Sadarkah kita bahwa Tuhanlah yang memiliki hidup kita?

“Punya-Mulah langit, punya-Mulah juga bumi, dunia serta isinya Engkaulah yang mendasarkannya.” Mazmur 89: 11

Puji Tuhan! Dengan perlindungan Tuhan, perjalanan saya dari Australia ke Canada sudah dapat dilakukan dengan selamat. Pesawat saya berangkat hari Sabtu jam 10.30 pagi dari Brisbane dan mendarat di Vancouver jam 7.00 pagi pada hari yang sama. Aneh bukan? Memang karena zone waktu yang berbeda, Canada 17 jam lebih lambat dari Australia. Hari Minggu pagi di Australia atau Indonesia berarti hari Sabtu siang atau sore di Canada.

Perjalanan yang menempuh jarak 12500 km itu ditempuh dengan pesawat jet dalam waktu sekitar 13 jam saja, suatu prestasi yang menakjubkan. Kita bisa bayangkan bagaimana beratnya orang yang harus bepergian dengan kapal sebelum ada pesawat terbang; untuk menempuh jarak yang sama mereka mungkin membutuhkan beberapa bulan.

Memang tidak dapat disangkal bahwa kemajuan teknologi sangatlah pesat dalam beberapa abad terakhir ini. Manusia dalam segala bidang sudah berhasil menciptakan berbagai penemuan yang seolah tidak ada batasnya. Dengan kemajuan itu tidaklah heran jika banyak orang percaya bahwa hidup ini ada di tangan manusia. Malahan pula ada yang percaya bahwa kehidupan di dunia ini tidak perlu melalui penciptaan Tuhan, dan alam semesta bisa berjalan dengan sendirinya tanpa adanya kuasa Tuhan yang mengatur. Mereka mungkin juga menganggap bahwa dunia yang berputar dan matahari yang terbit dan tenggelam itu mengikuti pola yang sangat rumit dengan sendirinya.

Hal manusia yang bertambah pandai itu bukanlah sesuatu yang mengherankan. Tetapi yang menarik adalah kenyataan Alkitab menulis bahwa kepandaian manusia adalah kebodohan bagi Tuhan. Orang bertambah pandai tetapi semakin sukar untuk mengenal Tuhan dan kuasaNya.

Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Sebab ada tertulis: “Ia yang menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya.” 1 Korintus 3: 19

Pagi ini jika kita melihat banyak orang pergi ke gereja, sebagian diantaranya mungkin adalah orang yang pandai di mata Tuhan, tetapi sebagian lagi adalah orang yang bodoh yang kurang bisa yakin bahwa segala sesuatu mereka alami adalah dalam kuasa dan rencana Tuhan. Bila mereka yang pandai bisa menyerahkan hidup mereka kedalam tangan Tuhan karena mereka percaya bahwa Tuhan, adalah pencipta, pemilik dan pemelihara segala sesuatu, mereka yang bodoh akan berusaha untuk menghadapi tantangan hidup dengan kekuatan mereka sendiri. Manakah yang anda pilih?

“Janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri. Jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, biarlah ia menjadi bodoh, supaya ia berhikmat.” 1 Korintus 3: 18

Apakah Tuhan punya rasa humor?

Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Jawabnya: “Selayaknyalah aku marah sampai mati.” Yunus 4: 9

Sekitar tahun 1990 saya mengalami kesulitan besar yang membuat saya merasa bahwa Tuhan itu jauh dan sudah melupakan saya. Dalam kesusahan, saya merasa marah kepada Tuhan. Setiap hari saya bangun tidur dengan perasaan masygul atas masa depan. Tekanan hidup membuat saya mengalami stres yang juga dirasakan oleh orang-orang disekitar saya.

Tahun berikutnya, kemasygulan saya tiba-tiba hilang karena Tuhan memberikan yang saya harapkan. Saya merasa bersyukur, tetapi juga malu kepada Tuhan karena kelakuan saya yang tidak pantas kepadaNya. Apalagi, ketika pada suatu hari yang cerah saya pergi ke sebuah taman, saya melihat ke langit yang biru dan seolah mendengar Tuhan berkata: “Sudah Kubilang!”. Tuhan seolah tersenyum dan berkata: “I told you so!”. Sejak itu saya tahu bahwa Tuhan itu mempunyai rasa humor.

