Bagaimana jawab anda?

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Matius 10: 38

Bayangkan anda berada di sebuah gereja, mengikuti kebaktian hari Minggu. Jemaat saat itu sedang menyanyikan sebuah lagu Kristen yang sangat terkenal yaitu “Mengikut Yesus keputusanku” yang merupakan terjemahan lagu berbahasa Inggris “I have decided to follow Jesus“. Anda pun ikut menyanyi:

Mengikut Yesus keputusanku,

Mengikut Yesus keputusanku,

Mengikut Yesus keputusanku.

‘Ku tak ingkar, ‘Ku tak ingkar.

………………..

Dunia di b’lakang salib di depan,

Dunia di b’lakang salib di depan,

Dunia di b’lakang salib di depan.

‘Ku tak ingkar, ‘Ku tak ingkar.

Menyanyikan lagu sederhana yang bersemangat ini tidaklah sukar. Semua orang bisa menyanyikannya setelah mencoba satu bait saja. Tetapi yang jauh lebih sukar adalah melaksanakan apa yang diucapkan. Mengapa begitu?

Himne ini terinspirasi dari kejadian nyata yang terjadi di India beberapa puluh tahun yang lalu. Pada waktu itu, di sebuah desa kecil, ada satu keluarga yang menjadi Kristen. Kejadian itu membuat seisi desa begitu marah (oleh karena desa itu memiliki kepercayaan dan dewa mereka sendiri).

Pada suatu hari, orang-orang desa berkumpul di depan rumah keluarga ini dan memaksa mereka untuk keluar. Para orang desa akhirnya menyeret seluruh anggota keluarga ini ke tengah desa. Sang kepala desa lalu mengatakan kepada bapa dari keluarga ini: “Jika kamu dan keluargamu tidak meninggalkan kepercayaan kalian ini, kalian semua akan mati!”. Bapa ini menolak. Dengan sekejap, kedua anak dari bapa ini langsung dibunuh.

Sang kepala desa lalu memberikannya sebuah kesempatan lagi; kali ini dengan nyawa istrinya yang dipertaruhkan. “Jika kamu masih menolak untuk meninggalkan kepercayaanmu ini, istrimu akan kami bunuh!” Bapa ini lagi-lagi menolak. Dengan sekejap, istrinya pun dibunuh.

Sang kepala desa lalu memberikan kesempatan terakhir kepada bapa ini; kali ini dengan nyawanya sendiri yang dipertaruhkan. “Jika kamu masih menolak untuk meninggalkan kepercayaanmu ini, kamu akan kami bunuh!” Tetapi bapa itu malah menyanyikan lagu pujian. Dengan sekejap, bapa itu pun dibunuh.

Meskipun pada hari itu satu-satunya keluarga yang memercayai Yesus Kristus dibunuh, sesuatu yang menakjubkan terjadi—sebuah benih tertanam pada hati sang kepala desa. Dia bertanya-tanya akan siapa Yesus Kristus yang membuat satu keluarga ini rela mati demi nama-Nya?

Akhirnya pada suatu hari, sang kepala desa memanggil seluruh orang-orang desa untuk berkumpul di tengah desa -tempat yang sama di mana keluarga itu dulu dibunuh. Lalu dia mendeklarasikan kepada orang-orang bahwa dia telah meninggalkan kepercayaannya yang lama, dan kini dirinya telah menjadi pengikut Yesus Kristus. Dan sejak itu, Kekristenan mulai tersebar, bukan hanya di desa itu, melainkan juga di daerah-daerah lain di sekitar desa itu.

Himne “I Have Decided to Follow Jesus” adalah himne yang sangat luar biasa karena himne itu menceritakan tentang terjadinya sebuah keselamatan besar yang disebabkan oleh karena sebuah keluarga yang tetap setia mengikut Tuhan Yesus, bahkan jika harga yang harus dibayar adalah nyawa mereka sendiri.

Pelajaran apa yang dapat kita peroleh dari kisah di atas?

Yang pertama, agar seseorang bisa membuat keputusan untuk mengikut Yesus, haruslah ada alasan yang kuat. Tanpa alasan yang kuat, tidaklah mungkin seseorang mau menjadi orang Kristen. Baik di zaman dulu maupun di zaman ini, hidup orang Kristen tidaklah berarti hidup yang bergemerlapan dan hidup yang mendapat perlakuan istimewa dari siapa pun.

Yang kedua, adalah umum jika orang mau mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu, tetapi berharap agar ia tetap mempunyai kesempatan untuk berubah pikiran. Dengan janji untuk tidak ingkar, orang akan berpikir dua kali untuk menjadi pengikut Yesus karena keputusan yang diambil haruslah pasti, bukan hanya coba-coba. Ini berarti siap untuk menjadi pengikut Yesus di saat suka maupun duka, seumur hidup.

Dan yang ketiga, untuk menjadi pengikut Kristus orang harus meninggalkan hidup lama yang mementingkan hal-hal duniawi, dan menggantinya dengan hidup baru berpusat kepada Yesus. Hidup baru ini sering kali sulit dijalani karena adanya berbagai masalah yang datang dari orang-orang di sekitar kita dan bahkan dari keluarga kita sendiri. Malahan, banyak orang Kristen yang mengalami pelecehan dan penganiayaan di berbagai tempat di dunia.

Malam ini, ada tiga pertanyaan untuk anda:

1. Apa tujuan anda untuk menjadi pengikut Kristus adalah untuk percaya kepada-Nya, memuliakan-Nya dan menjalankan firman-Nya?

2. Apakah anda benar-benar akan setia dalam suka maupun duka kepada Kristus sampai akhir hidup anda?

3. Apakah anda siap untuk memusatkan hidup anda kepada kemuliaan Tuhan dan siap menderita untuk-Nya, dan bukannya hanya ingin untuk memperoleh berkat-berkat-Nya?

Ada begitu banyak orang yang mau menjadi pengikut Kristus dengan tujuan yang keliru, yang hanya bertalian dengan keinginan untuk menerima berkat-Nya. Ada juga mereka yang sering mengingkari imannya karena adanya godaan dan masalah dalam hidup. Dan ada juga mereka mengira bahwa sebagai pengikut Kristus mereka akan terlepas dari segala penderitaan. Tetapi Yesus berkata bahwa barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Dia, ia tidak layak bagi Dia. Hanya dengan menjawab ketiga pertanyaan di atas dengan benar, barulah kita bisa sungguh-sungguh menjadi pengikut Kristus!

Menjawab panggilan Kristus

Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Lukas 9: 62

Minggu-minggu mendatang adalah saat yang menarik dalam dunia politik di Australia karena pemilihan umum akan dilaksanakan sebelum pertengahan tahun 2022. Di Australia, pemilihan umum adalah sebuah keharusan untuk setiap warga, dan kesempatan ini adalah sebuah cara untuk menyatakan kepercayaan mereka kepada orang tertentu dengan menyatakan diri sebagai pendukungnya.

Sebagai orang Kristen kita mengaku bahwa kita adalah orang beriman yang percaya kepada Yesus dan juga pengikut Yesus. Sebagian orang berpendapat bahwa setiap orang yang mengaku percaya kepada Kristus, juga mengakui bahwa mereka juga pengikut-Nya. Apakah kepercayaan kepada Kristus adalah sama dengan menjadi pendukung Yesus? Apa bukti bahwa setelah kita mengaku percaya, kita kemudian menjadi pengikut-Nya?

