Kasih Tuhan adalah untuk seisi dunia

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Ayat di atas adalah ayat yang sangat terkenal, yang dipakai oleh banyak orang Kristen sebagai landasan iman mereka. Melalui ayat itu, kepercayaan mereka diperkuat karena adanya keyakinan bahwa Allah adalah mahakasih. Walaupun begitu, dalam hati kita mungkin ada pertanyaan apakah kasih Allah adalah sama kepada semua orang. Bukankah dalam Perjanjian Lama (Maleakhi 1: 2 – 3) kita membaca bahwa Tuhan mengasihi keturunan Yakub lebih dari keturunan Esau? Apakah Tuhan pilih kasih?

Memang benar bahwa sesuai dengan pilihan-Nya, Tuhan bisa dan berhak mengasihi sebuah bangsa lebih dari bangsa lain. Tetapi itu bukan berarti Tuhan mengasihi orang yang satu dan membenci yang lain. Tuhan bisa lebih mengasihi orang tertentu dibandingkan orang yang lain, tetapi secara umum Ia mengasihi setiap manusia. Sebagian manusia memang sampai akhir hidupnya menolak uluran kasihTuhan tetapi itu adalah pilihan mereka sendiri.

Dari Alkitab dan juga sejarah kita bisa menyadari bahwa banyak orang yang tidak mau untuk percaya bahwa Tuhan Sang Pencipta itu ada dan perlu untuk disembah. Mereka memilih untuk hidup bebas menurut apa yang disukai. Tetapi Tuhan tetap mengasihi mereka dan mau memberikan kesempatan bagi mereka untuk bertobat. Tuhan juga mengutus Roh Kudus untuk memberi pencerahan kepada setiap orang agar mereka bisa merasakan kebesaran Tuhan dalam alam semesta.

Tuhan sedih jika ada orang yang menolak Dia. Yesus pun pernah menangisi nasib orang Israel yang tidak mau menerima keselamatan. Walaupun demikian, Tuhan yang mahakasih tidak akan memaksa setiap orang untuk bertobat karena itu bertentangan dengan kasih-Nya. Dengan demikian, walaupun ada banyak orang yang hidup di dunia, tidak semua orang akan diselamatkan. Ini adalah sebuah kenyataan yang seharusnya membawa rasa sedih dalam hati kita.

Tuhan sebenarnya mengasihi semua orang dan segala bangsa, tetapi sebagian orang mengabaikan kasih-Nya yang sudah dinyatakan dalam pengurbanan Yesus. Selain itu, ada juga orang yang sudah mengenal nama Yesus tetapi tidak mau hidup sebagai domba-Nya. Dengan demikian ada banyak domba yang tidak bergembala, yang tersesat, yang akhirnya bisa jatuh ke dalam lembah kekelaman.

Ayat Yohanes 3: 16 diatas menunjukkan bahwa Tuhan mengasihi seisi dunia tanpa syarat (unconditional), tanpa membeda-bedakan manusia, baik suku bangsa, status sosial ekonomi ataupun apa saja. Tuhan Yesus datang ke dunia agar siapa saja yang percaya kepada-Nya akan diselamatkan. Dengan demikian, dalam hal keselamatan, semua manusia sudah menerima kasih yang sama.

Selain itu, Tuhan dengan kasih-Nya juga memelihara seisi dunia ini sehingga segala sesuatu berjalan menurut rencana-Nya. Walaupun demikian, Tuhan tidak membuat seluruh umat manusia untuk mengalami hal-hal yang sama selama hidup. Alkitab jelas menunjukkan adanya bangsa Israel dan orang-orang pilihan Tuhan yang menerima perlakuan yang berbeda dari Tuhan. Mereka yang dipakai Tuhan untuk maksud dan rencana-Nya bisa mengalami hal-hal yang baik maupun yang buruk, sesuai dengan rencana-Nya. Perlakuan khusus yang dialami orang-orang tertentu terjadi karena Ia mempunyai rencana tertentu, bukan karena karena keistimewaan orang-orang itu. Semua orang sudah berdosa dan karena itu perlu diselamatkan.

“Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” Yohanes 3: 17

Alkitab juga dengan jelas menyatakan bahwa kasih Tuhan kepada umat manusia dalam menghadapi perjuangan hidup adalah lebih besar kepada domba-domba-Nya daripada kepada orang-orang yang menolak Dia. Mereka yang mau menerima uluran tangan-Nya, diberi-Nya hak untuk memanggil “Bapa” dan kepada mereka diberi-Nya Roh Kudus yang menyertai mereka dalam setiap keadaan.

Hari ini, biarlah kita bisa bersyukur bahwa Tuhan mencintai segala bangsa dan seluruh umat manusia tanpa perkecualian. Dengan itu, kita yang sudah menjadi umat-Nya juga terpanggil untuk menyatakan kasih Tuhan kepada mereka yang belum menerima Kristus. Kita yang sudah menerima kasih Tuhan yang memberi kita keselamatan, mempunyai kewajiban untuk memancarkan kasih Tuhan itu kepada semua orang, agar mereka mengambil keputusan untuk mau menjadi pengikut Kristus.

Bolehkah kita bersikap skeptis?

“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.” 1 Yohanes 4: 1

Di dunia ini selalu ada saja persoalan yang muncul. Pandemi ini belum bisa diatasi, tetapi persoalan lain sudah muncul. Anda mungkin mendengar kabar bahwa ada kemungkinan perang besar akan terjadi lagi di Eropa, yang disebabkan oleh buruknya hubungan antara Rusia dan Ukraina. Selain itu, berbagai teori konspirasi sekarang ini bermunculan dalam dunia internet. Kabar bahwa pemimpin tertentu atau pemerintah tertentu akan mengorbankan banyak manusia demi mencapai tujuan mereka.

Dalam hidup manusia di dunia memang ada berbagai kejadian yang tidak mudah dimengerti. Bagaimanapun pandainya manusia, selalu ada hal-hal luar biasa yang membuat mereka takjub atau heran. Tidak hanya hal-hal yang jasmani, tetapi juga dalam segi rohani orang bisa melihat atau merasakan sesuatu yang luar biasa pada saat-saat tertentu dalam hidupnya. Dalam hal ini, setiap orang tentunya bebas untuk memilih untuk percaya atau tidak bahwa itu benar-benar peristiwa yang luar biasa.

Seorang yang bersifat skeptis biasanya cenderung untuk mengabaikan apa yang dipandang luar biasa oleh orang lain. Sebagai contoh, Tomas yang tidak percaya bahwa Yesus sudah bangkit jika ia tidak mencucukkan jarinya ke lubang paku di tangan Yesus (Yohanes 20: 25). Tomas berbeda dengan murid-murid Yesus yang lain, oleh sebab itu sering dijadikan contoh orang Kristen yang kurang beriman. Walaupun demikian, datangnya Yesus di tengah-tengah murid-murid-Nya, dan perintah-Nya kepada Tomas untuk mencucukkan jarinya ke lubang di tangan dan di lambung Yesus, membuktikan bahwa Ia peduli kepada orang yang skeptis, orang yang membutuhkan suatu “bukti” bahwa Yesus itu hidup.

