Karena satu tubuh

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6: 10

Di dunia ini ada berbagai ragam agama dan kepercayaan yang mempunyai pandangan dan pengajaran yang berbeda. Walaupun demikian, agama Kristen mempunyai pengajaran yang khas karena menekankan unsur “kasih”. Karena itu, bagi orang Kristen semua pertanyaan di bawah ini mungkin mudah untuk dijawab.

  • Siapakah yang harus kita kasihi? Jawab: Tuhan dan sesama kita.
  • Mengapa kita harus mengasihi sesama manusia? Jawab: karena Tuhan mengasihi seisi dunia.
  • Apakah Tuhan mengasihi seluruh umat manusia tanpa membeda-bedakan? Jawab: Tuhan lebih mengasihi orang yang percaya dan taat kepada-Nya.

Tetapi bagaimana dengan pertanyaan ini: Apakah orang Kristen patut untuk “pilih kasih” dengan lebih mengasihi sesama orang beriman? Pertanyaan ini mungkin bisa membuat kita berpikir dalam-dalam.

Sebagian orang Kristen yakin bahwa mereka harus mengasihi sesama manusia tanpa pandang bulu. Bukankah Yesus berkata bahwa kita harus mengasihi mereka yang tidak kita kenal dan juga musuh kita? Lukas 10: 30 – 37 menyatakan bahwa kita harus bisa menjadi seperti orang Samaria yang bisa bermurah hati kepada siapa pun.

Memang benar bahwa kita harus bisa mengasihi semua orang dari mana pun asalnya, bagaimanapun penampilan, sikap serta sifatnya. Walaupun demikian, Alkitab dalam ayat pembukaan di atas menyatakan bahwa kita harus mau berbuat baik kepada semua orang, terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Jelas bahwa kasih kita kepada sesama orang beriman haruslah lebih besar jika dibandingkan dengan kasih kita kepada orang lain. Mengapa demikian? Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menulis bahwa sebagai anggota tubuh Kristus kita adalah sepenanggungan. Metafora tubuh untuk menggambarkan kesatuan bukanlah hal yang asing. Banyak penulis Yunani-Romawi kuno yang menggunakannya. Pada umumnya mereka memakainya dalam konteks politik atau negara. Dengan demikian, jemaat di Korintus juga pasti sudah terbiasa dengan metafora ini.

“Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya” 1 Korintus 12: 27

Mengasihi sesama anggota tubuh, yakni saudara seiman, adalah kewajiban; tetapi, dalam kenyataannya orang Kristen mungkin lebih sering menyatakan rasa kurang suka dan bahkan rasa benci kepada mereka yang sebenarnya seiman dalam Kristus Yesus. Selain itu, kebanyakan orang Kristen hanya peduli atas saudara seiman yang segereja, segolongan, sedoktrin, sesuku dan senegara. Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah kita seharusnya dapat ikut merasakan penderitaan, kesulitan dan perjuangan yang dialami oleh saudara-saudara seiman?

“Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.” 1 Korintus 12: 26 – 27

Keragaman sering kali menjadi ancaman bagi kesatuan. Ini terjadi karena banyak orang cenderung lebih menekankan perbedaan yang superfisial (hanya di permukaan) daripada menggali kesamaan yang lebih esensial (ada di dalam). Mereka lebih terpaku pada kuantitas perbedaan daripada kualitas kesamaan. Tidak heran, ejek-mengejek dan pertikaian sering muncul atas nama perbedaan. Persoalan seperti ini sangat disayangkan. Satu kesamaan esensial (kematian dan kebangkitan Yesus) seharusnya cukup untuk menyisihkan banyak perbedaan superfisial.

Paulus menggunakan ungkapan “adalah tubuh Kristus”. Bukan sekadar “adalah tubuh”. Bukan sembarang tubuh. Kristus adalah kepala yang memimpin dan mempersatukan seluruh bagian tubuh. Kebenaran ini tampaknya dengan mudah dilupakan atau diabaikan.

Gereja sebenarnya adalah sebuah organisme, bukan organisasi. Bukan perkumpulan, tetapi persekutuan. Keanggotaan bukan sekadar terdaftar, melainkan kedekatan. Yang ditawarkan dalam persekutuan ini bukan hanya keramahan, namun juga persahabatan. Hubungan tidak dibatasi oleh bangunan dan kebaktian, tetapi mencakup seluruh kehidupan.

Kesamaan secara spiritual seharusnya melampaui semua perbedaan rasial, personal, maupun kultural. Kesamaan ini seharusnya membuat semua orang Kristen untuk menjadi “senasib sepenanggungan”. Bisakah kita hidup damai dengan semua orang, terutama dengan saudara seiman? Maukah kita saling menolong dan saling menguatkan?

“Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah? Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita?” 2 Korintus 11: 29

Tanggung jawab siapa?

“Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Roma 14: 12

Hari Natal dan tahun baru sudah di ambang pintu, dan suasananya sudah mulai terasa di berbagai pusat pertokoan. Memang menyambut datangnya akhir tahun adalah tradisi hampir semua bangsa, tetapi tidak semua orang yang ingin merayakannya memakai kesempatan itu untuk mulai menganalisa hidupnya selama tahun ini. Jika masih ada beberapa minggu sebelum datangnya musim perayaan, festive season, mungkin tidak banyak orang yang sudah mulai memikirkan rencana hidup untuk tahun depan.

Apa yang sudah aku capai sampai sekarang dalam tahun ini? Apakah aku sudah memperoleh apa yang sudah direncanakan pada akhir tahun lalu? Adakah hal yang belum tercapai selama tahun ini? Mungkin begitu pertanyaan seseorang kepada diri sendiri, jika ia mau meneliti hidupnya menjelang akhir tahun. Tetapi ada banyak orang yang memilih untuk tidak memikirkan hal-hal itu, terutama jika apa yang diharapkan belum, atau mungkin tidak bisa, tercapai. Apalagi mereka yang sudah mengalami berbagai badai kehidupan gara-gara pandemi Covid-19, mungkin hanya ingin melupakan semua itu.

Dari renungan yang lalu kita mengerti bahwa Tuhan mungkin mengizinkan kita untuk membuat rencana kita sendiri tanpa berkonsultasi dengan-Nya. Dia bahkan mungkin mengizinkan kita untuk membuat rencana kita sendiri ketika kita tidak terlalu menyukai kehendak-Nya. Dia akan memungkinkan kita untuk memutuskan untuk melakukan hal-hal dengan cara kita sendiri. Tetapi kita harus sadar bahwa terlepas dari apa yang kita rencanakan, Tuhan akan menjadi satu-satunya Oknum yang bisa mengarahkan setiap langkah yang kita ambil. Dan jika karena kesombongan dan keras kepala kita, kita memilih untuk melakukan hal-hal dengan cara kita sendiri, Tuhan akan tetap bisa mewujudkan kehendak ilahi-Nya. Tetapi jalan kita menuju ke sana mungkin tidak akan menjadi jalan yang bisa kita nikmati.

