Dosa apa yang dibenci Tuhan?

“Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara.” Amsal 6: 16 – 19

Hari Minggu adalah hari dimana orang Kristen pergi ke gereja untuk berbakti kepada Tuhan. Di gereja, mereka bersatu dalam satu iman untuk memuji Tuhan dan mendengarkan firmanNya. Kesempatan itu juga dipakai untuk bersama-sama memohon pengampunan atas dosa-dosa yang diperbuat selama seminggu yang telah lalu.

Ada berapa dosa yang kita perbuat dalam seminggu? Tidak ada seorang pun yang tahu berapa jumlah dan macam dosa yang diperbuatnya dalam sehari, apalagi dalam seminggu. Walaupun demikian, tidak semua orang mau memikirkan hal itu. Bagaimana mungkin orang bisa menghindari dosa? Karena itulah, sebagian orang tetap hidup dalam “dosa-dosa kecil ” yang mereka lalukan tiap hari. Asal saja tidak ada “dosa besar” yang dilakukan, banyak orang merasa bahwa hidupnya cukup baik. Dalam berdoa, mungkin mereka hanya mengingat hal-hal yang buruk menurut ukuran manusia dan masyarakat setempat.

Dalam ayat pembukaan diatas, penulis Amsal menyatakan bahwa ada enam atau tujuh hal yang dibenci Tuhan, diantaranya kesombongan dan kebohongan yang sering muncul dalam hidup kita sehari-hari. Tetapi, karena Tuhan adalah maha suci, apapun yang kita anggap lumrah tetapi tidak sesuai dengan standar kesucianNya, tidak akan dapat diterimaNya. Dosa adalah dosa.

Menurut Paus Gregory dari abad VI, memang ada banyak dosa yang sering dilakukan manusia, tetapi ada tujuh dosa yang mematikan (seven deadly sins) yaitu kesombongan, iri hati, kerakusan, hawa nafsu, kemarahan, ketamakan dan kemalasan. Walaupun demikian, Alkitab tidak menyebutkan bahwa hanya ada tujuh dosa yang bisa membawa kematian jiwa.

Pengelompokan dosa-dosa kedalam tujuh jenis memang mempermudah kita untuk mengingat bahaya dosa, karena hampir semua dosa bisa dimasukkan kedalam salah satu dari tujuh kelopmpok itu. Dengan demikian, kita bisa diingatkan bahwa semua dosa adalah mematikan.

“Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 6: 23

Pagi ini kita harus sadar bahwa semua dosa, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat mata, baik yang “kecil”, yang sering muncul dan sudah diterima masyarakat setempat, ataupun sesuatu yang terlihat benar-benar jahat dan muncul di media, semuanya berasal dari hati manusia yang cacat, seperti yang pernah dikatakan Yesus:

“Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.” Markus 7: 20 – 22

Karena itu, marilah kita sadar bahwa setiap hari kita perlu memohon ampun untuk apapun yang tidak sesuai dengan firman Tuhan dalam hidup kita. Hanya dengan itu kita bisa mendekati Tuhan yang maha suci.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Tuhan tidak pernah berubah pikiran

“Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?” Bilangan 23: 19

Di negara manapun anda tinggal, tentu anda tahu bahwa ada masa-masa dimana kaum politisi giat berkampanye. Itu biasanya terjadi pada saat menjelang pemilihan umum atau pemilu. Di Australia, ada 3 pemilu yang bisa diikuti rakyat: tingkat federal atau pusat, tingkat state atau negara bagian, dan tingkat council atau kabupaten.

Pada saat berkampanye di Australia, biasanya para politisi sering muncul diantara rakyat, menyapa orang-orang setempat dan mungkin mencoba menggendong bayi -bayi yang kebetulan dibawa orang tua mereka, supaya terlihat ramah dan akrab. Para politisi itu juga memakai pakaian yang rapi dan menyampaikan janji- janji kepada rakyat yang akan dipenuhinya jika mereka terpilih.

Jika seorang calon politikus berjanji untuk melakukan sesuatu, tidaklah ada orang yang marah jika kemudian janji itu tidak dipenuhi kalau ia tidak terpilih. Tetapi, rakyat akan kecewa jika politikus yang terpilih, kemudian mengingkari janjinya karena ia berubah pikiran. Memang ada beberapa hal yang menyebabkan seorang politikus terlihat berubah pikiran:

  1. Ia tidak mau berbuat sesuatu karena memang dari mulanya ia mungkin sekedar berjanji,
  2. Ia tidak dapat mulai bekerja melaksanakan janjinya karena adanya persoalan besar yang tidak terduga.
  3. Ia sudah berusaha, tapi gagal dalam mencapai apa yang dijanjikannya.

