Menantikan pertolongan Tuhan

“Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!” Mikha 7: 7

Dimanakah Engkau, Tuhan?

Baru-baru ini ada seorang warga Australia yang dijatuhi hukuman mati di China. Saya baru mendengar namanya minggu lalu karena adanya berita di media tentang vonis yang dijatuhkan oleh pengadilan. Ternyata orang itu sudah mendekam di penjara selama bertahun-tahun. Tidak terbayangkan betapa kecewanya orang itu karena harapannya untuk dibebaskan tiba-tiba lenyap setelah lama menunggu. Memang sekarang masih ada kesempatan untuk naik banding, tetapi perasaan gundah sudah pasti sangat besar. Dalam hal ini, ada orang bilang bahwa selagi kita masih bisa hidup kita tidak perlu memikirkan hari esok. Tetapi, bagaimana kita bisa menikmati hari ini jika kita tidak mempunyai harapan untuk hari esok? Jika tidak ada orang yang bisa diharapkan untuk bisa menolong?

Dalam hal kecil maupun besar, memang orang bisa hilang harapan ketika menunggu. Jika dalam hal kecil orang mungkin mampu mengatasi kebimbangan itu dengan melupakan hal itu, dalam hal besar seperti adanya pandemi COVID-19 saat ini, orang mau tidak mau selalu memikirkannya. Bagaimana masa depanku? Apa yang akan terjadi pada keluargaku? Perubahan apa yang akan terjadi dalam negaraku? Apakah kekacauan ekonomi akan terjadi di dunia?

Nabi Mikha juga mengalami kegundahan hati yang berat pada saat ia melihat bahwa bangsa Israel semakin menjauhi Tuhan. Ia melihat bahwa tidak ada seorang pun yang bisa diharapkan. Bagaimana ia bisa merasa damai jika masa depan seluruh bangsa terlihat suram?

“Orang saleh sudah hilang dari negeri, dan tiada lagi orang jujur di antara manusia. Mereka semuanya mengincar darah, yang seorang mencoba menangkap yang lain dengan jaring. Tangan mereka sudah cekatan berbuat jahat; pemuka menuntut, hakim dapat disuap; pembesar memberi putusan sekehendaknya, dan hukum, mereka putar balikkan!” Mikha 7: 2 – 3

Keadaan bangsa Israel pada waktu itu memang sangat buruk, sampai- sampai rasa persahabatan, kekeluargaan dan kesatuan dalam negara, menjadi hancur berkeping-keping. Rasa curiga kepada orang-orang yang ada menjadi meningkat, dan banyak orang merasa bahwa orang lain berniat untuk mencelakakan mereka.

“Orang yang terbaik di antara mereka adalah seperti tumbuhan duri, yang paling jujur di antara mereka seperti pagar duri; hari bagi pengintai-pengintaimu, hari penghukumanmu, telah datang, sekarang akan mulai kegemparan di antara mereka! Janganlah percaya kepada teman, janganlah mengandalkan diri kepada kawan! Jagalah pintu mulutmu terhadap perempuan yang berbaring di pangkuanmu! Sebab anak laki-laki menghina ayahnya, anak perempuan bangkit melawan ibunya, menantu perempuan melawan ibu mertuanya; musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.” Mikha 7: 4 – 6

Pagi ini, dimanapun kita berada, ada kejadian-kejadian yang bisa membuat kita gundah, merasa kuatir untuk menghadapi masa depan. Kita mungkin sudah lama mengharapkan datangnya perubahan. Tetapi perubahan yang terjadi seringkali justru membuat keadaan menjadi semakin tidak menentu. Berapa lama lagi kita harus menunggu? Adakah yang baik, yang masih bisa kita harapkan?

Nabi Mikha tidak mempunyai harapan kepada orang-orang di sekitarnya. Ia juga tidak dapat berharap bahwa keadaan akan berubah dengan sendirinya. Tetapi ia tahu bahwa Tuhanlah yang mempunyai rancangan dan Ialah yang mampu untuk melaksanakannya. Karena itu, nabi Mikha tetap percaya bahwa Tuhanlah yang akan menolong bani Israel pada waktunya. Nabi Mikha tetap menunggu-nunggu Tuhan, dan mengharapkan Tuhan untuk menyelamatkan dia; karena ia percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih akan mendengarkan doanya. Itu jugalah yang harus tetap kita lakukan sekarang ini.

Kasih itu membenci ketidakadilan

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.” 1 Korintus 13: 4 -6

Keadilan adalah bukti adanya kasih.

Sejak umur berapakah seorang anak bisa memprotes adanya ketidakadilan? Saya rasa sejak ia mulai bisa bicara, seorang anak bisa mengutarakan rasa tidak senangnya atas apa yang dirasakannya sebagai ketidakadilan. Mungkin itu dimulai dengan kata yang singkat seperti “tidak mau” yang kemudian berubah menjadi “tidak adil”. Serupa dengan itu, anak kecil yang berbahasa Inggris menyatakan rasa tidak senangnya dengan menjeritkan kata “no” sambil menggelengkan kepala, yang kemudian berubah menjadi kata “not fair“. Walaupun demikian, seorang anak mungkin hanya merasakan ketidakadilan yang dialaminya, bukan apa yang dirasakan orang lain.

