Hal menagih janji Tuhan

“Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55: 9

Masa kecil adalah masa dimana seorang anak hidup bergantung kepada orang tuanya. Bagi kebanyakan orang, ingatan yang terkadang muncul tentang masa kecil bisa merupakan nostalgia yang indah, saat dimana orang tua terasa mengasihi dan mencukupi kebutuhan anaknya.

Pada saat-saat tertentu, orang tua mungkin menjanjikan sesuatu kepada sang anak. Jika janji itu kemudian tidak kunjung tiba, sang anak mungkin mengingatkan orang tuanya, alias menagih janji. Kadang, jawaban atas tagihan anak adalah sesuatu yang positif, tetapi seringkali juga dijawab lagi dengan kata “besok”. Seperti banyak anak yang lain, terkadang sulit bagi seorang anak dalam keterbatasan pengertiannya, untuk menerima penundaan pelaksanaan janji orang tuanya. Tetapi, bagaimanapun juga seorang anak harus bisa menerima kenyataan, bahwa hidupnya bergantung kepada orang tuanya.

Hidup orang Kristen juga bisa dibayangkan sebagai hidup anak-anak Tuhan yang sepenuhnya bergantung kepada Bapa yang di surga. Berbeda dengan orang tua di dunia, Sang Bapa adalah Tuhan yang maha kuasa dan maha kaya. Karena itu orang Kristen percaya bahwa tidak ada apapun yang tidak bisa dilakukanNya untuk anak-anakNya. Tuhan pasti menolong mereka yang membutuhkan apa saja, begitu pikiran mereka yang memegang janji-janji Tuhan dalam Alkitab.

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau.” Mazmur 23: 1- 2

Mereka yang berpegang pada janji-janji Tuhan, seringkali melupakan atau mengabaikan adanya janji yang bersifat umum (untuk semua orang Kristen) dan janji khusus kepada orang tertentu. Mereka juga sering tidak menyadari bahwa Bapa kita di surga adalah Tuhan yang maha bijaksana, berbeda dengan orang tua kita di dunia.

Memang dalam kehidupan di dunia, anak-anak Tuhan selalu dibimbing dan dilindungiNya. Tuhan tahu apa yang terbaik untuk anak-anakNya, dan karena itu kita tidak perlu “merengek-rengek” kepadaNya. Tuhan tahu apa kebutuhan kita, sebelum kita memintanya.

“Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” Matius 6: 7 – 8

Tuhan tahu apa yang kita perlukan. Tetapi apa yang kita perlukan belum tentu sama dengan apa yang kita inginkan. Apa yang diinginkan oleh banyak orang Kristen seringkali adalah kesuksesan, kekayaan, kesehatan atau kenyamanan hidup. Padahal, kesuksesan, kekayaan, kesehatan ataupun kenyamanan hidup justru bisa menjadi sesuatu yang bisa menjauhkan kita dari Tuhan.

Memang, dalam mengejar keinginan duniawi, orang bisa lupa bahwa keselamatan jiwa adalah lebih penting dari segala macam kekayaan, dan mungkin juga tidak menyadari bahwa tujuan Yesus datang ke dunia adalah untuk menyelamatkan jiwa manusia.

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” Lukas 9: 25

Di zaman modern ini, segala cara mungkin bisa diperbuat manusia untuk “menagih” janji Tuhan. Bukan saja dengan doa yang bertele-tele, tetapi juga dengan doa-doa dan lagu-lagu yang menuntut agar Tuhan memberikan apa saja yang diingini. Sebagian mungkin dengan menyuarakan permintaan dengan suara lantang yang mengingatkan bahwa Tuhan mempunyai janji -janji kepada mereka. Itu yang disebut positive confessions atau positive affirmations, yang sepertinya adalah tindakan mengamini janji Tuhan, tetapi sebenarnya tidak lain adalah tindakan menagih apa yang pernah dijanjikan Tuhan kepada siapapun, dimanapun dan kapanpun, tanpa melihat konteksnya.

Memang ada orang Kristen yang merasa bahwa Tuhan adalah seperti orang tua kita di dunia, yang terkadang lupa atau tidak sadar akan kebutuhan anaknya, dan karena itu perlu diingatkan terus-terusan. Ada juga yang merasa bahwa jika Tuhan tidak memenuhi tuntutan mereka, mungkin itu disebabkan karena mereka kurang beriman atau kurang sungguh-sungguh dalam berdoa. Tetapi, semua anggapan diatas adalah keliru karena Tuhan adalah Tuhan yang maha kuasa dan maha bijaksana. Tuhan mempunyai rancangan-rancangan yang tidak dapat kita mengerti. Tuhan tidak pernah lupa atau membuang-buang waktu.

Pagi ini kita harus sadar bahwa Tuhan tahu apa yang kita butuhkan dan Ia mempunyai rencana khusus untuk setiap anakNya. Kita tidak dapat menagih janji Tuhan, tetapi harus yakin bahwa sebagai Tuhan yang maha kasih, Ia tahu apa yang terbaik untuk kita. Kita berhutang besar kepada Tuhan atas keselamatan yang diberikanNya, tetapi Tuhan yang maha kuasa tidak berhutang sepeser pun kepada kita.

