Apakah Tuhan penyebab dosa?

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ”Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” Yakobus 1:13-14

Secara umum, semua orang Kristen percaya bahwa Tuhan adalah Oknum Ilahi yang mahakuasa dan pada-Nya ada kedaulatan untuk menetapkan apa yang akan terjadi, sesuai dengan rencana-Nya. Karena adanya keyakinan ini, ada pertanyaan yang sering timbul di antara orang beriman, dan yang sering diperdebatkan oleh berbagai golongan. Jika tindakan jahat ada dalam rencana Tuhan, dan jika itu sudah ditentukan sebelumnya oleh Tuhan, lalu apakah manusia bertanggung jawab atas dosa mereka? Jika ya, bukankah Tuhan adalah pencipta dosa? Untuk setiap pertanyaan ini, Alkitab memberikan jawaban yang sangat tegas. Ya, manusia bertanggung jawab atas perbuatan jahatnya; dan tidak, Allah bukanlah pencipta dosa.

Bahwa orang yang bertanggung jawab atas tindakan jahatnya sudah dijelaskan dalam Alkitab dari awal sampai akhir sehingga tidak ada gunanya mengutip berbagai ayat-ayat sebagai bukti. Ayat di atas jelas menyatakan bahwa Allah bukanlah pencipta dosa. Itu jelas dari sifat dasar dosa, sebagai pemberontakan melawan hukum Allah yang kudus. Tuhan berdaulat adalah pencipta segala sesuatu, tetapi bukan pencipta dosa. Manusia harus bertanggung jawab sepenuhnya atas dosa mereka. Ini adalah hal yang sulit dimengerti.

Lalu, bagaimana kita bisa menanggapi kesulitan ini? Alkitab menyatakan bahwa Tuhan telah menetapkan sebelumnya apa pun yang akan terjadi. Tindakan berdosa dari manusia adalah sesuatu yang ada di setiap saat. Jika Allah bukan pencipta dosa tetapi menuntut tanggung jawab dari manusia, bagaimana itu bisa terjadi? Apakah hal ini bukannya suatu kontradiksi yang tidak mempunyai penyelesaian?

Jawabannya ditemukan dalam kenyataan bahwa meskipun Allah telah menetapkan sebelumnya apa pun yang akan terjadi, Dia menyebabkan terjadinya hal-hal yang ada dengan cara yang sangat berbeda. Dia tidak menyebabkan terjadinya tindakan makhluk pribadi dengan cara yang sama seperti cara dia menyebabkan terjadinya peristiwa di dunia fisik. Itu berlaku untuk semua orang, termasuk atas perbuatan anak-anak-Nya. Bahkan ketika Tuhan menyebabkan umat-Nya melakukan hal-hal tertentu dengan pengaruh rahmat Roh Kudus-Nya, Ia tidak memaksakan kehendak-Nya.

Tuhan tidak memperlakukan manusia seperti robot, tetapi Dia memperlakukan mereka seperti gambar-Nya. Dia tidak menyebabkan mereka melakukan hal-hal itu secara bertentangan dengan keinginan mereka, tetapi pada saat yang tepat Dia bisa mempengaruhi keinginan mereka, sehingga kebebasan mereka sebagai pribadi terpelihara sepenuhnya ketika mereka melakukan suatu tindakan. Apa yang dilakukan tetaplah pilihan mereka, karena mereka sudah diberi pengertian akan apa yang baik dan buruk oleh Roh Kudus.

Kejahatan dan dosa terjadi dengan seizin Tuhan, tetapi Dia tidak menggoda manusia untuk berbuat dosa; dan Dia tidak mempengaruhi mereka untuk berbuat dosa. Tetapi Dia menyebabkan terlaksananya perbuatan-perbuatan itu melalui pilihan-pilihan yang bebas dan yang bertanggung jawab dari umat manusia. Dia telah menciptakan manusia dengan karunia kebebasan memilih (faculty of choice) yang tidak dapat dijumpai pada makhluk lainnya. Hal-hal yang mereka lakukan selama memakai karunia itu adalah tindakan mereka, bukan sekadar naluri. Manusia tidak bisa mengejutkan Tuhan dengan perbuatan mereka; tindakan mereka terhadap-Nya adalah bagian dari rencana kekal-Nya. Dengan demikian, dalam melakukannya merekalah yang bertanggung jawab dan bukan Allah yang mahasuci.

Kesulitan yang sering ada sebenarnya adalah kesulitan untuk melihat bagaimana Tuhan yang baik dan mahakuasa sudah mengizinkan dosa memasuki dunia yang telah Ia ciptakan. Bagaimana mungkin Tuhan yang mahasuci, jika Dia mahakuasa, mengizinkan keberadaan dosa? Bukankah masalah dosa ini tidak akan ada jika Tuhan tidak mengizinkannya? Dalam hal ini kita mungkin tidak dapat memperoleh jawaban yang benar-benar memuaskan, selain bahwa semua itu ada dalam rencana-Nya sehingga pada akhirnya semua umat-Nya bisa hidup berbahagia bersama dengan Dia di surga.

Apakah kita masih gundah bahwa ada beberapa hal yang tetap tidak kita ketahui dengan pasti? Tuhan telah memberi tahu kita banyak hal. Dia telah memberi tahu kita tentang arti dosa. Dia telah membuka mata hati dan pikiran kita tentang apa yang baik dan yang buruk melalui kuasa Roh Kusus. Dia telah memberi tahu kita bagaimana dengan harga tebusan yang tak terbatas, dengan karunia Putra-Nya, Dia telah menyediakan jalan keluar untuk kita dari hukuman dosa. Dengan itu kita akan bisa mendapatkan jawaban yang benar-benar memuaskan kita setelah kita berjumpa dengan Dia di surga!

Menjadi orang Kristen yang bertanggung jawab

“Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana.” Amsal 19: 21

Apakah anda mempunyai cita-cita? Pernahkah anda mempunyai rencana untuk melakukan sesuatu? Yakinkah anda bahwa cita-cita atau rencana anda akan tercapai? Mungkin ada yang menjawab bahwa keyakinan kita tentunya bergantung pada besar-kecilnya rencana; jika rencana itu kecil saja tentunya tidak akan sulit untuk dilakukan, tetapi jika rencana itu besar dan kompleks tentunya kita tidak bisa selalu yakin untuk bisa terlaksana. Segala sesuatu ada risikonya dan itu termasuk risiko gagal.