Ucapan Yesus kepada Tomas: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yohanes 20: 29) sekarang menjadi peringatan kepada mereka yang ragu-ragu akan kenyataan bahwa Yesus sudah menang atas maut. Bahwa Yesus adalah Tuhan yang sudah turun ke dunia untuk menebus orang yang percaya. Dengan itu, kebanyakan orang Kristen mempunyai pandangan negatif atas sikap atau sifat manusia yang skeptis. Seolah skeptisisme haruslah dihindari. Oleh karena itu juga, orang yang belum percaya sering menganggap orang Kristen adalah orang yang bodoh, yang sering menerima kabar apa saja tanpa memikirkan benar tidaknya.

Dalam ayat di atas, rasul Yohanes menulis bahwa sebagai tanda makin dekatnya akhir zaman, ada banyak orang yang mengaku sebagai utusan Tuhan dan pergi ke seluruh dunia. Mereka seolah membawa pesan atau injil baru kepada dunia dan melakukan berbagai hal yang ajaib. Orang-orang yang terpesona dengan pengajaran yang kelihatannya luar biasa, apalagi jika diiringi mujizat yang lebih besar dari apa yang dilakukan oleh Yesus Kristus, dengan mudah akan percaya bahwa mereka sudah menemukan sesuatu yang benar-benar dari Tuhan.

Dalam hal lain, manusia sering tidak sadar bahwa apa yang didengar dan dilihat belum tentu benar. Jika iblis menipu manusia, ia bisa memakai berbagai cara dan ilusi. Iblis adalah biang kekacauan. Kita dalam keterbatasan yang ada, mudah tertipu dengan apa yang nampaknya benar, istimewa dan indah. Apalagi, jika kita terbuai dengan keyakinan bahwa adanya orang-orang yang mempunyai pengertian yang luar biasa, kita kemudian mudah percaya bahwa mereka menyampaikan kebenaran. Jelas, bahwa orang Kristen tidak boleh meninggalkan kemampuan untuk bersikap skeptis terhadap apa yang tidak benar, bukan saja mengenai aspek rohani, tetapi juga tentang hal jasmani atau apa yang terjadi sehari-hari.

Hari ini mungkin kita bisa melihat bahwa ada banyak hal yang terlihat luar biasa yang dilakukan orang-orang di dunia. Ada yang terlihat hebat dalam kepemimpinan atau penampilan mereka. Ada juga yang sepertinya luar biasa dalam hal pengetahuan, kebijaksanaan, kedermawanan, dan kesuksesan. Selain itu, ada orang-orang yang mampu memberi motivasi dan nasihat yang membawa semangat baru. Begitu juga ada banyak orang yang bisa berkhotbah dan membawakan firman yang bernada baru dan melakukan berbagai mujizat. Begitu banyak orang pandai yang memperkenalkan pengetahuan yang baru yang bisa membuat orang lain ikut merasa pandai. Bagaimana kita bisa tahu kalau semua itu memang benar? Bagaimana kita bisa menghindari jebakan kepalsuan?

Mereka yang benar-benar bisa mengajarkan kebenaran adalah orang-orang yang tidak mengambil untung dalam kekacauan. Setiap manusia yang nampaknya bisa melakukan hal yang hebat tetapi tidak mempunyai kebenaran, ia melakukan hal-hal duniawi untuk keuntungan dirinya sendiri. Apa yang diperbuat mereka berbeda dengan apa yang dilakukan Kristus selama hidup di dunia.

“Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka.” 1 Yohanes 4: 5

Sebaliknya, umat percaya yang sudah dimiliki Roh Kristus, menjadi milik Kristus; dan karena itu, apa yang diperbuat dalam hidupnya, sekalipun nampaknya kecil, adalah dari Kristus dan untuk kemuliaan Kristus. Mereka yang mempunyai Roh Kristus juga akan sadar bahwa Yesus datang ke dunia sebagai manusia dengan segala kesederhanaan-Nya. Karena itu sebagai orang Kristen kita harus tetap berhati-hati dalam hidup di dunia, tidak terjebak ke dalam hal-hal yang palsu dan tidak benar, dan bisa membedakan apa yang baik dari apa yang buruk.

Antara kemauan dan kenyataan

Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Roma 7: 19

Siapakah yang bertanggung jawab atas hidup kita? Tentu saja tiap orang harus bertanggung jawab atas hidupnya. Sekalipun ada orang yang mempersalahkan keadaan, orang lain, atau bahkan Tuhan atas apa yang dialaminya, secara umum tiap orang harus bertanggung jawab atas hal yang baik maupun apa yang buruk dalam hidupnya.

Setiap orang akan menuai apa yang apa yang ditaburnya, begitulah bunyi sebuah ungkapan yang cukup terkenal. Walaupun demikian, ada saja orang yang tidak peduli akan apa yang dilakukannya. Salah atau benar, mereka tidak peduli akan apa yang diperbuatnya. Aku adalah aku, kata mereka.

I am what I am. Sekalipun slogan ini mempunyai maksud baik, yaitu untuk memberi rasa percaya diri kepada orang-orang yang karena keadaan jasmani atau cara hidup mereka dipandang rendah atau dikucilkan masyarakat, sebenarnya tidak ada orang yang bisa berkukuh dengan cara hidupnya dan yakin bahwa apa yang ada sudahlah baik dan tidaklah perlu diubah.

Mungkin anda ingat bahwa ketika Musa diutus Allah untuk memimpin umat Israel, pada waktu itu ia menemui Allah yang menampilkan diri sebagai api di tengah semak duri. Musa kemudian menanyakan nama apa yang bisa dipakainya untuk menjelaskan bani Israel tentang siapa Allah itu. Allah kemudian menjawab bahwa nama-Nya adalah “Aku adalah Aku” (Keluaran 3: 14), yang mungkin bisa diartikan sebagai “Aku yang tidak ada tandingannya”. Dengan demikian, slogan “aku adalah aku” tidaklah tepat untuk dipakai manusia, karena untuk manusia yang tidak sempurna.

