“Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan.” 2 Timotius 2: 16
Saat ini baik di Indonesia maupun di luar negeri, mall di pusat pertokoan selalu penuh dikunjungi orang, terutama jika udara luar sedang panas. Dinginnya AC di shopping centre dan nikmatnya duduk-duduk di cafe atau restoran selalu mendorong orang untuk jalan-jalan, kumpul-kumpul dan “ngrumpi”.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, merumpi adalah acara mengobrol sambil bergunjing dengan teman sebaya atau sekelompok, biasanya dalam kelompok kecil. Untuk mengadakan acara merumpi tidaklah sulit. Apalagi dengan populernya aplikasi telepon gengam, undangan atau ajakan untuk merumpi bisa disebarkan dengan cepat dan acara kumpul-kumpul bisa diadakan di setiap tempat dan saat.
Sebenarnya acara kumpul-kumpul itu tidak ada salahnya karena jemaat Kristen yang mula-mula juga senang melakukan hal itu dan karena itu jugalah gereja bertumbuh makin lama makin besar. Tetapi, dalam acara kumpul-kumpul murid Yesus, tujuan mereka adalah saling menguatkan, saling mendoakan dan hidup dalam takut akan Tuhan; karena itu jumlah mereka bertambah banyak oleh pertolongan dan pengiburan Roh Kudus (Kisah 9: 31).
Perlu diingat bahwa keadaan pada waktu itu tidaklah aman untuk pengikut Kristus untuk bertemu dan berbakti bersama-sama. Tetapi justru dalam keadaan yang demikian, pertemuan mereka membawa berkat Tuhan karena tujuan pertemuan itu adalah untuk memuliakan Tuhan dan untuk saling menguatkan. Kejadian yang serupa juga terjadi di zaman ini – di negara-negara dimana agama Kristen dimusuhi oleh masyarakat dan pemerintah setempat; pertemuan umat Kristen tetap berlangsung dibawah tanah, walaupun dalam suasana yang kurang aman atau nyaman.
Apa yang agaknya menyedihkan di masa sekarang adalah justru dalam keadaan yang relatif aman dan nyaman di banyak negara, orang Kristen malah kurang tertarik untuk berkumpul dalam kelompok kecil guna mempelajari firmanNya. Kalaupun ada, acara kumpul-kumpul, itu mungkin saja didasari keinginan-keinginan lain seperti makan-makan, kumpul-kumpul, nostalgia atau merumpi. Ini terjadi di negara-negara yang relatif aman bagi orang Kristen untuk berkumpul dan beribadah. Acara pertemuan seperti itu bukan hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya melalui berbagai aplikasi telepon genggam atau komputer. Pertemuan serupa diantara umat Kristen untuk membahas firman Tuhan jauh lebih tidak populer jika dibandingkan dengan pertemuan sosial, chatting, yang pada umumnya disambut dengan rasa antusias setiap hari.
Sebagai orang Kristen mungkin kita sadar bahwa pada waktunya kita akan bersama-sama dengan mereka yang seiman berkumpul di surga. Apa yang akan kita kerjakan di surga? Wahyu 7: 9-10 mengatakan:
“Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Dan dengan suara nyaring mereka berseru: “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!”
Inilah kenyataannya, bahwa jika kita memilih untuk mengikut Yesus, pada saatnya kita akan berdiri bersama-sama dengan saudara seiman di hadapanNya dan mempersembahkan puji-pujian kita kepadaNya.
Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai orang Kristen, hidup kita di dunia ini bukanlah tujuan akhir kita. Karena itu, segala usaha dan persiapan kita haruslah dilakukan sedemikian rupa sebagai persiapan untuk menemui Tuhan kita yang maha suci di surga. Hidup kita di dunia oleh sebab itu haruslah diisi dengan hal-hal yang berguna untuk memuliakan Tuhan dan bukannya dengan hal-hal duniawi yang membuat kita makin jauh dari Tuhan!
Sejak dulu manusia berusaha mencari tuhannya dengan berbagai cara, tetapi segala usahanya sia-sia karena Tuhan yang maha suci tidaklah terjangkau oleh pikiran dan usaha manusia. Hanya karena Yesus sudah turun ke dunia dan mati ganti dosa, manusia bisa menyadari adanya Tuhan yang maha kasih yang bisa didekati oleh setiap orang percaya.
Barangkali anda pernah bertanya apa yang terjadi sesudah seseorang percaya kepada Yesus sebagai Juruselamatnya. Adakah sesuatu yang berubah dalam hidup seseorang yang sudah menyerahkan hidupnya kepada Yesus? Mungkin syair lagu dibawah ini bisa memberi gambaran tentang apa yang terjadi dalam hidup baru seseorang yang sudah dilahirkan kembali.
