kita harus tetap berusaha hidup sesuai dengan kehendak-Nya yang sudah dinyatakan dan menantikan dengan iman akan apa yang akan diperbuat-Nya di masa mendatang.

Pagi ini, ayat pembukaan dari Roma 12: 2 diatas mengatakan bahwa kita harus berubah untuk tidak menjadi serupa dengan dunia ini, sehingga dengan pikiran dan sikap yang benar kita dapat membedakan apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Masa depan manusia ada di tangan Tuhan tetapi kita bertanggungjawab atas keputusan dan tindakan yang kita ambil selama kita hidup di dunia. Dalam semua ini kita percaya bahwa Tuhan ikut bekerja untuk membawa kebaikan kepada umat-Nya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Bertekun dalam hukum yang membebaskan

“Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.” Yakobus 1: 23 -25

Dalam merayakan hari proklamasi 17 Agustus kita tentunya merasa bersyukur bahwa rakyat Indonesia dapat mencapai kemerdekaan pada tahun 1945. Perjuangan untuk mencapai kemerdekaan itu tidaklah mudah dan bahkan sudah memakan banyak korban. Sekarang, ketika kita hidup di negara yang merdeka, tentunya kita berharap untuk mempunyai kemerdekaan untuk mencapai cita-cita kita. Walaupun demikian, kita harus menggunakan kemerdekaan itu dengan benar. Ada banyak orang yang memakai kemerdekaan atau kebebasan yang ada untuk maksud yang keliru, dan akhirnya justru terbelenggu dalam hidup atau kebiasaan yang buruk.

Dalam ayat 25, Yakobus menggunakan istilah “hukum yang memerdekakan orang.” Dalam bahasa Inggiris, ayat ini dikenal sebagai “the perfect law of liberty“. Istilah ini tidak mudah untuk dimengerti, tetapi ada analogi yang disampaikan oleh penafsir kitab Perjanjian Baru yang bernama Nicholas Thomas Wright yang mungkin bisa menjelaskan. Dia menggunakan contoh hal aturan mengemudi. Di beberapa negara, orang bermobil di sisi kanan jalan. Di tempat lain, orang mengemudi di sisi kiri. Jika saya mengunjungi Amerika tetapi ingin mengemudi di sisi kiri jalan seperti di Australia, saya tidak akan bisa pergi terlalu jauh karena polisi akan menagkap saya. Saya memang dapat memutuskan untuk menolak untuk mengemudi di sisi kanan, yaitu jalan yang benar tapi terasa tidak nyaman bagi saya. Mungkin saya tidak pernah ingin menaati hukum itu – dan pada akhirnya saya harus menanggung akibatnya.

Apa arti analogi di atas? Rancangan Tuhan untuk bagaimana kita harus menjalani hidup kita adalah baik. Dan sama seperti ketika kita mengemudi di sisi jalan yang benar, kita dapat menikmati kebebasan mengemudi seperti yang dimaksudkan, demikian juga dengan mematuhi kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan kepada kita, memungkinkan kita untuk memiliki kebebasan untuk menjalani hidup sesuai dengan rancangan-Nya. Ini tidak berarti kita tidak akan pernah mengalami kecelakaan bahkan jika kita mengemudi di sisi jalan yang benar, dan itu tidak berarti tidak ada hal buruk yang akan terjadi dalam hidup ini. Satu yang pasti, Tuhan tidak pernah merencanakan hal yang buruk untuk umat-Nya.

Kita tidak tahu apa yang menjadi kehendak Tuhan selain dari apa yang sudah dinyatakan melalui Alkitab dan apa yang kita ketahui mengenai sifat Ilahi-Nya. Tapi di situlah iman kita berguna untuk menjalani hidup di dunia sekalipun kita tidak tahu apa yang akan dilakukan-Nya. Dari situlah kita harus belajar dari Yakobus 1. Dalam pasal ini, sesuai dengan cara Tuhan memanggil kita untuk hidup, bahkan ketika kita tidak dapat memahaminya, akan menghasilkan apa yang baik jika kita berjalan di jalan yang benar. Ketika kita menjalani cara Tuhan, Yakobus 1:25 menyatakan bahwa berkat-Nya akan datang – mungkin tidak segera, dan mungkin tidak dalam kehidupan kita saat ini. Tapi itu pasti akan datang.