Mengapa rencana kita bisa gagal? Bagi orang Kristen, jawabnya bisa bermacam-macam. Kegagalan bisa karena keterbatasan kita, kekeliruan kita, atau berbagai faktor eksternal. Memang sekalipun kita berusaha keras, dunia tidak selalu menjanjikan hasil yang sepadan. Mereka yang percaya bahwa Tuhan menentukan segala apa yang terjadi di dunia mungkin menganggap kegagalan adalah lumrah – karena Tuhan tidak menghendaki hal itu terjadi. Jika apa yang diperbuat manusia adalah sesuai dengan kehendak Tuhan, tentu itu akan terjadi. Selain itu, ada juga orang yang beranggapan bahwa apa saja yang terjadi di dunia, baik itu berupa kebaikan atau kejahatan, sudah ditentukan oleh Tuhan. Karena itu jugalah ada orang yang percaya bahwa segala masalah yang dialaminya adalah takdir dari Tuhan dan tidak dapat dihindari.

Benarkah bahwa semua masalah, kejahatan dan kegagalan sudah ditentukan Tuhan? Benarkah bahwa Tuhan sudah menentukan nasib kita sepenuhnya? Pertanyaan semacam ini sudah menjadi bahan diskusi dan bahkan perdebatan antar berbagai golongan. Ada orang Kristen yang karena menjunjung tinggi kedaulatan Tuhan, mempunyai keyakinan bahwa Tuhan yang menentukan segala apa yang terjadi, tetapi manusia tetap bertanggung-jawab atas apa yang dilakukan atau dialaminya. Ada juga orang yang percaya bahwa Tuhan sudah menentukan apa yang akan terjadi, tetapi Ia memberi kebebasan kepada manusia untuk memilih apa yang baik dan yang buruk dalam hidupnya. Juga ada orang yang percaya bahwa manusia bisa memilih apa pun menurut kehendaknya, sekalipun bimbingan Roh Kudus selalu berusaha untuk membawanya kearah yang benar. Dan tentu saja ada orang percaya bahwa di dunia ini Tuhan tidak ikut campur tangan, Ia hanya melihat apa yang akan terjadi dan membuat rancangan-Nya  yang disesuaikan dengan apa yang ada. Bagaimana kata Alkitab?

Jika Tuhan mahakuasa dan mahakasih, sudah tentu Ia tidak hanya merencanakan hasil akhir rancangan-Nya. Tuhan tentunya ikut bekerja di antara manusia setiap hari untuk mewujudkan rencana-Nya. Ayat di atas berkata bahwa jika manusia bisa membuat banyak rencana, keputusan Tuhanlah yang terlaksana. Itu berarti bahwa Tuhan bekerja pada setiap saat. Masalahnya, bagaimana Tuhan bekerja dalam dinamika kehidupan manusia? Apakah Ia memaksa setiap manusia untuk berbuat ini dan itu agar rencana-Nya terjadi? Jika demikian bukankah manusia menjadi seperti robot yang hanya bisa melakukan apa yang diperintahkan pemiliknya? Bukankah dengan demikian si robot tidak dapat dipersalahkan jika ia membuat kekeliruan?

Ada banyak ayat dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa manusia bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya, bukan atas apa yang ditentukan Tuhan. Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa bukan karena rencana Tuhan, tetapi Tuhan mempunyai rencana keselamatan karena sebelum manusia ada, Ia sudah tahu bahwa manusia akan jatuh ke dalam dosa. Saudara-saudara Yusuf menjual Yusuf bukan karena mereka melakukan apa yang dikehendaki Tuhan, tapi atas kebencian mereka atas Yusuf. Tetapi melalui apa yang dialami Yusuf, Tuhan mewujudkan rencana-Nya untuk membawa umat Israel keluar dari tanah Mesir.

Sekalipun Tuhan selalu memegang kemudi kehidupan di dunia, itu tidak berarti Ia selalu membatasi gerakan dan tingkah laku manusia. Jika manusia jatuh ke dalam dosa, mereka tidak dapat mempersalahkan Tuhan yang membiarkan hal itu terjadi. Dunia yang sudah jatuh dalam dosa ini memang sangat besar pengaruhnya kepada orang yang jauh dari Tuhan.

“Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” 1 Yohanes 2: 16

Jika manusia mempunyai kebebasan untuk memilih apa yang baik dan yang buruk,  apa pun yang terjadi tidaklah mempengaruhi rencana Tuhan. Setiap gerakan manusia yang bagaimanapun tidak akan membuat-Nya bingung, karena Ia tahu ke mana manusia akan pergi. Tuhan secara aktif bisa mengambil keputusan untuk membiarkan manusia untuk terus maju, tetapi Ia pada saat itu juga bisa membuat hal-hal lain yang tidak diketahui manusia – dan itu memungkinkan rencana-Nya untuk tetap terjadi. Di lain pihak, Tuhan sering mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang mengejutkan manusia, juga untuk mewujudkan rencana-Nya pada saat yang tepat. Kita harus sadar bahwa waktu Tuhan tidaklah sama dengan waktu manusia, dan rencana-Nya tidak dapat dihentikan oleh tindakan manusia. Rencana-Nya tidak bergantung pada apa yang diperbuat manusia. Semua rencana Tuhan akan membawa kemuliaan bagi-Nya.

Pagi ini, jika kita merenungi hidup kita, mungkin kita teringat akan kesulitan, kegagalan, dosa dan penderitaan yang pernah atau sedang kita alami. Mungkin kita menyesali bahwa Tuhan nampaknya tidak peduli atas hidup kita. Tetapi, sebagai manusia kita tetap harus bertanggung-jawab atas kehidupan dan tingkah laku kita. Apa yang kita alami mungkin saja adalah bagian kehidupan di dunia yang sudah cacat. Walaupun demikian, sebagai orang beriman kita harus yakin bahwa sekalipun Tuhan tidak menyukai semua hal yang buruk itu, Ia bisa memakai semuanya dengan cara-Nya sendiri untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang beriman kepada-Nya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Memilih apa yang terbaik untuk masa datang

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7: 13-14

Apa yang akan anda kerjakan hari ini? Apakah anda mempunyai rencana untuk melakukan sesuatu yang signifikan dalam hari-hari mendatang? Kebanyakan orang selalu membuat rencana untuk hari depan selama masih bisa. Mereka yang sudah sangat lanjut usia mungkin kurang bisa untuk itu; karena itu rencana dan keputusan mungkin diserahkan kepada orang lain. Memang selama pikiran masih sehat, keputusan dan tanggung jawab ada di tangan kita. Cara yang mudah untuk menghindari tanggung jawab adalah mengingkari adanya kesempatan atau kemampuan untuk mengambil keputusan.