Kebebasan manusia dan kedaulatan Tuhan mempunyai hubungan yang sulit dibayangkan, karena manusia 100% bertanggung jawab atas hidupnya dan Tuhan 100% berdaulat atas hidup manusia. Ada banyak orang Kristen yang masih mementingkan kesuksesan duniawi, dan merasa kecewa atau kuatir jika hidup tidak berjalan seperti yang dikehendaki. Ada juga yang selalu mengejar keuntungan dan kenikmatan dengan menghalalkan segala cara. Dan bahkan ada juga orang yang menggunakan firman Tuhan untuk mencari keuntungan pribadi. Semua itu menunjukkan hidup dan tanggung jawab manusia yang belum sepenuhnya dipakai untuk memuliakan Tuhan. Tidaklah mengherankan bahwa hidup orang semacam itu tidak dapat membawa kebahagiaan, kepuasan, atau rasa cukup.

Bagi mereka yang beriman, sebenarnya kesuksesan secara jasmani bukanlah hal yang utama.. Bagi mereka, mencapai kesuksesan hidup duniawi bukanlah sesuatu yang harus didambakan. Sebaliknya, orang Kristen seharusnya lebih mementingkan ketaatan kepada Tuhan yang mahakuasa. Oleh sebab itu, akhir tahun adalah kesempatan bagi setiap orang percaya untuk meneliti apa yang sudah dilakukan selama setahun ini, sehubungan dengan apa yang diperintahkan Tuhan. Apakah kita selalu mencari kehendak Tuhan dalam hidup kita selama tahun ini?

Ada banyak orang Kristen yang tidak pernah bertumbuh secara rohani. Tahun demi tahun lewat, tetapi mereka tetap hidup seperti orang yang belum dewasa secara iman. Mereka mungkin bertumbuh secara jasmani, bertumbuh dalam hal kekayaan dan kemasyhuran, atau makin berkuasa. Mereka mengaku Kristen karena ke gereja atau sesekali membaca Alkitab, tetapi tidak hidup menurut firman-Nya. Baik dalam kelakuan, perkataan, pikiran , dan perbuatan, mereka hampir tidak dapat dibedakan dengan mereka yang tidak mengenal Kristus.

Akhir tahun adalah kesempatan yang baik bagi kita untuk meneliti hidup kita, sampai di mana kita sudah berusaha untuk hidup dalam terang Kristus. Setiap orang sudah diberikan kebebasan oleh Tuhan untuk memilih jalan dan cara hidupnya. Jalan yang manakah yang sudah kita pilih? Jalan yang lebar yang membawa kematian iman atau jalan yang sempit yang menuju kepada kehidupan dalam Kristus? Firman Tuhan berkata bahwa setiap orang akan memberi pertanggungjawaban sepenuhnya atas semua pilihannya kepada Allah!

Bagaimana Tuhan menentukan arah langkah manusia

Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya.”Amsal 16:9

Ayat di atas adalah ayat yang sangat terkenal dan sering dipakai untuk menekankan bahwa Tuhan yang mahakuasa menentukan setiap detil kehidupan manusia. Ada beberapa pertanyaan mengenai ayat ini:

  1. Apakah ayat ini berlaku untuk seluruh umat manusia ataukah hanya orang Kristen?
  2. Apakah Tuhan melarang kita untuk berusaha dan membuat rencana?
  3. Apakah Tuhan selalu membuat manusia bertindak sesuai dengan kehendak-Nya?

Ayat ini sebenarnya berlaku untuk semua orang, tetapi dalam segi yang berlainan. Manusia adalah makhluk yang berakal budi yang memiliki kemampuan merancang segala sesuatu untuk kebutuhan dirinya sendiri. Dengan memakai pikirannya, ia merancang jalan, menentukan tujuan, dan memproyeksikan cara dan sarana menuju tujuan itu, dan ini berbeda dengan makhluk lainnya yang diatur oleh naluri alami.

Bagi umat Kristen, tentunya menyedihkan jika mereka yang tidak bisa memikirkan cara bagaimana bisa menyenangkan Tuhan selama hidup di dunia. Walaupun demikian, tidak ada orang dapat mengerti bagaimana mereka bisa membuat Tuhan senang jika Tuhan tidak menyatakan hal itu kepadanya. Dengan demikian, sebagai makhluk yang bergantung, dan yang tunduk pada arahan dan kekuasaan Penciptanya, jika umat percaya merancang jalan mereka untuk mendatangkan kemuliaan bagi Allah, mereka seharusnya berdoa agar Dia mengarahkan langkah-langkah mereka dengan Roh dan kasih karunia-Nya, sehingga mereka tidak akan tersesat atau gagal mencapai tujuan mereka.

Pada pihak yang lain, jika manusia merancang urusan duniawi mereka dengan sangat berhati-hati dan mengharapkan sukses besar, Tuhan yang mengatur alam semesta terkadang mengarahkan langkah mereka ke arah yang tidak mereka inginkan. Dengan demikian, setiap manusia diajar untuk mengarahkan pandangan mereka kepada Allah, mempunyai rasa takut dan hormat kepada-Nya, tidak hanya dalam hidup sehari-hari, tetapi juga dalam setiap langkah yang mereka ambil.

Sepanjang sejarah, umat manusia telah membuat rencana untuk apa yang akan harus dilakukan setiap hari. Ketika saya bermaksud untuk bermobil ke luar kota, saya perlu merencanakan jam berapa saya harus pergi. Saya menggunakan GPS saya untuk merencanakan rute saya. Seperti itu juga, seorang pilot harus membuat rencana penerbangannya dan seorang nakhoda kapal harus memetakan arah kapalnya untuk mencapai tujuan. Tidak ada yang salah dengan perencanaan. Malahan, sebenarnya adalah baik bagi semua orang untuk menetapkan tujuan dan rencana. Jika tidak, hidup mereka akan kacau dan tidak akan membuahkan apa yang berguna. Perencanaan jelas merupakan hal yang baik.

Namun, sebagai orang Kristen, rencana kita harus selalu dimulai dengan doa dan mencari kehendak Tuhan untuk hidup kita. Jika Tuhan telah disertakan dalam proses perencanaan, kita dapat yakin bahwa rencana kita akan berhasil, bahkan jika kita mengalami beberapa rintangan dan harus berputar jalan. Sebaliknya, jika rencana kita bertentangan dengan kehendak Tuhan, kita berdosa kepada-Nya.

Bagi setiap orang, rasul Yakobus menulis,

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah. Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa. Yakobus 4:13-17

Mereka yang bermegah dalam kesombongan akan membuat Allah marah. Semua kesombongan manusia seperti itu adalah jahat. Maka itu, bagi orang Kristen yang tahu bagaimana mereka seharusnya bisa menempatkan diri di hadapan Allah tetapi tidak mengerjakannya, hal itu juga berakhir dengan dosa.

Tuhan mungkin mengizinkan kita untuk membuat rencana kita sendiri tanpa berkonsultasi dengan-Nya. Dia bahkan mungkin mengizinkan kita untuk membuat rencana kita sendiri ketika kita tidak terlalu menyukai kehendak-Nya. Dia akan memungkinkan kita untuk memutuskan untuk melakukan hal-hal dengan cara kita sendiri. Tetapi kita harus sadar bahwa terlepas dari apa yang kita rencanakan, Tuhan akan menjadi satu-satunya Oknum yang bisa mengarahkan setiap langkah yang kita ambil. Dan jika karena kesombongan dan keras kepala kita, kita memilih untuk melakukan hal-hal dengan cara kita sendiri, Tuhan akan tetap bisa mewujudkan kehendak ilahi-Nya. Tetapi jalan menuju ke sana mungkin tidak akan menjadi jalan yang bisa kita nikmati!