Sebagai umat Tuhan kita melihat ke dalam cermin hukum kebebasan yang ditetapkan Tuhan (Yakobus 1: 23). Kita bisa saja melihat diri kita tanpa mempunyai kesan apa pun. Setelah kita melihat gambar kehidupan kita, kita lupa bagaimana wajah kita. Kita tidak ingat bagaimana kita hidup selama ini. Tetapi, jika kita bercermin pada firman Allah yang hidup dan abadi, kita akan mengerti bagaimana penampilan hidup kita. Melakukan firman berarti kita melihat kepada Yesus dan diri kita sendiri di dalam Yesus untuk memperoleh kekuatan dan bimbingan untuk semua segi kehidupan kita. Melakukan firman Tuhan berarti bahwa kita melihat diri kita dalam hukum kerajaan surga dan kemudian kita hidup dalam visi itu. Kita melihat ke cermin itu, dan kita melakukan apa yang kita lihat. Ini lebih dari sekedar panduan moral. Ini bukan sekadar “Apa yang akan Yesus lakukan?” Itu sering terlalu abstrak dan sulit untuk kita digunakan. Sebaliknya kita harus bertanya, “Apa yang akan saya lakukan, jika saya berjalan bersama Yesus?”

Penulis buku Kristen yang sangat terkenal, C. S. Lewis, menyebut ini sebagai salah satu cara kita menggunakan imajinasi untuk meningkatkan kekudusan kita. Jika kita bisa melihat apa yang baik yang bisa kita lakukan dalam Kristus, itu bukanlah kemunafikan atau kesomnongan – sebaliknya, itu adalah upaya yang serius untuk berubah dalam pimpinan Roh. Kita membayangkan apa yang baik, dan itu bukanlah harapan yang kosong jika itu mengarah pada kenyataan. Itulah yang dilakukan anak-anak ketika mereka berlagak seperti orang dewasa agar mereka bisa tumbuh dewasa. Dan itulah yang dilakukan orang Kristen, dalam hidup kita yang sementara di dunia, ketika kita diperintahkan untuk taat kepada firman Tuhan agar kita mendapat kebahagiaan.

Memang, sebagian orang mungkin kurang merasakan pentingnya hidup dalam hukum yang bisa memerdekakan. Mereka mungkin mengira, penebusan oleh Yesus Kristus sudah cukup untuk membawa keselamatan. Bukankah hidup di surga lebih berharga dari hidup di dunia? Itu benar, tetrapi mereka lupa bahwa selagi hidup di dunia kita bisa dibebaskan dari pengaruh dosa kita. Memang selagi hidup di dunia orang Kristen tetap bisa berbuat dosa, tetapi dengan meneliti dan menjalankan hukum yang memerdekakan yaitu firman Tuhan, kita akan dimampukan untuk menghindari dosa. Itu bukan saja membawa kedewasaan iman, tetapi juga mendatangkan rasa puas dan bahagia atas hidup kita.

Pagi ini, jika anda bangun dan berkaca, apakah anda melihat wajah seorang manusia yang ditakdirkan hidup di dunia dan tidak berdaya dalam menghadapi dosa? Ataukah anda melihat adanya seorang manusia yang sudah dibebaskan dari dosa oleh Yesus Kristus? Firman Tuhan berkata bahwa jika anda mengerti adanya hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, anda akan bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya untuk kebaikan kita sendiri.

Mampu untuk tidak berbuat dosa

“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.” 1 Tesalonika 5: 21 – 22

Sebagai manusia, mungkin mudah bagi kita untuk melihat kejahatan yang dilakukan orang lain. Walaupun demikian, orang sering kali kurang bisa merasakan kesalahan atau dosa sendiri. Mengapa demikian? Manusia, baik tua maupun muda, bisa melakukan kejahatan yang bermula dari ukuran kecil. Kebiasaan mengambil barang orang lain mungkin saja dianggap remeh jika kerugian yang ditimbulkan tidaklah besar. Mereka yang mencuri sering menyalahkan pemiliknya yang pelit atau kurang mampu menyimpan barangnya pada tempat yang semestinya. Kemampuan untuk melakukan kejahatan kecil, kemudian bisa membuat orang untuk mampu melakukan yang besar tanpa mengedipkan mata. Semua dosa akan tidak terasa jika kita sudah terbiasa.