Dalam bahasa Yunani, kata yang dipakai untuk menjadi pengikut Yesus adalah mathetes, yang bukan saja berarti “murid”, tetapi adalah orang yang taat kepada perintah Tuhan dalam segala segi kehidupan mereka. Jika orang Farisi mengaku bahwa mereka adalah murid-murid Musa (Yohanes 9: 28), murid-murid Yesus dinamakan pengikut Yesus sebelum ada sebutan “orang Kristen”. Mereka menjadi pengikut Yesus ketika mereka mengambil keputusan untuk mengikuti-Nya (Matius 9:9). Setelah mau menjadi pengikut Kristus, mereka mau hidup dan bekerja untuk kemuliaan Tuhan.

Jika kemampuan untuk menyadari adanya Tuhan yang mahakuasa adalah datang dari Tuhan, menjadi pengikut Kristus adalah keputusan kita. Jika kita pernah menyanyikan lagu terkenal “Mengikut Yesus keputusanku”, agaknya tidak sulit untuk sekadar mengakui bahwa kita adalah orang yang dikaruniai iman oleh Tuhan dan kemudian secara otomatis menjadi pengikut Yesus. Tetapi, dalam kenyataannya, tidaklah semudah itu untuk menjalaninya.

Mengapa tidak mudah untuk menjadi pengikut Yesus? Apa syarat-syarat untuk menjadi pengikut-Nya? Memang sebagai pengikut Yesus kita harus mengasihi Tuhan dan sesama kita, tetapi untuk melaksanakan kedua hukum yang paling utama (Markus 12:30-31) kita setidaknya memerlukan dua hal yang penting: kemauan dan kesetiaan. Ada orang yang tidak pernah memiliki keduanya, sehingga ia tidak pernah bisa untuk menjadi pengikut Yesus, tetapi ada yang hanya memiliki salah satu saja, sehingga ia mungkin hanya tahan untuk menjadi pengikut Kristus dalam kurun waktu yang singkat saja.

Dalam kitab Lukas 9: 57-61 tertulis adanya seseorang yang berkata bahwa ia mau mengikut Yesus ke mana saja, tetapi Yesus menolaknya karena ia belum siap untuk menghadapi perjuangan berat sebagai pengikut Yesus. Dalam ayat 58, Yesus berkata kepadanya “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Menjadi pengikut Yesus bukan hanya berarti hidup dalam kepercayaan bahwa Tuhan sudah menyelamatkan kita, tetapi hidup dalam ketabahan dan berfokus pada kemuliaan Tuhan. Itu adalah respons dan pilihan kita kepada panggilan Tuhan.

Ada orang-orang lain yang diajak Yesus untuk menjadi pengikut-Nya karena mereka tampak sudah siap berjuang, tetapi mereka menjawab bahwa masih ada hal-hal yang lebih penting yang harus mereka lakukan (Lukas 9: 59, 61). Kepada orang-orang itu Yesus berkata bahwa setiap orang yang siap untuk membajak , yaitu mengikut Dia, tetapi masih mempunyai prioritas-prioritas lain, tidaklah layak untuk mengikut Dia karena dedikasi yang salah (ayat 62).

Hari ini, pertanyaan untuk kita yang mengaku beriman kepada Yesus adalah: Apakah kita sudah siap dan memang mau untuk menjadi pengikut Yesus? Siapkah kita untuk menjalani perjuangan hidup dengan ketaatan kepada perintah-Nya dan bekerja untuk kemuliaan-Nya? Menjadi orang beriman tidak bisa dipisahkan dari menjadi pengikut Kristus (Yakobus 2: 24), karena untuk menjadi orang Kristen tidaklah cukup dengan berdiam diri dan mengabaikan panggilan-Nya untuk menjadi seperti Dia, dan bekerja untuk memuliakan nama-Nya dengan setia, hari demi hari baik dalam suka maupun duka.

“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku.” Galatia 2: 20

Ada banyak ilah di bumi

“Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu.” Keluaran 34: 14

Jika kita membaca berita di berbagai media, sering kali kita temui berita yang menyedihkan tentang akibat kecemburuan. Rasa cemburu seseorang berasal dari rasa iri karena merasa kurang atau tidak mendapat apa yang seharusnya. Orang mungkin cemburu kepada pasangannya karena soal cinta, tetapi orang juga bisa iri karena harta ataupun nama. Iri hati, secara umum sering kali bertalian dengan adanya rasa takut, kekuatiran, kekecewaan, kepentingan diri sendiri, kesombongan atau kebencian. Dengan demikian iri hati sering kali adalah dosa, dan karena itu cemburu juga begitu. Dengan demikian, tidaklah mengherankan bahwa akibat kecemburuan sering kali menyedihkan. Dosa memang selalu membawa bencana.

Jika rasa cemburu manusia sering kali adalah dosa, bagaimana mungkin Tuhan yang mahasuci adalah Tuhan yang cemburuan? Kecemburuan Tuhan justru timbul karena Ia adalah Tuhan yang mahasuci dan mahakuasa. Sebagai Tuhan satu-satunya yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya, Tuhan menuntut ketaatan dari manusia. Ia tidak mengizinkan manusia menyembah diri sendiri, sesamanya, makhluk lain atau apa pun yang juga diciptakan-Nya. Penyembahan yang dilakukan manusia yang tidak untuk Tuhan adalah penyembahan berhala.

Jika Tuhan berhak untuk merasa cemburu karena Ia adalah pemilik alam semesta, tidakkah kecemburuan-Nya bersifat mementingkan diri sendiri? Sama sekali tidak! Tuhan yang mahakasih justru dengan kecemburuan-Nya ingin agar manusia hidup bahagia dengan ketaatan kepada sumber kehidupan mereka. Tuhan ingin agar manusia tidak terjebak ke dalam penderitaan karena memilih ilah-ilah yang tidak dapat membawa manusia ke arah kebahagiaan dan keselamatan.

Sayang sekali bahwa dalam hidup sehari-hari, manusia mudah terperosok ke dalam dosa penyembahan berhala. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang sering mendewakan para pemimpin, selebriti dan “hero” yang nampaknya karismatik dan berwibawa; mengagumi penampilan dan pesona mereka, memuja apa yang sudah dicapai oleh mereka, terobsesi dengan pengalaman dan kisah hidup mereka yang hebat, dan menganggap prestasi yang mereka capai sebagai sesuatu yang terbaik dan di atas segalanya. Dalam hal ini, Alkitab menyebutkan bagaimana cemburu Tuhan menyebabkan datangnya berbagai hukuman kepada bani Israel. Sejarah juga membuktikan bahwa Tuhan menghancurkan mereka yang ditinggikan oleh manusia.

Bukan hanya terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, pemujaan berhala juga terjadi dalam kehidupan gerejani. Pemujaan para pemimpin gereja terjadi jika jemaat menempatkan mereka sebagai pusat perhatian. Mereka yang ke gereja karena liturgi, musik atau acara, tidak lagi menyembah Tuhan. Selain itu, banyak jemaat gereja yang secara langsung maupun tidak langsung meninggikan status kesuksesan hidup sebagai bukti iman. Banyak juga pendeta yang memakai pengalaman pribadi sebagai bumbu firman Tuhan, dan yang percaya bahwa pengalaman manusia adalah setara dengan firman Tuhan.

Dalam hidup kita sehari-hari, penyembahan berhala sering tidak disadari. Apabila kita selalu menaruh kepentingan pribadi, suami, istri, dan anak di atas kepentingan Tuhan, itu bisa menjadi penyembahan ilah. Apabila kita selalu membanggakan apa yang kita capai dan miliki dalam keluarga, kita bisa lupa dari mana asalnya. Dan jika kita tunduk menyerah kepada keadaan dan keputusan dalam keluarga yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, itu pun merendahkan Tuhan.