Mengapa manusia sering ngambek atau marah jika Tuhan tidak memenuhi apa yang diharapkan? Mungkin itu menunjukkan iman yang kurang dewasa, tetapi siapapun tentu pernah merasa kecewa jika apa yang diharapkan ternyata tidak terjadi. Nabi Yunus yang agaknya termasuk golongan orang “bandel” itu juga pernah ngambek dan marah kepada Tuhan. Bahkan dalam hal yang nampaknya sepele, seperti pohon jarak yang menaunginya dari panas matahari, Yunus merasa ia lebih baik mati, ketika pohon itu kemudian mati karena dimakan ulat.

Bagaimana Tuhan menanggapi sikap Yunus yang ngambek itu adalah menarik perhatian. Tuhan bertanya apakah Yunus pantas untuk marah karena ia bukanlah yang membuat pohon itu tumbuh. Tuhan seolah merasa geli atas kelakuan Yunus yang kekanak-kanakan.

Lalu Allah berfirman: “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula.” Yunus 4: 10

Pagi ini, jika kita bangun dengan pikiran kusut dan merasa bahwa Tuhan sudah mengecewakan kita, mungkin kita bertingkah laku seperti Yunus. Yunus yang tidak mengerti bahwa hidup yang berat tidak harus selalu dihadapi dengan pikiran yang tegang dan penuh kekuatiran. Tuhan sebaliknya ingin agar kita bisa mengerti bahwa hidup itu lebih baik dihadapi dengan menghindari kemurungan hati.

Tuhan kita yang maha kasih, bukanlah Tuhan yang pemuram. Karena itu, sebagai ciptaanNya kita seharusnya bisa melihat “the lighter side of life”, segi kehidupan yang bisa membawa senyuman. Tuhan terkadang menunjukkan rasa humorNya, sekalipun untuk sesaat kita mungkin merasa itu tidak lucu. Tetapi, jika kita mau memikirkannya dalam-dalam, kita akan bisa melihat bahwa Tuhan itu memang baik adanya. God is love.

Apakah anda benar-benar sudah dibaptis?

“Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” Roma 6: 6

Bagi masyarakat umum, baptisan air yang diadakan di berbagai gereja adalah hal yang sering didengar. Orang dari agama apapun umumnya tahu bahwa mereka yang ingin menjadi orang Kristen akan menerima baptisan air di gereja mereka. Baptisan adalah tanda orang percaya.

Bagi orang Kristen, baptisan adalah bagian kedua dari Amanat Agung Kristus. Karena itu, sejarah mencatat banyaknya misionaris yang pergi ke berbagai tempat di dunia untuk mengabarkan injil sehingga banyak orang yang mau dibaptiskan sebagai orang Kristen.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28:19 – 20

Dengan melaksanakan kedua bagian Amanat Agung, melalui murid-murid Yesus, banyak orang yang mendengar injil, kemudian mau di baptiskan. Tetapi, Amanat Agung tidak berhenti dengan dua hal itu saja. Yesus juga memerintahkan agar murid-muridNya untuk mengajar orang yang sudah dibaptis untuk melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan Yesus.

Hak menerima Injil dan mengambil keputusan untuk mengikut Yesus melalui baptisan adalah hasil pekerjaan Roh Kudus, dan mereka yang sudah menerima Yesus seharusnya sadar untuk taat kepada perintah-perintahNya. Ini tidaklah mudah dilakukan, karena sejak jatuhnya manusia kedalam dosa, manusia cenderung untuk melakukan apa yang jahat daripada yang baik. Tetapi, Roh Kudus jugalah yang mampu menguatkan mereka yang percaya.

Banyak orang Kristen yang sudah mengalami dua bagian yang pertama dari Amanat Agung itu, tetapi belum bisa atau mau untuk sepenuhnya melakukan yang ketiga, yaitu hidup dalam Kristus.

Yesus sudah datang untuk menebus seluruh dosa kita, tetapi itu tidak berarti bahwa kita boleh tetap hidup dalam dosa. Baptisan melambangkan keadaan dimana kita mati bersama Kristus dan kemudian bangkit dalam kemenangan seperti Dia. Dengan itu kita harus meninggalkan cara hidup yang lama, yang mementingkan diri sendiri dan mengabaikan perintah Tuhan.

“Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” Roma 6: 5 – 6

Banyak orang yang sudah mengaku Kristen selama bertahun-tahun, seolah sudah menemukan ketentraman dalam keyakinan bahwa mereka sudah ditebus oleh kematian Kristus sebagai pengganti hukuman atas dosa mereka. Walaupun demikian, mereka belum menerima kenyataan bahwa sebagaimana Kristus sudah dibangkitkan, mereka harus juga bangkit dalam hidup baru, yang selalu menghindari dosa.

“Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.” Roma 6: 10 – 11

Pagi ini, pertanyaan untuk kita yaitu apakah kita dengan sadar tetap hidup dalam dosa, karena yakin bahwa kasih karunia Tuhan kepada kita tidak ada batasnya? Jika keyakinan kita begitu, mungkin kita harus bertanya apa arti baptisan bagi kita. Baptisan adalah tanda bahwa sesorang mau menerima Yesus dan berubah dari hidup lamanya.Karena itu, mereka yang belum mau berubah adalah orang-orang yang tidak dikenal Kristus.

“Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.” Roma 5: 12

Pujilah Tuhan dalam setiap keadaan

“Dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari terpujilah nama TUHAN.” Mazmur 113: 3

Pagi ini, ketika saya bangun sekitar pukul 6.15 pagi, matahari belum terlihat. Suhu sekitar 10 derajat Celsius di Toowoomba. Memang pada musim dingin (winter), matahari agaknya malas bersinar. Pada hari ini matahari terbit pukul 6.45 pagi dan terbenam pukul 5.08 sore.

Sebagian orang kurang menyenangi musim dingin karena hari yang pendek dan suhu yang bisa membuat tubuh menggigil kedinginan dan bahkan jatuh sakit. Mereka lebih menyukai musim panas karena berbagai aktivitas di alam terbuka (outdoor activities) yang bisa dilakukan seperti berenang, bersepeda dan sebagainya. Di lain pihak, jika musim dingin adalah musim yang “suram” bagi mereka yang tidak menyenanginya, musim itu bisa memberi kesempatan indah untuk bermain di salju bagi yang menyukainya. Dengan demikian, adanya empat musim di Australia adalah sesuatu yang harus diterima semua penduduknya.

Hidup manusia mungkin dapat dibayangkan sebagai musim yang bisa berganti-ganti. Pengkhotbah dari kitab Perjanjian Lama menulis bahwa

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” Pengkhotbah 3: 1

Ada saat dimana kita bersukacita, tetapi ada juga saat kita berduka. Ada saat kita menang, ada juga saat dimana kita menggigit jari.

“Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari.” Pengkhotbah 3: 4

Bagi manusia, apa yang terjadi disekelilingnya bisa membawa kesan dan reaksi yang berbeda-beda. Apa yang terjadi kemarin mungkin membawa sukacita kepada seseorang, tetapi dukacita kepada orang yang lain. Musim yang sama, membawa perasaan yang berbeda.

Adalah lumrah jika kita bangun pagi ini dan merasa masygul dengan adanya musim yang berganti. Juga dengan adanya tantangan atau masalah hidup yang mungkin sekarang makin terasa dalam hidup kita. Tetapi ayat pembukaan kita berkata dalam keadaan apapun dan kapanpun kita harus memuji Tuhan atas kemurahanNya. Tuhan tidak pernah meninggalkan umatNya; baik siang atau malam, Ia senantiasa memelihara kita.

Dari terbit matahari sampai pada masuknya

Biarlah nama Tuhan dipuji

Dari terbit matahari sampai pada masuknya

Biarlah nama Tuhan dipuji

Puji Tuhan, Puji Tuhan

Kemunafikan itu menular

“Tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.” Lukas 12: 2

Dalam Lukas 12: 1 -3 Tuhan Yesus mengutarakan perasaanNya terhadap orang Farisi. Apa yang diucapkanNya adalah cukup pedas untuk ukuran telinga kita: “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi.” Yesus menggambarkan bahwa kemunafikan kaum Farisi itu seperti ragi, yang akan menyebar dan mempengaruhi murid-muridNya. Kemunafikan itu agaknya menular.

