“Allah bukanlah manusia sehingga Ia berdusta, bukan anak manusia sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?” Bilangan 23: 19
Nasi sudah menjadi bubur. Begitulah ungkapan yang kita kenal sejak SD, yang menyatakan penyesalan akan sesuatu yang sudah terjadi dan yang sudah terlambat untuk bisa diperbaiki. Dalam bahasa Inggris, ungkapan yang serupa adalah “it’s no use crying over spilt milk” yang artinya tidak ada gunanya menangisi susu yang sudah tumpah. Buku kamus yang memuat ungkapan ini untuk pertama kalinya adalah Oxford English Dictionary yang bersumber dari apa yang ditulis oleh James Howell pada tahun 1659. Sungguh menarik bahwa kedua ungkapan yang serupa artinya, mengutarakan rasa menyesal atas hilangnya apa yang lazim dimakan di negara itu sebagai cara untuk mengungkapkan rasa penyesalan yang sia-sia. Nasi yang sudah menjadi bubur dan susu yang sudah tumpah tidaklah dapat dikembalikan kepada keadaan yang semula.
Memang dalam keterbatasannya, manusia mana pun sering melakukan kekeliruan sehingga timbul rasa penyesalan yang dalam ketika ia menyadari apa yang sudah terjadi. Dengan itu, mungkin timbul keinginan untuk memperbaiki keadaan melalui perubahan rencana dan tindakan. Walaupun demikian, jika dipikirkan dalam-dalam semua itu bisa menimbulkan kekuatiran baru karena manusia
- bisa melakukan berbagai kekeliruan
- sering tidak mengerti apa yang terjadi dan mengapa itu harus terjadi
- mempunyai kemampuan terbatas untuk mengatasi persoalan
- tidak punya kesempatan baru di masa depan
- tidak mampu melihat ke masa depan
Jika manusia bisa menyesali apa yang sudah terjadi dan ingin berubah pikiran, bagaimana pula dengan Tuhan? Kata “menyesal” dalam berbagai bentuk memang muncul berkali-kali dalam Alkitab, dan beberapa ayat memang agaknya menulis tentang Allah yang menyesal atas apa yang diperbuatNya dan tentang Allah yang menyesali apa yang terjadi, serta tentang Allah yang berubah pikiran. Sebagai contoh adalah Kejadian 6: 6, dimana karena adanya kejahatan manusia Allah menyesal bahwa Ia sudah menciptakan mereka.
Banyak manusia yang berpikir bahwa Allah adalah seperti manusia yang menghadapi masalah kehidupan. Tetapi, mengapa Allah harus menyesal atas apa yang diperbuatNya? Bagaimana mungkin Allah menyesali apa yang sudah terjadi? Bagaimana pula Allah bisa berubah pikiran? Jika memang reaksi Allah adalah seperti reaksi manusia, tentunya Ia juga mempunyai lima kelemahan di atas. Allah dengan demikian bukanlah Oknum yang mahakuasa, mahatahu, mahakasih, mahabijak dan mahasuci. Jika Allah mempunyai rasa sesal, penyesalan dan pikiran yang berubah-ubah, Ia adalah Tuhan yang tidak sempurna.
Sebagian umat Kristen mungkin percaya bahwa Tuhan adalah Oknum yang menyesuaikan rancanganNya dengan apa yang terjadi di dunia. Setiap kejadian di dunia tidak akan luput dari pandangan mataNya dan karena itu Ia bisa berubah sikap sesuai dengan perubahan sikap manusia. Pandangan semacam itu adalah pandangan “Teisme terbuka” atau “Open Theism” yang merendahkan derajat Tuhan karena Ia yang mahakuasa harus menyesuaikan diri dengan kehidupan manusia. Sebaliknya, Tuhan mampu melaksanakan rancanganNya di antara pergolakan dan dinamika yang ada dalam hidup manusia.