Satu hal yang kurang kita sadari ialah adanya orang-orang Kristen yang merasa bahwa ritual, bahasa dan bangsa tertentu adalah pilihan Tuhan, dan karena itu ingin untuk meninggikannya. Obsesi dengan hal-hal semacam itu juga membuat mereka menaruh perhatian yang lebih besar pada pelaksanaan hukum daripada hubungan yang baik dengan Tuhan. Bagi mereka, pengenalan akan hukum Tuhan seolah lebih penting dari pengenalan akan Tuhan. Mereka lupa bahwa hukum-hukum itu diberikan Tuhan kepada bangsa Israel agar mereka mengenal dan tunduk kepada Allah yang mempersiapkan bangsa itu sebagai latar belakang kelahiran Yesus. Setelah Yesus disalibkan, darah-Nya menebus semua orang percaya dan itu membuat orang yang bukan Yahudi bisa menjadi umat-Nya. Kita sekarang dapat mengenal Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih dari Alkitab melalui bimbingan Roh Kudus. Kita mengabdi kepada Tuhan bukan melalui hukum Taurat tapi melalui hukum kasih.

Tuhan adalah Tuhan yang cemburu dalam kesucian-Nya. Ia tidak ingin manusia melupakan bahwa Ia adalah Tuhan semesta alam dan segala bangsa. Tuhan tidak menginginkan manusia mencoba-coba untuk mencari sesuatu yang bisa menggantikan-Nya, karena Tuhan tahu bahwa semua itu sia-sia dan justru akan membawa kehancuran.

“Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat dari pada Dia?” 1 Korintus 10: 22

Kesadaran mendorong pilihan

“Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.” Lukas 15: 18 – 19

Agaknya banyak orang Kristen yang ingat bahwa mereka dulunya adalah orang-orang yang sesat, yang kemudian mengambil keputusan untuk bertobat dan mengikut Yesus. Bagaimana mereka bisa mengambil keputusan untuk kembali ke jalan yang benar? Bagaimana mereka bisa memperoleh kesadaran atas adanya pengampunan dosa melalui darah Yesus?

Semua orang Kristen tentunya pernah membaca atau mendengar perumpamaan anak yang hilang atau the prodigal son. Perumpamaan ini diceritakan oleh Yesus untuk melambangkan hubungan antara Allah Bapa dan manusia ciptaan-Nya. Manusia yang memberontak dari kasih Allah digambarkan sebagai anak bungsu yang meninggalkan bapanya untuk berfoya-foya dengan menggunakan warisannya. Selang berapa tahun, sesudah uang warisannya habis, anak itu bermaksud untuk pulang kembali ke rumah bapanya. Anak itu menyesali apa yang sudah diperbuatnya dan hanya ingin untuk bisa menjadi hamba bapanya.

Ayat-ayat di atas adalah apa yang dipikirkan oleh anak yang hilang dalam perumpamaan itu. Kita bisa membaca kelanjutan kisah itu yang menyatakan besarnya kasih bapa yang kemudian menerima kembalinya si anak yang hilang dengan tangan terbuka. Si bapa yang sudah berharap sejak lama agar anaknya bertobat dan kembali ke jalan yang benar, bisa terlihat dengan jelas sebagai bapa yang penuh kasih, tidak hanya kepada anaknya yang hilang, tetapi juga kepada anaknya yang lain, yang tidak pernah meninggalkan dia. Kasih bapa itu adil dan abadi, dan itu tidak terpengaruh oleh apa yang dilakukan anak-anaknya; ia hanya ingin agar semua anaknya berbahagia.

Satu bahan pemikiran yang juga bisa diperoleh dari ayat di atas adalah bagaimana anak yang hilang itu menempatkan dirinya di hadapan bapanya. Ia menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh dan meminta kemurahan sang bapa untuk menerimanya kembali, bukan sebagai anak, tapi sebagai hamba. Dalam konteks iman Kristen, ayat-ayat itu menunjuk kepada kenyataan bahwa kita orang yang berdosa, adalah orang-orang yang tidak layak di hadapan Allah dan sudah kehilangan kemuliaan kita sebagai ciptaan-Nya. Kita sudah kehilangan hak untuk dipanggil umat Allah.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah…” Roma 3: 23

Apa pun yang akan dan sudah kita lakukan, tidaklah dapat membuat kita kembali menjadi orang yang layak untuk menemui Bapa kita. Hanya karena kesadaran yang diberikan Tuhan kepada kita melalui Roh Kudus-Nya, kita bisa ingat bahwa Tuhan menantikan kita untuk kembali ke jalan yang benar. Kita disadarkan bahwa kita tidak bisa menuntut pengampunan-Nya. Hanya karena kasih karunia Allah (grace), pengampunan itu diberikan kepada mereka yang dikasihi-Nya dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Pengakuan sola gratia ini tidak memberi kesempatan bagi kita untuk menyombongkan apa yang bisa kita perbuat dalam hidup kita.

“…dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 24

Hari ini, jika ada orang yang hidup dalam dosa, itu memang adalah keputusan mereka. Kehendak bebas manusia dalam hal rohani selalu menghasilkan perbuatan yang melawan kehendak Tuhan. Dalam kita hidup dan bekerja, banyak dosa-dosa yang kita perbuat, secara sengaja atau tidak sengaja. Jika dibandingkan dengan standar kesucian Tuhan, hidup kita bisa serupa dengan hidup anak yang hilang, yang sudah menyia-nyiakan hidupnya dan mempermalukan bapanya. Itu bukan karena Tuhan yang sudah membuat kita berbuat demikian; tetapi sebagai Bapa yang mahakasih, Tuhan membiarkan kita untuk menentukan pilihan kita sekalipun hati-Nya sangat sedih melihat pelanggaran kita.

Sebagai manusia mungkin kita berusaha untuk melupakan hal-hal yang jahat yang telah kita perbuat. Mungkin kita ingin menebusnya dengan banyak berbuat amal. Mungkin kita berusaha menutupinya dengan usaha untuk mencari hal-hal yang berbau kerohanian. Mungkin kita sudah berusaha untuk mengubah cara hidup kita, supaya bisa dikagumi oleh orang lain. Tetapi, semua itu tidak bisa mengubah status kita: kita adalah anak yang hilang, yang sudah tersesat dan kehilangan hak untuk menjadi anak-Nya. Hanya karena Roh Kudus yang sudah bekerja dan membawa kesadaran bagi kita, kita dapat mengambil keputusan untuk berputar balik. Hanya dengan kerendahan hati kita bisa menghampiri Tuhan dan meminta pengampunan-Nya hari demi hari, dan berjanji untuk menjalani hidup kita sesuai dengan firman-Nya sebagai pernyataan rasa syukur kita atas kasih-Nya.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2: 8 – 9

Mengambil keputusan untuk menggunakan talenta

“Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” Matius 25: 29

Perumpamaan tentang talenta adalah perumpamaan Yesus yang bisa ditemukan dalam Matius 25: 14 – 30 dan Lukas 19: 11 – 27. Perumpamaan ini sering dibahas dalam berbagai khotbah dan renungan, dan biasanya disampaikan sehubungan dengan hal menggunakan talenta atau kemampuan yang dimiliki setiap orang. Sering kali, moral yang diungkapkan adalah untuk tidak menyia-nyiakan berkat Tuhan. Walaupun demikian, perumpamaan ini mungkin lebih tepat untuk ditafsirkan sebagai hal menggunakan hidup dengan baik sebelum kedatangan Yesus yang kedua kalinya.