Jauh dari sempurna, manusia adalah makhluk yang berdosa. Kedatangan Yesus ke dunia adalah dengan maksud untuk menyelamatkan manusia dari kematian akibat dosa mereka. Memang Yesus menerima manusia sebagaimana adanya, dan mau memberi anugerah keselamatan kepada siapa saja yang percaya, tetapi siapa pun yang menerima Yesus haruslah mengalami perubahan hidup. Hidup lama untuk dunia haruslah diubah menjadi hidup baru untuk Kristus. Hidup yang dulunya bergelimang dosa haruslah berubah menjadi hidup yang menurut Firman.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Perjuangan hidup untuk menjadi anak-anak Allah tidaklah mudah. Iblis dari mulanya selalu berusaha membuat manusia agar menjauhkan diri dari Tuhan. Dalam berbagai kesempatan, iblis berusaha meyakinkan manusia bahwa mereka adalah makhluk istimewa dan tidak memerlukan Tuhan. Makhluk yang berkuasa di dunia dan bangga atas eksistensi, hak dan kemampuan mereka untuk hidup seperti yang mereka ingini. Sikap itulah yang justru bisa membawa manusia jauh dari kasihTuhan.

Sering kali, walaupun kita sadar tentang apa yang baik yang harus kita lakukan, tetapi bukanlah itu yang kita perbuat, melainkan apa yang tidak kita kehendaki, yaitu yang jahat, yang kita perbuat. Sekalipun kita mempunyai kebebasan untuk memilih apa yang baik, dalam kenyataannya kita justru sering berbuat jahat. Jika sejak lahir manusia harus terus belajar untuk bisa berbuat baik, manusia mudah untuk berbuat jahat sekalipun tanpa harus belajar. Karena itu, perjuangan kita untuk mengikut Yesus adalah perjuangan untuk melawan diri kita sendiri, untuk mengalahkan keakuan kita. Kita harus mau melepaskan diri dari tuntutan manusia dan kemudian menjadi hamba Kristus. Kita tidak lagi mencari kesukaan manusia, tetapi apa yang disukai Tuhan (Galatia 1: 10). Itu dimungkinkan karena Tuhan sudah memberi Roh Kudus yang membimbing kita.

Hari ini kita diingatkan bahwa kita tidak boleh berpandangan bahwa jika Tuhan ingin agar kita menjadi pengikut-Nya, Ia harus mau menerima kita dan cara hidup kita karena kasih-Nya. Sebaliknya, kita harus mau mengikut Yesus, agar makin hari kita bisa makin sempurna di dalam Dia.

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” Lukas 9: 23

Mencari keberhasilan dan keberuntungan

“Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke mana pun engkau pergi. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi.” Yosua 1:7-9 TB

Kebahagiaan. Sukacita. Sesuatu yang dicari semua orang, tetapi yang sangat sulit ditemukan. Kebahagiaan dicari banyak orang dan dengan demikian, banyak guru, orang pandai, dan motivator yang mengajarkan bagaimana cara memperolehnya. Menurut mereka, kitalah yang bertanggung jawab untuk bisa membuat diri sendiri berbahagia. Kebahagiaan bergantung pada kemauan kita dan reaksi kita terhadap orang-orang dan suasana di sekitar kita.

Berbeda dengan pandangan umum, untuk orang Kristen, kebahagiaan diakui sebagai berkat Tuhan. Tetapi, itu sering kali dikaitkan dengan keberuntungan dan keberhasilan yang kita terima dari-Nya. Dengan demikian, rasa sedih kadang bisa muncul kalau keinginan kita tidak tercapai. Apakah Tuhan hanya memberikan berkat istimewa untuk orang-orang tertentu seperti Yosua?

Memang ada banyak orang Kristen yang hidup dalam kemakmuran. Hidup mereka nampaknya bahagia dan serba berkecukupan, untuk tidak dikatakan berlebihan. Mungkin dalam berdoa mereka tetap ingat untuk memohon kekuatan, kecukupan dan perlindungan dari Tuhan untuk orang lain yang berada dalam penderitaan. Tetapi untuk mereka sendiri tentunya mereka sering meminta agar Tuhan tetap membuka tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepada mereka.

Berkat (blessing) memang satu hal yang dikejar manusia sejak dulu. Berkat sebenarnya adalah pernyataan yang berisi harapan untuk kebahagiaan, yang diucapkan seseorang kepada yang orang lain. Tradisi berkat memberkati antar manusia adalah sesuatu yang baik. Berkat  bermula dari orang yang punya hubungan erat dengan orang lain. Berkat adalah untuk kebaikan orang yang diberkati dan berguna untuk memperkuat hubungan kedua orang itu. Berkat juga ditanggapi dengan rasa terima kasih kepada orang yang memberkati. Lebih dari itu, berkat membuat orang yang diberkati mau memberkati orang lain.

Berkat Tuhan yang semula untuk umat manusia, adalah agar mereka mengalami kebahagiaan di dalam Dia. Berkat Tuhan tidak selalu berupa kenyamanan tetapi bisa berupa berbagai pengalaman hidup yang selalu berguna untuk kebaikan anak-anak-Nya. Karena dosa, berkat materi dari Tuhan sering disalah gunakan dan ditonjolkan manusia sehingga menimbulkan salah pengertian, padahal kita seharusnya bisa memfokuskan diri pada kebesaran,  kasih dan maksud baik-Nya dalam hidup kita.

Sesungguhnya, hidup dalam kelimpahan dan kenyamanan bukan berarti tanpa bahaya. Mereka yang terbuai dalam suasana damai, aman dan nikmat, sering lupa bahwa iblis selalu mengintai untuk mencari kesempatan menyerang. Iblis bagaikan singa, akan menyerang mereka yang tidak berjaga-jaga.

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” 1 Petrus 5: 8

Hidup yang terasa tenteram tidak boleh menyebabkan kita lengah. Jika mereka yang hidup dalam kekurangan bisa jatuh ke dalam keputusasaan dan dosa, mereka yang hidup dalam kecukupan bisa jatuh ke dalam ketamakan, kesombongan dan dosa. Iblis ingin menghancurkan hidup setiap orang percaya dalam keadaan apa pun. Mereka yang tidak waspada, jarang membaca Firman, dan jauh dari Tuhan sudah pasti akan menjadi mangsa yang empuk. Iblis bukannya muncul dalam bentuk yang selalu terlihat jelas atau menjijikkan, karena jika demikian manusia akan mudah menghindarinya. Iblis justru muncul dengan berbagai bentuk kamulflase indah yang membuat kita tidak awas dan kemudian terkecoh.

Banyak orang Kristen yang berdoa untuk kesuksesan dan kemakmuran, tetapi mungkin jarang yang berdoa untuk meminta sukacita. Herannya, mereka sering mengucapkan “semoga anda berbahagia” kepada orang lain. Mungkin ada keseganan dan rasa malu jika orang berdoa untuk kebahagiaan karena seyogyanya semua orang Kristen berbahagia. Kenyataannya adalah bahwa semua orang pernah mengalami saat-saat dimana kelihatannya hanya kesusahan yang ada.

