Kesatuan jiwa dan raga

“Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” 1 Tesalonika 5: 23

Tuhan, kuatkanlah jiwa dan ragaku

Apakah yang bisa membuat orang kuatir dengan adanya pandemi di saat ini? Tentunya semua orang ingin menghindari serangan virus corona terhadap tubuhnya. Sudah banyak korban virus yang jatuh sakit, sebagian cukup parah sehingga harus mendekam di rumah sakit untuk waktu yang lama. Tetapi, korban virus bukan saja menyangkut jasmani, karena banyak orang yang harus mengalami isolasi di rumah atau tempat lain kemudian mengalami gangguan kejiwaan. Dengan demikian, COVID-19 ini bisa menyerang baik jasmani maupun rohani kita.

Mereka yang tidak percaya akan adanya Tuhan, umumnya percaya bahwa manusia hanya berbentuk jasmani atau raga. Memang, jika Tuhan adalah roh, orang yang tidak percaya adanya roh tentu tidak bisa membayangkan adanya Tuhan. Bagi mereka, manusia ini adalah suatu makhluk yang seperti makhluk lainnya di dunia, hanya hidup untuk satu kurun waktu tertentu, dan yang kemudian mati dan hilang lenyap.

Manusia memang terdiri dari dua aspek yaitu rohani dan jasmani atau jiwa dan raga. Karena adanya pembagian atas dua aspek yaitu tubuh dan roh, ini disebut pandangan dikotomi. Tetapi, ada juga orang yang kemudian membagi aspek rohani menjadi dua komponen, yaitu jiwa dan roh. Dengan demikian ada tiga aspek manusia yaitu tubuh, jiwa dan roh. Pandangan sedemikian disebut trikotomi.

Menurut pandangan dikotomi, raga mewakili segala sesuatu yang tampak, sementara jiwa mewakili semua yang tak terlihat. Dalam hal ini, istilah soul (jiwa) dan spirit (roh) adalah dua aspek yang ditilik dari dua sudut pandang yang berbeda. Dalam menilai dikotomi, soal penciptaan merupakan argumen terkuat. Kejadian 2:7 mencatat bahwa manusia menjadi raga yang diberi nafas kehidupan oleh Tuhan.

Menurut pemikiran trikotomi, manusia terdiri dari tiga unsur berbeda, yaitu tubuh, jiwa, dan roh. Jiwa mencakup nyawa dan kemampuan yang dimiliki manusia, seperti pikiran, hati, dan kehendak. Sebaliknya, roh adalah kemampuan rohani untuk berhubungan dengan Tuhan. Pandangan trikotomi bisa menjelaskan mengapa seseorang dapat dikatakan hidup secara jasmaniah namun mati secara rohaniah. Oleh sebab itu, banyak juga penyajian Injil yang dilakukan berdasarkan pandangan trikotomi.

Mengenai 1 Tesalonika 5:23, kita perlu mengamati bahwa Paulus sedang sibuk berdoa. Ia tidak membicarakan aspek apa yang membentuk manusia. Sebaliknya, Paulus memakai kata kerja “terpelihara” dan kata sifat “seluruhnya” yang secara bersamaan menunjuk kepada sesuatu yang tunggal. Dengan demikian, ayat di atas tidak dimaksudkan untuk membagi manusia dalam beberapa aspek. Sebaliknya, ayat itu menunjukkan pentingnya untuk mendapat damai sejahtera dari Tuhan sehingga hidup kita sepenuhnya dipelihara dengan sempurna sampai kedatangan Yesus yang kedua kalinya.

Hari ini, adakah perasaan gundah dalam diri anda dalam menghadapi hari-hari mendatang? Apakah kerisauan hati itu sehubungan dengan ancaman penyakit, keadaan ekonomi atau kebutuhan hidup kita? Apakah anda tidak merasakan kekuatiran bahwa keadaan saat ini bisa juga mempengaruhi keadaan rohani anda di masa depan? Jika anda berusaha keras untuk bisa mempertahankan kesehatan jasmani anda, adakah usaha anda untuk mempertahankan bahkan memperkuat keadaan rohani anda? Firman Tuhan di atas menyatakan pentingnya bagi kita untuk menyadari bahwa kita harus tetap berdoa memohon penyertaan Tuhan bagi hidup kita secara keseluruhan agar kita bisa merasakan damai sejahtera yang penuh dariNya.

Bagaimana masa depanmu?

“Tetapi sesuai dengan janjiNya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.” 2 Petrus 3: 13

Aku tetap berharap pada Tuhan

Setiap orang yang ditanya bencana apa yang sekarang terjadi di dunia tentu akan menjawab “COVID-19”. Sudah memakan korban lebih dari 500 ribu jiwa (128 ribu di antaranya di Amerika Serikat) dalam waktu kurang dari 6 bulan, wabah ini mungkin tidak sedahsyat wabah flu Spanyol yang terjadi pada tahun 1918-1919 yang memakan korban setidaknya 500 juta jiwa di seluruh dunia (675 ribu di antaranya di Amerika Serikat). Walaupun demikian, COVID-19 belum sepenuhnya menjalar ke seluruh penjuru dunia. Pandemi ini jelas belum mencapai puncaknya atau melambat perkembangannya, tetapi justru makin menjadi parah dengan lebih cepat menyebar dari pada bulan-bulan yang lalu. Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika banyak manusia yang mulai bertanya-tanya apakah manusia masih bisa berharap untuk mempunyai masa depan yang baik.