Rasa ketidakadilan adalah fitur universal manusia, meskipun keadaan yang dianggap tidak adil dapat bervariasi dari satu budaya ke budaya lainnya. Dengan demikian, untuk bisa merasakan ketidakadilan, seorang anak harus belajar tentang apa yang adil dan apa yang tidak adil. Apa yang terjadi dalam alam semesta kadang-kadang dapat membangkitkan pengertian tentang ketidakadilan, tetapi ketidakadilan biasanya dirasakan dalam kaitannya dengan tindakan manusia seperti penyalahgunaan, pelecehan, penelantaran, atau penyimpangan yang tidak sesuai dengan sistem hukum atau sosial dari masyarakat setempat. Rasa ketidakadilan bisa menjadi kondisi motivasi yang kuat, menyebabkan orang untuk mengambil tindakan, tidak hanya untuk membela diri mereka sendiri tetapi juga orang lain yang mereka anggap diperlakukan tidak adil.

Jika ketidakadilan bisa berubah-ubah dari lokasi ke lokasi yang lain menurut standar hukum dan sosial yang berlaku, orang Kristen seringkali mengalami dilema karena sekalipun pikiran bisa menerima apa yang dialami sebagai “keadilan” di lingkungannya, hati seringkali berbisik bahwa semua itu tidaklah adil. Roh Kudus agaknya bekerja dalam diri umat Kristen dan mengetuk pintu hatinya, sehingga ia merasa bahwa ada sesuatu yang kurang adil. Sayang sekali bahwa suara Roh Kudus dalam hati kita yang ingin menyatakan kebenaran Tuhan seringkali tertutup oleh jawaban pikiran kita yang mengatakan bahwa kita harus bisa menerima keadaan yang ada karena itu sudah seharusnya, atau karena tidak ada jalan lain yang bisa kita pilih. Dengan demikian, perlahan-lahan orang Kristen menjadi orang yang hanya menerima keadaan di sekitarnya sebagai ‘takdir’ atau “kehendak Tuhan”.

Ayat di atas menyatakan bahwa orang yang mempunyai kasih yang datang dari Tuhan adalah orang yang tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Dengan demikian, sebagai orang Kristen kita tidak cukup untuk bersifat pasif dalam menghadapi ketidakadilan, tetapi sebaliknya harus mau berjuang untuk menegakkan kebenaran. Banyak orang Kristen yang merasa bahwa mereka tidak mempunyai kesempatan untuk bekerja menegakkan kebenaran hukum dan sosial. Terutama di negara dimana penguasa setempat tidak mendukung kebebasan rakyat untuk menyatakan pendapatnya. Dalam keadaan sedemikian, orang Kristen menjadi kurang mau membuka suara dan lambat laun kehilangan kepekaan akan apa yang adil dan apa yang tidak adil menurut firman Tuhan. Mereka dengan demikian tidak dapat menyatakan kasih dengan sepenuhnya kepada orang lain, dan karena itu lambat laun mereka menjadi kebal atas ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat.

Pagi hari ini firman Tuhan berkata bahwa kasih dan keadilan tidaklah dapat dipisahkan. Dimana pun kita berada kita tidak boleh berhenti memikirkan apa yang baik dan apa yang tidak baik menurut firman Tuhan. Kita juga harus bisa dan mau mendiskusikan masalah ketidakadilan yang terjadi di lingkungan kita, baik yang terjadi di rumah, di kantor, di sekolah , di gereja dan juga dalam pemerintahan dan bahkan seisi dunia. Selain itu, kita harus rajin mempelajari firman Tuhan dan mau mendengarkan suara Roh Kudus untuk menegakkan kebenaran Tuhan di setiap saat.

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Yesus tentu mengerti penderitaan kita

“Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.” Ibrani 2:18

Penderitaan Kristus membuktikan kasihNya

Alkisah ada seorang petani muda dan baik hati yang bernama Ma Liang. Dia suka menggambar dan memiliki cita-cita untuk menjadi seorang pelukis. Dia bekerja sangat keras untuk mencapai cita-cita ini dan meskipun dia tidak memiliki sebuah kuas untuk melukis, dia menggambar dengan alat seadanya di tempat-tempat yang dikunjunginya. Pada suatu malam, ketika Ma Liang bersiap-siap untuk tidur, seorang tua muncul dan memberinya sebuah kuas ajaib. Ma Liang kemudian menggunakan kuas itu untuk mengecat ayam jantan. Ketika ia melukis bulu terakhir, lukisan ayam jantan berubah menjadi ayam hidup yang kemudian terbang.

Menyadari kekuatan kuasnya, Ma Liang bertekad untuk menggunakannya untuk membantu orang lain. Tetapi, sekalipun Ma Liang ingin menolong orang-orang yang menderita, ia sendiri tidak dapat sepenuhnya merasakan penderitaan orang lain atau mengerti akan kebutuhan mereka. Karena itu, suatu hari Ma Liang sengaja melukis dirinya sendiri sebagai orang pengemis tuna wisma. Walaupun Ma Liang tidak kaya, ia belum pernah kelaparan atau tidur dengan kedinginan di alam terbuka. Ternyata penderitaan yang dirasakannya sebagai pengemis tuna wisma adalah jauh lebih berat dari apa yang pernah dibayangkannya. Sejak hari itu, Ma Liang bisa menggunakan kuas ajaibnya untuk menolong orang yang mempunyai berbagai masalah.