Satu hal yang sangat penting yang mungkin tidak dikenal oleh orang yang belum beriman adalah bahwa kebahagiaan sejati bukanlah dari kita sendiri. Berlawanan dengan ajaran agama lain dan teori manusia, kebahagiaan sejati sebenarnya berasal dari Tuhan. Dalam bahasa Yunani, kata kebahagiaan atau sukacita diterjemahkan sebagai “chara” yang berhubungan dengan kata “charis” yang berarti karunia. Kita tidak dapat merasakan sukacita dengan usaha sendiri, tetapi jika Roh Kudus bekerja dalam hati kita, mata rohani kita bisa terbuka untuk melihat betapa besar kasih Tuhan kepada kita. Kebahagiaan atau sukacita adalah karunia Tuhan.

Kemampuan untuk melihat hidup dari perspektif yang benar tidaklah dimiliki semua orang. Orang yang bisa benar-benar merasa bersyukur atas hidup mereka tidaklah besar jumlahnya. Kebanyakan orang lebih mudah berfokus kepada apa yang mereka harapkan atau ingini, daripada bersyukur atas apa yang ada. Untuk orang Kristen, kebahagiaan akan datang ketika kita menyadari betapa besar karunia Tuhan dalam hidup kita sekalipun kita sekarang berada dalam kesulitan. Kebahagiaan akan muncul kalau kita bisa merasa cukup dan tidak menguatirkan hal-hal yang di luar kemampuan kita.

Karena itu, marilah kita memohon kepada Tuhan agar Ia memberikan karunia sukacita kepada kita yang percaya, agar kita bisa hidup dengan tenteram dan damai, dan juga bisa memancarkan sukacita ini kepada orang yang di sekitar kita.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 6-7

Jangan jemu berbuat baik selama hidup

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” Galatia 6: 9

Dalam sebagian filsafat timur sering dikatakan bahwa kekuatan baik dan kekuatan jahat itu ada dalam diri tiap manusia, yang senantiasa bertarung, berebut pengaruh. Jika kekuatan baik lagi di atas angin, orang tersebut akan mempunyai tingkah laku yang baik. Sebaliknya, jika kekuatan jahat yang lebih kuat, orang itu akan berbuat jahat tanpa bisa menghindarinya.

Dalam kalangan Kristen, ada orang yang percaya bahwa dalam diri manusia itu tidak ada kebebasan untuk memilih. Semua yang dikerjakan atau dialami manusia sudahlah ditentukan oleh Tuhan sejak mulanya. Jika manusia berbuat jahat mereka bertanggung jawab, tetapi jika mereka berbuat baik itu hanya dimungkinkan oleh Tuhan. Itu karena manusia pada hakikatnya sudah tidak mempunyai apa pun yang baik. Karena itu mereka akan berbuat jahat jika Tuhan tidak menentukan mereka untuk berbuat baik.

Memang dalam kehidupan manusia selalu dihadapkan pada pilihan akan hal yang baik dan buruk. Walaupun demikian, sering kali orang mempunyai berbagai ragam pengertian tentang apa yang baik dan apa yang buruk dalam usaha untuk mencapai suatu hasil. Ayat di atas menganjurkan agar kita untuk tidak berhenti berbuat baik, karena jika kita tetap bersemangat apa yang baik akan terjadi. Kita diajak untuk selalu memilih apa yang baik, agar kita dapat menikmati hasilnya jika kita taat kepada firman-Nya. Dengan demikian, tentunya Tuhan sudah memberikan umat-Nya kebebasan untuk menggunakan hati dan pikiran mereka untuk memilih tujuan yang sesuai dengan kehendak-Nya. Ini bukanlah mudah untuk dilakukan dengan kekuatan sendiri.

Dalam memilih apa yang baik, ada orang yang melihat dari segi maksud, ada yang menimbang dari segi cara, dan ada juga yang memikirkan hasilnya saja. Sebagai contoh, orang mungkin mempunyai maksud atau iktikad yang baik tetapi menggunakan cara yang kurang baik. Orang itu bisa saja tidak merasa bersalah karena ia yakin bermaksud baik. Menurut pemikiran orang ini,

baik + buruk = baik

Tidaklah mengherankan bahwa ada banyak orang Kristen dan gereja yang terjebak dalam tindakan yang tidak baik karena adanya maksud baik.

Selain itu, jika ada orang yang mempunyai maksud buruk tetapi menggunakan cara yang tidak melanggar hukum, apa pun hasilnya orang itu tidak akan merasa bersalah.

buruk + baik = baik

Ada juga orang yang mempunyai maksud buruk dan menggunakan cara yang buruk, tetapi hasilnya terlihat baik dalam pandangan masyarakat.

buruk + buruk = baik

Orang ini mungkin bangga bahwa ia mencapai kesuksesan!

Bagi kita orang Kristen, konsep tentang kebaikan adalah didasarkan pada firman Tuhan. Tuhan kita adalah Tuhan yang tidak bisa dikecoh. Alkitab mengatakan bahwa apa yang jahat adalah jahat, dan dosa tidaklah dapat dicampur dengan apa yang baik untuk memperoleh hasil yang baik. Apa yang buruk tidak dapat menghasilkan sesuatu yang baik. Hasil yang terlihat baik tidak dapat dicapai dengan cara-cara yang buruk. The ends do not justify the means. Kita harus hidup dalam kebenaran pada setiap waktu dan keadaan.

“Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” 1 Petrus 1: 15 – 16

Dalam kenyataan hidup, orang yang senang melakukan hal yang tidak berkenan kepada Tuhan biasanya tidak ingin mendengar firman Tuhan dan memahaminya. Itu karena firman Tuhan adalah seperti terang yang membuat kekeliruannya terlihat jelas. Sebaliknya, mereka lebih senang untuk hidup dan berteman dengan orang-orang yang sepaham. Mereka berusaha keras untuk mencapai hasil yang mereka inginkan, yang mereka pandang baik, dengan cara apa pun.

Dalam hal ini, hukum dunia dan pandangan manusia mungkin membenarkan semua itu berdasarkan hak asasi dan keadilan hukum setempat. Tidaklah mengherankan bahwa adanya legalisasi hal-hal seperti pernikahan sesama jenis dan aborsi di banyak negara, bisa membuat orang Kristen kurang berani menyatakan firman Tuhan dan bahkan merasa lelah dan jemu untuk berusaha menegakkan kebenaran-Nya.

Hari ini, panggilan Tuhan kepada kita adalah untuk tetap berjuang menegakkan kebenaran-Nya. Sebagian di antara kita mungkin menyambut panggilan ini dengan kerinduan dan semangat. Tetapi mungkin ada juga orang-orang yang merasakan keseganan dan keraguan. Mereka kuatir kalau-kalau usaha mereka untuk berjalan dalam kebenaran membuat mereka dimusuhi atau disudutkan oleh masyarakat. Mereka kuatir kalau-kalau dianggap munafik atau pembenci sesama. Walaupun demikian, kita tidak boleh segan atau gentar. Memang kegelapan tidak bisa bercampur dengan terang, dan kegelapan membenci adanya terang, tetapi terang Tuhanlah yang pada akhirnya akan menang jika kita tidak menyerah.

“Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.” Yohanes 3: 20 – 21

Menghilangkan rasa sebal

“Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia.” Filipi 2: 14-15

Selang 40 tahun yang lalu, ketika saya mendarat di benua Australia, pengetahuan saya tentang budaya setempat adalah minim sekali. Dari buku pembimbing turis yang tersimpan dalam koper saya, saya mendapat info bahwa orang sering saling menyapa dengan ucapan “G’day” yang khas Australia. Karena itu, saya pun ikut-ikutan giat menyapa teman seuniversitas, dan bahkan dosen saya, dengan ucapan good day yang sudah disingkat itu. Dan biasanya sapaan saya itu disambut dengan ucapan serupa atau senyum kecil.

Selang beberapa bulan, saya menyadari bahwa berbeda dari kebiasaan di Indonesia, sapaan di Australia umumnya hanya basa-basi saja, dan bahkan sapaan “how are you” atau “apa kabar” dari seseorang kenalan yang kita temui di jalan, tidaklah perlu dijawab dengan serius. Cukup kalau kita menjawab “good, thank you“, sambil terus berjalan sekalipun kita mengalami hari yang kurang baik atau “bad day“. Tentu saja kadang-kadang saya merasa sebal mendengar sapaan yang hanya basa-basi seperti itu. Apalagi kalau saya butuh teman sharing, tetapi hanya menemui orang yang menyapa sambil berlenggang-kangkung. Itulah cermin budaya individualis di negara barat.

Memang sepertinya dalam hidup ini selalu ada “hari buruk”, bad day, di mana kita tidak saja menemui banyak masalah, tetapi juga menjumpai hal-hal atau orang-orang yang membuat kita sebal. Sebagai akibatnya, kita mudah menjadi murung dan kurang senang. Baik di sekolah, kantor maupun di rumah, selalu ada situasi yang menguji kesabaran kita. Rasa tidak senang dan perbantahan memang bisa muncul karena adanya perbedaan pendapat atau kebiasaan.

Salahkah kita jika perasaan kurang senang muncul dalam pikiran kita? Sebagai manusia ciptaan Allah semua orang memiliki sifat-sifat yang dimiliki Sang Pencipta, dan karena itu tidaklah mengherankan jika kita sering mempunyai rasa kurang senang atas hal-hal yang dirasakan kurang baik. Walaupun demikian, karena keterbatasan dan dosa, amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah (Yakobus 1: 20). Tambahan pula, sebagai manusia yang terbatas, apa yang kita anggap baik belum tentu benar-benar baik atau baik untuk orang lain. Sebagai manusia berdosa, kita justru cenderung melakukan apa yang kurang baik.

Orang Kristen yang menyadari bahwa orang lain selalu mempunyai kekurangan dan kelemahan, tentu bisa menerima kenyataan bahwa mereka sendiri juga tidak sempurna. Tetapi, apakah yang bisa kita lakukan sebagai orang yang tidak sempurna untuk bisa membuat orang lain melihat bahwa kita adalah orang yang berbeda dengan yang lain? Dengan kekuatan sendiri kita tidak mungkin bisa menunjukkan orang di sekitar kita bahwa kita mempunyai gaya hidup yang berbeda. Sekalipun untuk sesekali kita mungkin bisa menunjukkan sikap yang baik dalam keadaan yang kurang menyenangkan, dengan kekuatan sendiri hal itu adalah sesuatu yang tidak dapat kita pertahankan untuk selamanya.

Sesuai dengan ayat pembukaan di atas, kita harus sadar bahwa setiap hari kita akan menghadapi berbagai suasana, situasi dan perbuatan orang-orang yang kurang menyenangkan, dan mungkin rasa pahit atau sebal sudah muncul dalam mulut kita. Ayat di atas memberi gambaran bahwa memang sulit untuk kita bisa mengubah keadaan disekeliling kita. Tetapi sebagai anak-anak Tuhan kita mempunyai kelebihan, bahwa kita sadar bahwa kita sudah diselamatkan semata-mata karena kasih Tuhan. Dengan itu, kita seharusnya mempunyai motivasi yang besar untuk menunjukkan perubahan yang sudah terjadi dalam hidup kita kepada orang-orang di sekitar kita. Kita yang sudah mengalami hidup baru dalam Kristus adalah ciptaan yang baru yang sudah dibebaskan dari belenggu dosa; dan karena itu, sifat dan sikap yang tidak memuliakan Tuhan sekarang bisa dihilangkan seirama dengan kedewasaan iman kita.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Rencana Tuhan selalu baik bagi umat-Nya

“Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan” Yesaya 46: 9 – 10

Jika kita rajin membaca berita dalam surat kabar atau dari media eletronik, pastilah kita sadar bahwa keadaan di benua Eropa saat ini sangatlah menguatirkan. Kemungkinan pecahnya perang yang melibatkan dua negara yang bersebelahan, Rusia dan Ukraina, agaknya sulit untuk dihindari. Jika itu memang terjadi, negara-negara lain seperti Amerika, Jerman dan Prancis pasti akan terlibat.

Memang setiap hari selalu ada saja kabar buruk yang terjadi di dunia. Tidak hanya berita tentang adanya kekacauan di bidang sosial, ekonomi dan politik di berbagai tempat, tetapi juga adanya penderitaan yang dialami manusia karena adanya kelaparan, penyakit, penganiayaan, kejahatan, perang atau kecelakaan. Mereka yang mempunyai perasaan tentu merasa sedih bahwa hal-hal yang sedemikian bisa terjadi tanpa bisa dicegah.

Memang sebagian manusia mungkin hanya memikirkan penderitaan orang lain secara sepintas lalu saja. Selama hal-hal itu tidak menyangkut hidup mereka atau hidup sanak saudara, mereka tidak merasa terbebani. Tetapi, kebanyakan manusia tentu bisa merasakan kesedihan yang dialami orang lain dan harus menerima kenyataan bahwa selama hidup di dunia memang penderitaan bisa datang silih berganti.

Apakah Tuhan itu benar ada dan tetap mengatur seisi jagad-raya? Jika Tuhan itu mahakuasa, mahatahu dan mahakasih, adakah yang Ia lakukan ketika Ia melihat bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada diri umat manusia? Inilah pertanyaan yang sulit kita jawab. Dalam kesulitan dan penderitaan yang besar, adalah normal jika kita mempertanyakan hal-hal itu.

Dimanakah Tuhan ketika malapetaka terjadi di dunia? Sedihkah Tuhan jika umat-Nya terkena bencana? Bagi orang Kristen hal ini adalah  pertanyaan yang masih sering timbul. Bahkan adanya bencana dan malapetaka sering kali membuat hati menjadi kecil karena nampaknya malapetaka bisa terjadi pada siapa saja, di mana saja dan kapan saja.