Keputusan yang kita ambil mungkin bisa membawa hasil yang baik, tetapi mungkin juga menghasilkan sesuatu yang kurang kita sukai. Dalam hal ini kita sering tidak bisa menduga apa hasilnya. “Life is like a box of chocolates”, begitu kata Forest Gump dalam filmnya. Hidup adalah seperti sekotak coklat, itulah bunyi ungkapan itu. Kita tidak tahu coklat rasa apa yang akan kita dapat. Tetapi coklat apa pun yang kita peroleh, kita sendiri yang telah memilihnya dan terserah kepada kita untuk merasakannya. Hidup manusia adalah penuh dengan pilihan dan tanggung jawab. Ini adalah masalah yang sering diperdebatkan manusia, termasuk umat Kristen.

Ada orang yang percaya bahwa Tuhan memberi kita sekotak coklat dengan berbagai rasa untuk bisa kita pilih. Dalam hal ini, masalahnya adalah coklat mana yang kita pilih. Tetapi, sebagian orang mungkin berpendapat bahwa dalam  kotak yang kita terima ada beberapa coklat dengan berbagai ragam bungkus yang harus kita pilih, tetapi semuanya sama rasanya dan itu sudah ditentukan oleh Tuhan. Walaupun manusia nampaknya bebas memilih, mereka sebenarnya tidak dapat menentukan pilihannya. Karena itu, ada banyak orang yang merasa kecewa dengan masa lalu mereka, kemudian merasa marah kepada Tuhan. Itu karena merasa bahwa Tuhan sudah berlaku tidak adil.

“Kebodohan menyesatkan jalan orang, lalu gusarlah hatinya terhadap TUHAN.” Amsal 19:3

Karena masa lalunya, ada juga orang yang merasa apatis dengan hidupnya, dan selalu merasa bahwa segala sesuatu sudah ditentukan dan akan terjadi: que sera sera. Hidup yang sedemikian mungkin kelihatannya baik, tetapi mungkin serupa dengan pandangan fatalisme.

Hari ini kita dihadapkan dengan kenyataan hidup: bahwa hidup kita adalah suatu proses di mana kita selalu dihadapkan dengan pilihan dan tanggung jawab pribadi. Jika kita sekarang mengalami suatu keadaan, kita sendiri yang bisa menentukan reaksi kita dan kita sendiri yang bisa memutuskan apa yang akan kita akan perbuat. Sering kali dalam hidup ini kita menjumpai tantangan besar dan untuk mengatasinya mungkin ada jalan pintas yang tampaknya sangat mudah dan memikat. Alkitab menyatakan bahwa adalah keputusan kita sendiri jika kita memilih jalan itu sekalipun bertentangan dengan firman Tuhan. Adalah keputusan kita juga jika memilih jalan yang lain yang nampaknya lebih sempit tetapi tidak melanggar perintah-Nya.

Kita tidak akan mudah merasa ragu untuk mengambil keputusan jika kita hidup dekat dengan firman-Nya. Tuhan sudah memberi kita Roh Kudus untuk menerangi hati dan pikiran kita dalam mengambil keputusan. Karena itu, jika kita mendapatkan hasil yang baik, janganlah lupa untuk bersyukur kepada-Nya. Sebaliknya, jika kita mengalami kegagalan, itu mungkin karena kesalahan kita. Dalam hal ini, kita tetap percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa bisa mengubah apa yang nampaknya buruk untuk menjadi apa yang baik untuk anak-anak-Nya.

Hidup iman kita mungkin juga sudah mencapai saat di mana kita merasakan bahwa tidak ada yang perlu kita pikirkan lagi karena kita mungkin sudah merasa bahwa Tuhan sudah memutuskan apa yang terjadi dalam hidup kita, baik itu kesuksesan maupun kegagalan. Sikap yang semacam itu memang seolah membuat hidup kita nampaknya lebih enteng, karena kita memilih apa yang lebih mudah dilewati: jalan yang lebar, yang bisa dilewati tanpa memerlukan pergumulan terus-terusan. Jalan yang sempit, yang menuntut perjuangan untuk mempertahankan kesetiaan yang penuh kepada Tuhan yang mahakuasa, yang benar-benar penuh dengan rasa syukur dan hormat kepada Tuhan dalam setiap saat dan keadaan, tidaklah mudah dijalani. Tetapi itulah yang jalan yang benar yang diajarkan Yesus kepada murid-murid-Nya.

Untuk sebagian umat Kristen, keyakinan akan keselamatan itu datang melalui tradisi, kebiasaan dan pengalaman mereka. Jalan yang lebar dan mudah dilalui, tetapi sering kali hanya ilusi. Untuk yang lain, iman datang dari Tuhan melewati pergumulan hidup, pilihan pribadi, pelajaran hidup, kesadaran akan ketergantungan kepada Yesus Kristus hari demi hari. Ini jalan yang sempit dan sulit dilalui. Tanpa keberanian untuk memilih dan kemauan untuk bertanggung jawab, manusia tidak akan bisa berkata:

Tuhan, aku sudah mengambil berbagai keputusan di masa lalu,

Aku sadar bahwa aku sering melakukan hal yang bodoh.

Saat ini aku mengaku bahwa aku bertanggung jawab atas hidupku.

Aku sekarang mau memilih jalan yang sempit untuk mengenal Engkau.

Bimbinglah aku agar sampai ke tempat tujuan.

Apakah yang harus kita lakukan untuk menerima keselamatan?

“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” Roma 10: 9

Pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang sulit untuk dijawab dan untuk banyak orang bisa menimbulkan rasa masygul, karena adanya keraguan apakah mereka akan diselamatkan pada akhir hidup mereka. Tambahan lagi, berbagai aliran teologi dan gereja mempunyai jawaban yang berlainan. Persoalannya, Tuhan sudah berkata bahwa semua orang sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3: 23). Tanpa kasih Allah yang disalurkan melalui pengurbanan Kristus di kayu salib, semua manusia akan binasa. Keselamatan manusia hanya dimungkinkan oleh karunia Tuhan kepada orang-orang yang dibuat-Nya sadar akan hal itu. Adakah yang harus kita lakukan untuk menerima karunia itu?