Sebagian manusia memang sangat menguatirkan kemungkinan bahwa keadaan yang buruk saat ini akan menjadi makin buruk dan mempengaruhi keadaan ekonomi, sosial dan politik banyak negara. Dengan demikian, ada kemungkinan bahwa kekacauan akan terjadi di berbagai tempat. Walaupun demikian, ada juga orang yang percaya bahwa krisis seperti ini pernah terjadi sebelumnya dan manusia pasti akan bisa mengatasinya. Menurut mereka, manusia cukup tangguh dalam menghadapi masalah dan akan tetap bisa bertahan dalam hidup.

Bagaimana dengan pendapat anda sendiri? Apakah anda termasuk orang yang merasa pesimis dengan penanganan krisis di tempat anda? Ataukah anda tetap merasa optimis bahwa segala sesuatu akan berakhir dengan baik? Mungkin anda sulit untuk menjawabnya, dan lebih ingin untuk berserah kepada Tuhan. Anda tidak mau memikirkan hal itu karena percaya sepenuhnya bahwa Tuhan yang akan mengambil keputusan. Mungkin anda merasa takut untuk memikirkan apa yang bisa terjadi, dan karena itu ingin melupakannya. Memang lebih mudah bagi kita yang menghadapi masalah untuk mengabaikan segala sesuatu yang bisa membuat kita bingung atau pusing. Ketidaktahuan adalah suatu kedamaian, begitu kata orang. Ignorance is a bliss.

Alkitab tidak pernah menyatakan bahwa ketidaktahuan akan membawa kedamaian. Jika kita tidak tahu apa yang benar dan apa yang tidak benar, itu akan membawa hidup yang kacau. Jika kita tidak tahu apa yang akan terjadi, itu tidak akan memberi perasaan tenang. Sebaliknya, jika kita bisa membedakan apa yang benar dari apa yang tidak benar, kita tentunya akan dapat memilih apa yang benar. Jika kita tahu apa yang akan terjadi, maka kita bisa membuat persiapan yang baik untuk menghadapinya. Masalahnya, bagaimana kita bisa membedakan apa yang benar dari apa yang tidak benar? Dan bagaimana pula kita bisa tahu apa yang akan terjadi?

Alkitab adalah firman Tuhan yang berisi kebenaranNya. Dari firman Tuhan kita bisa belajar untuk mengerti apa yang baik dan apa yang buruk dalam pandangan Tuhan. Dari Alkitab kita belajar bahwa Tuhan mempunyai maksud yang baik untuk umatNya. Tuhan tidak pernah bermaksud buruk kepada mereka yang taat kepadaNya. Dari Alkitab kita juga sadar bahwa apa pun yang terjadi di dunia, pada akhirnya akan membawa kemuliaan bagi Tuhan. Dengan demikian, Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih akan dapat mengatasi segala sesuatu yang terjadi saat ini, sehingga semua orang bisa melihat bahwa Ia adalah Tuhan tidak pernah meninggalkan umatNya.

Ayat di atas menyatakan bahwa sesuai dengan janjiNya, kita saat ini menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran. Ini berarti bahwa sebagai umat Kristus kita percaya bahwa hidup di dunia ini bukanlah satu-satunya hidup yang kita punyai. Sebaliknya, hidup di dunia ini adalah suatu jalan yang harus kita tempuh sambil menunggu saat dimana kita dapat bersatu dengan Dia yang sudah menyelamatkan kita. Hidup di dunia adalah kesempatan bagi kita untuk bisa makin mengenal kebenaran Tuhan dan untuk bisa makin taat kepada firmanNya. Dalam hal ini, keadaan apa pun yang terjadi tidak akan membuat kita goncang. Kita tetap sanggup menghadapi segala tantangan hidup karena kita sudah menerima kemenangan di dalam Dia. Biarlah kita berani menghadapi hari-hari mendatang karena adanya pengharapan di dalam Dia!

Dekatlah dengan gembalamu

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gadaMu dan tongkatMu, itulah yang menghibur aku.” Mazmur 23: 4

Yesus gembala yang baik

Apakah yang bisa membuat anda takut? Banyak orang merasa takut jika dihadapkan pada sebuah ancaman yang besar yang bisa membawa celaka. Tetapi banyak juga yang merasa takut ketika mereka harus menghadapi kejadian atau hal yang tidak dikenalnya. Perasaan kurang yakin akan apa yang akan terjadi memang bisa membuat jantung berdebar. Pada saat ini, kebanyakan orang takut menghadapi ancaman pandemi dan juga karena tidak tahu apa yang akan terjadi dalam bulan-bulan mendatang. Maklum, bukan saja kesehatan kita yang bisa terpengaruh, tetapi juga keuangan dan kebutuhan kita sehari-hari. Barangkali keadaan kita adalah seperti seekor domba yang harus melalui sebuah hutan yang gelap.

Dalam ayat di atas, dapat dirasakan bahwa pemazmur menempatkan dirinya sebagai seekor domba yang merasa aman karena sang gembala yang mempunyai gada dan tongkat yang bisa dipakai untuk mengusir binatang-binatang buas yang mengancamnya.  Memang, sebagai orang percaya, kita adalah domba-domba Kristus yang mengenal Dia dan mengikut Dia. Yesus adalah gembala yang baik, yang ingin untuk membaringkan kita di padang yang berumput hijau dan membimbing kita ke air yang tenang (Mazmur 23: 2). Tetapi, adalah kenyataan hidup bahwa setiap orang bisa mengalami berbagai masalah kehidupan. Kesulitan, kekurangan, penyakit, kecelakaan dan berbagai musibah bisa terjadi pada setiap orang termasuk orang Kristen. Semua itu seperti bayang-bayang kegelapan yang menakutkan.

