“Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya.” Mazmur 91: 15

Pernahkah anda mengalami kejadian yang sangat menekan perasaan dan pikiran anda? Mungkin itu disebabkan oleh keadaan di sekitar anda, atau karena sesuatu yang buruk terjadi pada diri anda, atau karena kekeliruan yang anda perbuat, dan mungkin juga karena adanya perbuatan buruk orang lain. Dalam hidup ini, masalah besar ada dimana-mana. Semakin hari seakan semakin banyak masalah yang harus kita hadapi, karena sulitnya mencari penyelesaian atas masalah yang sudah ada. Hidup kita menjadi sesak rasanya.
Sebagai orang Kristen kita percaya bahwa Tuhan kita maha kuasa dan maha kasih; karena itu kita boleh membawa segala persoalan kita kepadaNya. Walaupun demikian, sebagai manusia kita cenderung mengandalkan akal budi kita yang terbatas, daripada menggunakan iman yang berasal dari Tuhan. Dengan demikian kita seringkali tidak dapat memahami metode kerja atau modus operandi Tuhan dalam proses menolong kita. Dan oleh karena itu jugalah kita sering mengalami kesulitan bukan saja untuk berdoa, tetapi juga untuk meyakini dan merasakan penyertaan Tuhan.
Bagaimana kita bisa yakin bahwa Tuhan mendengar doa kita dan menjawabnya? Ayat diatas memberikan sebuah gambaran singkat bagaimana Tuhan bekerja menolong umatnya yang berada dalam kesulitan. Ada tiga bagian yang perlu kita teliti: (1) Bila kita berseru kepada Tuhan, Ia akan menjawab, (2) Tuhan akan menyertai kita yang dalam kesesakan, dan (3) Tuhan akan meluputkan kita dari bencana dan meninggikan kita. Jika kita mengerti akan hal-hal ini, kita akan mempunyai wawasan yang baru dalam menghadapi masalah kehidupan.
Yang pertama, bila kita berseru kepada Tuhan, Ia akan menjawab. Tuhan tahu jika kita mengalami masalah dan Ia pasti bertindak pada waktu yang sesuai dengan kehendakNya. Tidak ada apapun yang terjadi dalam hidup kita tanpa seijin Tuhan. Tuhan yang maha kasih selalu ingin memberikan yang terbaik untuk umatNya, sekalipun dunia ini selalu penuh dengan semak duri.
Jika kita berdoa, itu bukanlah dengan maksud untuk mengubah kehendak Tuhan, karena kehendak Tuhan harus terjadi. Tetapi, doa kita adalah penyerahan diri kita kepada bimbinganNya, dan menyelaraskan kehendak kita dengan kehendakNya. Jika kita berseru meminta tolong kepada Tuhan, Ia sebenarnya sudah siap menolong kita. Tetapi dengan berseru kepada Tuhan, kita akan mendengar suaraNya dan kita akan mengerti apa maksud Tuhan dalam hidup kita.
“Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.” 1 Yohanes 5: 14
Tuhan juga akan menyertai kita yang dalam kesesakan. Itu adalah yang dijanjikan Tuhan jika kita mau menghampiri Dia dan mengutarakan segala persoalan dan perasaan kita. Tuhan tidak akan meninggalkan kita seorang diri dalam penderitaan kita. Memang dalam kesesakan kita mungkin merasakan dorongan untuk lari menjauhkan diri dari segala sesuatu, karena kita tidak tahu harus berbuat apa. Tetapi, Tuhan jelas mengharapkan kita untuk lari kepadaNya, agar Ia bisa memberi kekuatan dan kesabaran kepada kita.
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28
Bagi umatNya yang mengalami masalah, Tuhan juga berkata bahwa Ia akan meluputkan mereka dari bencana dan memuliakan mereka. Ini adalah sesuatu yang harus selalu kita sadari selama kita hidup di dunia. Bahwa sebagai Bapa yang maha kasih, Tuhan tidak membiarkan kita mengalami masalah yang lebih berat dari kekuatan kita. Lebih dari itu, kita seharusnya tahu bahwa sebagai Bapa yang maha kuasa, Tuhan sanggup melindungi kita dari bencana. Tuhan akan memberikan kita kekuatan untuk menghadapi masalah apapun, sehingga kita pada akhirnya akan memperoleh kemenangan didalam Dia.
“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” Roma 5: 3 – 5
Jika anda mengalami masalah besar saat ini, semoga anda mau berseru kepada Tuhan dan memohon pertolonganNya. Ia mau mendengar, Ia akan menjawab, dan Ia akan memberikan kelepasan dan kemuliaan pada waktunya.
Minggu lalu saya bertemu dengan seorang warga senior yang pernah melanglang buana dan bekerja di berbagai negara, termasuk di Uganda, Afrika. Dengan penuh perhatian, saya mendengarkan kisah perjalanan hidupnya termasuk perjumpaannya dengan Idi Amin. Idi Amin? Siapa pula itu?