Ayat pembukaan di atas mengatakan jika kita mengaku dengan mulut kita, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hati kita, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kita akan diselamatkan. Dengan kata lain, jika kita percaya kepada Yesus dengan sepenuhnya, yaitu baik luar dan dalam, maka kita tidak perlu meragukan keselamatan kita. Luar dan dalam? Ya, memang dari luar orang mungkin terlihat seperti orang beriman, tetapi apa yang ada dalam hatinya dan apa yang dilakukan dalam hidupnya tidak ada seorang pun yang tahu. Banyak orang yang merasa bahwa Yesus ada dalam hatinya, tetapi segala perbuatan dan perkataannya tidak mencerminkan hal itu. Mengapa demikian? Manusia dengan kemampuannya sendiri tidak dapat mengenal Tuhan dan mengerti hikmat-Nya.

Kembali kepada pertanyaan di atas, dapatkah orang yang sudah mengaku dengan mulutnya, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatinya, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, untuk kehilangan keselamatan yang sudah diberikan Allah? Jawaban untuk pertanyaan ini adalah singkat dan pasti: tidak mungkin. Mereka yang benar-benar sudah menerima Kristus dan menerima Dia sebagai penguasa seluruh hidup mereka, luar dan dalam, sudah pasti akan masuk ke surga. Kata “benar-benar” disini harus digaris bawahi karena ini berarti tidak ada maksud untuk mengecoh atau membohongi Tuhan. Mereka yang dengan sengaja mengabaikan panggilan Roh Kudus dan secara terus menerus mengabaikan Dia dan tidak mau menaati perintah Tuhan, adalah orang-orang yang belum benar-benar menerima pengampunan Tuhan.

“Sebab itu Aku berkata kepadamu: Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni.” Matius 12: 31

Alkitab berkata bahwa untuk diselamatkan, kita cukup dengan modal percaya.  Iman kepada Kristus ini adalah pemberian Tuhan kepada semua orang yang dipanggil-Nya. Mereka yang mau menyambut dengan baik pemberian iman yang menyelamatkan itu akan terlihat dari hidup mereka yang diperbaharui oleh Roh Kudus. Iman yang benar akan terlihat dari perbuatan mereka dalam hidup  sehari-hari, karena iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2: 26). Sebaliknya, mereka yang masih belum berubah dari hidup lama yang bergelimang dosa, mungkin saja belum mempunyai iman yang menyelamatkan.

Masih banyak orang yang  bergumul untuk memutuskan, apakah mereka mau mengikuti panggilan Kristus atau mencapai ambisi duniawi. Mungkin juga kita mengenal orang-orang yang dengan sengaja selama bertahun-tahun menolak panggilan Kristus untuk menerima keselamatan. Dan ada lagi orang yang sengaja meninggalkan imannya karena memilih kebebasan dunia. Selain itu ada orang yang ingin mengikut Kristus tetapi tidak mau meninggalkan kenyamanan hidup lamanya. Adakah harapan bagi mereka? Bagi manusia, tidaklah ada harapan. Tetapi, Tuhan yang mahakasih dan mahakuasa selalu bisa membuka jalan.

Yesus memandang mereka dan berkata: ”Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.” Markus 10:27 TB

Pagi ini, kita mungkin merasa yakin bahwa Tuhan sudah menyelamatkan kita. Itu baik adanya. Karena Tuhan sudah memberi kesadaran kepada kita bahwa apa pun tidak akan menyelamatkan kita dari dosa, kecuali melalui darah Yesus Kristus. Hidup kita sudah diubah-Nya setelah kita percaya; kita tahu apa yang baik dan apa yang jahat di mata Tuhan. Lebih dari itu, kita sudah berusaha untuk memuliakan nama-Nya melalui mulut dan di hati kita, luar dan dalam. Oleh sebab itu, kita tidak perlu meragukan janji keselamatan-Nya. Tetapi, bagi mereka yang belum menyadari peran manusia dalam menyambut karunia keselamatan, biarlah kita mau berdoa untuk mereka agar mau menerima panggilan Roh Kudus dalam hidup mereka. Sebelum terlambat.

Singa yang mengancam kita

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” 1 Petrus 5: 8

Tahukah anda bagaimana singa hidup di hutan? Mungkin dari laporan National Geographic? Dalam keluarga hewan buas ini, singa betinalah yang lebih sering berkelana mencari mangsa, sedangkan singa jantan akan melindungi kawanan beserta anaknya. Singa betina memiliki kemampuan untuk berkamuflase. Kulitnya yang berwarna kuning kecokelatan membuatnya mudah tersamarkan di rerumputan alam liar. Mereka juga cenderung gesit dan suka berburu mangsanya secara berkelompok. Sebaliknya, singa jantan agak sulit untuk berkamuflase karena mereka memiliki surai indah berwarna coklat muda atau cokelat tua agak hitam.

Dalam alam bebas, singa jantan bertugas mempertahankan wilayah kekuasaan, merebut daerah kekuasaan, serta melanjutkan garis keturunannya. Sebenarnya, singa jantan juga bisa berburu, walaupun istilah sang pemburu utama masih disematkan pada singa betina. Keduanya menunjukkan cara yang berbeda ketika berburu. Singa betina lebih suka mencari mangsa secara berkelompok dan sering berburu di sabana yang merupakan medan terbuka. Sedangkan si jantan lebih suka berburu sendirian di malam hari, dan kemudian menyergap mangsanya dari balik vegetasi yang lebat.

Singa betina memiliki kecepatan berlari yang cukup cepat, walau tidak secepat macan tutul. Diperkirakan singa betina memiliki kecepatan berlari 30 persen lebih tinggi dibanding singa jantan. Singa betina mampu berlari dengan kecepatan kira-kira 72 kilometer per jam. Sedangkan singa jantan kecepatan berlarinya berkisar 56 kilometer per jam. Kecepatan berlari ini jelas lebih menguntungkan singa betina dalam berburu mangsa.