Jika manusia bisa berubah pikiran dan gagal memenuhi janjinya, bagaimana pula dengan Tuhan? Seringkali manusia merasa bahwa Tuhan sudah menjanjikan sesuatu, tetapi apa yang kemudian terjadi adalah lain. Mungkinkah Ia hanya berpura-pura dengan janjiNya? Mungkinkah Dia berubah pikiran? Mungkinkah Dia gagal dalam usahaNya?

Tuhan adalah maha kuasa dan karena itu Ia tidak bisa gagal dalam usahaNya. Tuhan juga maha suci, sehingga Dia tidak bisa berbohong. Tuhan juga maha tahu, jadi Ia tahu apa dan kapan harus dilakukan. Jadi, tinggal satu pertanyaan: apakah Ia memang bisa berubah pikiran. Tetapi ini pun, jika benar, akan bertentangan dengan sifatNya yang maha bijaksana dan maha kasih. Lalu, bagaimana halnya dengan beberapa kejadian dalam Alkitab yang agaknya menunjukkan bahwa Tuhan berubah pikiran tentang apa yang sudah dilakukanNya?

Dalam Kejadian 6: 5 – 6 misalnya, Tuhan seakan menyesali bahwa Ia sudah menciptakan manusia di bumi. Tetapi itu hanyalah cara Alkitab menjelaskan perasaan Tuhan dengan memakai bahasa manusia, agar kita mengerti bahwa Tuhan merasa sedih atas perbuatan jahat manusia. Tuhan bukannya merasa gagal dalam pelaksanaan rencana agungNya. Tuhan tidak pernah berubah dengan kasihNya kepada manusia ciptaanNya. Janji Tuhan kepada Nuh untuk tidak membinasakan segala yang hidup, dan janjiNya untuk mengasihi seluruh umat manusia adalah tidak bersyarat, dan berlaku selamanya.

Dalam berbagai janji Tuhan yang lain, Ia selalu tetap akan dan bisa memenuhinya. JanjiNya kepada Abraham untuk menjadikan keturunannya sebagai bangsa yang besar, dan janjiNya untuk menyelamatkan manusia melalui darah Kristus sudah dipenuhiNya. Janji Tuhan seperti itu adalah janji yang bergantung pada respon manusia.

Memang janji Tuhan seringkali bersifat spesifik, dengan suatu persyaratan tertentu. Ia tidak sekedar berjanji untuk berbuat sesuatu tanpa melihat peran dan keadaan manusia. Ia selalu berjanji untuk orang-orang tertentu yang dalam keadaan tertentu. Begitu juga janjiNya untuk menyertai kita sampai akhir jaman tetap berlaku sampai saat ini, bukanlah untuk semua orang yang mengaku Kristen, tetapi mereka yang melakukan perintahNya.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 19 – 20

Pagi ini, jika kita merasa bahwa Tuhan mungkin berubah pikiran karena apa yang terjadi pada hidup kita tidaklah seperti apa yang dijanjikanNya, sebenarnya bukanlah karena Ia berubah. Tuhan tidak berubah dengan rencana dan maksudNya, tetapi Ia melaksanakan semua itu dengan melihat apa yang kita lakukan dan alami dalam hidup kita. Ia yang maha kuasa dan maha bijaksana bisa mencapai apa yang direncanakanNya pada saat yang dikehendakiNya. Biarlah kita bisa menyadari tugas apa yang harus kita lakukan sebelum berharap agar Tuhan menggenapi janjiNya!

Dosa kecil dan dosa besar

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23 – 24

Kalau saya teringat akan masa lalu saya, sering saya merasa malu dan menyesal atas berbagai perbuatan dan kelakuan saya yang tidak terpuji. Entah itu berupa iri hati, bohong kecil, mengambil barang tanpa ijin, ataupun merusakkan barang orang lain tanpa mengganti rugi, semuanya pernah saya lakukan, terutama semasa kanak-kanak dan remaja.

Memang setelah saya melakukan hal-hal yang kurang baik, sering ada rasa menyesal yang timbul di hati. Pikiran pun melayang, membayangkan bagaimana jika sekiranya saya harus mempertanggung-jawabkan perbuatan saya kepada Tuhan; apalagi ada orang-orang yang menakut-nakuti, bahwa saya akan diadili Tuhan dan semua dosa yang pernah saya lakukan akan ditayangkan di sebuah layar perak di hadapan Tuhan dan orang-orang lain setelah saya mati. Tetapi biasanya saya menghibur diri dengan memakai alasan bahwa semua yang saya lakukan hanyalah dosa-dosa kecil.