Apapun yang digaris-bawahi dalam mengartikan perumpamaan ini, tidak dapat diragukan bahwa perumpamaan ini dengan tegas menyatakan bahwa apa saja yang Tuhan berikan kepada kita, adalah barang pinjaman yang tidak boleh dipakai hanya untuk kepentingan diri kita sendiri. Dalam hal ini, Tuhan meminjami kita berbagai berkat, kecil maupun besar, yang sesuai dengan kehendakNya. Kita harus menggunakan semua itu untuk kemuliaan Tuhan dengan percaya bahwa Ia adalah Tuhan yang mahaadil.

Matius, dalam pasal 24-25, mencatat belas kasih dan kasih Tuhan yang bercampur dengan kekudusan yang tak tergoyahkan. Bagian Alkitab ini, termasuk perumpamaan tentang talenta, merupakan peringatan terakhir, nubuat, dan dorongan kepada umat-Nya sebelum keberangkatan-Nya. Dia, yang adalah Tuhan mereka, pergi untuk jangka waktu yang tidak disebutkan. Dia mendelegasikan kepada mereka tanggung jawab untuk mengurus kerajaan-Nya. Perumpamaan tentang talenta, Matius 25:14-30, menekankan pada mereka beban tanggung jawab itu dan konsekuensi serius dari kelalaian untuk memahami dan menerapkan petunjuk-Nya. Ini juga pesan untuk seluruh umat manusia.

Jika talenta adalah emas, nilai dari apa yang dipercayakan sang tuan kepada para pelayan adalah sangat tinggi, mungkin dalam jutaan dolar. Karena Tuhan hanya menggunakan istilah talenta, kita harus berasumsi bahwa pemilik talenta, orang yang bepergian ke negeri yang jauh, adalah orang kaya. Dia mempercayakan kekayaannya kepada tiga orang pelayannya. Seseorang menerima lima talenta. Yang lain menerima dua talenta. Pelayan ketiga menerima satu talenta. Masing-masing diberi sejumlah besar uang, sekalipun tidak sama jumlahnya. Besaran yang diberikan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing dan seturut kehendak Tuhan. Ini adalah pelayan-pelayan yang dipercayakan untuk mengurus uang.

Sebagai pelayan Tuhan kita harus mengetahui kepribadian dan karakter Tuhan kita. Dia mengharapkan kita untuk mengenal Dia cukup baik untuk bisa mendengarkan suara Roh-Nya serta mengerti firman-Nya. Mereka yang melakukan firman-Nya akan mendapat imbalan yang kekal dan berlimpah. Yang lain menerima penghakiman yang berat.

Dua pelayan yang pertama memahami instruksi dan karakter Tuhan mereka. Mereka berdua menggunakan sumber daya dengan “berdagang” untuk mendapatkan keuntungan. Masing-masing dari mereka menghasilkan keuntungan 100 persen. Ketakutan dan ketidakpercayaan akan Tuhannya menghantui pelayan ketiga. Dia mengubur uang itu di dalam tanah dan mengembalikan jumlah aslinya. Pelayan yang menguntungkan dipuji, diberi tanggung jawab yang lebih besar dan diundang untuk masuk ke dalam sukacita Tuhan mereka. Pelayan yang tidak percaya dimarahi, ditolak, dan dihukum.

Penerapan perumpamaan ini harus dipahami dalam konteks pesan Matius 24-25. Ini adalah pesan pertama kepada orang Israel yang akan hidup di hari-hari terakhir sebelum Tuhan datang kembali. Pernyataan dalam Matius 24:13, “Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” adalah pernyataan kunci. Inilah orang-orang yang akan menerima janji kerajaan. Mereka ini akan hidup ketika Dia kembali dan akan memahami dan percaya kepada Tuhan mereka.

Aplikasi untuk orang-orang Israel adalah grafis dan relevan. Mereka yang percaya kepada-Nya dan mengambil keputusan untuk memuliakan- Tuhan dalam hidup mereka akan diberi upah dalam kerajaan-Nya. Dasar dari upah itu adalah kemauan untuk mengelola sumber daya-Nya yang dipercayakan kepada mereka. Mereka yang menganggap Tuhan kejam dan tidak percaya kepada karunia Tuhan akan dihakimi karena mengambil keputusan yang salah.

Ada juga aplikasi universal untuk semua umat manusia. Sejak penciptaan umat manusia, setiap individu telah dipercayakan dengan sumber daya waktu dan kekayaan materi. Segala sesuatu yang kita miliki berasal dari Tuhan dan milik-Nya. Semua orang bertanggung jawab untuk menggunakan sumber daya tersebut sehingga nilainya meningkat.

Sebagai orang Kristen, kita juga memiliki sumber daya yang paling berharga – Firman Tuhan. Jika kita percaya dan memahami Dia, dan menerapkan Firman-Nya sebagai pembimbing yang baik, kita adalah berkat bagi orang lain dan nilai dari apa yang kita lakukan akan berlipat ganda. Kita dengan demikian bertanggung jawab kepada Tuhan atas penggunaan sumber daya-Nya.

Talenta juga diberikan kepada kita dalam bentuk iman untuk bisa mengasihi Tuhan dan sesama kita. Dengan demikian, keberhasilan dan kebahagiaan kita bukanlah hanya diukur dengan apa yang bisa dilihat mata manusia, sebab apa yang bisa kita ukur adalah apa yang sementara dan akhirnya akan musnah. Apa yang tidak bisa musnah adalah kasih, yang tidak akan berkesudahan (1Korintus 13: 8). Hari ini, maukah kita memakai hidup kita untuk memuliakan Tuhan dan menyampaikan kasih-Nya yang sudah kita terima kepada orang lain? Keputusan ada di tangan kita untuk mengambil tindakan yang baik dalam hidup kita sesuai dengan talenta kita.

Siapakah yang bertanggung jawab?

“Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan h, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu” Ulangan 30: 19

Apakah Tuhan bertanggung jawab atas semua yang dilakukan-Nya? Sebagian orang Kristen mungkin berpendapat bahwa Tuhan yang mahakuasa dan berdaulat tidak bertanggung jawab kepada siapa saja. Ini jika kita mengartikan bahwa tanggung jawab adalah sikap atau perilaku untuk melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh dan siap menanggung segala risiko dan perbuatan. Tuhan adalah Raja di atas segala raja, karena itu tidak ada yang bisa menuntut pertanggungjawaban-Nya. Walaupun demikian, kata yang sama dalam bahasa Inggris, responsibility, setidaknya bisa mempunyai 4 arti:

  • keadaan atau kenyataan dari kewajiban untuk mengatur sesuatu atau seseorang
  • keadaan atau kenyataan tentang adanya kemungkinan dipersalahkan atas sesuatu kejadian
  • kesempatan atau kemampuan untuk bertindak secara bebas dan mengambil keputusan tanpa izin
  • sesuatu yang dilakukan sebagai bagian pekerjaan atau kedudukan

Orang Kristen percaya bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta. Dialah yang membuat alam semesta menjadi ada; dengan cara yang sama seorang desainer mobil mewujudkan sebuah mobil. Inilah sebabnya mengapa beberapa orang percaya bahwa Tuhan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi di alam semesta, baik dan buruk, dengan cara yang sama seperti seorang perancang mobil harus bertanggung jawab atas kelebihan dan kekurangan mobil. Jelas orang Kristen tidak memiliki masalah dalam percaya bahwa Tuhan bertanggung jawab atas semua ciptaan-Nya yang sempurna di alam semesta, karena Tuhan yang berdaulat adalah sumber segala kebaikan, seperti yang tertulis dalam Alkitab:

“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” Yakobus 1: 17

Walaupun demikian, apakah Tuhan harus bertanggung jawab atas hal-hal buruk yang terjadi di alam semesta? Ini masih bisa diperdebatkan.

