“Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar.” 1 Petrus 3: 14
Semboyan “maju terus, pantang mundur” atau “ever onward, no retreat” sudah dikenal sejak lama di Indonesia, dan sering muncul pada saat Presiden Soekarno berkuasa. Semboyan ini sangat populer karena dimaksudkan untuk memberi semangat kepada mereka yang berjuang untuk menghadapi tantangan hidup.
Sebuah buku dengan judul yang sama, yang diterbitkan pada tahun 1964 oleh “Komando Operasi Tertinggi”, merupakan catatan penting dari sebuah ekspedisi ilmiah pertama di Irian Jaya. Ekspedisi Cenderawasih yang diinisiasi Soekarno pada 1963 itu merupakan kerja sama antara banyak ahli, termasuk mereka yang berasal dari Universitas Cenderawasih dan Kyoto University.
Maju terus, pantang mundur: lebih mudah mengatakannya daripada melakukannya. Memang dalam hidup ini tidaklah mudah untuk maju terus jika orang tidak yakin akan hasilnya. Mereka yang sudah mengalami jatuh-bangun dalam hidup, bisa merasakan bahwa untuk bangun kembali setelah mengalami pengalaman pahit tidaklah mudah. Tiap kali kita jatuh, sebagian rasa percaya diri ikut hilang bersama dengan datangnya rasa sakit dan malu.
Memasuki minggu yang baru ini, kita akan berhadapan dengan berbagai tantangan. Mungkin juga kita harus berjuang jatuh bangun, dan itu tidak mudah. Banyak orang yang ingin menghindari tantangan hidup, yang takut bersusah-payah, akan memilih jalan pintas untuk mendapatkan hasil secara mudah. Pelanggaran hukum dan etika adalah biasa untuk orang-orang yang menginginkan hasil yang besar dengan menghalalkan segala cara.
Walaupun godaan untuk menghindari tantangan hidup selalu ada, ayat diatas menyatakan bahwa sebagai orang Kristen kita harus siap menderita karena kebenaran selama hidup di dunia ini. Kita tidak boleh takut untuk berpegang pada kebenaran karena kita akan berbahagia pada akhirnya. Memang iman yang teguh pasti membawa kebaikan kepada mereka yang taat kepada Tuhan.
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28
Puji Tuhan! Dengan perlindungan Tuhan, perjalanan saya dari Australia ke Canada sudah dapat dilakukan dengan selamat. Pesawat saya berangkat hari Sabtu jam 10.30 pagi dari Brisbane dan mendarat di Vancouver jam 7.00 pagi pada hari yang sama. Aneh bukan? Memang karena zone waktu yang berbeda, Canada 17 jam lebih lambat dari Australia. Hari Minggu pagi di Australia atau Indonesia berarti hari Sabtu siang atau sore di Canada.
Sekitar tahun 1990 saya mengalami kesulitan besar yang membuat saya merasa bahwa Tuhan itu jauh dan sudah melupakan saya. Dalam kesusahan, saya merasa marah kepada Tuhan. Setiap hari saya bangun tidur dengan perasaan masygul atas masa depan. Tekanan hidup membuat saya mengalami stres yang juga dirasakan oleh orang-orang disekitar saya.
Bagi masyarakat umum, baptisan air yang diadakan di berbagai gereja adalah hal yang sering didengar. Orang dari agama apapun umumnya tahu bahwa mereka yang ingin menjadi orang Kristen akan menerima baptisan air di gereja mereka. Baptisan adalah tanda orang percaya.
Pagi ini, ketika saya bangun sekitar pukul 6.15 pagi, matahari belum terlihat. Suhu sekitar 10 derajat Celsius di Toowoomba. Memang pada musim dingin (winter), matahari agaknya malas bersinar. Pada hari ini matahari terbit pukul 6.45 pagi dan terbenam pukul 5.08 sore.
Dalam Lukas 12: 1 -3 Tuhan Yesus mengutarakan perasaanNya terhadap orang Farisi. Apa yang diucapkanNya adalah cukup pedas untuk ukuran telinga kita: “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi.” Yesus menggambarkan bahwa kemunafikan kaum Farisi itu seperti ragi, yang akan menyebar dan mempengaruhi murid-muridNya. Kemunafikan itu agaknya menular.
Di berbagai kota di Australia, mereka yang senang berolahraga bisa mengikuti acara boot camp yang diselenggarakan oleh berbagai klub. Acara ini biasanya berupa aktivitas fisik berat yang bisa membuat para peserta menguras seluruh tenaga, baik tubuh maupun pikiran, untuk menghadapi berbagai tantangan di alam terbuka. Sebagian orang percaya bahwa setelah mengikuti latihan berat a la militer ini, rasa percaya diri, rasa setia kawan dan kemauan untuk hidup sehat bisa tumbuh menjadi lebih besar. Tetapi bagi yang lain, pengalaman sekali saja sudah cukup untuk membuat mereka tidak mau melakukannya lagi. Tidak ada kesenangan dalam mengalami penderitaan!
Pernahkah anda mengalami suatu pengalaman yang menyebabkan anda merasa tertekan, sedih dan gundah karena apa yang anda perbuat pada suatu hari, seolah tidak dimengerti orang disekitar anda, termasuk orang-orang terdekat anda? Saya yakin setiap orang pernah merasakan “hari sial” semacam itu. Kesedihan anda mungkin bisa bertambah besar jika ada orang-orang yang mendakwa bahwa anda sudah melakukan hal yang kurang baik, padahal anda tidak mempunyai maksud jahat apapun.
Satu hal yang menarik perhatian saya ketika baru tiba di benua Australia pada tahun 1980an adalah bagaimana orang sudah belajar mengucapkan kata “thank you” sejak kecil, ketika menerima suatu pemberian. Ucapan ini adalah pernyataan rasa syukur atas kebaikan orang lain.