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?” Roma 11: 33 – 35

Bukan asal percaya

“Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” Yakobus 2: 22

Sebuah lagu sekolah minggu yang cukup terkenal pada waktu saya masih kanak-kanak adalah lagu “Percaya saja” yang syairnya berbunyi:

Percaya saja, percaya saja

Percaya yang b’ri kita menang

Percaya saja di dalam darah-Nya

Percaya tentu kita menang

Lagu ini sederhana syairnya dan mudah dinyanyikan, karena itu banyak anak sekolah minggu yang bisa menyanyikannya di luar kepala. Bukan saja di sekolah minggu, lagu ini juga cukup terkenal diantara kaum dewasa yang menyadari bahwa karena darah Kristus telah dikucurkan di kayu salib, mereka yang percaya sudah memperoleh kemenangan atas kuasa iblis, kemenangan atas maut.

Lagu di atas adalah sangat sederhana, tetapi maknanya seharusnya dikaitkan dengan Yohanes 3: 16:

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Pada pihak yang lain, ada orang Kristen yang menyanyikan lagu ini dengan bersemangat karena percaya bahwa Tuhan selalu akan membawa kemenangan dan keberhasilan dalam menghadapi persoalan apapun di dunia. Ini tentunya pengertian yang kurang benar.

Percaya saja, itu kelihatannya hal yang mudah dilakukan. Untuk bisa beriman, sebagian orang mungkin mengira bahwa mereka cukup mengakui bahwa Tuhan itu ada, dan percaya bahwa Ia adalahTuhan yang maha kuasa. Orang lain mungkin berpandangan bahwa jika ada orang-orang yang bisa berbuat berbagai amal kebaikan di dunia, mereka pasti mempunyai iman. Benarkah begitu? Tentu tidak!

Iman bukanlah usaha manusia, tetapi adalah pemberian Tuhan. Iman adalah salah satu pernyataan kasih Tuhan yang tidak mudah dimengerti. Mengapa Tuhan yang maha besar mau memberikan iman kepada manusia yang berdosa? Karena kasihNya kepada manusia, Tuhan ingin agar manusia bisa mengerti arti pengurbanan Kristus sehingga manusia mau menerima Yesus sebagai Juru Selamat mereka.

Tuhan mengaruniakan iman yang membawa keselamatan menurut kehendakNya supaya tidak ada orang yang bisa menyombongkan diri atas iman yang dimilikinya.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2: 8 – 9

Walaupun setiap orang yang sudah menerima Yesus tentunya diselamatkan karena adanya iman, Tuhanlah yang menentukan seberapa besar iman yang ada. Iman yang besar memang membawa keuntungan dalam menghadapi tantangan kehidupan, tetapi setiap orang harus bersyukur atas iman yang dimilikinya dan memakainya dalam hidup sehari-hari.

“Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” Roma 12: 3

Dengan demikian, kekaguman kita atas kuatnya iman seseorang adalah keliru, sebab kita sebenarnya harus kagum dan bersyukur atas besarnya kasih anugerah Tuhan yang menyempurnakan iman orang itu.

Pagi ini, dari ayat pembukaan diatas, kita harus menyadari bahwa karena iman yang membawa keselamatan itu datang dari Tuhan, kita harus senantiasa bersyukur kepadaNya dalam setiap keadaan. Kita yang beriman seharusnya memakai dan memeliharanya agar iman itu tetap hidup dan makin lama makin bertumbuh dalam kasihNya.

Iman yang tidak selalu disertai kehidupan yang penuh rasa syukur kepada Tuhan, dan iman yang tidak memuliakan Tuhan dalam segala perbuatan, adalah iman yang lambat laun akan menjadi mati. Sebaliknya, iman yang disertai dengan kepercayaan penuh bahwa anugerah Tuhan adalah cukup untuk kita, akan bertumbuh dan menjadi makin sempurna dalam Tuhan. Biarlah kita mau menyatakan iman kita dalam segala segi kehidupan kita sehingga kemenangan Kristus atas maut dapat lebih makin terasa dalam hidup ini!

“Kami wajib selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara. Dan memang patutlah demikian, karena imanmu makin bertambah dan kasihmu seorang akan yang lain makin kuat di antara kamu.” 2 Tesalonika 1: 3

Menjadi semakin dewasa dalam iman

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.” 2 Korintus 4: 16

Di Indonesia ada beberapa panggilan untuk mereka yang sudah berumur, seperti manusia lanjut usia, golongan senior, kaum lansia atau golongan usia senja. Lansia (lanjut usia) ialah suatu fase kehidupan di mana biasanya kemampuan akal dan fisik mulai menurun.

Sebenarnya, sejak dilahirkan manusia mengalami proses penuaan. Hanya saja, proses penuaan tubuh sebelum usia 25 umumnya bisa diperbaiki, sedangkan mereka yang sudah mencapai usia 40, proses penuaan yang terjadi akan bersifat permanen.