Beberapa orang berpandangan bahwa Tuhan harus bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi di alam semesta karena dalam Alkitab, Tuhan digambarkan sebagai seorang pengrajin terampil yang jelas tahu persis apa yang ingin Dia ciptakan. Segala sesuatu di alam semesta, baik dan buruk, karena itu adalah bagian dari rencana Tuhan, seperti yang tertulis:

“Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain,yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah Tuhan yang membuat semuanya ini.” Yesaya 45: 6-7

Mereka juga percaya bahwa jika Tuhan mahakuasa dan mahatahu, maka dia harus bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi di alam semesta. Ini karena fakta bahwa Dia mahatahu membuktikan bahwa Dia mengetahui segala sesuatu yang terjadi dan karena Dia mahakuasa pada saat yang sama, Dia juga memiliki kuasa atas segalanya.

Oleh karena itu, Tuhan bertanggung jawab atas hal-hal buruk yang terjadi, karena Dia tahu itu sedang terjadi dan memiliki kuasa untuk menghentikannya tetapi memilih untuk tidak melakukannya. Terlebih lagi, karena Tuhan dianggap sebagai pemelihara alam semesta, tidak ada yang bisa ada/terjadi tanpa dihendaki-Nya. Oleh karena itu, bencana alam tidak mungkin terjadi jika Tuhan tidak menghendakinya. Jika Allah menghendaki terjadinya bencana alam, maka Ia harus bertanggung jawab atas penderitaan manusia yang diakibatkan oleh bencana alam tersebut.

Orang Kristen yang lain melihatnya secara berbeda. Mereka percaya bahwa Tuhan tidak dapat disalahkan atas penderitaan manusia karena sering kali pilihan manusia sendirilah yang menyebabkan penderitaan mereka. Gempa bumi adalah kejadian alam dan hanya mempengaruhi orang-orang yang tinggal di zona gempa dan jika orang secara sukarela memilih untuk tinggal di sana, Tuhan tidak bertanggung jawab atas penderitaan mereka akibat dampak gempa bumi. Ini seperti seorang desainer mobil yang tidak dapat disalahkan jika seseorang memilih untuk mengedarai mobilnya secara sembrono dan kemudian menemui kecelakaan.

Gagasan tentang adanya pilihan manusia juga terkait dengan kehendak bebas. Sebagian orang Kristen percaya bahwa Tuhan telah memberikan ciptaan-Nya, khususnya manusia, kehendak bebas, seperti yang tertulis dalam ayat pembukaan dari Ulangan 30: 19 di atas.

Pilihan yang buruk memiliki konsekuensi negatif, seperti yang Agustinus, salah satu bapa gereja, nyatakan dalam teodisenya bahwa ‘semua kejahatan adalah dosa atau hukuman untuk dosa’. Kejahatan moral, seperti Holocaust, adalah akibat dari dosa. Tuhan tidak bertanggung jawab untuk itu karena manusialah yang memilih untuk melakukannya atas kehendak mereka sendiri.

Tuhan juga adil dan harus menghukum manusia ketika mereka membuat pilihan yang salah, sering kali dalam bentuk kejahatan alami, misalnya kota Sodom dan Gomora dihancurkan oleh api dan belerang (Kejadian 19) karena orang-orang di kota-kota ini ‘jahat’. Perlu dicatat Agustinus juga percaya bahwa alam semesta diciptakan dengan sempurna, yang dapat kita lihat dari cara Alkitab menggambarkan Eden. Kejahatan hanya masuk ke alam semesta melalui Kejatuhan (Kejadian 3), yang merupakan akibat dari penyalahgunaan kehendak bebas manusia.

Meskipun dapat dikatakan bahwa Tuhan bertanggung jawab atas kejahatan alam, yaitu bencana alam karena pada dasarnya Dialah yang memutuskan untuk membiarkannya terjadi; namun Tuhan hanya bertindak sebagai tanggapan atas dosa manusia. Karena itu, Tuhan tidak dapat disalahkan karena menimbulkan rasa sakit pada umat manusia karena dia hanya menghukum mereka sesuai dengan beratnya dosa mereka. Ini seperti seorang hakim tidak bertanggung jawab atas penderitaan kriminal atas kejahatannya di penjara.

Sebagian orang Kristen menentang kehendak bebas dengan mengatakan bahwa karena Tuhan mahatahu, Dia seharusnya tahu bahwa jika Dia memberi manusia kehendak bebas, manusia akan membuat pilihan yang salah; oleh karena itu jika Tuhan masih memilih untuk memberikan kehendak bebas kepada manusia, Dia harus bertanggung jawab atas konsekuensi negatif dari pilihan manusia yang salah. Agustinus menjelaskan dalam karyanya, On Free Choice of the Will, bahwa kehendak bebas adalah suatu keharusan. Jika Tuhan tidak memberikan kehendak bebas kepada manusia, maka semua hukuman atau ganjaran akan menjadi tidak adil karena manusia tidak benar-benar mengambil keputusan.

Karena keadilan adalah salah satu sifat Allah, Ia pasti memberikan kehendak bebas kepada manusia. Akan tetapi, bukan berarti Tuhan memberikan kehendak bebas kepada manusia agar mereka dapat memilih untuk berbuat dosa terhadap-Nya, karena jika ini adalah tujuan-Nya, maka manusia tidak dapat dihukum secara adil karena mereka berbuat dosa karena mereka hanya memasukkan kehendak bebas ke dalam satu kehendak dari kegunaannya. Faktanya, kehendak bebas diberikan kepada manusia agar mereka dapat melakukan semua yang baik dan hadiah diberikan untuk melakukannya. Oleh karena itu ketika manusia berdosa, mereka menyalahgunakan karunia Tuhan ini, sehingga mereka dapat mengharapkan hukuman yang adil. Dalam hal ini, manusia sesudah kejatuhan Adam dan Hawa selalu cenderung untuk berbuat dosa dalam kebebasannya.

Orang Kristen lainnya berdiri di antara dua pandangan ini. Mereka percaya bahwa Tuhan bertanggung jawab dalam arti berdaulat atas segala sesuatu yang terjadi di alam semesta, tetapi dia tidak bertanggung jawab dalam arti bahwa Dia harus disalahkan. Kita, sebagai manusia, tidak pernah bisa sepenuhnya memahami rencana Tuhan untuk Semesta. Tuhan mungkin mengizinkan hal-hal buruk terjadi untuk alasan yang baik. Misalnya, melalui penderitaan manusia dapat mengambil pelajaran dan menghindari kesalahan yang sama di masa depan. Lebih penting lagi, melalui pengalaman hidup manusia juga dapat memiliki pemahaman yang lebih lengkap tentang Tuhan dan lebih dekat dengan Tuhan. Jadi Tuhan bertanggung jawab atas penderitaan manusia, tetapi dia hanya mendatangkannya untuk kepentingan umat manusia.

Hari ini kita dapat berpikir bahwa pada akhirnya, Tuhan bertanggung jawab atau berdaulat atas segala sesuatu yang terjadi di alam semesta, karena Dia adalah pencipta dan pemelihara alam semesta yang mahakuasa dan mahatahu. Namun, kita tidak boleh berpikir bahwa Tuhan bertanggung jawab dalam arti bahwa kita dapat menyalahkan Tuhan atas penderitaan kita, karena seringkali keegoisan dan ketidaktahuan kita sendirilah yang menyebabkan penderitaan di dunia. Selain itu, Tuhan mungkin menggunakan penderitaan untuk mencapai kebaikan yang lebih besar bagi umat manusia. Di mana tanggung jawab Tuhan berhenti, tanggung jawab manusia dimulai.