Benarkah dosa kecil akan diabaikan Tuhan? Ayat pembukaan diatas mengatakan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Ini berarti semua dosa adalah sama di hadapan Tuhan. Orang Kristen memang percaya bahwa Tuhan adalah maha suci, dan karena itu Ia membenci semua bentuk dosa. Tetapi Tuhan juga maha pengampun dan maha kasih, siapa yang percaya kepada Kristus akan mendapat pengampunan.

Dalam hal ini, pertanyaan yang terkadang muncul yaitu apakah Tuhan membedakan dosa kecil dan dosa besar dalam pengampunanNya. Apakah Ia lebih mudah mengampuni dosa yang kecil? Apakah Ia akan selalu mau mengampuni dosa kita sekalipun itu dosa besar? Ayat dibawah ini memberikan jawaban untuk kita.

“….Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Yesaya 1: 18

Bagi Tuhan tidak ada beda antara dosa kecil dan dosa besar, semua itu adalah dosa yang memerlukan penebusan darah Kristus. Jika kita bertobat dari dosa-dosa kita, Ia mau melupakan dosa-dosa kita (Ibrani 8: 12). Karena itu, setelah mendapat pengampunan kita harus berhenti dari berbuat dosa, baik besar maupun kecil. Hari demi hari, kita harus berubah menjadi makin serupa dengan Kristus.

“Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.” 1 Yohanes 3: 6

Semua dosa adalah sama dihadapan Allah yang maha suci. Yesus pernah berkata bahwa jika kita memandang seseorang dengan hawa nafsu, itu juga berarti bahwa kita sudah berzinah (Matius 5: 28). Walaupun demikian, selama kita hidup di dunia, dosa kecil tentunya berbeda dengan dosa besar. Karena itu, pemerintah sebagai wakil Allah di dunia, membedakan jenis kejahatan dan memberikan hukuman yang berbeda.

“Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.” Roma 13: 4

Dalam kenyataannya, apa yang kita anggap dosa kecil bisa dan sering bertumbuh menjadi besar tanpa kita sadari. Mereka yang sering berbohong kecil, lama-lama menjadi pembohong besar; mereka yang sering mengambil atau memakai barang orang lain tanpa ijin, lama kelamaan bisa menjadi pencuri atau koruptor; mereka yang senang mengumbar hawa nafsu dalam pikirannya, lambat laun jatuh dalam perzinahan dan berbagai hal-hal yang tidak senonoh. Mereka yang mengabaikan etika, lambat laun akan mengabaikan hukum.

Pagi ini firman Tuhan berkata bahwa dosa apapun yang kita lakukan adalah cukup untuk membawa kita ke arah kematian abadi. Hanya melalui darah Yesus, kita telah mendapat pengampunan. Karena itu, sebagai orang yang diselamatkan, kita harus berusaha untuk hidup dalam kebenaran setiap saat.

“Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi!” 1 Korintus 15: 34

Antara dua pilihan

“Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.” Filipi 1: 23 – 24

Pernahkah anda dihadapkan pada beberapa pilihan dalam hidup ini? Jika jumlah pilihan itu ada banyak, tentu sulit bagi anda untuk mendapatkan yang terbaik. Ibarat sebuah undian, dalam film Forrest Gump (1994), tokoh utama Forrest Gump (diperankan oleh Tom Hanks) mengatakan “Mama selalu bilang hidup itu seperti sekotak coklat. Anda tidak pernah tahu apa yang akan anda dapatkan.” Bagaimana pula jika pilihan itu hanya dua? Tentunya anda mengira bahwa lebih mudah untuk memilih yang terbaik?

Paulus dalam ayat diatas menghadapi dua pilihan. Bukan dua “coklat” yang terbungkus, yang tidak diketahui jenisnya. Paulus melihat dua pilihan yang jelas berbeda: meninggalkan dunia untuk menjumpai Kristus, atau tetap tinggal di dunia. Mana yang lebih enak untuknya? Sudah tentu tinggal di surga lebih enak; itu jugalah yang diyakini banyak orang, Kristen dan non-Kristen.