Menjadi tua adalah suatu proses yang ditakuti banyak orang karena ada hubungannya dengan menurunnya kesehatan, kemampuan jasmani dan penampilan. Berbagai usaha yang dilakukan manusia untuk memperlambat proses penuaan, sudah dikenal sejak zaman dulu. Dan di zaman ini, kemajuan medis dan teknologi mungkin lebih bisa membuat manusia tampak lebih muda dari usia yang sebenarnya, baik secara nyata maupun maya. Walaupun demikian, umur manusia Tuhanlah yang menentukan.

Jika manusia berusaha keras untuk memperbaiki penampilan jasmaninya, hal memperbaiki kemampuan rohani agaknya terlupakan. Tetapi, dari ayat yang ditulis oleh rasul Paulus diatas, kita seharusnya sadar bahwa mereka yang mengikut Kristus berbeda dengan orang lain. Walaupun keadaan lahiriah mereka semakin merosot, namun keadaan batiniah mereka makin baik, karena dibaharui dari sehari ke sehari. Selama mereka hidup, mereka menggunakan kesempatan yang ada untuk bisa menjadi semakin dewasa dalam iman.

Berapakah umur anda saat ini? Mungkin anda masih tergolong kaum muda, dan karena itu hal menjadi tua belum pernah terpikirkan. Mungkin juga anda tidak lagi dapat dikatakan muda, tetapi dalam kesibukan hidup anda merasa sehat dan penuh semangat untuk membangun karir dan rumah tangga. Atau mungkin anda sudah mencapai usia lanjut dan merasa bahwa kesehatan adalah masalah yang paling utama. Berapapun umur kita, pertanyaan yang sama harus kita jawab. Apakah secara rohani kita sudah tumbuh menjadi semakin dewasa, dan makin hari makin kuat dalam iman?

Pagi ini kita bangun dan melihat sinar matahari yang sama, dan menghirup udara yang tidak berbeda. Tetapi setiap orang memiliki keadaan jasmani dan rohani yang berbeda. Apa yang bisa kita lakukan dalam hal lahiriah kita adalah terbatas, karena setiap manusia pada akhirnya akan mengalami kemerosotan secara jasmani. Tetapi apa yang bisa kita lakukan dalam hal batiniah tidaklah ada akhirnya, karena dengan iman kita bisa terus bertumbuh hari demi hari, makin lama menjadi semakin menyerupai Kristus.

Jika kita sadar bahwa hidup jasmani kita bergantung kepada kemurahan Tuhan, kesadaran yang serupa harus ada untuk menjalani hidup kerohanian kita. Kedewasaan rohani tidak akan terjadi jika kita tidak mau mempersilakan Roh Kudus untuk bekerja dengan bebas dalam hidup kita. Dengan memusatkan hidup kita kepada Tuhan dan firmanNya, biarlah hidup kerohanian kita boleh makin dikuatkan hari demi hari oleh kuasa dan bimbingan Tuhan.

Perjuangan melawan diri sendiri

Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Roma 7: 19

I am what I am (aku adalah aku) adalah semboyan tentang orang yang bangga dengan keadaannya, dan karena itu meminta pengertian orang lain agar menerimanya sebagaimana adanya. Lagu dengan judul yang sama pernah dinyanyikan oleh penyanyi terkenal Shirley Bassey dan Gloria Gaynor, dan bahkan muncul sebagai lagu anak-anak di sebuah acara TV. Lebih dari itu, lagu ini pernah dinyanyikan dalam sebuah show Broadway Musical, La Cage aux Folles, yang menceritakan kehidupan kaum LGBT.

Sekalipun slogan ini mempunyai maksud baik, yaitu untuk memberi rasa percaya diri kepada orang-orang yang, karena keadaan jasmani atau cara hidup mereka, dipandang rendah atau dikucilkan masyarakat, sebenarnya tidak ada orang yang bisa berkukuh dengan cara hidupnya dan yakin bahwa apa yang ada sudahlah baik dan tidaklah perlu diubah.

Mungkin anda ingat bahwa ketika Musa diutus Allah untuk memimpin umat Israel, pada waktu itu ia menemui Allah yang menampilkan diri sebagai api ditengah semak duri. Musa kemudian menanyakan nama apa yang bisa dipakainya untuk menjelaskan bani Israel tentang siapa Allah itu. Allah kemudian menjawab bahwa namaNya adalah “Aku adalah Aku” (Keluaran 3: 14), yang mungkin bisa diartikan sebagai “Aku yang tidak ada tandingannya”. Dengan demikian, slogan “aku adalah aku” mungkin kurang tepat untuk dipakai manusia, karena untuk manusia yang tidak sempurna, semboyan itu terasa bernada sombong.