Yunus adalah contoh seseorang yang tidak menyukai apa yang Tuhan perintahkan sehingga dia membuat rencananya sendiri. Tuhan ingin Yunus pergi berkhotbah di Niniwe dan Yunus tidak mau pergi. Dia justru naik perahu dan pergi ke arah yang berlawanan dari Niniwe. Akibatnya, badai besar datang dan semua orang di kapal menjadi takut kalau-kalau mereka akan mati di laut. Mereka mulai membuang muatan untuk meringankan beban kapal dan kemudian Yunus mengatakan kepada mereka bahwa mereka harus membuangnya juga ke laut agar badai akan berhenti. Para pelaut mengira Yunus gila, tetapi setelah beberapa saat, mereka terpaksa melempar Yunus ke dalam gelombang badai. Tuhan tidak hanya mengarahkan langkah Yunus, tetapi Dia juga membuat seekor ikan besar yang datang pada saat yang tepat untuk menelan Yunus. Setelah tinggal tiga hari di dalam perut ikan, akhirnya Yunus bertobat. Tuhan kemudian membuat ikan itu memuntahkan Yunus yang akhirnya mau pergi ke Niniwe dan berkhotbah di sana.

Yeremia 29:11 memberi tahu kita bahwa Tuhan tetap sama, Ia memiliki rencana yang baik untuk kita – rencana untuk kesejahteraan kita dan bukan kehancuran. Jika kita benar-benar percaya akan hal ini, maka kita tidak akan kesulitan memulai perencanaan kita dengan menyediakan waktu untuk berdoa dan mencari kehendak Tuhan – untuk memastikan bahwa rencana yang kita buat selaras dengan kehendak Tuhan. Jika kita melakukannya, maka kita dapat menyerahkan rencana kita ke dalam tangan-Nya dan percaya bahwa meskipun jalan untuk mencapai apa yang kita rencanakan terlihat berbeda dari yang kita rencanakan, pada akhirnya Tuhan akan membawa kita ke sana, bahwa Ia akan mengerjakan segala sesuatu untuk kebaikan kita (Roma 8:28), dan Ia akan menyertai kita di setiap langkah.

Tetapi jika kita mencoba untuk menempuh jalan kita sendiri seperti Yunus, kita mungkin menemukan diri kita dalam beberapa masalah seperti Yunus dan kemudian menemukan diri kita tepat di tempat yang Tuhan inginkan. Seandainya Yunus hanya bekerja sama dengan rencana Tuhan sejak awal, dia bisa menyelamatkan dirinya dari penderitaan selama tiga hari di dalam perut ikan. Seperti itu juga, jika kita mau bekerja sama dengan rencana Tuhan untuk hidup kita, kita dapat terhindar dari konsekuensi yang tidak menyenangkan.

Mungkin anda merasa bahwa apa yang anda alami saat ini sangat tidak menyenangkan karena adanya orang-orang yang menjahati anda. Apakah ini juga dibuat oleh Allah? Barangkali anda harus membaca lagi kisah Jusuf yang dijual oleh saudara-saudaranya sebagai budak dan kemudian menjadi perdana menteri di Mesir (Kejadian 37 – 41)? Jika anda, seperti Jusuf, merasa bahwa apa yang Tuhan inginkan bagi anda adalah berbeda dari yang anda harapkan, dan anda terperosok ke dalam berbagai “lubang” atau “penjara” di sepanjang jalan, ingatlah bahwa Tuhan selalu bersama anda. Jika “istana” memang adalah rencana Tuhan bagi anda, percayalah bahwa Ia akan membawa anda ke sana pada saat yang tepat sehingga anda bisa berada dalam posisi untuk melakukan apa yang Tuhan inginkan.

Pagi ini, adakah rencana yang anda pikirkan? Firman Tuhan menyatakan bahwa adalah baik jika anda melanjutkan atau membuat rencana anda. Tetapi mulailah setiap rencana dengan doa, carilah kehendak Tuhan terlebih dahulu. Buatlah rencana anda berpusat pada kehendak-Nya, mintalah agar rencana anda bisa membawa kehormatan dan kemuliaan bagi-Nya.

Manusia memang ingin bebas

“Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.” Lukas 15: 18 – 19

Suasana di balapan kuda Melbourne dengan segala keramaian duniawi.

Melbourne Cup adalah balapan kuda yang menghentikan seluruh kegiatan rakyat di Australia, the race that stops the nation. Untuk tahun 2021, acara ini berlangsung pada hari Selasa 2 November di kota Melbourne. Mereka yang tinggal di luar kota Melbourne juga ikut mengikuti acara ini melalui televisi, dan biasanya disertai dengan acara taruhan dan makan-minum bersama.

Pada hari itu, mereka yang ikut merayakan hari itu biasanya sudah mempersiapkan pakaian yang indah dan unik. Kaum wanita memang biasanya berusaha tampak lebih cantik dengan memakai pakaian mahal dan make-up yang istimewa. Dan seharian, mereka yang hadir di tempat balapan kuda itu bisa makan minum sepuasnya, bahkan sampai mabuk dan melakukan hal-hal yang tidak pantas. Hal ini mengingatkan saya kepada sebuah perumpamaan terkenal di Alkitab.

Semua orang Kristen tentunya pernah membaca atau mendengar perumpamaan anak yang hilang atau the prodigal son. Perumpamaan ini diceritakan oleh Yesus untuk melambangkan hubungan antara Allah Bapa dan manusia ciptaan-Nya. Manusia yang memberontak dari kasih Allah digambarkan sebagai anak bungsu yang meninggalkan bapanya untuk berfoya-foya dengan menggunakan warisannya. Selang berapa tahun, sesudah uang warisannya habis, anak itu bermaksud untuk pulang kembali ke rumah bapanya. Anak itu menyesali apa yang sudah diperbuatnya dan hanya ingin untuk bisa menjadi hamba bapanya.

Ayat di atas adalah apa yang dipikirkan oleh anak yang hilang dalam perumpamaan itu. Kita bisa membaca kelanjutan kisah itu yang menyatakan besarnya kasih bapa yang kemudian menerima kembalinya si anak yang hilang dengan tangan terbuka. Si bapa yang sudah berharap sejak lama agar anaknya bertobat dan kembali ke jalan yang benar, bisa terlihat dengan jelas sebagai bapa yang penuh kasih, tidak hanya kepada anaknya yang hilang, tetapi juga kepada anaknya yang lain, yang tidak pernah meninggalkan dia. Kasih bapa itu adil dan abadi, dan itu tidak terpengaruh oleh apa yang dilakukan anak-anaknya; ia hanya ingin agar semua anaknya berbahagia.

Satu bahan pemikiran yang juga bisa diperoleh dari ayat di atas adalah bagaimana anak yang hilang itu menempatkan dirinya di hadapan bapanya. Ia menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh dan meminta kemurahan sang bapa untuk menerimanya kembali, bukan sebagai anak, tapi sebagai hamba.