Menurut wikipedia, kaum Farisi, tergantung dari waktunya, adalah sebuah partai politik, sebuah gerakan sosial, dan belakangan sebuah aliran pemikiran di antara orang-orang Yahudi yang berkembang pada masa Bait Suci kedua (536 SM – 70 M). Alkitab mencatat bahwa kaum Farisi sebagai kaum yang umumnya munafik. Apa arti munafik? Munafik adalah perbuatan seseorang yang berbeda dengan apa yang dikatakan atau diajarkannya kepada orang lain. Munafik adalah tindakan berpura-pura. Perbuatan munafik seringkali berhubungan dengan adanya “double standard” atau pelaksanaan hukum atau etika yang mendua.

Umumnya orang berpendapat bahwa kemunafikan adalah berkaitan dengan nilai moral seseorang, terutama tokoh agama. Mungkin orang kurang menyadari adanya kemunafikan kolektif dalam suatu masyarakat atau negara. Tetapi di negara manapun, tanda-tanda kemunafikan itu selalu ada, terutama dalam hal politik dan hukum. Ada negara yang menekankan pentingnya hukum, tetapi hukum sering hanya berlaku pada rakyat jelata, dan bukan pada mereka yang berkuasa. Ada juga yang demi keadilan, pemerintah memberi hak kepada kelompok tertentu, tetapi membuat hak kelompok lain menjadi hilang. Kasus korupsi, nepotisme, legalisasi aborsi , perkawinan sejenis dan eutanasia adalah beberapa contoh apa yang sudah terjadi sebagai akibatnya. Selain itu, kita bisa melihat adanya orang-orang yang mempunyai rasa kekeluargaan yang kuat didalam kalangan sendiri, tetapi membenci kelompok lain sedemikian rupa sehingga merasa perlu untuk membuat kabar-kabar bohong tentang kelompok lain. Semua itu adalah bentuk-bentuk kemunafikan.

Secara individu, manusia cenderung, dengan sadar atau tidak, mengikuti apa yang dianggap sebagai kebenaran oleh kelompoknya. Apa yang sudah diterima dalam kelompoknya, mudah untuk menjadi sesuatu kebenaran baginya. Tetapi, dalam ayat diatas Yesus berkata bahwa kita secara individual bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan. Apa yang kita lakukan akan terlihat oleh Tuhan. Tuhan tentu tahu jika kita berbuat dosa, sekalipun dengan alasan bahwa semua orang juga melakukan hal yang sama. Dunia juga akan melihat apakah sebagai orang Kristen, kita juga sudah terkena “ragi” kemunafikan yang ada dalam lingkungan kita.

“Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah.” Lukas 2: 3

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan bahwa kita sebagai orang Kristen harus memegang Firman sebagai kaidah kehidupan. Kita harus berani menentang arus kemunafikan, kepalsuan dan ketidakadilan di sekitar kita. Memang itu tidak mudah karena kita bisa menjadi orang yang tidak disukai. Tetapi Yesus berkata bahwa kita harus lebih takut kepada Tuhan, daripada manusia.

“Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia!” Lukas 12: 4 – 5

Ketika rasa putus asa mendatangi

“Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.” Yakobus 5: 10 – 11

Di berbagai kota di Australia, mereka yang senang berolahraga bisa mengikuti acara boot camp yang diselenggarakan oleh berbagai klub. Acara ini biasanya berupa aktivitas fisik berat yang bisa membuat para peserta menguras seluruh tenaga, baik tubuh maupun pikiran, untuk menghadapi berbagai tantangan di alam terbuka. Sebagian orang percaya bahwa setelah mengikuti latihan berat a la militer ini, rasa percaya diri, rasa setia kawan dan kemauan untuk hidup sehat bisa tumbuh menjadi lebih besar. Tetapi bagi yang lain, pengalaman sekali saja sudah cukup untuk membuat mereka tidak mau melakukannya lagi. Tidak ada kesenangan dalam mengalami penderitaan!