Jika kita melihat film kehidupan hewan di sabana Afrika, biasanya yang membuat kita menjadi tegang ialah adegan di mana singa yang semula tidak terlihat, tiba-tiba muncul dan menyerang mangsanya. Memang bagi rusa atau binatang lain, sulitlah untuk menghadapi musuh yang pandai berkamulflase seperti singa betina, dan juga dalam menghadapi singa jantan yang datang secara tiba-tiba dari kegelapan.

Ayat di atas mengingatkan orang Kristen bahwa dalam hidup ini mereka harus bisa tetap berjaga-jaga. Di Alkitab, hidup orang Kristen mungkin digambarkan sebagai rusa yang rindu akan segarnya air di padang rumput. Tetapi apa yang nampak indah sebagai sebuah sabana, adalah tempat di mana banyak binatang buas pemakan daging mencari mangsanya.

Sebagian orang Kristen memang hidup di daerah di mana keadaan nampaknya menawan dan penuh kenyamanan. Mereka hidup dalam kemakmuran di negara yang menjamin kebebasan beragama. Hidup mereka nampaknya bahagia dan serba berkecukupan, untuk tidak dikatakan berlebihan. Mungkin dalam berdoa mereka tetap ingat untuk memohon kekuatan, kecukupan dan perlindungan dari Tuhan, tetapi tentunya mereka sering minta agar Tuhan membuka tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepada mereka sampai berkelimpahan.

Sesungguhnya, hidup di sabana yang nampaknya penuh dengan kelimpahan dan kenyamanan bukan berarti tanpa bahaya. Mereka yang terbuai dalam suasana damai, aman dan nikmat, sering lupa bahwa iblis selalu mengintai untuk mencari kesempatan menyerang. Iblis bagaikan singa, akan menyerang mereka yang tidak berjaga-jaga.

“Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” Efesus 6: 12

Hari ini ini kita diingatkan bahwa jika kita merasa bahwa hidup kita cukup tenteram, kita tidak boleh menjadi lengah. Jika mereka yang hidup dalam kekurangan bisa jatuh ke dalam keputusasaan dan dosa, mereka yang hidup dalam kecukupan bisa jatuh ke dalam ketamakan, kesombongan dan dosa. Iblis ingin menghancurkan hidup setiap orang percaya dalam keadaan apa pun. Mereka yang tidak waspada, jarang membaca Firman, dan jauh dari Tuhan sudah pasti akan menjadi mangsa yang empuk.

Iblis bukannya muncul dalam bentuk yang selalu terlihat jelas; karena jika demikian manusia akan mudah menghindarinya. Iblis justru muncul dengan berbagai bentuk kamulflase indah yang membuat kita tidak awas dan kemudian terkecoh. Iblis juga sering datang secara berkelompok dengan membawa beberapa jebakan, dan itu membuat kita sulit untuk melarikan diri. Ayat pembukaan kita menyatakan bahwa perjuangan kita adalah melawan si iblis, yang berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Sadarlah dan berjaga-jagalah!

“Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis” Efesus 6: 11

Surga atau neraka?

“Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.” 1 Yohanes 3: 14

Kematian adalah suatu misteri bagi banyak orang dan karena itu mereka tidak senang membicarakannya. Sekalipun mereka tidak percaya adanya kehidupan di alam yang lain, banyak yang merasa takut ketika memikirkan hal kematian. Mereka yang hidupnya tidak mengenal Tuhan barangkali kuatir kalau-kalau mereka harus menjalani hukuman berat sesudah mati atas segala kejahatan yang dilakukannya selama hidup. Mereka yang mengenal Tuhan pun sering kuatir kalau-kalau mereka tetap harus ke neraka karena perbuatan jahat mereka lebih banyak dari perbuatan baik yang pernah diperbuat. Dengan demikian, adanya ketakutan adalah disebabkan oleh ketidakpastian akan apa yang akan terjadi sesudah kematian.

Jika kematian adalah ketakutan bagi banyak orang, bagaimana pula dengan kehidupan? Kehidupan bagi banyak orang juga menakutkan.Bahkan bagi sebagian, hidup bisa lebih menakutkan dari mati. Bagaimana tidak? Sekarang masih bisa hidup tetapi tidak pasti kalau ada makanan esok hari. Sekarang hidup lumayan tapi tidak pasti kalau ada pekerjaan bulan depan. Sekarang hidup sehat tapi kuatir kalau-kalau terpapar Covid-19 esok hari. Sampai-sampai ada orang hidup yang ingin mati karena kematian dianggapnya akhir dari semua penderitaannya. Jadi kasihan juga, mereka mungkin tidak tahu kalau dengan kematian setiap orang masih harus mempertanggung-jawabkan hidupnya.

Bagi orang Kristen yang sejati, baik hidup atau mati bukanlah ketidakpastian. Paulus menulis bahwa baginya hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Filipi 1: 21). Hidup adalah bekerja untuk kemuliaan Kristus, dan mati adalah hidup bersama Kristus. Dengan demikian, baik mati maupun hidup bukanlah suatu ketakutan karena adanya kepastian bahwa kasih Kristus yang senantiasa menyertainya. Karena kasih-Nya, Tuhan sudah menciptakan manusia agar mereka dapat hidup berbahagia dalam hubungan yang baik dengan Sang Pencipta. Karena kasih-Nya juga, Tuhan membimbing manusia agar mereka tetap bersandar dalam iman yang benar sampai saat di mana mereka menemui Sang Pencipta di surga.

Allah yang mahakasih dengan demikian menciptakan manusia bukan secara sembarangan, tetapi sebagai peta dan teladan atau gambar-Nya, dan memberi mereka kedudukan sebagai wakil-Nya di dunia. Sayang sekali, bahwa dengan jatuhnya manusia ke dalam dosa, manusia kemudian kehilangan kemuliaan dan kedudukan yang dikaruniakan Tuhan. Manusia yang sudah jatuh dalam dosa pastilah akan menuju ke neraka, jika Allah tidak mengambil inisiatif untuk menyelamatkan mereka yang bertobat.

Manusia baru adalah mereka yang sudah dipindahkan Tuhan dari kematian dan alam maut, ke dalam hidup baru yang kekal dalam kasih Tuhan. Dengan demikian, mereka yang sudah diselamatkan akan dapat memancarkan kasih Tuhan yang sudah mereka terima kepada orang lain.