Satu hal yang harus kita sadari ialah sifat Tuhan yang mahakasih tentulah bertentangan dengan pandangan sebagian agama atau pendapat beberapa pemuka agama, bahwa Dialah yang menyebabkan munculnya malapetaka. Dalam Yohanes 3:16 kita tahu bahwa karena Tuhan mencintai seisi dunia, Ia sudah memberikan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus. Dengan kasih yang sedemikian besarnya, tidaklah mungkin bahwa Tuhan bermaksud membiarkan orang-orang atau bangsa-bangsa tertentu untuk menderita jika tidak ada sebabnya.

Sebelum kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, kita harus menyadari bahwa karena bumi ini sudah jatuh ke dalam dosa, hidup semua makhluk tidak lagi dapat memperoleh ketenteraman. Karena dunia ini adalah dunia yang tidak sempurna, manusia secara perorangan atau kolektif, bisa membuat kesalahan yang bisa mencelakakan orang lain atau dirinya sendiri. Dalam hal ini, kita harus ingat bahwa iblis dengan segala usahanya juga berusaha menghancurkan kehidupan manusia.

Dalam keadaan yang demikian, bagi umat Kristen satu-satunya pegangan hidup adalah kasih Tuhan yang sudah mengurbankan Anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa manusia. Karena sedemikian besar kasih Tuhan kepada manusia, Ia sebenarnya tidak menginginkan adanya bencana apa pun pada diri manusia. Walaupun begitu, karena dosa yang diperbuat manusia, Tuhan bisa mengizinkan terjadinya hal-hal yang menyedihkan sebagai peringatan dan hukuman. Selain itu, dalam berbagai penderitaan, kuasa Tuhan bisa terasa dan membuat orang mau berserah kepada-Nya.

Hari ini, jika kita mendengar adanya kemungkinan terjadinya perang baru di dunia, hati kita mungkin bertanya-tanya mengapa Tuhan seakan berdiam diri. Apakah Tuhan benar-benar mahakasih, mahaadil dan mahakuasa? Ayat di atas menunjukkan bahwa keputusan-Nya akan terjadi dan segala kehendak-Nya akan terlaksana. Apa pun yang terjadi adalah dengan sepengetahuan-Nya.

Kita sering kali tidak mengerti mengapa Ia mengambil keputusan tertentu, atau membiarkan hal-hal yang buruk terjadi di dunia. Tetapi, satu hal yang harus kita sadari adalah hidup di dunia ini hanyalah sebagian kecil dari hidup manusia. Orang mungkin hidup di dunia untuk 70-80 tahun dan dalam jangka waktu yang relatif singkat itu berbagai kesukaran dan penderitaan bisa muncul (Mazmur 90: 10). Tetapi kita tahu bahwa apa pun yang terjadi pada diri umat percaya, Tuhan selalu mempunyai maksud baik bagi mereka di masa mendatang. Apa yang akan datang sesudah hidup di dunia adalah yang lebih penting; masa yang abadi di mana kita yang sudah dipilih-Nya akan menerima kebahagiaan yang penuh bersama Tuhan.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Antara berpikir positif dan menolak kenyataan bedanya hanya sekulit bawang

Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Lukas 23: 34

Berpikir positif atau positive thinking adalah sesuatu yang banyak digembar-gemborkan oleh berbagai motivator pada zaman ini. Berpikir positif adalah sesuatu yang membuat orang bisa bertahan dalam menghadapi kesulitan, begitu kata orang. Memang, jika seseorang mengalami hal yang kurang menyenangkan, pikiran yang negatif sering kali membuat persoalan menjadi terasa makin berat.

Berpikir positif secara umum menyangkut usaha untuk memperbesar hal percaya kepada diri sendiri dan memupuk semangat untuk menghadapi hari depan. Kelihatannya, semua ini adalah baik dalam pandangan banyak orang yang menghadapi kesulitan hidup. Tetapi, mereka yang tidak pernah memikirkan segi negatif dari hidupnya, akan mudah untuk jatuh ke dalam dosa. Memang, pikiran yang positif bisa membuat orang menjadi buta akan perbedaan antara apa yang disukai Tuhan dan apa yang dibenci-Nya.

Kita tahu bahwa setiap hari di media selalu ada berita tentang orang-orang yang ditangkap polisi karena diduga terlibat dalam suatu kejahatan atau pelanggaran hukum. Mereka itu pada saatnya akan menghadapi hakim di pengadilan, di mana tim penuntut dan tim pembela beradu pendapat mengenai kesalahan si terdakwa. Apakah terdakwa memang dengan sengaja melakukan pelanggaran hukum? Bagaimana jika terdakwa tidak sadar bahwa ia telah melakukan pelanggaran? Satu yang pasti, sekalipun terdakwa tidak sadar bahwa dirinya melanggar hukum, keadilan hukum tetap harus dijalankan. Dalam hal ini, terdakwa mungkin bisa menerima keringanan hukuman jika ia menyadari dan menyesali perbuatannya.

Ayat di atas adalah sebuah ayat yang sangat terkenal yang sering dibahas dan disampaikan dalam berbagai khotbah dan renungan. Memang apa yang dikatakan Yesus sewaktu Ia disalibkan adalah suatu doa yang luar biasa, yang menunjukkan kasih-Nya kepada manusia. Pada waktu itu prajurit-prajurit Romawi membuang undi atas jubah Yesus, sedangkan banyak  orang Yahudi melihat Yesus disalibkan dengan melontarkan berbagai ejekan, dan bahkan seorang penjahat yang disalibkan di samping Yesus ikut juga menghujat Dia. Menghadapi semua itu Yesus tetap mau berdoa kepada Allah Bapa agar mereka diberi kesempatan untuk memperoleh pengampunan.

Yesus berdoa agar Bapa mengampuni mereka yang tidak tahu apa yang mereka perbuat. Ini bukanlah sekadar memenuhi nubuat Yesaya (Yesaya 53: 12) yang mengatakan bahwa “Ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberotak”. Yesus tentu tahu bahwa bagi mereka yang didoakan masih ada kesempatan untuk meminta ampun atas dosa-dosa mereka. Pengampunan Tuhan bisa diberikan jika manusia mau mengakui dosa-dosa mereka. Tetapi, jika mereka merasa tidak berdosa, pengampunan tentunya tidak akan diberikan Tuhan.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita. 1 Yohanes 1: 9 – 10

Mungkin dalam hal ini ada orang-orang yang merasa yakin bahwa mereka sudah hidup menurut perintah Tuhan, dan merasa yakin bahwa hidup mereka adalah lebih baik dari hidup orang lain. Perumpamaan Yesus tentang orang Farisi dan pemungut cukai yang ada dalam Lukas 18: 9 – 14 menceritakan adanya seorang Farisi yang berdoa  di sebelah seorang pemungut cukai dan merasa bahwa ia “tidak sama seperti orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini”. Orang Farisi ini jelas tidak sadar akan dosa apa yang diperbuatnya: kesombongan. Karena tidak tahu akan dosa yang diperbuatnya, ia tidak bisa meminta ampun; dan karena ia tidak meminta ampun, ia tidak akan dibenarkan Tuhan. Sebaliknya, pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini”. Bagi pemungut cukai ini pengampunan Tuhan tersedia.