Cerita di atas adalah sebuah adaptasi dari cerita rakyat terkenal dari China. Tentu saja itu hanya dongeng anak kecil. Tetapi maknanya cukup besar, yaitu bahwa kita hanya bisa menolong orang lain jika kita benar-benar tahu, dan bisa merasakan masalah yang dihadapi mereka. Terlalu banyak orang yang mengajarkan cara untuk menghadapi masalah kehidupan, sekalipun mereka sendiri belum pernah mengalami penderitaan yang serupa. Berbagai motivator seringkali mengajarkan cara untuk bisa bertahan dalam menghadapi gelombang kehidupan, sekalipun mereka hanya bisa menikmati penghasilan orang lain yang menghadapi masalah. Bahkan dalam situasi pandemi ini banyak orang yang menawarkan obat untuk menangkal virus corona, sekalipun mereka belum pernah memakainya untuk kesembuhan diri sendiri.

Bagaimana seseorang bisa mengerti perasaan orang yang menderita jika tidak pernah mengalaminya sendiri? Bagi mereka yang menderita sudah tentu sulit untuk bisa percaya kepada mereka yang hanya bisa memakai kata-kata untuk menghibur. Seperti itu jugalah, kita umat Kristen akan sulit untuk bisa yakin bahwa Tuhan mengerti segala penderitaan dan masalah yang kita hadapi, jika tidak karena Yesus Kristus yang sudah turun ke dunia sebagai manusia. Yesus adalah Anak Allah yang sudah meninggalkan kemuliaan surgawi dan turun kedunia (Filipi 2: 5-8). Yesus yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Sebaliknya, Ia telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Pagi ini, adakah keraguan anda bahwa Tuhan sepenuhnya mengerti akan perasaan anda? Bimbangkah anda ditengah kesulitan hidup yang ada karena tidak ada seorang pun yang memahami penderitaan anda? Mungkinkah anda merasa bahwa Tuhan dengan kemuliaanNya di surga sudah melupakan anda yang berdoa siang-malam untuk memohon pertolonganNya? Ayat diatas menyatakan bahwa Yesus sendiri telah menderita di dunia, dengan demikian Ia pasti mau dan dapat menolong mereka yang mengalami penderitaan saat ini. Tetaplah percaya akan kasihNya!

Tuhan selalu mengawasi kita

“TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh.” Mazmur 139: 1 – 2

Tuhan mengawasi setiap langkahku

Hari ini dari laporan TV ABC saya mendapat kabar bahwa beberapa restoran di Brisbane meminta pelanggan mereka untuk memberikan rincian kontak mereka untuk tujuan pelacakan COVID-19. Banyak orang yang menolak untuk memberikannya karena kekuatiran bahwa informasi itu akan jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung-jawab. Memang di Australia dan juga di negara barat lainnya, orang sangat menghargai kerahasiaan pribadi atau privacy. Orang pada umumnya tidak senang jika ada orang lain yang ingin tahu apa yang dianggap rahasia pribadi.

Seorang pria ditanya oleh pewawancara ABC apakah dia kuatir dengan adanya permintaan restoran itu. Dia tersenyum dan berkata, “Tidak, saya tidak kuatir sama sekali. Saya seorang Kristen, dan saya sudah biasa diawasi setiap saat ”. Saya agak kaget dengan jawaban pria ini karena jarang orang di Australia yang mengaku di depan umum bahwa ia adalah orang Kristen, apalagi mengaku bahwa ia diawasi setiap saat. Jawaban pria ini mungkin tidak dapat ditangkap oleh masyarakat umum. Diawasi siapa? Di Australia orang Kristen beruntung karena bebas untuk melakukan ibadahnya, tidak ada petugas pemerintah atau polisi yang mengawasi mereka. Banyak orang mungkin tidak tahu bahwa pria itu menyatakan bahwa ia diawasi Tuhan setiap saat! Tetapi pada pihak yang lain, mungkin juga tidak semua orang Kristen sadar atau mau memikirkan bahwa Tuhan mengawasi tindak tanduknya setiap saat.

Ayat di atas jelas menunjukkan bahwa Tuhan menyelidiki dan mengenal pemazmur. Tuhan tahu kalau ia duduk atau berdiri, dan Tuhan mengerti pikirannya dari jauh. Mazmur 139 memang sepenuhnya didedikasikan kepada Tuhan yang mahatahu. Bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, kenyataan ini mungkin dianggap keterlaluan. Mereka tidak ingin Tuhan mengawasi mereka. Seperti Adam dan Hawa, manusia cenderung ingin melakukan apa yang disenanginya tanpa sepengetahuan atau seizin Tuhan. Dan jika mereka sudah berbuat dosa, mereka akan berusaha menyembunyikan diri dari mata Tuhan. Ini tentunya sesuatu usaha yang tidak mungkin berhasil.

Amsal 5: 21 – 23 berbunyi:

“Karena segala jalan orang terbuka di depan mata TUHAN, dan segala langkah orang diawasiNya. Orang fasik tertangkap dalam kejahatannya, dan terjerat dalam tali dosanya sendiri. Ia mati, karena tidak menerima didikan dan karena kebodohannya yang besar ia tersesat.”