Dalam konteks iman Kristen, ayat ini menunjuk kepada kenyataan bahwa kita orang yang berdosa, adalah orang-orang yang tidak layak di hadapan Allah dan sudah kehilangan kemuliaan kita sebagai ciptaan-Nya. Kita sudah kehilangan hak untuk dipanggil umat Allah.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah…” Roma 3: 23

Apa pun yang akan dan sudah kita lakukan, tidaklah dapat membuat kita kembali menjadi orang yang layak untuk menemui Bapa kita. Karena dosa kita, kita tidak bisa menuntut hak apa pun di hadapan Tuhan. Hanya karena kasih karunia Allah (grace), kita telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Pengakuan sola gratia ini tidak memberi kesempatan bagi kita untuk menyombongkan apa yang bisa kita perbuat dalam hidup kita.

“…dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 24

Hari ini, jika orang pergi ke suatu tempat untuk berpesta pora, itu memang adalah keputusan mereka. Itu bukan karena Tuhan yang sudah membuat mereka berbuat demikian. Memang manusia yang selalu ingin menggunakan kehendak bebasnya, sering terperosok dalam berbagai dosa.

Dalam kita hidup dan bekerja, banyak dosa-dosa yang kita perbuat, secara sengaja atau tidak sengaja. Jika dibandingkan dengan standar kesucian Tuhan, hidup kita bisa dipadankan dengan hidup anak yang hilang, yang sudah menyia-nyiakan hidupnya dan mempermalukan bapanya.

Sebagai manusia mungkin kita berusaha untuk melupakan hal-hal yang jahat yang telah kita perbuat. Mungkin kita ingin menebusnya dengan banyak berbuat amal. Mungkin kita berusaha menutupinya dengan usaha untuk mencari hal-hal yang berbau kerohanian. Mungkin kita sudah berusaha untuk mengubah cara hidup kita, supaya bisa dikagumi oleh orang lain. Atau mungkin saja Tuhan sudah memberi kita berbagai karunia rohani yang hebat. Tetapi, semua itu tidak bisa mengubah status kita: kita adalah anak yang hilang, yang sudah tersesat dan kehilangan hak untuk menjadi anak-Nya. Hanya dengan kerendahan hati kita bisa menghampiri Tuhan dan meminta pengampunan-Nya hari demi hari, dan berjanji untuk menjalani hidup kita sesuai dengan firman-Nya sebagai pernyataan rasa syukur kita atas kasih-Nya.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2: 8 – 9

Menyesuaikan pilihan kita dengan kehendak Tuhan

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya”. Amsal 16: 9

Selama berabad-abad, umat Kristen telah memperdebatkan apa artinya manusia diciptakan menurut gambar Allah (Kejadian. 1:26-27). Sampai sekarang belum ada definisi yang bisa diterima secara universal, tetapi ada kesepakatan setidaknya untuk beberapa aspek gambar ilahi. Salah satu aspeknya adalah bahwa manusia memiliki pikiran dan kehendak. Seperti Tuhan, kita memiliki niat, kita membuat rencana, dan kita memilih tindakan tertentu. Tidak peduli bagaimana kita mencoba untuk menyangkalnya, kita semua bertanggung jawab atas pilihan kita (Roma 1: 18 – 20).

Tentu saja, Alkitab tidak pernah mengajar kita untuk percaya bahwa kitalah yang menentukan semua pilihan kita untuk mencapai apa yang kita ingini. Ada satu kehendak yang selalu bisa menggantikan kehendak kita, yaitu kehendak Tuhan. Allah “yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya” (Efesus 1:11). Tuhan memiliki keputusan akhir karena Dia menentukan langkah-langkah kita, seperti yang kita baca dalam dalam ayat pembukaan di atas. Apa arti menentukan?

Penulis buku tafsiran Alkitab, Matthew Henry, mencatat bahwa setiap manusia adalah “makhluk yang berakal, yang memiliki kemampuan untuk merancang untuk dirinya sendiri” dan “makhluk yang bergantung, yang tunduk pada arahan dan kekuasaan Penciptanya.” Kita harus mengerti bahwa manusia memiliki kebebasan untuk membuat keputusannya sendiri, sementara pada saat yang sama pilihan mereka berada di bawah kedaulatan Tuhan. Ini menuntut apa yang disebut pandangan kompatibilistik tentang kebebasan manusia.

Memang banyak situasi yang tidak memberi kita pilihan yang baik. Walaupun demikian, jika kita berada dalam situasi seperti itu, kita selalu memilih opsi yang menurut kita paling baik. Misalnya, beberapa tahun yang lalu saya harus memilih antara menjalani operasi untuk mengangkat usus buntu yang meradang atau meninggal dunia karena radang usus buntu. Pilihan saya untuk menjalani operasi menunjukkan bahwa saya masih lebih suka hidup daripada mati. Saya memilih operasi karena berdasarkan nasihat dokter saya merasa bahwa itu yang paling baik untuk saya.

Menyangkut kedaulatan Tuhan, pilihan kita terkadang sesuai dengan apa yang telah Dia tetapkan, dan karena itu kita bisa mencapai apa yang kita inginkan. Pada kesempatan lain, tindakan kita yang telah diizinkan Tuhan tidaklah sesuai dengan hasil yang telah Dia tetapkan, dan karena itu rencana kita digagalkan. Tetapi dalam kedua kasus tersebut, tujuan Allah tidak pernah gagal. Langkah-langkah kita bisa terjadi kalau sesuai dengan apa yang telah Dia rancang, karena Dia tahu apa yang akan terjadi dan memiliki keputusan akhir atas semua ciptaan-Nya.

Kebebasan manusia dan kedaulatan ilahi ada dalam hubungan yang kompleks dan misterius. Meskipun Tuhan mengizinkan semua pilihan kita – bahkan pilihan yang akhirnya digagalkan karena tidak sesuai dengan hasil yang telah Dia tetapkan – kita tidak bisa menyalahkan Dia atas dosa kita. Kita juga tidak bisa lepas dari tanggung jawab atas pilihan kita. Kita telah salah memahami Alkitab jika kita berpikir bahwa pilihan kita adalah penentu akhir dari jalan hidup kita, tetapi kita juga telah salah memahaminya jika kita menyangkal adanya Tuhan yang memberi kebebasan kepada manusia.

Masalahnya, jika Tuhan mengatur alam semesta dengan keputusan-Nya yang berdaulat, bagaimana mungkin manusia menjalankan kebebasannya? Dan jika dia tidak bisa menjalankan kebebasan memilih, mengapa dia harus bertanggung jawab atas perilakunya? Bukankah dia hanya boneka yang tindakannya ditentukan oleh Tuhan di balik layar yang menarik tali sesuka hati-Nya?

Tuhan secara berdaulat menetapkan bahwa manusia harus bebas menjalankan pilihan moral, dan manusia sejak awal telah memenuhi ketetapan itu dengan membuat pilihannya antara yang baik dan yang jahat. Manusia tidak bisa abstain. Mereka yang tahu bagaimana harus berbuat baik tetapi tidak melakukannya, telah berbuat dosa (Yakobus 4: 17). Ketika manusia memilih untuk melakukan kejahatan, dengan demikian dia tidak melawan kehendak Tuhan yang berdaulat tetapi memenuhinya, karena keputusan Tuhan bukanlah mengharuskan pilihan mana yang harus dibuat manusia tetapi bahwa manusia harus bebas untuk membuatnya. Kebebasan manusia untuk memilih terjadi karena Tuhan berdaulat.