Iman memberi pengertian, pengertian tidak memberi iman

“Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.” Roma 1: 19 – 20

Pernahkah anda mempertanyakan mengapa untuk satu hal yang sama ada banyak pendapat yang berbeda? Itulah karena manusia adalah makhluk yang istimewa! Dalam segi yang baik maupun yang buruk, manusia adalah makhluk yang unik. Manusia diciptakan sebagai gambar Allah dan karena itu mempunyai kemampuan yang berbeda dari makhluk-makhluk yang lain. Manusia memiliki pikiran, perasaan dan perhatian yang jauh lebih tinggi dari makhluk yang lain. Jika makhluk lain bergantung pada naluri, manusia menggunakan akal budinya untuk menilai keadaan dan orang di sekitarnya. Karena itu, tiap manusia bisa mempunyai pengertian dan perasaan yang berlainan terhadap hal yang sama.

Roma 1: 19-20 menunjukkan bahwa kepada semua manusia Tuhan sudah memberi pernyataan-Nya, dan karena itu tidak ada seorang pun yang bisa menolak kenyataan bahwa Tuhan itu ada. Mereka yang mencoba menolak adanya Tuhan dengan memakai berbagai dalih, adalah orang-orang yang dengan sengaja mengabaikan Tuhan dan karena itu harus bertanggung-jawab sepenuhnya atas keputusan mereka. Walaupun demikian, penyataan Tuhan itu bukan hanya melalui apa yang bisa dilihat mata manusia dan dipikirkan manusia secara umum, tetapi lebih bisa diterima melalui iman yang diberikan Tuhan kepada setiap orang percaya.

Bagaimana pula dengan pengertian umat percaya akan firman-Nya? Walaupun manusia mempunyai kemampuan intelegensi yang tinggi, ia tidak dapat mengenal Sang Pencipta. Bagaimanapun kita berusaha menyelami jalan pikiran Tuhan, tidaklah mungkin memahami-Nya jika Tuhan sendiri tidak menyatakan hal itu. Pengertian yang benar datang dari Tuhan. Tetapi, jika pengertian bisa dipelajari dengan otak kita, iman yang ada dalam hati kita tidak dapat diukur dengan pengertian kita. Manusia sebagai ciptaan Tuhan mempunyai keterbatasan dalam pengetahuan, sehingga bagaimanapun kita berusaha, kita tidak dapat mengerti apa kehendak dan hakiki Tuhan dengan sepenuhnya.

“Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.”1 Korintus 13:9

“…sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan.” Kolose 2:3

Pengenalan akan Tuhan yang sudah ada pada zaman Perjanjian Lama, makin bertambah setelah Tuhan turun ke dunia dalam bentuk manusia Yesus Kristus. Memang, Yesus semasa tinggal di dunia sudah menggenapi apa yang disebut dalam Perjanjian Lama dan membuka hati dan pikiran banyak orang untuk memahami Perjanjian Baru dalam darah-Nya. Setelah Yesus naik ke surga, Roh Kudus diberikan kepada setiap orang yang percaya kepada Kristus agar mereka dapat terus belajar tentang apa yang dikehendaki Tuhan.

“Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun.” Galatia 3:25

Roh Kudus tidak menghilangkan pribadi manusia, tetapi memperbaikinya. Karena itu jugalah, tiap anak Tuhan, baik yang baru maupun yang sudah lama, mempunyai sikap, pengertian dan hubungan yang berbeda terhadap Tuhan yang sama. Sekalipun berbeda dalam cara dan bentuk hubungan mereka akan Tuhan, setiap orang percaya adalah anak-anak-Nya. Kepada masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus (Efesus 4: 3-7).

Cara bekerja Roh Kudus dalam hidup anak-anak Tuhan tidaklah mematikan pola berpikir dan kehidupan mereka secara total dan drastis. Roh bekerja sesuai dengan keadaan manusia yang dihuni-Nya. Perubahan hidup manusia karena Roh Kudus terkadang cepat, tetapi bisa juga lambat tergantung pada sikap manusia (Efesus 4: 30). Karena itu, tingkat kedewasaan dalam iman tiap orang tidaklah sama.

Berapa lama anda sudah mengenal Tuhan? Apakah pengenalan itu sudah bertumbuh sejak anda menerima Dia? Apakah anda merasakan bahwa iman anda makin kuat sejak saat perjumpaan anda dengan Tuhan untuk pertama kalinya? Dapatkah anda merasakan adanya penyataan yang datang dari Tuhan melalui Roh Kudus setiap hari? Pada waktunya, semua orang percaya akan bisa mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Yesus, dan memperoleh kedewasaan penuh yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Efesus 4: 13-15).

“Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.” 1 Korintus 13:9

“Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.” Mazmur 139:6

Berbeda dengan penyataan Tuhan kepada dunia, hubungan umat Tuhan dan umat-Nya adalah hubungan yang khusus, yang seperti hubungan antara suami dan istri, mengalami pencerahan hari demi hari. Tuhan menyatakan diri-Nya, sifat-Nya, kehendak-Nya dan rencana-Nya kepada mereka yang beriman kepada-Nya. Jika iman adalah satu sisi dari sebuah mata uang, pernyataan Tuhan ada pada di sisi yang lain. Iman yang benar selalu bertumbuh bersama dengan pengertian dan pengetahuan tentang Tuhan. Iman tidak dapat bertumbuh dengan baik jika kita tidak mau mendengar suara-Nya.

Bagaimana kita dapat menerima pengertian tentang Tuhan agar dapat menumbuhkan iman kita? Ini hanya dapat terjadi dengan kemauan kita untuk menerima kebenaran-Nya. Tuhan selalu menunjukkan bimbingan dan kuasa-Nya dalam hidup setiap umat-Nya, tetapi tidak semua orang mau hidup untuk Dia. Mereka yang terlalu sibuk dengan kesibukan diri sendiri cenderung mengabaikan firman Tuhan dalam hidupnya. Karena itu, walaupun seseorang sudah mengenal Tuhan sejak lama, mungkin saja pengertian dan imannya tidak bertumbuh sebagaimana seharusnya.

Perbedaan yang sekarang ada, bisa membuat komunikasi antar umat Tuhan terkadang sulit. Salah pengertian dan perbedaan yang sering terjadi, bisa juga menimbulkan pertikaian antar umat percaya. Tetapi kita harus sadar bahwa di dunia kita hanya melihat sesuatu yang samar-samar saja.

Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.” 1 Korintus 13:12

Semakin lama kita hidup sebagai umat-Nya, seharusnya kita makin dapat mengenal kasih, kuasa, kebijaksanaan, kesabaran dan kesucian Tuhan. Melalui pengalaman hidup, seharusnya kita bisa berubah, makin lama makin sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya. Biarlah dengan makin dalamnya pengertian kita akan kebesaran Tuhan, kita bisa bertumbuh dalam kesatuan orang percaya. Dengan itu, iman kita juga tumbuh semakin kuat sehingga kita bisa menempuh tahun-tahun yang akan datang dengan keyakinan bahwa kasih-Nya akan senantiasa menyertai semua anak-anak-Nya. Iman membentuk pengetahuan dan perspektif hidup yang berbeda pada setiap orang, tetapi semua itu tidak boleh merubah pengertian yang benar tentang iman yang menyelamatkan.

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Ibrani 11:1

“Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.” Galatia 3: 26

Yesus membimbing domba-domba-Nya

“Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku” Yohanes 10: 14

God is in control. Ini adalah frasa yang sering kita gunakan sebagai slogan praktis ketika terjadi hal yang buruk. “Tuhan memegang kendali,” kita berkata ketika seseorang meninggal; ketika kita kehilangan pekerjaan kita; ketika kesehatan kita gagal. Tapi apa yang kita maksud dengan ini?