Dari ayat ayat di atas jelas terlihat bahwa segala tingkah laku dan perbuatan manusia diawasi Tuhan. Baik orang Kristen maupun orang yang tidak mengenal Tuhan, semuanya tidak bisa luput dari pengawasanNya. Ia tahu jika ada orang yang ingin berjalan sendiri untuk mengikuti keinginan hatinya. Ia tahu bahwa orang-orang sedemikian akan tertangkap dalam kejahatannya dan terjerat dalam dosa. Orang yang sedemikian akan menerima hasil perbuatannya sendiri yang harus dipertanggung-jawabkan di hadapan Tuhan. Mereka tidak dapat mempersalahkan Tuhan yang membiarkan mereka untuk berbuat dosa. Mereka tidak dapat mengatakan bahwa Tuhan sudah mengawasi mereka dan menetapkan mereka untuk jatuh ke dalam dosa. Sebaliknya, mereka semestinya sadar bahwa Tuhan mengawasi segala perbuatan mereka dan karena itu seharusnya mereka tidak melakukan apa yang tidak berkenan kepada Tuhan.

Bagaimana dengan orang Kristen? Adakah gunanya bagi mereka jika Tuhan mengawasi segala segi kehidupan mereka? Tentu saja! Tuhan yang mahakuasa mengasihi orang-orang yang taat kepadaNya dan mau mengarahkan mereka ke jalan yang benar dan membimbing mereka sehingga makin hari mereka makin sempurna di dalam Dia. Sekalipun keadaan dunia berubah menjadi kacau dan masalah datang bertubi-tubi, Tuhan mengawasi dan menjaga hidup mereka senantiasa.

Pada pagi ini, adakah kerisauan dalam hati anda? Tidak adakah orang yang mengerti perasaan dan keadaan anda? Tidak adakah orang yang bisa menolong anda? Tidak adakah teman yang bisa dipercaya? Mungkinkah anda berusaha menyembunyikan duka-lara dari pandangan orang lain? Biarlah kita sadar bahwa kita tidak dapat bersembunyi dari pandangan mata Tuhan. Tuhan melihat setiap orang dan bagi mereka yang percaya kepada Dia, Tuhan mengawasi dengan mataNya yang penuh kasih untuk melindungi dan menguatkan mereka. Mata Tuhan juga mengawasi umatNya yang tersesat; sebagai gembala yang baik Ia memanggil mereka untuk kembali ke jalan yang benar.

“TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.” Mazmur 121: 8

Tahukah anda siapa diri anda?

“TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.” Mazmur 139: 1 -4

Pernahkah anda menonton film Papillon? Fim Papillon adalah film produksi 1973 yang menceritakan seorang pria bernama Henri Charriere yang dibuang ke tempat pengasingan karena dituduh melakukan berbagai kejahatan. Henri mempunyai semangat yang tak pernah padam untuk kabur, untuk melarikan diri, untuk bebas. Jiwanya lepas, tak sudi dikungkung dan selalu mencari jalan untuk keluar dari penjara . Mungkin karena itu Henri dijuluki Papillon, Sang Kupu-kupu.

Meskipun dikurung dalam penjara yang bertembok tinggi dan tebal, suatu saat Papillon berhasil lolos. Tetapi, tak lama kemudian ia tertangkap dan kemudian dimasukkan ke ruang pengasingan yang kotor dan kecil. Papillon harus hidup tanpa sinar matahari dengan kondisi gizi yang sangat buruk. Dia tidak boleh bertemu manusia lain, selama 1 tahun. Keadaan ini hampir membuatnya gila dan karena itu ketika ia sempat mengeluarkan kepalanya dari lubang pintu makanan, ia bertanya kepada narapidana disebelah kamar tahanannya: “Bagaimana rupaku?” Papillon yang tinggal didalam kegelapan dan tidak pernah bercermin, tidak lagi tahu bagaimana rupanya.

Seperti Papillon, mungkin kita saat ini merasa bahwa kita tidak tahu lagi siapakah diri kita yang sebenarnya. Keadaan dunia yang kacau dan berbagai tantangan hidup seringkali memaksa kita untuk tidak memikirkan hal-hal lain di luar usaha untuk bisa tetap hidup, tetap survive. Kadang-kadang hidup ini terasa begitu berat dan matahari serasa tidak bersinar, sehingga kita merasa seakan kita sendirian tanpa teman. Siapakah aku dan mengapa aku harus mengalami semua ini? Bagaimana kata orang lain tentang diriku? Apakah mereka tetap bisa menerima aku sebagai sesama manusia yang membutuhkan teman? Mengapa tidak ada seorang pun yang peduli akan kesulitanku?

Di tengah keadaan yang harus kita hadapi, kita merasa terkubur dalam berbagai beban berat, dan perlahan-lahan mulai meragukan siapakah diri kita. Jika dalam keadaan senang orang tidak pernah memikirkan mengapa ia harus menerima segala hal yang baik dan indah, dalam keadaan susah orang mulai memikirkan siapakah dirinya yang harus mengalami semua kesulitan hidup. Dalam kesunyian kita mungkin bertanya-tanya apakah ada orang yang masih menganggap kita sebagai sesama manusia.