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” 1 Korintus 13: 4 – 7

Dengan kemampuan kita sendiri, tidaklah mungkin kita menjadi orang-orang yang bisa mengasihi Tuhan dan sesama. Jika kita ingat apa yang terjadi sebelum Yesus disalibkan, baik Petrus atau Yudas adalah murid-murid yang sudah mengkhianati Yesus. Walaupun demikian, Petrus menanggapi peringatan dan pertolongan Yesus dan kemudian menjadi rasul yang setia sampai akhir hayatnya, sedangkan Yudas meninggalkan Yesus dan kemudian mengakhiri hidupnya atas kehendak diri sendiri. Sekalipun kita tidak tahu apa yang terjadi pada Yudas setelah kematiannya, kita yakin bahwa Petrus sekarang berada di surga bersama Yesus. Mengapa demikian?

Mereka yang belum bisa mengasihi sesamanya adalah orang-orang yang belum menerima kasih Tuhan yang menyelamatkan. Memang tidaklah mungkin bagi mereka yang sudah merasakan besarnya kasih Tuhan untuk tetap hidup untuk kepentingan serta kenyamanan diri sendiri saja. Mereka yang sudah hidup dengan rasa syukur atas keselamatan yang diterimanya pasti akan melimpah dalam kasih mereka kepada siapa saja, termasuk orang yang berbeda dalam hal suku, bangsa, cara hidup, golongan dan agama. Mereka yang sudah menerima kasih Kristus, adalah orang-orang yang mau bekerja giat dan tidak gentar untuk tetap hidup dan mengabarkan Injil untuk kemuliaan-Nya.

Saat ini, adakah ketakutan dalam hidup anda? Jika ya, apakah itu ketakutan untuk hidup atau ketakutan menghadapi kematian? Biarlah Firman Tuhan menginsafkan kita semua bahwa dalam kasih-Nya tidak ada ketakutan. Kasih Tuhan yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab dengan kasih-Nya kita sudah diampuni dan diangkat menjadi anak-anak-Nya. Kasih-Nya menghilangkan hukuman atas kita dan sebaliknya membuka saluran berkat-Nya kepada kita. Karena itu barangsiapa takut, ia tidak menyadari kasih Tuhan. Biarlah dalam kasih-Nya kita bisa selalu dikuatkan baik dalam menghadapi hidup maupun kematian.

Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” 1 Yohanes 4: 18

Doa bisa menghilangkan rasa khawatir

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Pagi ini, gubernur negara bagian Queensland, Australia, mengumumkan situasi Covid-19 melalui siaran langsung dari Youtube. Keadaan penyebaran varian Omicron ternyata makin tidak terkendali, dan karena itu beliau menganjurkan rakyat agar tidak pergi ke mana-mana dan bekerja dari rumah saja selama 6 minggu ke depan. Hal ini perlu dilakukan untuk mengurangi kecepatan penularan varian ini, yang walaupun tidak menyebabkan kasus fatal sedahsyat varian Delta, bisa membuat banyak orang dirawat di rumah sakit. Siang ini, pusat kota Brisbane dilaporkan sangat sepi, lebih sepi dari keadaan lockdown tahun lalu. Mungkin orang lebih khawatir atas varian ini karena kecepatan penularannya.

Dalam bahasa Indonesia, rasa khawatir mungkin bisa diganti dengan kata cemas atau takut. Tetapi sebenarnya arti ketiga kata itu berbeda. Orang memang sering menyebutkan rasa khawatir akan sesuatu hal, tetapi belum tentu merasa cemas atau takut. Dalam bahasa Inggris pun ada istilah “worry” yang sering dipakai dalam percakapan sehari-hari – yang menunjuk kepada adanya kemungkinan akan terjadinya sesuatu yang tidak diharapkan – tetapi ini belum sampai menjurus ke arah rasa cemas. Orang juga sering mengatakan bahwa keadaan bisa membuat kita was-was tetapi tidak perlu membuat kita cemas. Concerned but not alarmed.

Jika dalam ayat di atas dikatakan bahwa sebagai pengikut Kristus kita seharusnya tidak khawatir tentang apa juga, agaknya ini bukan sehubungan dengan kekhawatiran yang secara normal muncul jika kita melihat adanya sesuatu atau keadaan yang kurang baik, tetapi yang masih bisa kita hindari. Misalnya, kita memilih untuk naik kereta MRT daripada memakai mobil sendiri karena khawatir akan mengalami kemacetan di jalan. Kekhawatiran disini adalah suatu hal yang positif karena membuat kita bisa mengambil keputusan yang bijaksana.

Kekhawatiran yang tidak baik adalah kekuatiran yang negatif, yang membuat kita merasa tidak berdaya. Rasa cemas yang membuat tubuh kita menjadi lemah, dan rasa takut yang membuat kita lumpuh. Sebagai umat Tuhan , sebenarnya agak aneh jika kita bisa merasa cemas dan takut karena kita merasa tidak bisa melakukan hal apa pun dan tidak ada orang lain yang bisa menolong kita. Itu karena kita seharusnya percaya bahwa Tuhan adalah mahakuasa dan mahakasih: Ia sanggup melakukan hal apa pun dan bisa menolong siapa pun, terutama umat-Nya.

Memang satu masalah yang kita hadapi dalam kekhawatiran yaitu adanya kemungkinan bahwa kekhawatiran yang kecil, perlahan-lahan bisa menjadi besar, menjadi rasa was-was dan rasa cemas, dan kemudian menjadi rasa takut. Dalam penantian akan pertolongan Tuhan, sering kali kita menjadi ragu dan bertanya-tanya apakah Ia akan menolong kita dan jika itu benar, kapan Ia akan menolong kita. Dalam hal ini, ayat diatas mengatakan bahwa kita harus menyatakan keinginan kita dalam doa dan dengan rasa syukur sekalipun Ia belum menjawab doa kita.

Apa perlunya berdoa dan bersyukur? Doa tidak dimaksudkan untuk mengubah rencana Tuhan. Doa kita tidak selalu dikabulkan Tuhan. Tetapi doa berguna untuk kita, karena dengan doa kita membina hubungan yang baik dengan Tuhan, yang mengingatkan kita bahwa Ia adalah mahakuasa, mahakasih dan mahabijaksana. Doa membuat kita bisa berserah kepada Tuhan, suatu pilihan yang jauh lebih baik daripada usaha untuk mencari jalan keluar menurut keinginan kita sendiri. Doa juga membuat kita belajar untuk mengerti apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita, sehingga kita lebih bisa bersabar menantikan pertolongan-Nya. Jika rasa khawatir bisa menjauhkan kita dari Tuhan, doa bisa menghilangkan rasa was-was dan rasa takut. Doa yang disertai dengan rasa syukur bisa membawa kedamaian bagi kita karena adanya kesadaran bahwa Tuhan itu baik. Doa mungkin tidak mengubah keadaan, tetapi doa bisa mengubah reaksi kita terhadap keadaan – doa bisa mengubah hidup kita karena Tuhan bisa memberi rasa damai sejahtera dalam hidup kita.