Jauh dari sempurna, manusia adalah mahluk yang berdosa. Kedatangan Yesus ke dunia adalah dengan maksud untuk menyelamatkan manusia dari kematian akibat dosa mereka. Memang Yesus menerima manusia sebagaimana adanya, dan mau memberi anugerah keselamatan kepada siapa saja yang percaya, tetapi siapapun yang menerima Yesus haruslah mengalami perubahan hidup. Hidup lama untuk dunia harus berubah menjadi hidup baru untuk Kristus. Hidup yang dulunya bergelimang dosa haruslah berubah menjadi hidup yang menurut Firman.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Perjuangan hidup untuk menjadi anak-anak Allah tidaklah mudah. Iblis dari mulanya selalu berusaha membuat manusia agar menjauhkan diri dari Tuhan. Dalam berbagai kesempatan, iblis berusaha meyakinkan manusia bahwa mereka adalah mahluk istimewa dan tidak memerlukan Tuhan. Mahluk yang berkuasa di dunia dan bangga atas eksistensi, hak dan kemampuan mereka untuk hidup seperti yang mereka ingini. Sikap itulah yang justru bisa membawa manusia jauh dari kasihTuhan.

Seringkali, walaupun kita sadar tentang apa yang baik yang harus kita lakukan, tetapi bukanlah itu yang kita perbuat, melainkan apa yang tidak kita kehendaki, yaitu yang jahat, yang kita perbuat. Karena itu, perjuangan kita untuk mengikut Yesus adalah perjuangan untuk melawan diri kita sendiri, untuk mengalahkan keakuan kita.

Pagi ini kita diingatkan bahwa kita tidak boleh berpandangan bahwa jika Tuhan ingin agar kita menjadi pengikutNya, Ia harus mau menerima kita dan cara hidup kita, karena “aku adalah aku”. Sebaliknya, kita harus mengakui setiap dosa dan kelemahan kita, agar Tuhan yang maha kasih memberikan pengampunan dan kekuatan, sehingga makin hari kita bisa makin sempurna didalam Dia.

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” Lukas 9: 23

Tidak jauh berarti belum sampai ke tujuan

Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. Markus 12: 34

Dalam Alkitab ada banyak kata “bijaksana” yang bisa kita ditemui. Memang diantara sifat baik yang diharapkan dari setiap orang Kristen, kebijaksanaan adalah sesuatu yang sangat penting. Menuruti tradisi Salomo, banyak orang yang percaya bahwa kebijaksanaan adalah yang harus dicari manusia dengan sepenuh hati. Karena itu, adanya filsuf-filsuf di dunia ini, dari dulu sampai sekarang, merupakan bukti pentingnya kemampuan manusia untuk bisa menjawab berbagai pertanyaan dalam hidup.

Para filsuf yang ada di dunia ini memang adalah orang-orang pandai, dan apa yang pernah diajarkan mereka sudah menjadi bahan pemikiran mereka yang senang mendalami filsafat atau philosophy. Nama-nama seperti Bertrand Russell, Rabindranath Tagore dan Mao Zedong termasuk dalam daftar filsuf abad 20, sekalipun itu bukan berarti bahwa cara hidup mereka harus dicontoh.

Dalam Markus 12: 28 – 34 ditulis bahwa seorang ahli Taurat, yang dianggap sebagai orang bijak yang paling tahu mengenai hukum Tuhan, datang menemui Yesus. Orang itu sudah mendengar tentang Yesus yang selalu memberi jawab yang tepat atas pertanyaan berbagai orang pandai. Dengan kesungguhan, orang itu bertanya kepada Yesus: “Hukum manakah yang paling utama?”. Yesus dengan tanpa mempersoalkan motivasi orang itu, menjawab bahwa hukum yang utama adalah untuk mengasihi Tuhan dan sesama manusia.

Atas jawaban Yesus, ahli Taurat itu menyatakan persetujuannya. Jawabnya:

“Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” Markus 12: 33

Yesus yang mendengar jawaban bijaksana dari ahli Taurat itu menjawabnya dengan singkat: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” . Yesus merasa senang bahwa orang itu tahu dan mengerti apa yang benar dan bijaksana. Bahwa kewajiban setiap manusia seharusnya adalah mengasihi Tuhan dengan sepenuh hidup kita dan juga mengasihi sesama manusia, dan bukan sekedar memuji Tuhan dan memberi persembahan. Tetapi kemampuan untuk berpikir dan menjawab dengan kebijaksanaan seperti itu, tidaklah menjamin bahwa seseorang sudah menjadi pengikut Tuhan.

Pagi ini, mungkin kita sudah mengambil keputusan yang bijaksana untuk pergi ke gereja dan berbakti kepada Tuhan. Keputusan siapapun untuk mau ke gereja adalah satu tindakan yang membuat orang itu satu langkah lebih dekat kepada Tuhan, one step closer to God. Tetapi itu bukan berarti kita sudah mencapai tujuan kita, yaitu menjadi pengikut Tuhan sepenuhnya.

Jawaban yang bijaksana tidak akan menjadi tindakan bijaksana jika Tuhan tidak memberikan kekuatan kepada kita untuk melaksanakannya. Dengan kekuatan sendiri, tidaklah mungkin kita bisa melakukan apa yang kita janjikan atau percayai. Hanya dengan bimbingan Roh Kudus kita bisa mengubah hidup kita hari demi hari, untuk menjadi pengikut Yesus sepenuhnya. Biarlah kita terus mau berdoa memohon bimbingan Tuhan agar kita mendapat kekuatan untuk tetap bisa hidup dalam kasih dimana saja dan kapan saja.