Sadarkah kita akan dosa yang kita perbuat? Mungkin kita tahu bahwa sebagai manusia kita dilahirkan dalam dosa. Semua orang sudah berdosa karena dosa yang diperbuat oleh Adam dan Hawa. Walaupun demikian, sadarkah kita akan segala dosa yang kita perbuat setiap hari, setiap jam dan setiap saat? Sudah tentu jika kita menghitung dosa-dosa yang kita lakukan, pikirkan, atau katakan setiap hari, jumlahnya adalah terlalu banyak untuk bisa disebutkan. Untuk sebagian orang, karena kebiasaan dan berbagai alasan, dosa yang banyak itu mudah dilupakan. Begitu juga, apa yang bisa diterima oleh masyarakat umum mudahlah diacuhkan. Karena banyak orang melakukan hal yang sama, kita mungkin merasa bahwa kita tidak berbuat salah. Itulah salah satu segi positive thinking. Memang perbedaan antara berpikir positif dan menolak kenyataan adalah tipis.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa pengampunan Tuhan ada tersedia bagi semua orang yang sadar akan dosanya. Roh Kudus bekerja setiap saat untuk mengingatkan kita agar kita selalu mengamati apa yang baik dan yang buruk dalam hidup manusia di dunia.  Jika apa yang baik menurut firman Tuhan tidak kita lakukan dan apa yang buruk justru kita senangi, itulah kelemahan kita. Tetapi Roh Kudus jugalah yang memberi peringatan dengan tidak henti-hentinya agar kita tahu apa yang kita lakukan, agar kita peka akan apa yang baik dan apa yang buruk. Roh Kudus juga yang membimbing kita agar kita tidak jatuh kedalam positive thinking bahwa kita adalah orang-orang yang tidak lebih buruk dari orang lain. Biarlah dengan kerendahan hati kita mau meneliti kenyataan hidup kita hari demi hari untuk bisa memohon pengampunan Tuhan atas dosa-dosa kita, dan memperoleh kekuatan dari Tuhan agar kita mampu untuk memperbaiki cara hidup kita.

“Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!” Mazmur 51: 1

Hal menghadapi orang yang keliru

“Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati! dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu.” Yehezkiel 33: 8

Adakah untungnya bagi orang yang bermaksud baik untuk memberi nasihat bagi orang lain jika ada kemungkinan bahwa nasihat itu akan ditolak mentah-mentah dan bahkan bisa dijadikan alasan untuk mengadakan permusuhan? Ini adalah pertanyaan yang mungkin muncul dalam setiap orang dari kecil.

Memang, orang sering mempunyai keinginan untuk menolong orang lain, setidaknya untuk memberi nasihat. Tetapi, dari kecil mungkin kita sudah belajar untuk mengabaikan adanya hal-hal yang kurang baik dalam masyarakat. Mungkin dari orang tua atau teman, kita belajar untuk tidak mencampuri urusan orang lain. Itu adalah demi keselamatan atau kenyamanan kita sendiri.

Sangatlah menarik bahwa setiap masyarakat selalu mempunyai hal-hal tertentu yang sulit disinggung atau dibicarakan orang lain. Di dunia Barat misalnya, hal kebebasan memilih orientasi seksual sering kali membuat masyarakat umum rikuh untuk membicarakannya. Dengan demikian, banyak orang yang menutup mata akan hal itu selama kebebasannya sendiri tidak terganggu. Tetapi, akhir-akhir ini di Australia muncul pertentangan antara mereka yang ingin bebas memilih cara hidupnya dan mereka yang ingin menjalankan ajaran agamanya.

Bagaimana sebenarnya panggilan orang Kristen dalam menghadapi situasi di sekelilingnya? Haruskah orang Kristen berusaha berdamai dengan semua orang dengan cara apa pun? Kita bisa melihat dari contoh Yesus yang selama hidup di dunia tidak ragu-ragu menegur orang lain, sekalipun itu menyebabkan kemarahan mereka. Dengan demikian, panggilan kita untuk hari ini tetaplah sama, yaitu agar kita berani menyatakan apa yang benar dan yang tidak benar menurut apa yang difirmankan Tuhan.

Ayat di atas adalah pernyataan Tuhan yang khusus kepada Yehezkiel, tetapi bisa diterapkan prinsipnya untuk semua orang Kristen yang hidup di mana pun. Prinsip yang harus kita pegang, bahwa kita ikut bertanggung-jawab atas kesalahan yang dilakukan orang lain yang kita lihat sendiri.

Jika kita tahu bahwa orang lain melakukan kesalahan dan kita hanya berdiam diri, kita sudah ikut bersalah di hadapan mata Tuhan. Setiap orang Kristen dipanggil untuk ikut berpartisipasi dalam menegakkan kebenaran, bukan saja dalam lingkungan keluarga, pekerjaan, masyarakat dan gereja, tetapi juga dalam hidup bernegara. Semua itu tentunya harus dilakukan dengan kasih dan untuk kemuliaan Tuhan.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang dinasihati bisa saja merasa bahwa dirinya dipermalukan atau diserang sehingga ia menjadi defensif, ingin membela diri. Salah satu ayat Alkitab yang sangat terkenal, baik di kalangan orang Kristen maupun orang bukan Kristen adalah Matius 7: 1. Ini sering disalah artikan sehingga orang memakainya sekadar untuk membungkam kritik-kritik orang lain. Lebih-lebih lagi di kalangan umat Kristen pun banyak yang memakai ayat ini untuk menekankan segi kasih dan kesabaran Tuhan, tetapi secara keliru.

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” Matius 7: 1

Sering kali ayat ini juga dipakai untuk menyerang orang Kristen yang berusaha menerapkan ajaran Alkitab dalam masyarakat dan negara. Ayat ini biasanya dikaitkan dengan ayat lainnya yang juga sama terkenalnya dalam hidup sehari-hari:

“Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Yohanes 8: 7b

Ayat ini sekarang sering dipakai banyak orang untuk membungkamkan orang Kristen yang menolak perkawinan antar manusia sejenis, kebebasan seksual dan aborsi.

Sungguh disayangkan bahwa dengan tekanan masyarakat umum, orang Kristen sering kali jadi bungkam dan mandul dalam usaha menegakkan kebenaran Kristus di dunia. Tidak hanya masyarakat Kristen menjadi tersudut, para pendeta, guru dan orang tua pun menjadi serba salah ketika menghadapi tantangan dalam gereja, sekolah dan keluarga. Malahan, ada orang-orang Kristen yang pandangan hidupnya tidak ada bedanya dengan orang yang bukan Kristen. Akibatnya jelas merugikan martabat dan fungsi orang Kristen di dunia. Orang Kristen tidak dapat lagi menjadi terang dunia sebagaimana seharusnya.