Paulus dalam ayat di atas mengingatkan umat di Tesalonika untuk menjauhkan diri dari segala jenis kejahatan, baik itu yang nampaknya kecil ataupun yang besar. Peringatan ini bukan ditujukan kepada orang yang belum mengenal Kristus, tetapi kepada jemaat. Tidak seorang pun yang kebal dari kejahatan dan orang Kristen yang tidak berhati-hati juga bisa terjebak dalam kenikmatan dosa. Bahkan ada orang Kristen yang karena menyadari bahwa ia bisa diselamatkan karena kasih karunia Tuhan, menganggap bahwa berbuat dosa adalah sesuatu yang lumrah karena itu adalah ciri manusia. Benarkah begitu?

Dalam iman Kristen, sebenarnya manusia bisa mengalami salah satu dari empat keadaan:

  1. Dapat berbuat dosa, dan tidak dapat berbuat dosa (posse peccare, posse non peccare);
  2. Tidak mampu untuk tidak berbuat dosa (non posse non peccare);
  3. Mampu untuk tidak berbuat dosa (posse non peccare); dan
  4. Tidak dapat berbuat dosa (non posse peccare).

Dalam bahasa Latin, kata posse berarti bisa atau sanggup, pecarre berarti berbuat dosa, sedang non berarti tidak. Keadaan yang pertama adalah sesuai dengan keadaan manusia sebelum kejatuhan Adam dan Hawa di taman Firdaus; yang kedua adalah keadaan manusia setelah kejatuhan; yang ketiga adalah keadaan manusia yang sudah dilahirkan kembali; dan yang keempat adalah keadaan orang yang sudah di surga. Dengan demikian, mereka yang belum mengenal Kristus selalu tidak mampu untuk tidak berbuat dosa. Mereka dengan kebebasannya, selalu melakukan apa saja yang mendatangkan dosa. Pada pihak yang lain, orang Kristen sejati adalah orang yang sudah dikaruniai Roh Kudus sehingga mampu untuk menghindari dosa.

Dikatakan mampu untuk menghindari dosa, bukan berarti mereka dapat hidup 100% tanpa berbuat dosa. Selama hidup di dunia, otang percaya bukanlah orang yang tidak dapat berbuat dosa. Mereka baru tidak dapat berbuat dosa dan tidak berdosa jika mereka sudah berada di surga. Inilah yang sering tidak dimengerti orang yang merasa heran melihat adanya orang Kristen yang sesekali masih bisa melakukan hal-hal yang tidak pantas. Orang sedemikian mungkin tidak mengerti bahwa sekalipun orang Kristen sudah bertobat dari dosa-dosa lama dan mendapatkan pengampunan Tuhan, mereka belumlah menjadi orang yang sempurna. Mereka sudah diberi Tuhan kemampuan untuk tidak berbuat dosa, tetapi belum tentu mau menggunakan kemampuannya.

Memang ada orang-orang yang mengaku Kristen tetapi mereka tidak mampu untuk tidak berbuat dosa. Mereka hidup dalam dosa. Mengapa demikian? Mereka tidak merasa perlu untuk menguji segala sesuatu dan memilih apa yang baik. Mungkin mereka merasa bahwa sebagai orang yang sudah dipilih Tuhan, pengampunan Tuhan selalu ada tersedia bagi mereka, setiap kali mereka melakukan dosa. Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang yang mengaku Kristen tetapi terbiasa untuk melakukan dosa-dosa tertentu. Mereka hidup dalam dosa dan tidak peka atas cara hidup mereka.

Hari ini firman Tuhan berkata bahwa menjadi orang yang diampuni dan diselamatkan oleh Tuhan bukanlah berarti bahwa kita bisa hidup “semau gue”. Mereka yang memang sudah bertobat tidak akan tinggal dalam kehidupan dan kebiasaan lama. Mereka selalu mau mendengarkan suara Roh Kudus yang membimbing hidup mereka. Mereka rajin mempelajari firman Tuhan dan melaksanakannya. Mereka juga memupuk kesadaran akan hukum, etika, sopan-santun dan kepentingan orang lain. Dengan pertolongan Tuhan, mereka bisa membedakan apa yang baik dan apa yang buruk. Lebih dari itu, merek sadar bahwa Tuhan yang mahasuci tidaklah boleh dipermainkan. Bagaimana dengan anda? Jika anda memang mau mengikut Yesus, itu berarti bahwa anda harus meninggalkan apa yang jelek dan memilih untuk selalu berjalan dalam kebenaran.

“Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” Galatia 1: 10