Pemazmur dalam ayat di atas sering mengalami hal yang yang menekan jiwanya. Seringkali ia merasa bahwa tidak ada orang yang bisa menolong dia, dan bahkan Tuhan seringkali terasa jauh. Tetapi dalam ayat di atas, ia menyadari bahwa Tuhan sebenarnya tahu apa saja yang ada dalam hidupnya. Tuhan ternyata menyelidiki dan mengenalnya dan bahkan tahu kalau ia duduk atau berdiri. Tuhan mengerti jalan pikirannya sekalipun dari jauh. Tuhan melihatnya kalau ia berjalan dan berbaring, dan Ia mengerti segala jalan yang diambilnya. Bahkan sebelum lidahnya mengeluarkan perkataan, Tuhan sudah tahu apa yang akan diucapkannya.

Jika Tuhan adalah mahakuasa dan mahatahu, dan Ia mengikuti apa saja yang terjadi dalam hidup kita, mengapa kita merasa bahwa kita hanya seorang diri dalam hidup ini? Mengapa kita tidak menyadari bahwa Tuhan yang mahakasih senantiasa menyertai kita? Mungkin kita tidak lagi tahu siapakah diri kita. Mungkin kita tidak lagi tahu bagaimana penampilan kita dalam pandangan Tuhan. Tuhan yang sudah mengangkat kita sebagai anak-anakNya tidak pernah melupakan kita atau meninggalkan kita. Sekalipun kita berada dalam kegelapan dan mulai meragukan harga hidup kita, bagi Tuhan kita adalah seperti mutiara-mutiara berharga. Jika kita sendiri tidak yakin apakah hidup kita ada harganya di hadapan manusia, ayat di atas menunjukan bahwa Tuhan selalu mengikuti jalan hidup kita dengan penuh rasa kasih. Dengan demikian, mengapa pula kita harus ragu tentang diri kita? Kita adalah orang-orang pilihan Tuhan yang tidak pernah akan ditinggalkanNya!

Kuatir itu tidak ada gunanya

“Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya?” Lukas 12: 25

Hanya Tuhanlah yang bisa menolongku

Masih ingatkah anda akan lagu anak-anak zaman dulu yang berjudul “Sayonara“? Walaupun ada lagu pop Jepang yang judulnya sama, lagu ini bukan dari Jepang sekalipun memang sama-sama berarti “selamat berpisah”. Lagu ini mungkin sudah jarang dinyanyikan oleh anak-anak sekarang, tetapi justru lebih sering dinyanyikan orang dewasa sewaktu akan mengakhiri sebuah pertemuan besar. Lagu yang bernada gembira ini agaknya dinyanyikan untuk menghilangkan rasa sedih karena datangnya saat untuk berpisah.

Sayonara sayonara
sampai berjumpa lagi
Sayonara sayonara
sampai berjumpa lagi
buat apa susah
buat apa susah
susah itu tak ada gunanya
buat apa susah
buat apa susah
susah itu tak ada gunanya

Saya sendiri terakhir kalinya menyanyikan lagu ini di dalam sebuah bis bersama-sama teman SMA saya ketika kami meninggalkan kota Yogyakarta untuk kembali ke Surabaya setelah seminggu bertamasya di akhir SMA. Dengan perjalan pulang itu, pengalaman manis yang kami alami dengan mengunjungi candi Borobudur dan tempat-tempat turis lainnya harus diakhiri. Walaupun demikian, di sepanjang jalan kami tidak henti-hentinya bercanda sambil menyanyikan lagu Sayonara sekedar untuk mengisi waktu sambil menghibur diri dari rasa sedih. Bagi sebagian teman memang rasa sedih ada karena akan berpisah, tetapi tentu ada juga yang sedih karena liburan yang sudah habis!

Rasa sedih adalah reaksi normal manusia yang menghadapi kesusahan. Rasa sedih bisa juga timbul bersama dengan rasa kuatir jika orang merasa kehilangan sesuatu dan kemudian tidak yakin apakah ia sanggup menghadapi hari depan. Jika rasa sedih mungkin bisa diakhiri karena manusia dikaruniai oleh kemampuan untuk melupakan apa yang sudah lewat, rasa kuatir seringkali berkelanjutan karena adanya masa depan yang tidak dapat dipastikan. Keduanya, rasa sedih dan rasa kuatir, bisa berwujud perasaan hati yang sangat kuat dan yang bisa menghancurkan hidup seseorang. Hal ini tidaklah mengherankan karena dengan bersedih dan berkuatir sebenarnya tidak ada yang baik yang bisa dihasilkan. Keduanya adalah unsur negatif dalam hidup yang tidak berguna.

Ayat di atas adalah ucapan Tuhan Yesus yang sangat terkenal. Yesus berkata bahwa kekuatiran tidak akan bisa mendatangkan apa yang baik bagaimana pun kecilnya. Kekuatiran akan masa depan, karena keadaan sosial, ekonomi, kesehatan dan keamanan tidak akan memperbaiki situasi atau pun kondisi kita. Sebaliknya, di tengah kekacauan dunia saat ini, baik jasmani maupun rohani kita bisa menjadi lemah jika kita selalu kuatir. Yesus mengatakan bahwa kita adalah manusia yang kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa dengan kemampuan diri sendiri (Lukas 12: 26). Dengan demikian, jika kita kuatir menghadapi masalah yang besar, apakah yang bisa kita harapkan? Apakah gunanya kekuatiran jika kita memang adalah manusia yang lemah?

