“Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” Kolose 3: 18 – 19

Beberapa minggu yang lalu, sepasang suami-istri dari suatu gereja merayakan hari ulang tahun perkawinan yang ke 50. Lima puluh tahun bukanlah waktu yang singkat, dan karena itu mereka yang masih sehat dan sempat merayakan “kawin mas” atau golden wedding anniversary tentunya merasa sangat berbahagia, begitu pula dengan sanak keluarga mereka. Bagaimana tidak? Mereka yang berbahagia itu nampaknya tidak lelah, tetapi justru masih sanggup untuk saling memberi perhatian dan kasih sayang untuk tahun-tahun mendatang.
Dalam kenyataannya, perkawinan di Australia seringkali tidak berlangsung lama. Beberapa data mengenai hal ini:
- Pada tahun 2017 ada 112954 perkawinan
- Pada tahun 2017 ada 40032 perceraian
- Ada 2 perceraian tiap 1000 orang penduduk
- Lama perkawinan rata-rata 12 tahun
- Usia pada saat perceraian yang paling umum 45,5 tahun (pria) dan 42,9 tahun (wanita).
Di Indonesia mungkin angka perceraian tidaklah seburuk itu karena perceraian sering dianggap membawa aib bagi keluarga. Sebab itu banyak orang yang sebenarnya sudah bercerai secara batin sekalipun masih tinggal di bawah satu atap.
Mengapa perceraian mudah terjadi? Pertanyaan ini tidak gampang dijawab karena adanya berbagai faktor yang bisa mempengaruhi hubungan antara suami dan istri. Selain faktor usia, ekonomi, pendidikan, kesehatan, agama, kebudayaan dan agama, ada juga faktor-faktor dari luar yang bisa menghancurkan perkawinan.
Adanya persoalan hidup yang berbagai ragam sebenarnya adalah jamak karena itu adalah bagian hidup manusia di dunia. Walaupun demikian, persoalan yang kecil bisa menjadi besar dan persoalan yang bagaimana pun bisa menghancurkan rumah tangga jika tidak segera diatasi. Dengan demikian, jelas bahwa perkawinan akan mudah hancur jika tidak ada ikatan yang kuat antara suami dan istri dan komunikasi yang baik dan jujur di antara keduanya.
Ayat di atas adalah ayat yang sering dibahas sebagai pedoman hidup keluarga di kalangan orang Kristen, tetapi juga ayat yang sering menyebabkan perbantahan antara suami dan istri. Mengapa demikian? Dalam ayat itu ada disebutkan bahwa seorang istri harus tunduk kepada suami dan bahwa seorang suami harus mengasihi istrinya. Bagi sebagian kaum wanita, kata “tunduk” sering dipikirkan sebagai kesediaan untuk menjadi seperti hamba yang mau melakukan apa saja yang diminta tuannya. Lebih dari itu, sebagian orang menyangka bahwa istri harus menuruti apa saja yang dimaui suami, sekalipun itu bukan hal yang benar atau yang baik. Tambahan lagi, ada orang Kristen yang berpendapat bahwa tidaklah patut untuk seorang istri merasa lebih pandai, lebih mampu atau lebih bijaksana dari suaminya.
Di zaman modern ini banyak kaum wanita yang memandang bahwa ayat diatas sudah ketinggalan zaman. Bagi sebagian, keharusan untuk tunduk itu dianggap sebagai penyebab kekacauan rumah tangga. Pada pihak yang lain, ada yang berpendapat bahwa kekacauan rumah tangga terjadi karena istri yang selalu tunduk sehingga suami bebas untuk berbuat semaunya. Lalu bagaimana mungkin kata “tunduk” itu bisa muncul dalam Alkitab tidak hanya di kitab Kolose, tetapi juga di kitab Efesus dan Petrus? Dan mengapa “tunduk” merupakan perintah kepada istri, sedang “kasih” ditujukan kepada suami?
“Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” Efesus 5: 24 – 25
Hubungan antara suami dan istri dalam Alkitab ternyata dipakai untuk melambangkan hubungan antara jemaat dan Kristus. Seperti indahnya hubungan antara jemaat dengan Kristus, begitu juga hubungan antara istri dan suami bisa menjadi indah dan langgeng jika mereka menyadari fungsi masing-masing. Seorang suami mempunyai kewajiban untuk melindungi dan mengasihi istrinya seperti Kristus sudah lebih dulu mengurbankan diriNya untuk jemaatNya.
Seorang istri yang merasakan besarnya kasih dan dedikasi sang suami akan bisa dengan sungguh hati menghormati dia. Hal ini mirip dengan jemaat yang mengasihi Kristus karena Ia lebih dulu berkurban. Seorang istri dengan senang hati mau memberikan kesempatan kepada sang suami untuk memimpin rumah-tangga jika sang suami mau melakukan tugasnya. Ini seperti jemaat yang menurut kepada pimpinan Kristus.
Pada kenyataannya, banyak suami yang tidak sadar bahwa ia harus bisa mencontoh Kristus yang mau berkurban untuk jemaatNya. Mereka lupa bahwa jika mereka mau menjadi pemimpin, itu bukanlah berarti menjadi majikan. Seorang suami yang baik akan mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri, sama seperti Kristus yang mengasihi jemaat (Efesus 5: 28 – 29). Pada pihak yang lain, ada juga istri yang selalu ingin untuk ikut berfungsi sebagai pemimpin dalam rumah tangga dan bahkan memandang rendah kemampuan sang suami.
Hubungan suami istri menurut Alkitab bukanlah seperti apa yang diajarkan oleh dunia. Pada saat ini orang cenderung untuk menuntut haknya dan dengan demikian mudah jatuh ke dalam pertikaian. Jika suami hanya menuntut ketaatan istri dan istri hanya menuntut kesabaran dan kasih sayang suami, hidup rumah tangga hanya berisi hal tuntut-menuntut. Sebaliknya, hidup suami istri menurut Alkitab adalah berdasarkan kewajiban.