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 7

Tuhan tidak menghendaki kekacauan

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Tanggal 6 Januari 2021 adalah hari yang bersejarah bagi rakyat Amerika karena pada saat itu ada peristiwa yang luar biasa di ibukota negara itu, Washington D.C.. Sayang sekali, hari itu tidak bisa dilupakan bukan karena adanya hal yang indah, tetapi karena adanya kelompok ekstrim kanan yang menyerbu gedung Capitol, tempat para wakil rakyat Amerka bekerja. Jutaan orang di dunia memantau peristiwa itu melalui TV dan media lainnya karena Amerika adalah negara besar yang dianggap sebagai pelopor azas demokrasi. Tetapi, apa yang disaksikan membuat banyak orang menghela nafas. Suasana pandemi dan politik di Amerika saat itu memang cukup membuat prihatin banyak orang. Tetapi penyerbuan dan usaha pembunuhan beberapa politikus hampir saja menimbulkan perang saudara.

Tujuan hidup rakyat suatu negara memang bisa menjadi dasar filsafat kesatuan sebuah negara. Walaupun demikian, tujuan hidup tiap orang selalu ada bedanya dengan tujuan hidup orang lain, dan apa yang diingini seseorang hari ini mungkin berubah di masa mendatang. Kekacauan kemudian bisa timbul karena adanya orang-orang yang bertentangan pendapat. Ini mungkin salah satu hal yang kadangkala bisa menyebabkan orang kurang bisa menghargai adanya peraturan dan sistem yang ada, sekalipun semua itu dibuat dengan maksud baik. Pada pihak yang lain, ada kalanya tindakan pemimpin negara justru bisa memicu timbulnya kekacauan.

Jika kekacauan terjadi di bumi karena dosa dan melalui kebebasan manusia, itu bukan kejutan untuk Tuhan yang mahatahu. Ayat pembukaan di atas ditulis oleh Paulus sehubungan dengan adanya kekacauan di gereja Korintus yang disebabkan oleh adanya orang Kristen yang menggunakan karunia yang berbeda-beda pada waktu yang bersamaan, yang mana menimbulkan kebingungan dan kekacauan di antara jemaat yang hadir. Paulus kemudian menasihati mereka agar bisa menahan diri dan memakai sopan-santun dan tata-cara yang baik dalam berbakti, agar semua orang yang hadir dapat belajar dan memperoleh kekuatan dari Tuhan (1 Korintus 14: 31).

Adanya pemerintah sebenarnya dimaksudkan untuk membawa kebahagiaan bagi semua warganya. Pemerintah merupakan suatu bentuk organisasi yang bekerja dan menjalankan tugas untuk mengelola sistem dan menetapkan kebijakan bersama dalam mencapai tujuan negara. Karena itu, seluruh rakyat sudah sewajarnya mendukung kegiatan-kegiatan baik yang dilakukan pemerintah yang sah. Dan setiap pemimpin negara juga harus tunduk kepada hukum negara dan lembaga pemerintahan yang ada di atasnya.

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Bagi umat Kristen, pemerintah yang diberi mandat selama kurun waktu tertentu, bersama berbagai lembaga pemerintah lainnya, adalah penguasa negara dengan seizin Tuhan. Dengan demikian, ayat di atas merupakan hal yang sangat penting untuk membina rasa hormat kepada pemimpin bangsa dan negara yang sudah dipilih melalui azas demokrasi. Jika semua warga mau menaati firman Tuhan di atas, kesatuan sebuah negara akan lebih mudah dipelihara untuk mencapai kebahagiaan bersama. Karena Tuhan tidak menghendaki kekacauan, dapat dimengerti bahwa berkat-Nya akan lebih bisa terasa di negara yang tertib.

Kebahagiaan, ketenteraman, kemakmuran dan kesatuan tidak dapat dicapai hanya dengan konsep dan pikiran, tetapi harus dengan penerapan dan perbuatan. Orang Kristen di negara mana pun dipanggil untuk menjadi contoh masyarakat dalam hal pengabdian kepada negara mereka masing-masing. Sekalipun mereka harus menghormati Allah di atas segala-galanya, mereka juga harus tunduk kepada pemerintah yang sudah ditetapkan Allah. Ini bukan hanya dalam menaati segala hukum dan peraturan, tetapi juga dalam hal menyumbangkan apa yang perlu demi kemajuan negara dan sesama warga.

“Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.” Roma 13: 7

Hari ini, kita diingatkan bahwa jika menginginkan kemakmuran, ketertiban dan kedamaian dalam negara kita, sebagai orang Kristen kita terpanggil untuk menjadi teladan dengan menghormati pemerintah yang ada dengan menunaikan kewajiban kita, mencintai sesama warga dan menaati segala hukum dan peraturan negara. Terutama pada saat pandemi ini, kita harus taat kepada peraturan/anjuran pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah yang ada. Seperti Allah yang sudah membawa perdamaian antara diri-Nya dan umat manusia melalui Yesus Kristus, kita harus membawa damai sejahtera di mana pun kita berada karena kita sudah ditebus dengan darah Kristus.

Tuhan mengawasi jalan yang kita pilih

“Karena segala jalan orang terbuka di depan mata TUHAN, dan segala langkah orang diawasi-Nya.” Amsal 5: 21

Benarkah bahwa Tuhan tahu apa pun yang kita lakukan dan alami? Benarkah Ia mengawasi tindak tanduk setiap manusia? Kita tidak pernah berjumpa dengan Tuhan dan tidak tahu pasti apa yang dilakukan-Nya setiap saat. Walaupun demikian ayat di atas menunjukkan bahwa Ia tahu segala apa yang dilakukan setiap orang. Tuhan memang mahatahu (omniscience).