Hanya kepada Tuhan kita bisa berharap ditengah keadaan yang sangat menekan saat ini. Hanya Tuhan yang mempunyai kuasa yang dapat menyelesaikan segala perkara yang merintangi rencanaNya. Karena itu kepada Dia kita harus berharap dan berdoa agar Ia membimbing kita untuk bisa mengatasi segala masalah kita. Kita harus dengan yakin bahwa dengan bimbinganNya segala sesuatu akan berakhir dengan kebaikan sesuai dengan rencanaNya.

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7

Adakah rasa peduli anda?

“Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah? Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita?” 2 Korintus. 11: 29

Mencari sesuap nasi

Setelah lama saya tinggal di luar negeri, pengetahuan dan pengertian saya akan apa yang terjadi di Indonesia menjadi sangat berkurang. Untunglah dengan adanya internet dan terutama dengan banyaknya media sosial, saya bisa kembali mengikuti perkembangan yang terjadi di sana. Memang, sebagai pengamat sosial, setidaknya dua jam sehari saya habiskan untuk membaca atau mendengarkan berita di media tentang segala kejadian di dunia.

Tidak semua apa yang bisa saya ikuti di media adalah hal yang enak untuk diketahui. Sebaliknya, berita yang ada di media zaman ini, seringkali mengandung hal-hal yang bisa membuat orang merasa marah, muak, sedih ataupun takut. Karena itu, ada orang yang selalu berusaha menghindari media, kecuali jika ada hal yang dirasa sangat penting. Malahan di Australia ada orang yang sengaja tidak mempunyai TV atau radio di rumah. Memang, hidup kita mungkin bisa lebih tenteram jika kita tidak mengetahui apa yang terjadi di luar rumah. Jika kita tidak ikut-ikutan memikirkan persoalan orang lain, mungkin kita lebih punya waktu untuk memikirkan urusan diri sendiri. Tetapi, apakah ini sikap yang benar untuk orang Kristen?

Ada yang mengatakan bahwa jika kehidupan masyarakat berjalan lancar, semua orang akan terlihat seperti orang yang baik. Tetapi, jika ada kegoncangan dalam masyarakat, banyak manusia yang akan terbuka kedoknya. Dalam keadaan tertekan, sifat manusia yang asli akan terlihat. Dalam masyarakat yang mengalami goncangan, setiap orang Kristen akan mengalami ujian apakah ia tetap dapat bertingkah laku sebagai manusia yang mengenal Tuhan dan mengasihi sesamanya. Dalam suatu keadaan yang berbahaya atau menekan seperti saat ini, setiap orang menunjukan isi hatinya: apakah ia memang mempunyai rasa peduli akan orang lain, ataukah ia hanya memikirkan kebutuhan sendiri.

Ayat di atas menunjukkan sikap Paulus terhadap jemaat di Korintus yang diasuhnya. Jemaat di Korintus adalah orang-orang yang dulunya sangat terpengaruh oleh hal-hal yang buruk, terutama dalam hal penyembahan berhala dan tindakan-tindakan amoral. Paulus sudah bekerja keras untuk membimbing mereka, dan dalam 2 Korintus 11: 27-28 Paulus menyatakan bahwa ia sudah banyak berjerih lelah dan bekerja berat; dan ia sering tidak tidur, lapar dan haus. Ia sering berpuasa dan kedinginan dalam menjalankan tugasnya yaitu untuk memelihara semua jemaat.

Mengapa Paulus begitu peduli akan jemaat di Korintus? Mengapa ia ikut merasa lemah jika ada orang yang merasa lemah, dan mengapa hatinya hancur oleh dukacita jika ada orang yang tertimpa masalah? Paulus tentunya sadar bahwa selaku umat Tuhan ia juga terpanggil untuk mempunyai rasa peduli akan orang lain, terutama jika mereka mengalami masalah. Paulus tahu bahwa Tuhan mengasihi seisi dunia sehingga Ia mengurbankan AnakNya yang tunggal untuk menebus mereka yang percaya. Paulus sadar bahwa untuk bisa mengasihi Tuhan, ia harus bisa mengasihi sesamanya.

Bagi kita hari-hari mendatang ini mungkin akan menjadi hari-hari yang penuh tantangan. Besar kemungkinan bahwa dengan adanya pandemi, banyak orang yang akan mengalami penderitaan jasmani dan rohani. Banyak negara akan mengalami berbagai persoalan ekonomi yang membuat rakyatnya mengalami masalah hidup yang besar. Dalam keadaan ini, sebagai umat Kristen kita dipanggil untuk mau mendengar keluh-kesah dan mendoakan orang lain, bukan saja mereka yang ada dalam kalangan sendiri tetapi juga orang yang hidup di tempat lain dan yang mempunyai pandangan hidup dan kepercayaan yang berbeda. Adanya masalah besar yang kita hadapi saat ini memungkinkan dunia untuk bisa melihat bahwa kita peduli akan penderitaan sesama manusia, seperti Tuhan yang selalu memelihara seisi alam semesta. Biarlah nama Tuhan dipermuliakan melalui hidup dan tingkah laku kita!