Pemazmur menggambarkan bagaimana kita berjalan bersama gembala kita, Yesus. Perjalanan hidup memang tidak mudah dan bahkan penuh resiko, karena jika medan berubah menjadi berat dan gelap, hati kita mudah menjadi kecil dan kitapun menjadi takut. Hidup yang penuh ketakutan dan kekuatiran sudah tentu bukanlah hidup yang mudah dijalani. Jika kita bayangkan, domba yang mengalami ketakutan yang luar biasa bisa saja berusaha melarikan diri sekalipun ia tidak tahu kemana ia harus pergi. Ia mungkin saja lari menjauh dan akhirnya justru menjadi mangsa binatang buas.

Saat ini, kesulitan dan bahaya apakah yang sedang anda hadapi? Dalam keadaan bahaya, sebenarnya lebih baik agar setiap domba untuk tetap dekat dengan sang gembala. Demikian juga, dalam keadaan sulit, tidaklah bijaksana bagi kita untuk menjauhkan diri dari doa dan persekutuan dengan Tuhan. Sebaliknya, untuk ketenteraman hidup kita, kita harus selalu ingat bahwa Yesus gembala yang baik selalu menyertai dan menguatkan domba-dombaNya. Begitulah, sebagai domba yang mempunyai keyakinan akan kasih dan kuasa Gembala kita, marilah kita menghadapi masa depan kita dengan keberanian dan rasa damai karena Ia selalu beserta kita.

Kita adalah milik Allah yang berharga

“Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” Lukas 12: 6 – 7

Tuhan selalu menjaga hidupku

Kekuatiran adalah musuh besar manusia yang bisa menghancurkan hidup orang yang terlihat tabah sekalipun. Setiap orang mempunyai rasa kuatir terhadap hal-hal tertentu; dan sekalipun seseorang mempunyai segala sesuatu, kekuatiran tetap ada. Mengapa begitu? Manusia sebenarnya sadar akan keterbatasannya, dan ia tahu bahwa ada hal-hal yang tidak dapat dikontrolnya. Dengan adanya pandemi, banyak orang kuatir akan kemungkinan tertular virus corona. Pada pihak yang lain, banyak juga orang yang kuatir kalau-kalau perekonomian dunia menjadi goncang. Kekuatiran tidak hanya melanda kaum tua; kaum muda mungkin justru lebih kuatir dalam menghadapi masa depan, terutama karena sulitnya mendapat pekerjaan yang layak dalam situasi saat ini.

Kekuatiran sebenarnya tidak harus berupa hal yang jelek. Kekuatiran hanya menjadi hal yang merusak atau destruktif jika itu membuat kita lumpuh tidak berdaya. Jika kekuatiran bisa menginsafkan manusia atas kelemahannya sehingga ia mau berusaha untuk mencari penyelesaian atau pertolongan, kekuatiran mungkin bisa menjadi bagian pertahanan hidup yang baik. Sebagai contoh, mereka yang kuatir tertular virus corona akan lebih berhati-hati dalam hidup bermasyarakat di saat ini. Dalam hal ini, masalah mungkin timbul kalau ketakutan yang besar kemudian muncul sebagai akibatnya. Keterbatasan manusia memang bisa membuat manusia tidak bisa melihat adanya jalan keluar, atau bisa membuat mereka tidak mengerti bahwa ada jalan keluar yang tidak bisa dilihatnya. Inilah yang biasanya mendatangkan ketakutan yang melumpuhkan.

Orang Kristen yang kurang mengenal Tuhan sebagai oknum yang mahakasih tidak akan bisa mengerti bahwa Tuhan tidak membiarkan umatNya untuk berjuang sendirian di dunia ini. Karena itu, dalam menghadapi kesulitan hidup yang besar, ia akan merasa seorang diri dan mudah putus asa karena ia tidak bisa melihat adanya Tuhan yang mau menolong. Dalam hal ini, apa yang paling mudah untuk dilakukan untuk bisa bertahan hidup ialah menerima segala kesulitan hidup sebagai takdir. Sebaliknya, mereka yang kurang mengenal Tuhan sebagai oknum yang mahakuasa, cenderung percaya bahwa Tuhan akan memberikan pertolongan dalam bentuk seperti apa yang diinginkannya. Doa-doa permohonan kemudian disampaikan tanpa menyadari bahwa jalan Tuhan bisa berbeda dengan jalan manusia. Kekeliruan mudah terjadi ketika dalam kekuatiran mereka tergesa-gesa memilih apa yang terlihat indah, sekalipun itu mungkin bukan apa yang disenangi Tuhan.

Ayat diatas mengatakan bahwa Tuhan tahu jumlah rambut kita. Itu menunjukkan bahwa Tuhan yang mahatahu adalah Tuhan yang dekat dengan umatNya, yang peduli akan apapun yang terjadi dalam hidup mereka. Ia yang tahu jumlah rambut kita, juga tahu semua kebutuhan dan masalah kita dan tidak membiarkan kita mengalami kehancuran karenanya. Bagi Tuhan yang mahakasih, umatNya adalah jauh lebih berharga dari apapun juga. Karena itu jugalah, Tuhan sudah mengirimkan AnakNya, Yesus Kristus, untuk menebus dosa kita. Jika kita sadar akan besarnya kasihNya, tidaklah  perlu ada keraguan bahwa Tuhan selalu memelihara umatNya.