Minggu yang baru lalu saya membeli sebuah alat GPS navigation baru karena yang lama sudah berumur lebih dari lima tahun dan mulai sering macet. Tanpa alat pemandu jalan itu, saya akan sulit menentukan posisi saya dan akan mudah tersesat jika pergi bermobil ketempat yang belum pernah saya kunjungi. Dengan menggunakan alat itu bukannya saya tidak mungkin tersesat, tetapi saya akan jarang tersesat dan bahkan boleh yakin bahwa pada akhirnya saya akan mencapai tempat tujuan saya.
Bagi kita yang biasa ke gereja di Indonesia, ayat diatas mungkin tidaklah asing untuk kita. Setiap akhir kebaktian, pendeta yang bertugas akan mengangkat kedua tangannya sambil mengucapkan salam berkat yang juga diucapkan oleh rasul Paulus kepada jemaat di Korintus. Seingat saya, pada saat itu semua jemaat menundukkan kepala sambil mengamini apa yang diucapkan pendeta sebelum mereka menyanyikan lagu terakhir.
Teringat saya akan masa kecil, sewaktu orang tua mengajak saya dan adik saya untuk pergi ke luar kota. Pada waktu itu, bertamasya adalah sesuatu yang mewah dan jarang-jarang dialami, dan karena itu kami sekeluarga menantikan kedatangan harinya dengan penuh harapan. Persiapan untuk pergi bukan saja dengan memikirkan pakaian yang akan dipakai dan kegiatan apa yang akan dilakukan, tetapi bagi ibu saya adalah untuk mempersiapkan bekal makanan agar tidak perlu membeli makanan di jalan.
Commonwealth Games 2018 adalah pertandingan olahraga antar negara-negara anggota Commonwealth yang diadakan di Gold Coast, Australia , bulan April yang baru lalu. Acara besar multi-sport seperti Olympic Games ini dihadiri sekitar 4500 atlit dari 71 tim internasional. Sungguh menarik bahwa untuk mempersiapkan diri guna menghadapi acara ini, seorang atlit mempersiapkan diri paling tidak selama dua tahun dan harus menghadapi berbagai proses seleksi sebelum bisa mewakili negaranya. Banyak atlit yang sudah terpilih untuk masuk kedalam pemusatan latihan nasional, kemudian ternyata tidak bisa bergabung dalam tim negaranya karena gagal memenuhi persyaratan.
Mereka yang senang menonton drama atau pernah ikut main drama tentu tahu bagaimana seorang aktor bisa tiba-tiba menampakkan diri, mengeluarkan suara, atau membuat gerakan yang menarik perhatian penonton sehingga perhatian yang sebelumnya diberikan penonton kepada aktor lain teralihkan. Aksi drama yang mengundang perhatian ini dalam bahasa Inggrisnya dinamakan “upstaging“. Jika istilah upstaging dalam drama adalah disengaja untuk membuat drama itu makin menarik, diluar dunia drama istilah itu mungkin mempunyai konotasi yang kurang baik karena bisa diartikan sebagai “merebut pengaruh” , “mengungguli” atau “menutupi kebaikan orang lain”.
Jika anda sempat mengujungi tempat-tempat di pinggiran kota di Australia, anda mungkin bisa menjumpai adanya beberapa stand Tarot reader. Toko kecil yang menyediakan pembacaan kartu Tarot semacam ini biasanya juga menyediakan pelayanan penyembuhan penyakit secara mistis. Mirip praktek dukun di Indonesia.
Acara pernikahan Prince Harry dengan aktris Meghan Markle akhir minggu kemarin diikuti oleh jutaan pemirsa TV di seluruh dunia. Mereka yang menonton acara itu banyak yang terbuai dengan kenyataan bahwa seorang wanita yang tergolong rakyat biasa di Amerika bisa menikah dengan seorang pangeran dari istana kerajaan Inggris. Kejadian ini seolah menjadi cerita Cinderella modern, atau setidaknya menjadi kisah cinta yang paling menarik di abad ini. Karena itu, ada orang-orang yang memakainya sebagai motivasi agar tidak mudah berputus asa dalam hidup, sebab tidak ada orang yang tahu tentang “nasib baik” dan “keberuntungan” yang sedang menunggu mereka di masa mendatang.
Suatu ketika, murid-murid Yesus mendengar perintahNya untuk selalu mau untuk mengampuni kesalahan orang lain (Lukas 17: 4). Kelihatannya hal itu dirasakan mereka sebagai sesuatu yang terlalu sulit untuk dilakukan. Karena itu, mereka meminta agar Yesus memberikan tambahan iman. Permintaan yang sepertinya baik. Tetapi apa jawab Yesus?