“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Roma 8: 31
Demam bola agaknya menguasai banyak orang di seluruh dunia pada saat ini. Tua muda, pria maupun wanita, masing-masing mempunyai tim favoritnya sendiri. Mereka berharap, dan bahkan berdoa, agar tim kesayangan mereka menang; bukan karena tim lain disponsori oleh perusahaan yang tidak mereka sukai, dan bukan juga karena tim mereka adalah tim orang Kristen. Berharap untuk sukses atau menang memang sering bersifat egocentric, berpusat pada diri sendiri. Tidak peduli akan orang lain, asal diri sendiri berhasil.
Di kalangan orang Kristen pun ada banyak orang yang secara sadar atau tidak bersifat egosentris, memohon berkat dan keberhasilan dari Tuhan, sekalipun itu mungkin berarti kesusahan, kerugian dan kekalahan orang lain. Mungkin itu karena merasa bahwa mereka adalah anak-anak Tuhan yang paling disayangi sehingga Tuhan akan mengabulkan permintaan apa saja. Mereka merasa tidak perlu mencari kehendak Tuhan. Mereka tidak mengerti bahwa Tuhan memberi kan berkatNya kepada semua orang di dunia. Mereka tidak paham jika Tuhan mengabaikan kebutuhan orang non-kristen di dunia ini, tentu seluruh sistim pemerintahan, perekonomian, teknologi dan sebagainya akan jatuh berantakan.
“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5: 45
Banyak juga orang Kristen yang percaya bahwa sebagai orang yang dipilih Tuhan, mereka adalah orang-orang yang bisa mendapatkan apapun yang mereka ingini. Selalu menang. Dengan demikian, ayat diatas sering dipakai untuk memberi semangat kepada mereka yang kuatir dalam menghadapi kesulitan hidup, agar mereka yakin bahwa bersama Yesus mereka akan selalu berhasil. Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Benarkah begitu?
Ayat diatas tidak dapat dipakai sebagai pedoman umum jika kita tidak mau membaca ayat-ayat lain sesudahnya. Dari ayat-ayat itu, kita bisa melihat bahwa Paulus menulis ayat diatas dalam konteks mengalami penderitaan dan apa yang diartikan sebagai kegagalan. Bukan dalam konteks mencapai keberhasilan. Paulus mempersiapkan orang-orang Kristen di Roma dalam menghadapi penderitaan!
“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” Roma 8: 35
Pagi ini, jika kita merasa takut dalam menghadapi kegagalan dan penderitaan, firman Tuhan berkata bahwa Tuhan beserta kita senantiasa. Dalam keadaan apapun, kita boleh yakin bahwa kita adalah pemenang sejati yang lebih dari pada orang-orang yang terlihat menang, karena kita mempunyaiTuhan yang mengasihi kita. Kita juga bisa merasakan adanya kekuatan yang diberikan Tuhan, karena tidak ada sesuatu pun yang bisa memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38 – 39
Hari ini saya bermobil meninggalkan kota kecil Banff, menuju kota Calgary untuk terbang kembali ke kota Vancouver. Banff terletak dalam taman margasatwa nasional, karena itu jumlah penduduknya tidak banyak dan kita bisa menjumpai berbagai hewan seperti tupai, rusa dan bahkan beruang. Lingkungan yang relatif sepi memungkinkan kita mendengar suara burung-burung dan menghirup udara segar.
Hari ini kita memasuki minggu yang baru. Setiap hari Senin, kita tentunya memikirkan tugas-tugas yang harus kita lakukan pada minggu ini. Memang, jika dibayangkan, betapa enaknya jika kita tidak perlu menghadapi tantangan kehidupan. Setiap hari berjalan seperti weekend, dimana kita bisa menikmati hari libur yang santai. Tetapi, apa boleh buat, setiap manusia harus bekerja; jika tidak untuk mencari sesuap nasi, pastilah itu untuk memenuhi kewajiban lainnya.
Saat ini saya masih berada di Canada, di daerah pegunungan British Columbia. Sebuah kesan yang saya peroleh selama melakukan perjalanan berkereta api disini adalah luasnya negara ini. Canada adalah negara kedua terbesar di dunia berdasarkan luas tanahnya. Kesan lain yang saya peroleh adalah penduduk Canada umumnya terlihat cukup makmur dan bahagia.
Sering orang bertanya mengapa menjadi Kristen begitu mudah jika dibandingkan dengan menjadi pengikut kepercayaan lain. Orang Kristen cukup mengaku percaya kepada Yesus dan keselamatan kemudian tersedia bagi mereka. Sungguh berbeda dengan mereka yang harus berusaha keras untuk berbuat baik seumur hidup untuk dapat memenuhi syarat kesucian Tuhan.

Jika anda adalah penggemar drama, tentulah judul “Waiting for Godot” tidaklah asing. Naskah drama karya Samuel Beckett ini pernah meraih hadiah Nobel pada tahun 1969 dan merupakan refleksi penantian manusia akan akhir perang dunia ke dua. Dalam kisahnya, Vladimir dan Estragon bertemu dan mengaku sedang menunggu seseorang yang bernama Godot. Cerita ini menarik karena mereka yang menunggu tidak tahu siapa dan seperti apa sosok Godot yang tidak kunjung datang itu.
Apa guna kita berdoa? Banyak orang di zaman ini yang sudah tidak percaya bahwa doa itu ada manfaatnya. Mereka yang tidak percaya adanya Tuhan, sudah tentu tidak pernah berdoa. Tetapi, mereka yang masih yakin bahwa Tuhan itu ada, belum tentu mau berdoa atau bisa berdoa secara teratur. Doa itu membutuhkan waktu dan tenaga, dan ditengah kesibukan yang ada, orang mungkin lebih senang memakai waktunya untuk hal-hal lain yang dirasa lebih perlu.
Semboyan “maju terus, pantang mundur” atau “ever onward, no retreat” sudah dikenal sejak lama di Indonesia, dan sering muncul pada saat Presiden Soekarno berkuasa. Semboyan ini sangat populer karena dimaksudkan untuk memberi semangat kepada mereka yang berjuang untuk menghadapi tantangan hidup.