Mungkin ilustrasi dari seorang pendeta Amerika terkenal yang bernama Aiden Wilson Tozer (1897 – 1963) berikut ini dapat membantu kita memahaminya. Sebuah kapal pesiar meninggalkan kota New York. Tujuannya, kota Liverpool, telah ditentukan oleh perusahaan yang memliki kapal itu. Di atas kapal ada banyak penumpang tetapi tidak ada satu pun yang bisa mengubah tujuannya. Para penumpang tidak dirantai, dan bisa makan, tidur, bermain, bersantai di geladak, membaca, berbicara, semuanya sesuka mereka; tapi kapal besar itu membawa mereka terus melaju menuju pelabuhan-pelabuhan yang telah ditentukan.

Seperti itulah, Allah bergerak tanpa gangguan dan tanpa hambatan menuju pemenuhan tujuan-tujuan kekal yang Dia maksudkan di dalam Kristus Yesus sebelum dunia dimulai. Walaupun kita tidak tahu seluruh detil dari tujuan-tujuan itu, cukup banyak yang telah diungkapkan oleh Roh Kudus untuk memberi kita garis besar yang luas tentang hal-hal yang akan datang dan untuk memberi kita harapan yang baik dan jaminan yang kuat akan masa depan.

Pagi hari ini, dalam menghadapi masa depan dan untuk kesejahteraan kita sendiri, sebagai umat-Nya kita harus selalu mencari kehendak Tuhan dan menyelaraskan apa yang kita inginkan dengan apa yang Tuhan kehendaki. Kita harus mau dan berani mengambil keputusan, dan juga mau menyerahkan semuanya agar terjadi seperti apa yang dikehendaki-Nya.

“Tuhan, beri saya keteduhan untuk menerima hal-hal yang tidak dapat saya ubah. Keberanian untuk mengubah hal-hal yang saya dapat ubah. Dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaannya.”

Injil membawa kabar buruk

“Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.” Roma 3: 12

Siapakah yang tidak mengingini tubuh yang sehat? Tentunya semua orang tidak mau jatuh sakit. Karena itu banyak orang yang sebenarnya sakit tetapi tidak mau mengaku sakit. Apalagi orang-orang yang terjangkit penyakit menular seperti Covid19 sering merasa bahwa mereka bisa dikucilkan, dimusuhi atau dibenci orang lain. Karena itu, mereka yang sakit apa pun sering kali lebih suka untuk minum “obat” pilihan sendiri. Ada juga orang yang sakit serius, tidak tahu kalau sakit dan tidak pernah ke dokter karena hidupnya sibuk . Selain itu ada juga orang sakit yang tidak mau mengaku sakit karena takut sakit. Ada pula yang merasa sehat karena melihat banyak orang lain yang jauh lebih tidak sehat jika dibandingkan dengan dirinya.

Beberapa tahun yang lalu saya sendiri pernah mengalami masalah kesehatan yang serius. Pada hari itu saya masih sempat berolahraga pagi hari dengan bersepeda mengelilingi sebuah taman yang sukup besar di sebelah barat kota Sydney. Di kantor, saya tiba-tiba merasa mual luar biasa sehingga saya harus minta izin untuk pulang. Di rumah, keadaan saya makin buruk sehingga seorang teman membawa saya ke rumah sakit untuk mendapat pemeriksaan yang teliti. Sorenya, saya menerima kabar buruk bahwa usus buntu saya sudah pecah. Hanya melalui operasi dan perawatan rumah sakit selama dua minggu kemudian bisa sembuh.

Memang kabar buruk ada di mana-mana dan bisa muncul secara tiba-tiba. Tetapi jika kabar buruk itu menimpa diri kita sendiri, kita akan bisa kaget dan bertanya-tanya mengapa itu harus terjadi. Kepercayaan pada diri sendiri bisa goncang karena kita tidak dapat menghindarinya. Bagaimana tidak? Jika saya masih sanggup berolahraga pada pagi hari itu, saya harus mengalami operasi pada hari yang sama. Itu setelah dokter menyampaikan kabar buruk kepada saya: jika tidak dioperasi keadaan saya akan memburuk dan bisa berubah fatal.

Pada waktu Yesus menjumpai para pemungut cukai dan orang-orang yang dimusuhi masyarakat, Ia memutuskan untuk makan bersama orang-orang itu (Markus 2: 14-16). Ketika para ahli Taurat dan kaum Farisi melihat hal itu, mereka menjadi tidak senang hati karena bagi mereka, orang pemungut cukai dan orang berdosa adalah seperti orang yang mempunyai penyakit menular yang harus dihindari. Tetapi Yesus dengan tepat menjawab bahwa seperti seorang tabib yang datang untuk orang yang sakit, Ia datang bukan untuk orang yang benar, tetapi untuk orang berdosa.

Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.” Matius 9: 12

Jika kita meneliti jawaban Yesus itu, mungkin kita bertanya-tanya apakah Ia datang untuk membawa kabar baik untuk para pemungut cukai itu, yaitu kabar keselamatan dari surga? Mungkinkah Yesus sebenarnya bermaksud untuk menjelaskan bahwa Ia datang untuk semua umat manusia? Benar! Tetapi Ia datang juga untuk membawa kabar buruk: bahwa semua orang sudah berdosa dan patut dihukum mati.

Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” Matius 4:17

Walaupun demikian, tidak semua orang merasa atau mau menerima kabar buruk itu, yaitu kenyataan bahwa mereka adalah orang berdosa sekalipun terlihat sebagai “orang baik”. Seperti orang sakit, banyak juga orang yang tidak menyadari, tidak peduli atau tidak mau mengakui bahwa mereka adalah orang yang membutuhkan seorang Juruselamat. Seperti masalah kesehatan, sering kali, orang merasa bahwa hidup mereka masih lebih baik daripada orang lain dan karena itu tidak ada yang perlu dikuatirkan.

Banyak orang Kristen yang menyebut bahwa Injil adalah kabar baik.Tetapi sebenarnya Injil dimulai dengan kabar buruk bahwa manusia tidak sadar bahwa mereka adalah orang yang berdosa dan sakit rohaninya, dan karena itu membutuhkan pertolongan. Biarpun hidup jasmani kita terasa nyaman dengan segala kekayaan, ketenaran, kedudukan dan kekuasaan dan bahkan dengan kesehatan tubuh yang prima saat ini, tidak ada seorang pun yang bisa menolong kita dalam hal hidup suci yang sesuai dengan perintah Tuhan. Semua orang seharusnya mengalami maut sebagai hukuman atas dosa mereka.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3: 23

Semua orang tidak dapat memenuhi syarat kesucian dan hidup baik menurut standar Allah, dan karena itu semua orang harus menerima kabar buruk bahwa mereka akan menemui hukuman Tuhan, yaitu kematian abadi. Barangsiapa benar-benar percaya akan kabar buruk dari Yesus dan bertobat dari hidup lamanya akan memperoleh kabar baik bahwa dosa mereka akan dicuci bersih oleh darah Kristus. Lebih dari itu, jika mereka benar-benar mau menyerahkan hidup mereka kepada Yesus, mereka akan menerima bimbingan Roh Kudus sehingga makin lama hidup mereka akan makin dipenuhi kasih Kristus. Dengan demikian, mereka akan lebih mampu untuk membagikan kasih Kristus itu kepada orang lain yang belum sempat atau mau untuk menjumpai Sang Juruselamat.