Bagi sebagian orang, hidup ini agaknya seperti sebuah boot camp militer yang sangat berat. Bahkan hidup ini bisa menjadi terlalu berat untuk bisa dinikmati. Sejak kejatuhan manusia di taman Eden, memang dunia ini menjadi penuh rintangan dan tantangan bagi seluruh umat manusia. Karena itu, tidaklah heran bahwa dunia ini penuh dengan orang-orang yang patah hatinya dan hancur semangatnya. Mungkin itu disebabkan oleh kegagalan rumah tangga, karir atau usaha; mungkin juga karena faktor kesehatan dan keuangan. Walaupun demikian, dalam ayat diatas, Yakobus menulis bahwa ada orang-orang yang sudah mengalami penderitaan berat tetapi karena kesabaran mereka, mereka bisa menjadi teladan bagi kita. Itu karena mereka yang telah bertekun itu akhirnya memperoleh berkat dari Tuhan.

Untuk mengambil teladan dari penderitaan orang lain tidaklah mudah. Penderitaan yang kita alami seringkali sulit dibandingkan dengan penderitaan orang lain. Kita mungkin dapat mengerti bahwa apa yang dialami Ayub adalah suatu yang sangat berat, tetapi Ayub adalah orang yang luar biasa imannya. Pada pihak yang lain, dalam menghadapi tantangan hidup, kita sering merasa bahwa apa yang terjadi sudah terlalu berat untuk kita, sekalipun dalam hati kita tahu bahwa Tuhan tentunya tidak membiarkan kita mengalami sesuatu yang melebihi kekuatan kita.

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1 Korintus 10: 13

Kita mungkin percaya bahwa Tuhan pada saatnya akan memberikan jalan ke luar, sehingga kita dapat menanggungnya, tetapi jika itu tidak juga datang setelah lama menunggu-nunggu, harapan kita pun bisa menjadi pudar.

Dalam menghadapi penderitaan, membayangkan keuntungan orang lain yang diperoleh setelah mereka menderita, mungkin saja tidak memikat. Jika penderitaan kita sudah tidak tertahankan, apa yang sering muncul adalah keinginan agar kita dibebaskan dari derita itu. Sekarang juga. Tetapi jika itu tidak terjadi, apakah yang bisa kita pakai untuk tetap bertahan dalam hidup?

Pagi ini dalam kita membaca ayat-ayat diatas, satu hal yang terlihat adalah hakikat Tuhan yang penyayang dan penuh belas kasihan. Tuhan yang setia dalam kasihNya. Karena itu, kita bisa percaya bahwa Tuhan senantiasa berjalan menyertai kita dalam menghadapi semua masalah, dan tidak pernah meninggalkan kita. Jika tidak ada hal lain yang bisa membuat kita tetap tabah, inilah sumber kekuatan dan ketekunan kita didalam menghadapi tantangan hidup!

“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” Ulangan 31: 6

Pemimpin yang baik itu perlu

“Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.” 1 Timotius 2: 1 – 2

Setiap tiga tahun, rakyat Australia menghadapi pemilihan umum (pemilu) tingkat federal untuk memilih wakil-wakil rakyat dalam pemerintah. Pemilihan umum adalah keharusan bagi setiap warga, dan karena itu semua orang mau tidak mau harus berpartisipasi. Mereka yang sengaja tidak ikut pemilu tanpa alasan yang sah akan didenda. Untuk orang Kristen, partisipasi dalam pemilu sudah tentu merupakan kewajiban karena pemerintah yang sah adalah wakil Tuhan di dunia.

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Ada sebagian orang yang berpandangan bahwa karena Tuhanlah yang menetapkan adanya pemimpin negara dan pemerintah, mereka tidak mau berpartisipasi dalam pemilu. Tetapi, pandangan semacam ini tentunya tidak sesuai dengan keadaan sekarang, karena Tuhan tidaklah memerintah umat manusia secara langsung seperti Ia memimpin bani Israel pada zaman perjanjian lama.

Karena pemerintah negara manapun seharusnya mewakili Tuhan, sudah sewajarnya kalau setiap umat Kristen memilih pemimpih yang takut akan Tuhan. Ini adalah syarat utama, bahwa pemimpin yang baik, sekalipun bukan orang Kristen, adalah orang yang mau dan bisa mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan yang penting, seperti kerohanian, perdamaian, keamanan, keadilan, fungsi keluarga, dan arti pernikahan.