Pagi ini mungkin kita percaya bahwa Tuhan benar-benar mengasihi kita. Tetapi keraguan mungkin masih ada, apakah Tuhan akan memberikan apa yang kita minta. Tuhan yang mahakuasa sudah tentu bisa memberi apa saja. Tetapi Tuhan yang mahabijaksana tidaklah selalu memberi apa yang sesuai dengan permohonan kita. Tuhan mempunyai rencana yang khusus bagi setiap umatNya. Ia yang tahu bahwa rambut setiap orang tidaklah sama jumlahnya, Ia jugalah yang memberikan apa yang baik bagi setiap umatNya sesuai dengan pertimbanganNya. Terkadang kita seolah kehilangan kesabaran dalam menunggu saat yang dipilihNya, tetapi selama dalam penantian kita harus tetap teguh dalam iman. Tuhan adalah mahatahu, mahakasih, mahakuasa dan mahabijaksana, karena itu kita tidak perlu takut dalam menghadapi masa depan.

Lima prinsip kesehatan

Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu.” Amsal 3: 1-2

Terima kasih Tuhan atas kesehatan kami

Dengan adanya pandemi COVID-19, tidak dapat disangkal bahwa kesehatan adalah hal yang paling diutamakan oleh kebanyakan manusia di saat ini. Dengan adanya ancaman virus corona, manusia makin sadar bahwa selama hidup di dunia mereka harus berusaha untuk memelihara kesehatan mereka dengan berbagai cara seperti makanan sehat, olahraga, gaya hidup sehat, lingkungan sehat, menghindari stress dan sebagainya. Berbagai brosur, buku, situs internet dan juga hoax bermunculan tiap hari, yang semuanya mengajarkan trik-trik untuk menjaga kesehatan, mengobati penyakit dan hidup sehat. Walaupun demikian, banyak orang yang belum tahu bahwa Alkitab adalah sebuah buku yang juga mengajarkan prinsip-prinsip kesehatan menurut Firman Tuhan.

Yang pertama, Alkitab mengatakan bahwa hidup manusia dan kesehatan adalah pemberian Tuhan. Sesuai dengan kitab Kejadian, kita harus sadar bahwa hidup manusia terjadi semata-mata oleh kasih Tuhan. Tuhan sangat mengasihi dan menghargai manusia dan memberikan apa yang diciptakanNya di alam semesta untuk dikelola dan dinikmati manusia. Karena itu, kita juga harus menghargai hidup dan kesehatan kita karena itu sebenarnya milik Tuhan. Dalam Alkitab kita juga bisa menyadari bahwa mereka yang percaya kepada Tuhan menerima Roh Kudus yaitu Roh Allah. Roh tinggal dalam tubuh kita selama kita masih di dunia. Karena itu, tubuh kita adalah rumah Tuhan yang harus kita pelihara dan hormati. Kesehatan tubuh tidak boleh diabaikan karena menelantarkan tubuh berarti merusak bait Allah.

Kedua, Alkitab juga menulis bahwa tiap orang dikaruniai dengan kemampuan, keadaan dan berkat-berkat yang berbeda, sesuai dengan rancangan dan kehendak Tuhan. Karena itu, semua orang mempunyai wajah, penampilan, dan juga faktor genetik yang berbeda. Faktor genetik dan faktor lingkungan bisa mempengaruhi kesehatan kita sesuai dengan apa yang kita punyai dan dimana kita hidup. Namun, hal itu bukanlah alasan untuk kita menyesali keadaan dan membenci Tuhan karena tiap orang harus menerima keadaan masing-masing sambil bersyukur, mau memelihara dan mengembangkannya untuk kemuliaan Tuhan.

Yang ketiga, apapun yang kita lakukan dalam hidup kita bisa mempengaruhi kesehatan kita. Hidup sehat, diet, olahraga dan berbagai kegiatan lainnya bisa meningkatkan kesehatan kita. Tetapi, jika kita tidak berhati-hati, kita bisa diperhamba oleh semuanya. Hidup kita harus dipakai untuk memuliakan Tuhan dan bukan ilah-ilah lain yang tidak dapat menambah umur kita satu haripun.

Yang keempat, manusia sering dalam kelemahannya, berusaha mengingkari kodrat Ilahi dengan menutupi masalah kesehatan dan proses penuaan yang ada. Berbagai perawatan tubuh, kosmetik maupun medis, sekarang sangat populer, sekadar untuk menipu penglihatan manusia. Selain itu, penampilan pakaian dan gaya hidup mungkin diusahakan sebagian orang untuk mengecoh pengaruh umur. Tetapi Tuhan melihat hati dan bukan tampak luar kita. Selain itu, apa yang kita perbuat tidak akan mengubah rencanaNya.

Dan yang kelima, Alkitab menulis bahwa manusia diciptakan dari debu dan kemudian Allah meniupkan nafas kehidupanNya, yang membuat manusia bisa hidup sebagai peta dan teladanNya. Sayang, karena dosa semua manusia harus kembali menjadi debu pada akhirnya. Walaupun demikian, mereka yang percaya kepada Yesus akan diselamatkan dan roh mereka akan pergi ke surga. Karena itu, walaupun kesehatan jasmani adalah penting dan berguna untuk hidup di dunia, Tuhan lebih menekankan jiwa kita yang harus kita pelihara sesuai dengan firmanNya.