Sekalipun kebanyakan orang percaya tentunya sadar akan enaknya rasa “coklat” yang pertama, mungkin mereka tidak begitu antusias untuk memilihnya selagi mereka masih sehat atau berkecukupan di dunia. Mereka lebih senang menikmati “coklat” yang kedua, apalagi kalau ada kemampuan dan kenyamanan yang tersedia di depan mata. Mumpung masih bisa! Barangkali, hanya jika ada persoalan hidup yang sangat besar, manusia mulai memikirkan “coklat” yang pertama, tetapi itu mungkin saja karena terpaksa.

Dalam membaca ayat diatas kita harus sadar bahwa hidup Rasul Paulus bukannya mudah. Ia hidup dalam perjuangan: mengalami ancaman, kelaparan, sakit dan sebagainya (2 Korintus 11: 23 – 28). Ia tahu bahwa di surga, hal-hal itu tidak akan dijumpainya. Tetapi ia sadar bahwa kehendak Tuhanlah yang harus terjadi. Jika Tuhan masih menghendaki dia untuk tinggal di dunia, Paulus percaya bahwa dia harus hidup dan bekerja untuk Tuhan dan sesama.

Pagi ini, kita diingatkan bahwa pada saat ini kita masih hidup di dunia. Jika hidup kita saat ini nyaman, janganlah kita berpikir bahwa ini adalah “coklat” terbaik yang pernah kita punyai, dan karena itu kita hanya hidup untuk menikmatinya. Sebaliknya, jika kita hidup dalam perjuangan dan penderitaan saat ini, janganlah kita mengutuki rasa “coklat” yang terasa kurang enak dalam mulut kita. Hidup kita selama di dunia ini haruslah untuk membawa kemuliaan kepada Tuhan selagi kita masih bisa!

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah…” Filipi 1: 21 – 22

Tuhan tidak berhutang budi kepada kita

“Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Lukas 17: 10

Pernahkah anda berpikir, apabila anda bekerja keras untuk Tuhan, memasyhurkan namaNya, dan memberikan persembahan yang besar kepada gereja, apakah Tuhan tidak merasa berhutang budi atas kebaikan anda? Pertanyaan ini agaknya terdengar janggal, namun ada banyak orang Kristen yang merasa bahwa Tuhan kurang menghargai mereka, sekalipun mereka sudah banyak berbuat baik untuk Tuhan dan sesama. Sebaliknya ada orang-orang Kristen yang dengan bangga merasa bahwa Tuhan tentu senang dan bersyukur atas segala apa yang sudah dilakukan mereka, sehingga Ia melimpahkan berkatNya berlipat ganda.

Dalam ayat diatas, Yesus berkata bahwa kita adalah seperti hamba-hamba di hadapan Tuhan. Seorang hamba adalah milik majikan. Sebagai hamba kita tidak boleh merasa sombong bahwa kita sudah berbuat baik untuk majikan kita. Sebagai hamba, kita tidak berhak menuntut balasan dari Tuhan.

Dalam Alkitab tidak ada ayat yang mengatakan Tuhan pernah berhutang budi kepada manusia. Tuhan tidak pernah berhutang apapun kepada mahluk yang diciptakanNya. Sebaliknya, manusialah yang harus bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan karena manusia sudah diciptakanNya dari debu yang tidak berarti, menjadi satu pribadi.

“Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.” Yesaya 64: 8

Tuhan yang menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya, bermaksud agar manusia hidup untuk kemuliaanNya. Tuhan sewajarnya merasa kecewa bahwa manusia kemudian jatuh kedalam dosa. Manusialah yang harus bersyukur bahwa Tuhan masih mempunyai kesabaran untuk membimbing hidup mereka hari demi hari, dan bahkan membawa mereka ke arah keselamatan.

Banyak kepercayaan yang membuat Tuhan seperti oknum yang berhutang budi kepada manusia, dan itu termasuk orang-orang Kristen yang lupa akan kedudukannya di hadapan Tuhan. Memang orang yang sudah diselamatkan melalui darah Kristus sudah diangkat menjadi pewaris kerajaan Allah (Galatia 4: 7), tetapi sebagai manusia kita adalah orang-orang yang selalu berhutang budi kepada Tuhan. Hutang kita kepada Tuhan tidak akan pernah terbayar, karena kita memang tidak mampu membalas kasih karunia Tuhan, baik dalam hal jasmani maupun rohani.