Makin dekat, Tuhan, kepadaMu;

walaupun salib tlah mengangkatku,

tetaplah laguku: Dekat kepadaMu;

makin dekat, Tuhan, kepadaMu.

Roda kehidupan terus berputar

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” Pengkhotbah 3: 1

Sabtu terasa baru saja berlalu, sekarang sudah hari Sabtu lagi! Kemana hari-hari ini pergi berlalu? Orang bilang: waktu cepat berlalu menunjukkan kesibukan hidup, itu ada benarnya. Tetapi, sekalipun kita tidak terlalu sibuk, hidup terasa berubah cepat dengan adanya kejadian-kejadian di sekeliling kita, seperti perubahan-perubahan dalam karir, kesehatan, teknologi, keluarga, dan negara.

Banyak perubahan yang harus kita terima saja, tanpa kita bisa berbuat sesuatu. Itulah yang membuat kita sering merasa prihatin, terutama jika perubahan nampaknya tidak membawa kebaikan. Perubahan itu bisa datang dari dalam diri kita sendiri sebagai faktor internal, ataupun dari orang lain atau faktor eksternal lainnya. Bertambahnya umur yang untuk sebagian orang adalah sesuatu faktor internal yang membawa kematangan, untuk orang lain mungkin mendatangkan berbagai masalah, terutama kesehatan. Masalah eksternal yang datang dari luar diri kita sudah tentu lebih sulit diduga akibatnya, tetapi selalu terjadi sebagai bagian dari dinamika kehidupan.

Penulis ayat diatas adalah Raja Salomo yang terkenal karena kebijaksanaannya. Ia menulis bahwa segala sesuatu ada masanya, ada waktunya, dan kita tidak dapat menhindari kenyataan ini. Ada waktu untuk bergembira, ada waktu untuk berduka. Ada saat kita sehat, tetapi ada saat kita sakit. Apa yang terjadi mungkin sering dipandang sebagai kehendak Allah yang tidak dapat dihindari dan karena itu sebagian orang hanya bisa menerima semuanya dengan pasrah.

Sebagai orang percaya, memang kita yakin bahwa Tuhan berkuasa atas alam semesta. Apapun yang terjadi dalam hidup kita adalah dengan sepengetahuanNya. Tuhan adalah Tuhan yang maha tahu. Tuhan juga maha kuasa, yang sudah menetapkan hal-hal tertentu untuk terjadi pada saatnya. Walaupun demikian, manusia yang diciptakanNya di dunia, bukankah seperti robot-robot yang hanya bisa melakukan sesuatu dengan perintah Tuhan. Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk mengambil keputusan, dan iblis pun tahu bahwa dengan adanya kebebasan manusia, ia masih mempunyai kesempatan untuk menghancurkan kebahagiaan mereka.

Pagi ini, ayat diatas menegaskan bahwa adanya perubahan dalam hidup kita di dunia ini haruslah bisa kita terima. Jika kita membaca seluruh pasal dalam kitab Pengkhotbah 3, kita akan menyadari bahwa sekalipun kita tidak mengerti arti perubahan dalam hidup kita dan apa yang terjadi di sekitar kita, kita harus percaya bahwa Tuhanlah yang berkuasa atas segalanya.

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Pengkhotbah 3: 11

Kitab Pengkhotbah 3 juga menjelaskan bahwa sebagai manusia, kita harus sadar akan keterbatasan kita. Kerapkali, kita menerima kebebasan dan kemampuan yang kita terima dari Tuhan sebagai mandat untuk memaksakan kehendak kita. Kita lupa bahwa manusia bisa, boleh dan bahkan harus berusaha, tetapi kehendak Tuhanlah yang akhirnya akan terjadi. Karena itulah, setiap umat percaya seharusnya mencari kehendak Tuhan dan tidak menyia-nyiakan hidup mereka untuk berusaha menemukan apa yang mereka kehendaki.

Kitab Pengkhotbah 3 juga menulis bahwa hidup ini adalah sebuah kesempatan untuk menikmati apa yang kita sudah terima dari Tuhan. Kegalauan hati dan pikiran tidak akan menolong kita karena kita memang tidak sepenuhnya bisa mengerti apa maksud Tuhan dalam hidup kita. Tetapi berbagai tokoh Alkitab seperti Jusuf, Abraham dan Musa, menyerahkan semua kekuatiran mereka dalam menjalani hidup di tanah yang asing. Mereka bisa menikmati hidup di dunia dengan menyerahkan hidup mereka kedalam bimbingan Tuhan.

“Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.” Pengkhotbah 3: 13

Pagi ini, mungkin kita merasa bahwa kita kehilangan kontrol atas hidup kita. Pengkhotbah 3 bertanya adakah yang bisa kita lakukan untuk mengatasi rasa putus asa yang mungkin timbul dalam hidup kita. Adakah sesuatu yang bisa kita andalkan? Salomo menulis bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menguasai jalannya semua peristiwa kehidupan, tetapi bagi mereka yang takut akan Tuhan, hidup ini adalah suatu kepastian: Tuhan akan membimbing mereka dalam keadaaan apapun.

“Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia.” Pengkhotbah 3: 14

Amazing Grace: Karena Tuhan sudah memilih kita

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.” Yohanes 15: 16

Pernahkah anda memikirkan bagaimana anda bisa menjadi orang Kristen? Sebagian diantara kita mungkin merasa beruntung karena dilahirkan atau hidup dalam lingkungan Kristen. Sekalipun begitu, ada banyak orang yang menjadi pengikut Kristus melalui proses yang cukup lama dan rumit, yang akhirnya membuat mereka menerima anugerah keselamatan Kristus.

Hubungan antara umat percaya dan Tuhan memang berkembang dengan cara yang berbeda-beda. Walaupun demikian, ayat diatas tidak membedakan bagaimana seseorang bisa menjadi pengikut Kristus, karena dalam diri setiap orang percaya, Tuhanlah yang sudah mengambil inisiatif utama untuk memperkenalkan diriNya dan rencanaNya melalui pekerjaan Roh Kudus. Manusia tidak dapat mengenal Tuhan dan mengerti bahwa ia memerlukan penebusan darah Kristus melalui usahanya sendiri.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2: 8 – 9

Manusia memang bisa dilahirkan atau hidup di kalangan tertentu, tetapi untuk menjadi pengikut Kristus semua orang harus melalui proses yang sama, yaitu kesadaran, pertobatan dan pengabdian. Seorang mungkin dilahirkan dalam keluarga Kristen, mengaku Kristen, tetapi tidak pernah sadar bahwa ia adalah manusia yang penuh dosa di hadapan Tuhan yang maha suci. Karena itu, sekalipun ia merasa sudah mengenal Kristus, orang itu mungkin belum mengalami hidup baru. Orang yang demikian tidak mungkin bisa mengabdikan hidupnya untuk Kristus.

Jika Tuhan memilih seseorang, Roh Kudus akan bekerja mencelikkan mata orang itu untuk menyadari akan hidupnya yang penuh dosa, sekalipun ia mempunyai hidup yang baik dalam pandangan manusia. Roh Kudus juga ikut bekerja dalam mempengaruhi orang-orang dan keadaan disekitarnya untuk bisa membantu orang itu kearah pengenalan akan Tuhan yang maha kuasa dan maha suci.

Mereka yang tidak dicelikkan mata rohaninya mungkin yakin bisa mencapai keselamatan dengan usahanya sendiri, tanpa darah Kristus. Mereka yang menolak pekerjaan Roh Kudus pada akhirnya tidak mungkin untuk melihat adanya jalan keselamatan yang sudah disediakan Tuhan. Mereka jugalah yang pada akhirnya harus bertanggung jawab atas hilangnya kesempatan untuk menerima keselamatan yang sudah disediakan Tuhan. Inilah dosa yang membawa kematian.

Pagi ini, jika anda membaca renungan ini, anda boleh bertanya mengapa Tuhan sudah memilih orang-orang tertentu seperti diri anda. Ia memilih manusia agar mereka mau bertobat dari hidup lama dan mengajak mereka untuk menempuh perjalanan hidup baru bersamaNya. Tanpa inisiatif dari Tuhan, tidak mungkin kita bisa menjawab “ya” atas panggilanNya, dan tidak mungkin bagi kita untuk mengabdikan hidup kita dengan penyerahan sepenuhnya kepadaNya. Dalam hidup baru, sekalipun tetap bisa berbuat dosa, kita yang dipilih Tuhan dapat merasakan bimbingan Roh Kudus yang selalu memberi kebijaksanaan untuk berusaha menuruti firmanNya setiap hari, dan kekuatan untuk bertahan dalam iman baik dalam suka maupun duka, sampai kita menjumpai Tuhan muka dengan muka. Pujilah Tuhan yang sudah memilih kita!

Amazing grace! how sweet the sound,
That saved a wretch; like me!
I once was lost, but now am found,
Was blind, but now I see.

….

’Twas grace that taught my heart to fear,
And grace my fears relieved;
How precious did that grace appear
The hour I first believed!

….

The Lord hath promised good to me,
His word my hope secures;
He will my shield and portion be
As long as life endures.

….

When we’ve been there ten thousand years,
Bright shining as the sun,
We’ve no less days to sing God’s praise
Than when we first begun.

Mengapa pelit dengan doa?

“Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus.” Efesus 6: 18

Apa gunanya kita berdoa? Untuk menyampaikan permohonan kita kepada Tuhan agar Ia memberi apa yang kita inginkan, begitu mungkin jawaban banyak orang. Tetapi buat orang Kristen doa itu perlu untuk bisa merasakan kedekatan kita dengan Tuhan, agar Tuhan bisa menyatakan kehendakNya kepada kita. Doa adalah nafas kehidupan rohani kita.