Adalah baik jika semua orang yang duduk dalam pemerintahan adalah orang-orang yang takut akan Tuhan. Tetapi, dalam kenyataan hidup, orang-orang yang jahat dan tidak disenangi Tuhan bisa saja terpilih sebagai pemimpin-pemimpin negara. Dan kalau itu terjadi, manusialah yang harus bertanggung jawab di depan Tuhan.

“Mereka telah mengangkat raja, tetapi tanpa persetujuan-Ku; mereka mengangkat pemuka, tetapi dengan tidak setahu-Ku. Dari emas dan peraknya mereka membuat berhala-berhala bagi dirinya sendiri, sehingga mereka dilenyapkan.” Hosea 8: 4

Apa yang terjadi di muka bumi ini tentunya dengan seijin Tuhan, tetapi apa yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan tentunya tidak akan menyenangkan Tuhan, dan karena itu, Tuhan tidak akan memberkati adanya pemerintah yang menentang Dia dan yang melanggar hukumNya, dan tidak sesuai dengan rencanaNya.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa sebagai orang Kristen kita mempunyai Tuhan yang hidup, Tuhan yang maha kuasa dan maha bijaksana. Karena itu, dalam usaha untuk mencari pemimpin-pemimpin negara yang baik, kita harus selalu mau menaikkan permohonan dan doa syafaat agar orang-orang yang akhirnya terpilih dalam pemerintahan dapat memberi kita hidup tenang dan tenteram dalam iman kepercayaan kita. Lebih lanjut, sebagai orang Kristen, kita harus memilih pemimpin yang bijaksana dan yang takut akan Tuhan, agar seluruh rakyatnya juga takut akan Tuhan dan karena itu selalu mendapat berkatNya. Biarlah kita boleh mengingat pesan terakhir Raja Daud kepada rakyatnya:

“Allah Israel berfirman, gunung batu Israel berkata kepadaku: Apabila seorang memerintah manusia dengan adil, memerintah dengan takut akan Allah, ia bersinar seperti fajar di waktu pagi, pagi yang tidak berawan, yang sesudah hujan membuat berkilauan rumput muda di tanah.” 2 Sanuel 23: 3 – 4

Jangan hidup dalam dakwaan

“Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata: “Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita.” Wahyu 12: 10

Pernahkah anda mengalami suatu pengalaman yang menyebabkan anda merasa tertekan, sedih dan gundah karena apa yang anda perbuat pada suatu hari, seolah tidak dimengerti orang disekitar anda, termasuk orang-orang terdekat anda? Saya yakin setiap orang pernah merasakan “hari sial” semacam itu. Kesedihan anda mungkin bisa bertambah besar jika ada orang-orang yang mendakwa bahwa anda sudah melakukan hal yang kurang baik, padahal anda tidak mempunyai maksud jahat apapun.

Jika hal diatas seringkali terjadi dalam hubungan antar manusia, dalam hubungan dengan Tuhan, ternyata ada banyak orang Kristen yang mengalami perasaan serupa, merasa sedih dan tertekan karena seolah Tuhan tidak bisa mengerti kesulitan yang mereka alami dalam usaha untuk menjadi pengikutNya yang setia.

Perjuangan untuk menjadi murid Kristus memang tidaklah mudah. Seperti Rasul Paulus mungkin kita pernah mengeluh:

“Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” Roma 7: 15

Jika perasaan ini ada pada kita, sebenarnya kita harus bersyukur bahwa kita masih sadar akan apa yang baik dan apa yang buruk. Memang Roh Kudus bekerja untuk membimbing tiap umat Kristen dan mengingatkan akan kekurangan yang masih ada, agar mereka menjadi makin baik dan selalu yakin atas keselamatan yang sudah mereka terima.

Pada pihak yang lain, iblis yang melihat orang Kristen yang hidup dalam perjuangan iman selalu berusaha untuk menjatuhkan semangat mereka. Iblislah yang mengelilingi dan menjelajah bumi, meneliti umat percaya satu demi satu, melihat kalau-kalau ia bisa menghancurkan hidup mereka, supaya mereka melarikan diri dari Tuhan dan supaya Tuhan menolak mereka.

Berbeda dengan Roh Kudus, Iblislah yang sering mengingatkan umat Kristen akan kekurangan mereka, bukan untuk mendorong mereka untuk memperbaikinya, tetapi untuk membuat mereka meragukan bimbingan Tuhan dan jaminan keselamatan yang telah mereka peroleh. Iblis menjadi pendakwa dan kita menjadi terdakwa di hadapan Tuhan.