Pagi ini kita harus sadar bahwa sebagai orang Kristen, kita harus menempatkan diri sebagai hamba yang bekerja untuk Tuhan yang maha besar. Apa yang kita lakukan, tidak sebanding dengan kebesaran dan kasihNya. Biarlah kita menyadari kedudukan kita di hadapan Tuhan dan selalu mau menghampiri Dia dengan kerendahan hati dan penyerahan hidup yang sepenuhnya.

Percaya atau tidak?

“Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.” Yohanes 3: 18

Bacaan: Yohanes 3: 1 – 21

Anda percaya kepada Yesus? Percaya tentang hal apanya? Banyak orang yang percaya bahwa Yesus adalah tokoh besar dalam sejarah. Ada juga yang percaya bahwa Ia adalah seorang guru filsafat besar di dunia. Selain itu, ada juga yang yakin bahwa Yesus adalah nabi yang terbesar yang pernah lahir di dunia. Mungkin anda juga setuju bahwa Yesus adalah manusia yang luar biasa.

Pada malam itu, Nikodemus, seorang Farisi dan pemimpin agama orang Yahudi, menyelinap keluar dari rumahnya di tengah malam untuk menemui Yesus. Ia mungkin sengaja memilih waktu yang tepat untuk menghindari sorotan publik karena ia tidak mau dikritik karena ia menjumpai orang yang tidak disenangi kaumnya. Tetapi dorongan hatinya sangat kuat untuk bisa bertemu dengan Yesus, karena ia merasa bahwa Yesus adalah seorang guru yang diutus Allah (Yohanes 3: 2).

Dalam percakapannya dengan Yesus, Nikodemus merasa heran bagaimana Yesus berkata bahwa ia harus dilahirkan kembali untuk bisa diselamatkan. Nikodemus tidak dapat mengerti apa yang dimaksudkan Yesus, karena ia tidak menyadari adanya perubahan dari hidup lama menjadi hidup baru setelah seseorang menerima Yesus, Anak Tunggal Allah yang tidak dikenalnya. Nikodemus tidak mengerti bahwa dosa manusia hanya bisa diampuni jika ia percaya dalam nama Yesus yang sudah turun dari surga sebagai Tuhan.

Banyak orang yang hidup di zaman ini, termasuk mereka yang mengaku Kristen, mempunyai pengertian seperti apa yang dimiliki Nikodemus. Mereka percaya bahwa manusia bisa mencapai surga dengan melaksanakan firman Tuhan. Dengan hidup baik, mereka percaya bahwa Tuhan yang mengasihi mereka akan membuka pintu surga.

Selain itu , orang-orang zaman ini banyak yang menekankan pentingnya paham hidup baik bersama (living together in harmony) yang diajarkan tokoh-tokoh populer dalam masyarakat. Dengan itu mereka mungkin percaya bahwa hidup baik bersama juga berarti menerima apa yang dianggap benar orang lain. Mereka mungkin berpendapat bahwa semua orang mempunyai kebenaran dan iman yang sama derajatnya dengan apa yang kita percayai. Mereka mungkin yakin bahwa hanya melalui kesediaan menerima kebenaran orang lain, manusia dapat hidup damai, walaupun orang Kristen sebenarnya wajib mengasihi semua orang, sekalipun mereka berbeda paham. Living together in harmony tidak perlu menghilangkan perbedaan yang ada.

Bagi sebagian orang, menjadi orang Kristen hanyalah soal kebetulan, karena mereka lahir dalam lingkungan Kristen. Tetapi, mereka juga percaya bahwa orang yang dilahirkan dalam lingkungan bukan Kristen, juga bisa mencapai keselamatan dengan cara lain. Mereka tidak mengerti bahwa hal lahir jasmani sebagai manusia tidaklah penting, tetapi hal lahir kembali (perubahan total) secara rohani sebagai anak Tuhan melalui Yesus adalah mutlak diperlukan untuk keselamatan jiwa. Perubahan itu tetap diperlukan secara pribadi sekalipun seseorang dilahirkan dalam keluarga Kristen.

Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Yohanes 3: 4

Dilahirkan kembali adalah saat dimana seseorang mengaku dosa dan menerima Yesus sebagai satu-satunya Juruselamatnya. Itulah hidup baru didalam Kristus, dan hidup lama sebagai manusia yang tidak mengenal Yesus sudah hilang. Dengan hidup barunya, seseorang akan berubah menjadi makin baik dalam sifat dan sikap kehidupannya hari demi hari.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Pagi ini, kita mendapat pertanyaan apakah kita benar-benar percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan. Percaya atau tidak? Barangsiapa percaya kepada Yesus, ia telah menerima pengampunan; tetapi barangsiapa tidak percaya, ia tetap berada di bawah hukuman, sebab ia tidak beriman dalam nama Anak Tunggal Allah.