Doa adalah sarana komunikasi kita dengan Tuhan. Makin sering kita berdoa, makin kenal kita dengan Tuhan dan makin bisa kita mengerti akan kehendakNya dalam hidup kita. Berapa kali kita harus berdoa dalam sehari? Kita boleh berdoa seberapa banyak yang kita maui. Semakin sering kita berdoa, semakin terasa kehadiran Tuhan dalam hidup kita dan semakin kuat iman kita dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Walaupun doa adalah sangat penting, dalam kenyataannya banyak orang yang merasakan bahwa berdoa hanyalah suatu kewajiban dan bukannya suatu keuntungan dengan adanya hubungan komunikasi langsung, direct line, dengan Tuhan. Dalam kesibukan sehari-hari, orang sering merasa bahwa adanya waktu yang terbatas hanyalah cukup untuk menyapa Tuhan, tetapi bukan untuk berbincang-bincang. Time is money, waktu adalah uang, begitu prinsip hidup sebagian orang. Hanya jika ada yang benar-benar dibutuhkan, barulah doa menjadi agak lebih panjang. Doa untuk orang lain mungkin hanya diucapkan jika ada waktu yang tersisa.

Dalam ayat diatas, Paulus menulis bahwa kita harus berdoa setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jaga dalam doa itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk semua orang Kudus. Apa maksudnya?

Yang pertama, doa bukanlah sekedar mengucapkan permohonan kita dengan mulut. Doa yang benar adalah dengan mempersilahkan Roh Kudus untuk membimbing kita agar kita bisa berserah kepada Tuhan dalam segala kebutuhan kita.

Dalam doa kita juga harus berjaga-jaga dari serangan atau pengaruh iblis yang ingin merusak hubungan intim kita dengan Tuhan dengan memenuhi pikiran kita dengan keinginan-keinginan jasmani, kepentingan pribadi, pikiran sesat dan keraguan akan kasih Tuhan.

Doa kita juga harus dilakukan dengan tidak berkeputusan. Ini berarti kita harus bertekun dalam doa, dan tidak mudah berputus asa. Kita bertekun dalam doa bukan untuk mengubah keputusan Tuhan, tetapi untuk selalu mencari kehendakNya agar kita bisa memohon apa yang kita butuhkan dalam keyakinan dan kedamaian.

Hal yang terakhir dalam ayat diatas adalah doa untuk orang-orang Kudus. Orang-orang disini adalah semua orang yang dikuduskan oleh darah Kristus, yaitu semua orang-orang percaya. Inilah yang mungkin sering diabaikan dalam doa “ekspres” kita, karena waktu yang terbatas membuat kita malas atau lupa untuk berdoa bagi orang lain.

Pagi ini kita belajar dari firman Tuhan bahwa doa seharusnya seperti menghirup udara. Tanpa berdoa, hidup rohani kita akan mati dan kita akan sulit untuk mengenal Tuhan dan untuk mengasihiNya. Doa bukan hanya untuk memohon sesuatu untuk diri kita sendiri. Doa untuk mereka yang membutuhkan pertolongan Tuhan tidak boleh dilupakan, agar kita bisa menyelami apa arti mengasihi sesama, terutama saudara-saudara seiman kita. Biarlah kita bisa lebih giat berdoa!

“Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus.” Yudas 1: 20

Hidup ini tidak perlu terasa terlalu berat

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Jika anda rajin membaca berita, anda mungkin tahu bahwa dalam 2 minggu terakhir ini, sudah tiga orang ternama meninggalkan dunia ini dengan cara bunuh diri. Bagi semua orang, hal bunuh diri adalah hal yang menyedihkan, tetapi mungkin juga sensitif dan tabu untuk dibicarakan. Kita merasa sedih bahwa hal itu bisa terjadi, kita mungkin merasa menyesal bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menolong. Bagi keluarga yang bersangkutan, selain rasa sedih dan menyesal, mungkin juga ada rasa malu. Bagi umat Kristen, tindakan mengambil hidup siapapun adalah bertentangan dengan firman Tuhan, karena itu di lingkungan gereja jarang ada orang yang mau membicarakannya.

Di Australia, kasus bunuh diri cukup besar. Lebih dari 10 orang meninggal diantara tiap 100 ribu penduduk setiap tahun, dan kasus diantara pria sekitar 3 kali lebih tinggi dari wanita, 15 orang dibandingkan dengan 5 orang setiap 100 ribu penduduk. Karena itu, pemerintah dan berbagai badan sosial dan gereja sangat aktif dalam kegiatan mengatasi hal ini.

Ada berbagai sebab mengapa orang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Penderitaan hidup, pengangguran, rasa malu dan kesepian mungkin adalah beberapa sebab yang umum di banyak negara, tetapi di negara barat faktor depresi sangatlah menonjol. Dalam hal depresi, ada kemungkinan bahwa faktor medis/genetik menjadi salah satu penyebabnya. Selain itu, penyalah-gunaan obat-obat tertentu dan kecanduan minuman keras bisa juga mengakibatkan depresi berat.