Barangkali sebagai orang Kristen kita rajin ke gereja. Tetapi jika hidup kita di luar gereja tidak sejalan dengan firman Tuhan, kita mungkin masih tergolong orang yang sakit. Memang ada banyak orang Kristen yang merasa yakin bahwa karena mereka mengaku Kristen, sudah tentu hidup mereka berkenan kepada Tuhan. Tetapi, ayat pembukaan kita mempertanyakan keyakinan kita: Siapakah dapat berkata bahwa ia telah membersihkan hatinya, dan yakin bahwa ia bersih dari dosanya?

Alkitab menyebutkan bahwa semua orang dalam pandangan Tuhan adalah orang berdosa, seperti orang-orang yang sakit yang memerlukan perawatan dokter. Setiap orang dengan demikian membutuhkan kesembuhan rohani melalui penebusan darah Kristus dan pemeliharaan-Nya setiap hari. Mereka yang sudah merasa pernah menerima Yesus dan kemudian dengan sengaja melupakan-Nya dalam hidup sehari-harinya, tidaklah berbeda dengan orang yang sudah merasa sehat untuk selamanya setelah menemui seorang dokter.

Hari ini, biarlah kita mau meneliti hidup kita. Maukah kita mengakui bahwa untuk dapat disembuhkan dari penyakit kronis rohani yang kita alami, kita harus mau menerima kabar buruk dan datang bersujud kepada Kristus untuk meminta pengampunan?

Antara koma dan titik harus ada iman

“Maka oleh karena itu hati kami senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan, sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.” 2 Korintus 5: 6 – 7

Ever onward, no retreat! Maju terus, pantang mundur! Demikianlah pesan Presiden Sukarno dalam derap langkah politiknya. Memang di tahun 1960-an situasi politik global semakin mengombang-ambingkan negara-negara yang baru merdeka. Karena itu, keputusan untuk berdiri di atas kaki sendiri dan melangkah terus pantang mundur dianggap sebagai jalan terbaik agar tak terjatuh dan terdesak oleh bangsa-bangsa dari tatanan dunia lama. Tidak dapat disangkal bahwa hidup di era itu tidaklah mudah, dan saya masih ingat ketika rakyat dianjurkan untuk makan jagung untuk mengatasi masalah kekurangan beras. Walaupun ada orang yang merasa bahwa ekonomi negara pada saat itu sudah berhenti, masih banyak orang yang percaya bahwa itu adalah hanyalah untuk sementara. Bukan titik, tapi koma.

Membedakan titik dan koma tentunya tidak sulit bagi orang yang melek huruf. Walaupun demikian, banyak orang yang kurang mengerti bagaimana menempatkan koma dan titik pada posisi yang tepat dalam sebuah kalimat. Begitu juga, orang sering bingung dalam hidup ini mengenai hal yang serupa. Bagaimana kita tahu bahwa apa yang kita alami masih berakhir dengan sebuah koma dan bukan titik? Bagaimana kita yakin bahwa penderitaan dan masalah yang kita hadapi sekarang ini hanya untuk sementara dan bukannya titik akhir? Bagaimana kita bisa yakin bahwa dalam perjuangan hidup ini kita belum “masuk kotak” atau “tamat”?

Menjelang akhir hayatnya saat dia menulis surat cinta terakhirnya kepada suaminya, George Burns, komedian terkenal Gracie Allen menulis, “Jangan pernah menempatkan titik di mana Tuhan telah menempatkan koma.” Cara lain untuk menjelaskan pemikiran di balik apa yang ditulis Gracie Allen adalah, “Jangan masukkan Tuhan ke dalam kotak!” Tuhan tidak dapat dikalahkan oleh siapa pun dan apa pun, dan jika Ia di pihak kita, tidak ada yang perlu kita takuti. Itu teorinya.

Ketika segala sesuatunya terlihat buruk, ketika kita menghadapi berbagai krisis, reaksi kita, berdasarkan cara berpikir manusiawi, sering kali bisa berupa kepasrahan, kekalahan, atau keputusasaan. Adalah umum, jika manusia tidak melihat jalan keluar dari situasi atau krisis yang dihadapi, mereka akan bersiap untuk menyerah. Fatalisme mungkin datang dan mereka menyangka bahwa semua itu sudah kehendak Tuhan. Dan sejujurnya, jika itu tergantung pada kekuatan kita sendiri, akan benar apa yang kita rasakan. Alkitab meyatakan bahwa Allah mampu, melalui kuasa-Nya yang besar yang bekerja di dalam kita, untuk melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan (Efesus 3: 20). Kita mungkin tidak sanggup menghadapi masalah yang ada, tapi Tuhan bisa! Tuhan dapat menempatkan sebuah koma di mana kita akan menempatkan sebuah titik.

Dalam Injil Markus, kita membaca tentang Yairus, seorang pemimpin sinagoga, yang putrinya jatuh sakit parah. Yairus pergi kepada Yesus untuk memohon kepada-Nya, meminta Yesus untuk datang dan menumpangkan tangan atas putrinya agar dia dapat hidup (Markus 5:22-23). Yesus pergi bersama Yairus, tetapi dalam perjalanan ke rumah Yairus ada orang yang membawa berita bahwa putri Yairus telah meninggal. Orang itu menyarankan Yairus untuk tidak mengganggu Yesus karena gadis itu sudah mati. Titik.. Mendengar ini, Yesus mengatakan kepada mereka untuk tidak takut tetapi memiliki iman (Markus 5:35-36). Dengan kata lain, Yesus menghapus titik tersebut dari akhir sebuah kalimat dan menggantinya dengan sebuah koma.

Yesus lalu melanjutkan perjalanan-Nya ke rumah Yairus. Sesampainya di sana dan melihat banyak keributan dan tangisan, Yesus masuk ke dalam dan bertanya: “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati; tetapi tidur.” Kerumunan orang hanya menertawakan Dia. Mereka tentunya yakin bahwa ada perbedaan nyata antara mati dan tidur, dan gadis muda ini pasti sudah mati. Titik! Tamat! Tetapi Yesus tahu bahwa itu bukanlah titik yang ada pada kehidupan gadis ini, tetapi koma. Dia pergi ke kamar di mana gadis yang mati itu berbaring, memegang tangannya dan berkata, “Hai anak,Aku berkata kepadamu, bangunlah!” Gadis itu segera bangkit berdiri dan berjalan (Markus 5:38-42).

Ketika krisis membuat kita siap menyerah, dan ketika kita merasa kalah atau putus asa, janganlah kita melihat keterbatasan manusiawi kita sendiri, atau keterbatasan orang lain. Lihatlah ketidakterbatasan Tuhan. Ayat pembukaan di atas mengajarkan kita untuk tabah dalam menantikan pertolongan Tuhan. Ingatlah bahwa apa yang mungkin tidak mungkin bagi kita, bukanlah tidak mungkin bagi Tuhan. Bagi Allah segala sesuatu mungkin (Markus 10:27). Jangan menempatkan sebuah titik di mana Tuhan telah menempatkan sebuah koma. Dari kesaksian mereka yang sudah mengalami pertolongan Tuhan dalam hidup mereka, kita akan tahu bahwa antara sebuah koma dan sebuah titik mungkin ada banyak koma. Dan di antara koma-koma dan titik itu, seharusnya ada iman yang memastikan kita untuk pada akhirnya mendapat kemenangan abadi melalui darah Kristus.