Apakah itu berarti Tuhan mengendalikan setiap manusia, setiap keputusan, setiap peristiwa; setiap hal yang terjadi? Warna kaus kaki yang saya pakai, kecepatan angin topan, tindakan bos saya? Mungkin itu adalah teologi sebagian orang Kristen: tidak ada yang terjadi tanpa campur tangan langsung dari tangan Allah yang menghendaki sedemikian.

Tetapi tidak semua orang Kristen percaya hal ini. Mereka yang percaya pada gagasan kehendak bebas akan menolaknya. Bagi mereka, manusia bebas memutuskan bagaimana kita membelanjakan uang kita, bagaimana kita mengendarai mobil kita, dengan siapa kita menikah, jalur karir apa yang harus kita ikuti. Semua hal yang menyangkut hal hidup sehari-hari.

Hal di atas terlihat sebagai paradoks teologis yang pelik. Bagaimana kedaulatan Tuhan dan kehendak bebas manusia berinteraksi? Ini adalah perdebatan yang sudah berjalan ratusan tahun. Paulus dalam diskusinya di mana-mana tentang hal ini yang berlaku untuk keselamatan orang Yahudi dan bukan Yahudi, menyatakannya sebagai misteri dan menyatakan:

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” Roma 11: 33

Para teolog dalam sejarah telah mencoba untuk mendamaikan masalah ini, tetapi sampai sekarang orang Kristen tetap terbelah dalam dua kubu.

Jadi apa sebenarnya arti dari “Tuhan memegang kendali”?

1. Tuhan tidak mengendalikan, tetapi memegang kendali.

Tuhan memegang kedali seluruh jagad raya. Tetapi Tuhan tidak mengendalikan kita, seperti kita mengendalikan seekor kuda. Dia tidak memberi kita kemampuan untuk mengambil keputusan, lalu mengambilnya kembali. Tetapi, Dia sudah menetapkan adanya hukum alam dan menawarkan kita berkat dan kutuk, hidup dan mati. Dia memberi kita pilihan. Sebagai gembala, Yesus mengawasi dan membimbing domba-domba-Nya menuju ke padang rumput yang subur. Dia berkata kepada dombanya: “Dengarlah suara-Ku dan ikutlah Aku”, tetapi Ia tidak merantai domba-Nya agar mereka mengikut Dia. Tentu ini menimbulkan risiko karena domba-domba itu bisa tersesat atau jatuh ke dalam jurang. Tetapi, jika itu terjadi Yesus akan mencari untuk menyelamatkannya.

2. Tidak semua yang terjadi di dunia adalah kehendak Tuhan.

Jika segala sesuatu yang pernah terjadi di bumi adalah kehendak Tuhan, tidak akan ada alasan untuk berdoa; “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.” (Matius 6:10). Banyak dari apa yang kita lihat di dunia bukanlah kehendak Tuhan. Hanya di surga kita melihat apa yang sempurna, yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Tuhan juga bukan pencipta kejahatan atau menetapkan segala kejahatan yang ada di muka bumi.

  • Jika saya tidak membayar tagihan saya tepat waktu, dengan ceroboh mengurangi anggaran saya untuk kemewahan dan bangkrut dengan hutang yang melumpuhkan, apakah Tuhan yang mengendalikan itu?
  • Jika saya tidak menyelesaikan kegagalan perilaku relasional saya, belajar mengelola kemarahan saya dan akibatnya pernikahan saya berantakan, apakah Tuhan yang mengendalikan itu?

Menggunakan frasa “Tuhan memegang kendali” ini agaknya berbahaya. Itu bisa membuat kita menyalahkan Tuhan dan menghindari tanggung jawab kita sendiri. Berbeda dengan bahasa Inggrisnya: “God is in Control”, yang berarti “Tuhan tidak dapat kehilangan kontrol”. Tuhan bukanlah Tuhan yang mengendalikan manusia seperti kita mengendalikan mobil kita. Tetapi, Tuhan adalah Tuhan yang mahatahu, yang mampu membuat apa yang jahat, seperti apa yang dilakukan oleh saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf, untuk menjadi hal yang baik pada waktunya.

“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” Kejadian 50: 20

Menumpang kereta kehidupan

“Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Roma 14: 12

Perang di Ukraina sudah membuat banyak warganya mengalami penderitaan yang besar. Dalam menghadapi serangan Rusia, seluruh warga pria yang berumur 18 sampai 60 tahun tidak boleh meninggalkan negara karena mereka diharuskan untuk ikut wajib militer. Mereka yang lain berbondong-bondong menuju ke stasiun kereta api untuk mengungsi ke tempat yang aman. Pemandangan yang meyedihkan terlihat di setasiun kereta api ketika para istri harus berpisah dengan sang suami dan anak-anak harus berpisah dengan sang ayah. Mereka yang mendapat tempat dalam kereta api setidaknya mempunyai harapan untuk selamat, tetapi yang ditinggalkan mempunyai masa depan yang tidak menentu.

Sebagai orang Kristen kita sudah diberi karunia keselamatan. Tujuan hidup kita sudah jelas, kereta api kita akan menuju ke surga. Dalam kereta, setiap penumpang diberikan kebebasan oleh Tuhan untuk melakukan apa saja selama perjalanan. Firman Tuhan di atas berkata bahwa setiap orang akan memberi pertanggungjawaban tentang dirinya sendiri kepada Allah. Tuhan yang memegang kontrol kehidupan kita, tetapi Dia tidak mengontrol kita sehingga kita hanya bisa melakukan apa yang dikehendaki-Nya.

Apa yang akan anda kerjakan hari ini? Apakah anda mempunyai rencana untuk melakukan sesuatu yang signifikan untuk hari-hari mendatang? Kebanyakan orang selalu membuat rencana untuk hari-hari depan selama masih bisa. Mereka yang sudah sangat lanjut usia mungkin kurang bisa untuk itu; karena itu rencana dan keputusan mungkin diserahkan kepada orang lain.

Memang selama pikiran masih sehat, keputusan dan tanggung jawab ada ditangan kita. Cara yang mudah untuk menghindari tanggung jawab adalah mengingkari adanya kesempatan atau kemampuan untuk mengambil keputusan. Atau juga menganggap bahwa semua yang kita lakukan tidak ada artinya di hadapan Tuhan yang sudah menentukan masa depan kita. Kereta api kita tidak dapat berubah tujuannya, dan karena itu kita hanya bisa duduk saja. Benarkah?

Memang, selama berada di dalam kereta kehidupan, ada banyak orang Kristen yang masih memikirkan betapa nikmatnya jika mereka tidak menumpang kereta. Mereka membayangkan kenikmatan hidup di luar kereta. Mereka masih memikirkan kesuksesan duniawi dan kemudian kecewa atau kuatir jika hidup saat ini tidak berjalan seperti yang dikehendaki. Ada juga yang masih membayangkan betapa enaknya hidup lamanya, yang mengejar keuntungan dan kenikmatan dengan menghalalkan segala cara. Pada pihak yang lain, ada orang-orang yang gelisah karena hidup dalam kereta sangat berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Selama berada dalam perjalanan mereka tidak perlu kuatir akan kemungkinan bahwa kereta tidak akan mencapai tujuannya. Tetapi mereka harus menjaga diri agar tidak terjatuh dari kereta atau tertinggal di salah satu stasiun ketika kereta berhenti.