Baik suami maupun istri harus ingat akan kewajiban mereka, dan berlomba-lomba untuk lebih dulu berbuat baik bagi yang lain. Baik suami maupun istri harus sadar bahwa setiap orang mempunyai kelemahan-kelemahan tersendiri. Dalam hidup berumah tangga kekuatan akan datang dari kasih dan kemurahan hati pasangan hidup kita. Inilah kunci kesuksesan dan kebahagiaan rumah tangga!
Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” Kisah Para Rasul 20: 35
Kemarin malam, dalam sebuah persekutuan doa saya dan teman-teman seiman membahas Mazmur 84 yang ditulis oleh anak-anak Korah. Korah bin Yizhar bin Kehat bin Lewi beserta tiga orang Ruben mengajak 250 orang lainnya untuk memberontak terhadap kepemimpinan sepupunya sendiri, Musa dan Harun, di padang gurun. Akibatnya ia dan para pengikutnya mati ditelan bumi dan dibakar api. Keturunan anak-anak Korah yang tidak ikut dalam pemberontakan, ternyata dibebaskan dari hukuman Tuhan dan kemudian aktif dalam pelayanan di Kemah Suci. Sejumlah nyanyian pengajaran dan nyanyian mereka dicatat sebagai Mazmur, termasuk Mazmur 84 yang ditampilkan oleh Daud.

Baru-baru ini saya mendapat kiriman sebuah video tentang seorang yang dikabarkan sudah bangkit dari kematian setelah dua tahun dikubur. Video yang ditampilkan memperlihatkan seorang pria yang kurus kering dan pada kulitnya terlihat luka-luka. Dalam ulasan berbahasa Indonesia, dikatakan bahwa orang ini sudah melihat mereka yang disiksa di neraka. Video dan ulasannya agaknya ditampilkan sebagai usaha penginjilan. Sayang sekali semua itu hanyalah kabar bohong saja.
Pagi ini saya membaca bahwa di daerah tertentu di dunia ini masih banyak anak-anak perempuan yang mengalami mutilasi genitalia atau female genital mutilation (FGM) yang sering juga disebut “sunat perempuan”. Pemotongan sebagian alat kelamin wanita ini sudah dilarang di banyak negara, dan di Australia pelakunya bisa dikenakan hukuman penjara sampai 14 tahun. Pasalnya, mutilasi alat kelamin itu bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan baik badani maupun kejiwaan kepada wanita yang mengalaminya. Sebaliknya, sebagian orang yang berusaha mempertahankan kebiasaan itu menyatakan bahwa mutilasi itu perlu untuk menjaga kemurnian badani dan rohani kaum wanita, terutama untuk bisa meredam nafsu seksuil mereka. Mereka yang sudah disunat tidak akan bisa sepenuhnya merasakan kenikmatan seks dan dengan demikian akan mempunyai pikiran yang jernih, begitu salah satu alasan yang banyak dikemukakan para pendukung FGM yang sebagian mengaku Kristen.
Pada waktu saya mendarat di Melbourne pada bulan Juni tahun 1983, sangatlah sedikit pengertian saya tentang sejarah dan demografi Australia. Sselang beberapa bulan setelah itu, saya mulai menyadari bahwa Australia mempunyai penduduk dengan latar belakang etnis yang berbeda-beda. Belanda adalah bangsa asing yang pertama kali datang ke Australia, tetapi Inggris kemudian memutuskan untuk membuat Australia sebagai bagian negaranya pada tahun 1700an. Karena itu, sampai akhir tahun 1800an, sebagian besar orang yang dilahirkan di Australia adalah keturunan Inggris. Setelah perang dunia kedua, Australia membuka kesempatan bagi para pengungsi dari Eropa untuk menetap, tetapi banyak orang dari Asia juga ikut datang. Dari tahun 1945 sampai 1960, ada 1,6 juta pendatang baru yang menetap di Australia.
Tahukah anda apa yang dimaksudkan dengan istilah Tough Mudder? Tough Mudder adalah lomba lari halang rintang sepanjang 16-20 km. Para peserta Tough Mudder dituntut bekerja sama dalam timnya untuk melewati rintangan yang dirancang untuk menguji fisik dan mental. Tough Mudder berbeda dari kompetisi lari lainnya karena tujuan utama lomba ini adalah meningkatkan rasa kerja sama antara para peserta. Dalam perlombaan ini terdapat 20 hingga 25 halangan seperti pagar, tanah berlumpur dan lainnya yang harus dilewati para peserta. Untuk bisa menyelesaikan lomba, para peserta harus mengutamakan kesatuan tim sambil belajar mengatasi rasa takut. Turnamen Tough Mudder hadir untuk pertama kali di Indonesia pada tahun 2016 di Jimbaran, Bali,.
Bagi saya yang sudah lebih dari 35 tahun hidup di luar negeri, bahasa Indonesia tidak lagi merupakan satu bahasa yang mudah dipakai. Banyaknya kata-kata dan ejaan baru sering membuat saya bingung untuk memakainya. Tambahan pula, dengan adanya berbagai kata gaul yang sekarang banyak dipakai anak muda, memaksa saya untuk lebih berhati-hati dalam memilih kata. Salah satu kata yang sudah lama ada tetapi jarang saya pakai adalah kata ganjaran. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, ganjaran bisa berarti hukuman tetapi bisa juga berarti hadiah. Bagaimana satu kata bisa mempunyai dua arti yang saling bertentangan? Tentunya kata ini harus diartikan menurut konteksnya.