Banyak yang diundang, tapi sedikit yang dipilih

Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu.” Matius 22: 9-10

Perumpamaan perjamuan kawin (Matius 22: 1-14) adalah perumpamaan tentang kemurahan Tuhan yang bersifat adil. Yesus mengajarkan bahwa Kerajaan Allah terbuka untuk semua orang, bukan hanya orang Yahudi.

Alkisah, ada seorang raja sedang mempersiapkan pesta pernikahan untuk putranya. Dia mengirim pelayannya untuk mengajak tamu undangan untuk hadir – tetapi tidak ada yang mau datang. Para pelayan sekali lagi dikirim dengan pesan, “Aku telah menyiapkan hidangan untuk anda, lembu dan anak sapi saya yang gemuk telah disembelih, dan semuanya sudah siap; datanglah ke perjamuan kawin ini” (Matius 22: 4).

Beberapa tamu mengabaikan para pelayan raja itu dan malah pergi ke ladang atau mengurus bisnis mereka. Yang lain menangkap para pelayan, menganiaya mereka dan kemudian membunuh mereka. Raja itu tentu sangat marah dan mengirim pasukan untuk menghancurkan para pembunuh dan membakar kota mereka. Dia kemudian menyuruh pelayannya untuk mengundang siapa pun yang mereka temukan, di jalanan, sehingga orang baik dan orang jahat memenuhi ruang perjamuan.

Di sini Yesus menggambarkan tawaran Injil, pertama kepada orang Yahudi dan kemudian kepada orang bukan Yahudi. Bangsa Yahudi dengan tegas menolak tawaran yang Tuhan berikan kepada mereka melalui para nabi-Nya. Untuk penolakan itu, Yesus mengumumkan penghakiman yang akan Allah berikan—penghancuran tentara Romawi atas Yerusalem pada tahun 70 M. Tetapi dalam rencana Allah, penolakan itu adalah kesempatan untuk menyebarkan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi. Hasilnya adalah “ruang perjamuan kawin itu penuh dengan tamu” (Mat. 22:10).

Perumpamaan ini menunjukkan bahwa Kerajaan Allah terbuka untuk semua orang, bukan hanya orang Yahudi. Di akhir perumpamaan kita melihat interaksi antara raja dan seorang pria yang berpakaian tidak pantas di antara mereka yang datang. Dia memerintahkan para pelayan untuk mengikat orang ini dan melemparkannya ke dalam kegelapan di mana dia akan menangis dan menggertakkan giginya. Pria yang berpakaian tidak pantas itu mewakili golongan orang yang tidak mau untuk benar-benar mengikut Yesus. Perumpamaan itu diakhiri dengan kata-kata:”Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Pesan yang cukup menakutkan. Apakah kita termasuk golongan ini?

Kalau kita bisa memahami kalimat penutup yang tajam ini, kita akan bisa memahami perumpamaan itu secara keseluruhan. Apa yang Yesus maksudkan dengan “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih”? Untuk menjawabnya, kita harus memahami apa yang Yesus maksudkan di sini dengan “memanggil” dan “memilih.” Kata “panggil” dan “undang”beberapa kali muncul dalam perumpamaan. Para pelayan dikatakan “memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin” (Matius 22: 3). Para pelayan kemudian diperintahkan untuk “mengundang” orang-orang bukan Yahudi (Matius 22: 9).

Pola ini membantu kita memahami sifat panggilan dalam perumpamaan ini. Itu adalah panggilan atau undangan Allah melalui hamba-hamba-Nya—nabi-nabi dalam Perjanjian Lama, dan pelayan-pelayan-Nya di Perjanjian Baru. Panggilan ini mengajak para pendengar untuk bertobat dan percaya akan kabar baik yang diberitakan oleh para pelayan-Nya. Adalah mungkin bagi kita untuk menolak undangan-Nya, seperti yang dilakukan banyak orang Yahudi. Yesus mengajarkan bahwa mereka yang menolak panggilan Allah untuk menerima keselamatan itu bersalah karena menolaknya.

Mereka yang datang ke perjamuan ternyata tidak semuanya menghargai undangan raja. Pria tanpa pakaian pesta di Matius 22:12 menanggapi undangan tersebut. Tetapi kurang pantasnya pakaiannya membuktikan bahwa ia tidak bermaksud untuk menghadiri pesta itu, dan karena itu ia dihukum dengan adil. Apakah yang dimaksud dengan “pakaian pesta”? Ini menggambarkan karunia keselamatan yang ditawarkan secara cuma-cuma dalam Injil. Hanya mereka yang menerima karunia inilah yang akan duduk di pesta pernikahan Anak Domba pada saat penyempurnaan segala sesuatu terjadi.

Siapakah mereka yang dengan tulus menanggapi panggilan dan menerima Kristus dalam iman? Yesus menyebut mereka “yang terpilih” atau “yang dipilih”. Inilah semua yang telah dipilih Bapa di dalam Kristus sejak sebelum dunia dijadikan untuk menjadi kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya (Efesus. 1:4). Hanya orang-orang pilihan ini yang akan menjadi kumpulan orang-orang yang ditebus ketika Kristus datang kembali dalam kemuliaan. Pilihan kekal Allah memastikan mereka akan menanggapi panggilan itu dengan tulus.

Karena Perjanjian Baru di tempat lain menggabungkan panggilan dengan pemilihan (lihat 2 Timotius 1:9; Roma 8:30), apa yang Yesus maksudkan ketika Ia mengatakan ada beberapa yang dipanggil tetapi tidak dipilih? Jawabannya terletak pada perbedaan yang diperlukan untuk memahami cara para penulis Alkitab berbicara tentang “panggilan”. Dalam perumpamaan ini, Yesus berbicara tentang “panggilan” dalam arti eksternal. Ini adalah panggilan Allah melalui pesan Injil. Panggilan ini mengajak pria dan wanita untuk datang kepada Kristus melalui pertobatan dan iman. Panggilan eksternal ditujukan kepada semua orang. Tetapi hanya orang-orang pilihan yang mengalami panggilan internal.

Alkitab berbicara tentang “panggilan” dalam arti internal. Misalnya, Paulus berbicara tentang panggilan internal ini dalam 1 Korintus 1:24—ini adalah pekerjaan Roh Kristus yang efektif dan menyelamatkan dalam hubungannya dengan panggilan eksternal Injil. Panggilan internal ini dengan kuat dan efektif mengubah orang berdosa untuk berubah pelan-pelan menjadi seperti Yesus Kristus. Panggilan eksternal ditujukan kepada semua orang, dan di zaman modern ini tidaklah banyak yang belum mendengar nama Yesus. Tetapi hanya orang-orang pilihan yang akan, pada waktu yang ditetapkan Tuhan, mengalami panggilan internal. Bagi mereka, Injil memang adalah “kekuatan Allah yang menyelamatkan” (Roma 1:16).