Mereka yang berada di kereta kehidupan, mungkin tidak menyadari bahwa mereka sudah mendapatkan karcis secara cuma-cuma karena pengurbanan Yesus Kristus. Tuhan Yesus disalibkan agar siapa saja yang percaya mendapat karcis ke surga. Karcis itu sudah tentu sangat berharga dan tidak semua orang mendapat karcis itu. Walaupun demikian sebagian orang tidak mau menerimanya. Tidak semua orang yang sudah mendapat karcis itu merasa beruntung ketika mereka harus melakukan perjalanan yang jauh dan melelahkan. Bagi mereka, hidup sebagai orang Kristen diharapkan untuk menjadi hidup yang nyaman.

Apa yang harus kita lakukan selama berada di dalam kereta? Itu adalah sesuatu yang patut kita pikirkan, agar hidup ini tidak terasa membosankan, pahit, atau tidak berguna. Keputusan ada di tangan kita untuk bagaimana kita mengisi hidup kita. Keputusan yang kita ambil mungkin bisa membawa hasil yang baik, tetapi mungkin juga menghasilkan sesuatu yang kurang kita sukai. Bahkan ada keputusan yang bisa membawa kecelakaan atau penderitaan dan juga hukuman karena pelanggaran hukum Tuhan. Walaupun demikian, hidup manusia selama dalam perjalanan adalah hidup yang penuh dengan pilihan dan tanggung jawab pribadi. Mereka tidak bisa lolos dari itu.

Ada orang Kristen yang percaya bahwa segala sesuatu sudah ditetapkan Tuhan, tetapi manusia tidak mengetahui semuanya. Oleh karena itu, mereka harus bekerja keras tanpa memikirkan hasilnya, karena berhasil atau tidak bergantung kepada kehendak Tuhan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Pandangan semacam ini adalah bertentangan dengan ayat di atas, yang menyatakan bahwa setiap orang memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah. Adanya tanggung jawab menyatakan adanya pilihan yang nyata atas apa yang akan dilakukan, bukan tanggung jawab atas sesuatu yang tidak diketahui. Setiap orang Kristen tahu apa yang harus dilakukannya, yaitu segala sesuatu yang sesuai dengan firman dan sifat hakiki Tuhan.

Apa yang akan kita lakukan hari ini mungkin saja hanya hal yang kecil, yang rutin, yang mungkin tidak mempunyai konsekuensi besar. Tetapi mungkin juga kita dihadapkan dengan berbagai tugas berat yang mengharuskan kita untuk mengambil pilihan. Mungkin kita sudah bisa dan siap berdoa: “Biarlah kehendak Tuhan yang terjadi”. Tetapi keputusan tetap ada di tangan kita untuk mengambil tindakan. Kita jugalah yang harus bertanggung jawab atas apa yang kita pilih. Karena itu kita harus melakukan apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan dalam perjalanan hidup kita.

Pagi ini kita dihadapkan dengan kenyataan hidup: bahwa hidup kita adalah suatu proses di mana kita selalu dihadapkan dengan pilihan dan tanggung jawab pribadi. Jika kita sekarang mengalami suatu keadaan, kita sendiri yang bisa menentukan reaksi kita dan kita sendiri yang bisa memutuskan apa yang akan kita akan perbuat. Kita yakin bahwa Tuhan memegang kemudi kereta kehidupan kita, tetapi Ia tidak menentukan apa yang kita lakukan selama hidup. Ia sudah memberikan perintah-Nya dan menunjukkan sifat-sifat keilahian-Nya yang harus kita fahami. Kitalah yang bertanggungjawab atas bagaimana kita menghabiskan waktu kita selama hidup di dunia.

Responding to God’s invitation

Then the master said to his servant, Go out into all the roads and paths and force the people who are there to come in, for my house must be full. For I tell you, none of those who have been invited will enjoy my banquet.” Luke 14:23-24

Once upon a time there was a man holding a big banquet and he invited many people. Just before the banquet began, he ordered his servant to summon the guests. But those who had been invited all refused to come. Some said he had just bought a field and had to go see it. Another said that he had bought five pairs of cows and had to go try them out in the fields. And yet another said that he was newly married and therefore could not come. The servant then went home and conveyed all this to his master. Then the master of the house became angry and ordered his servants to go out into all the streets and alleys of the city and take the poor and the crippled and the blind and the lame. The host wanted his house to be full.

Here Jesus describes the offer of the gospel, first to the Jews and then to the Gentiles. The Jews emphatically rejected the offer God made to them through His prophets. This parable shows that the Kingdom of God is open to everyone, not just the Jews.

Those who ended up coming to the banquet were people outside the Jewish nation, who were considered inferior. They are the sick, the weak, and the suffering. They are people in need of salvation, and without God’s grace will not be able to meet God. It was only because of God’s freely offered gift that they were chosen to enter the banquet.

What did Jesus mean by “None of those who have been invited will enjoy my banquet”? Jesus invites His listeners to repent and believe in the good news preached by Him. But many Jews refused His invitation. It is possible for us to refuse His invitation, as many Jews do. In this case, Jesus declared that those who refused God’s invitation to receive salvation were guilty of rejecting it and would not be able to meet Him.

Who are those who respond to the call and accept Christ in faith? Jesus c “forced” to come. These are all that the Father has chosen in Christ since before the foundation of the world to be holy and blameless before Him (Ephesians 1:4). Only these elect will be the crowd of the redeemed when Christ returns in glory. God’s eternal choice ensures they will respond to the call with humility.

What is the main lesson Jesus has for us in this shocking and disturbing parable? First, not a few people reject God’s call through His messenger. Those who do not want to hear the news of salvation delivered by the servant of God. Those who go to church just to socialize, or those who completely reject Christian teachings. God will hold accountable those who reject the call on the day of judgment.

Second, Jesus wants us to realize that there are more subtle ways to reject the call. A person may just make small talk to accept Jesus’ call but never really pay attention to what the call has to offer. What will happen to us if this happens? The bad news is that we don’t have the power within ourselves to change our resisting heart. The good news is that God is willing to change the hearts of rebellious people by the invincible power of His Spirit. In this case, it is God who determines who He chooses, in the way and at the time He has determined.

For those of us who are not Jews, from the verse above we know why we are given the privilege to enter into the blessings that God promised to His chosen people, Israel. However, this is not a verse that mocks the Jews for their unbelief and that praises the Gentiles for their greater intelligence, as evidenced by their faith in Jesus. The Gentiles were those who were forced to come, from the highways and lanes. They are, as it were, “bums” along the way.

We can see the interaction between God’s sovereignty and human responsibility. The above verse links the failure of the Israelites to enter into the blessings of God’s kingdom with their refusal to accept the invitation given to them. Luke does not tell us that the Jews were kept out of the kingdom by God’s choice, but by their own choice. On the other hand,the salvation of the Gentiles was not linked to their choice, but to divine decree. The sovereignty of God is thus emphasized with regard to salvation, and the responsibility of man with regard to judgment.

In the verse above, God gives us an invitation to “come to dine at His house,” as it were, to become members of His kingdom, to sit at His table forever. We are forgiven of our sins and justified before Him through the work of Christ, and with that we are free to enjoy intimate fellowship with Him. Accepting Jesus at His invitation means gaining the right to enter. On the other hand, rejecting Jesus, or even delaying the decision to accept Him, is the cause of eternal separation from Him and His kingdom.

If we have responded to Jesus’ call with repentance and faith, it is not because of our efforts. It happens only because God has first worked in us to transform us into His people in Christ. Without God’s grace we can only reject all of God’s calls and choose worldly pleasures that lead to death. Salvation is really only by the grace of God. This truth can make us uneasy, but Jesus wants to make us think deeply about our lives for a reason. He wants us to find salvation and live in Him alone, which is by grace alone. And only in Christ can we find eternal and unshakable salvation.