Mengikut Yesus itu tidak mudah

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Matius 10: 38

Bayangkan anda berada di sebuah gereja, mengikuti kebaktian hari minggu. Jemaat saat itu sedang menyanyikan sebuah lagu Kristen yang sangat terkenal yaitu “Mengikut Yesus keputusanku” yang merupakan terjemahan lagu berbahasa Inggris “I have decided to follow Jesus“. Anda pun ikut menyanyi:

Mengikut Yesus keputusanku,

Mengikut Yesus keputusanku,

Mengikut Yesus keputusanku.

‘Ku tak ingkar, ‘Ku tak ingkar.

………………..

Dunia di b’lakang salib di depan,

Dunia di b’lakang salib di depan,

Dunia di b’lakang salib di depan.

‘Ku tak ingkar, ‘Ku tak ingkar.

Menyanyikan lagu sederhana yang bersemangat ini tidaklah sukar. Semua orang bisa menyanyikannya setelah mencoba satu bait saja. Tetapi yang jauh lebih sukar adalah melaksanakan apa yang diucapkan. Mengapa begitu?

Yang pertama, agar seseorang bisa membuat keputusan untuk mengikut Yesus, haruslah ada alasan yang kuat. Tanpa alasan yang kuat, tidaklah mungkin seseorang mau menjadi orang Kristen. Baik di zaman dulu maupun di zaman ini, hidup orang Kristen tidaklah berarti hidup yang bergemerlapan dan hidup yang mendapat perlakuan istimewa dari siapapun.

Yang kedua, adalah umum jika orang mau mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu, tetapi berharap agar ia tetap mempunyai kesempatan untuk berubah pikiran. Dengan janji untuk tidak ingkar, orang akan berpikir dua kali untuk menjadi pengikut Yesus karena keputusan yang diambil haruslah pasti, bukan hanya coba-coba. Ini berarti siap untuk menjadi pengikut Yesus di saat suka maupun duka, seumur hidup.

Dan yang ketiga, untuk menjadi pengikut Kristus orang harus meninggalkan hidup lama yang mementingkan hal-hal duniawi, dan menggantinya dengan hidup baru berpusat kepada Yesus. Hidup baru ini seringkali sulit dijalani karena adanya berbagai masalah yang datang dari orang-orang di sekitar kita dan bahkan dari keluarga kita sendiri. Malahan, banyak orang Kristen yang mengalami pelecehan dan penganiayaan di berbagai tempat di dunia.

Pagi ini, ada tiga pertanyaan untuk anda sebelum pergi ke gereja:

1. Apa tujuan anda untuk menjadi pengikut Kristus adalah untuk percaya kepadaNya, memuliakanNya dan menjalankan firmanNya?

2. Apakah anda benar-benar akan setia dalam suka maupun duka kepada Kristus sampai akhir hidup anda?

3. Apakah anda siap untuk memusatkan hidup anda kepada kemuliaan Tuhan dan siap menderita untukNya, dan bukannya hanya ingin untuk memperoleh berkat-berkatNya?

Ada begitu banyak orang yang mau menjadi pengikut Kristus dengan tujuan yang keliru, yang hanya bertalian dengan keinginan untuk menerima berkatNya. Ada juga mereka yang sering mengingkari imannya karena adanya godaan dan masalah dalam hidup. Dan ada juga mereka mengira bahwa sebagai pengikut Kristus mereka akan terlepas dari segala penderitaan. Tetapi Yesus berkata bahwa barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Dia, ia tidak layak bagi Dia. Hanya dengan menjawab ketiga pertanyaan diatas dengan benar, barulah kita bisa sungguh-sungguh menjadi pengikut Kristus!

Apakah kewajiban kita kepada negara kita?

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Ada berapakah jumlah negara di dunia? Saat ini (2018) ada 193 negara anggota PBB dan 2 negara yang hanya berstatus peninjau. Jadi, jumlah keseluruhannya adalah 195 negara. Apa yang menyebabkan terbentuknya negara? Salah satu sebabnya adanya latar belakang dan tujuan hidup yang serupa.

Tujuan hidup yang serupa memang bisa menjadi dasar filsafat kesatuan sebuah negara. Walaupun demikian, tujuan hidup tiap orang selalu ada bedanya dengan tujuan hidup orang lain, dan apa yang diingini seseorang hari ini mungkin berubah di masa mendatang. Ini mungkin salah satu hal yang kadangkala bisa menyebabkan orang kurang bisa menghargai adanya peraturan dan sistem yang ada, sekalipun semua itu dibuat dengan maksud baik.