Mereka yang didakwa iblis bahwa hidup kerohanian mereka masih jauh dari apa yang diharapkan, mungkin kemudian merasa ragu apakah mereka masih bisa menerima karunia dan berkat Tuhan dalam hidup mereka. Mereka mungkin kemudian merasa bahwa hidup di dunia ini hanya penuh derita dan kesia-siaan. Begitu banyak mereka yang hidup dalam dakwaan iblis, lambat laun jatuh kedalam kegundahan yang berat, sehingga mereka tidak dapat memakai iman mereka dalam menghadapi masa depan.

Sore ini, ayat diatas mengingatkan kita bahwa Tuhan tahu tentang adanya dakwaan iblis yang berusaha menghancurkan masa depan anak-anak Tuhan. Tuhan pada saatnya akan menghancurkan iblis si pendakwa itu. Saat ini, kita yang seringkali didakwa si iblis, boleh yakin bahwa Tuhan tetap mengasihi kita dalam keadaan apapun. Kita juga harus percaya bahwa Tuhan kita adalah hakim yang sudah membayar harga tebusan untuk segala dosa kita melalui darah Kristus Yesus.

“Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Mazmur 136: 1

Pujilah Tuhan, hai jiwaku!

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” Mazmur 103: 2

Satu hal yang menarik perhatian saya ketika baru tiba di benua Australia pada tahun 1980an adalah bagaimana orang sudah belajar mengucapkan kata “thank you” sejak kecil, ketika menerima suatu pemberian. Ucapan ini adalah pernyataan rasa syukur atas kebaikan orang lain.

Jika mengucapkan “terima kasih” adalah salah satu kebiasaan antar manusia, bagaimana pula dengan kebiasaan yang ada antara umat Kristen dan Tuhan? Apakah mereka selalu bisa bersyukur kepada Tuhan dan memuji Dia karena berkat penyertaanNya setiap hari?

Ayat diatas adalah Mazmur Daud yang sangat terkenal. Malahan, seluruh pasal 103 berisi pujian kepada Tuhan, dan diberi judul ” Pujilah Tuhan hai jiwaku” atau “Blessed the Lord, O my soul“. Dalam 22 ayat yang ada, kita bisa membaca mengapa Daud memuji Tuhan. Bagi Raja Daud, Tuhan adalah Tuhan yang maha kasih dan maha setia kepada umatNya. Karena Tuhan sudah lebih dulu mengasihi Daud, Mazmur ini ditulis sebagai pernyataan terima kasih Daud kepada Tuhan.

Mazmur 103 begitu mengesankan sehingga dituangkan kedalam beberapa lagu gereja. Bagi setiap orang yang menyanyikan lagi pujian semacam itu, rasa syukur kepada Tuhan seharusnya benar-benar ada, sekalipun karena berbagai sebab yang berlainan. Mungkin ada orang yang bernyanyi karena adanya berbagai berkat seperti kesehatan, keluarga, pekerjaan dan semacamnya, tetapi tentu ada juga yang hanya bisa bernyanyi tanpa bisa menghayati maknanya.

Memang jika hidup ini berjalan lancar dan mulus, mengucapkan terima kasih dengan mulut kita kepada Tuhan tidaklah sukar, karena itulah yang kita pelajari sejak kecil. Tetapi, jika apa yang kita alami saat ini adalah penderitaan dan kemalangan, sulitlah bagi kita untuk bersyukur kepada Tuhan. Bersyukur untuk apa?

Mazmur 103 sebenarnya bukan hanya berisi pujian karena Tuhan yang memberkati anak-anakNya, tetapi juga rasa syukur kepada Tuhan karena Ia tahu bahwa manusia adalah debu, yang hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang yang berkembang indah pada satu saat, tetapi hancur jika diterpa angin kehidupan (ayat 14. – 16). Daud bersyukur dengan sepenuh hati bahwa Tuhan sepenuhnya bisa mengerti penderitaan manusia. Karena itu, Daud bisa bersyukur kepada Tuhan dalam suka maupun duka.