Pagi ini, marilah kita kembali kepada prinsip-prinsip kesehatan menurut Alkitab. Penulis Amsal mengajak kita untuk tidak melupakan ajaran Tuhan, dan mau memelihara perintahNya agar kita bisa memperoleh kesehatan jasmani dan rohani selama hidup di dunia.

“Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.” Amsal 3: 7-8

Berserulah kepada Tuhan

“Bila ia berseru kepadaKu, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya.” Mazmur 91: 15

Tolonglah aku, Tuhan..

Apakah anda menonton berita TV setiap hari? Pernahkah anda merasa gundah setelah menonton? Mungkin itu disebabkan oleh berita-berita menyedihkan atau menakutkan yang dilaporkan. Tidak banyak orang yang menduga bahwa sebuah pandemi akan terjadi pada tahun ini dan membawa banyak korban jiwa. Tetapi mudah untuk dibayangkan apa yang akan terjadi pada bulan-bulan dan tahun-tahun mendatang jika vaksin tidak dapat ditemukan.

Dalam hidup ini, masalah besar memang ada dimana-mana. Semakin hari seakan semakin banyak masalah yang harus dihadapi manusia di dunia ini. Bukan saja karena sulitnya mencari penyelesaian atas masalah yang sudah ada, tetapi juga karena adanya masalah baru yang sering timbul sebelum masalah yang ada bisa diatasi.

Sebagai orang Kristen kita percaya bahwa Tuhan kita maha kuasa dan maha kasih; karena itu kita boleh membawa segala persoalan kita kepadaNya. Walaupun demikian, sebagai manusia kita cenderung mengandalkan akal budi kita yang terbatas, daripada menggunakan iman yang berasal dari Tuhan. Dengan demikian kita seringkali tidak dapat memahami metode kerja atau modus operandi Tuhan dalam proses menolong kita. Dan oleh karena itu jugalah kita sering mengalami kesulitan bukan saja untuk berdoa, tetapi juga untuk meyakini dan merasakan penyertaan Tuhan.

Bagaimana kita bisa yakin bahwa Tuhan mendengar doa kita dan menjawabnya? Ayat diatas memberikan sebuah gambaran singkat bagaimana Tuhan bekerja menolong umatnya yang berada dalam kesulitan. Ada tiga bagian yang perlu kita teliti: (1) Bila kita berseru kepada Tuhan, Ia akan menjawab, (2) Tuhan akan menyertai kita yang dalam kesesakan, dan (3) Tuhan akan meluputkan kita dari bencana dan meninggikan kita. Jika kita mengerti akan hal-hal ini, kita akan mempunyai wawasan yang baru dalam menghadapi masalah kehidupan.

Yang pertama, bila kita berseru kepada Tuhan, Ia akan menjawab. Tuhan tahu jika kita mengalami masalah dan Ia pasti bertindak pada waktu yang sesuai dengan kehendakNya. Tidak ada apapun yang terjadi dalam hidup kita tanpa seijin Tuhan. Tuhan yang maha kasih selalu ingin memberikan yang terbaik untuk umatNya, sekalipun dunia ini selalu penuh dengan semak duri.

Jika kita berdoa, itu bukanlah dengan maksud untuk mengubah kehendak Tuhan, karena kehendak Tuhan harus terjadi. Tetapi, doa kita adalah penyerahan diri kita kepada bimbinganNya, dan menyelaraskan kehendak kita dengan kehendakNya. Jika kita berseru meminta tolong kepada Tuhan, Ia sebenarnya sudah siap menolong kita. Tetapi dengan berseru kepada Tuhan, kita akan mendengar suaraNya dan kita akan mengerti apa maksud Tuhan dalam hidup kita.

“Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.” 1 Yohanes 5: 14

Tuhan juga akan menyertai kita yang dalam kesesakan. Itu adalah yang dijanjikan Tuhan jika kita mau menghampiri Dia dan mengutarakan segala persoalan dan perasaan kita. Tuhan tidak akan meninggalkan kita seorang diri dalam penderitaan kita. Memang dalam kesesakan kita mungkin merasakan dorongan untuk lari menjauhkan diri dari segala sesuatu, karena kita tidak tahu harus berbuat apa. Tetapi, Tuhan jelas mengharapkan kita untuk lari kepadaNya, agar Ia bisa memberi kekuatan dan kesabaran kepada kita.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Bagi umatNya yang mengalami masalah, Tuhan juga berkata bahwa Ia akan meluputkan mereka dari bencana dan memuliakan mereka. Ini adalah sesuatu yang harus selalu kita sadari selama kita hidup di dunia. Bahwa sebagai Bapa yang maha kasih, Tuhan tidak membiarkan kita mengalami masalah yang lebih berat dari kekuatan kita. Lebih dari itu, kita seharusnya tahu bahwa sebagai Bapa yang maha kuasa, Tuhan sanggup melindungi kita dari bencana. Tuhan akan memberikan kita kekuatan untuk menghadapi masalah apapun, sehingga kita pada akhirnya akan memperoleh kemenangan didalam Dia.

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” Roma 5: 3 – 5

Jika anda mengalami masalah besar saat ini, semoga anda mau berseru kepada Tuhan dan memohon pertolonganNya. Ia mau mendengar, Ia akan menjawab, dan Ia akan memberikan kelepasan dan kemuliaan pada waktunya.