Apa pelajaran utama yang Yesus miliki bagi kita dalam perumpamaan yang mengejutkan dan meresahkan ini? Pertama, tidak sedikit yang menolak panggilan Allah melalui utusan-Nya. Mereka yang tidak mau mendengarkan kabar keselamatan yang disampaikan hamba Tuhan. Mereka yang ke gereja hanya untuk bersosial, atau mereka yang sama sekali menolak ajaran Kristen. Tuhan akan meminta pertanggungjawaban mereka yang menolak panggilan itu pada hari penghakiman. Kedua, Yesus ingin kita menyadari bahwa ada cara yang lebih halus untuk menolak panggilan itu. Seseorang mungkin hanya berbasa-basi untuk menerima panggilan eksternal tetapi tidak pernah benar-benar mau mendengarkan suara Yesus seperti yang ditawarkan dalam panggilan itu. Bagaimana nasib kita jika berlaku sedemikian? Kabar buruknya adalah kita tidak memiliki kekuatan dalam diri kita sendiri untuk mengubah hati kita yang memberontak. Kabar baiknya adalah Allah mau mengubah hati orang yang memberontak dengan kuasa Roh-Nya yang tak terkalahkan. Dalam hal ini, Tuhanlah yang menentukan siapa orang yang dipilih-Nya, dengan cara serta pada waktu yang ditetapkan-Nya, dan karena itu kita yang sudah diselamatkan patutlah tetap mau untuk menyampaikan undangan-Nya selama hidup di dunia.

Jika kita telah menanggapi panggilan eksternal dengan pertobatan dan iman, itu juga bukan karena usaha kita. Itu terjadi hanya karena Allah telah terlebih dahulu bekerja di dalam kita untuk mengubah kita menjadi umat-Nya di dalam Kristus. Tanpa karunia Allah kita hanya dapat menolak semua panggilan Allah. Keselamatan benar-benar hanya karena kasih karunia Allah. Kebenaran ini memang bisa membuat kita resah, tetapi Yesus membuat kita berpikir dalam-dalam mengenai hidup kita karena suatu alasan. Dia ingin kita menemukan keselamatan dan hidup di dalam Dia saja, yang hanya oleh kasih karunia. Dan hanya di dalam Kristus kita dapat menemukan keselamatan yang kekal dan tak tergoyahkan.

Kebebasan iblis dan manusia ada batasnya

“Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” Matius 13: 30

Perumpamaan (Inggris: parable) adalah kiasan, metafora yang diperluas, cerita yang menggunakan tindakan atau keadaan umum yang dirancang untuk menggambarkan kebenaran spiritual, prinsip, atau pelajaran moral. Kata parable berasal dari kata Yunani parabole, yang berarti menempatkan di samping atau berdampingan untuk tujuan perbandingan. Sebuah perumpamaan biasanya dapat diidentifikasi dengan penggunaan kata “seperti.” Ini adalah metode pengajaran yang paling sering digunakan Yesus.

Dalam perumpamaan tentang lalang dan gandum, Yesus menjawab pertanyaan yang diajukan oleh banyak orang: mengapa Tuhan membiarkan adanya orang yang jahat untuk menikmati hidup ditengah mereka yang taat kepada Tuhan (Matius 13: 24 – 30). Perumpamaan ini cukup sering dibahas atau dikhotbahkan, tetapi sering secara kurang tepat dipakai untuk melambangkan kehidupan gerejani. Perumpamaan ini sebenarnya berlaku untuk keadaan di dunia (Matius 13: 38) dan mengandung pengajaran yang mempunyai aplikasi praktis di semua zaman, terutama di zaman sekarang.

Dunia ini dibayangkan seperti padang yang ditumbuhi gandum dan lalang. Gandum melambangkan anak-anak Allah, sedangkan lalang melambangkan anak-anak iblis. Gandum dan lalang dibiarkan hidup bersama oleh pemilik ladang untuk sementara waktu.. Masalahnya, jika dalam hidup kita melihat adanya kelompok manusia atau pribadi yang berbuat semaunya sendiri dan menyebabkan berbagai masalah bagi umat Tuhan, hati kita mungkin bertanya-tanya mengapa Tuhan membiarkan hal seperti itu. Kita mengerti bahwa Tuhan mahasabar, tetapi kita tidak mengerti mengapa Ia yang mahakuasa tidak bertindak tegas terhadap mereka yang jelas-jelas melakukan hal yang bertentangan dengan firman-Nya. Mengapa Tuhan tidak membuat semua yang tidak benar itu lenyap dari muka bumi? Mengapa Tuhan membiarkan iblis dengan bebas mengacaukan dunia dengan memakai orang-orang mau diperalatnya?

Adalah kenyataan bahwa meskipun setiap orang memiliki kebebasan; seperti Adam dan Hawa, tidak semua orang mau menurut perintah Tuhan. Tuhan telah menyediakan firman-Nya dan menyatakan kehendak-Nya di halaman-halaman Alkitab yang mengungkapkan kebenaran tentang segala sesuatu yang dibutuhkan umat manusia untuk memiliki hubungan yang penuh kasih dengan-Nya dan menjadi pemenang dalam hidup ini. Setiap manusia diberikan kesempatan untuk memilih, apakah mereka mau menjadi alat iblis atau menjadi milik Tuhan. Menjadi lalang atau gandum.

Kita harus sadar bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahabijaksana. Dia adalah Tuhan yang membuat roda kehidupan ini berputar. Tuhanlah yang memungkinkan semua orang di dunia untuk hidup bersama dan berinteraksi. Ia jugalah yang menerbitkan sinar matahari dan  menurunkan hujan untuk orang yang jahat dan orang yang baik (Matius 5: 45).  Segala bentuk kehidupan yang ada di dunia, mempunyai keberadaan sedemikian rupa hingga kuasa Tuhan bisa terlihat bekerja dan memegang kemudi. Dalam segala keadaan, yang baik maupun yang buruk, kehidupan manusia tetap berjalan dan mereka yang percaya bisa senantiasa berharap atas kasih dan pertolongan Tuhan. Mereka yang percaya kepada Tuhan juga yakin bahwa Ia akan bertindak untuk memisahkan orang yang jahat dari mereka yang taat kepada-Nya. Itu akan terjadi pada saat yang ditentukan Tuhan dan bukannya sekarang.

Yesus Kristus datang ke dunia ini membuat penebusan dan keselamatan tersedia bagi seluruh umat manusia. Selama berabad-abad, iblis dengan seizin Tuhan agaknya bebas untuk menipu dan menjebak sebanyak mungkin manusia yang mau mendengarkan bujukannya. Berabad-abad telah berlalu dan generasi telah datang dan pergi, tetapi saatnya akan tiba di mana Tuhan akan memisahkan lalang dari gandum. Selama ini Tuhan masih bersabar, dan memberikan kesempatan bagi setiap manusia untuk bertobat. Tetapi, jika manusia tidak mau untuk memilih jalan yang benar, pada akhirnya apa yang akan terjadi pada mereka adalah seperti lalang yang akan dibakar habis dan menjadi abu. Kebebasan iblis dan pengikutnya akan berakhir pada saat yang sudah ditentukan Tuhan.

Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” 2 Petrus 3: 9