Adanya pemerintah memang dimaksudkan untuk membawa kebahagiaan bagi semua warganya. Pemerintah merupakan suatu bentuk organisasi yang bekerja dan menjalankan tugas untuk mengelola sistem dan menetapkan kebijakan dalam mencapai tujuan negara. Karena itu, seluruh rakyat sudah sewajarnya mendukung kegiatan-kegiatan baik yang dilakukan pemerintah.

Bagi umat Kristen, pemerintah yang sah, yang sudah terpilih melalui cara yang benar adalah ada dengan seijin Tuhan. Dengan demikian, ayat diatas merupakan hal yang sangat penting untuk membina rasa hormat kepada pemimpin bangsa dan negara. Malahan, jika semua warga mau menaati firman Tuhan diatas, kesatuan sebuah negara akan lebih mudah dipelihara untuk mencapai kebahagiaan bersama.

Kebahagiaan, ketenteraman, kemakmuran dan kesatuan tidak dapat dicapai hanya dengan konsep dan pikiran, tetapi harus dengan penerapan dan perbuatan. Orang Kristen dipanggil untuk menjadi contoh masyarakat dalam hal pengabdian kepada negara mereka masing-masing. Sekalipun mereka harus menghormati Allah diatas segala-galanya, mereka juga harus tunduk kepada pemerintah yang sudah ditetapkan Allah. Ini bukan hanya dalam menaati segala hukum dan peraturan, tetapi juga dalam hal menyumbangkan apa yang perlu demi kemajuan negara.

“Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.” Roma 13: 7

Pagi ini, kita diingatkan bahwa jika menginginkan kemakmuran, ketertiban dan kedamaian dalam negara kita, kita sebagai orang Kristen terpanggil untuk menjadi teladan dengan menghormati pemerintah yang ada dengan menunaikan kewajiban kita, mencintai sesama warga dan menaati segala hukum dan peraturan negara yang ada. Seperti Allah yang sudah membawa perdamaian antara diriNya dan umat manusia melalui Yesus Kristus, kita pun harus membawa damai dimanapun kita berada karena kita sudah ditebus dengan darah Kristus.

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Aku ingin tidur nyenyak

“Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.” Mazmur 4: 8

Berbicara soal tidur, dulu saya pernah mengalami masalah kurang bisa tidur lelap karena sering bangun di tengah malam, sebab otak saya bekerja memikirkan tugas-tugas esok hari. Saya tidak bisa tidur enak karena kekuatiran bahwa saya akan melupakan hal-hal penting itu. Berdoa memohon tidur yang nyenyak sudah saya lakukan, tetapi saya kemudian sadar bahwa sayalah yang harus mengubah cara saya menghadapi tugas pekerjaan. Tuhan memberikan saya kebijakan agar saya mencatat apa saja yang harus saya lakukan diatas kertas, dan setelah itu saya tidur tanpa memikirkan hal-hal itu lagi.

Banyak orang yang mengalami kesulitan kronis untuk bisa tidur, yang sering disebut insomnia. Penyebabnya ada bermacam-macam, karena faktor medis, faktor lingkungan dan juga faktor kejiwaan memang bisa mempengaruhi kualitas tidur kita. Alkitab tidak membahas insomnia secara langsung, tetapi menghubungkan kegundahan hati (yang jelas bisa membuat orang sulit untuk tidur) dengan ketakutan, kekuatiran dan dosa. Tuhan memberikan manusia firmanNya untuk menghadapi hal-hal itu, dan tergantung kepada manusia apakah mereka mau menjalankannya.

Sebagai manusia kita tentu pernah takut. Baik ancaman dari luar maupun ancaman dari dalam tubuh kita sendiri bisa membuat kita takut sampai kita sulit untuk tidur. Padahal, firman Tuhan berkata bahwa kita tidak perlu takut kepada apapun yang tidak berkuasa membunuh jiwa.

“Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Matius 10: 28

Yesus juga sudah mengajarkan bahwa sekalipun kita melihat adanya kemungkinan untuk mengalami kesulitan di hari esok, kita tidak perlu kuatir bahwa Tuhan akan meninggalkan kita. Kesulitan hari ini kita hadapi bersama Dia, demikian juga kesulitan esok hari, itulah yang dinamakan berjalan dengan Yesus setiap hari.