Menggunakan kemerdekaan dengan benar

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Galatia 5: 13

Hari ini, negara bagian Victoria di Australia seharusnya bisa mendapat tambahan pelonggaran dari PSBB. Tetapi, karena adanya peningkatan jumlah penduduk yang menerima hasil positif dari tes virus corona pada minggu yang lalu, peraturan social distancing mulai diketatkan kembali. Ada dugaan bahwa peningkatan hasil positif itu disebabkan karena banyaknya orang yang melakukan interaksi sosial tanpa memperhatikan peraturan pemerintah untuk berwaspada. Hal ini tentu saja membuat pemerintah setempat menjadi kalang-kabut karena sebelumnya sudah merencanakan berbagai kegiatan untuk menghidupkan kembali aktivitas perekonomian negara serta kegiatan bermasyarakat.

Memang agaknya setelah mengalami lockdown cukup lama, bisa dimengerti bahwa rakyat ingin untuk memperoleh kemerdekaan mereka kembali. Pernah saya tulis bahwa kemerdekaan atau kebebasan (freedom) adalah sesuatu yang didambakan setiap manusia. Menurut presiden Amerika yang bernama Franklin D. Roosevelt ada empat macam kebebasan yang seharusnya bisa dinikmati oleh orang di seluruh dunia:

  • Kebebasan untuk menyatakan pendapat
  • Kebebasan untuk beragama
  • Kebebasan dari kebutuhan
  • Kebebasan dari ketakutan

Apa yang diusulkan oleh presiden Roosevelt pada tahun 1941 itu adalah baik jika dipandang dari hak azasi manusia, dan karena itu disetujui oleh berbagai negara. Walaupun demikian, di zaman sekarang kebebasan sedemikian sering disalahartikan atau disalahgunakan. Dalam keadaan dunia di saat ini, kita bisa melihat bahwa di banyak negara ada manusia-manusia yang ingin merdeka untuk berbuat apa saja untuk memenuhi keinginan mereka. Sayang sekali bahwa untuk mencapai hal itu, mereka juga ingin merdeka dari rasa takut kepada yang berwenang atau hukum. Lebih-lebih lagi, mereka yang ingin merdeka seringkali tidak peduli akan keadaan dan kebutuhan orang lain. Kemerdekaan manusia seringkali mendorong manusia untuk berbuat dosa dan untuk tidak mengasihi sesamanya.

Bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, kebebasan untuk melakukan segala sesuatu menurut kata hati mereka adalah sesuatu yang dipandang sangat berharga. Mereka yakin bahwa setiap manusia mempunyai hak untuk menentukan masa depannya. Mereka mencemooh orang-orang yang taat kepada firman Tuhan karena bagi mereka orang-orang itu diperbudak oleh Tuhan. Bagi mereka, orang-orang beriman adalah orang-orang bodoh yang tidak menghargai kehendak bebas yang seharusnya dipakai oleh setiap manusia untuk memilih apa saja yang dikehendakinya.

Dunia mungkin memandang orang yang beriman sebagai orang yang malang, yang tidak merdeka dalam hidupnya. Mereka terlihat membosankan karena dalam hidup mereka selalu mempertimbangkan firman Tuhan dan kebutuhan orang lain. Karena itu, jika firman Tuhan melarang, orang yang sedemikian tidak berusaha mencari kesempatan untuk mencari jalan pintas. Apa yang tidak disadari manusia yang ingin bebas dari Tuhan adalah kenyataan bahwa pemerintah adalah wakil Tuhan di dunia untuk melaksanakan kehendak Tuhan dan membawa rakyatnya kepada pengenalan akan Tuhan yang mahakasih.

Pagi ini, ketika kita bangun, kita bisa melihat bahwa matahari menyinarkan terangnya untuk semua orang. Tuhan sudah menyalurkan kasihNya kepada semua orang, dan karena itu jelaslah bahwa kita harus mempergunakan kemerdekaan kita sebagai kesempatan untuk mengasihi sesama kita agar nama Tuhan bisa makin dimuliakan di dunia.

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. ” Roma 13: 1 – 2

Jagalah ketertiban

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Ketertiban hilang karena kepentingan pribadi

Baru saja PSBB di negara bagian Victoria dilonggarkan, hari ini tercatat 25 orang yang secara positif tertular virus corona. Karena itu mulai Senin, PSBB mulai diberlakukan kembali sekalipun tidak seketat bulan lalu. Kemunduran ini memang bukanlah hal yang mengejutkan, tetapi sudah tentu membawa kekuatiran bagi banyak orang. Apalagi, orang mulai membicarakan kemungkinan wabah Covid-19 ini untuk kambuh lagi di Australia, seperti yang sudah terjadi di beberapa negara lain. Dalam hal ini, banyak orang berpendapat bahwa semua itu bisa terjadi jika masyarakat kurang mau menjaga ketertiban yang dibutuhkan untuk menghindari penularan virus dari orang yang satu ke orang yang lain.

Ketertiban adalah hal yang sulit untuk dilaksanakan. Mengapa orang di mana pun sulit untuk hidup tertib? Sebaliknya kekacauan begitu mudahnya untuk muncul di dunia. Manusia seringkali dengan sengaja atau tidak membuat kekacauan. Memang kekacauan adalah berhubungan dengan dosa manusia, dan itu bukan kejutan untuk Tuhan yang mahatahu. Karena itu, Tuhan memang dari awalnya sudah mempersiapkan rencana agungnya untuk menyelamatkan manusia yang dikasihiNya. Tuhan ingin agar semua manusia yang mau  bertobat dari dosanya bisa menerima keselamatan yang kekal.