Hanya Yesus yang bisa memberi rasa damai

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27

Kemarin media memberitakan bahwa Organisasi Kesehatan Sedunia memperingatkan semua negara untuk lebih berhati-hati karena kasus positif coronavirus di dunia yang semakin meningkat. Dalam keadaan ini, banyak negara di dunia justru mencoba untuk mengurangi pembatasan sosial yang ada karena effeknya di bidang sosial dan ekonomi yang dirasakan rakyat sebagai penderitaan.

Memang bagi rakyat jelata, suasana saat ini sangat menggelisahkan. Pada satu pihak mereka tidak ingin untuk terkena penularan virus corona, tetapi mereka juga tidak mau untuk kehilangan mata pencaharian. Dalam hal ini ada orang yang berpendapat bahwa lebih baik mati karena virus corona daripada karena mati kelaparan. Karena itu banyak negara yang terpaksa melonggarkan pembatasan sosial untuk memperbaiki keadaan ekonomi.

Memang dalam hidup ini banyak hal yang tidak dapat dengan mudah diselesaikan. Kalau tidak karena solusi yang belum ada, itu mungkin karena adanya solusi yang belum tentu membawa kebaikan untuk semua orang. Dengan demikian, dalam hidup ini seringkali kita merasa bahwa di mana pun kita tinggal, tidak ada seorang pun yang bisa memberi kita rasa damai sejahtera. Di mana pun kita berada, selalu ada kekuatiran bahwa hidup kita mungkin akan menjadi kacau seiring dengan adanya berbagai masalah di sekitar kita.

Ayat di atas adalah berisi ucapan Yesus yang menjanjikan damai sejahtera kepada murid-muridNya. Bagaimana Yesus bisa berbeda dengan orang-orang yang menjanjikan hal yang serupa di dunia? Bukankah tahun demi tahun berlalu, tetapi harapan kita untuk masa depan yang lebih baik tidak kunjung datang? Bukankah harapan untuk melalui tahun ini dengan kebahagiaan dan damai sejahtera justru sudah kandas di awal tahun?

Perbedaan yang sangat besar bisa terlihat jika kita melihat dengan iman apa yang dijanjikan Yesus. Apa yang dijanjikan dunia yang fana sudah tentu hanya bersifat sementara. Tetapi apa yang dijanjikan Yesus Kristus adalah sesuatu yang kekal karena Ia adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Hanya Tuhan yang bisa memberi kita rasa damai karena Ialah yang bisa menyertai kita dimana saja kita berada, sekarang dan selamanya. Biarlah kita mau berdoa agar Ia menambahkan iman kita!

Rencana Tuhan harus terjadi

“Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.” Pengkhotbah 7: 14

Tuhan, Engkau sungguh besar!

Ada orang yang mengatakan bahwa hidup manusia itu seperti koin mata uang. Kita dihadapkan kepada dua kemungkinan: malang di satu sisi dan mujur di sisi yang lain. Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Itu terserah pada Tuhan. Hari baik adalah hari dimana kita bisa mencapai hasil yang baik, hari buruk adalah hari dimana apa yang kita kerjakan tidak membawa hasil yang diharapkan. Pendapat sedemikian memang terdengar seperti seratus persen benar, tetapi ada orang yang menganggapnya serupa dengan fatalisme atau takdir.

Adalah kenyataan bahwa setiap pagi orang bangun dari tidurnya dan mengharapkan bahwa hari itu adalah hari yang baik, terutama mereka yang mempunyai usaha wiraswasta seperti penyediaan jasa atau membuka toko. Memang datangnya pelanggan atau pembeli tidak bisa diduga, dan bisnis bisa sepi atau ramai tergantung pada berbagai faktor. Tetapi tentunya sang pemilik toko akan berusaha keras untuk membuat tokonya laris.

Bagaimana pula dengan orang yang bekerja di kantor atau di rumah? Mereka yang bekerja untuk sebuah perusahaan mungkin pada hari yang baik mendapat pujian dari atasan, tetapi pada hari yang buruk mungkin membuat kesalahan yang tidak semestinya. Tetapi tentunya semua pekerja yang baik selalu berusaha bekerja keras. Begitu juga mereka yang bekerja di rumah terkadang mendapat pujian dan ucapan terima kasih dari anggota keluarga, tetapi bisa juga menerima omelan sekalipun sudah bekerja keras seharian. Walaupun demikian, mereka yang mencintai keluarganya tentu selalu ingin bekerja keras untuk membahagiakan seisi rumah.

Pengkhotbah dalam ayat diatas menulis tentang dinamika kehidupan yang menyangkut semua orang di dunia, yang bekerja maupun yang tidak bekerja, tua atau muda, pria maupun wanita. Bahwa semua orang bisa mengalami saat-saat yang membawa suka maupun yang membuat duka, dan itu termasuk apa yang disebut sebagai kejutan karena terjadi diluar dugaan. Itu seperti yang kita alami pada awal tahun ini ketika pandemi datang secara tidak terduga di berbagai negara.

Jika manusia hanya tergantung pada “takdir”, tentunya tidak ada gunanya bagi seseorang untuk berusaha bekerja keras, hidup sehat dan berbuat baik. Tetapi Tuhan menghendaki setiap manusia untuk bertanggung jawab atas hidup mereka dan apa yang dilakukan ataupun yang tidak dilakukannya. Pada pihak yang lain, Tuhan yang mahakuasa tidak akan dipengaruhi oleh apa yang dikerjakan manusia. Ia bisa memakai keberhasilan dan kegagalan manusia untuk menggenapi rencanaNya.