Pagi ini kita mungkin ingin bersyukur kepada Tuhan, tetapi barangkali apa yang ada di mulut kita berbeda dengan apa yang ada didalam hati dan jiwa kita. Bahwa dengan mulut kita bisa mengucapkan “thank You” kepada Tuhan karena sudah kita sudah terbiasa, tetapi hati dan jiwa kita yang mengalami kepedihan yang besar, mungkin belum bisa dengan sepenuhnya memuji Tuhan.

Daud menulis bahwa Tuhan adalah seperti seorang bapa yang sayang kepada anak-anaknya. Kasih setia Tuhan akan selama-lamanya dicurahkan atas kita yang takut akan Dia, dan yang berpegang pada janjiNya dan yang ingat untuk melakukan firmanNya. Tuhan yang sudah menyelamatkan kita adalah Tuhan yang senantiasa menyertai kita!

Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.” Mazmur 103: 13

Apa yang kita harapkan sebagai pekerja Tuhan?

“Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” 1 Korintus 15: 58

Bagi mereka yang mencari pekerjaan di zaman ini, keadaan sudah tidak seperti 50 tahun yang lalu. Sekarang, dengan adanya kemajuan pendidikan dan teknologi dimana saja, banyak orang harus bersaing ketat untuk bisa mendapatkan pekerjaan. Walaupun demikian, jika ada kesempatan untuk memilih tempat bekerja, orang tetap berusaha untuk mendapatkan apa yang terbaik.

Apa yang menarik seseorang untuk melamar posisi dalam suatu perusahaan? Mereka yang berkecimpung dalam bidang tenaga buruh (human resources) mengatakan bahwa ada beberapa hal yang diharapkan oleh pelamar, antara lain:

  • Nama perusahaan
  • Penghasilan besar
  • Jam kerja fleksibel
  • Kemajuan karir
  • Lingkungan kerja yang baik
  • Atasan yang bijaksana
  • Kesempatan untuk berpartisipasi secara aktif

Jika hal diatas adalah mengenai pekerjaan duniawi, mereka yang mencari hal surgawi mungkin juga merasakan keinginan yang serupa. Banyak orang yang ingin menemukan kebahagiaan rohani, melihat berbagai alternatif kerohanian yang ada dan memilih apa yang diperkirakan akan membawa kepada kepuasan rohani. Sayang, diantara orang-orang yang mencari alternatif rohani yang terbaik, kemudian jatuh kedalam pilihan yang nampaknya memberikan jalan pintas untuk memperoleh kepuasan “karir rohani”.

Bagi orang Kristen sejati, hal mengikut Yesus bukanlah suatu misteri. Yesus pernah berkata bahwa siapa yang mau bekerja untuk Dia haruslah mau dan siap berjuang untuk kemuliaan Tuhan. Jika banyak orang mendambakan adanya sarana dan lingkungan yang “super” dalam karir duniawi, kerap kali orang Kristen justru harus bisa menjalani hidup seperti Yesus dalam menjalani hidup sehari-hari. Memang, kepada mereka yang mau mengikutNya Yesus berkata:

“Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Lukas 9: 58

Lebih dari itu, hidup sebagai pekerja Kristus menurut Alkitab tidak pernah dihubungkan dengan kesuksesan dan kenikmatan duniawi. Memang, jika ada ajaran bahwa mengikut Yesus selalu akan membawa kesuksesan karir dan kenyamanan hidup, tentunya banyak orang yang ingin mengikutinya sebab itu tidaklah sukar. Tetapi, Yesus justru berkata bahwa kita harus memilih jalan yang sempit, bukan jalan yang lebar dan terlihat mudah. Bukan memilih sesuatu yang terlihat megah dan memikat, tetapi sesuatu yang benar dan abadi.

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7: 13 – 14

Pagi ini kita belajar bahwa bekerja untuk Tuhan bukanlah untuk mencapai tujuan dan kebesaran manusia. Jika kita mau bekerja untuk Tuhan, apapun yang kita kerjakan hari ini tidak perlu menghasilkan sesuatu yang terlihat hebat di mata manusia, tetapi sesuatu yang bisa memuliakan Tuhan. Dengan menjadi pekerja yang baik, persekutuan kita dengan Tuhan akan makin diperkuat hari demi hari, dan berkatNya akan makin melimpah dalam hidup kita.

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3: 23