Sebagai orang Kristen, kita mengerti bahwa kita hidup di dunia yang penuh duri. Sejak manusia jatuh kedalam dosa, bumi ini menjadi tempat dimana manusia mengalami penderitaan sampai akhir hidupnya (Kejadian 3: 16 – 19). Di dunia ini bukan saja ada penderitaan jasmani, tetapi juga penderitaan rohani, apalagi jika orang-orang disekitar kita terasa kurang peduli dan Tuhan pun terasa jauh.

Kedatangan Yesus ke dunia sebagai Juru Selamat dunia dua ribu tahun yang lalu, adalah karunia Allah kepada seisi dunia. Dengan tugas utamaNya untuk menyelamatkan jiwa manusia, Yesus juga menyatakan kasih Allah melalui hal-hal yang bersifat jasmani, seperti menyembuhkan orang sakit dan memberi makan banyak orang. Bagi Kristus, kebutuhan jasmani dan rohani adalah perlu dicukupi di dunia ini. Ia tahu bahwa manusia harus menghadapi beban berat di dunia ini, dan Ia mau menolong mereka.

Pagi ini kita diingatkan bahwa apa yang pernah dikatakan Yesus dulu, tetap tidak berubah hari ini. Hidup itu terlalu indah untuk disia-siakan ataupun disesali. Yesus mengajak kita yang berbeban berat untuk datang kepadaNya dalam doa dan persekutuan, agar Ia, melalui Roh Kudus, bisa memberikan penghiburan dan kekuatan kepada kita dalam menghadapi tantangan hidup. Yesus jugalah yang mengajarkan kita untuk bisa dan mau mendengarkan keluh kesah orang lain, dan untuk memberikan pertolongan dan dukungan kepada mereka yang dalam keadaan sulit.

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27

Mengapa lebih mudah menjadi penonton?

“Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi” 1 Korintus 9: 25

Akhir Minggu kemarin, berbagai jenis pertandingan sport ditayangkan live di free dan cable TV di Australia, dari rugby, sepakbola, sampai tinju. Mereka yang kebetulan tidak memiliki atau berlangganan TV tetapi senang menonton acara sport, mungkin bisa pergi ke hotel atau tempat minum umum (pub) yang mempunyai layar TV besar untuk bisa menikmati acara itu secara gratis.

Memang menonton pertandingan olahraga itu bisa menjadi adiksi. Kalau banyak orang di Indonesia mungkin senang menonton acara TV sepakbola internasional, Aussie Rules football yang sangat berbeda dengan sepakbola, adalah sangat populer diantara penggemar sport TV di Australia. Sekalipun banyak penonton TV yang tidak dapat memainkan sport itu, mereka cukup senang dengan menjadi supporter tim mereka. Duduk di kursi empuk di depan TV menyoraki tim kesayangan sambil makan kacang, memang bisa membawa kenikmatan tersendiri.

Seperti para penonton acara sport di TV itu, banyak orang Kristen yang senang ke gereja di hari Minggu untuk bisa merasakan suasana syahdu, menyanyikan lagu-lagu rohani yang merdu dan mendengarkan firman Tuhan dan kesaksian mereka yang mengalami berbagai pengalaman hidup. Sekalipun mereka tidak benar-benar aktif dalam kegiatan gereja, menonton segala acara gereja mungkin sudah bisa membawa kepuasan bagi mereka. Mereka mungkin sudah bisa merasa bahagia karena digolongkan kedalam kelompok suporter Yesus, kaum pendukung Kristus.

Dalam sejarah gereja sebutan pendukung Yesus sebenarnya tidak pernah dipakai untuk menamakan orang Kristen. Orang Kristen adalah pengikut Yesus, followers of Jesus. Ayat diatas mengatakan bahwa orang Kristen adalah orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan selama hidup di dunia. Seperti seorang atlit, mereka menguasai dirinya dalam segala hal untuk memperoleh kemenangan, untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Mereka bukanlah sekedar penggemar atau penonton.

Sungguh menyedihkan bahwa di zaman ini, banyak orang Kristen yang merasa puas hanya sebagai penonton saja. Sekalipun mereka mungkin menjadi “seksi sibuk” yang mendukung kegiatan gereja, baik dengan uang maupun tenaga, tetapi bukan menjadi pengikut Kristus yang sejati dalam hidup mereka – karena segala sikap hidup dan tingkah laku mereka di luar gereja tidaklah menunjukkan adanya hidup baru dalam Kristus. Memang, karena untuk menjadi pengikut Kristus dibutuhkan adanya komitmen dan kesetiaan dalam menjalankan perintah Tuhan, banyak orang Kristen yang memilih untuk menjadi sekedar pendukung Kristus.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa sebagai pengikut Kristus kita adalah peserta sebuah pertandingan. Pertandingan untuk menghadapi segala tantangan kehidupan yang ada sampai akhir hidup kita, dengan satu tujuan yaitu untuk menang demi kemuliaan Tuhan. Manakah yang kita pilih, menjadi pendukung ataukah pengikut Kristus?

“Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” 1 Korintus 9: 25 – 26.