Beberapa bulan yang lalu, sewaktu saya mengendarai mobil melewati sebuah motorway antara Brisbane dan Gold Coast, saya melihat sejumlah rambu orang-orangan yang berwarna kuning berderetan di pinggir jalan. Walaupun tidak mengerti apa arti rambu itu, otomatis kaki saya menginjak rem untuk mengurangi kecepatan mobil. Memang reaksi otomatis saya ketika rambu sedemikian muncul dipinggir jalan ialah “hati-hati, ada orang lewat”. Belakangan, saya membaca bahwa memang rambu-rambu baru itu, 20 jumlahnya dan 180 cm tingginya, sengaja dibuat sebagai peringatan untuk membuat pengendara mobil lebih berhati-hati karena adanya proyek pelebaran jalan.
Di zaman ini, banyak kita temui buku-buku, ceramah, dan bahkan khotbah tentang bagaimana mencapai keberhasilan dan kebahagiaan melalui cara berpikir positif (positive thinking). Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak orang yang tertarik untuk mengikuti tren psikologi ini, dan karena itu jugalah para motivator saat ini mengalami masa kejayaan. Manusia yang merasa terhilang, yang tidak dapat merasakan penguatan dari khotbah gereja, mungkin merasa lebih disegarkan dengan pesan-pesan positif dari para motivator. Oleh karena itu jugalah banyak pendeta yang berubah fungsi, menjadi motivator dari mimbar gereja.
Hidup manusia ini sungguh menarik. Berbeda dengan hewan, manusia mempunyai ingatan dan daya pikir yang sangat kompleks. Dengan otaknya, manusia bisa mempunyai impian atau harapan untuk masa depan dan menyesuaikan hidup mereka untuk mencapai apa yang diharapkan. Sebaliknya, hewan mempunyai hidup yang hanya berdasarkan naluri dan karena itu bekerja hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dengan kemampuannya, manusia bisa mengembangkan rencana untuk hari depan, untuk mencapai yang lebih baik dari apa yang ada sekarang; dan dengan membuat berbagai rencana, manusia tentunya mengharapkan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan.
Beberapa tahun yang lalu, sewaktu saya masih tinggal di Brisbane, Australia, rumah saya terletak pada suatu daerah pinggir kota dimana ada banyak pohon dan semak. Memang daerah itu enak udaranya dan pemandangannya serasa asri. Tetapi untuk tinggal di daerah seperti itu, saya harus berhati-hati karena adanya binatang yang biasanya tidak sering dijumpai di kota yaitu ular. Australia adalah benua yang dihuni oleh ular-ular yang termasuk paling berbisa di seluruh dunia. Beberapa kali saya menjumpai ular python dan ular pohon disekitar rumah, dan itu cukup membuat saya kaget karena mereka sering muncul di tempat dan saat yang tidak terduga. Seekor ular python malahan pernah menelan hidup-hidup burung merpati saya dengan cara memaksakan dirinya melewati celah-celah sangkar burung yang terbuat dari kawat besi.
Pernahkah anda mendengar istilah Realitas Maya? Mungkin mereka yang merasa “gaptek” agak ragu menjawab pertanyaan ini. Tetapi barangkali mereka sudah pernah melihat orang lain memakai teknologi ini, seperti bermain tenis didepan layar TV atau game- game lain yang disajikan oleh Nintendo. Realitas Maya atau Virtual reality (VR) adalah teknologi yang membuat pengguna dapat berinteraksi dengan suatu lingkungan yang disimulasikan oleh komputer, suatu lingkungan yang hanya ada dalam imaginasi. Lingkungan realitas maya terkini umumnya menyajikan pengalaman visual, yang ditampilkan pada sebuah layar komputer atau melalui sebuah penampil stereokopik, tetapi beberapa simulasi mengikutsertakan tambahan informasi hasil pengindraan, seperti suara melalui speaker atau headphone.
Orang kaya sulit masuk surga. Begitulah apa yang tertulis dalam Matius 19: 24. Memang orang yang hanya dan selalu memikirkan soal harta, kesuksesan, ketenaran dan semacamnya akan mengalami kesulitan untuk memikirkan soal surga dan keselamatan jiwa. Dalam pengertian filsafat dan beberapa agama lain, kemiskinan dan penderitaan malahan diajarkan untuk dijalani, setidaknya secara simbolik atau sementara, untuk mencapai kesempurnaan hubungan dengan dewa atau tuhan mereka.
Tahun baru. Banyak harapan dan impian, begitu juga rencana dan perhitungan, agar segala sesuatu bisa berhasil dicapai di bulan-bulan mendatang. Di gereja pun, banyak khotbah-khotbah yang menekankan penyertaan Tuhan akan umatNya, yang diharapkan untuk membawa keberhasilan. Memang agaknya di awal tahun, biasanya orang ingin bersikap optimis karena tahun yang diawali dengan pengharapan positip adalah baik untuk perjuangan yang akan dihadapi. Barangkali tidak ada seorangpun yang mau bersikap pesimis dan memikirkan adanya kemungkinan untuk gagal di masa depan.