Jika Tuhan bukanlah Tuhan yang mahakuasa, memang manusia bisa menentukan atau menerka apa yang harus terjadi hari ini. Manusia juga akan bisa merencanakan apa saja yang dikehendakinya. Tetapi, karena Tuhan adalah mahakuasa, apa yang akan terjadi di masa depan tidak dapat ditentukan manusia. Pertanyaan yang sederhana pun, seperti apakah kita bisa bangun dari tidur esok pagi dalam keadaan sehat, tidak bisa kita jawab dengan kepastian. Masa depan manusia sepenuhnya ada di tangan Tuhan. Tuhan mempunyai rencana tersendiri untuk setiap orang, dan manusia harus tunduk kepada kehendakNya dalam hidup, dalam bekerja dan dalam berusaha.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa jika kita mendapat hasil yang baik dalam hidup kita, kita boleh menikmatinya. Sebaliknya, jika kita mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, kita harus percaya bahwa itu juga dengan sepengetahuan Tuhan. Dalam segala hal kita harus mengakui bahwa Tuhan adalah mahakuasa, dan karena itu adalah sepatutnya jika kita selalu mau berusaha sambil bersyukur dan menyerahkan masa depan kita sepenuhnya kedalam bimbingan kasihNya.

Ketakutan berarti ketidakpastian

“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” 1 Yohanes 4: 18

This image has an empty alt attribute; its file name is img_9246.jpg
Ya Tuhan, mengapa hidupku terasa berat?

Alkisah ada seorang perampok yang sangat kejam karena ia sering menyiksa para korbannya. Sekalipun para korban sudah menyerahkan semua hartanya, mereka tetap saja dianiaya. Perampok ini sudah tentu diincar oleh polisi karena sudah membuat masyarakat hidup dalam ketakutan. Pada akhirnya, polisi berhasil menangkap perampok ini dan kemudian pengadilan menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Heran, bahwa menjelang pelaksanaan hukuman matinya, si perampok terlihat sangat ketakutan. Mengapa perampok yang tidak pernah takut menjalankan kejahatannya, dan yang seolah menganggap sepi hamba hukum yang berusaha menangkapnya, kemudian bisa menjadi ketakutan?

Kematian adalah suatu misteri bagi banyak orang dan karena itu mereka tidak senang membicarakannya. Sekalipun mereka tidak percaya adanya kehidupan di alam yang lain, banyak yang merasa takut ketika menghadapi saat kematian. Mungkin itu karena bayangan bahwa kematian sering diiringi dengan penderitaan atau rasa sakit yang luar biasa. Mereka yang hidupnya tidak mengenal Tuhan barangkali kuatir kalau-kalau mereka harus menjalani hukuman berat sesudah mati atas segala kejahatan yang dilakukannya selama hidup. Mereka yang mengenal Tuhan pun sering kuatir kalau-kalau mereka tetap harus ke neraka karena perbuatan jahat mereka lebih banyak dari perbuatan baik yang pernah diperbuat. Dengan demikian, adanya ketakutan adalah disebabkan oleh ketidakpastian akan apa yang akan terjadi sesudah kematian.

Jika kematian adalah ketakutan bagi banyak orang, bagaimana pula dengan kehidupan? Kehidupan bagi banyak orang juga menakutkan.Bahkan bagi sebagian, hidup bisa lebih menakutkan dari mati. Bagaimana tidak? Sekarang hidup tetapi tidak pasti kalau ada makanan esok hari. Sekarang hidup tapi tidak pasti kalau ada pekerjaan bulan depan. Sekarang hidup tapi kuatir kalau-kalau tertular penyakit orang lain. Sampai-sampai ada orang hidup yang ingin mati karena kematian dianggapnya akhir dari semua penderitaannya. Jadi kasihan juga, mereka mungkin tidak tahu kalau dengan kematian setiap orang masih harus mempertanggung-jawabkan hidupnya.

Bagi orang Kristen yang sejati, baik hidup atau mati bukanlah ketidakpastian. Paulus menulis bahwa baginya hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Filipi 1: 21). Hidup adalah bekerja untuk kemuliaan Kristus, dan mati adalah hidup bersama Kristus. Dengan demikian, baik mati maupun hidup bukanlah suatu ketakutan karena adanya kepastian bahwa kasih Kristus yang senantiasa menyertainya.

Saat ini, adakah ketakutan dalam hidup anda? Jika ya, apakah itu ketakutan untuk hidup atau ketakutan menghadapi kematian? Biarlah Firman Tuhan menginsafkan kita semua bahwa dalam kasihNya tidak ada ketakutan. Kasih Tuhan yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab dengan kasihNya kita sudah diampuni dan diangkat menjadi anak-anakNya. KasihNya menghilangkan hukuman atas kita dan sebaliknya membuka saluran berkatNya kepada kita. Karena itu barangsiapa takut, ia tidak menyadari kasih Tuhan. Biarlah dalam kasihNya kita bisa selalu dikuatkan baik dalam menghadapi hidup maupun kematian.