Selama hidup di dunia, mereka yang mau menjadi umatNya akan mengalami pertumbuhan rohani dan dipersiapkanNya untuk kehidupan kekal di surga. Pertumbuhan rohani yang hanya dimungkinkan oleh bimbingan Roh Kudus, tidak hanya memperbaiki hati dan pikiran manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, tetapi juga mengubah cara hidup sehari-hari dengan hubungannya dengan sesama manusia. Manusia yang sudah diperbarui hidupnya akan lebih mampu untuk hidup dalam ketertiban dan menghindari kekacauan.

Ayat di atas ditulis oleh Paulus sehubungan dengan adanya kekacauan di gereja Korintus yang disebabkan oleh adanya orang Kristen yang menggunakan karunia yang berbeda-beda pada waktu yang bersamaan, yang mana menimbulkan kebingungan dan kekacauan di antara jemaat yang hadir. Paulus kemudian menasihati mereka agar bisa menahan diri dan memakai sopan-santun dan tata-cara yang baik dalam berbakti, agar semua orang yang hadir dapat belajar dan memperoleh kekuatan (1 Korintus 14: 31). Disini kita bisa melihat bahwa apapun yang baik, jika tidak dilaksanakan dengan baik akan menimbulkan kekacauan dan tidak membawa kedamaian.

Adalah kenyataan bahwa di zaman ini, manusia pada umumnya sudah mempunyai pendidikan yang lebih baik dari apa yang dimiliki jemaat Korintus. Walaupun demikian, pendidikan yang baik tidak menjamin kelakuan atau tingkah laku yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, banyak orang yang melakukan berbagai perbuatan tercela dalam masyarakat, yang merugikan sesama,  yang menimbulkan kekacauan, dan yang menghilangkan kedamaian hidup, karena mereka mendahulukan kepentingan diri sendiri di atas segalanya. Selain itu, ada juga orang yang menjalani hidupnya menurut apa yang disenanginya, tanpa menuruti sopan-santun dan hukum yang berlaku. Sekalipun mereka tidak secara langsung menimbulkan kegundahan dalam masyarakat, hidup mereka yang kacau bisa menghilangkan kedamaian hidup orang-orang di sekitarnya. Manusia tanpa bimbingan Roh Kudus memang sulit untuk hidup dalam ketertiban.

Ayat di atas mengajarkan bahwa sebagai orang Kristen kita harus mengerti bagaimana kita seharusnya hidup untuk Tuhan selama di dunia dan bisa membuat sesama kita berbahagia. Melalui hidup yang tertib, sopan dan berdisiplin kita memenuhi panggilan Tuhan untuk menghindari kekacauan dan mencari damai sejahtera.  Biarlah hubungan rohani kita dengan Tuhan bisa  membuat kita lebih mampu dan mau menaati tata-cara, sopan-santun dan disiplin yang baik dalam hidup bermasyarakat untuk kemuliaanNya!

Aku kuat sebab dikuatkan Tuhan

“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.’ Filipi 4: 11-12

Sebuah lagu gereja yang saya senangi adalah “Just a closer walk with Thee” atau dalam bahasa Indonesianya “Lebih dekat padaMu”. Mengapa lagu ini sangat menarik bagi saya? Lagu ini menyatakan bahwa kita lemah tetapi Tuhan kuat, dan melalui penyertaanNya kita bisa menjalani hidup yang benar dan berbahagia.

Ku lemah Yesus kuasa
Hindarkanlah dari dosa
Dan ku sungguh berbahagia
Serta senang trus selamanya
Lebih dekat padamu
Itu permohonanaku
Setiap hari sertamu
Oh Tuhan tolonglah aku

Lagu yang tidak diketahui siapa pengarangnya ini sudah ada sejak abad ke 19. Ada yang menduga bahwa lagu ini berasal dari gereja Afrika-Amerika di bagian selatan Amerika. Lagu ini sebenarnya bernada gembira karena menyatakan bahwa kedekatan kepada Tuhan yang mahakuasa membuat umatNya mempunyai hidup senang untuk selamanya.

Dalam kenyataannya, hidup sebagai orang Kristen tidaklah menjamin bahwa segala sesuatu akan berjalan mulus dan kita tidak akan menemui hal-hal yang membawa kesedihan, kelaparan, atau penderitaan yang lain. Mereka yang menyanyikan lagu di atas seringkali ditantang dengan kenyataan bahwa apa yang mereka nyanyikan belum tentu cocok dengan apa yang mereka hadapi sehari-hari. Dengan demikian apakah syair lagu itu bisa benar-benar kita amini?

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi menulis bahwa ia bersyukur bahwa jemaat Filipi masih ingat kepadanya. Ia senang bahwa pada masa yang lalu jemaat Filipi pernah mengirimkan bantuan kepadanya sekalipun sekarang mereka tidak dapat lagi membantu, mungkin karena jarak yang memisahkan Paulus dan jemaat Filipi. Paulus lebih lanjut menyatakan bahwa ia menuliskan hal itu bukan karena kekurangan, sebab ia telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Paulus bukan meminta agar mereka memberikan bantuan kepadanya, karena ia tahu apa itu kekurangan dan tahu apa itu kelimpahan. Paulus dengan kata lain menyatakan bahwa sebagai pengikut Kristus, ia tahu bagaimana rasanya “jatuh dan bangun” dalam kehidupan.