Tuhan Yesus tidak mengajarkan murid-murid-Nya untuk membiarkan orang lain berbuat semaunya dan tidak juga melarang mereka untuk menegur orang yang keliru dalam hidupnya. Tetapi apa yang dipermasalahkan oleh Yesus adalah hal menghakimi orang lain dengan cara yang salah. Seperti yang tertulis dalam kitab Hakim-hakim, menegakkan hukum Tuhan di dunia dengan cara yang benar sebenarnya adalah tugas semua orang Kristen.

Bagaimana kita bisa menjadi “hakim” yang benar di dunia ini? Bagaimana seharusnya kita ikut menegakkan etika dan hukum Kristen dalam hidup sehari-hari? Ada beberapa syaratnya:

  • Kita harus memegang kuat Firman Tuhan. Apa yang baik dan buruk menurut Firman harus dinyatakan kepada semua orang dengan tegas tetapi dengan kasih. Apa yang dibenci Tuhan adalah perbuatan dosa kita dan bukan kita sendiri. Kita juga harus ingat bahwa orang yang sangat buruk hidupnya seperti Paulus, bisa dijadikan seorang Rasul.
  • Kita tidak boleh membeda-bedakan penerapan hukum Tuhan dalam masyarakat dan gereja. Siapa pun yang tersesat harus diperingatkan, tidak tergantung pada siapa orangnya. Kita juga harus menegur berdasarkan fakta dan bukan berita. “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.” Yohanes 7: 24
  • Menegakkan kebenaran Tuhan bukan hanya sekedar “omong kosong” saja tetapi dengan tindakan yang berdasarkan Firman. “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain.” Kolose 3: 16
  • Dalam usaha menegakkan kebenaran, kita harus menyadari bahwa semua orang cenderung untuk berbuat dosa. Karena itu, semua orang Kristen terutama mereka yang mempunyai kesempatan dan fungsi sebagai pemimpin dan guru harus mau dan bisa mengintrospeksi diri sendiri, agar bisa memberi contoh dan teladan untuk hidup baik.
  • Kerendahan hati adalah keharusan bagi setiap orang Kristen dan ini harus lebih dinyatakan dalam usaha menegakkan kebenaran Tuhan. Dalam kita menegur orang lain, kita harus sadar bahwa kita pun orang berdosa, tetapi hanya karena kasih Kristus kita sudah diselamatkan.

Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai orang terpilih yang sudah diselamatkan kita tidak boleh ragu dan takut untuk menegur orang lain. Firman Tuhan harus dinyatakan kepada semua orang, dan dengan itu kebenaran Tuhan harus ditegakkan. Walaupun demikian, semua itu harus dilakukan dengan kasih supaya nama Tuhan dipermuliakan.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Berkelimpahan dalam Tuhan

“Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” Matius 25: 29

Akhir-akhir ini saya sering menerima video yang menggambarkan keadaan di sebuah negara adidaya, yang menunjukkan banyaknya orang yang tidur di tenda atau melakukan perampokan secara terang-terangan. Terlepas dari benar tidaknya kejadian itu, semua orang tahu bahwa di negara maju pun belum tentu rakyatnya bisa menikmati hidup cukup atau memperoleh jaminan keamanan yang cukup.

Salah satu keluhan rakyat dari sebuah negara maju biasanya berkaitan dengan kenyataan bahwa kemakmuran yang terlihat belum tentu dapat dirasakan oleh semua orang. Bahkan, keluhan rakyat biasanya sehubungan dengan keadaan dimana orang yang kaya bertambah kaya, sedangkan orang yang miskin bertambah miskin. Walaupun demikian, negara maju umumnya mempunyai jaminan sosial bagi rakyat yang tidak mampu. Sebaliknya, pada banyak negara yang sedang berkembang, rakyat yang miskin harus bisa hidup dengan usaha sendiri atau berharap pada bantuan sedekah orang lain.

Keadaan yang serupa sering juga terlihat diantara masyarakat Kristen, dimana gereja-gereja yang besar dan kaya seringkali terlihat makin maju dan makmur, sedangkan gereja-gereja yang kecil harus berjuang dalam kekurangan dan kemiskinan. Orang mungkin menghubungkan kemakmuran sebuah gereja dengan berkat Tuhan, atau membuat asumsi bahwa kenyamanan yang mereka alami menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang disenangi Tuhan, yang hidup menurut kehendak Tuhan. Tetapi hal ini adalah jauh dari kebenaran, sebab Tuhan adalah Tuhan yang adil dan mau agar semua umat-Nya untuk hidup berbahagia. Bahagia yang bagaimana?

Ayat diatas memang sering disalah tafsirkan sebagai pernyataan bahwa Tuhan mengasihi orang-orang pilihan-Nya, dengan memberkati orang-orang tertentu. Mereka yang hidupnya sukses dan kaya, dianggap sebagai orang-orang yang menggunakan berkat dan talenta dari Tuhan sedemikian rupa sehingga Tuhan senang dan makin membuka pintu-pintu berkat di surga. Memang ada benarnya jika mereka yang tidak menghargai berkat Tuhan yang sudah dilimpahkan, tidak akan menerima tambahan berkat di masa depan. Tetapi hal jasmani ini bukanlah yang terpenting dalam hidup manusia, karena kebahagiaan tidaklah dapat diukur dengan kekayaan atau kenyamanan.

Apa yang lebih ditekankan dalam ayat diatas adalah kenyataan bahwa orang yang merasakan berkat karunia dan kasih Tuhan setiap hari, akan makin merasakan kecukupan dan bahkan kelimpahan dalam hidup rohaninya. Memang orang tidak perlu hidup dalam kelimpahan untuk dapat merasakan betapa besarnya kasih Tuhan dalam pengurbanan Yesus Kristus. Mereka yang bergelimang dalam kenikmatan duniawi, malahan justru sering terasing dari Tuhan. Mereka yang tidak tahu bagaimana menggunakan hidup untuk memuliakan Tuhan yang sudah mati disalibkan, akan mengalami kemiskinan rohani sehingga semakin lama imannya akan semakin kecil dan akhirnya lenyap.

Jawab Yesus: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” Matius 13: 11 – 12

Hari ini kita disadarkan bahwa tugas utama kita sebagai orang Kristen adalah mencari kerajaan surga dan bukannya kenyamanan duniawi. Tuhan memberkati mereka yang mengutamakan pengabdian kepada Tuhan dan kebenarannya, sehingga kita tidak perlu menguatirkan keadaan di sekeliling kita. Tuhan akan memberkati hidup kita jika kita mau dekat kepada-Nya.

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6: 33