“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Matius 6: 34

Tidak dapat diragukan bahwa adanya dosa bisa membuat kita sulit tidur. Berbuat dosa adalah sesuatu yang dianjurkan iblis kepada manusia di taman Firdaus dan bahkan kepada Yesus di padang gurun. Baik kemarahan yang belum hilang sebelum tidur, maupun adanya hal-hal yang jahat yang sudah atau akan dilakukan, membuat orang sulit untuk tidur nyenyak.

“Kejahatan dirancangkannya di tempat tidurnya, ia menempatkan dirinya di jalan yang tidak baik; apa yang jahat tidak ditolaknya.” Mazmur 36: 4

Pagi ini kita harus sadar bahwa apapun penyebab kesulitan tidur, kita harus berusaha mencari penyebabnya. Faktor medis mungkin bisa diatasi dengan pengobatan yang tepat dan bukannya dengan memakai obat terlarang atau cara mistis tertentu. Faktor lingkungan mungkin bisa diatasi dengan memperbaiki suasana lingkungan di mana kita tidur. Sedangkan untuk penyebab kejiwaan yang berhubungan dengan ketakutan, kekuatiran dan dosa, kita harus mau mengevaluasi dan memperbaiki hidup kita dengan bimbingan Tuhan. Selain itu, dalam keadaan apapun kita boleh berdoa seperti ayat pembukaan diatas:

Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur. Biarlah Engkau ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.

Menjadi manusia yang sempurna

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Matius 5: 48

Inginkah anda menjadi manusia yang sempurna? Pertanyaan ini mungkin dijawab orang dengan senyum skeptis. Sempurna? Apa bisa? Apa kriteria untuk menjadi manusia sempurna? Apakah bentuk tubuh, rupa, kepandaian, kesadaran, kebaikan dan sejenisnya?

Memang dengan adanya teknik kedokteran kosmetik, orang bisa mengubah bentuk hidung, bibir dan anggota tubuh lainnya untuk menjadi “sempurna”, tetapi itu bukanlah membuat fisik orang yang bersangkutan benar-benar menjadi sempurna. Selain itu, di dunia ini ada orang-orang yang mengajarkan cara kerohanian untuk menuju ke “kesempurnaan”, yang bisa membawa kesadaran manusia ke tingkat yang lebih tinggi, sehingga pada akhirnya mereka bisa mencapai surga. Semua hal-hal diatas hanyalah impian manusia saja.

Alkitab jelas menuliskan bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang sempurna. Semua orang mempunyai kelemahan fisik dan akhirnya akan mati secara jasmani. Semua orang adalah orang berdosa dan pada akhirnya juga akan mati secara rohani jika tidak diselamatkan.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3: 23

Jika tidak ada manusia yang sempurna, mengapa Yesus mengatakan bahwa kita harus menjadi sempurna seperti Allah Bapa di surga? Bukankah ini adalah sesuatu yang tidak mungkin dicapai oleh siapapun, sekalipun oleh orang-orang saleh pemimpin agama?

Apa yang dikatakan oleh Yesus adalah benar, bahwa kita harus menjadi sempurna secara rohani seperti Allah yang roh. Ini hanya bisa terjadi jika kita benar-benar menerima Yesus sebagai juruselamat kita, dan memasuki hidup baru. Kesempurnaan hanya bisa dicapai melalui darah Yesus.

“Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.” Ibrani 10: 14

Sebagai ciptaan baru, sinar kemuliaan Kristus terpancar dari hidup kita, makin hari makin menerangi sekitar kita.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Menjadi sempurna didalam Kristus tidaklah terjadi dalam sekejap mata, itu adalah proses penyucian seumur hidup. Dalam hal ini ada orang yang menafsirkan bahwa Yesus sebenarnya tidak mengharapkan kesempurnaan tetapi kedewasaan. Apapun penafsiran kata aslinya (bahasa Yunani: teleios), jelas bahwa tiap orang Kristen harus mengalami perubahan.

Pagi ini, marilah kita merenungkan apa yang sudah berubah dalam hidup kita sejak kita diselamatkan. Sudahkah kita berubah dari cara hidup kita yang lama? Apakah kita mau mendengarkan suara Roh Kudus yang selalu membisikkan pesan-pesan agar kita mengubah hidup kita? Memang dengan kekuatan sendiri kita tidak akan bisa berubah, tetapi bersama Yesus kita akan makin lama makin menyerupai Dia!

“Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.” Filipi 3: 12