Lebih lanjut Paulus menulis bahwa dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia baginya. Baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan, Paulus dapat menanggungnya karena Tuhan yang memberi kekuatan kepadanya. Sekalipun kenyataan hidup bisa terasa pahit, namun di dalam Tuhan Paulus menerima kekuatan karena penyertaan Tuhan. Paulus menjadi kuat dan sanggup menghadapi gejolak hidup karena penyertaan Tuhan.

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” Filipi 4: 13

Pagi hari ini, dapatkah kita menyanyikan lagu “Lebih dekat padaMu” dan mengamini syairnya? Dapatkah kita dengan yakin berkata bahwa kita sungguh berbahagia dan senang setiap hari karena Tuhan dekat dengan kita? Paulus sudah mengajarkan bahwa sekalipun hidup tidak selalu berjalan mulus, di dalam Tuhan kita bisa merasa kuat dan merasakan kedamaian karena Ia adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Kita kuat karena dikuatkan oleh Dia yang kuat.

Menantikan pertolongan Tuhan

“Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!” Mikha 7: 7

Dimanakah Engkau, Tuhan?

Baru-baru ini ada seorang warga Australia yang dijatuhi hukuman mati di China. Saya baru mendengar namanya minggu lalu karena adanya berita di media tentang vonis yang dijatuhkan oleh pengadilan. Ternyata orang itu sudah mendekam di penjara selama bertahun-tahun. Tidak terbayangkan betapa kecewanya orang itu karena harapannya untuk dibebaskan tiba-tiba lenyap setelah lama menunggu. Memang sekarang masih ada kesempatan untuk naik banding, tetapi perasaan gundah sudah pasti sangat besar. Dalam hal ini, ada orang bilang bahwa selagi kita masih bisa hidup kita tidak perlu memikirkan hari esok. Tetapi, bagaimana kita bisa menikmati hari ini jika kita tidak mempunyai harapan untuk hari esok? Jika tidak ada orang yang bisa diharapkan untuk bisa menolong?

Dalam hal kecil maupun besar, memang orang bisa hilang harapan ketika menunggu. Jika dalam hal kecil orang mungkin mampu mengatasi kebimbangan itu dengan melupakan hal itu, dalam hal besar seperti adanya pandemi COVID-19 saat ini, orang mau tidak mau selalu memikirkannya. Bagaimana masa depanku? Apa yang akan terjadi pada keluargaku? Perubahan apa yang akan terjadi dalam negaraku? Apakah kekacauan ekonomi akan terjadi di dunia?

Nabi Mikha juga mengalami kegundahan hati yang berat pada saat ia melihat bahwa bangsa Israel semakin menjauhi Tuhan. Ia melihat bahwa tidak ada seorang pun yang bisa diharapkan. Bagaimana ia bisa merasa damai jika masa depan seluruh bangsa terlihat suram?

“Orang saleh sudah hilang dari negeri, dan tiada lagi orang jujur di antara manusia. Mereka semuanya mengincar darah, yang seorang mencoba menangkap yang lain dengan jaring. Tangan mereka sudah cekatan berbuat jahat; pemuka menuntut, hakim dapat disuap; pembesar memberi putusan sekehendaknya, dan hukum, mereka putar balikkan!” Mikha 7: 2 – 3

Keadaan bangsa Israel pada waktu itu memang sangat buruk, sampai- sampai rasa persahabatan, kekeluargaan dan kesatuan dalam negara, menjadi hancur berkeping-keping. Rasa curiga kepada orang-orang yang ada menjadi meningkat, dan banyak orang merasa bahwa orang lain berniat untuk mencelakakan mereka.

“Orang yang terbaik di antara mereka adalah seperti tumbuhan duri, yang paling jujur di antara mereka seperti pagar duri; hari bagi pengintai-pengintaimu, hari penghukumanmu, telah datang, sekarang akan mulai kegemparan di antara mereka! Janganlah percaya kepada teman, janganlah mengandalkan diri kepada kawan! Jagalah pintu mulutmu terhadap perempuan yang berbaring di pangkuanmu! Sebab anak laki-laki menghina ayahnya, anak perempuan bangkit melawan ibunya, menantu perempuan melawan ibu mertuanya; musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.” Mikha 7: 4 – 6

Pagi ini, dimanapun kita berada, ada kejadian-kejadian yang bisa membuat kita gundah, merasa kuatir untuk menghadapi masa depan. Kita mungkin sudah lama mengharapkan datangnya perubahan. Tetapi perubahan yang terjadi seringkali justru membuat keadaan menjadi semakin tidak menentu. Berapa lama lagi kita harus menunggu? Adakah yang baik, yang masih bisa kita harapkan?

Nabi Mikha tidak mempunyai harapan kepada orang-orang di sekitarnya. Ia juga tidak dapat berharap bahwa keadaan akan berubah dengan sendirinya. Tetapi ia tahu bahwa Tuhanlah yang mempunyai rancangan dan Ialah yang mampu untuk melaksanakannya. Karena itu, nabi Mikha tetap percaya bahwa Tuhanlah yang akan menolong bani Israel pada waktunya. Nabi Mikha tetap menunggu-nunggu Tuhan, dan mengharapkan Tuhan untuk menyelamatkan dia; karena ia percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih akan mendengarkan doanya. Itu jugalah yang harus tetap kita lakukan sekarang ini.