Tuhan memang harus mahatahu untuk bisa menjadi Tuhan yang mahakuasa. Tetapi bagi sebagian orang, ini adalah sesuatu yang aneh, suatu paradox. Jika Tuhan mahatahu, mengapa Ia sering melakukan atau membiarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan kebutuhan manusia? Jika Tuhan mahakuasa, mengapa Ia tidak melakukan apa yang perlu untuk mengatasi kejahatan atau keburukan yang jelas terlihat?

Mereka yang tidak benar-benar percaya kepada Tuhan tidak menyadari bahwa Ia mahatahu dan mahakuasa. Tuhan bisa melakukan apa saja sesuai dengan kehendak-Nya, tetapi pada saat yang dipilih-Nya. Ia tidak memakai cara berpikir manusia untuk bertindak, Ia tidak juga menentukan saat bertindak menurut perhitungan manusia, dan Ia tidak bergantung pada kekuatan manusia untuk bertindak. Tuhan tidak pernah menguatirkan atau terkejut melihat apa yang terjadi karena manusia memilih jalan yang keliru. Sebagai Tuhan, Ia bisa membuat apa yang jahat untuk menjadi apa yang baik, yang sesuai dengan rencana-Nya.

Pada lain pihak, dari awalnya Tuhan memberikan kesempatan dan kemampuan bagi manusia untuk mengambil keputusan dalam hidup ini (Kejadian 1: 28). Tetapi, apa pun yang kita lakukan, ke mana pun kita pergi, Ia tahu dan mengawasi. Walaupun demikian, pengawasan-Nya bukanlah berarti bahwa Ia menentukan segala langkah kita; tetapi Ia memberkati semuanya jika kita berjalan menurut kehendak-Nya. Dengan menuruti kehendak-Nya, kita boleh percaya bahwa Tuhan pada saat yang tepat akan membuktikan bahwa Ia senantiasa menilik hidup kita dengan kasih-Nya.

Pagi ini, jika kita mengharapkan Tuhan untuk bertindak tetapi Tuhan terasa berdiam diri, apakah ada kekecewaan yang timbul? Apakah Ia mahakuasa? Sebaliknya, jika apa yang terjadi dalam hidup kita tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, apakah Ia mahatahu? Firman Tuhan mengatakan bahwa kita harus bertindak dan mengambil langkah yang baik. Manusia harus berani untuk memikul tanggung jawab atas pilihannya. Dan bagi kita, Tuhan yang mengawasi semua langkah kita adalah Tuhan yang akan menolong kita pada waktunya.

“Diberkatilah engkau pada waktu masuk dan diberkatilah engkau pada waktu keluar.” Ulangan 28: 6

Hidup ini singkat, tetapi bisa terasa manis

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Life is short, make it sweet. Hidup itu singkat, jadikan itu manis. Itulah salah satu semboyan hidup yang terkenal. Hidup yang manis, yang penuh madu, tentunya adalah idaman semua orang. Dari kecil sampai tua, semua orang mendambakan kebahagiaan. Bagi sebagian orang yang pernah merasakan saat-saat di mana mereka mengalami kegembiraan, tentunya tidak mudah melupakan hal itu. Walaupun demikian, karena banyaknya pergumulan hidup, orang sering cenderung merasa bahwa hidup ini pahit. Semboyan di atas mengatakan bahwa adalah pilihan kita untuk mengisi hidup kita dengan pikiran dan harapan yang positif agar kita dapat merasakan manisnya hidup ini.

Pada pihak yang lain, hidup manusia menurut pemazmur, adalah singkat saja – seperti rumput atau bunga di padang:

“Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi.” Mazmur 103: 15 – 16

Dari umur 80 tahun yang mungkin bisa dicapai manusia, mungkin 20 tahun pertama dan 20 tahun terakhir adalah masa yang mungkin kurang produktif. Dengan demikian, paling banyak hanya separuh umur manusia yang biasanya bisa dipakai untuk berkarya. Kebanyakan orang menggunakan umur produktif itu untuk mencari nafkah dan membina karir dan rumah tangga, dan seusai masa bekerja, hidup yang tersisa mungkin bisa dipakai untuk membantu anak cucu sebelum usia tua. Itulah garis besar hidup manusia yang mirip dengan bunga di padang. Haruskah sedemkian? Adakah cara hidup lain yang lebih baik, yang tidak seperti bunga rumput di padang?

Memang ada benarnya bahwa manis-pahitnya hidup ini tergantung kepada diri kita sendiri. Mereka yang berkelimpahan, belum tentu bisa merasakan kebahagiaan. Sebaliknya, mereka yang berkekurangan belum tentu tidak mempunyai kebahagiaan dalam hidup. Rasul Paulus sendiri pernah menulis bahwa ia berusaha untuk mencukupkan diri dalam setiap keadaan (Filipi 4: 11).

Hidup itu singkat, jadikan itu manis. Ini lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Bagaimana orang bisa menjadikan apa yang pahit untuk menjadi manis? Hanya keajaiban yang bisa membuat itu terjadi! Kita tahu bahwa hanya keajaiban yang bisa membuat air tawar menjadi anggur yang terbaik, dan itu karena Yesus (Yohanes 2: 1 – 11). Karena itu, kita harus bergantung kepada Dia untuk mendapatkan kemampuan untuk membuat hidup yang hambar dan bahkan pahit, untuk menjadi hidup yang terasa manis.

Jika kita ingin untuk hidup lebih panjang, seperti banyak orang di zaman ini berusaha dengan segala cara, itu pun tidak mengubah hidup kita untuk menjadi lebih manis. Ayat pembukaan di atas ditulis oleh Paulus dan Timotius kepada jemaat di Filipi untuk bisa menggunakan hidup mereka sebaik-baiknya. Apa yang diajarkan? Jemaat di Filipi dianjurkan untuk memikirkan semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji.

Roh Kudus memang ada dalam hidup kita dan membimbing kita untuk memilih cara hidup yang benar. Tetapi Roh Kudus tidak membuat kita menjadi robot-robot yang hanya bisa menuruti perintah Tuhan. Setiap orang sudah diberi Tuhan kebijaksanaan dan kesadaran akan apa yang baik dan yang buruk. Karena itu, apa yang kita pilih bisa menentukan apakah kita akan bisa merasakan manisnya hidup ini dan bisa membuahkan apa yang manis untuk orang lain.

“Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.” Filipi 4: 9