Tuhan memang bisa menyesal, tetapi penyesalanNya bukanlah karena Ia tidak mengerti apa yang terjadi. Ia tahu apa yang sudah terjadi, yang sedang terjadi dan apa akan terjadi, karena segala sesuatu terjadi sesuai dengan rancanganNya. Rasa sesal dan penyesalanNya adalah sebuah kemampuan yang dipunyaiNya karena Ia adalah Tuhan yang mempunyai hati yang penuh kasih sayang kepada semua ciptaanNya. Karena itu setiap kali timbul rasa sesal atau penyesalan Tuhan dalam Alkitab, kita selalu bisa melihat bahwa Tuhan ternyata sudah mempunyai tindakan untuk mengatasi apa yang terjadi. Tuhan tidak bisa melakukan kekeliruan karena Ia adalah Tuhan yang mahatahu dan mahakuasa. Apapun yang terjadi dalam hidup manusia, dari semula Ia sudah mempunyai solusi sebelum itu terjadi. Karena itu, apa guna kita memikirkan nasi yang sudah menjadi bubur dan susu yang sudah tertumpah? Semua itu hanyalah umgkapan hati manusia yang tidak mengenal Tuhan dan kebesaranNya. Bagi kita umat Tuhan, harapan kita selalu ada dan ditujukan kepada Dia yang mahabijaksana.
Bersediakah anda untuk berbohong? Pertanyaan ini lebih sulit untuk dijawab daripada pertanyaan “Apakah anda pernah berbohong”. Setiap orang tentunya pernah berbohong, baik itu bohong kecil ataupun bohong besar, dan setiap orang bisa mengakuinya. Memang manusia tidak ada yang sempurna. Walaupun demikian, pertanyaan apakah kita mau berbohong tidaklah mudah dijawab. Dengan sejujurnya kita pernah berbohong di masa lalu karena suatu sebab; dan jika ada sebab yang kuat di masa depan, mungkin saja kita tidak ragu-ragu untuk berbohong lagi.
Tanggal 7 September yang baru lalu semestinya adalah hari yang membawa kebanggaan khusus bagi bangsa India. Pada hari itu, seharusnya sebuah pesawat pendarat buatan negara itu bisa mendarat di bulan. Tetapi, pagi di hari itu, ketika pesawat Vikram perlahan-lahan bergerak menuju permukaan bulan, hubungan komunikasi pesawat itu dengan pusat eksplorasi luar angkasa India tiba-tiba terputus. Pusat luar angkasa Amerika NASA kemudian memastikan bahwa Vikram sudah mendarat di bulan secara “keras”di lokasi yang belum diketahui. Ada kemungkinan pesawat itu rusak berat.


Suatu ciri masyarakat modern adalah berkurangnya keinginan untuk memakai apa yang ada selama mungkin. Karena adanya banyak pilihan dan juga kemampuan atau kebebasan untuk memilih, banyak orang yang berganti-ganti pekerjaan, rumah, pakaian dan sebagainya, dan bahkan mungkin berganti-ganti pasangan. Mungkin sebagian orang beranggapan bahwa adanya kesempatan dalam hidup sebaiknya dipakai untuk mencoba-coba, atau ada juga yang berpendirian bahwa sebagai manusia yang bebas, setiap orang berhak menentukan cara hidupnya.

Seringkali saya heran mengapa ada orang yang diculik kemudian bisa “jatuh cinta” kepada penculiknya dan menjadi pengikutnya selama bertahun-tahun. Orang yang diculik itu bisa menjadi seperti robot yang mau diperlakukan dengan semena-mena dan bahkan ada yang sampai melahirkan anak dengan sang penculik. Banyak juga orang yang diculik kemudian tidak mau berusaha untuk melarikan diri dan bahkan tidak mau memperkarakan penculiknya setelah polisi menangkapnya. Fenomena ini dinamakan “Stockholm syndrome” dimana orang yang diculik secara kejiwaan menjadi terikat kepada penculiknya. Memang manusia yang sebenarnya adalah makhluk yang paling cerdas, bisa jatuh dalam penguasaan orang lain baik melalui pengaruh cinta ataupun hipnosis.